Edisi (132) -- 15 Maret 2007
e-KONSEL
======================================================================
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================
Daftar Isi:
= Pengantar : Jam Kerja
= Renungan : Memperilah Pekerjaan
= Cakrawala : Kecanduan Kerja
= Kesaksian : Keluar dari Jerat Workaholic
= Info : Pelatihan Intensif "Dasar Konseling"
========== PENGANTAR REDAKSI ==========
Pada umumnya, jam kerja seseorang setiap harinya adalah berkisar
antara delapan dan sembilan jam. Jam kerja ini bisa bertambah
panjang jika harus lembur atau harus menyelesaikan pekerjaan pada
saat itu juga. Masalahnya, berapa jam waktu yang biasa Anda gunakan
untuk bekerja dalam satu hari?
Bekerja memang penting karena dengan bekerja kita bisa mencukupi
kebutuhan hidup, menggunakan dan mengembangkan talenta atau karunia
yang Tuhan berikan maupun bersosialisasi dengan orang lain. Kita
juga bisa memuliakan Tuhan melalui pekerjaan kita. Namun, apakah
kita tetap bisa memuliakan Tuhan jika kita menghabiskan waktu hanya
untuk bekerja dan tidak memedulikan hal lain?
Alkitab mengajarkan kita bekerja supaya kebutuhan hidup kita
tercukupi. Tetapi, Alkitab juga mengajarkan kita untuk tidak
menjadikan pekerjaan sebagai allah lain. Kami mengajak Anda untuk
bersama-sama mengenali dan mengatasi kecanduan kerja. Kiranya sajian
ini memberi manfaat bagi pembaca. Selamat menyimak!
Redaksi e-Konsel,
Ratri
========== RENUNGAN ==========
MEMPERILAH PEKERJAAN
Bacaan: Keluaran 20:1-6
Nats: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20:3)
Kemampuan untuk bekerja adalah suatu karunia yang luar biasa, tetapi
apakah kita terlalu mengagungkannya? Dahulu, orang menyelesaikan
tugasnya di kantor, tetapi sekarang mereka pun bekerja di rumah
lewat e-mail dan telepon.
Dr. Dave Arnott, asisten profesor manajemen di Dallas Baptist
University, mengatakan, "Saya tak tahu apakah saat ini pekerjaan
telah menggantikan posisi keluarga dan masyarakat, atau sebaliknya,
keluarga dan masyarakat menyerahkan posisinya pada pekerjaan. Namun,
saya sadar gerakan seperti ini tengah berlangsung. Pekerjaan
tampaknya menentukan jati diri seseorang." Kita cenderung menyamakan
identitas kita dengan pekerjaan kita.
Pemimpin Families and Work Institute mengatakan, "Tingginya
kesibukan Anda telah menjadi suatu kebanggaan ... dan menjadi simbol
status," meskipun banyak orang mengeluhkan hal itu.
Memperilah pekerjaan bukanlah persoalan baru. Dalam perintah
pertama Allah berkata, "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku"
(Keluaran 20:3). Pekerjaan kita termasuk di dalamnya. Melalui
karunia pekerjaan yang diberikan Allah, kita dapat menghormati-Nya,
memenuhi kebutuhan keluarga kita, dan membantu orang yang
membutuhkan. Janganlah menjadikan pekerjaan sebagai sumber utama
kepuasan kita; haruslah kepuasan itu berasal dari Allah sendiri.
Apa pun pekerjaan kita, kita harus menempatkannya dengan cara
pandang yang benar. Allah dan keluarga lebih penting daripada
dedikasi kita terhadap pekerjaan. Pekerjaan adalah suatu karunia,
bukan alah yang lain. -- David McCasland
YANG BERARTI BUKANLAH KESIBUKAN
MELAINKAN APA YANG ANDA KERJAKAN DI SETIAP WAKTU
Bahan diambil dari:
Publikasi: e-RenunganHarian
Edisi : 21 Februari 2003
Arsip : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2003/02/21/
========== CAKRAWALA ==========
KECANDUAN KERJA
Seperti "-aholics" lainnya, "workaholic" juga merupakan kecanduan
yang tidak sehat. Dalam hal ini, kecanduannya adalah bekerja,
karier, atau suatu kepercayaan bahwa mereka adalah "satu-satunya
orang yang dapat melakukan pekerjaan dengan benar". Tanpa
memerhatikan kepercayaan ini, seseorang yang kecanduan kerja bisa
saja menganggap dirinya adalah suatu kesalahan atau sedikit
berharga. Sering kali ini merupakan suatu tanda ketidakamanan atau
ketidakmampuan dalam membuat prioritas.
Pencandu kerja akan menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan
bekerja atau membawa pulang pekerjaan mereka. Sering kali mereka
hanya memiliki sedikit waktu untuk kehidupan pribadinya -- keluarga,
hobi, atau waktu luang. Memiliki keseimbangan bukan hanya suatu
keinginan yang lebih baik; tapi juga memerlukan kesehatan mental,
fisik, spiritual/rohani, dan emosional yang menyeluruh.
Bagaimana bisa memiliki keseimbangan?
-------------------------------------
Mundur dan lihatlah hidup Anda. Apakah Anda mengorbankan
bagian-bagian lain dari hidup Anda karena waktu dan perhatian
dihabiskan untuk bekerja? Jika mengejar kebutuhan keuangan sesaat
lebih penting daripada mempererat hubungan jangka panjang Anda
dengan pasangan dan anak-anak, Anda perlu memikirkan kembali
prioritas Anda. Tentu saja, Anda akan mengatakan kepada diri sendiri
bahwa Anda bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan ini adalah
bagian penting dalam hidup. Tetapi sejujurnya, adakah keseimbangan
pada saat Anda menggunakan waktu Anda? Karena keseimbangan adalah
kunci utamanya.
Berikut ini beberapa langkah untuk bisa mencapai keseimbangan yang
sehat.
1. Buatlah batasan waktu dan perhatian yang Anda berikan untuk
pekerjaan Anda.
2. Sediakanlah waktu yang berkualitas untuk hubungan pribadi dan
waktu luang Anda.
3. Hadapilah ketakutan akan kegagalan atau ketidakamanan yang
mungkin muncul -- bicarakan hal ini dengan pendeta atau konselor.
4. Tegaskan harga diri Anda di hadapan Allah, jangan gantikan Dia
dengan mengutamakan diri sendiri atau karier.
5. Gunakanlah kreativitas Anda untuk mendapatkan prestasi, mungkin
dengan hobi, bukan bekerja.
6. Pekalah terhadap kebutuhan keluarga dan teman-teman Anda.
7. Lakukanlah kegiatan-kegiatan yang menyehatkan fisik -- berenang,
bersepeda, atau ke tempat kebugaran.
Jika kita memiliki keseimbangan yang baik secara fisik, mental,
rohani, dan emosional, semuanya itu akan berpengaruh pada apa pun
yang kita kerjakan. Kita dapat tampil lebih baik dalam bekerja; kita
menikmati hubungan yang sehat dengan orang yang kita kasihi dan
akhirnya kita dapat menikmati tujuan dan keindahan hidup yang Tuhan
sediakan bagi kita. Seperti suatu ungkapan, "Nikmatilah hidup ini."
Manfaat dari keseimbangan
-------------------------
Ketika kita berhasil mencapai gaya hidup yang seimbang, kita akan
lebih mudah mendapatkan kedamaian yang selama ini kita cari. Kita
tidak perlu takut pada ketidakamanan. Kita dapat datang kepada Tuhan
dan berdoa memohon hikmat bijaksana dan tuntunan. Hubungan spiritual
kita dengan-Nya tidak dapat diabaikan.
Seperti yang dikatakan oleh Robert, "Tidak peduli seberapa kerasnya
saya bekerja, saya tidak akan pernah sangat diperlukan oleh
perusahaan, komite, atau penyedia lapangan kerja mana pun. Saya
tidak akan pernah seberharga diri saya ketika saya memikirkannya.
Saya hampir bunuh diri karena stres dan kelelahan. Apakah ini
berguna? Demikianlah pikiran saya saat itu. Saya mengutamakan
pekerjaan saya, tetapi kemudian saya sadar betapa salahnya saya."
"Saya tidak mengenal anak-anak saya, pernikahan saya hancur dan
kesehatan saya memburuk. Kemudian suatu hari, Tuhan mengingatkan
saya bahwa kesehatan dan hubungan dengan keluarga dan Dia adalah
kehidupan yang sebenarnya. Jika saya tidak mulai merawat diri saya
sendiri, saya tidak akan ada untuk mereka atau orang yang memberi
saya pekerjaan. Jika saya tidak mendapatkan suatu keseimbangan, saya
tidak akan mempunyai keluarga!
Saya tidak dapat kembali dan mendapatkan apa yang sudah hilang dari
keluarga saya, tetapi tentu saja saya tidak ingin kehilangan lagi.
Tuhan menolong saya melihat nilai mereka dan betapa berharganya
mereka bagi saya. Dia adalah satu-satunya yang mewujudkan kebutuhan
saya untuk mendengar, `Kamu tidak akan pernah tergantikan!`.
Sekarang saya tahu bahwa saya salah memutuskan prioritas; sekarang
saya menyerahkan keputusan itu kepada Tuhan. Dia yang merencanakan
tujuan hidup saya dan saya telah bertobat karena mengabaikan
keluarga dan Tuhan."
Bagaimana menolong orang yang kecanduan kerja?
----------------------------------------------
Anda dapat menolong orang yang kecanduan kerja jika Anda memahami
kondisinya. Seorang pencandu kerja adalah orang yang kelainan dalam
keinginan bekerja. Seorang pencandu kerja tidak akan pernah memiliki
pekerjaan yang cukup; mereka selalu ingin lebih banyak bekerja.
Seorang pencandu kerja bisa melihat perilaku menyimpang mereka dalam
bekerja sebagai kesenangan atau pun dalam keadaan tertentu sebagai
beban.
Orang yang kecanduan kerja dapat ditolong, namun tentunya
membutuhkan waktu dan usaha, baik dari pencandunya maupun orang yang
mencoba menolongnya. Bagaimana Anda dapat menolong seseorang supaya
terhindar dari kecanduan kerja? Hal pertama yang harus Anda lakukan
adalah mengenali beberapa tanda kecanduan kerja.
Orang yang kecanduan kerja biasanya adalah orang yang:
1. sulit memiliki waktu bersantai;
2. membawa pulang pekerjaan mereka dan bahkan tidur bersama
pekerjaan itu;
3. mencoba melakukan pekerjaannya pada hari libur atau akhir pekan;
4. senang bekerja lebih dari empat puluh jam dalam seminggu.
Jika seseorang yang Anda kasihi memiliki satu atau lebih dari
gejala-gejala itu, tidak berarti orang tersebut pencandu kerja. Ini
berarti tidak berfungsinya penilaian kembali atas hidup.
Apa saja gejala-gejala kecanduan kerja itu?
-------------------------------------------
Apakah Anda menunjukkan gejala-gejala kecanduan kerja? Banyak orang
yang tidak akan menyebut dirinya seorang pencandu kerja. Mereka akan
berkata, "Saya memotivasi diri saya sendiri dan didorong untuk
sukses. Saya bekerja karena saya menyukai pekerjaan saya dan saya
merasa bahwa bekerja itu penting untuk bermasyarakat."
Berikut ini beberapa gejala "workaholic".
1. Anda tidak bisa membedakan antara pekerjaan dan rumah.
2. Meskipun di rumah, pekerjaan Anda tetap menjadi prioritas utama.
3. Anda terlalu memegang erat komitmen dan semangat kerja.
Kebahagiaan Anda ada pada pekerjaan Anda.
4. Pekerjaan selalu mendapat tempat yang lebih utama dari keluarga
dan waktu luang.
5. Anda tidak memiliki kehidupan sosial kecuali kegiatan-kegiatan
yang berhubungan dengan pekerjaan.
6. Pekerjaan selalu ada dalam benak Anda, 24 jam sehari dan 7 hari
seminggu.
7. Anda stres karena pekerjaan Anda.
8. Anda sedih ketika orang lain menyarankan kepada Anda untuk
mengurangi pekerjaan Anda.
9. Anda tidak berlibur atau Anda membawa pekerjaan Anda saat
berlibur.
Jika hidup Anda habis untuk bekerja, Anda justru berpeluang menjadi
seorang pencandu kerja atau sedang menjadi pencandu kerja.
Tips praktis menolong pencandu kerja
-----------------------------------
Jika Anda menduga seseorang itu pencandu kerja, berikut ini beberapa
hal yang dapat Anda lakukan untuk menolongnya.
1. Waspadalah terhadap tanda-tandanya dan tunjukkan kepada orang
tersebut. Kebanyakan pencandu kerja tidak akan siap mengakui
bahwa dirinya adalah seorang pencandu kerja. Tetapi jika Anda
menunjukkan tanda-tanda tersebut dengan kasih, orang tersebut
akan dapat melihat masalahnya.
2. Jika orang yang kecanduan kerja itu mengakui masalahnya, carilah
tempat atau gereja yang dapat menolongnya.
3. Jika diizinkan, bantulah orang yang kecanduan kerja itu membuat
prioritas dalam hidupnya dengan meyakinkan bahwa waktu yang ada
boleh digunakan untuk bersantai atau bersenang-senang. Pastikan
untuk mendorongnya melakukan kegiatan-kegiatan positif yang tidak
berhubungan dengan kerja.
4. Buatlah komitmen pribadi untuk melakukan bagian Anda. Kendalikan
diri dari tindakan-tindakan yang justru mengarah pada perilaku
kecanduan kerja dengan terlalu menuntut pada materi atau uang
yang dimiliki.
5. Carilah jalan supaya dapat menunjukkan kepada orang yang
kecanduan kerja bahwa kasih Anda didasarkan pada siapakah dirinya
bukan pada apa yang mereka kerjakan. Tunjukkan kepada orang yang
kecanduan kerja bahwa nilai diri tidak didasarkan pada materi
yang dimiliki.
Saya hidup dengan orang kecanduan kerja, apa yang harus saya
lakukan?
------------------------------------------------------------
Hidup dengan seorang yang kecanduan kerja adalah suatu situasi yang
sulit! Saya dan istri saya pernah menghadapi masalah ini dalam
perjalanan pernikahan kami karena saya bekerja sepanjang hari dan
sering bekerja pada akhir pekan. Kami mendapatkan empat prinsip
utama yang membantu kami menghadapi masalah ini.
1. Kami selalu membicarakan jadwal pekerjaan apa yang akan menjadi
prioritas atau proyek saya. Kami berdua membuat kesepakatan
apakah dengan memiliki waktu yang lebih banyak untuk bersama-sama
itu berharga untuk kemajuan kami dan memang perlu bagi kami.
2. Kami membuat batasan. Kami saling mengomunikasikan apa yang
menjadi harapan kami.
3. Kami menciptakan suasana saling memahami dan peka. Suatu
perumpamaan yang alkitabiah, "Belajar menjadi bijaksana dan
memberi penilaian yang baik." Memahami dan komunikasi yang baik
adalah hal yang penting jika kita hidup dengan orang yang
kecanduan kerja. Isri saya memahami dan menghargai pentingnya
pekerjaan saya dan betapa berharga dan berartinya pekerjaan itu
bagi saya. Saya pun juga harus memahami kebutuhannya. Jika saya
merasa bahwa dia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bersama
dengan saya, kami membuat rencana untuk melakukan sesuatu yang
istimewa bersama-sama.
4. Kami saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Yakobus 1:19-20,
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap
orang hendaklah cepat mendengar, tetapi lambat untuk
berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia
tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." Duduklah bersama
sebagai pasangan dan diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut
ini.
- Apakah dengan bekerja kebutuhan kita terpenuhi? Apakah yang
menjadi motivasi seseorang sehingga dia kecanduan kerja; apa
yang mendorongnya?
- Apakah orang yang kecanduan kerja ini juga melakukan hal yang
sama sebelum menikah? Apakah akhir-akhir ini kecanduan kerjanya
semakin meningkat?
- Apakah ada alasan keuangan (utang, mencukupi gaya hidup
tertentu) yang menjadi pemicu masalah ini?
- Dapatkah kebutuhan di rumah dipenuhi dengan waktu yang tak
sebanyak jam kerja?
- Harapan-harapan apa yang Anda miliki dengan gaya hidup Anda?
Apakah ini suatu faktor yang memotivasi?
- Apakah suasana rumah damai dan santai? Ataukah terjadi
percekcokan, kemarahan, dan perselisihan? Apakah faktor-faktor
yang tidak diharapkan ini menyebabkan orang yang bekerja itu
menjauh dari rumah?
- Batasan-batasan apa yang dapat Anda setujui?
Salomo menulis di Pengkhotbah bahwa adalah merupakan suatu anugerah
dari Allah untuk menikmati pekerjaan: "Tak ada yang lebih baik bagi
manusia daripada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih
payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah"
(Pengkhotbah 2:24). (t/Ratri)
Bahan diterjemahkan dari:
Situs : All About Life Challenges
Judul asli: Workaholic
Penulis : -
Alamat URL: http://www.allaboutlifechallenges.org/workaholic.htm
========== KESAKSIAN ==========
KELUAR DARI JERAT "WORKAHOLIC"
Bagi sebagian pria, pekerjaan mungkin merupakan atribut utama dalam
hidupnya sehingga mereka rela meluangkan waktu dan energinya begitu
rupa. Ada juga yang senang sekali bekerja asalkan mendapatkan uang,
status tertentu, atau sebenarnya hanya karena kewajiban semata, dan
lain sebagainya. Apa pun alasannya, kita tidak boleh menjadikan
pekerjaan sebagai hal yang terutama dan mengabaikan aspek lainnya
dalam hidup. Rajin bekerja adalah baik, tapi bekerja tanpa tahu
waktu adalah gaya hidup yang tidak sehat. Lebih gawatnya lagi kalau
tanpa disadari bekerja telah menjadi "berhala" bagi kita. Simak
penuturan dua pria berikut ini seputar bekerja.
Apa kata mereka tentang pria yang "workaholic"?
---------------------------------------------
1. Tan Yosef Handoko, 35 thn., wirausaha bidang tekstil
Orang yang "workaholic" adalah orang yang gila bekerja melebihi
batas-batas normal. Orang seperti ini tidak memandang siang atau
malam, pokoknya yang ada dalam pikirannya hanya bekerja saja.
Kecenderungan ini pasti kurang bagus karena dengan begitu ada hal
lain yang dikorbankan dan telantar, baik dirinya sendiri maupun
orang lain.
Kalau ada yang berpandangan kecenderungan "workaholic" itu lebih
banyak dialami para pria daripada wanita mungkin karena secara fisik
pria lebih kuat. Kedua, pria umumnya mempunyai ego dan ingin
membuktikan diri bahwa kami bisa memberikan yang terbaik untuk
keluarga dan teman-temannya. Pria "workaholic" biasanya tidak merasa
dituntut, tapi ada kalanya dia seperti itu karena membutuhkan
pengakuan.
Pengalaman pribadi
------------------
Saya dulu lebih cenderung digerakkan oleh uang. Dalam pikiran saya
yang ada hanyalah uang, uang, dan uang. Saya begitu karena saya
bukan berasal dari keluarga yang berada sehingga berpandangan bahwa
saya harus berhasil supaya bisa menyenangkan orang tua, baru
menyenangkan diri sendiri. Saya terdorong untuk membuktikan bahwa
dari keluarga saya pun ada yang bisa mapan. Memang ada sisi
positifnya, misalnya dalam pekerjaan yang baru, saya tidak perlu
waktu lama untuk bisa mengambil peluang yang baik supaya jadi uang.
Tetapi saya bukan hanya mengerjakan yang halal saja karena saya juga
suka judi bola. Pokoknya, selama menghasilkan uang, saya akan
lakukan walau tidak halal. Lebih lanjut, kalau saya bekerja sampai
malam dan saya letih, saya minta dipijat. Di situ, saya jatuh dalam
dosa main perempuan, apalagi kalau di luar kota. Efek lainnya adalah
saya tidak dekat dengan anak-anak karena saya berpikir tugas saya
adalah mencari uang.
Titik balik perubahan
---------------------
Suatu waktu, ada banyak aral melintang dalam bisnis saya. Di saat
seperti itu, kakak mengajak saya mengikuti kamp Pria Sejati. Awalnya
saya menolak karena merasa sudah cukup sejati dengan mempunyai dua
anak, istri, dan uang. Saya juga merasa takut pada Tuhan. Tetapi
setelah istri saya mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk ikut,
saya ikut juga dan saya hanya anggap itu sebagai "main". Rupanya, di
sanalah saya terjamah melalui apa yang disampaikan para pembicara.
Salah satunya adalah bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan
Tuhan. Artinya, Dia bisa ambil kapan saja. Saya juga dibukakan,
bahwa saya tidak pernah menyenangkan anak-anak. Bagaimana sekolah
mereka pun saya tidak tahu. Dari situ saya berkomitmen untuk mulai
mengantar anak-anak ke sekolah, berhenti main perempuan, dan judi.
Melepas judi adalah yang paling sulit, tetapi dengan adanya dukungan
dari teman-teman komunitas dan saya meninggalkan pergaulan yang
lama, saya bisa melepaskannya.
2. Paulus Ruddy Saswono, 44 thn., kontraktor
Seorang "workaholic" adalah orang yang bekerja terus-menerus tanpa
ada waktu sisa. Waktunya didominasi untuk bekerja, bahkan mungkin
bukan lagi 24 jam, melainkan kalau bisa 36 jam sehari. Alasan pria
cenderung seperti itu karena berpikir bahwa kami berkewajiban untuk
menghidupi keluarga. Jadi, harus mencari uang.
Sebenarnya dalam firman Tuhan, kita seharusnya bekerja untuk Tuhan
dan bukan untuk manusia sehingga kita akan melakukan yang terbaik.
Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa harus ada keseimbangan dalam
hidup. Kalau kita bekerja dengan alasan demi kebahagiaan keluarga,
itu berarti ada waktu juga yang harus diberikan. Mengapa? Karena
kasih identik dengan waktu, bukan hanya uang. Tuhan pun tidak mau
kita bekerja terus dan keluarga ditinggalkan.
Pengalaman Pribadi
------------------
Kalau bekerja saya memulainya dari pagi sampai sore di kantor.
Setelah mandi dan makan, saya masuk ruang kerja lagi di rumah dan
terus bekerja sampai dini hari. Pagi-paginya saya bangun dan segera
ke kantor lagi. Begitulah seterusnya aktivitas saya. Bahkan hari
Minggu setelah pulang gereja saya biasanya bekerja. Saya sendiri
melakukannya dalam ketidaktahuan bahwa itu salah karena saya
berpikir kalau saya bekerja, hasilnya pun untuk keluarga saya.
Akibatnya, saya tidak merasa bersalah dan saya pribadi menikmati
kehidupan seperti itu. Di sisi lain, saya juga merasa dihargai
sekali bila dalam pekerjaan. Dalam arti, apa pun yang saya katakan
pasti akan dilakukan. Tetapi istri saya mulai mengeluh dan protes
akan hal ini. Dia mengatakan bahwa saya sudah tidak mempunyai waktu
lagi dan juga tidak mengurus anak kami yang masih kecil. Padahal
peran seorang ayah sangat penting bagi pembentukan karakter anak.
Titik balik perubahan
---------------------
Saya mulai terbuka ketika istri saya mengeluh. Di situ saya pikir,
benar juga bahwa pekerjaan memang tidak ada akhirnya. Jadi, saya
mulai "kompromi" untuk tidak bekerja pada hari Minggu dan memilih
bersama keluarga. Di hari-hari lainnya saya juga berbagi waktu
dengan keluarga besar, misalnya bila ada adik atau kakak yang
berulang tahun, saya tinggalkan pekerjaan untuk berkumpul. Semakin
lama, saya semakin dibukakan dan memang untuk mengubahnya
membutuhkan waktu yang lama. Di awal perubahan, rasanya saya bingung
sekali kalau liburan karena tidak tahu harus mengerjakan apa dan
otak saya pun masih ke pekerjaan. Tetapi saya terus berkomitmen
untuk membagi waktu, bahkan terkadang saya mematikan HP di hari
Minggu agar tidak terganggu. Setelah mengikuti kamp, saya lebih
mengerti lagi bahwa saya juga harus jadi imam. Karenanya, saya juga
mulai mengantar anak ke sekolah dan mendoakannya.
Bahan diambil dari sumber:
Majalah : GetLife!
Edisi : Tahun III/Edisi no.27
Penerbit: GetmeDia (Yayasan Pelita Indonesia), Bandung.
Halaman : 63 -- 64
========== INFO ==========
PELATIHAN INTENSIF "DASAR KONSELING"
Seorang ibu muda di kota Malang, Junaini Mercy namanya, bunuh diri
bersama empat anaknya karena tidak kuat menanggung beban hidup yang
semakin berat (Kompas, 13 Maret 2007).
Kehidupan perkotaan memang makin keras sehingga makin banyak
masyarakat (termasuk umat Kristen) yang membutuhkan pelayanan
konseling.
Lembaga i Family Enrichment (LiFE) terpanggil untuk menyiapkan para
murid Kristus menjadi penolong masyarakat sekitarnya, yaitu dengan
mengadakan:
Pelatihan Intensif "Dasar Konseling"
Deskripsi:
----------
Pelatihan ini ditujukan bagi anak-anak Tuhan yang
terbeban/terpanggil dalam pelayanan konseling, tetapi merasa belum
memiliki ketrampilan.
Pelatihan ini akan membahas pengenalan akan konseling Kristen,
masalah-masalah umum kepribadian manusia, serta melengkapi/melatih
peserta dengan ketrampilan dasar konseling.
Tujuan
------
1. Peserta memahami makna, arah, dan etika konseling Kristen.
2. Peserta memahami keunikan pribadinya sendiri (dilengkapi dengan
tes kepribadian bagi peserta).
3. Peserta memahami keunikan pribadi orang lain.
4. Peserta memiliki ketrampilan dasar konseling dan mampu
menerapkannya dalam mendampingi orang yang bermasalah.
Pendekatan
----------
Integrasi teologi dan psikologi
- Alkitab sebagai standar kebenaran; Roh Kudus sebagai pemimpin
dalam proses konseling.
- Psikologi sebagai alat bantu untuk lebih memahami perilaku
manusia.
Sistem Pelatihan
----------------
Teori : 40%
Latihan kasus/role play : 40%
Refleksi/pengenalan diri: 20%
Peserta:
--------
- Jumlah peserta maksimum 12 orang.
- Peserta adalah orang-orang Kristen yang sudah hidup baru, sudah
melayani, dan terpanggil dalam pelayanan konseling.
- Serius mengikuti pelatihan.
Waktu dan Tempat:
-----------------
Delapan kali pertemuan setiap:
Hari : Kamis (mulai 5 April 2007)
Pukul : 09.30 - 12.30 WIB
Tempat : Jalan Cisanggiri III/18, Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan
Biaya : Rp. 50.000,-- per orang
Pelatih : 1. Siska Susilo, MK (0816-1104368)
2. Dra (Psi) Yohana Purba (0856-7085533)
Pendaftaran: Ibu Laura Gerung (0816-703610)
Catatan: Setelah paket ini akan dilanjutkan dengan paket Pelatihan
Intensif Konseling Keluarga sebanyak 8 kali pertemuan.
============================== e-KONSEL ==============================
REDAKSI e-Konsel: Ratri
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2007 oleh YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling? masalah-konsel(at)sabda.org
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat: owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti : unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I : http://c3i.sabda.org/
======================================================================
|