><> Edisi (046) -- 15 Agustus 2003 <><
e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Daftar Isi:
- Pengantar : Persiapan Sebagai Konselor
- Cakrawala : Konselor yang Siap Memasuki Proses
Konseling
- Bimbingan Alkitabiah : Lima Langkah Bimbingan yang Alkitabiah
- Tips (1) : Petunjuk Bagi Mentor yang Berfungsi
sebagai Konselor
(2) : Lima Kesalahan yang Sering Dilakukan
Konselor
- Info : Ceramah Umum Konseling
- Stop Pres : Pengiriman Publikasi ICW --
Edisi Konseling
- Surat : Edisi Tentang Bapa
*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*
-*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-
Tugas utama dari seorang konselor Kristen adalah menolong konsele
untuk bersama-sama bergumul menemukan jalan keluar bagi masalah-
masalah yang dihadapinya, khususnya dari sudut pandang iman Kristen.
Agar seorang konselor bisa memberikan pertolongan yang maksimal,
seorang konselor harus memperlengkapi dirinya dengan baik termasuk
melakukan persiapan-persiapan yang matang, baik secara fisik,
mental, sosial maupun rohani.
Edisi e-Konsel kali ini, dengan topik "Persiapan sebagai Konselor",
memberikan ulasan yang pasti akan berguna bagi para konselor Kristen
untuk dapat memberikan yang terbaik bagi konsele yang kita layani.
Secara umum sajian kami ini berisi seputar hal-hal yang harus
dipersiapkan oleh konselor sebelum memulai proses konseling.
Kiranya wawasan para konselor, yang menjadi pembaca e-Konsel ini,
baik mereka yang pemula maupun yang sudah berpengalaman, dapat
semakin diperluas. Marilah kita tidak jemu-jemu memperlengkapi diri
agar dapat dipakai semaksimal mungkin untuk menolong umat Tuhan yang
membutuhkan pertolongan kita.
Sajian edisi ini sekaligus akan melengkapi terbitan e-Konsel yang
lalu (Edisi 003/2001), dengan topik "Konselor Kristen", yang telah
membahas mengenai kualifikasi dan ciri-ciri seorang konselor
Kristen. Jika Anda belum memiliki edisi tersebut, silakan
mendapatkannya di alamat:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/003/
Selamat Melayani!
Tim Redaksi
*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*
-*- Konselor yang Siap Memasuki Proses Konseling -*-
Tugas sebagai seorang konselor bukanlah hal yang mudah. Seorang
konselor Kristen harus selalu siap memberikan bantuan yang terbaik
kepada konsele. Oleh karena itu, seorang konselor membutuhkan suatu
persiapan yang matang sebelum melakukan proses konseling karena
tanpa persiapan yang baik maka hasil yang dicapai tidak akan
maksimal. Berikut ini kami sajikan persiapan-persiapan apa saja
yang perlu dilakukan oleh konselor sebelum memulai proses konseling.
1. Kesiapan Fisik Konselor
-----------------------
a. Faktor kesehatan jasmani dari konselor sangat penting dalam
menjalankan tugas pelayanan konseling. Dalam menjaga
kesegaran fisiknya konselor perlu mengupayakan dan menggunakan
waktu untuk rileks sebelum melakukan tugas yang melelahkan.
b. Konselor juga perlu mengatur jam-jam makan pada waktunya,
meskipun ada tantangan pelayanan yang harus dihadapinya. Di
sini konselor harus bisa menetralisir diri sendiri dan
menjaga keseimbangan serta kesegaran fisiknya.
2. Kesiapan Mental Konselor
------------------------
a. Konselor perlu siap secara mental untuk mendengarkan orang
lain secara aktif. Hal ini dapat dilakukan dengan aktif
mengikuti pembicaraan konsele dan sekaligus selektif dalam
mendengarkan.
b. Konselor perlu menetapkan pendirian bahwa ia akan membimbing
konsele melalui proses dialog. Untuk berdialog, konselor perlu
siap mendengar. Daniel Webbster mengatakan, "Dengan
mendengarkan orang-orang pandai, seseorang telah belajar lebih
banyak daripada membaca buku." Guna mencapai hal ini, konselor
harus melatih diri untuk mendengarkan orang lain agar proses
dialog dapat berjalan lancar.
c. Konselor perlu belajar memusatkan perhatian atau
berkonsentrasi terhadap masalah konsele. Kebiasaan
berkonsentrasi perlu dilatih sejak dini. Pada sisi lain,
konselor pun harus memahami daya konsentrasi dari konsele.
Sebagai gambaran, daya konsentrasi usia anak-anak kecil
sekitar 7-10 menit dan orang dewasa 40-45 menit, untuk
menerima masukan dari orang lain pada satu kali pertemuan
yang efektif. Dengan memahami hal ini, konselor akan
tertolong untuk mengerti apa sesungguhnya yang dialami oleh
konsele yang dilayaninya.
d. Konselor perlu bersikap sensitif untuk melihat makna yang
tepat dari pokok persoalan, sehingga ia akan sanggup mengamati
persoalan konsele dengan jelas.
e. Konselor perlu mengembangkan sikap untuk tidak cepat
menganggap dirinya telah mengetahui semua makna pikiran
konsele yang sedang dibicarakan. Sikap ini akan membantu
konselor untuk terbuka mencari kemungkinan makna lain dibalik
pikiran konsele.
3. Kesiapan Emosi konselor
-----------------------
a. Konselor perlu mengontrol emosinya dalam menghadapi setiap
konsele. Dengan mengontrol emosinya, konselor dapat
mendeteksi secara dini apakah seseorang (konsele) itu
bersungguh-sungguh atau hanya berpura-pura menemuinya.
b. Konselor yang mengontrol emosinya akan bersabar dalam melihat
dan memahami perasaan konsele. Jika ada hal yang tidak
disetujui, konselor dengan sabar dapat belajar memahami
perasaan konsele sehingga ia akan lebih gampang memberikan
pertolongan.
c. Dengan pengontrolan emosi, konselor dapat menolak hal-hal
yang membingungkan dengan menggunakan pikiran yang jernih dan
matang. Dengan mengontrol emosi diharapkan konselor tidak
memotong pembicaraan sementara ia sedang mengikuti pembicaraan
konsele yang menuturkan masalahnya.
d. Pengontrolan emosi dapat membantu usaha konselor dalam
membangun perhatian pada faktor yang sedang dibicarakan.
Dengan demikian ia dapat berpikir dan membuat analisis yang
lebih cepat dari konsele yang sedang berbicara.
e. Dalam upaya mengendalikan emosi secara konsisten, konselor
dapat menanyakan hal-hal yang memerlukan jawaban pendek,
jelas, dan tepat dengan tidak menyela pada saat yang tidak
perlu. Sikap ini dapat membantu konselor untuk setia pada
pokok yang diungkapkan. Konselor yang mengontrol dirinya
tidak akan berdebat dan membuat permasalahan baru.
f. Pengendalian emosi dapat menolong konselor untuk menggali
latar belakang asal usul konseli, antara lain faktor keturunan
(genetika) -- dalam upayanya menolong konsele mengalami
kesembuhan jiwa.
g. Pengontrolan emosi dapat dengan sendirinya akan menolong
konselor untuk berhati-hati dalam memberikan nasihat. Hal ini
pun membantu konselor untuk siap mengatasi perasaan sendiri,
rasa rendah diri, dsb. Dengan ini, konselor akan lebih
berdisiplin dan tenang saat melaksanakan konseling dalam
upayanya membantu konsele.
4. Kesiapan Sosial Konselor
------------------------
Kesiapan konselor secara sosial memberi kemampuan kepadanya untuk
menempatkan diri secara benar saat menghadapi setiap konsele.
a. Konselor harus bersedia untuk menghadapi setiap konsele pada
level status sosial di mana ia berada. Konselor diharapkan
agar tidak melihat status sosial konsele sehingga ia tidak
segan untuk melayani atau bertindak tegas.
b. Kesiapan sosial membantu konselor menangani pergaulan secara
baik di mana ia dapat mempertahankan hidup kekristenan yang
benar sebagai kunci untuk menghadapi konsele dengan penuh
tanggung jawab.
c. Kesiapan sosial meneguhkan konselor untuk menjunjung tinggi
kesopanan dan menghargai konsele sebagai subjek yang patut
diperlakukan semanusiawi mungkin.
d. Kesiapan sosial menopang konselor memiliki sikap tulus hati,
sehingga dalam percakapan konselingnya ia tidak mencoba-coba
menipu atau memanipulasi konsele secara halus.
e. Kesiapan sosial menunjang konselor untuk terus belajar
menerima diri sendiri sebagaimana adanya, dan tidak mudah
terpengaruh oleh konsep pemikiran orang lain, khususnya
konsele yang dihadapinya.
5. Kesiapan Rohani Konselor
------------------------
Kesiapan rohani merupakan faktor fundamental bagi konselor untuk
terlibat dalam pelaksanaan tugas konseling. Kesiapan rohani
meliputi kebenaran sebagai berikut:
a. Konselor Kristen harus memahami dan mengalami arti hidup dalam
Kristus. Dia juga harus mengerti apa artinya mati dan bangkit
bersama Kristus sehingga ia dapat membagikannya kepada setiap
konsele.
b. Konselor harus mengerti apa artinya dibenarkan oleh Kristus,
sebagai dasar untuk menolong konsele dalam menghayati
pembenaran yang membawa kedamaian hidup (Yesaya 32:17).
c. Konselor patut menghayati dan mengalami arti kekudusan hidup
dalam Kristus, sehingga ia dapat membantu dan memberi jalan
kepada konselor untuk hidup sebagai penurut-penurut Allah yang
dikuasai dan "dipenuhi oleh Roh Kudus" (Efesus 5:15-21).
d. Konselor patut menghayati "arti hidup dipermuliakan bersama
Kristus" (Yohanes 5:24; Efesus 1:13; Ibrani 9:28), sehingga ia
dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab bagi
kemuliaan Allah.
Perlu dipertegas di sini bahwa untuk menjadi konselor yang efektif
konselor harus memahami arti kehidupan Kristen dengan benar
berdasarkan kebenaran Alkitab. Pemahaman ini akan meneguhkan
konselor untuk menggunakan Alkitab sebagai jawaban final atas setiap
permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian, dapatlah dikatakan
bahwa strategi pelaksanaan konseling yang efektif membutuhkan
persiapan pribadi konselor Kristen yang seimbang, baik secara
teologis maupun psikologis yang dikembangkan melalui pendalaman
pengalaman rohani, intelektual, emosional, dan sosial.
-*- Bahan diedit dari sumber -*-:
Judul Buku : Konselor Kompeten
Judul Artikel: Konselor yang Siap Memasuki Proses Konseling
Penulis : Magdalena Tomatala, Ph.D.
Penerbit : YT Leadership Foundation, IFTK Jaffray, Jakarta,
2000
Halaman : 55 - 60
*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*--*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*
-*- LIMA LANGKAH BIMBINGAN YANG ALKITABIAH -*-
Dr. Gary R. Collins dalam bukunya yang berjudul "How To Be a People
Helper" menuliskan lima langkah bimbingan yang Alkitabiah yang harus
dilakukan konselor dalam proses konseling, yaitu:
a. Membangun hubungan antara konselor dan konsele (Yohanes 6:63;
Yohanes 16:7-13; 1Yohanes 4:6).
b. Menggali masalah, memperjelas masalah dan menentukan apa saja
yang telah dilakukan di masa lalu yang dapat digunakan untuk
mengatasi masalah (Roma 8:26).
c. Mengambil keputusan dalam suatu rangkaian tindakan. Ada beberapa
alternatif yang dapat dicoba dalam suatu waktu (Yohanes 14:26;
1Korintus 2:13).
d. Menstimulasi tindakan yang akan dievaluasi oleh konselor maupun
konsele secara bersama-sama. Jika ada rencana yang tidak berjalan
dengan baik, dapat dicoba lagi (Kisah para Rasul 10:19-20; 16:6;
Yohanes 16:13).
e. Mengakhiri hubungan konseling dan mendorong konsele untuk
menerapkan secara pribadi apa yang telah ia pelajari dalam
konseling (Roma 8:14).
-*- Diterjemahkan dari sumber -*-:
Judul Buku: How To Be a People Helper
Penulis : Dr. Gary R. Collins
Penerbit : Regal Book, Ventura, California, U.S.A, 1976
Halaman : 52
*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*
Tips (1)
========
-*- PETUNJUK BAGI MENTOR YANG BERFUNGSI SEBAGAI KONSELOR -*-
Bagi para konselor yang akan memulai proses konseling, ada beberapa
hal yang perlu dipersiapkan dan beberapa hal yang harus dihindari
agar hasil dari konseling tidak mengecewakan konselor maupun
konsele.
Berikut ini enam petunjuk yang harus dipersiapkan konselor sebelum
memulai proses konseling, yaitu:
1. Bersiap sedialah membimbing orang-orang yang berpotensi.
Beradalah di mana mereka berada, usahakan berhubungan dengan
mereka sebagai seorang saudara, dan merasa senanglah dengan
mereka.
2. Berusahalah memahami masalah yang dihadapi orang lain dan
berdoalah bagi mereka. Gunakan waktu untuk berpikir, belajar dan
berdoa untuk memperoleh hikmat yang dapat diterapkan pada masalah-
masalah tersebut. Ingat pengalaman-pengalaman Anda sendiri yang
berkaitan dengan masalah-masalah tersebut atau dengan masalah-
masalah serupa.
3. Hendaknya Anda selektif dalam memilih orang yang akan Anda
bimbing secara terus-menerus.
a. Ketahuilah secara pasti apa jenis pemberian kemampuan yang
dibutuhkan orang yang Anda bimbing. Bila Anda tidak dilengkapi
untuk membantu dalam hal tersebut, hubungkan dia dengan orang
lain yang bisa membantu. Anda harus mengenal jaringan orang-
orang, pria dan wanita, yang berfungsi sebagai mentor jenis
Konselor dan mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-
kelemahan mereka dalam hal delapan fungsi pemberian kemampuan,
yaitu: sebagai pendorong semangat, pemantul suara (pendengar
dan pemberi umpan balik yang memancing reaksi), pengevaluasi
utama, pemberi perspektif, pemberi nasihat khusus, penghubung,
pemberi petunjuk utama, dan penyembuh batin.
b. Perhatikanlah benar-benar apa daya tarik dan sifat cepat
tanggap dalam pembimbingan dan apakah Anda akan mampu
menetapkan pertanggungjawaban.
4. Ketahui secara pasti harapan-harapan potensial dari orang yang
Anda bimbing tersebut, mengenai kebutuhan-kebutuhannya, dan
berapa lama bimbingan berlangsung.
5. Janganlah tergesa-gesa dengan menetapkan jalan keluar (solusi)
lebih dahulu. Sering kali mentor sebagai konselor telah
menyiapkan "jalan keluar favorit" yang mereka coba gunakan
seperti sebuah program komputer. Untuk bisa memahami masalah,
dengarkan orang yang Anda bimbing, dan dengarkan Allah berkenaan
dengan situasi orang itu secara pribadi. Bersiaplah bila Anda
membuat terobosan dengan ide-ide yang belum pernah Anda ketahui.
6. Berupayalah mengakhiri hubungan dengan cara sedemikian rupa
supaya orang yang dibimbing mau melepaskan ketergantungannya dan
menjadi mandiri.
-*- Sumber -*-:
Judul Buku: Mentor
Penulis : Paul D. Stanley - J. Robert Clinton
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996
Halaman : 89 - 90
*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*
Tips (2)
========
-*- LIMA KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN KONSELOR -*-
Dalam proses konseling seringkali konselor melakukan kesalahan-
kesalahan yang dapat menyebabkan konseling tidak berjalan lancar.
Lima kesalahan yang perlu dihindari oleh konselor selama proses
konseling berlangsung antara lain:
1. Dalam menetapkan tujuan hubungan pembimbingan janganlah terlalu
bersikap dominan. Demi membangkitkan motivasi, rasa memiliki, dan
fokus yang tepat, ajaklah orang yang Anda bimbing untuk bersama-
sama menetapkan sasaran pembimbingan.
2. Jangan terlalu cepat memberikan tugas-tugas yang banyak. Biarkan
orang yang dibimbing mengatur langkahnya.
3. Hati-hatilah terhadap kemunduran di tengah jalan. Hubungan
pembimbingan cenderung kehilangan semangat mula-mulanya di tengah
perjalanan. Pastikan bahwa orang yang dibimbing membuat kemajuan,
dan seringlah adakan kontak.
4. Adakan penilaian dan seleksilah secara hati-hati orang yang akan
Anda bimbing. Periksa motivasinya, sikap cepat tanggapnya dan
apakah waktunya tepat.
5. Hati-hatilah terhadap "penyelesaian yang lemah" dan
pertanggungjawaban yang buruk. Hendaknya Anda penuh perhatian
kepada orang yang Anda bimbing selama pembimbingan itu dan
akhirilah hubungan dengan baik.
-*- Sumber -*-:
Judul Buku: Mentor (Anda Perlu Mentor dan Bersedia Menjadi Mentor)
Artikel : Belajar dari Kesalahan-kesalahan
Penulis : Paul D. Stanley - J. Robert Clinton
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996
Halaman : 193 - 194
*INFO *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* INFO*
-*- CERAMAH UMUM KONSELING -*-
Pusat Pendidikan Konseling Kristen (PPKK) Bandung mengundang Anda,
terutama yang tertarik dalam bidang konseling, untuk mengikuti
ceramah umum dalam bidang konseling.
Ceramah ini secara rutin diadakan pada:
Hari : Kamis
Pukul : 18.00 WIB
Tempat : Aula Hotel Sukajadi
Jl. Sukajadi no. 176 (depan Pompa Bensin), Bandung
Kontribusi: GRATIS dan tanpa diperlukan pendaftaran.
Acara ini telah rutin diadakan selama lebih dari 6 bulan dan akan
terus diadakan dengan topik yang bervariasi setiap minggunya.
Ceramah ini selalu menghadirkan para pembicara yang profesional
dalam bidang konseling sesuai dengan materi yang disajikan. Salah
satu diantaranya adalah Pdt. Yopie Buyung, M.A. (Direktur dari PPKK
Bandung dan konselor utama di Bandung Counseling Service).
Jika Anda berminat, silakan datang langsung (tepat waktu) ke tempat
acara berlangsung dan jangan lupa untuk mengajak teman Anda!
*STOP PRESS*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*STOP PRESS*
-*- PENGIRIMAN PUBLIKASI ICW -- EDISI KONSELING -*-
Melalui Stop Press ini kami mengumumkan bahwa hari Selasa (tanggal
19 Agustus 2003), kami akan mengirimkan kepada semua anggota milis
e-Konsel, Publikasi ICW (Indonesian Christian WebWatch) edisi
1005/2003, yang kebetulan menyajikan ulasan khusus tentang situs-
situs konseling. Di antara situs-situs tersebut, secara khusus akan
dibahas Situs C3I (Christian Counseling Center Indonesia). Situs C3I
yang baru saja diluncurkan bulan Agustus ini, merupakan situs
terlengkap yang bukan saja menyimpan semua arsip terbitan e-Konsel,
tetapi juga menyajikan bahan-bahan lain yang berkaitan dengan pokok
bahasan konseling.
Secara organisasi C3I adalah yayasan virtual yang menaungi pelayanan
publikasi e-Konsel. Nah, jika ingin mengetahui lebih banyak tentang
C3I, Anda bisa menengok lagi terbitan perdana e-Konsel (edisi
001/2001), karena di sana telah diulas tentang visi, misi dan tujuan
C3I. Silakan arahkan browser Anda ke alamat berikut ini:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/001/
atau silakan berkunjung langsung ke Situs C3I di alamat:
==> http://www.sabda.org/c3i/about.php?bawah=4&idt=9&tanda=4
Untuk berlangganan ICW: < subscribe-i-kan-icw(at)xc.org >
*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI ANDA-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*
Dari: <robi(at)>
>Tolong kalau bisa keluarkan edisi yang ada hubungannya dengan
>hati bapa atau hal-hal yang menyangkut kebapaan, baik bapa
>dalam arti yang sebenarnya (ayah) atau bapa dalam arti
>vertikal (yang di surga). Dan kalau bisa lengkap dengan semua
>contoh dan pengajarannya. Atas perhatiannya saya ucapkan terima
>kasih dan Tuhan Yesus memberkati!!!
Redaksi:
Terima kasih atas usulannya. Redaksi e-Konsel pernah menampilkan
edisi yang mengulas tentang "Peran Seorang Ayah" (edisi 042/2003),
terutama dalam peranan ayah dalam mendidik anak dan apa rahasianya
untuk menjadi seorang ayah yang efektif. Anda bisa mendapatkan
Publikasi e-Konsel Edisi 42 ini dengan mengakses:
- Situs Arsip Publikasi e-Konsel
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/042/
atau
- Situs C3I (Christian Counseling Center Indonesia)
==> http:/www.sabda.org/c3i/
Kami berharap e-Konsel edisi 042 tersebut sesuai dengan yang Anda
inginkan. Sedangkan usulan topik mengenai hati Bapa dalam arti
hubungan vertikal dengan Allah Bapa, akan menjadi bahan pertimbangan
untuk usulan topik tahun depan. Thank you.
e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL
STAF REDAKSI e-Konsel
Yulia, Ratri, Natalia, Purwanti, Kiky
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2003 oleh YLSA
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel(at)sabda.org>
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat: <owner-i-kan-konsel(at)xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Berhenti: Kirim e-mail kosong: unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP publikasi e-Konsel: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
|