Beranda | YLSA.org | Alkitab | Katalog | AI |
Utama > Publikasi > e-JEMMi > Edisi No. 48 Vol. 3/2000
  Tampilan cetak   edisi sebelum | 12/Edisi 2000 | edisi berikut

e-JEMMi edisi No. 48 Vol. 3/2000 (21-12-2000)

----------------------------------------------------------------------
  Jurnal Elektronik Mingguan Misi (JEMMi)  Desember 2000, Vol.3 No.048
----------------------------------------------------------------------

SEKILAS ISI:

  o [Editorial]            : Selamat Natal 2000 dan Tahun Baru 2001 !!
  o [Mengenal Suku]        : Suku-Suku di Sulawesi Tenggara
  o [Cerita Misi]          : Natal Menembus Perbatasan Korea Utara
                                yang Dijaga Ketat
  o [Cerita Natal]         : Hadiah Natal dari Michael
  o [Doa Bagi Misi Dunia]  : Kesempatan Emas Selama Natal
                             Memelihara Hukum
                             Membayar Harga
  o [Sumber Misi]          : Luis Palau Evangelistic Association,
                             Joyful Heart Ministries,
                             Help For The Holidays, House2House.org,
                             ICW edisi 090
  o [Dari Meja Redaksi]    : Minggu terakhir [30 Hari] Doa Bangsa-bangsa,
                             Puisi-Refleksi: They Missed Him!!
  o [Surat Anda]           : Pokok-pokok Doa, Daftar Teman-teman Saya
  o [URL Edisi ini]

*************************************************************************
Anda diijinkan mengutip/meng-copy/memperbanyak semua/sebagian bahan dari
   e-JEMMi (untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: harus
   mencantumkan SUMBER ASLI dari masing-masing bahan dan e-JEMMi (sebagai
penerjemah/penerbit bahan-bahan tersebut dalam bahasa Indonesia). Thanks.
*************************************************************************

** EDITORIAL **

    Salam dalam Kasih Kristus.

    Natal adalah hari raya Kristen yang paling ramai diperingati oleh
    umat Kristen. Pada hari Natal ini mereka merindukan kebersamaan baik
    dengan keluarga maupun teman-teman. Namun, di balik segala sukacita
    Natal, terselip hati yang menangis akibat bencana, penganiayaan dan
    masalah yang dialami oleh saudara-saudara kita seiman di berbagai
    tempat di dunia, khususnya di Indonesia di tahun 2000 ini.

    Mendengar, melihat, dan mengalami sendiri penderitaan-penderitaan di
    dunia ini sering membuat hati kita menjadi kecil dan bertanya-tanya
    apakah Allah peduli dan memperhatikan umatNya? Peringatan Natal,
    hari kelahiran Yesus, mengingatkan kepada kita bahwa justru karena
    penderitaan itulah Allah mengutus Kristus untuk datang ke dunia.
    Natal adalah wujud kepedulian Allah akan manusia. Kepedulian Allah
    bukan hanya pada penderitaan jasmani, tapi terlebih pada penderitaan
    rohani yang dialami manusia, yaitu dosa. Barangsiapa percaya kepada
    AnakNya, Yesus Kristus yang diutusNya, maka ia akan dilepaskan dari
    belenggu dosa selamanya. Inilah makna utama kelahiran Yesus di
    dunia ini, yaitu menyelamatkan manusia dari dosa, penderitaan kekal!
    Melalui perayaan Natal tahun ini, marilah kita semakin giat
    memberitakan Kabar Sukacita itu.

    Karena e-JEMMi Edisi 48 ini adalah edisi terakhir tahun 2000, maka
    selain ingin mengucapkan: Selamat Natal 2000 !! ijinkan kami juga
    mengucapkan: Selamat Tahun Baru 2001 !!

    Sampai jumpa di tahun 2001!
    Staf Redaksi

----------------------------------------------------------------------
** MENGENAL SUKU **

 SUKU-SUKU DI SULAWESI TENGGARA
   ------------------------------

         SUKU KALISUSU berdiam di sudut Timur laut pulau Buton di
   wilayah Sulawesi Tenggara. Daerah ini cukup produktif sehingga
   penduduk lebih banyak menjadi petani ladang dan sawah dengan
   mengandalkan curah hujan.

         SUKU PANCANA, salah satu anak suku Buton, mendiami bagian
   tengah Pulau Buton dengan jumlah penduduk 15.000 jiwa. Mereka
   memiliki dialek yang khas, berbeda dengan suku lainnya. Mereka
   dikenal sebagai pelaut dan pedagang antar pulau.

         SUKU WOLIO dikenal dengan nama suku Buton. Mereka berdiam
   di antara kabupaten Buton Selatan, Buton Tengah dan di P. Wakatobi.
   Ciri khas mereka sebagai pelaut dan pedagang antar pulau.
   Perdagangan dilakukan dengan sistem barter.

         SUKU TUKANG BESI SELATAN dan TUKANG BESI UTARA termasuk rumpun
   suku Buton. Mereka tinggal di kepulauan Tukan Besi. Anak-anak, para
   pemuda/i, ibu rumah tangga dan kaum pria semuanya terampil dan mahir
   mengarungi lautan. Umbi-umbian dan ikan yang dibakar menjadi makanan
   pokok mereka.

         Hampir dapat dikatakan bahwa suku-suku ini belum terjangkau
   oleh Injil. Namun diperkirakan ada lebih dari 100.000 orang dari
   rumpun Tukang Besi, yang biasa disebut orang Buton, tinggal di Ambon -
   Maluku dan bekerja sebagai petani, pedagang dan nelayan. Kehidupan
   yang damai bersama penduduk asli setempat yang beragama Kristen telah
   membuka pintu perdagangan sehingga semakin banyak orang Buton pindah
   ke Ambon. Namun kerusuhan di Ambon sejak Januari 1999 telah menoreh
   luka yang dalam baik untuk penduduk asli maupun para pendatang. Kini
   mayoritas dari orang Buton telah meninggalkan Ambon dan kembali ke
   daerah asalnya.

         Sama seperti bagian lain di Sulawesi Tenggara, agama dari
   suku-suku tersebut bercampur dengan kepercayaan adat. Keduanya
   sama-sama dijunjung tinggi. Setiap siklus kehidupan manusia
   ditandai dengan upacara-upacara magis. Hal ini menjadi tantangan
   saat menaburkan berita Injil. Siapakah yang akan diutus untuk
   membawa

   POKOK DOA :
   -----------
   1. Mohonkan anugerah dan kasih Allah bagi sedikit orang dari suku-
      suku ini yang telah percaya, agar mereka tetap kuat imannya dan
      terus bertumbuh. Doakan juga agar pelita mereka tetap menyala
      untuk menyinari keluarga dan lingkungannya dengan terang Injil.

   2. Berdoa agar umat Tuhan di Indonesia terbuka untuk melihat ladang
      yang terabaikan ini. Doakan agar Bapa berkenan memanggil dan
      mengutus mereka yang memiliki berbagai keahlian untuk berkarya di
      tengah-tengah suku ini dan menjadi surat Kristus yang terbuka
      bagi mereka.

   3. Berdoa agar mereka yang merantau dapat membuka hatinya kepada
      Yesus melalui hubungan mereka dengan umat percaya, maupun melalui
      berita sukacita yang tersaji melalui multi media.

   Sumber: [30-Hari] dan e-DOA <subscribe-i-kan-buah-doa@xc.org>, 28 November - 6 Januari 2000

-----------------------------------------------------------------------
** CERITA MISI **

        NATAL MENEMBUS PERBATASAN KOREA UTARA YANG DIJAGA KETAT
        =======================================================

   Di Korea Utara masyarakat umum tidak akan merayakan Natal. Natal
   tidak tercantum dalam kalender-kalender yang dicetak oleh pemerintah.
   Namun orang-orang Kristen di Korea Selatan terus menerus berdoa
   dengan giat bagi terbukanya kesempatan untuk menyampaikan Firman
   Tuhan kepada sanak keluarga mereka di seberang perbatasan negara
   mereka. Mereka juga memakai taktik yang kreatif untuk menjangkau
   orang-orang non-Kristen dan untuk menguatkan iman orang percaya yang
   harus memelihara hidup iman mereka secara sembunyi-sembunyi. Mereka
   melepaskan balon-balon bertuliskan ayat-ayat Alkitab. Mereka
   'membuang' kantong-kantong plastik yang dipenuhi buku-buku Kristen di
   teluk dekat perbatasan. Mereka juga membawa Alkitab menyeberang
   perbatasan Cina/Korea dalam kegelapan malam. Para mitra dari Bible
   League menjalankan tugas mereka dengan hati-hati sekali. Salah
   seorang dari mereka berkata, "Kami sudah menetapkan aturannya tanpa
   perlu lagi mengucapkan apapun. Saya bawa masuk Alkitab-Alkitabnya
   melewati perbatasan, dan beberapa orang yang sudah ditetapkan akan
   menyebarkannya kepada orang-orang Kristen yang membutuhkan. Tapi kita
   tidak boleh mengucapkan sepatah katapun mengenai hal ini. Ancaman
   hukuman sangat berat jika tertangkap." Kalau mereka tahu kenapa
   mereka tetap melakukannya? Karena banyak orang-orang Korea Utara yang
   saat ini sedang menanti-nantikan datangnya Alkitab mereka yang
   pertama.

   Korea Utara adalah salah satu negara di dunia yang tetap berada dalam
   keadaan tertindas. Bagi orang-orang Kristen, setiap perayaan gereja
   harus dilangsungkan secara rahasia, biasanya dalam gereja rumah
   'bawah tanah' yang kecil-kecil. Pemimpin partai komunis tidak
   mentoleransi kehadiran Tuhan. Mereka menyerukan: "Manusia adalah tuan
   atas segalanya, manusialah yang memutuskan segala sesuatu." Di
   ibukota, Pyongyang, orang-orang Korea Utara tetap harus membungkuk
   kepada patung perunggu dari bekas pemimpin mereka, Kim Il Sung, yang
   telah meninggal empat tahun yang lalu. Setiap warga negara, dari
   pegawai negeri sampai pekerja di sawah, memakai bros pin yang
   menggambarkan foto Kim Il Sung. Kerinduan akan Firman Tuhan sangat
   besar. Orang-orang percaya di Korea Utara tidak punya sumber
   penghiburan dan penguatan yang lain, karena negara diblokir dari
   semua pengaruh luar.
   Sumber: Laporan Bible League BibleLeague@xc.org

-----------------------------------------------------------------------
** CERITA NATAL **

                      HADIAH NATAL DARI MICHAEL
                      =========================

   Hi, nama saya Michael dan umur saya 7 tahun. Saya ingin menceritakan
   sebuah kisah tentang seorang anak Yahudi yang tinggal di Betlehem
   pada masa Yesus dilahirkan. Anak itu namanya juga Michael. Kisahnya
   adalah sebagai berikut:

   Suatu hari, Michael kecil bersama ibu dan ayahnya harus pergi
   menempuh perjalanan panjang menuju ke sebuah kota di Israel, yaitu
   Betlehem, untuk mengikuti sensus yang telah diumumkan oleh kaisar
   Agustus. Keluarga Michael melakukan perjalanan jauh itu karena mereka
   termasuk warga negara yang menaati hukum. Sesampainya di Bethlehem,
   kota itu telah dibanjiri banyak orang dan ibunya Michael kuatir
   mereka tidak dapat menemukan tempat untuk menginap. Akhirnya mereka
   menemukan sebuah kamar di penginapan di Bethlehem.

   Dalam perjalanan mereka menuju ke penginapan, Mich dan keluarganya
   melihat seorang wanita muda naik seekor keledai yang dituntun oleh
   seorang pria. Ibunya mengatakan bahwa wanita muda tersebut akan
   segera memiliki seorang bayi. "Seorang bayi, wow," bisik Mich. Si
   kecil Mich berpikir bahwa bayi adalah sesuatu yang "cool". "Ayah,
   kira-kira dimana wanita muda itu akan menginap? Aku mendengar pemilik
   penginapan mengatakan sudah tidak ada lagi kamar di penginapan."
   "Ayah tidak tahu, nak. Tapi ayah yakin bahwa mereka pasti akan
   menemukan tempat untuk menginap malam ini," jawab ayahnya. "Tapi
   bagaimana jika mereka tidak menemukannya?" tanya Mich dengan wajah
   yang penuh perhatian. "Sudahlah, Mich. Kita harus segera sampai ke
   kamar penginapan, hari semakin gelap," kata ibunya. Sambil
   menggandeng tangan Mich, ibunya menuntun Mich memasuki penginapan.
   Mich mengikuti langkah-langkah ibunya dan sekilas melirik wanita yang
   naik keledai tadi dan memikirkan tentang bayi yang akan
   dilahirkannya.

   Malam pun datang dan sudah waktunya bagi Mich untuk tidur. Dia
   berbaring di tempat tidurnya dan masih teringat di benaknya wanita
   muda yang akan segera memiliki bayi tadi. Setelah beberapa saat, Mich
   akhirnya tertidur. Tiba-tiba di tengah malam, Mich terbangun karena
   mendengar keributan di luar penginapan. Orang tuanya tidak terganggu
   dengan keributan ini dan masih tertidur, tetapi Mich tetap terjaga.
   Dia segera bangun dan melihat ke luar. Banyak gembala berdatangan
   dan mereka berteriak-teriak. Orang-orang berlarian kesana kemari.
   "Apa yang terjadi?" pikir Mich. Dia menyelinap keluar dari kamar
   penginapan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mich mengikuti suara
   teriakan dan pujian yang terdengar, yang ternyata berasal dari
   sebuah gua yang dipakai sebagai kandang hewan di belakang
   penginapan.

   Dia berusaha menyusup di tengah-tengah kerumunan orang karena rasa
   ingin tahunya. Akhirnya dia dapat menyaksikan seorang bayi kecil
   terbaring di palungan. Tanpa berpikir panjang, Mich bergerak
   mendekati palungan itu. Seseorang mencoba menahan langkahnya, tetapi
   ibu bayi itu mengijinkan Mich untuk berdiri di dekatnya. Saat Mich
   memandang bayi itu, Maria ibu si bayi berkata, "Dia seorang Raja."
   "Seorang Raja?" tanya Mich. "Ya, Dialah Mesias." jawab Maria.
   "Mesias? -- Mesias kita?" tanya si kecil Mich. Maria menganggukkan
   kepalanya. "Apakah dia benar-benar Juruselamat?" tanya Mich lagi.
   "Ya, namaNya Yesus."

   Mich memandangi Raja kecil tadi. Apakah bayi kecil ini benar-benar
   Mesias? Saat dia memandang mata bayi itu, Mich melihat kasih yang
   terpancar. Mich merasa yakin bahwa bayi kecil itu benar-benar
   Mesias. "Apakah setiap orang akan percaya saat aku menceritakan
   tentang siapa yang aku lihat dalam gua kecil ini. Akankah mereka
   percaya bahwa Mesias mereka terbaring di palungan?" Mich tidak
   begitu yakin akan hal itu.

   "Banyak orang bertanya-tanya tentang bayi ini, mungkin mereka akan
   percaya bahwa apa yang saya lihat itu memang benar-benar terjadi."
   pikir Mich. "Akankah ibu dan ayah percaya bahwa aku telah melihat
   Mesias?" "Aku harus menceritakannya pada mereka," pikir Mich lagi.
   "Tapi, aku perlu memikirkan hadiah apa yang dapat kuberikan pada
   bayi kecil itu."

   "Aku harus memberikan hadiah untuk bayi istimewa ini, tetapi apa
   ya...? Apakah yang diberikan orang kepada seorang Raja?" Mich
   berpikir dan terus berpikir. "Aku tidak punya uang untuk membeli
   hadiah dan aku hanya seorang anak yang miskin. Aku tidak punya
   sesuatu untuk diberikan. Lalu Mich menyadari bahwa bayi Raja ini,
   Mesias, juga seorang bayi yang tidak memiliki apa-apa. Tapi bayi
   itu adalah Mesias, apa yang dapat kuberikan padaNya?" pikir Mich
   lagi.

   Michael masuk lagi ke gua tempat bayi itu dibaringkan. Dia melihat
   bayi itu bergerak-gerak dalam palungan dan saat itulah Mich tahu apa
   yang akan ia berikan pada bayi itu. Dia berjalan mendekat ke
   palungan dan memandang Maria, "Aku tidak punya hadiah indah yang
   dapat kuberikan padanya," kata Mich.

   Sambil melihat bayi itu lagi, Mich berlutut di depan palungan dimana
   terbaring Mesiasnya, Juruselamatnya, Seseorang yang dijanjikan
   Allah. "Hi, bayi Yesus. Aku hanya punya satu benda yang dapat
   kuberikan untukmu. Benda ini tidaklah menarik dan tidak diperlukan
   banyak uang untuk membelinya. Benda ini juga tidak dapat
   melindungimu dari dinginnya malam. Namun, aku berharap benda ini
   cukup bagimu."

   Berdiri di sisi palungan, Mich menunduk dan menyentuh bayi itu. Lalu
   dia berkata, "Aku memberikan hatiku untukmu." Kemudian Maria
   meletakkan tangannya di atas pundak Mich dan tersenyum padanya. Saat
   Mich menoleh untuk melihat bayi itu lagi, dari wajah bayi itu
   terpancar kasih yang belum pernah dia lihat sebelumnya dan bayi itu
   menangis. Saat menghapus air mata itu dari pipi si bayi, Mich tahu
   bahwa hadiahnya sudah cukup bagi bayi itu.

   Sebenarnya sudah cukup untuk memberikan hati kita bagi Yesus. Karena
   hatimu dan hatikulah yang diinginkanNya. Ketika bayi Yesus tumbuh
   dewasa, dia bersedia menyerahkan hidupNya untuk kita. Dia mati di
   salib untuk menebus semua dosamu dan dosaku. Yang perlu dilakukan
   adalah:
   * mengaku bahwa diri kita adalah manusia berdosa (Roma 3:23)
   * percaya bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa kita
     (Kisah 16:31)
   * mengakui semua dosa kita di hadapan Allah dan mau bertobat
     (Roma 10:9)

   Sumber: http://www.house2house.org/manger.html

---------------------------------------------------------------------
** DOA BAGI MISI DUNIA **

 KESEMPATAN EMAS SELAMA NATAL
   Pada hari Natal, para pekerja misi yang ada di negara-negara Arab
   memiliki lebih banyak kesempatan untuk menceritakan tentang kelahiran
   Kristus dibandingkan hari-hari biasa. Karena Natal dianggap sebagai
   bagian dari budaya barat, maka saudara-saudara sepupu bisa merasa
   lebih nyaman untuk menanyakan hal-hal sehubungan dengan Natal dalam
   konteks ini. Berikut ini adalah salah satu kesaksian yang diceritakan
   mereka: "Hari Natal adalah waktu dimana kita mendapat banyak
   pertanyaan dari para sepupu yang berkunjung ke rumah karena ingin
   melihat pohon Natal yang kami pasang. Kami menghiasi rumah kami
   denga