Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-doa/140

e-Doa edisi 140 (12-10-2017)

Devosi

Devosi -- Edisi Oktober 2017, Vol. 09 No. 140
 
Gambar: Situs Doa

Publikasi Elektronik Doa
Devosi

Edisi Oktober 2017, Vol. 09 No. 140
 

Salam kasih,

Sudahkah kita dan keluarga kita melakukan kebiasaan untuk melakukan devosi atau ibadah renungan setiap hari? Jika belum, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya. Sebagai salah satu bagian dari disiplin rohani, devosi dilakukan agar kita semakin bertumbuh dalam pengenalan yang lebih baik akan Tuhan. Dengan menyediakan waktu khusus untuk berdoa, membaca firman, dan memuji kebaikan-Nya, kita senantiasa akan mendapat kekuatan dan rahmat baru setiap hari untuk menghadapi aneka tantangan dan permasalahan hidup. Selain itu, dengan menanamkan kebiasaan devosi setiap hari bersama keluarga dan anak-anak, sesungguhnya kita sedang menuntun mereka untuk berjalan pada arahan dan pimpinan Allah.

Edisi e-Doa kali ini akan mengulas tentang doa dan devosi yang memberi kita semua penjelasan mengenai mengapa dan bagaimana kita perlu untuk melakukannya. Seperti yang pernah dinyatakan oleh Dietrich Bonhoeffer dalam salah satu bukunya, "Ya Tuhan, di awal pagi ini aku berseru kepada-Mu. Tolonglah aku untuk berdoa, dan memusatkan pikiranku kepada-Mu," mari kita memulai hari-hari kita bersama keluarga dengan melakukan devosi.

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-Doa,
N. Risanti


RENUNGAN Apakah Maksud Tujuan Doa?

Ayat Alkitab: Lukas 11:1 (AYT)

Doa di gereja

"Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: 'Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.'"

Bukanlah bagian dari kehidupan manusia duniawi untuk berdoa. Kita mendengar bahwa seseorang akan menderita dalam hidupnya jika dia tidak berdoa. Saya melihat bukan itu soalnya. Yang akan menderita adalah kehidupan Anak Allah di dalam orang itu, yang dipelihara bukan oleh makanan, tetapi dengan doa. Ketika seseorang dilahirkan dari atas, kehidupan Anak Allah lahir dalam dia, lalu dia bisa membiarkannya kelaparan atau memeliharanya.

Doa adalah cara dengan mana kehidupan Allah dalam diri kita dipelihara.

Ada pandangan umum tentang doa yang tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru. Kita memandang doa sebagai sarana mendapatkan hal-hal untuk diri kita sendiri. Gagasan Alkitab tentang doa adalah bahwa kita dapat mengenal Allah sendiri (melalui doa).

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Kita terkadang mengeluh di hadapan Allah, terkadang meminta maaf atau tidak acuh pada-Nya, dan sebenarnya tidak sungguh meminta daripada-Nya. Namun, alangkah indahnya keberanian yang ada pada seorang anak! Tuhan kita mengatakan – “... jika kamu tidak menjadi seperti anak kecil ini,” mintalah dan Tuhan akan mengerjakannya. Berikan kesempatan kepada Yesus Kristus, beri ruang gerak kepada-Nya. Namun, biasanya manusia tidak akan pernah melakukan hal ini, kecuali ia buntu dan kehabisan akal.

Ketika seseorang kehabisan akal, bukanlah hal pengecut untuk berdoa, itu adalah satu-satunya cara ia dapat masuk ke berhubungan dengan Realitas. Jadilah diri Anda sendiri di hadapan Allah dan sampaikan masalah Anda, bahwa Anda telah buntu pada pada batas kemampuan Anda. Selama Anda masih merasa mampu, Anda tidak perlu meminta Tuhan untuk apa pun.

Tidaklah seluruhnya benar bahwa “doa mengubah banyak hal” karena sesungguhnya doa mengubah saya dan saya mengubah sesuatu. Allah telah membuat sedemikian rupa bahwa doa berdasarkan penebusan mengubah cara seseorang melihat sesuatu. Doa bukanlah soal mengubah sesuatu secara lahiriah, melainkan doa mengerjakan keajaiban mengubah sifat/karakter seseorang.

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Alkitab Mobile
Alamat URL : http://alkitab.mobi/renungan/roc/2017/08/28/
Judul asli artikel : Apakah Maksud Tujuan Doa?
Penulis artikel : Oswald Chambers
Tanggal akses : 12 Juli 2017

ARTIKEL: Bagaimana Kita Melakukan Devosi Keluarga

Devosi Keluarga

Saya orang yang percaya pada devosi keluarga. Demikian juga sebagian besar dari Anda, saya yakin. Namun, ketika berbicara dengan orang-orang Kristen lainnya, terutama para pria, saya menemukan bahwa tradisi kecil keluarga ini menjadi sumber banyak penyesalan dan frustrasi. Banyak orang Kristen merasakan hal yang sama, yaitu rasa bersalah, setiap kali mereka berhenti untuk berpikir tentang hal itu. Devosi keluarga merupakan sesuatu yang sangat sederhana tetapi pastinya hal yang sulit.

Saya pikir cara terbaik untuk belajar melakukan devosi keluarga adalah dengan contoh: Cari tahu apa yang orang lain lakukan, dan meniru mereka sebagai titik awal Anda. Jadi, saya akan memberi tahu Anda bagaimana kami melakukan devosi keluarga, dan jika Anda belum mengembangkan kebiasaan itu, setidaknya pertimbangkanlah untuk memulainya di sini.

Ada 2 kisah untuk diceritakan: Bagaimana angan-angan kami tentang pelaksanaan devosi keluarga dan bagaimana kami benar-benar melaksanakannya.

Kami membayangkan bahwa devosi keluarga akan menjadi waktu signifikan yang dikhususkan setiap hari di mana kami akan berkumpul sebagai sebuah keluarga untuk menikmati satu sama lain dan menikmati Allah bersama-sama. Mungkin kami akan membunyikan lonceng kecil atau sesuatu, dan kemudian semua orang akan turun ke bawah, berkumpul di ruang tamu, dan kami akan duduk dan tenggelam dalam Firman, kami akan menikmati percakapan yang mendalam, kami akan mempelajari tanya jawab soal iman, kami akan berdoa bersama. Mungkin, kami bahkan akan menemukan bahwa salah satu dari kami bisa menyanyi cukup baik untuk memimpin sebuah mazmur atau nyanyian. Semua tampak begitu indah.

Kenyataannya benar-benar sedikit berbeda.

Selama beberapa tahun pertama pernikahan, kami tidak melakukan apa-apa. Saya bukanlah seorang pemimpin saat itu dan entah bagaimana, kami berdua hampir tidak pernah sempat untuk melakukan ibadah bersama. Sekarang, saya sangat menyesalkan hal itu. Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen, jadi saya tahu lebih baik untuk tidak melewatkannya. (Aileen tidak dibesarkan dalam keluarga Kristen sehingga ia tidak tahu kebiasaan itu.) Mungkin beberapa tahun setelah anak pertama kami lahir, akhirnya saya menyikapi ibadah dengan serius dan memutuskan bahwa inilah waktunya.

Sejak hari itu, kami telah melakukan dengan cukup baik. Kami membuat sedikit variasi waktu dan susunan berdasarkan musim kehidupan dan situasi eksternal. Namun, umumnya inilah yang kami lakukan:

Kami membangunkan anak-anak pukul 6:55 pagi (karena mereka harus pergi pukul 7:45). Mereka tersandung turun ke lantai bawah dan pukul 07:00 atau 07:05 kami semua ada di ruang tamu. Saya sudah bangun beberapa jam sebelumnya dan merasa baik. Mereka baru bangun beberapa menit, lalu merasa tidak begitu baik. Mereka meringkuk atau duduk malas dalam posisi yang aneh di tempat duduk. Akan tetapi, mereka terjaga dan bisa memperhatikan. Kebanyakan. Hampir sepanjang waktu.

Saya membaca satu bagian dari Alkitab, biasanya perikop-perikop narasi, tetapi seiring pertumbuhan anak-anak, kitab surat-surat juga. Saya jarang membaca lebih dari 15 atau 20 ayat. Saya membaca secara perlahan dan ekspresif dengan cukup dramatis untuk menarik perhatian mereka. Saya berhenti sejenak untuk memberi tahu anak saya agar memindahkan tangannya dari leher kakaknya, lalu lanjut membaca. Ketika sampai di penghujung bacaan kami, secara singkat saya menjelaskan sesuatu dari bagian itu (dan yang saya maksud "singkat" adalah satu menit atau kurang). Kadang-kadang, saya harus curang dengan cepat-cepat mencari keterangan dari catatan studi Alkitab supaya ada sesuatu yang bagus untuk disampaikan. Kemudian, saya mencoba mengajukan satu atau dua pertanyaan kepada anak-anak — pertanyaan pemahaman atau aplikasi. Dan, saya menjelaskan mengapa menyebut saudaramu "idiot bodoh" adalah tidak pantas selama pembacaan 1 Korintus 13. Itulah pembacaan Alkitab kami.

Lalu, saya berdoa. Mudah-mudahan saya ingat untuk bertanya kepada anak-anak apa yang bisa saya doakan untuk mereka sepanjang hari tersebut. Saya berdoa dengan sederhana dan singkat, berterima kasih kepada Allah untuk pemeliharaan-Nya satu hari lagi dan meminta Dia untuk memberkati kami sepanjang hari itu. Merupakan hal biasa jika doa saya terganggu oleh satu anak memukul yang lain, atau oleh anjing yang seolah berkata, "Oh astaga! Ternyata ada orang di dekatku." Lalu, saya membentak seseorang dan harus memanjatkan tambahan doa pengakuan dosa.

Dan, kemudian kami selesai. Semua berlangsung selama 5 atau 10 menit. Masih kurang dari yang seharusnya dilakukan, tetapi lumayan. Hal ini memaksa kami untuk memulai hari bersama-sama dan memungkinkan kami untuk memulainya bersama dengan Tuhan.

Devosi

Ada hari-hari ketika saya pergi ke kantor lebih awal dan saya sudah pergi sebelum keluarga bangun. Pada hari-hari itu, kami melakukan format yang sama, tetapi setelah makan malam, bukan sebelum sarapan. Ada hari tertentu ketika kami semua benar-benar lupa untuk melakukan devosi keluarga. Ada hari di mana kami memiliki niat besar tetapi dikejutkan oleh sesuatu yang tidak menyenangkan sehingga kami teralihkan. Pada beberapa kesempatan, rumah kami kedatangan tamu yang belum percaya, dan saya malu untuk melakukan ibadah kami. Pada beberapa kesempatan, saya hanya merasa tidak ingin melakukannya dan membuat suatu dalih yang sangat halus. Untuk alasan tertentu, kami tidak pernah melakukannya pada hari Minggu.

Akan tetapi, pada umumnya, di hampir setiap hari, dalam berbagai situasi, kami mengawali hari-hari kami bersama-sama dengan firman dan doa. Ini kebiasaan keluarga yang paling sederhana, tetapi saya percaya itu juga yang terindah.

Menurut saya, devosi keluarga sama seperti banyak hal dalam kehidupan Kristen: Kita telah membesar-besarkannya lebih daripada seharusnya, dan karena itu kita hidup dengan rasa gagal, merasa bahwa kita tidak mencapainya. Melalui bertahun-tahun keberhasilan dan kegagalan, Aileen dan saya telah menyadari bahwa tidak ada cara yang baik untuk mengukur keberhasilan devosi keluarga kecuali dengan pertanyaan ini: Apakah kita melakukannya? Masalahnya, di sini kita sedang membangun untuk jangka panjang, bukan jangka pendek. Satu episode dari devosi keluarga dapat dengan mudah tampak seolah sia-sia. Namun, saya yakin bahwa ketika kita mengukur dengan ratusan ibadah yang terjadi selama 20 tahun anak-anak berada dalam pemeliharaan kita, kita akan melihat bahwa Allah bekerja dengan penuh kuasa di hati anak-anak kita dan orangtua mereka. Dan, saya yakin kita akan melihat bahwa Dia bekerja melalui komitmen yang kita buat untuk tradisi yang begitu sederhana dan indah. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Challies.com
Alamat URL : http://www.challies.com/christian-living/how-we-do-family-devotions
Judul asli artikel : How We Do Family Devotions
Penulis artikel : Tim Challies
Tanggal akses : 12 Januari 2017
 
Stop Press! Bergabunglah di Kelas Online Natal November/Desember 2017

Kelas Natal

Natal bukan sekadar perayaan dan sukacita merayakan kelahiran sang Penebus. Natal adalah perayaan momen saat Allah Mahatinggi dan Mahasuci turun ke bumi untuk melayani dan menebus manusia yang berdosa. Bagaimana kita dapat memaknai Natal sesuai dengan kebenaran firman Tuhan? Bergabunglah dalam kelas Natal untuk tahun 2017 ini. Pendaftaran peserta kelas Natal 2017 sudah dibuka dan kelas diskusi akan berlangsung pada bulan November/Desember 2017. Peserta kelas Natal dari periode sebelumnya sudah merasakan berkat dari kelas ini. Mereka mendapatkan peningkatan pemahaman dan pengertian yang benar tentang hakikat Natal sehingga makin bersyukur akan kasih Allah yang begitu berharga melalui peristiwa Natal. Bagaimana dengan Anda?

Silakan hubungi Kusuma untuk mendaftarkan diri. Jangan lupa untuk mencantumkan subjek email [DAFTAR -- KELAS NATAL]

Mari menyambut Natal dengan mengikuti kelas Natal PESTA!

 
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Doa.
doa@sabda.org
e-Doa
@sabdadoa
Redaksi: N. Risanti, Margaretha I., dan Rostika
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org