Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-doa/134

e-Doa edisi 134 (12-4-2017)

Awali dengan Pengampunan

Awali dengan Pengampunan -- Edisi April 2017, Vol. 09 No. 134
 
Gambar: Situs Doa

Publikasi Elektronik Doa
Awali dengan Pengampunan

Edisi April 2017, Vol. 09 No. 134
 

Salam Paskah!

Sudahkah kita berdamai dengan seseorang hari ini sebelum berdoa? Jika belum, inilah saatnya bagi kita untuk melakukannya. Ampuni orang-orang yang bersalah kepada kita karena Allah menghendaki kita semua untuk berbuat demikian (Mat.6:12; Mat.6:14; Kol.3:13; Luk.11:4; Ef.4:31,32). Sebagai pengikut Kristus, sudah selayaknya kita mengikuti apa yang menjadi teladan dari Tuhan kita, yang memberikan pengampunan kepada dunia ini di atas kayu salib. Terlebih lagi, Kristus juga telah mengampuni dan menguduskan kita yang percaya kepada-Nya dari segala dosa sehingga kita dapat beroleh anugerah keselamatan dan kehidupan kekal. Oleh karena itu, mari kita merendahkan hati untuk mau mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, lalu menghadap kepada-Nya dengan hati yang telah berdamai dengan diri sendiri, sesama, dan Allah. Tanpa melepaskan pengampunan, sesungguhnya kita tak layak menghadap Allah karena Ia yang telah mengampuni segala pelanggaran kita menghendaki agar kita juga melakukan hal yang sama terhadap mereka yang bersalah kepada kita. Jika itu sulit dilakukan, renungan Paskah serta artikel dalam edisi kali ini kiranya akan memberikan kesadaran agar kita bersedia memberikan pengampunan.

Seluruh redaksi publikasi e-Doa mengucapkan Selamat Paskah kepada pembaca e-Doa di mana pun Anda berada. Kasih dan kebangkitan Kristus kiranya memberi cahaya baru bagi kita untuk semakin mengasihi Allah dan sesama. Soli Deo Gloria!

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-Doa,
N. Risanti


RENUNGAN PASKAH Ekstrem

Pengampunan Allah

Dunia melihat orang-orang Kristen merayakan kematian pada Jumat Agung, dan mereka tidak dapat mengetahui alasannya. Mereka berkata, "Itu sangat ekstrem! Mengapa, sebelum Allah dapat mengampuni manusia, Dia membutuhkan kematian Anak-Nya? Mengapa Dia tidak begitu saja, dengan murah hati, mengampuni dosa orang? Jika saya melakukan sesuatu yang menentang Anda, Anda hanya perlu memaafkan saya. Mengapa Tuhan tidak dapat melakukan itu?"

Namun, pertanyaan seperti itu menyingkapkan dua jenis kebodohan. Salah satunya adalah betapa kejinya dosa kita, dan yang lainnya adalah betapa besar dan sucinya Allah kita.

Tidak ada lagi yang berbicara tentang dosa. Bahkan, dosa hampir menghilang dari kosakata Amerika. Kita berbicara tentang "persoalan" atau "hambatan" atau "masalah". Dosa disebut sebagai "penyakit" atau disebut sebagai "kesalahan orang lain". Namun, Alkitab mengatakan dengan sangat jelas bahwa jika kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa, kita adalah pendusta (1 Yohanes 1:8).

Seberapa seriusnya hal itu? Paulus berkata bahwa upah dosa adalah maut. (Roma 6:23) Kita berdosa karena itu adalah sifat kita. "Karena itu, seperti dosa telah masuk ke dalam dunia ini melalui satu orang dan maut masuk melalui dosa, begitu juga maut menyebar kepada semua orang karena semuanya telah berdosa." Roma 5:12, AYT Dan, kita berdosa karena pilihan. Setiap hari, kita melakukan tindakan-tindakan individual yang merupakan penghinaan terhadap Tuhan.

Tindakan-tindakan tersebut merupakan penghinaan karena Allah benar-benar suci. Anda lihat, Allah yang kudus sama sekali tidak bisa bersekutu dengan dosa dan kejahatan. "Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman." (Habakuk 1:13) "... tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2)

Allah yang sempurna dan kudus tidak dapat hidup berdampingan dengan manusia berdosa. Karena itu, kita terpisah, kita tersesat. Jadi, salah satu dari dua hal harus terjadi. Entah Allah yang kudus harus menghancurkan kenajisan, atau Allah yang kudus harus menyatakan bahwa yang tidak kudus adalah kudus.

Dan, hal itu membawa kita ke kayu salib. Yesus menjalani kehidupan yang sempurna yang tidak akan pernah bisa kita hidupi, dan kemudian mengambil semua akibat dosa kita pada diri-Nya. Jadi, secara efektif, Allah berkata, "Aku akan mengambil hukumannya. Aku akan mengambil segala kekejian dan kejahatan, dan Aku akan meletakkannya pada diri-Ku sehingga ketika Aku mati di kayu salib, itu akan selesai, sekali dan untuk selamanya."

Salib adalah satu-satunya tempat Allah akan bertemu dengan manusia. Salib adalah satu-satunya tempat di mana, baik rahmat maupun keadilan Allah, dapat bertemu. Bagaimana Allah dapat menjadi Allah yang mengasihi dan Allah yang adil pada saat yang sama? Bagaimana Allah yang suci dan yang sempurna dapat bertemu dengan manusia yang berdosa dan penuh pemberontakan? Hanya di kayu salib. Dia datang, Dia menanggung hukuman kita, dan kemudian Dia menyatakan Anda dan saya benar karena salib itu. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diambil dari:
Nama situs : Situs Paskah Indonesia
Alamat URL : http://paskah.sabda.org/ekstrim
Judul asli renungan : Extreme
Penulis renungan : Skip Heitzig
Tanggal akses : 2 Februari 2017


ARTIKEL Cara Unik yang Ditentukan Tuhan untuk Mengampuni

Salah satu hal yang paling unik tentang kitab Ayub adalah bagaimana tiga orang "teman" (Elifas, Bildad, dan Zofar) diperdamaikan dengan Ayub dan Allah. Hal ini sangat sulit untuk dipahami, dan mengajarkan kita pelajaran-pelajaran mengejutkan tentang doa.

Ilustrasi Ayub ditegur oleh teman-temannya dari William Blake

Setelah TUHAN mengatakan perkataan-perkataan itu kepada Ayub, Ia berkata kepada Elifas orang Teman, "Murka-Ku menyala terhadap-Mu dan terhadap kedua sahabatmu karena kamu tidak mengatakan apa yang benar tentang Aku, seperti hamba-Ku, Ayub. Jadi sekarang, ambillah tujuh lembu muda dan tujuh domba jantan, lalu pergi kepada hamba-Ku, Ayub, dan persembahkanlah kurban bakaran bagi dirimu sendiri. Dan, hamba-Ku, Ayub, akan berdoa bagimu. Sebab, Aku akan menerima doanya sehingga Aku tidak memperlakukanmu menurut kebodohanmu." (Ayub 42:7-8)

Di ayat 7, Allah mengatakan bahwa murka-Nya menyala terhadap Elifas dan dua temannya, "... karena kamu tidak mengatakan apa yang benar tentang Aku." Bagaimana, kemudian, mereka akan dikembalikan kepada persekutuan dengan Allah dan selamat dari murka-Nya?

Tuhan mengatakan bahwa mereka harus meminta Ayub untuk berdoa bagi mereka saat mereka memberikan kurban bakaran untuk diri mereka sendiri, "Sebab, Aku akan menerima doanya sehingga Aku tidak memperlakukanmu menurut kebodohanmu." Lalu, mereka melakukan hal ini. "Dan, TUHAN menerima doa Ayub." (ayat 9)

Semua ini terjadi bukan hanya demi tiga teman itu, tetapi untuk Ayub. Ketika ia berdoa bagi mereka, segalanya berubah baginya. "TUHAN mengembalikan keadaan Ayub ketika ia berdoa bagi sahabat-sahabatnya." (ayat 10)

Tampaknya, syarat agar teman-teman Ayub diperdamaikan dengan Allah adalah doa pengampunan Ayub untuk mereka. Dan, tampaknya pula, bahwa syarat agar Ayub dipulihkan oleh Allah adalah sama (mengampuni ketiga temannya - Red.).

Sungguh luar biasa bahwa Tuhan tidak akan begitu saja menerima doa pertobatan dari ketiga teman itu sendiri. Mereka harus meminta Ayub berdoa bagi mereka. Tuhan akan mendengar doa Ayub, bukan doa mereka.

Mungkin, alasannya adalah karena Tuhan meminta (selaras dengan Mat.5:18-23) adanya rekonsiliasi sebelum ada perkenanan dalam ibadah dan pengampunan.

Doa Bapa Kami mengatakan, "Ampunilah dosa-dosa kami seperti kami mengampuni mereka yang berbuat dosa kepada kami." Ayub membutuhkan pengampunan. Dia juga perlu untuk mengampuni. Musuh-musuhnya juga membutuhkan pengampunan Allah. Jadi, Tuhan membawa mereka kepada Ayub, meminta perantaraannya untuk berdoa bagi mereka, dan itulah jenis kasih yang Yesus perintahkan -- "berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

Dan, ketiga teman itu membutuhkan pengampunan dari Ayub sebelum doa-doa mereka bisa didengar karena permusuhan Ayub terhadap mereka, dalam banyak hal, adalah kesalahan mereka juga. Jika saudaramu menyimpan permusuhan terhadapmu, pergi dan berdamailah dengan saudaramu.

Namun, Alkitab tidak mengatakan bahwa Allah akan mendengar doa-doa mereka ketika mereka berbaikan dengan Ayub. Ia mengatakan bahwa doa Ayub, bagi mereka, akan didengar. Jadi, situasinya adalah tidak semata pengampunan manusia telah membuka jalan bagi ketiga orang ini agar doa-doa mereka terdengar di surga. Apa yang terjadi adalah Allah menetapkan bahwa doa beberapa orang untuk pengampunan kesalahan orang lain akan diterima.

Doa Ayub untuk teman-temannya

Bagian dari proses rekonsiliasi di atas adalah intervensi vertikal Ayub atas nama tiga musuhnya, bukan hanya rekonsiliasi horisontal dengan mereka. Doa Ayub untuk ketiga temannya adalah penting bagi Allah agar Ia tidak "memperlakukan mereka sesuai dengan kebodohan mereka".

Kita belajar bahwa Allah menghendaki agar beberapa hal dilakukan supaya doa dijawab, yang tidak akan terjadi jika beberapa hal itu tidak dilakukan lebih dulu. Dan, kita harus rajin berdoa bagi orang lain yang doa-doanya sendiri mungkin tidak dapat diterima karena alasan yang kita tidak tahu. Ini berarti, kita dapat menjadi sarana yang ditunjuk bagi seseorang supaya terlepas dari konsekuensi akibat kebodohan mereka dengan cara lain. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : desiringGod
Alamat URL : http://www.desiringgod.org/articles/the-strange-way-god-arranges-to-forgive
Judul asli artikel : The Strange Way God Arranges to Forgive
Penulis artikel : John Piper
Tanggal akses : 10 Januari 2017
 
Stop Press! Memperlengkapi Diri Melalui Bahan-Bahan dari Situs Apps4God

Tafsiran Alkitab

Teknologi merupakan anugerah dari Allah yang dapat kita manfaatkan untuk melayani sesama, mengabarkan Injil, serta mendukung pertumbuhan rohani kita. Lantas, sejauh manakah perkembangan teknologi yang bisa digunakan, dan bagaimanakah kita bisa menerapkannya dalam pelayanan kita secara maksimal? Dapatkan berbagai materi dan bahan seputar pelayanan digital dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan di situs Apps4God.org.

Mari semakin memperlengkapi diri dengan informasi terkini seputar pelayanan pada era digital. Tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs Apps4God.org!

 
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Doa.
doa@sabda.org
e-Doa
@sabdadoa
Redaksi: N. Risanti, Margaretha I., dan Rostika
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org