______________________________e-Doa___________________________________
(Sekolah Doa Elektronik)
______________________________________________________________________
DAFTAR ISI
EDITORIAL
ARTIKEL DOA: Pertanyaan Seputar Doa
KESAKSIAN DOA: Kuasa Doa
STOP PRESS: Baru dari YLSA: Publikasi KADOS (Kalender Doa SABDA)
______________________________________________________________________
EDITORIAL
Shalom,
Apakah doa itu? Mengapa kita harus berdoa? Bagaimana seharusnya saya
berdoa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan beberapa pertanyaan
dari sekian banyak pertanyaan yang sering ditanyakan orang-orang
percaya. Ketika ada seseorang yang secara langsung menanyakan
pertanyaan tersebut kepada kita, banyak dari antara kita tidak tahu
bagaimana cara menjawabnya. Untuk membantu Anda dalam menghadapi
pertanyaan-pertanyaan yang kelihatannya "mudah" tersebut, maka e-Doa
edisi 1 dan 2 akan menyajikan artikel yang berhubungan dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar doa. Kunjungi juga situs DOA
<doa.sabda.org>, untuk mendapatkan bahan-bahan seputar doa. Selamat
menyimak, Tuhan Yesus memberkati.
Pimpinan Redaksi e-Doa,
Novita Yuniarti
http://doa.sabda.org/
http://fb.sabda.org/doa
______________________________________________________________________
ARTIKEL DOA
PERTANYAAN SEPUTAR DOA
APAKAH DOA ITU?
Doa itu percakapan dengan Allah -- berbicara dengan Dia,
mendengarkan Dia, berada di hadirat-Nya. Percakapan dalam doa
termasuk menceritakan segala pemikiran, perasaan, keragu-raguan,
masalah, keluhan, harapan, dan kegembiraan Anda. Doa itu melibatkan
juga soal pengakuan dosa, penyembahan Allah, penyerahan diri Anda
untuk mematuhi Dia, pengucapkan terima kasih, pengajuan permohonan
bagi Anda dan bagi orang-orang lain, dan intinya adalah penyediaan
diri Anda bagi Allah.
MENGAPA SAYA HARUS BERDOA?
Jika Anda mengasihi seseorang, Anda ingin bersama-sama dengan dia;
Anda ingin menceritakan apa yang ada di dalam pikiran Anda dan
menikmati kehadiran orang yang Anda kasihi itu. Doa adalah cara kita
memakai waktu untuk bercengkerama dengan kekasih kita dan menjadi
akrab dengan Dia. "Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya
tertuju." (Kidung Agung 7:10) Sebagaimana Allah itu Kekasih kita,
terlebih dari itu Ia adalah Tuhan kita. Doa adalah salah satu cara
untuk melatih kehendak kita untuk melayani Dia, memuja
kebesaran-Nya, mengakui kelemahan kita, mendapatkan perspektif-Nya,
dan berusaha mengetahui instruksi-instruksi-Nya yang spesifik. Doa
dan pemahaman Alkitab bekerja sama untuk membenamkan kita ke dalam
sikap, tata nilai, keinginan, cara-cara, dan sasaran-sasaran Tuhan
kita. Jika kita ingin menaati Dia, kita perlu menyediakan waktu
untuk bersama-sama dengan Dia.
Akhirnya, Allah adalah Bapa kita (Roma 8:15). Allah tidak
menciptakan robot-robot untuk melakukan kehendak-Nya dengan
otomatis. Ia menciptakan manusia yang dapat menjadi anak-anak-Nya,
baik laki-laki maupun perempuan. Baik kita anak-anak maupun
orang-orang dewasa secara rohani, kita semuanya memunyai berbagai
kebutuhan, perasaan, dan tanggung jawab. Bapa kita mengasuh dan
mengajar kita dengan disiplin, tidak menjadi soal apakah kita
meminta-Nya atau tidak karena Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan
kita. Tetapi, sama seperti ayah duniawi manusia, Ia mau supaya
anak-anak-Nya mengatakan kepada-Nya apa yang mereka inginkan,
bagaimana perasaan mereka, dan bagaimana mereka menghargai Bapa
mereka.
APAKAH PENGUCAPAN SYUKUR, PUJIAN, DAN PENYEMBAHAN ITU?
Alkitab tidak membuat perbedaan yang tegas antara pengucapan syukur,
pujian, dan penyembahan, sehingga orang-orang Kristen telah
mengembangkan aneka ragam pengertian yang banyak menolong. Berikut
ini beberapa pengertian yang mendalam.
Penyembahan dimulai dengan pujian. Pujian hanyalah tindakan yang
menyatakan penghargaan atau mengakui kebaikan seseorang atau
sesuatu. Kita memuji atlet, wanita cantik, minuman, makanan enak,
dan sebagainya. Pujian sebagai tindakan yang menyatakan penghargaan
atau kekaguman dapat diterapkan baik kepada barang maupun kepada
Allah. Sebaliknya, penyembahan hanya dapat dikenakan kepada hal yang
ilahi.
Pujian adalah kegiatan manusia yang mengakui Allah. Penyembahan
adalah kegiatan Allah di dalam diri kita sebagai respons terhadap
pujian yang kita berikan. Penyembahan itu diliputi oleh keajaiban
keakraban; Allah sendiri yang mengambil inisiatif di dalamnya. Dalam
penyembahan, kita bergerak melampaui apa yang sedang kita lakukan
sebagai manusia, dan kita tenggelam dalam apa yang sedang dilakukan
Allah di dalam dan melalui kita. Pujian mempersiapkan kita untuk
memasuki penyembahan, tidak lebih dari itu.
Dari banyak kata Ibrani untuk "penyembahan" dalam Perjanjian Lama,
"shachah" adalah salah satu yang umum. Artinya adalah "membungkukkan
diri sampai ke bawah". Allah bertambah-tambah; aku berkurang-kurang.
Aku terkagum-kagum oleh-Nya. Diriku mati, dan bersama dengan itu
juga kehormatanku, martabatku, dan keangkuhanku (Keluaran 34:5-9,
Yosua 5:13-15).
Ada orang Kristen yang memandang seluruh kehidupannya sebagai suatu
penyembahan atau kebaktian, kita "(melakukan) semuanya itu dalam
nama Tuhan Yesus" (Kolose 3:17), dengan "mempersembahkan tubuh
(kita) sebagai persembahan yang hidup... itu adalah ibadah (kita)
yang sejati" (Roma 12:1). Ada lagi yang lain yang memandang
pekerjaan dan pelayanan sebagai ibadah yang melimpah keluar dan
merupakan sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah dalam ibadah.
Pujian dalam kedua pandangan itu, adalah aspek dari ibadah; di
dalamnya kita merayakan siapa Allah itu dan apa yang telah dilakukan
Allah.
MENGAPA SAYA HARUS MEMUJI ALLAH? APAKAH ALLAH ITU EGOTISIK?
1. Dengan memberi pujian, Anda terlepas dari sifat yang suka
memusatkan segala sesuatu pada diri Anda sendiri.
Allah menekankan pujian, pengucapan syukur, dan penyembahan
bukan karena Ia "egotis" dan memunyai keinginan-keinginan yang
mementingkan diri sendiri, melainkan karena Allah memerhatikan
hal yang terbaik bagi kita. Pujian dan pengucapan syukur
mengangkat kita naik untuk dapat mengatasi sifat kita yang suka
memusatkan segala sesuatu pada diri kita sendiri kepada sifat
yang suka memusatkan segala sesuatu kepada Kristus. Hal-hal itu
akan membuat kita memusatkan hati dan pikiran kita pada Tuhan dan
menjadikan kita makin menyerupai Kristus. Kita menipu diri kita
sendiri jika kita melalaikannya, karena hal-hal itu bagaikan obat
kuat yang menambahkan sukacita dan kekuatan rohani.
(Egotis dan egotistik berbeda dari egois; egotis merupakan
istilah filosofi yang berhubungan dekat dengan narsis dan
narsistik dan berhubungan dengan dirinya sendiri, sementara egois
berkenaan dengan tindakannya terhadap orang lain. Egotisme lebih
buruk dan lebih memalukan daripada egoisme. Sifat egotistik
berarti selalu dan secara berlebihan menyebut-nyebut dan
menonjolkan diri sendiri dalam segala hal.)
2. Anda akan bertumbuh dalam iman dan pengalaman akan kuasa Allah.
Pujian dan penyembahan terhadap Allah menguatkan iman kita
karena kita memusatkan diri kita pada apa yang kita ketahui
sebagai kebenaran tentang Dia dan tidak memusatkan diri kita
pada bagaimana perasaan kita tentang keadaan kita. Itu sebabnya,
pujian dan penyembahan membuat Allah bebas untuk bertindak dengan
kuasa. Waktu menghadapi malapetaka, Raja Yosafat memuji Allah
sampai 6 ayat yang panjang (2 Tawarikh 20:6-11).
"Ya Tuhan, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di
dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan
bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tanganMu, sehingga
tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau." (ayat 6)
Kemudian, dalam ayat 12, Yosafat secara singkat menyatakan
kesusahannya. Ketika jawaban Tuhan datang, Yosafat dan seluruh
bangsa memberi respons seperti berikut.
"Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh
Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan
menyembah kepada-Nya. Kemudian orang Lewi ... bangkit berdiri
untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan
suara yang sangat nyaring." (2 Tawarikh 20:18-19)
3. Anda mengalami kehadiran Allah.
Dalam bukunya "Reflections on the Psalms", C.S. Lewis
menggambarkan saat-saat ketika ia bergumul dengan masalah mengapa
pujian itu penting: "Saya tidak melihat bahwa di dalam proses
disembah itulah Allah mengomunikasikan kehadiran-Nya kepada
manusia. Memang itu bukanlah cara satu-satunya. Tetapi bagi
banyak orang dalam banyak kejadian, `keindahan Tuhan`
diperlihatkan terutama dan hanya sewaktu mereka menyembah Dia."
4. Allah memang layak untuk dipuji dan disembah.
Selanjutnya, kita memuji Allah karena Ia memang layak untuk
dipuji. Kita dalam segala hal berutang kepada-Nya, sehingga kita
ini bukan manusia jika kita tidak meluap-luap dengan rasa cinta
dan terima kasih kepadanya.
Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN,
Sebab Engkau telah menarik aku ke atas (Mazmur 30:2)
Ya Tuhan dan Allah kami,
Engkau layak menerima puji-pujian
dan hormat dan kuasa,
Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu;
dan oleh karena kehendak-Mu
semuanya itu ada dan diciptakan. (Wahyu 4:11)
5. Anda akan menikmatinya.
Akhirnya, pujian dan penyembahan merupakan kenikmatan bagi kita.
C.S. Lewis menulis: "Saya pikir kita senang memuji apa yang kita
nikmati karena pujian bukan hanya mengungkapkan tetapi juga
menyempurnakan kenikmatan itu: hal itu merupakan semacam
kelengkapan yang sudah ditetapkan. Jika 2 orang sedang bercinta,
mereka terus-menerus saling mengatakan betapa cantik atau
gagahnya kekasih mereka. Itu bukan karena mereka ingin saling
memuji, tetapi karena kesenangan itu baru sempurna bila diucapkan
atau dinyatakan. Makin berharga objeknya, makin besar
kesenangannya. Seandainya jiwa manusia, yang merupakan hasil
ciptaan Allah itu, dapat secara sempurna "menghargai", artinya
mengasihi objek yang paling berharga dibandingkan dengan segala
sesuatu, dan bersamaan dengan itu pada setiap saat mengungkapkan
dengan sempurna kesenangan ini, maka jiwa itu akan berada dalam
keadaan sukacita yang luar biasa sempurna.
Gagasan-Gagasan untuk Penerapan
Bacalah beberapa dari Mazmur pujian dengan suara yang nyaring
(misalnya pasal-pasal: 8, 19, 29, 30, 33, 47, 66, 100, 103 s/d 108,
111, 113, 136, 138, 145 s/d 150), atau dari Wahyu (4:8,11; 5:9-10,
12-13; 7:12; 11:15-18; 15:3-4; 19:1-8). Perhatikanlah bagaimana para
penulisnya mengungkapkan berbagai perasaan mereka tentang Allah, dan
perhatikanlah berbagai hal yang menyebabkan mereka memuji Dia.
Kemudian, ambillah waktu untuk mengatakan kepada Allah apa yang Anda
hargai tentang Dia. Janganlah melakukan sesuatu untuk
membangkit-bangkitkan emosi Anda, tetapi biarlah pujian membawa Anda
sampai pada titik pada saat Anda secara rohani (bahkan mungkin secara
fisik juga) bertelut dan menyembah Tuhan.
BAHAYA-BAHAYA APAKAH YANG ADA DALAM PUJIAN DAN BAGAIMANA SAYA DAPAT
MENGHINDARINYA?
Pemikiran atau pandangan yang keliru tentang pujian dapat
menimbulkan berbagai masalah: Orang Kristen yang sebenarnya bukan
Kristen, yang hanya bertopengkan senyum walaupun di dalamnya
terdapat berbagai perasaan yang ditekan; orang Kristen yang tidak
berserah yang melalui pujian, yang berharap dapat membuat Allah
melakukan apa pun yang mereka inginkan; orang Kristen yang sedang
bingung, mereka yakin bahwa Allah yang menyebabkan terjadinya
pencobaan yang sedang mereka alami, padahal sebenarnya mereka
sendirilah yang membuat hal itu terjadi; orang Kristen pasif yang
menggunakan pujian untuk memecahkan masalah-masalah hidup mereka dan
menggantikan akal budi mereka; dan orang Kristen yang pemarah, yang
menyalahkan Allah karena tidak memberi imbalan untuk pujian-pujian
mereka dengan kehidupan yang bebas dari kesukaran.
Jika kita memandang pujian sebagai obat untuk semua penyakit dan
rahasia utama untuk keberhasilan dalam kehidupan Kristen, maka kita
cenderung untuk mengabaikan hal-hal penting lainnya -- doa untuk
diri kita sendiri dan orang-orang lain, makan dari firman Allah
dengan rajin, dan setiap hari taat kepada Kristus sebagai Tuhan.
Jika kita terlalu banyak meletakkan penekanan pada aspek emosional
dari pujian, kita menjadi kecewa bila kita sampai pada salah satu
dari periode-periode kehidupan kita yang kering secara emosional.
Atau, kita mematahkan semangat saudara-saudara seiman kita yang
tulus namun yang jarang mengalami emosi-emosi yang kuat pada waktu
mereka memuji, dan membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak akan
pernah bisa membina suatu kehidupan yang suka memuji secara wajar.
Sebaliknya, jika kita takut dan menghindari emosi ketika kita
memuji, maka kita akan kehilangan banyak kesenangan dan manfaat yang
sebenarnya dapat kita nikmati.
Untuk menghindari jebakan yang menjatuhkan, ingatlah akan
prinsip-prinsip berikut ini.
1. Hiduplah berdasarkan fakta, bukan berdasarkan perasaan.
Perasaan mudah diombang-ambingkan oleh bermacam-macam angin,
seperti apakah kita cukup tidur semalam, atau apa yang dikatakan
seseorang kepada Anda sejam yang lalu; perasaan bukan sarana yang
baik untuk mengukur kenyataan. Pusatkan perhatian Anda pada apa
yang Anda ketahui sebagai hal yang benar tentang Allah, diri
Anda, dan dunia ini. Ini berarti membangun pujian berdasarkan
firman Allah, dan hidup menurut kehendak Allah dan anugerah Allah
dan bukannya hidup menurut berbagai perasaan Anda. Pujian kepada
Allah sering dapat mengangkat emosi Anda dan pada waktu yang
bersamaan iman Anda dikuatkan dan Anda dibawa ke dalam hadirat
Allah, tetapi janganlah memakai pujian sekadar untuk mendapatkan
perasaan atau emosi yang melambung tinggi.
2. Janganlah berpura-pura merasa bahwa Allah itu hebat kalau Anda
sesungguhnya tidak merasa demikian.
Anda bebas memilih untuk menyembah Allah sebagai langkah kehendak
Anda, sambil mengakui kepada Allah dan orang-orang lain bahwa
Anda merasa sedih, khawatir, bimbang, atau marah. Akuilah
perasaan-perasaan Anda dengan jujur, hanya saja janganlah
membiarkan perasaan-perasaan itu menguasai Anda.
3. Janganlah berusaha untuk memakai pujian untuk menyogok Allah
supaya melakukan apa yang Anda inginkan.
Ini merupakan pujian yang bersifat menjilat dan yang dilakukan
secara terencana, bukan pujian yang bersifat menyembah, dan hal
ini sama saja dengan upacara magis yang bukan Kristen.
4. Janganlah memakai pujian untuk mencari penyelesaian untuk
berbagai masalah dalam hidup ini sebagai pengganti dari
usaha yang seharusnya dilakukan dengan menggunakan akal budi yang
sudah Tuhan berikan.
MENGAPA SAYA HARUS MENGAKUI DOSA-DOSA SAYA KEPADA ALLAH? BUKANKAH
ALLAH SUDAH MENGETAHUI SEMUANYA ITU?
Mazmur 32:3-5, 51:1-19, dan 1 Yohanes 1:8-9 melukiskan maksud-maksud
pengakuan seperti berikut ini.
1. Dosa-dosa yang tersembunyi itu membusuk dan merusak serta
menceraikan dan menghancurkan.
Allah mengetahui dosa Anda, tetapi jika Anda belum mengakuinya
secara terbuka, maka Anda dapat menipu diri Anda dengan
meyakinkan diri Anda bahwa itu sebetulnya bukan dosa, dan bahwa
Anda tidak perlu melakukan sesuatu dengan dosa itu, dan bahwa hal
itu tidak menimbulkan sesuatu kerugian bagi Anda. Pengakuan
adalah langkah awal menuju pertobatan, berpaling, dan
menghentikan tindakan atau sikap yang salah itu.
2. Pengakuan mendatangkan pengampunan.
Jika Anda tidak merasa bersalah, darah Tuhan Yesus tidak dapat
melakukan apa-apa bagi Anda. Jika Anda mengakui bahwa Anda
bersalah, maka barulah Allah dapat menyucikan Anda. Kesalahan
yang diangkat ke permukaan adalah sahabat Anda, karena hal itu
akan memungkinkan salib berpengaruh pada situasi itu.
3. Pengakuan mengantar Anda ke keadaan yang sesungguhnya.
Allah menghendaki agar hubungan Anda dengan Dia didasarkan pada
kebenaran dan kenyataan. Kata dalam bahasa Inggris yang artinya
mengakui, dalam bahasa Latin berarti "mengatakan hal yang sama
seperti". Setuju dengan Allah tentang apa yang benar itu berarti
mendasarkan hubungan Anda pada kenyataan. Pengakuan membebaskan
Anda dari belenggu-belenggu kebohongan, penipuan terhadap diri
sendiri, dan dari khayalan, karena iblis memang menghendaki Anda
hidup di dalam khayalan.
4. Pengakuan memulihkan hubungan Anda dengan Allah.
Jika Anda hidup dalam kebohongan dan tidak mau mengampuni,
tidaklah mungkin bagi Allah untuk mendengar dan menjawab doa-doa
Anda (Yesaya 59:1-2).
5. Pengakuan membuat kehidupan Anda lebih menyenangkan.
Tidak mau mengaku berarti Anda kehilangan sukacita, damai,
penghiburan, dan pada akhirnya juga kesehatan Anda. Keadaan
demikian akan lebih banyak merugikan diri Anda.
BAGAIMANA CARANYA SAYA MENGAKUI DOSA SAYA?
Mazmur 51 merupakan suatu contoh yang luar biasa tentang pengakuan.
Kadang-kadang, Anda ingin mengakui secara spesifik dosa-dosa yang
telah Anda perbuat, sedangkan pada waktu-waktu lain Anda hanya perlu
mengakui kelemahan-kelemahan Anda secara umum di hadirat Tuhan.
Suatu segi yang penting dalam pengakuan sering kali adalah sekadar
mengatakan kepada Allah bagaimana perasaan Anda tentang berbagai
hal. Kitab Mazmur penuh dengan apa yang dapat kita sebut "pengakuan
negatif", di dalam pengakuan itu pemazmur mengatakan kepada Allah
bagaimana perasaan hatinya, betapa kecewanya ia terhadap Allah, dan
seterusnya.
"Aku kehabisan tenaga dan remuk redam
aku merintih karena degap-degup jantungku." (Mazmur 38:9)
Pemazmur melakukan hal ini bukan untuk bergelimang dalam sikap
mengasihani dirinya sendiri, tetapi untuk mengawali doanya dengan
kejujuran. Dalam Mazmur 38 dan di bagian lain, Daud menyelingi
keterusterangan semacam ini dengan keputusan-keputusan untuk
memercayakan diri kepada Tuhan, walaupun hal tersebut bertentangan
dengan perasaan-perasaannya dan dengan permohonan-permohonannya
kepada Allah yang dipercayainya.
"Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku,
dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu;
jantungku berdebar-debar, kekuatanku hilang
dan cahaya mataku pun lenyap daripadaku
Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena
penyakitku
dan sanak saudaraku menjauh....
Tetapi aku seperti orang tuli, aku tidak mendengar
seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya....
Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap
Engkau yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku....
Ya, aku mengaku kesalahanku,
aku cemas karena dosaku
Jangan tinggalkan aku, ya Tuhan, Allahku
janganlah jauh daripadaku!
Segeralah menolong aku,
ya Tuhan, keselamatanku!" (Mazmur 38:10-12, 14, 16, 19, 22-23)
Mengakui perasaan-perasaannya dan sikap-sikapnya yang berdosa
menolong Daud untuk melepaskan dosa-dosa itu dan mengambil keputusan
untuk memercayakan diri kepada Allah. Berikut ini ada dua
peringatan yang perlu diingat dalam pengakuan.
1. Jangan memupuk perasaan bersalah.
Sering kali, supaya pasti, kita perlu minta ampun untuk sesuatu
yang jelas dan pasti. Kalau demikian tidak akan ada kesulitan
apa-apa. Tetapi, sama seperti Anda, saya sering berada di dalam
keadaan kurang pasti yang sulit diatasi: entah itu merupakan
suatu perasaan berdosa yang samar-samar atau merupakan suatu
pembenaran diri yang diam-diam dan sama samar-samarnya. Apakah
yang harus kita lakukan bila berada di dalam keadaan yang
demikian?
Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa orang tidak dapat
melakukan sesuatu secara langsung terhadap kedua perasaan semacam
itu. Orang tidak boleh memercayai yang mana pun dari keduanya
itu. Memang, bagaimana mungkin hal yang samar seperti kabut itu
dapat dipercaya? Saya kembali pada ucapan Rasul Yohanes: "Jika
kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati
kita" (1 Yohanes 3:20). Dan demikian pula, jika hati kita merayu
kita, Allah itu lebih besar daripada hati kita ....
Jika saya benar, kesimpulannya ialah bahwa apabila suara hati
kita tidak memojokkan kita dengan tegas melainkan hanya menuduh
samar-samar atau membenarkan samar-samar, kita harus berkata
kepadanya, "Diamlah, jangan banyak mulut" -- dan berjalanlah
terus.
2. Jangan menjadikan pengakuan itu sebagai pengganti pertobatan.
Penyesalan yang dalam bukanlah pertobatan. Yang pertama
merupakan perasaan dan kata-kata sedangkan yang kedua merupakan
tindakan.
APAKAH GUNANYA DOA PERMOHONAN JIKA ALLAH MENGETAHUI APA YANG SAYA
BUTUHKAN LEBIH DARI SAYA SENDIRI MENGETAHUINYA?
Permohonan dalam doa itu sebenarnya hanyalah memohon kepada Allah
apa yang kita inginkan. Karena Allah selalu mengetahui kita secara
sempurna, termasuk kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan kita,
maka kita melihat seakan-akan doa permohonan itu tindakan yang
bodoh. Namun dengan mengungkapkan keinginan-keinginan kita dengan
sukarela, kita memperlakukan Allah sebagai pribadi, bukannya sebagai
benda. Demikian juga kita memperlakukan Dia sebagai Bapa, Kekasih,
Sahabat, dan bukannya sebagai suatu mesin yang Mahatahu di kejauhan
sana yang menjalankan alam semesta ini.
Makna permohonan (dan syafaat atau pengantara) bukanlah untuk
mengubah pikiran Allah, sesuatu yang mendorong-Nya untuk melakukan
sesuatu yang baik bagi kita yang tidak akan dilakukannya seandainya
kita tidak menarik-narik lengannya. Allah tidak hidup di dalam
kerangka waktu kita. Ia tidak dengan mendadak mengatur kembali
segala sesuatu sehubungan dengan respons-Nya terhadap permohonan
kita. Ia hidup di dalam kekekalan, Ia dapat melihat seluruh waktu
dengan sekali pandang. Sejak dunia ini diciptakan, Ia melihat setiap
doa dan masing-masing doa itu dipertimbangkan-Nya ketika ia
merencanakan apa yang akan terjadi. Kita tidak berdoa untuk mengubah
pemikiran Allah, melainkan (oleh karena suatu hubungan kasih yang
penuh misteri dengan yang Mahakuasa) kita berdoa supaya permohonan
kita dijadikan bahan pertimbangan.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Kompas Kehidupan Kristen
Judul buku asli: A Compact Guide to the Christian Life
Judul artikel: Doa
Penulis: K. C. Hinckley
Penerjemah: Gerrit J. Tiendas
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
Halaman: 25 -- 34
______________________________________________________________________
KESAKSIAN DOA
KUASA DOA
Pada pukul 09.00, tanggal 24 Mei 1995, polisi Kuba mengejutkan
Pendeta Orson Vila di rumahnya dan menangkapnya sebagai tahanan.
Keesokan harinya, ribuan orang percaya memenuhi jalan di depan
gedung-gedung pemerintahan di Camaguey, memprotes penangkapan yang
tidak adil tersebut.
Kejadian itu merupakan gerakan terakhir pemerintahan Castro yang
menerapkan hukum baru untuk menutup gereja-gereja rumah di
mana-mana. Orson, yang menggembalakan sebuah gereja rumah yang
besar dengan jemaat sebanyak 2.500 orang, juga merupakan pengawas
dari Wilayah Pusat Gereja Assemblies of God di Kuba.
Selama 4 tahun sebelumnya, dalam rangka pembukaan kebebasan
beragama, pemerintahan komunis mengizinkan perkembangan
gereja-gereja rumah ini. Tetapi saat melihat pertumbuhan orang-orang
percaya yang tidak dapat dihentikan, mereka mengubah cara pandang
mereka.
Gereja di Kuba berada dalam tahap kebangkitan rohani seperti yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Di wilayah Camaguey saja sekarang
terdapat 85 gereja rumah baru! Para pemimpin pemerintahan murka dan
menyatakan bahwa gereja-gereja rumah ini "mengancam" pemerintah
Kuba. Mereka berusaha untuk memaksa para pemimpinnya, seperti Orson
Vila, untuk menutup semua gereja rumah.
Tidak ada satu pun gereja-gereja itu yang rela ditutup.
Walau terdapat dukungan yang luar biasa dari kaum percaya, Orson
tidak diberikan pengadilan yang adil. Pengacaranya tidak memiliki
kesempatan untuk menyediakan pembelaan. Pada tanggal 24 Mei 1995, ia
dijatuhi hukuman 1 tahun 9 bulan penjara.
Pada 23 tahun yang lalu (1972, -red), Orson melepaskan karier
medisnya untuk membaktikan dirinya sepenuh waktu guna mengabarkan
Injil ke seluruh Kuba. Sejak saat itu, ia telah menjadi penginjil,
pemimpin dari pemuda Kristen, dan penasihat nasional pemuda. Ia
telah dipenjarakan dan diancam berulang kali.
Ceritanya sampai kepada orang-orang percaya di seluruh dunia yang
berdoa baginya, keluarganya, dan gerejanya. Pada tanggal 2 Maret
1996, ia dibebaskan secara dini dan ditempatkan dalam tahanan rumah.
Saat ia dibebaskan, Pendeta Orson membagikan cerita di bawah ini
mengenai waktu-waktunya di penjara.
"Saya amat berterima kasih untuk kuasa doa. Saya telah menerima
kekuatan Allah dan tidak pernah sakit -- tidak ada flu, tidak ada
penyakit kulit, tidak ada penyakit sama sekali. Dan saya memiliki
banyak kesempatan untuk membagikan Injil kepada rekan-rekan
tahananku."
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Jesus Freaks
Penyusun: Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit: Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman: 109 -- 110
______________________________________________________________________
STOP PRESS
BARU DARI YLSA: PUBLIKASI KADOS (KALENDER DOA SABDA)
Puji Tuhan, satu lagi milis publikasi baru diterbitkan oleh Yayasan
Lembaga SABDA (YLSA). Publikasi yang diberi nama KADOS
(singkatan dari Kalender Doa SABDA) ini lahir dari kerinduan YLSA
untuk membagikan pokok-pokok doa harian bagi para pendoa syafaat
yang terbeban berdoa bagi Indonesia dan pelayanan YLSA. Semoga
melalui kesatuan hati untuk berdoa ini, Tuhan akan melawat umat-Nya
dan nama-Nya dimuliakan.
Publikasi KADOS yang akan terbit secara mingguan, bersifat terbuka
untuk semua denominasi gereja. Dengan menjadi pelanggan KADOS,
maka secara otomatis Anda juga menjadi pelanggan e-Doa, Open Doors,
dan 30 Hari Doa. Jadi, bagi pendoa-pendoa Kristen Indonesia yang
ingin dibekali untuk menjadi pendoa yang setia dan memiliki visi,
segera daftarkan nama Anda dan jadilah berkat.
Kontak redaksi:
==> <doa(at)sabda.org>
Untuk berlangganan, kirimkan email kosong ke:
==> <subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________
Anda diizinkan menyalin/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-Doa
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak untuk
tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan yang diambil
dan nama e-Doa sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Novita Yuniarti
Kontak Redaksi: < doa(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-doa(at)hub.xc.org >
Arsip e-Doa: http://www.sabda.org/publikasi/e-Doa/
Situs DOA: http://doa.sabda.org/
Facebook DOA: http://fb.sabda.org/doa/
Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-Doa 2010 / YLSA -- http://http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
|