=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=
<>< e-BUKU ><>
* Berbagi Berkat Melalui Buku *
02/Desember 2005
=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=
<> DARI REDAKSI : Natal dan Tahun Baru Bersama e-Buku
<> RESENSI BUKU : 1. [GUNUNG MULIA] Selamat Natal
2. [INTERAKSARA] 52 Cara Sederhana Membuat Natal
Menjadi Istimewa
3. [BHUANA ILMU POPULER] The Magic of Christmas
Miracles
3. [IMMANUEL] The GIFT for All People
4. [KANISIUS] Orang Gila dari Nazaret
<> ARTIKEL NATAL : Baca Mulai dari Belakang
<> EDISI JANUARI : Mengawali Tahun dengan Melayani
======================================================================
<>= DARI REDAKSI =<>
Salam Damai dalam Tuhan Yesus,
Natal adalah salah satu saat yang istimewa bagi hidup orang Kristen
karena melalui Natal kita diingatkan dengan kasih Allah yang sangat
besar bagi kita, anak-anak-Nya. Tinggal beberapa hari lagi kita akan
merayakannya bersama-sama. Apa yang akan Anda lakukan untuk
menyambut dan merayakan Natal tahun ini? Menghias rumah, menghadiri
kebaktian Natal, bertemu keluarga, sahabat, bagi-bagi hadiah, ...
semuanya pasti sudah terencana dengan baik. Berbicara tentang
hadiah, apakah buku-buku Natal juga menjadi salah satu hadiah yang
Anda siapkan bagi orang-orang yang Anda kasihi? Ataukah Anda sedang
mencari buku-buku Natal sebagai bacaan untuk disharingkan bersama
keluarga? Jika Anda memang sedang mencari buku-buku Natal, simak
sajian e-Buku kali ini yang khusus menyajikan resensi Natal.
Ada 5 resensi buku seputar Natal dan Yesus Kristus yang kami
sajikan, kiranya bisa menjadi alternatif buku-buku yang akan Anda
baca bulan ini. Selain itu artikel "Baca dari Belakang" juga bisa
menjawab pertanyaan mengenai apa makna sesungguhnya dibalik setiap
sukacita dalam menyambut dan merayakan Natal. Kiranya semua sajian
kami memberi inspirasi bagi Anda untuk melakukan yang terbaik dan
hidup berkenan kepada-Nya.
Tak lupa, segenap Redaksi e-Buku mengucapkan:
"SELAMAT NATAL 2005 dan TAHUN BARU 2006"
Sambut Dia Sang Raja Damai, sambut Dia di bumi dan di hati!
Amin!
Tuhan memberkati,
Redaksi e-Buku
(Puji)
"Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita,
yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal
ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya." (1Yohanes 4:9)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=1Yohanes+4:9 >
======================================================================
<>= RESENSI 1 =<>
SELAMAT NATAL
=============
Buku "Selamat Natal" menawarkan kepada Anda yang ingin memaknai
Natal dengan cara yang berbeda. Anda juga bisa menyimak salah satu
artikelnya di Kolom Artikel.
Judul Buku : Selamat Natal (33 Renungan tentang Natal)
Penulis : Dr. Andar Ismail
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002 [Cet. ke-10]
Ukuran : 14 cm x 21 cm
Tebal : 107 halaman
"Selamat Natal", sebuah judul yang begitu sederhana, namun tetap
terkesan bersahabat dan penuh keceriaan. Paling tidak kesan ini pula
yang bisa ditangkap saat mulai membaca buku ini. Melalui 33 renungan
dalam bentuk artikel ringan, sajak, dan kisah-kisah sejarah yang
inspiratif, Dr. Andar Ismail mencoba untuk membawa pembaca memahami
makna kelahiran Yesus secara mendalam dengan tetap membawa nuansa
Natal yang penuh sukacita. Lewat berbagai ilustrasi singkat yang
ringan dan terkadang juga menggelitik, kumpulan tulisan yang
beberapa di antaranya pernah dimuat di media cetak nasional ini
menyoroti berbagai pembahasan mengenai Natal dari berbagai sudut
pandang, seperti sejarah, budaya dan tentunya juga Alkitab. Saat
membaca buku ini, Anda disambut dengan prolog "Merayakan Natal itu
Berbahaya", kemudian judul-judul selanjutnya yang tak kalah menarik
seperti "Kalau Sekarang Yesus Lahir di Jakarta", "Andaikata Yesus
jadi Gubernur DKI", "Schizofreni dalam Beragama" atau "Sambutan
Natal Yohanes Pembaptis" tentunya sangat efektif dalam membuat
pembaca penasaran. Dengan gaya bahasa yang mengalir, tanpa
menggurui, namun penuh arti, buku ini sangat cocok dan relevan
untuk dibaca kapan saja dan oleh siapa saja yang ingin memaknai
Natal dengan cara yang berbeda. (Ary)
<>= RESENSI 2 =<>
52 CARA SEDERHANA MEMBUAT NATAL MENJADI ISTIMEWA
================================================
Pernahkah Anda membuat kartu Natal sendiri, mengadakan drama Natal,
menghias rumah dengan dekorasi Natal, atau mengundang teman untuk
mengikuti perayaan Natal keluarga Anda? Ya, cara-cara sederhana
untuk merayakan Natal itulah yang dibagikan Jon Dargartz melalui
bukunya kepada pembaca.
Judul Buku : 52 Cara Sederhana Membuat Natal Menjadi Istimewa
Judul Asli : 52 Simple Ways to Make Christmas Special
Penulis : Jan Dargartz
Penerjemah : Esther S. Mandjani
Penerbit : Interaksara, Batam, 1999
Ukuran : 11 cm x 18 cm
Tebal : 173 halaman
Merayakan Natal tidaklah harus meriah dan mewah. Ada banyak cara
sederhana yang dapat kita lakukan untuk membuat perayaan Natal tetap
berkesan dan memiliki makna tanpa harus mengeluarkan banyak biaya
dan tenaga. Berbagai cara sederhana untuk merayakan Natal tersebut
kini dapat Anda baca dalam buku kecil karya Job Dargartz. Total ada
52 cara merayakan Natal yang dibagikan Jon Dargartz melalui buku
ini. Setiap cara disajikan dalam bentuk lugas dan dilengkapi dengan
kata mutiara dibawah judul. Beberapa cara mungkin sudah sering Anda
terapkan tapi beberapa lagi mungkin baru Anda ketahui.
Karena isinya yang praktis dan sanggup menginspirasi orang untuk
merayakan Natal dengan cara yang sederhana maka tidak heran bila
banyak orang yang meminati buku ini. Hal inilah yang membuat buku
kecil ini menjadi salah satu buku terlaris di dunia.
Hanya saja, karena buku terjemahan, maka beberapa cara di buku ini
sulit untuk diterapkan di Indonesia, kecuali bila ada perubahan dari
pembuat acaranya. Hal ini disebabkan karena perbedaan budaya dan
adat orang Barat dengan orang Indonesia. Sebagai contoh ide "Berburu
Pohon Natal Sendiri" (hal. 77) agak sulit diterapkan di Indonesia
karena di sini orang justru membeli pohon cemara tiruan. Selain itu,
beberapa istilah juga asing bagi kebanyakan orang Indonesia,
misalnya gaun taffeta, sweater mohair, dsb.
Terlepas dari kekurangannya, yang dapat dimaklumi karena ditulis
sesuai dengan latar budaya si penulis, buku ini tetaplah menawarkan
ide-ide cemerlang yang dapat Anda gunakan atau setidaknya memberikan
inspirasi untuk membuat Natal Anda lebih berkesan. (Har)
<>= RESENSI 3 =<>
THE MAGIC OF CHRISTMAS MIRACLES
===============================
Kejadian-kejadian pada masa Natal yang ajaib dituliskan kembali
dalam buku ini. Silakan simak resensinya dan baca bukunya untuk
melihat mukjizat Tuhan yang mungkin juga terjadi di dalam hidup Anda.
Judul Buku : The Magic of Christmas Miracles (Koleksi Kisah Nyata
Terbaru yang Sangat Memberikan Inspirasi)
Judul Asli : The Magic of Christmas Miracles
Penulis : Jamie C. Miller; Laura Lewis; Jennifer Basye Sander
Penerjemah : Bambang Soemantri
Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2002
Ukuran : 12,5 cm x 17,7 cm
Tebal : 206 halaman
Buku yang berjudul "The Magic of Christmas Miracles" yang telah
dialihbahasakan oleh Bambang Soemantri ini berisi 32 kisah nyata
yang dialami orang-orang yang hidupnya diubahkan selamanya oleh
mukjizat-mukjizat yang terjadi pada masa Natal. Dimulai dengan kisah
yang berjudul "Pria Berselendang" yang menceritakan tentang seorang
anak gadis berusia 16 tahun yang menemukan kembali harapannya
setelah bertemu seorang pria misterius di dalam bis pada malam Natal
pada tahun 1965. Hingga kisah yang diberi judul "Sayap Iman" yang
bercerita tentang seorang pria yang pingsan setelah menghirup
karbondioksida saat mengemudikan pesawat terbang, namun selamat dan
dia pun percaya bahwa Tuhanlah yang mengendalikan pesawatnya tinggal
landas dengan selamat. Setiap kisah yang dihadirkan di dalam buku
ini akan memelihara semangat dan bisa membangkitkan janji mukjizat
pada masa Natal untuk seluruh anggota keluarga seperti harapan
penulis yang ditulis di halaman "Prakata". Tiga halaman terakhir
pada buku ini berisi ajakan kepada pembaca untuk ikut membagikan
mukjizat dengan cara mengirimkan cerita tentang mukjizat yang
terjadi di dalam hidup baik pada masa Natal maupun pada saat yang
lain kepada Redaksi "Miracle".
Buku bercover warna hijau ini patut menjadi salah satu pilihan
bacaan bagi setiap orang yang ingin melihat dan merasakan mukjizat
yang terjadi pada masa Natal. (Puj)
<>= RESENSI 4 =<>
THE GIFT FOR ALL PEOPLE
=======================
Berbicara tentang hadiah, pernahkah Anda memikirkan tentang hadiah
teristimewa yang belum ada tandingannya yang pernah diterima
manusia? Baca buku berikut ini untuk menemukan jawabannya.
Judul Buku : HADIAH Bagi Semua Orang
(Pemikiran tentang Anugerah Tuhan yang Besar)
Judul Asli : The GIFT for All People
Penulis : Max Lucado
Penerjemah : Ir. Hari Suminto
Penerbit : Immanuel Publishing House, Jakarta, 2004
Ukuran : 13 cm x 18 cm x 1 cm
Tebal : 143 halaman
Dalam bukunya yang berjudul "The GIFT for All People" (Hadiah Bagi
Semua Orang), Max Lucado menuliskan tentang keistimewaan satu hadiah
yang terindah dari semua hadiah yang pernah ada di dunia ini:
1. Hadiah itu diberikan oleh Allah
2. Hadiah itu diberikan kepada semua orang yang mau menerimanya.
3. Hadiah itu adalah Yesus -- yang bersedia diutus menjadi penebus
dosa manusia dan menjadi pendamai antara Allah dengan manusia.
Max mengungkapkan pemikirannya tentang anugerah Allah yang besar
dengan mengulas ayat-ayat Alkitab yang sesuai untuk setiap topiknya.
Ada empat bagian besar dalam buku ini yang menceritakan secara apik
kisah kelahiran Yesus di dunia, persiapannya dalam menebus dosa
manusia, dan bagaimana pilihan kita. Yang terpenting, buku ini
menekankan tentang hati dan kasih Allah kepada manusia ciptaan-Nya.
Karena kasih-Nya itulah, Dia menganugerahkan Yesus, putra-Nya,
sebagai hadiah terindah bagi semua orang. Sekarang tergantung respon
kita dalam menanggapi hadiah itu -- apakah kita bersedia menerima-
Nya atau mengabaikan-Nya. Pilihan itu terserah pada Anda.
Warna cokelat mendominasi buku yang tergolong kecil ukurannya ini.
Ada sedikit kesan pemborosan karena ada 4 halaman dibiarkan kosong.
Halaman tersebut sebenarnya menjadi pembatas antara ulasan tema
besar dengan topik-topik yang sesuai dengan tema itu. Kekosongan ini
menimbulkan kesan seolah-olah ulasan tema tidak berkaitan dengan
topik-topik berikutnya yang dibahas. Namun yang pasti, buku ini bisa
menjadi hadiah yang tepat di saat Natal ini khususnya kepada orang-
orang di sekitar Anda yang belum menemukan anugerah Allah yang besar
itu dalam hidupnya. (End)
<>= RESENSI 5 =<>
ORANG GILA DARI NAZARET
=======================
Resensi di bawah ini adalah kiriman dari pelanggan publikasi e-Buku.
Simak resensinya dan jangan lupa baca bukunya.
Judul Buku : Orang Gila dari Nazaret
Penulis : A. Setyawan, S.J.
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 2005
Tebal : 289 halaman
Ukuran : 12,5 cm x 20 cm
Penulis Resensi : Purnawan Kristanto (penulis buku dan moderator
milis "Komunitas Penjunan")
MEMAHAMI YESUS, ALA MR. BEAN ATAU MR. BOND?
Sejak kecil, orang Kristen telah mendapatkan berbagai ajaran tentang
iman Kristen yang bersifat baku. Karenanya, metode ini pun kurang
memberikan ruang untuk merenungkannya secara kritis. Penulis
mengibaratkan fenomena ini seperti film Mr. Bean. Dalam pembukaan
film ini, kita melihat ada seberkas sinar kecil yang menyertai
kejatuhan sosok Mr. Bean, entah dari mana asalnya. Kita tidak pernah
tahu dari manakah asal pria lucu ini. Meski begitu, penonton tidak
pernah memusingkan hal ini. Yang penting bagi mereka adalah
menikmati kekonyolannya, dagelannya, dan perbuatan gilanya. Hampir
seperti itulah pemahaman sebagian orang Kristen tentang Yesus. Pada
awalnya, pengetahuan itu merupakan pasokan dari luar. Setiap hari
Minggu kita datang ke gereja untuk dibombardir dengan pemahaman
teologis yang jatuh dari awan-awan.
Dalam kristologi, pendekatan seperti ini dikenal sebagai "kristologi
dari atas" (descending christology). Alhasil, umat memang taat pada
asas dan dogma, tetapi sama sekali tidak mengenal Kristus yang
mereka sembah. Pemutlakan dogma, membuat mereka takut untuk mencoba
memahami Yesus secara kreatif. Daripada repot-repot, lebih baik
datang kepada-Nya untuk minta disembuhkan dari penyakit, dibebaskan
dari stress dan melihat mukjizat-mukjizat-Nya. Mereka lebih tertarik
melihat "perbuatan gila" Yesus, daripada mengenal Yesus.
Berbeda dengan Mr. Bean, kehebatan dan kegilaan dalam film James
Bond telah dibingkai dalam kisah dengan alur yang jelas. Dalam film
ini, kita bisa mengetahui lebih banyak tentang sosok Mr. Bond:
mengenai asal-usulnya, misinya, relasinya, kecerdasannya,
karakternya dan sebagainya. Penonton mempunyai informasi yang
memadai tentang sosok Mr. Bond ini. Dalam scene tertentu penonton
juga disodori fakta-fakta dan diajak untuk berpikir dan menebak
misteri dalam film tersebut.
Film James Bond ini merupakan gambaran dari pendekatan "kristologi
dari bawah" (ascending christology). Pendekatan ini mencoba memahami
Yesus secara historis, terlepas apakah dogma gereja mengatakannya,
atau tidak. Titik berangkatnya adalah pengalaman perjumpaan dengan
Yesus di dalam sejarah. Meski begitu, pendekatan ini tidak hendak
menyangkal keilahian Yesus. Kristologi ini merupakan cara alternatif
untuk memahami iman kepada Yesus Kristus.
Buku ini merupakan hasil dari pergulatan alumni STF Driyakarya dalam
menggali dan menemukan sosok Kristus. Pada bagian pertama, penulis
memaparkan berbagai problematika di seputar sosok Yesus. Bagian
kedua, mengenalkan dua pendekatan kristologi (dari atas dan dari
bawah), lalu menawarkan fungsi simbol yang bisa menjembatani
perbedaan kedua pendekatan itu. Menurutnya, tanpa memahami simbol,
maka umat akan kesulitan memahami relevansi rumusan dogma dalam
realitas kehidupan.
Bagian ketiga, terdapat paparan kronologis bagaimana kegilaan Yesus
itu dipahami dan dirumuskan oleh para murid dan gereja purba,
kemudian dilestarikan dalam bentuk tradisi gereja. Dalam
perkembangannya, tradisi gereja ini memunculkan suatu perdebatan
tentang status Yesus Kristus: Apakah Dia itu manusia atau Tuhan?
Pembahasan tentang status Yesus ini dikupas pada bagian keempat buku
ini. Pada bagian kelima, penulis menjelaskan langkah-langkah untuk
menerapkan kedua pendekatan tadi untuk memahami kristologi pada
zaman sekarang. Bagian terakhir menunjukkan dimensi praktis dalam
berkristologi.
Buku ini bisa menjadi pintu bagi kaum awam untuk memasuki ruang
studi tentang kristologi. Dengan cerdas, penulis berhasil
mendaratkan konsep-konsep yang abstrak menggunakan analogi dan
metafora sehingga lebih mudah dipahami. Dengan bahasa yang akrab dan
memakai idiom-idiom yang ngepop, kita dipandu mengenal konsep-konsep
teologi seperti soteriologi (keselamatan), eskatologi (akhir zaman),
kenostisisme, dll. Sayangnya, di dalam hal Trinitas, penulis tidak
menjelaskannya dengan tuntas. Setyawan mengaku mengalami kesulitan
mencari analogi yang pas untuk menjelaskan hal ini. Penulis menduga
Trinitas ini merupakan misteri yang memang sengaja diciptakan Allah
untuk memberi ruang terbuka bagi pertanyaan-pertanyaan yang tiada
habisnya.
======================================================================
<>= ARTIKEL NATAL =<>
BACA MULAI DARI BELAKANG
========================
Membaca novel tentunya mulai dari depan atau dari awalnya. Demikian
juga halnya dengan membaca biografi. Kita membaca biografi seseorang
mulai dari kelahiran orang itu, lalu masa kecilnya, kemudian masa
remajanya dan selanjutnya. Agak janggal kalau kita membaca novel
atau riwayat hidup mulai dari belakang atau dari akhirnya.
Tetapi untuk membaca "riwayat hidup" Tuhan Yesus, kita perlu mulai
dari belakang. Saya akan segera menjelaskan hal ini.
Janganlah Anda gusar kalau saya mulai dengan kalimat yang tampaknya
seolah-olah menghujat atau meremehkan: peristiwa penjelmaan Allah
dalam kelahiran Yesus sebenarnya tidak istimewa. Cerita kelahiran
seperti itu banyak terdapat dalam budaya-budaya lain. Hampir tiap
budaya tradisional mempunyai dongeng tentang Allah atau dewa yang
turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia. Ada cerita tentang dewa
yang menjelma sebagai pertapa lanjut usia. Ada cerita tentang dewa
yang menjelma menjadi seorang puteri yang cantik jelita. Ada pula
cerita tentang dewa yang turun ke bumi sebagai seorang bayi mungil
tersimpan dalam sebuah semangka.
Karena itu sebenarnya peristiwa kelahiran Tuhan Yesus tidak sangat
istimewa. Seandainya kisah tentang kelahiran Yesus berhenti sampai
di situ tanpa kelanjutan apa-apa; apakah sekarang kita menjadi murid
dan pengikut-Nya? Agaknya tidak, sebab masakan kita menjadi murid
dan pengikut seorang bayi?
Kita baru mulai tersentak untuk mengikut Yesus ketika sudah membaca
berita tentang kenaikan-Nya ke surga menyusul kebangkitan-Nya dari
kematian di kayu salib. Hati kita baru terperangah ketika sudah
membaca tentang gaya hidup-Nya yang sungguh lain daripada yang lain.
Jiwa kita baru tersentuh ketika sudah membaca pengajaran-Nya yang
sungguh unik.
Jadi, keistimewaan kelahiran Yesus baru dapat dimengerti setelah
kita membaca bagian tengah dan bagian akhir dari "riwayat hidup"
Yesus. Kitab-kitab Injil menjadi lebih jelas kalau kita membacanya
"mulai dari belakang", yaitu mulai dari kebangkitan Yesus. Kita
menjadi orang percaya bukan karena kelahiran Yesus, melainkan karena
kematian dan kebangkitan-Nya. Kelahiran Yesus belum memberi dampak
apa-apa kepada iman kita. Dampak itu baru muncul dari hidup dan
pengajaran-Nya. Sebab itu Natal tidak bisa berdiri sendiri terlepas
dari Paskah.
Seandainya para rasul hadir di kandang Betlehem pada waktu kelahiran
Yesus, mungkin mereka pun tidak dapat memberi kesaksian apa-apa.
Orang yang menjadi saksi mata kelahiran Yesus belum bisa mengerti
bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Ketika para gembala datang
ke kandang dan menceritakan bahwa menurut malaikat bayi ini adalah
Juruselamat (lihat Luk 2:11-12); maka "semua orang yang
mendengarkannya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala
itu" (ay. 18). Baru sekitar lima puluh tahun kemudian, seorang rasul
secara eksplisit bisa bersaksi bahwa bayi di palungan itu adalah
Anak Allah dan Penebus: "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah
mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk
kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka ..."
(Gal. 4:4-5)
Untunglah kelahiran Yesus disusul dengan masa dewasa-Nya di mana Ia
mengajar, sebab kita percaya bukan kepada seorang bayi melainkan
kepada seorang rabi yang mengajarkan dan meneladankan sebuah gaya
hidup yang unik. Untunglah kelahiran Yesus disusul dengan kematian-
Nya di salib sebab kita diselamatkan bukan oleh seorang bayi
melainkan oleh Juruselamat yang memberi diri-Nya sendiri. Untunglah
kelahiran Yesus disusul dengan kebangkitan dan kenaikan-Nya sebab
kita berdoa bukan kepada bayi Yesus melainkan kepada Tuhan Yesus
yang "duduk di sebelah kanan Allah" (rumus Pengakuan Iman Rasuli,
tahun 540).
Sebab itu Natal baru mempunyai arti kalau dilihat dari bagian akhir
hidup Yesus. Kita baru bisa memahami kedalaman arti Natal kalau kita
memahami karya Yesus sepanjang hidup-Nya yang mencapai klimaks
ketika Ia dibangkitkan Allah dari kematian sebagai tanda bahwa Allah
mengabsahkan segala karya hidup-Nya. Kesaksian kita kepada
masyarakat bukanlah tentang seorang bayi mungil melainkan tentang
seorang pria berusia 33 tahun yang memberi keseluruhan diri-Nya
sampai mati di atas kayu salib. Pusat pemberitaan gereja bukanlah
inkarnasi Yesus (Allah menjadi manusia) melainkan diri dan misi
Yesus selama 33 tahun di bumi. Tanpa karya hidup Yesus maka
peristiwa inkarnasi di Betlehem tidak ada artinya. Di sinilah letak
perbedaan antara Injil dengan segala cerita-cerita mengenai
inkarnasi para dewa yang lazim dikenal di budaya-budaya tradisional.
Oleh karena karya hidup Yesus itulah, sekarang kita tahu mengapa
kita merayakan Natal. Kita merayakan lahirnya seseorang yang 33
tahun kemudian memberi pegangan hidup, bahkan makna hidup, kepada
umat manusia.
Perayaan Natal menjadi lebih berarti karena kita tahu bahwa bayi
yang kita sambut ini tidak terus menerus berada di palungan
Betlehem, melainkan bertumbuh menjadi guru yang mengajar di tepi
sungai Yordan dan kemudian dipaksa berjalan terbungkuk-bungkuk
memikul salib menaiki tangga kota Yerusalem, tetapi kemudian bangkit
kembali dan berdiri dengan tegap di bukit Galilea serta bersabda,
"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah,
Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat.
28:18-20).
Seandainya kisah kelahiran Yesus adalah ibarat bab pertama dari
cerita bersambung, maka bab pertama ini baru menjadi jelas duduk
perkaranya kalau kita sudah membaca bab terakhirnya. Kita jadi
melihat bahwa Natal sungguh patut dirayakan. Kita jadi tahu apa
sebabnya kita merasa berbahagia pada hari Natal. Kita jadi mantap
dan berucap, "Selamat Natal!"
Bahan diambil dan diedit dari:
------------------------------
Judul Buku : Selamat Natal
Penulis : Dr. Andar Ismail
Penerbit : PT. BPK Gunung Mulia, Yogyakarta, 2002
Halaman : 1 - 4
======================================================================
=<>= BEBERAPA BUKU HARUS DIUJI, =<>=
YANG LAIN HARUS DITELAN SAJA DAN
BEBERAPA YANG LAIN PERLU DIKUNYAH DAN DICERNAKAN
(Bacon)
======================================================================
<>= EDISI JANUARI =<>
MENGAWALI TAHUN DENGAN MELAYANI
===============================
Untuk edisi Januari, e-Buku mengangkat tema tentang PELAYANAN.
Karena itu Redaksi e-Buku mengajak para pembaca untuk mengirimkan
resensi/sharing buku-buku/info buku yang bertemakan Pelayanan ke:
< staf-buku(at)sabda.org >. Kiriman yang memenuhi syarat akan dimuat
pada Edisi Januari 2006.
Selain itu, Redaksi e-Buku juga mengajak Anda untuk memberikan
usulan tentang tema-tema buku yang ingin diresensi. Kami tunggu
masukannya dan terima kasih atas perhatiannya.
=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Buku 2005
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
Arsip Publikasi e-Buku bisa dibaca online di:
< http://www.sabda.org/publikasi/e-buku/ >
< http://www.sabda.org/ebuku/ >
=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=
Staf Redaksi : Puji, Endah, Ary
Berlangganan : < subscribe-i-kan-buku(at)xc.org >
Berhenti : < unsubscribe-i-kan-buku(at)xc.org >
Kontak e-Buku : < staf-buku(at)sabda.org >
=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=<>=
"Sementara itu, sampai aku datang
bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci,
dalam membangun dan dalam mengajar."
(1Timotius 4:13)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=1Timotius+4:13>
|