Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/221

e-BinaAnak edisi 221 (24-3-2005)

Penyaliban Yesus

     ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><
          ==================================================

Daftar Isi:                                       Edisi 221/Maret/2005
----------
    o/ SALAM DARI REDAKSI
    o/ BAHAN MENGAJAR (1)   : Golgota
    o/ BAHAN MENGAJAR (2)   : Drama Interaktif: Bukit Tengkorak
    o/ AKTIVITAS            : Kegiatan PASKAH
    o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Pengiriman e-BinaAnak
    o/ MUTIARA GURU

o/----------------------------------------------------------------o/
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
     <staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak@xc.org>
______________________________________________________________________
o/ SALAM DARI REDAKSI --------------------------------------------o/

  Salam kasih,

  Kita sudah melewati serangkaian seri pelajaran tentang perjalanan
  Tuhan Yesus menuju kematian-Nya. Tibalah sekarang pada puncak
  penderitaan-Nya, yaitu DISALIB. Di sebuah bukit, di sanalah Dia
  menggenapi janji keselamatan bagi umat manusia. Kematian-Nya membuka
  tabir pemisah antara kita orang yang berdosa dan Tuhan yang
  Mahasuci.

  Cerita mengenai Golgota dan drama Interaktif mengenai Bukit
  Tengkorak akan menjadi sajian Bahan Mengajar minggu ini. Selain itu
  ada pula Aktivitas yang dapat Anda lakukan bersama ASM ataupun
  keluarga Anda untuk mengenang kembali penderitaan-Nya di kayu salib.
  Akhir kata, jangan menyia-nyiakan anugerah keselamatan yang telah
  Dia berikan. Marilah kita hidup dalam kemenangan-Nya dan bekerja
  melayani Dia dengan penuh sukacita. Tidak lupa kami ucapkan:

                L A M A        A H 2 0
               E   |    T     K    |   0
              S ---|---  P A S  ---|--- 5
                   |               |
                   |               |
                   |               |

  Tim Redaksi (Dav)

    "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita,
 Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa
     kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya
    sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh."
          < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=1Petrus+3:18 >

______________________________________________________________________
o/ BAHAN MENGAJAR (1) --------------------------------------------o/

                           -o- GOLGOTA -0-
                               =======

  Tuhan Yesus memandang kayu salib itu, tetapi sepatah kata pun tidak
  keluar dari mulut-Nya. Pakaian-Nya ditanggalkan. Hanya sarung
  pinggang yang masih melekat pada tubuh-Nya. Dengan sabar Dia
  membiarkan mereka menyiksa Dia. Sebuah cawan disodorkan kepada-Nya.

  Karena haus, Ia segera menerima cawan itu. Tetapi, baru saja Dia
  menaruh bibir-Nya pada pinggir cawan itu, Ia segera mengembalikan
  cawan itu. Cawan itu berisi campuran anggur dengan cuka. Minuman itu
  diberikan untuk meringankan penderitaan, untuk mengurangi kepedihan-
  Nya. Tetapi Tuhan Yesus tidak mau menerima-Nya, Ia tidak mau
  penderitaan-Nya diringankan. Cawan kesedihan sepenuhnya akan
  dikosongkan-Nya sampai habis. Dengar sadar, Ia akan menderita untuk
  umat-Nya.

  Tangan-Nya yang suci, yang selama ini hanya dipakai-Nya untuk
  memberkati orang, kini dipaku di kayu salib. Darah-Nya mengalir ke
  bawah. Kaki-Nya yang tak pernah beristirahat dan selalu siap
  melangkah bila ada orang yang memerlukan pertolongan-Nya, dipaku
  juga di kayu salib itu. Ujung kayu salib itu berwarna merah karena
  darah yang mengalir ke bawah.

  Karena rasa pedihnya, Ia pun berbicara. Namun Ia tidak mengutuk,
  malah berdoa kepada Allah Bapa supaya mengampuni dosa orang-orang
  yang telah menyiksa-Nya.

  Kata-Nya, "Ya, Bapa, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka, karena
  mereka tidak tahu apa yang telah diperbuatnya!"

  Tak sampaikah kata-kata yang amat mulia itu ke telinga para
  pembunuh? Tidak, karena mereka sedang sibuk menyalibkan dua orang
  lagi, seorang di sebelah kanan, yang seorang lagi di sebelah kiri.
  Di atas tiap-tiap kayu salib dipakukan sebuah papan. Di atas papan
  itu tertulis perbuatan jahat yang telah mereka lakukan.

  Apakah yang tertulis di atas kepala Tuhan Yesus? Tulisan itu tertera
  dalam bahasa Yunani, Latin, dan Ibrani sehingga segenap manusia
  dapat membacanya "Yesus orang Nazaret, Raja bangsa Yahudi".

  Para imam kepala terperanjat ketika membaca tulisan di atas palang
  itu. Dengan berangnya mereka berkata kepada walinegara itu, "Jangan
  tulis Raja bangsa Yahudi; melainkan apa yang sudah Dia katakan,
  yaitu: Akulah Raja bangsa Yahudi."

  Tetapi Pilatus menyahut dengan tegas, "Aku tidak mau mengubah apa
  yang sudah kutuliskan."

  Demikianlah tulisan `Raja bangsa Yahudi` itu tergantung pada kayu
  salib. Ia menanggung hukuman yang tidak boleh diberikan kepada
  seorang Roma karena terlalu hina bagi mereka.

  Demikianlah Juruselamat, Pelepas yang selama berabad-abad sudah
  ditunggu itu sekarang dihina dan disiksa. Demikianlah Anak Allah,
  Raja langit dan bumi, seperti seorang terkutuk yang harus menjalani
  hukumannya. Ia harus menderita untuk menebus dosa seluruh dunia.

  Prajurit-prajurit yang menyalibkan Yesus tidak mengerti peristiwa
  agung yang terjadi di dekat mereka. Mereka duduk di dekat salib
  Yesus dan membagi-bagikan pakaian Tuhan Yesus. Ada empat orang
  prajurit di sana dan masing-masing mendapat sehelai pakaian, kain
  kepala, ikat pinggang, baju luar, dan sepasang kasut. Dan tinggal
  sehelai jubah yang sangat mahal. Keempat prajurit itu sepakat,
  "Janganlah kita koyakkan jubah itu, tetapi lebih baik kita undi
  siapa yang berhak mendapatkannya." Sementara Yesus sangat menderita
  di kayu salib, mereka membuang undi di dekat-Nya.

  Demikianlah telah digenapi apa yang sudah diramalkan oleh Raja Daud
  seribu tahun lampau, "Mereka membagi-bagikan pakaian-Ku dan membuang
  undi atas jubah-Ku."

  Matahari sudah tinggi di langit sebelah selatan. Luka-luka yang
  terbuka itu mulai terasa perih. Jantung berdebar-debar. Panas pun
  mulai mengamuk, seakan-akan menghanguskan seluruh badan orang yang
  dihukum itu.

  Iba ... iba hati melihat penderitaan yang terlalu berat itu. Tetapi
  masih ada juga manusia yang sampai hati mengolok-olok Dia. Rupa-
  rupanya setan sendirilah yang tinggal di dalam hati mereka pada
  waktu itu. Orang yang lewat di sana mengolok-olok-Nya, katanya, "Kau
  yang akan merombak Bait Suci dan akan membangunnya kembali dalam
  tiga hari saja. Nah, bebaskanlah Diri-Mu sendiri dan turunlah dari
  kayu salib itu!"

  Para imam kepala serta ahli-ahli Taurat itu bergirang hati di dekat
  kayu salib Yesus. Hati mereka puas. Mereka tak perlu kuatir lagi. Ia
  tak perlu lagi diajak bicara. Mereka sekarang berkata satu sama lain
  untuk menyakiti hati Tuhan Yesus.

  "Yang lain sudah dilepaskan-Nya, padahal Ia sendiri tak dapat
  membebaskan diri-Nya. Apa itu! Jika Ia benar-benar Juruselamat, nah,
  baiklah Ia turun dari kayu salib lalu kami akan percaya kepada-Nya.
  Ha ... ha ... ha ... Ia percaya kepada Tuhan Allah. Kata-Nya Ia Anak
  Allah! Mengapa tak dilepaskan oleh Tuhan Allah-Nya?"

  Seorang manusia pun tak akan dapat menahan segala sengsara itu.
  Sebenarnya sepatah kata pun sudah cukup akan membinasakan musuh-
  Nya. Tetapi Ia diam saja. Karena Ia datang bukan akan memusnahkan
  jiwa manusia, melainkan menyelamatkannya.

  Prajurit-prajurit itu lebih kejam lagi menyiksa Dia. Waktu mereka
  melihat bahwa Ia sangat haus dan ingin minum seteguk air saja,
  mereka menyuguhkan kepada-Nya anggur yang asam, segar, seraya
  mengejek Yesus, "Kalau Kau Raja bangsa Yahudi, bebaskanlah Diri-Mu
  sendiri!"

  Siksaan ini pun diderita-Nya dengan sabar, Ia tak mengeluarkan
  sepatah kata pun. Inilah mujizat kasih Tuhan Yesus! Ia masih menurut
  meskipun disiksa mati-matian, terus-menerus sampai ajal-Nya tiba.

  Kedua orang pembunuh yang tergantung sebelah kiri dan kanan-Nya
  tidak tinggal diam. Dengan susahnya mereka melirik dan memandang
  kepada Tuhan Yesus. Mungkin saja, jikalau Ia Kristus, barangkali
  mereka masih dapat diselamatkan.

  Mereka tertawa sambil mengejek, "Benar, kalau Engkau Kristus,
  bebaskanlah Diri-Mu dan kami ini!"

  Tetapi baru saja yang seorang berkata demikian, digigitnya bibirnya.
  Entah apa yang membuat dia bertobat saat itu. Entah mata Tuhan Yesus
  yang suci itu atau entah doa-Nya untuk musuh-Nya tadi .

  Sementara penjahat yang lain terus menghina Dia, jiwanya penuh
  dengan rasa hormat. Dalam hatinya lahirlah kepercayaan yang besar.
  Ia yakin bahwa Yesus yang menderita itu meskipun penuh dengan
  sengsara, benar-benar Raja, Juruselamat yang datang ke dunia.

  Ia tidak tahan lagi mendengar temannya mengejek Yesus.
  Dipalingkannya mukanya, "Belum juga kau takut kepada Tuhan Allah,
  padahal sebentar lagi kau berdiri di hadirat Tuhan? Kita memang
  sepatutnya disalibkan, karena kita orang yang jahat. Tetapi Orang
  ini sedikit pun tak bersalah." Kemudian dia berkata kepada Yesus,
  "Ya Tuhan, ingatlah kepadaku, bila Engkau sudah sampai dalam
  Kerajaan-Mu."

  Wah, tergambarlah kebahagiaan yang suci di muka Tuhan Yesus itu. Ia
  masih dapat menyelamatkan satu jiwa. Mata Tuhan Yesus penuh
  penghiburan ketika dia memandang orang itu. Dengan suara yang tegas
  Ia berkata, "Sesungguhnya Aku berkata, sekarang juga engkau akan
  beserta-Ku di Firdaus."

  Tak pernah orang yang tergantung pada kayu salib itu mengalami rasa
  damai yang sejati seperti itu, karena ia yakin jiwanya sudah selamat
  di tangan Tuhan Yesus meskipun ia masih menderita sengsara.

  Itulah yang selalu dikehendaki Yesus, bahkan pada waktu tergantung
  di kayu salib, yaitu memelihara orang lain, mengurus yang sakit, dan
  menghibur yang bersedih hati.

  Dari kayu salib Ia memandang ke bawah. Dengan mata yang pedih, Ia
  mencari di antara orang yang berdiri di bukit itu. Di antara rakyat
  yang berkumpul di situ tampaklah sekelompok orang yang bersusah
  hati. Tampaklah perempuan yang sejak dari Galilea yang mengikuti
  Dia, Maria Magdalena, seorang murid, yang dulu dibebaskan dari tujuh
  jin yang jahat. Lalu Maria, istri Kleopas yang dengan patuh mengabdi
  kepada-Nya. Kemudian Salome, ibu Yakobus serta Yohanes.

  Tampak juga Maria, Ibu Yesus yang sedang menangis di dekat kayu
  salib Anaknya. Hatinya seakan-akan diiris sembilu, pedih, amat pedih
  melihat Anaknya begitu menderita. Melihat ibu-Nya yang sedang
  bersusah hati itu, Tuhan Yesus lebih sedih lagi. Lebih pedih
  daripada luka-luka-Nya. Di dekat Maria tampaklah Yohanes, yang terus
  mengikuti Gurunya itu.

  Yesus memandang ibu-Nya kata-Nya, "Hai Ibu, lihatlah anakmu."
  Kemudian kepada Yohanes, "Lihatlah ibumu." Keduanya mengerti maksud-
  Nya. Sejak itu Maria tinggal di rumah Yohanes, dan Yohanes mengurus
  segala keperluannya.

  Sekarang matahari tinggi sekali di sebelah selatan dan cahaya yang
  panas terik hampir-hampir tegak lurus jatuhnya ke atas kepala orang
  yang tergantung di situ. Makin berat penderitaan-Nya. Badan-Nya
  penat. Urat-urat-Nya sudah kaku, makin lama makin susah menarik
  nafas ... aduh pedihnya.

  Itulah yang harus ditanggung oleh-Nya, padahal Ia sendiri selalu
  meringankan penderitaan manusia lainnya, bahkan kadang-kadang
  membebaskan orang dari sengsaranya. Ia yang menyembuhkan luka orang
  lain, sekarang penuh dengan luka-luka yang parah dan berlumuran
  darah.

  Ia yang menggerakkan kaki orang yang lumpuh dan yang timpang,
  sekarang tak dapat bergerak. Ia yang menghidupkan kembali orang yang
  mati sekarang Ia harus mati ... tak berdaya.

  Tiba-tiba terjadi sesuatu yang menggemparkan. Matahari yang baru
  saja bersinar dengan teriknya, seakan-akan terbenam, kemerah-
  merahan. Hari seperti senja. Tidak lama kemudian matahari seolah-
  olah menghilang entah ke mana, ia lenyap di dunia yang penuh dosa.
  Sekarang hari gelap ... gelap gulita. Dunia berkabung. Tirai yang
  hitam kelam menyelubungi seluruh bumi.

  Saat itu sunyi senyap. Hanya suara orang yang disalibkan terdengar
  terengah-engah dan mengerang kesakitan. Dalam gelap itu Tuhan Yesus
  mengalami penderitaan-Nya yang terakhir.

  Sekarang ... di sini ... Ia tergantung di antara langit dan bumi,
  jauh dari Tuhan Allah. Ia amat haus, badan-Nya hangat, karena
  diserang demam dan maut yang dasyat serta kesedihan yang tak
  terhingga. Setan pun masih mencoba juga menggoda-Nya, membujuk-Nya,
  supaya jangan menurut kehendak Bapa-Nya.

  Sekeliling-Nya gelap gulita ... sunyi senyap ... tak pernah dialami-
  Nya seperti itu. Lalu jiwa-Nya berseru kepada Allah-Nya, dan aduuhh
  ... Allah tak menyahut.

  Tuhan Allah telah memalingkan muka dari-Nya. Hanya kegelapan,
  kesedihan, dan kemarahan yang ada. Ia menanggung beban dosa seluruh
  dunia. Ia menahan amarah Tuhan Allah kepada segenap manusia. Ia
  mengalami ketakutan serta sengsara neraka.

  Tiga jam lamanya Ia menanggung sengsara itu. Akhirnya dada-Nya
  terlalu sesak, sehingga Ia berseru dengan takut-Nya, "Ya Allah Bapa,
  mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

  Heh, apa itu? Terdengar suara dari surga menjawab. Cukuplah
  penderitaan itu. Tirai yang hitam kelam itu dinaikkan ke atas.
  Matahari muncul lagi. Cahaya terang yang berasal dari Tuhan Allah,
  tampak lagi. Di mana-mana cuaca terang. Tuhan Allah tidak murka
  lagi. Dengan penuh kasih sayang, Ia memandang kepada Anak-Nya.

  Cahaya Tuhan Allah bersinar lagi di hati Tuhan Yesus.

  Tuhan Yesus menyadari bahwa perjuangan-Nya sudah berakhir. Bahwa Ia
  sudah merebut kemenangan yang gilang-gemilang, karena telah menurut
  kehendak Bapa-Nya.

  Hendak diserukan-Nya ke seluruh dunia, tetapi Ia hampir tak dapat
  bersuara lagi. Hampir tiba ajal-Nya. Mulut-Nya yang sudah kering
  hampir tak dapat bergerak lagi. Ia mengerang, "Aku haus."

  Beberapa rabi yang mendengar seruan-Nya di kegelapan, sekarang
  memiliki keberanian lagi, karena cuacanya sudah terang, dan mereka
  mulai menghinanya kembali. Ketika ada seorang yang beriba hati
  hendak membasahi bibir-Nya dengan seikat lumut yang sudah
  dibasahinya dengan cuka lebih dulu, mereka berteriak, "Jangan! Ia
  telah memanggil Nabi Elia. Marilah, kita lihat, apakah Elia datang
  untuk membebaskan Dia!"

  Tetapi orang itu tak sekejam rabi itu. Diletakkannya juga lumut itu
  kepada bibir Tuhan Yesus. Tenaga-Nya kembali lagi. Suara-Nya yang
  nyaring mendengung di bukit Golgota itu memberitakan bahwa Ia sudah
  menang. Dengarlah pekik kemenangan yang diucapkan dengan penuh
  kuasa, "Sudah genap."

  Sekarang tak ada lagi rasa takut, tak ada lagi penderitaan.
  Pekerjaan-Nya sudah berakhir. Tugas-Nya yang amat mulia itu sudah
  dijalankan-Nya, tugas yang diberikan Bapa di surga. Kata Tuhan
  Yesus, "Ya Bapa, kepada-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Doa itu bunyinya
  seperti doa seorang anak kecil, penuh kepercayaan. Ia menundukkan
  kepala-Nya, lalu putuslah nyawa-Nya. Ia mati, Raja langit dan bumi.
  Gemparlah seluruh alam. Bumi gentar, batu gunung membelah. Gua kubur
  dalam gunung terbuka dan orang mati hidup kembali.

  Perwira yang menjaga di kayu salib, dengan penuh hikmat menengadah
  ke atas, kepada tubuh yang tak bernyawa itu dan katanya tersentuh,
  "Sesungguhnya, Manusia ini benar-benar Anak Allah!"

  Orang yang berkumpul di bukit Golgota, yang tadi menghina, juga
  orang yang tak mengenal Tuhan Allah, gemetar ketakutan. Mereka
  gempar melihat peristiwa yang amat dasyat itu. Karena kehilangan
  akal mereka berlari pontang-panting ke kota sambil menepuk dada.
  Mereka amat menyesal mengingat perbuatannya.

  Di Bait Suci beberapa imam sedang mempersembahkan korbannya. Nah,
  tengoklah, tiba-tiba tirai yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang
  Mahakudus terbelah dari atas ke bawah. Mereka gempar! Hanya sekali
  saja Imam boleh masuk ke dalam Ruang Mahakudus itu pada hari
  Grapirat.

  Sekarang Ruang Mahakudus itu terbuka untuk segenap manusia. Tak ada
  lagi yang memisahkan Tuhan Allah dari manusia. Tak perlu lagi imam
  serta korban itu. Imam Besar yang sebenarnya sudah mempersembahkan
  Korban-Nya. Dosa dunia sudah ditebus. Surga sudah terbuka untuk
  segenap manusia.

  Inilah amanat yang terlebih mulia, yang penuh bahagia, yang pernah
  diumumkan kepada seluruh dunia.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku: Cerita-Cerita Alkitab Perjanjian Baru
  Penulis   : Anne De Vries
  Penerbit  : Balai Alkitab dan Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1959
  Halaman   : 231 - 237

______________________________________________________________________
o/ BAHAN MENGAJAR (2) --------------------------------------------o/

              -o- DRAMA INTERAKTIF: BUKIT TENGKORAK -o-
                  =================================

  Karakter yang diperankan:
  -------------------------
  1. Narator
  2. Yesus
  3. Simon dari Kirene
  4. Dua orang sebagai tikus

  Perlengkapan:
  -------------
  1. Dua lembar triplek tipis kira berukuran 10x20 cm untuk setiap
     anak.
  2. Salib yang akan dipikul oleh pemeran Yesus.

  Teks Drama:
  -----------

  [Narator mengundang anak-anak untuk maju memenuhi bagian depan
  ruangan. Mereka duduk terbagi atas dua sisi sehingga ada jalan
  kosong di antara mereka. Setiap anak mengambil dua buah batang kayu
  yang dibagikan oleh guru-guru yang membantu. Narator mengarahkan
  anak-anak untuk saling memukulkan batang-batang kayu itu agar timbul
  suara seperti paku yang sedang di palu. Narator mengangkat tangan
  kanannya sebagai aba-aba untuk mulai memukulkan kayu. Anak-anak pun
  harus diberi aba-aba menghentikan suara kayu tersebut dengan cara
  mengangkat tangan kiri.

  Para tikus masuk. Pemeran Yesus pun secara perlahan masuk dari arah
  belakang anak-anak dengan memikul sebuah salib yang besar. Prosesi
  ini dapat diiringi dengan musik melankolis.

  Tiba-tiba pemeran Simon dari Kirene keluar dari tengah-tengah
  penonton menuju ke arah Yesus yang sedang memikul salib. Lalu Simon
  membantu Yesus memikul salib sambil menuju ke panggung utama. Salib
  diletakkan di panggung di sebuah tempat yang sudah ditetapkan. Yesus
  dan Simon dari Kirene keluar panggung.]

  Narator    : "Sekarang kita sedang mengikuti Yesus ke Golgota yang
               biasa disebut Bukit Tengkorak. Bukan nama yang
               menyenangkan, bukan? Itu bahkan bukan tempat yang
               menyenangkan. Hari ini sesuatu akan terjadi. Ya, ada
               sebuah rencana dalam cerita ini. Setelah Yesus di
               tangkap di sebuah taman, orang-orang menfitnah dan
               mengolok-olok Dia. Mereka akan minta Yesus dihukum mati
               dengan cara disalibkan walaupun Yesus tidak memiliki
               kesalahan sedikit pun."

  Tikus (1)  : "Kau benar. Kamu dengar itu? Yesus akan mati. Oh, ini
               sangat mengerikan!"

  Tikus (2)  : Dengar! Mereka mulai memakukan Yesus pada salib itu."

  [Narator mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bagi anak-anak
  untuk mulai memukulkan kayu mereka.]

  Tikus (1)  : "Aku tidak tahan melihatnya. Tangan-Nya! Kaki-Nya!
               Mengapa?"

  [Narator mengangkat tangan kirinya sebagai tanda bagi anak-anak
  untuk berhenti memukulkan kayu mereka.]

  Tikus (1)  : "Bisakah aku melihatnya sekarang?"

  Tikus (2)  : "Ya, mereka sudah selesai. Tetapi aku masih tetap belum
               mengerti. Mengapa harus begini? Mengapa harus mati
               secara mengenaskan di Bukit Tengkorak ini?"

  Narator    : "Mengapa? Itu pertanyaan yang bagus. Mengapa Yesus
               mengizinkan ini terjadi?"

  Yesus      : [Berbicara dari belakang panggung.] Tikus-tikus kecil,
               jangan bersedih dan bingung. Untuk inilah Aku mati, Aku
               harus membuktikan kasih-Ku pada kalian, menunjukkan
               betapa Tuhan sangat mengasihi kalian."

  Tikus (1)  : "Yesus mati untukku?"

  Tikus (2)  : "Dan untukku juga?"

  [Hening untuk beberapa saat.]

  Yesus      : "Sudah selesai. Tidak ada seorang pun yang memiliki
               kasih sebesar ini, mau mengorbankan nyawanya untuk
               orang lain."

  Narator    : "Sekarang, sudah tahukah kalian apa rencana-Nya? Tuhan
               sangat mengasihi kita semua maka diberikanlah Anak-Nya
               yang tunggal, Yesus, untuk mati bagi kita semua. Setiap
               orang yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa,
               melainkan akan beroleh hidup yang kekal.

  Tikus (1+2): [Dengan wajah tercengang.] "Kita bisa hidup karena
               Yesus mau mati bagi kita?"

  Narator    : "Dan ini belum merupakan akhir dari cerita!"

  Tikus (1)  : "Maksudmu masih ada cerita yang lain lagi?"

  Narator    : "Ya. Masih ada lagi rencana Tuhan."

  Tikus (2)  : "Tetapi Yesus sudah mati untukku. Apalagi yang dapat
               Dia lakukan?"

  Narator    : "Kau akan segera mengetahuinya. Sekarang, kalian dapat
               membawa pulang kayu-kayu yang sudah kalian terima tadi
               untuk mengingatkan tentang penyaliban Yesus dan kasih-
               Nya yang sangat besar untuk kita semua."

  [Tutuplah dengan sebuah pujian yang sudah dipersiapkan sebelumnya
  kemudian ajaklah anak-anak untuk berdoa.]

  Bahan diterjemahkan dan diedit dari sumber:
  Judul Buku        : Program Resources for Lent and Easter:
                         Take Up Your Cross
  Judul Artikel Asli: The Place of the Skull
  Penerbit          : Augsburg Fortress, Minneapolis - USA, 1990
  Halaman           : 26 - 27

______________________________________________________________________
o/ AKTIVITAS -----------------------------------------------------o/

                       -o- KEGIATAN PASKAH -o-
                           ===============

  Dramatisasikan kenyataan bahwa dosa kitalah yang membuat Yesus
  disalibkan. Anda membutuhkan:
  1. Sebuah paku yang besar untuk setiap orang
  2. Selembar papan
  3. Palu

  Cara Melaksanakan:
  ------------------

  Seluruh anggota keluarga/kelas duduk saling berhadapan di lantai.
  Letakkan lembaran papan di tengah-tengah. Berikan sebatang paku
  kepada setiap orang. Selama beberapa menit, setiap orang dengan
  tenang merefleksikan dosa-dosa mereka. Renungkanlah apa saja yang
  baru Anda pikirkan, katakan, atau lakukan, yang mendukakan hati
  Tuhan.

  Jika anggota-anggota keluarga yang hadir belum menerima Yesus
  sebagai Juruselamatnya, mintalah kepada-Nya pengampunan dan hidup
  baru; kegiatan ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengambil
  keputusan serupa itu (orang tersebut dapat menaikkan doa sebagai
  berikut: Tuhan Yesus, Engkau hidup sebagai Tuhan dan Juruselamat
  saya. Masuklah ke dalam hati dan kehidupan saya. Saya ingin
  menjalani hidup saya sesuai dengan kehendak-Mu. Amin!).

  Setelah beberapa menit berdiam diri, setiap orang dapat menancapkan
  pakunya pada papan dengan bantuan palu. Anak-anak kecil mungkin
  membutuhkan bantuan. Setelah itu bacalah 1Petrus 2:24 dengan keras.

  Berpegangan tanganlah satu sama lain untuk menaikkan sebuah doa yang
  pendek yang mengekspresikan pikiran berikut: Yesus yang termulia,
  kami disadarkan untuk merendahkan diri ketika kami menyadari bahwa
  dosa-dosa kamilah yang telah memaku Engkau pada kayu salib. Engkau
  menebus kami dengan darah-Mu sendiri. Tolonglah kami untuk lebih
  bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan baru yang penuh dengan
  kebenaran yang telah Engkau tebuskan bagi kami dengan membayar harga
  yang begitu mahal. Dalam nama-Mu kami berdoa. Amin.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku        : Kristus dalam PASKAH: Buku Pedoman Perayaan
                         Paskah bagi Keluarga
  Judul Artikel Asli: Kegiatan Keluarga
  Penulis           : Charles Colson,  Billy Graham, Max Lucado, dan
                      Joni Eareckson Tada
  Penerbit          : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1998
  Halaman           : 54 - 55

______________________________________________________________________
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA ------------------------------------------o/

  Dari: Sarce Isba <sarce_i@>
  >Syalom
  >Apa kabar semuanya? kalian baik-baik saja itu krn kasih dan
  >kemurahan Tuhan yg senantiasa memberkati dan menolong kita semua,
  >amin.
  >
  >Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan dan kepada Anda karena
  >sudah mengirimkan meteri tentang PASKAH dan saya akan ajarkan
  >kepada ASM saya untuk persiapan menjelang PASKAH nanti. Saya minta
  >supaya di kirim terus tentang cerita cerita atau materi untuk bahan
  >mengajar kepada ASM saya. Bahan materi atau bahan cerita anak mulai
  >dari edisi maret sampai dgn Desember 2005. Akan saya tunggu itu di
  >emailku. Tuhan sayang dan memberkati kalian semua.
  >-Sarce Oce Isba-

  Redaksi:
  Anda sudah terdaftar sebagai anggota e-BinaAnak, dan itu berarti
  setiap satu minggu sekali (hari Rabu) Anda akan menerima e-BinaAnak
  di mailbox Anda :) Jika Sdri. Sarce atau rekan-rekan lain yang ingin
  membaca edisi-edisi e-BinaAnak, khususnya edisi Paskah, yang sudah
  pernah terbit, silakan berkunjung ke
  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
  atau jika ingin melihat kumpulan bahan-bahan seputar pelayanan anak
  yang lain, silakan akses:
  ==>  http://www.sabda.org/pepak/
  Maju terus dalam pelayanan. Salam untuk rekan-rekan sepelayanan Anda
  dan salam manis untuk anak-anak SM Anda :))

______________________________________________________________________
o/ MUTIARA GURU --------------------------------------------------o/

            Berilah kepadaku dahaga yang tidak terpuaskan
                    untuk mengenal Engkau, Tuhanku

o/----------------------------------------------------------------o/
               Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbeth
      Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                 Copyright(c) e-BinaAnak 2005 -- YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
o/----------------------------------------------------------------o/
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke:   <unsubscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak:    http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org