______________________________e-BinaAnak______________________________
Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak
==================================================
Daftar Isi: 364/Januari/2008
----------
- SALAM DARI REDAKSI
- ARTIKEL 1 : Hidup Allah di Dalam Sekolah Minggu
- ARTIKEL 2 : Kualifikasi Rohani Seorang Pengajar Anak
- KESAKSIAN GSM : Kesaksian Guru
- WARNET PENA : Sahabat Anak
- DARI ANDA UNTUK ANDA: Situs PEPAK
- MUTIARA GURU
\o/ SALAM DARI REDAKSI \o/
Salam kasih,
Apakah bekal utama seorang guru sekolah minggu? Pandai mengajar,
mampu menarik perhatian anak-anak, suka dengan anak-anak, atau
jawaban-jawaban lain yang pernah kita lontarkan saat ditanyakan hal
yang sama? Ya, kemampuan dan ketrampilan mengajar, juga kecintaan
kepada anak-anak dapat menjadi bekal untuk mulai masuk dalam
pelayanan anak, akan tetapi yang harus menjadi bekal utama adalah
kecintaan seorang pelayan anak kepada Tuhan. Seorang pelayan yang
mengasihi Tuhan, akan memancarkan terang hidup di tengah anak-anak
layannya, sehingga firman Tuhan yang disampaikan pun akan hidup
dalam diri mereka. Pelayan anak yang mengasihi Tuhan pasti akan
memelihara hidup rohaninya sehingga semakin bertumbuh di dalam
Tuhan.
Allah hidup di dalam orang yang menuruti dan melakukan kehendak-Nya.
Setiap pelayan anak harus memiliki hidup yang seperti itu agar
pengajarannya memiliki kuasa. Simaklah edisi e-BinaAnak kali ini
yang mengajak kita semua melihat bagaimana Allah dapat hidup dalam
pelayanan sekolah minggu melalui setiap pengajarnya. Kualifikasi
rohani seorang pelayan anak dapat kita simak dalam artikel kedua.
Kesaksian kali ini mengajak kita juga melihat bagaimana pentingnya
menjaga hidup rohani di tengah-tengah pergumulan pelayanan seorang
guru sekolah minggu. Kiranya menjadi berkat!
Pimpinan Redaksi e-BinaAnak,
Davida Welni Dana
"Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya:
`Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,
kamu benar-benar adalah murid-Ku ....`" (Yohanes 8:31)
<http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yohanes+8:31 >
\o/ ARTIKEL 1 \o/
HIDUP ALLAH DI DALAM SEKOLAH MINGGU
===================================
Secara umum, kerohanian adalah ciri yang terpenting dari sekolah
minggu yang berhasil baik. Sebab itu, marilah kita mendefinisikan
dan mempelajari bagaimana kerohanian dalam sekolah minggu dapat
diperoleh dan dipelihara.
Kerohanian yang benar, tidak lain dan tidak bukan ialah hidup Allah
sendiri. Dapat dikatakan, jika sebuah sekolah minggu berhasil dengan
baik, itu berarti Allah hidup di dalam sekolah minggu tersebut.
Karena itu, jikalau sebuah sekolah minggu tidak memunyai hidup
Allah, maka sekolah minggu itu mati dan tidak berguna. Mungkin saja
sekolah minggu itu masih merupakan suatu badan yang diorganisir
dengan baik (seperti halnya dengan mayat) dan dengan kuasa tenaga
manusia ia digerakkan seolah-olah hidup, sebagaimana percobaan
dengan listrik pada mayat telah menyebabkan otot-ototnya menyusut
dan mengembang, seolah-olah hidup. Tetapi satu kebenaran yang kekal
ialah bahwa: "Barangsiapa memiliki Anak, dia memiliki hidup;
barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup" (1 Yohanes
5:12), melainkan "sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan
dosa" (Efesus 2:1).
Tetapi hidup Allah tidak dengan sendirinya ada dalam tabiat
manusia. "Kamu harus dilahirkan kembali" (Yohanes 3:7), dan dengan
jalan demikian "mengambil bagian dalam kodrat ilahi" (2 Petrus 1:4).
Jadi, memunyai pendidikan tinggi atau menjadi seorang pendidik yang
terlatih belumlah cukup. Memunyai kecakapan memimpin atau menjadi
orang yang berpengaruh tidaklah cukup. Seseorang dengan bakat apa
pun yang tidak dilahirkan kembali, sama sekali tidak dapat dijadikan
guru atau pengurus sekolah minggu. Orang yang demikian tidak
menyalurkan hidup ilahi. Mereka bagaikan debu dalam mata, yang akan
menimbulkan rasa sakit selama belum dikeluarkan. Tiap guru dan
pekerja sekolah minggu harus sudah mengalami kelahiran baru dan
perubahan hati oleh kuasa Allah. Melalui pengalaman kelahiran baru
inilah hidup Allah masuk ke dalam hati seseorang, dan melalui
orang-orang yang telah mengalami kelahiran baru itu, hidup Allah
masuk ke dalam sebuah sekolah minggu.
Akan tetapi, mengalami kelahiran baru pada masa lampau dan tidak
senantiasa "tinggal" di dalam Tuhan berarti berada dalam keadaan
di mana kita tidak berbuah, dan dengan demikian tidak berbuat
"apa-apa" (Yohanes 15:1-8). Seorang yang pernah menjadi penyalur
hidup ilahi pada waktu yang lampau, mungkin saja sekarang tidak lagi
menyalurkan hidup ilahi itu. Ketidakpatuhan pada kehendak Allah dan
tidak memelihara hubungan dengan Dia melalui doa dan pembacaan
Alkitab, akan memutuskan aliran hidup dari Allah sehingga
mengakibatkan keadaan yang gersang dan tidak berbuah (2 Petrus 1:8).
Dapatkah suatu carang yang mati menyumbang kepada hidup kerohanian
sebuah sekolah minggu? Maka gembala dan pemimpin sekolah minggu
hendaknya berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga agar hidup
Allah tidak hanya terdapat di dalam diri semua pekerja sekolah
minggu, akan tetapi agar hidup itu tetap diperbaharui dan mengalir
melalui mereka kepada orang-orang yang dilayaninya.
Akan sangat menolong kehidupan dan kuasa rohani sebuah sekolah
minggu jika semua guru telah mengalami apa yang disebut Alkitab
sebagai hidup yang "penuh dengan Roh" (Efesus 5:18). Pelayanan kita
akan memiliki kuasa apabila ada perlengkapan dengan kuasa dari
tempat yang mahatinggi (Lukas 24:49). Allah menandaskan bahwa Ia
menghendaki semua pekerja-Nya memiliki dan memelihara perlengkapan
kuasa itu (Kisah Para Rasul 1:8). Gereja-gereja yang mengajar dan
mempraktikkan amanat-amanat Alkitab serta pengalaman rasuli akan
memunyai sejumlah pria dan wanita yang penuh dengan Roh, dan dengan
demikian mereka memenuhi syarat Alkitab dan dilengkapi secara ilahi
untuk memberikan pelayanan Kristen. Alangkah bersukacitanya sekolah
minggu yang para pekerjanya telah memunyai pengalaman rohani yang
seperti itu, bagaikan sekian banyak waduk (saluran) kuasa dan hidup
Allah.
Motivasi-motivasi para pelayan dalam melakukan pelayanan sekolah
minggu merupakan hal yang penting bagi kerohanian suatu sekolah
minggu. Beberapa orang merasa harus menolong pelayanan sekolah
minggu hanya karena tidak ada orang lain yang melakukannya.
Bagaimana pun juga, sekolah minggu harus tetap berjalan karena akan
sangat memalukan dan merusak nama baik gereja apabila kegiatan
sekolah minggu sampai terhenti hanya karena tidak ada yang
mengerjakannya. Hal ini berarti hanyalah dorongan pelayanan secara
lahiriah saja. Pada suatu saat, jika para pelayan ini mendapatkan
kesempatan untuk melepaskan pelayanannya, mereka akan
meninggalkannya tanpa merasa bersalah karena mengganggap ini
bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Akhirnya, sekolah minggu akan
dijalankan dengan tidak sungguh-sungguh, tanpa dorongan yang benar.
Ada juga yang secara sukarela memenuhi permintaan untuk menolong
pelayanan sekolah minggu sebab mereka menganggap pelayanan tersebut
sangat besar jasanya. Itu merupakan pekerjaan gerejawi yang tinggi
derajatnya, dan dengan demikian tentu akan mendatangkan pujian bagi
mereka pada hari kiamat. Mereka melakukannya agar menjadi bukti bagi
dirinya dan bagi Allah, bahwa mereka adalah orang Kristen. Apabila
mutu pelayanan yang diberikan atau alasan yang mendorong pelayanan
itu demikian adanya, itu hanya merupakan "perbuatan yang sia-sia",
yang harus disesalkan (Ibrani 6:1; Roma 10:3).
Ada juga sekolah minggu yang berjuang untuk mencapai "jumlah"
anggota yang banyak, supaya melebihi sekolah minggu lain atau
mendapat nama baik bagi badan pengurusnya dan bagi gerejanya. Karena
alasan ini bersifat jasmani, untuk kemuliaan dan pujian bagi diri
sendiri, acapkali ia tidak malu-malu membujuk anggota-anggota
sekolah minggu yang lain, atau menawarkan hadiah yang merupakan
sogokan. "Pertumbuhan" yang diperoleh dengan cara seperti itu
acapkali menjadi pertumbuhan cepat yang dibuat-buat, dan biasanya
bersifat sementara. Semangat seperti itu tidak bersifat rohani,
melainkan semangat jasmani, dan karena itu tak akan tahan lama.
Tentu saja ada alasan atau dorongan yang murni dan benar dalam
pekerjaan sekolah minggu, yaitu bekerja demi kemuliaan Tuhan dan
keselamatan jiwa-jiwa. Pandangan dan semboyannya ialah kerohanian,
penyelenggaraan yang baik, dan pertumbuhan. Sekolah minggu yang
memunyai alasan yang benar, menyadari amanat Tuhan, "Pergilah dan
mengajar", serta dengan sungguh-sungguh berusaha menaati amanat itu.
Seluruh anggotanya dipersembahkan sebagai suatu korban yang hidup.
Sekolah minggu itu sadar akan kehadiran dan kuasa hidup Allah di
dalamnya, yang menjadi daya penggerak dan pendorong bagi semua
pekerjaannya. Sekolah minggu itu senang bahwa sifat dan kuasa ilahi
ada dan berusaha untuk berserah secara mutlak, agar sifat dan kuasa
ilahi itu dapat dinyatakan sepenuhnya. Bagi sekolah minggu, "jumlah"
berarti "jiwa." Dan jiwa-jiwa itu diperolehnya bukan untuk
dipamerkan sebagai tanda kemenangan usahanya, melainkan sebagai
"puntung" yang direbut dari dalam api (Zakharia 3:2; Yudas 23).
Kerohanian dalam sebuah sekolah minggu akan menghasilkan buah-buah
yang baik dan hasil-hasil yang menggembirakan. Pekerja-pekerjanya
akan memunyai sifat kesukaan, kedamaian, dan kerendahan hati. Sifat
memikirkan diri sendiri, ambisi pribadi, dan sifat mudah tersinggung
akan jarang dijumpai dalam sekolah minggu tersebut. Demikian pula
tenggang rasa, kesopanan, dan keramahan akan nyata dalam hubungan
satu sama lain. Tidak akan ada perasaan bahwa sesuatu pekerjaan
dalam sekolah minggu itu menjadi milik seseorang. Pekerjaan Roh
Kristus amat manis dan indah. Roh Kristus akan menyebabkan tiap-tiap
pekerja merasa bahwa dia bekerja untuk Allah dan bukan untuk
manusia. Karenanya, mereka semua akan berusaha dengan rajin dan
bersemangat dalam menyiapkan pekerjaannya, setia dan datang tepat
pada waktunya serta melakukan pekerjaannya dengan saksama dan tulus
hati. Para guru tidak saja berusaha untuk memberi keterangan
berdasarkan Alkitab, akan tetapi berusaha memasukkan hidup Allah
sendiri ke dalam hati murid-muridnya. Pertobatan tiap-tiap murid
sekolah minggu bukan hanya menjadi tujuan yang diucapkan saja,
melainkan setiap guru dan pekerja akan berdoa dan berjuang dengan
tekun untuk mencapai maksud itu. Semua pekerja akan senantiasa
memerhatikan dan mengusahakan dengan hati-hati untuk membentuk
kehidupan anak-anak Kristen yang masih muda itu.
Suasana sekolah yang rohani akan memunyai pengaruh yang nyata pada
murid-muridnya. Rasa hormat yang sejati terhadap rumah Allah akan
diperkuat oleh adanya kasih kepada guru dan pengurus, juga kasih
kepada Alkitab dan kepada Tuhan sendiri. Roh Kudus, Guru Agung itu,
akan mengepalai semua jam pelajaran dan juga melaksanakan
pekerjaan-Nya yang telah ditentukan, yaitu meyakinkan tentang dosa
(Yohanes 16:8).
Sekolah minggu dengan kerohanian yang benar tidak akan merasa puas
dengan kesenangannya sendiri, meskipun kesenangan itu suci dan
murni. Dan sekolah minggu yang benar-benar rohani akan mengusahakan,
tidak hanya penyelamatan dan peneguhan rohani semua anggotanya,
tetapi juga penyelamatan semua orang yang dapat dicapainya di daerah
sekitarnya. Semangat pengabaran Injil juga akan mendorong perhatian
dan pemberian untuk usaha pemberitaan Injil.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku : Sekolah Minggu yang Berhasil
Judul Artikel: Hidup Allah di Dalam Sekolah Minggu
Penulis : Ralph M. Riggs
Penerbit : Gandum Mas, Malang 1978
Halaman : 15 -- 19
\o/ ARTIKEL 2 \o/
KUALIFIKASI ROHANI SEORANG PENGAJAR ANAK
========================================
Sebelum Tuhan Yesus memilih murid-Nya untuk mengikut Dia dan belajar
mengajar, Ia berdoa semalam suntuk/berbicara dengan Bapa-Nya. Yesus
memilih dengan tepat bagaimana Dia, sebagai seorang Guru, harus
berhubungan dengan Bapa-Nya.
Siapakah yang dapat dipilih sebagai pengajar anak? Bagaimanakah
kualifikasi rohani yang harus mereka miliki?
1. Mengenal Tuhan Yesus.
Seorang pengajar anak bertanggung jawab mengenalkan Tuhan Yesus
kepada anak-anak. Itu hanya memungkinkan kalau ia sendiri
mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Tuhan Yesus, Juru Selamat
dunia, telah diakui sebagai Juru Selamat pribadi oleh guru. Ia
telah datang kepada Tuhan Yesus dan membawa segala dosa dan
pelanggarannya kepada Tuhan Yesus. Ia diampuni, disucikan, dan
menerima hidup baru. Inilah suatu dasar yang kokoh untuk mengajar
firman Tuhan.
2. Mengenal firman Tuhan.
Seorang guru akan membutuhkan waktu untuk membaca firman Tuhan
setiap hari. Hidup rohani seorang guru akan diubah dan
berkembang jika ia menyukai firman Allah dan menjadikan firman
itu bagian dari hidupnya sehari-hari.
Jika seorang guru hanya membaca Alkitab sesaat sebelum ia
mengajar, dia akan kekurangan kewibawaan rohaninya. Guru yang
kurang memiliki saat teduh bersama dengan Tuhan, dapat dirasakan
oleh anak-anak. Kesediaan dan sukacita dalam mengenal firman
Tuhan akan membawa suatu kewibawaan dalam mengajar. Guru pun
dapat mengajar tanpa dibuat-buat, dan apa yang dia lakukan akan
mengalir dengan wajarnya.
3. Menjadi teladan rohani.
Seorang ahli dalam pendidikan telah berkata, "Untuk memberikan
pengajaran Alkitab kepada anak selama satu jam, guru harus hidup
menurut firman Allah selama seminggu." Anak-anak tidak hanya akan
terkesan dengan apa yang dikatakan oleh guru, tetapi bagaimana
guru juga hidup sesuai dengan apa yang dikatakannya itu.
Misalnya, jika guru memberi pelajaran mengenai kesabaran Tuhan,
padahal guru sendiri kurang sabar, maka keberadaan atau sikapnya
itu berlawanan dengan pengajarannya.
Melalui seluruh sikapnya, guru adalah teladan bagi anak-anak
layannya. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa kita
membutuhkan perubahan secara total dalam kehidupan kita.
4. Menghargai anak.
Seorang pengajar akan melihat anak-anak layannya dengan kasih
sayang Tuhan Yesus. Ia mengerti bahwa setiap anak berharga di
hadapan Allah. Karena itu, anak juga berharga untuk dia. Guru
akan paham bahwa apa yang dia lakukan untuk anak-anak layannya,
dia perbuat juga bagi Tuhan Yesus.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku : Pedoman Pelayanan Anak
Judul artikel: Guru dalam Pandangan Allah
Penulis : Ruth Laufer
Penerbit : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia
Departemen Pembinaan Anak dan Pemuda, Malang 1993
Halaman : 23 -- 24
\o/ KESAKSIAN GSM \o/
KESAKSIAN GURU
==============
Tiga tahun yang lalu, saya kembali mengajar sekolah minggu setelah
enam tahun absen. Tujuan utama saya adalah mengajar tentang Allah
melalui perbuatan-perbuatan yang kita lakukan setiap hari. Karena
peraturan pemerintah mengenai doa yang dilakukan di sekolah negeri
masih menjadi perdebatan hangat, saya mendapati banyak guru yang
menghindari peraturan keagamaan itu. Yang lainnya, seperti saya,
malah lebih menganggap bahwa Tuhan adalah anggota yang boleh datang
ke setiap kelas. Dengan berbagai penekanan yang ditempatkan pada
kreativitas di kelas, saya mulai bertanya-tanya, "Bagaimana setiap
orang bisa kreatif tanpa kehadiran Allah? Bahkan guru tidak bisa
melakukan yang terbaik bila kerohaniaanya tidak bertumbuh."
Masalahnya adalah bagaimana menyatukan perasaan terhadap Tuhan tanpa
menjadi begitu tertutup. Saya memecahkan masalah itu dengan
melakukan infiltrasi (penyusupan)! Alasan saya, "Bila Komunis bisa
melakukannya, maka orang Kristen pun bisa melakukan lebih dari
mereka!"
Saya memulainya dengan menulis suatu ayat Alkitab berdasarkan
alfabet di papan tulis saya. Satu ayat satu hari diulangi di ruang
kelas saya. Saya terdorong untuk melakukan lebih banyak lagi setelah
terjadi suatu peristiwa saat salah satu murid berkata, "Kami lupa
ayat hafalan kami kemarin!"
Saat hari "Thanksgiving" berlalu, dan tidak ada program pertemuan
yang direncanakan, departemen kami mulai membuat persiapan-persiapan
untuk acara Paskah. Anak-anak perempuan anggota divisi Ekonomi
Keluarga menyiapkan jamuan makan siang untuk seluruh pelayan di
komunitas itu. Mereka yang membuat roti berbentuk kelinci itu
bekerja keras supaya roti kelinci itu sempurna bentuknya. Dia
melihat ke papan tulis dan kemudian bertanya, "Bu ..., saya tahu
mengapa Anda menuliskan ayat di papan tulis itu. Saya membutuhkan
ayat itu hari ini." Ayat itu adalah: "Segala perkara dapat
kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi
4:13).
Hal ini menandakan bahwa ayat itu dan ayat-ayat lainnya mendorong
saya untuk mencoba lebih giat lagi untuk menyatakan kepada Tuhan,
bahwa Dia diperlukan di sana. Anak-anak tampaknya menghargai
kerohanian yang lebih dalam lagi. Salah satu anak menunjukkan kepada
saya suatu doa yang sangat penting yang telah ditulisnya, tetapi ia
takut menunjukkannya kepada siapa pun. Tulisan itu benar-benar suatu
mazmur modern. Kami menggunakannya di acara "Thanksgiving"
berikutnya.
Pada saat saya menjadi ketua bazar, saya mulai bertanya-tanya
bagaimana saya bisa menempatkan Tuhan dalam acara ini. Ternyata
sangat mudah, temanya adalah nama daerah kami, Ohio, dan moto dari
daerah kami adalah kutipan dari Alkitab, "Bersama dengan Allah,
tidak ada yang mustahil". Salah satu anggota divisi Ekonomi Keluarga
membuat peta Ohio yang indah dari beludru dan menuliskan moto Ohio
dalam peta itu. Peta ini dibingkai dan sekarang digantung sebagai
hiasan dinding di perpustakaan sekolah.
Musim gugur ini saya mulai mengajar di sekolah lain, yang pasti akan
lebih menantang dari sekolah sebelumnya. (t/Ratri)
Diterjemahkan dari:
Judul buku : God in the Classroom
Judul asli artikel: Teacher`s Witness
Penulis : Sue Dallas
Penerbit : Good News Publisher, Illinois 1970
Halaman : 40 -- 41
\o/ WARNET PENA \o/
SAHABAT ANAK
============
http://www.sahabatanak.com/
Kemiskinan yang melanda negeri ini mengakibatkan banyak anak-anak
terpaksa putus sekolah. Tidak jarang mereka terpaksa membantu orang
tuanya untuk mencari nafkah. Banyak pula yang menjadi anak-anak
jalanan dan mengamen untuk mencari sesuap nasi. Keprihatinan
terhadap anak-anak jalanan inilah yang kemudian mendorong
dibentuknya Sahabat Anak untuk memberi perhatian yang luar biasa
kepada anak-anak jalanan, di antaranya dengan menyediakan bimbingan
belajar. Saat ini bimbel tersebut diselenggarakan di enam area di
Jakarta, meliputi Prumpung, Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai,
dan Senen. Sejumlah kegiatan lain turut mereka selenggarakan,
seperti Jambore Anak Jalanan, pameran pendidikan, buka puasa
bersama, bahkan Natal gelandangan. Cobalah menjelajahi seluruh isi
situs ini. Siapa tahu Anda terinspirasi untuk membuka pelayanan
Sahabat Anak lain di daerah Anda, mengingat Sahabat Anak saat ini
masih melayani sebatas di Jakarta.
Kiriman dari: Raka S.K. < francolingua(at)xxxx >
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA \o/
Dari: Andri Rondonuwu < kangkong_cah(at)xxxx >
>Saya sangat berterima kasih dengan adanya situs ini, sebagai guru
>sekolah minggu yang masih baru, saya dapat mencari cerita-cerita
>tetang Alkitab untuk menceritakan kepada anak-anak sekolah minggu.
>Tuhan Memberkati.
Redaksi:
Terima kasih atas kunjungan Anda ke situs PEPAK. Kiranya
cerita-cerita yang para pengunjung dapatkan dari situs PEPAK, dapat
menjadi berkat, dan membawa anak semakin mengenal Dia, Sang Juru
Selamat. Bagi Anda yang ingin mendapatkan banyak bahan mengajar,
silakan akses alamat: http://pepak.sabda.org/pelajaran/.
\o/ MUTIARA GURU \o/
Guru yang ingin berhasil dalam pelayanannya haruslah
menyadari bahwa ia yang terbatas itu tidak dapat melakukan
apa-apa tanpa Allah Roh Kudus menyertai pelayanannya.
- Paulus Lie, dalam Mereformasi Sekolah Minggu,
Yogyakarta: Andi, 2003, hal: 95 -
----------------------------------------------------------------------
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke redaksi:
<binaanak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-binaanak(at)hub.xc.org>
----------------------------------------------------------------------
Pimpinan Redaksi: Davida Welni Dana
Staf Redaksi: Kristina Dwi Lestari dan Christiana Ratri Yuliani
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2008 -- YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Alamat Berhenti : <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Arsip e-BinaAnak : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://pepak.sabda.org/
------------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN GURU --------------
|