______________________________e-BinaAnak______________________________
Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak
==================================================
Daftar Isi: 357/November/2007
----------
- SALAM DARI REDAKSI
- ARTIKEL 1 : Masalah Kata: Mengubah Perkataan
- ARTIKEL 2 : Rintangan dalam Komunikasi
- BAHAN MENGAJAR: Lidia
- WARNET PENA : The Good News: Bible Stories for Kids
- MUTIARA GURU
\o/ SALAM DARI REDAKSI \o/
Salam kasih,
Pembaca tentu pernah mendengar ungkapan "mulutmu harimaumu".
Ungkapan ini tampaknya menjadi peringatan yang keras bagi kita
supaya berhati-hati dalam bertutur kata. Entah dalam berkomunikasi
dengan sesama orang dewasa maupun dengan anak-anak, kita harus bisa
menjaga mulut kita. Jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut
kita menyakiti orang lain, khususnya anak-anak.
Tuturan memang dapat menjadi penghambat dalam berkomunikasi dengan
anak. Mereka masih memiliki saringan yang lemah terhadap semua
perkataan yang dia dengarkan. Inilah salah satu alasan mengapa
komunikasi yang baik dan membangun anak justru tidak tercipta, yaitu
ketika kita tidak memerhatikan tutur kata kita. Perkataan dan sikap
seperti apa yang dapat menghambat komunikasi dengan anak? Bagaimana
kita bisa menyingkirkan penghambat itu dan menciptakan komunikasi
yang lebih baik dengan mereka? Silakan simak sajian minggu ini dan
mari ciptakan komunikasi yang lebih berkualitas dengan anak-anak
layan kita.
Selamat membaca!
Redaksi Tamu e-BinaAnak,
Christiana Ratri Yuliani
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu,
dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17)
<http://sabdaweb.sabda.org/?p=Amsal+29:17 >
\o/ ARTIKEL 1 \o/
MASALAH KATA: MENGUBAH PERKATAAN
================================
Mengalihkan Hinaan Menjadi Sanjungan
APA YANG DIMAKSUD HINAAN?
Hinaan berarti sebuah pernyataan negatif yang membuat penerimanya
merasa tidak bahagia dengan dirinya, merusak harga diri, serta
kepercayaan diri dan kompetensinya. Hinaan adalah komentar yang
mengungkapkan sesuatu yang menyakitkan atau mengkritik diri atau
tentang apa yang dia lakukan. Oleh karena itu, hinaan mencakup
segala pernyataan yang ditujukan untuk merendahkan personalitas atau
kapabilitas seseorang.
Hinaan berarti membuat seseorang malu, merendahkan martabat, merusak
harga diri, membuat seseorang merasa kecil atau tidak penting,
membuat seseorang merasa tidak berkompeten, merusak gelembung
kepercayaan diri, dan membuat orang merasa sedih dengan dirinya.
Penghinaan niscaya akan menciptakan jarak antara pemberi dan
penerima karena orang yang menerima dipaksa menelan perasaan hina
dan rendah dan karena orang yang mengemukakan komentar penghinaan
membangun sebuah ruang yang menempatkan dirinya sebagai orang yang
menghakimi orang lain.
Oleh karena itu, penghinaan berarti juga "menepikan atau
mengesampingkan". Ini adalah sebuah serangan verbal. Penghinaan bisa
secara serius merusak relasi dan individu, khususnya jika itu sering
dilakukan. Penghinaan bisa menyulut kemarahan dan menciptakan jarak
dan resistensi. Kondisi citra diri yang buruk dan hilangnya
kepercayaan diri pada seorang anak yang sedang tumbuh berkembang,
bisa memengaruhi relasi pada masa selanjutnya. Seseorang yang
banyak menghina orang lain, kecil kemungkinan bisa bergaul dengan
orang lain secara santai, mereka tidak bisa berempati, merasakan
sakit dan penderitaan orang lain, dan kemungkinan besar mereka akan
menikmati fakta bahwa orang lain berada pada garis akhir sebuah
perubahan.
Namun, penghinaan tidak selalu disampaikan dengan maksud jahat.
Kadang penghinaan terjadi secara spontan -- katakanlah tanpa
berpikir lebih dahulu karena kita biasa mengemukakan segala hal dan
jarang memikirkan akibatnya. Kata-kata kita bisa menjadi sesuatu
yang telah jadi sebelumnya, seolah ia telah ditulis dalam sebuah
permainan.
Jika kita ingin membangun sebuah relasi yang sehat dan baik dengan
anak-anak kita dan memperlihatkan kepada mereka bahwa kita mencintai
mereka dan senang bersama mereka, jelas kita harus mengurangi jumlah
perkataan yang dapat merendahkan mereka. Namun, dengan memutuskan
untuk merubah tulisan dan menulisnya kembali bukan berarti bahwa
kita sama sekali terbebas dari kemungkinan untuk menghina anak-anak
kita. Bukan berarti bahwa kita akan selalu mengomentari perbuatan
mereka dengan cara-cara yang tidak merusak harga diri dan membuat
mereka ragu dengan komitmen kita terhadap mereka.
MENGAPA ANAK SANGAT RENTAN DENGAN HINAAN?
Anak-anak memiliki lebih sedikit kesempatan dibanding orang dewasa
untuk bertemu dengan orang-orang di luar rumah yang akan memberi
mereka respons balik independen tentang seberapa menarikkah diri
mereka. Dengan demikian, apa yang dikatakan orang lain tentang
dirinya di rumah, akan memiliki pengaruh signifikan, khususnya
sesuatu yang dikatakan oleh orang-orang yang paling dia cintai di
dunia ini. Paling tidak diperlukan tiga sanjungan untuk membatalkan
kerusakan dari penghinaan yang serius.
APA YANG DIMAKSUD DENGAN SANJUNGAN?
Sanjungan adalah kebalikan dari hinaan. Sanjungan lebih berkenaan
dengan komentar deskriptif atau afirmatif yang membangun pandangan
seseorang terhadap dirinya sendiri dan membuat mereka merasa bahagia
dan bangga dengan dirinya dan apa yang mereka lakukan, daripada
berkaitan dengan sesuatu yang merusak ego seseorang. Dengan
sanjungan, akan terbuka kemungkinan ego seseorang sedikit meningkat,
berbunga-bunga dengan kebanggaan, serta mendapat cahaya dukungan dan
rasa berprestasi.
Banyak orang tidak suka dengan gagasan untuk memberikan sedikit
dorongan kepada ego anak-anak mereka. Ini bisa menjadi pujian yang
berlebihan. Mereka menganggap sikap semacam ini bisa menyebabkan
anak-anak besar kepala dan sombong. Namun, selama anak menyadari
bahwa kemampuan-kemampuan yang dia miliki tidak membuatnya merasa
menjadi pribadi yang "lebih baik" daripada orang lain yang
berkemampuan lebih rendah, ada alasan yang kuat untuk membiarkan
mereka tahu betapa dia adalah anak yang baik dan berprestasi. Rasa
kesombongan yang tidak diinginkan ini bisa dihindari selama "baik"
tidak disamakan dengan "lebih baik daripada" dalam semua hal,
termasuk keahlian komparatif.
Untuk menghindari munculnya kebanggaan yang tidak semestinya ketika
kita mendorong munculnya kebanggaan "legitimate", kita bisa
menerapkan perbedaan antara perbuatan dan pribadi yang telah dibahas
pada bagian sebelumnya.
- Hargai mereka atas siapa dirinya dan puji mereka atas apa yang
mereka lakukan.
- Pastikan bahwa kita menghargai keragaman keahlian atau
keterampilan sehingga anak belajar toleransi.
- Ajarkan bahwa baik itu artinya "berbeda dari" dan bukan "lebih
baik dari ...."
Dalam kerangka ini, anak akan mampu menghadapi lingkungan yang lebih
kompetitif yang merangsang, memberi tantangan, dan menawarkan sebuah
alasan untuk berprestasi dan meningkatkan diri. Berlawanan dengan
keyakinan populer yang berkembang di masyarakat, tidak adanya
tantangan dan kompetisi tidak niscaya akan membuat anak-anak merasa
bahagia dan tidak terancam. Tidak adanya tantangan bisa merusak
harga diri sama efektifnya ketika terlalu banyak jenis tantangan
yang keliru.
BAGAIMANA CARA MENGUBAH PERKATAAN KITA?
Mengubah bagaimana Anda mengatakan sesuatu sangatlah tidak mudah.
Namun, Anda akan sangat terbantu dengan melihatnya langkah demi
langkah.
Langkah pertama. Rasakan pengaruh dan akibat hinaan terhadap
anak-anak dan orang lain.
Coba Anda pikirkan kembali hinaan terakhir yang Anda terima. Apa
yang Anda rasakan? Hinaan itu mungkin membuat Anda merasa menjadi
orang yang lemah, kecil, marah, ingin bersembunyi, menangis, atau
mungkin merasa rendah, membuat Anda ingin mengatakan bahwa Anda
tidak peduli. Bagaimana bisa hinaan yang sama akan membuat anak Anda
merasakan hal yang berbeda?
Apa yang Anda inginkan sesudah mendengar hinaan itu? Apakah hinaan
itu membuat Anda ingin menyakiti seseorang atau merusak sesuatu,
katakanlah sesuatu yang dapat membalas sakit hati Anda? Bagaimana
bisa hinaan yang sama akan membuat anak Anda ingin melakukan sesuatu
yang berbeda?
Apa yang benar-benar Anda lakukan? Mungkin Anda mengalihkan hinaan
itu kepada orang lain, memboikot orang yang telah menghina Anda,
mempertahankan diri secara verbal, menghina mereka kembali, atau
memukul mereka. Mengapa anak Anda mesti melakukan sesuatu yang
berbeda?
Langkah kedua. Pahami tipe-tipe hinaan.
Kritik adalah bentuk umum penghakiman. Seorang anak yang
terus-menerus menjadi sasaran kritik akan mendapatkan pesan tidak
hanya bahwa Anda kecewa dengannya, tetapi juga pesan bahwa Anda
tidak senang dengan siapa dirinya (who he is) dan apa yang dia
lakukan. Anda ingin agar dia menjadi orang yang berbeda. Anda ingin
dia melakukan hal-hal sesuai dengan keinginan Anda. Dengan kata
lain, Anda ingin dia menjadi seperti diri Anda. Jika Anda berusaha
mengubah seseorang menjadi diri Anda, ini bisa berarti bahwa Anda
sangat butuh mencintai diri Anda sendiri, tetapi Anda gagal
melakukannya. Kritik adalah media untuk mengontrol. Anda tidak rela
memberikan ruang atau waktu kepada seseorang untuk melakukan sesuatu
sesuai dengan pilihannya sendiri. Anda merasa harus melakukan
intervensi secara teratur untuk mempertahankan kontrol Anda dan
mengamankan teritorial Anda.
"Straitjacket" (baju pengekang) adalah istilah populer untuk
menyebut orang yang memiliki kebiasaan mengunci orang lain ke dalam
suatu peran dan personalitas tertentu ("Kamu harus ...."; "Kamu
mirip dengan ...."; "Kamu tidak akan pernah ....") yang tidak
memberi orang lain kesempatan untuk menjadi orang yang berbeda.
Semua orang, dan khususnya anak-anak, berkembang dan berubah.
Sangatlah tidak adil jika Anda merumuskan personalitas seseorang,
lalu Anda tidak mau meninjaunya kembali ketika dihadapkan pada bukti
yang sebaliknya. "Straitjacket" bisa mendorong anak-anak menjadi apa
pun seperti gambaran yang diberikan kepada mereka tentang siapa
dirinya.
"Straitjacket" bisa menjelma dalam dua bentuk. Label-label yang
mendeskripsikan siapa anak itu ("Kamu tidak berguna, idiot, malas,
jorok, tolol.") dan label personalitas yang tidak menggambarkan
dirinya ("Kamu tidak pernah bisa menjadi anak berprestasi di
sekolah, olahraga, melukis ...."; "Mengapa kamu tidak pernah ...
berkata jujur, lakukan apa yang saya perintahkan, selesaikan
semuanya ...."). Membandingkan di mana anak diukur dengan orang
lain, kakak atau adik ("Ahmad itu lebih pintar, rapi ... dibanding
kamu."), seorang teman ("Mengapa kamu tidak mau jujur, seperti yang
dilakukan Scott kepada ibunya?") atau orang tua ("Dengan sikapmu
yang seperti itu, kamu akan menjadi seperti ayahmu."). Bahkan
sekalipun perbandingan dengan orang tua itu menyenangkan, anak
mungkin merasa tidak mampu menjadi seperti yang dia inginkan.
Pertama dan yang terpenting, dia ingin menjadi dirinya sendiri dan
memiliki orang tua yang meyakini hal-hal terbaik, bukan hal-hal
terburuk tentang dirinya.
Tindakan semena-mena yang diperlihatkan orang-orang dewasa terhadap
anak-anak mengisyaratkan bahwa kebutuhan mereka tidak cukup
dihargai. Unprediktabilitas adalah perangkat untuk membuat orang
lain tegang dan gelisah, membuat mereka menduga-duga dan menunggu,
memfokuskan energinya kepada karakter yang mudah berubah, dan
berusaha mengantisipasi kemarahan.
Sikap menyalahkan, sindiran kasar, dan ejekan adalah bentuk-bentuk
kritik, karenanya komentar-komentar sebelumnya juga berlaku bagi
tipe hinaan ini.
Kemarahan dan bentakan dipandang sebagai hinaan karena keduanya
mengisyaratkan bahwa orang dewasa itu benar dan anak salah. Keduanya
adalah perangkat kekuasaan yang digunakan orang dewasa. Singkat
kata, semua taktik yang digunakan sebagai perangkat kekuasaan dan
kontrol bisa berkembang menjadi hinaan.
Langkah ketiga. Pahami mengapa Anda menghina.
Ketika kita merendahkan anak-anak, kita biasanya meyakini bahwa kita
sedang bereaksi terhadap perilaku mereka. Karenanya dalam beberapa
hal, kita membuat mereka sebagai pihak yang bertanggung jawab atas
apa yang kita ucapkan. Jika kita mengatakan sesuatu yang kotor, itu
karena mereka melakukan sesuatu yang buruk. Inilah cara yang kita
sukai dalam memandang perbuatan kita. Ini akan memungkinkan kita
menghindari tanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Kita tidak
harus berkata kotor. Kita, dan bukan mereka, yang bertanggung jawab
atas apa yang kita ucapkan dan kata-kata apa yang kita pilih untuk
mengekspresikan ketidaksetujuan kita.
Sebenarnya, bagaimana kita memberi respons dalam situasi-situasi itu
lebih dipengaruhi oleh bagaimana perasaan kita terhadap diri kita
sendiri. Kita merendahkan atau menghina orang lain karena penghinaan
itu akan membuat kita merasa lebih baik terhadap diri kita.
Selanjutnya, kita mungkin merasa sangat bersalah, tetapi pada saat
itu, penghinaan membuat kita merasakan hal-hal berikut.
- Lebih kuat, superior, dan mengingatkan kita bahwa kita memiliki
sejumlah kekuatan; dengan kata lain, kita dalam posisi untuk
mendamprat dan menghakimi orang lain.
- Secara komparatif merasa lebih baik karena kita berhasil membuat
seseorang merasa lebih buruk.
- Kita menyingkirkan rasa malu dan tidak bertanggung jawab terhadap
perbuatan seseorang. Perbuatan anak-anak biasanya dipandang
sebagai ukuran seberapa baik dan berhasilnya kita sebagai orang
tua. Kita tidak ingin terlihat menerima perilaku yang kita rasa
menggambarkan diri kita secara buruk. Kita ingin mengatakan,
"Jangan beranggapan saya ikut terlibat dalam masalah ini."
Karenanya, kita memisahkan diri dari anak-anak dengan merendahkan
dan menghina mereka. Kita lebih memikirkan apa yang dipikirkan
orang lain tentang diri kita daripada apa yang dipikirkan anak
tentang diri kita.
Kadang kita menghina karena itulah kata-kata yang digunakan orang
tua terhadap kita. Ada rasa kepuasan ketika kita kembali
menggunakannya kepada anak-anak kita, betapapun saat kita mengalami
dulu terasa tidak menyenangkan.
"Bertanggung jawab" terhadap anak-anak kita, sering
diinterpretasikan sebagai kondisi memegang kendali. Jika kita merasa
kehilangan kendali terhadap anak-anak, kita mungkin akan merasa
lebih mudah untuk menghina dan merendahkan anak-anak daripada
menghadapi masalah yang lebih sulit, yakni menemukan kembali
kepercayaan diri kita dan meneguhkan kembali tanggung jawab dan
otoritas kita.
Ketika kita memahami mengapa kita memiliki kebiasaan merendahkan
orang lain, akan lebih mudah bagi kita untuk menghindarinya.
Langkah keempat. Sadari kapan Anda mengucapkan sesuatu yang keliru.
Tidak ada yang bisa diubah kecuali jika kita lebih dahulu
menyadarinya.
Langkah kelima. Dengarkan diri Anda ketika Anda mengatakannya.
"Aku mendengar diriku sedang mengatakannya tetapi aku tidak bisa
menghentikannya." Paling tidak, kesalahan itu disadari. Anda bisa
selalu minta maaf atas apa yang telah Anda katakan dan menariknya
kembali; misalnya, "Saya kira, saya mengatakan sesuatu yang terlalu
berlebihan. Saya tidak bermaksud demikian."
Langkah keenam. Hentikan diri Anda sebelum memulai, dan ganti dengan
bentuk-bentuk kata yang lebih bisa diterima.
Sekarang, ketika Anda telah berlatih menggunakan kata-kata
alternatif, Anda tahu bahwa Anda bisa mengatakannya, dan akan lebih
mudah untuk menyelipkannya. Mulanya mungkin terdengar aneh, tetapi
ini tidak akan berlangsung lama sebelum Anda mencapai tahap akhir
dan kemudian akan berlangsung secara natural.
Langkah ketujuh. Terakhir, pemprograman kembali akan sempurna,
kata-kata alternatif akan dipelajari dan akan berlangsung secara
natural.
Selamat! Anda telah melakukannya. Dan mungkin Anda merasa lebih baik
dengan diri Anda karena telah melakukan perubahan dan oleh karena
kebutuhan untuk merendahkan orang lain akan semakin berkurang.
Setiap langkah yang diambil akan menjadi sesuatu yang membanggakan.
Tidak niscaya proses ini akan berlangsung dengan nyaman. Seperti
perubahan pada diri anak-anak, ada dua langkah ke depan dan satu
langkah mundur, khususnya ketika Anda merasa tertekan atau tidak
cukup percaya dengan diri Anda sendiri. Bersikaplah realistis, Anda
tidak mungkin menghapus secara total frase-frase menyakitkan dari
katalog pribadi Anda. Tetapi jika Anda berhasil menguranginya,
pahami kapan Anda merasa tidak bahagia dan cobalah untuk
mengubahnya, lalu gunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan harga
diri anak Anda. Anda akan memiliki cukup pengaruh dalam memulai
sebuah lingkaran perbaikan perilaku yang terus menanjak pada kedua
sisi.
Beberapa bentuk penghinaan mengikuti cara-cara ekspresi perasaan
yang netral. Kapan pun dimungkinkan, hinaan juga bisa dikemukakan
dalam bentuk pertanyaan yang lebih menyakitkan, memaksa anak untuk
setuju dan dalam posisi defensif.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Raising Happy Kids: Mencetak Generasi Cerdas,
Kreatif dan Smart!
Penulis : Elizabeth Hartley-Brewer
Penerbit : Inspirasi Buku Utama, Yogyakarta 2005
Halaman : 244 -- 251
\o/ ARTIKEL 2 \o/
RINTANGAN DALAM KOMUNIKASI
==========================
Komunikasi antara orang tua dan anak sering dirusak oleh sikap dan
respons dari orang tua, seperti contoh berikut.
A. Nada Perintah
Contoh: Anak pulang dari sekolah diperbolehkan bermain sampai jam
empat sore, setelah itu harus pulang untuk belajar, apabila anak
bertanya, "Mengapa saya harus belajar?", orang tua menjawab, "Karena
Ayah/Ibu sudah mengatakannya demikian, kamu harus menurut dan jangan
banyak tanya!" Atau anak itu membantah, "Saya tidak mau belajar,
saya tidak suka sekolah!" Dan orang tua pun membalas, "Sebagai anak,
kau harus belajar, kecuali kalau Ayah/Ibu katakan tidak!" Jawaban
yang bernada perintah semacam ini, kalau sering terjadi, dapat
merusak komunikasi antara orang tua dan anak.
B. Gertakan
Secara tidak sadar, orang tua pun sering menggunakan gertakan.
Ketika anak mengutarakan suatu masalah, orang tua memberi respons
dengan nada gertakan dan tanpa memberi penjelasan atau petunjuk
sedikit pun kepadanya. Tidak jarang orang tua berkata seperti
berikut, "Kalau kamu tak mau lakukan, Ayah/Ibu akan mengunci kamu
dalam kamar gelap!" atau "Ayah/Ibu tidak akan mengajak kamu piknik!"
Padahal sebenarnya orang tua tidak akan melakukan hal tersebut, itu
sekadar menakut-nakuti saja. Seringnya orang tua berlaku seperti itu
akan membuat anak jengkel dan mereka tidak akan lagi menganggap
perkataan orang tuanya berwibawa. Anak pun enggan mengutarakan isi
hatinya kepada orang tua.
C. Bertele-tele
Keadaan yang sering merusak suasana komunikasi adalah sewaktu anak
mulai mengutarakan sesuatu yang dipandang tidak terlalu cocok dengan
pandangan orang tua, dan mulailah orang tua memberi kuliah panjang
lebar. Anak merasa bahwa orang tua mereka berada di dunia yang
berbeda dengan mereka, dan selanjutnya mereka tidak akan
mengutarakan sesuatu lagi. Dan hal tersebut lambat-laun akan
merusak komunikasi antara orang tua dan anaks atau antara guru
dengan murid.
D. Interogasi
Adakalanya orang tua sering menanggapi anak dengan nada menghakimi,
mengkritik, dan menyalahkan. Anak dituntut terlalu tinggi. Saat anak
mengutarakan pendapat yang berbeda dengan orang tua, anak langsung
ditegur dengan keras. Anak akan mengalami rasa rendah diri dan tidak
punya keberanian untuk mengutarakan sesuatu dengan orang dewasa.
Lebih baik menghindari cacian dan makian.
E. Mau Tahu secara Terinci
Ada orang tua yang terlalu ingin menguasai anaknya dan ingin
mengetahui kehidupan si anak secara terinci, sampai si anak tidak
memunyai kehidupan pribadi sendiri. Tidaklah menjadi masalah
apabila hal itu dilakukan dalam suasana yang wajar dan dalam
hubungan yang baik untuk mengenal kehidupan anak, namun bila dengan
paksa ingin mengetahui segala sesuatunya, bisa jadi akan timbul
kebencian dari si anak dan akan merusak hubungan.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku : Menerobos Dunia Anak
Judul asli artikel: Kunci Komunikasi
Penulis : Dr. Mary Go Setiawani
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung 1993
Halaman : 71 -- 72
\o/ BAHAN MENGAJAR \o/
LIDIA
=====
Paulus dan Silas mengajak penginjil muda yang bernama Timotius untuk
melakukan perjalanan bersama mereka. Ibu Timotius adalah seorang
wanita Yahudi yang percaya kepada Yesus dan ayah Timotius adalah
orang Yunani.
Pada saat mereka melakukan perjalanan, Roh Kudus menuntun mereka dan
memberitahu ke mana mereka harus pergi. Suatu malam, saat mereka di
Troas, Paulus mendapat penglihatan. Seorang pria dari Makedonia
meminta dia untuk singgah ke Makedonia guna menolong mereka. Roh
Kudus kembali memimpin mereka.
Mereka pun berangkat ke sana. Perjalanan panjang ini ditempuh dengan
kapal dari Troas ke Makedonia. Mereka tiba di Filipi, yang merupakan
koloni Roma dan salah satu dari kota terbesar di Makedonia.
Mereka tinggal selama beberapa hari. Kemudian mereka mendengar bahwa
sekelompok orang bertemu di tepi sungai untuk memuji Tuhan di hari
Sabat, jadi mereka keluar gerbang menuju ke tempat pertemuan itu.
Mereka duduk bersama dan mulai berbicara kepada para wanita yang
berkumpul di sana untuk berdoa. Salah satu dari wanita itu bernama
Lidia yang berasal dari kota Tiatira, yang berada di daerah timur
Makedonia. Dia adalah pedagang kain ungu.
Kain ungu itu harganya sangat mahal karena pembuatannya susah. Warna
untuk kain ini berasal dari kerang. Getah dari kerang ini berwarna
putih saat berada di dalam tubuh kerang, tetapi saat terkena sinar
matahari, cairan ini berubah menjadi berwarna ungu cerah dan merah.
Membutuhkan kerja keras untuk bisa menangkap kerang yang cukup untuk
memarnai satu kain. Kain yang indah itu biasanya dipakai oleh
anggota keluarga-keluarga terhormat dan senator Roma yang minta toga
atau jubah mereka diberi warna ungu pada pinggirannya.
Pada saat Paulus berkhotbah, Tuhan membuka hati Lidia untuk menerima
kabar tentang Yesus. Lidia menjadi percaya pada firman-Nya dan
menanggapi ajaran itu. Dia dan seluruh isi rumahnya akhirnya
dibaptis.
Kita tidak tahu apakah ia sudah menikah atau masih lajang atau
janda. Dia mungkin memiliki pekerja untuk menjalankan bisnisnya
karena ia adalah seorang pedagang.
Lidia berkata kepada Paulus dan rekan-rekannya bahwa bila mereka mau
menjadikan dia sebagai pengikut Tuhan, dia ingin mengundang mereka
untuk datang dan tinggal di rumahnya. Lidia memang memiliki banyak
ruangan untuk ditempati oleh Paulus, Silas, Timotius, dan Lukas yang
juga ikut bersama mereka. Lidia terus membujuk mereka dan akhirnya
mereka menerima undangan itu dan tinggal di rumahnya.
Dalam perumpamaan tentang penabur, hati Lidia seperti tanah yang
subur. Pada saat dia mendengar firman Allah, dia menerimanya dengan
sukacita dan mematuhi firman yang disampaikan oleh rasul itu.
APA YANG DAPAT KITA PELAJARI DARI CERITA INI?
Lidia adalah orang yang rajin dalam bekerja sehingga dia sukses
dalam usahanya. Selain itu, dia merupakan orang yang taat pada
agama, rajin bersekutu dengan Allah, dan memiliki hati yang baik,
juga terbuka untuk kebenaran.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pemalas atau pekerja keras?
Atau Anda mau bekerja keras untuk belajar supaya berhasil? Jika Anda
adalah orang yang seperti ini, Anda akan mendapatkan hidup yang
bahagia dan juga akan menjadi berkat bagi orang lain.
AYAT HAFALAN
Roma 12:13
PERTANYAAN
1. Siapakah penginjil muda yang ibunya adalah orang Yahudi dan
ayahnya orang Yunani? (Timotius)
2. Bagaimana Paulus dan Silas tahu di mana mereka harus berkhotbah?
(Roh Kudus mengarahkan mereka.)
3. Siapakah yang dilihat Paulus pada malam saat dia mendapatkan
penglihatan? (Seorang pria dari Makedonia.)
4. Pesan apakah yang diberikan kepada Paulus? (Pergi ke Makedonia
dan membantu mereka.)
5. Bagaimana Paulus dan teman-temannya sampai di sana? (Mereka
berlayar dengan kapal.)
6. Ke kota mana mereka pergi? (Filipi)
7. Di mana orang-orang itu bertemu untuk berdoa di hari Sabat? (Di
tepi sungai.)
8. Apakah pekerjaan Lidia? (Dia adalah pedagang kain ungu.)
9. Apa yang terjadi setelah mereka mendengarkan khotbah Paulus?
(Lidia dan seluruh anggota keluarganya dibabtis.)
10. Apa yang diminta Lidia dari para pria itu? (Dia ingin mereka
tinggal di rumahnya.) (t/Ratri)
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Garden of Praise
Judul artikel asli: Lydia
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://gardenofpraise.com/bibl62s.htm
\o/ WARNET PENA \o/
THE GOOD NEWS: BIBLE STORIES FOR KIDS
=====================================
http://www.essex1.com/people/paul/bible.html
Bukan tugas yang mudah untuk mentransfer cerita dalam Kitab Suci
agar dapat dipahami dengan mudah oleh anak layan Anda. Kreativitas
kita diuji dalam hal menyampaikan kebenaran tersebut. Situs the Good
News berisi cerita-cerita Alkitab bagi anak ini, dapat membantu Anda
dalam mengasah kreativitas bercerita. Disediakan berbagai cerita
seputar Perjanjian Lama, seperti cerita tentang Nuh, Abraham, dan
cerita dalam Perjanjian Baru. Semua disajikan dengan grafik yang
menarik dan bahasa Inggris yang sederhana. Di samping itu, ada
beberapa menu menarik lain, seperti fasilitas mendapatkan "postcard"
yang bisa Anda bagikan dengan teman-teman sepelayanan atau sahabat
Anda. Segera kunjungi situs ini dan silakan pilih cerita apa saja
yang ingin Anda bagikan perihal keagungan cinta kasih Allah atas
hidup anak-anak layan Anda.
Oleh: Kristina
\o/ MUTIARA GURU \o/
Hari ini saya akan memelihara naluri bertanya
di dalam diri saya sendiri
dan murid-murid saya.
----------------------------------------------------------------------
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<binaanak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
----------------------------------------------------------------------
Pemimpin Redaksi: Davida Welni Dana
Redaksi Tamu: Christiana Ratri Yuliani
Kontributor: Kristina Dwi Lestari
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2007 -- YLSA
http://ylsa.sabda.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Alamat Berhenti : <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Arsip e-BinaAnak : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://pepak.sabda.org/
------------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN GURU --------------
|