><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
==================================================
Daftar Isi: Edisi 220/Maret/2005
----------
\o/ SALAM DARI REDAKSI
\o/ BAHAN MENGAJAR (1) : Tuhan Yesus Ditangkap
\o/ BAHAN MENGAJAR (2) : Drama Interaktif Dua Babak
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Ucapan Terima Kasih
\o/ MUTIARA GURU
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
______________________________________________________________________
\o/ SALAM DARI REDAKSI --------------------------------------------\o/
Salam kasih dalam penyertaan Yesus Kristus,
Kristus tidak membuka mulut-Nya ketika Ia dihina, difitnah, dan
dihakimi atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan-Nya. Ia sungguh
mengetahui artinya seorang diri. Seorang murid-Nya telah
mengkhianati-Nya dengan sebuah ciuman dan yang lainnya lari
meninggalkan-Nya, bahkan menyangkali-Nya. Tetapi Ia tetap teguh. Ia
tahu penangkapan-Nya bukan berarti kekalahan, tetapi penggenapan
dari rencana indah untuk umat manusia yang dikasihi-Nya.
Rangkaian rencana indah ini harus kita sampaikan kepada anak-anak
Sekolah Minggu. Nah, untuk menolong Anda menyampaikannya dengan
mudah, maka e-BinaAnak minggu ini menyajikan Bahan Mengajar melalui
metode cerita dan drama dua babak mengenai kisah penangkapan Yesus.
Tentu saja Anda boleh mengolah bahan-bahan ini dengan cara kreatif
agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak SM Anda. Harapan kami, anak-
anak SM Anda akan lebih bisa menghayati penderitaan Kristus dan
mengerti bahwa hanya melalui penderitaan-Nya itulah manusia dapat
bebas dari hukuman kekal. Selamat mengajar! (Dav)
Tim Redaksi
"Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya
di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa,
hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh."
(1Petrus 2:24)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=1Petrus+2:24 >
______________________________________________________________________
\o/ BAHAN MENGAJAR ------------------------------------------------\o/
TUHAN YESUS DITANGKAP
=====================
Sssst ... apa itu? Di taman Getsemani yang biasanya sunyi senyap,
ada suara sayup-sayup terdengar. Suara yang berseru-seru dan keras
bunyinya. Lentera serta obor yang menyala-nyala bergerak digoyang-
goyangkan oleh orang yang memakainya. Sebentar-sebentar lidah api
itu rebah tegak ditiup angin.
Amat dasyat! Tengoklah, segerombolan manusia bersenjata lengkap
datang ke taman Getsemani itu. Ada yang membawa tongkat dan ada yang
membawa pedang.
Mau apa orang yang bersenjata itu? Hendak menangkap siapa? Melihat
senjata dan orang sebanyak itu, tentulah musuh yang akan ditangkap
sangat kuat. Tuh, sampai tentara Roma ikut juga. Siapakah yang akan
diserangnya?
Sesudah Tuhan Yesus menyuruh Yudas melakukan kewajibannya, ia terus
pergi ke tempat imam serta ahli taurat yang sedang berkumpul. Ia
berkata kepada orang itu bahwa sekarang juga mereka harus bertindak.
Sekarang adalah kesempatan yang amat baik.
Sebenarnya, rencana mereka ialah menunggu sampai PASKAH lewat, akan
tetapi mungkin, nanti tak ada lagi kesempatan yang baik, jadi mereka
bertindak malam itu juga.
Cepat-cepat dikerahkannya hamba-hambanya serta para penjaga Bait
Suci. Sudah cukup besarkah pasukan itu? Mungkin saja murid-murid-Nya
akan membela Gurunya atau meminta bantuan. Mereka tidak boleh
mengabaikan orang Galilea yang mendirikan pertahanannya di dekat
taman Getsemani itu. Begitu pula sahabat-sahabat-Nya yang bersama-
sama dengan Dia pergi ke Yerusalem. Sebab itu, lebih baik mereka
memperkuat pasukannya. Begitulah mereka meminta bantuan dari wali
negari, yaitu Pilatus.
Katanya kepada Pilatus, mereka akan menangkap seorang pemberontak
yang amat berbahaya.
Nah, sudah jelas mereka akan menangkap Tuhan Yesus. Tetapi ...
bagaimana mereka dapat mengetahui yang mana Tuhan Yesus itu?
Ya, benar juga pertanyaan itu. Hari amat gelap. Yudas mendapat
ilham.
"Aku pura-pura masih teman-Nya," katanya kepada mereka, "Aku akan
berjalan paling depan, seolah-olah akan memperingatkan Dia, bahwa
musuh-Nya telah datang. Aku akan memberi salam kepada-Nya dengan
ciuman. Siapa yang kupeluk, itulah harus kamu tangkap dengan segera.
Mengerti?"
Nah, Yudas yang jahat itu berjalan paling depan. Ia sudah mengenal
benar dan lebih mengetahui keadaan taman Getsemani dibanding tentara
Roma. Ia sudah sering berjalan-jalan dengan Tuhan Yesus di situ. Ia
bergegas dalam gelap. Tampak olehnya Tuhan Yesus berjalan di depan
murid-murid-Nya. Ia pura-pura senang berjumpa dengan Tuhan Yesus
itu.
"Salam kepada-Mu, hai Rabbi!" ia berseru, lalu dipeluknya Yesus.
Cih, pelukan jahat, yang paling jahat di seluruh dunia yang pernah
diberikan seseorang kepada temannya. Peluk yang terlalu keji, yang
seolah-olah menghanguskan muka Tuhan Yesus yang amat suci itu. Sudah
tentu Ia gemetar, karena perbuatan yang keji itu. Tetapi Ia hanya
bertanya dengan hati yang amat sedih, "Yudas, kau menjual Anak
Manusia dengan memberikan ciuman kepada-Nya?"
Yudas mundur. Ia terkejut. Terus didapatkannya hamba-hamba serta
tentara Roma yang sudah datang lebih dekat dengan obornya yang
menyala-nyala. Mereka kebingungan. Sebab Yudas terlalu cepat
berjalan, sehingga mereka tidak melihat, siapa yang dipeluk Yudas.
Siapakah yang akan ditangkapnya?
Tiba-tiba ada seseorang tampil ke muka. Ia berdiri dengan gagahnya
disinari bulan yang amat terang.
Dengan suara yang tenang Ia bertanya, "Siapa yang kau cari itu?"
"Yesus, orang Nazaret," rombongan itu berseru.
Lalu kata Yesus, "Akulah Dia!"
Kata yang tak seberapa itu mengandung kekuatan gaib. Mereka terus
gempar. Seluruh pasukan yang bersenjata lengkap itu mundur
ketakutan. Kaki mereka gemetar, lalu mereka jatuh rebah.
Mereka berdiri lagi. Mereka amat bingung. Yesus masih berdiri di
tempat yang tadi, seperti seorang Raja. Mereka ketakutan menengadah
kepada-Nya. Mereka merasa bahwa mereka tak berdaya.
Sekali lagi Ia bertanya, "Siapa yang kaucari?" Mereka berkata dengan
gemetar, "Yesus dari Nazaret."
Tuhan Yesus menyahut, "Sudah Kukatakan, Akulah Dia. Kalau hanya Aku
yang kamu cari, biarkanlah mereka pergi."
Ia menunjuk kepada murid-murid-Nya yang dengan bimbang hati berdiri
dibelakang-Nya, gemetar ketakutan, dan karena marahnya yang
meluap-luap pula.
Yesus hanya memikirkan keselamatan murid-murid-Nya, dan Ia tidak
memikirkan diri-Nya sendiri.
Dengan tenang Ia menyerahkan Diri kepada prajurit-prajurit itu. Akan
tetapi, ketika mereka mengulurkan tangannya hendak menangkap Dia,
murid-murid-Nya itu terus mengerumuni Dia.
"Tuhan," mereka berseru dengan berangnya, "bolehkah kami menghunus
pedang kami? Bolehkah kami membela-Mu?"
Petrus tak sabar lagi menunggu jawaban Gurunya. Seperti orang yang
kehabisan akal, ia melompat ke depan Tuhan Yesus dengan pedangnya
yang berkilat-kilat itu, lalu digoyang-goyangkannya dengan dasyatnya
di tengah pasukan yang berdesak-desakan itu. Akan tetapi, ia tak
tangkas memakai pedang itu. Maklum, ia tidak pernah menggunakan
pedang, karena ia seorang nelayan saja. Pedang itu mendesir ke arah
telinga seorang dari hamba imam itu. Hamba itu menjerit kesakitan.
Telinganya yang kanan sudah terpenggal oleh Petrus.
Wah, sekarang pasukan itu panas hatinya. Mereka maju, sambil
berteriak menyerang murid-murid-Nya. Seakan-akan usaha Sang Guru
gagal dan mereka harus ditangkap juga.
Akan tetapi, Tuhan Yesus masih juga dapat membela murid-murid-Nya
meskipun keadaan sudah terlalu genting. Ia berdiri di depan
prajurit-prajurit itu seperti Raja dan ditahan-Nya mereka dengan
tangan-Nya. Ia menoleh ke belakang kepada Petrus, lalu berkata,
"Sarungkan pedangmu, sebab siapa yang menghunus pedangnya, akan
binasa oleh pedang juga. Janganlah kau pikir bahwa tak dapat Kuminta
kepada Bapa-Ku yang ada di surga supaya mengirim lebih dari dua
belas laksa malaikat untuk menolong-Ku. Masakan tak Kuminum piala
yang diberikan Bapa-Ku kepada-Ku? dan jika demikian, apakah
perkataan Alkitab dapat dipenuhi seperti yang sudah tertulis?"
Petrus mundur dalam gelap. Tuhan Yesus mendapatkan orang yang putus
telinganya itu, dipungut-Nya telinga itu dan dilekatkan-Nya di
kepala orang itu. Dan seketika itu juga telinga itu pulih, ia tak
lagi merasa kesakitan sedikit pun.
Hamba itu adalah hamba Imam Besar, namanya Malchus. Dialah manusia
yang terakhir ditolong Tuhan Yesus di dunia.
Malchus datang untuk berbuat jahat kepada-Nya, padahal ia telah
menerima kemurahan hati-Nya.
Meskipun temannya sudah disembuhkan, tentara itu tak mau mundur
juga. Mereka terus menangkap Tuhan Yesus, lalu diikatnya.
Para Imam yang berdiri di dekat Yesus dan menyaksikan kejadian itu
menyeringai.
Tuhan Yesus menyindir orang Farisi itu, kata-Nya, "Kamu datang ke
sini dengan senjata lengkap seakan-akan hendak menangkap seorang
penyamun? Padahal tiap hari Aku bersama kamu, mengajar di Bait Suci
dan kamu tak menangkap Aku. Tetapi ini semua harus terjadi, supaya
genaplah kitab para nabi. Sekarang kegelapan akan berkuasa."
Mereka tak menyahut. Pasukan itu menyeret Dia dari taman itu.
Beberapa prajurit masih mencari murid-murid-Nya di sekeliling taman
itu, tetapi sia-sia saja. Mereka sudah melarikan diri dalam
kegelapan. Masih ada seorang berbaju putih yang tinggal. Orang itu
ditangkapnya, tetapi orang ini dapat meloloskan diri dari tangan
para prajurit. Bajunya tanggal, dan ia sendiri menghilang dalam
gelap.
Orang itu bukan seorang dari murid-murid-Nya, melainkan seorang anak
muda. Mungkin Yohanes Markus, dari Yerusalem. Anak muda ini sudah
menduga, apa yang akan terjadi. Ia mengikuti tentara itu masuk ke
taman Getsemani dengan baju tidurnya, karena tidak sempat bertukar
pakaian.
Benarlah seperti semuanya dulu dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri,
mereka meninggalkan Dia di tangan musuh. Sedang mereka selamat,
Gurunya dibawa sebagai tawanan ke kota Yerusalem.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Cerita-Cerita Alkitab Perjanjian Baru
Penulis : Anne De Vries
Penerbit : Balai Alkitab dan Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1959
Halaman : 209 - 212
______________________________________________________________________
\o/ TIPS ----------------------------------------------------------\o/
-o- DRAMA INTERAKTIF DUA BABAK -o-
==========================
BABAK I: TANGKAP DIA!
Karakter yang diperankan:
-------------------------
1. Narator
2. Yesus
3. Yudas
4. Dua orang sebagai tikus
Perlengkapan:
-------------
Alat musik (piano, organ, dan alat musik lainnya)
Teks Drama:
-----------
Narator : "Selamat datang anak-anak yang hadir untuk ikut
berpartisipasi dalam permainan ini. Dua minggu yang lalu
kita telah mengikuti Yesus dari ruang atas, tempat Ia dan
murid-murid-Nya merayakan PASKAH lalu ke taman Getsemani
tempat Ia berdoa. Malam ini kita kembali ke taman itu
dengan teman-teman kita yang berbulu lembut [tikus masuk]
yang selalu mengikuti Yesus dan perintah-perintah-Nya
melalui cerita pra PASKAH ini. [Ajak anak-anak berkumpul
di tengah-tengah ruangan per kelompok.)
Pada waktu musik dimulai, barisan kalian berjalan maju
sedikit demi sedikit sambil berakting seperti sekumpulan
orang marah yang akan menangkap Yesus. Kalian akan
mengambil bagian dalam efek suara. Kalian harus berbaris
per kelompok, melangkah dengan ketukan kaki secara
perlahan. Kalian juga dapat membuat bermacam-macam suara
keributan, seperti ini ... [berikan contoh macam-macam
suara keributan.] Ketika musik berhenti, hentikan juga
barisan.
Dalam drama ini, kalian juga akan punya bagian untuk
berbicara. Setiap saat, saya melakukan hal ini
(mengacungkan kepalan tangan dengan sudut 45 derajat),
teriakkan "Tangkap Dia! Tangkap Dia!" Mari kita coba
melakukan hal tersebut. [Beri isyarat pada anak-anak.)
Waktu musik berhenti, kalian boleh duduk."
[Musik dimulai, anak-anak maju ke depan, tikus memulai percakapan)
Tikus (1): "Lihat! Apakah kau melihat apa yang aku lihat? Seperti
parade atau sesuatu!"
Tikus (2): "Di mana?"
Tikus (1): "Di sana [sambil menunjuk] arahnya datang dari jalan!
Jumlah pasti ada seratus!"
Tikus (2): "Dua ratus! Dan lihatlah laki-laki yang berada di depan
itu. Bukankah ia ada bersama dengan Yesus di ruang
atas?"
Tikus (1): "Ya, benar! Yudas! Tampaknya mereka marah. Menurutmu, apa
yang mereka inginkan?"
[Anak-anak maju ke depan gereja. Musik menghilang. Anak-anak duduk
di depan altar.]
Narator : "Kerumunan orang banyak yang sedang marah datang ke taman
untuk menangkap Yesus. Yudas akan menghianatinya!"
Yudas : [Berjalan di depan] "Guru!"
[Narator mengangkat kepalan tangan.]
Anak-anak: "Tangkap Dia! Tangkap Dia!" [Sambil menunjuk kepada
pemeran Yesus.]
Yesus : "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap
dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal
tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu
tidak menangkap Aku."
Tikus (1): "Mereka pergi lagi. Membicarakan beberapa rencana."
Tikus (2): "Lihat, semua teman-teman Yesus sudah lari. Sebaiknya, Ia
cepat memikirkan sesuatu."
Tikus (1): "Aku benci, bila pada saat ini aku ada di sana bersama-
sama dengan Dia."
Tikus (2): "Aku juga. Satu orang menghadapi banyak orang."
Tikus (1): "Dengarlah bagaimana ributnya mereka."
[Narator mengangkat kepalan tangan.]
Anak-anak: "Tangkap Dia! Tangkap Dia!"
[Musik dimatikan, anak-anak berbaris kembali menuju ke tempat duduk
masing-masing. Pemeran Yesus pun turun dari atas panggung.]
Narator : "Sekarang, kira-kira apa yang akan terjadi dengan Yesus,
apakah Ia akan tertangkap? Apakah Ia punya suatu rencana?
Cerita belum berakhir."
[*Catatan Redaksi: Anda bisa langsung masuk dalam babak II setelah
babak I dimainkan atau babak II ini bisa Anda lanjutkan minggu
berikutnya.]
BABAK II: DI PENGADILAN
Karakter yang diperankan:
-------------------------
1. Narator
2. Yesus
3. Empat orang sebagai tikus
4. Dua orang pembicara
Teks drama:
-----------
[Ajak anak-anak ke depan; berikan petunjuk kepada mereka, bahwa pada
saat ia mengangkat tangannya, mereka harus meneriakkan, "huuuuu"
sebagi tanda hinaan dan ejekan.]
Narator : "Pernahkah kalian melihat seseorang tertawa di depan
kalian? Pernahkah ada orang yang berbicara tidak benar
tentang Anda kepada orang lain? Bukankah itu tidak lucu?
Sangat berat menjadi orang yang dibenci oleh orang
banyak. Itu akan menjadi cerita tentang Yesus dalam babak
ini. Hanya satu orang sahabatnya yang mengikuti-Nya
sampai di pengadilan Kayafas ... oh ya ... dan tentu saja
kedua tikus yang selalu berada dipojok selama cerita ini
berlangsung."
[Pemeran Yesus masuk dari tempat yang berbeda, tikus dari tempat
lainnya.]
Narator : [Berbicara kepada tikus.]" Saya melihatmu membawa
beberapa orang sahabat."
Tikus (1) : "Apakah ia berbicara kepada kita?"
Narator : "Ya, saya berbicara kepada kalian. Kalian telah
memainkan bagian yang penting dalam drama-drama kami.
Tidak seperti murid-murid Yesus yang tidak tinggal
bersama-Nya. Kalian tidak lari saat keadaan yang
buruk terjadi di taman. Dan sekarang, kalian ada
di sini, siap menghadapi segala macam kemarahan dari
banyak orang."
Tikus (3) : "Kemarahan banyak orang! Aku kira, kau memiliki
seorang teman yang membutuhkan bantuan. Kau sama
sekali tidak mengatakan tentang kemarahan banyak
orang!"
Tikus (4) : "Saya pulang saja! Bagaimana mungkin tikus dapat
menghadapi orang banyak?"
Tikus (1) : "Dengar! Beberapa diantara mereka sudah ada yang
bicara."
Pembicara (1): [Berjalan menuju pemeran Yesus.] "Kami sudah
mendengar orang ini berkata bahwa Dia akan merubuhkan
Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga
hari Dia akan mendirikan yang lain, yang bukan buatan
tangan manusia."
Narator : (Isyarat kepada anak-anak untuk memperolok dan
mengejek). Engkau mengatakan akan membangun Bait Suci
dalam tiga hari, tetapi orang-orang di luar sana
(menunjuk pada keramaian orang-orang) mengatakan lima
hari, dan orang lain mengatakan Ia akan menghancurkan
kota, bukan Bait Suci.
Tikus (1) : "Lihat! Bahkan mereka tidak tahu kebenaran ucapan
mereka.
Tikus (2) : "Mengapa Yesus tidak mengatakan sesuatu untuk membela
diri?"
Tikus (3) : "Ya, Kerumunan itu akan membawa-Nya."
Tikus (4) : "Saya pulang saja!"
Tikus (1,2,3): "Sssssttt!"
Pembicara (2): [Menunjuk kepada pemeran Yesus.] "Apakah Engkau
sungguh-sungguh Tuhan seperti yang dikatakan orang-
orang?"
Yesus : "Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk
di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-
tengah awan-awan di langit."
[Narator memberi isyarat kepada anak-anak untuk mengejek dan
memperolok.]
Tikus (1) : "Oh, lihat! Kerumunan itu meludahi dan dan memukul
Dia!"
Tikus (2) : "Mengapa Dia tidak menghentikan perbuatan mereka?"
Narator : "Mengapa Yesus tidak menghentikan mereka? Yesus tahu,
bagaimana rasanya ditertawakan oleh orang lain,
bahkan rasanya diludahi. Mengenaskan sekali. Aku
kuatir, hal yang lebih buruk akan terjadi. Beberapa
diantara kalian tahu apa yang akan terjadi dan sudah
tahu rencana untuk kematian Yesus, itu adalah akhir
kehidupan-Nya.
[Tutup babak ini sampai di sini dengan mengajak anak-anak
menyanyikan lagu yang sudah Anda siapkan. Setelah itu ajak mereka
untuk berdoa.]
Bahan diterjemahkan dan diedit dari sumber:
Judul Buku : Program Resources for Lent and Easter:
Take Up Your Cross
Judul Artikel Asli: Seize Him! and At the Courts of the High Priest
Penerbit : Augsburg Fortress, Minneapolis - USA, 1990
Halaman : 22 - 24
______________________________________________________________________
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA ------------------------------------------\o/
Dari: <damara(at)>
>Terima kasih untuk artikelnya yang bagus sekali. Saya Ibu dari dua
>orang anak , yang pertama berumur 2 tahun dan yang kedua berumur 6
>bulan. Tampaknya anak saya yang pertama agak keras kepala. Dari
>Kesaksian diedisi ini bisa membantu saya untuk mendidik anak saya
>nantinya dengan baik. Sekali lagi terima kasih, Tuhan memberkati
>pelayanan ini.
Redaksi:
Terima kasih untuk e-mail Anda :)
Kami sungguh mengucap syukur untuk berkat yang sudah Tuhan berikan
kepada Anda melalui e-BinaAnak ini. Kami terus berharap, semua
sajian e-BinaAnak dapat meningkatkan wawasan para pembaca agar dapat
mendidik anak-anak dengan lebih baik lagi sesuai dengan prinsip-
prinsip Firman Tuhan.
Bagi Anda yang memiliki pengalaman menarik dalam mendidik anak atau
melayani anak-anak, silakan jangan segan-segan membagikannya kepada
para pembaca e-BinaAnak. Kami yakin sharing Anda ini akan menjadi
berkat bagi banyak pembaca e-BinaAnak. Kami tunggu kiriman Anda di
alamat: ==> staf-binaanak(at)sabda.org
______________________________________________________________________
\o/ MUTIARA GURU --------------------------------------------------\o/
Saya tidak akan pernah dapat menambah
pada apa yang telah Engkau lakukan bagi saya.
Keselamatan saya telah Engkau kerjakan dengan sempurna.
Tolonglah saya untuk mengenal sukacita anugerah-Mu
ketika melayani Engkau.
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbeth
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2005 -- YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><
|