><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
==================================================
Daftar Isi: Edisi 217/Pebruari/2005
----------
\o/ SALAM DARI REDAKSI
\o/ TIPS (1) : Mendisiplin Anak dengan Cinta
\o/ TIPS (2) : Mendisiplin Murid dengan Kasih
\o/ KESAKSIAN : Pendisiplinan Seorang Ibu
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Pelanggan Baru
\o/ MUTIARA GURU
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________
\o/ SALAM DARI REDAKSI --------------------------------------------\o/
Salam Kasih,
Menutup bulan Pebruari ini, "Mendisiplin dengan Kasih" adalah topik
terakhir yang kami angkat. Topik tersebut mungkin terdengar bertolak
belakang dengan topik dua minggu yang lalu, "Mendisiplin dengan
Hukuman". Mendisiplin memang sering diidentikkan dengan hukuman atas
pelanggaran terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Namun,
pada dasarnya mendisiplin anak merupakan wujud kasih kita sebagai
seorang pendidik (guru dan orangtua), kepada anak-anak yang kita
didik. Mengapa demikian?
Nah, ikutilah sajian e-BinaAnak minggu ini, yang berupa dua buah
Tips dan satu buah Kesaksian yang kami harap dapat menolong kita
para guru memiliki sikap yang benar dalam mendisiplin anak.
Silakan menyimak dan selamat mendisiplin! (Ra)
Tim Redaksi
"Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak,
ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah."
(Amsal 9:9)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Amsal+9:9 >
______________________________________________________________________
\o/ TIPS (1) ------------------------------------------------------\o/
-o- MENDISIPLIN ANAK DENGAN CINTA -o--
=============================
Disiplin berarti menolong anak untuk belajar mematuhi aturan dan
tata tertib dalam kehidupan bersama, entah dalam lingkungan
keluarga, masyarakat, atau sekolah. Disiplin sebagai sikap sangat
penting agar anak tidak berperilaku semau gue, anak juga belajar
untuk mengendalikan diri. Oleh sebab itu, disiplin sering
dikonotasikan dengan tindakan `ketegasan` atau `hukuman` terhadap
pelanggaran yang dilakukan anak. Tak jarang, atas nama kedisiplinan,
orangtua atau guru bisa melakukan kekerasan terhadap anak. Bagaimana
semestinya mendisiplinkan anak?
Sering terdengar keluhan bahwa anak-anak sekarang sulit didisiplin,
cenderung melawan dan berani membantah orangtua atau guru. Tindakan-
tindakan kekerasan bukannya mengubah perilaku, malah memperburuk
hubungannya dengan anak. Di samping itu, ada pendapat agar orangtua
lebih bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap anak.
Apakah sikap "lembek" dan permisif semacam ini justru tidak akan
memperburuk keadaan, membuat anak-anak semakin brutal, dan tidak
tahu sopan santun dan aturan? Di tengah situasi dilematis begini,
agar pendisiplinan dapat efektif, kiat-kiat berikut perlu
diperhatikan.
1. Anak harus merasa dicintai.
---------------------------
Kebutuhan dasar setiap anak adalah dicintai dan diterima tanpa
syarat. Anak benar-benar merasakan bahwa orangtuanya mencintai
dirinya melalui tindakan nyata sehari-hari yang terungkap melalui
kata-kata ataupun perbuatan. Ketika kebutuhan dasar ini
terpenuhi, anak cenderung berpikir positif dan kooperatif dengan
orangtua. Dengan merasa dicintai, anak akan menerima tindakan
pendisiplinan dan hukuman secara positif. Mereka percaya bahwa
apa pun yang dilakukan orangtua adalah demi kebaikan dirinya.
Sebaliknya, jika anak merasa tidak dicintai dan tidak diterima,
apa pun yang dilakukan orangtua cenderung dinilai secara negatif.
Secara naluriah anak pun bereaksi terhadap tindakan
pendisiplinan, bisa berupa perlawanan, protes, atau sikap tak
acuh. Pendisiplinan tanpa didasari oleh rasa cinta hanya akan
melahirkan kemarahan, kebencian, dan balas dendam dalam diri
seorang anak.
2. Tetapkan aturan bersama.
------------------------
Jika tindakan disiplin menyangkut aturan dan tata tertib,
sebaiknya anak sudah mengetahui terlebih dulu risiko yang akan
ditanggungnya jika melanggar aturan tersebut. Hukuman yang tiba-
tiba, sering dimengerti anak sebagai tindakan yang tidak adil
sehingga reaksi pun negatif dan tidak efektif. Misalnya, orangtua
menerapkan aturan agar anak makan malam bersama pukul tujuh di
rumah, sedangkan bagi yang tidak bisa harus memberitahu
sebelumnya, atau setidaknya menelepon. Bagi yang melanggar,
hukumannya adalah "tugas mencuci piring pada hari berikutnya".
Jika aturan ini disepakati bersama, masing-masing anggota
keluarga akan berusaha memberikan komitmen dengan senang hati,
bagi yang terpaksa melanggar pun hukuman bisa dijalankan tanpa
diwarnai amarah dan kebencian. Aturan-aturan yang dibuat dalam
keluarga dan disepakati bersama akan menjadi media belajar bagi
anak untuk menumbuhkan sikap solidaritas dan tanggung jawab.
Orangtua pun tidak harus memaksakan otoritasnya karena aturan
dengan sendiri sudah berfungsi sebagai alat pendisiplinan.
3. Anak tahu kesalahan.
--------------------
Ketika anak melakukan tindakan negatif, ada beberapa hal yang
perlu dipertimbangkan. Pertama, apakah anak sengaja atau tanpa
unsur kesengajaan. Kedua, apakah anak menyadari kesalahannya atau
tanpa penyesalan sedikit pun. Tindakan pendisiplinan mutlak perlu
dan paling keras diberikan jika anak sengaja dan tidak menyesali
perbuatannya. Jika anak sengaja tetapi menyesali perbuatannya,
berarti anak mau belajar dari kesalahan.
Di kemudian hari, pendisiplinan yang terlalu keras justru tidak
mendidik karena anak merasa tidak dihargai. Jika anak tidak
sengaja, dan menyesali perbuatannya, maka yang paling bijak
adalah tindakan memaafkan karena pada prinsipnya anak tidak
bersalah. Dalam kasus-kasus seperti ini, orangtua benar-benar
harus berlaku bijaksana agar tindakan pendisiplinan memiliki
nilai edukatif yang mampu mengubah perilaku anak ke arah yang
lebih positif.
4. Bukan amarah dan emosi.
-----------------------
Tak jarang tindakan pendisiplinan didorong oleh rasa marah dan
suasana emosional karena harga diri dan kewibawaan orangtua
terasa dirongrong, atau frustrasi menghadapi perlawanan anak.
Jika hal ini yang terjadi, tindakan pendisiplinan tentu tidak
efektif, bahkan bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Orangtua
terlebih dulu perlu introspeksi, apakah masih dikuasai emosi dan
amarah, dan apakah tindakan Anda masih rasional, semata-mata demi
kepentingan dan kebaikan anak atau tidak.
Tunjukkan atau katakan bahwa Anda tetap menghormati dan mencintai
pribadi anak, Anda hanya tidak menyetujui perbuatannya. Cara ini
akan mengurangi resistensi anak dan memotivasi untuk membangun
sikap positif. Tidak ada kesan bagi orangtua untuk melakukan
pembalasan terhadap kesalahan anak, justru sebaliknya timbulnya
kesan dalam diri anak bahwa Anda terpaksa melakukannya. Dengan
cara demikian, tindakan pendisiplinan sebagai koreksi atas
perbuatan anak.
5. Harga perubahan.
----------------
Sering timbul kesan dalam diri anak bahwa orangtua bisanya hanya
melihat kekurangan dan kurang bisa menghargai hal yang positif.
Ketika anak melakukan tindak negatif, baru orangtua bereaksi,
tetapi ketika anak menunjukkan perilaku positif, tak ada
penghargaan apa pun. Penggunaan kata "selalu" atau "tidak pernah"
membuat anak merasa tak dihargai, misalnya "Kamu selalu malas!"
atau "kamu tidak pernah nurut sama orangtua!". Apakah selamanya
si anak malas dan tak pernah barang sekali pun menuruti perintah?
Perlakuan orangtua yang "negative thinking" akan menimbulkan
reaksi yang negatif pula. Karena itu, hargailah setiap perubahan
positif sekecil apa pun karena pada dasarnya setiap orang butuh
dihargai dan diakui. Berhentilah membuat daftar kekurangan anak,
dan mulai mencatat kelebihan-kelebihannya kendati belum seperti
yang Anda harapan. Pujian dan kata-kata pendukung disertai
sentuhan fisik tetap merupakan stimulus yang efektif bagi anak.
6. Lihat keunikan pribadi.
-----------------------
Tak ada manusia yang sama persis. Karenanya, setiap pribadi
adalah unik, tiada duanya. Kelemahan tindakan pendisiplinan
adalah sifatnya yang seragam sehingga tidak memandang keunikan
pribadi. Bagi si A cukup diberi peringatan keras perilakunya bisa
dikendalikan, namun si B mungkin dengan pukulan pun belum mempan.
Bagi seseorang, hukuman tertentu benar-benar menakutkan, namun
bagi yang lain hukuman yang sama justru menjadi hiburan. Maka,
orangtua harus bijak dalam memilih tindakan pendisiplinan yang
tepat untuk masing-masing anak sesuai dengan keunikan pribadinya.
Tindakan pendisiplinan tetap harus dipahami dalam konteks
pendidikan -- mengubah perilaku dan membentuk kebiasaan positif
pada diri anak. Dengan menghargai keunikan pribadi anak, orangtua
sebenarnya sudah menyentuh kebutuhan emosional anak. Misalnya,
kepada anak yang memiliki kepekaan perasaan, orangtua cukup
berbicara dengan lembut namun tegas. Sebaliknya, kepada anak yang
memiliki pembawaan suka membantah dan kritis, orangtua perlu
berkata tegas dan memberi alasan yang jelas.
7. Dari sudut anak.
----------------
Orangtua tak bisa membuat ukuran penilaiannya sendiri sebagai
orang dewasa untuk menghadapi anak yang berperilaku buruk. Anak
umur dua tahun yang egois adalah normal karena ia sedang belajar
otonomi sehingga tak perlu dimarahi atau dianggap sebagai tidak
memiliki rasa sosial. Anak remaja yang cenderung menentang pun
bukan berarti sedang melawan orangtua, dalam dirinya sedang
berlangsung proses identifikasi diri, ingin diakui sebagai
pribadi yang independen.
Karena itu, orangtua mesti melihat secara positif setiap bentuk
perlawanan yang dilakukan anak, bukan sebagai ungkapan "Aku
berani sama kamu" sehingga perlu dihantam dan dijinakkan,
melainkan sebagai dambaan hatinya yang terdalam, "Cintailah aku,
terimalah aku, dan hargailah aku!" Dengan demikian, orangtua pun
terdorong untuk melakukan tindakan cinta, kendati dalam bentuk
pendisiplinan.
Bahan diedit dari sumber:
Alamat URL: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/5/16/k1.html
Penulis : Paul Subiyanto
______________________________________________________________________
\o/ TIPS (2) ------------------------------------------------------\o/
-o- MENDISIPLIN MURID DENGAN KASIH -o-
==============================
Dalam sebuah kelas sangat dibutuhkan sebuah ketegasan untuk
mendisiplin murid. Seorang guru yang tidak tegas dapat diabaikan
oleh murid-muridnya. Tegas di sini bukan berarti kasar, keras,
mengomel, dan lain-lain. Ketegasan yang dimaksud adalah ketegasan
yang berlandaskan kasih agar pendisiplinan yang kita berikan
bukannya menjadi trauma bagi dia, tetapi menjadi satu pelajaran
berharga dalam kehidupannya. Berikut ini beberapa saran
pendisiplinan dengan kasih yang dapat diterapkan seorang guru, jika
terdapat beberapa orang anak yang "sulit diatur" dalam kelasnya.
1. Berjalanlah di belakang murid yang sedang bercakap-cakap.
---------------------------------------------------------
Letakkan tangan di bahunya, dan bimbing murid tersebut untuk
duduk di kursi yang lain. Ini merupakan cara yang paling efektif
tanpa harus menghentikan pelajaran.
2. Cobalah untuk diam.
-------------------
Berhentilah berbicara secara tiba-tiba di tengah pelajaran, dan
tunggulah sampai murid ikut diam. Murid-murid akan merasakan
mengapa Anda tiba-tiba diam. Kemudian, lanjutkanlah perkataan
Anda tanpa berkomentar. Bila cara ini saja tidak cukup, lihatlah
jam tangan Anda dan hitunglah berapa lama waktu yang dihabiskan
oleh murid yang membuat masalah itu. Murid tersebut harus
"membayar utang waktu" kepada Anda, yaitu harus tinggal di kelas
selama waktu yang telah Anda hitung, sementara murid-murid yang
lain ke luar kelas untuk aktivitas ketrampilan, istirahat, atau
makan dan minum.
3. Berusahalah untuk melakukan kontak mata.
----------------------------------------
Gelengan kepala yang pelan, sedikit mengernyit, gerakan pelan
jari telunjuk, semua merupakan petunjuk nonverbal bahwa ada
kelakuan murid yang mengganggu.
4. Pusatkan perhatian pada murid yang berkelakuan baik dan berilah
pujian.
---------------------------------------------------------------
Hal ini juga akan mengingatkan murid-murid yang lain, bahwa
mereka tidak akan mendapat perhatian guru jika berperilaku
negatif.
5. Berusahalah untuk bertanya kepada murid.
----------------------------------------
Tanyakanlah kepada murid yang berkelakuan tidak baik apakah ada
yang bisa dibantu. Ini akan memberi Anda kesempatan untuk
mendekatinya, memperbaiki kesalahan pada buku-bukunya, dan
mendorongnya untuk melakukan hal yang positif.
6. Berusahalah untuk menurunkan volume suara Anda.
-----------------------------------------------
Jangan pernah meninggikannya supaya murid-murid melakukan usaha
ekstra untuk dapat mendengar Anda, dan tidak bercakap-cakap atau
membuat kegaduhan.
7. Sadarilah bila seorang murid terus-menerus berkelakuan buruk.
-------------------------------------------------------------
Bila seorang murid terus-menerus berkelakuan buruk, acapkali itu
merupakan tanda bahwa anak itu memiliki kebutuhan yang mendalam,
biasanya kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang. Dengan
memenuhi kebutuhan emosional utama murid tersebut (kasih,
pengakuan, rasa dimiliki, hara diri, tujuan, kontribusi positif),
Anda akan mengurangi keinginannya untuk mengganggu kelas.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : 100 Ide Efektif untuk Menerapkan Disiplin
pada Anak Didik
Judul Artikel Asli: Teknik Intervensi yang Spesifik
Penulis : Sharon R. Berry, Ph.D.
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta, 2004
Halaman : 33 - 38
______________________________________________________________________
\o/ KESAKSIAN -----------------------------------------------------\o/
Pengalaman dari kehidupan sehari-hari biasanya memberikan pelajaran
terbaik bagi kita dalam hal mendisiplin anak. Seperti kesaksian
berikut ini, diangkat dari sebuah kisah nyata dari seorang ibu yang
dengan kasih dan sabar mendisiplin anak gadisnya. Banyak hal
seputar pendisiplinan yang dapat Anda timba dalam tulisan ini.
-o- PENDISIPLINAN SEORANG IBU -o-
=========================
Sarah, anak keenam, putri bungsuku, selalu melawan semua aturan dan
tidak disiplin. Aku putus asa menghadapi ulahnya. Kucoba menerapkan
psikologi kebalikan ketika ia kecil. Jika ia minta pendapatku dan
aku memberi jawaban tertentu, maka ia akan melakukan sebalikya.
Sejak dini, aku sudah belajar memberi saran yang bertolak belakang
dari apa yang kuinginkan untuk dia lakukan. Beberapa contohnya
sangat mudah.
"Atasan mana yang harus kupakai, merah mudah atau biru?"
"Oh, pakailah atasan berwarna merah muda."
Lima menit kemudian, ia akan muncul dengan mengenakan atasan biru.
Semasa kecilnya, setiap malam, kami melakukan kegiatan yang kami
sebut Altar Keluarga. Kami membeli buku cerita Alkitab dan setiap
kali membacakan cerita yang berbeda. Selesai membaca kami mengajukan
beberapa pertanyaan. Sarah tak pernah menjawab pertanyaan kami.
Padahal, kakak laki-lakinya yang umurnya 20 bulan lebih tua,
melonjak kegirangan saat ditanya dan mampu menjawab semua
pertanyaan.
Sepanjang masa sekolah, Sarah selalu mengacau. Saat duduk di kelas 1
SD, Sarah tertangkap basah tengah menulis kata "cinta" besar-besar
di tembok sekolah. Ia heran mengapa gurunya jengkel dengan
perbuatannya itu.
"Tetapi cinta kan kata yang bagus," ia membela diri.
Ia menentang segala bentuk peraturan yang ada. Kami mencoba
menerapkan berbagai tindakan kedisiplinan, dengan harapan menemukan
cara yang tepat. Aku memperlakukan semua anakku dengan cara yang
sama, tetapi metodeku selalu gagal pada Sarah. Aku memerlukan jalan
keluar.
Di tengah keputusasaan, kami mengikuti terapi kelompok yang dipimpin
Margaret, seorang mantan guru dan konselor Kristen. Air mataku
bercucuran saat peserta lain menceritakan kesulitan mereka berkaitan
dengan masalah kedisiplinan. Aku terhibur saat menyadari bahwa aku
bukan satu-satunya orang yang memiliki anak keras kepala. Akhirnya,
setelah 11 tahun terus-menerus menghadapi kekacauan, doa-doa kami
pun terjawab. Aku pulang dengan bekal memadai untuk menghadapi
sepekan mendatang.
Ketika membuat peraturan, mulailah dengan pernyataan seperti, "Aku
tahu kau akan marah mendengar aturan ini, karena itu kau kuberi
waktu 10 menit untuk marah."
Sungguh aneh, ketika diizinkan untuk memprotes, Sarah malah tidak
melakukannya.
Aturan lainnya, karena Sarah termasuk jenis anak yang suka merengek,
maka putri bungsuku itu paham betul bahwa ia dapat membuatku lelah,
atau membuatku sangat marah, sehingga aku akan mulai berteriak-
teriak.
"Masuklah ke kamar, dan lakukan kegiatan Anda," begitu saran
Margaret, "Dan, ketika ia mulai merengek-rengek, bersikaplah pura-
pura tidak mendengar. Jangan bicara sepatah kata pun. Para ibu
cenderung senang berkhotbah, dan anak-anak hanya akan membuat Anda
menangis."
Nasihat ini sangat mujarab.
Kemudian kami pindah. Karena kakak-kakaknya sudah besar, maka
tinggallah Sarah dan aku di lingkungan yang baru. Ia mulai masuk SMU
dan menjadi anak yang cukup populer di sekolah yang lebih kecil.
Sarah berhadapan dengan aturan yang sama, tetapi ia tetap mencoba
bersikap "semau gue". Berat sekali hatiku, seolah-olah aku akan
kalah perang. Suatu malam, ia mengutarakan keinginannya untuk
menonton pertandingan sepakbola di lokasi yang berjarak tiga jam
berkendaraan. Hari itu bukan hari libur, sehingga aku melarangnya.
Bagaimana mungkin aku membiarkannya bermobil dengan sopir yang tidak
kukenal? Atau pantaskah ia keluar malam pada hari sekolah?
Ia merengek-rengek, menangis, dan terus mendesak, tetapi aku tetap
menolak.
Akhirnya, ia menyambar jaket dan dompetnya dan berjalan ke jalan
raya. Ia tetap berniat pergi meskipun kularang. Kusambar kunci mobil
dan mulai mengejarnya. Ia telah sampai di jalan raya ketika aku tiba
di sana.
"Masuk ke mobil, Sarah."
"Tidak!" jawabnya sambil terus berjalan dengan menegakkan kepalanya.
"Masuk ke mobil."
Ia tetap melawanku dengan terus berjalan ke arah sekolahnya.
Kukemudikan mobil dengan kecepatan 12,8 km/jam sekadar untuk dapat
terus mengikutinya. "Masuk ke mobil," perintahku beberapa kali.
Gadis itu tetap menolak.
Akhirnya ia membuka pintu mobil, melompat ke dalam dan berkata,
"Baiklah, aku tidak akan pergi, tetapi aku benci Ibu. Aku benci
sekali pada Ibu."
Ingin kujawab, "Tidak apa-apa." Tetapi begitu teringat kata-kata
Margaret, kuurungkan niat untuk melontarkan komentar apa pun dan
terus menyetir mobil ke rumah.
Seluruh episode itu berlangsung 10 menit. Ia pulang. Selamat. Sarah
menolak masuk rumah. Ia memilih duduk di luar, di samping perapian,
sementara itu aku membaca di dalam. Peristiwa itu menjadi titik
balik dalam hubungan kami yang sulit.
Sarah kini menginjak usia 20-an, dan kami gemar melakukan kegiatan
bersama-sama. Suatu hari kami sedang berbelanja, ia bertanya,
"Apakah Ibu ingat ketika Ibu melarangku menonton pertandingan
sepakbola?"
"Tentu saja."
"Hari itulah aku mengetahui bahwa Ibu mencintaiku."
"Betulkah begitu?"
"Ya, dulu kupikir Ibu lebih menyayangi Matt karena ia tak pernah
dihukum." Ia meraih tanganku. "Kini aku baru sadar itu karena ia tak
pernah membantah dan selalu melakukan apa yang diperintahkan. Aku
ini pemberontak, iya kan?"
"Ya, kamu memang begitu."
"Malam itu aku terdorong untuk berpikir banyak hal."
Kupeluk Sarah. "Ibu sangat senang mendengarnya."
Pengakuan itu terjadi saat Sarah berusia 25 tahun. Dengan
pertolongan Allah, aku mampu berusaha sebaik mungkin, sekalipun baru
11 tahun kemudian aku tahu bahwa semua pendisiplinan yang kulakukan
ada manfaatnya.
Belakangan baru aku memahami bagaimana perasaan Allah ketika anak-
anak-Nya tidak patuh dan mendengarkan-Nya. Sekalipun demikian, Dia
tidak pernah meninggalkan kita. Allah tak pernah berhenti mengasihi
dan membujuk kita. Dia tak pernah menyerah, seperti kami, para ibu,
yang tak akan pernah menyerah memperjuangkan yang terbaik bagi anak-
anak kami. Tugas yang kuemban memang sangat berat, tetapi setiap
tetesan air mata, doa, dan harapanku, tidak sia-sia.
/Birdie Etchison
Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buku : Cerminan Hati Allah
Kompilasi Oleh: Wayne Holmes
Penerbit : PT Gloria Usaha Mulia, Yogyakarta, 2004
Halaman : 140 - 143
______________________________________________________________________
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA ------------------------------------------\o/
Dari: Surya <surya(at)>
>Terima kasih Anda telah mendaftarkan saya pada milis Anda.
>Saya sangat senang menerima informasi Anda tentang pembinaan anak
>Saat ini saya melayani di kalangan anak-anak (sekolah minggu) yang
>sangat membutuhkan bahan-bahan pelajaran khususnya untuk anak-anak,
>karena di kota kami bahan literatur sangat jarang, kami sangat
>susah mencarinya, untuk itu mohon terus dikirimkan yang kami
>butuhkan mengenai pelayanan anak/sekolah minggu.
Redaksi:
Selamat bergabung bersama kami. Mulai sekarang e-BinaAnak akan setia
hadir setiap hari Rabu di mailbox Anda. Jika Anda mendapat berkat
dari e-BinaAnak, jangan lupa informasikan kepada rekan-rekan Anda
yang lain agar mereka pun bisa mendapatkan berkat seperti Anda.
Harapan kami, pengetahuan dan ketrampilan para pelayan anak dapat
semakin bertambah dalam melayani anak. Jika Anda menginginkan edisi-
edisi e-BinaAnak sebelumnya, silakan berkunjung ke situs arsip
SABDA.org di:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
==> http://www.sabda.org/pepak/e-binaanak/
______________________________________________________________________
\o/ MUTIARA GURU --------------------------------------------------\o/
"Saya tidak cukup naif untuk berpikir bahwa
setiap metode disiplin dapat diterapkan untuk setiap anak."
- Dr. Kevin Leman -
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbeth
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2005 -- YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><
|