><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
==================================================
Daftar Isi: Edisi 215/Pebruari/2005
-----------
\o/ SALAM DARI REDAKSI
\o/ ARTIKEL (1) : Sekitar Pemberian Hukuman
\o/ ARTIKEL (2) : Prinsip Hukuman
\o/ AKTIVITAS : Berjalan di Jalan yang Benar
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Referensi Renungan Harian untuk Anak
\o/ MUTIARA GURU
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
______________________________________________________________________
\o/ SALAM DARI REDAKSI --------------------------------------------\o/
Salam damai,
Tugas guru Sekolah Minggu, selain memberikan pengetahuan Firman dan
membagikan kasih Kristus adalah mendisiplin anak. Salah satu cara
untuk mendisiplin anak adalah dengan memberi hukuman, yaitu ketika
anak melakukan kesalahan. Banyak ahli pendidik yang mengatakan bahwa
memberi hukuman seharusnya menjadi upaya terakhir yang dilakukan
guru/orangtua untuk tujuan agar anak jera dan tidak mengulang lagi
kesalahannya. Namun, ternyata tidak semua pendidik setuju dengan
pemberian hukuman pada anak. Nah, untuk itu, kami hadirkan ulasan
yang berjudul "Seputar Pemberian Hukuman" dan "Prinsip Hukuman",
yang akan menolong orangtua/guru menentukan sejauh mana perlu
memberikan hukuman pada anak. Silakan menyimaknya.
Untuk melengkapi bahan sajian tentang pemberian hukuman, pada Kolom
Aktivitas kami sajikan bahan permainan yang berjudul "Berjalan di
Jalan yang Benar". Kami harap, Anda dan anak-anak didik Anda akan
menikmati permainan ini bersama-sama.
Ok, segera simak dan selamat mendisiplin anak-anak Anda! (Ra)
Tim Redaksi
"Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan,
dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya,
dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
(Ibrani 12:5b-6)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Ibrani+12:5-6 >
______________________________________________________________________
\o/ARTIKEL (1) ----------------------------------------------------\o/
-o- SEKITAR PEMBERIAN HUKUMAN -o-
=========================
Hukuman pada hakikatnya adalah suatu "penderitaan" yang sengaja
dilakukan guna memberikan suatu asosiasi dengan perbuatan tidak
baik, yang dilakukan oleh seorang anak. Jadi, jika penderitaan
tersebut tidak dirasakan, anak belum merasa dihukum. Dengan
demikian, agar hukuman benar-benar tepat, salah satu syarat yang
harus dipenuhi ialah adanya suatu penderitaan yang dirasakan oleh si
anak.
Tujuan jangka pendek dari menjatuhkan hukuman itu ialah untuk
menghentikan tingkah laku yang salah; sedangkan tujuan jangka
panjangnya ialah mengajar dan mendorong anak-anak untuk menghentikan
sendiri tingkah laku mereka yang salah itu, dengan mengarahkan
dirinya sendiri. Anak-anak ingin dikoreksi, tetapi mereka
menghendaki koreksi dalam suatu semangat umum yang bersifat menolong
dan mengasuh mereka. Dengan menjalankan suatu aturan, Anda menolong
anak-anak untuk memahami batas-batas mereka, dan dengan demikian
membangun serta mengembangkan pengendalian diri sendiri.
Bila hukuman itu tidak dikaitkan dengan disiplin, dalam artian jika
hukuman tidak dikaitkan dengan peraturan yang Anda buat, maka
sifatnya akan berubah menjadi merugikan. Menjatuhkan hukuman pada
seorang anak dapat bersifat merugikan, apabila sebenarnya anak tidak
bersalah sedikit pun juga. Jika anak memandang orangtuanya semata-
mata sebagai orang yang ditakuti, bukan orang yang dapat
melindunginya, maka hal ini juga kurang sehat. Hukuman dapat pula
membawa akibat yang merugikan bila tidak dilakukan dengan segera.
Bila kita lihat, ada beberapa orangtua yang menganggap bahwa
menghukum anak dengan cara memukul merupakan suatu cara yang paling
ampuh. Karena pukulan akan memberikan suatu perasaan tidak enak pada
anak, sehingga anak cenderung untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Namun bagaimanapun juga, memberikan hukuman fisik sebaiknya
dihindarkan, meskipun hanya berupa jeweran atau pukulan kecil.
Hukuman-hukuman fisik ini, seberapa pun ringannya, akan memberikan
akibat buruk bagi perkembangan anak selanjutnya. Si anak cenderung
berkembang sebagai anak yang agresif. Karena mungkin saja, ia akan
meniru semua tindakan kekerasan yang pernah Anda lakukan padanya.
Terutama bila ia menghadapi suatu hal yang dianggap menghalangi
keinginannya, atau bila ia menghadapi anak lain yang lebih muda
usianya, dan lebih lemah daripada dirinya.
Sebetulnya, pada kebanyakan anak, pukulan pada jari atau telapak
tangannya sudah akan menolong, tetapi tindakan ini lebih tepat
dilakukan pada anak-anak yang sudah menjalin hubungan yang serasi
dengan orangtuanya. Dengan kata lain, anak-anak yang sudah mampu
membina hubungan yang harmonis, dalam arti anak sudah dapat dengan
mudahnya diajak berkomunikasi, atau anak yang sudah dapat menerima
baik segala perlakuan orangtuanya. Cara ini tepat pula jika
diterapkan pada anak-anak yang bersifat "alim" dan mudah
menyesuaikan dirinya, sehingga belalakan mata atau kerutan kening
ibunya, misalnya, sudah mampu menghapuskan kelakuannya yang buruk.
Tetapi, menurut pengamatan para ahli, menyentik atau memukul telapak
tangannya pun sudah dianggap tindakan yang berlebihan. Anak-anak
yang demikian tidak begitu sulit diberi pengertian bahwa ayah dan
ibu tidak akan memukulnya (walaupun ia telah lebih dulu memukul),
karena memang pada dasarnya siapa pun tidak boleh "ringan tangan"
terhadap anak.
Anak-anak munafik biasanya dibentuk oleh kebiasaan orangtuanya
sendiri dalam mendidik. Misalnya, karena orangtua tersebut punya
kebiasaan menghukum anak dengan cara kekerasan, sehingga si anak
takut mengakui dan bertanggung jawab terhadap kesalahannya.
Sedangkan pukulan-pukulan itu sendiri, kalau terlalu sering
ditimpakan pada anak, lama-kelamaan tidak ada manfaatnya sama
sekali. Apalagi kalau pukulan itu Anda lakukan pada saat emosi Anda
sedang mendidih, maka hasilnya hanya rasa penyesalan saja.
Bagi mereka yang kontra, antara lain mengatakan bahwa memukul lebih
banyak menimbulkan efek negatif daripada positif. Seorang anak
sering sengaja mengada-ada, bertingkah laku nakal untuk memancing
perhatian orangtuanya. Oleh karena itu, agar anak tidak melakukan
hal-hal yang memancing hukuman sebagai perhatian, seyogyanyalah
kalau orangtua tidak melupakan anak yang baik dan penurut dengan
memuji tindakan-tindakan mereka yang menyenangkan. Apabila menerima
pukulan "sama" dengan mendapat perhatian, anak akan berlomba-lomba
mendapatkan perhatian dari orangtuanya.
Supaya efektif, hukuman harus diberikan langsung setelah anak
melakukan kesalahan. Percuma saja menghukum anak satu atau dua hari
kemudian, setelah ia melakukan kesalahan karena si anak tidak akan
bisa melihat hubungan antara kesalahannya dengan hukuman tersebut.
Hukuman badan yang terlalu sering diberikan, juga menyebabkan anak
seakan-akan "kebal" terhadap hukuman tersebut. Dalam hal ini,
hukuman badan sudah kehilangan fungsi dan artinya sebagai alat untuk
menegakkan disiplin.
Hukuman yang berupa tidak mau memperhatikan anak selama beberapa
jam, dianggap sebagai jenis hukuman yang bermanfaat dan paling baik.
Hukuman itu akan bertambah berat jika disertai dengan kata-kata,
"Sekarang ibu tidak sayang lagi padamu," seperti yang amat sering
dipakai oleh orangtua sebagai ancaman terhadap anak. Seorang ibu
mengatakan, "Saya tahu bahwa kata-kata itu merupakan hukuman yang
paling berat bagi anak saya. Tetapi, hukuman tersebut satu-satunya
jenis hukuman yang masih membawa hasil. Biasanya, setelah dua tiga
menit, ia akan datang menghampiri saya dengan penuh rasa sesal."
Bila orangtua tidak berhati-hati dalam memberikan hukuman fisik,
anak bisa menganggap tindakan ini sebagai suatu bentuk penolakan
terhadap dirinya. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak merasa dekat
dengan orangtuanya. Terkadang pula, anak sudah terlalu besar untuk
dipukul. Orangtua sering melupakan hal ini, sedangkan anak merasa
malu dan sakit hati karena merasa diperlakukan seperti anak kecil.
Dalam keadaan semacam ini, harga diri seorang anak tersentuh. Ia
akan merasa terhina, karena orangtuanya membuat dirinya menjadi
kecil. Bila keadaan ini terjadi berulang kali, maka perkembangan
anak tentu akan dipengaruhi.
Ukurlah berat ringannya hukuman sesuai dengan kesalahan anak. Selalu
bersikap keras sekali atau selalu bersikap halus membuat anak tidak
menyadari kesalahan yang "keterlaluan" dan yang sekali-kali tidak
boleh dilakukan.
Dr. Charles Schaefer, berpendapat bahwa suatu hukuman yang logis,
haruslah proporsional atau seimbang besar/kerasnya terhadap
pelanggaran. Jadi, seorang anak belasan tahun yang menghilangkan
suatu barang, umpamanya, sangatlah tidak layak kalau mendapat
hukuman kerja tambahan selama satu bulan. Tentu saja, hal ini sudah
keterlaluan, yang akan menimbulkan perasaan dan kemauan yang
negatif, serta rasa dendam karena ketidakadilan hukuman itu.
Usahakanlah untuk memperoleh suatu keseimbangan antara besar
kelakuan yang salah itu dengan hukuman. Namun, hukuman-hukuman juga
janganlah sedemikian ringannya, sehingga seperti tidak berpengaruh
atau tidak terasa oleh anak, dan juga jangan terlalu kuat sehingga
merusak.
Dalam hal ini, jelaslah bahwa hukuman-hukuman harus direncanakan
sebelumnya. Dalam "saat-saat yang panas" dimana orangtua sedang
marah dan emosi, biasanya sangat sukar atau malah tidak mungkin,
untuk menentukan hukuman-hukuman yang layak. Jika emosi sedang
tinggi, maka ada suatu tendensi untuk mengakibatkan dan menimbulkan
"pikiran yang tambah panas dan gelap", bukannya tambah terang,
mengenai suatu problema.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Butir-butir Mutiara Rumah Tangga
Penulis : Alex Sobur
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1987
Halaman : 48 - 52
______________________________________________________________________
\o/ ARTIKEL (2) ---------------------------------------------------\o/
-o- PRINSIP HUKUMAN -o-
===============
Pemberian hukuman, sebaiknya cara terakhir yang digunakan dalam
mendisiplin anak. Dewasa ini, hampir semua pendidik Barat menentang
pemberian hukuman secara fisik sebab tindakan itu hanya
menyelesaikan masalah sementara waktu saja dan memberi akibat
sampingan yang tidak baik. Tidak semua penggunaan hukuman atau
hukuman fisik itu tidak berfaedah. Alkitab mengajarkan, "Siapa tidak
menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi
anaknya menghajar dia pada waktunya" (Amsal 13:24), dan juga,
"Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau
memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi
engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati" (Amsal
23:13-14). Tetapi bukan berarti bahwa orangtua atau guru boleh
dengan semena-mena menggunakan haknya untuk memukul anak.
Ada empat alasan mengapa hukuman fisik tidak dapat diterima.
PERTAMA, secara tidak sadar memberi pukulan mengajar anak untuk
memukul. KEDUA, bila orangtua kehabisan akal, lalu dengan emosi dan
kekerasan, ia memukul. KETIGA, dari hasil penyelidikan terhadap
seekor tikus. Bila tikus tidak tersesat baru diberi makanan,
hasilnya akan lebih baik dibanding bila tikus tersesat, lalu diberi
aliran listrik. Jadi disimpulkan bahwa hukuman tidak mendatangkan
hasil. KEEMPAT, memukul dapat melukai harga diri seorang anak,
mengurangi kepercayaannya terhadap pendidik, bahkan menghindari dan
membencinya.
JENIS HUKUMAN FISIK
Ada 3 jenis hukuman fisik:
1. Dipukul
-------
Kalau hukuman fisik tidak dapat dihindari, lakukan dengan kepala
dingin dan jangan dalam keadaan marah. Terhadap anak usia 15-18
tahun, masih boleh dikenakan hukuman fisik yang ringan. Pilihlah
alat yang digunakan dengan cermat, yang penting bukan dalam
suasana marah sehingga memukul dengan keras, menjewer, atau
menonjoknya. James C. Dobson menentang memukul anak dengan
tangan, karena tangan adalah perantara kasih. Ia juga berpendapat
bahwa hukuman fisik hanya sampai batas anak merasa sakit dan
berteriak, baru ada hasilnya dan bukan memukulnya dengan kejam.
Jangan menunggu bila ingin menggunakan hukuman fisik, apakah
perlu atau tidak dan bukan dengan mengatakan, "Nanti, tunggu
ayahmu pulang, baru kamu dipukul."
2. Diasingkan
----------
Orang dewasa sering menggunakan pengasingan sebagai hukuman untuk
anak. Anak diasingkan dari anak lain, tidak diizinkan bermain
supaya dengan tenang, anak dapat mengintrospeksi dirinya sendiri.
Tetapi dalam jangka waktu tertentu, datang dan tanyakanlah kepada
anak, apakah ia memerlukan bantuan dan menguraikan dengan jelas
harapan orangtua atas perilaku mereka. Dalam menerapkan hukuman,
perlu diperhatikan jangka waktunya karena bila waktunya terlalu
panjang atau terlalu pendek, akan kehilangan fungsi hukumannya.
Karena setiap anak itu berbeda sifat, maka penerapan hukuman ini
sebaiknya dilakukan dengan fleksibel. Waktu jangan lebih dari 10-
15 menit, tempat harus aman, dan jangan ada barang yang membuat
anak senang melewati waktu itu.
3. Didamprat
---------
Ada anak yang sangat peka, yang tidak perlu menggunakan hukuman
fisik atau bentuk lain. Hanya dengan perkataan saja, ia sudah
berubah. Hukuman dengan cara mendamprat ini termasuk kritikan,
ajaran, teguran yang keras, agar anak merasa bersalah dan malu.
Bagi anak yang nakal, hukuman ini tidak berguna. Menggunakan
hukuman ini juga harus berhati-hati karena omelan yang berlebihan
akan melukai harga diri anak itu, membuat jurang antara anak dan
orangtua.
USULAN
Cara apa pun yang digunakan harus masuk akal, baru dapat hasil yang
baik. Di bawah ini beberapa usulan:
1. Gunakan cara lain dahulu.
-------------------------
Sebelum menggunakan hukuman fisik, gunakanlah terlebih dahulu
cara penghukuman yang lain.
2. Peringatkanlah terlebih dahulu.
-------------------------------
Pertama kali anak melakukan kesalahan, jangan langsung dihukum,
lebih baik mencari waktu untuk menjelaskan peraturan yang ada
terlebih dahulu. Jangan menghukum anak dalam keadaan tidak tahu,
tetapi setelah diingatkan dan diperingatkan masih berbuat salah,
baru dihukum.
3. Dengan kasih sebagai motivasi.
------------------------------
Hukuman tidak mengandung aniaya, hukuman harus dilakukan atas
dasar kasih dan perhatian, hukuman harus digunakan dalam keadaan
yang sadar dan bukan dalam keadaan emosional dan marah.
4. Pertahankan hubungan yang baik.
-------------------------------
Hukuman hanya bisa dilaksanakan saat adanya hubungan yang baik
antara anak dan yang menghukum; jika tidak, hasilnya tidak
mungkin baik.
5. Memegang waktu.
---------------
Hukuman harus segera ditindaklanjuti. Pengalaman membuktikan
makin panjang waktunya, semakin kurang hasilnya.
6. Mengendalikan tingkat hukuman.
------------------------------
Tingkat hukuman harus tepat. Jangan terlalu keras atau terlalu
ringan. Hukuman fisik yang terlalu ringan tidak akan ada
faedahnya, tetapi bila terlalu keras akan meninggalkan bekas di
dalam hati anak. Akibatnya, semuanya tidak akan mencapai hasil
yang diinginkan.
7. Penjelasan yang gamblang.
-------------------------
Setelah hukuman diberikan, sebaiknya orangtua atau guru
memberikan penjelasan mengapa mereka dihukum dan dilarang
melakukan sesuatu, sehingga hasilnya akan lebih baik, selain
mendidik anak untuk mengatasi masalah.
8. Secara aktif berkomunikasi.
---------------------------
Setelah menghukum anak, harus ada komunikasi yang baik dengan
anak. Umumnya, setelah dihukum, seorang anak ingin kembali
menjalin hubungan yang baik dengan orangtua atau guru. Jangan
mundur, dan sebaiknya manfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan
kasih bahwa anak itu sangat berharga di dalam hati Anda, hukuman
itu diberikan semata-mata karena kasih.
9. Menghadapi masalahnya, bukan manusianya.
----------------------------------------
Hukumlah perilaku anak yang salah dan bukan menghukum orangnya.
Sewaktu menghukum anak, jangan melihat pribadinya, supaya jangan
merusak hubungan kita dengan mereka. Apabila mereka gagal dalam
belajar, kita harus membantu pelajaran mereka, bukan menganggap
mereka anak yang bodoh. Allah menciptakan satu bagian tubuh yang
banyak dagingnya yang dapat terhindar dari luka-luka karena
pukulan, yaitu pantat. "Di bibir orang berpengertian terdapat
hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak
berakal budi" (Amsal 10:13). "Hukuman bagi si pencemooh tersedia
dan pukulan bagi punggung orang bebal" (Amsal 19:29). "Cemeti
adalah untuk kuda, kekang untuk keledai, dan pentung untuk
punggung orang bebal" (Amsal 26:3). Dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan sebagai "punggung".
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Menerobos Dunia Anak
Penulis : DR. Mary Go Setiawani
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
Halaman : 60 - 63
______________________________________________________________________
\o/ AKTIVITAS -----------------------------------------------------\o/
-o- BERJALAN DI JALAN YANG BENAR -o-
============================
Persiapan:
----------
1. Sebatang kapur tulis.
2. Sebuah kursi atau buku nyanyian.
3. Tiga atau empat lembar kertas berisi ayat Alkitab (Yesaya 30:21).
4. Permainan ini diadakan di ruangan terbuka dan cukup luas.
Cara Bermain:
-------------
Pemimpin permainan membuat sebuah garis start, dan juga dua garis
sejajar yang panjangnya kurang dari 10 meter, serta lebarnya 20 cm
di lantai. Pada ujung kedua garis sejajar itu diletakkan sebuah buku
nyanyian atau sebuah kursi yang merupakan "jalan yang benar" yang
harus ditempuh.
Pemimpin membuat "jalan" yang sama kira-kira tiga sampai empat buah,
kemudian meletakkan kursi atau buku nyanyian di ujung "jalan itu".
Para peserta dibagi menjadi tiga sampai empat kelompok. Setiap
kelompok memilih satu orang dari anggotanya untuk mengawasi kelompok
yang lain.
Kemudian, setiap kelompok berbaris ke belakang dan menghadap ke
"jalan" itu. Ketika permainan dimulai, orang pertama dari masing-
masing kelompok membawa kertas yang sudah berisi ayat Alkitab dengan
melewati "jalan" itu. Ujung kaki yang satu harus menempel pada tumit
kaki yang lain secara bergiliran.
Apabila ia tiba di kursi atau buku nyanyian itu, kakinya harus
menyentuh kursi atau buku nyanyian tersebut. Kemudian ia berjalan
mundur dengan cara yang sama sampai pada garis start dan memberikan
kertas itu kepada peserta berikutnya. Yang dianggap sebagai
pelanggaran ialah apabila:
- Kakinya menginjak garis batas "jalan".
- Ia berjalan di luar "jalan".
Apabila salah satu syarat di atas dilanggar, orang yang sudah sempat
maju ke depan harus mulai lagi dari garis start dan yang mundur
harus mulai dari kursi atau buku nyanyian. Yang menjadi pemenangnya
ialah kelompok yang paling cepat menyelesaikan "perjalanan" itu.
Tujuan:
-------
Sebagai orang Kristen, kita wajib berjalan di jalan yang benar,
sebab itulah salah satu perlengkapan rohani kita untuk dapat
mengalahkan serangan dari si Iblis (Efesus 6:14).
Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buku: 100 Permainan dan 500 Kuis Alkitab
Penulis : Dr. Mary Go Setiawani dan Rachmiati
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1994
Halaman : 56 - 57
______________________________________________________________________
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA ------------------------------------------\o/
Dari: Rahmadi Prasetyo <Prast_sby(at)>
>Anak saya 7 tahun, sekarang kelas 2 SD. Dia lagi senang membaca
>Alkitab. Apakah ada buku renungan PA secara harian khusus untuk
>anak-anak?
>Trims. GBU!
>Pras
Redaksi:
Pasti merupakan satu sukacita bagi Anda sekeluarga melihat buah hati
Anda mulai tertarik dengan Firman Tuhan. Umur 3-4 tahun adalah usia
yang tepat untuk menanamkan kesukaan pada buku (meskipun anak baru
bisa melihat gambarnya saja). Pada umur 6-7 tahun anak sudah sangat
mampu membaca buku sendiri. Berikut ini beberapa buku yang bisa Anda
berikan kepada anak Anda:
1. Judul Buku : Alkitab Komik
Penulis : Rob Suggs
Penerbit : Gospel Press
2. Judul Buku : Bertumbuh dalam Kasih (Berseri)
Penulis : Tim Pelayanan Efata
Penerbit : Yayasan Andi
3. Judul Buku : Kumpulan Cerita Alkitab Hosana
Penulis : Angela dan Ken Abraham
Penerbit : Alice Saputra Communications Co.
Selain buku-buku di atas, pasti masih ada buku-buku lain yang bagus
untuk anak-anak. Nah, jika rekan-rekan e-BinaAnak mengetahui
informasi tentang buku-buku tersebut, silakan kirimkan infonya
kepada kami di:
==> staf-BinaAnak(at)sabda.org
______________________________________________________________________
\o/ MUTIARA GURU --------------------------------------------------\o/
Hukuman menyatakan motivasi atau sikap yang salah
dibalik perkataan atau tingkah laku seorang anak.
Hukuman menjelaskan kesalahan dan megajarkan yang benar.
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbeth
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2005 -- YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(\'Recip.EmailAddr\')
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><
|