><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
==================================================
Daftar Isi: Edisi 210/Januari/2005
-----------
\o/ SALAM DARI REDAKSI
\o/ ARTIKEL : Membimbing Para Pelajar dalam Beribadah
di Sekolah Minggu
\o/ TIPS : Ketika Anak Berkata: Aku Tidak Mau Pergi
ke Sekolah Minggu
\o/ DARI MEJA REDAKSI : Kolom Baru e-BinaAnak 2005
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Kesulitan dalam Mencari GSM yang Baru
\o/ MUTIARA GURU
----------------------------------------------------------------------
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
______________________________________________________________________
\o/ SALAM DARI REDAKSI --------------------------------------------\o/
Salam kasih dalam penyertaan Yesus Kristus,
Sungguh luar biasa penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita selama 1
tahun yang sudah kita lalui. Dengan bekal itulah, maka saat ini kita
memasuki tahun 2005 dengan penuh sukacita. Kenangan pahit dan
kegagalan dalam pelayanan di tahun yang lalu tidak boleh mematahkan
semangat kita. Sebaliknya jadikanlah hal itu sebagai motivasi untuk
memperbaiki diri sehingga kita dapat melayani Tuhan dengan lebih
baik lagi di tahun yang baru ini. Untuk itu e-BinaAnak pada tahun
2005 ini ingin mengajak Anda memiliki motto, yaitu mempersembahkan
yang terbaik bagi kemuliaan nama Tuhan.
Ibadah merupakan hal penting yang tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan rohani anak-anak Tuhan. Dengan ibadah berarti kita belajar
untuk mengasihi dan taat akan perintah Tuhan. Ibadah Sekolah Minggu
merupakan tempat awal dimana anak sejak dini belajar untuk mengerti
pentingnya ibadah. Artikel dan Tips minggu ini dapat memberikan
pengetahuan kepada Anda, guru Sekolah Minggu dan para pelayan anak,
mengenai arti penting ibadah SM, dan Anda dapat membagikan berkat
tersebut kepada anak-anak ataupun murid-murid Anda.
Selain topik "Ibadah SM", e-BinaAnak bulan Januari 2005 juga telah
menyiapkan serangkaian topik lain dari tema utama yaitu "MENGAJARKAN
ANAK MENGENAI ARTI PENTINGNYA SEBUAH IBADAH". Rangkaian topik-topik
lain bulan Januari 2005 adalah:
* Ibadah Keluarga
* Ibadah Pribadi
* Ibadah Gereja
SELAMAT TAHUN BARU 2005!
Tim Redaksi
"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan
ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah
kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya
menjelang hari Tuhan yang mendekat."
(Ibrani 10:25)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Ibrani+10:25 >
______________________________________________________________________
\o/ ARTIKEL -------------------------------------------------------\o/
-o- MEMBIMBING PARA PELAJAR DALAM BERIBADAH DI SEKOLAH MINGGU -o-
=========================================================
Mengajak anak-anak untuk datang dan beribadah ke SM ternyata
memerlukan campur tangan dan keterlibatan yang dalam dari guru-guru
SM. Mereka tidak akan pernah mengerti mengapa mereka harus datang ke
SM jika guru SM tidak pernah membimbing mereka mengenai hal
tersebut. Bagaimana cara kita membimbing mereka? Sebelumnya, para
guru harus mengetahui terlebih dahulu mengenai arti pentingnya
ibadah SM itu sendiri. Setelah itu, barulah kita tularkan hal itu
kepada anak-anak SM kita.
APAKAH IBADAH ITU?
Apa yang Saudara lakukan pada waktu Saudara beribadah? Apa yang
dapat terjadi dengan Saudara ketika beribadah? Bagaimana Saudara
mengetahui bahwa Saudara menjalankan ibadah?
Gagasan dasar tentang ibadah terkandung dalam arti kata itu sendiri.
Ibadah berarti perbuatan, dan sebagainya untuk menyatakan bakti
kepada Tuhan. Dan bakti ialah perbuatan yang menyatakan hormat,
tunduk, kasih, setia, dan sebagainya. Wahyu 4:11 mengatakan, "Ya
Tuhan, dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian, dan hormat
dan kuasa; ..." Ibadah mencakup juga pengucapan syukur atas apa yang
dilakukan Allah, kebaikan dan berkat-Nya; dan ibadah meliputi pujian
karena sifat-sifat-Nya. Ibadah juga diuraikan sebagai:
- pertemuan pribadi dengan Allah,
- puncak pengalaman rohaniah,
- pengungkapan jiwa.
Beribadah kepada Allah menolong kita menggenapi rencana-Nya bagi
kita. Kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya dan menikmati
persekutuan dengan-Nya untuk selama-lamanya.
Ingat dan catatlah definisi ibadah ini di dalam catatan pribadi
Anda:
- Ingin mengenal Allah lebih baik
- Menyadari kekudusan dan kebesaran-Nya
- Meminta Dia untuk membimbing kita
- Berdoa dan memuji Dia dengan sepenuh hati kita
- Mencari kehendak-Nya
- Menghormati nama-Nya
- Mentaati perintah-Nya
Ibadah adalah suatu pengalaman yang rapuh. Dengan mudah dapat rusak
oleh gangguan. Masalah kedisiplinan dapat menghalangi semangat
ibadah, demikian juga lingkungan yang kurang baik dan kurang cocok.
Ibadah lebih sering timbul karena melihat teladan orang daripada
karena mendengar ajarannya. Karenanya, tingkah laku pemimpin sangat
penting. Pemimpin yang tidak mempunyai persiapan dan kurangnya
organisasi dapat menghalangi ibadah.
Ibadah yang tidak terjalin bersama pengajaran dapat menjadi tidak
berarti juga. Kita melakukan kekeliruan yang menyedihkan bila
menuangkan pengetahuan ke dalam benak si anak dan tidak memberikan
sesuatu yang menarik hatinya.
KAPAN, DI MANA, DAN MENGAPA HARUS BERIBADAH
Kebaktian pagi atau petang hari tidak pernah dimaksudkan untuk
mengajar anak-anak dan para remaja mengenai bagaimana beribadah atau
mengikutsertakan mereka dalam pengalaman ibadah yang agak lama.
Acara pembukaan Sekolah Minggu seringkali tidak memberikan
kesempatan untuk ibadah yang berarti kepada anak-anak.
Kebaktian anak-anak menyediakan kesempatan yang baik untuk mendidik
anak-anak beribadah. Akan tetapi, tidak semua anak menghadiri
kebaktian tersebut. Ada keluarga yang tidak tinggal untuk ibadah
pagi. Banyak gereja yang tidak mengadakan kebaktian anak-anak.
Pemecahan yang terbaik adalah menyediakan waktu untuk ibadah sebagai
bagian dari jam pelajaran Sekolah Minggu. Dengan cara ini, ibadah
dapat disesuaikan dengan keperluan dan kesanggupan tingkat umur
anak. Seringkali, kebaktian ini sajalah yang dihadiri oleh
kebanyakan pelajar itu. Itulah kesempatan mereka satu-satunya untuk
mendapatkan pengalaman ibadah. Di Sekolah Minggu, pengalaman ibadah
dapat didasarkan pada pelajaran yang diberikan. Seringkali, ada
baiknya untuk menutup jam pelajaran Sekolah Minggu dengan memberi
kesempatan beribadah. Dengan cara ini, maka kebaktian itu dapat
berlandaskan kebenaran utama seperti pelajarannya sehingga
"pengetahuan otak" dapat dijadikan "pengetahuan hati" dengan
menanamkannya di dalam perasaan dan kehendak. Misalnya, pada saat
pelajaran, kita mengajarkan rencana keselamatan sehingga seluruh
kelas mengerti apa yang telah dilakukan Allah bagi mereka dan apa
yang harus mereka kerjakan. Dalam kebaktian ibadah, mereka ditantang
untuk membuat keputusan menerima keselamatan ini.
Tujuan untuk melibatkan para pelajar dalam ibadah di Sekolah Minggu
ialah:
1. Mendidik mereka untuk beribadah.
--------------------------------
Sedikit sekali anak-anak yang pernah diajar untuk beribadah.
Ada yang telah mempelajari sikap badan ketika beribadah tanpa
mengerti kuasa dan tujuan ibadah. Aktivitas ibadah menyediakan
pendidikan ini. Di sini kita dapat membangun landasan bagi
keikutsertaan yang lebih berarti dalam kebaktian ibadah yang
lain.
2. Melibatkan para pelajar dalam perencanaan dan penyajian.
--------------------------------------------------------
Ibadah bukan suatu cabang olahraga yang bisa ditonton. Apabila
para pelajar diikutsertakan dalam ibadah, barulah mereka bisa
menghargainya dengan sepenuhnya.
3. Menjadikan ibadah suatu pengalaman yang menyenangkan dan
bermanfaat.
---------------------------------------------------------
Para pelajar memerlukan pengalaman ibadah yang disesuaikan
menurut kebutuhan, minat, dan kesanggupan tingkat usia mereka.
4. Menyediakan ajaran Alkitabiah tambahan.
---------------------------------------
Kebenaran-kebenaran yang diajarkan dalam kelas dapat ditekankan
kembali dalam pengalaman ibadah. Ajaran Alkitab di Sekolah Minggu
disesuaikan dengan tingkat usia pelajar, mengapa tidak membuat
demikian juga dengan aktivitas ibadah kita? Dalam kebaktian
ibadah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat tingkat usia,
maka pikiran para pelajar dapat diangkat sampai ke segi pandangan
Allah, hati mereka dirayu untuk membalas kasih-Nya yang besar,
dan kemauan mereka ditantang membuat keputusan untuk menerima
Dia.
BAGAIMANA BERIBADAH
Setiap tingkatan umur memberikan kesempatan yang unik yang memimpin
kepada ibadah.
1. Pra Sekolah
-----------
Kelas Bayi dan Kelas Kanak-kanak sangat peka terhadap suasana
rohaniah. Mereka dapat dipimpin ke arah ibadah melalui perasaan
kagum dan takjub. Manfaatkanlah pengalaman ibadah yang timbul
dengan spontan. Rancangkanlah saat-saat ibadah yang singkat dan
sering selama jam Sekolah Minggu atau jam kebaktian anak-anak.
2. Pratama dan Madya
-----------------
Pikatlah hati anak-anak pratama melalui rasa terpesonanya dengan
Allah, surga, dan kegemarannya akan hal-hal yang luar biasa.
Anak-anak madya dapat dipikat melalui pendiriannya yang tinggi
dan kegemarannya akan perbuatan kepahlawanan. Tolonglah mereka
untuk mengerti bahwa Allah itu kudus, tetapi juga penuh kasih.
3. Remaja
------
Para remaja bergumul dengan masalah gambaran tentang dirinya
sendiri dan soal penerimaan di kalangannya. Dalam ibadah, mereka
dapat belajar bahwa Allah menerima mereka sebagaimana mereka
adanya dan menghargai kasih dan ibadah mereka. Kaum muda yang
lebih tua terlibat dalam membuat keputusan hidup yang penting.
Mereka dapat dipimpin untuk menemukan kehendak Allah melalui
pengalaman ibadah secara berkelompok atau secara perorangan.
UNSUR-UNSUR IBADAH
Ada empat unsur dasar yang terlibat dalam ibadah, yaitu nyanyian,
doa, nas Alkitab, dan penatalayanan. Unsur-unsur ini perlu
digabungkan di dalam suatu pengalaman ibadah yang memenuhi tiga
patokan ini:
- program yang dipersatukan,
- program yang beraneka ragam,
- program yang disesuaikan dengan tingkat usia.
Langkah-langkah yang tercakup dalam membangun suatu kebaktian ibadah
adalah:
1. Susunlah program itu di sekeliling suatu tema pokok.
2. Pilihlah satu tujuan yang menuntun ke klimaks perasaan dan
keputusan.
3. Rencanakan untuk memenuhi keperluan dan minat khusus dari para
peserta.
4. Pilihlah bahan yang disesuaikan dengan tiap tingkat umur.
5. Jalinlah pengajaran dan tanggapan kepada kebenaran.
6. Ciptakan suasana pengharapan.
7. Pakailah bahan yang sudah lazim dengan cara-cara yang
beraneka ragam.
8. Pakailah sedikit-dikitnya satu unsur baru di dalam setiap
kebaktian ibadah.
9. Rencanakan bersama dengan para pelajar, rencanakan untuk
mengikutsertakan mereka.
10. Usahakan program itu agar luwes dan informal, tetapi teratur.
11. Bergantunglah kepada Roh Tuhan, mintalah pimpinan-Nya.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Buku Pintar Sekolah Minggu Jilid 2
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996
Halaman : 390 - 292
______________________________________________________________________
\o/ TIPS ----------------------------------------------------------\o/
-o- KETIKA ANAK ANDA BERKATA AKU TIDAK MAU KE SEKOLAH MINGGU -o-
========================================================
"Setiap orang harus pergi Sekolah Minggu, Sekolah Minggu, Sekolah
Minggu. Ibu, ayah, dan anak-anak, semuanya harus pergi Sekolah
Minggu." Jika Anda membaca kalimat-kalimat lama ini, gambaran apa
yang ada di dalam benak Anda? Ayah dan ibu bersama satu atau dua
orang anak mereka dengan bahagia melangkah memasuki gereja? Seorang
ibu yang berjuang seorang diri menyuruh anaknya untuk pergi ke
gereja tepat waktu? Suatu perdebatan yang terus menerus terjadi
antara seorang ibu dan anaknya yang memberontak dan setiap minggu
selalu mengatakan, "Sekolah Minggu itu M-E-M-B-O-S-A-N-K-A-N?"
Bagaimanapun keadaan Anda, ada saatnya Anda sebagai orangtua atau
guru dihadapkan pada keengganan anak untuk datang Sekolah Minggu.
Bagi para orangtua, kejadian seperti ini bisa mulai terjadi di awal-
awal tahun ketika Anda melepaskan rangkulan anak Anda yang sudah
mulai belajar berjalan atau saat Anda mendengarkan rengekan
keputusasaan yang biasa Anda dengar ketika Anda tergesa-gesa keluar
dari ruang anak-anak di gereja. Kemudian, ketika anak Anda tumbuh,
Anda bertanya-tanya bagaimana menanggapi anak Anda ketika mereka
secara tidak diduga berkata, "Apakah hari Minggu ini kami boleh di
rumah saja?" Para guru Sekolah Minggu pun juga merasakan saat-saat
yang mengecewakan dan membuat mereka frustasi ketika mereka
merasakan keengganan anak-anak untuk datang Sekolah Minggu.
Lalu, siapakah yang akan hadir di Sekolah Minggu? Semua orang!
Berikut ini kami berikan beberapa tuntunan tentang bagaimana
menjadikan ini bisa terjadi di keluarga ataupun kelas Anda.
1. Jangan Panik
------------
Ketika pertama kali Anda mendengar teriakan, keluhan, atau
pertanyaan seperti di atas. Ingatlah bahwa sentuhan yang lembut
adalah pendekatan terbaik yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Seorang guru atau orangtua yang memperlakukan seorang anak yang
enggan untuk pergi Sekolah Minggu dengan tindakan-tindakan yang
tidak sesuai dengan firman Tuhan atau dengan kemarahan, akan
berisiko seperti yang dikatakan pepatah, "sekepal menjadi
segunung". Fakta menunjukkan bahwa respon yang biasa-biasa saja
malah akan lebih membantu dalam menyelesaikan masalah. Misalnya,
sebagai orangtua Anda bisa menjawab, "Dalam keluarga kita, kita
selalu merencanakan untuk Sekolah Minggu. Kamu tahu, ada satu hal
yang sangat menarik ketika ikut Sekolah Minggu, yaitu bertemu
dengan teman-teman. Siapa saja teman-temanmu di Sekolah Minggu?"
Mengubah suatu keluhan menjadi suatu pernyataan yang positif
adalah salah satu cara untuk meningkatkan antusias anak terhadap
Sekolah Minggu. Bagi anak yang usianya lebih dewasa, mungkin
diperlukan pendekatan-pendekatan yang hangat. "Saya tahu kamu
tidak mau datang Sekolah Minggu saat ini. Tetapi menurut saya,
Sekolah Minggu merupakan cara yang tepat untuk tetap belajar
tentang Firman Tuhan dan bagaimana Dia menghendaki kita untuk
hidup. Jadi kita akan tetap ber-Sekolah Minggu."
2. Ambil Tindakan
--------------
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan bersama-sama oleh orangtua
dan guru untuk menimbulkan antusiasme anak terhadap Sekolah
Minggu. Orangtua bisa mengambil tindakan yang pertama, khususnya
jika anak tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan teman-
teman Sekolah Minggunya, atau anak Anda adalah anak baru di
Sekolah Minggu tersebut. Rencanakan untuk menyediakan waktu
khusus agar bisa lebih mengenal anak-anak Anda. Dengan demikian,
anak-anak akan merasa lebih nyaman di kelas. Undanglah anak lain
atau keluarganya untuk makan malam atau pesta kebun. Bahkan akan
sangat menolong pula untuk mengajak guru murid Anda mampir
sebentar ke rumah Anda. Buatlah anak Anda menyadari bahwa Anda
juga tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi di kelasnya.
Periksalah PR yang telah diselesaikan oleh anak Anda. Sediakanlah
waktu untuk bisa bercakap-cakap dengan mereka dan menghafal ayat-
ayat Alkitab bersama. Sebelum Sekolah Minggu dimulai, berdoalah
bersama-sama agar Tuhan menolong setiap orang dalam keluarga Anda
untuk bisa menikmati dalam belajar dan memuji Tuhan di gereja.
Mungkin, terkadang orangtua akan mendapati anak mereka tidak
menikmati Sekolah Minggu karena faktor-faktor yang tidak bisa
diubah. Anak Anda mungkin adalah satu-satunya anak perempuan di
kelas yang semuanya anak laki-laki atau mungkin karena acara di
kelasnya yang tidak bervariasi. Dalam keadaan seperti ini, yang
pertama kali harus Anda lakukan adalah mengetahui perasaan tidak
senang yang dirasakan oleh anak Anda. Dengarkan apa yang
dipikirkannya tentang Sekolah Minggu. Kemudian Anda bisa
menyarankan beberapa ide kepada anak Anda. Bisa juga Anda
membantunya dengan menjadi sukarelawan (buatlah kegiatan-kegiatan
khusus, mengingat sesuatu, menyapa, dll.) di kelas. Atau Anda dan
anak Anda memutuskan untuk membuat pesta di rumah dan mengundang
teman-teman sekelasnya. Doronglah anak Anda untuk mengundang
seorang teman untuk mengikuti Sekolah Minggu dengannya. Sementara
itu, berikan pengertian kepada anak Anda bahwa kelas itu mungkin
bukan kelompok yang paling "menyenangkan" yang pernah ia ikuti.
Sangatlah penting untuk memfokuskan pada hal-hal yang positif
daripada faktor-faktor negatif. Seorang guru yang memperhatikan
keenganan seorang anak untuk datang Sekolah Minggu bisa
membicarakannya dengan anak tersebut atau dengan orangtua mereka
untuk menemukan minat atau kemampuan khusus dari anak tersebut.
Merencanakan untuk mengadakan suatu kegiatan belajar dimana anak
bisa menggunakan kemampuan mereka, akan membesarkan minat dan
kecakapan yang dimiliki oleh anak tersebut. Mengadakan kelas di
luar gereja (rumah Anda atau taman) akan menguatkan persahabatan
di antara anak-anak, dan akan menolong untuk mengatasi
perilakunya yang tidak memperhatikan.
3. Jadilah Contoh
--------------
Mungkin tidak akan mengejutkan Anda bahwa perilaku dan tindakan
orang dewasa dalam kehidupan anak akan memberikan pengaruh
terbesar kepada perilaku anak terhadap Sekolah Minggu.
Keputusan-keputusan Anda sebagai orangtua adalah tanda-tanda bagi
anak Anda bahwa Sekolah Minggu itu penting. Pola kehadiran dan
pernyataan-pernyataan yang konsisten mengenai Sekolah Minggu akan
lebih mempengaruhi partisipasi anak Anda daripada hal-hal
lainnya. Guru yang menunjukkan betapa mengasyikannya Sekolah
Minggu itu dan menunjukkan perilaku yang mengasihi terhadap
setiap anak akan mendapatkan respon yang positif di kelas mereka.
Baik orangtua maupun guru, keduanya bisa mengalirkan antusiasme
anak untuk ber-Sekolah Minggu dalam kehidupan anak.
Bahan diterjemahkan dan diedit dari sumber:
Judul Buku : Sunday School Smart Pages
Judul Artikel Asli: I Don´t Wanna Go to Sunday School
Penulis : Wes and Sheryl Haystead
Penerbit : Gospel Light, USA, 1992
Halaman : 155 - 156
______________________________________________________________________
\o/ DARI MEJA REDAKSI ---------------------------------------------\o/
-o- KOLOM BARU e-BINAANAK 2005 -o-
Tahun baru, sesuatu yang baru!
e-BinaAnak menambah satu kolom baru pada e-BinaAnak 2005. Kolom ini
akan kami beri nama "KARYA ANDA".
Kolom KARYA ANDA merupakan sebuah kolom yang berisi tulisan-tulisan
kiriman dari para pembaca e-BinaAnak. Anda dapat mengirimkan bahan
kesaksian guru SM, bahan mengajar SM, kegiatan/aktivitas SM atau
profil SM dimana Anda melayani. Kiriman Anda akan kami muat untuk
menjadi berkat bagi para pembaca yang lain. Untuk setiap kiriman
Anda kami akan mengeditnya agar dapat memberi hasil yang maksimal
kepada pembaca.
Silakan kirimkan KARYA ANDA ke ==> karya-anda(at)sabda.org
Partisipasi Anda pasti akan memberikan banyak berkat bagi rekan-
rekan pelayan anak lainnya, dan membawa kemajuan bagi dunia
pelayanan anak. Jika ada pertanyaan, saran, kritik, dan ide lainnya,
silakan kirimkan ke ==> staf-binaanak(at)sabda.org
Tim Redaksi
______________________________________________________________________
\o/ TANYA JAWAB ---------------------------------------------------\o/
Dari: Maria Sianipar <m_sianipar(at)>
>Apa yang dapat kita lakukan untuk menarik pemuda-pemudi untuk aktif
>dalam pelayanan SM. SM di gereja saya sangat kekurangan guru SM
>padahal jumlah pemuda di gereja saya banyak. Apakah ada rekan-rekan
>yang pernah punya pengalaman ini? Gereja kami hanya gereja kecil
>dengan jumlah anak SM: 40 terbagi dalam tiga kelas. Sejak tiga
>tahun yang lalu, guru yang aktif hanya 3 orang, dan tidak setiap
>minggu kami semua bisa mengajar. Pihak gereja sudah meminta jemaat
>yang terbeban untuk membantu kami, tetapi tetap tidak ada yang
>datang. Apa yang dapat kami lakukan untuk mengatasi hal ini? Terima
>kasih untuk bantuannya.
Redaksi:
Kami dapat memahami kesulitan yang Anda hadapi di SM Anda. Untuk 40
anak, dengan 3 kelas, idealnya memiliki 6 orang guru dan 2 orang
guru cadangan (jika ada guru yang tidak masuk).
Beberapa cara bisa Anda lakukan untuk mendorong jemaat Anda terlibat
dalam pelayanan SM:
1. Membuat pendekatan secara lebih personal untuk mengetahui secara
umum apa alasan mereka tidak ingin terlibat. Dari hasilnya Anda
bisa mengambil langkah yang lebih jelas.
2. Bekerjasama dengan majelis dan pendeta mengadakan pertemuan
dengan jemaat untuk sharing beban tentang visi dan misi pelayanan
SM. Salah satu alasan jemaat tidak terbeban dengan pelayanan SM
karena tidak tahu dengan jelas apa pentingnya SM bagi gereja dan
masa depan gereja. Dalam kesempatan ini, beberapa guru SM yang
setia dapat ikut serta membagikan kesaksian tentang pengalaman
dan beban mereka melayani SM.
3. Mengadakan training mengajar SM, khususnya untuk merekrut para
pemula. Tidak memiliki ketrampilan mengajar atau memimpin pujian
kadang juga bisa menjadi salah satu alasan mengapa mereka tidak
mau ikut melayani SM.
4. Bekerjasama dengan pembimbing pemuda untuk mendorong para pemuda
dan pemudinya terjun dalam pelayanan SM, misalnya dengan
memberikan giliran tugas membantu (main gitar, mengabsen, menjaga
anak-anak, dll.) sehingga banyak pemuda/i bisa mengalami langsung
pelayanan di SM.
Segitu dulu yang bisa kami usulkan. Kami yakin para pembaca
juga bisa memberikan usulan-usulan lain yang dapat membantu Sdri.
Maria. Nah, silakan kirim masukan Anda ke:
==> staf-binaanak(at)sabda.org
Kami tunggu, ya.
______________________________________________________________________
\o/ MUTIARA GURU --------------------------------------------------\o/
Memandang tahun yang baru
adalah bagaikan memandang sebuah buku yang kosong.
Bagaimana rencana Anda untuk mengisinya?
\o/----------------------------------------------------------------\o/
Staf Redaksi: Davida dan Ratri
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2004 -- YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
----------------------------------------------------------------------
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><
|