><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
Daftar Isi: Edisi 206/Desember/2004
~~~~~~~~~~~
\o/ SALAM DARI REDAKSI
\o/ RENUNGAN : Semoga Sukacita Natal Membarui Hidup Anda
\o/ KESAKSIAN NATAL : Berharap dan Berdoa
\o/ AKTIVITAS : Bacalah Buku-buku Natal Bersama Keluarga
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Melatih Kelas Kecil untuk Perayaan Natal
\o/ MUTIARA GURU
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ SALAM DARI REDAKSI
Syalom,
Wah, tidak terasa, saat ini kita telah memasuki bulan Desember,
bulan umat Kristen memperingati hari Kelahiran Yesus Kristus,
Juruselamat dunia. Tentu sukacita besar akan menyertai hari
peringatan istimewa ini. Nah, berkaitan dengan hal tersebut, maka
e-BinaAnak edisi Desember akan menyajikan topik-topik Natal.
Adapun topik-topik yang telah kami siapkan untuk bulan Desember
ini adalah sebagai berikut:
* Sukacita Natal
* Makna Natal
* Kesederhanaan Natal
* Kasih Natal
* Tahun Baru
Sebagai topik pertama bulan ini, "Sukacita Natal" menyajikan
Renungan yang menolong kita untuk mengalami Natal yang penuh
sukacita di dalam Kristus. Ada Kolom Kesaksian Natal yang khusus
kami sediakan di bulan Desember ini. Selain itu, Anda juga dapat
menyimak Kolom Aktivitas dimana Anda akan menemukan ide-ide yang
dapat dikerjakan untuk memperingati Natal bersama keluarga dengan
indah dan penuh sukacita. Supaya Anda tidak penasaran, langsung
saja menyimak sajian e-BinaAnak minggu ini.
Tim Redaksi
"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan
segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh
kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan."
(Roma 15:13)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Roma+15:13 >
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ RENUNGAN
SEMOGA SUKACITA NATAL MEMBARUI HIDUP ANDA
=========================================
Natal adalah masa untuk tertawa dan bersukacita, masa ketika
kebahagiaan kita meluap-luap. Tetapi, kita semakin sering mendengar
kata-kata sumbang, yaitu bahwa masa Natal telah menimbulkan beban
yang berat.
Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah, entah di mana, karena
Kristus tidak pernah bermaksud agar kelahiran-Nya menjadi peristiwa
yang mulia. Kekristenan dirancang untuk meneruskan kuasa dari Yesus
Kristus kepada setiap pribadi; karena itu, perayaan Natal yang
berpusat pada Kristus seharusnya merupakan pengalaman puncak dalam
acara satu tahun.
Mungkin kita memerlukan lebih banyak imajinasi supaya merasakan
kembali pengalaman ini secara pribadi, seperti yang dilakukan orang-
orang yang kreatif.
Contohnya, pada bulan Desember yang lalu, di depan sebuah pompa
bensin digantung sebuah papan yang besar. Di situs tertulis,
"Selamat hari Natal dan Tahun Baru bagi semua pelanggan. Dana 150
dolar yang semestinya dipakai untuk membeli kartu-kartu Natal untuk
Anda telah diserahkan kepada Pendeta Bill Harrod untuk memeriahkan
perayaan Natal di West Dallas."
Di negara bagian lain, sebuah jemaat diminta menyumbang pakaian
bekas untuk orang-orang yang membutuhkannya. Ada satu keluarga yang
menyerahkan pakaian baru, yang dibeli dengan uang yang mereka
kumpulkan sepanjang tahun untuk membeli hadiah Natal.
Pemberian seperti itu tentunya mencerminkan arti Natal yang
sesungguhnya. Cara yang terbaik bagi kita untuk memuliakan Dia ialah
dengan meniru teladan-Nya. Tindakan yang berbelas kasihan yang
merefleksikan inspirasi yang sudah diberikan-Nya kepada kita, akan
mendatangkan kepuasan kebahagiaan yang lebih mendalam daripada
memberi atau menerima hadiah yang paling mahal.
Sepuluh tahun yang lalu, anak perempuan dari Bapak dan Ibu Carl
Hansen di San Bernardino, California meninggal karena penyakit
kanker. Ia berusia tujuh tahun. Setelah perjalanan waktu mengikis
sebagian dari kesedihan mereka, keluarga Hansen menyadari bahwa anak
mereka sudah mengajarkan banyak hal tentang kasih seorang anak,
sehingga mereka bermaksud mengabadikan apa yang sudah diajarkan oleh
anaknya. Mereka memutuskan, Pak Hansen berpakaian seperti Sinterklas
dan mereka akan mengunjungi setiap anak di kota itu yang harus
berbaring di tempat tidur, yang tidak dapat melihat Sinterklas di
toko-toko.
Selama dua tahun, mereka sangat sibuk pada setiap hari Natal,
sehingga keluarga Elk membawa hadiah untuk setiap anak yang
dikunjungi. Pak Hansen belajar sulap untuk menghibur anak-anak.
Mereka mengumpulkan penghibur amatir dan mengadakan pertunjukan pada
setiap kunjungan. Di rumah tinggal dan rumah sakit ada banyak anak
yang haus akan kasih sayang sehingga keluarga Hansen akhirnya
memutuskan untuk membuat kunjungan Natal mereka menjadi suatu proyek
sepanjang tahun.
Pemazmur berkata, "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan,
ya aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman
purbakala." Orang Kristen yang mula-mula merayakan hari Natal dengan
mengingat perbuatan Tuhan dan keajaiban di masa lalu. Natal memang
waktu untuk bergembira, tetapi bukan dengan cara yang berlebihan.
Menggunakan perayaan kelahiran Yesus sebagai alasan untuk memberi
hadiah dan minuman berlebih-lebihan untuk memperoleh keuntungan,
sama saja dengan menghina Tuhan dan menyembah berhala. Berapa banyak
orang yang kita tahu merasa dibebani dengan pemberian hadiah karena
menghabiskan uang melebihi kemampuan mereka? Dalam usaha mereka
untuk bersaing dengan tetangga, banyak orang yang berhutang. Lebih
baik mereka mengungkapkan semangat Natal dengan cara yang lebih
berarti daripada sekadar menghabiskan uang. Ini sebuah contoh yang
saya maksudkan:
Di Hewlett, Long Island, di lingkungan orang Yahudi dibentuk suatu
jemaat, tetapi mereka tidak mempunyai gereja dan berkumpul di sebuah
toko. Anggota jemaat semakin bertambah di toko tersebut dan tepat
sebelum hari Natal tiba, mereka mulai membangun sebuah gereja. Pada
hari Natal dan Tahun Baru, salah seorang tetangga mereka yang
bernama Ricky Cardace, seorang Katholik menyerahkan pompa bensinnya
kepada teman-temannya, orang Yahudi. Mereka akan menjalankannya dan
semua penerimaan pada waktu itu akan dipakai untuk dana pembangunan
gereja.
Jadi, memberi pada hari Natal dapat melalui berbagai bentuk yang
tidak diukur dengan uang. Ini beberapa usulan pemberian yang tidak
diukur dengan uang:
Hadiah yang Anda buat sendiri lebih dihargai -- sesuatu yang
sederhana, seperti kue buah, atau alat pembuka surat, foto rumah
seseorang, bayi atau hewan peliharaan, itu akan lebih dihargai. Kami
mengenal pasangan yang mengecat serambi dan pintu depan rumah
orangtuanya. Bagi yang memberi, hal itu merupakan suatu tindak
kasih, sedangkan bagi yang menerimanya, hal itu merupakan suatu
persembahan kasih.
Pada waktu terjadi krisis keuangan, seluruh anggota keluarga membuat
sendiri hadiah untuk masing-masing anggota keluarga. Natal yang
istimewa ini merupakan saat yang penuh sukacita dan sejak itu,
kebiasaan ini dilakukan rutin setiap tahun.
Apabila Anda mengenal seorang ibu yang mau pergi ke gereja atau
mengikuti kegiatan lain, tetapi tidak bisa menanggung biaya secara
menusiawi, mengapa tidak memberikan selembar cek untuk ongkos
mengasuh anak selama beberapa jam untuk tahun berikutnya?
Kirimlah kenang-kenangan Natal untuk orang yang tidak mengira akan
memperolehnya dari Anda, orang yang sering kita jumpai, tetapi tidak
terlalu kita kenal: tetangga yang mengucapkan selamat pagi setiap
hari; orang yang membersihkan kantor atau ruang kerja Anda; atau
petugas lalu lintas. Terutama orang yang paling menjengkelkan Anda.
Mengetahui lebih banyak tentang orang-orang menjadi pengalaman yang
memperkaya kehidupan. Alami kunjungan yang menyentuh hati ke rumah
sakit, panti asuhan, dan penjara. Membantu keluarga yang kurang
mampu juga merupakan pengalaman yang indah.
Sering anak-anak memperlihatkan kepada kita cara untuk merayakan
Natal dengan kegembiraan yang lebih besar. Murid-murid SMP di New
Jersey memutuskan untuk memberikan uang, yang semula mereka
kumpulkan untuk hadiah Natal kepada orang yang lebih memerlukannya.
Atas bantuan dan nasihat ibu kepala kantor pos setempat, mereka
menyumbangkannya untuk pasien yang menderita akibat melemahnya otot.
Di salah satu sekolah dasar, anak-anak kelas enam diberitahu bahwa
di negara-negara lain, ungkapan rohani pada hari Natal adalah unsur
yang terpenting. Sedangkan pemberian hadiah merupakan bagian kecil
dari Natal dan sering dirayakan secara terpisah, biasanya diadakan
pada hari Sinterklas. Karena anak-anak ini mendapat kesan bahwa
hadiah merupakan ungkapan yang paling utama pada hari Natal, maka
dapat dimaklumi bila mereka terkejut, dan bertanya, "Kalau begitu
bagaimana kita harus merayakan Natal?"
Guru mereka menyuruh mereka semua mencari jawabannya di Alkitab:
salah seorang murid laki-laki menuliskan jawabannya dari Matius
25:35,40:
"Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus,
kamu memberi Aku minum ... segala sesuatu yang kamu lakukan untuk
salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku."
Itu merupakan awal yang baik, kata guru mereka, dan ia menyarankan
supaya mereka menemukan saudara mereka yang paling hina di kota
mereka sendiri. Mereka melakukannya, dan mulai mengumpulkan
sumbangan Natal dalam sebuah kotak yang besar.
Pada hari Natal sudah terkumpul cukup uang untuk makan malam dan
hadiah untuk dua keluarga. Anak-anak sendiri yang mengantarkan
hadiah itu untuk kedua keluarga tersebut. Dalam perjalanan pulang,
salah seorang guru melihat seorang anak perempuan menggenggam erat-
erat kotak kosong yang digunakan untuk mengumpulkan sumbangan itu.
"Saya akan menaruhnya di bawah pohon di rumah," ia menjelaskannya
dengan mata berbinar-binar. "Supaya saya mengingat Natal yang paling
menyenangkan yang pernah saya rayakan."
Semoga Anda dapat mengalami hari Natal yang berpusat pada Kristus
seperti itu. Anda akan menyukainya lebih daripada Natal mana pun.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Kisah Nyata Seputar Natal
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup Bandung 1989
Judul : Semoga Semangat Natal Membarui Hidup Anda
Halaman : 164 - 167
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ KESAKSIAN NATAL
BERHARAP DAN BERDOA
===================
Bagiku, ibu adalah teladan yang paling hebat untuk cinta, kebaikan,
kelembutan, dan pengorbanan. Ia adalah satu-satunya guru sejati yang
pernah kukenal dalam hal memegang teguh prinsip kejujuran. Ia sangat
berarti dalam hidupku. Aku tumbuh dalam sebuah rumah yang dibeli
oleh orangtuaku, tepat sebelum aku lahir. Masa kanak-kanakku
dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang dan cinta yang sangat singkat.
Ibuku menyediakan coklat hangat dan kue-kue pada sore ketika hari
hujan. Ketika aku membutuhkannya, ia melemparkan senyuman hangat dan
tepukan di punggungku. Aku pindah ke tempat yang tak terlalu jauh
ketika aku beranjak dewasa. Lokasinya hanya beberapa mil jauhnya
dari rumah kami. Aku berharap bisa memberikan kasih sayang kepada
anak-anakku, seperti halnya yang kudapatkan dari kedua orangtuaku.
Selain itu, anak-anakku bisa merasa aman dan terlindungi, seperti
halnya yang kurasakan dari orangtuaku.
Tetapi, suatu perubahan terjadi ketika aku berkendaraan di bawah
guyuran hujan pada suatu sore di bulan Desember 1989. Semua perasaan
nyaman hilang dan larut dalam guyuran air hujan. Waktu itu, ibuku
nyaris mati karena penyakit kanker.
Natal adalah waktu yang paling disukai oleh ibuku. Kadang-kadang, ia
mengeluh tentang kesibukannya pada masa itu. Meskipun demikian,
pohon Natal keluarga kami selalu dihiasi dengan hiasan-hiasan
kristal yang mahal. Aku tahu bahwa ibuku sangat bangga dengan pohon
spesialnya.
"Tolonglah, Tuhan," doaku ketika aku berkendaraan di tengah hujan,
"tolong biarkan ibuku hidup untuk satu Natal lagi." Aku masuk ke
tempat parkir sebuah mal perbelanjaan yang ramai. "Aku belum siap
untuk membiarkannya pergi dan aku membutuhkannya di sini." Aku
enggan untuk membeli beberapa hadiah saat itu. Tetapi, aku memilih
beberapa hadiah untuk suami dan putriku. Tidak seharusnya kubiarkan
perasaan kehilangan itu merusak liburan keluargaku.
Aku berdiri di tengah-tengah lokasi yang memamerkan hiasan-hiasan
Natal. Kupikir, sebuah hiasan Natal bisa menjadi hadiah yang
menggembirakan ibuku. Hiasan Natal mungkin bisa menghubungkannya
kembali dengan kecintaannya pada Natal. Selain itu, aku berharap
agar ibuku mempunyai harapan yang baru. Sekali lagi, aku berdoa agar
hadiah Natal bisa memberikan harapan baginya untuk melihat hari yang
diberkati ini sekali lagi. Sebuah hiasan di tempat pameran itu
menarik perhatian khusus. Dengan senang hati, kuambil hiasan itu dan
aku membayarnya di kasir. Aku meletakkannya di atas meja dan
membalikkan sisinya. Di bagian belakang hiasan itu, butir-butir
mutiara disusun dan membentuk kata "hope" (harapan)
Kulihat hiasan itu dengan pandangan tak percaya. Aku yakin bahwa ini
suatu tanda bahwa ibuku akan mendapat harapan yang baru melalui
hadiah ini. Ia bisa bertahan cukup lama untuk merayakan satu Natal
lagi bersama kami.
Aku segera membawa hiasan itu ke rumahnya. Bahkan, aku tidak bisa
berhenti membungkusnya karena keinginanku yang kuat untuk segera
memberikan hadiah itu kepadanya. Aku menggenggam kantong plastik itu
di dadaku. Dengan terengah-engah, kuceritakan hal itu kepadanya.
Kukatakan pada ibuku tentang makna ´harapan´ itu bagiku. Ia
tersenyum ketika mendengarkan ceritaku yang beruntun. Dengan hati-
hati, ibuku menggantungkan hiasan yang gemerlapan itu pada pohon
Natal yang besar. Pohon Natal itu terletak di sudut ruang keluarga.
Tetapi, ´harapan´ ibuku tidak sama dengan harapanku. Ketika Natal
semakin dekat, ibuku mengatakan kepadaku bahwa ia ingin meninggal
dunia sebelum Natal tiba. Ia takut akan mengalami sakit pada hari
Natal sehingga liburan kami pada hari itu dipenuhi dengan kesedihan.
Aku meyakinkan ibuku bahwa ayahku, aku, dan anakku ingin bersamanya
pada Natal untuk yang terakhir kalinya, baik ia dalam keadaan sakit
maupun sehat. Tetapi, ia tetap bertahan. "Aku berharap meninggal
dunia sebelum Natal."
Dan, itulah yang terjadi. Ibuku meninggal pada 7 Desember 1989. Ia
mengakhiri perjuangannya yang panjang melawan kanker. Kukuburkan
hiasan sutra dan mutiara bersamanya. Ia meninggalkan putri satu -
satunya. Aku merasa sedih sekaligus bingung. Bukankah lewat doa aku
bisa menemukan hiasan ´harapan´ sebagai tanda bahwa ia akan bertahan
melewati Natal? Pesan apa yang ada di balik mujizat kecil yang
kualami pada Natal itu?
Akhirnya, aku mulai bisa mengerti makna mujizat itu beberapa bulan
setelah kematian ibuku. Dengan kebijakan-Nya, ternyata Tuhan telah
menjawab doa ibuku, dan bukan doaku.
/Candy Chand -- Antelope, California
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : The Magic of Christmas Miracles
Penulis : Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer -Kelompok Gramedia Jakarta
Halaman : 125 - 128
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ AKTIVITAS
Sukacita Natal bersama keluarga bisa dirasakan dengan kebersamaan
yang indah. Salah satu cara untuk mengisi kebersamaan itu ialah
dengan melakukan berbagai aktivitas. Salah satunya dengan cara
berikut ini.
BACALAH BUKU-BUKU NATAL BERSAMA KELUARGA
========================================
Carilah buku cerita Natal yang bisa dinikmati bersama oleh Anda,
keluarga, atau murid-murid Anda selama masa perayaan Natal. Pilihlah
buku yang menyampaikan pesan Natal yang sudah bergema hampir dua
ribu tahun sejak kelahiran Kristus. Temukan bagaimana para penulis
menerapkan arti kedatangan-Nya ke bumi dalam kehidupan kita.
Tanyakan pada petugas perpustakaan. Sejumlah buku ditulis dengan
suasana Natal atau bagian Natal. Beberapa kumpulan cerita pendek
Natal (baik untuk orang dewasa maupun anak-anak) bisa dibeli di
toko-toko.
Hampir semua buku Natal ini berisi cerita yang menyentuh hati dan
membuat orang menyadari kasih Allah. Dalam memilih cerita Natal
untuk dibaca bersama keluarga, jadikan itu sebagai kriteria utama
Anda. Beritahu petugas perpustakaan Anda mencari buku yang sebagian
mengharukan, sebagian menimbulkan senyum, dan terutama memuliakan
Allah.
Grace Livingston, Hill seorang novelis Kristen yang karyanya
diterbitkan pada pertengahan pertama abad ke-20, menulis sejumlah
novel pendek yang berhubungan dengan Natal. Koleksi karya Pearl S.
Buck dan Charles Dickens termasuk sejumlah seleksi kisah Natal.
Begitu Anda menemukan buku untuk masa Natal ini, susun prosedur bagi
sesi pembacaan Anda.
Kalau anak-anak Anda belum bisa membaca, maka Anda yang harus
membacakannya. Kalau mereka sudah bisa membaca, biarlah mereka yang
membacanya untuk Anda. Atau lakukan secara bergantian.
1. Mungkin Anda bisa membaca beberapa menit di meja sarapan setelah
makan dan sebelum berangkat kerja atau ke sekolah.
2. Mungkin Anda bisa membaca bersama beberapa menit sebelum atau
sesudah makan malam.
3. Mungkin Anda ingin membaca cerita setelah pekerjaan rumah dan
sebelum tidur.
JADIKAN CERITA ITU MENARIK
Bahkan, remaja senang mendengar cerita yang dibacakan, setelah
mereka merasa terbiasa. Ajak mereka untuk memejamkan mata mereka dan
membayangkan adegannya, lengkap dengan musik latar belakang dan efek
suara. Ciptakan versi keluarga gaya sandiwara radio.
Jaga ketegangannya. Baca beberapa halaman saja sehari, atau bab yang
pendek. Bayangkan drama seri. Jangan mendiskusikan cerita itu di
tengah pembacaan. Baca saja. Diskusi bisa dilakukan pada saat lain
atau setelah seluruh buku selesai dibaca.
Cerita yang dibaca bersama pada masa Natal benar-benar sebuah hadiah
dari keluarga untuk keluarga. Itu adalah hadiah yang memperkaya
pikiran, menghangatkan jiwa, dan mengokohkan dasar untuk komunikasi
keluarga. Berapa banyak hadiah lain yang bisa memberi sebanyak itu?
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: 52 Cara Sederhana Membuat Natal Menjadi Istimewa
Penulis : Jan Dargatz
Penerbit : Interaksara, Batam Centre, 1999
Halaman : 120 - 122
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ DARI ANDA UNTUK ANDA
Dari: Sevian <vian(at)>
>Mohon masukan untuk melatih anak-anak kelas kecil (TK - 3 SD) dalam
>menari dan membaca puisi untuk Natal. Sudah 4 kali ini berlatih,
>tetapi mereka masih belum terlalu menghafalkan gerakan ataupun
>kata-katanya. Terima kasih atas pertolongannya.
Redaksi:
Sdr. Sevian, melatih anak-anak memang memerlukan waktu yang lebih
banyak. Selain itu, kesabaran guru SM juga sangat penting. Jika
mereka masih belum bisa menghafalkan gerakan dalam menari, mungkin
karena gerakan yang diberikan terlalu sulit untuk mereka. Untuk anak
kelas kecil, variasi gerakan jangan terlalu banyak. Sedikit variasi,
walaupun terus diulang akan membuat anak kelas kecil cepat
menghafalkan gerakan yang diberikan.
Untuk membaca puisi pun, jika memang sampai mendekati hari H-nya
mereka tetap tidak bisa menghafalkan dengan sempurna, sebaiknya Anda
perbolehkan mereka untuk memakai teks. Tetapi untuk saat ini,
teruslah melatih mereka, jangan putus asa. Tim Redaksi yakin,
perjuangan, kesabaran, dan semangat Anda dan rekan-rekan tidak akan
sia-sia.
Selamat berlatih :))
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ MUTIARA GURU
Allah yang penuh kasih,
jangan biarkan hidup saya penuh sesak,
Seperti pemilik penginapan di Betlehem,
sehingga tidak tersedia ruang bagi-Nya.
Sebaliknya, biarkan pintu hati saya selalu tebuka,
Siap menyambut Raja yang baru lahir,
Izinkan saya mempersembahkan yang terbaik yang saya miliki,
Bagi Dia yang telah memberikan segala sesuatu kepada saya.
- Rosalyn Hart Finc -
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
Staf Redaksi: Davida, Ratri, Murti
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2004 YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://www.sabda.org/pepak/
><> ========= PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK ========== <><
|