><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
Daftar Isi: Edisi 204/November/2004
~~~~~~~~~~~
\o/ SALAM DARI REDAKSI
\o/ ARTIKEL : Menjadi Hamba Seperti Kristus
\o/ TIPS MENGAJAR : Sifat Pelayan Anak
\o/ BAHAN MENGAJAR : Kunjungan Para Gembala
\o/ KESAKSIAN GSM : Pemberian Hadiah untuk Anak SM
\o/ MUTIARA GURU
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ SALAM DARI REDAKSI
Salam dalam kasih Kristus,
Pada dua edisi e-BinaAnak yang lalu, kita telah bersama-sama belajar
dua hal penting yang dapat kita teladani dari Tuhan Yesus, yaitu
"Memiliki Kasih Seperti Kristus" dan "Berdoa Seperti Kristus".
Khusus untuk edisi ini, kami mengajak Anda menyimak satu pelajaran
lagi yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu bagaimana bisa menjadi hamba
seperti Dia.
Salah satu kata Yunani untuk hamba adalah ´duolos´ yang secara
harafiah berarti budak, yaitu seorang pelayan yang tidak mempunyai
hak apa-apa atas dirinya dan yang harus taat 100% pada tuannya.
Berangkat dari arti kata ´hamba´ dalam bahasa Yunani tersebut, maka
bisa disimpulkan bahwa posisi sebagai hamba bukanlah posisi yang
banyak diminati. Mengapa Allah menginginkan kita menjadi hamba?
Yesus, Sang Teladan Sempurna, telah memberi contoh kepada kita. Dia
menyebut diri-Nya sebagai Hamba dan Dia datang ke dunia untuk
melayani dan bukan untuk dilayani. Dengan belajar dan meminta hikmat
dari-Nya, maka kita pun bisa memiliki hati seorang hamba. Bersyukur
karena saat ini Yesus telah memberikan tugas istimewa kepada kita
untuk menjadi seorang hamba Tuhan dalam bidang pelayanan anak.
Sajian kami yang lain adalah Bahan Mengajar, yang menyajikan bahan
untuk Natal. Untuk melengkapi edisi ini, kami juga sajikan kesaksian
dari seorang rekan guru Sekolah Minggu yang membahas tentang ide
hadiah Natal untuk Anak SM. Nah, banyak yang Anda bisa pelajari
bukan? Selamat membaca.
Tim Redaksi
"Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya
menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Matius+20:28 >
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ ARTIKEL
MENJADI HAMBA SEPERTI KRISTUS
=============================
Mungkin sebutan hamba itu agak menyinggung. Maklum, siapa yang suka
diperintah? Lagipula kedengarannya agak feodal dan termasuk zaman
dulu. Namun, kata tersebut dipakai Tuhan Yesus sendiri untuk
menyebut diri-Nya. Dalam Filipi 2:7, Tuhan (kurios) surgawi itu
telah mengambil rupa seorang hamba (doulos). Ia juga mengenakan pada
diri-Nya kata kerja yang berarti melayani pada waktu makan, apabila
Ia mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk
melayani (Matius 20:28).
Apabila kita mengaku, bahwa Yesus adalah Tuhan (dan kita sekali-kali
bukan Kristen kalau tidak mengakui itu, Roma 10:9), dan kalau Dia
yang adalah Tuhan kita, rela untuk menjadi seorang hamba dan seorang
pelayan dengan tujuan untuk melayani kita, bukankah dengan demikian
lebih banyak alasan bagi kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya dan
pelayan-pelayan-Nya? Hubungan inilah yang senantiasa tercakup setiap
kali kita berbicara tentang Tuhan Yesus Kristus. Kita telah mengabdi
kepada-Nya dan telah menjadi pelayan-pelayan-Nya. Perbedaan yang
mencolok ialah bahwa sementara sebutan pelayan dipakai secara
harafiah untuk menyebut mereka yang pekerjaannya melayani, maka
sebutan hamba itu dipakai dalam arti kiasan untuk mengungkapkan
hubungan orang Kristen dengan Tuannya.
Seorang hamba adalah milik tuannya; tubuhnya yang hidup adalah
kepunyaan tuannya dan ia tidak bebas sebelum mati. Ia bukan orang
upahan seperti pekerja-pekerja di kebun anggur yang mendapat upah
setiap hari (Matius 20:1-15; bahasa Yunani: ergates). Ia adalah
mutlak milik tuannya. Dalam hubungan ini, maka jelaslah bagi kita
bagian-bagian Alkitab, seperti misalnya, 1Korintus 6:19-20: "Kamu
bukan milik kamu sendiri; sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu." Yang
hendak dikatakan rasul Paulus ialah bahwa kita telah dibeli Allah
sebagai hamba-hamba-Nya, kita bukan lagi milik kita sendiri.
Kewajiban kita ialah untuk melayani Sang Tuan yang telah membeli
kita untuk bekerja bagi Dia.
Dalam bagian-bagian yang berikut ini disinggung perbedaan mengenai
kelas dalam masyarakat. Rasul Paulus kembali mengatakan, "Adakah
engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa. Tetapi
jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah
kesempatan itu: Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam
pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang
bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya" (1Korintus 7:21-24).
Jadi, artinya seseorang dalam masyarakat sekalipun adalah orang
bebas, namun tetap hamba dari Yesus Kristus. Atau kembali, seperti
tertulis dalam bagian yang cukup dikenal dalam Roma 6:17-22, Rasul
Paulus mengatakan bahwa mereka yang ditulisinya itu dahulu adalah
"hamba-hamba dosa" (ayat 17) tapi sekarang telah menjadi hamba-hamba
kebenaran (ayat 18), dan kemudian (dalam ayat 22) ia memakai kata-
kata "dimerdekakan" dan mengatakan bahwa mereka telah menjadi hamba
Allah.
Kenyataan ini menyingkapkan kuat kuasa kata-kata yang sudah kita
kutip di atas dari Matius 20:28: "Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya
menjadi tebusan bagi banyak orang". Tebusan ialah harga yang harus
dibayar untuk memerdekakan seorang hamba, sehingga dengan kalimat
lain, ayat tersebut dapat diungkapkan sebagai berikut, "Aku telah
datang bukannya untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan
memberikan nyawa-Ku untuk memerdekakan hamba-hamba". Di kayu salib,
Yesus telah membayar tebusan yang memerdekakan kita dari perhambaan
dosa, dan dengan demikian kita telah dipindahkan menjadi abdi dari
pada Dia yang telah menjadi Tuan kita yang baru.
Di sini kita harus berhenti sebentar untuk menanyakan diri kita
sendiri, "Saya ini, hamba siapakah? Apakah saya mengakui Tuhan Yesus
Kristus sebagai Tuan saya? Dapatkah saya berkata, ´Saya bukan lagi
milik saya, saya adalah milik Dia´?"
Di Jepang, gagasan tuan beserta para abdi yang setia sampai mati,
kita jumpai berulang-ulang dalam sejarah dan literatur. Menjadi
orang Kristen berarti mengakui Yesus sebagai Tuan yang berdaulat
atas hidup dan diri kita, sebagai Raja di raja dan Tuan atas segala
tuan, dan menganggap diri sendiri selanjutnya sebagai milik yang
sudah dibeli, hamba dari pada Dia.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Ambillah Aku Melayani Engkau
Judul Artikel Asli: Pertuanan atau Perhambaan?
Penulis : Michael Griffiths
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1981
Halaman : 26 - 29
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ TIPS MENGAJAR
SIFAT PELAYAN ANAK
==================
Menjadi seorang hamba Tuhan dalam bidang pelayanan anak merupakan
tugas istimewa yang Tuhan berikan pada kita. Mengapa? Karena anak-
anak memiliki keistimewaan sendiri di mata Tuhan, oleh karena itu
menjadi pelayan anak merupakan tugas yang istimewa pula.
Tugas istimewa ini hanya dapat diemban oleh seorang hamba Tuhan yang
memiliki sifat istimewa pula. Sifat-sifat seperti takut akan Tuhan,
mau mengampuni, rela bekorban, setia memegang janji, tanggung jawab,
sabar, dan kreatif perlu dimiliki oleh para pelayan anak. Sifat-
sifat ini dapat diperoleh apabila para pelayan anak mau menjadi
pendidik seperti berikut ini:
1. Pendidik yang mencintai Tuhan.
------------------------------
Seorang pelayan anak, pertama-tama haruslah seorang pribadi yang
mengasihi Tuhan. Dengan sifat ini, ia akan dapat mencapai
keberhasilan seperti yang diharapkan Tuhan. Dengan sifat ini
pula, ia dapat memiliki motivasi yang benar untuk melayani Tuhan.
Orang semacam ini tidak akan mudah putus asa, tidak mudah merasa
kecewa, sehingga tidak akan mengambil keputusan untuk
mengundurkan diri sebagai guru. Jadi, karena pelayanan ini adalah
mandat Allah, maka si pelaksana mandat (guru) haruslah orang yang
takut kepada Sang Pemberi mandat (Tuhan). Dengan demikian, mandat
tersebut dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.
2. Pendidik yang mencintai kebenaran.
----------------------------------
Pelayanan yang dilakukan seorang guru adalah usaha untuk
menceritakan atau menyampaikan kebenaran Tuhan. Karena itu,
sebagai pembawa kebenaran, seorang guru juga harus mencintai
kebenaran. Seperti sebuah pipa yang menghubungkan tandon air
dengan wadah penerima, jika pipanya kotor, maka air yang
melewatinya juga akan menjadi kotor. Seseorang yang mencintai
kebenaran akan dapat menyampaikan atau menularkan berita
kebenaran, cara hidup yang benar, dan hidup yang benar pula
kepada murid-murid-Nya.
3. Pendidik yang mencintai murid.
------------------------------
Cinta akan menimbulkan perbedaan dalam tindakan seseorang. Dari
luar orang akan dapat melihat apakah seorang pelayan anak
melayani karena mencintai anak-anak yang dilayaninya, atau karena
ikut-ikutan, mengisi waktu, dan sebagainya. Dengan cinta, seorang
guru akan melayani anak-anak secara lebih sungguh-sungguh. Dengan
cinta, ia rela mengorbankan waktu, uang, dan tenaga atau dengan
kata lain mau membayar harga. Ia juga mau memaafkan kesalahan
anak-anak yang dicintainya. Selain itu, karena cinta pula, ia
akan mengajarkan yang benar, bukan yang salah atau menyesatkan.
Dengan cinta, ia dapat memperhatikan dengan lebih baik, tahu jika
ada anak yang mengalami masalah, dan mampu melihat kebutuhan
anak-anak yang dilayaninya.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
Judul Artikel Asli: Peran Guru
Penulis : Sudi Ariyanto dan Helena Erika
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta, 2003
Halaman : 72 - 74
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ BAHAN MENGAJAR
KUNJUNGAN PARA GEMBALA
======================
Tujuan:
-------
1. Mengajar bahwa Allah sangat mengasihi kita sehingga Ia memberikan
pemberian-Nya yang terbesar kepada kita, yaitu Tuhan Yesus
Kristus.
2. Membimbing anak untuk menyatakan kasihnya kepada Allah atas
pemberian ini.
Ayat Hafalan:
-------------
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera
di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:14)
Pembacaan Alkitab:
------------------
Lukas 2:8-20
Ibadah:
-------
Nyanyikan sebuah lagu Natal dengan perlahan-lahan sementara anak-
anak masuk dan duduk di tempat mereka. Nyanyikan lagu itu bersama
mereka. Mereka dapat melipat lengan mereka seolah-olah sedang
menggendong bayi, atau menepuk-nepuk lutut mereka seolah-olah bayi
itu sedang tidur di pangkuannya.
Doa:
----
"Allah Bapa kami yang di surga, kami senang karena Engkau telah
mengirim bayi Yesus untuk menunjukkan kepada kami betapa besar
kasih-Mu kepada kami. Kami bersyukur karena bila kami mengasihi
Engkau, kami berbahagia. Ingatkanlah kami agar dapat menyenangkan
orang lain. Amin."
Kata Pembuka:
-------------
Pada malam ketika Yesus dilahirkan, para malaikat mengucapkan
beberapa patah kata yang sangat indah kepada sekelompok gembala.
Inilah kata-kata yang terindah yang pernah didengar manusia.
Malaikat-malaikat itu sedang memuji Allah dan mengatakan, "Kemuliaan
bagi Allah."
Penyampaian Pelajaran:
----------------------
PENDAHULUAN
Persembahan dan Hari Ulang Tahun
Pernahkah seseorang memberikan suatu hadiah kepadamu? (Biarkan anak-
anak berbicara tentang pemberian mereka.) Pernahkah kamu memberikan
suatu hadiah ulang tahun? (Biarkan mereka berbicara tentang ini.)
Mengapa kamu memberikan hadiah? Apakah karena kamu mengasihi
sahabatmu? Senangkah bila kamu memberikan hadiah? Allah mengasihi
kita dan Ia memberikan suatu hadiah yang mengherankan bagimu, bagi
saya, dan bagi seluruh dunia. Ia telah memberikannya beberapa waktu
yang lalu. Pemberian Allah kepada kita ialah Yesus. Ia mengasihi
kita dan mengirimkan Anak-Nya (1Yohanes 4:10).
CERITA ALKITAB
Kunjungan Para Gembala
Malam itu sangat sunyi. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit
yang gelap. Hampir setiap orang tertidur dengan nyenyaknya.
Anak laki-laki dan perempuan sedang tidur. Ayah dan ibu sedang tidur
di tempat tidur mereka. Burung-burung sedang tidur di atas pohon.
Namun di luar, di padang rumput, ada beberapa gembala yang tidak
tidur. Mereka sedang menjaga domba-domba mereka.
Tiba-tiba langit dipenuhi dengan suatu cahaya terang, seorang
malaikat yang indah dan bercahaya mendekati gembala-gembala itu.
Gembala-gembala itu sangat takut, mereka jatuh ke tanah.
"Jangan takut," kata malaikat itu. "Aku membawa kabar baik yang akan
menyenangkan hatimu. Tuhan Yesus Kristus baru saja dilahirkan. Kamu
akan menjumpai Dia dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di
dalam palungan."
Kemudian seluruh langit dipenuhi dengan banyak malaikat. Mereka
semua mengucapkan syukur kepada Allah karena bayi Yesus telah
dilahirkan. Mereka mengatakan, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang
mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang
berkenan kepada-Nya." Berita mereka yang menggembirakan itu seolah-
olah memenuhi seluruh dunia. Para gembala belum pernah melihat
pemandangan yang seperti itu ataupun mendengar berita yang amat
menggembirakan itu.
Kemudian malaikat-malaikat itu menghilang. Langit menjadi tenang dan
gelap kembali. Gembala-gembala berkata, "Marilah kita pergi ke Kota
Betlehem dan mendapatkan bayi yang telah dikatakan oleh malaikat
kepada kita."
Jadi, para gembala cepat-cepat melintasi padang rumput dan mendaki
bukit menuju kota kecil Betlehem. Mereka sangat senang karena mereka
telah lama menantikan kedatangan Yesus. "Klop, klop, klop." Sandal
mereka yang besar dan berat terdengar sangat ribut. Seluruh Kota
Betlehem amat sepi.
Hanya di rumah penginapanlah yang terlihat ada cahaya. Mereka
melihat melalui sebuah pintu yang terbuka. Ada seorang bayi mungil
yang baru dilahirkan yang dibungkus dengan kain lampin dan berbaring
di dalam palungan, tepat seperti yang telah dikatakan malaikat itu
kepada mereka. Ibunya duduk di situ di samping bayi Yesus.
Dengan perlahan-lahan, para gembala masuk ke dalam untuk bertemu
dengan bayi Yesus. Begitu mereka melihat bayi Yesus, mereka langsung
mengasihi Dia. "Betapa baiknya Allah," pikir mereka, "Ia mengasihi
kita dan telah mengutus Anak-Nya kepada kita. Inilah pemberian yang
paling indah yang dapat diberikan-Nya kepada kita." Karena Allah
telah memberikan Anak-Nya kepada kita, Ia pun akan memberikan segala
sesuatu yang kita butuhkan. Kita bersyukur kepada Allah untuk Yesus.
Setelah para gembala melihat bayi Yesus, mereka kembali lagi kepada
kawanan dombanya. Mereka memberitahukan kepada setiap orang yang
mereka jumpai tentang bayi Yesus. "Yesus telah lahir! Yesus telah
lahir!" kata mereka. "Allah telah mengutus Anak-Nya kepada kita,
yaitu Yesus." Mereka sangat senang karena mereka telah bertemu
dengan bayi Yesus.
EVALUASI PELAJARAN
1. Sampaikan pertanyaan berikut ini kepada anak-anak:
a. Siapa yang menyuruh para gembala pergi untuk melihat bayi
Yesus?
b. Apakah yang dikatakan para malaikat itu?
2. Bacalah ayat hari ini dari Alkitab Anda. Suruhlah anak-anak
mengulangi Lukas 2:14.
SARAN-SARAN UNTUK KEGIATAN
1. Tempelkan gambar seekor anak domba dengan palungan pada kain
untuk menunjukkan pemberian-pemberian Allah. Hal ini akan
menggambarkan pemberian Allah, yaitu Anak-Nya, Yesus, kepada
kita. Yesus Kristus kadang-kadang disebut Anak Domba Allah.
2. Mainkanlah sebagian cerita ini ketika para gembala mendengar
berita dari para malaikat. Tiga anak, masing-masing memegang kayu
sebagai tongkat gembala, dapat menjadi para gembala. Seorang
anak, (mungkin anak yang berulang tahun) dapat menjadi malaikat.
Beberapa anak dapat berperan sebagai domba-domba.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Cerita Alkitab yang Suka Kudengarkan:
Seri Cerita Alkitab untuk Anak-Anak
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 102 - 105
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ KESAKSIAN GSM
[Red. Berikut ini sharing yang kami ambil dari e-BinaGuru. Sharing
ini ditulis oleh Saudari Diana Lim yang membahas penilaian dan
pemberian hadiah untuk Anak SM. Kami harap melalui sharing ini,
rekan-rekan sekalian mendapatkan masukan ide-ide menarik.
Jika ingin memberi tanggapan, silakan kirimkan e-mail Anda ke:
==> <staf-BinaAnak(at)sabda.org> ]
Dari: Diana Lim <dianat0k(at)>
>Shalom ... rekan-rekan GSM,
>Saya ingin sharingkan dan juga minta pendapat dari rekan-rekan GSM
>tentang apa yang sedang dipraktikkan di SM kami. Mungkin hal yang
>sama, juga pernah atau sedang dialami oleh rekan-rekan yang lain.
>
>Begini ... sejak pertama kali mengajar di SM sampai sekarang,
>kurang lebih sudah 6 - 7 tahun, di SM kami setiap satu tahun sekali
>membagikan hadiah untuk juara-juara kelas. Menurut saya, pemberian
>hadiah untuk juara kelas ini tidak tepat karena tidak ada standar
>penilaian yang baku untuk menentukan juara I, II, III, dst..
>Jadi bisa dikatakan, selama ini GSM di SM kami membuat penilaian
>yang sifatnya subjektif, tergantung pada GSM yang bersangkutan.
>Umumnya yang dilihat GSM adalah ASM yang :
>1. BAIK
> Menilai kebaikan seorang pastilah sangat subjektif sifatnya dan
> juga yang dinilai oleh GSM adalah tingkah laku ASM ybs. selama
> dia berada di SM saja. Belum tentu di rumah, di sekolah, di luar
> SM dia menunjukkan tingkah laku yang sama. Dan memang tidak
> mungkin bagi GSM untuk menilai tingkah laku setiap ASM selama 24
> jam.
>2. PINTAR
> Berdasarkan pengamatan saya selama ini, ASM yang terpilih
> menjadi juara kelas umumnya adalah ASM yang di sekolah mereka
> juga mendapat juara kelas. Jadi, boleh dikatakan GSM cenderung
> menilai seorang ASM berdasarkan IQ-nya. ASM yang bisa menjawab
> pertanyaan yang diberikan, menghafal nats Alkitab, merekalah
> yang terpilih menjadi juara kelas. Sedangkan ASM yang "IQ agak
> rendah" mau tidak mau harus cukup puas dengan melihat teman-
> temannya yang punya "IQ lebih tinggi" mendapat juara. Bukankah
> ini sudah tidak sesuai dengan tujuan SM, yaitu untuk mengajak
> ASM merasakan, mengalami, mengerti kasih, kebesaran, keadilan,
> kesucian Allah dalam kehidupan mereka dan mengajak mereka
> menjadi pelaku FT? Bukannya membuat mereka hafal akan sejarah
> orang-orang Israel atau menghafal isi Alkitab.
>3. SETIA
> Tahun ini kami menerapkan sistem kupon kesetiaan. Jadi setiap
> minggu, ASM yang hadir diberikan kupon yang nantinya mereka
> dapat gunakan pada Pekan Anak. Bulan April yang lalu bertepatan
> dengan perayaan Paskah, kami baru saja mengadakan Pekan Paskah
> untuk ASM dan mereka sangat antusias sekali karena mereka dapat
> memakai kupon ini sesuai dengan kesukaan mereka. Kalau tahun-
> tahun sebelumnya setiap anak mendapatkan bingkisan natal yang
> isinya sama, yaitu bingkisan yang berisi makanan serta souvenir
> natal, seperti pengaris yang dicetak dengan tulisan "Selamat
> Hari Natal" atau lunch box. Tapi dengan adanya Pekan Anak ini,
> mereka bisa membelanjakan kupon mereka untuk sesuatu yang memang
> mereka minati/sukai/butuh. Bagi yang suka makan, beli makanan.
> Bagi yang suka alat-alat tulis, beli alat-alat tulis. Bagi yang
> suka tantangan, bisa bermain di arena permainan atau ketiga-
> tiganya sekaligus sesuai dengan banyaknya kupon yang mereka
> miliki.
>Saya setuju dengan sistem ini (kupon), karena :
>1. Lebih adil. ASM yang setia, tentu mendapat kupon yang lebih
> banyak dibandingkan dengan mereka yang tidak/kurang setia.
>2. Mengajarkan ASM untuk setia. Karena ada satu kebiasaan jelek di
> tempat kami yaitu sindrom Natal. :-)
> Biasanya kalau hari Natal udah deket, maka grafik kehadiran bisa
> naik terus. Tapi kalau Natal sudah lewat, grafik kehadiran
> menurun pelan-pelan. :-)
>3. Mengajar mereka bijaksana dalam berbelanja. Karena mereka yang
> menentukan sendiri apa yang mereka mau beli didalam Pekan Anak.
>
>Kesimpulannya, saya ingin mengadakan reformasi di SM kami. Saya
>sangat berterima kasih jika ada rekan-rekan yang bersedia
>memberikan masukan, pendapat, kritik yang sifatnya membangun,
>karena ada juga kritik yang menjatuhkan, untuk kemajuan pelayanan
>kita bersama. Pendapat dari rekan-rekan semua nantinya akan sangat
>menolong saya untuk mengambil keputusan dan mengangkat ide ini
>didalam rapat GSM kami. Sekedar informasi sekarang ini saya yang
>menjadi koordinator komisi SM.
>Salam
>Diana
Sumber: Milis diskusi e-BinaGuru < subscribe-i-kan-binaguru(at)xc.org >
Arsip : http://purcell.xc.org/scripts/lyris.pl?visit=i-kan-BinaGuru
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
\o/ MUTIARA GURU
Jikalau kita menganggap diri kita seorang hamba,
kita akan terus menerus memandang orang lain
dari segi apa yang bisa kita lakukan untuk melayani.
Dalam semua yang kita lakukan, kita akan bertanya,
apa yang dapat kulakukan untuk menolong?
Inilah yang dimaksud dengan menjadi hamba Tuhan.
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
Staf Redaksi: Davida, Ratri, Natalia
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2004 YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://www.sabda.org/pepak/
><> ========= PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK ========== <><
|