><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
Daftar Isi: Edisi 106/Desember/2002
-----------
o/ SALAM DARI REDAKSI
o/ ARTIKEL : Ibu yang Hebat
o/ TIPS MENGAJAR : Acara Hari Ibu
o/ BAHAN MENGAJAR (1) : Sifat-sifat yang Diinginkan Ibumu
o/ BAHAN MENGAJAR (2) : Memelihara Seperti Gembala
o/ KESAKSIAN : Kue Arbei Raksasa Buatan Ibu
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Minta Penjelasan
**********************************************************************
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
<submit-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
**********************************************************************
o/ SALAM DARI REDAKSI
Salam kasih dalam Yesus Kristus,
Merayakan Hari Ibu di Sekolah Minggu merupakan hal yang sangat
menyenangkan, karena ibu adalah tokoh yang paling dikenal oleh anak-
anak dan yang memberi pengaruh paling besar dalam hidup mereka.
Selain menjadi kesempatan bagi guru-guru SM untuk berkenalan dengan
ibu anak-anak SM Anda, ini juga merupakan kesempatan yang indah
untuk mengajarkan bagaimana menghormati orang tua kepada anak-anak.
Hari Ibu pada tahun ini, tgl. 22 Desember 2002, tepat jatuh pada
hari Minggu. Nah, tepat sekali untuk dirayakan bersama anak-anak SM
Anda, bukan? Silakan simak sajian kami minggu ini, kami yakin Anda
akan mendapat banyak ide dan inspirasi untuk merayakannya, seperti
sajian Tips dan Bahan-bahan Mengajar.
Jadikanlah perayaan Hari Ibu di Sekolah Minggu Anda sebagai hari
istimewa dan penuh kenang-kenangan bagi anak-anak dan ibu-ibu
mereka. Bagi Anda yang sudah menjadi Ibu, kami segenap Redaksi
mengucapkan:
Selamat Hari Ibu!
Tim Redaksi
"Ibumu seperti pohon anggur dalam kebun anggur,
yang tertanam dekat air, berbuah dan bercabang
karena air yang berlimpah-limpah." (Yehezkiel 19:10)
< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Yehezkiel+19:10 >
**********************************************************************
o/ ARTIKEL
IBU YANG HEBAT
==============
Seorang guru taman kanak-kanak dari kota kami bertanya di kelas
sebelum Hari Ibu,
"Mengapa kalian menganggap bahwa ibu kalian yang terhebat?"
Jawaban murid-muridnya sungguh mengharukan. Perhatikan jenis-jenis
jawaban yang banyak muncul. Hal-hal kecil yang dikerjakan bersama-
sama nampak menonjol. Amat menarik untuk memperhatikan hal-hal apa
yang tidak ada dalam daftar. Inilah daftar jawaban dari pertanyaan
"mengapa kalian menganggap bahwa ibu kalian yang terhebat?"
1. Ibu saya sering bermain bersama saya.
2. Karena ia bermain halma semalam dan ia memberikan obat untuk
mengobati flu saya.
3. Karena ia membelikan saya barang-barang.
4. Karena ibu saya mencucikan baju untuk kami dan mencium saya
kalau saya akan berangkat ke sekolah.
5. Karena ia masak, mencuci baju, dan mengasihi.
6. Karena ia memasak makan malam dan memotong rumput.
7. Karena ia masak untuk kami.
8. Karena ia memanggang kentang dan membuat makan malam, dan
merawat adik laki-laki saya.
9. Saya tidak dapat memikirkan kata yang tepat.
10. Karena ia memeluk saya dan ia sangat cantik.
11. Karena ia mencium dan memeluk saya dan merawat saya.
12. Ia adalah tukang masak yang terbaik dan membuatkan saya sup
yang enak.
13. Ia memasak makanan saya dan membawa saya ke tempat tidur.
14. Ia membuatkan daging panggang untuk ayah saya.
15. Ia membersihkan rumah, merapikan tempat tidur, mencuci piring
sehingga kami bisa makan sepanjang waktu.
16. Karena ia memberi hadiah untuk ulang tahun saya.
17. Karena ia merapikan tempat tidur dan menyelimuti kami pada
waktu malam.
18. Karena ia menolong saya, Jeff, Greg dan ayah main ping-pong.
19. Karena ia menolong kami mengerjakan hal-hal. Ia memasak
makanan dan memanggil kami bila waktu makan tiba.
20. Karena saya mengasihinya, dan ayah sangat mencintainya, adik
saya tidak mau menciumnya, tapi suatu saat nenek mencium adik
saya sewaktu ia sedang tidur. Ha!
21. Saya tidak tahu mengapa.
22. Karena ia membuat jagung brondong dan selalu baik pada saya.
23. Karena ia memberikan obat-obatan yang saya perlukan dan ia
merawat saya.
Sumber:
Judul Buku: Tujuh Kebutuhan Anak
Pengarang : John M. Drescher
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1992
Halaman : 45 - 46
**********************************************************************
o/ TIPS MENGAJAR
ACARA HARI IBU
==============
Acara Hari Ibu diselenggarakan pada bulan Desember minggu ke-3 atau
ke-4. Untuk acara Hari Ibu ini, Sekolah Minggu mengedarkan undangan
kepada semua Ibu dari murid SM ataupun ibu-ibu yang belum ke gereja.
Acara Hari Ibu juga dapat diadakan pada saat ibadah SM.
Saran-saran:
------------
1. Dalam acara Hari Ibu, Sekolah Minggu atau murid-murid SM
menyiapkan hadiah yang sederhana untuk ibu mereka. Hadiah ini
bisa berupa kembang, sapu tangan, atau gambar dari anak-anak SM
yang akan dihadiahkan kepada ibunya.
2. Ibu-ibu diundang ke depan untuk foto bersama.
3. Tanyakan kesan-kesan para ibu tentang acara Hari Ibu.
4. Doa khusus untuk ibu-ibu yang dipimpin oleh gembala sidang atau
pemimpin Sekolah Minggu.
5. Mintalah salah seorang anak SM untuk membacakan puisi tentang
"Ibu".
6. Berilah penghargaan kepada ibu yang usianya paling tua atau yang
anaknya paling banyak.
7. Bagi ibu-ibu yang baru pertama kali ke gereja, dapat diminta
untuk mengisi formulir data agar Sekolah Minggu atau gereja dapat
membuat tindak lanjut dengan cara mengundang ibu tersebut untuk
mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja.
Sumber:
Judul Buku: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1996
Halaman : 70
**********************************************************************
o/ BAHAN MENGAJAR (1)
Acara ini khusus diadakan untuk merayakan Hari Ibu di Sekolah Minggu
Anda. Mintalah anak-anak SM Anda untuk mengajak ibu mereka
menghadiri Sekolah Minggu dalam rangka perayaan tersebut. Bisa juga
Anda mengundang ibu-ibu tersebut dengan mengunjungi mereka atau
membuat kartu undangan khusus. Kalau bisa, cerita untuk acara
ini dibawakan oleh salah seorang ibu atau guru SM yang sudah menjadi
seorang ibu.
ACARA HARI IBU DI SEKOLAH MINGGU:
=================================
Sifat-sifat yang Diinginkan Ibumu
Persiapan:
----------
Sediakanlah bunga mawar secukupnya untuk dibagikan satu-satu kepada
setiap ibu pada waktu acara dilangsungkan. Jika bunga mawar hidup
sukar didapat, buatlah dari kertas krep saja.
Nyanyian Bersama:
-----------------
Anak-anak kecil Tuhan Cinta; Kasih Ibu kepada saya.
Cerita (oleh seorang ibu):
--------------------------
Menjadi seorang Ibu Kristen merupakan berkat yang terbesar dan
tanggung jawab yang terbesar bagi orang perempuan. Rumah tangga
bahagia tidak terjadi begitu saja, tetapi merupakan hasil dari
usaha yang bersatu. Jika para ibu dapat menyatakan keinginannya
hari ini, barangkali mereka ingin agar anak-anaknya memiliki
sifat-sifat ini.
1. Kasih.
------
Kasih yang dinyatakan melalui kata-kata dan perbuatan terhadap
seluruh anggota keluarga akan membuat rumah tangga itu bahagia
(Roma 12:10).
2. "Hormatilah ayahmu dan ibumu", adalah perintah Allah.
-----------------------------------------------------
Terimalah nasihat orang tuamu. Itu berdasarkan pengetahuan
yang diperoleh melalui pengalaman (Amsal 13:1).
3. Taatilah orangtuamu dalam segala hal.
-------------------------------------
Mereka berusaha membimbing kita dan menjauhkan kita dari
kesalahan yang akan merugikan kita (Kolose 3:20).
4. Hidup berkenan kepada Allah adalah dasar untuk kebahagiaan
sejati.
----------------------------------------------------------
Anak-anak dapat memperkenalkan Allah dengan hidup bagi Dia di
manapun mereka berada.
5. Kesopanan.
----------
Kesopanan adalah bagaikan oli atau minyak yang dapat mengurangi
pergeseran (perselisihan) yang tidak perlu (Amsal 15:1).
6. Bersih dan rapi.
----------------
Kerapihan dalam hidup pribadi kita akan menghasilkan keharmonisan
yang lebih besar dalam keluarga.
7. Usaha.
------
Pikirlah dengan serius cara-cara kamu dapat menjadikan rumahmu
itu menjadi suatu tempat yang lebih berbahagia. Hindarilah
perselisihan (1Petrus 4:8).
[Tulislah di papan tulis kata-kata di atas pada waktu disebutkan.]
Pembacaan Puisi:
----------------
Seorang anak membacakan puisi ini pada saat ibu-ibu diberikan bunga
mawar oleh anak-anak mereka.
Sekuntum Mawar untuk Ibu
------------------------
Seandainya mawar-mawar ini dapat berkata,
saya tahu apa yang dikatakannya;
Akan dikatakan pada ibu-ibu kami bahwa
kami ingin menghormatinya hari ini.
Sangat lembut harum baunya,
Semerbak memenuhi udara.
Ibu-ibu, tamu yang kami hormati,
Kami ingin nyatakan cinta kami setiap hari.
Doa:
----
Tutuplah acara ini dengan doa ucapan syukur dan penutup.
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1997
Halaman : 60
**********************************************************************
o/ BAHAN MENGAJAR (2)
MEMELIHARA SEPERTI GEMBALA
==========================
Alat Peraga:
------------
Gambar Yesus dengan kawanan domba.
Ayat Alkitab:
-------------
Yesaya 40:11
Tema:
-----
Ibu Membimbing Kita Seperti Gembala.
Penyampaian Cerita:
-------------------
[Tunjukkan gambar kawanan domba yang Anda sediakan.]
Gambar ini memperlihatkan Yesus bersama domba-domba. Dan kita dapat
melihat sifat Yesus yang baik dan penuh kasih dari cara Dia
memelihara domba-domba-Nya. Lihatlah, bagaimana Dia menggendong
domba di tangan-Nya. Semua domba lain berkumpul dekat kaki Yesus.
Seorang gembala menjalankan tugas yang penting. Gembala memelihara
domba-dombanya dengan memberi mereka makan, tidak membiarkan mereka
pergi jauh, dan dengan merawat mereka kalau mereka terluka.
Sebagai anak-anak, kita tidak membutuhkan seorang gembala seperti
domba-domba itu, tetapi kita membutuhkan ibu. Seorang ibu melakukan
tugas-tugas yang sama seperti yang dilakukan oleh seorang gembala.
Seorang ibu memberi makan anak-anaknya dan mengetahui kemana mereka
pergi.
Seorang ibu membimbing anak-anaknya dan dia melindungi anak-anaknya
sekuat tenaga.
Ada banyak cara seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-
anaknya. Kasih seorang ibu itu bukan hanya ditunjukkan melalui
pelukan dan ciuman dan mengatakan, "Ibu sayang kamu," tetapi juga
ditunjukkan melalui segala hal yang dilakukannya bagi anak-anaknya.
Hari ini adalah Hari Ibu. Inilah hari yang tepat untuk mengingat
ibumu dan mengucapkan terima kasih kepada ibumu atas semua yang
telah dia lakukan bagimu. Kamu dapat menunjukkan kasih sayang kamu
kepada ibumu dengan pelukan dan ciuman, serta melakukan hal-hal yang
baik baginya. Dan kamu dapat berterima kasih kepada Tuhan karena
telah memberimu ibu.
Doa:
----
Ya Tuhan, terima kasih untuk ibu yang Tuhan berikan kepada kami,
yang selalu membimbing kami dan menyayangi kami seperti gembala.
Amin!
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Ceritakan untuk Anak-anak Sekolah Minggu:
Sebuah Sumber Ibadah
Pengarang : Donna McKee Rhodes
Penerbit : Gospel Press, Batam
Halaman : 75 - 77
**********************************************************************
o/ KESAKSIAN
KUE ARBEI RAKSASA BUATAN IBU
============================
Waktu saya masih seorang gadis kecil, nenek teman saya, orang
Polandia, selalu menambah satu kursi tambahan di ruang makan
keluarga mereka pada Hari Natal. Saya masih ingat, dengan aksen
Inggris yang kental, nenek itu menjelaskan, "Kita harus selalu siap
untuk menyambut Tuhan di dalam hati kita dan rumah kita. Siapa yang
tahu kapan Ia akan datang kembali?"
Setiap Hari Natal, kata-katanya pasti muncul dalam ingatan saya,
sama seperti gemerlapnya pohon terang. Namun sejak suami saya
bergurau menyebut "'Kue Arbei Raksasa' Buatan Ibu", kata-kata itu
memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada yang pernah saya
bayangkan.
Seandainya Natal tahun itu tidak jatuh pada hari Sabtu, mungkin tiga
hari sebelumnya saya tidak akan pernah berpikir untuk mengundang
lima puluh keluarga tetangga menikmati kue dan minuman pada pesta
hari Minggu sore.
Suami saya dan ketiga anak laki-laki saya yang masih remaja mencoba
mengendurkan semangat saya dengan berbagai alasan: tidak ada cukup
waktu untuk mempersiapkan ... terlalu dekat dengan Hari Natal ...,
terlambat untuk mengirim undangan.
Karena saya sudah dapat mengantisipasi keberatan mereka, saya
langsung menyela, "Saya sudah mengundang melalui telepon. Sejauh ini
tanggapan mereka baik sekali! Hampir setiap orang berkata,
'Sepertinya menyenangkan -- kami akan berusaha datang.'"
"Lagi pula bukankah Natal merupakan waktu untuk menebarkan kasih
kepada tetangga kita? Jangan ditunda-tunda lagi!"
Apa yang tidak diketahui oleh suami saya dan ketiga anak laki-laki
saya ialah hal yang tersembunyi di balik gagasan saya yang tiba-
tiba ini, yaitu angan-angan yang terus saya kembangkan dalam
kehidupan pernikahan saya: membuat pesta Natal yang meriah seperti
yang terpampang di majalah keluarga edisi Natal. Unsur-unsur yang
mendukung pesta semacam itu tidak banyak -- rumah yang dihias
dengan indah, hidangan khas Natal yang berlimpah-ruah, wajah ramah
tuan dan nyonya rumah, cahaya lilin yang lembut dan tamu yang
memenuhi ruangan yang wajahnya tersenyum gembira penuh penghargaan.
Tanpa mempedulikan kecemasan dan peringatan mereka, saya tetap
melanjutkan, "Kita bisa menaruh lampu-lampu Natal pada kedua pohon
cemara di dekat pintu masuk, menjalin pita dan hiasan Natal di
sepanjang tangga, menggantung buah 'mistletoe'*1 di ruangan dekat
pintu masuk dan deretan daun 'poinsettia'*2 menghias jendela."
Lalu saya menambah dengan penuh keyakinan, "Saya tahu kita bisa
mengerjakannya, asalkan kita semua bekerja sama."
[Red.:
*1 (Mistletoe: tanaman hijau sepanjang tahun dengan buah kecil
berwarna putih yang tumbuh sebagai parasit pada beberapa pohon
tertentu -- jika ada dua orang yang berdiri di bawah tanaman
mistletoe tersebut, itu berarti salah satu dari orang tersebut
harus memberi ciuman kepada orang yang satu lagi.)
*2 (Poinsettia: sejenis tanaman tropis dengan bunga kecil berwarna
kuning dan berdaun merah -- biasanya tanaman ini berbunga di
musim Natal.)]
"Nah, anak-anak," keluh suami saya pasrah, "sepertinya Ibu benar-
benar menginginkan 'Kue Arbei Raksasa' untuk Natal hari Minggu sore
ini." Mereka semua tahu bahwa rencana ini tidak bisa diubah lagi.
Bagaimana kami menyelesaikan persiapannya sejak tanggal 22 sampai 26
Desember masih belum terbayangkan karena kami masih harus merangkai
daun, membersihkan karpet dua kali, membereskan lemari dinding yang
penuh sesak dengan hadiah-hadiah yang baru dibuka, memanggang serta
menyusun kue-kue yang baru keluar dari oven sepanjang siang dan
malam.
Hari Minggu, jam tiga sore, kami sudah siap. Meja makan kami penuh
dengan kue Natal seperti mosaik yang tersusun dari berbagai bentuk
dan jenis kue buatan sendiri yang membangkitkan selera. Saya berdiri
di dekat semangkuk minuman buah beri. Suami saya dan anak-anak ada
di dekat pintu depan. Anjing spaniel kami yang senang melompat,
berbaring di dekat perapian mengenakan rompi beludru berwarna merah,
khusus untuk kesempatan ini. Semuanya hampir sempurna. Hanya kurang
tamu yang memeriahkan rumah kami.
Setelah satu jam berlalu, saya merasakan ada yang tidak beres. Hanya
sedikit tetangga yang datang. Pesta itu sangat sepi dan lengang.
Setelah dua jam berlalu saya merasa seolah-olah kue-kue itu jatuh
berantakan di sekitar saya. Hanya ada sedikit tamu yang datang lagi,
mengucapkan selamat Hari Natal. Saya tetap menunggu dan berharap
pada menit-menit terakhir akan ada tamu berdatangan, tetapi harapan
itu tidak pernah mewujud.
Apa yang salah? Bukankah sewaktu ditelepon setiap orang
kedengarannya tertarik dan berjanji mau datang?
Pada saat itu saya sama sekali belum siap mendengar berbagai
penjelasan yang akan muncul: "Anak-anak yang lelah", "Tamu yang
tidak terduga", "Pulang terlambat", apalagi alasan "Maaf, kami
lupa." Tentu saja waktu saya mengundang lewat telepon, saya berusaha
supaya tidak terdengar terlalu mengharapkan. Rupanya nada saya
terlalu memaksa.
Waktu kami membereskan piring dan cangkir, suami saya mencoba
menghibur saya, "Semuanya berjalan lancar. Saya rasa orang-orang
yang datang benar-benar menikmatinya."
"Kue-kue itu rasanya sungguh nikmat," sela si bungsu.
"Ya, tetapi bagaimana dengan begitu banyak kue yang masih tersisa,"
tanya kakaknya. "Meskipun kita semua memakannya, sisanya pasti masih
banyak."
Saya memandang pada tumpukan permen jeruk asem, buah-buahan yang
berbentuk segi empat, tetesan air jeruk manis dan kuah kari, permen
coklat dan manisan buah almond, belum lagi gambar-gambar yang biasa
digunting pada Hari Natal. Sisa kue yang begitu banyak sama sekali
tidak pernah terpikirkan oleh saya.
"Saya akan menyimpan semuanya ke dalam lemari," kata saya. "Bila
kalian tahu kue ini harus diapakan, lakukan saja, tidak usah
memberitahu saya." Saya membanting pintu lemari dengan pedih dan
kecewa.
Tidak ada seorang pun yang menyebut-nyebut 'kue' atau 'pesta' di
rumah kami sepanjang minggu itu. Karena itu, saya merasa heran
sewaktu membuka lemari pada akhir minggu dan tidak menemukan satu
kue pun yang tersisa. Ke mana perginya kue-kue itu?
Saya sendiri hanya dapat memberi penjelasan untuk dua kotak kue.
Saya membawanya ke panti asuhan. Di sana, teman saya yang tuna netra
meraba-raba kue yang saya letakkan dalam tangannya, dan ia tampak
senang mengenali bentuk bintang, malaikat, serta kue jahe berbentuk
anak laki-laki.
Malam itu, di ruang makan, semua misteri saya terjawab. Suami saya
memberikan satu kotak untuk teman kerjanya yang pergelangan kakinya
terkilir pada Hari Natal. Anak laki-laki kami yang sulung memberikan
dua kotak untuk temannya yang bekerja sebagai relawan di penjara
terdekat dan kue itu dibawanya ke sana. Anak laki-laki kami yang
kedua memberikan satu kotak untuk tetangga baru kami yang pindah
tiga hari sesudah Natal. Anak bungsu kami, dalam perjalanannya
mengantar koran, memberikan satu kotak untuk seorang ibu yang belum
lama kehilangan suami dan anak laki-lakinya dalam kecelakaan yang
tragis.
Tiba-tiba saya merasa lebih dari satu misteri yang sudah terjawab.
Termasuk kata-kata yang menggema dari masa kanak-kanak saya, "Kita
harus selalu siap untuk menyambut Tuhan di dalam hati dan rumah
kita."
Tetapi sebenarnya saya tidak mengundang siapa pun. Saya juga tidak
menyediakan tempat. Hati saya meluap dengan kebanggaan dan
kesombongan untuk mewujudkan pesta sempurna seperti yang terpampang
di majalah. Tidak ada tempat bagi Tuhan di sana. Justru setelah
pesta selesai saya baru memberi kesempatan bagi kami semua untuk
menyediakan tempat bagi Dia.
"Tahukah kalian," tanya saya perlahan, "bahwa kita merayakan pesta
Natal yang kedua? Pesta yang sangat sukses. Semua yang diundang
datang. Bahkan ada tamu yang tidak diundang, tamu yang sangat
istimewa."
"Apa maksudmu?" tanya suami saya kebingungan.
"Siapa?" tanya anak-anak serempak.
Lalu dengan mantap saya berkata, "Ingat, Segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku." (Lihat/Baca Matius 25:35-40)
Semua mata saling berpandangan; tidak ada keraguan di dalam hati
maupun dalam benak kami siapa "Tamu" yang istimewa itu.
-Deana Kohl-
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku: Kisah Nyata Seputar Natal
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1998
Halaman : 20 - 23
**********************************************************************
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA
Dari: From: "Rudyanto Liman (dnet)" <liman(at)>
>Terima kasih atas emailnya, sungguh berbobot dan aplikatif. Namun
>terus terang saya bingung atau mungkin lebih tepat saya lupa,
>apakah saya pernah submit? Mohon diberi penjelasan. (Saya jangan
>diremove, ini cuman ingin tahu aja).
>
>Terima kasih atas perhatiannya.
>
>Rudy
Redaksi:
Terima kasih untuk dukungan yang Anda berikan.
Mengenai terdaftarnya Anda sebagai pelanggan e-BinaAnak, kalau
memang Anda tidak pernah merasa mendaftarkan diri pasti ada rekan
Anda yang dipakai Tuhan untuk mendaftarkan e-mail Anda. PUJI TUHAN!
Surat Anda sangat sesuai dengan suasana Natal. Kita yang tidak bisa
menyelamatkan diri kita, mendapatkan keselamatan itu dalam Yesus
Kristus. Begitu juga dengan Anda yang tidak mendaftarkan diri dalam
e-BinaAnak, tetapi Anda mendapatkannya. WOW ... !!!
Jangan lupa juga untuk membagikan berkat kepada rekan Anda yang lain
dengan cara mendaftarkan alamat e-mail mereka sebagai penerima
e-BinaAnak. Anda dapat mengirimkan alamat e-mail mereka kepada Tim
Redaksi e-BinaAnak:
==> <Staf-BinaAnak(at)sabda.org>
atau melalui situs di alamat:
==> http://www.sabda.org/pepak/e-binaanak/
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Akhirnya kami ucapkan Selamat Natal, Tuhan memberkati!
**********************************************************************
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://www.sabda.org/pepak/
**********************************************************************
Staf Redaksi: Oeni dan Davida
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2002 YLSA
|