><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
Daftar Isi: Edisi 050/Oktober/2001
-----------
o/ SALAM DARI REDAKSI
o/ ARTIKEL : Peran Sekolah Minggu dalam Membentuk
Karakter Anak
o/ TIPS MENGAJAR : Bagaimana Mengerti Karakter Anak yang
Abnormal
o/ SERBA-SERBI : Dia yang Memegang Saya
o/ SHARING GURU SM : Sharing dari anggota Milis Diskusi
e-BinaGuru (Sdr. Didi)
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Ahli Psikologi Anak
***********************************************************************
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi di:
<BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
***********************************************************************
o/ SALAM DARI REDAKSI
Salam Sejahtera dalam Kristus,
Melanjutkan pembahasan edisi minggu lalu, kali ini e-BinaAnak akan
membahas peran Sekolah Minggu dalam membentuk karakter anak.
Sekolah Minggu memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk
karakter Kristen anak karena Sekolah Minggu mengajarkan kebenaran
Firman Tuhan, pengenalan anak pada Kristus dan membawa mereka untuk
berada dalam pimpinan Roh kudus. Untuk itu guru SM harus sadar
betul akan peranannya yang sangat penting, yaitu untuk memastikan
bahwa SM betul-betul memberikan apa yang dibutuhkan untuk membentuk
karakter Kristen anak.
Selamat melayami,
Tim Redaksi/Tabita
"Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan
manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru
yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan
yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kolose 3:9-10)
< http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kol/T_Kol3.htm 3:9 >
*********************************************************************
o/ ARTIKEL
PERAN SEKOLAH MINGGU DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK
==================================================
Dalam sebuah acara tanyajawab dengan Dr. Stephen Tong (yang ditulis
dalam bukunya "Seni Membentuk Karakter Kristen"), salah seorang
peserta bertanya: "Apakah peranan Sekolah Minggu dalam membentuk
karakter anak?" Jawaban pertanyaan tsb. kami kutipkan di bawah ini:
"Dalam soal waktu, Sekolah Minggu mempunyai bagian yang paling
kecil dalam hidup seorang anak. Seorang anak mempunyai paling
tidak tiga puluh lima sampai empat puluh sembilan jam per minggu
di sekolah, dan mempunyai lebih dari seratus jam per minggu di
rumah, namun hanya mempunyai waktu dua jam di Sekolah Minggu.
Dalam soal keseimbangan, Sekolah Minggu mempunyai tugas yang
terbesar, karena pembentukan karakter yang gagal di rumah atau
tidak didapat di sekolah akan didapat di Sekolah Minggu.
Guru-guru Sekolah Minggu mempunyai hak yang besar dalam
pembentukan iman, pengharapan, kasih, firman, pengertian, doktrin,
dan pimpinan Roh Kudus dalam diri anak-anak itu. Oleh sebab itu
guru Sekolah Minggu tidak boleh menghina kedudukannya sebagai guru
Sekolah Minggu.
Seringkali sepatah kata mampu mengubah hidup seseorang. Demikian
pula dengan Sekolah Minggu, yang walaupun hanya dua jam per minggu
juga mampu memberikan pengaruh seumur hidup. Oleh karena itu waktu
yang singkat tetap bernilai penting bila dipergunakan sebaik
mungkin. Bila Tuhan bekerja didalamnya. maka sedetik perkataan
akan mengubah masa depan anak didik kita."
Pendapat beliau di atas menolong kita untuk mengerti bahwa jika
Sekolah Minggu memiliki guru-guru yang mengajar anak-anak didiknya
dengan benar maka peranan SM dapat memiliki peran yang sangat
penting dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu untuk
menyambung pembahasan ini, kami akan kutipkan pendapat Dr. Stephen
Tong tentang faktor-faktor apa yang berperan dalam pembentukan
karakter yang dituliskan dalam bukunya yang berjudul :"Arsitek
Jiwa".
Menurut beliau ada 4 faktor yang sangat beperan dalam pembentukan
karakter yaitu: Kebenaran, Agama, Kesulitan (kesengsaraan dan
penganiayaan) dan Pembentukan Roh Kudus. Kami akan memberikan
ringkasan dari masing-masing faktor tsb. sbb.:
1. Kebenaran
---------
"Kebenaran bagi orang Kristen adalah dasar dan prinsip, rencana
dan perintah-perintah Alkitab, yang terwujud di dalam diri
Kristus dan pengajaran-Nya. Ini akan membentuk diri kita. Itu
sebabnya, di dalam pendidikan dan pembentukan karakter, jangan
lupa bahwa Firma Tuhan itu penting sekali. Pengajaran tentang
Kristus menjadi sedemikian penting."
Dr. Stephen Tong juga mengatakan bahwa dia kurang setuju dengan
pemikiran John Locke mengenai "tabula rasa". Jika kita setuju
dengan prinsip seperti ini, itu berarti kita tidak sesuai dengan
kebenaran Alkitab, karena Alkitab mengatakan bahwa kita tidak
dilahirkan dalam keadaan "kertas puith". tetapi kita sudah
dilahirkan dengan dosa turunan. Dalam hal ini sebagai guru SM
kita harus mengerti pokok pikiran teologi, supaya kita mengerti
pokok-pokok yang diajarkan dalam Firman Tuhan. Oleh karena itu
kita percaya bahwa hidup seorang anak tidak lagi betul-betul
putih lagi. Disini kita mengerti bahwa "sebagai guru, selain kita
menulis sesuatu kepada diri anak, kita terlebih dahulu juga harus
mencuci dan membersihkan dia dengan darah Kristus. sehingga
kertas itu bisa benar-benar putih dan bersih. Penting kita
melihat pendidikan bekerja sama dengan penginjilan dan
keselamatan."
2. Agama
-----
Faktor kedua adalah agama.
"Kalau pendidikan mengisi hidup, dan makna hidup dan mengarahkan
jalan yang benar di dalam karakter manusia, maka agama mengontrol
dan menguasai kepribadian. Karena pengotrolan ini, orang selalu
mempunyai perasaan takut di bawah ikatan agama. Di mana agama
berkuasa besar, di situ masyarkat atau manusia dihantui oleh
suatu kekuatan supra-alami dan tidak berani sembarangan hidup.
Hal ini baik untuk menjaga dan menghentikan berkembang dan
merajalelanya kejahatan secara berlebihan itu. Itu berarti
dengan semakin banyaknya agama di dalam dunia ini, lebih banyak
orang tidak berani berbuat dosa."
Namun, sebaik apa pun ajaran sebuah agama, tidaklah cukup untuk
mampu mengubahkan kepribadian seseorang menjadi sosok pribadi
baru yang mencerminkan kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya Yesus
berkata kepada seorang pemimpin agama terkemuka pada masa itu
yang bernama Nikodemus, "Engkau harus dilahirkan kembali"
(Yohanes 3:3).
Oleh karena itu, Sekolah Minggu bukan mengajarkan agama kristen,
melainkan memperkenalkan dan membawa anak-anak kepada Yesus
Kristus yang sanggup mengubah diri mereka menjadi pribadi yang
baru, suatu ciptaan baru, melalui peristiwa "dilahirkan kembali"
/"kelahiran baru". Penting bagi guru Sekolah Minggu untuk terus
menerus menyampaikan berita keselamatan serta membimbing anak-
anak yang telah siap untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat mereka pribadi.
3. Kesulitan, Kesengsaraan dan Penganiayaan
----------------------------------------
Mengenai faktor ini Dr. Sthepen Tong mengatakan bahwa
kesengsaraan-kesengsaraan atau kepahitan-kepahitan, mengukir,
melatih, meneguhkan, tetapi sekaligus membahayakan satu
kepribadian. Kesengsaraan dan kepahitan membentuk pribadi
seseorang dan memberikan akibat kepada keputusan-keputusan
yang akan pribadi ambil bagi pribadi itu sendiri.
Peran Sekolah Minggu dalam hal ini adalah menolong anak-anak
untuk belajar menerima bahwa hidup tidak senantiasa manis, kadang-
kadang juga pahit. Namun guru perlu menolong anak untuk mengerti
bahwa kepahiran tidak selalu mendatangkan malapetaka, adakalanya
justru mendatangkan kebaikan kita. Kalau Tuhan ijinkan kesulitan
dan kesengsaraan datang datang dalam hidup kita, maka kita harus
bisa menggunakannya untuk membentuk karakter kita.
4. Roh Kudus
---------
Roh Kudus memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk
kepribadian dan karakter seorang anak, karena Roh Kuduslah yang
akan memimpin, menolong, dan menyertai anak melalui kehidupan
sehari-hari mereka. Roh Kudus dikirimkan Allah untuk menjadi
Penolong bagi anak-anak-Nya.
Mengenai hal ini Sthepen Tong menyarankan pada guru Sekolah
Minggu untuk:
a. Belajar dengan sungguh-sungghu tentang doktrin Roh Kudus.
b. Sungguh-sungguh mau taat kepada Roh Kudus.
c. Dengan penyerahan total menyadarka seluruh pelayanan guru
Sekolah Minggu kepada pimpinan Roh Kudus, agar guru
menikmati sukacita karena Roh Kudus memberikan minyak
pengurapan kepada guru.
d. Menyerahkan setiap pribadi yang diajar dan dididik kepada
Roh Kudus dan mengajar mereka untuk taat kepada Roh Kudus.
Oleh karena itu, Sekolah Minggu perlu mengajarkan kepada anak-
anak bahwa Roh Kudus senantiasa memimpin dan menyertai mereka
dimana pun dan dalam situasi apa pun. Guru Sekolah Minggu juga
perlu mengajarkan pada anak untuk senantiasa taat pada pimpinan
Roh, supaya mereka akhirnya boleh menjalani hidup ini di dalam
kebenaran yang sejati, yaitu hidup di dalam terang Firman Tuhan.
Melalui apa yang sudah kita bahas di atas, kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa Sekolah Minggu adalah peluang emas bagi anak untuk
mengenal Kristus. Apabila anda mempunyai kesempatan untuk mengajar
di Sekolah Minggu, maka sebenarnya ini suatu pintu kesempatan indah
yang terbuka di hadapan anda. Usia muda, atau usia anak-anak, adalah
masa yang paling tepat untuk membentuk karakter Kristen anak-anak.
Siapkah anda dipakai Tuhan untuk menolong anak-anak itu memiliki
karakter Kristen?
Tuhan memberkati pelayanan anda!
Sumber referensi yang dipakai:
1. Judul buku: Seni Membentuk Karakter Kristen
Penulis : Dr. Mary Go Setiawani & Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 133
2. Judul buku: Arsitek Jiwa
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 75-77
*********************************************************************
o/ TIPS MENGAJAR
BAGAIMANA MENGERTI KARAKTER ANAK YANG ABNORMAL
==============================================
Apa yang menyebabkan suatu ketika karakter bisa menjadi tidak
normal? Dalam buku "Arsitek Jiwa", Dr. Sthepen Tong menuliskan ada
tiga penyebabnya, yaitu:
1. Penerimaan Kasih yang Tidak Normal
----------------------------------
Inti yang disampaikan oleh Dr. Stephen Tong dalam bukunya tsb.
a.l.: Kurang kasih maupun kasih yang berlebihan akan dapat
merusak perkembangan pribadi seorang anak. Bila seorang anak
kurang mendapatkan kasih, namun malah banyak mendapatkan tekanan
dalam hidupnya, ia akan bertumbuh menjadi seorang yang membenci
orang lain. Sebagaimana dia diperlakukan sewaktu masih kecil
(misal: dihajar, diperlakukan tidak adil, tidak dihargai,
dianaktirikan, dsb.), seperti itu jugalah dia akan memperlakukan
orang lain. Anak semacam ini bukan saja membenci orang lain, tapi
juga membenci dirinya sendiri. Sebaliknya, bila seorang anak
terlalu berlebihan "dikasihi", akan membuatnya mempermainkan
kasih serta menganggapnya terlalu murah. Hal ini menyebabkan dia
tidak mempunyai pendirian emosi yang pasti.
Oleh karena itu sebagai seorang guru Sekolah Minggu, anda harus
mengajarkan cinta kasih yang murni dari Tuhan Yesus Kristus.
Kasih yang rela berkorban, tapi juga kasih yang adil dan tegas.
Jadilah guru SM yang memberikan cinta kasih yang tulus, cukup dan
adil pada setiap anak di kelas anda.
2. Tidak Memiliki Identitas Diri
-----------------------------
Menurut Dr. Stephen Tong jika seorang anak mempunyai identitas
diri yang kuat, ia pasti juga akan mempunyai jiwa yang kuat.
Sebaliknya, kalau seseorang kehilangan identitas diri dan
harkatnya dalam masyarakat, tidak mungkin ia mempunyai jiwa yang
sehat. Sebagai contoh, anak dari seorang pemabuk yang keluar
masuk penjara, tentu akan merasa sangat malu bila orang lain
mengenal siapa ayahnya. Dalam hal ini, kedudukan ayahnya menjadi
dasar dari identitas dirinya dalam masyarakat.
Oleh karena itu sebagai seorang Guru Sekolah Minggu, anda harus
dapat menolong anak-anak untuk memiliki identitas di dalam
Kristus. Mereka semua adalah anak-anak terang di dalam Tuhan
Yesus Kristus, dan kewargaan mereka adalah di surga. Tegaskan
bahwa Tuhan Yesus mengasihi setiap mereka tanpa memandang latar
belakang keluarga atau sosial ekonomi mereka, dan bahwa mereka
kini memiliki identitas yang baru sebagai "anak-anak Allah".
3. Tidak Memiliki Komunikasi yang Baik
-----------------------------------
Dalam hal ini Dr. Stephen Tong berkata bahwa jika seseorang
mempunyai objek komunikasi maka ia tidak akan mudah mengalami
sakit jiwa. Pendapat ini juga sangat benar diterapkan bagi
seorang anak, karena anak pun membutuhkan teman berbicara yang
mau menerima dan mengerti dirinya. Biasanya seorang anak selain
membutuhkan teman sebaya juga menginginkan hubungan yang akrab
dengan orang dewasa yang menghargainya. Sebagai guru Sekolah
Minggu, anda berpeluang besar untuk menjadi sahabat bagi murid-
murid anda. Jadilah sahabat yang baik bagi setiap mereka, sahabat
yang siap menampung segala kesulitan dan keluh kesah mereka.
Dr. Stephen Tong juga memberikan nasehat agar jangan sekali-kali
kita menghina atau menertawakan pendapat seorang anak sekalipun
kadang-kadang pendapat anak kurang wajar. Lebih baik kita
memberikan pengertian pada anak agar komunikasi tetap jalan.
Anak-anak memang masih membutuhkan banyak bimbingan dan waktu
untuk belajar bagaimana harus bersikap, berbicara, dan bertindak
dengan benar. Jadilah "sahabat yang mempunyai telinga tapi tidak
mempunyai mulut", maksudnya, pandai-pandailah menyimpan rahasia
dari anak yang dipercayakan pada anda, karena guru seringkali
lebih banyak menasehati tapi kurang mendengarkan.
Dalam pembahasan mengenai "Karakter yang Abnormal" ini Dr. Stephen
Tong menyimpulkan dan meminta:
1. Hendaklah kita menjadi guru-guru yang baik agar anak-anak yang
dididik bisa mempunyai jiwa yang normal dan mempunyai identitas
yang jelas di dalam pendidikannya.
2. Agar kita menjadi guru yang memberikan cinta kasih yang sungguh
kepada anak-anak didik agar mereka mendapatkan kepuasan rohani
yang luar biasa.
3. Di dalam mendidik anak, kita harus menjadi guru yang siap
menampung kesulitan murid-murid dan jangan menghina dia.
Sumber:
Judul buku: Arsitek Jiwa
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : LRII
Halaman : 71-74
*********************************************************************
o/ SERBA-SERBI
Jiwa seorang anak sungguh berharga di mata Tuhan, bahkan anak-anak
yang belum pernah mendengar tentang Dia, sperti kisah berikut ini:
DIA YANG MEMEGANG SAYA
======================
Ada sepasang suami istri ateis yang mempunyai seorang anak
perempuan. Pasangan ini tidak pernah menceritakan apapun kepada
anaknya mengenai Tuhan. Suatu malam saat anak perempuan ini masih
berumur 5 tahun, kedua orangtuanya bertengkar. Ayahnya menembak
ibunya, selanjutnya ayahnya bunuh diri dengan menembak dirinya
sendiri. Anak perempuan itu menyaksikan semua kejadian ini.
Selanjutnya, dia dikirimkan ke keluarga yang mengangkatnya sebagai
anak. Ibu angkatnya seorang Kristen dan membawa anak ini ke gereja.
Pada hari pertama di Sekolah Minggu, ibu angkatnya mengatakan
kepada guru SM bahwa anak ini belum pernah mendengar tentang Yesus,
dan meminta agar lebih sabar dengan anak ini. Pada saat gurunya
mengangkat gambar Yesus dan bertanya, "Hayo, siapa yang tahu ...
gambar siapakah ini?" Anak perempuan dari keluarga atheis tadi
menyahut, "Saya mengenalnya. Dialah yang memegang saya pada malam
orangtua saya meninggal."
Judul Asli : "The Man Who Held!"
Dikirimkan oleh: Ferdinan <freandly(at)>
*********************************************************************
o/ "SHARING" PENGALAMAN DARI GURU SEKOLAH MINGGU
Guru Sekolah Minggu yang memiliki hati yang melayani dan mengasihi
Kristus akan mengubah Sekolah Minggu menjadi tempat yang sangat
istimewa, khususnya bagi anak-anak dari keluarga belum Kristen.
Mengapa? Silakan membaca sharing yang ditulis oleh salah seorang
anggota milis e-BinaGuru di bawah ini:
==Kiriman dari: Didi==
>Saya dari keluarga bukan Kristen dan sewaktu kecil saya diikutkan
>ke Sekolah Minggu sebagai langkah akhir dari upaya ibu saya untuk
>mengatasi pemberontakan (kenakalan) saya.
>
>Ketika saya berjumpa dengan Kristus saya mengalami perubahan, dan
>keluarga kamipun akhirnya percaya kepada Yesus. Ketika Kelas II
>SMP saya berserta kakak saya (yang waktu itu kelas III SMP)
>membuka pos SM di rumah kami. Awal mulanya saya meminta saudara
>dan beberapa orang adik teman untuk datang. Mulai dari 3 anak
>sampai 20 anak hadir. Hingga saat ini persekutuan SM tersebut
>masih berjalan dan telah berlangsung selama 17 tahun.
>
>Puji Tuhan saat ini anak-anak yang dulunya murid SM dimana orang
>tuanya bukan orang Kristen, sekarang mengajar generasi-generasi
>baru ini, yang juga mayoritas dari keluarga bukan Kristen.
>Sampai dengan saat ini gereja kami tidak mempunyai hamba Tuhan
>yang khusus melayani SM.
>
>Saya melihat dan mengalami sendiri bahwa memang pembinaan itu
>perlu, tapi kalaupun tidak ada sebagai kakak (guru yang lebih
>senior) harus membimbing adiknya (guru yang lebih yunior). Tapi
>terlebih dari itu pertumbuhan adalah dari Tuhan, yang penting
>kita punya hati, jiwa dan akal budi untuk melayani. Kasih yang
>mula-mula yang mendorong kita untuk melayani anak haruslah kita
>pelihara, sehingga apapun masalahnya saya yakin kita tetap tegar.
>
>Kalau ternyata kita tidak punya sarana dan prasarana mengapa harus
>mundur? Persekutuan SM yang dibuka di rumah saya 17 tahun yang
>lalu oleh 2 orang anak SMP (yang kurang pengalaman), tidak
>menggunakan gitar/alat musik lainnya, kelas SM pun (setelah dibagi
>menjadi 3 kelas) hingga hari ini menggunakan ruang tamu dan ruang
>makan untuk tempat persekutuan (di ruang tamu) dan duduknya di
>lantai, kantung persembahan awalnya adalah dibuat oleh ayah & ibu
>saya (tangkainya dari kawat & dijahit membentuk satu kantong yang
>sampai hari ini setelah 17 tahun masih dipakai.
>
>Mungkin dari anak-anak SM punya kenangan yang manis tentang SM-nya
>yang berbeda dengan SM anak-anak yang lain karena guru SM-nya mau
>bermain & berbicara bersama setelah selesai SM.
>
>Ingat tidak lagu SM (mungkin sekarang jarang dinyanyikan):
> "Aku gereja. Kau pun gereja. Kita sama-sama ke gereja ....
> Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya.
> Bukalah pintunya. Lihat di dalamnya. Gereja adalah orangnya."
>
>Salam,
>Didi
Redaksi: "Untuk Sdr. Didi, 'ma kasih banyak untuk sharing yang anda
kirimkan. Kami yakin pembaca akan mendapatkan pelajaran dan
berkat dari sharing anda."
*********************************************************************
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA
Dari : Robinson - PR <Robinson(at)>
Subject: mohon informasi soal pembicara psikologi anak
>Hallo , bolehkah saya mendapatkan informasi pembicara yang ahli
>tentang "Psikologi anak". Kami memerlukan untuk Retreat Guru
>Sekolah Minggu
>Mohon informasinya
>Robinson PR
Redaksi:
Beberapa peserta diskusi e-BinaGuru memberikan informasi yang
mungkin berharga bagi pembaca e-BinaAnak. Namun kami juga perlu
memberitahukan bahwa Redaksi tidak mengenal secara pribadi
semua nama-nama yang diajukan tsb. Oleh karena itu ini hanya
merupakan usulan yang harus dipertimbangkan sendiri oleh pembaca.
Pembicara yang ahli tentang "Psikologi Anak" adalah:
1. DR. Paul Gunadi, dosen program MA Konseling, Seminari Alkitab
Asia Tenggara (SAAT) Malang; beserta timnya: Ibu Esther T, S.Psi
dan Bp. Herman. E-mail --cut--
2. Ibu Lanny/Ibu Hosea dari Pusat Konseling UK Petra Surabaya.
--cut--
3. Ibu Henny E Wirawan M HUM, Psikolog dan dosen Psikologi
Universitas Tarumanegara. Pernah menjadi pembicara di Pembinaan
Guru-guru SM yang diadakan Yamari tentang peranan orangtua dalam
menghadapi era globalisasi. Detailnya bisa hubungi telp.nya :
--cut--
4. Ibu Yamima, Psikolog Anak yang juga Istri dari Pendeta Gereja
Siloam, Palembang.
5. Toninardi Wijono (Psikolog), aktif di Milis diskusi e-BinaGuru.
E-mail: --cut--
Jika ada diantara anda ada yang membutuhkan alamat kontak mereka,
mohon menghubungi redaksi di < staf-BinaAnak(at)sabda.org > atau
< meilania(at)in-christ.net >
Juga bila ada pembaca e-BinaAnak yang mengetahui nama-nama lain
yang kompeten dalam Psikologi Anak, silakan memberikan informasi
kepada Redaksi di alamat yang sama di atas.
*********************************************************************
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Untuk arsip: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-BinaAnak
*********************************************************************
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2001 YLSA
|