Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/bio-kristi/182

Bio-Kristi edisi 182 (14-3-2018)

Penulis Himne Terkemuka

Bio-Kristi -- Penulis Himne Terkemuka -- Edisi 182/Maret 2018
 
Yayasan Lembaga SABDA Situs Biografi Kristiani
 

Publikasi Elektronik Biografi Kristiani
Penulis Himne Terkemuka

Edisi 182/Maret 2018

Salam damai dalam Kristus,

"Kasih Tuhan lebih besar dari hidup." Pernyataan tersebut akan sungguh terasa kebenarannya jika kita sudah mengalami kasih Allah dan mampu merenungkan betapa besar pengorbanan-Nya untuk menebus dosa manusia. Lebih dari itu, kasih Allah yang sudah kita alami juga akan mengubah hidup kita, bahkan orang-orang di sekitar kita. Kasih-Nya akan memampukan kita untuk berkarya bagi Dia sehingga kita tidak lagi terpaku pada hidup atau kepentingan kita sendiri. Relasi kita dengan Allah dan sesama pun akan menjadi semakin indah ketika kita sudah tinggal di dalam kasih-Nya.

Dalam rangka menyambut Paskah, Bio-Kristi bulan ini tampil sedikit berbeda dengan menampilkan kembali dua tokoh penulis himne Kristiani yang karya-karyanya memberkati gereja sampai saat ini. Terdapat pula renungan yang akan menghantar kita untuk lebih memaknai keselamatan dari hasil karya pengorbanan Kristus . Melalui sajian ini, kiranya kita dapat semakin menghayati kasih Allah di dalam Kristus untuk semakin kita pancarkan setiap hari.

Selamat Paskah 2018. Soli Deo gloria!

-- Tetapi bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalamku --

N. Risanti

Pemimpin Redaksi Bio-Kristi,
N. Risanti

 

RENUNGAN PASKAH DIBENARKAN OLEH IMAN BACAAN: Roma 5:10

"Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!"(Roma 5:10)

Intro: Apakah ketaatan, kekudusan, dan pengabdian sayalah yang membuat saya benar di hadapan Allah? Bukan! Saya didamaikan dengan Allah karena sebelum semuanya itu terjadi, Kristus telah mati bagi saya. Ketika saya berbalik kepada Allah dan percaya serta menerima apa yang Allah nyatakan, mukjizat keselamatan melalui salib Kristus langsung menempatkan saya dalam hubungan yang benar dengan Allah.

Saya tidak diselamatkan karena percaya. Namun kenyataannya, saya hanya menyadari bahwa saya diselamatkan dengan percaya. Dan, bukan pula pertobatan yang menyelamatkan saya. Pertobatan hanyalah tanda bahwa saya menyadari apa yang telah Allah perbuat melalui Yesus Kristus.

Akan tetapi, bahaya mengemuka jika kita menekankan pada akibat dan bukannya pada sebab. Apakah ketaatan, kekudusan, dan pengabdian saya yang membuat saya benar di hadapan Allah?

Bukan! Saya didamaikan dengan Allah karena sebelum semuanya itu terjadi, Kristus telah mati. Ketika saya berbalik kepada Allah dan percaya serta menerima apa yang Allah nyatakan, maka mukjizat keselamatan melalui salib Kristus langsung menempatkan saya dalam hubungan yang benar dengan Allah. Dan, sebagai hasil dari mukjizat anugerah Allah yang adikodrati, saya dibenarkan, bukan karena saya menyesali dosa-dosa saya, atau saya telah bertobat, melainkan karena apa yang Yesus telah kerjakan bagi saya. Roh Allah membawa pembenaran dengan sinar yang terang benderang dan saya tahu bahwa saya telah diselamatkan, walaupun saya tidak tahu bagaimana hal itu terjadi.

Keselamatan yang datang dari Allah tidak didasarkan pada logika manusia, tetapi pada korban kematian Yesus. Kita dapat dilahirkan kembali semata-mata karena karya penebusan Tuhan kita. Orang yang berdosa, siapa pun dia, dapat diubahkan menjadi manusia baru, bukan karena pertobatan atau kepercayaan mereka, melainkan oleh pekerjaan Allah yang ajaib melalui Yesus Kristus, yang mendahului semua pengalaman kita (lihat 2 Korintus 5:17-19).

Kepastian mutlak dari pembenaran dan pengudusan adalah Allah sendiri. Kita tidak perlu mengusahakan sendiri hal-hal itu karena semuanya telah dikerjakan melalui karya penebusan dan salib Kristus. Sesuatu yang adikodrati menjadi hal yang alami bagi kita melalui mukjizat Allah dan merupakan perwujudan dari apa yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus – “Sudah selesai” (Yohanes 19:30).

Audio: Dibenarkan oleh Iman

Diambil dan disunting dari:
Nama situs : Alkitab Mobile SABDA
URL : http://alkitab.mobi/renungan/roc/2017/10/28/
Judul asli renungan : Dibenarkan oleh Iman
Penulis renungan : Oswald Chambers
Tanggal akses : 20 Oktober 2017

RIWAYAT FRANCES JANE VAN ALSTYNE (FANNY CROSBY)

Gambar: Fanny Crosby
Fanny Crosby

Tentang kebutaannya, Fanny berkata:

"Tampaknya ini adalah suatu anugerah Tuhan bahwa aku harus buta seumur hidup, dan aku berterimakasih untuk hal ini. Jika kesempurnaan penglihatan duniawi ini ditawarkan kepadaku besok, aku tidak akan menerimanya. Aku mungkin tidak akan bisa menyanyikan himne untuk memuji Tuhan, jika aku telah tertarik pada hal-hal yang indah yang menarik dalam diriku."

"Jika aku punya sebuah pilihan, aku akan memilih untuk tetap buta... karena ketika aku mati, wajah pertama yang akan kulihat adalah wajah Juru Selamatku."

Frances Jane Crosby lahir di keluarga keturunan Puritan yang kuat pada 24 Maret 1820. Pada saat masih bayi, dia menderita infeksi mata dan dirawat oleh seorang dokter yang tidak cakap, yang mengoleskan pasta panas pada kelopak matanya yang memerah dan meradang. Infeksinya sembuh, tetapi berakibat pada matanya dan Fanny menjadi buta seumur hidup. Beberapa bulan kemudian, ayah Fanny sakit dan akhirnya meninggal. Mercy Crosby, yang menjadi janda pada umur 21 tahun, mencari nafkah sendiri sebagai pembantu rumah tangga, sedangkan Fanny diasuh oleh neneknya, Eunice Crosby.

Selengkapnya Gambar: Link


KARYA THOMAS OBADIAH CHISHOLM

Gambar: Thomas Obadiah Chisholm
Thomas Obadiah Chisholm

Pada awal khotbahnya, Martin Luther mengangkat sebuah Alkitab dan berkata, "Ini Injil." Lalu, ia mengangkat tangan satunya yang memegang sebuah buku pujian, dan melanjutkan kata-katanya, "Dan, ini adalah cara kita mengingatnya." Pernyataan ini mungkin diringkas dengan baik oleh William Wordsworth, "Aku melahirkan musik di hatiku lama setelah itu tidak didengar lagi." Musik berbicara kepada hati; dan kata-kata yang berkaitan dengan melodi itu, beserta melodinya itu sendiri, memicu berbagai kenangan masa lalu dan mengarahkan kita pada sikap atau tindakan tertentu di masa sekarang. Musik berbicara tentang harapan kita akan masa depan, menunjukkan mimpi-mimpi kita, dan bahkan menyuarakan rasa takut dan keraguan kita. Demikian juga dengan iman. Mazmur, himne, lagu-lagu rohani telah lama melayani umat Allah: memberikan penghiburan saat kita sedih dan menderita, memberikan semangat saat kita lemah dan ragu-ragu, memanggil kita untuk menjalani hidup dengan keyakinan yang lebih besar pada masa-masa itu ketika diri sendiri sering kali menjadi pusat kita.

Para penulis himne yang hebat, yaitu mereka yang terus dikenang, dan yang kata-kata dan lagunya bertahan selama berabad-abad, adalah mereka yang mampu dengan sederhana, tetapi mendalam, menyentuh hati orang-orang yang mendengar dan menyanyikan lagunya. Lirik dan aransemennya menjadi bagian integral dari struktur kehidupan orang percaya yang tak terhitung jumlahnya, membuat perjalanan rohani mereka semakin kaya dan manis. Syukur kepada Tuhan karena selama berabad-abad, Dia telah mengaruniakan kemampuan untuk menulis kata-kata dan menggubah musik untuk mazmur, himne, dan nyanyian-nyanyian rohani kita. Kita semua kaya akan jerih payah kasih dari orang-orang ini. Sebagian besar dari mereka tidak terkenal di dunia, mereka tidak kaya dan terkenal, sebagian besar menjalani kehidupan mereka dalam kesederhanaan, membagikan karunia yang telah Tuhan berikan kepada sesama. Banyak dari kita telah menyanyikan himne mereka di sepanjang hidup kita, tetapi kita bahkan tidak tahu nama mereka. Namun, mereka seperti kita: menjalani kehidupan, mengalami suka dan duka, dan berusaha melayani Allah dengan kemampuan terbaik dan kesempatan yang dimiliki. Mengenal orang-orang seperti itu hanya akan memperkaya kehidupan kita.

Selengkapnya Gambar: Link

 
Stop Press! Aplikasi Konseling Mobile - HE Cares

Kabar gembira! Yayasan Lembaga SABDA baru saja meluncurkan aplikasi Konseling untuk Android.

Apps HE Cares

Tidak dapat dimungkiri bahwa kebutuhan akan konseling makin bertambah seiring dengan bertambah banyaknya masalah dalam kehidupan manusia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, permasalahan manusia selalu ada sepanjang zaman, bahkan cenderung semakin banyak dan semakin kompleks. Sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa solusi permasalahan manusia ada di dalam firman Tuhan. Firman Tuhanlah yang merupakan jawaban atas permasalahan kehidupan manusia, dan konseling alkitabiah membawa manusia yang bergumul dengan masalahnya kepada firman Tuhan.

Dalam konteks kebutuhan konseling, Yayasan Lembaga SABDA mengembangkan aplikasi konseling dengan nama HE Cares (DIA Peduli). Dengan satu praanggapan pemahaman bahwa Allah itu ada: Dia mendengar; Dia berbicara kepada kita melalui Firman-Nya; Dia peduli; kami mengumpulkan bahan-bahan alkitabiah seputar masalah konseling di dalam aplikasi HE Cares ini.

Anda bisa mengunduh aplikasi HE Cares melalui tautan berikut ini: Download Aplikasi HE Cares

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi Bio-Kristi.
biografi@sabda.org
Bio-Kristi
@sabdabiokristi
Redaksi: N. Risanti dan Markus
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org