Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/bio-kristi/142

Bio-Kristi edisi 142 (11-12-2014)

Anton Moedardo Moeliono

 Buletin Elektronik
 BIO-KRISTI (Biografi Kristiani)
________________________Edisi 142/Desember 2014__________________________

Bio-Kristi -- Anton Moedardo Moeliono
Edisi 142/Desember 2014

Salam kasih,

Pada penghujung tahun 2014 ini, Bio-Kristi akan mengetengahkan artikel
mengenai sosok seorang Ahli Bahasa dari negeri sendiri yang berjasa
dalam membidani lahirnya Ejaan yang Disempurnakan (EYD) serta Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Renungan Natal mengenai arti kehadiran Kristus
dalam kehidupan kita juga akan menghiasi edisi kami kali ini. Kiranya,
apa yang kami sampaikan akan memberkati Anda di masa-masa Adven ini.

Selamat Natal 2014! Kasih dan kepedulian Kristus kiranya menjadi
inspirasi dan daya hidup bagi kita senantiasa. Amin.

--karena hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan--

Pemimpin Redaksi Bio-Kristi,
Berlin B.
< berlin(at)in-christ.net >
< http://biokristi.sabda.org/ >


 RENUNGAN: KRISTUS DAN NATAL

Jajak pendapat terbaru menyatakan bahwa hanya sepertiga dari orang
Amerika menganggap bahwa kelahiran Kristus merupakan aspek paling
penting dalam perayaan Natal. Sekitar 33%--44%, lebih banyak orang
mengatakan bahwa kesempatan untuk "memiliki waktu bersama keluarga"
menjadi alasan utama mengapa mereka menganggap Natal sebagai sesuatu
yang penting bagi mereka. Bahkan, ketika memerhatikan hanya para
responden yang menyebut diri mereka orang Kristen (88% orang Amerika),
alasan kelahiran Kristus mendapat suara paling banyak hanya 37%.

Ada gerakan di beberapa kalangan Injili yang menganjurkan bahwa agar
Natal bisa menjadi Natal yang sesungguhnya, Natal harus menyertakan
Kristus. Dan, menurut survei di atas, kita dapat melihat dari mana
keprihatinan mereka itu muncul. Survei itu seolah-olah mengatakan
bahwa Kristus telah dikeluarkan dari Natal! Namun, dengan segala
hormat kepada rekan-rekan Injili, saya ingin meyakinkan mereka bahwa
tak peduli seberapa banyak orang mencoba, mereka tidak akan dapat
mengeluarkan Kristus dari Natal.

Karena Kristus ada dalam semua aspek kehidupan kita, mengapa Ia harus
absen pada saat yang paling meriah dari peristiwa sepanjang tahun ini?
Kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa Tuhan kita pernah berada di pesta
pernikahan (Yohanes 2) dan makan bersama teman-teman dan para murid
-Nya (Matius 9), belum lagi keikutsertaan-Nya dalam festival akbar
orang Yahudi yang memiliki kepentingan sosial yang besar bagi umat
Allah.

Mengeluarkan Kristus dari aspek mana pun di kehidupan kita adalah
sesuatu yang gila.

Jika Natal adalah saat untuk berbagi, Tuhan kita juga hadir di
dalamnya. Dalam pelayanan-Nya selama di dunia, Yesus tidak memiliki
harta apa-apa, tetapi Ia memberikan segalanya. Dia tidak pernah
memegang uang, tetapi Ia membuat kita semua kaya. Dia tidak pernah
memiliki rumah, atau bahkan tempat tidur, tetapi Ia menyediakan bagi
kita tempat tinggal dan makanan. Ia tidak pernah menulis buku, tetapi
Ia membagikan kepada kita kisah yang indah (kita menyebutnya
perumpamaan), yang ditulis oleh murid-murid-Nya -- dan yang sekarang
tersedia bagi kita dalam ratusan bahasa dan dialek.

Jika Natal adalah saat untuk memberi, Tuhan kita hadir di sana. Dia
memberi lebih banyak daripada siapa pun yang ada di muka bumi ini.
Anda tidak bisa memberi lebih banyak daripada Dia. Dia tidak hanya
memberi kepada orang-orang yang membutuhkan -- dengan menyembuhkan,
memberi makan, dan memberkati -- Ia bahkan menyerahkan diri-Nya
sendiri melalui pengurbanan-Nya di kayu salib. Dia memberi sewaktu Dia
hidup dan Dia terus memberi saat Dia telah berada di surga, di sebelah
kanan Bapa.

Jika Thanksgiving (Sebuah tradisi di Amerika yang biasa dikenal dengan
Hari Pengucapan Syukur -- Red.) adalah saat untuk menghitung berkat
kita, Natal adalah saat ketika kita harus mengakui sumber dari berkat
-berkat itu: Yesus Kristus. Juru Selamat kita adalah juga Sang Pemberi
berkat-berkat kita. Paulus belajar cara memberi dari Tuhan kita ketika
dia mengajarkannya, "Adalah lebih berbahagia memberi daripada
menerima." (Kisah Para Rasul 20:35)

Mengeluarkan Kristus dari bagian mana pun di kehidupan kita adalah
gila; itu bodoh -- itu tidak mungkin. Kristus ada di dalam Natal,
seperti Dia ada di setiap hal indah maupun di dalam krisis di
sepanjang tahun-tahun kita. Anda dapat mengabaikan Dia, Anda dapat
mengejek Dia -- atau Anda dapat mengagumi Dia. "Sembah dan Puji Dia!"

"Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ
Aku ada di tengah-tengah mereka."(Matius 18:20) (t/Jing Jing)

Sumber asli:
Nama situs: Heart Light
Alamat URL: http://www.heartlight.org/articles/200412/20041212_christmas.html
Judul asli artikel: Christ and Christmas
Penulis artikel: Lou Seckler
Tanggal akses: 8 Mei 2014

Diambil dan disunting dari:
Nama situs: Natal
Alamat URL: http://natal.sabda.org/kristus_dan_natal
Penulis artikel: Lou Seckler
Tanggal akses: 21 Agustus 2014


 KARYA: ANTON MOEDARDO MOELIONO
 (1929 -- 2011) Ahli Bahasa, Pembaku, dan Perawat Bahasa Indonesia

Putra ketiga dari pasangan R. M. Moeliono Prawirohardjo dan Maria A.
Igno ini sesungguhnya tidak pernah bermaksud mendalami bahasa
Indonesia. Saat itu, ia secara kebetulan membaca iklan beasiswa ikatan
dinas masuk ke Fakultas Sastra (FS) Universitas Indonesia (UI) untuk
menjadi pegawai bidang bahasa. Setelah meraih gelar sarjana bahasa
pada tahun 1958, ia mengajar sebagai dosen sekaligus menjadi tenaga
tidak tetap di Lembaga Bahasa dan Kebudayaan. Selama tiga tahun,
terhitung sejak 1960, ia menjabat sebagai Kepala Bidang Perkamusan,
merangkap Ketua Jurusan Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin, Sastra
Indonesia UI. Dari sanalah kepakaran dia sebagai ahli bahasa mulai
berkembang.

Untuk memperdalam ilmu bahasanya, Anton melanjutkan pendidikannya ke
luar negeri. Pada tahun 1965, ia meraih gelar Master of Arts in
General Linguistics dari Cornell University, Amerika Serikat. Pada
tahun 1970, ia mulai berkenalan dengan kelompok linguistik Amerika
yang mengajarinya perencanaan bahasa. Sejak perkenalan itu, ia mulai
mengembangkan wawasan bagaimana semestinya bahasa Indonesia
diperlakukan.

Pada tahun 1971, ia bertolak ke Belanda untuk melanjutkan kuliah
pascasarjananya di Rijksuniversiteit Leiden. Sepulangnya ke tanah air,
ia mulai dipercaya menduduki berbagai posisi penting, khususnya di
lembaga-lembaga bahasa. Khusus di bidang perkamusan dan peristilahan,
ia banyak berguru pada W.J.S. Poerwadarminta, yang kebetulan sedang
menyusun kamus. "... sehingga saya kemudian mengembangkan minat dan
perhatian pada peristilahan," tuturnya.

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 21 Februari 1929 ini, kemudian
menjadi sosok penting di balik lahirnya EYD (Ejaan yang Disempurnakan)
pada tahun 1972. Pada tahun itu pula, pada perayaan HUT Proklamator,
Presiden Republik Indonesia Pertama (1945 -- 1966) Kemerdekaan RI yang
ke-27, EYD untuk pertama kalinya diresmikan dan diberlakukan di
seluruh pelosok tanah air. Kemudian, pada tahun 1981, ia berhasil
meraih gelar Doktor Ilmu Sastra, Bidang Linguistik di Universitas
Indonesia.

Setahun berselang, Anton diangkat menjadi Guru Besar Bahasa Indonesia
dan Linguistik Fakultas Sastra UI. Kala itu, Anton, yang biasa disapa
Pak Ton oleh mahasiswanya, juga mengajar Sintaksis, Semantik, yang
merupakan bagian dari Ilmu Lingustik. Dalam memberikan kuliah, Anton
dikenal sebagai dosen yang sangat cermat, rapi, tegas, dan tidak suka
pada mahasiswa yang tidak menyimak. Ia sudah menyiapkan segala
pertanyaan kepada anak didiknya sebelum kuliah dimulai.

Senyum juga hanya sesekali terlihat di wajah seriusnya, selebihnya
matanya akan mengamati ekspresi para mahasiswa yang duduk mendengarkan
kuliahnya. Jabatan Guru Besar Bahasa Indonesia memang pantas
disandangnya, selain tutur katanya yang meluncur dengan apik, tertata
rapi, pemilihan kosakata dalam setiap rangkaian kalimat yang
dilontarkannya pun amat kaya. Dari segi penampilan, siapa pun yang
melihatnya akan merasa segan, kemeja lengan pendek, kadang-kadang
dipadukan dengan dasi serta sepatu kulit kian membuatnya terlihat
berwibawa.

Di samping itu, perawakan tubuhnya yang gempal, kacamatanya yang
sering dinaikturunkan, tak jarang membuat suasana hati mahasiswanya
tak keruan. Antara menaruh hormat pada kepandaiannya, seram karena
sikap tegasnya, dan sedikit terkesan galak karena kedisiplinannya.
Namun, kelak mereka akan merasa amat berterima kasih karena bisa
mendapatkan ilmu langsung dari sang ahli. Selain mengajar di kampus,
Anton juga tampil membawakan Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di
layar TVRI pada tahun 1973 -- 1977. Tak kurang dari 200 siaran pernah
ia selenggarakan. Antara tahun 1968 -- 1971, ia mengasuh rubrik Santun
Bahasa di harian KOMPAS, Jakarta, sebagai ajang komunikasi timbal
balik bagi pembaca yang ingin bertanya mengenai ejaan, tata bahasa,
istilah, dan saran mengatasinya.

Berkat kepandaiannya pula, suami dari Cecilia Soeparni Josowidagdo ini
dipercaya menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa pada tahun 1984.
Kontribusinya selama 5 tahun berkiprah di lembaga itu dapat dinikmati
generasi penerus hingga detik ini. Di bawah kepemimpinannya, muncullah
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada tahun 1988.

Selain di UI, Anton juga dikenal sebagai tokoh yang cukup berpengaruh
di Universitas Katolik Atma Jaya. Ia merupakan anggota perintis
sekaligus pendiri Yayasan Atma Jaya sekitar tahun 1960-an. Di kampus
itu, ia pernah menjadi Ketua Badan Harian Yayasan Atmajaya, Dekan
Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Dia juga pernah terpilih menjadi Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi
Katolik serta diangkat sebagai profesor tidak tetap pada Program Studi
Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Program Pendidikan Pascasarjana.
Pada tahun 2000, barulah ia menjadi Guru Besar Tetap FKIP Atma Jaya,
merangkap sebagai Ketua Program Studi Linguistik Terapan. Setahun
kemudian, ia dianugerahi Warga Adipurna Atma Jaya.

Universitas Katolik Atma Jaya pernah turut memeriahkan ulang tahun
Anton yang ke-75. Kampus di pusat kota Jakarta itu antara lain
mengadakan seminar internasional sehari mengenai bahasa. Kepada Anton
diserahkan buku kenangan. Buku itu adalah "festchrift" kelima bagi
pembaku dan perawat bahasa Indonesia yang telah membimbing 23
promovendi ilmu bahasa dalam 20 tahun terakhir, seperti Harimurti
Kridalaksana, Hasan Alwi, dan Dendy Sugono.

Sebelumnya, pada ulang tahunnya ke-65, Anton sudah menerima dua buku
kenangan: "Bahasawan Cendekia" dan "Mengiring Rekan Sejati dari UI dan
Atmajaya". Dua lagi terbit lima tahun kemudian untuk hari lahir ke-70,
yaitu "Telaah Bahasa dan Sastra" kado dari Pusat Bahasa, dan "Kajian
Serba Linguistik" hadiah bersama dari Atmajaya dan BPK Gunung Mulia.

Penggemar musik klasik Barat dan gamelan ini dianggap pantas menerima
hadiah. Gagasan dia mengubah pola pengajaran Jurusan Indonesia
Fakultas Sastra UI dari yang bersemangat orientalis menjadi studi
Indonesia, telah melahirkan beberapa nama penting di dunia bahasa
seperti M.S. Hutagalung, Gorys Keraf, dan Lukman Ali.

Pada tahun 1995, Universitas Melbourne Australia menganugerahkan gelar
doktor honoris causa Ilmu Sastra kepada pakar bahasa yang telah
menghasilkan beberapa karya buku yang sampai saat ini masih digunakan
sebagai acuan ini. Antara lain, buku "Santun Bahasa" (1984), "Masalah
Bahasa yang Dapat Anda Atasi Sendiri" (1988), dan "Kembara Bahasa:
Kumpulan Karangan Tersebar" (1989). Selain itu, aktivis berbagai
organisasi, terutama bidang kebahasaan, ini adalah penyunting beberapa
buku mengenai ejaan, pembentukan istilah, dan penyunting penyelia
Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi I (1988).

Sebagai seorang pakar yang sudah kenyang pengalaman, Anton menegakkan
trilogi bahasa Indonesia: aku cinta bahasa Indonesia, aku bangga pada
bahasa Indonesia, dan aku setia pada bahasa Indonesia. Trilogi itu
sudah ia jalankan untuk dirinya sendiri. Kendati berdarah Jawa dan
lahir serta besar di Bandung sehingga bahasa Jawa dan Sunda ia kuasai
dengan fasih dan baik, logat dan dialek kedua bahasa itu tidak sedikit
pun pernah terlontar dalam setiap tutur katanya.

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik periode 1984 -- 1990 ini
sering berujar, "Saya ingin bangsa Indonesia merasa bangga pada bahasa
mereka dan memastikan bahasa Indonesia digunakan adalah cara paling
efektif untuk menjaganya".

Bagi Anton, bahasa Indonesia akan lestari jika terus digunakan secara
baik dan benar. Maka, ketika ada sebagian kalangan mengadopsi bahasa
asing mentah-mentah ke dalam bahasa Indonesia, Anton akan cenderung
memberi rekomendasi untuk menggunakan kata-kata bahasa Indonesia,
bukan bahasa asing. Kendati demikian, bukan berarti ia tidak menyukai
kata-kata asing. "Saya tidak menolak `tuk meminjam. Jika konsep tidak
diganti, saya akan senang untuk mengimpor," ujar pria yang
memperkenalkan kata sophisticated dengan kata "canggih" ini, yang lalu
banyak digunakan penutur untuk menjelaskan kerumitan teknologi.

Karena keteguhan sikapnya itulah, ia ingin bahasa Indonesia benar
-benar lahir dari bangsa sendiri, tanpa meniru-niru bahasa asing. Hal
itu benar-benar ia buktikan dengan menciptakan kata-kata bahasa
Indonesia baru, misalnya rekayasa, bandar udara (bandara), pantau,
canggih, pasar (swalayan), dan masih banyak lagi. Karena kekayaan
perbendaharaan kata yang dimilikinya itu, tak heran jika di kemudian
hari, ia mendapat julukan "Sang Kamus Berjalan".

Pria yang pernah menjadi profesor tamu di Goethe Universitt Frankfurt
dan Katholieke Universiteit Brabant Tilburg ini juga kerap dihinggapi
rasa kecewa jika mendengar gaya berbahasa berbagai kalangan dewasa
ini. Mulai dari para pembawa acara media elektronik yang kerap
berceloteh dengan mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa
Inggris, hingga para pejabat tinggi yang dalam berpidato tidak
memerhatikan gramatika kalimat yang baik dan benar, bahkan amburadul.
Bahasa Indonesia gado-gado yang kerap ditemui di ruang publik seperti
itu dipandangnya sebagai sesuatu yang amat memalukan. "Mana Bahasa
Nasional kita? Seharusnya, mereka sebagai bangsa Indonesia bangga
dengan bahasa nasionalnya!" demikian ucap Anton menggambarkan
kekecewaannya seperti dikutip dari situs berita kompas.com.

Ia juga berpandangan, sebuah bahasa berpeluang menjadi bahasa
internasional bukan karena banyaknya penutur, melainkan karena
kecendekiaan dan kemahiran para penutur itu berbahasa. Bahasa Inggris,
kata dia, menjadi bahasa internasional utama karena penuturnya
cendekia dan mahir berbahasa sehingga menjadi pelopor ilmu
pengetahuan.

Pakar yang dikenal kritis dan pedas dalam melontarkan pendapatnya ini
mengembuskan napas terakhirnya pada Senin, 25 Juli 2011, pukul 23.27
WIB di RS Medistra, Jakarta Selatan karena menderita penyakit
komplikasi. Rabu, 27 Juli 2011, setelah disemayamkan di rumah duka di
Jalan Kartanegara No. 51, Jakarta, diadakan misa requiem di Gereja
Maria Perawan Ratu, Blok Q, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepat
pukul 10.00 WIB, jenazah pakar bahasa Indonesia ini dikremasi.

Diambil dan disunting dari:
Nama situs: Tokoh Indonesia
Alamat URL: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/749-pembaku-dan-perawat-bahasa-indonesia
Judul artikel: Pembaku dan Perawat Bahasa Indonesia
Penulis artikel: Muli
Tanggal akses: 3 Januari 2014


Kontak: biografi(at)sabda.org
Redaksi: Berlin B., N. Risanti, dan S. Setyawati.
Berlangganan: subscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/Bio-Kristi/arsip/
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org