___e-BinaAnak (Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak)____
DAFTAR ISI EDISI 402/OKTOBER/2008
- SALAM DARI REDAKSI
- ARTIKEL: Menghormati Otoritas
- TIPS: Mengajar Anak tentang Pentingnya Menghormati Otoritas
- BAHAN MENGAJAR: Bolehkah Saya Minta Tali yang Lebih Panjang?
- WARNET PENA: Telaga: Masalah Kuasa dalam Keluarga
- STOP PRESS: Seminar Nasional Guru Agama dan Konselor Sekolah
- MUTIARA GURU
______________________________________________________________________
\o/ SALAM DARI REDAKSI \o/
Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus,
Memasuki bulan baru, Redaksi e-BinaAnak seperti biasanya mengusung
tema baru untuk sajian bulan Oktober ini. Secara khusus, redaksi
mengangkat tema Kecerdasan Emosional untuk melengkapi khazanah
pengetahuan para pembina anak. Melengkapi tiap minggunya, lima topik
sudah redaksi siapkan, yaitu:
1. Menghormati Otoritas,
2. Empati,
3. Kesadaran Sosial,
4. Pengharapan, dan
5. Pengendalian Diri.
Dalam sajian perdana di bulan Oktober ini, pembina anak dan orang
tua diingatkan lagi akan tugas mengajarkan anak untuk menghormati
otoritas yang Tuhan berikan atas orang tua maupun para pendidik
mereka. Silakan disimak, kiranya sajian ini bisa menolong dan
melengkapi para orang tua dan pembina anak.
Redaksi Tamu e-BinaAnak,
Christiana Ratri Yuliani
Hormatilah ayahmu dan ibumu --
ini adalah suatu perintah yang penting,
seperti yang nyata dari janji ini:
supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Efesus+6:2,3 >
______________________________________________________________________
\o/ ARTIKEL \o/
MENGHORMATI OTORITAS
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan
mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17)
Sebagai orang tua, kita telah sering mendengar ayat ini. Bahkan, ada
saat-saat di mana kita sangat bergantung pada kepastian yang
diberikan dalam ayat ini. Apakah saya melakukannya dengan benar?
Apakah saya telah terlalu banyak mengatakan "tidak" hari ini? Apakah
ini benar-benar "perang" yang pantas bagi anak dua tahun? Bagi anak
tujuh belas tahun? Apakah saya membangun atau malah merusak rasa
hormat anak saya terhadap otoritas? Pertanyaan yang bagus. Jika Anda
bertanya-tanya dalam hati seperti ini dalam membesarkan anak-anak,
Anda berada di jalur yang benar -- Anda menyadari bahwa Anda tidak
sempurna dan bahwa tanggung jawab untuk menjadi orang tua sangatlah
besar. Jika Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang
patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang
dari pada jalan itu", menggugah hati Anda sehubungan dengan peran
orang tua sebagai tugas yang menakjubkan, Anda berada di jalur yang
benar.
Apa yang dimaksud dengan "jalan yang patut baginya"? Umumnya, orang
setuju bahwa yang termasuk di dalamnya adalah hormat terhadap
otoritas. Namun, dari mana seorang anak memiliki kemampuan itu?
Sejak lahir, hubungan yang dimiliki seorang anak dengan orang tuanya
akan memberi pengaruh terbesar dalam menentukan bagaimana anak itu
berhadapan dengan para pemegang otoritas dalam hidupnya kelak.
Namun, pengaruh masyarakat juga berperan. Jadi sebelum kita
berbicara tentang pengaruh langsung dari orang tua, marilah kita
melihat sekilas bagaimana pandangan masyarakat kita dalam
menghormati atau tidak menghormati otoritas.
Pukulan Keras
Apa yang terlintas dalam pikiran Anda pada saat Anda mendengar kata
otoritas? Jika Anda pernah merasakan pengalaman baik dengan para
pemegang otoritas dalam hidup Anda, kata itu mungkin tidak terlalu
memengaruhi Anda. Namun, jika pernah ada seseorang yang menggunakan
otoritasnya untuk menyakiti dan memanipulasi Anda, maka mungkin kata
itu memiliki konotasi yang negatif bagi Anda. Sekarang ini, umumnya
kata otoritas tidak memberi kita perasaan hangat dan nyaman. Bahkan
bagi masyarakat tertentu, seperti Amerika, kata otoritas telah
menjadi sesuatu yang mengerikan. Mengapa ada persepsi bahwa otoritas
dapat diartikan sebagai kendali atau paksaan adalah karena adanya
reaksi untuk menyalahgunakan atau menyelewengkan otoritas.
Tahun-tahun yang paling menentukan dalam kehidupan saya (Pam) adalah
tahun 1960-an dan 1970-an, di mana budaya kami mencapai titik
baliknya. Filsafat humanisme berkembang. Para demonstran menuntut
pengakuan hak kaum wanita dan hak sipil serta menentang perang
Vietnam. Inilah masa yang ditandai dengan kemarahan terhadap
pemegang otoritas.
Para orang tua pada tahun 1960-an dan 1970-an memutuskan bahwa
inilah saatnya melakukan perubahan. Peran orang tua sebelum era
perang Vietnam umumnya bersifat otoriter. Disiplin merupakan cara
efektif dalam menghentikan suatu perilaku, tetapi sering kali cara
ini malah menyiksa dan menghancurkan hati seorang anak. Buku-buku
tentang membesarkan anak yang efektif masih sangat sedikit dan
langka. Bahkan, bukannya belajar dan melakukan penyesuaian terhadap
pola-pola membesarkan anak yang diterapkan oleh generasi sebelumnya,
masyarakat malah mengubah cara mereka membesarkan anak dari yang
sebelumnya otoriter menjadi permisif (memberi kebebasan penuh pada
anak). Perubahan inilah yang berperan terhadap kurangnya sikap
hormat atau bahkan kebencian terhadap otoritas. Orang tua yang punya
anak, yang berusaha untuk memerbaiki cara mereka sendiri dibesarkan
sebelumnya, telah menetapkan bahwa tujuan utama mereka adalah
menjadi orang tua yang disukai. Inilah yang membuat mereka sulit
sekali menetapkan batas-batas. Ini jugalah yang telah membawa kita
berpindah dari keluarga dengan peraturan ketat kepada keluarga yang
hampir tanpa aturan. Hasilnya kita kehilangan sikap hormat yang
sehat terhadap otoritas. Apakah Anda menunjukkan sikap hormat
terhadap otoritas? Luangkanlah waktu untuk menilai diri Anda
sendiri.
Luangkan Waktu: H-O-R-M-A-T
Isilah pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk mengukur sikap
H-O-R-M-A-T Anda:
- Jika seorang kasir lupa mencatat harga barang yang Anda beli atau
salah mencatat harga, sehingga harganya menjadi lebih murah,
apakah Anda akan mengingatkannya?
- Apakah Anda memarkir kendaraan Anda di tempat khusus bagi orang
cacat "sebentar saja"?
- Apakah Anda sering mengebut dan melaju sesuai dengan batas
kecepatan hanya jika ada polisi atau Anda ketahuan mengendarai
mobil melewati batas kecepatan?
- Apakah Anda mengatakan dusta "putih" untuk melepaskan diri dari
sesuatu yang tidak ingin Anda lakukan?
- Pernahkah Anda membiarkan anak Anda tanpa sabuk pengaman hanya
karena Anda tidak punya waktu untuk memindahkan sabuk pengaman
anak dari mobil yang satu ke mobil yang akan dipakai?
Jika Anda menjawab "ya" pada pertanyaan ini, Anda tidak sendirian.
Inilah hal-hal yang banyak dilakukan orang karena kita tidak punya
waktu untuk "melakukan yang benar" atau karena kita telah terbiasa
bersikap "ini tidak apa-apa". Apakah izin Anda dalam menjalankan
peran sebagai orang tua harus dicabut jika ternyata Anda menjawab
"ya" pada dua atau tiga pertanyaan di atas? Tidak, tetapi Anda harus
meninjau sikap Anda sendiri terhadap otoritas. Jujurlah pada diri
Anda sendiri. Apakah Anda memiliki rasa hormat yang sehat terhadap
perintah Tuhan "jangan membunuh", tetapi cenderung melanggar tanda
"dilarang parkir"? Jika ya, maka kemungkinan yang ada adalah
anak-anak Anda melihat perilaku Anda dan belajar bahwa ternyata
boleh- boleh saja kita tidak menaati peraturan jika kita tidak
menyukainya atau jika tidak menyenangkan. Inilah saatnya Anda
memikirkan kembali sikap Anda sendiri. Tuliskan bagaimana Anda bisa
meningkatkan cara Anda menunjukkan sikap hormat kepada para pemegang
otoritas di atas Anda. Mulailah dari hal-hal kecil, dan teruslah
meninjau ulang catatan Anda.
Bagaimana bentuk sikap hormat terhadap otoritas bagi anak-anak?
Berikut ini beberapa pernyataan singkat. Tandailah setiap kalimat
yang menurut Anda telah diterapkan pada anak Anda. Jika anak Anda
tidak melakukan sebagian besar dari daftar di bawah ini, mungkin
Anda perlu mengusahakannya lagi. Daftar ini bukan penilaian mutlak,
tetapi bisa dijadikan langkah awal yang baik.
Seorang anak yang menghormati otoritas akan:
- berbicara dengan bahasa sopan kepada orang dewasa;
- menggunakan nada hormat kepada orang lain;
- menatap mata dengan sopan pada saat berbicara dan pada saat
mendengarkan orang berbicara kepadanya; dan
- menunjukkan sikap suka menolong.
Tujuan Fungsional dari Otoritas
Sebagaimana ada peraturan dalam pertandingan untuk menjamin agar
setiap pemain memiliki peluang yang seimbang untuk menikmati
pertandingan, demikian pula setiap sistem masyarakat memiliki
peraturan bagi kebaikan setiap orang. Menurut Kevin Gerald dalam
bukunya "The Proving Ground", otoritas harus selalu memiliki tujuan
fungsional. Otoritas ditujukan untuk mencegah kerusuhan, ketiadaan
hukum, dan kekacauan. Namun, tujuan otoritas lebih dari sekadar alat
pencegahan. Otoritas harus menciptakan suatu lingkungan di mana kita
bisa berfungsi secara optimal. Misalnya, jika hukum tidak melindungi
kita dari orang-orang yang mencuri, membunuh, atau mengendarai
kendaraan lebih dari 100 mil (160 km) per jam, tentu kita hidup
dalam ketakutan jika kita berada di tempat umum. Jika tidak ada
struktur otoritas di sekolah, tidak akan ada murid yang belajar.
Jadi, dari manakah asal konsep otoritas itu? Dari Allah, yang
merancangnya bagi kebebasan kita dan kesejahteraan kita. Tahu
paradoksnya? Dia menaruh para pemegang otoritas dalam hidup kita
supaya kita bisa menjadi sesuai dengan tujuan kita diciptakan
oleh-Nya dan menjadi seperti yang kita cita-citakan. Marilah kita
lihat Matius 28:18-20. Yesus mengatakan, "Kepada-Ku telah diberikan
segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah
semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Biasanya pada saat kita membaca ayat ini, perhatian kita terpusat
pada perintah untuk memberitakan Injil dan tidak memerhatikan kuasa
dalam kalimat pertamanya. Kita diperlengkapi untuk mengikuti
perintah-Nya, karena otoritas (kuasa) yang Yesus miliki di sorga dan
di bumi. Dia turun dan mengangkat kita secara emosi dan rohani untuk
menggenapi perintah itu. Dialah Pelatih kita, Guru kita, Kekasih
Jiwa kita. Namun, hanya jika kita hidup seturut jalan-jalan-Nya dan
di bawah otoritas-Nyalah, kita bisa bekerja dengan lebih efektif.
Banyak orang mengalami kesulitan untuk memahami arti otoritas karena
kurangnya penjelasan, dan bahkan penyelewengan otoritas di dalam
gereja. Donald E. Sloat, Ph.D. adalah seorang psikolog yang membuka
praktik sendiri di Michigan. Dalam bukunya, "The Dangers of Growing
Up in a Christian Home", dia menulis, "Salah satu praktik paling
berbahaya dalam keluarga Kristen adalah sikap orang tua yang
menggunakan Allah dan ayat-ayat Alkitab untuk mengendalikan
anak-anak mereka, mengelak dari tanggung jawab pribadinya sendiri,
dan membenarkan cara-cara membesarkan anak yang salah." Donald
menyarankan agar kita menghindari kata-kata: "Apa kamu tidak malu
pada dirimu sendiri?" dan "Apa kata Yesus kalau Dia melihatmu
berbuat begitu?" Pernyataan-pernyataan seperti ini dan
tindakan-tindakan mengendalikan anak dengan manipulatif ini, malah
memberikan batu dan ular pada anak-anak kita, bukannya roti dan
ikan (lihat Matius 8:7-11). Tindakan-tindakan seperti itu
mengakibatkan kerusakan yang lebih besar dari yang kita duga
terhadap perkembangan konsep Allah dalam diri anak kita. Yesus tidak
menyalahgunakan otoritas-Nya dengan memanipulasi manusia agar
memiliki perilaku yang diinginkan.
Penting bagi kita untuk membangun pengertian bahwa otoritas
memberikan tujuan yang kokoh bagi kehidupan keluarga, tempat kerja,
dan masyarakat yang baik. Namun perlu penjelasan berulang kali bahwa
agar semua sistem dapat berfungsi baik tanpa kerusuhan dan
kekacauan, maka harus ada seorang pemimpin. Di samping itu, posisi
pemegang otoritas menuntut tanggung jawab serius dan menghormati
orang-orang yang berada di bawah naungannya. Tanggung jawab dan
sikap hormat itu merupakan dasar suatu hubungan yang sehat.
Menggunakan Otoritas dengan Bertanggung Jawab
Tidak ada tempat yang lebih baik untuk mengalami hubungan yang sehat
selain di dalam keluarga. Keluarga harus menjadi tempat yang aman
bagi anak-anak untuk belajar memahami nilai-nilai yang berharga
tentang mengasihi diri sendiri, mengasihi orang lain, dan mengasihi
Allah. Memang, keluarga bukanlah tempat yang sempurna, tetapi
idealnya, keluarga adalah tempat berlimpahnya kasih karunia, di mana
kesalahan-kesalahan juga dilakukan oleh semua anggota. Inilah tempat
yang aman. Di mana ada kasih dan hormat, pemulihan dan rekonsiliasi
mengalir alami.
Kita tahu bahwa anak-anak tanggap terhadap batasan-batasan.
Anak-anak kecil khususnya, akan berusaha melawan jika ada figur
otoritas yang jelas dan tegas. Bayangkan seorang anak balita, sebut
saja namanya Annie, yang baru saja membayangkan kalau dirinya
terpisah dari ibu dan ayahnya. Bayangan yang mengerikan! Lalu,
bayangkan dia bertanggung jawab atas semua keputusan yang
diambilnya. Jelas, dia tidak akan bisa memikul tanggung jawab itu;
otaknya belum siap. Dia butuh seseorang yang bisa memberitahunya
dalam bahasa yang dapat dia pahami untuk berpegangan tangan saat
menyeberang jalan, jangan menyentuh kompor panas, dan jangan menaruh
mentega di dalam VCR.
Namun, dia juga butuh keseimbangan. Semakin bertambah dewasa, dia
perlu menentukan keputusannya sendiri, sedikit demi sedikit, dan
tetap di dalam batas-batas aman. Jadi, bagaimana Anda
menyeimbangkannya? Dengan menggunakan pola membesarkan anak yang
mengajarkan pada anak-anak untuk menghormati otoritas Anda, pola
yang menunjukkan bahwa Anda memenuhi hidup mereka dengan aturan dan
ketetapan, karena Anda mengasihi mereka.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: 7 Kecerdasan Emosional yang Dibutuhkan oleh Anak Anda
Penulis: Pam Galbraith dan Rachel C. Hoyer
Penerbit: Gospel Press, Batam 2005
Halaman: 35 -- 45
______________________________________________________________________
\o/ TIPS \o/
MENGAJAR ANAK TENTANG PENTINGNYA MENGHORMATI OTORITAS
Bila anak-anak tidak tahu bagaimana tunduk pada otoritas yang sudah
Tuhan berikan, maka mereka akan gagal dalam hidup.
Pelayanan Konseling Keluarga
Pernahkah Anda suatu ketika berpikir bahwa Anda akan menyiapkan
anak-anak Anda untuk menjalani peran dalam kehidupan pernikahan saat
mereka dewasa nanti? Dalam artikel yang menggerakkan pikiran Anda
ini, bagian ketujuh dari sebelas seri peran orang tua, Dr. Dunlap
mengajak para orang tua untuk mulai menyiapkan anak-anak mereka
sejak dini atas peran mereka sebagai suami, istri, dan orang tua
kelak. Dia juga mendorong para orang tua untuk mengajarkan kepada
anak-anak bagaimana meresponi otoritas dengan tepat.
Ada dua tujuan akhir yang harus dipertimbangkan oleh para orang tua
dalam usaha mereka untuk membesarkan anak-anak dalam disiplin dan
latihan terhadap Tuhan. Yang pertama adalah melengkapi anak-anak
mereka dengan tanggung jawab pernikahan dan orang tua, dan yang
kedua adalah mengajarkan kepada mereka supaya menghormati otoritas
yang Tuhan berikan.
1. Ajarkan pada anak Anda supaya menjadi suami, istri, atau orang
tua yang baik.
Orang tua sering kali lalai, atau mengabaikan, tugas mengajarkan
kepada anak-anak mereka tentang peran suami atau istri yang
sesuai dengan Alkitab. Mereka menganggap bahwa mereka memunyai
waktu yang banyak untuk tanggung jawab itu. Seharusnya orang tua
mulai menyiapkan anak-anak mereka sejak dini untuk pernikahan.
Pelajaran persiapan pernikahan digambarkan di 1 Korintus 13.
Anak-anak belajar arti dari kasih agape dengan melihat orang tua
mereka, karena mereka saling mengasihi tanpa syarat dan tidak
mementingkan diri sendiri.
Akrabkan anak-anak Anda dengan perintah di Efesus 5:22-25:
"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah
kepala jemaat .... Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana
Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya
baginya."
Anak-anak harus mengerti bahwa saat mereka menerima peran yang
Tuhan berikan itu dengan senang dan taat, maka mereka akan dapat
mencegah masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pernikahan.
Mereka juga akan merasakan keharmonisan dan kepenuhan dalam
pernikahan, bukan pertentangan dengan pasangan mereka dan
kekacauan di rumah mereka.
2. Ajarkan pada anak-anak Anda untuk menghormati otoritas yang sudah
Tuhan berikan.
Pastikan bahwa Anda mengajar anak-anak Anda sesuai dengan aturan
alkitabiah yang harus ditaati oleh pria dan wanita. Filosofi
sekuler akan mencoba menarik mereka untuk menentang otoritas itu,
dan mencoba mencari kebebasan dalam kebebasan yang bertentangan.
Bimbinglah mereka untuk mengingat perintah dan taat pada
peringatan di Roma 13:1,2:
"Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya,
sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan
pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu
barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan
siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya."
Arahkan anak-anak Anda pada Ibrani 13:17:
"Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab
mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus
bertanggung jawab atasnya."
Ajarkan kepada mereka pentingnya belajar bagaimana taat pada
pemimpin sehingga memuliakan Tuhan dan membuka kesempatan untuk
bersaksi.
Berikut tiga saran yang dapat membantu Anda dalam mengajar
anak-anak Anda tentang prinsip-prinsip ketundukan:
a. Berinisiatiflah untuk mengatasi segala halangan yang mungkin
muncul saat melakukan tugas yang telah diberikan kepada Anda.
Mintalah hikmat Tuhan supaya bisa kreatif, dan putuskan untuk
taat, sesulit apa pun tugas itu.
b. Jangan membuat alasan untuk melanggar perintah yang ada pada
tugas itu. Taatlah pada hal-hal yang kecil, demikian pula pada
hal-hal yang besar. Sadarilah bahwa perhatian pada hal-hal
kecil sering kali menjadikan kita bisa membedakan antara
keberhasilan dan kegagalan. Bila perlu, carilah penjelasan
yang lebih dalam lagi tentang perintah-perintah yang diberikan
bila Anda tidak memahami bagaimana melakukan tugas tertentu.
Perhatikanlah baik-baik saat Anda menerima perintah.
c. Bertindaklah dengan cepat, gembira, dan giat saat perintah itu
pertama kali diberikan. Saat Anda segera meresponi perintah
itu dengan senyum, itu menandakan bahwa Anda senang
mengerjakan tugas Anda. Tuhan dengan tegas melarang sikap
bersungut-sungut dan mengeluh, atau malas dan pelupa. Kerahkan
seluruh tenaga Anda untuk menyelesaikan setiap tugas dan
jangan merasa bersalah saat Anda melamun, atau berusaha dengan
setengah hati.
Perintah-perintah ini semuanya menjadi tuntunan bagi orang tua yang
benar-benar dan sungguh-sungguh ingin membesarkan anak-anak mereka
dalam rasa hormat dan takut akan Tuhan. (t/Ratri)
Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Nama situs: With The Word
Judul asli artikel: Teaching Children the Rewards of Obeying Authority
Penulis: Dr. Don Dunlap
Alamat URL: http://www.9marks.org/CC/article/0,,PTID34418|CHID632334|CIID186582,00.html
______________________________________________________________________
\o/ BAHAN MENGAJAR \o/
BOLEHKAH SAYA MINTA TALI YANG LEBIH PANJANG?
Renungan:
Suatu hari saya sedang duduk di bandara, membaca koran dan menunggu
penerbangan. Tiba-tiba ada sesuatu menabrak kaki saya, lalu saya
lihat apa yang menabrak kaki saya itu. Seorang anak balita kira-kira
berumur dua tahun dengan sangat bersemangat, memandang sekelilingnya
dengan badan miring, menyerobot dan menyentuh segala sesuatu yang
dapat ia raih -- tetapi ibunya menghalangi apa yang akan ia raih.
Ibunya benar-benar mengenakan pengikat kuda di dada anak itu.
Menyedihkan sekali! Ibu itu memperlakukan dia seperti anjing kecil,
pikir saya. Akan lebih baik bila ibu itu memegang saja tangan anak
itu.
Beberapa bulan kemudian, saya merasakan hal yang berbeda saat saya
berjalan-jalan di suatu dermaga di dekat laut. Airnya sangat deras
-- ombak membentur pembatas pantai; hamburan air beterbangan di
udara. Dan saya melihat ibu yang lain yang juga mengenakan pengikat
kuda pada anaknya. Seperti anak yang ada di bandara, anak ini
meronta, berusaha melepaskan diri dari kekangan itu.
Saya menyadari dua hal tentang pengikat itu. Pertama, pengikat itu
sebenarnya memberikan kebebasan lebih pada anak. Ibunya bisa
mengangkat dan menjaga supaya dia tidak jatuh di dermaga, tetapi dia
tidak dapat bebas menggunakan otot-ototnya serta menyentuh dan
merasakan apa yang ia inginkan.
Dan kedua, pengikat itu menyelamatkan dirinya. Tanpa pengikat itu,
dia sudah akan berada di tepi dermaga, dan hanya dalam sekejap saja,
dia bisa jatuh sejauh dua puluh yard atau jatuh ke laut yang ganas
tanpa ada regu penyelamat yang menolongnya.
Dia tidak sedang mencoba bunuh diri. Dia hanya terlalu muda untuk
tahu bahaya. Jadi ibunya mencoba mengendalikannya dengan cara yang
mungkin menganggu orang yang melihatnya, tetapi justru dapat
menyelamatkan anak itu.
Sebenarnya tidaklah menjadi masalah. Orang tua secara rutin menjaga
hidup anak-anak mereka. Mereka tidak biasa menggunakan tali
pengekang -- dan mereka melakukannya dengan mengatakan "jangan".
"Jangan! Jangan tempelkan paku itu ke lubang listrik."
"Jangan! Jangan makan racun tikus itu."
"Jangan! Jangan mendekat ke jalan yang ramai."
Saat kita mulai lebih dewasa, orang tua kita masih tetap mencoba
menjaga kita dan kebahagiaan kita, meskipun kita sudah tidak
mengharapkannya. Dan mereka melakukannya dengan kata yang sama.
"Jangan! Jangan mencoba menggunakan obat-obatan dan alkohol.
Barang-barang itu bisa membunuhmu."
"Jangan! Jangan bergaul dengan mereka. Mereka tidak baik; mereka
bisa membuatmu bermasalah."
Apakah orang tuamu kadang-kadang mencoba terlalu mengendalikanmu?
Mungkin saja. Tapi ingat, mereka melakukan itu untuk menjagamu
dengan kata-kata yang mereka ucapkan berulang-ulang, dan mereka tahu
itu. Dan mungkin, mungkin saja, mereka benar pada saat itu.
Bicarakan dengan mereka tentang hal ini. Biarlah mereka tahu kapan
Anda bisa sedikit bebas. Tetapi tetap berikan kepada mereka hak
untuk mengatakan "jangan".
Hal ini untuk menjaga dirimu. Dan ini akan terus berulang.
Ayat bacaan:
Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah
menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu
pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu. Jikalau engkau berjalan,
engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan
dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena
perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang
mendidik itu jalan kehidupan. (Amsal 6:20-23)
Pertanyaan:
Ingin tahu apa yang akan kamu peroleh bila menghormati dan taat pada
orang tua? Bacalah Keluaran 20:12.
Tugas:
Sebagian besar anak senang bila bisa benar-benar bebas untuk
melakukan apa yang mereka inginkan dan kapan saja. Karena hal itu
tidaklah masuk akal, mungkin kamu perlu menjelaskan beberapa hal
yang menurutmu bisa dijadikan latihan untuk bertanggung jawab lebih
dari yang diberikan oleh orang tuamu -- misalnya waktu tidur, jam
malam, penggunaan telepon, keputusan tentang musik atau pakaian.
Pikirkan dahulu alasan-alasanmu dan kemudian tanyakan kepada orang
tuamu kapan bisa membicarakan hal ini.
Akan tetapi, jangan lakukan itu semua bila kamu belum siap menerima
kata "jangan" tanpa marah atau membantah. Hal ini bukannya akan
membantu, tetapi justru akan memerburuk keadaan. (t/Ratri)
Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Judul buku: Jumper Fables
Judul asli artikel: May I Have a Longer Leash, Please?
Penulis: Ken Davis dan Dave Lambert
Penerbit: Zondervan Publishing House, Michigan 1994
Halaman: 86 -- 88
______________________________________________________________________
\o/ WARNET PENA \o/
TELAGA: MASALAH KUASA DALAM KELUARGA
http://www.telaga.org/ringkasan.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_1.htm
http://www.telaga.org/ringkasan.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_2.htm
Selain dalam edisi e-BinaAnak kali ini, pembahasan seputar otoritas
dalam keluarga dapat juga Anda simak dalam situs TELAGA -- situs
yang memuat transkrip maupun versi audio dari program radio TELAGA
(Tegur Sapa Gembala dan Keluarga). Ada dua audio seputar otoritas
dalam keluarga di situs TELAGA, yaitu Masalah Kuasa dalam Keluarga 1
dan Masalah Kuasa dalam Keluarga 2. Anda dapat masuk ke dalam
ringkasan topik ini di alamat yang sudah kami cantumkan di atas.
Sedangkan transkrip dan format MP3 program tersebut dapat Anda
peroleh dalam URL di bawah ini.
Masalah Kuasa dalam Keluarga 1:
Transkrip: http://www.telaga.org/transkrip.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_1.htm
MP3: http://www.ylsa.org/telaga/mp3/T191A.MP3
Masalah Kuasa dalam Keluarga 2:
Transkrip: http://www.telaga.org/transkrip.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_2.htm
MP3: http://www.ylsa.org/telaga/mp3/T191B.MP3
Oleh: Davida (Redaksi)
______________________________________________________________________
\o/ STOP PRESS \o/
SEMINAR NASIONAL GURU AGAMA DAN KONSELOR SEKOLAH
Institut LK3, didukung Yayasan Peduli Konseling Indonesia, akan
mengadakan Seminar Nasional Guru Kristen dan Konselor Sekolah dengan
tema "Kurikulum Agama, Character Building, dan Konseling Siswa yang
Menjawab Kebutuhan Murid" pada:
Hari, tanggal: Kamis -- Sabtu, 16 -- 18 Oktober 2008
Pukul : 16.00 -- 21.00 WIB (Kamis)
09.00 -- 17.00 WIB (Jumat -- Sabtu)
Tempat : Landmark Building Tower A Lt.22,
Jl. Jend. Sudirman Kav. 1 Jakarta.
Biaya : Rp. 475.000 (Biaya di luar akomodasi, panitia tidak
menyediakan penginapan)
Segeralah mendaftar, tempat terbatas. Informasi lebih lanjut,
hubungi:
Institut LK3 dan YAPKI (Yayasan Peduli Konseling Indonesia)
Telp.: 021-5608477, Fax.: 021-5644129 (Tiyo, Rudy, dan Samurai)
021-68246195 (Samurai)
Tiyo (0817855835)
Rudy (087877179387)
Samurai (08174969794)
E-mail: konseling_lk3(at)cbn.net.id
Website: www.pedulikonseling.or.id
______________________________________________________________________
\o/ MUTIARA GURU \o/
Bila anak-anak tidak tahu bagaimana tunduk pada otoritas
yang sudah Tuhan berikan, maka mereka akan gagal dalam hidup.
(Dr. Don Dunlap)
______________________________________________________________________
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke redaksi:
<binaanak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-binaanak(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Davida Welni Dana
Staf Redaksi: Kristina Dwi Lestari dan Christiana Ratri Yuliani
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2008 -- YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Alamat berhenti: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://pepak.sabda.org/
Bergabunglah dalam Network Anak di Situs In-Christ.Net:
http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_anak
______________PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN GURU_______________
|