Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-BinaAnak > Edisi 402
  Edisi Terbaru
Edisi 409
Memertahankan Murid Sekolah Minggu
  Arsip
Total 409 edisi (2000-2008)
  Cari
  Keanggotaan Milis
Berlangganan
Berhenti
Ganti alamat email
  Tampilan cetak   edisi sebelum | edisi berikut

e-BinaAnak edisi 402 (9-10-2008)

Menghormati Otoritas


___e-BinaAnak (Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak)____

  DAFTAR ISI EDISI 402/OKTOBER/2008

  - SALAM DARI REDAKSI
  - ARTIKEL: Menghormati Otoritas
  - TIPS: Mengajar Anak tentang Pentingnya Menghormati Otoritas
  - BAHAN MENGAJAR: Bolehkah Saya Minta Tali yang Lebih Panjang?
  - WARNET PENA: Telaga: Masalah Kuasa dalam Keluarga
  - STOP PRESS: Seminar Nasional Guru Agama dan Konselor Sekolah
  - MUTIARA GURU

______________________________________________________________________
\o/ SALAM DARI REDAKSI \o/

  Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus,

  Memasuki bulan baru, Redaksi e-BinaAnak seperti biasanya mengusung
  tema baru untuk sajian bulan Oktober ini. Secara khusus, redaksi
  mengangkat tema Kecerdasan Emosional untuk melengkapi khazanah
  pengetahuan para pembina anak. Melengkapi tiap minggunya, lima topik
  sudah redaksi siapkan, yaitu:

  1. Menghormati Otoritas,
  2. Empati,
  3. Kesadaran Sosial,
  4. Pengharapan, dan
  5. Pengendalian Diri.

  Dalam sajian perdana di bulan Oktober ini, pembina anak dan orang
  tua diingatkan lagi akan tugas mengajarkan anak untuk menghormati
  otoritas yang Tuhan berikan atas orang tua maupun para pendidik
  mereka. Silakan disimak, kiranya sajian ini bisa menolong dan
  melengkapi para orang tua dan pembina anak.

  Redaksi Tamu e-BinaAnak,
  Christiana Ratri Yuliani

                    Hormatilah ayahmu dan ibumu --
               ini adalah suatu perintah yang penting,
                 seperti yang nyata dari janji ini:
          supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
             < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Efesus+6:2,3 >

______________________________________________________________________
\o/ ARTIKEL \o/

                        MENGHORMATI OTORITAS

  "Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan
  mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17)

  Sebagai orang tua, kita telah sering mendengar ayat ini. Bahkan, ada
  saat-saat di mana kita sangat bergantung pada kepastian yang
  diberikan dalam ayat ini. Apakah saya melakukannya dengan benar?
  Apakah saya telah terlalu banyak mengatakan "tidak" hari ini? Apakah
  ini benar-benar "perang" yang pantas bagi anak dua tahun? Bagi anak
  tujuh belas tahun? Apakah saya membangun atau malah merusak rasa
  hormat anak saya terhadap otoritas? Pertanyaan yang bagus. Jika Anda
  bertanya-tanya dalam hati seperti ini dalam membesarkan anak-anak,
  Anda berada di jalur yang benar -- Anda menyadari bahwa Anda tidak
  sempurna dan bahwa tanggung jawab untuk menjadi orang tua sangatlah
  besar. Jika Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang
  patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang
  dari pada jalan itu", menggugah hati Anda sehubungan dengan peran
  orang tua sebagai tugas yang menakjubkan, Anda berada di jalur yang
  benar.

  Apa yang dimaksud dengan "jalan yang patut baginya"? Umumnya, orang
  setuju bahwa yang termasuk di dalamnya adalah hormat terhadap
  otoritas. Namun, dari mana seorang anak memiliki kemampuan itu?
  Sejak lahir, hubungan yang dimiliki seorang anak dengan orang tuanya
  akan memberi pengaruh terbesar dalam menentukan bagaimana anak itu
  berhadapan dengan para pemegang otoritas dalam hidupnya kelak.
  Namun, pengaruh masyarakat juga berperan. Jadi sebelum kita
  berbicara tentang pengaruh langsung dari orang tua, marilah kita
  melihat sekilas bagaimana pandangan masyarakat kita dalam
  menghormati atau tidak menghormati otoritas.

  Pukulan Keras

  Apa yang terlintas dalam pikiran Anda pada saat Anda mendengar kata
  otoritas? Jika Anda pernah merasakan pengalaman baik dengan para
  pemegang otoritas dalam hidup Anda, kata itu mungkin tidak terlalu
  memengaruhi Anda. Namun, jika pernah ada seseorang yang menggunakan
  otoritasnya untuk menyakiti dan memanipulasi Anda, maka mungkin kata
  itu memiliki konotasi yang negatif bagi Anda. Sekarang ini, umumnya
  kata otoritas tidak memberi kita perasaan hangat dan nyaman. Bahkan
  bagi masyarakat tertentu, seperti Amerika, kata otoritas telah
  menjadi sesuatu yang mengerikan. Mengapa ada persepsi bahwa otoritas
  dapat diartikan sebagai kendali atau paksaan adalah karena adanya
  reaksi untuk menyalahgunakan atau menyelewengkan otoritas.

  Tahun-tahun yang paling menentukan dalam kehidupan saya (Pam) adalah
  tahun 1960-an dan 1970-an, di mana budaya kami mencapai titik
  baliknya. Filsafat humanisme berkembang. Para demonstran menuntut
  pengakuan hak kaum wanita dan hak sipil serta menentang perang
  Vietnam. Inilah masa yang ditandai dengan kemarahan terhadap
  pemegang otoritas.

  Para orang tua pada tahun 1960-an dan 1970-an memutuskan bahwa
  inilah saatnya melakukan perubahan. Peran orang tua sebelum era
  perang Vietnam umumnya bersifat otoriter. Disiplin merupakan cara
  efektif dalam menghentikan suatu perilaku, tetapi sering kali cara
  ini malah menyiksa dan menghancurkan hati seorang anak. Buku-buku
  tentang membesarkan anak yang efektif masih sangat sedikit dan
  langka. Bahkan, bukannya belajar dan melakukan penyesuaian terhadap
  pola-pola membesarkan anak yang diterapkan oleh generasi sebelumnya,
  masyarakat malah mengubah cara mereka membesarkan anak dari yang
  sebelumnya otoriter menjadi permisif (memberi kebebasan penuh pada
  anak). Perubahan inilah yang berperan terhadap kurangnya sikap
  hormat atau bahkan kebencian terhadap otoritas. Orang tua yang punya
  anak, yang berusaha untuk memerbaiki cara mereka sendiri dibesarkan
  sebelumnya, telah menetapkan bahwa tujuan utama mereka adalah
  menjadi orang tua yang disukai. Inilah yang membuat mereka sulit
  sekali menetapkan batas-batas. Ini jugalah yang telah membawa kita
  berpindah dari keluarga dengan peraturan ketat kepada keluarga yang
  hampir tanpa aturan. Hasilnya kita kehilangan sikap hormat yang
  sehat terhadap otoritas. Apakah Anda menunjukkan sikap hormat
  terhadap otoritas? Luangkanlah waktu untuk menilai diri Anda
  sendiri.

  Luangkan Waktu: H-O-R-M-A-T

  Isilah pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk mengukur sikap
  H-O-R-M-A-T Anda:

  - Jika seorang kasir lupa mencatat harga barang yang Anda beli atau
    salah mencatat harga, sehingga harganya menjadi lebih murah,
    apakah Anda akan mengingatkannya?

  - Apakah Anda memarkir kendaraan Anda di tempat khusus bagi orang
    cacat "sebentar saja"?

  - Apakah Anda sering mengebut dan melaju sesuai dengan batas
    kecepatan hanya jika ada polisi atau Anda ketahuan mengendarai
    mobil melewati batas kecepatan?

  - Apakah Anda mengatakan dusta "putih" untuk melepaskan diri dari
    sesuatu yang tidak ingin Anda lakukan?

  - Pernahkah Anda membiarkan anak Anda tanpa sabuk pengaman hanya
    karena Anda tidak punya waktu untuk memindahkan sabuk pengaman
    anak dari mobil yang satu ke mobil yang akan dipakai?

  Jika Anda menjawab "ya" pada pertanyaan ini, Anda tidak sendirian.
  Inilah hal-hal yang banyak dilakukan orang karena kita tidak punya
  waktu untuk "melakukan yang benar" atau karena kita telah terbiasa
  bersikap "ini tidak apa-apa". Apakah izin Anda dalam menjalankan
  peran sebagai orang tua harus dicabut jika ternyata Anda menjawab
  "ya" pada dua atau tiga pertanyaan di atas? Tidak, tetapi Anda harus
  meninjau sikap Anda sendiri terhadap otoritas. Jujurlah pada diri
  Anda sendiri. Apakah Anda memiliki rasa hormat yang sehat terhadap
  perintah Tuhan "jangan membunuh", tetapi cenderung melanggar tanda
  "dilarang parkir"? Jika ya, maka kemungkinan yang ada adalah
  anak-anak Anda melihat perilaku Anda dan belajar bahwa ternyata
  boleh- boleh saja kita tidak menaati peraturan jika kita tidak
  menyukainya atau jika tidak menyenangkan. Inilah saatnya Anda
  memikirkan kembali sikap Anda sendiri. Tuliskan bagaimana Anda bisa
  meningkatkan cara Anda menunjukkan sikap hormat kepada para pemegang
  otoritas di atas Anda. Mulailah dari hal-hal kecil, dan teruslah
  meninjau ulang catatan Anda.

  Bagaimana bentuk sikap hormat terhadap otoritas bagi anak-anak?
  Berikut ini beberapa pernyataan singkat. Tandailah setiap kalimat
  yang menurut Anda telah diterapkan pada anak Anda. Jika anak Anda
  tidak melakukan sebagian besar dari daftar di bawah ini, mungkin
  Anda perlu mengusahakannya lagi. Daftar ini bukan penilaian mutlak,
  tetapi bisa dijadikan langkah awal yang baik.

  Seorang anak yang menghormati otoritas akan:
  - berbicara dengan bahasa sopan kepada orang dewasa;
  - menggunakan nada hormat kepada orang lain;
  - menatap mata dengan sopan pada saat berbicara dan pada saat
    mendengarkan orang berbicara kepadanya; dan
  - menunjukkan sikap suka menolong.

  Tujuan Fungsional dari Otoritas

  Sebagaimana ada peraturan dalam pertandingan untuk menjamin agar
  setiap pemain memiliki peluang yang seimbang untuk menikmati
  pertandingan, demikian pula setiap sistem masyarakat memiliki
  peraturan bagi kebaikan setiap orang. Menurut Kevin Gerald dalam
  bukunya "The Proving Ground", otoritas harus selalu memiliki tujuan
  fungsional. Otoritas ditujukan untuk mencegah kerusuhan, ketiadaan
  hukum, dan kekacauan. Namun, tujuan otoritas lebih dari sekadar alat
  pencegahan. Otoritas harus menciptakan suatu lingkungan di mana kita
  bisa berfungsi secara optimal. Misalnya, jika hukum tidak melindungi
  kita dari orang-orang yang mencuri, membunuh, atau mengendarai
  kendaraan lebih dari 100 mil (160 km) per jam, tentu kita hidup
  dalam ketakutan jika kita berada di tempat umum. Jika tidak ada
  struktur otoritas di sekolah, tidak akan ada murid yang belajar.

  Jadi, dari manakah asal konsep otoritas itu? Dari Allah, yang
  merancangnya bagi kebebasan kita dan kesejahteraan kita. Tahu
  paradoksnya? Dia menaruh para pemegang otoritas dalam hidup kita
  supaya kita bisa menjadi sesuai dengan tujuan kita diciptakan
  oleh-Nya dan menjadi seperti yang kita cita-citakan. Marilah kita
  lihat Matius 28:18-20. Yesus mengatakan, "Kepada-Ku telah diberikan
  segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah
  semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
  dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
  telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
  senantiasa sampai kepada akhir zaman."

  Biasanya pada saat kita membaca ayat ini, perhatian kita terpusat
  pada perintah untuk memberitakan Injil dan tidak memerhatikan kuasa
  dalam kalimat pertamanya. Kita diperlengkapi untuk mengikuti
  perintah-Nya, karena otoritas (kuasa) yang Yesus miliki di sorga dan
  di bumi. Dia turun dan mengangkat kita secara emosi dan rohani untuk
  menggenapi perintah itu. Dialah Pelatih kita, Guru kita, Kekasih
  Jiwa kita. Namun, hanya jika kita hidup seturut jalan-jalan-Nya dan
  di bawah otoritas-Nyalah, kita bisa bekerja dengan lebih efektif.

  Banyak orang mengalami kesulitan untuk memahami arti otoritas karena
  kurangnya penjelasan, dan bahkan penyelewengan otoritas di dalam
  gereja. Donald E. Sloat, Ph.D. adalah seorang psikolog yang membuka
  praktik sendiri di Michigan. Dalam bukunya, "The Dangers of Growing
  Up in a Christian Home", dia menulis, "Salah satu praktik paling
  berbahaya dalam keluarga Kristen adalah sikap orang tua yang
  menggunakan Allah dan ayat-ayat Alkitab untuk mengendalikan
  anak-anak mereka, mengelak dari tanggung jawab pribadinya sendiri,
  dan membenarkan cara-cara membesarkan anak yang salah." Donald
  menyarankan agar kita menghindari kata-kata: "Apa kamu tidak malu
  pada dirimu sendiri?" dan "Apa kata Yesus kalau Dia melihatmu
  berbuat begitu?" Pernyataan-pernyataan seperti ini dan
  tindakan-tindakan mengendalikan anak dengan manipulatif ini, malah
  memberikan batu dan ular pada anak-anak kita, bukannya roti dan
  ikan (lihat Matius 8:7-11). Tindakan-tindakan seperti itu
  mengakibatkan kerusakan yang lebih besar dari yang kita duga
  terhadap perkembangan konsep Allah dalam diri anak kita. Yesus tidak
  menyalahgunakan otoritas-Nya dengan memanipulasi manusia agar
  memiliki perilaku yang diinginkan.

  Penting bagi kita untuk membangun pengertian bahwa otoritas
  memberikan tujuan yang kokoh bagi kehidupan keluarga, tempat kerja,
  dan masyarakat yang baik. Namun perlu penjelasan berulang kali bahwa
  agar semua sistem dapat berfungsi baik tanpa kerusuhan dan
  kekacauan, maka harus ada seorang pemimpin. Di samping itu, posisi
  pemegang otoritas menuntut tanggung jawab serius dan menghormati
  orang-orang yang berada di bawah naungannya. Tanggung jawab dan
  sikap hormat itu merupakan dasar suatu hubungan yang sehat.

  Menggunakan Otoritas dengan Bertanggung Jawab

  Tidak ada tempat yang lebih baik untuk mengalami hubungan yang sehat
  selain di dalam keluarga. Keluarga harus menjadi tempat yang aman
  bagi anak-anak untuk belajar memahami nilai-nilai yang berharga
  tentang mengasihi diri sendiri, mengasihi orang lain, dan mengasihi
  Allah. Memang, keluarga bukanlah tempat yang sempurna, tetapi
  idealnya, keluarga adalah tempat berlimpahnya kasih karunia, di mana
  kesalahan-kesalahan juga dilakukan oleh semua anggota. Inilah tempat
  yang aman. Di mana ada kasih dan hormat, pemulihan dan rekonsiliasi
  mengalir alami.

  Kita tahu bahwa anak-anak tanggap terhadap batasan-batasan.
  Anak-anak kecil khususnya, akan berusaha melawan jika ada figur
  otoritas yang jelas dan tegas. Bayangkan seorang anak balita, sebut
  saja namanya Annie, yang baru saja membayangkan kalau dirinya
  terpisah dari ibu dan ayahnya. Bayangan yang mengerikan! Lalu,
  bayangkan dia bertanggung jawab atas semua keputusan yang
  diambilnya. Jelas, dia tidak akan bisa memikul tanggung jawab itu;
  otaknya belum siap. Dia butuh seseorang yang bisa memberitahunya
  dalam bahasa yang dapat dia pahami untuk berpegangan tangan saat
  menyeberang jalan, jangan menyentuh kompor panas, dan jangan menaruh
  mentega di dalam VCR.

  Namun, dia juga butuh keseimbangan. Semakin bertambah dewasa, dia
  perlu menentukan keputusannya sendiri, sedikit demi sedikit, dan
  tetap di dalam batas-batas aman. Jadi, bagaimana Anda
  menyeimbangkannya? Dengan menggunakan pola membesarkan anak yang
  mengajarkan pada anak-anak untuk menghormati otoritas Anda, pola
  yang menunjukkan bahwa Anda memenuhi hidup mereka dengan aturan dan
  ketetapan, karena Anda mengasihi mereka.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: 7 Kecerdasan Emosional yang Dibutuhkan oleh Anak Anda
  Penulis: Pam Galbraith dan Rachel C. Hoyer
  Penerbit: Gospel Press, Batam 2005
  Halaman: 35 -- 45

______________________________________________________________________
\o/ TIPS \o/

        MENGAJAR ANAK TENTANG PENTINGNYA MENGHORMATI OTORITAS

  Bila anak-anak tidak tahu bagaimana tunduk pada otoritas yang sudah
  Tuhan berikan, maka mereka akan gagal dalam hidup.

  Pelayanan Konseling Keluarga

  Pernahkah Anda suatu ketika berpikir bahwa Anda akan menyiapkan
  anak-anak Anda untuk menjalani peran dalam kehidupan pernikahan saat
  mereka dewasa nanti? Dalam artikel yang menggerakkan pikiran Anda
  ini, bagian ketujuh dari sebelas seri peran orang tua, Dr. Dunlap
  mengajak para orang tua untuk mulai menyiapkan anak-anak mereka
  sejak dini atas peran mereka sebagai suami, istri, dan orang tua
  kelak. Dia juga mendorong para orang tua untuk mengajarkan kepada
  anak-anak bagaimana meresponi otoritas dengan tepat.

  Ada dua tujuan akhir yang harus dipertimbangkan oleh para orang tua
  dalam usaha mereka untuk membesarkan anak-anak dalam disiplin dan
  latihan terhadap Tuhan. Yang pertama adalah melengkapi anak-anak
  mereka dengan tanggung jawab pernikahan dan orang tua, dan yang
  kedua adalah mengajarkan kepada mereka supaya menghormati otoritas
  yang Tuhan berikan.

  1. Ajarkan pada anak Anda supaya menjadi suami, istri, atau orang
     tua yang baik.

     Orang tua sering kali lalai, atau mengabaikan, tugas mengajarkan
     kepada anak-anak mereka tentang peran suami atau istri yang
     sesuai dengan Alkitab. Mereka menganggap bahwa mereka memunyai
     waktu yang banyak untuk tanggung jawab itu. Seharusnya orang tua
     mulai menyiapkan anak-anak mereka sejak dini untuk pernikahan.

     Pelajaran persiapan pernikahan digambarkan di 1 Korintus 13.
     Anak-anak belajar arti dari kasih agape dengan melihat orang tua
     mereka, karena mereka saling mengasihi tanpa syarat dan tidak
     mementingkan diri sendiri.

     Akrabkan anak-anak Anda dengan perintah di Efesus 5:22-25:

     "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
     karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah
     kepala jemaat .... Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana
     Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya
     baginya."

     Anak-anak harus mengerti bahwa saat mereka menerima peran yang
     Tuhan berikan itu dengan senang dan taat, maka mereka akan dapat
     mencegah masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pernikahan.
     Mereka juga akan merasakan keharmonisan dan kepenuhan dalam
     pernikahan, bukan pertentangan dengan pasangan mereka dan
     kekacauan di rumah mereka.

  2. Ajarkan pada anak-anak Anda untuk menghormati otoritas yang sudah
     Tuhan berikan.

     Pastikan bahwa Anda mengajar anak-anak Anda sesuai dengan aturan
     alkitabiah yang harus ditaati oleh pria dan wanita. Filosofi
     sekuler akan mencoba menarik mereka untuk menentang otoritas itu,
     dan mencoba mencari kebebasan dalam kebebasan yang bertentangan.
     Bimbinglah mereka untuk mengingat perintah dan taat pada
     peringatan di Roma 13:1,2:

     "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya,
     sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan
     pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu
     barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan
     siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya."

     Arahkan anak-anak Anda pada Ibrani 13:17:

     "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab
     mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus
     bertanggung jawab atasnya."

     Ajarkan kepada mereka pentingnya belajar bagaimana taat pada
     pemimpin sehingga memuliakan Tuhan dan membuka kesempatan untuk
     bersaksi.

     Berikut tiga saran yang dapat membantu Anda dalam mengajar
     anak-anak Anda tentang prinsip-prinsip ketundukan:

     a. Berinisiatiflah untuk mengatasi segala halangan yang mungkin
        muncul saat melakukan tugas yang telah diberikan kepada Anda.
        Mintalah hikmat Tuhan supaya bisa kreatif, dan putuskan untuk
        taat, sesulit apa pun tugas itu.

     b. Jangan membuat alasan untuk melanggar perintah yang ada pada
        tugas itu. Taatlah pada hal-hal yang kecil, demikian pula pada
        hal-hal yang besar. Sadarilah bahwa perhatian pada hal-hal
        kecil sering kali menjadikan kita bisa membedakan antara
        keberhasilan dan kegagalan. Bila perlu, carilah penjelasan
        yang lebih dalam lagi tentang perintah-perintah yang diberikan
        bila Anda tidak memahami bagaimana melakukan tugas tertentu.
        Perhatikanlah baik-baik saat Anda menerima perintah.

     c. Bertindaklah dengan cepat, gembira, dan giat saat perintah itu
        pertama kali diberikan. Saat Anda segera meresponi perintah
        itu dengan senyum, itu menandakan bahwa Anda senang
        mengerjakan tugas Anda. Tuhan dengan tegas melarang sikap
        bersungut-sungut dan mengeluh, atau malas dan pelupa. Kerahkan
        seluruh tenaga Anda untuk menyelesaikan setiap tugas dan
        jangan merasa bersalah saat Anda melamun, atau berusaha dengan
        setengah hati.

  Perintah-perintah ini semuanya menjadi tuntunan bagi orang tua yang
  benar-benar dan sungguh-sungguh ingin membesarkan anak-anak mereka
  dalam rasa hormat dan takut akan Tuhan. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Nama situs: With The Word
  Judul asli artikel: Teaching Children the Rewards of Obeying Authority
  Penulis: Dr. Don Dunlap
  Alamat URL: http://www.9marks.org/CC/article/0,,PTID34418|CHID632334|CIID186582,00.html

______________________________________________________________________
\o/ BAHAN MENGAJAR \o/

             BOLEHKAH SAYA MINTA TALI YANG LEBIH PANJANG?

  Renungan:
  Suatu hari saya sedang duduk di bandara, membaca koran dan menunggu
  penerbangan. Tiba-tiba ada sesuatu menabrak kaki saya, lalu saya
  lihat apa yang menabrak kaki saya itu. Seorang anak balita kira-kira
  berumur dua tahun dengan sangat bersemangat, memandang sekelilingnya
  dengan badan miring, menyerobot dan menyentuh segala sesuatu yang
  dapat ia raih -- tetapi ibunya menghalangi apa yang akan ia raih.
  Ibunya benar-benar mengenakan pengikat kuda di dada anak itu.

  Menyedihkan sekali! Ibu itu memperlakukan dia seperti anjing kecil,
  pikir saya. Akan lebih baik bila ibu itu memegang saja tangan anak
  itu.

  Beberapa bulan kemudian, saya merasakan hal yang berbeda saat saya
  berjalan-jalan di suatu dermaga di dekat laut. Airnya sangat deras
  -- ombak membentur pembatas pantai; hamburan air beterbangan di
  udara. Dan saya melihat ibu yang lain yang juga mengenakan pengikat
  kuda pada anaknya. Seperti anak yang ada di bandara, anak ini
  meronta, berusaha melepaskan diri dari kekangan itu.

  Saya menyadari dua hal tentang pengikat itu. Pertama, pengikat itu
  sebenarnya memberikan kebebasan lebih pada anak. Ibunya bisa
  mengangkat dan menjaga supaya dia tidak jatuh di dermaga, tetapi dia
  tidak dapat bebas menggunakan otot-ototnya serta menyentuh dan
  merasakan apa yang ia inginkan.

  Dan kedua, pengikat itu menyelamatkan dirinya. Tanpa pengikat itu,
  dia sudah akan berada di tepi dermaga, dan hanya dalam sekejap saja,
  dia bisa jatuh sejauh dua puluh yard atau jatuh ke laut yang ganas
  tanpa ada regu penyelamat yang menolongnya.

  Dia tidak sedang mencoba bunuh diri. Dia hanya terlalu muda untuk
  tahu bahaya. Jadi ibunya mencoba mengendalikannya dengan cara yang
  mungkin menganggu orang yang melihatnya, tetapi justru dapat
  menyelamatkan anak itu.

  Sebenarnya tidaklah menjadi masalah. Orang tua secara rutin menjaga
  hidup anak-anak mereka. Mereka tidak biasa menggunakan tali
  pengekang -- dan mereka melakukannya dengan mengatakan "jangan".

  "Jangan! Jangan tempelkan paku itu ke lubang listrik."
  "Jangan! Jangan makan racun tikus itu."
  "Jangan! Jangan mendekat ke jalan yang ramai."

  Saat kita mulai lebih dewasa, orang tua kita masih tetap mencoba
  menjaga kita dan kebahagiaan kita, meskipun kita sudah tidak
  mengharapkannya. Dan mereka melakukannya dengan kata yang sama.

  "Jangan! Jangan mencoba menggunakan obat-obatan dan alkohol.
  Barang-barang itu bisa membunuhmu."

  "Jangan! Jangan bergaul dengan mereka. Mereka tidak baik; mereka
  bisa membuatmu bermasalah."

  Apakah orang tuamu kadang-kadang mencoba terlalu mengendalikanmu?
  Mungkin saja. Tapi ingat, mereka melakukan itu untuk menjagamu
  dengan kata-kata yang mereka ucapkan berulang-ulang, dan mereka tahu
  itu. Dan mungkin, mungkin saja, mereka benar pada saat itu.

  Bicarakan dengan mereka tentang hal ini. Biarlah mereka tahu kapan
  Anda bisa sedikit bebas. Tetapi tetap berikan kepada mereka hak
  untuk mengatakan "jangan".

  Hal ini untuk menjaga dirimu. Dan ini akan terus berulang.

  Ayat bacaan:
  Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah
  menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu
  pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu. Jikalau engkau berjalan,
  engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan
  dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena
  perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang
  mendidik itu jalan kehidupan. (Amsal 6:20-23)

  Pertanyaan:
  Ingin tahu apa yang akan kamu peroleh bila menghormati dan taat pada
  orang tua? Bacalah Keluaran 20:12.

  Tugas:
  Sebagian besar anak senang bila bisa benar-benar bebas untuk
  melakukan apa yang mereka inginkan dan kapan saja. Karena hal itu
  tidaklah masuk akal, mungkin kamu perlu menjelaskan beberapa hal
  yang menurutmu bisa dijadikan latihan untuk bertanggung jawab lebih
  dari yang diberikan oleh orang tuamu -- misalnya waktu tidur, jam
  malam, penggunaan telepon, keputusan tentang musik atau pakaian.
  Pikirkan dahulu alasan-alasanmu dan kemudian tanyakan kepada orang
  tuamu kapan bisa membicarakan hal ini.

  Akan tetapi, jangan lakukan itu semua bila kamu belum siap menerima
  kata "jangan" tanpa marah atau membantah. Hal ini bukannya akan
  membantu, tetapi justru akan memerburuk keadaan. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Judul buku: Jumper Fables
  Judul asli artikel: May I Have a Longer Leash, Please?
  Penulis: Ken Davis dan Dave Lambert
  Penerbit: Zondervan Publishing House, Michigan 1994
  Halaman: 86 -- 88

______________________________________________________________________
\o/ WARNET PENA \o/

                TELAGA: MASALAH KUASA DALAM KELUARGA

   http://www.telaga.org/ringkasan.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_1.htm
   http://www.telaga.org/ringkasan.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_2.htm

  Selain dalam edisi e-BinaAnak kali ini, pembahasan seputar otoritas
  dalam keluarga dapat juga Anda simak dalam situs TELAGA -- situs
  yang memuat transkrip maupun versi audio dari program radio TELAGA
  (Tegur Sapa Gembala dan Keluarga). Ada dua audio seputar otoritas
  dalam keluarga di situs TELAGA, yaitu Masalah Kuasa dalam Keluarga 1
  dan Masalah Kuasa dalam Keluarga 2. Anda dapat masuk ke dalam
  ringkasan topik ini di alamat yang sudah kami cantumkan di atas.
  Sedangkan transkrip dan format MP3 program tersebut dapat Anda
  peroleh dalam URL di bawah ini.

  Masalah Kuasa dalam Keluarga 1:
  Transkrip: http://www.telaga.org/transkrip.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_1.htm
  MP3: http://www.ylsa.org/telaga/mp3/T191A.MP3

  Masalah Kuasa dalam Keluarga 2:
  Transkrip: http://www.telaga.org/transkrip.php?masalah_kuasa_dalam_keluarga_2.htm
  MP3: http://www.ylsa.org/telaga/mp3/T191B.MP3

  Oleh: Davida (Redaksi)

______________________________________________________________________
\o/ STOP PRESS \o/

            SEMINAR NASIONAL GURU AGAMA DAN KONSELOR SEKOLAH

  Institut LK3, didukung Yayasan Peduli Konseling Indonesia, akan
  mengadakan Seminar Nasional Guru Kristen dan Konselor Sekolah dengan
  tema "Kurikulum Agama, Character Building, dan Konseling Siswa yang
  Menjawab Kebutuhan Murid" pada:
  Hari, tanggal: Kamis -- Sabtu, 16 -- 18 Oktober 2008
  Pukul        : 16.00 -- 21.00 WIB (Kamis)
                 09.00 -- 17.00 WIB (Jumat -- Sabtu)
  Tempat       : Landmark Building Tower A Lt.22,
                 Jl. Jend. Sudirman Kav. 1 Jakarta.
  Biaya        : Rp. 475.000 (Biaya di luar akomodasi, panitia tidak
                 menyediakan penginapan)
  Segeralah mendaftar, tempat terbatas. Informasi lebih lanjut,
  hubungi:
  Institut LK3 dan YAPKI (Yayasan Peduli Konseling Indonesia)
  Telp.: 021-5608477, Fax.: 021-5644129 (Tiyo, Rudy, dan Samurai)
         021-68246195 (Samurai)
  Tiyo (0817855835)
  Rudy (087877179387)
  Samurai (08174969794)
  E-mail: konseling_lk3(at)cbn.net.id
  Website: www.pedulikonseling.or.id

______________________________________________________________________
\o/ MUTIARA GURU \o/

      Bila anak-anak tidak tahu bagaimana tunduk pada otoritas
    yang sudah Tuhan berikan, maka mereka akan gagal dalam hidup.
                           (Dr. Don Dunlap)

______________________________________________________________________

Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke redaksi:
<binaanak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-binaanak(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________

Pimpinan Redaksi: Davida Welni Dana
Staf Redaksi: Kristina Dwi Lestari dan Christiana Ratri Yuliani
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2008 -- YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Alamat berhenti: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://pepak.sabda.org/

Bergabunglah dalam Network Anak di Situs In-Christ.Net:
http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_anak

______________PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN GURU_______________
  Tampilan cetak   edisi sebelum | edisi berikut