Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/berita_pesta/129

Berita PESTA edisi 129 (29-3-2018)

Maret 2018

Berita PESTA -- Edisi 129, Maret 2018
 
SABDA PESTA
Berita PESTA -- Edisi 129, Maret 2018

DAFTAR ISI

 
EDITORIAL

Salam damai dalam Kristus,

Penderitaan Kristus di kayu salib adalah penderitaan yang sungguh menyakitkan. Penderitaan-Nya melebihi apa yang didokumentasikan dalam film The Passion of The Christ. Tangan dan kaki-Nya terpaku, tubuh-Nya yang lemah usai disesah dan dipukuli, selain itu orang banyak juga menjadikan-Nya sebagai ejekan. Namun, Kristus tetap melalui semuanya itu dengan taat dan setia. Selengkapnya mengenai hal tersebut dapat Saudara simak dalam artikel Penderitaan Kristus di Kayu Salib. Simak pula laporan kegiatan PESTA Februari/Maret. Segenap staf PESTA dan moderator mengucapkan selamat merayakan Paskah. Biarlah kita semakin didorong untuk memikul salib kita setiap hari. Solus Christus.

Pemimpin Redaksi Berita PESTA,
Amidya

Amidya
Situs PESTA

 
BERITA PESTA & POKOK DOA

1. Penutupan Kelas DIK Januari/Februari 2018

Kelas DIK Jan/Feb

Kami bersyukur atas berlangsungnya Kelas Dasar-Dasar Iman Kristen (DIK) Januari/Februari 2018. Kelas ini diikuti oleh 16 peserta, dan pada akhir diskusi dapat meluluskan 10 peserta. Beberapa peserta mengundurkan diri karena sibuk bekerja hingga tidak bisa mengikuti diskusi secara aktif. Kami juga berterima kasih kepada Sdr. Dedy Yanuar dan Ibu Linda Cheang yang sudah turut memoderasi kelas ini dan mendorong seluruh peserta untuk terus bersemangat mengikuti diskusi dari Termin I hingga Termin IV. Untuk mengetahui apa saja yang didiskusikan dalam kelas DIK Januari/Februari, Saudara dapat membaca Rangkuman Diskusi kelas ini.

Baca: Rangkuman Diskusi DIK Januari/Februari 2018

2. Bergabunglah dalam Kelas Orang Tua Kristen (OTK) Mei/Juni 2018

Kelas OTK

Pada Mei/Juni, PESTA akan membuka kelas Orang Tua Kristen (OTK). Kelas ini akan mempelajari pandangan alkitabiah mengenai orang tua dalam PL dan PB, fase perkembangan anak, tugas dan kewajiban orang tua, serta peran orang tua dalam gereja Tuhan. Harapan kami, kelas diskusi ini dapat memperlengkapi setiap orang tua Kristen dengan pengajaran alkitabiah sehingga dapat mendidik anak-anak dalam Tuhan. Untuk mendaftar, silakan klik tautan berikut, dan Admin PESTA akan segera merespons Anda:

Doakan supaya Tuhan memakai promosi pembukaan kelas ini untuk membawa setiap orang tua Kristen rindu untuk diperlengkapi menjadi orang tua Kristen yang bertanggung jawab.

3. Komunitas PESTA Belajar Alkitab dengan Menggunakan SABDA Bot

SABDA Bot

Setiap orang percaya yang lapar dan haus akan firman Tuhan akan senantiasa menggunakan waktu dan media yang ada untuk studi Alkitab. Puji Tuhan, di tengah-tengah perkembangan teknologi saat ini, kesempatan untuk studi Alkitab semakin terbuka, terlebih lagi dengan adanya ponsel dan media chat yang sangat fleksibel untuk digunakan. Ya, itulah yang kini dilakukan oleh Komunitas Alumni PESTA. Dengan memanfaatkan fitur Bot yang disediakan oleh Yayasan Lembaga SABDA, kini komunitas alumni PESTA dapat mempelajari Alkitab dengan lebih mudah dan menyenangkan melalui aplikasi chatting Telegram. Hanya dengan memberikan beberapa perintah yang diawali dengan “/” (garis miring), Anda bisa mengakses berbagai macam bahan yang tersedia. Misalnya, Anda bisa meminta ayat Alkitab, renungan harian (Santapan Harian dan Renungan Harian), tafsiran Matthew Henry, dan bahan-bahan yang lain. Disediakan juga fasilitas pencarian kamus Alkitab, pencarian nomor strong, dan berlangganan publikasi elektronik YLSA. Untuk memulai, silakan instal aplikasi chatting Telegram di telepon pintar Anda, lalu berteman dengan @sabdabot. Untuk info lebih lengkap, silakan kunjungi halaman SABDA Bot di situs SABDA Labs.

 
ARTIKEL: PENDERITAAN KRISTUS DI KAYU SALIB
“Dan Yesus berkata: ‘Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.’” (Lukas 9:22)

Memang semua anak manusia lahir, suatu hari akan mati, dan dalam pengertian ini, tujuan atau arah hidup adalah kematian itu sendiri. Namun, tidak ada seorang manusia pun yang memiliki konsep yang begitu jelas akan nasib hidupnya, yakni kematiannya, selain Kristus. Jauh hari sebelum Ia disalibkan, Tuhan Yesus sudah memperingatkan, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Lukas 9:22).

Matius mencatat empat kali pemberitahuan Tuhan akan kematian-Nya, sedangkan Markus dan Lukas masing-masing mencatat tiga kali. Meski Yohanes hanya mencatat satu kali pemberitahuan Tuhan akan kematian-Nya, tetapi penyusunan wacana Injil itu sendiri memberi tekanan khusus pada kematian Tuhan Yesus. Dari ke-21 pasalnya, sepuluh pasal terakhirnya merupakan catatan peristiwa yang terjadi pada minggu terakhir sebelum Kristus disalibkan. Bandingkan dengan sebelas pasal pertama yang meliput 33 tahun kehidupan-Nya. Tidak heran, ada yang berkesimpulan bahwa keempat Injil sebenarnya merupakan riwayat kesengsaraan dan kematian Tuhan Yesus yang ditulis dengan data pendahuluan yang sedikit panjang.

Mahkota duri dan paku

Kematian Kristus adalah berita sentral tentang karya penebusan-Nya, sedangkan penderitaan Kristus memperjelas harga mahal yang harus dibayar-Nya. Kematian-Nya menjadi bukti akan kasih Allah terhadap manusia yang berdosa. Penyaliban-Nya menegaskan pengorbanan yang harus dilalui-Nya dalam mewujudkan kasih yang teramat agung itu. Menjelang peringatan hari kematian dan kebangkitan-Nya, sudah selayaknyalah kita merenungkan kembali kesengsaraan yang ditanggung-Nya karena kita. Saya berharap melalui uraian seputar penyaliban ini, kita pun dapat menambah pemahaman kita akan penderitaan Kristus, Tuhan kita.

Dalam New Bible Dictionary (second edition) yang disusun oleh J.D. Douglas, kita dapat menemukan banyak keterangan historis dan deskriptif tentang penyaliban. Sebagaimana dicatat dalam Matius 27:26 dan Markus 15:15, sebelum disalibkan, Yesus disesah terlebih dahulu. Pada umumnya, penyesahan dilakukan dengan flagellum, yaitu cambuk yang terbuat dari kulit. Rupanya penyiksaan yang diterima Tuhan Yesus sangat melemahkan tubuh-Nya, Ia bukan saja menerima cambukan, melainkan juga pemukulan dengan sebuah tongkat atau buluh.

Markus 15:19 memberi gambaran grafik tentang pemukulan tersebut yang terungkap dengan jelas dalam Alkitab berbahasa Inggris terjemahan NIV, yakni mereka memukul kepala-Nya dengan sebuah buluh, again and again (berulang kali). Selain itu, para serdadu juga membuatkan mahkota duri yang kemudian ditaruh di atas kepala Tuhan. Mahkota tersebut dianyam dari sejenis akar berduri yang tumbuh di tanah Palestina. Sudah tentu duri yang menancap di kepala Tuhan akan menyebabkan pendarahan, dan jika (hampir dapat dipastikan) Ia mengalami pendarahan pula akibat pencambukan, Ia pun akan mulai kehilangan darah sebelum Ia disalibkan. Ditambah dengan persidangan maraton pada malam sebelumnya yang membuat-Nya tidak tidur, tubuh Tuhan menjadi sangat lemah. Itulah sebabnya, Ia tidak kuat lagi menyandang kayu salib yang akan digunakan untuk menyalib-Nya sehingga para serdadu memaksa Simon orang Kirene untuk menggantikan-Nya memikul salib itu.

Berbeda dengan gambar yang sudah lama beredar, ternyata Tuhan tidak membawa salib yang utuh. Batang salib yang vertikal itu (simplex) sudah tertanam secara permanen di bukit penyaliban Golgota dan yang dipikul oleh Tuhan adalah batang kayu horisontalnya (patibulum). Berat batang kayu ini biasanya sekitar 15-20 kilogram. Sebelum disalib, terhukum akan ditelanjangi terlebih dahulu dan itulah yang terjadi pada Tuhan. Keempat penulis Injil mencatat bahwa para serdadu mengambil pakaian-Nya, kemudian membuang undi dan membagi-bagi pakaian-Nya. Setelah itu, kedua tangan Tuhan direntangkan, lalu disalibkan pada pergelangan tangan, bukan telapak tangan, agar lebih kuat menyangga bobot tubuh-Nya. Penyaliban kedua tangan ini dilakukan dengan cara merebahkan tubuh Tuhan di tanah, dan sesudah itu, barulah tubuh Tuhan diangkat dan disatukan dengan batang salib yang vertikal itu.

Untuk menahan berat tubuh terhukum, biasanya disediakan kayu penyangga (sedecula) pada bagian tengah salib agar ia dapat setengah duduk pada kayu salib. Berdasarkan penemuan arkeologis, jenazah seorang tersalib di sekitar Yerusalem yang hidup antara tahun 7 hingga 66 Masehi, ternyata kaki terhukum tertekuk pada lututnya sehingga kedua tumitnya akan berada di bawah pantatnya. Kedua tumit kaki itu disejajarkan, lalu dipaku dengan sebilah paku besi pada batang salib. Tampaknya, itulah yang terjadi pada Tuhan tatkala di salib. Sudah tentu keadaan kaki yang tidak terentang lurus dan harus bengkok itu akan membuat kaki-Nya kejang dan kram.

Salib Kristus

Wayne Grudem menulis dalam majalah Decision (Maret, 1989) bahwa kematian di kayu salib merupakan kematian secara perlahan-lahan akibat kehabisan oksigen. Lengan yang direntangkan ke atas membuat terhukum sulit mengambil napas. Setiap kali ia ingin bernapas, ia pun terpaksa mengangkat tubuhnya sedikit dengan menggunakan kakinya. Pada saat tubuhnya sedikit terangkat, otot-otot di lengannya akan menjadi sedikit lemas dan keadaan ini akan memudahkannya menarik napas. Namun, gerakan ini akan menimbulkan rasa sakit di kakinya. Karena gerakan ini, berarti ia harus menumpukan berat tubuhnya pada kedua tumitnya yang terpaku di salib.

Penyaliban menimbulkan rasa sakit yang tidak terbayangkan, mulai dari proses pemakuan kaki dan tangan sampai pada menggantungkan tubuh pada kaki dan tangan yang dipaku. Setiap tarikan napas akan membuat terhukum merasa sakit luar biasa di urat saraf tangan dan kakinya. Selain itu, ia pun akan merasakan sakit karena setiap kali bernapas, ia harus menggesekkan punggungnya yang terluka akibat cambukan pada kayu salib yang kasar. Grudem menjelaskan bahwa ada kalanya terhukum akan hidup berhari-hari meski dalam kondisi setengah mati dengan rasa tercekik akibat kekurangan oksigen. Itulah sebabnya, serdadu Romawi biasanya mematahkan kedua kaki terhukum guna mempercepat kematiannya (crurifragium). Dalam kasus Tuhan Yesus, kedua kaki-Nya tidak dipatahkan karena kematian-Nya yang relatif cepat akibat penyiksaan yang dialami-Nya itu.

Penderitaan Kristus di kayu salib berlangsung selama kurang lebih enam jam; tetapi setiap menit dan detik, tubuh-Nya menderita sakit yang amat sangat. Kematian di kayu salib merupakan hukuman mati kekaisaran Romawi yang diperuntukan bagi para budak dan kriminal kelas berat yang bukan warga Romawi. Dengan kata lain, penyaliban merupakan hukuman mati yang terhina, sebab hanya diterapkan bagi mereka yang dianggap paling hina. Tuhan, pencipta alam semesta dan isinya, lahir secara terhina dan mati secara terhina pula. Semua ini dilakukan-Nya karena satu alasan saja, yakni untuk menebus dosa saya dan Saudara.

Negara Jerman telah melahirkan beberapa hamba Tuhan yang setia dan berpengaruh besar terhadap dunia kekristenan; Dietrich Bonhoeffer adalah salah satu di antara mereka itu. Pada masa perang dunia kedua, tatkala banyak gereja dan hamba Tuhan di Jerman berpihak pada Hitler, Bonhoeffer menentang dengan gigih. Kendati ia berkesempatan lari dan pernah bermukim di Amerika Serikat, ia tetap memutuskan untuk kembali ke Jerman. Pada April 1943, ia ditangkap dan dipenjarakan sekembalinya ke Jerman, dan dua tahun kemudian, ia dihukum gantung beberapa hari sebelum tentara sekutu datang membebaskan penjara tersebut. Usianya 39 tahun.

Pandangan-pandangan Bonhoeffer tajam dan tidak kenal kompromi. Di dalam bukunya, The Cost of Discipleship, ia menekankan bahwa musuh gereja yang paling berbahaya adalah anugerah murahan. Ia mengajak kita untuk memperjuangkan anugerah yang mahal. Baginya, anugerah murahan adalah anugerah sebagai doktrin, prinsip, dan sistem kepercayaan belaka. Anugerah murahan sama dengan pengakuan imani intelektual yang hampa dengan kehidupan mengikut Kristus. Bonhoeffer menegaskan bahwa anugerah murahan merupakan “pembenaran dosa” tanpa “pembenaran si pendosa itu sendiri” (justification of sin without the justification of sinner). Anugerah murahan sejajar dengan mengkhotbahkan pengampunan tanpa menuntut pertobatan hidup. Anugerah Allah gratis, tetapi tidak murahan. Gratis, dalam pengertian diberikan secara cuma-cuma karena terlalu mahal untuk dapat dibeli oleh manusia. Anugerah Allah mahal karena menuntut kematian Putra-Nya sendiri, dan kematian Kristus Putra Allah bukanlah kematian wajar. Kematian-Nya disebabkan dan diawali oleh penderitaan yang tidak terperikan. Kita mesti senantiasa mengingat bahwa penebusan dosa yang kita nikmati sekarang telah dibayar dengan harga yang sangat mahal. Kita tidak akan mampu membayarnya dan Tuhan pun tidak meminta kita membayarnya. Ia hanya minta kita hidup untuk-Nya, sebagaimana tersurat di Galatia 2:20, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Audio Penderitaan Kristus di Salib

Diambil dari:
Nama situs : Iman Reformed, Semangat Injili
Alamat situs : https://thisisreformed.wordpress.com/2009/02/26/penderitaan-kristus-di-kayu-salib-pdt-paul-gunadi/
Judul artikel : Penderitaan Kristus di Kayu Salib
Penulis : Pdt. Paul Gunadi
Tanggal akses : 19 Maret 2018
 
KESAKSIAN PESTA: KESAKSIAN PESERTA KELAS DIK JANUARI/FEBRUARI 2018

1. Bapak Hermon Rohani (Sabah, Malaysia)

Hermon Rohani “Setelah mengikuti kelas DIK, saya lebih memahami firman Tuhan karena topik-topik yang dibahas, diterangkan, dan didiskusikan secara mendalam. Saya telah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, tetapi saya merasa pemahaman saya akan Alkitab masih terbatas. Beberapa nats dan doktrin juga sukar dipahami. Melalui pembelajaran di PESTA, saya mendapat berkat dan wawasan saya bertambah. Terima kasih PESTA!”

2. Sdr. Yoel Bastian (Solo, Jawa Tengah)

Yoel Bastian “Saya diberkati selama mengikuti kelas DIK walaupun terlambat dalam mengikuti diskusi. Topik yang sangat saya minati adalah topik kehendak bebas manusia dan keselamatan. Masih ada topik yang ingin saya dalami, yaitu pelajaran untuk menang atas keinginan daging. Terima kasih YLSA dan PESTA.”

3. Sdri. Lena Nainggolan (Solo, Jawa Tengah)

Lena “Bersyukur bisa mengikuti kelas DIK dengan baik walaupun saya sempat tertinggal. Kelas ini asyik, seru, dan menambah pengetahuan. Dalam kelas ini, kami juga belajar untuk mengetahui situasi dan kondisi yang dihadapi setiap peserta di tempat pelayanan mereka masing-masing. Terima kasih kepada moderator kelas DIK yang telah menolong dan berusaha memfsilitas peserta. Saya berdoa supaya banyak orang yang bergabung mengikuti kelas PESTA.”
 
STOP PRESS: IKUTI DISKUSI FACEBOOK GRUP E-DOA DOA YANG LAHIR DARI IMAN MENYELAMATKAN ORANG SAKIT
Stop Press! Ikuti Diskusi Facebook Grup e-Doa Doa yang Lahir dari Iman Menyelamatkan Orang Sakit
Diskusi Grup Facebook e-Doa

“Tuhan tidak selalu menjanjikan penyembuhan, tetapi jika kita menggunakan iman kita, Tuhan selalu menjanjikan penyelamatan, yang sebenarnya lebih penting daripada penyembuhan.”

Apakah Anda sedang bergumul dengan sakit dan kesembuhan atas penyakit? Apakah Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang kaitan antara doa, iman, dan keselamatan dari orang sakit? Jika Anda ingin belajar lebih banyak lagi mengenai permasalahan ini, mari ikuti diskusi di Facebook Grup e-Doa yang akan berlangsung pada 23 April -- 4 Mei 2018.

Untuk dapat bergabung dalam diskusi doa ini, silakan mendaftarkan diri ke: https://facebook.com/groups/doa.kristen atau melalui email ke alamat: doa@sabda.org. Pendaftaran ditunggu paling lambat hingga tanggal 16 April 2018.

Mari, kita semakin memahami makna doa dan kesembuhan dalam diskusi FB grup e-Doa!

 

Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr')
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan Berita PESTA.

Redaksi: Amidya dan Yulia
Kontak | Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©,2018 -- Yayasan Lembaga SABDA

 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org