____________PUBLIKASI KISAH (Kesaksian Cinta Kasih Allah)_____________
Edisi 91, 6 Oktober 2008
PENGANTAR
Apakah Anda sudah menikmati hasil jerih payah Anda? Apakah Anda
sedang menanti jawaban Tuhan untuk sebuah keputusan yang menjadi
pergumulan? Atau pernahkah Anda ingin mengulang kembali hidup ini
untuk dapat mengambil jalan lain yang lebih baik menurut keyakinan
Anda?
Setiap saat kita perlu bertanya kepada Tuhan mengenai segala
keputusan yang hendak kita ambil, kadang itu bukan merupakan pilihan
kita, seperti yang berhubungan dengan arah hidup kita. Seperti yang
sudah banyak kita dengar bahwa setiap orang dipanggil oleh Tuhan,
tetapi tidak semua orang dipilih-Nya. Apakah Tuhan pernah menyatakan
panggilan-Nya kepada Anda? Kisah ini dapat membantu Anda mengerti
jelas mengenai sebuah panggilan Tuhan. Semoga menjadi berkat.
Redaksi Tamu KISAH,
Hilda Dina Santoja
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
KUBIARKAN IMPIANKU SIRNA
Aku dibesarkan di sebuah peternakan di California Selatan.
Pagi-pagi sekali sebelum orang lain bangun, biasanya aku memanggil
anjing kami, Laddie, untuk berjalan-jalan melalui lembah dan bukit
melewati tanah kami yang luasnya empat ratus hektar untuk
menyaksikan matahari terbit. Pakis Spanyol yang berenda-renda lembut
terjurai dari pohon-pohon Oak, kelihatan seperti berasal dari dunia
lain dalam cahaya pagi yang remang-remang itu; begitu juga warna
kuning dari bunga semak-semak, tampak bertambah indah.
Aku sering memimpikan rumah yang kelak akan kumiliki; sebuah rumah
pertanian besar dan indah dengan pagar putih. Beberapa ekor sapi
makan rumput di bukit-bukit yang mengelilinginya. Yang paling
menyenangkan adalah, rumahku akan dipenuhi dengan orang dan semuanya
bahagia. Sesekali, begitulah di dalam khayalku, aku akan
meninggalkan rumah dan teman-temanku untuk pergi ke rumah sakit
tempatku bekerja sebagai perawat, sebagaimana pekerjaan ibuku
sekarang. Bagiku, itulah hidup yang sempurna!
Begitu kembali ke dunia nyata, aku berlari pulang ke rumah, membantu
menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh keluarga serta mengambil
bagian dalam tugas-tugas pekerjaan yang lain sebelum berangkat
sekolah.
Pada suatu hari, sewaktu aku berumur tujuh tahun, aku bersama ayah
berada di ladang mencabut rerumputan. Sambil meluruskan badannya,
ayah menyuruhku kembali ke rumah untuk mengambil mobil "pick up".
aku memprotes, "Tetapi ... tetapi ..., aku belum tahu bagaimana
membawanya."
Ayah tidak terpengaruh. Kakak-kakakku telah belajar mengemudi pada
usia tujuh tahun. Ayah percaya dua hal: "Kamu tidak perlu tahu
bagaimana melakukannya, tetapi kamu harus melakukannya" dan "engkau
akan dapat melakukan apa saja, asal engkau berusaha keras". Hal yang
tidak mungkin? Tidak ada yang tak mungkin. Dia pantang menyerah dan
tidak juga mengizinkan kami menyerah. Tidak pernah.
Oleh karena itu, meski gemetaran, aku berlari ke tempat truk kecil
itu dengan hati yang berdebar sambil terengah-engah. Entah
bagaimana, aku berhasil menghidupkannya dan truk itu berjalan menuju
Ayah. aku hanya melakukan hal itu karena diperintah. Sejak usia
muda, aku belajar untuk taat kepada yang berwenang.
Ayah menunjukkan kasihnya kepada kami sesuai dengan kemampuannya --
dengan jalan mempersiapkan kami menghadapi tantangan-tantangan hidup
ini dan mengatasinya. Warisan ini sangat berharga bagiku.
Aku menghormati ayah, namun juga sedikit takut kepadanya. Aspek ini
juga merupakan bagian warisan dari ayah. Kalau Ayah berkata,
"Loncat!", aku akan bertanya, "Setinggi mana?" Lalu dengan otomatis
perasaan seperti itu aku berlakukan juga terhadap Tuhan.
Namun aku belajar sesuatu tentang Allah yang kemudian mengubah rasa
takut itu menjadi rasa hormat penuh hikmat kepada-Nya; Allah memakai
segala sesuatu. Bahkan yang tampaknya seperti kotoran sapi pun,
diambil-Nya dan diubah-Nya menjadi bahan yang berguna bagi-Nya.
Kalau kita simpan, tumpukan itu akan berbau busuk. Kalaupun ada
noda-noda hitam dalam hidup Anda; tidak mengapa, aku yakin semua
orang memunyainya. Namun satu-satunya cara untuk mendapatkan karunia
Allah adalah dengan bekerja melalui noda-noda hitam tersebut.
Di sekolah, sering aku merasa diri aneh dan lain daripada yang lain,
aku memang seorang gadis jangkung yang berpakaian karung tepung
bekas dengan rambut lurus kaku. Seusai sekolah, kakak-kakak dan aku
selalu harus segera pulang dengan bus sekolah. Ada tugas memerah
susu sapi, memberi makan ayam, menyiangi rumput, dan mengangkat kayu
bakar. Bila berada bersama dengan anak-anak dari kota yang selalu
tampak begitu rapi dengan pakaian jadi yang dibeli, aku selalu
merasa kikuk.
Akan tetapi, pada usia sebelas tahun aku sudah tahu apa yang
seharusnya aku lakukan ketika mendengar bahwa Allah menawarkan
pengampunan atas dosa dan kehidupan kekal bagi yang meminta
kepada-Nya. Ketika guru kelas Alkitab bertanya siapa yang mau
menerima Kristus sebagai Juru Selamat, tanganku kuangkat
tinggi-tinggi. Itu adalah berita terindah yang pernah aku dengar --
rasanya seperti menemukan emas.
Bersama kedua kakakku, aku mulai mengikuti suatu kelas Alkitab,
terlebih karena pendeta kami menawarkan diri untuk mengantar kami
pulang dengan mobilnya setiap pulang dari kelas itu. Dalam
perjalanan-perjalanan mengantar kami pulang itulah ia menunjukkan
kepada kami sifat-sifat Allah. Pendeta Brown senang kepada kami! Ia
tertawa, melucu, dan berbicara tentang firman Allah.
Oleh karena aku menghormati wewenang, maka tidak sulit bagi aku
untuk percaya pada firman Allah. Akan tetapi aku terusik oleh
perintah untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Kabar Baik
serta mengajar orang tentang Allah. Pada suatu hari Minggu, seorang
misionaris datang ke gereja kami; ia berkata bahwa 90% dari yang
"pergi", yang "memberitakan", serta "memuridkan", hanya memusatkan
perhatian kepada yang 10% dari seluruh penduduk dunia.
Aku duduk tegak di kursi. Itu berarti hanya 10% dari mereka yang
"pergi", "memberitakan", dan "memuridkan". Itulah yang, entah dengan
cara bagaimana, menjangkau 90% dari dunia ini. Logika itu membuat
aku terkesima, namun memang masuk akal. Aku harus menjadi misionaris
-- apa pun itu artinya.
Kemudian, dalam satu perkemahan musim panas, seorang misionaris yang
menjadi pembicara berkata bahwa kalau kita berkeinginan menjadi
misionaris, mulai sekarang kita pelu berdoa untuk suku bangsa ke
mana Allah akan mengirimkan kita kelak. Ini masuk akal juga. Setiap
hari aku berdoa, "Tuhan, persiapkanlah kiranya suku bangsa itu
supaya mereka siap untuk Injil, sehingga mereka bisa percaya."
Akan tetapi, pertanyaanku masih banyak: Apa sebenarnya yang menjadi
tugas para misionaris? Bagaimana mereka tahu bahwa tugasnya sudah
selesai? Apa yang dapat aku lakukan yang hasilnya bersifat kekal?
Bagaimana kalau diketahui oleh suku bangsa itu tentang Tuhan hanya
mereka dapat dari aku? Aku menyimak baik-baik ketika misionaris itu
berbicara, namun tetap tidak dapat membayangkan diriku sebagai diri
mereka. Aku merasa tidak mampu untuk tugas itu.
Suatu hari aku mulai menyadari, bahwa "pergi ke seluruh dunia
mengabarkan Injil" berarti aku akan hidup di hutan! Sepanjang
pengetahuanku, di luar Amerika semuanya adalah hutan. Sebagai
seorang murid Sekolah Menengah Tingkat Lanjutan, belum pernah aku
keluar dari daerah asal kabupatenku.
Aku melakukan tawar-menawar dengan Allah. Bagaimana dengan impian
rumah pertanianku, bukit-bukit dan menjadi perawat? Apa yang
kulakukan terhadap diriku? Aku bergumul. Berulang kali aku berkata
kepada Tuhan, "Aku tidak sanggup, barangkali pilhan-Mu salah, Tuhan.
Aku tidak mengerti apa tugas seorang misionaris sebenarnya." Tetapi,
tampaknya Allah tidak terpengaruh seperti ayahku dulu, ketika aku
mengatakan kepadanya tidak dapat membawa truk itu. Allah tidak
menerima alasan ketidaksanggupanku.
Setelah berbulan-bulan bergumul, pada akhirnya aku menyerah dan
berkata kepada Tuhan, "Baiklah Tuhan, aku akan melakukannya walaupun
aku tidak menyenanginya."
Aku berpisah dengan rumah pertenakan, karier, dan keluargaku --
semua yang dulu kudambakan. Kubiarkan impian itu sirna.
Setelah melepaskan impianku, semangat untuk menjadi seorang
misionaris pun bertumbuh dalam diriku.
* Perkemahan ini diadakan oleh Wycliffe Bible Translators, suatu
perhimpunan para penerjemah Alkitab.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul Buku: Firman Itu Datang dengan Penuh Kuasa
Penulis: Joanne Shelter dan Patricia Purvis
Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta 1992
Halaman: 10 -- 16
______________________________________________________________________
"Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh,
supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh.
Sebab jikalau kamu melakukannya,
kamu tidak akan pernah tersandung." (2 Petrus 1:10)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=2Petrus+1:10 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Mengucapsyukurlah kepada Tuhan karena anugerah-Nya yang begitu
besar dalam hidup Saudara sehingga Saudara bisa ada sebagaimana
Saudara ada sekarang, melakukan setiap pekerjaan yang Dia
percayakan kepada Saudara.
2. Bagi yang sedang bergumul dalam mengambil sebuah keputusan,
khususnya untuk menjadi penuai di ladang misi, berdoalah untuk
meminta petunjuk Tuhan mengenai apa kehendak-Nya atas hidup kita.
3. Apabila saat ini Saudara sedang menjalani panggilan Tuhan,
teruslah mengucap syukur dan memohon tuntunan Tuhan dalam
melaksanakan rencana-Nya, dan berdoalah agar segala sesuatu yang
Saudara lakukan dapat terus memuliakan nama-Nya.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2008 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Redaksi Tamu: Hilda Dina Santoja
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/
______________________________________________________________________
|