Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/40hari/5

Doa 40 Hari 2016 edisi 5 (31-5-2016)

Suku Mandar

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- SELASA, 31 MEI 2016

SUKU MANDAR

Dirangkum oleh: Margaretha I.

Letak: Sulawesi Selatan
Populasi: 250.000 jiwa
Bahasa: Mandar
Anggota gereja: 5 (0,0002%)
Alkitab dalam bahasa Mandar: Tidak ada
Film Yesus dalam bahasa Mandar: Tidak ada Siaran radio pelayanan dalam bahasa Mandar: Tidak ada Penginjil: Tidak ada

Secara geografis, suku Mandar sudah terpisah dengan Sulawesi Selatan, tetapi sekarang berada di provinsi Sulawesi Selatan. Daerah ini merupakan daratan pantai yang rendah dan pegunungan sehingga masyarakat suku Mandar mempunyai mata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Rumah adat suku Mandar disebut Boyang. Suku Mandar juga terdiri dari 17 kerajaan yang terkelompokkan dalam wilayah persekutuan.

Keseharian Suku Mandar?

Karena letak geografis yang berada di pantai dan pegunungan menjadikan penduduk suku Mandar memiliki mata pencaharian sebagai nelayan ikan dan petani/berkebun. Hasil lautnya yang terkenal adalah ikan cakalang dan penyu. Selain bertani dan menjadi nelayan, sebagian penduduk juga memiliki keterampilan menenun kain sutra. Kegiatan menenun ini mereka pertahankan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam keluarga mereka. Dengan demikian, tradisi menenun kain sutra masih bisa berlangsung hingga saat ini. Masyarakat Mandar yang mendiami pantai timur Jazirah Selatan Pulau Sulawesi di provinsi Sulawesi Barat masih melestarikan tradisi menenun sutra.

Apakah Keyakinan Mereka?

Suku Mandar terdiri atas 17 (kerajaan) kerajaan, yang terbagi menjadi 7 (tujuh) kerajaan hulu yang disebut "Pitu Ulunna Salu", 7 (tujuh) kerajaan muara yang disebut "Pitu ba'bana binanga" dan 3 (tiga) kerajaan yang bergelar "Kakaruanna Tiparittiqna Uhai". Masyarakat Mandar Mayoritas memeluk agama Muslim, mereka adalah masyarakat muslim yang taat beribadah dan menjalankan hukum muslim. Selain itu, kepercayaan animisme tradisional juga masih kuat dalam keseharian mereka. Mereka masih memercayai kekuatan roh gaib yang mendiami tempat-tempat suci. Dalam kehidupan masyarakat Mandar, jasa seorang dukun juga sering dicari untuk berbagai tujuan dan keperluan dalam berbagai ritual suku yang masih mereka pertahankan hingga hari ini.

Apakah Kebutuhan Mereka?

Berada di daerah terpencil menjadikan suku Mandar kurang memahami bagaimana mendistribusikan hasil kerja mereka dan memperdayakan semua aset yang dimiliki suku Mandar. Aset tersebut seperti:

  1. Daerah pegunungan, pastilah daerah yang subur dan bisa dijadikan perkebunan atau dimanfaatkan sebagai daerah wisata.
  2. Pesisir pantai sangatlah mendukung nelayan untuk mencari ikan dan menjadikan tempat kunjungan wisata.
  3. Hasil tenun yang memiliki ragam hiasan yang sangat bervariatif dan bisa menarik para ahli tekstil.

Tetapi sangat disayangkan, dari hasil kerja keras mereka tersebut belum ada yang bisa membantu mengelolanya menjadi lebih produktif dan menghasilkan. Misalnya: Meningkatkan hasil perkebunan, pertanian, serta pengelolaan lahan dengan benar. Selain itu, penjualan hasil ikan dan tenun kepada distributor bisa membantu peningkatan pendapatan mereka.

Pokok Doa

  1. Berdoa kepada Tuhan Yesus supaya suku Mandar dan pemerintah daerah membuka hati untuk menerima pemberitaan Injil.
  2. Doakanlah kepada Tuhan Yesus supaya suku Mandar yang masih terikat pada kepercayaan animisme mendapat kesempatan untuk beroleh terang Injil, bertobat, dan percaya kepada Kristus.
  3. Berdoa kepada Tuhan Yesus supaya Ia mengirimkan orang-orang yang terbeban untuk melakukan penginjilan di suku Mandar.

Dirangkum dari:

  1. Tim Joshua Project. "Mandar in Indonesia". Dalam https://joshuaproject.net/people_groups/13488/ID
  2. _____. "Suku Mandar". Dalam http://www.sabda.org/misi/profilo_isi.php?id=43
  3. _____. "Suku Mandar". Dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandar

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org