Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/40hari/32

Doa 40 Hari 2015 edisi 32 (9-7-2015)

Orang Pattani Melayu Di Thailand

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- KAMIS, 9 JULI 2015

ORANG PATTANI MELAYU DI THAILAND

Kelompok masyarakat Pattani Melayu di Thailand adalah sebuah komunitas orang-orang Muslim yang saleh dari keturunan etnis Melayu, yang tinggal di bagian Selatan Thailand. Mereka kira-kira berjumlah 3,5 juta jiwa.

Orang Pattani Melayu memiliki warisan budaya yang banyak, dan merupakan perajin yang berketerampilan tinggi. Keterampilan tersebut dapat dilihat dari perahu-perahu mereka yang berwarna-warni yang digunakan untuk menangkap ikan, yang disebut "korlae", dan benda-benda kerajinan lainnya. Banyak dari mereka yang memperoleh pendapatan dengan menangkap ikan, bekerja di pabrik ikan, menyadap getah karet, atau menanam sayur-mayur dan buah-buahan.

Akan tetapi, pada umumnya, orang-orang Muslim di bagian Selatan Thailand memperoleh penghasilan yang lebih rendah daripada upah minimum. Banyak orang terjerat dalam siklus kemiskinan yang semakin buruk karena pendapatan yang rendah dan tingkat kelahiran yang tinggi. Provinsi-provinsi yang paling banyak ditinggali orang Pattani Melayu adalah di sepanjang wilayah pusat pemerintahan Thai. Orang-orang Pattani Melayu telah mengembangkan keunikan dan kebebasan. Namun, setiap kali pemerintah berusaha memusatkan kendali di provinsi-provinsi mereka, kemerdekaan ini terancam, sehingga menghasilkan kebencian terhadap pemerintah.

Sebagian besar orang Pattani Melayu berbicara dengan menggunakan dialek Melayu. Bahasa Thai jarang digunakan di lingkungan desa meskipun bahasa ini digunakan di sekolah dan digunakan ketika berbicara dengan para pegawai pemerintah atau pemimpin agama Buddha asal Thai. Orang-orang Pattani Melayu mempertahankan bahasa asli mereka.

Orang-orang Pattani Melayu pada umumnya tinggal dalam komunitas yang terjalin akrab, dan penerimaan sosial adalah sesuatu yang penting. Walaupun demikian, kaum muda semakin lama semakin dipengaruhi oleh TV dan film, mereka yang kecanduan obat-obatan dan ketidakberadaban semakin meningkat. Masalah-masalah ekonomi dan politik ditemukan di seluruh lingkungan di sekitar, dan hal ini sering kali merusak cara hidup tradisional orang-orang Pattani Melayu. Orang-orang Pattani Melayu hidup pada masa krisis, dengan tindakan kekerasan hingga ketidakstabilan menjadi perhatian yang terus berkembang.

Berbeda dari kebanyakan penduduk Thailand yang beragama Buddha, orang-orang Pattani Melayu beragama Islam. Di tengah seluruh perubahan dan krisis yang dialami orang-orang Pattani Melayu baru-baru ini, Islam adalah sesuatu yang tetap. Sejak awal berdirinya kerajaan Melayu kuno di Thailand, Islam sudah memberikan pengaruh besar terhadap budaya mereka. Mereka sangat melekat erat pada hukum Islam, atau syariat, yang diajarkan di sekolah-sekolah tradisional Islam yang disebut pondok. Karena dedikasi mereka kepada agama Islam, orang Pattani Melayu memiliki identitas yang berbeda di Thailand.

Apa yang Dapat Kita Doakan?

  1. Berdoalah kepada Tuhan untuk adanya kesempatan pendidikan untuk berkembang sehingga dapat membantu memutuskan siklus kemiskinan untuk orang Pattani Melayu.

  2. Berdoalah kepada Tuhan Yesus agar semakin banyak orang Pattani Melayu membaca dan mendengarkan kisah Yesus serta mengalami kuasa-Nya yang mengubahkan.

  3. Mintalah kepada Roh Kudus untuk menganugerahkan hikmat dan kasih setia kepada para agen dan pekerja misi untuk memfokuskan pelayanan kepada orang-orang Pattani Melayu. (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : 30 DAYS of PRAYER
Alamat URL : http://pray30days.org/site/wp-content/uploads/2014/02/2015_30DaysBooklet_English.pdf
Judul asli artikel: Pattani Malays of Thailand
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 26 Juni 2015

Kontak: doa(at)sabda.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/40hari
(c) 2015 oleh e-DOA dan "MENGASIHI BANGSA DALAM DOA"

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org