SABDA.org SABDA.org
  Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan  
  PUBLIKASI  
Doa 40 Hari
Edisi 2005


September 2005
M S S R K J S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Oktober 2005
M S S R K J S
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

Nopember 2005
M S S R K J S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


Daftar Isi:
  • Kaum Janggi (Gypsy) di Mesir



  • Kaum Janggi (Gypsy) di Mesir
    Judul : [40-Hari-2005][18] Kaum Janggi (Gypsy) di Mesir
    
    <>< <>< <>< <><   40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA   ><> ><> ><> ><>
    /\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
                             Rabu, 12 Oktober  2005
    
    KAUM JANGGI (GYPSY) DI MESIR 
    ============================
    
    Jumlah populasi: lebih dari sejuta jiwa
    
    Di Timur Tengah, kalau seseorang menyebut kata "Janggi" maka hal itu 
    dianggap suatu penghinaan besar. Sebenarnya, Janggi itu adalah nama 
    suatu masyarakat yang berasal dari zaman dulu, yaitu kelompok bangsa 
    yang semula berasal dari India, kemudian mengungsi ke Eropa dan ke 
    Timur Tengah sekian abad yang lalu. Ada lebih kurang sejuta orang 
    Janggi di Mesir, tetapi jumlah mereka tidak pernah dihitung setiap 
    kali diadakan sensus penduduk dan mereka pun tidak terdaftar pada 
    pemerintah. Mereka tidak mempunyai KTP atau surat lahir, dan tidak 
    bisa mendapatkan pekerjaan. Hidup mereka dalam kelompok-kelompok marga 
    di dalam atau dekat kota Iskandariah, Fayoum, Kairo dan Kota Salaam.  
    
    Karena warna kulit mereka yang agak gelap dan rambut mereka yang 
    kecoklat-coklatan, sering orang mengira mereka adalah orang India 
    bagian Timur. Bahasa mereka masih turunan bahasa Sansekerta dan 
    bahasa-bahasa dari India bagian Barat Laut. Beberapa kaum Janggi 
    menetap di satu kota, sedangkan yang lainnya mengembara dari satu 
    tempat ke tempat yang lain sambil mencari pekerjaan atau tempat 
    perteduhan. Banyak orang Janggi suka berkumpul di ibukota Kairo dari 
    berbagai penjuru Mesir pada hari kelahiran Nabi Muhammad, yang disebut 
    Maulud Nabi. 
    
    Kaum Janggi memakai berbagai nama lain untuk menyembunyikan 
    jatidirinya, sehingga dianggap agak misterius. "Asyur" terkadang 
    terlihat memainkan serulingnya dan mengiringi para penari pada pesta-
    pesta tertentu. Lain kali dia adalah "Abu Seria" yang melayani tamu-
    tamu dalam pesta yang lain, dari kedai kopi berjalan yang 
    dioperasikannya di Delta Sungai Nil. Tetapi ketika mengerjakan 
    pekerjaan besi tempa di Kairo, namanya sudah berganti menjadi "Abu 
    Doma". Macam-macam pekerjaan mereka, umumnya berpenghasilan kecil. Ada 
    yang menjual buah-buahan di tempat-tempat parkir di kota-kota seperti 
    Kairo, sedangkan yang lain melakukan pekerjaan besi tempa. 
    
    Janggi-janggi muda yang memberontak terhadap orang tuanya, banyak 
    yang pada akhirnya melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian 
    khusus atau terjerumus dalam perdagangan obat-obatan terlarang. Ada 
    perempuan-perempuan yang menari pada petang hari dalam pesta-pesta 
    keagamaan di kota Tanta, kemudian bekerja sebagai pelacur pada malam 
    hari. Perempuan-perempuan Janggi sangat dicari karena mereka sanggup 
    bekerja keras -- entah di bidang sales, pekerjaan pabrik atau 
    pelacuran. Seringkali kaum pria Janggi tidak bekerja sama sekali, 
    tetapi mereka hidup dari pekerjaan istri mereka. "Mencari kesenangan", 
    itulah kehidupan sebagai besar Janggi pada intinya. Tujuan akhir 
    pekerjaan mereka seringkali hanya untuk memberi kesempatan mencari 
    kenikmatan, entah dengan bermalas-malasan, mengisap rokok, memakai 
    obat-obatan terlarang atau melalui pelacuran. 
    
    Nilai-nilai moral Kristen itu merupakan konsep yang masih asing bagi 
    mereka, begitu juga soal mencari makna kehidupan. Gaya hidup mereka 
    sering berakhir dalam kemelaratan. Wajah mereka mencerminkan adanya 
    penolakkan dan rasa rendah diri, dan hal-hal itu sesungguhnya sudah 
    berurat akar di hati mereka. Di negara Mesir kebanyakan Janggi 
    mengatakan mereka adalah Islam Sunni, tetapi sebenarnya mereka sangat 
    sedikit memegang agama. Karena mereka percaya benar akan hal-hal 
    supranatural dan mujizat, sehingga ada pintu-pintu terbuka untuk 
    menginjili mereka. Mereka paling suka mendengarkan cerita-cerita 
    mengenai Yesus dan orang-orang suci Kristen yang melakukan mukjizat. 
    Apabila mereka mulai menyadari bahwa mereka sungguh-sungguh dicintai 
    dan diterima apa adanya, maka mereka pun menyambut orang lain ke dalam 
    rumah mereka. Tentu saja, Tuhan Yesus sendiri yang sudah mati bagi 
    mereka, akan senang bertemu dengan mereka!
    
    POKOK DOA
    
    * Doakan orang-orang Kristen Mesir, agar terus menjangkau orang-orang 
      Janggi di Mesir dengan kasih Kristus.   
    
    * Berdoalah agar sosok Tuhan Yesus diperlihatkan kepada kaum Janggi 
      Mesir.
    
    * Doakan mereka agar terlepas dari kuasa kegelapan.
    
    * Berdoalah agar perempuan-perempuan Janggi bisa dimenangkan.
    
    * Doakan agar orang Janggi yang bertobat akan membawa Injil kepada 
      masyarakat mereka sendiri.
    
    * Berdoa dalam nama Tuhan Yesus Kristus hancurkan roh okultisme, 
      praktek perdukunan, ramal, roh najis, roh penolakan, roh kemiskinan.
    
    
    e-Doa ********************************************************** I-KAN
        Anda terdaftar dalam e-DOA [40-Hari] sebagai xxxxx(at)xxxxx.xxx
         Untuk berlangganan : <subscribe-i-kan-buah-doa(at)xc.org>
         Untuk berhenti     : <unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)xc.org>
         Arsip 40 Hari Doa  : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/
    ----------------------------------------------------------------------
        Copyright(c) 2005 oleh e-DOA dan "MENGASIHI BANGSA DALAM DOA"
    ----------------------------------------------------------------------

    Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Gratis | Situs YLSA

    © 1999-2004 Yayasan Lembaga SABDA