|
|
Apa Kata Al Quran Mengenai Kasih Allah?
Judul : [40-Hari-2004][x06] Apa Kata Al-Quran Mengenai Kasih Allah?
<>< <>< <>< <>< 40 HARI DOA BANGSA-BANGSA ><> ><> ><> ><>
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Selasa, 26 Oktober 2004
APA KATA AL-QURAN MENGENAI KASIH ALLAH?
Oleh: Gordon D. Nickel
=======================================
Para pengikut Yesus Kristus memerlukan tiga hal ketika melakukan studi
banding antara Injil dengan Islam. Yang pertama, mereka harus benar-
benar mengenal Injil itu sendiri. Yang kedua, mereka memerlukan
pemahaman yang benar dan akurat mengenai ajaran Islam. Yang ketiga,
hati mereka harus bersimpati terhadap orang-orang Muslim yang mereka
kenal.
Dalam Kitab Perjanjian Baru (PB) jelas bahwa berita Injil mengenai
Yesus Kristus pada hakikatnya berbicara mengenai kasih Tuhan yang
tidak bersyarat. Apakah dalam mempelajari Al-Quran, kita juga akan
mendapatkan ajaran yang sama persis? Artikel pendek ini meninjau salah
satu aspek dari pertanyaan tersebut, yaitu melihat bagaimana dua kata
kerja (bahasa Arab) dipakai dalam Al-Quran untuk menyingkapkan "cinta
kasih" atau "kasih sayang" Allah.
Kedua kata kerja itu adalah habba dan wadda. Habba itu artinya
"menyukai, ingin, mau, atau senang melakukan sesuatu." Kata kerja ini
dipakai sekitar 40 kali, dimana Allah adalah sebagai subyek dan
sejumlah manusia adalah obyeknya.
Kita membaca bahwa Allah "menyukai (habba) orang-orang yang berbuat
baik" (2:195; 3:134,148; 5:93), "orang-orang yang adil" (5:42; 49:9;
60:8), dan "yang takwa" (9:4,7). Allah tidak menyukai "orang-orang
yang zalim" (3:57,140; 42:40), "yang sombong dan membangga-banggakan
diri" (4:36; 31:18; 57:23), dan "orang-orang yang membuat kerusakan"
(5:64; 28:77). Dua kali kata habba digunakan, dimana dikatakan bahwa
Allah tidak menyukai "orang yang berlebih-lebihan" (musrifun, 6:141;
7:31), dan bahwa Allah "menyukai orang-orang yang berperang di jalan-
Nya" (61:4). Seluruhnya ada 22 pernyataan mengenai orang yang tidak
disukai Allah, dan 18 pernyataan mengenai orang yang disukai-Nya.
Sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja ini, yaitu mahabba,
muncul satu kali dalam Al-Quran, yaitu ketika Allah berfirman kepada
Nabi Musa: "Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang
dari-Ku" (20:39).
Kata kerja yang kedua untuk kasih sayang dalam Al-Quran adalah wadda
("menyukai, menyenangi; menginginkan"). Beberapa bentuk kata kerja ini
dapat kita temukan dalam kaitannya dengan Allah, di dalam hanya tiga
ayat Al-Quran. Pada hari Kiamat, Allah akan menanamkan kasih sayang
(wudd) dalam (hati) "orang-orang yang beriman dan beramal saleh"
(19:96). Nabi Syu'aib (yang dimaksudkan dalam Al-Quran ini kemungkinan
adalah Yitro, mertua Nabi Musa) menggambarkan Tuhan sebagai "Maha
Pengasih" (wadud) dalam Sura 11:90; begitu juga istilah tersebut
dipakai untuk menggambarkan Allah dalam Sura 85:14. Dalam kedua ayat
tersebut, wadud berkaitan dengan pengampunan dan belas kasihan.
Penulis Vivienne Stacey menggambarkan arti dari wadud di sini sebagai
"rasa sayang dengan mana seorang tuan menyambut kesetiaan dari
hambanya."
Salah seorang pakar yang mempelajari kedua kata kerja tersebut di atas
dalam konteks teologia Al-Quran secara menyeluruh adalah Muhammad Daud
Rahbar. Dalam tesisnya untuk gelar Ph.D. -- yang kemudian
dipublikasikan di bawah judul "God of Justice" (Allah yang Adil) -
beliau menyimpulkan bahwa dalam Al-Quran, Allah hanya mengasihi
(menyukai) orang yang "sempurna dalam kesalehannya". Karena sebenarnya
tidak mungkin ada manusia yang mengklaim mempunyai "kesalehan yang
sempurna", demikian kesimpulan Rahbar, pertanyaan mengenai apakah
Allah benar mencintai manusia, sesungguhnya tidak pernah terjawab.
Rahbar menemukan ketidakpastian tersebut pada fakta bahwa cinta kasih
manusiawi kepada Allah sedikit sekali disebutkan dalam Al-Quran.
Melalui serangkaian refleksi teologia yang mendalam, Rahbar akhirnya
mendapati bahwa kasih ilahi itu pernah didemonstrasikan dalam sejarah
manusia melalui "seseorang yang mengasihi, yang dengan penuh
kerendahan hati hidup seperti orang-orang yang paling miskin, yang
sebenarnya sama sekali tidak bersalah dan tidak pernah berdosa, dan
yang mengalami penyiksaan dan penghinaan yang paling menjijikkan,
namun tetap menyatakan kasihnya yang tulus terhadap orang-orang yang
telah paling melukai dan menciderainya."
Rasul Paulus ingin agar kehidupan sehari-hari umat Kristen disinari
sepenuhnya oleh kasih Allah itu (Efesus 3:18-19). Ia dan penulis-
penulis lain dalam Kitab Perjanjian Baru (PB) menemukan bahwa kasih
ilahi itu justru ditujukan kepada orang-orang yang lemah dan tak
berdaya, manusia yang tidak saleh dan yang berdosa, manusia yang
memusuhi Allah, orang-orang yang sudah mati secara rohani, ya, orang-
orang yang sepantasnya mendapatkan hukuman (Roma 5:6-10; Efesus
2:3-5). Paulus dan penulis-penulis lain itu sepakat bahwa pernah ada
suatu demonstrasi (pemeragaan) yang sempurna dari kasih ilahi tersebut
dalam suatu peristiwa bersejarah: Ketika Bapa mengutus (Yesus) yang
sangat dikasihi-Nya ke dalam dunia. Pada waktu itu, secara tuntas Bapa
menyelesaikan persoalan dosa manusia melalui kerelaan Yesus Kristus
untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan umat manusia (Yohanes
3:16; 10:11-18; 15:13; Roma 5:8; 8:32; Galatia 2:20; Efesus 5:1-2;
1Yohanes 3:16; 4:8-10). Sesungguhnya, berita Injil (kabar baik) yang
kta bawa dan motivasi kita untuk misi didasarkan atas kasih Bapa itu
(1Korintus 5:14).
Dalam suatu studi yang dilakukan oleh Samuel Zwemer hampir seabad yang
lalu, yang kemudian dibukukan menjadi sebuah karya tulis klasik,
tatkala Zwemer) mendapati bahwa dalam Al-Quran hanya sedikit sekali
terdapat pernyataan mengenai kasih manusia kepada Allah (empat ayat
yang memakai kata habba dalam salah satu bentuknya, dan tidak satu pun
dalam bentuk perintah). Karena itu, mau tidak mau, Zwemer melihat
perbedaan yang mencolok antara hal ini dan "pengajaran yang banyak dan
jelas terdapat dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB)
mengenai kasih yang dituntut Bapa dari manusia, dan yang telah
dicurahkan dari Bapa kepada manusia!"
Tetapi untuk membuktikannya, tentu kita harus membaca sendiri apa yang
tertulis dalam Al-Quran. Apabila kita membaca ayat-ayat yang
mengandung kata-kata habba dan wadda tersebut, maka akan jelas sekali
bahwa kasih Allah yang terdapat dalam Al-Quran merupakan kasih yang
hanya ditunjukkan kepada orang-orang yang benar-benar patuh kepada
perintah-perintah-Nya.
Dengan mengetahui adanya perbedaan besar ini, semestinya pengikut-
pengikut Yesus Kristus Almasih akan semakin termotivasi untuk
memberitakan Injil kepada umat Islam dengan penuh keyakinan, namun
disertai dengan rasa hormat. Apakah pengetahuan itu juga akan
mendorong kita untuk meniru teladan Bapa, yang mengasihi semua umat
Islam secara tanpa syarat?
Gordon D. Nickel adalah pengarang buku "Peacable Muslims" (Bersaksi
dengan Membawa Damai kepada Umat Islam) (Scottdale, PA: Herald Press,
1999). Penulis baru saja menyelesaikan disertasinya untuk memperoleh
Ph.D. di bidang Studi Al-Quran. Beliau mengajarkan pelayanan lintas
budaya di Seminari ACTS di Langley, B.C., Kanada.
"Salah satu kekuatan terbesar dari buku ini adalah keseriusan
pengarangnya dalam menyatukan secara eksplisit konsep-konsep dari
perdamaian, penundukan musuh dan kritik terhadap kekuatan politik."
Calvin Shenk
e-Doa ********************************************************* I-KAN
Anda terdaftar dalam e-DOA [40-Hari] sebagai xxxxx(at)xxxxx.xxx
Untuk berhenti, kirim email kosong ke: unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)xc.org
Arsip 40 Hari Doa: http://www.sabda.org/publikasi/40hari/
_____________________________________________________________________
Para Penyandang Cacat (Anak-anak) di Mesir Hulu
Judul : [40-Hari-2004][22] Para Penyandang Cacat (Anak-Anak) di Mesir Hulu
<>< <>< <>< <>< 40 HARI DOA BANGSA-BANGSA ><> ><> ><> ><>
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Selasa, 26 Oktober 2004
PARA PENYANDANG CACAT (ANAK-ANAK) di MESIR HULU
===============================================
Muhammad kini berusia 16 tahun, tetapi di kursi roda tempat ia duduk
itu, ia seperti anak berusia 11 tahun. Ia menderita sakit polio. Hari
ini ada tamu asing yang ingin mengunjunginya (staf pekerja dari sebuah
organisasi Kristen yang memberi santunan). Meskipun keadaannya
demikian, Muhammad berusaha tersenyum lebar ketika menyambut
kedatangan tamunya. Ibunya menyampaikan kepada para tamu bahwa
Muhammad pernah menjalani suatu operasi yang sebenarnya tidak perlu,
tetapi kemudian gagal juga. Kini ia tidak mampu mengendalikan aliran
air seninya, sehingga malam hari terpaksa tidur di lantai beton
beralaskan selembar karet busa yang sudah robek.
Beberapa tahun terakhir ini terjadi kemajuan di Mesir dalam hal
pemahaman serta penanganan bantuan yang seharusnya diberikan kepada
para penderita cacat. Namun demikian, belum ada 1 atau 2 % dari semua
penderita cacat di Mesir yang benar-benar mendapat pertolongan dari
lembaga-lembaga kemanusiaan. Sekarang ada sarana-sarana khusus bagi
para penyandang cacat yang mampu mengurus diri sendiri dan tidak
memerlukan perawatan tambahan (misalnya orang buta, bisu tuli, atau
cacat ringan). Tetapi bagi yang cacat ganda atau berat, hingga
sekarang belum ada sarana. Hampir tidak ada yang mengerti mengenai
manfaat dari upaya-upaya stimulasi dini. Sudah ada beberapa penderita
cacat yang tinggal di Kairo atau Aleksandria yang kini menerima
perawatan dini. Tetapi para penyandang cacat yang tinggal di wilayah
Mesir Selatan kurang beruntung, karena hanya dapat mengandalkan
bantuan sanak saudaranya, padahal sanak saudara tersebut kurang
memahami kebutuhan khusus orang-orang seperti itu.
Contohnya, Asma yang baru berusia tiga tahun belum juga mampu untuk
duduk atau pun berbicara. Orang tuanya sudah mengupayakan banyak hal.
Mereka telah konsultasi dengan beberapa dokter dan mencoba berbagai
obat, bahkan pernah juga menjalani fisioterapi, tetapi semuanya sia-
sia saja. Sedihnya, tidak ada dokter spesialis di rumah sakit Kristen
yang mereka datangi untuk minta bantuan. Namun waktu itu kebetulan ada
seorang wanita asing yang anaknya juga cacat, dan ia memberi petunjuk
dan penjelasan kepada ibu Asma, mengenai sakit yang diderita dan
bagaimana melakukan stimulasi dini. Dengan perawatan yang baik, kini
ada harapan Asma bisa mengalami perkembangan dan masih bisa belajar
banyak hal.
Di Mesir para penderita cacat berat seringkali disembunyikan di dalam
rumah. Sangat jarang keluarga mau diasosiasikan dengan penyandang
cacat, karena merasa "malu". Selain itu, kehadiran seorang anak cacat
mungkin mengurangi peluang dirinya atau saudara- saudaranya untuk
mendapatkan jodoh dalam perkawinan.
Pada hakikatnya, "Islam" berarti "tunduk terhadap kehendak Allah".
Orang-orang Islam tidak biasa mengajukan pertanyaan seperti, "Mengapa
gerangan Tuhan membiarkan orang-orang cacat menderita?" Orang tidak
pernah bertanya, di mana keadilan Tuhan dalam membiarkan penderitaan
tersebut. Dalam Alkitab, Tuhan digambarkan ikut menderita bersama
mahluk ciptaanNya, namun demikian Ia juga Tuhan yang berdaulat atas
kebutuhan atau kekurangan apapun dan yang telah mengatasi segala kayu
salib dan kebangkitan-Nya dari kematian. Sebaliknya, dalam Islam yang
terutama dilihat adalah bukan kasih Allah, melainkan kemahakuasaan-
Nya.
Topik-topik Doa
---------------
* Doakan keluarga-keluarga dari Muhammad dan Asma, juga keluarga-
keluarga lain yang menghadapi situasi yang sama.
* Berdoa bagi dokter-dokter spesialis dan perawat-perawat Kristen yang
diperlukan anak-anak cacat, agar mendengar panggilan Tuhan dan
meresponinya.
* Doakan prakarsa-prakarsa Kristiani yang sudah ada untuk melayani para
penyandang cacat (di wilayah Beni Suef, Asiut, Assuan [Aswan]).
* Berdoa supaya gereja-gereja meningkatkan keperdulian mereka terhadap
perkara ini. Berdoalah juga bagi orang-orang Islam penyandang cacat
yang Anda kenal secara pribadi.
e-Doa ********************************************************* I-KAN
Anda terdaftar dalam e-DOA [40-Hari-2004] sebagai xxxxx(at)xxxxx.xxx
Untuk berhenti, kirim email kosong ke: unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)xc.org
Arsip 40 Hari Doa: http://www.sabda.org/publikasi/40hari/
_____________________________________________________________________
|
|