Allah, Kejahatan dan Penderitaan (Oleh Alumni PESTA)

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Para Kontributor:

Meky Tikoalu. - Naomi H.S. - Susanna - Indriatmo - Heru. M.S. - T.C. Maki - Luki F. Hardian - Deddy P. Widjaja - Susanto - M. Felder - Vonny T.

--------------

"Jika Allah Yang Baik itu ada, mengapa banyak kejahatan dan penderitaan di dunia ini?"

Inilah kumpulan komentar terhadap berdasarkan Perspektif Teologia dan Interpretasi awam mengenai tema ini.

Komentar-Komentar:

Oleh Meky, AIC Ansan KORSEL, Manado; <meky_tikoalu@yahoo.com>

Allah itu baik!!! Mengapa Allah itu baik? Apakah karena Dia lahir, mati dan bangkit untuk kita, atau karena Dia menggantikan sakit penyakit, ketelanjangan, kemiskinan, penolakan, kematian, kutuk dan mengganti dengan kesehatan, kelimpahan, kekayaan, penerimaan dalam keluarga Allah, kehidupan dan berkat? Apakah tujuan kebaikan-Nya agar kita menyembah-Nya? Atau adakah syarat dari dunia dan manusia sehingga membuat Allah menjadi baik?

Saya kira tidak ada sesuatu pun yang melayakkan dan membuat Allah menjadi baik, Allah itu baik karena Dia Allah, Dia hanya dapat melakukan sifat-Nya sebagai Allah dan hanya kebaikan saja yang ada (Yer 29:11). Jika pun ada yang dapat membatalkan Dia sebagai Allah namun sampai saat ini saya tidak mendapatkan bukti untuk hal itu walau dunia menunjukkan hal yang tidak masuk akal, namun Dia tetap Allah, walau saya, Anda dan dunia tidak mengakui-Nya sebagai Allah, Dia tetap Allah, sampai selama-lamanya Dia tetap Allah.

Mengapa jika Allah itu baik masih ada kejahatan dan penderitaan didunia ini?

Kejahatan dan penderitaan adalah "produk" neraka yang disosialisasikan di bumi karena penguasa dunia ini adalah Iblis (memang dengan kematian Yesus di kayu salib telah mengalahkan Iblis dan kuasanya di bumi). Sebelum Adam jatuh dalam dosa bahkan sebelum dunia dijadikan, dialam Roh telah terjadi namanya dosa, dosa pertama yang dilakukan oleh ciptaan yaitu oleh Lucifer (iblis) karena tidak taat pada otoritas dari Allah sebagai Pencipta yang harus disembah.

Kemudian iblis dilemparkan di bumi untuk menguasainya sehingga ketika iblis melihat lambang kemuliaan Allah diciptakan di bumi sebagai wakil Allah yaitu Adam, iblis pun menggunakan ular untuk menawarkan "produk" yang ia pernah pakai waktu di surga, sehingga dengan kehendak bebasnya Adam (wakil manusia segala Abad), Adam pun jatuh dalam dosa (Kej. 3) dan sejak saat itu kejahatan dan penderitaan mulai berkembang, dengan tidak taat kepada Allah (Kej. 3:10), menyalahkan orang lain (Kej. 3:12), rasa takut (Kej. 3:10), berkembang dengan pembunuhan (Kej. 4:8) dan dusta (Kej. 4:9), percabulan dan hawa nafsu, penyembahan berhala dan masih banyak lagi, dosa itu berkembang (Kej. 6), sampai saat ini bumi sedang lenyap dengan keinginannya (1 Yoh. 2:17), walau kita lihat di jaman sekarang ini banyak orang yang bertobat, kebangunan Rohani terjadi di mana-mana, namun bumi ini semakin rusak dan busuk karena dosa dan sangat memprihatinkan, jika diibaratkan suatu penyakit sudah pada stadium 3, sehingga tinggal beberapa waktu lagi bumi akan hancur akibat dari dosa (2 Pet. 3:10).

Kejahatan dan penderitaan akan tidak ada lagi dan akan dipulihkan saat nafiri terakhir dibunyikan (1 Kor. 15:52) dan Tuhan Yesus datang untuk yang kedua kalinya, mencari orang yang melakukan kehendakNya, menjalankan talenta yang diberikan (Mat. 25:14-30), memberi upah bagi pekerja-Nya sesuai dengan pekerjaaannya. Mencari orang yang dalam segala hal ditindas, namun tidak terjepit; habis akal, namun tidak putus asa, dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, dihempaskan, namun tidak binasa,yang senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuhnya, dan akhirnya tidak menyangkal imannya karena keadaan di atas sampai akhir. (2 Kor. 4:7-10) Siapa yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Mat. 24:13)

Intinya Kejahatan dan penderitaan itu ada karena dosa dan kejahatan dan penderitaan tersebut akan diangkat dan dipulihkan pada kedatangan Yesus kedua kali. (Meky T.)

----------------------------------

Oleh Naomi HS, BRMC - Singapore, <mats2903@msn.com>

Bagian I.

Harus dibedakan dalam memahami penderitaan. Dari kitab Ayub dan Habakuk, Tuhan memakai penderitaan untuk suatu tujuan. Dalam kitab Hab. 1 ayat 2 digambarkan bagaimana Habakuk berseru: "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?"

Di ayat 6 seakan-akan Tuhan juga ambil bagian dari kejahatan yang menimbulkan penderitaan. "Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim..." Habakuk tidak hanya berdoa diam-diam. Tetapi sudah berseru. Berarti dia sudah tidak sabar, sedang menanggung sesuatu yang baginya terlalu lama, sehingga dia memutuskan untuk berseru. Demikian juga dalam kisah Ayub, meskipun dia mengalami keadaan yang sangat sangat sukar, tetapi dia tetap setia.

Ayub 5:8; Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.

Saya akan membahas pemahaman menderita sebagai akibat dari hal yang terjadi di luar pengertian kita atau kuasa kita, juga sebagai pihak yang dijahati.

Kejahatan adalah murni perbuatan atau hasil karya iblis. Dan karena Allah sudah berjanji untuk tidak menghakimi iblis sebelum waktunya, maka kejahatan akan terus ada selama dunia ada. 1 Yoh. 3:8; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Wah. 20:10; dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.

Contoh penderitaan di atas adalah murni keadaan yang tidak bisa dihindarkan dan bukan penderitaan akibat dosa. Karena memang ada penderitaan yang disebabkan oleh dosa.

Seperti sakit AIDS karena melakukan seks bebas. Menderita suatu penyakit karena tidak merawat kesehatan dll. Dalam 1 Pet. 4:15 dikatakan, "Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau."

Allah tidak pernah menjanjikan kehidupan tanpa penderitaan. Benar. Sepertinya mudah untuk mengerti kalimat ini. Tetapi hal ini akan terasa sangat berat jika kita ada dalam penderitaan itu. Yang mana kita merasa bahwa kita sudah benar-benar melakukan perintah-Nya, tetapi masih menderita ataupun sebagai korban kejahatan.

Jika kita sedang menderita sesuatu hal yang tidak kita mengerti, dan sudah sangat lama. Apa yang harus kita lakukan? Salahkah kita jika kita bertanya pada Tuhan? Bahkan berseru menuntut jawaban pada Tuhan? Mengapa saya menderita terlalu lama? Dimana Tuhan ketika aku berseru? Mengapa Tuhan tidak segera menjawabku? Apakah Tuhan tidak tergerak dengan seruanku? Mungkinkah Tuhan tidak mendengar? Berapa lama aku harus berseru? Apa yang Tuhan inginkan?

Ada beberapa hikmah dari penderitaan, yakni:

1). Tuhan menginginkan kita untuk setia, sama seperti Dia. 1 Kor. 10:13; Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

2). Tuhan memakai penderitaan untuk menggenapi pekerjaan-Nya. Yoh. 9:3;...tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Bagaimana kita bisa melakukan pekerjaan Allah jika kita tidak kuat menanggung penderitaan.

3). Tuhan menginginkan kesabaran. Waktu manusia tidak sama dengan waktu Tuhan. Mungkin bagi kita terasa sudah sangat lama menunggu, sudah terlalu lama menderita, sudah terlalu lama bersabar, dan nampaknya Tuhan terlalu jauh untuk mendengar. Yes. 55:8; Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

4). Tuhan menginginkan kita untuk percaya saja. Mar. 9:19; "Jangan takut, percaya saja!"

5). Tuhan ingin kita untuk selalu memuliakan-Nya. Memuliakan Tuhan tidak hanya dalam keadaan senang, tetapi juga waktu menderita. Alangkah mudahnya bersyukur di kala senang. 1 Kor. 6:20; Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Pet. 4:16; Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

6). Tuhan ingin kita mendekat pada-Nya. Banyak kesaksian orang-orang bertobat justru setelah mereka jatuh dalam penderitaan. Mereka malah bersyukur atas kejadian tersebut. Alangkah indahnya jika kita selalu dekat pada Tuhan tidak hanya dikala susah. Yak. 4:8;Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.

7). Tuhan ingin kita bersandar pada kekuatan-Nya. Seringkali kita lupa bahwa Tuhanlah penopang kita. Kita berpikir, berbuat dengan kekuatan kita sendiri. Untuk rencana dan kepentingan kita sendiri. Memang kita hidup merdeka dari segala perhambaan,tetapi kita harus ingat bahwa hidup kita sudah ditebus oleh-Nya. Ams. 3:5;...janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

8). Tuhan ingin kita hidup kudus. Meskipun menderita, itu bukan alasan untuk bisa berbuat seenak hati kita. Mzm 4:4; ...tetapi jangan berbuat dosa... 1 Pet. 1:16; ...Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

9). Tuhan ingin kita masuk dalam rencana-Nya. Seperti Yesus hidup untuk menggenapi rencana Tuhan, kita harus harus percaya bahwa Allah mempunyai rencana di dalam kehidupan kita. Mat. 26:42; "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"

10). Tuhan Yesus menderita lebih dahulu. Ini yang sering kita lupakan. Mulai dari kelahiran-Nya, Yesus sudah menderita. Sampai akhir hidup-Nya. Apakah arti penderitaan kita bila kita memandang salib-Nya? Yoh. 15:18; "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu."

11).Tuhan menghendaki hidup kita sama seperti Dia. 1 Yoh. 2:6; Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Kiranya kita tidak terkejut dengan adanya penderitaan di dunia, Amin.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Hab. 3:17-18)

Bagian II.

Ada seorang pendeta pernah berkata pada saya demikian; saya sangat tidak sabar, jika ada jemaat yang bertanya pada saya, mengapa Tuhan mengijinkannya menderita?

Padahal jelas-jelas mereka tahu kalau penderitaan tersebut disebabkan karena kesalahan mereka sendiri. Dan lebih tidak sabar lagi ketika mereka berkata demikian; saya bisa mengerti dan menerima keadaan saya setelah saya membaca kisah Ayub pak pendeta, ternyata Tuhan mengijinkan penderitaan saya. Bagaimana mereka bisa menyamakan keadaan mereka sengan Ayub?

Ayub memang menderita, tetapi bukan karena perbuatannya. Ini yang harus mereka ingat.

Pada waktu itu saya malah berpikir lainnya, yaitu mengapa pendeta itu juga mengeluh ya?

Kalau jemaat menanyakan itu, berarti kan mereka tidak tahu. Dan kalau jemaat tidak tahu pendetalah yang bertanggung jawab untuk memberitahu, bukannya menjadi tidak sabar.

Mengenai kejahatan dan penderitaan sendiri saya mempunyai pemahaman begini; ada kejahatan dan penderitaan, susah senang, itu karena konsekuensi kehidupan, kehidupan yang sudah cacat akibat dosa. Sehingga saya tidak perlu untuk bertanya, malahan harus bersyukur karena boleh mengenal Yesus. Dan saya merasa nyaman dengan pemahaman itu. Saya tidak pernah memusingkan kasus tadi sampai waktu itu teman dekat saya sendiri yang menanyakannya lagi kepada saya, kemudian suami saya, kemudian pak pendeta, dan forum kita sekarang juga.

Teman saya pernah mengeluh melihat kegagalan-kegagalan dihidupnya juga saudara-saudaranya.

Dia yang enam bersaudara semuanya jatuh satu persatu. Dia bertanya pada saya, mengapa ya?

Koq keluarga kami jatuh semua, katanya lagi, kasihan orang tua yang tidak bisa hidup tenang di masa tuanya. Dengan pemahaman saya yang saya anggap benar, saya mengajak teman saya untuk menelusuri masa lalu kehidupan keluarganya, mulai dari orang tuanya yang tidak mengenal Tuhan, suka pergi ke orang pintar (dukun), kakak2nya yang hidupnya jauh dari kesucian, dan akhirnya dia sendiri juga menceritakan aib suaminya yang dia coba tahan selama sepuluh tahun. Dia bisa mengerti apa yang saya maksud bahwa penderitaan yang dia alami adalah karena kesalahan mereka sendiri, dan bukan kehendak Tuhan. Saya tidak hanya membantunya tetapi juga mengajak dia untuk mendekat pada Tuhan karena saya katakan lagi sebesar apapun bantuan saya hanya bisa menolong untuk sementara saja. Tuhanlah yang akan menjamin hidupnya jika dia menomorsatukan-Nya.

Saya kaget juga waktu dia memberi contoh seseorang yang sangat makmur di kota kami, yang kemakmuran itu didapat dari pekerjaan yang tidak halal. Dan orang itu tetap makmur, padahal kami tahu orang itu sedari kecil dan sampai sekarang masih makmur. Saya tertawa dan bertanya padanya apakah dia mau seperti itu?

Syukur kepada Tuhan dia menjawab tidak mau. Saya tahu Tuhan sudah menolong teman saya dan saya sehingga saya tidak repot-repot untuk menyadarkannya. Penderitaannya masih ada sampai sekarang, tetapi teman saya bisa melihat dan merasakan sisi penyertaan Tuhan yang luar biasa dalam kehidupannya.

Saya menganggap kasus teman saya ini sebagai konsekuensi perbuatannya sendiri.

Suami pernah bertanya mengapa ada banyak penderitaan dan kejahatan di dunia. Waktu itu saya cuma mengatakan; ya inilah kehidupan, ada senang dan susah. Tapi suami saya belum puas dan bertanya lagi, apakah itu adil? Saya bilang, jangan tanya keadilan pada manusia, tetapi Tuhan yang berhak menentukan keadilan. Lalu dia bertanya lagi, berarti Tuhan itu tidak adil ya? Lho kog bisa? Orang yang jahat manusia kog Tuhan yang disalahkan, orang menderita juga karena salahnya sendiri.

Suami jadi marah mendengarkan jawaban saya, katanya; bagaimana dengan anak kecil yang tidak tahu apa-apa tetapi menjadi korban bom perang, kena penyakit akibat dosa orang lain, celaka karena perbuatan orang lain, seperti ditabrak mobil oleh pemabuk gila, dan banyak sekali yang dia katakan. Saya jadi ikut-ikut sedih mendengarnya, gara-gara ada kejahatan, jadi ada penderitaan dan itu berdampak tidak

hanya pada orang yang melakukan kejahatan, tetapi juga orang lain, anak kecil, bahkan saya dan suami juga ikut-ikut menderita sedih hanya karena mendengar saja. Betapa dasyat dampat kejahatan ya.

Di sini penderitaan ada sebagai dampak perbuatan orang lain.

Ada kasus lain yang mana penderitaan ada supaya nama Tuhan dipermuliakan. Seperti kasus orang buta sejak lahir (sudah ada di komentar I) Atau kalau sekarang bisa kita lihat pada kehidupan Nick Vujicic yang mana dilahirkan tanpa kaki dan tangan, tetapi berkat Tuhan memancar dari kehidupannya.

Berbicara mengenai kejahatan dan penderitaan tidak ada hubungannya dengan Allah. Mengapa:

* Karena Allah sudah memberitahu kita bagaimana Dia menciptakan manusia yang sempurna di mataNya, serupa gambarNya (Kejadian) dimana kehidupan manusia pertama pada waktu itu sangat mesra dengan Allah dan tidak ada yang namanya sedih, derita, jahat, dan sebagainya. Penderitaan ada setelah manusia mengenal dosa. Dan dosa adalah berasal dari iblis.

* Rancangan Allah terhadap manusia adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. (Yer. 29:11)

* Kedatangan Juruselamat membuktikan bahwa Allah adalah yang baik-baik saja. Karena tujuan kedatangan-Nya adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa yang berarti memerangi dan memenangkan dosa (kejahatan dan penderitaan)

* Allah memakai penderitaan dan mengubahnya untuk kebaikan-kebaikan manusia.

Ini juga membuktikan hakekat Allah yang baik.

* Bagi Allah penderitaan adalah penderitaan memikul salib. Bukan penderitaan akibat dari kejahatan manusia. Ini yang harus bisa kita mengerti. Suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu. (2 Tes. 1:5)

* Janji Allah juga membuktikan bahwa adalah yang baik-baik saja. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wah. 21:4)

* Karena keadilan Allah akan dinyatakan pada saatnya nanti, maka kejahatan dan penderitaan akan selalu ada sampai pada saat kedatangan Anak Allah ke dua kalinya. Maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, (2 Ptr. 2:9)

Dengan mengenal Allah, kita tidak akan pernah bertanya lagi mengapa ada penderitaan dan kejahatan. TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya (Nah. 1:7) (Naomi)

-----------------------------------

Oleh Susanna, < lily12920@yahoo.com>

Tuhan dari awalnya membuat ciptaannya begitu indah dan sempurna, namun karena irihati dari malaekat ciptaanNYA dan juga kejatuhan Adam & Eva dalam godaan di Taman Eden, terjadi segala macam kejahatan. Setelah itu, kejahatan mulai beranjak ke semua manusia.

Tidak bisa menyalahkan Setan terus, bila manusia berbuat jahat. Mereka bisa saja berbuat jahat karena tergoda oleh keinginannya sendiri.

Penderitaan terjadi dengan banyak penyebab. Ada yang seperti Ayub, namun Ayub tetap setia kepada Tuhan. Ada penderitaan seperti Paulus, namun tetap setia melayani terus. Ada yang menderita, karena perbuatannya sendiri.

Menurut saya, Allah pasti sedih melihat umat-Nya yang menderita. Namun dibalik penderitaan tsb, ada hikmahnya - membuat kita makin kuat berakar dan senantiasa taat kepada-Nya.

Yang pasti dengan ujian, Tuhan tetap memberikan kekuatan dan membuat kita makin dewasa dalam iman. Kalau Setan, mencobai dan menyebabkan manusia menjadi jatuh. (Susanna)

---------------------------------

Oleh Indriatmo, <indriatmo.atmo@id.panasonic.com>

Pada saat pelajaran agama di SMA Loyola, Pater Ageng menerangkan tentang kejatuhan manusia dalam dosa yang menimbulkan penderitaan seluruh umat manusia keturunan Adam dan Hawa. Pada saat itu saya menyela dengan satu pertanyaan, "Kalau Allah itu Mahakuasa, mengapa saat itu Allah tidak membinasakan setan sehingga tidak bisa menggoda Hawa. Jadi umat manusia tidak usah menderita karenanya." Sambil tersenyum Pater Ageng menjawab, "Saya juga tidak tahu...".

Suatu jawaban telak untuk mengunci semua pertanyaan lanjutan yang sudah saya siapkan untuk memuaskan keingintahuan saya. Saya tidak bertanya lebih lanjut, karena seorang Pater senior telah menjawab dengan sangat bijaksana kepada muridnya: "Saya juga tidak tahu...".

Sebetulnya itu adalah 'pe-er' yang ditujukkan secara pribadi kepada saya, untuk menggalinya sendiri bertahun-tahun sesudahnya sepanjang hidup saya. Jawaban itu masih saya ingat sampai saat ini, karena saya sudah mulai memahami maksudnya.

Ada masa dimana hubungan saya dekat sekali dengan Tuhan karena merasakan berkat-berkat Tuhan yang nyata. Tuhan memberkati keluarga yang baik. Tuhan memberkati pekerjaan yang baik. Tuhan memberkati tempat pelayanan yang baik. Semuanya itu baik. Karena itu saya merasakan betapa Tuhan itu baik.

Tetapi pada saat segala sesuatu berjalan tidak seperti yang diharapkan, mulai timbul pertanyaan yang sama dengan masa SMA dulu, "Mengapa Tuhan tidak membinasakan setan sehingga tidak ada penderitaan di dalam hidup saya?"

Masalah di kantor yang begitu pelik. Istri harus di-kuret beberapa kali. Anak dirawat sampai sepuluh kali dalam kurun waktu satu tahun. Gedung gereja, tempat ibadah yang dihancurkan oleh masa yang beringas. Apakah benar Tuhan itu baik? Suatu pertanyaan lazim karena tidak memahami kebaikan Tuhan, seperti Ayub yang mengeluh mengapa harus dilahirkan ke dunia.

Sering kita membaca Alkitab untuk memuaskan keinginan seperti saat mendengarkan kehebatan para pahlawan di Sekolah Minggu. Naaman sembuh dari Kusta setelah mandi 7 kali di sungai Yordan. Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak mempan dibakar. Yusuf berhasil menjadi raja muda di Mesir. Atau Ayub yang mendapat berkat berlipat ganda setelah penderitaanya. Itu semua adalah keberhasilan dan berkat yang selalu ingin kita dengar. Tetapi seringkali, kebanyakan dari kita, lupa dengan suatu bagian penting dari semua cerita, yakni: 'saat dimana penderitaan sedang berlangsung'.

Bagaimana penglima perang Naaman gusar ketika disuruh mandi di sungai Yordan yang kotor. Apa perasaan Naaman ketika sudah mandi sampai 6 kali tapi penyakitnya belum sembuh. Apakah saat itu dia akan melanjutkan untuk bisa sembuh seperti yang dikatakan Gehazi, pembantu nabi Elisa?

Apa yang dikatakan Sadrakh, Mesakh dan Abednego mendengar tantangan Nebukadnezar. Mereka percaya kalau Allah akan menyelamatkan - tetapi jika tidak bagaimana? Bagaimana jika mereka mati terbakar? Alkitab menulis sebuah keyakinan yang sangat indah: "Tetapi seandainya tidak (kami mati terbakar), hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Sungguh luar biasa!

Yusuf harus memulai perjalanannya menjadi raja muda di Mesir dengan dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara kandungnya sendiri. Saat itu dia begitu sesak hatinya dan memohon belas kasihan, tetapi tidak dihiraukan oleh semua saudaranya (Kej. 42:21). Bagaimana ketika berkat baru saja dirasakan di rumah Potifar, tetapi selanjutnya dia harus mendekam di penjara. Bagaimana dia berharap kepada juru minuman raja yang lupa padanya saat bebas dari penjara. Apakah saat itu dia bersyukur bahwa Tuhan itu baik - sementara penderitaan demi penderitaan dia alami.

Bahkan Ayub, seorang yang dipuji Allah karena kesalehannya, sempat mengeluh mengapa dia dilahirkan di dunia saat dia mengalami pencobaan yang sangat berat. Walaupun tidak terucapkan, apakah saat itu dia berpikir Tuhan itu baik?

Itu semua adalah tahapan hidup dari tokoh-tokoh Alkitab yang menjadi pelajaran yang nyata, sehingga akhirnya kita bisa memandang dengan iman akan kasih Tuhan yang begitu ajaib di saat kita tengah bergelut dalam masalah dan penderitaan yang berat. Kita bisa tetap bertahan bergantung pada pertolongan Tuhan dan di tengah pencobaan itu bisa berkata, "Tuhan itu baik."

Alkitab mengatakan bahwa Tuhan itu baik, dan segala ciptaannya juga baik adanya serta memberkatinya (Kej. 1). Tuhan menciptakan manusia untuk bisa bersyukur dan mengasihi-Nya dengan tulus, sehingga di taman Eden Tuhan meletakkan pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Manusia diberi kebebasan dan Tuhan ingin agar dengan kebebasannya manusia memilih untuk menaati perintah Tuhan tidak karena terpaksa. Tetapi manusia lebih memilih mempergunakan kebebasannya untuk mengikuti bujukan setan - sehingga jatuh ke dalam dosa dan menimbulkan penderitaan bagi seluruh umat manusia.

Kejahatan dan penderitaan itu berasal dari pilihan manusia untuk menolak kasih-Nya. Tuhan mengajar kita untuk tidak menyalahkan orang lain, bahkan setan sekalipun - karena pilihan ada di tangan manusia itu sendiri. Tetapi untuk orang yang mengasihi Tuhan, penderitaan itu diijinkan terjadi untuk membentuk dan menyempurnakan umat pilihan-Nya agar semakin serupa dengan-Nya. Umat-Nya tidak dibiarkan sendiri karena Tuhan memberikan Roh Kudus yang memampukan mereka melewati semuanya dengan penuh percaya dan ucapan syukur.

Saat kita berdoa minta kesabaran, kita diperhadapkan dengan orang yang sangat menjengkelkan. Ketika kita berdoa minta diberi hikmat, kita diperhadapkan pada tantangan yang sangat pelik. Ketika kita berdoa meminta iman, kita mengalami masalah yang tampaknya diluar kemampuan kita.

Di saat berada di tengah situasi seperti itu, dimana semua pintu di sekeliling kita tertutup; kita bisa mengingat bahwa para hamba Tuhan di Alkitab juga telah mengalami keadaan yang sama, bahkan lebih berat lagi. Kita bisa meletakkan pengharapan seperti mereka untuk memandang Tuhan yang membuka pintu berkat dari atas, sehingga di tengah penderitaan kita bisa berkata, "Tuhan itu baik!"

Malam itu saya berada di ruang tunggu ICU, karena istri baru saja dioperasi cesar untuk mengangkat saluran telur yang pecah karena kehamilan di luar kandungan. Saya berjaga sendirian di ruang itu menunggu kalau-kalau ada permintaan persetujuan terhadap tindakan medis atau obat yang khusus. Badan letih dan pikiran sangat berat, ketika team diakonia dari gereja datang memberi untuk penghiburan, "Yang sabar ya Pak menghadapi peristiwa ini." Saat itu saya teringat akan semua pahlawan rohani di Sekolah Minggu dan merasa ada pertolongan dan kasih yang nyata di balik semuanya, sehingga saya mampu untuk menjawab dengan pasti, "Tuhan itu baik!" (Indriatmo)

---------------------------------

Oleh Heru Martinus Salim, < heru_m_salim@yahoo.co.id>

Kalau menurut saya, ada Allah yang baik tidak akan secara otomatis menjadikan di dunia ini tanpa kejahatan dan penderitaan.

Dunia ini baru akan tanpa kejahatan dan penderitaan, hanya jika penghuni2 dunia ini mentaati Allah yang baik tersebut.
Jadi mungkin perlu dipertanyakan kepada penghuni dunia tersebut, "mengapa tidak mentaati Allah?" Dari sana akan membawa kepada pertanyaan lanjutan, "Jika Allah baik, mengapa menciptakan makhluk yang bisa tidak taat?"

Buat saya sendiri, ini akan jadi kesulitan dijawab... hehehehe... Jawaban klasik adalah: "Karena Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia" Tapi kalau ditanya lebih lanjut, "Kenapa Allah memberikan kehendak bebas?", saya sendiri sudah mentok gak bisa jawab lagi... heheheh...

Tapi kalau boleh coba kasih pertanyaan balik, sehubungan dengan ada tidaknya Allah, "Kalau Allah yang baik tidak ada, bagaimana manusia bisa merasakan tidak baik?" Bukankah standar tidak baik baru akan muncul saat ada sebuah standar universal yang disebut sebagai "BAIK". Sama seperti definisi "kotor" muncul karena adanya definisi "bersih", dst. Mungkin manusia berkata, hati nurani adalah standar tersebut. Tetpi tetap diperlukan ada yang menetapkan hati nurani yg menentukan standar tersebut.

Pendapat ini bukan murni pendapat saya, saya dapat ide ini dari buku C.S. Lewis yang berjudul Mere Christianity. Dan ada ilustrasi menarik, "Ikan tidak akan merasa basah saat mereka nyemplung ke dalam air, karena standar mereka adalah di dalam air". Sehingga kalau Allah yang baik tidak ada, dan standar baik jg tidak ada, yg menyebabkan standar universal hati nurani juga tidak ada, maka tidak akan juga ada perasaan "tidak baik".

Mungkin kurang menjawab pertanyaan. Tapi itu sih pendapat saya. Yg pertama berusaha menjawab, yg kedua berusaha "mematahkan" presuposisi bahwa Allah yang baik tidak ada, sehingga ada kesusahan. (Salam, Heru)

----------------------------

Oleh Theresia Christanti Maki, Ubud - Bali <sinarkasihubud@dps.centrin.net.id>

Ketika masih kecil, saya pun pernah berpikir demikian, "jika ada Allah yang baik, mengapa banyak kejahatan dan penderitaan di dunia ini?" Namun ketika beranjak dewasa dan mulai mengenal Tuhan lewat kebenaran Firman-Nya, saya berpendapat demikian: "Kalau kita bertanya mengapa banyak kejahatan? Tentunya kita lihat subyeknya, kenapa ada orang baik dan orang jahat? Sebetulnya ini adalah bukti bahwa Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia. Dia bukan Allah otoriter dan kita bukan boneka Allah. Dia memberikan kepada kita kebebasan. Semua manusia, baik itu orang percaya (Kristen) ataupun orang yang tidak percaya, mempunyai hati nurani yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Jadi ini adalah pilihan apakah manusia akan berbuat baik atau jahat.

Mengapa ada penderitaan? Dilihat dari sumbernya, saya melihat ada 3 macam penderitaan:

1).Penderitaan akibat kesalahan manusia. Contohnya: Terjadi banjir karena banyak pohon yang ditebang tanpa adanya reboisasi. Kadang kala kita sudah tahu punya penyakit darah tinggi namun masih suka makan sate dan gule kambing akibatnya menjadi sakit.

2). Penderitaan karena Iblis. Dalam kisah Ayub dituliskan bahwa Iblis menghadap Allah untuk menguji Ayub. Dan Allah mengijinkannya. (Ayub 2:1-6)

3). Penderitaan karena ujian dari Tuhan. Allah mengijinkan penderitaan kepada kita untuk menguji kualitas Iman kita.

Memang, ketika kita diperhadapkan dengan penderitaan/ujian kita bertanya kepada Tuhan. Kalau Tuhan baik, mengapa hal ini terjadi kepada saya? 1 Pet. 2:19 dikatakan, "Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung". Jadi, jika kita menghadapi penderitaan yakinlah bahwa itu adalah anugerah Tuhan, supaya Iman kita bertambah kuat. Dalam dunia pendidikan, untuk naik tingkat kita harus menghadapi ujian. Ketika ujian diadakan, bila kita bertanya jawaban soal kepada guru tentunya dia tidak akan menjawab. Namun bila ujian sudah lewat, guru biasanya akan memberikan jawaban beserta penjelasannya.

Demikian juga dengan sang Guru Agung kita, Tuhan Yesus. Ketika kita melihat penderitaan/ujian sebagai suatu anugerah dan dengan setia menanggungnya, kita akan muncul seperti emas. Kita akan sadar bahwa ada hikmah di balik setiap musibah. Bila orang hidup dalam kesehatan dan berkat yang melimpah, orang akan gampang berkata bahwa Allah itu baik. Namun ketika kita ada dalam penderitaan dan tetap berkata Tuhan itu baik, Itu baru luar biasa.

Sebab Tuhan itu baik. Bahwasanya untuk selamanya kasih setianya. "God is good all the time". (T.C. Maki)

---------------------------------

Oleh Luki, < luki-f@indo.net.id>

Saya berpendapat jika ingin dapat menjawab pertanyaan ini, seharusnya kita mengerti dulu tentang: "Siapakah kita ini?" dan "mengapa dan untuk apa kita ada di dunia ini?

Kita adalah ciptaan Allah. Kita ada di dunia ini untuk berkarya dan sekaligus untuk memuliakan-Nya. Allah menciptakan manusia bukan untuk menjadi robot, atau sekadar mainan Allah. Oleh karena itu kita diberikan akal budi serta free will untuk berkembang.

Semua pada awalnya baik, akan tetapi karena free will inilah kehidupan kita melenceng dari rel yang sudah diberikan; ditambah lagi dorongan dari iblis. Dari sinilah timbul kejahatan dan penderitaan. Lebih parah lagi, ketika kita tahu akan hal ini, kita tidak balik kepada Sang Pencipta melainkan menempuh jalan sendiri, akibatnya kejahatan makin mengganas dan penderitaan makin menjadi.

Seandainya ketika kita tahu akan kesalahan ini dan masih ada kesempatan, maka segeralah berbalik kepada Allah, karena Dia yang menciptakan kita, segeralah kembali kepada rel yang telah Allah bentuk, otomatis kita akan mendapatkan perlindungan dari yang Empunya kita. Jalan balik ini hanya ada satu jalan yaitu melalui Yesus Kristus. Ketika kita menerima Yesus kita menjadi umat pilihan.

Setelah menjadi umat pilihan, apakah kita bebas dari kejahatan atau penderitaan? Jawabannya tentu saja tidak! Karena di luar sana banyak sekali orang orang yang tidak dipilih Allah karena perbuatan dan segala tindakannya. Inilah yang membuat terjadinya kejahatan dan penderitaan bagi kita yang percaya. Perbedaan kita dengan yang lainnya adalah kita mengalami penderitaan dan lain sebagainya (yang buruk), tetapi kita tidak putus asa. Kita senantiasa mengucap syukur dalam segala keadaan! Mengapa kita bisa melakukan demikian? Karena kita tahu bahwa kehidupan di dunia ini bukan tujuan akhir, melainkan semacam ujian untuk memperoleh kebahagiaan kekal di surga; dimana tidak ada lagi air mata, kematian, kesengsaraan dlsbnya.

Cara terbaik untuk dapat mengatur free will kita agar senantiasa sejalan dengan kehendak-Nya, yaitu berkomunikasi setiap waktu dengan Tuhan; bukan hanya 5 kali sehari, tetapi setiap saat! Kebiasaan selalu mengandalkan kepandaian kita dalam segala tindakkan, termasuk dalam menghadapi masalah, harus diubah! Caranya, berdoalah minta tolong; bercakaplah dahulu dengan Allah, baru kemudian bertindak.

Bagaimana kalau kita merasa sudah bertindak seperti itu tetapi penderitaan masih datang? Saran saya, baca buku-buku rohani atau renungan yang baik (Misalnya: "Manusia Surgawi". Menurut penulis, buku ini banyak mengajarkan kepada saya bagaimana hasilnya jika kita sering berkomunikasi dengan Allah, dan mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Di sanalah akan terlihat kehebatan Allah yang kita sembah ini.)

Terus terang, apa yang saya tulis ini, belum sepenuhnya saya jalankan tiap hari. Godaan datang dari free will saya sendiri. Saya ingin bisa ini, ingin mencapai itu, ingin punya ini, ingin punya itu dan sebagainya. Semua keinginan itu bukan untuk memuliakan Allah melainkan untuk kepuasan pribadi. Didorong lagi oleh Iblis sehingga lupa akan tujuan. Oleh karena itu datanglah penderitaan, seperti tidak bisa tidur, gelisah, marah (karena belum tercapai apa yang diinginkan), mudah tersinggung, begitu dibiarkan jadilah penyakit darah tinggi, lambung tidak beres, gangguan gula darah. Terus dibiarkan, akibatnya kanker, gagal jantung dan sebagainya. Setelah itu, baru berbalik bertanya, dimanakah Allah? Mengapa saya menderita ini? Katanya Allah baik???

Jadi dapat disimpulkan bahwa kejahatan timbul karena dikerjakan oleh orang orang bukan pilihan Allah, walau mereka mengaku Kristen sekalipun (yang jelas pasti Roh Kudus tidak ada padanya). Penderitaan timbul bisa dari free will kita sendiri atau akibat dari luar, kalau ini menimpa kita, kita harus ingat agar segera kembali kepada Allah, dan sadar bahwa kita hidup di bumi ini sementara saja.

Kalau mau bertanya mengapa iblis, kejahatan, dan penderitaan dibiarkan oleh Allah? Masalah ini merupakan hak Allah sepenuhnya. Namun kita harus selalu ingat akan janji penyertaan Allah di setiap saat sampai kepada akhir zaman.

Demikian, semoga bermanfaat bagi pertumbuhan rohani kita semua. Amin (L. F. Hardian)

------------------------------------

Oleh Deddy P. Widjaja, <dpw@cbn.net.id>

Realita Allah sering "membiarkan" umat-Nya menderita, suatu keadaan yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh pengertian kita sebagai manusia yang terbatas. Bukankah Alkitab hanya memberitahukan bagaimana dan mengapa kejahatan dan penderitaan timbul, tetapi kita tidak diberitahukan mengapa
Allah membiarkan hal itu terjadi.

Suatu pertanyaan kritis yang sering diungkapkan dan dipertanyakan sehubungan dengan topik di atas: "Jikalau Allah baik, maka tentunya Ia tidak berdaya melawan kejahatan dan penderitaan serta ketidakadilan di dunia ini, karena
semuanya masih terus berlangsung. Jikalau Ia berkuasa untuk melawan kejahatan dan ketidakadilan, maka Ia adalah Allah yang jahat sebab Ia tidak berbuat apa-apa terhadap kejahatan, penderitaan dan ketidakadilan sekali pun Ia mampu. Apakah Ia adalah Allah yang jahat atau Allah yang tidak mahakuasa?"

Ketika kehidupan kita berlangsung "mulus", rasanya seperti berjalan di padang rumput yang hijau, di bawah sinar matahari yang lembut diiringi hembusan angin sepoi-sepoi yang sejuk, mungkin tidak sulit untuk mempercayai kebaikan Allah.

Tetapi ketika matahari dan angin yang sama berubah menjadi terik dan badai, masih sanggupkah kita memuji kebaikan Allah?

Dalam Alkitab diungkapkan bahwa kejahatan dan penderitaan sudah timbul semenjak manusia jatuh ke dalam dosa. Lihat alam semesta di sekitar kita, yang adakalanya sangat bersahabat terhadap kehidupan, tetapi di waktu lain ia berubah menjadi hal yang menimbulkan penderitaan. Ingat peristiwa tsunami
di Aceh yang menelan korban baik orang percaya Tuhan maupun tidak. Demikian pula manusia ada yang menampilkan hati yang mulia dan otak yang cemerlang seperti Teresa, Newton, Einstein, Bethoven, Kong Hu Cu dll. Namun dari antaranya pula lahir manusia-manusia yang keji seperti Nero, Hitler,
Amrozy dlsb. Timbul pula pertanyaan seperti mengapa si A sakit sampai menderita sedemikian parah sampai harus berobat sehingga habis uangnya dsb. Atau mengapa si B sampai di rampok dan dianiaya pula. Atau mengapa peristiwa ini menimpa kepadaku, apa salahku? Bukankah peritiwa kerusuhan rasial tahun 1998 pun menimpa orang-orang Kristen?

Masih ingatkah Dr. Rebeca di Tasikmalaya yang dipenjara karena hanya mengajak orang ikut sekolah minggu. Semua rasul dan pengikut Kristus dianiaya dan dibunuh. Kelaparan di Irian Jaya dan Afrika. Jangan jauh-jauh di sekeliling kita juga pada masa ekonomi sulit sekarang ini ada yang tidak dapat makan secukupnya dalam sehari. Dalam tanyangan TV kita banyak melihat ada orang-orang yang hidup menderita dalam penyakitnya secara kronis karena tidak mempunyai uang untuk pergi ke dokter. Berbeda dengan orang-orang yang mampu, di mana mereka dapat menjaga kesehatannya sehingga mereka seolah-olah dapat mencapai umur yang lebih panjang. Yang mempunyai kekuasaan menindas kepada yang lemah. Dst....

Penulis Alkitab berseru: "Aku cemburu kepada pembual-pembual, sebab kesakitan tidak ada pada mereka. Sehat dan gemuk tubuh mereka. Mereka tidak mengalami kesusahan manusia. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi. (Rasa-rasanya) sia-sia sama sekali aku mempertahankan
hati yang bersih" (Mazmur 73:3-5; 13-14).

Ya itulah realita kehidupan di dunia ini yang harus dihadapi oleh semua orang baik orang percaya maupun bukan. Senuanya tidak dapat kita mengerti mengapa hal tersebut dapat terjadi kepada umat-Nya, meskipun kita telah meminta perlindungan dan menyerahkan hidup kita kepada pemeliharaan-Nya.

Oleh sebab itu, meskipun kita tidak mengerti mengapa Allah seolah-olah membiarkan umat-Nya menderita, tetapi dari Alkitab pula kita mengerti bahwa dalam menghadapi kejahatan dan penderitaan kita sebagai orang percaya berbeda dengan orang-orang dunia, karena kita mendapat penghiburan dan jalan
keluar serta diberi kekuatan untuk mampu bertahan dalam penderitaan tsb, sehingga iman kita semakin bertumbuh di dalam kasih anugerah-Nya. Lihat di mana ada penganiayaan orang-orang percaya Yesus Kristus, di situ gereja bertumbuh, contoh Roma pada waktu jaman Nero, dan sekarang di Indonesia dan China.

Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana Allah menggunakan beberapa kejahatan dan penderitaan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Tujuan-tujuan-Nya meliputi antara lain menunjukkan kasih karunia dan keadilan-Nya, penghakiman-Nya atas kejahatan pada masa kini dan masa yang akan datang, yang semuanya menunjukkan dan membuktikan bahwa Ia hadir di dunia ini.

Kita tidak selalu dapat mengerti mengapa Allah memilih peristiwa-peristiwa kejahatan yang menyebabkan penderitaan manusia untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Dalam mata iman kita tahu bahwa Allah tidak pernah menetapkan sebelumnya suatu kejadian peristiwa kejahatan yang menyebabkan penderitaan tanpa suatu tujuan yang baik.

Mungkin ada alasan-alasan lain yang berbeda dari alasan-alasan yang telah disebutkan di atas, entah ditemukan di dalam Alkitab atau tetap terkunci di dalam pikiran Allah sendiri dan hanya menjadi rahasia-Nya dan merupakan suatu misteri bagi kita. (D. P. Wijaya)

--------------------------

Oleh Susanto, <susanto@trimitra-baterai.co.id>

Salam Damai Kristus.

Mungkin sebagai umat percaya harus sadar bahwa setelah kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa, Allah tidak lagi menciptakan manusia dari tanah dan tulang rusuk tetapi dari kutuk Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." (Kej. 3:16).

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah ngkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu". (Kej. 3:17.)

Di sinilah terjadinya perubahan pola hidup manusia yang besar yaitu dari ciptaan yang diperlihara oleh pencipta-Nya menjadi hanya mendapat pertolongan dari pencipta-Nya. Namun manusia sebagai ciptaan, sampai sekarang kecenderungannya melakukan dosa.

Dengan kemurahan Allah manusia telah berulang kali ditebus dari dosa, dari pembuangan sampai pada anakNya yaitu Yesus. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Gal. 3:13).

Dengan ada penebusan ini maka terjadi dua kelompok yaitu
(1). Hamba kebenaran. "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran". (Rom. 6:18). (2). dan hamba dosa. Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa". (Yoh. 8:34)

Seorang hamba kebenaran harus taat kepada Tuannya, apapun perintah Tuannya harus dilakukan. "Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu". (Yoh. 15:20). Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala". (Luk. 10:3)

Perintah yang dikeluarkan bukan penghilangan kejahatan dan penderitaan; namun pemberitaan Firman Allah untuk keselamatan jiwa manusia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk". (Mrk. 16:15).

Seorang hamba harus memilih menjadi hamba yang mana, tidak mungkin di dunia menjadi hamba dosa akan menerima janji Allah atau sebaliknya, tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Mat. 6:24.)

Seorang hamba kebenaran pun diberi pertolongan, kekuatan dan penghiburan dari masalah, melalui firman-Nya. Dan Aku berkata kepadamu: "Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." (Luk. 16:9)

"Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Mzm 37:24. Dsb. (Susanto)

------------------------------------

Oleh Mickey Felder, <Mickey_Felder@wvi.org>

Terima kasih mas Susanto atas artikelnya.

Minggu lalu iman saya benar-benar diuji. Setelah dalam perjalanan ke Kamboja dan sempat menyaksikan 'killing fields' yang sangat menyeramkan.

Dalam tragedi antara tahun 1977-1979-an itu 2 juta rakyat Kamboja (dari 7 juta rakyat) dibunuh oleh kelompok Komunis di bawah pimpinan Pol Pot. Alasan mereka membunuh adalah untuk men'suci'kan rakyat Kamboja agar tidak terlibat dengan ajaran luar negeri selain ajaran Komunis. Rakyat yang tidak mau bertani dan pernah dibantu oleh misionari atau Non Government Organization juga dibunuh oleh mereka. Yang sangat mengerikan adalah mereka dibunuh dengan cara sangat kejam yaitu, dimartil, dipukuli dengan batang tebu, ditusuk dengan bambu yg ditajamkan dan alat-alat yang sangat kejam. Tawanan yang sudah mati, akan dibuka bajunya dan mayatnya dibuang ke truk untuk dikubur di 'killing fileds'. Baju bekasnya ini dipakaikan ke tawanan yang baru masuk.

Menurut Tourist Guide, banyak mayat dan orang hidup yang dilempar ke kolam penuh buaya. Ada juga orang yang harus menggali kuburnya sendiri lalu dia akan dikubur hidup-hidup. Banyak juga orang asing yang ikut dibunuh pada saat itu.

Menyaksikan bukti kekejaman dan cerita sadis itu, saya menjadi sangat muak dengan rejim Komunisme. Seandainya pada saat itu saya hidup untuk menyaksikan kejadian itu, maka saya akan bertanya "dimanakah Tuhan berada?" (Mickey Felder)

----------------------------

Oleh Vonny Thay, <vonnythay@yahoo.com>

Pernahkah kamu mengalami, seakan Tuhan membisu? Ketika masalah datang, kita sudah berseru kepada Tuhan, tetapi seakan Tuhan tidak perduli. Seakan Tuhan memalingkan wajah-Nya dan tidak mau menolong. Dimanakah Tuhan saat itu? Sungguhkah Dia mengasihiku? Sungguhkah Tuhan itu baik?

Jika Tuhan baik, mengapa Dia ijinkan masalah datang? Mengapa aku diijinkan menderita? Mengapa Tuhan tidak menolong? Sungguhkah Tuhan itu baik? Mungkin itulah pertanyaan kita, saat kita tidak mampu lagi mengerti mengapa semua harus terjadi.

Sebuah kisah di Injil, tentang Maria, Martha dan Lazarus di Betania, tentu sudah tidak asing di telinga kita. Siapakah ketiga orang ini? mereka adalah sahabat Kristus. Yesus sangat mengasihi mereka (ayat 5). Tapi mari kita lihat apa respon Yesus ketika Ia mendengar bahwa Lazarus sedang sakit? Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; (Yoh. 11:6). Hei!.. apa yang sedang terjadi? Mengapa Yesus tidak segera datang ke Betania dan menyembuhkan lazarus? Mengapa justru Tuhan Yesus tinggal dua hari lagi dimana dia berada? Tidak perdulikah Yesus pada Lazarus sahabat-Nya itu?

Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."(Yoh. 11:4) Inilah persepsi Tuhan tentang sebuah penyakit. Penyakit atau penderitaan tidaklah selalu karena upah dosa manusia, tetapi adalah kesempatan dimana kemuliaan Tuhan dinyatakan. Tidaklah heran mengapa ada banyak orang yang hidupnya saleh tetapi dirudung masalah bertubi-tubi. Pertanyaannya, mengapa Tuhan membiarkan? Apakah kesalahanya? Mungkin bukan karena kesalahannya, tetapi lewat masalah itu, kemuliaan Tuhan akan dinyatakan. Apakah yang membedakan orang lalim yang tertimpa musibah dengan anak Tuhan yang tertimpa musibah? Sama-sama tertimpa musibah, tetapi mungkin mereka punya respon yang berbeda terhadap masalah tersebut. Anak Tuhan akan terus diberi kekuatan, bahkan sering aku lihat mereka bisa menemukan damai di tengah badai.

Ini juga yang aku lihat di kesaksian yang bertema "Love Never Failed" dimana ketika dia menderita penyakit kanker diwajarnya, mengalami kesakitan yang luar biasa, namun dalam setiap fotonya dia selalu tersenyum. Bahkan ketika ada orang yang datang menjenguknya, sesakit apapun, dia berusaha membuka matanya dan tersenyum, bertanya" apakah engaku sudah mengenal Kristus?" Berbeda dengan kisah Lazarus yang dibangkitkan dari kubur, kisah nyata ini ditutup dengan kepulangannya ke Rumah Bapa. Dia tidak mengalami mujizat kesembuhan, tetapi lewat kesaksian hidupnya, banyak orang yang percaya pada Kristus.

Ending yang sama yang dapat kita lihat dalam kisah Lazarus di atas. Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.(ayat 45) .

Penderitaan dan kejahatan, memang tidak luput dari akibat dosa asal. Namun di dalam tangan pengasihan Tuhan, Tuhan sering memakai semua ini untuk kebaikan, bisa jadi, bukan untuk kebaikan kita inividu, tetapi mungkin kebaikan orang banyak. Dan jauh yang lebih penting, lewat semua penderitaan, masalah yang diijinkan Tuhan, disanalah kesempatan kemuliaan dan kasih Tuhan dinyatakan.

Nama Bunda Theresa juga begitu lekat dihati kita. Siapakah yang tidak mengenal sosok wanita yang berhati emas ini? Dia menyatakan kasih Kristus di tengah masyarakat India yang miskin dan terlantar. Para penderita sakit kusta yang terbuang, menemukan kasih yang tampa syarat lewat kedua tangan suster ini. Bayi-bayi yang terbuang, tergeletak di tong sampah pun mendapatkah kasih murni, walau hanya beberapa saat kemudian meninggal, karena kondisinya yang lemah. Siapakah yang tidak tergerak hatinya melihat kemuliaan hati Bunda Theresa? Tetapi bukankah kasih itu dapat terpancarkan justru melalui adanya masalah dan kekelaman hidup. Jika kondisi di India baik-baik saja, tidak ada penderita penyakit lepra, tidak ada bayi yang terbuang, tidak ada kemiskinan, mungkin dunia tidak pernah tahu ada kasih yang bagitu indah yang terpancar dari seorang murid Kristus.

Mungkin kedagingan kita lebih menyukai kemapanan dan kenyamanan hidup. Tetapi Tuhan sering berfikir berbeda dengan kita. Tak jarang masalah ditimpakan juga untuk pembentukan karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus dan supaya kita semakin merasakan keindahan Kristus. Ayub salah satunya. Kita mungkin lebih suka melihat akhir dari cerita ini, dimana Ayub dipulihkan dan diberi berkat berlipat ganda dari sebelumnya. Kita berfikir, bahwa hal inilah yang utama, yaitu berkat Tuhan yang dilimpahkan berlipat ganda. Tetapi sesungguhnya bagi Tuhan bukan itu yang utama. Mari kita lihat apa yang dikatakan Ayub sebelum dia dipulihkan Tuhan. "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau".(Ayub 42:5) Ya… pengalaman baru bersama dengan Tuhan, inilah yang sasaran utama Tuhan. Jika dulu Ayub mengenal Tuhan dari apa kata orang, namun dalam penderitaan, dia mengalami Tuhan secara nyata.

Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, manusia memilih hidup tampa Allah. Manusia memilih hal lain selain Allah sendiri. Manusia lebih suka harta, kehormatan, dll. Manusia lebih suka berkat Tuhan daripada Tuhan itu sendiri. Saat Tuhan menarik semua berkat-Nya, sesungguhnya itu untuk menguji kita, sungguhkah kita mencintai Dia lebih dari segala berkat-Nya? Dan dalam penderitaan itu, kita akan masuk ke dalam pengenalan akan Tuhan yang lebih mendalam dari pada sebelumnya. Sama seperti Ayub yang mengatakan "tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." (Vonny Thay)

Demikian

Komentar