Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengevaluasi Kurikulum Sekolah Minggu Anda


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Diringkas oleh: Dian Pradana

Bagian dari tanggung jawab gereja untuk melengkapi para guru dalam pelayanan di gereja adalah menyediakan kurikulum yang tepat bagi mereka. Meskipun merupakan suatu tantangan bagi sebagian besar pemimpin gereja untuk memahami dan mengetahui bagaimana menggunakan kurikulum, beberapa gereja malah tidak ingin menggunakan kurikulum.

"Kami tidak memerlukan kurikulum. Kami hanya mengajarkan Alkitab." Diucapkan atau tidak, sikap seperti ini kadang-kadang muncul di gereja-gereja dan organisasi-organisasi Kristen. Namun, biasanya sikap ini akan menghasilkan pendidikan yang kurang bermutu. Kurikulum yang baik dirancang untuk memudahkan pengajaran Alkitab, bukan untuk menggantikannya. Jadi, pemahaman tentang apakah kurikulum itu dan bagaimana memilih dan menggunakannya dengan efektif adalah hal yang penting bagi pendidikan Kristen.

Masalah utama di gereja-gereja saat ini adalah memilih kurikulum yang alkitabiah dan mengacu pada penafsiran teologis firman Tuhan yang benar -- pendekatan sejarah keselamatan. Beberapa gereja, independen maupun denominasi, menggunakan bahan yang secara umum injili dan mudah digunakan tanpa memahami fokus kurikulum.

Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih kurikulum sekolah minggu. Salah satunya adalah filosofi pendidikan dalam kurikulum. Setiap kurikulum memiliki bias terhadap dasar filosofis tertentu. Apakah kurikulum itu berdasarkan instruksi guru dengan sedikit partisipasi murid, ataukah kurikulum itu menekankan pembelajaran yang melibatkan pencarian sehingga murid-murid bisa menjadi peserta yang aktif dalam proses pendidikan melalui metode pelajaran yang baik? Sebagian besar kurikulum mengandung kedua elemen tersebut, dengan salah satunya lebih mendominasi. Gereja-gereja perlu memilih mana yang lebih penting. Apakah guru-guru kita memiliki latar belakang teologis dan alkitabiah untuk menggunakan bahan yang lebih mudah digunakan, atau apakah kita menekankan teologi dengan bahan-bahan yang agak sulit digunakan? Meskipun filosofi pendidikan penting, pertimbangan teologis juga penting. Robert Pazmino di "Foundational Issues in Christian Education" menyatakan hal-hal berikut ini.

  1. Apakah teologi penerbit dan penulis kurikulum cocok dengan teologi gereja atau pelayanan tertentu? Apakah konsep-konsep teologis yang disampaikan sesuai dengan berbagai tingkat usia dan komprehensif?

  2. Apakah kurikulum tersebut menegaskan Alkitab sebagai otoritas tertinggi seperti yang dianut gereja atau komunitas tertentu? Apakah seluruh bimbingan Alkitab yang digunakan dalam kurikulum cocok untuk segala usia? Selain Alkitab, otoritas apa lagi yang digunakan dalam pengambilan keputusan kurikulum?

Kebanyakan literatur sekolah minggu lebih menekankan moral daripada berpusat pada Kristus, produk yang diusahakan untuk menghadapi tantangan yang gereja biasanya hadapi -- kesulitan merekrut jumlah guru sekolah minggu yang cukup. Cara mudah untuk membantu mengatasi masalah ini adalah menemukan kurikulum yang paling berwarna, menarik secara visual, dan mudah digunakan oleh guru tanpa harus menganalisa isinya dengan cermat. Sebagian besar kurikulum tersebut tidak memiliki pesan keselamatan dan tidak berpusat pada Kristus, sehingga berpeluang membuat guru menafsirkan teks secara tidak tepat. Masalah umum bagi para pengkhotbah dan guru adalah gagal memahami dan menerapkan aspek keselamatan, dan akhirnya mengkhotbahkan atau mengajarkan moralisme dan pesan-pesan yang berpusat pada manusia. Dr. Bryan Chapell, dalam bukunya, "Christ Centered Preaching: Redeeming the Expository Sermon", menyatakan bahwa "pesan-pesan yang tidak berpusat pada Kristus (misalnya yang ti dak berpusat pada keselamatan) pasti menjadi berpusat pada manusia, meskipun penyimpangan ini sering terjadi tanpa sengaja di antara para pengkhotbah Injil". Dia menyebut pesan ini pesan yang mematikan yang justru menusuk inti iman daripada mendukungnya. Pesan-pesan itu mendesak orang-orang percaya untuk melakukan sesuatu supaya dikasihi Tuhan. Beberapa contoh yang diberikan Dr. Chapell adalah pesan-pesan seperti "jadilah seperti...", "berbuat baiklah", dan "disiplinlah", yang memusatkan perhatian pendengar pada tingkah laku, pencapaian karakter alkitabiah tertentu, atau mendesak orang percaya untuk meningkatkan hubungan mereka dengan Tuhan dengan lebih rajin menggunakan anugerah. Yang sering kali menjadi masalah adalah bukan pada apa yang dikatakan oleh para pengkhotbah (guru), melainkan pada apa yang gagal mereka katakan.

Beberapa penerbit menyesuaikan kurikulum mereka dengan pasar interdenominasi. Sebagian besar kurikulum yang diterbitkan oleh penerbit terkenal itu baik -- survei Alkitab, pertumbuhan rohani, teknik penggalian Alkitab, dilengkapi dengan beberapa saran praktis -- tapi tidak ditujukan untuk kepentingan penafsiran yang benar. Penyebab dari masalah penafsiran ini, yang berujung pada cacatnya kurikulum sekolah minggu, adalah kurangnya pesan sejarah keselamatan sebagai dasar materi. Hasilnya, pelajaran dalam banyak kurikulum berdiri sendiri dan terpisah dari tema Alkitab.

Banyak guru sekolah minggu memiliki hati dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengajar anak-anak, tetapi kurang memiliki latar belakang teologis untuk memahami "gambaran besar" Alkitab dalam alur sejarah penyelamatan. Presuposisi guru yang diterapkan dalam suatu teks sebagai suatu tafsiran merupakan hal yang penting untuk menyampaikan kebenaran Tuhan. Bila tafsiran itu tidak benar, prinsip-prinsip dan penggunaannya akan menuju pada alur yang salah dalam konteks yang tidak menyelamatkan. Alkitab bukanlah suatu kumpulan bagian-bagian yang sama (ayat-ayat), seperti pizza, yang bisa dikeluarkan secara acak; sebaliknya, setiap teks harus dipahami konteks sejarahnya dan terus dalam terang wahyu Allah sebelum ayat tersebut dinyatakan sebagai firman Tuhan yang berkuasa untuk jemaat. Dr. Edmond Clowney, dalam "Biblical Theology and the Character of Preaching", mengatakan: "Teologi yang alkitabiah mencoba membuka tujuan yang penting dari sejarah keselamatan. Teol ogi yang alkitabiah berfokus pada inti sejarah keselamatan dalam Kristus. Di sisi lain, teologi yang alkitabiah ini juga membukakan bagi kita aspek subjektif, kekayaan rohani dari pengalaman umat Allah dan hubungannya dengan pengalaman kita sendiri."

Akhirnya, kurikulum seharusnya berfokus pada Injil. Goldsworthy, dalam "Preaching the Whole Bible as Christian Scripture: The Application of Biblical Theology to Expository Preaching", mengatakan, "Kita tidak bisa mulai berkembang pada suatu rangkaian prinsip tanpa terlebih dahulu mengiyakan kesentralan Injil. Kehidupan dan pelayanan gereja lokal perlu dengan sadar diri berpusat kepada Injil untuk menjaga efektivitas demi pelebaran kerajaan Allah." Bahkan bila seseorang tidak bisa secara langsung melihat Kristus dalam suatu pasal, atau sebagai suatu tipe atau kiasan perbandingan, FCF harus membawa kita pada anugerah yang kita perlukan melalui Yesus Kristus. Salah satu bantuan terbesar yang bisa gereja berikan kepada guru-guru sekolah minggunya adalah menyediakan suatu kurikulum yang mengacu pada Injil dari suatu dasar sejarah keselamatan. Sangat sedikit kurikulum di pasaran yang memiliki fokus seperti ini. Kurikulum tidak hanya akan membantu para murid bela jar tentang anugerah Allah, tetapi juga akan menjadi alat untuk memuridkan guru ketika mereka menggunakan waktu untuk mengajar. (t/Ratri)

--Bergabunglah dalam:http://fb.sabda.org/binaanak--

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Kategori Bahan PEPAK: Kurikulum - Pedoman Mengajar