Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Bagaimana Kita Mempersiapkan Anak-Anak Kita untuk Menghadapi Penderitaan?


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Edisi PEPAK: e-BinaAnak 760 - Mempersiapkan Anak Menghadapi Pergumulan Hidup (I)

(Wawancara dengan John Piper -- Transkrip Audio)

Sebuah pertanyaan yang menyentuh, penting, dan bijaksana dari seorang ibu. "Pastor John, nama saya Malia, dan saya baru menjadi ibu dari seorang bayi laki-laki. Saya sudah berpikir tentang konsep menderita dalam kaitannya dengan anak saya. Akan sangat sulit untuk melihatnya menderita, tetapi saya tahu dia akan menghadapinya pada suatu hari, dan mungkin dia sudah mengalaminya dengan caranya sendiri sebagai bayi. Pertanyaan saya sederhana: Bagaimana cara mempersiapkan dirinya untuk, dan membesarkannya untuk menangani, penderitaan? Apa saja cara praktis bagi orangtua muda untuk mengajarkan anak bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan, dan bahwa kita dapat memercayai Tuhan di dalamnya?"

Gambar: Anak bersukacita

Saya akan meringkas jawaban saya dalam tiga langkah:

  1. Ajarkan anak Anda segala pandangan Alkitab yang mulia, yang meletakkan penderitaan di tempat yang tepat. Jadi, ajarkanlah.
  2. Berikan disiplin kepadanya dengan ketegasan yang tepat, dan tuntut penyangkalan diri darinya. Jadi, nomor satu adalah mengajar, nomor dua adalah disiplin.
  3. Contohkan kepadanya kepercayaan dan sukacita di tengah-tengah penderitaan dan kesedihan Anda sendiri.

Jadi, saya akan menjelaskan mereka satu per satu dan memberikan sedikit penjelasan pada beberapa ayat Alkitab.

"Ajarkan anak Anda segala pandangan Alkitab yang mulia, yang meletakkan penderitaan di tempat yang tepat."

1) Ajarkan anak Anda segala pandangan Alkitab yang mulia, yang meletakkan penderitaan di tempat yang tepat. Dan, ketika saya memikirkan apa saja yang tercakup dalam pandangan itu, saya hanya akan memberikan enam komponen.

  1. Dunia yang Allah ciptakan, Dia ciptakan dengan baik — termasuk hati dan tubuh kita sendiri —, tetapi itu rusak dan membuatnya menjadi rentan dan tidak sempurna melalui kejatuhan manusia ke dalam dosa. "Semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Hal-hal tidak menjadi seperti yang seharusnya. Kita ajarkan anak-anak kita mengenai hal itu. Alasan dasar mereka tidak sempurna adalah dosa. Kematian datang ke dunia melalui dosa (Roma 5:12). Penderitaan datang dengan itu (Roma 8:20). Seluruh ciptaan mengerang dan menunggu apa yang akan Tuhan lakukan kemudian (Roma 8:22-23). Jadi, kita ajarkan kehancuran dunia.
  2. Kita ajarkan kepada anak-anak kita, karena itu, bahwa setiap orang menderita. Dan, karena orang-orang yang percaya dan mengikuti Yesus bertentangan dengan sistem berdosa di dunia, orang-orang Kristen sering kali menjadi yang paling menderita. Kisah Para Rasul 14:22, "kita harus memasuki Kerajaan Allah melalui banyak penderitaan." Mazmur 34:19, "Banyak penderitaan orang benar." Yohanes 15:20, "Jika mereka menganiaya Aku [Yesus], mereka juga akan menganiaya kamu." Yohanes 16:33, "Di dunia kamu akan mengalami penganiayaan." Kita semua sedang mengerang sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu penebusan tubuh kita (lihat Roma 8:23). Jadi, kita semua akan menderita — terutama orang Kristen.

"Jangan pernah memberikan kesan kepada anak-anak Anda bahwa penderitaan itu ada karena Allah tidak berdaya."

  1. Allah berdaulat, dan tidak ada yang bisa menghentikan Dia dari melakukan apa yang paling ingin Dia lakukan. "Akulah Allah, dan tidak ada yang seperti Aku ... dengan berfirman, 'Rencana-Ku akan tetap teguh dan Aku akan menyelesaikan semua kehendak-Ku.'" (Yesaya 46:9-10) Dia lebih kuat daripada cuaca. Dia lebih kuat daripada badai, banjir, dan petir. Dia lebih kuat daripada hewan: yang besar yang dapat menyerang Anda seperti singa dan makhluk-makhluk begitu kecil yang mikroskopis, yang tidak dapat Anda lihat, yang bahkan dapat membuat Anda sakit dan membunuh Anda. Dia lebih kuat daripada semua musuh yang kita miliki. Dia lebih kuat dari segalanya. Anak-anak perlu mendengar ini. Mereka memahaminya. Mereka akan menerima lebih cepat daripada kita, dan mereka dapat menangani misteri. Ya, mereka bisa. Jangan pernah memberikan kesan kepada anak-anak Anda bahwa penderitaan itu ada karena Allah tidak berdaya.
  2. Ceritakan Injil dengan sangat jelas: Allah mengutus Anak-Nya ke dunia untuk menderita dengan kita dan bagi kita. Ini berarti bahwa, jika kita percaya kepada-Nya, tidak ada penderitaan kita yang merupakan hukuman atas dosa. Kristus menanggung semua hukuman dosa. Itu adalah dasar dari penerimaan kita dengan Allah dan harapan kita akan surga. Dan, tidak akan ada lagi penderitaan di sana. Semua penderitaan, oleh karena itu, yang datang ke dalam kehidupan seorang Kristen bukan karena Allah menghukum dia dalam murka-Nya — oh, biarkan anak-anak memahami ini! — Namun, itu adalah disiplin kebapakan dari Allah demi kekudusan Ibrani 12:3-11 dan 1 Petrus 1:5 mengatakan demikian.
  3. Oleh karena itu, dalam semua penderitaan kita, Tuhan itu baik. Tuhan itu bijaksana. Tuhan mengasihi meskipun itu menyakitkan, dan Dia memiliki tujuan untuk kita (Roma 8:28). Kita jangan menjelaskan penderitaan dengan mengatakan Allah tidak berdaya atau bahwa Setan berada di atas angin atau bahwa hanya ada kebetulan di dunia. Kita selalu menghadapi penderitaan, penderitaan kita dengan mengatakan, meskipun kita tidak mengerti semua jawaban mengapa penderitaan tertentu datang atau bahwa penderitaan tertentu datang pada waktu tertentu atau intensitas tertentu — kita tidak mengerti hal-hal itu —, tetapi kita memahami apa yang Tuhan telah ajarkan kepada kita, yaitu bahwa Dia berdaulat, bahwa Dia baik, dan bahwa Dia selalu memiliki tujuan untuk sukacita abadi kita.

"Meskipun kita tidak tahu semua jawaban untuk penderitaan kita, Tuhan itu baik dan memiliki tujuan untuk sukacita abadi kita."

  1. Dan, bagian terakhir dari pandangan yang menyeluruh ini adalah hari itu akan tiba ketika Allah akan menempatkan segalanya dengan benar. Jika terlihat seolah orang jahat lolos dengan sesuatu dalam hidup ini, dia tidak akan dibiarkan pergi begitu saja karena Allah akan membawa dia ke pengadilan pada akhirnya. "Pembalasan adalah milik-Ku, Aku akan menuntut pembalasan, firman Tuhan" (Roma 12:19). Dan, untuk setiap perbuatan baik yang tampaknya seolah tidak mendapat imbalan atau malah mendapat penderitaan dan bukannya berkat, "Kamu akan mendapat balasannya pada waktu kebangkitan orang-orang benar" (Lukas 14:14).

Jadi, minggu demi minggu kita mengajarkan hal-hal ini kepada anak-anak kita, membicarakan mereka ketika kita bangun, ketika kita berkendara di dalam mobil, ketika kita duduk di meja, dan ketika kita akan tidur pada malam hari. Penuhi anak Anda dengan pandangan ini.

2) Kita mendisiplin anak-anak kita dengan ketegasan yang tepat dan kita menuntut penyangkalan diri. "Bapak-bapak, janganlah memicu anak-anakmu untuk menjadi marah, tetapi besarkanlah mereka dalam disiplin dan nasihat Tuhan" — bukan hanya perintah, tetapi juga disiplin (Efesus 6:4). Amsal 13:24, "Mereka yang menahan tongkat, membenci anaknya, tetapi mereka yang mengasihi anaknya, mendidiknya dengan rajin." Salah satu alasan saya pikir memang benar bahwa kita membenci anak-anak kita jika kita tidak mendisiplin mereka seperti itu — meskipun akan membuat Anda ditangkap di beberapa negara, atau lebih buruk: anak-anak Anda diambil dari Anda — adalah memanjakan anak-anak dengan tidak memberi hukuman fisik dari perilaku mereka yang menantang, yang artinya sedang mempersiapkan mereka tidak mampu untuk mengenali disiplin Allah dalam hidup mereka ketika itu datang dalam bentuk fisik. Dan, disiplin itu akan datang dalam bentuk fisik, dan kita memberi mereka kerugian besar jika kita tidak menunjukkan kepada mereka bagaimana orangtua yang penuh kasih, penuh cinta, dapat memukul anak yang tidak patuh.

"Contohkan kepada anak-anak Anda kepercayaan dan sukacita di tengah-tengah penderitaan dan kesedihan Anda sendiri."

Secara umum, anak-anak harus diajarkan penyangkalan diri, yaitu mereka tidak harus mendapatkan semua yang mereka inginkan. Penguasaan diri adalah buah Roh dalam Galatia 5:22-23, seperti kesabaran dan kasih yang berkorban. Dan, tidak ada yang bisa menjadi seorang Kristen tanpa itu karena sifat alami kejatuhan dosa kita harus ditolak atau "dimatikan" seperti kata Paulus (Kolose 3:5). Selama kita hidup, kita harus mematikan keinginan kita yang berdosa. Kita perlu membiasakan anak-anak kita dengan pola seumur hidup mengatakan tidak untuk keinginan egois. Ketidakmampuan untuk melakukan hal ini adalah penyebab mengapa ribuan anak hancur dalam kehidupan. Jadi, jangan lakukan itu kepada anak Anda. Ajarkan mereka penyangkalan diri.

3) Dan, hal terakhir yang saya akan katakan — dan sulit untuk menata peringkat ini, tetapi ini mungkin yang paling penting: Kita harus menjadi teladan untuk kepercayaan anak-anak kita dan sukacita di tengah-tengah penderitaan dan kesengsaraan kita sendiri. Mereka melihat. Roma 5:3, "Kita juga bersukacita di dalam penderitaan yang kita alami karena kita tahu bahwa penderitaan ini menghasilkan ketekunan." Dan, Yakobus 1:2, "Anggaplah sebagai suatu sukacita jika kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan." Tidak ada yang akan lebih kuat di kehidupan anak-anak Anda daripada teladan tentang kepercayaan dan sukacita Anda di tengah-tengah kekecewaan dan penderitaan Anda sendiri.

Gambar: Anak merenung

Bahkan, saya akan mengatakan bahwa tantangan terbesar dari orangtua — setidaknya, saya melihat kembali apa yang saya lakukan sebagai orangtua? Empat puluh dua tahun atau sesuatu seperti itu, sejauh ini — tantangan terbesar dari orangtua, yang terutama bukanlah mengingat semua hal yang harus diajarkan dalam katekisasi, melainkan menjadi orangtua yang bertumbuh dalam kasih karunia dan kerendahan hati dan kepercayaan dan sukacita dalam semua pasang surut hidup ini. Beberapa hal akan memiliki kekuatan yang lebih besar dalam kehidupan anak-anak kita untuk membantu mereka menderita sebagai orang Kristen. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : http://www.desiringgod.org/interviews/how-do-we-prepare-our-children-for-suffering
Judul asli artikel : How Do We Prepare Our Children for Suffering?
Penulis artikel : John Piper
Tanggal akses : 4 Januari 2017

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Komentar