Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Blog SABDA


Syndicate content
melayani dengan berbagi
Updated: 35 weeks 3 days ago

Staf YLSA Mengikuti Seminar “Tetap Memberkati Walau Sendiri”

Tue, 04/04/2017 - 13:16

Keputusan hidup single (tidak menikah) adalah keputusan yang diambil sebagian orang, termasuk orang Kristen. Namun, pengambil keputusan ini tergolong minoritas sehingga diskusi mengenainya juga tak banyak diangkat. Gereja lebih sering mengadakan seminar mengenai kehidupan suami-istri atau keluarga, ketika subjek mengenai singleness ini penting bagi orang-orang yang sudah atau sedang mempertimbangkan untuk menjalani hidup selibat.

Bersyukur, ada seminar tentang topik singleness yang dapat dikatakan cukup langka ini. Seminar tersebut diadakan di Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), Solo, pada Sabtu, 1 April 2017. Saya turut hadir dalam seminar tersebut karena ingin mengetahui bagaimana memanfaatkan masa single yang membawa berkat bagi sesama dan lingkungan. Seminar ini dibawakan oleh Ev. Asriningrum Utami, seorang dosen dari STTRI Jakarta, dan satu dari sedikit hamba Tuhan yang memutuskan untuk hidup selibat. Judul seminar tersebut: "Tetap Memberkati Walau Sendiri".

Ibu Utami membuka seminar ini dengan memaparkan satu fakta bahwa orang single sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dan kondisi kesendirian mereka menjadi kondisi yang sepertinya patut mendapat belas kasihan dari orang lain. Pandangan tersebut salah, menurut beliau, karena hidup single adalah salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tertentu berdasarkan maksud dan rancangan-Nya. Namun, akibat stereotip yang kurang baik ini, sebagian orang single menjadi kurang mampu menjalani kesendiriannya secara efektif bagi kemuliaan Tuhan.

Lalu, seperti apakah tanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat? Ibu Utami menjelaskan bahwa tanda ini bisa berupa: tiadanya kesempatan orang lain tertarik kepada kita atau tidak adanya pendekatan serius dari lawan jenis kita. Dalam hal ini, langkah terbaik adalah mencari kehendak Allah. Kita mesti berdoa dan bertanya apakah kondisi demikian adalah pertanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat. Selebihnya, tunggulah waktu Tuhan untuk menyatakan rancangan-Nya dalam kehidupan kita.

Ibu Utami lantas menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa orang-orang single eksis di tengah masyarakat, di antaranya: karena keterbatasan fisik dan psikis, pengalaman-pengalaman traumatis (ex: sexual violence), kemauan sendiri oleh karena Kerajaan Surga, dan ketetapan Allah bagi orang tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa ada pekerjaan Allah yang memang perlu dinyatakan melalui singleness. Misalkan, untuk melakukan pekerjaan Allah di daerah konflik, yang memerlukan seorang hamba Tuhan yang tidak dibebani oleh persoalan keluarga. Apa pun yang menjadi alasan, Ibu Utami mengatakan bahwa hidup single bisa dimanfaatkan sebaik mungkin bagi Kerajaan Allah, asalkan seorang yang single selalu bersandar pada Allah dan memohon bimbingan dalam menjalankan keputusan hidupnya.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah penjelasan beliau mengenai salah satu peranan orang single, yaitu sebagai cermin bagi pasangan yang menikah. Orang-orang yang menikah pada umumnya lebih terjebak pada menggantungkan diri pada pasangan, sementara orang single lebih condong bergantung pada Allah karena mereka hidup dalam kesendiriannya. Ini menjadi satu keuntungan orang single. Namun, di pihak lain, pasangan yang menikah juga bisa menjadi cermin bagi orang single untuk menunjukkan bahwa anak-anak Allah selalu membutuhkan persekutuan agar mereka merasa penuh sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Itu artinya, kedua kelompok ini sebetulnya bisa belajar satu sama lain, dan berdasarkan fakta ini, orang single tak seharusnya perlu merasa rendah diri kepada mereka yang memutuskan menikah/berkeluarga.

Materi terakhir yang Ibu Utami sampaikan adalah mengenai bagaimana menjalani singleness dengan berkelimpahan. Pertama, harus memiliki konsep yang benar dulu tentang singleness. Naikkan syukur untuk kondisi singleness karena kesendirian adalah salah satu karunia Tuhan, yang melaluinya kemuliaan Tuhan dapat dinyatakan. Kedua, harus melibatkan Tuhan dalam jatuh bangun menjalani tugas-tugas perkembangan hidup--mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa--sehingga orang-orang single bisa mengalami kekayaan pengalaman berjalan bersama Tuhan, dan membagikan kebijaksanaan yang didapat kepada orang lain. Ketiga, bangun support system. Masuklah ke dalam persekutuan yang saling mendukung dan mengasihi karena kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri, apalagi dalam konteks mengerjakan pelayanan. Dan, keempat, libatkan diri dalam pelayanan untuk Tuhan. Proaktif untuk mengerjakan pelayanan-pelayanan dengan memanfaatkan keleluasaan dan kemandirian sebagai orang single.

Dengan mengikuti seminar ini, saya bisa menyimpulkan bahwa orang single juga dapat dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya, dan sebagian orang ditentukan Allah (untuk menjadi single) karena ada rencana-Nya yang harus dikerjakan melalui kesendirian orang tersebut. Orang-orang single bisa menjadi model kebergantungan kepada Allah bagi pasangan yang menikah, dan sebaliknya pasangan yang menikah bisa menjadi model persekutuan anak-anak Allah bagi orang single. Keduanya ada agar bisa saling belajar. Bagi orang single, kiranya apa yang disampaikan oleh Ibu Utami bisa menjadi peneguhan bahwa kesendirian mereka adalah sebagian rencana Tuhan untuk mendukung pekerjaan-Nya. Kiranya Tuhan sendiri akan memampukan sebagian kita yang memilih hidup single sehingga hidup kesendirian kita senantiasa dipenuhkan dan bisa membawa berkat bagi sesama.

Categories: PEPAK

Staf YLSA Mengikuti Seminar “Allah dan Kebebasanku”

Fri, 03/31/2017 - 08:27

Oleh: *Widodo

Seminar "Allah & Kebebasanku" oleh Vik. Harly Erikson Tambunan di Gedung Orient, Surakarta (20/3/2017), adalah seminar pertama yang saya ikuti sejak berada di YLSA. Kami tiba pukul 17.50 WIB, dan ternyata persiapan seminar masih berlangsung. Baru pada pukul 18.30 WIB, acara dimulai.

Ketika pembicara maju ke depan, "energi kebebasan" dari menunggu sekitar 40 menit seperti dikembalikan kepada kami bertiga yang hadir dari YLSA (saya, Kun, dan Benny). Pembicara yang sering melayani kaum muda di GRII Jakarta ini sangat pas membawakan tema "Allah & Kebebasanku". Beliau bersemangat, enerjik, dan ekspresif dalam menyampaikannya. Ilustrasi-ilustrasi yang diberikan juga sangat sederhana dan mudah dipahami oleh semua yang hadir. Ada sekitar tiga ratusan orang yang hadir, baik yang berlatar belakang awam, sekolah teologi, maupun aktivis gereja.

Tema yang awalnya terasa umum dan biasa saja, ketika digali, ternyata membuka sebuah pemahaman yang baru. Pada awal seminar, Pak Harly melemparkan dua pilihan pernyataan kepada peserta, yaitu "kebebasan yang mengikat" atau "ikatan yang membebaskan". Seperti biasa, dua pilihan yang sepertinya sama akan menimbulkan dilema. Audiens terbagi ke dalam dua kubu. Manusia diciptakan Allah dengan kebebasan, potensi daya cipta dan cinta. Kebebasan adalah tema yang sangat umum digunakan untuk menggalang massa. Pada waktu manusia masih berada di taman Eden, Iblis sudah melemparkan isu kebebasan untuk memperoleh massa. Hingga kini, kampanye-kampanye politik juga menyuarakan tema kebebasan untuk memperoleh hal yang serupa. Akan tetapi, ada satu kata kunci yang menentukan apakah kebebasan itu benar atau salah, memberi kepuasan atau justru keliaran. Kata kunci itu adalah "aturan". Ilustrasi yang diberikan adalah tentang keinginan seorang anggota geng motor untuk bebas. Ia ingin bebas berkendara tanpa aturan, tanpa helm, tanpa SIM, modifikasi motor sesukanya, dan tanpa lampu lalu lintas. Tentu saja, ilustrasi ini sangat mudah dipahami, tanpa helm dan lampu lalu lintas pasti akan fatal. Itulah perbedaan kebebasan yang ditawarkan Allah dengan kebebasan yang ditawarkan Iblis. Lalu, apakah aturan dari Allah? Tidak banyak, hanya satu, yaitu menggenapi tujuan yang telah ditetapkan Allah bagi manusia. Lalu, apakah tujuan hidup manusia? Tidak banyak juga, untuk menikmati (bukan menikmati berkat Tuhan, melainkan Sumber berkatnya) dan memuliakan keberadaan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup manusia. Keduanya disingkat menjadi RELASI dengan Tuhan. Jadi, kebebasan manusia adalah kebebasan untuk berelasi dengan Tuhan.

Saya sangat diberkati dengan pemaparan tersebut. Saya dibawa ke dalam sebuah kesimpulan bahwa manusia yang diciptakan Allah dengan potensi daya cipta dan kasih, bebas mengekspresikan diri dalam berelasi dengan Tuhan. Disadari atau tidak, manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah. Oleh karena itu, kalau Anda suka bermusik, bermusiklah untuk Tuhan. Bagi yang suka menulis, menulislah untuk kemuliaan Tuhan. Manusia bebas berekspresi, tetapi untuk satu tujuan yang telah ditetapkan sejak awal mula penciptaan, yaitu BERELASI DENGAN TUHAN. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Roadshow SABDA ke Lampung

Thu, 03/30/2017 - 13:06

Sabtu pagi. Pada 11 -- 13 Maret 2017, saya dan Ibu Yulia berangkat ke Lampung dalam rangka roadshow SABDA di Gereja Kristen Tritunggal (GKT), Bandar Lampung. Kami berangkat pada Sabtu pagi (11 Maret 2017). Ketika tiba di Bandara Radin Inten II, Lampung, kami dijemput oleh Boksu (panggilan Pendeta Gembala di GKT) Putut, Pak Candra (majelis di bidang misi), dan Pak Rudi (hamba Tuhan di GKT). Ini kali pertama saya pergi ke Lampung. Kesan saya, kota ini seperti Solo, tetapi lebih besar dan lebih ramai. Di Lampung juga sudah mulai macet meski tidak seperti Jakarta.

Dari mengobrol dengan Boksu Putut, tidak disangka ternyata ada orang-orang yang saya kenal, yang pernah melayani di GKT Lampung ini. Wah, dunia memang sempit ya. Setelah tiba di gereja, kami langsung melihat aula gereja yang akan dipakai untuk seminar malam harinya dan menata booth sampai selesai. Malam itu, saya sempat khawatir, bagaimana akan menjaga booth kalau pada saat yang sama saya juga harus membantu peserta menginstalasikan aplikasi ke HP-HP mereka. Bersyukur sekali, ada staf gereja yang dapat membantu kami, yaitu Laura dan Pak Wit. Laura membantu menjaga booth, sedangkan Pak Wit membantu menyiapkan hal-hal teknis, seperti LCD, monitor, tripod, dan lain-lain. Wah, mereka betul-betul menjadi penolong bagi kami.

Sabtu malam. Seminar dimulai pukul 18.30 dengan tema "Belajar Firman Tuhan pada Era Digital". Total peserta malam itu sekitar 60 orang. Kebanyakan yang hadir adalah "generasi X", tidak sebanding dengan peserta "generasi Z". Namun demikian, mereka semua antusias sekali mendengar seminar ini dan pada sesi tanya jawab mereka juga aktif bertanya. Sebelum dan sesudah acara, saya membantu beberapa peserta menginstal aplikasi-aplikasi SABDA di HP peserta, khususnya yang akan dipakai untuk pelatihan besok. Aplikasi tersebut adalah Alkitab, Tafsiran, Alkitab PEDIA, Kamus Alkitab, dan Peta Alkitab. Kalau memori HP-nya masih cukup, saya tambahkan aplikasi Renungan Oswald Chambers (ROC).

Malam itu, saya tidur agak larut karena saya harus mempersiapkan kesaksian untuk disampaikan di kebaktian remaja, Minggu jam 7 pagi. Saya bukan orang yang cakap berbicara di depan umum sehingga hal itu membuat saya gelisah. Apalagi permintaan ini mendadak sekali. Sore itu, sebelum seminar berlangsung, Boksu Putut minta agar Minggu pagi saya memberikan kesaksian dalam kebaktian remaja, dan pada saat yang sama Ibu Yulia sharing tentang Yayasan Lembaga SABDA di kebaktian umum.

Minggu pagi. Sebelum kebaktian mulai, saya sempat berbincang dengan pembina remaja mengenai keadaan remaja di gereja itu. Dia mengatakan bahwa remaja di situ masih perlu dibimbing supaya dapat menggunakan gadget/gawainya dengan bijaksana, apalagi saat ibadah di gereja. Hanya karena pertolongan Tuhan, saya dimampukan untuk berbicara di hadapan lebih dari 100 remaja. Saya berbagi kesaksian tentang mengapa saya melayani Tuhan dan tentang IT 4 God. Kita dapat melayani Tuhan melalui talenta kita masing-masing dan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melayani Tuhan. Pada akhir sharing, saya mengajak mereka untuk hadir dalam Pelatihan PA menggunakan Gadget.

Minggu siang. Saya dan Bu Yulia mempersiapkan booth dan alat-alat yang akan digunakan untuk pelatihan #Ayo_PA!. Bu Yulia membagi peserta menjadi 2 kelompok, kelompok yang disebut "high-tech", yang terdiri dari peserta remaja dan pemuda, dan kelompok "low-tech", yang terdiri dari orang tua yang tidak terlalu mengikuti perkembangan teknologi. Pembagian kelompok ini menambah semangat peserta karena di tengah pelatihan Bu Yulia mengadakan games kecil, yaitu siapa yang paling cepat bisa mempraktikkan tutorial yang telah diajarkan. Kedua kelompok ini sama-sama bersemangat mempraktikkan apa yang telah disimulasikan di depan. Pada akhir pelatihan, kami tidak lupa berfoto bersama dan ada dua peserta yang bersedia memberikan testimoninya.

Senin pagi. Pada 13 Maret 2017, kami bersiap untuk pelatihan selanjutnya, yaitu Pelatihan Software SABDA untuk para hamba Tuhan. Ternyata, gereja ini memiliki acara rutin setiap 2 bulan sekali, yaitu Seminar Misi Sehari (SMS) yang dihadiri pendeta-pendeta dari berbagai gereja. Kali ini, acara diisi dengan pelatihan dari SABDA. Para pendeta yang datang ternyata bukan dari Bandar Lampung saja, ada juga yang harus menempuh perjalanan 6 -- 7 jam. Tidak sedikit dari mereka yang rela berangkat pukul 1 pagi untuk sampai di gereja tepat waktu. Sungguh luar biasa semangat mereka. Sebelum pelatihan dimulai, saya dibantu Laura dan Pak Wit menginstalkan software SABDA di laptop mereka. Ada beberapa peserta yang tidak memiliki laptop, tetapi jika ada HP, kami tawarkan untuk diinstal aplikasi SABDA di HP-nya.

Respons peserta yang mengikuti pelatihan ini sangat baik. Sembari mendengarkan tutorial penggunaan software SABDA di layar LCD, mereka juga mencoba di laptop masing-masing. Saat ada kesulitan, peserta yang sudah bisa mengajari peserta yang belum bisa. Pada akhir acara, saya sempat merekam 2 testimoni dari peserta, yaitu Pak Soni dan Pak Purwanto. Secara keseluruhan, mereka senang bisa mempelajari software SABDA. Mereka bisa menggali firman Tuhan lebih dalam dengan banyak bahan yang ada di dalamnya. Karena tidak semua peserta membawa laptop, Bu Yulia memutuskan untuk memberi pelatihan #Ayo_PA! menggunakan gadget.

Senin sore dan malam. Selesai pelatihan, kami diajak ke Pantai Sari Ringgung oleh Muse Asmini (hamba Tuhan GKT). Perjalanan sekitar 1 jam dari kota. Airnya masih jernih dan pemandangannya menyejukkan hati. Sepulang dari pantai, saya dan Bu Yulia diajak oleh istri Boksu Putut ke rumah Pak Andi. Pak Andi adalah jemaat GKA dan ketua yayasan sekolah Trinitas milik GKT. Dalam pertemuan sebelumnya, Pak Andi mengatakan bahwa ia tergerak memberi dua unit gitar kepada SABDA. Malam itu, kami ke rumahnya untuk mengambil gitar tersebut karena besoknya pagi-pagi kami akan pulang ke Solo. Di sana, saya diminta untuk memainkan piano. Dari melihat saya memainkan piano, Pak Andi memberi tip bagaimana main piano dengan "confident" dan langsung memberikan contohnya. Saya sangat kagum dengan permainan musiknya. Satu kalimat dari Pak Andi yang saya ingat adalah bahwa sebenarnya tidak ada orang yang bodoh, yang ada adalah orang yang belum menemukan kepandaiannya/keahliannya. Beliau juga menceritakan bagaimana berlatih main piano 2 -- 3 jam setiap pagi, dan bagaimana dia jatuh bangun dalam kehidupannya dan bisnisnya.

Saya bersyukur bisa mengikuti roadshow ini. Bertemu dengan orang-orang baru, suasana baru, dan lingkungan yang baru. Satu hal yang sangat menonjol adalah rasa kekeluargaan, kehangatan, dan keramahan dari para hamba Tuhan, majelis, dan jemaat di GKT Bandar Lampung. Bersyukur dapat membangun relasi baru untuk sama-sama melayani Tuhan. Saya berdoa untuk gereja ini dan orang-orang yang sudah mengikuti pelatihan ini semoga dapat menularkan semangat #Ayo_PA! dimulai dari diri sendiri. Kiranya melalui pelayanan ini, nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

PA Kitab Ayub di YLSA: Menemukan Allah dalam Kehilangan

Wed, 03/22/2017 - 07:52

Selama Februari 2017, staf YLSA telah melakukan pendalaman Alkitab (PA) dari tiga kitab hikmat, yaitu (Amsal, Pengkhotbah, dan Ayub). Dalam tulisan ini, saya hanya berbagi tentang pengalaman ber-PA kitab Ayub.

Kitab Ayub adalah kitab yang sangat jarang saya selidiki. Seperti PA sebelumnya, kami memakai media teks, visual, video, dan audio yang sangat menolong kami untuk memahami kitab Ayub secara global. Selain belajar tentang hikmat, kami juga belajar tentang sastra, tokoh-tokoh, dan alur cerita dalam kitab Ayub. Tema utama yang saya lihat dalam kitab Ayub adalah penderitaan dan anugerah Tuhan. Banyak orang salah paham ketika membaca kitab Ayub. Kitab ini sesungguhnya tidak sedang menceritakan Ayub sebagai tokoh utama yang harus dilihat, melainkan tentang TUHAN yang berada di balik segala sesuatu.

Kitab Ayub memiliki hikmat yang sangat berbeda dengan Amsal dan Pengkhotbah. Saya melihat ada dua jenis hikmat yang terdapat dalam kitab Ayub. Pertama, hikmat manusia seperti pemikiran-pemikiran Ayub dan para sahabatnya. Yang kedua adalah hikmat Ilahi, yaitu hikmat yang bersumber dari Sang Pemilik jagad raya, hikmat yang menjadi sumber kebaikan bagi manusia. Tuhan menguji iman Ayub melalui pencobaan yang berasal dari Iblis, yang akhirnya segala sesuatu yang Ayub miliki benar-benar habis, mulai dari keluarga, kekayaan, dan kondisi fisik. Saat para sahabat Ayub memberikan banyak nasihat kepada Ayub tentang penyebab keadaannya, nasihat tersebut tidak membuat Ayub menyadari keadaan dirinya yang sedang diperhatikan Tuhan. Namun, ketika Tuhan menjawab Ayub melalui penglihatan-penglihatan, barulah mata rohani Ayub terbuka lebar untuk melihat Tuhan yang begitu besar secara pribadi.

Dalam PA kali ini, saya sangat bersyukur belajar satu prinsip penting dalam ujian iman, yaitu bersikap jujur di hadapan TUHAN dan mengungkapkan semua pergumulan di hadapan Tuhan, sampai pada titik kesadaran diri secara utuh mengenai siapakah TUHAN dan siapakah diri kita. Sebelum mengalami pemulihan, Ayub hanya mengenal Tuhan melalui banyak hikmat dan sudut pandang orang lain dan dirinya, tetapi ketika Tuhan menyatakan diri kepada Ayub, perubahan terbesar terjadi dalam dirinya. Iman Ayub bertumbuh melalui hikmat TUHAN dan keadaannya dipulihkan pada akhir hidupnya. Yang mencari akan mendapat upah, yang memiliki imanlah yang tahan uji. Mari membaca dan mempelajari kitab Ayub secara mendalam. Tuhan Yesus memberkati!

Categories: PEPAK

Roadshow SABDA di Pulau Dewata (II)

Mon, 03/13/2017 - 11:50

Paruh pertama kegiatan roadshow SABDA di Pulau Bali, 24 -- 26 Februari 2017, sudah kami lewati, seperti yang bisa Anda baca melalui blog yang ditulis oleh Elly. Namun, sepeninggal Hadi dan Elly, acara masih harus berlanjut sampai 28 Februari 2017 dengan hanya Bu Yulia dan saya. Menurut saya, dua hari terakhir justru lebih padat dan berat karena dalam sehari ada dua tempat pelayanan, bahkan pada hari terakhir ada tiga pelayanan yang harus kami lakukan.

Pada Senin pagi, 27 Februari 2017, kami mengadakan pelatihan Software SABDA dan Ayo_PA di STT Johanes Calvin. Satu hal yang menggembirakan kami adalah ketika mendengar bahwa sudah beberapa tahun terakhir mahasiswa memang diharuskan memakai Software SABDA. Karena itu, kedatangan kami sangat dinantikan oleh kira-kira 80 orang mahasiswa dan dosen untuk mendapatkan pelatihan dari sumbernya. Demikian juga di STTII Denpasar pada hari berikutnya, yang dihadiri oleh lebih dari 50 mahasiswa dan dosen. Mereka rata-rata sudah memakai Software SABDA sehingga sangat senang menyambut kedatangan kami. Selain Software SABDA, sebagai penekanan utama, kami juga memperkenalkan gerakan #Ayo_PA! sebagai kebutuhan setiap jemaat Tuhan untuk memakai teknologi untuk belajar firman Tuhan. Harapan kami, anak-anak muda ini dapat menularkan semangat ber-PA dengan gawainya kepada anak-anak muda yang lain yang mereka layani.

Sementara itu, untuk persekutuan umum di GKY Kuta Bali dan GPI Adonai, kami lebih berfokus pada pelatihan gerakan #Ayo_PA! Sayangnya, tak banyak anak muda yang ikut hadir pada acara ini. Kami melihat rata-rata peserta dari jemaat umum GKY sudah memakai aplikasi SABDA Android, tetapi setelah pelatihan mereka menyadari ternyata mereka belum memakai fitur-fitur yang ada dengan maksimal. Bahkan, mereka tidak menyadari bahwa kelima aplikasi SABDA (Alkitab, Kamus, Alkitab PEDIA, Tafsiran, dan Peta) sudah terintegrasi sehingga bisa dipakai dengan sangat efektif. Banyak peserta senang sekali mengetahui informasi ini dan menjadi sangat bersemangat. Lain halnya dengan acara lansia di GKY Kuta Bali, pada Selasa pagi. Pada kesempatan ini, Bu Yulia memberikan presentasi tentang bahan-bahan SABDA audio. Jemaat lansia menjadi sangat tertarik untuk mendapatkan bahan-bahan audio. Sayang, karena waktu yang sangat mepet sekali, kami tidak bisa menolong menginstalkan bahan-bahan tersebut ke HP para lansia. Semoga ada jemaat kaum muda yang tergerak menolong.

Selama dua hari acara berlangsung, saya dan Ibu Yulia selalu bergantian dalam menyampaikan presentasi. Untuk presentasi Software SABDA di STT, tugas saya adalah menyampaikan materi pendahuluan, dan Ibu Yulia menyampaikan sesi penjelasan teknis. Dan, sebaliknya dengan presentasi #Ayo_PA!, Ibu Yulia menyampaikan materi pendahuluan, sedangkan saya menyampaikan sesi penggunaan aplikasi dan penjelasan metode S.A.B.D.A. Akan tetapi, untuk acara lansia dan jemaat umum, presentasi dibawakan oleh Ibu Yulia. Saya salut dengan cara Ibu Yulia menyampaikan materi karena beliau tidak hanya menekankan pada "what" dan "how" dari Software SABDA atau PA dengan gadget, tetapi juga "why", yaitu mengapa mereka harus mengaplikasikan kedua teknologi dalam pembelajaran Alkitab. Saya bisa melihat bahwa melalui presentasi seperti itu, para peserta jadi tahu kepentingan mereka menggunakan software SABDA ataupun aplikasi SABDA. Dengan demikian, peserta juga dibekali dengan pentingnya firman Tuhan. Puji syukur, mayoritas peserta menunjukkan minatnya dan mengikuti proses pembelajaran dengan tekun walaupun ada beberapa peserta mengakui bahwa mereka cukup lelah mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa saya petik. Jika roadshow SABDA harus dilakukan hanya dengan dua orang staf, dua orang ini harus cukup mahir dan fleksibel menjalankan semua peran dan tugas. Karena itu, persiapan harus dilakukan dengan matang, punya strategi sehingga bisa membekali staf yang melayani roadshow untuk bisa menangani berapa pun jumlah peserta. Kiranya ini bisa menjadi masukan yang baik bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).

Saya pribadi bersyukur, di tengah kekurangan di sana-sini, saya masih bisa mensyukuri banyak hal. Keseriusan peserta dalam belajar, ketertarikan mereka dengan bahan-bahan SABDA, dan doa-doa mereka yang tulus untuk kemajuan pelayanan kami, seakan menebus segala kekecewaan saya. Rasa lelah saya bisa terobati melihat begitu semangatnya mereka menerima materi yang kami sampaikan. Semangat mereka lantas menjadi dorongan bagi saya untuk memperbaiki cara kerja dan pelayanan saya pada masa mendatang.

Saya berdoa bagi para peserta roadshow yang sudah kami tinggalkan, kiranya mereka tidak lupa dan terus mempraktikkan apa yang sudah kami bagikan. Bahkan, mengajarkannya kepada hamba-hamba Tuhan yang lain. Teknologi telah merasuk ke dalam kehidupan banyak orang, mengubah wajah pelayanan dan cara seseorang membagikan firman. Mau tak mau, kita harus beradaptasi dengan kencangnya perkembangan teknologi agar tidak kehilangan ladang tuaian yang terbesar, yaitu dunia digital, di mana masyarakat modern saat ini berada. Mari kita semua memanfaatkan teknologi untuk melayani Tuhan dan mengabarkan karya keselamatan Allah kepada semakin banyak orang. Teknologi telah diciptakan oleh Tuhan, dan harus kita pergunakan kembali untuk memuliakan nama-Nya. Selamat melayani untuk kita semua.

Categories: PEPAK

Komentar