Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading
Melalui teladan dan perbuatan-Nya selama melayani di dunia ini, Tuhan mengajarkan mengenai bagaimana kita harus mengasihi. Untuk itu, jika kita ingin anak-anak yang kita layani, bahkan kita sendiri dapat mengasihi Tuhan, maka karakter Kristus harus ada dalam hidup kita. Memahami dan menanamkan karakter pikiran Allah akan membantu kita dalam mengajar anak untuk semakin mengasihi Allah. Berikut enam karakter pikiran Allah yang dapat dibagikan kepada anak layan, teman sepelayanan, atau bagi diri kita sendiri.
HIDUP
Allah berkata bahwa pikiran kita diciptakan sebagai pikiran yang
hidup. Tentu saja Anda tidak menginginkan pikiran yang mati.
Meskipun demikian, coba pikirkan apa yang dikatakan berikut: "Karena
keinginan [dalam New American Standard Bible digunakan istilah
`mind` atau `pikiran` daging adalah maut, tetapi keinginan Roh
adalah hidup dan damai sejahtera." (
DAMAI
Kedua, pikiran orang-orang kristiani ialah pikiran yang damai. Dalam
terjemahan New American Standard Bible disebutkan, "The mind set on
the Spirit is life and peace." Artinya, "Pikiran yang diarahkan
dalam Roh Kudus ialah hidup dan damai sejahtera." (
TERARAH PADA SATU TUJUAN
Ketiga, ada kata sifat lain yang menggambarkan pikiran orang-orang
kristiani: terarah pada satu tujuan. "Tetapi aku takut, kalau-kalau
pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada
Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan
kelicikannya." (
Jika Anda ingin melihat teladan kehidupan Yesus lainnya untuk Anda
ikuti, kita dapat melihatnya di
Ada banyak hal yang dapat membingungkan dan memikat pemikiran kita. Semuanya bisa tampak menarik. Demikian pula ada pertarungan besar untuk memenangkan pikiran anak Anda. Pertarungan itu merupakan perjuangan yang terus-menerus, dan hal-hal yang membingungkan itu dapat menyesatkan, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus. Bahkan saat kita berdoa, membaca firman Tuhan, dan duduk di gereja, pikiran kita dapat berkelana ke mana-mana. Ia berputar-putar dan berjuang untuk tetap memusatkan perhatian. Namun, kita dipanggil untuk tetap terarah pada satu tujuan, bukan untuk dibingungkan dan disesatkan.
RENDAH HATI
Sifat keempat pikiran ilahi kita temukan dalam
SUCI
Karakteristik lain dari pikiran ilahi ialah suci. "Bagi orang suci,
semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman,
suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal budi maupun suara
hati mereka najis." (
Saat saya duduk di bangku SMU, kelompok gereja kami mengadakan
program menghafalkan ayat Alkitab dari The Navigator. Salah satu
ayat yang saya hafalkan adalah
PEKA DAN MAU MENDENGARKAN
Karakteristik keenam pikiran ilahi ialah peka dan mau mendengarkan.
Pada malam setelah Yesus bangkit, Dia membuka pikiran
murid-murid-Nya agar memahami firman Allah. Para murid mau
mendengarkan dan mempelajari apa yang sudah dikatakan-Nya. Sikap mau
mendengarkan Allah akan menghasilkan kepekaan rohani yang membawa
kita untuk memeroleh kemajuan. Yesus sendiri menjadi teladan dalam
hal ini karena Dia peka mendengarkan suara Allah. Dia berkata, "...
Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara
tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku" (
T.W. Hunt menggambarkan tanggapan kita demikian: Sebagaimana Bapa bagi Kristus, demikianlah Kristus bagi kita. Kristus meneladani Bapa; kita meneladani Kristus. Kristus melihat apa yang dilakukan Bapa; kita memerhatikan dengan saksama aktivitas Yesus di dunia (dalam hal ini, termasuk aktivitas-Nya sekarang). Kristus mendengarkan Bapa; kita mendengarkan Dia. Bapa mengajar-Nya; Dia mengajar kita. Kristus tidak melakukan apa-apa lepas dari kehendak Bapa; kita tidak dapat berfungsi jika tidak bergantung kepada Dia. Kristus sangat dekat dengan Bapa; kita harus tetap tinggal dekat dengan-Nya.