Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Tujuan Allah Mengirim Yesus Kristus untuk Mati (1)

Tujuan Allah Mengirim Yesus Kristus untuk Mati (1)


Pengenalan Masalah

Kristus sendiri yang memberitahukan kepada kita maksud kedatangan-Nya di dunia ini. Ia berkata, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10) Dalam kesempatan yang lain, Ia berkata bahwa Anak Manusia datang "untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45)

Rasul Paulus juga dengan jelas menyatakan maksud kedatangan Kristus ke dunia, "Tuhan Yesus Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat sekarang ini." (Galatia 1:4) "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa." (1 Timotius 1:15) "Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat kepunyaan-Nya sendiri yang rajin berbuat baik." (Titus 2:14)

Dari pernyataan-pernyataan ini, jelas bahwa tujuan kematian Kristus adalah untuk:

  1. Menyelamatkan manusia dari dosa.
  2. Membebaskan manusia dari dunia jahat sekarang ini.
  3. Memurnikan dan menguduskan manusia.
  4. Menciptakan manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Perikop-perikop lain dalam Alkitab, menjelaskan apa yang sesungguhnya dikerjakan oleh Yesus Kristus dalam kematian-Nya. Ada lima hal yang dapat kita temukan:

  1. Manusia didamaikan dengan Allah (Roma 5:1).
  2. Manusia diampuni dan dibenarkan (Roma 3:24).
  3. Manusia disucikan dan dikuduskan (Ibrani 9:14).
  4. Manusia diangkat menjadi anak Allah (Galatia 4:4-5).
  5. Manusia menerima kemuliaan dan hidup yang kekal (Ibrani 9:15).

Dari semua bukti ini, jelaslah pengajaran Alkitab: kematian Kristus dimaksudkan untuk memberi kepada manusia pengampunan pada saat ini (dan kenyataannya memang demikian), dan kemuliaan pada saat yang akan datang. Karena itu, jika Kristus mati bagi semua manusia, maka dua kemungkinan yang muncul:

  1. Semua orang sekarang telah dibebaskan dari dosanya, dan mereka telah diampuni dan akan dimuliakan, atau Kristus telah gagal mencapai tujuan-Nya.
  2. Melalui pengalaman hidup sehari-hari sebagai manusia, kita tahu bahwa pernyataan pertama di atas adalah tidak benar. Pernyataan yang kedua -- bahwa Kristus telah gagal -- merupakan suatu penghinaan terhadap Allah.

Untuk menghindari kesulitan dalam menerima satu dari kedua pernyataan tersebut, mereka yang berpendapat bahwa Kristus mati untuk semua orang, menyatakan bahwa Allah tidak bermaksud agar semua manusia menerima penebusan tersebut. Mereka mengatakan bahwa penebusan tersebut hanya bagi mereka yang beriman pada Kristus. Tindakan beriman ini haruslah merupakan sesuatu yang dapat dilakukan oleh manusia berdasarkan keinginannya sendiri, yang membuat mereka berbeda dengan manusia yang lain (Jika iman merupakan sesuatu yang diperoleh karena kematian Kristus, dan jika ia mati untuk semua orang, maka seharusnya semua orang memunyai iman!). Bagi saya pendapat semacam ini semakin memperkecil apa yang sesungguhnya telah dicapai Kristus melalui kematian-Nya, jadi saya menentangnya dengan menunjukkan bahwa apa yang diajarkan Alkitab sungguh berbeda!

Siapa, Bagaimana, dan Apa

Ketika suatu tindakan terjadi, maka pasti ada sang pelaku (siapa yang melakukannya); ada cara yang digunakan (bagaimana tindakan itu dilakukan); dan ada sebuah hasil akhir yang tampak (apa atau hasil akhir).

Kita memilih bagaimana kita akan melakukan sesuatu (sarana/cara) menurut apa yang ingin kita lakukan (hasil akhir). Jadi dapat kita katakan bahwa, hasil akhir merupakan sebab bagi cara. Jika kita telah memilih cara yang benar, hasil akhirnya sudah dapat dipastikan. Jadi kita dapat mengatakan bahwa cara merupakan penyebab dari suatu hasil akhir. Jelaslah, jika sang pelaku yang bermaksud melakukan sesuatu telah memilih cara yang benar untuk melakukannya, maka tindakan tersebut pasti terlaksana!

Sekarang kita dapat menerapkan prinsip tersebut untuk diskusi kita dalam artikel ini. Kita akan terlebih dulu melihat siapa pelaku yang bermaksud menebus kita. Kemudian kita akan melihat cara apakah yang digunakan untuk menebus kita. Dan akhirnya kita akan melihat hasil dari cara yang telah digunakan tersebut.

Menurut Alkitab, pelaku yang menghendaki keselamatan kita adalah Allah Tritunggal. Semua pelaku-pelaku yang lain hanyalah alat di tangan-Nya (Kisah Para Rasul 4:28). Pelaku utamanya adalah Allah Tritunggal yang kudus. Marilah kita mempelajarinya dengan lebih mendetail.

Allah Bapa, Pelaku Penebusan Kita

Mengenai pertanyaan, bagaimana Allah Bapa menjadi pelaku penebusan kita? Saya menjawab, ada dua cara: Bapalah yang mengutus Anak untuk mati menebus manusia, dan Bapalah yang menghukum Kristus karena dosa-dosa kita. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Banyak ayat Alkitab yang secara jelas menyatakan bahwa Bapa mengutus Anak ke dalam dunia. Sebagai contoh, "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak." (Galatia 4:45) Pengutusan Anak ini melibatkan Allah Bapa dalam 3 hal:

  1. Rencana awal yang selalu ada dalam pikiran-Nya (l Petrus 1:20).
  2. Bapa memberikan kepada Anak seluruh kemampuan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas yang diserahkan pada Anak (Yohanes 3:34-35).
  3. Janji-Nya kepada Anak untuk memberikan pertolongan yang diperlukan untuk menyukseskan tugas tersebut (Kisah Para Rasul 4:10-11).

2. Banyak ayat Alkitab yang secara jelas menunjukkan bahwa Allah menghukum Yesus Kristus karena dosa-dosa kita. Sebagai contoh: "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." (2 Korintus 5:21) Dapat dikatakan bahwa, Kristus menderita dan mati menggantikan kita. Bila demikian, bukankah merupakan pemikiran yang aneh bila Kristus harus menderita sebagai ganti mereka yang juga akan menderita karena dosa-dosa mereka sendiri?

Kita dapat merumuskan masalahnya seperti ini: Kristus menderita untuk (salah satu di bawah ini):

  1. Seluruh dosa dari semua manusia.
  2. Seluruh dosa dari sebagian manusia.
  3. Sebagian dosa dari semua manusia.

Jika pernyataan terakhir benar, maka semua manusia masih memunyai sebagian dosa, jadi tidak ada yang dapat ditebus.

Jika pernyataan pertama benar, lalu mengapa tidak semua manusia dibebaskan dari dosa? Anda dapat berkata, karena ketidakpercayaan mereka. Tetapi saya bertanya, apakah ketidakpercayaan merupakan suatu dosa? Jika itu bukan dosa, mengapa manusia dihukum karenanya? Jika itu suatu dosa, maka pastilah itu merupakan salah satu dosa yang karenanya Kristus mati. Jadi pernyataan pertama tidak mungkin benar!

Jadi jelas bahwa satu-satunya kemungkinan yang ada ialah, Kristus telah memikul seluruh dosa dari sebagian manusia, yakni kaum pilihan-Nya. Inilah yang saya percayai sebagai pengajaran Alkitab.

Diambil dari:

Judul buku : Kematian yang Menghidupkan
Judul buku asli : Life by Death
Judul artikel : Tujuan Allah Mengirim Yesus Kristus Untuk Mati
Penulis : John Owen
Penerjemah : Yanti
Penerbit : Momentum, Surabaya 2001
Halaman : 25 -- 32

e-JEMMi 09/2011