Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereLoyalitas

Loyalitas


By novi - Posted on 11 April 2008

"Semua orang di wilayah kerajaanku harus sujud menyembah patungku", sebuah titah raja. Semua orangpun menyembah patung raja. Suatu hari orang-orang Kasdim menghadap raja, "Ada tiga pembesar keturunan Yahudi yang tidak memuja dewa tuanku dan menyembah patung tuanku." Geramlah raja! Dalam marahnya dia memerintahkan untuk menyeret tiga orang Yahudi tersebut dihadapannya. Raja bertanya, "Kenapa kamu tidak memuja dewaku dan sujud menyembah patungku? Kamu akan kucampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala." Tiga orang Yahudi tersebut menjawab, "Tidak ada gunanya menjawab tuanku! Jika Allah mau melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami. Seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, kami tetap tidak akan menyembah patung tuanku dan memuja dewa tuanku." Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap memegang loyalitasnya kepada Tuhan.

Sementara itu, di lain peristiwa. "Buatlah ketetapan, ya raja. Jika dalam tiga puluh hari ada seseorang yang menyampaikan permohonan kepada dewa atau manusia dan bukan kepada tuanku, dia harus dilempar ke gua singa." Rajapun memeteraikan peraturan itu. Saat mendengar itu seorang Yahudi yang saleh pergi ke rumahnya dan berdoa kepada Allahnya seperti biasa. Para petinggi media melihat perbuatannya dan melaporkannya kepada raja. Rajapun menjadi sangat sedih, karena ia sangat mengasihi orang Yahudi tersebut. Raja juga tahu kalau dirinya terjebak siasat para pejabatnya sendiri. Hukum yang sudah dikeluarkan tidak bisa ditarik. Lalu raja memerintahkan orang untuk melemparkan orang Yahudi tersebut ke gua singa. Daniel tetap memegang loyalitasnya kepada Tuhan.

Prinsip! Dasar Loyalitas

Etimologi latin dari loyalitas adalah hukum atau prinsip (loyal berasal dari kata latin: legalis yang berarti legal/hukum). Loyalitas berpijak di atas prinsip-prinsip yang kita miliki dan pegang. Kita tidak mungkin loyal kepada negara kita, jika dalam diri kita tidak tertanam prinsip patriotisme. Kita juga tidak mungkin loyal kepada Tuhan, jika dalam diri kita tidak tertanam prinsip-prinsip Firman Tuhan. Kenapa? Karena prinsip itu bagaikan sebuah buku pedoman yang membawa kita menuju ke suatu tujuan. Apakah kita bisa loyal, jika substansi yang kita bela tidak memiliki tujuan yang pasti? Bagaimana mungkin kita bisa loyal, kalau kita tidak mengenal jati diri substansi yang kita bela?

Cara kita memegang prinsip, juga menentukan jenis loyalitas yang kita miliki. Jika cara kita memegang prinsip itu salah, maka kita akan memiliki loyalitas yang buta. Sebaliknya jika kita memegang suatu prinsip dengan benar, maka kita akan memiliki loyalitas yang murni dan benar. Loyalitas yang buta terjadi saat kita loyal kepada prinsip itu sendiri dan bukannya kepada suatu substansi. Sementara loyalitas sejati adalah loyalitas yang menempatkan suatu substansi sebagai obyeknya, berdasarkan prinsip-prinsip sejati yang kita pegang. Sebagai contoh: Ayub memegang prinsip yang benar dengan cara yang salah. Pada awalnya dia tidak melakukan kesalahan (Ayub 1:22; Ayub 2:10). Tetapi pada waktu dia berdebat, kita bisa melihat kalau Ayub memegang prinsip dengan cara yang kurang benar. Ayub memiliki loyalitas yang buta dengan meletakkan pengertiannya sendiri di atas kebesaran Tuhan. Ayub loyal kepada prinsipnya sendiri dan bukannya kepada Tuhan. Saat Ayub bertobat dan mulai memegang prinsip yang benar dengan cara yang benar pula, Tuhan memberkatinya dua kali lipat. Hal yang harus kita ingat: Prinsip hanyalah pijakan dan bukan hal yang harus kita bela habis-habisan.

Enam Pendukung Loyalitas

Loyalitas tidak hanya sekedar kepatuhan/kesetiaan tampak luar. Lebih dari itu, loyalitas merupakan karakter yang tertanam dalam kehidupan kita. Mungkin seseorang bisa kelihatan loyal, sementara hatinya jauh dari itu. Contohnya: seseorang memiliki loyalitas semu, jika loyalitas yang dimiliki sebatas upah yang diberikan kepadanya.

Kamus Oxford Thesaurus mendaftar beberapa kata pendukung arti loyalitas yang terangkum dalam enam hal, yaitu:

  1. Percaya dan bisa dipercaya

Jika kita ingin memiliki loyalitas, kita harus bisa percaya sepenuhnya kepada substansi yang kita bela. Selain itu kita harus bisa dipercaya. Suatu ketidakmungkinan bila kita disebut memiliki loyalitas, sementara kita tidak bisa dipercaya.

  • Tidak pura-pura
  • Loyalitas adalah karakter yang mengandung ketulusan. Kepura-puraan tidak bisa mengiringi loyalitas. Kita tidak akan memiliki loyalitas kepada Tuhan, kalau kita memiliki hati yang pura-pura dalam pelayanan kepada Tuhan.

  • Konsisten dan stabil
  • Konsistensi dan stabilitas emosi adalah salah satu pendukung berat loyalitas. Bukanlah sebuah loyalitas kalau pada hari pembagian gaji kita sangat loyal, sementara kalau hari lain kita asal-asalan. Bukanlah sebuah loyalitas juga kalau kita tersenyum saat dipuji, sementara kita mengumpat saat ditegur atasan.

  • Mengasihi
  • Seseorang yang loyal tentunya mengasihi substansi tempat dia memberi loyalitasnya. Seseorang yang menyebut dirinya loyal kepada Tuhan, tentunya kita bisa melihat kasihnya kepada Tuhan.

  • Dedikasi
  • Loyalitas juga mengandung dedikasi. Kalau kita berani menyebut diri kita loyal kepada Tuhan, maka kita harus berani pula berdedikasi atas pelayanan kita kepada-Nya.

  • Patriotik
  • Salah satu hal yang menarik dari enam pendukung loyalitas adalah sikap patriotik. Kalau kita mengaku loyal kepada Kerajaan Allah, kita harus memiliki sifat patriotik kepada "Negara" Kerajaan Allah. Kamus Bahasa Indonesia mendefinisikan patriotik sebagai pembela tanah air. Kita harus membela habis-habisan Kerajaan Allah, "Tanah air" kita sebagai bukti loyalitas kita kepada Allah.

    Aplikasi Loyalitas

    Loyalitas berpijak dari prinsip-prinsip yang kita miliki. Aplikasi loyalitas yang bisa kita terapkan adalah:

    1. Memiliki prinsip yang benar dan berasal dari Firman Tuhan

    2. Mendengar dan melakukan Firman Tuhan melalui pembacaan Alkitab setiap hari.

    Apakah Aku Loyalis Sejati?

    1. Apakah aku telah memiliki prinsip yang sejati dan berasal dari Tuhan?

    2. Sudahkah aku mendengar Firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupanku?

    3. Apakah aku memegang prinsip yang kumiliki dengan kaku tanpa mau diubah walaupun oleh Firman Tuhan?

    4. Sebagai orang Kristen, apakah aku sudah membela Kerajaan Allah dengan segenap hidupku? Misalnya: dengan melayani tanpa motivasi yang salah.

    5. Apakah aku loyal kepada pasangan hidupku?

    6. Bagaimana dengan loyalitasku terhadap perusahaan dan supervisor tempat aku bekerja?

    Catatan:

    Thesaurus adalah kamus daftar kata-kata pendukung/pengganti/ sinonim dan keterangan untuk suatu kata tertentu.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Empowering, Mei-Juni 2001
    Judul Arikel : Loyalias
    Penulis : Tri Mardiono
    Halaman : 11 dan 16