Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Leadership

Loading

Siapa yang Terakhir Akan Menjadi yang Terdahulu

Jenis Bahan Indo Lead: Artikel

"Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." (Markus 9:33-35)

Yesus melakukan pendekatan yang mengejutkan dan mengagumkan berkaitan dengan tema mencapai kemahsyuran dan kemuliaan. Kenyataannya, Ia menganjurkan hanya satu jalan yang pasti untuk menjadi orang yang berhasil, yaitu dengan mencari yang sebaliknya. Ia mengajarkan bahwa jika Anda ingin menjadi yang terkemuka, maka tempatkanlah diri Anda di posisi yang terakhir. Ia menyampaikan bahwa kita sebaiknya menjadi yang paling terakhir dan menjadi pelayan dari semua orang. Hal ini sangat sulit kita laksanakan. Banyak hal telah kita pelajari tentang sifat manusia yang mengatakan bahwa membangun rasa kebanggaan dan nilai diri kita sendiri itu sangat penting. Semangat kebajikan dalam berprestasi di bidang olahraga, akademik, pekerjaan, dan lainnya merupakan bagian yang menyehatkan jiwa kita. Cara paling tepat untuk mengatakan "saya nomor satu!" telah menjadi impian jutaan orang di seluruh dunia.

Yesus mengatakan tidak perlu menjadi yang terdahulu, melainkan jadilah yang terakhir. Meskipun begitu, apa yang sebenarnya ingin disampaikan-Nya? Saya rasa, bukan maksud Yesus kita harus menderita untuk sekadar menjadi biasa-biasa saja, atau kita tidak perlu bekerja keras mengembangkan dan menerapkan semua bakat kita. Keberhasilan kita dalam menggunakan kemampuan -- dengan berbagai cara yang konstruktif -- merupakan suatu tema umum yang dapat ditemukan dalam semua bagian Injil. Namun, Yesus menyampaikan suatu pesan yang jelas, bahwa sebaiknya kita tidak mengumbar rasa superioritas kita, sampai kita terlalu mengutamakan kepentingan diri kita sendiri. Yesus tampaknya juga ingin mengatakan kepada semua orang yang memfokuskan tujuan akhirnya untuk menjadi yang terbesar, hal itu merupakan sebuah kesalahan. Bersikaplah rendah hati dan jangan congkak; jadilah pelayan dan berusahalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi yang utama. Inilah jalan men uju kebesaran seperti yang diajarkan oleh Yesus, walaupun sering kali tersamar dan sukar untuk dilihat. Pastilah Yesus sangat memerhatikan kebesaran dari sisi spiritualitas, dalam kaitannya dengan Kerajaan Allah, dan tidak sekadar kata-kata. Namun demikian, filosofi yang dianjurkan-Nya yaitu: kerendahan hati, melayani, dan pengampunan dapat membawa kita ke dalam bentuk penghormatan dan cinta pihak lain yang dianggap sebagai tanda nyata sebuah "kebesaran".

Lebih lanjut Yesus menyampaikan berbagai pesan-Nya kepada para pengikut-Nya:

"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:1-4)

Gagasan menjadi seperti seorang anak kecil tampaknya akan memengaruhi para pembaca melalui berbagai cara. Pelajaran penting dari kutipan yaitu adalah gagasan untuk menjadi "rendah hati seperti seorang anak kecil". Selanjutnya, hal ini berarti menolak godaan untuk menjadi seorang yang dipenuhi perasaan yang berlebihan tentang betapa pentingnya diri Anda. Tentunya, adanya manfaat positif lainnya dari kita untuk bersikap seperti seorang anak kecil yang ceria, tidak ada beban, dan selalu ingin tahu, yaitu meningkatkan kesehatan, kreativitas, kemampuan belajar, dan lainnya. Yesus bermaksud untuk menetralisasi kecenderungan sifat orang dewasa yang sudah mengeras, seperti suka mengejek, tertutup, dan egois dalam situasi dunia yang semakin rumit dan penuh tekanan ini.

Pada kesempatan lain, Yesus menyampaikan ajaran-Nya lebih lanjut manakala Ia menghadiri suatu perjamuan malam formal di rumah seseorang berstatus cukup penting. Tampaknya, kali ini Ia menegaskan bahwa menjadi terkenal merupakan suatu hal penting yang sama sekali tidak buruk, tetapi haruslah berlandaskan pada dasar yang kokoh dari kerendahan hati.

"Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Lukas 14:7- 11)

Pada umumnya, kita menghargai seseorang yang tidak terlalu menekankan prestasi dan status mereka. Hal ini menjadi lebih bermakna jika orang tersebut justru memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk dituruti oleh banyak orang. Kita semua menginginkan keberhasilan dan menjadi seseorang yang memiliki kemasyhuran dan kekuatan. Jika orang yang sukses tersebut memamerkan status mereka, kita mungkin saja merasa ada yang kurang pantas atau bahkan marah terhadap perilaku yang berlebihan itu. Sebaliknya, jika mereka menunjukkan sikap rendah hati dan menghargai orang lain, kita dapat mengakui harkat dan status mereka. Memang agak sulit untuk menjelaskan mengenai hal ini jika tidak pernah mengalaminya sendiri. Cerita Yesus mengenai perjamuan makan memberikan kepada kita suatu gambaran yang gamblang dan membuat kita mampu untuk membayangkan secara langsung hubungan yang kuat antara kerendahan hati dengan keagungan. Saya kurang memahami semua gagasan ini manakala saya menc ermatinya. Namun, kemudian saya teringat kepada Donald Petersen, CEO Perusahaan Mobil Ford. Ia menjadi seorang CEO yang jauh dari penampilan yang "wah" dibanding banyak pimpinan perusahaan lainnya, seperti Henry Ford II dan Lee Iacocca. Sangatlah sulit bagi banyak orang untuk mengingat namanya, dan sudah sering ada surat kabar yang salah mengeja namanya. Sebagai seorang pemimpin, ia menganjurkan pemberdayaan, kerja sama tim, kepercayaan, kerja sama operasional, dan pengakuan terhadap peran setiap karyawannya. Ia mengaku dengan terbuka bahwa ia menikmatinya karena tidak seterkenal pemimpin perusahaan lainnya. "Kami tidak memerlukan para bintang.... Menjadi bagian dari tim akan menciptakan kondisi yang lebih produktif. Saya merasa lebih nyaman ketika jauh dari pusat perhatian."

Berikut ini contoh dari sikap kepemimpinan yang dibawa Petersen ke dalam perusahaan Ford, seperti yang dikisahkan Jack Telnack, pimpinan bagian perancangan Ford ketika Petersen menjadi CEO.

Setelah mengamati sebuah rancangan, Petersen bertanya kepada Telnack apakah mobil yang digambarnya itu merupakan mobil yang akan dikemudikannya. Telnack mencoba mencerna pertanyaan itu dan kemudian menjawabnya dengan jujur: "Sudah tentu tidak. Saya tidak mau mobil itu diparkir di rumah saya." Kemudian Petersen meminta kepadanya untuk merancang sebuah mobil yang dapat dibanggakannya. Hasilnya sebuah mobil yang luar biasa hebatnya dengan menampilkan sudut yang lengkung (seperti halnya Taurus). Setelah bertahun-tahun mengalami kepemimpinan yang otokratik, peluang Telnack untuk menampilkan kreasinya akhirnya diperoleh di Ford, dan ia menanggapinya dengan membuat salah satu rancangan yang paling berhasil dalam sejarah otomotif.

Pemimpin yang rendah hati ini sudah tentu menjadi komponen utama dari peralihan Ford pada awal pertengahan tahun 1980-an. Ia selalu menghindar untuk menjadi pusat perhatian dan memilih untuk tidak menonjolkan diri, yaitu dengan memberikan kesempatan itu kepada orang lain ketimbang dirinya. Dengan sikap rendah hati itu, ia mendapatkan penghargaan sebagai pemimpin perusahaan terbaik dan pemimpin paling efektif di Amerika untuk tahun 1988 berdasarkan pilihan Fortune 500/CNN Moneyline yang diadakan di kalangan CEO, bahkan menyingkirkan peringkat kedua yang merupakan seorang profil terkenal dari Chrysler, Lee Iacocca.

Secara keseluruhan, Yesus menunjukkan hal yang menakjubkan dan bertolak belakang. Keagungan justru datang karena menghindarinya, bukan karena mencarinya. Atau lebih akuratnya, bibit keagungan berasal dari sikap rendah hati dan melayani. Tidak perlu mencari sanjungan. Lebih baik, sanjungan mencari Anda dengan caranya tersendiri dan waktu yang tepat. Tidak perlu terlalu memikirkannya. Laksanakanlah tugas Anda dengan mengutamakan hal yang konstruktif dan berfokus pada penghargaan dan pengakuan atas kontribusi pihak lain daripada diri Anda sendiri. Jika Anda melakukan hal ini secara tulus, maka usaha Anda sering kali akan mendapat pengakuan, selama Anda tidak mencari dan mengharapkannya.

Kebenaran akan hal ini saya temukan secara pribadi selama bekerja bertahun-tahun bersama para mahasiswa. Semakin tinggi saya menghargai dan mengutamakan para mahasiswa saya, semakin tinggi pula penghargaan yang saya terima dari motivasi dan antusiasme mereka. Ketika saya mendorong mereka untuk meraih dan menerapkan keinginan mereka serta menghargai bakat mereka yang unik, sering kali mereka meminta saya mengadakan berbagai proyek yang sangat produktif; mereka sering kali tampak bekerja terlalu keras dalam proyek-proyek tersebut. Sempat beberapa kali saya meminta para mahasiswa untuk sedikit mengurangi semangat kerja keras mereka pada proyek kami, dan akibatnya mereka kurang menghargai saya.

Ringkasnya, cobalah temukan kualitas yang mirip dengan seorang anak kecil seperti sikap keingintahuan dan selalu ingin bermain, serta mengombinasikan kerendahan hati dengan optimisme alamiah yang dapat Anda capai untuk segala hal yang Anda lakukan. Sementara itu, latihlah diri Anda untuk memerhatikan kontribusi yang unik dan menarik dari setiap tindakan yang dilakukan orang lain serta hargai dan dorong usaha mereka. Tampaknya hal ini menunjukkan bahwa Yesus menginginkan kita untuk belajar.

Salah satu kutipan favorit saya dari Nathaniel Hawthorne merupakan penutup yang terbaik. Kutipan ini berkaitan dengan kegembiraan, tetapi dapat juga dikatakan berfokus kepada keagungan.

"Kegembiraan sama halnya seperti seekor kupu-kupu; ketika dikejar, ia akan lepas dari genggaman kita, tetapi jika Anda duduk tenang, bisa saja ia menghampiri Anda."

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Kategori Bahan Indo Lead: Spiritual Leadership

Komentar