Menjadi Pemimpin yang Menginspirasi (I)

Para pemimpin perlu memastikan orang-orang yang berada di bawah mereka senantiasa bertumbuh. Orang Kristen yang baru bertobat membutuhkan susu murni berupa firman Allah, kasih yang melimpah, perlindungan, rasa memiliki dalam keluarga Kristus, pelatihan-pelatihan mengenai cara menjalani hidup, dan lain sebagainya. Murid yang sedang bertumbuh membutuhkan kedisiplinan untuk bersaat teduh setiap hari, mendalami Alkitab secara konsisten, menghafal ayat Alkitab, dan juga bimbingan untuk berani bersaksi. Petobat baru ini juga harus diperkenalkan kepada gaya hidup yang melayani sesama.

Pekerja yang bertunas harus memantapkan dasarnya dalam doktrin iman, memperdalam kehidupannya kepada kesucian dan kekudusan, dan menajamkan kecakapan pelayanannya; mereka juga harus memiliki komitmen yang kukuh kepada ketuhanan Kristus dan visi yang jelas mengenai citra diri dan potensi tiap-tiap individu. Akhirnya, setiap calon pemimpin membutuhkan pelatihan khusus untuk ketegasan dalam kepemimpinan yang mandiri. Jika kumpulan orang-orang ini -- orang-orang Kristen baru, murid-murid yang bertumbuh, pekerja-pekerja yang bertunas, dan calon-calon pemimpin -- merasakan bahwa mereka berada di dalam perhatian orang-orang yang berkomitmen untuk menolong mereka bertumbuh dan berkembang, maka moral dan motivasi mereka akan meningkat.

Dalam sebuah pertemuan 200 pemimpin muda, saya berkesempatan untuk mewawancarai sekitar setengah dari mereka. Satu pertanyaan yang saya tanyakan adalah, "Mengapa Anda mengikuti seseorang yang mengepalai pelayanan misi di daerah Anda?" Inilah tiga jawaban yang paling sering diberikan.

  1. Visi yang dimiliki pemimpin tersebut dapat sampai kepada mereka. Pemimpin itu mengomunikasikan sebuah rencana yang menarik, sehingga hidup mereka berarti.

  2. Kesediaan pemimpin meluangkan waktu bagi mereka. Ketika anak-anak muda itu membutuhkan bimbingan atau pertolongan, pemimpin itu selalu ada bagi mereka.

  3. Komitmen pemimpin tersebut. Sebagian besar anak-anak muda ini berkata bahwa alasan mereka mengikuti pemimpin di daerah mereka adalah karena mereka tahu bahwa ia berkomitmen untuk menolong mereka bertumbuh dan berkembang -- dalam kehidupan kerohanian mereka, dan itulah yang membuat mereka tetap bersukacita dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Motivasi mereka mengakar dari sebuah rasa aman bahwa mereka tidak diperalat, tetapi ditolong dan dipelihara, dan akan menjadi orang-orang yang lebih baik. Pemimpin mereka benar-benar berkomitmen.

Ia berkomitmen terhadap kesejahteraan mereka, bukan dirinya sendiri; terhadap pertumbuhan mereka, bukan ketamakan atau kehormatannya sendiri; terhadap mereka, bukan tugas yang mereka kerjakan. Karena mereka mengetahui hal-hal ini, anak-anak muda tersebut berbaris bersama dengan penuh semangat, dalam peperangan rohani untuk menggenapi Amanat Agung Yesus Kristus.

Kualitas Seorang Pemimpin

Untuk mempertahankan tingkat motivasi dan semangat yang tinggi, para pemimpin harus mengembangkan orang-orang yang terlibat dengan mereka, membantu orang-orang tersebut mencapai potensi tertinggi mereka. Ada beberapa hal praktis yang dapat dilakukan oleh para pemimpin untuk membantu pertumbuhan orang-orang yang mereka pimpin. Salomo menulis empat kualitas yang sangat penting bagi seorang pemimpin.

1. Kejujuran

Para pemimpin harus benar-benar jujur terhadap orang-orang yang dipimpinnya. "Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah." (Amsal 27:5-6)

Bagaikan sekumpulan domba tanpa gembalanya, manusia juga memiliki kecenderungan untuk tersesat. Mereka membutuhkan segala pertolongan yang dapat diberikan untuk tetap berada dalam jalan yang benar. Salah satu tanda seorang gembala yang baik adalah ia memerhatikan domba-domba dalam kawanannya, dan melakukan apa pun untuk menjauhkan mereka dari tanaman beracun, singa yang mengaum, dan tebing yang curam.

Teguran harus dimulai dengan semangat kasih dan kepedulian yang sama. Teguran terbuka berarti "mengatakan sesuatu dengan jujur, bebas, dan tanpa basa-basi." Kejujuran yang semacam itu mungkin menyakitkan. Akan tetapi, saya yakin setiap kita akan lebih memilih sebuah perawatan yang kasar dari seorang dokter yang pasti akan menyembuhkan kita, daripada sebuah perawatan yang lembut tetapi tidak memberi kita faedah apa pun. Kasih yang malu-malu untuk menolong seseorang memperbaiki kesalahannya sama sekali bukanlah kasih. Sebuah kasih yang melukai kita akan lebih baik daripada kasih yang gagal membawa kita kepada Tuhan. Kasih tidak bisa tinggal diam ketika nyawa seseorang dipertaruhkan. Tentu saja hal ini merupakan beban dalam sebuah kepemimpinan, tetapi ketika orang-orang yang dipimpin tahu bahwa pemimpin mereka akan terbuka terhadap mereka dan menolong mereka ketika mereka membutuhkannya, semangat dan motivasi mereka akan tetap tinggi dan kehidupan mereka dapat lebih berkembang.

Pada sebuah musim panas, saya mengunjungi satu dari empat program pelatihan musim panas di Maranatha Bible Camp di dekat North Platte, Nebraska. Setelah saya meneliti program tersebut dan mengenal tiap-tiap kelompok, saya merasa bahwa direktur program ini melakukan sebuah kesalahan. Salah satu pemimpin regu dari kelompok itu adalah seseorang yang keras dan cenderung berkata apa adanya, sementara anggotanya terdiri atas enam orang yang introver. Yang membuat saya khawatir adalah pemimpin ini akan semakin membuat mereka tenggelam dalam diri mereka masing-masing. Karena itulah saya berencana untuk berbicara dengan pemimpin program ini untuk membuat suatu perubahan, namun saya tidak memiliki kebebasan dari Tuhan untuk melakukan hal tersebut. Saya meninggalkan program tersebut dengan sedikit rasa khawatir dan membawa regu ini di dalam doa.

Setelah beberapa minggu, saya kembali ke perkemahan tersebut untuk melihat perkembangannya. Yang membuat saya terkejut, regu yang membuat saya khawatir itu ternyata menjadi regu yang dianggap direktur program paling memiliki semangat dan kesatuan. Selama kunjungan saya, saya berbicara dengan keenam anggota regu tersebut dan bertanya kepada mereka, apakah mereka menyukai program ini dan bagaimana hubungan mereka dengan pemimpin mereka. Keenam orang itu menyukai program tersebut dan benar-benar memiliki hubungan yang baik dengan pemimpin mereka. Saya menanyakan alasan mereka begitu menghormatinya. Apa yang telah dilakukannya sehingga memenangkan kepercayaan dan rasa hormat mereka? Yang membuat mereka menghargainya adalah karena pemimpin mereka itu tidak berusaha menutup-nutupi sesuatu dari mereka, ia selalu berterus terang dan adil terhadap mereka. Pemimpin regu itu memuji anggotanya dengan antusias, tetapi ia tidak pernah takut memberi teguran ketika anggotanya membutuhkan koreksi. Singkatnya, ia jujur kepada anggota regunya. Regu ini adalah regu yang bersemangat, termotivasi, dan sangat bersyukur kepada Tuhan atas sebuah kehormatan untuk dilatih oleh seorang pemimpin yang jujur dan terbuka. "Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat." (Amsal 28:23)

2. Kesetiaan

Para pemimpin harus tetap bersama-sama dengan anggotanya melalui suka dan duka. Mereka tidak boleh meninggalkan anggotanya ketika ia gagal menjalankan tanggung jawabnya atau mengalami kemunduran rohani. "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." (Amsal 17:17) Para pemimpin harus memerhatikan dan berdiri di sisi para anggota mereka.

Saya menghabiskan musim panas tahun 1976 di Washington D.C., dan salah satu tanggung jawab saya di sana adalah untuk mengadakan lokakarya mengenai bagaimana cara bersaksi di berbagai gereja di wilayah Washington/Baltimore. Salah satu dari gereja-gereja tersebut adalah Evergreen Baptist Church, sebuah jemaat yang terdiri atas orang-orang Afrika-Amerika dan terletak di jantung kota Washington. Ketika saya tiba di gereja itu pada Senin malam, saya bertemu dengan seorang diaken yang berdiri di luar gereja itu, di trotoar. Ketika kami sedang berbincang-bincang, lewatlah seorang gadis di dekat kami yang kemudian dipanggil oleh diaken itu. Ia mengingatkan gadis itu bahwa akan ada sebuah persekutuan di gereja pada malam itu. Gadis itu memberi tahu bahwa ibunya sedang sakit dan dia harus merawatnya. Setelah sebuah percakapan yang cukup panjang dengan gadis itu, diaken itu merasa lega karena gadis itu memang akan merawat ibunya dan tidak sedang beralasan untuk tidak datang ke gereja. Setelah gadis itu pergi, diaken itu berpaling kepada saya dan berkata, "Mereka tahu jika mereka tidak datang ke gereja, saya yang akan datang kepada mereka."

Benar-benar sikap yang peduli. Itulah hati seorang pemimpin yang penuh perhatian dalam melakukan tanggung jawabnya. Ia menunjukkan kepedulian terhadap jemaat gerejanya, sekalipun mereka tidak peduli terhadap gereja. Ia tetap mengasihi mereka, baik ketika mereka melakukan sesuatu yang benar ataupun yang salah, baik ketika mereka hidup dalam kemenangan ataupun di dalam dosa. Kesulitan akan mengokohkan kasih para pemimpin terhadap anggota mereka daripada meruntuhkannya. Ketika para murid meninggalkan Yesus dan melarikan diri, apakah Ia meninggalkan mereka? Tentu tidak. "Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya." (Yohanes 13:1)

Kasih Yesus kepada kita hari ini tetaplah sama, sebab Ia tersentuh oleh perasaan kelemahan kita. Yesus tetap bersama-sama dengan kita dalam cuaca cerah maupun buruk. Ketika orang-orang melihat seorang pemimpin memiliki sifat-sifat seperti Kristus, kesetiaan mereka akan diteguhkan, komitmen mereka akan tetap kuat, dan semangat mereka akan tetap tinggi.

Hal tersebut tidak berarti bahwa komitmen dan keikutsertaan mereka tidak akan pudar. Bahkan rasul Petrus sekalipun dalam suatu waktu pernah gagal dalam komitmennya untuk mengikut Kristus. Namun melalui kasih Kristus yang teguh, Petrus memiliki kembali kesetiaan dan ketaatan yang tak tergoyahkan, dan Allah dapat memakainya untuk menguatkan yang lainnya dalam masa pencobaan mereka. Bagi orang-orang yang difitnah sebagai pelaku kejahatan, ia menulis, "Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu." (1 Petrus 4:12) Petrus sampai kepada suatu keadaan ketika ia dapat mengikut Yesus melalui suka dan duka sambil memelihara semangat yang tinggi dalamnya. Bahkan setelah ia dipukuli habis-habisan, Petrus dan para rasul yang lain "...meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus" (Kisah Para Rasul 5:41). Mereka memiliki keteguhan di dalam ketaatan terhadap Dia yang mengasihi mereka dan yang telah memberikan hidup-Nya bagi mereka. Teladan Yesus membuat para rasul memberi tanggapan serupa. Mereka memiliki kesetiaan yang teguh, komitmen yang kuat, dan semangat yang tetap tinggi. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Judul asli buku: Be a Motivational Leader
Judul asli bab : Be an Inspiring Leader
Penulis : LeRoy Eims
Penerbit: Chariot Victor Publishing, Colorado, 1996
Halaman : 40 -- 44
Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 

Komentar