Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Leadership

Loading

Krisis Kepemimpinan Global

Jenis Bahan Indo Lead: Artikel

Pakar kepemimpinan John Gardner mengungkapkan bahwa ketika Amerika didirikan pada tahun 1776 dengan sekitar tiga juta penduduk, negara tersebut memiliki enam pemimpin kelas dunia: George Washington, John Adams, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, James Madison, dan Alexander Hamilton. Pada tahun 1987, dengan populasi lebih dari 240 juta penduduk, Amerika seharusnya memiliki 480 pemimpin kelas dunia. Namun, di manakah mereka?

Pertanyaan yang sama harus diajukan bukan saja di Amerika, tetapi juga di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pertanyaan yang sama juga berlaku bukan saja dalam bidang politik dan pemerintahan, tetapi juga di bidang bisnis, pendidikan, sosial, religius, dan berbagai bidang kehidupan lainnya.

Tentu kita memiliki pemimpin formal, yaitu mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam pemerintahan, bisnis, universitas, gereja, dan sebagainya. Para pemimpin ini mengepalai institusi-institusi raksasa tersebut. Celakanya, banyak institusi yang mendominasi bangunan desa global abad ke-21 tersebut terus-menerus mengecewakan kita karena ulah pemimpinnya. Dan ini terjadi pada level yang tertinggi sampai yang terendah.

Sebenarnya istilah "pemimpin" tidak tepat dipakai dalam konteks di atas. Para kepala institusi tersebut tidak tepat disebut "pemimpin" karena sebagian besar dari mereka tidak melakukan fungsi kepemimpinan sebagaimana mestinya. Hanya karena seseorang berada dalam sebuah posisi formal dalam sebuah institusi tidak lalu membuat orang itu menjadi pemimpin. Kepemimpinan tidak identik dengan posisi. Kepemimpinan adalah sebuah fungsi. Jadi mungkin lebih tepat kalau mereka disebut kepala dan pejabat teras pemerintahan, direktur dan manajer perusahaan, rektor universitas, penatua gereja, namun belum tentu mereka adalah pemimpin.

Beberapa contoh berikut menggarisbawahi realita ini. Sekretaris Jendral PBB, Kofi Annan, dalam Human Development Report (2002:14) yang dirilis United Nations Development Programme (UNDP) mencantumkan sebuah kalimat penting yang menggarisbawahi realita kebangkrutan pemimpin formal di level internasional: "Obstacles to democracy have little to do with culture or religion, and much more to do with the desire of those in power to maintain their position at any cost." (Segala yang menjadi penghalang bagi demokrasi tidak terlalu berkaitan dengan kebudayaan atau agama; hal ini berkaitan erat dengan keinginan para penguasa untuk mengamankan posisi mereka bagaimana pun caranya.)

Observasi di atas terbukti kebenarannya dalam konteks Indonesia. Perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa menuju negara yang demokratis terus tertatih-tatih karena kelangkaan elite politik yang mampu memimpin dengan integritas moral dan kemampuan kepemimpinan yang memadai. Ketika pejabat pemerintah di berbagai tingkat haus kuasa dan terus ingin berkuasa, maka orientasi melayani rakyat semakin sirna sementara ambisi untuk berkuasa semakin mengental.

Robert Greenleaf menulis bahwa kualitas kepemimpinan sebuah bangsa dapat diukur dari kondisi masyarakat yang berada di lapisan paling bawah, yang marjinal dan minoritas. Apakah mereka semakin diberdayakan sehingga lebih sejahtera dan mandiri? Jika pertanyaan ini sulit dijawab dengan konkret, salah satu sebabnya adalah karena bangsa tersebut tidak memiliki kepemimpinan yang memiliki kemampuan secara moral dan teknis.

Dalam konteks dunia bisnis, kita melihat skandal korporat terjadi berulang kali. World.Com, Enron, dan HIH Insurance adalah sebagian kecil dari rentetan kasus terakhir yang menodai integritas perusahaan multinasional. Dan setiap kali terjadi, hampir dipastikan itu terkait dengan aksi para pemimpinnya. Riset menunjukkan bahwa etika bisnis sering kali hanya menjadi retorika manis di bibir karena para pemimpin perusahaan bertindak tidak etis dalam relasinya dengan para pegawai, pelanggan, pemegang saham, dan publik secara luas.

Gereja pun tidak imun dari krisis kepemimpinan. Gereja yang seharusnya menghasilkan pemimpin yang tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian malah terkontaminasi dengan berbagai masalah kepemimpinan. Peneliti Kristen, George Barna menyimpulkan hasil studinya selama 15 tahun tentang kehidupan gereja secara global dengan konklusi sebagai berikut: Gereja telah kehilangan pengaruhnya karena absennya kepemimpinan yang efektif.

Pendeta Bill Hybels, setelah 30 tahun menggembalakan gereja Willow Creek yang sangat dihormati di Amerika, dalam bukunya "Courageous Leadership", menulis konfiksi hidupnya bahwa gereja lokal adalah harapan dunia namun masa depannya terletak pada para pemimpinnya. Celakanya, hari ini gereja semakin kehilangan pengaruhnya dalam kehidupan keseharian manusia, baik di dalam maupun di luar gereja.

Jadi kesimpulannya: Banyak masalah akut dan kronis yang melumpuhkan berbagai jenis organisasi di atas disebabkan atau terkait dengan krisis kepemimpinan. Terlalu banyak organisasi yang dipimpin oleh orang-orang yang kurang diperlengkapi dengan kompetensi kepemimpinan yang mapan. Beberapa dari mereka bahkan memiliki cacat karakter. Integritas sering kali dikorbankan demi kelanggengan ambisi pribadi. Pada saat yang bersamaan, dampak dari aksi kepemimpinan mereka menjalar seperti kanker dari dalam organisasi, dan melumpuhkannya secara perlahan.

Pemerhati kepemimpinan, Profesor Warren Bennis, mengatakan bahwa organisasi gagal karena over-managed dan under-led. Meskipun kepemimpinan bukan solusi satu-satunya dari berbagai jenis masalah organisasi, ia adalah sebuah "critical success factor" yang membedakan organisasi yang sehat dengan organisasi yang sakit.

Mengapa kita berada dalam krisis kepemimpinan? Menurut hemat saya, karena kita telah kehilangan kapasitas institusi dan interpersonal yang mampu mentransformasi individu secara utuh untuk mencapai efektivitas hidup sebagaimana yang Allah inginkan. Terlalu banyak kendala struktural, intelektual, emosional, dan kultural yang memperlambat proses transformasi hingga ke titik berhenti.

Kapasitas institusional dan interpersonal di sini adalah kemampuan sebuah insitusi dan para individu yang ada di dalamnya untuk berupaya masuk ke dalam proses mencetak pemimpin. Realitanya hari ini dalam organisasi justru kultur dan struktur yang ada sering kali mematikan potensi kepemimpinan seseorang. Proses saling mempertajam dan memperlengkapi tidak lagi muncul dalam relasi antarindividu. Pendek kata, seakan ada vaksin antikepemimpinan yang telah disuntikkan ke dalam sistem urat syaraf organisasi dan individu.

Kita harus berani mengakui bahwa kita berada dalam krisis kepemimpinan.

Krisis kepemimpinan adalah sebuah masalah yang krusial. Namun ada masalah yang lebih krusial, dan sekaligus urgen, yaitu masalah kepedulian (ignorance). Banyak orang yang tidak peduli terhadap fakta bahwa kita tidak memiliki figur dan sistem kepemimpinan yang baik. Apalagi kepemimpinan yang biblikal!

Tantangan yang terbesar di depan adalah menciptakan kesadaran publik sehingga kebutuhan kepemimpinan dirasakan dan dipahami signifikansinya. Kita harus bangun dari tidur panjang ini. Kesadaran ini adalah sebuah langkah pertama yang harus dicapai untuk membentuk "critical mass". Tanpa kesadaran ini, sulit mengharapkan adanya generasi pemimpin baru yang mau dan mampu mentransformasi pola pikir dan pola kerja dunia yang berdosa ini.

Kita perlu berdoa agar Allah berbelas kasih dan terus bekerja dalam hidup setiap anak-anak-Nya yang kerap kali mengecewakan dan melawan Dia. Kita perlu memohon agar Ia terus menggerakkan hati mereka dan memanggil mereka untuk tampil menjawab kebutuhan zaman sebagai pemimpin pelayan di rumah, gereja, universitas, perusahaan, masyarakat, dan di arena publik.

Diambil dan disesuaikan dari:

Kategori Bahan Indo Lead: Self Leadership

Komentar