Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Leadership

Loading

Kapabilitas Kepemimpinan Kristen (I)

Jenis Bahan Indo Lead: Artikel

Seorang pemimpin perlu memahami konsep kepemimpinan Kristen secara definitif, agar kepemimpinan menjadi lebih profesional dan spiritual. James MacGregor Burns mengatakan, "Kepemimpinan adalah salah satu fenomena yang paling banyak diamati orang dan paling sedikit dipahami di dunia ini" [1]. Vance Packed mengatakan, "Kepemimpinan adalah [cara untuk] membuat orang lain untuk melakukan sesuatu yang menurut Anda perlu dilakukan" [2].

Sementara itu Oswald Sanders mengatakan, "Kepemimpinan adalah pengaruh, kemampuan seseorang untuk memengaruhi" [3], dan Kenneth O. Gangel mengatakan, "Kepemimpinan adalah tindakan seseorang anggota kelompok yang memunyai kualitas, karakter, dan kemampuan tertentu yang pada suatu waktu tertentu, akan berhasil mengubah tingkah laku kelompoknya menuju sasaran-sasaran yang dapat diterima bersama" [4].

Walaupun definisi-definisi tersebut menjelaskan dasar-dasar pengertian tentang kepemimpinan secara umum, namun belum menyentuh pengertian mengenai kepemimpinan Kristen. Ada beberapa definisi yang lebih spesifik yang menekankan pengertian kepemimpinan Kristen, misalnya George Barna mengatakan, "Pemimpin Kristen -- sebagai seseorang yang dipanggil Tuhan untuk memimpin dengan karakter seperti Kristus dan memotivasi secara efektif -- mengerahkan sumber daya dan mengarahkan orang-orang ke penggenapan visi bersama dari Allah" [5]. Robert Clinton mengatakan, "Tugas utama pemimpin adalah memengaruhi umat Allah untuk melaksanakan rencana Allah" [6]. Sementara itu, Henry dan Richard Blackaby mengatakan, "Kepemimpinan rohani adalah menggerakkan orang-orang berdasarkan agenda Allah" [7].

Beberapa definisi di atas memberikan paradigma yang benar antara prinsip kepemimpinan umum dan prinsip kepemimpinan spiritual. Kepemimpinan Kristen tidak identik dengan seseorang, yang secara langsung dapat mengerjakan rencana Allah. Ia bisa ditunggangi motivasi dan ambisi pribadi, kecuali jika ia memahami dan menerapkan definisi-definisi ini secara komprehensif dan konsisten [8].

Perbedaan antara rumusan kepemimpinan umum dan kepemimpinan Kristen, bukan terletak pada metode, jabatan, atau kedudukan, melainkan pada panggilan, nilai, dan filosofinya yaitu kepemimpinan Kristen mencapai tingkat kepemimpinan yang lebih tinggi demi melaksanakan rencana Allah berdasarkan agenda Allah [9].

Pertama, kapabilitas kepemimpinan. Kepemimpinan berkaitan dengan pengetahuan, kompetensi, kapabilitas, dan pengelolaan sebuah pelayanan. T. Engstrom dan E. Dayton menjelaskan bahwa pemimpin harus memunyai kapabilitas yang memadai di bidang mereka, dan cakap secara teknis untuk membuktikan tingkat kemampuannya [10]. Kemampuan atau keterampilan kepemimpinan (leadership skill) merupakan kekuatan untuk memengaruhi orang-orang yang dipimpinnya [11]. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang sukses, berani membayar dan memakai orang-orang yang terampil atau orang yang memiliki kapabilitas tinggi. Andrew Carnegie, pemilik perusahaan pabrik baja yang terbesar di Amerika, mengakui bahwa pekerjaannya pada mulanya serabutan, namun setelah ia berani membayar 1 juta dolar setahun kepada Charles Schwab yang memiliki kapabilitas tinggi, akhirnya pabriknya mengalami sukses besar [12].

Dari penelitian Charles Garfield secara intensif kepada orang-orang yang berprestasi puncak, baik dalam bidang olahraga, ilmiah, maupun bisnis, kebanyakan mereka memunyai kemampuan visualisasi, memiliki fokus pada sasaran, dan proaktif dalam bidangnya [13]. Pimpinan merupakan tumpuan dari sebuah organisasi dan pengikutnya, dan berhasil atau tidaknya kepemimpinan seseorang, sangat bergantung pada kelebihan kemampuan/kapabilitas yang ia miliki. Kelebihan dalam menggunakan segala ilmu organisasi, mendayagunakan sumber daya dengan maksimal, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat [14].

Kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpinan yang mengoptimalkan seluruh kemampuan atau kapabilitasnya, untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain dalam melakukan satu usaha mencapai sasaran yang sudah direncanakan [15]. Karena itu, korelasi antara kepemimpinan dan kapabilitas tidak boleh dianggap remeh. Tanpa kedua unsur tersebut, maka organisasi tidak akan menjadi efektif. Pemimpin harus meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa ia memiliki kapabilitas memimpin, memengaruhi, mengendalikan, dan mengarahkan orang yang dipimpinnya [16].

Kedua, kemampuan berorganisasi. Kemampuan memimpin harus disertai dengan pemahaman dan penguasaan organisasi yang memadai [17]. Peter M. Sange dan Art Klener mengatakan, "Seorang pemimpin harus terus-menerus berusaha mengembangkan kemampuan melalui peningkatan pemahaman dan pengetahuan organisasinya untuk memperbaiki cara kerja, agar mampu mencapai organisasi secara maksimal" [18]. Esensinya adalah agar pemimpin dapat menciptakan kinerja yang efektif sesuai tugas, wewenang, dan tanggung jawab setiap individu untuk mencapai maksud bersama. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi tumpang tindih, vakum, kacau, atau tidak terarah, sebaliknya dapat mengoordinasi setiap potensi secara efisien ke arah satu titik [19], sehingga pekerjaan tidak tertumpuk di satu tangan, melainkan melalui pengorganisasian tercipta spesifikasi dan profesionalisme yang menguntungkan organisasinya.

Pada dasarnya pengertian organisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu organisasi dalam arti statis dan organisasi dinamis [20]. Organisasi statis (tidak bergerak/diam) adalah organisasi yang dipandang sebagai jaringan dari hubungan kerja yang bersifat formal, seperti yang tergambar dalam suatu bagan dengan mempergunakan kotak-kotak yang beraneka ragam [21]. Bagan struktur organisasi ada banyak macam dan jenjang. Bentuk dan jenjang apa pun, posisi pimpinan selalu berada paling atas, sedangkan kotak semakin kecil, jenjang posisinya semakin rendah.

Kotak-kotak tersebut memberikan gambaran-gambaran tentang kedudukan atau jabatan yang harus di isi oleh orang-orang yang memenuhi persyaratan sesuai dengan fungsi masing-masing. Melalui bentuk organisasi ini dapat diketahui hierarki kedudukan atau jabatan, garis komando, wewenang, dan tanggung jawab [22]. Sedangkan organisasi dinamis adalah sebuah organisasi yang hidup dan organisme yang dinamis. Tidak hanya di lihat dari segi bentuk dan wujudnya, tetapi juga dari segi isinya, yaitu menyangkut sekelompok orang melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, organisasi dinamis menyoroti unsur manusia yang ada di dalamnya karena manusia merupakan unsur terpenting dari seluruh unsur organisasi, dan hanya manusia yang memiliki sifat kedinamisan.

Catatan Kaki:

  • [1] Leadership (New York: Harper Torch, 1978) 2.
  • [2] Dikutip oleh Goerge Barna dalam Leaders on Leadership (Ventura: Regal, 1997) 21.
  • [3] Kepemimpinan Rohani (Bandung: Kalam Hidup, 2006) 20.
  • [4] Membina Pemimpin Pendidikan Kristen (Malang: Gandum Mas, 2001) 14.
  • [5] Barna, Leaders on Leadership 25.
  • [6] Robert Clinton, The Making of a Leader (Colorado Springs: Navigator, 1988) 25.
  • [7] Kepemimpinan Rohani 38.
  • [8] "Kedudukan sebagai pemimpin di sebuah organisasi Kristen tidak membuat seseorang menjadi pemimpin spiritual. Kepemimpinan spiritual bukanlah sebuah pekerjaan; kepemimpinan rohani adalah panggilan. Orang-orang yang berbisnis, dokter, pendidik, politikus dan orang tua Kristen -- semua harus "menjadi pemimpin spiritual" (Henry dan Richard Blackaby, Kepemimpinan Rohani 38).
  • [9] Ibid. 44.
  • [10] Seni Manajemen bagi Pemimpin Kristen (Bandung: Kalam Hidup, 1993) 19-20.
  • [11] Aro Retno Habsari, Terobosan Kepemimpinan (Yogyakarta: Media Pressindo, 2008) 5-7.
  • [12] John Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di dalam Diri Anda (Jakarta: Binarupa Aksara, 1995) 136-137.
  • [13] Stephen Covey, 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif (Jakarta: Binarupa Aksara, 2010) 151-155.
  • [14] Ig. Wursanto, Dasar-Dasar Ilmu Organisasi (Yogyakarta: Andi, 2005) 198.
  • [15] Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: RajaGranfindo Persada, 2008) 153.
  • [16] Hadari dan Martini, Kepemimpinan yang Efektif (Yogyakarta: Gajah Mada Jniversity Press, 2004) 57.
  • [17] Menurut Sondang Siagian, organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, dan terikat secara formal dalam satu ikatan hierarki. Dalam persekutuan tersebut selalu terdapat hubungan antara seorang atau sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan. Lih. Kartono dalam Pemimpin dan Kepemimpinan 7,8.
  • [18] Seperti yang dikutip oleh Nawawi et al. dalam Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2003) 170.
  • [19] Suhendra, Manajemen dan Organisasi (Bandung: Mandar Maju, 2008) 31,49.
  • [20] Istilah lain untuk organisasi adalah institusi atau lembaga. Institusi atau lembaga ini bergerak dalam berbagai bidang, misalnya bidang sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, keagamaan, dan lain sebagainya. Lih. penjelasan Wursanto dalam Dasar-dasar llmu Organisasi 11,12,41.
  • [21] Kotak bagan organisasi yang dipergunakan dapat bervariasi. Bentuk kotak yang lazim dipakai adalah: kotak segi empat panjang, kotak bujur sangkar, kotak lingkaran, dan segitiga. Besar kecil kotak yang dipergunakan dalam sebuah bagan menunjukkan kedudukan yang tidak sama. Semakin rendah kedudukan satuan organisasi maka semakin kecil ukuran kotaknya. (ibid. 129-141)
  • [22] Ibid. 42.

Diambil dari:

Judul jurnal : VERITAS, Volume 11, Nomor 2 (Oktober 2010)
Judul asli artikel : Integrasi Spiritualitas dan Kapabilitas Kepemimpinan Gereja Tionghoa
Penulis : Alex Lim
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 2010
Halaman : 215 -- 218

Kategori Bahan Indo Lead: Basic Life Skill

Komentar