Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Leadership

Loading

Indra Keenam Seorang Pemimpin

Jenis Bahan Indo Lead: Artikel

Diringkas oleh: Dian Pradana

Saya mengenal para pemimpin yang tampaknya mampu melihat masa depan. Sepertinya mereka memiliki kemampuan khusus untuk merasakan implikasi dari keputusan-keputusan pada masa sekarang terhadap kenyataan di masa depan; melihat kesempatan emas yang terkubur di tengah-tengah masalah dan melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain; serta melihat potensi kepemimpinan di dalam diri orang-orang di mana kebanyakan dari kita akan mengabaikannya, seolah-olah bertaruh pada seorang pecundang, namun pada akhirnya mereka terbukti benar.

Bagaimana kita dapat menjelaskan kemampuan gaib itu? Apakah kemampuan itu datang dengan sendirinya bersama karunia spiritual kepemimpinan atau muncul begitu saja entah dari mana? Apakah sebagian atau semua pemimpin sungguh-sungguh memiliki intuisi yang lebih dari orang lain? Dapatkah kemampuan itu dikembangkan?

Mempelajari Proses Pengambilan Keputusan Saya Sendiri

Pemimpin yang nampaknya memiliki indera keenam sebenarnya memiliki sumber-sumber data yang membantunya mengambil keputusan sehingga segala keputusannya tepat.

Sumber Data Pertama: Keyakinan

Saya memiliki tiga keyakinan yang mendasari setiap keputusan yang saya ambil.

  1. Jika Saya Menghormati Allah dalam Segala Hal, Ia Akan Menghormati Saya

    Saya percaya bahwa jika saya melakukan yang terbaik untuk menghormati Allah dalam segala hal, Ia akan menghormati kepemimpinan dan pelayanan yang telah Ia percayakan kepada saya. Saya percaya bahwa Allah akan mencurahkan berkat ilahi-Nya dan membebaskan setiap pemimpin yang dengan konsisten berusaha menghormati Tuhan dalam segala hal.

    Selama bertahun-tahun, saya belajar bahwa saya sungguh-sungguh memerlukan pertolongan dari surga untuk mengerjakan apa yang saya lakukan. Tanpa campur tangan ilahi, saya bukan pemimpin yang cukup baik untuk memimpin apa yang telah dipercayakan kepada saya. Saya sangat membutuhkan berkat Allah. Jadi, setiap kali harus membuat keputusan, saya akan memilih bahwa saya sangat menghormati Allah.

  2. Umat Manusia Itu Berharga

    Kitab Suci mengajarkan bahwa jika kita menunjukkan kepekaan dan rasa hormat terhadap apa yang paling Allah hargai di dunia ini -- umat manusia -- maka pada gilirannya Ia akan menunjukkan belas kasihan dan rasa hormat kepada kita (1 Samuel 2:30b; Matius 22:37-39). Saya sungguh-sungguh percaya bahwa jika saya menghormati orang-orang dan memperlakukan mereka dengan penuh hormat, Allah akan menunjukkan kebaikan kepada saya dan mereka yang saya pimpin.

    Jadi, di mana ada komponen manusia di dalam keputusan yang harus saya ambil, antena saya mulai bekerja. Saat saya tahu bahwa kesejahteraan seseorang sedang berada dalam bahaya, saya bekerja keras untuk membuat keputusan yang benar.

  3. Gereja Adalah Harapan Dunia

    Landasan keyakinan ketiga adalah landasan favorit saya. Saya sungguh-sungguh percaya bahwa gereja setempat adalah harapan dunia.

    Saya sangat menganggap serius setiap keputusan yang menimbulkan dampak besar bagi kesehatan, kesatuan, atau keefektifan gereja yang saya pimpin di masa depan. Seperti ekspresi favorit seorang anggota kru di kapal saya, "Saya seperti tikus di atas keju!" Saya akan melakukan apapun untuk memastikan bahwa gereja dipimpin dengan baik dan bahwa keputusan-keputusan yang dibuat baginya dibuat dengan hati-hati dan bijaksana.

Apa Keyakinan Mendasar Anda?

Tahukah Anda keyakinan mendasar yang memengaruhi pengambilan keputusan Anda?

Saat Anda berusaha menemukannya, seperti saya merenungkan keyakinan saya tersebut, berhati-hatilah dengan sistem kepercayaan yang rancu. Pastikan bahwa keyakinan Anda itu alkitabiah. Jika tidak, keyakinan-keyakinan itu mungkin membahayakan proses pengambilan keputusan yang sehat.

Jika selama ini Anda selalu membuat keputusan yang salah, menimbulkan kekacauan di dalam gereja, tempat kerja, dan keluarga, luangkanlah waktu dan evaluasilah keyakinan yang memengaruhi keputusan-keputusan tersebut? Mungkin sudah saatnya bagi Anda membangun kembali keyakinan mendasar dalam kehidupan Anda.

Sumber Data Kedua: Yang Setahu Saya Akan Dilakukan Pemimpin-Pemimpin Lain

Saya melihat bahwa sering kali keputusan saya dipengaruhi oleh apa yang setahu saya akan dilakukan oleh pemimpin-pemimpin lain yang saya hormati (orang-orang yang saya anggap lebih bijaksana, lebih berbakat, atau lebih berpengalaman) seandainya mereka menghadapi keputusan semacam itu.

  1. Berkonsultasi dengan Mentor Penilai Risiko

    Ada dua tipe ekstrim pengambil risiko -- orang yang mengambil risiko gila-gilaan dan orang yang menghindari risiko.

    Ayah saya, yang saya anggap sebagai mentor penilai risiko paling hebat, bukan seperti kedua tipe ekstrim itu. Ia memberikan pandangan yang mantap, konsisten mengenai bisnis-bisnis intinya, tetapi ia tidak menolak untuk mengambil risiko sesekali. Ia biasa mengatakan kepada saya, "Billy, jika engkau tidak mengambil risiko sesekali, engkau tidak akan pernah belajar apapun yang baru, dan hidup akan menjadi sangat membosankan."

    Inilah intinya. Sebagian pemimpin adalah pengambil keputusan yang gila-gilaan dan menghancurkan gereja mereka. Mereka terlalu banyak mengambil risiko. Masalahnya mungkin ada pengambil keputusan gila lain yang memengaruhi pengambilan keputusan mereka, meyakinkan mereka bahwa semakin tinggi risiko akan semakin bagus jadinya. Sebaliknya, para pemimpin lain hampir selalu menghindari risiko, Mereka belum pernah mengambil risiko apapun seumur hidup mereka, Mungkin ada orang-orang di belakang layar yang memengaruhi mereka, "Risiko itu tidak baik. Jika engkau gagal, habislah sudah."

    Siapa yang memengaruhi penilaian risiko Anda? Mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk mencari penasihat baru yang dapat menaikkan atau menurunkan tingkat risiko sesuai dengan kebutuhan Anda.

  2. Berkonsultasi dengan Para Mentor Mengenai Evaluasi Prestasi

    Saya tidak pernah mengganggap enteng keputusan yang menyangkut evaluasi prestasi, karena tentu saja hal ini berhubungan dengan orang. Dan dalam mengambil keputusan semacam ini, saya biasanya teringat akan teladan Yesus dan Peter Drucker.

    Saya ingat akan pernyataan Yesus, "Seorang pekerja patut mendapat upahnya" (Lukas 10:7). Implikasinya adalah seorang majikan yang telah menerima pelayanan yang efektif, berharga, dan konsisten dari seorang bawahan, harus memberikan upah dan penghargaan pada bawahan tersebut. Namun demikian, ajaran yang sama menekankan bahwa jika seorang majikan tidak menerima pelayanan yang efektif, berharga, dan konsisten dari seorang pekerja, maka pekerja itu tidak layak dipekerjakan. Upahnya harus dihentikan, atau paling tidak dikurangi.

    Peter Drucker pernah mengatakan kepada saya, "Billy, jika menyangkut masalah membayar staf, bahkan staf gereja sekalipun, prestasi yang buruk tidak dapat diterima." Saya tidak pernah melupakan hal itu. Jadi jika saya tahu bahwa kami memiliki staf yang prestasinya buruk, kami segera bertindak. Kami menyebutnya: tidak dapat diterima.

    Tetapi kami lalu segera berusaha mencari penyebab prestasi yang buruk itu. Apakah karena faktor internal (kepribadian) dari pekerja itu sendiri atau faktor eksternalnya (kurang pelatihan dari tempat kerja, masalah kepemimpinan pemimpinnya, dsb.), lalu mencari solusinya.

  3. Berkonsultasi dengan Para Mentor Mengenai Keunggulan

    Kitab suci banyak mengatakan tentang nilai keunggulan, jadi kami menyatakannya sebagai salah satu dari sepuluh besar nilai-nilai gereja kami. Kami mengatakannya demikian, "Keunggulan memuliakan Tuhan dan menginspirasi orang-orang."

    Jika saya harus membuat keputusan yang dikaitkan dengan nilai keunggulan, saya teringat pada dua usahawan dari Michigan. Yang satu adalah Ed Prince. Sebelum meninggal, ia adalah kekuatan pendorong di balik Prince Corporation, produsen utama komponen otomotif. Yang satunya lagi adalah Rich DeVos, salah satu pendiri Amway Corporation.

    Tingkat keunggulan yang mereka canangkan dalam bisnis dan kehidupan pribadi mereka selalu menginspirasi saya. Sering kali, saat saya harus membuat keputusan menyangkut tingkat keunggulan, saya mengingat kembali pilihan-pilihan mereka buat dalam situasi yang serupa selama bertahun-tahun. Tindakan yang mereka ambil pada masa lalu membantu memengaruhi keputusan saya saat ini. Siapa yang melakukan itu bagi Anda? Apakah Anda memiliki guru dalam hal keunggulan?

  4. Berkonsultasi dengan Informan Saya dalam Masalah Moril

    Masalah moril adalah masalah besar. Menurut pendapat saya, ribuan jemaat di seluruh dunia sedang menderita "malnutrisi motivasi" Terkadang, pada konferensi-konferensi pelatihan, saya bertanya kepada para relawan gereja kapankah terakhir kalinya mereka menerima dorongan semangat dari pendeta atau staf penyelia mereka. Semua jawabannya hampir sama: "Tidak pernah."

    Masalah moril adalah masalah penting. Kala semangat menurun, adalah tugas seorang pemimpin untuk melacak dan memompanya. Siapa yang terlintas dalam pikiran Anda sebagai teladan untuk hal ini? Siapa orang yang Anda kenal yang membangkitkan semangat dan menghibur hati staf dan relawan? Biarkan mereka memengaruhi keputusan-keputusan Anda sehubungan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan semangat. Staf Anda, dibayar maupun tidak, akan senang jika Anda melakukannya.

    Saya bisa berbicara tentang banyak pemimpin lain yang memengaruhi keputusan saya. Untuk keputusan-keputusan teologikal, ada Dr. Bilezekian. Saya memiliki beberapa penasihat lain yang membantu saya dalam bidang keuangan, psikologi, dan relasi. Saya akan kewalahan tanpa kebijaksanaan orang-orang ini.

Bagaimana jika Anda tidak memiliki mentor-mentor dalam bidang-bidang ini? Rekomendasi saya adalah sesering mungkin membaca dan berusaha meluangkan waktu dengan para pemimpin lain sesering mungkin. Ini akan membuat Anda lebih terbuka pada orang-orang dan prinsip-prinsip yang secara berangsur-angsur memengaruhi keputusan Anda sehari-hari. Setelah beberapa waktu, Tuhan akan membantu Anda mengidentifikasi konsultan-konsultan yang dapat membantu Anda membuat keputusan yang memuliakan Allah.

Sumber Data Ketiga: Penderitaan

Penderitaan adalah guru yang baik dan informan yang fantastis bagi proses pengambilan keputusan kita.

Ke mana pun saya pergi, saya selalu membawa sebuah arsip tidak tertulis mengenai penderitaan. Jika karena beberapa alasan saya tergoda untuk mengulangi kesalahan yang sama, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya benar-benar ingin mendapat pukulan lagi. Apakah saya benar-benar ingin membuat hidup saya lebih menderita?

Pernahkah Anda meluangkan waktu untuk mengembangkan "Daftar Sepuluh Besar Penderitaan?" Kadang-kadang dalam sesi-sesi mentoring bersama pada pendeta, kami duduk-duduk setelah makan malam, dan saling berbagi cerita tentang pelajaran yang kami dapat dengan cara yang menyakitkan. Dalam detail-detail yang kadang lucu, kami menggambarkan hal-hal yang tidak akan pernah kami lakukan lagi. Saya sudah pernah mendengar beberapa cerita.

Seorang pendeta berkata, "Saya tidak akan pernah mengangkat ibu mertua saya sebagai kepala penatua lagi." Pendeta lain berkata, "Saya tidak akan pernah mengizinkan pembicara tamu mengajar tentang tanda-tanda dan mukjizat saat saya sedang pergi berlibur." Seorang pendeta yang cuek berkata, "Saya tidak akan pernah lagi mengatakan pada para penari, 'Kenakan saja pakaian yang kalian inginkan saat kalian menari di kebaktian pagi.' Salah besar!"

Semua ini adalah kisah nyata. Kisah-kisah yang penuh penderitaan. Tetapi merupakan sumber data yang sangat berharga.

Kita para pemimpin harus menyimpan arsip kisah-kisah semacam ini dan membaca-baca ulang sehingga kita tidak menimbulkan penderitaan yang sama pada diri kita sendiri atau gereja kita dengan mengulangi kesalahan pada masa lalu. Penderitaan dapat menjadi guru yang berharga, tetapi hanya jika kita memerhatikan dan belajar darinya.

Satu kata terakhir mengenai penderitaan. Amsal 13:20 mengatakan, "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak." Dengan kata lain, jika kita bijaksana, kita akan belajar dari pengalaman orang lain, termasuk penderitaan mereka. Inilah alasan lain mengapa sangat penting untuk berkumpul dengan para pemimpin lain dan bertanya, "Apa yang berjalan baik? Apa yang tidak? Di mana kalian mendapat pukulan? Seberapa parah?" Alasan mengapa saya tidak pernah mencoba menyembunyikan kesalahan-kesalahan saya semasa melayani adalah saya berharap bahwa para pemimpin lain akan belajar dari kesalahan saya dan meluputkan umat mereka dari penderitaan pernah saya alami.

Satu Sumber Data Terakhir: Roh Kudus

Roh kudus adalah sumber data paling berharga yang kita miliki. Pelatihan dan mentoring kepemimpinan memang baik. Mengasah keterampilan kita patut dipuji. Mencari nasihat yang bijaksana memang bermanfaat. Mengembangkan pemikiran kita sangatlah penting. Tetapi akhirnya kita berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan. Ada dimensi supranatural dalam kepemimpinan yang hanya dapat kita miliki jika kita mendengarkan dengan cermat perkataan Roh Kudus.

Memang kita harus menggunakan kebijaksanaan dan penilaian yang baik saat kita memimpin. Tetapi kita harus selalu mendengarkan suara Tuhan. Kita harus mendengarkan saat Roh Kudus, sumber data supranatural kita, menyampaikan kebijaksanaan yang sangat kita perlukan di dalam proses pengambilan keputusan.

Saya biasa mengasumsikan bahwa semua pemimpin Kristen berpaling pada Roh Kudus sebagai sumber data yang mengungguli yang lain. Tetapi selama bertahun-tahun, saya sadar bahwa ternyata tidak begitu. Jadi, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin membantu kita untuk memfokuskan perhatian pada sumber data utama kita.

Adakah ketenangan yang cukup dalam kehidupan Anda untuk mendengar bisikan Roh Kudus? Apakah Anda memiliki keberanian untuk menjalankan dorongan, sekalipun Anda mungkin tidak sepenuhnya memahaminya, dan sekalipun tim Anda mungkin mempertanyakan kebijaksanaan Anda? Apakah Anda bersedia berjalan dengan iman? Maukah Anda mengabdikan diri Anda dan mengizinkan Roh untuk sepenuhnya memengaruhi pengambilan keputusan Anda?

Saat seorang pemimpin mengombinasikan dorongan Roh Kudus dengan sumber-sumber data lain -- keyakinan mendasar, mentor-mentor yang memengaruhi, dan pengalaman dari penderitaan -- pemimpin tersebut akan semakin cakap dalam mengambil keputusan.

Jika Anda tidak tahu lebih mendalam, Anda mungkin berpikir pemimpin itu memiliki indera keenam!

Diringkas dari:

Kategori Bahan Indo Lead: Self Leadership

Komentar