Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 1 hour 38 min ago

Studi Alkitab pada Era Digital di STT AIMI (Pertemuan II)

Sat, 05/12/2018 - 14:44

Oleh: Aji

Sebagai yayasan yang bergerak dalam bidang Biblical Computing, YLSA terus menggalakkan pentingnya pendalaman Alkitab, khususnya dengan memanfaatkan teknologi dan alat-alat digital abad ini. Banyak hal yang sudah dilakukan, salah satunya dengan penyelenggaraan pelatihan "PA dengan Gawai" yang bertajuk #Ayo_PA!. Pada tahun ini, YLSA mendapat kesempatan istimewa untuk mengembangkan pelatihan ini di STT AIMI, Solo. Saya katakan "istimewa", sebab untuk pertama kalinya penyampaian materi #Ayo_PA! "Studi Alkitab pada Era Digital" dikemas dalam bentuk kurikulum untuk dilaksanakan dalam empat kali pertemuan. Materi yang disampaikan berpusat pada pengenalan alat dan bahan PA digital, serta penerapan metode S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa+Diskusi, Aplikasi). Pelatihan pertama sudah dilaksanakan pada Mei lalu, seperti yang bisa Anda simak pada tulisan Sdr. Danang.

Pertemuan II membahas langkah ANALISA. Saya mendapat tugas bersama Danang dan Ody sebagai pembicara. Selain itu, Tika dan Roma serta Bu Yulia juga ikut untuk membantu menjaga booth, membuat dokumentasi, dan teknis. Tugas saya dalam pertemuan ini adalah mengingatkan peserta tentang apa yang sudah dipelajari pada pertemuan I, di antaranya:
a. Mengapa orang percaya perlu ber-PA,
b. Alat dan bahan PA digital
c. Metode S.A.B.D.A. dan
e. Langkah SIMAK.

Presentasi berikutnya dipandu oleh Ody dan Danang yang memaparkan langkah Analisa dengan apps:
a. Tafsiran
b. Kamus
c. Alkipedia dan
d. Peta.

Mereka juga menjelaskan fitur "Search" untuk mencari kata-kata tertentu dalam Alkitab menggunakan apps Alkitab SABDA. Pertemuan ini berjalan dengan lancar karena peserta sudah mendapatkan bekal pengetahuan dari pertemuan sebelumnya. Itu sebabnya, ketika penjelasan teknis apps SABDA diberikan oleh Danang dan Ody, kebanyakan peserta tidak menemui kendala yang berarti. Penggunaan teknologi ChromeCast juga membuat peserta bisa mengamati langkah-langkah penggunaan apps dengan lebih jelas. Saya pun terkesan dengan antusiasme para peserta, bahkan ada peserta yang datang dari luar kota untuk bisa mengikuti pelatihan ini. Booth kami juga ramai dikunjungi hamba-hamba Tuhan garis depan dan para mahasiswa teologi.
Ibu Yulia melanjutkan presentasi dari Danang dan Ody dengan memberikan kuis penggunaan apps Alkitab dan Kamus, di antaranya untuk mencari kata-kata tertentu dalam Alkitab. Kuis ini memaksa peserta untuk mengaplikasikan fitur-fitur yang sudah dipelajari. Tidak hanya mengikuti jalannya kuis ini dengan penuh perhatian, para peserta berlomba-lomba untuk menjadi yang tercepat dalam menjawab pertanyaan kuis yang diberikan. Di sini, saya kembali diingatkan bahwa interaksi dan relasi dengan peserta perlu sekali ditampilkan agar peserta mau melibatkan diri dalam proses belajar mengajar ini.

Kemudian, Ibu Yulia juga mengajak seluruh hamba Tuhan yang hadir memanfaatkan teknologi di tangan mereka guna menjangkau generasi muda. Banyak gereja saat ini kehilangan para pemudanya, sebab gereja-gereja menolak kemajuan teknologi. Firman memang tidak berubah, tetapi zaman dan teknologi terus berkembang. Itu sebabnya, firman Tuhan harus bisa disampaikan sedemikian rupa agar tetap relevan bagi para pembacanya. Teknologi bisa menjadi jembatan agar firman relevan diterima oleh generasi zaman ini. Dengan Alkitab dan bahan-bahan studi digital di HP mereka, generasi abad ini bisa belajar firman Tuhan dengan cara yang selaras dengan gaya hidup kekinian. Kiranya seruan beliau menjadi pengingat dan motivasi bagi kita untuk memanfaatkan teknologi bagi kemuliaan Tuhan.

Bila Anda tertarik mendapatkan pelatihan serupa, silakan Anda mengundang tim #Ayo_PA! dengan mengisi form berikut. Jika waktu memungkinkan dan Tuhan menghendaki, kami akan datang ke gereja atau komunitas Saudara untuk berbagi lebih jauh tentang kurikulum "Studi Alkitab pada Era Digital".

Categories: PEPAK

#Ayo_PA! di Kelompok Persekutuan di Karanganyar (1)

Mon, 05/07/2018 - 16:41

Oleh: Santi

Yey, akhirnya saya menulis blog lagi. Kesempatan berharga bagi saya untuk berbagi kebaikan Tuhan kepada Anda semua. Kali ini, Tuhan memberi saya kesempatan melayani di salah satu persekutuan karyawan di Karanganyar untuk melakukan Pendalaman Alkitab (PA) secara digital. Pelayanan ini dilakukan pada Jumat, 13 April 2018, pukul 12.00 WIB - 13.00 WIB. Meski durasi hanya satu jam, tetapi saya beserta tim, yaitu Mei dan Pio, bisa mengemasnya dengan baik sehingga selama satu jam ini keseluruhan acara bisa dilakukan dengan maksimal. Puji Tuhan!

Acara diawali dengan menyanyikan lagu "Pertolongan-Mu" yang pernah dipopulerkan oleh Citra Skolastika, lalu dilanjutkan dengan berdoa. Hati saya "deg-deg'an" karena setelah doa pembuka, saya akan menyampaikan presentasi. Tuhan tolonglah saya! Saya mengawali presentasi dengan memperkenalkan sekilas tentang Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) supaya peserta mengenal pelayanan kami. Setelah itu, saya masuk ke sesi 1, yaitu alasan pentingnya melakukan PA. Ketika menyampaikan materi ini, saya kembali diingatkan bahwa jiwa kita harus setiap hari diberi makanan rohani supaya sehat dan bertumbuh dengan baik. Memasuki sesi 2, yaitu praktik PA dengan menggunakan smartphone, peserta menjadi semakin antusias. Mereka mengikuti arahan PA dengan baik dan terlihat senang ketika mendapati sesuatu yang baru tentang firman Tuhan.

Bersyukur pula karena Mei dan Pio bisa turut mengerjakan bagian mereka dengan baik. Mei bertanggung jawab untuk booth SABDA, dan Pio bertanggung jawab untuk dokumentasi dan hal-hal teknis selama presentasi. Saya senang bisa melayani bersama mereka berdua. Oh ya, selain aktif mengikuti PA, peserta juga aktif bertanya mengenai produk-produk SABDA yang ada di booth. Bahkan, beberapa peserta mengambil produk-produk SABDA untuk menolong pelayanan mereka/rekan mereka yang melayani di bidang tertentu. Bapak Pras, yang menjadi penanggung jawab persekutuan tersebut, sangat tertarik dengan produk DVD Library SABDA Anak dan traktat "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu". Beliau mengambil DVD dan traktat ini untuk diberikan kepada para guru sekolah minggu di gerejanya. Kiranya peserta yang sudah mengambil produk-produk SABDA bisa memanfaatkannya dengan bijaksana untuk hormat dan kemuliaan Tuhan. Saya juga terus berdoa dan berharap supaya peserta yang sudah menerima materi dan pelatihan #Ayo_PA! semakin rindu untuk belajar firman Tuhan secara teratur. Amin.

Categories: PEPAK

Doa Semalam Ceria di SABDA — Apart from Me You Can Do Nothing!

Thu, 05/03/2018 - 12:07

Oleh: *Roma

Shalom, perkenalkan nama saya Romauli br Marpaung. Pada Jumat, 27 April 2018, untuk pertama kalinya, saya mengikuti doa semalam ceria. Bukan hanya saya, melainkan seluruh staf YLSA dan juga pemimpin YLSA mengikuti kegiatan ini. Kegiatan tersebut dilakukan agar kami meletakkan segala mimpi, harapan, dan pekerjaan di atas doa. Doa adalah kebutuhan bagi setiap orang percaya. Tanpa doa, hidup kita ini akan terasa seperti "zombie" yang kelihatannya hidup, tetapi sebenarnya mati.

Pada kesempatan itu, doa semalam ceria tersebut dibagi dalam tiga sesi. Dalam sesi pertama, kegiatan ini dimulai dengan ramah tamah. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dan doa pembukaan oleh HRD. Kemudian, ada puji-pujian yang dipandu oleh MC (Aji) dan sharing dari staf. Sharing ini juga dibagi atas tiga bagian, yaitu bernyanyi, kesaksian pribadi, dan berbagi qoute. Untuk sharing sesi pertama, dilakukan oleh Hadi (bernyanyi), Markus (qoute), Rode (kesaksian), Tika (bernyanyi), Mei (kesaksian), dan Liza (qoute). Kemudian, ada pemutaran video tentang Doa dari David Platt dengan durasi sekitar 60 menit. Setelah itu, kami diskusi bersama mengenai video yang diputar. Dalam diskusi, kami mendapatkan sesuatu yang baru mengenai doa. Tuhan berkuasa atas setiap doa yang kita naikkan kepada-Nya. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24) Diskusi selesai dan ditutup dengan doa yang dipandu oleh Ibu Yulia. Kemudian,saya dan seluruh staf break selama 15 menit setelah sesi pertama selesai. Dalam break tersebut, saya dan teman-teman makan Popmie, dan beberapa dari kami minum kopi, termasuk saya minum kopi luwak, untuk memulihkan tenaga kami kembali.

Lima belas menit terasa begitu cepat dan jam juga terus berputar. Acara dilanjutkan ke sesi kedua. Dipandu oleh MC (Mei), kami bernyanyi satu lagu pujian (Kubawa Hidupku Sekarang). Setelah itu, kami dibagi dalam beberapa kelompok untuk menaikkan setiap pokok doa yang telah di presentasikan oleh Hadi, Pioneer, dan Yudo. Dalam sekian menit, kami berdoa untuk setiap pokok doa yang disampaikan. Kemudian, kak Okti membagikan renungan dari sebuah artikel yang berhubungan dengan doa. Saya pribadi sangat diberkati lewat renungan tersebut. Renungan itu mengatakan bahwa semestinya hubungan yang kita jalin kepada Tuhan melalui doa merupakan doa yang rasional (realistis), bukan doa yang emosional. Setelah kami mendengar renungan, kami juga mendengar beberapa kesaksian lagi dari beberapa staf, yaitu Ariel (bernyanyi), Indah (kesaksian), Aji (qoute), Pio (Kesaksian), Lena (bernyanyi), Evie (bernyanyi), Elly (kesaksian), dan Santi (qoute). Beberapa kesaksian memberkati saya, baik itu berupa nyanyian, qoute, maupun kesaksian pribadi dari staf YLSA. Saya merasa bahwa rencana dan jawaban Tuhan kadang tidak bisa dimengerti. Namun, dalam hidup setiap orang, Tuhan sering memberikan sesuatu yang menarik dan istimewa bagi tiap-tiap orang. Saya sadar bahwa Tuhan itu sangat teratur sehingga Ia ingin supaya kita sebagai manusia juga teratur dalam menjalani hidup ini. Sesi 2 akhirnya usai dan ditutup dengan doa syafaat. Saya menunggu saat-saat di mana saya akan cerita tentang kehidupan saya bersama Tuhan melalui pujian.

Pada saat masuk sesi ketiga, seharusnya sesi terakhir ini dipandu oleh Ibu Evie. Namun, karena waktu, pujian untuk sesi 3 dan juga ice breaker akhirnya dihapuskan. Dan, langsung dilanjutkan doa syafaat dan kesaksian staf yang belum menyampaikan kesaksiannya. Saat itu, yang bersaksi ialah Yudo (kesaksian), Hilda (bernyanyi), Ody (kesaksian), Okti (qoute), Yoseph (kesaksian), Kun (qoute), Danang (kesaksian), dan saya sendiri (bernyanyi). Saya bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam doa semalam ceria kali ini. Yang saya syukuri bahwa dalam sepanjang acara, saya bisa menghilangkan rasa kantuk saya. Dalam kesaksian saya, satu hal yang membuat saya sadar juga bahwa saya ternyata dipanggil Tuhan melayani bukan karena saya hebat, saya kuat, atau saya bisa melakukan banyak hal, melainkan semata-mata karena anugerah Tuhan yang melimpah bagi saya. Dan, doa semalam ceria memberi saya banyak hal baru yang harus saya lakukan untuk kemajuan saya ke depannya. Semua ini tidak akan bisa saya lakukan tanpa meletakkan harapan di atas doa. Ya, berdoa dan berusaha. Itu yang saya dapatkan sejak pukul 20.00 WIB -- 04.30 WIB keesokan harinya dalam acara doa semalam ceria di SABDA. "Tetaplah berdoa." (1 Tesalonika 5:17)

Categories: PEPAK

Roadshow SABDA di GKI Ngupasan, Yogyakarta

Mon, 04/30/2018 - 12:39

Oleh: Liza

Pada 10 April 2018, tim SABDA kembali mendapat kesempatan untuk mengadakan Roadshow #Ayo_PA! di GKI Ngupasan, Yogyakarta. Ini bukan pertama kali tim SABDA melayani di tempat ini (sudah keempat kalinya), tetapi pertama kali bagi saya. Acara dimulai pukul 18.00 WIB. Namun, saya, Bu Yulia, dan Tika sudah mempersiapkan alat dan booth SABDA mulai pukul 15.30 WIB. Saat persiapan, ada beberapa kendala teknis yang kami alami. Hanya ada satu LCD yang sudah terpasang di atas sehingga posisi LCD tidak bisa diubah, padahal rencananya kami akan menggunakan dua LCD; satu untuk presentasi dan satu lagi untuk demo. Saya dan rekan saya, Tika, mencoba beberapa alternatif agar dengan satu LCD kami bisa menggunakannya untuk presentasi sekaligus untuk demo tutorial. Menjelang pukul 18.00 WIB, kami bersyukur karena ada Pak Triyono atau yang biasa dipanggil Pak Tri, yang membantu kami. Ternyata, ada satu LCD lagi di gereja. Pak Tri membantu mempersiapkan LCD dan layar tambahan tersebut. LCD dan layar tambahan ini bisa kami gunakan untuk menampilkan demo menggunakan lima aplikasi SABDA.

Pelatihan yang dibawakan oleh Bu Yulia ini berlangsung selama kurang lebih dua jam. Materi pertama tentang apa itu Pendalaman Alkitab (PA) dan apa pentingnya melakukan PA. Materi kedua adalah cara menggunakan lima aplikasi SABDA, yaitu Alkitab, Tafsiran, AlkiPEDIA, Kamus Alkitab, dan Peta untuk melakukan PA, disertai demonya. Bu Yulia membawakannya dengan bagus. Seiring berjalannya waktu, Bu Yulia bisa membangun koneksi dengan peserta. Peserta juga langsung praktik dengan HP mereka. Mayoritas peserta usianya sudah tidak muda lagi. Namun, saya terkagum dengan semangat mereka untuk belajar. Walaupun mereka rata-rata masih canggung dalam menggunakan aplikasi, tetapi mereka tidak putus asa untuk mencoba dan belajar. Antarpeserta juga sudah akrab, sehingga ketika ada yang tidak bisa, mereka bisa saling membantu.

Pada akhir acara, kami berfoto bersama dan mempersilakan peserta untuk mengunjungi booth SABDA. Mereka sangat antusias untuk mengetahui lebih dalam tentang produk-produk SABDA. Tidak lupa kami mengambil testimoni para peserta. Ada enam orang yang memberikan testimoninya tentang pelatihan SABDA ini. Mereka sangat bersyukur dengan acara ini karena telah menambah wawasan mereka tentang bagaimana belajar Alkitab. Mereka juga mau membagikan apa yang telah mereka pelajari pada rekan maupun keluarga mereka.

Melalui roadshow kali ini, saya diingatkan untuk belajar fleksibel terhadap kondisi, khususnya dalam persiapan teknis yang kami lakukan. Tidak boleh ragu mengubah rencana untuk beradaptasi dengan situasi yang ada. Saya bersyukur bisa berbagi berkat dengan peserta di GKI Ngupasan, Yogyakarta. Doa saya, semoga mereka bertambah semangat untuk melakukan PA.

Categories: PEPAK

Pelatihan SABDA: Studi Alkitab pada Era Digital

Fri, 04/20/2018 - 08:19

Oleh: Danang

Pada Kamis, 5 April 2018, tim SABDA mengadakan roadshow di STT AIMI, Solo, berupa pelatihan "Studi Alkitab pada Era Digital". Pelatihan ini diikuti oleh lebih dari 60 peserta yang terdiri dari komunitas pendeta, dosen, dan mahasiswa/i STT AIMI. Tim SABDA yang terlibat dalam pelayanan kali ini adalah Bu Yulia, Aji, Ody, Tika, Kun, Lena, dan saya sendiri. Selain memberikan pelatihan, SABDA juga membuka booth SABDA yang ramai dikunjungi oleh peserta. Booth SABDA menyediakan produk-produk pelayanan dari SABDA, seperti CD Alkitab Audio, DVD Library SABDA Anak, DVD Dengar Alkitab, DVD Konseling Kristen, SD Card bahan-bahan digital dari SABDA, dsb.. Staf SABDA yang melayani juga membantu beberapa peserta untuk menginstal aplikasi SABDA antara lain Alkitab, Alkipedia, Kamus, Tafsiran, dan Peta. Namun, tampaknya tidak semua peserta cukup memahami gawai mereka. Beberapa gawai bahkan tidak memiliki ruang penyimpanan yang cukup untuk semua aplikasi SABDA. Jadi, sebagian peserta tidak mempunyai aplikasi secara lengkap.

Acara pelatihan diawali oleh Bu Yulia yang menyampaikan tentang overview acara pelatihan di STT AIMI ini dan pentingnya pendalaman Alkitab. Setelah itu dilanjutkan oleh Ody yang memaparkan tentang bahan-bahan apa saja yang dipakai dalam melakukan studi Alkitab baik dengan versi cetak maupun yang telah didigitalkan oleh SABDA. Berikutnya, Aji memaparkan tentang metode S.A.B.D.A., yaitu metode PA dengan lima tahap: Simak, Analisa, Belajar, Doa + Diskusi, dan Aplikasi. Lalu, dilanjutkan oleh Tika yang menjelaskan secara spesifik tentang langkah Simak, yaitu langkah pertama PA untuk membaca, mendengar, dan melihat Alkitab dengan berbagai bahan dan alat-alat digital. Peserta tampak antusias menyimak di setiap sesi, bahkan banyak juga peserta yang penasaran dengan aplikasi SABDA dan mencoba-coba sendiri di gawainya. Ada juga peserta yang tidak membawa gawai atau gawainya bukan Android, tetapi mereka tampak penasaran dengan isi materi. Ada juga tanggapan lucu dari peserta karena mungkin belum memahami PA secara digital, dan menanyakan apakah pembicara sedang berniat menjual smartphone dengan bonus produk-produk SABDA. Kemudian, pembicara menjelaskan bahwa SABDA adalah lembaga yang menyediakan berbagai bahan-bahan biblika untuk dipakai dalam dunia pelayanan Kristen. Produk-produk SABDA diberikan secara cuma-cuma karena YLSA adalah yayasan nirlaba. Bagi digital imigran, dunia digital memang hal baru yang kurang dipahami. Dan, salah satu misi SABDA adalah menjadi "digital evangelist", yaitu memberi kesadaran dan mengajarkan kepada masyarakat untuk hidup dalam dunia digital secara bijaksana dan efektif, terutama untuk memakainya bagi pembangunan iman mereka, yaitu pembelajaran Alkitab yang intensif dengan peralatan digital.

Ini merupakan pelatihan Tahap I di STT AIMI, Solo. Selama tiga bulan ke depan masih ada tiga tahap pelatihan PA di STT AIMI untuk menolong pendeta, mahasiswa, dan jemaat belajar melakukan PA di era digital termasuk bagaimana menyiapkannya menjadi bahan khotbah. Secara pribadi, saya sendiri berharap agar semua pelatihan dan bahan yang diberikan kepada peserta dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemajuan pelayanan Tuhan di Solo dan sekitarnya. Salam IT 4 GOD!

Categories: PEPAK

Roadshow #Ayo_PA! dalam Persekutuan Alumni Perkantas, Solo

Sun, 04/15/2018 - 16:32

Oleh: *Lena

Perkenalkan, nama saya Lena Lumbanraja, staf masa percobaan di Yayasan Lembaga SABDA. Saya ingin membagikan pengalaman pertama saya ketika mengikuti roadshow #Ayo_PA! di Griya Konseling, Solo, pada 4 Maret 2018. Sebelum mengikuti roadshow #Ayo_PA!, saya dan Yoel (staf magang) mendapat orientasi sesuai dengan tugas kami masing-masing. Indah memberikan orientasi mengenai booth dan penjelasan produk-produk SABDA, dan Yoel mendapat orientasi dari Pioneer mengenai hal-hal teknis seperti pemasangan LCD, cara merekam video, dokumentasi, dsb..

Acara dimulai pukul 11.00 WIB. Sebelum berangkat, saya dan Yoel memastikan lagi barang yang diperlukan untuk roadshow. Perjalanan menuju ke lokasi cukup terkendala karena macet, tetapi puji Tuhan kami bisa datang lebih awal dari waktu acara. Saya tidak khawatir bagaimana situasi dan kondisi tempat roadshow karena tempat diadakannya roadshow ini adalah tempat saya berkuliah. Setelah sampai di tujuan, kami langsung menyiapkan booth. Yoel segera menyiapkan LCD dan peralatan multimedia lainnya. Saya dan Bu Yulia menata booth SABDA yang awalnya ditata di luar ruangan, tetapi akhirnya bisa diletakkan di dalam ruangan sehingga saya bisa mengikuti jalannya acara. Proses perpindahan booth dari luar ke dalam ruangan cukup membuat saya panik karena barang-barang sudah tidak tertata dengan rapi, tetapi semua bisa diatasi dengan cepat karena saya ditolong oleh Bu Yulia.

Sebelum presentasi #Ayo_PA! disampaikan oleh Bu Yulia, perwakilan dari alumni Perkantas membuka acara dengan doa dan pujian. Acara pembukaannya cukup lama sekitar 30 menit. Acara hari itu dihadiri oleh lebih dari 30 peserta. Sesuai dengan tema yang diberikan, yaitu "Studi Tokoh Alkitab: Petrus", oleh Bu Yulia dipakai menjadi kesempatan untuk memperkenalkan gerakan #Ayo_PA!. Sebelum melakukan PA, Bu Yulia terlebih dahulu menyampaikan pentingnya PA dalam kehidupan para alumni PERKANTAS. Beliau menjelaskan bahwa seperti kita membutuhkan makanan dan minuman setiap hari untuk jasmani kita, begitu juga dengan rohani kita. Kita bisa menyajikan sendiri tanpa harus menunggu hari Minggu untuk mendengarkan khotbah di gereja. Firman Tuhan itu bisa disajikan dan dikonsumsi setiap hari. Masalahnya adalah kita belum ahli, dan ketidakahlian itu membuat kita ingin semuanya tersaji dengan cepat oleh orang lain, yaitu dengan mendengarkan khotbah dari pendeta atau pelayan-pelayan Tuhan yang disampaikan hanya seminggu sekali pada ibadah Minggu. Hal yang berkesan dari presentasi ini adalah penekanan bahwa sebenarnya kita bisa menyajikan makanan rohani setiap hari sendiri tanpa harus menunggu hari Minggu. Dan, hal inilah yang menjamin kita akan bertumbuh secara rohani, karena makan makanan rohani secara teratur setiap hari.

Setelah itu, Bu Yulia menyampaikan tentang bagaimana beberapa aplikasi Alkitab SABDA yang terintegrasi dapat dipakai sebagai alat bantu untuk melaksanakan PA secara mandiri. Untuk itu, Bu Yulia meminta peserta menginstal lima aplikasi yang akan memudahkan kita dalam melakukan PA, yaitu Alkitab, Kamus, Tafsiran, Alkipedia, dan Peta. Dengan cepat saya langsung menghampiri kelompok untuk memastikan apakah mereka sudah memiliki lima alat bantu itu, dan apakah mereka kesulitan dalam menggunakannya. Dari 30 lebih peserta, sebagian besar sudah memiliki Alkitab SABDA, tetapi belum memakai fitur-fitur yang ada untuk membantu PA. Saya dan Yoel membantu peserta yang belum bisa menggunakannya dan menginstal aplikasi di HP mereka. Setelah selesai penginstalan dan mengajarkan peserta menggunakan aplikasi dengan benar, selanjutnya setiap kelompok melanjutkan PA. Saya melihat semua peserta antusias dalam PA dan antusias juga memakai aplikasi dari SABDA, karena saya melihat mereka seakan-akan menemukan "mainan baru" dengan fitur-fitur dalam aplikasi Alkitab SABDA.

Sebagai praktik PA, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil (masing-masing terdiri dari empat orang), dan dalam kelompok tersebut, mereka melakukan PA serta berdiskusi sesuai dengan ayat-ayat yang diberikan untuk masing-masing kelompok. Untuk mengetahui hasil PA-nya, masing-masing kelompok mempresentasikannya di depan semua peserta. Meskipun terkendala oleh waktu yang sangat singkat dan belum semua peserta terbiasa melakukan PA dengan alat-alat biblika yang telah tersedia dalam gawainya, proses PA dapat berlangsung dengan baik. Sebagian besar peserta mendapatkan pengalaman baru ketika melakukan PA ala SABDA ini dan peserta menjadi lebih antusias dalam melakukan PA. Setelah presentasi, Bu Yulia juga menawarkan bahan-bahan SABDA untuk sekolah minggu, remaja, konseling, dan audio Alkitab bahasa daerah, PL dan PB, dll.. Mendengar hal itu, semua peserta antusias dan langsung menemui saya dan Yoel untuk mengambil bahan yang mereka perlukan.

Kesan saya mengikuti roadshow #Ayo_PA! di Griya Konseling yang dihadiri alumni PERKANTAS, yaitu ternyata masih banyak orang yang perlu tahu pentingnya melakukan PA dan memanfaatkan teknologi untuk belajar firman Tuhan. Saya sendiri masih baru di SABDA dan bersyukur dapat belajar tentang pentingnya melakukan PA dan bagaimana kita dapat memperkenalkan PA dengan metode S.A.B.D.A., baik kepada para digital native maupun kepada para digital imigran. Kiranya pengalaman saya ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Ibu-Ibu di Dapur YLSA

Thu, 04/12/2018 - 08:50

Oleh: Davida

"Kami juga berdoa untuk ibu-ibu di dapur yang telah menyiapkan makan siang pada hari ini, kiranya Tuhan Yesus memberkati mereka ...."

Kalimat di atas hampir selalu terucap oleh staf SABDA yang mendapatkan giliran berdoa sebelum kami menyantap makan siang. Ya, kami menyadari bahwa tanpa tangan-tangan para ibu yang sudah mengolah bahan-bahan mentah dari pasar, kami tidak dapat menyantap makan siang untuk memulihkan tenaga kami. Ada empat orang ibu yang menolong pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di YLSA. Dua orang ibu, yaitu Ibu Reso dan Mbak Dikem, bertugas untuk meracik bahan-bahan mentah, memasaknya, dan menghidangkannya untuk staf SABDA. Sementara itu, dua ibu lainnya, yaitu Mbak Ros dan Mbak Tiwi, memiliki tugas utama yang lain di luar tugas memasak. Namun, terkadang, mereka berdua juga terjun ke dapur untuk membantu memasak apabila Ibu Reso atau Mbak Dikem berhalangan masuk.

Setiap siang, kami menyantap makanan yang bergizi bagi tubuh kami. Namun, masakannya bukan masakan ala resto berbintang, masakan Ibu Reso adalah masakan rumahan yang "ngangenin". Salah satu jawaban terbanyak dari teman-teman yang pernah bekerja di SABDA ketika diberi pertanyaan apa yang mereka rindukan dari SABDA adalah: "Kangen masakan Ibu Reso!" Salah satu masakah favorit yang disukai hampir semua staf SABDA adalah "nasi goreng". Masakan-masakan lainnya adalah soto ayam, kare, tumpang, sayur bening sawi, tempe mendoan, semur ayam, tongseng, dan sebagainya. Setiap hari, sepertinya Ibu Reso dan Mbak Dikem melakukan "scrum" atau "daily meeting" untuk membahas akan masak apa hari ini dan mengevaluasi apa yang sudah dimasak kemarin. Beberapa kali, saya juga mendengar mereka merencanakan masak apa hari ini berdasarkan suhu, cuaca, dan kondisi kesehatan staf. Betapa mereka sangat perhatian, ya. Yang lucu adalah terkadang menu yang sudah direncanakan bersama akan berubah ketika hasil belanjaan Ibu Reso tidak sesuai dengan rencana masak hari ini, hahaha. Meski begitu, mereka tidak kapok untuk membahas akan masak apa hari ini sebelum Ibu Reso berangkat ke pasar.

Mbak Tiwi dan Mbak Ros akan datang ke dapur SABDA menjelang makan siang setelah mereka selesai mengerjakan tanggung jawabnya masing-masing; Mbak Tiwi di kantor Griya SABDA, sedangkan Mbak Ros mengerjakan tugas rumah tangga untuk area kantor lama dan AYT Center. Mereka berdua datang untuk membantu menata piring untuk semua staf SABDA dan setelah itu akan membantu mencuci piring. Keempat ibu ini sangat riang. Kalau mereka sudah berkumpul bersama, biasanya mereka akan membicarakan apa saja seputar anak, cucu, maupun keseharian mereka. Sambil bekerja, mereka saling sharing.

"Makasih Buk," begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh staf SABDA ketika mereka memasuki ruang dapur untuk meletakkan piring kotornya di tempat cuci piring. Dan, senyum dari bibir ibu-ibu itu pun merekah ketika melihat piring-piring kami bersih ludes tanpa ada sisa .... Mereka senang ketika melihat kami kenyang dan kembali segar melanjutkan tugas kami melayani Tuhan di kantor.

Saya bersyukur karena melalui ibu-ibu ini, saya belajar tentang tubuh Kristus. Semua orang punya peran yang berbeda dalam tubuh Kristus sesuai dengan bagian yang Tuhan tetapkan bagi mereka. Dan, ibu-ibu di dapur YLSA ini menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga kami tetap sehat dan bertenaga sehingga dapat terus melayani Tuhan di YLSA. Sekali lagi, "Terima kasih Ibu Reso, Mbak Dikem, Mbak Tiwi, dan Mbak Ros, Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati Ibu-Ibu semua."

Categories: PEPAK

Serangan Pasukan Rayap di Griya SABDA

Mon, 04/02/2018 - 10:35

Oleh: Maskunarti

Shalom, pembaca setia blog SABDA yang terkasih dalam Kristus!

Pada Jumat, 16 Maret 2018, seusai acara persekutuan doa, seluruh staf SABDA dikejutkan dengan munculnya pasukan rayap yang menyerbu beberapa rak buku di perpustakaan. Kak Elly yang pertama berteriak: "Ada rayap!" sembari menunjukkan foto rayap di beberapa rak buku yang diambil melalui kamera handphone-nya. Hal itu membuat kami terkejut dan panik. Saya bertanya-tanya, "Dari mana ya rayap-rayap tersebut datang?" Kepanikan kami ada alasannya. Ruang training di Griya SABDA (GS) juga merupakan perpustakaan YLSA yang penuh dengan buku. Kalau ada rayap, itu berarti buku-buku tersebut sedang terancam keselamatannya.

Kami pun tidak tinggal diam. Kami langsung bergegas mengecek rak-rak mana saja yang sudah diserbu rayap. Ada beberapa titik di lantai aula SABDA yang sedikit berlubang, bisa jadi itu merupakan celah bagi pasukan rayap untuk datang dan akhirnya memakan buku-buku beserta raknya. Tidak perlu menunggu lama, teman-teman cowok bergegas mengangkat beberapa rak dan buku keluar dari ruangan. Rak dan buku yang terkena serangan pasukan rayap harus segera ditangani supaya tidak menular ke rak dan buku yang masih dalam kondisi baik. Setelah rak dan buku di halaman luar, saya dan teman-teman cewek bergegas membuka buku-buku yang ada satu per satu dan membersihkannya dengan kuas. Untuk itu, kami menyediakan ember-ember yang diisi dengan air, dan semua rayap disapu dimasukkan ke air dalam ember. Saya dan teman-teman yang lain bahu-membahu. Beberapa orang membersihkan rayap di rak dan buku, dan beberapa orang yang lain menyapu ruang training. Tidak lupa, kami juga memakai obat penyemprot rayap untuk membasmi pasukan rayap. Lalu, kami memisahkan antara buku-buku yang kondisinya masih baik dengan buku-buku yang kondisinya sudah termakan rayap. Dan, karena waktu sudah sore, rak-rak buku yang di luar dimasukkan kembali ke dalam ruangan. Bersyukur kami semua bisa mengerjakannya dengan baik sampai sore hari.

"Lega," itulah kata yang terucapkan oleh saya. "Setidaknya, pasukan rayap yang kelihatan sudah berhasil kami basmi," itu pikir saya. Jadi, tugas saya dan teman-teman SABDA tinggal menata ulang buku-buku yang sudah dibersihkan untuk diletakkan kembali di dalam rak buku. Dan, ternyata dugaan saya keliru. Beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis, 22 Maret 2018, ketika kami semua sedang merapikan dan mengategorikan buku-buku yang sudah bersih dari pasukan rayap, ada salah satu teman kami, yaitu Kak Hadi, yang berkata, "Di sini juga ada rayap!" Kami sempat panik, jangan-jangan masih ada pasukan rayap yang tertinggal. Kami semua langsung bergegas melihat ke rak buku tersebut. Dan, puji Tuhan, rak buku dan buku-buku masih dalam kondisi aman, setidaknya kondisinya tidak separah seperti sebelumnya. Teman-teman cowok segera mengeluarkan rak buku tersebut dan membersihkannya. Sama seperti saat pembersihan yang pertama, lantai yang ada disemprot obat rayap ditambah dengan minyak solar, lalu lantai dialasi dengan seng. Lantai dialasi dengan seng supaya dapat mengantisipasi pasukan rayap datang kembali. Sementara itu, rak buku disemprot dengan obat rayap dan buku dibersihkan, dan sebagian yang lembab dijemur. Saya dan teman-teman bahu-membahu dalam membersihkannya. Bersyukur, pembersihan kedua ini tidak separah seperti saat pembersihan yang pertama. Kami bisa jauh lebih cepat membersihkannya karena buku-buku yang terkena pasukan rayap tidak sebanyak seperti pembersihan pertama. Proses pembersihan sudah selesai dan kami tinggal mengembalikan buku-buku dan rak-raknya di tempatnya seperti sediakala. Kesempatan ini kami pakai untuk sekalian menata ulang buku-buku di rak buku.

Koleksi buku yang beraneka ragam di SABDA merupakan "harta" yang harus dirawat karena buku-buku tersebut adalah jendela dunia. Dari buku-buku tersebut, saya dan teman-teman SABDA bisa memperoleh informasi dan belajar banyak hal. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari SABDA. Itu berarti saya juga harus ikut merawat dan menjaga kebersihan perpustakaan. Selain itu, momen bersih-bersih seperti ini menjadikan saya dan teman-teman SABDA lain semakin akrab. Kami bekerja sama dan bahu-membahu. Capek dan kotor sudah pasti, tetapi hal tersebut tidak membuat kami kelelahan yang berlebih karena kami mengerjakannya bersama-sama. Kiranya kita semua bersedia merawat dan menjaga setiap koleksi yang kita miliki. Ayo, budayakan menjaga tempat agar aman dari rayap, mengamati kalau ada tanda-tanda rayap datang, dan bersihkan secepat mungkin sebelum menular ke tempat lain! Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Roadshow SABDA di Tana Toraja: “Pelayanan Digital untuk Generasi Digital”

Mon, 03/26/2018 - 16:52

Oleh: Davida

Sejak 1994, Tuhan telah memimpin YLSA untuk berfokus pada pelayanan digital. Meskipun pada saat itu teknologi digital belum dikenal di Indonesia, bahkan internet pun belum masuk, dengan jelas Tuhan menyatakan kepada pendiri YLSA untuk mulai mempersiapkan bahan-bahan dengan cara mengetik semua bahan mentah yang kami dapatkan dari beberapa mitra, lalu memprosesnya secara digital. Bahan-bahan yang kami ketik pada awal pelayanan YLSA adalah Alkitab dan bahan studi Alkitab. Hal ini mengingatkan saya akan cerita Nuh yang membuat bahtera di daratan. Ketika banjir besar tiba, keluarga Nuh selamat karena perkenanan Tuhan dan karena Nuh taat untuk membuat bahtera walaupun belum melihat awan hujan. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia menolong staf YLSA mula-mula untuk setia dan tekun mengerjakan "proyek masa depan" Tuhan bagi bangsa Indonesia. Ketika teknologi digital akhirnya muncul, YLSA sudah siap dengan bahan-bahan digital untuk diintegrasikan dengan semua bentuk pelayanan digital yang ada hingga saat ini.

Kesaksian di atas saya bagikan untuk membuka sharing saya mengenai pelayanan YLSA dalam Pertemuan Pekerja KIBAID Indonesia di Tana Toraja, 22 Februari 2018. Pada kesempatan itu, tim YLSA (diwakili oleh saya dan Ody)) diundang untuk menyampaikan seminar tentang "Pelayanan Digital" yang dihadiri oleh sekitar 280 hamba Tuhan sinode KIBAID dari seluruh Indonesia. Acara ini adalah acara tahunan sinode KIBAID untuk memperlengkapi hamba Tuhan agar dapat melayani Tuhan dengan lebih baik. Pada kesempatan ini, saya menyampaikan materi "Pelayanan Digital untuk Generasi Digital". Inilah yang menjadi "passion" pelayanan YLSA, yaitu menjangkau generasi yang hidup pada era digital bagi Tuhan. Materi ini juga saya gabung dengan materi +TED @SABDA "Pemuridan untuk Digital Native" dan seminar Ibu Yulia di UPH Surabaya mengenai "Digital Word for Digital World".

Secara garis besar, materi membahas mengenai perkembangan teknologi yang sangat memengaruhi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi tidak hanya melahirkan inovasi-inovasi baru, tetapi juga melahirkan generasi "digital native", yaitu "penduduk asli" era teknologi. Pemerintah dan industri di Indonesia mengetahui bahwa generasi digital native adalah aset utama bagi negara yang ingin maju. Presiden Jokowi tidak henti-hentinya menyerukan agar ekonomi digital dimasukkan sebagai salah satu mata kuliah atau jurusan dalam pendidikan tinggi di Indonesia agar bangsa kita menjadi kuat dalam revolusi industri abad ke-21 ini. Melek teknologi juga harus menjadi perhatian penting dalam pendidikan di Indonesia, mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. Pemerintah tahu benar bahwa melalui pendidikanlah, mereka dapat mengedukasi digital native untuk menggunakan teknologi demi kepentingan bangsa dan negara. Sekarang, pertanyaannya: bagaimana dengan gereja? Apakah saat ini gereja sudah menjadi gereja yang ramah digital native? Apakah saat ini gereja memperlengkapi jemaat untuk menggembalakan/memuridkan digital native agar mereka tahu bagaimana melayani dengan memakai teknologi untuk Kerajaan Allah? Apakah digital native dilibatkan dalam penyusunan program gereja era digital ini? Itulah tantangan yang diberikan kepada seluruh peserta pada saat itu. Jika gereja tidak lebih peduli dibandingkan pemerintah mengenai generasi digital native-nya, gereja harus bersiap kehilangan generasi tersebut! Tentu saja, ini sangat menyedihkan bagi masa depan gereja.

Setelah itu, materi dilanjutkan dengan tugas gereja sebagai alat Tuhan untuk membawa digital native memahami bahwa teknologi berasal dari Tuhan dan harus dipakai terutama untuk kemuliaan Tuhan. Alkitab telah memperlihatkan secara jelas bagaimana teknologi batu dan teknologi papirus dipakai untuk menyebarkan firman Tuhan pada zamannya. Setelah itu, ada mesin cetak Guttenberg yang digunakan untuk mencetak Alkitab. Lalu, pada saat ini, ada teknologi gawai yang harus dipakai untuk kepentingan firman Tuhan. Salah satu cara yang dapat menolong gereja untuk membawa generasi digitalnya menggunakan teknologi untuk Tuhan adalah gerakan #Ayo_PA!. Oleh karena itu, sesi kedua menjadi kesempatan pelatihan bagi hamba-hamba Tuhan yang hadir untuk belajar menggunakan HP mereka untuk melakukan PA dengan metode S.A.B.D.A..

Kami bersyukur karena tidak ada kendala yang berarti selama proses pelatihan tersebut. Satu hari sebelumnya, melalui grup WA yang beranggotakan lebih dari 400 hamba Tuhan KIBAID, panitia menolong kami dengan mengumumkan kepada peserta untuk memasang aplikasi Alkitab, Tafsiran, Kamus, AlkiPEDIA, dan PETA Alkitab pada gawainya masing-masing. Oleh karena itu, ketika harinya tiba, hanya sedikit peserta yang belum sempat memasang aplikasi-aplikasi tersebut. Sebelum pelatihan berlangsung, beberapa peserta juga datang ke booth SABDA untuk dilatih menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut. Tidak sedikit pula yang sudah menggunakannya selama ini, hanya saja mereka belum tahu bagaimana memakainya secara maksimal.

Setelah pelatihan selesai, beberapa peserta mendatangi kami dan memberikan kesaksian bahwa materi ini membuka mata mereka mengenai pelayanan bagi digital native untuk menolong mereka menggunakan gawainya bagi Tuhan. Puji Tuhan, ada satu peserta yang bahkan mendorong seluruh peserta untuk tidak anti terhadap HP yang dibawa ke dalam gereja. Gereja seharusnya berada di depan untuk mendorong jemaat, khususnya digital native, untuk menggunakan HP dengan bijak, terutama untuk belajar firman Tuhan karena ada banyak keuntungan yang didapatkan.

Saya sendiri mendapatkan banyak berkat dari Tuhan melalui pelayanan ini. Selain bisa mudik ke kampung halaman saya, Tana Toraja, saya juga semakin melihat pentingnya melayani tubuh Kristus, baik itu secara organisasi maupun perorangan. Masih banyak hamba Tuhan yang melihat teknologi hanya sebagai alat untuk memudahkan hidup mereka, dan itu tidak ada hubungannya dengan pelayanan dan pertumbuhan rohani. Namun, saya bersyukur karena Tuhan mencerahkan pengurus dan banyak hamba Tuhan sinode KIBAID untuk lebih serius memikirkan dan menindaklanjuti pelayanan digital untuk generasi digital, dimulai dari diri sendiri. Kiranya menjadi berkat bagi Pembaca sekalian pula. Salam IT 4 GOD!

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Categories: PEPAK

Magang di SABDA — Magang Rasa Staf

Sat, 03/10/2018 - 16:55

Oleh: *Yoel

Perkenalkan, nama saya Yoel Bastian, saya staf magang YLSA dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dari program studi Sastra Inggris. Tidak terasa, selama dua bulan, saya sudah menjalani masa magang di SABDA, yaitu 9 Januari -- 9 Maret 2018. Saya mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sehingga saya bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikannya dengan baik. Magang di SABDA merupakan rencana awal dan kemauan saya sendiri yang hasilnya melebihi ekspektasi saya. Alasan saya memilih magang di SABDA karena dari awal saya memang bertumbuh dalam komunitas pendidikan rohani. Selain itu, jarak kantor SABDA relatif dekat dengan rumah saya. Sebelum ini, saya hanya mengenal SABDA dari salah satu produknya, yaitu Alkitab elektronik di sistem Android. Ketika pertama kali datang ke SABDA, saya agak skeptis karena tempatnya tidak seperti ruang kerja yang saya bayangkan. Kantor SABDA terdiri dari dua bangunan yang saling berhadapan, sebelah barat merupakan kantor lama, dan sebelah timur adalah kantor baru, yang biasa disebut "GS" (Griya SABDA). Rasa skeptis saya berubah menjadi rasa kagum saat mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan SABDA. Begitu banyak publikasi yang dibagi dalam situs-situs khusus, serta Software Alkitab SABDA dan pustakanya yang memang sangat tepat guna untuk masyarakat Kristen.

Pada saat wawancara, Kak Evie memberi syarat bahwa walaupun saya akan ditempatkan dalam tim penerjemah, saya juga akan diberi tugas-tugas lain. Saya menyetujuinya karena saya pikir tugas-tugas tersebut pasti masih berhubungan dengan menulis. Ternyata, jauh lebih luas dari yang saya pikirkan. Tugas-tugas lain yang saya kerjakan antara lain adalah menerjemahkan subtitle video dari The Bible Project, mencari bahan untuk situs-situs, rekaman audio artikel publikasi, aktif dalam Grup Renungan Harian, dan lain-lain. Ini adalah sesuatu yang positif supaya saya dapat mempelajari kemampuan baru. Namun, ironinya, saya jadi tahu ternyata saya tidak menguasai Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Walaupun mengambil jurusan penerjemah, entah mengapa EYD dan tata bahasa Indonesia justru tidak dibahas saat kuliah, mungkin karena mahasiswa dianggap sudah bisa. Solusinya, saya langsung membeli buku EYD dan mempelajarinya. Kendala lain muncul, yaitu saya tidak tahu istilah-istilah khusus tentang kerohanian Kristen dalam bahasa Inggris. Solusinya, saya harus banyak membaca artikel rohani Kristen dalam bahasa Inggris.

Mengenai suasana kerja, tidak seperti dugaan saya, kerja kantoran pasti bisa santai-santai dan sebagainya. Ternyata SABDA berbeda, setiap tugas harus diselesaikan sesuai ketentuan deadline sehingga semua staf fokus bekerja. Jika sudah selesai mengerjakan satu tugas, akan ada tugas baru lagi. Saya tidak membayangkan bahwa ternyata SABDA tidak seperti yang lain, yang stafnya malas-malasan. Atau, seperti suasana kuliah yang santai dan mahasiswa bisa main HP kapan saja. Di SABDA pula, saya temui kelemahan saya ketika bekerja, yaitu harus diperintah dahulu, baru mengerjakan.

Saya juga diberi kesempatan untuk ikut roadshow #Ayo_PA! di Perkantas Alumni, Solo, sebagai sie dokumentasi. Salah satu pelajaran penting adalah ketika menjalankan tugas dalam roadshow, saya harus lebih proaktif. Tidak perlu menunggu orang lain menyuruh saya melakukan ini dan itu jika itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Selain itu, kegiatan lain yang saya ikuti adalah kelas DIK PESTA. Dalam kelas tersebut, saya diajarkan tentang teologi berdasarkan Alkitab.

Saya bersyukur dan merasa bahagia bisa magang di SABDA. Saya berterima kasih kepada semua staf yang menerima saya, yang saya anggap seperti keluarga kedua saya. Terima kasih atas setiap bimbingan, tuntunan, dorongan, teguran, yang membuat saya berkembang menjadi lebih baik. Saya mendapat banyak pelajaran dan kemampuan baru di sini. Saya beruntung bisa merasakan bekerja di dua kantor, bulan pertama di kantor lama dan bulan kedua di kantor baru. Ini menjadikan saya bisa akrab dengan hampir semua staf. Di kantor lama, ada Kak Kun, Kak Elly, dan Kak Pio yang terkadang bercanda supaya suasana tidak tegang. Di kantor baru (GS), ada Kak Ariel dan Kak Indah pada waktu siang, juga Kak Tika dan Kak Ody pada waktu sore. Tentu saja semua staf saling menghormati dan tidak ada "gangs" yang terbentuk. Tidak ada jarak walaupun semua berbeda usianya, semua seperti keluarga sendiri.

Selain staf yang menyenangkan, ada satu hal lagi yang saya dapat dari magang di SABDA, yaitu bertumbuh secara rohani. PA setiap Selasa, Rabu, dan Kamis serta PD setiap Senin dan Jumat membuat saya semakin hari semakin kaya dalam merenungkan firman Tuhan. PA dengan orang lain itu membuat kita semakin kaya karena kita mendapat pandangan baru dari apa yang orang lain dapatkan dari firman. Saya belajar bagaimana benar-benar menggali Alkitab. Persekutuan doa mengajarkan pentingnya berdoa bagi orang lain. Sebelumnya, saya tidak terlalu percaya akan kuasa doa, tetapi melalui PD saya dibukakan pengertian berdoa untuk orang lain.

Magang di SABDA, kita dapat merasakan bagaimana menjadi staf beneran karena sesungguhnya kita diberi beban yang kurang lebih sama dengan staf tetap dan kita dilibatkan dalam seluruh jenis kegiatan yang ada. Banyak pelajaran yang saya dapat dan kembangkan lagi di dunia kerja nanti. Terima kasih YLSA.

Categories: PEPAK

PA Perdana di SABDA Membawa Dampak Besar

Fri, 03/02/2018 - 16:20

Oleh:*Nehemia

Shalom, Perkenalkan nama saya Nehemia Meirardfeldin Krisprianugraha. Saya adalah staf magang dari SMK Bhina Karya, Karanganyar. Puji Tuhan, saya ditempatkan di SABDA, dan sudah berada di SABDA selama beberapa minggu. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman selama di SABDA. Di SABDA, saya belajar banyak hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Di sini, saya tidak hanya belajar bekerja, tetapi belajar bertumbuh secara rohani.

Sebelum mulai bekerja, semua staf melakukan Pendalaman Alkitab (PA). Nah, dari kegiatan ini, kami dapat saling berbagi hasil pembelajaran firman Tuhan. Inilah pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Menurut saya, pengetahuan duniawi penting, tetapi pengetahuan rohani jauh lebih penting. Misalnya, ketika saya sedang ditimpa masalah yang sangat berat, kemampuan duniawi yang saya miliki tidaklah selalu menjadi solusi yang baik untuk mengatasi masalah tersebut. Bahkan, kemungkinan malah bisa semakin memperburuk keadaan. Akan tetapi, jika saya mengatasinya dengan sikap rohani yang benar, yaitu dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, cara ini sangat menolong saya. Selain itu, Yesus tidak hanya menolong anak-anak-Nya dalam kesulitan dan kesesakan, tetapi justru menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Dengan demikian, kita tidak jatuh dalam kematian kekal, tetapi justru beroleh hidup yang kekal bersama Bapa kita di surga.

Saya mulai belajar betapa pentingnya pertumbuhan rohani. Saya akan terus berusaha untuk mencari kebenaran yang sejati, yang ada dalam pribadi Yesus.

Sebelum magang di SABDA, saya jarang membaca Alkitab, selain ketika sedang mazbah keluarga. Namun, di SABDA, saya harus setiap pagi membaca dan merenungkan firman Tuhan walaupun awalnya saya melakukan semuanya itu dengan hati yang berat karena belum terbiasa. Namun, waktu terus berjalan dan saya pun mulai terbiasa dengan hal itu. Hasilnya, kebiasaan buruk yang selama ini berada dalam diri saya mulai hilang. Di satu sisi, saya mulai belajar dan membiasakan diri untuk membaca dan mempelajari firman Tuhan. Bagi saya, hal itu bukan hanya kebiasaan atau rutinitas, melainkan suatu kegiatan yang akan selalu memperbarui diri saya.

Inilah pengalaman perdana yang paling berkesan bagi saya selama magang di SABDA. Di SABDA, saya belajar banyak hal dan mendapatkan saudara-saudari yang baru. Selain itu, saya juga belajar bekerja sama dan mengusahakan kekompakan dalam dunia kerja. Kekompakan sangat dibutuhkan dalam hal ini karena masalah yang berat dapat diselesaikan dengan kerja sama dan kekompakan. Hal itu juga merupakan salah satu pengajaran yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan di tempat lain.

Kiranya cerita saya ini dapat mengingatkan kita semua betapa pentingnya firman Tuhan dalam kehidupan kita. Fiman Tuhan adalah kebenaran yang sejati sampai selama-lamanya. Tuhan memberkati.

Categories: PEPAK

Komentar