Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 2 hours 50 min ago

Berbagi Semangat Ayo PA di PPA Bahtera Kasih

Fri, 09/16/2016 - 08:05

Ayo PA di PPA Bahtera Kasih

Halo, pembaca setia blog SABDA (^-^)/, berjumpa kembali dengan saya, Hilda Debora.

Pada blog kali ini, saya akan berbagi pengalaman kedua saya mempresentasikan gerakan #Ayo_PA! kepada sahabat-sahabat cilik di PPA Bahtera Kasih pada Jumat, 9 September 2016. Saya berangkat bersama Mbak Santi, Mbak Indah, dan Lukas. Dalam roadshow kali ini, saya bertugas menyampaikan presentasi 1 mengenai manfaat dan bahaya media digital, Mbak Santi bertugas memberikan presentasi kedua tentang bagaimana ber-PA dengan menggunakan gadget, Mbak Indah bertugas sebagai MC, dan Lukas yang bertanggung jawab untuk dokumentasi. Awalnya, saya merasa tidak percaya diri karena saya tidak pernah presentasi di depan anak-anak. Namun, karena itu jugalah saya termotivasi untuk meng-upgrade diri agar memiliki kapasitas tersebut. Apalagi saya adalah mahasiswa pendidikan yang nantinya akan mengajar. Ini bisa menjadi kesempatan emas bagi saya untuk mengasah diri agar nantinya siap ketika terjun di dunia pendidikan.

Sebelum berangkat, kami terlebih dahulu dibekali dengan berbagai persiapan wajib dari SABDA seperti perbekalan presentasi, latihan presentasi di depan staf-staf lain, dan briefing singkat untuk roadshow kali ini. Briefing kami lakukan bersama Ibu Yulia selaku pemimpin YLSA dan juga Mbak Ayu sebagai penanggung jawab gerakan #Ayo_PA, yang sangat menolong kami dalam memikirkan secara matang segala persiapan dan keputusan yang bisa kami ambil ketika menghadapi kondisi-kondisi yang mungkin terjadi di sana nanti. Tepat pukul 15.00, kami sudah siap berangkat menuju lokasi PPA Bahtera Kasih. Di sana, kami berjumpa dengan para mentor yang sangat ramah dan sigap menolong kami melakukan persiapan. Kami juga sangat tersentuh ketika salah seorang anak bersedia dan senang hati untuk menolong kami membagikan traktat "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu", "Hatiku Rumah Kristus", dan kertas lirik lagu "Ayo PA" kepada teman-temannya. Sambil menunggu persiapan, saya bersama seorang mentor mencoba berlatih lagu "Ayo PA". Saya juga mengajak anak-anak yang sudah ada di dalam gereja untuk ikut berlatih lagu tersebut dan respons mereka pun sangat antusias, sampai-sampai mentor mengira acara presentasi kami sudah dimulai.

Sekitar pukul 16.00, mentor membuka acara dengan puji-pujian dan interaksi dengan anak-anak. Mereka sangat aktif dan antusias dalam mengikuti instruksi dari mentor mereka. Selanjutnya, acara diserahkan kepada Mbak Indah selaku MC, yang kemudian memberi perkenalan secara singkat tentang pelayanan SABDA. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan presentasi dari saya mengenai "Manfaat dan Bahaya Media Digital". Presentasi ini disambut dengan antusias oleh anak-anak PPA. Setelah sesi 1 selesai, presentasi kedua disampaikan oleh Mbak Santi. Dalam presentasi ini, Mbak Santi mengajak anak-anak untuk sadar bahwa PA itu penting dan menyenangkan. Di sela-sela presentasi, kami memutar video metode S.A.B.D.A untuk menjelaskan betapa simpelnya melakukan PA. Oh ya, selain itu, Mbak Indah sangat sigap bahkan sering berinteraksi dengan anak-anak, misalnya dengan memberi kuis untuk mem-follow up materi yang baru saja dipresentasikan, ketika terjadi transisi dari setiap sesi.

Meskipun masih sangat kecil, anak-anak PPA tersebut terlihat cukup memahami materi yang telah kami presentasikan. Bahkan, sesekali mereka mengangguk-angguk dan tertawa kecil, yang mengekspresikan kesadaran mereka akan fakta-fakta bahwa ternyata mereka adalah digital native, dan gadget mereka bisa digunakan untuk belajar firman Tuhan dan bertumbuh secara rohani. Semangat jargon "Gadgetku untuk pertumbuhan rohaniku dan teman-temanku" pun benar-benar terasa. Kami yakin, meskipun saat ini mereka belum memiliki gadget mereka sendiri, setidaknya semangat tersebut telah melekat dalam hati mereka.

Saya bersyukur untuk kesempatan ini. Semoga semangat Ayo PA yang telah kami bagikan bisa menjadi berkat dan mendorong mereka untuk memulai Pendalaman Alkitab dan menumbuhkan hati yang cinta akan firman Tuhan. Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

UMUR SABDA SPACE 9 TAHUN 12 MENIT

Thu, 09/08/2016 - 08:14

Oleh: Tante Paku*

Ada beberapa cara untuk menghitung umur anjing. Bagi mereka yang menggeluti dunia peranjingan pasti memahami cara menghitungnya, tetapi bagi yang konvensional hanya bisa memperkirakan bahwa umur anjing 1 tahun sama dengan 7 tahun umur manusia. Ada lagi yang berpendapat bahwa umur anjing jauh lebih cepat daripada umur manusia saat dua tahun pertama, yaitu tahun pertama anjing sebanding dengan 15 tahun umur manusia.

Kenapa saya memulai tulisan tentang Ulang Tahun SABDA Space yang ke-9 ini dengan mengaitkan umur anjing? Karena saat acara Kopdar, yang dibuka oleh blogger SS Love, ia menyinggung soal anjing. Ia dulu pernah diberi anjing mungil oleh Tante Paku. Blogger Wallcot juga pernah mendapat anjing yang sama mungilnya. Jadi, apakah usia sebuah situs itu bisa disamakan dengan umur seekor anjing?

Tentu saja tidak! Namun, ada kesamaan dalam sisi kedewasaan hidup di media maya ini. Umur 9 tahun bagi SABDA Space tentu sudah dewasa sekali dibandingkan 1 atau 3 tahun pertama sejak di-publish sebagai media yang ingin mewadahi blogger Kristen Indonesia di dunia ini.

Terbakar

SABDA Space sudah melewati masa-masa akil balik yang penuh konflik, banyak suka duka dari para bloggernya, atau sering disebut Blossaser itu. Saat itu, SABDA Space bisa disebut sebagai website Kristen yang paling ramai di dunia, dari pagi sampai pagi lagi selalu ada usernya yang online dan berinteraksi. Saking ramainya, mereka menyebutnya sebagai Pasar Klewer. Apakah sebutan itu membawa berkah?

Pasar Klewer terbakar, sama seperti situs SABDA Space yang ikutan terbakar, adminnya pun ikut kebakaran janggutnya karena tidak punya jenggot. Para blogger senior tak ada titik temu dengan pengelola situs ini, akhirnya banyak yang tidak menulis lagi di SABDA Space atau mengambil cuti untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. SABDA Space pelan-pelan pasti mulai sepi. Hingga akhirnya menginjak usia ke-9 ini SABDA Space sepertinya merindukan kembali saat-saat ramai, tetapi diharapkan ramai dalam kasih, bukan ramai penuh maki, bisakah harapan itu terwujud?

Saya sendiri baru pertama ini menginjak Griya SABDA, sempat kesasar tetapi sebentar, untuk menghadiri Kopdarnas (Kopi Darat Nasional) di ulang tahunnya yang ke-9 ini. Walau tidak banyak yang hadir dari para blogger seniornya, mungkin pemilihan waktu yang kurang pas karena memang bukan hari libur, jadi pesertanya banyak yang tidak bisa datang. Mungkin di lain waktu ada hari-hari yang bisa mempertemukan blogger SABDA Space yang tersebar di berbagai penjuru itu.

12 Menit

Saya baru kali ini paham apa itu presentasi ala TED (Technology, Entertainment, Design). Sebelumnya, saya diminta untuk membuat presentasi ala TED, tetapi saya masih kurang "ngeh". Karena kesibukan pekerjaan, saya memang tidak terlalu memikirkan hal itu. Kopdarnas yang berlangsung pukul 15.30 itu dibuka blogger senior Love, ditemani yuniornya yang sering dipanggil Ariel.

Nyanyi lagu rohani dengan menggubah salah satu kalimatnya menjadi kata SABDA Space membuka acara, dan doa yang dipimpin blogger Victor melengkapinya.

Beberapa blogger pun melakukan sesi TED sesuai dengan keahliannya, mulai dari blogger Okti, Tante Paku, Aji, Purnawan Kristanto, Victor, Liza, Iik J, Sadrah, Ayu, dan Tika.

Karena cukup banyak yang didaulat untuk membagikan pengetahuannya, masing-masing hanya diberi waktu selama 12 menit. Bagi saya itu sudah cukup, mengingat banyaknya blogger yang ditampilkan dalam TED itu, walau secara pengetahuan masih banyak yang belum dikeluarkan oleh para pembicara.

Blogger SABDA Space yang terjauh datang dari Malang, tetapi pihak panitia sudah menyediakan tempat menginap bila memang ingin menginap. Dan, acara akhirnya ditutup dengan makan malam bersama, istilahnya pesta kebun secara sederhana.

Ada rencana setiap 4 bulan sekali ada temu blogger SABDA Space dengan tempat yang bisa dirundingkan nantinya, hal ini untuk lebih mempererat tali kasih persaudaraan para blogger di komunitas ini. Tentu saja, saya harapkan kopdar 4 bulanan itu tidak harus diikuti oleh blogger dari SABDA Space saja, tetapi bisa dari SABDA Space Teens atau blogger dari luar yang barangkali bisa ikut membagikan ilmunya buat kita semua. Tidak terbatas usia lho, yang muda pun harus tampil dengan pengetahuan kekiniannya itu, sebab blogger senior lebih ahli dalam kekunoannya ha ha ha ha ha ha .......

Semoga saja di ulang tahun SABDA Space yang ke-9 ini, pengurus/admin situs bisa menata kembali situsnya agar lebih mudah di akses, tidak sering down, fleksibel dalam term and conditionnya, dan bisa bijak memperhatikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi semua penggunanya.

Salam.

Categories: PEPAK

SABDA Berpartisipasi dalam Lausanne Young Leaders Gathering 2016

Wed, 09/07/2016 - 09:01

Puji syukur bahwa pada acara Lausanne Young Leaders Gathering (YLG), yang diadakan setiap 10 tahun sekali ini, atas providensia Allah, Jakarta terpilih sebagai tempat penyelenggaraan #YLG2016 dan tim SABDA bisa ikut terlibat. Keterlibatan SABDA dalam penyelenggaraan YLG ini pun saya kira bukan suatu kebetulan. Acara #YLG2016 yang diselenggarakan tanggal 2 --10 Agustus 2016 diikuti oleh lebih dari 1.200 pemimpin Kristen dari 160 negara, dengan tajuk "United in the Great Story" atau "Bersatu di Dalam Kisah Agung" ini. Gerakan Lausanne yang dimulai oleh Billy Graham, John Stott, Ralph Winter, Francis Schaeffer, dan pemimpin-pemimpin Injili lainnya adalah gerakan yang bertujuan untuk menjadi fasilitator bagi para pembuat perubahan dan pemikir-pemikir Kristen bagi penginjilan di seluruh dunia, dan meletakkan dasar bagi Ikrar Lausanne, sebuah momen penting bagi gerakan pengabaran Injil global.

Dalam acara #YLG2016, ada 150-an sukarelawan yang membantu agar pertemuan selama 8 hari ini berjalan dengan baik. Saya terlibat dalam anggota tim pendukung teknologi yang hanya beranggotakan sekitar 10 orang. Tugas khusus kami adalah memastikan bahwa setiap peserta yang hadir dapat memasang dan menggunakan aplikasi "Connector", yaitu sebuah aplikasi (iOS dan Android) yang khusus digunakan dalam #YLG2016 ini. Walaupun para peserta telah diminta untuk memasang aplikasi ini jauh-jauh hari sebelum mereka datang ke Jakarta, tetapi sekitar 1/3 dari mereka belum memasangnya pada hari pertama pertemuan. Hari pertama dan kedua adalah hari tersibuk, karena kami harus memasang dan melayani pertanyaan serta kesulitan-kesulitan dari ratusan peserta. Setelah semua telepon pintar peserta terpasang aplikasi tersebut, tugas utama kami berikutnya adalah berjaga di meja "Connect Point" yang merangkap sebagai meja untuk mengisi ulang baterai. Selain itu, apabila ada tim sukarelawan lain yang memerlukan bantuan, misalnya tim konsumsi, maka kami pun turun tangan untuk membantu. Beberapa peserta juga memerlukan bantuan yang sebenarnya di luar tugas kami, misalnya kalau ada peserta yang sakit (cukup banyak), dan sekali dua kali kami membantu mengantar mereka ke klinik atau mencarikan kendaraan untuk kembali ke hotel. Pada hari pertama, kami membantu mengangkat koper mereka ke kamar, dan kembali membantu ketika akan kembali ke negara mereka. Pada hari terakhir, saya juga sempat membantu mencarikan taksi daring untuk mengantar ke bandara.

Beberapa kendala yang sempat timbul, antara lain peserta tidak membawa atau tidak memiliki telepon pintar Android atau iOS. Selain itu, karena berasal dari berbagai negara, banyak yang tidak fasih berbahasa Inggris, dan ada yang hanya bisa berbahasa Perancis, Portugis, Korea, Tionghoa, dll.. Untung kendala-kendala tersebut dapat diatasi oleh para sukarelawan. Untuk jalannya acara, kami sangat bersyukur dapat mengikuti sesi-sesi yang sangat menggugah, yang dibawakan oleh tokoh-tokoh Injili dunia, seperti Ravi Zacharias, David Platt, Nick Hall, Os Guiness, Becky Pipert, dan juga bertemu, berinteraksi, bercakap-cakap dengan puluhan bahkan ratusan pemimpin muda dari seluruh dunia yang Tuhan pakai, perlengkapi, dan utus untuk menyelesaikan Amanat Agungdi tempat mereka berada.

Secara keseluruhan, saya sangat terkesan dan belajar banyak dari penyelenggaraan acara ini yang sangat rapi dan profesional. Acara ini berjalan baik bukan hanya karena sudah dipersiapkan selama 3 tahun, tetapi juga tidak terhitung berapa banyak pendoa yang sudah mendoakan acara ini. Melalui acara ini, mata saya juga kembali dibukakan bahwa Allah masih terus aktif bekerja di seluruh dunia, bahkan di negara-negara yang tampaknya tertutup ternyata masih ada anak-anak Tuhan yang dipakai oleh-Nya untuk mengabarkan Injil di sana. Melihat mereka dan mendengar sendiri kesaksian-kesaksian saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, saya seperti mendapat konfirmasi dari Allah bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan sebelum Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Saya berharap para "atlet-atlet Tuhan" ini 1 pulang ke tempat mereka masing-masing dengan api yang semakin berkobar-kobar 2 untuk memberitakan Injil dan menjadi pemimpin-pemimpin yang membawa perubahan di sekitar mereka.

*1 2 Timotius 2:5
*2 Roma 12:11

Categories: PEPAK

Malam Mingguan dengan #Ayo_PA!

Tue, 09/06/2016 - 11:58

Sabtu lalu (27 Agustus 2016), saya dan teman-teman satu tim, Kak Evie (MC), Kak Ros (Presenter 2), Kak Ody (dokumentasi), dan kak Hadi (Perlengkapan dan video) berkesempatan untuk memberikan materi presentasi ayo PA kepada gabungan pemuda Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Surakarta. Setibanya di GKMI Solo, format acara sebenarnya adalah ibadah gabungan dari pemuda gereja GKMI se-Solo. Kami tiba di sana sekitar pukul 6 sore, kami masuk satu gedung di depan gereja yang biasa dipakai untuk ibadah pemuda dan sekolah minggu, dan kami mulai menata booth dan bahan yang sudah kami bawa. Puji Tuhan, kami disambut ramah oleh hamba Tuhan setempat, Ibu Rotua beserta suaminya Bapak Widodo, dan beberapa teman-teman remaja dan pemuda di sana. Setelah beberapa remaja dan pemuda menampakkan diri, beberapa orang dari tim kami menawarkan untuk install aplikasi Alkitab bagi teman-teman remaja dan pemuda. Beberapa ada yang bersedia, beberapa ada yang enggan, dan beberapa tidak bawa HP.

Acara ibadah dimulai dan kami turut bergabung di dalamnya. Bersyukur bisa beribadah dengan teman-teman baru di GKMI. Setelah beberapa lagu pujian, waktu yang diberikan kepada kami pun tiba. MC dari tim kami, Kak Evie, maju dan mulai menyampaikan pendahuluan dan perkenalan di awal. Ya, memang ada kesulitan tersendiri ketika menghadapi anak-anak remaja. Beberapa anak mulai bertingkah dan membuat sedikit ulah. Namun, kami bersyukur karena MC kami adalah seorang yang sudah berpengalaman. Dengan dibantu beberapa teman, maka beberapa kesulitan tersebut bisa teratasi. Kak Evie juga mengajarkan teman-teman remaja GKMI untuk menyanyikan lagu "Ayo PA", kami bernyanyi bersama, dan kami bisa!

Setelah selesai perkenalan, tibalah waktunya bagi saya untuk menyampaikan presentasi sesi 1 mengenai "Siapakah Generasi Digital?" Sesi satu membutuhkan waktu sekitar 15 -- 20 menit. Berlanjut ke sesi 2 yang di presentasikan oleh Kak Ros mengenai "PA Generasi Digital Abad 21". Waktu yang dibutuhkan lebih lama karena langsung diisi dengan latihan memakai aplikasi Alkitab dan PA dengan metode S.A.B.D.A. Sementara Kak Ros menyampaikan materi dan memberi kami instruksi untuk mencoba, saya, Kak Evie, Kak Ody, dan juga Kak Hadi menolong beberapa teman remaja untuk menggunakan Alkitab, dan mereka sangat bisa untuk belajar dengan cepat. Mereka adalah Anugerah yang harus gereja lihat dengan hati yang penuh belas kasih dan harapan. Ya, walau Kak Ros sedikit mengalami kesulitan menyampaikan materi karena beberapa anak sudah mulai bosan, kami selesaikan hingga akhir. Bersyukur, ada beberapa pengurus gereja dan ketua majelis juga hadir saat itu, juga bersyukur ada 10 pemuda dari Lampung boleh ikut dalam sesi Ayo PA dan melihat peluang besar yang bisa menolong generasi masa depan gereja ini. Beberapa orang sempat memberikan testimoni, dan mereka menangkap inti materi yang sudah kami bawa.

Kami sudah melakukan dengan maksimal, selanjutnya kami memohon belas kasih Tuhan untuk menolong mereka, pribadi lepas pribadi. Saya pribadi memiliki kerinduan besar, gereja harus kembali kepada kebenaran Alkitab dan generasi muda gereja harus ditolong untuk berteman dengan Alkitab dan hidup bersamanya. Mari bergerak menolong dan menjangkau setiap jiwa, #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Pelayanan SABDA di STBI Semarang

Tue, 09/06/2016 - 11:37

Pada tanggal 10 -- 11 Agustus 2016, tim SABDA mendapat undangan ke STBI Semarang untuk mengikuti acara yang diadakan oleh Sinode Baptis. Saya dan Mbak Indah, berangkat dari Solo sehari sebelumnya guna mempersiapkan booth SABDA yang akan dibuka selama acara berlangsung. Pukul 9 malam, kami tiba di STBI. Setelah mendapat kamar untuk menginap di STBI, kami langsung mempersiapkan booth SABDA untuk mendisplay produk-produk SABDA. Kami bersyukur mendapatkan tempat yang cukup strategis, yaitu di sebelah pintu keluar aula. Harapan kami, booth SABDA bisa melayani semua peserta yang hadir, yang membutuhkan bahan-bahan digital untuk memperlengkapi pelayanan mereka.

Acara ini diadakan dalam rangka Ulang Tahun ke-45 gabungan gereja-gereja Baptis Indonesia yang jatuh pada tanggal 10 Agustus. Pagi itu, para peserta, yang adalah hamba-hamba Tuhan gereja Baptis dari berbagai daerah, mulai berdatangan. Ada beberapa orang yang sebelumnya sudah menggunakan bahan-bahan dari SABDA dan menceritakan pengalamannya kepada kami. Selain SABDA, ada beberapa mitra pelayanan lain yang juga membuka booth, seperti IOTA Project, Gereja Baptis Kediri, dan beberapa organisasi pelayanan lain. Kami senang sekali bisa melayani hamba-hamba Tuhan dan mahasiswa teologi yang mampir di booth SABDA. Beberapa peserta merasa terberkati dengan bahan-bahan yang mereka terima, baik bahan berupa CD Alkitab audio, DVD bahan-bahan pelayanan, maupun aplikasi-aplikasi yang kami install ke HP mereka. Menariknya, karena saya dan Indah tidak bisa melayani semua pengunjung booth sekaligus, ada seorang mahasiswa dari STBI yang dengan sukarela menolong kami untuk melakukan instalasi aplikasi-aplikasi untuk belajar Alkitab ke HP teman-temannya. Puji Tuhan!

Keesokan harinya, acara ulang tahun Gabungan Gereja-gereja Baptis ini dilanjutkan dengan Seminar Misi Internasional. Hari itu, Ibu Yulia dan Liza datang dari Solo naik bis untuk bergabung dengan kami. Pada kesempatan itu, Ibu Yulia mendapat kesempatan untuk membawakan presentasi "Mission in the Digital Era". Beliau menyampaikan dua tantangan bagi gereja, khususnya gereja-gereja Baptis. Pertama, mengapa gereja belum memanfaatkan teknologi bagi kemajuan misi? Terlebih di era digital saat ini, yang selain telah mengubah cara orang bekerja, berkomunikasi, cara melayani misi seharusnya juga berubah. Memang terasa bahwa alat-alat digital pada umumnya masih dipakai sebatas kebutuhan pribadi. Tantangan kedua, mengapa gereja belum mempersiapkan diri menyambut "generasi-Z" atau generasi "digital native", yang adalah aset masa depan gereja. Sikap gereja terhadap teknologi digital memberikan dampak yang besar pada penerimaan generasi digital (generasi Z) di gereja. Pada tahun 2020, generasi Z akan memasuki usia produktif (20-25 tahun), apakah gereja akan memberi tempat kepada mereka untuk terlibat dalam kepemimpinan gereja? Beberapa peserta mengakui bahwa mereka memang kurang memikirkan pelayanan untuk generasi digital ini. Melalui presentasi "Misi di Era Digital", peserta, yang sebagian besar adalah para pemimpin gereja, mendapatkan pandangan baru tentang keberadaan dunia digital sebagai ladang misi yang harus segera digarap. Jika gereja tidak memikirkan hal ini, tanpa disadari, hanya generasi "digital imigrant" saja yang akan duduk di bangku-bangku gereja. Akibat yang paling buruk adalah, gereja akan kehilangan satu generasi yang seharusnya menjadi tumpuan gereja masa depan.

Demikianlah rangkuman dari pengalaman selama dua hari di STBI Semarang. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman serta relasi yang saya dapatkan dari acara tersebut. Kiranya apa yang dibagikan dapat menjadi berkat dan nama Tuhan dimuliakan. IT4GOD!

Categories: PEPAK

Hai Pemuda … #Ayo_PA!

Fri, 09/02/2016 - 10:30

Hari Jumat, 8 Agustus 2016 yang lalu, saya bersama dengan teman-teman dari SABDA yang beranggotakan 7 orang beroleh kesempatan berharga untuk melakukan presentasi tentang gerakan #Ayo_PA! kepada para siswa Kristen di SMAN 5 Surakarta. Kami sudah melakukan beberapa persiapan penting sebelumnya, kami benar-benar memastikan tim kami siap untuk melakukan tugas. Setelah itu, kami berangkat menuju lokasi yang biasa dipakai untuk mereka beribadah setiap hari Jumat sepulang sekolah, tempat itu adalah sebuah Gereja Kristen Jawa. Acara dimulai pukul 12.00, waktu yang biasa mereka pakai untuk kegiatan ibadah PSKS (Persekutuan Siswa Kristen Surakarta). Kami datang satu jam lebih awal untuk mempersiapkan tempat dan segala perlengkapan yang akan kami pakai.

Satu keadaan yang unik ketika kami tiba, kami disambut anak-anak kecil yang berada di depan pintu gereja yang tertutup. Mereka adalah anak-anak SD di sebelah gereja yang menunggu untuk dijemput oleh orangtua mereka atau sekadar ingin berkumpul dengan temannya. Singkat cerita, ketika kami mulai menata meja booth dengan bahan-bahan yang kami bawa seperti audio Alkitab, traktat, brosur, dan lain sebagainya, anak-anak ini tertarik dan mulai mendekat, bahkan bertanya banyak tentang sesuatu yang kami bawa. Syukur kepada Tuhan, tadinya saya tidak peduli dengan kehadiran mereka, tetapi saya mulai menyadari suatu hal yang penting ketika mereka mulai mengambil traktat "Hatiku Rumah Kristus", sebagian besar dari mereka bukan anak-anak Kristen. Saya sayup-sayup mendengar obrolan mereka, beberapa anak sangat suka dengan traktat bergambar yang memang dibuat untuk anak-anak. Bersyukur sekali, hati saya kembali tergerak untuk bergumul bagi generasi mendatang.

Waktu mulai menunjukkan pukul 11.30 lebih, beberapa anak kecil tadi sudah mulai menghilang dan bergantian dengan anak-anak SMA yang mulai datang dengan berseragam pramuka sampai hampir memenuhi kursi di dalam gereja. Pukul 12.00 lebih akhirnya ibadah dimulai, diawali dengan beberapa lagu pujian. Setelah itu, akan ada sesi renungan, yang nantinya akan diisi oleh tim kami dengan melakukan presentasi Ayo PA. MC dari tim kami mulai maju dan mulai memimpin para siswa untuk belajar lagu mars #ayo_PA! Setelah mereka selesai menyanyikan lagu, peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu di ruang atas dan ruang bawah. Saya mendapat bagian untuk kelas yang di bawah, diawali dengan presentasi sesi 1 yang mengenalkan tentang siapa diri mereka dalam zaman digital ini. Presentasi yang kedua, yang saya sampaikan, adalah PA (Pemahaman Alkitab) untuk generasi digital (bahan yang disampaikan dalam presentasi 1). Bersyukur sekali melihat antusias teman-teman siswa SMAN 5 Surakarta dalam mengikuti presentasi sesi satu dan dua. Waktu yang disediakan kepada kami sangat pas, tetapi kami bersyukur bisa menyelesaikannya tepat waktu. Semua dikerjakan dengan baik, bahkan hari itu juga peraturan yang telah lama diterapkan kepada siswa, yaitu siswa dilarang membuka Alkitab digital dalam persekutuan tersebut, telah sah dihapus oleh guru pengampu mereka. Beliau juga memiliki kerinduan yang besar dan merekomendasikan supaya tiap siswa memakai berbagai macam aplikasi yang sudah dikembangkan oleh YLSA sebagai bahan pendukung belajar dan diskusi firman Tuhan.

Hari ini, jika Tuhan masih memberi kesempatan untuk kita melayani banyak orang, hal itu adalah kesempatan yang patut kita perjuangkan, terlebih membagikan semangat untuk generasi muda agar mencintai Alkitab dan berteman baik dengannya. #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Diskusi Facebook Grup e-BinaAnak “Mewujudkan Gereja Ramah Anak”

Thu, 09/01/2016 - 12:56

Dalam suasana memperingati Hari Anak Nasional 2016, Yayasan Lembaga SABDA mengadakan diskusi grup e-BinaAnak di Facebook yang dijalankan oleh tim Pendidikan Kristen.

Diskusi ini diikuti oleh 17 orang yang terlibat dan aktif dalam pelayanan anak. Salah satunya adalah saya. Bagi saya sendiri, mengikuti diskusi ini sangat memberkati. Tidak hanya diperkaya dengan artikel yang telah di-posting moderator, tetapi setiap sharing dari para peserta sangat memperkaya saya untuk melihat pentingnya mewujudkan gereja yang ramah anak. Artikel ini mengajak seluruh anggota grup untuk mendeskripsikan, menganalisa, dan menerapkan gereja yang ramah anak. Tujuan dari gereja yang ramah anak ini adalah kita (gereja) bisa terlibat dengan anak-anak, dengan cara memulai dari diri sendiri, mengetahui posisi kita, temukan tempat di mana kita bergabung, dan melibatkan diri dalam pelayanan anak. Gereja yang ramah anak bukan hanya tugas segelintir guru sekolah minggunya saja, semua jemaat perlu terlibat dalam mewujudkan gereja yang ramah anak.

Pembahasan yang sangat menarik bagi saya adalah pembuatan program yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Hal ini sangat mendorong GSM untuk memikirkan apa kebutuhan anak dan bagaimana memberikan materi ajar yang menjawab kebutuhan anak. Nah, apa yang hendak dicapai sangat perlu diimplementasikan dalam sebuah kurikulum. Mendiskusikan hal ini, membuat saya dan beberapa peserta menyadari bahwa kepentingan pertama bukanlah anak-anak yang hadir ke sekolah minggu, tetapi sudahkah kebutuhan anak akan firman Allah terpenuhi. Sangat penting memperhatikan kualitas para guru sehingga gereja atau departemen anak tidak hanya asal merekrut GSM. GSM perlu diberikan training untuk mengembangkan diri dan melayani anak dengan penuh tanggung jawab.

Selanjutnya, kami juga mendiskusikan topik mengenai "Masa Depan Gereja dan Teknologi (5, 10, 25 Tahun dari Sekarang"). Dalam topik ini, kami diingatkan bahwa anak yang kami ajar adalah para generasi Z. Generasi yang lahir di zaman teknologi menggunakan jarinya untuk mendapat semua informasi yang dibutuhkan. Namun, masih banyak gereja maupun GSM yang gagap teknologi. Hal ini juga menjadi kecemasan tersendiri bagi saya karena anak-anak yang saya layani sudah berkembang sedemikian rupa dan menggunakan berbagai gadget di tangannya, sedangkan para guru masih bergumul dengan metode dan media konvensional dalam mengajar. Inilah PR bagi gereja dan pelayan untuk memaksimalkan teknologi dalam memperlengkapi anak-anak untuk mengenal Tuhan.

Anak tidak hanya pribadi yang dilahirkan, kemudian dibiarkan begitu saja. Anak adalah domba-domba kecil Allah. Anak adalah pribadi yang harus dididik, diajar, dan dituntun untuk mengenal Allah, bertumbuh dalam Kristus, dan dewasa dalam pengajaran Alkitab yang benar. Sebagai pelayan anak, janganlah kita patah semangat. Mari, tetap bersemangat untuk melayani anak-anak layan kita dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Wujudkan gereja yang ramah anak dimulai dari diri sendiri, dan tularkan itu kepada lebih banyak orang. Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

Staf YLSA Mengikuti Training Leadership “Thinking for a Change”

Thu, 09/01/2016 - 11:24

Oleh: Bara*

Training Leadership kembali diadakan oleh EQUIP dan TOTAL pada tanggal 30 -- 31 Juli 2016 yang lalu dengan tema "Thinking for a Change". Ini kali kedua saya mengikuti training leadership yang didasarkan dari buku dan modul dari John C. Maxwell setelah Januari 2016 yang lalu. Waktu itu, saya beserta tim Exodus diutus YLSA untuk mengikuti training leadership bersama dengan beberapa staf YLSA . Seperti yang lalu, training ini diadakan selama dua hari dengan membagi materi ke dalam enam sesi training yang dibawakan secara bergantian oleh Pak Paulus Winarto dan Pak Sunjoyo.

Pada training ini, dibahas 11 cara berpikir yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk dapat memikirkan mengenai perubahan. Kesebelas cara berpikir tersebut adalah:
1. Berpikir mengenai gambar besar.
2. Cara berpikir terfokus.
3. Cara berpikir kreatif.
4. Cara berpikir realistis.
5. Cara berpikir strategis.
6. Cara berpikir probability.
7. Cara berpikir reflektif.
8. Cara berpikir populer.
9. Shared Thinking.
10. Cara berpikir yang tidak egois.
11. Cara berpikir mengenai keuntungan.

Bagian yang tidak kalah menarik dari penjabaran dan pembahasan mengenai masing-masing cara berpikir adalah suatu pengertian mengenai "mengubah cara berpikir kita" yang menjadi landasan ketika kita melatih diri dalam mengembangkan kesebelas cara berpikir tersebut. Saya sangat setuju dengan hal-hal inti yang diberikan pada awal training bahwa mengubah cara berpikir itu tidak terjadi secara otomatis, tetapi membutuhkan perjuangan, proses, waktu, dan membutuhkan usaha yang keras karena mengubah cara berpikir adalah suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Sekalipun demikian, memutuskan untuk mengubah cara berpikir kita merupakan suatu investasi yang layak dan harus dilakukan. Mengubah cara berpikir kita berarti mengubah keyakinan, ekspektasi, sikap, perilaku, performa, dan bahkan mengubah kehidupan kita. Membangun suatu cara berpikir yang baik, yang dapat memberikan perubahan positif pada diri kita sendiri dan orang lain, tentu sangat memberkati dan layak diperjuangkan, bahkan dimiliki oleh setiap orang.

Rekan-rekan saya yang lainnya dari SABDA yang mengikuti training ini, yaitu Liza, Evie, Hadi, Ayub, dan Tika telah menyampaikan pula materi ini kepada rekan-rekan di SABDA. Selama hampir 2 jam, mereka bergantian mempresentasikan materi tersebut agar teman-teman yang lain juga mendapatkan berkat dan bisa mengaplikasikannya dalam pelayanan di SABDA.

Categories: PEPAK

Roadshow #Ayo_PA di Sekolah Kristen Kalam Kudus

Fri, 08/26/2016 - 08:32

Pada tanggal 19 Juli 2016, SABDA mendapat kesempatan untuk mengisi sesi di acara MOS (Masa Orientasi Siswa) yang diadakan oleh SMA Kristen Kalam Kudus, Solo Baru. Tim yang berangkat ke sana ada saya, Ibu Yulia, mbak Evie, Andreas, mbak Ayu, dan Ria. Kami datang di sana sekitar pukul 07.45 pagi. Sesampainya di sana, kami diantar oleh Pak Hendik ke lantai 2. Sambil menunggu sesi sebelumnya selesai, kami mempersiapkan booth SABDA. Setelah sesi sebelumnya selesai, para peserta diberi waktu untuk break sekitar 15 menit. Mereka keluar dan beberapa dari mereka mulai datang mengunjungi booth kami. Para guru pun juga ada yang mengunjungi booth kami.

Kami berbagi tugas, ada yang membantu Ibu Yulia mempersiapkan hal teknis untuk presentasi, ada yang menjaga booth dan ada yang meng-install aplikasi yang dibutuhkan untuk sesi nanti.

Presentasinya tentang "PA Generasi Digital Abad 21". Presentasi ini dibawakan oleh Ibu Yulia. Para siswa-siswi yang ada sekitar 120 anak. Ada juga para guru yang menemani muridnya dan ikut mendengarkan presentasi.

Di tengah-tengah presentasi, Bu Yulia berinteraksi dengan peserta dan mengajak mereka menggunakan HP yang ada untuk bermain game. Gamesnya adalah lomba mengetik cepat! Namun, tidak semua peserta membawa HP karena peraturan sekolah memang tidak mengizinkannya. Karena itu, hanya ada sekitar 20 -- 25 HP yang dapat digunakan. Sebelumnya, HP tersebut di-install aplikasi Telegram dan account mereka dikumpulkan pada 1 grup di Telegram. Mereka diminta mengetikkan 1 kalimat dan dikirim pada grup tersebut. Pada layar LCD satunya dibuka aplikasi chat Telegram tersebut via web, maka yang lain dapat melihat secara real time siapa yang mengetik tercepat. Selain games ini Bu Yulia juga mengajak peserta untuk lomba mencari arti suatu kata di dalam Aplikasi Kamus.

Di akhir presentasi, kita bersama-sama menyanyikan lagu "Ayo PA". Mereka bersemangat sekali saat kita ajarkan lagu ini. Bahkan, mereka sampai meminta untuk mengulangnya beberapa kali.

Bersyukur bisa mengikuti roadshow kali ini. Semoga apa yang sudah dibagikan boleh menjadi berkat bagi mereka.
Soli deo Gloria!

Categories: PEPAK

Berbagi Kerinduan untuk Mencintai Firman Tuhan kepada Digital Natives GKI Mojosongo

Fri, 08/19/2016 - 08:29

Setelah hampir dua tahun tidak melakukan presentasi di luar kantor YLSA, akhirnya tiba juga waktunya bagi saya untuk melakukan presentasi dalam pelayanan roadshow #Ayo_PA! Bersama dengan Tika sebagai partner presentasi, Ayu yang bertugas sebagai MC, dan Lukas yang akan merekam jalannya acara, kami pun melakukan briefing dengan tim roadshow #Ayo_PA di SMP Kalam Kudus pada hari Jumat setelah acara Persekutuan Doa selesai. Esoknya, pada Sabtu sore yang (untungnya) cerah itu, kami bertiga berangkat ke TKP di kawasan Ring Road Mojosongo. Acara presentasi Ayo_PA kali ini akan kami lakukan dalam Persekutuan Pemuda GKI Mojosongo.

Ternyata, tim kami adalah orang-orang pertama yang tiba di tempat acara. Kami sempat menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya dua orang peserta persekutuan datang dan membukakan pintu bagi kami. Setelah berkenalan dan mengobrol sejenak dengan keduanya, kami pun langsung mempersiapkan tempat dan alat-alat yang akan kami gunakan untuk presentasi. Acara yang seharusnya berlangsung pukul 18.00 pun akhirnya harus mundur karena peserta yang lain belum hadir. Mulai pukul 18.15, satu per satu peserta mulai berdatangan, hingga akhirnya terkumpul sampai 10 orang peserta. Dalam obrolan kami dengan para peserta yang rata-rata sudah duduk di bangku kuliah, ternyata banyak dari mereka yang belum mengenal YLSA dan menggunakan produk-produk SABDA. Tanpa membuang kesempatan, Ayu kemudian membantu semua peserta yang membawa smartphone untuk mengunduh beberapa aplikasi Android SABDA seperti Alkitab, Alkitab PEDIA, Kamus, Tafsiran, dan Peta.

Pukul 18.30, acara dimulai dengan lagu pembuka serta sharing dari beberapa orang yang ditunjuk oleh MC dari pihak persekutuan. Setelah sharing dan doa untuk persiapan firman, MC pun menyerahkan acara kepada tim SABDA. Ayu segera mengambil alih kesempatan dengan memperkenalkan Tim SABDA dan memberi sedikit pengantar untuk presentasi kami mengenai pentingnya ber-PA. Setelah itu, saya memulai presentasi "PA untuk Generasi Digital" yang membahas mengenai pentingnya PA untuk pertumbuhan rohani para digital native serta pemahaman bahwa gawai yang mereka miliki dapat menjadi alat untuk ber-PA dan bertumbuh secara rohani. Sekitar 15 menit saya membawakan presentasi yang juga diselingi dengan video itu, sebelum akhirnya tiba giliran Tika untuk memberi presentasi tentang PA dengan metode SABDA beserta tutorial untuk menggunakan aplikasi SABDA dalam ber-PA. Selama presentasi, kami juga membagikan brosur aplikasi Android SABDA, Anda Punya Waktu, dan traktat "Hatiku Rumah Kristus" serta "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu" kepada semua yang hadir.

Sedikit peserta ternyata tidak selamanya berarti buruk. Jumlah peserta yang hanya sepuluh orang ternyata juga memiliki keuntungan tersendiri. Selain semua peserta dapat menerima apa yang kami sampaikan secara fokus, mereka juga dapat dengan mudah mengikuti instruksi yang diberikan Tika saat mencoba mempraktikkan instruksi dari tutorial aplikasi Android SABDA. Dari tanggapan yang mereka berikan, kami dapat merasakan bahwa apa yang kami berikan akan menjadi sesuatu yang berguna bagi mereka. Dan, yang paling penting, mereka kini dapat mengetahui bahwa gawai yang mereka miliki ternyata dapat menjadi media yang sangat berguna untuk semakin mencintai Tuhan dan firman-Nya.

Senang rasanya bisa mendapat kesempatan untuk melayani dan mengenal kelompok digital natives dari GKI Mojosongo ini. Kiranya apa yang sudah kami taburkan dalam hati dan pikiran mereka pada malam itu akan terus berkembang dan pada akhirnya menghasilkan buah-buah yang manis bagi kemuliaan Tuhan.

Sampai jumpa lagi di Roadshow di tempat yang berbeda!

Categories: PEPAK

Bereksplorasi dengan Metode S.A.B.D.A.

Mon, 08/15/2016 - 12:22

Bagi saya, beradaptasi dengan hal baru tidaklah menyenangkan, lebih seringnya malah menyusahkan karena harus belajar banyak hal supaya bisa bertahan. Beda dengan adaptasi saya kali ini. Sangat menyenangkan! Penasaran 'kan?

Selama bertahun-tahun, biasanya kalau saya melakukan pendalaman Alkitab (PA) hanya dengan menggunakan Alkitab versi cetak. Diawali dengan Alkitab yang berwarna biru muda, yang isinya Perjanjian Baru saja, lalu akhirnya punya juga Alkitab yang cover-nya berwarna hitam yang isinya sudah lengkap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Karena sudah bertahun-tahun, ya nyamanlah, plus asyik karena bisa corat-coret ayat dengan stabilo. Kini ... jelas beda! Perkembangan teknologi membuat PA menjadi lebih praktis dan menyenangkan. Ada Alkitab di gawaiku! Tidak setebal dan seberat Alkitab versi cetak ... hehe! Asyiknya lagi, ada aplikasi penunjang belajar Alkitab yang sudah terintegrasi di dalamnya, seperti Alkitab PEDIA, Tafsiran, Kamus Alkitab, dan Peta . Meski fasilitas PA berbeda, saya senang-senang saja tuh melakukannya ... bisa beradaptasi dengan cepat sekalipun saya bukan digital native.

PA itu penting, sepenting kita bernapas. Jadi, harus dilakukan terus-menerus. Karena itu, sebagai salah satu staf YLSA, saya sangat bersyukur karena di YLSA selalu memberi kesempatan kepada seluruh staf untuk melakukan PA setiap Selasa -- Kamis pagi. Sudah lebih dari 2 bulan ini, kami melakukan PA dengan menggunakan metode S.A.B.D.A., sebuah metode yang mencakup Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, dan Aplikasi. Dengan anggota kelompok PA masing-masing, kami mencoba untuk menerapkan metode ini. Pertama kali PA dengan metode ini, saya satu kelompok dengan Mbak Okti , Ariel , Ody, dan Pio. Awalnya, memang kami masih agak kikuk dengan metode ini, terutama pada langkah Simak dan Analisa, masih tercampur-campur dan bingung membedakannya. Puji Tuhan, karena cukup sering menggunakan metode ini, kami mulai terbiasa. Akhirnya, kami menemukan pola yang nyaman untuk diterapkan. Hore!!

Ketika melakukan Simak, kami membaca perikop dari berbagai versi, baik TB , AYT , BIMK, KJV, bahkan bahasa Jawa. Bisa juga lho dengan mendengarkan audio Alkitabnya. Dari langkah tersebut, kita akan bisa menemukan struktur, suasana, peristiwa, dll. sehingga kita akan memahami konteksnya. Selanjutnya, dalam Analisa, kita bisa melakukan pembelajaran lebih dalam lagi dengan meneliti kata-kata penting, kata-kata sulit, kata yang diulang-ulang, dengan melihat latar belakang dari teks yang sedang dibaca. Hayo, untuk apa semua penemuan ini? Dalam langkah Belajar, semua penemuan ini harus kita pelajari dan mintalah pertolongan Roh Kudus untuk menyimpulkan pelajaran yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita. Lalu, berdoalah kepada Tuhan Yesus supaya pelajaran yang didapat menerangi hati dan pikiran kita sehingga kita bisa hidup sesuai kebenaran-Nya. Jangan lupa bagikan pelajaran yang didapat kepada teman-teman, bisa secara lisan (dalam kelompok PA) atau melalui WA, Line, bahkan media sosial. Yang terakhir ... yang paling penting, lakukanlah apa yang telah Tuhan ajarkan kepada kita dengan penuh kerendahan hati.

Saya bersyukur boleh terlibat PA dengan metode S.A.B.D.A.. Kekayaan firman Tuhan bisa dieksplorasi lebih dalam, baik melalui kata-kata, penokohan, tempat, waktu, maupun suasananya. Lengkap deh! Tak hanya itu, hasil dari penerapan metode S.A.B.D.A. ini pun bisa dituangkan dalam sebuah infografis [link] alkitabiah lho ... seru deh pokoknya! Cobalah PA dengan metode S.A.B.D.A. dan nikmatilah! Jangan hanya sekali, tetapi setiap hari! Ayo PA!

Categories: PEPAK

Roadshow #Ayo_PA! di Wisma Pojok, Yogyakarta

Thu, 08/11/2016 - 08:35

Untuk kesekian kali, Yayasan Lembaga SABDA melakukan roadshow #Ayo_PA! Kali ini, roadshow diadakan di Wisma Pojok yang berlokasi tepatnya di dusun Condong Catur kecamatan Depok, kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tim roadshow terdiri dari lima orang. Selain saya, ada Andreas, Ayu, Bu Yulia sebagai pembicara, dan Jessica, putri Bu Yulia. Tim SABDA datang ke "kota gudeg" dengan menggunakan KA Prameks, dan dijemput oleh Pak Haryanto, panitia GKI Ngupasan untuk menuju wisma tersebut. Kami datang pukul 07.30 pagi dan saat itu acara sudah dimulai. Ibu Lenny sedang membahas hal-hal teknis pelaksanaan program PA yang akan mulai dijalankan di GKI Ngupasan bulan Agustus ini. Apa yang akan disampaikan Bu Yulia dimaksudkan untuk melengkapi mereka dengan metode PA. Hanya saja mungkin mereka tidak bermimpi bahwa yang akan SABDA ajarkan bukan hanya metode PA, tetapi juga bagaimana menggunakan gadget/smartphone untuk ber-PA.

Sebagai informasi, peserta roadshow kebanyakan berasal dari generasi X, generasi yang disebut-sebut kurang melek teknologi, bahkan ada juga dari generasi "baby boomers" sehingga saya berpikir roadshow kali ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami.

Setelah sampai di tempat, saya, Andreas, Jessica, dan Ayu segera mempersiapkan alat-alat dokumentasi serta bahan perlengkapan booth, sementara Bu Yulia mulai mendapat kesempatan berbicara pukul 08:20, terlambat 20 menit dari rencana. Peserta segera diinstruksikan untuk mengumpulkan gadget yang mereka miliki kepada tim SABDA untuk disematkan dengan berbagai aplikasi pendukung PA. Saya bersyukur Jessica kali ini ikut serta, karena sebagai generasi Z, dia yang paling tangkas dalam menangani berbagai merk smartphone atau tablet sehingga sangat membantu saya dan Ayu dalam melakukan instalasi. Sementara itu, Andreas sibuk dengan merekam.

Sambil melakukan instalasi, Bu Yulia memulai pelatihan dengan penjelasan mengenai dasar-dasar PA seperti: apa itu PA, mengapa perlu melakukan PA, Metode PA S.A.B.D.A dengan gadget, dan bagaimana pelaksanaannya. Beberapa poin di awal ini penting untuk ditegaskan supaya para peserta tahu apa yang menjadi tujuan ber-PA. Beliau juga menyampaikan apa keuntungan ber-PA dengan bantuan teknologi dan mengapa teknologi bukanlah sesuatu yang perlu dihindari oleh gereja. Justru teknologi harus semakin banyak digunakan untuk mendalami kitab suci, khususnya bagi generasi muda atau yang biasa disebut generasi Z. Bu Yulia menyebut satu fakta yang patut diperhatikan bahwa belakangan ini jumlah kunjungan anak-anak muda di gereja semakin merosot karena cara gereja melayani tidak pernah berubah dan lebih didesain untuk generasi tua, menandakan bahwa pembelajaran firman Tuhan harus dilakukan dengan format baru dan melibatkan sesuatu yang disukai anak-anak muda, yaitu teknologi. Beliau pun sempat menayangkan video tentang generasi Z dan sebuah infografis kitab Matius untuk menjelaskan bahwa pola pikir dan cara belajar generasi Z telah banyak berubah. Generasi yang lebih tua sebagai pengambil keputusan, sepatutnya lebih memahami serta mengakomodasi generasi Z dalam kegiatan ibadah/kerohanian supaya firman Tuhan tetap relevan bagi generasi baru ini.

Materi kemudian diikuti dengan informasi mengenai berbagai alat yang bisa digunakan untuk ber-PA yang sudah disediakan oleh Yayasan Lembaga SABDA. Selain Alkitab dan audio Alkitab , tersedia juga Kamus Alkitab, Alkitab PEDIA , Tafsiran , dan sebagainya. Puncaknya adalah penjelasan tentang cara studi Alkitab Android dan Metode S.A.B.D.A.. Penjelasan dibantu dengan 2 video tutorial yang sudah dibuat dan dipersiapkan dengan matang oleh teman-teman di YLSA. Dalam video tutorial Studi Alkitab Android dijelaskan penggunaan 5 aplikasi utama yang terintegrasi dengan fitur-fitur Alkitab, antara lain cara membuka ayat, menambah versi, mengubah-ubah versi, dan penggunaan fitur lain-lain, seperti fitur membuat catatan atau fitur sorot yang oleh peserta lebih suka disebut "stabilo". Sementara dalam video tutorial metode S.A.B.D.A., peserta bisa memperhatikan apa saja langkah-langkah yang ada dalam metode S.A.B.D.A. sekaligus mengetahui alat dan bahan apa yang bisa digunakan di setiap langkahnya. Video tutorial kemudian diulang lagi perlahan-lahan disertai penjelasan lebih lengkap oleh Bu Yulia mengingat para peserta adalah generasi X yang baru belajar teknologi. Kami pun membuat semacam ice breaker dengan menyanyikan lagu "Ayo PA" untuk memudahkan peserta mengingat langkah-langkah metode S.A.B.D.A.. Ayu dan saya memandu peserta untuk menyanyikan #Ayo_PA! dibantu oleh Saudara Michael (satu-satunya peserta generasi Z) sebagai pemain gitar.

Kemudian untuk semakin memahami materi Ayo PA dan sekaligus sebagai penutup acara, Bu Yulia meminta peserta mempraktikkan PA metode S.A.B.D.A. dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dengan studi kasus kitab Matius 1:1. Agak unik, tak semua generasi X dan baby boomers ini menggunakan gadget meski beberapa saat lalu hal itu baru saja diulas. Sebagian peserta hanya membuka Alkitab cetak, serta membuat catatan dengan pulpen ataupun spidol pada secarik kertas. Sebagian lagi yang menggunakan gadget masih ada yang kesulitan memahami fitur-fitur yang terbilang sederhana, dan banyak bertanya kepada saya, Ayu atau Andreas. Namun, meski tertatih-tatih dalam menggunakan teknologi, saya menilai generasi ini patut ditiru dalam hal semangat belajarnya. Mereka begitu antusias mempelajari hal baru dan selalu menunjukkan ketertarikan pada materi yang kami bawakan. Saya pikir merekalah peserta terfavorit saya sepanjang saya pernah mengikuti roadshow #Ayo_PA! dan saya akan senang jika bisa mengikuti lagi roadshow dengan peserta orang-orang tua.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 13:10 siang, tanda bahwa tim SABDA harus undur diri karena tiket balik ke Solo adalah pukul 13:50. Oleh karena itu, setelah makan siang dan membereskan perlengkapan, Bu Yulia, Jessica, Andreas, dan Ayu berpamitan. Setengah berlari, mereka meninggalkan ruangan untuk diantar dengan mobil menuju stasiun Maguwo (airport Yogyakarta). Saya sendiri masih tinggal beberapa saat dengan peserta untuk mengambil video testimoni. Untunglah, hal itu tidak sulit dilakukan. Saya berhasil mendapat sekitar 5 orang untuk menjadi informan saya dan memberi testimoni tentang berkat yang didapat dari PA dengan metode S.A.B.D.A.. Dari informasi yang saya kumpulkan, saya mendapat kesimpulan bahwa informan merasa sangat bersyukur dengan adanya metode S.A.B.D.A. karena memiliki urutan langkah yang jelas serta bisa mendapat banyak sekali bahan untuk menggali makna Alkitab yang semuanya dimungkinkan karena kecanggihan teknologi. Saya pribadi pun kagum melihat karya Tuhan, yang bisa menggunakan segala cara untuk mencari manusia. Apa saja yang Ia berikan bisa Ia gunakan kembali untuk kemuliaan nama-Nya, dalam hal ini adalah berkat dari teknologi.

Saya berharap Yayasan Lembaga SABDA tidak kenal lelah untuk mengampanyekan #Ayo_PA! dengan gadget karena PA dengan cara ini adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan sekarang, tetapi belum banyak yang tahu. Kiranya orang percaya semakin giat melakukan studi Alkitab secara lebih mendalam dan dengan cara yang "fun" untuk menyelamatkan generasi muda kembali ke dalam hadirat Tuhan.

Categories: PEPAK

Roadshow #Ayo_PA! dalam Acara Bible Fellowship di Yayasan Berita Hidup

Thu, 08/11/2016 - 08:09

Sebagai bagian dari training "Digital Ministry" untuk GRII Karawaci yang diselenggarakan sejak hari Rabu, 13 Juli 2016, sampai dengan hari Minggu, 17 Juli 2016, pada hari Jumat, 15 Juli 2016, Yayasan Lembaga SABDA bersama-sama dengan tim dari GRII Karawaci berkunjung ke Yayasan Berita Hidup untuk melakukan roadshow #Ayo_PA! di sana. Dalam roadshow kali ini, teman-teman dari Karawaci diberikan kesempatan untuk menyampaikan presentasi tentang "Generasi Digital" dan "PA Digital" kepada anak-anak muda di tempat itu.

Karena peserta akan dibagi berdasarkan tingkat pendidikan mereka (SD/SMP/SMA), maka dibentuklah juga tiga tim yang akan menyampaikan materi presentasi kepada masing-masing kelompok tersebut. Saya bersama-sama dengan Pak Lukas, Pak Elya, dan kak Edwin menjadi bagian dari tim yang akan melakukan presentasi untuk kelompok SMA. Pak Lukas dan Pak Elya akan menyampaikan materi untuk presentasi yang pertama dan kedua, kak Edwin sebagai MC, dan saya sendiri bertugas mengambil dokumentasi untuk kelompok tersebut. Selebihnya, teman-teman yang lain mengambil bagian dalam tim yang akan melakukan presentasi untuk kelompok SD dan SMP.

Kami berangkat dari kantor kira-kira pukul 08.30. Karena jaraknya cukup dekat, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Setibanya di sana, kami semua langsung membagi tugas: ada yang mempersiapkan meja untuk booth, ada yang membuat dokumentasi, kemudian ada juga yang mempersiapkan ruangan yang akan dipakai untuk presentasi. Saya sendiri tentunya ikut membantu mempersiapkan ruangan presentasi untuk kelompok SMA.

Saat itu, para peserta masih belum masuk ke ruangan. Mereka masih berada di luar dan masih sedang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Berita Hidup. Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk meng-instal-kan aplikasi-aplikasi studi Alkitab Android ke dalam handphone mereka. Di sela-sela kegiatan itu juga, saya sempat dimintai tolong oleh Bu Yulia untuk memimpin para peserta yang hadir mempelajari lagu "Ayo PA" yang menjadi jingle dari gerakan #Ayo_PA! itu sendiri. Meskipun dengan sedikit malu-malu dan dengan suara yang tidak terlalu merdu, akhirnya saya berhasil melewati momen yang "berkesan" itu.

Tidak lama setelah itu, para peserta kemudian diminta untuk memasuki ruangan dan presentasi segera dimulai. Meski awalnya sempat terkendala karena beberapa hal teknis, akhirnya presentasi bisa berjalan dengan baik dan bahkan selesai tepat waktu. Akan tetapi, kami harus mengakui bahwa kami merasa kurang puas dengan presentasi ini karena kurangnya antusiasme peserta dan beberapa hal lainnya. Dari pengalaman ini banyak hal yang bisa kami pelajari supaya ke depannya pelayanan ini bisa menjadi lebih baik dan lebih berdampak bagi semua yang hadir, termasuk semua yang terlibat di dalamnya.

Seusai sesi, kami beserta seluruh peserta kemudian berkumpul di lapangan untuk berfoto bersama. Kemudian, setelah membereskan semua barang, kami lalu bergegas kembali ke kantor untuk melanjutkan sesi training "Digital Ministry" selanjutnya.

Sebenarnya, ada begitu banyak hal yang terjadi selama kegiatan roadshow ini berlangsung. Sayangnya, tidak semua hal itu bisa terekam dalam satu tulisan. Namun, satu hal yang harus disyukuri adalah bahwa Tuhan masih terus memakai Yayasan Lembaga SABDA untuk memberkati anak-anak muda melalui gerakan #Ayo_PA! ini. Kiranya semangat pelayanan ini tidak lekas padam, melainkan terus berkobar supaya semakin banyak orang diberkati oleh pelayanan ini sehingga terus melakukan PA untuk mengenal Tuhan dan kehendak-Nya lebih dalam lagi. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

Categories: PEPAK

Pelayanan ke Kalimantan

Wed, 08/03/2016 - 12:57

Pada akhir bulan Juni sampai awal bulan Juli lalu, saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke Kalimantan bersama rombongan dari Surabaya. Kami berada di sana selama 1 minggu.

Ini adalah perjalanan kedua saya ke Kalimantan. Saat saya datang, saya heran kenapa cuacanya mendung dan dua hari pertama di sana hujan turun sangat lebat. Padahal saat perjalanan saya pertama ke sana cuaca panas sekali. Tetapi dari hari ketiga hingga saya pulang, cuaca sudah kembali panas. Saya memang berharap bisa kembali ke Kalimantan lagi, dan tahun ini saya bersyukur diberi kesempatan untuk melihat lagi pelayanan di Kalimantan dan saya tidak ingin melewatkan kesempatan yang berharga ini.

Salah satu tujuan perjalanan kami ini adalah untuk berkunjung ke sebuah gereja. Ketika bertemu dengan anggota jemaat di sana, mereka menyambut kami dengan sangat hangat. Saya dan teman-teman saya mendapat kesempatan untuk melayani bersama di ibadah minggu, sekolah minggu, ibadah keluarga, dan persekutuan doa. Satu hal yang membuat saya sedih adalah gereja ini selama beberapa saat tidak mempunyai seorang gembala. Tak heran, karena ketiadaan sosok gembala membuat keadaan kerohanian jemaat menjadi kurang terpelihara, begitu juga dengan kesatuan hati mereka. Saat kami datang, bersyukur ada seorang hamba Tuhan yang baru saja datang sehari sebelum kami untuk praktik pelayanan 1 tahun di sana.

Saya dan teman-teman juga berkunjung ke rumah-rumah jemaat. Kami mengobrol banyak hal, mendengar pergumulan mereka, dan juga mendoakan mereka. Beberapa hari sebelum saya pulang, saya bersyukur karena ada pendeta yang baru datang untuk melayani gereja ini. Dia datang bersama istri dan anaknya. Saya berdoa agar Tuhan yang sudah memanggil pendeta ini untuk melayani di sana akan memperlengkapi dan menguatkan dia untuk menggembalakan gereja ini.

Saat berangkat, saya juga membawa beberapa bahan SABDA, seperti traktat untuk anak-anak (Tuhan Yesus Menyelamatkanku dan Hatiku Rumah Kristus), DVD Dengar Alkitab, dan DVD Library Anak . Karena saya harus pulang lebih dulu dari teman-teman yang lain dan selama 1 minggu pertama belum menemukan waktu yang tepat untuk membagikan bahan ini, maka saya titipkan kepada teman saya agar dapat dibagikan. Traktat untuk anak-anak akhirnya dapat dibagikan saat teman-teman saya melayani di sekolah minggu. Beberapa DVD diberikan kepada hamba Tuhan yang akan melayani di sana. Semoga bahan-bahan SABDA yang sudah dibagikan dapat menjadi berkat bagi mereka.

Perjalanan ini mengingatkan saya dengan gereja-gereja di berbagai daerah lain di Indonesia yang mungkin mengalami hal yang sama. Saya mengajak teman-teman yang membaca blog ini atau yang tahu tentang keadaan gereja-gereja di daerah, mari berdoa bersama untuk mereka.

Categories: PEPAK

Presentasi #Ayo_PA YLSA Bareng Tim GRII Karawaci

Wed, 08/03/2016 - 11:39

Pada tanggal 13 Juli 2016, YLSA kedatangan tamu dari GRII Karawaci, mereka datang ke Solo untuk belajar tentang Digital Ministry. Di tempat ini, mereka belajar pelayanan digital, komunitas pelayanan digital, dan tentu saja YLSA tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membagikan metode SABDA kepada mereka. Ya ... memang beberapa bulan terakhir YLSA mempromosikan program Ayo_PA dengan metode S.A.B.D.A., YLSA sudah mempresentasikan Ayo_PA ke beberapa gereja dan persekutuan di Solo, dan semuanya berjalan dengan baik dan banyak yang terberkati dengan presentasi YLSA ini. Kedatangan tamu dari Karawaci ini dimanfaatkan oleh YLSA untuk membantu promosi program Ayo_PA. Mereka dilatih untuk melakukan presentasi ke beberapa gereja, salah satunya adalah GUPdI Kwarasan, Sukoharjo.

Untuk presentasi di gereja ini, saya mendapat tugas untuk mendampingi tim tamu sekaligus menjadi tuan rumah untuk YLSA karena saya cukup akrab dengan pendeta dan beberapa remaja di sana (sekadar informasi, istri saya beribadah di sini dan kami juga melakukan pemberkatan nikah di gereja ini ) Pukul 17.30 tim Karawaci beserta rekan-rekan SABDA, yaitu Benny, Ayu, dan bu Yulia sudah sampai di lokasi. Saya datang agak terlambat karena ada kegiatan yang lain dulu. Selain menyiapkan alat-alat dan materi presentasi, kami juga membuka booth di sana. Beberapa menit kemudian mulai berdatangan anak-anak remaja, beberapa wajah mereka saya kenal. Sambil menyapa, saya memperkenalkan teman-teman tim dan juga mempersilakan mereka untuk melihat-lihat booth dan memilih CD yang mereka sukai. Beberapa anggota tim Karawaci juga mendekati mereka dan mengajak mengobrol, tidak perlu waktu yang banyak untuk mereka bisa akrab satu sama lain. Tampaknya tim ini benar-benar memiliki hati untuk remaja, terutama Pak Rally, dia langsung akrab dengan beberapa remaja di sana. Kemudian, ada berapa remaja berdatangan lagi, mereka ada yang menuju ke booth, tetapi ada juga yang masih malu-malu dan memilih langsung duduk di dalam gereja.

Pkl 18.15 ibadah di mulai, teman-teman tim ikut masuk dan beribadah, tetapi saya tetap menunggu booth dan menyambut anak remaja yang datang terlambat. Setelah beberapa pujian, waktu diserahkan kepada tim SABDA. Pak CunCun selaku MC memperkenalkan tim SABDA dan memimpin lagu "Ayo-PA". Saya membantu bermain musik karena tim musik gereja belum tahu lagunya. Setelah mengulang beberapa kali, baru anak-anak remaja bisa hafal dan menyanyikan lagu dengan semangat.

Waktu selanjutnya diserahkan kepada Kak Lady selaku pembawa presentasi sesi 1 tentang generasi digital dan PA. Kak Lady menyampaikan presentasi dengan baik, ia menyadarkan remaja bahwa mereka adalah generasi Digital Native. Saat dijelaskan ciri-ciri Digital Native, mereka senyum-senyum sendiri. Mungkin sebagian besar ciri-ciri tersebut sesuai dengan keadaan mereka. Selanjutnya, presentasi dilanjutkan oleh Pak Rally. Dia memulai presentasi dengan ilustrasi tentang kamera yang rusak, di situ dia mengatakan bahwa kamera yang rusak diperbaiki oleh tukang kamera sebagai orang yang ahli tentang seluk beluk kamera. Pak Rally membandingkan dengan hidup manusia, tidak ada yang lebih mengetahui tentang keadaan hidup manusia selain Tuhan sebagai Sang Pencipta. Wow, benar-benar ilustrasi yang keren untuk mengawali presentasi tentang PA. Dia juga bersaksi tentang kehidupan masa lalunya, bagaimana kehidupannya tanpa Firman Tuhan dsb.. Oleh sebab itu, dia memiliki dasar-dasar yang kuat untuk melakukan PA dan dia ingin membagikan kepada generasi digital saat ini. Pak Rally juga menjelaskan salah satu metode PA, yaitu metode S.A.B.D.A. (Simak-Analisa-Belajar-Doa+Diskusi-Aplikasi). Sewaktu dia mendemonstrasikan metode ini, kami mendampingi remaja untuk langsung praktik di gadget mereka masing-masing. Mereka bisa mengikuti dengan baik metode ini. Selesai presentasi, acara kembali dipimpin oleh Pak CunCun selaku MC dan lagi-lagi dia memimpin lagu "Ayo_PA". Untuk kali ini, saya tidak membantu main musik lagi. Akhirnya, ibadah selesai dan waktu diserahkan kepada ketua remaja. Ibadah diakhiri dengan sesi foto-foto dan pembagian CD audio Alkitab dan program SABDA gratis. Sayang sekali, kami lupa untuk merekam video testimoni peserta karena buru-buru untuk mengikuti acara selanjutnya di Galabo.

Bagi saya sendiri mengikuti roadshow kali ini membawa kesan tersendiri, terutama saya bisa belajar dari tim Karawaci dalam melakukan presentasi. Selain belajar penyampaian presentasi, saya juga bisa bisa belajar sedikit dari kepribadian mereka, di mana mereka yang memiliki keluarga rela meninggalkan keluarga selama 5 hari untuk pelayanan. Sebelum ibadah dimulai, saya dan Pak CunCun sempat ngobrol-ngobrol tentang dunia anak-anak. Dia ingin mengembangkan pelayanan ke panggung boneka. Mereka juga memiliki hati yang rindu supaya anak-anak, terutama remaja generasi Digital Native ini, bisa bertumbuh di dalam Tuhan. Semoga gerakan #ayo_PA! ini semakin berkembang dan dipakai oleh para Digital Native untuk lebih mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam Firman-Nya ...
#ayo_PA!

Categories: PEPAK

@SABDA: Pelatihan Digital Ministry

Wed, 08/03/2016 - 11:28

Oleh: Bara*

Hari Rabu -- Minggu, tanggal 13 -- 17 Juli 2016 yang lalu, rekan-rekan dari GRII Karawaci datang ke kantor Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) untuk mengikuti Pelatihan Digital Ministry. Selama lima hari, dari pagi hingga malam, sekitar 12 orang dari GRII Karawaci bergulat dengan ide, konsep, dan aplikasi dari Digital Ministry. Acara dimulai dengan memberikan tiga pertanyaan kepada peserta: "Menurut Anda, apa itu Digital Ministry? Ekspektasi apa yang Anda miliki ketika memutuskan untuk datang ke pelatihan ini? Hal apa yang ingin Anda pelajari selama pelatihan lima hari di YLSA?" Pertanyaan-pertanyaan ini digunakan untuk membuat suatu common ground di antara semua peserta pelatihan dan staf. Presentasi pertama yang diberikan adalah tentang #ayo_PA! oleh Ibu Yulia dan Mbak Evie. Presentasi #ayo_PA! dilakukan di awal acara supaya peserta memahami latar belakang, visi dan misi Gerakan #ayo_PA! sehingga mereka bisa siap berbagi #ayo_PA! ke beberapa tempat di Solo sebelum pulang ke Jakarta.

Sementara itu, peserta juga diberikan pelatihan mengenai pola kerja dan manajemen proyek yang dilakukan di YLSA. Saya terkesan dengan istilah yang digunakan oleh Ibu Yulia untuk menyebut pelatihan lima hari ini dengan istilah "mini magang". Saya sangat bersyukur karena sebagai staf part time yang baru mulai melayani pada bulan Juli ini, saya diberi kesempatan untuk mengikuti dan melayani para peserta, bahkan saya sempat berkali-kali go "wow" karena seluruh pengetahuan yang dulu saya terima selama dua bulan magang di YLSA (Januari -– Februari 2016) dipadatkan dan disampaikan dalam lima hari. Pelatihan Digital Ministry ini membahas mengenai lima hal, yaitu: Digital Ministry, Digital World, Digital Bible, Digital Generation, serta melakukan training for trainers untuk gerakan #ayo_PA!.

Teman-teman Karawaci terlihat cukup kagum dengan banyaknya pelayanan yang sudah dan sedang dilakukan oleh YLSA, khususnya di dunia digital. Beberapa presentasi yang dilakukan teman-teman YLSA di antaranya: Mas Aji tentang proyek ITL (interlinear), Mas Benny tentang Evolusi SABDA Revolusi YLSA serta SABDA Bot, Mbak Santi tentang Komunitas YLSA, serta Mas Hadi tentang proyek baru Media Alkitab. Ada banyak momen diskusi dan hal-hal menarik yang saya pelajari, bukan hanya dari materi yang disampaikan oleh Ibu Yulia, tetapi juga dari teman-teman peserta dan dari presentasi rekan-rekan staf YLSA. Sangat bersyukur dengan adanya pelatihan ini, bukan hanya peserta yang diberkati tetapi kami, staf YLSA, juga diberkati.

Hal lain yang sama menariknya dengan penyampaian materi dan diskusi, peserta pelatihan Digital Ministry diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi gerakan #ayo_PA! melalui roadshow di beberapa tempat. Hari Jumat, roadshow pertama dilakukan di lokasi STT Berita Hidup untuk melayani acara pembekalan untuk anak-anak dan remaja yang diasuh oleh Yayasan Berita Hidup. Karena akan ada kira-kira 100 anak, maka mereka dibagi dalam tiga kelompok: siswa SD, SMP, dan SMA. Teman-teman GRII juga dibagi dalam 3 kelompok beranggotakan 3 -- 4 orang di mana masing-masing akan mempresentasikan #ayo_PA! Pada Sabtu sore, roadshow dilakukan di GUP Kwarasan, tiga peserta pelatihan melakukan presentasi didampingi oleh Ibu Yulia dan staf YLSA. Hari Minggu, seluruh peserta dan staf YLSA mengikuti ibadah Minggu di GKA Abdi SABDA, untuk kemudian melayani jemaat ini setelah ibadah selesai. Kami bersyukur semua presentasi berjalan dengan baik. Harapan kami, dari evaluasi yang dilakukan teman-teman Karawaci bisa semakin baik lagi memahami visi pelayanan #ayo_PA!.

Categories: PEPAK

Digital Ministry Training by SABDA for GRII Karawaci

Tue, 07/26/2016 - 15:00

Oleh: David Imanuel Widjaja*

Selama 5 hari training dengan tim SABDA di Solo, saya mendapatkan banyak berkat sekaligus banyak masalah yang dihadapi dan yang akan dihadapi dalam gereja dan juga dalam kekristenan.

Kita sudah berada di dunia di mana teknologi tidak dapat lagi dihindari. Generasi Z adalah generasi di mana orang-orang sudah fasih memakai teknologi karena saat mereka lahir, teknologi sudah merupakan suatu hal yang biasa. Teknologi sendiri akan berkembang secara cepat dan secara eksponensial. Perkembangan ini akan mengubah zaman menjadi lebih baik ataupun bisa lebih jahat. Maka dari itu, teknologi seharusnya dipakai untuk membantu membawa Kerajaan Tuhan nyata di bumi ini. Kebanyakan orang hanya menganggap bahwa teknologi akan menimbulkan hal-hal yang buruk (biasanya para generasi X, Y, ataupun babyboomers). Akan tetapi, setelah mengikuti training di SABDA ini, aku dapat melihat bahwa Tuhan bisa dan akan menggunakan teknologi untuk pekerjaan Tuhan. Ini nyata dengan hal-hal yang SABDA telah lakukan selama bertahun-tahun.

Digital Ministry merupakan suatu hal yang gereja dapat lakukan agar gereja tidak tertinggal dalam dunia digital. Namun, lebih penting lagi, agar gereja dapat menggapai anak-anak muda, para generasi Z. Kebanyakan orang takut dengan adanya teknologi, seperti internet, HP, komputer, dll. di dalam gereja. Mereka takut bahwa gereja akan kehilangan orang-orang di dalamnya atau hal-hal yang lain, seperti sesat dalam ajaran doktrin. Tetapi sesungguhnya, kita harus mengerti terlebih dahulu apa definisi dari gereja tersebut. Jika kita mengerti apa itu gereja yang sesungguhnya di dalam Alkitab, kita akan lebih terbuka menerima datangnya teknologi ke dalam gereja. Namun ingat, teknologi itu hanya alat bantuan dan tidak boleh menjadi ilah.

Selain teknologi secara general, saya belajar suatu metode Pendalaman Alkitab (PA) yang bernama #ayo_PA!, PA yang dilakukan dengan S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa+Diskusi, Aplikasi). Ini adalah suatu proyek SABDA yang menurut saya cukup efektif untuk para generasi Z. Beberapa orang beranggapan bahwa PA itu harus secara fisik hadir bersama orang-orang dan dipimpin oleh seorang pembicara. Akan tetapi, SABDA mengenalkan kita dengan PA digital metode S.A.B.D.A. yang bertujuan membuat PA menjadi lebih asyik untuk anak-anak muda. PA sekarang dapat dilakukan dengan cara digital, artinya untuk melakukan PA, kita tidak dibatasi oleh ruangan. Kita bisa berada di mana saja bersama siapa aja melakukan PA melalui internet.

PA itu sangat penting. Seorang hanya dapat bertumbuh jika ia mendengarkan dan melakukan firman Tuhan. Alkitab merupakan firman Tuhan yang harus dibaca jika orang ingin bertumbuh dan matang secara rohani. Kebanyakan orang zaman sekarang hanya mengatakan "Kata Pendeta ..." atau "Kata Missionaris ..." dan bukan "Kata ayat Alkitab dalam X:X...." Orang lama-lama akan hanya mendengarkan kata orang lain dan tidak mencari kebenaran dalam Alkitab. Padahal arti Reform adalah Back to the Bible, balik ke Alkitab. Gereja harus memperhatikan keadaan jemaatnya agar mereka dapat Back to the Bible.

Terakhir, gereja harus menjalin suatu komunitas yang berdasarkan Alkitab, seperti Abraham yang dipanggil secara komunal. Betul, gereja harus ada Firman yang benar, tetapi tanpa adanya komunitas, tidak ada bedanya mendengarkan khotbah secara langsung di gereja dan secara online di internet. Maka dari itu, sistem follow up untuk orang-orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus sangat penting. Mereka seharusnya dibina imannya agar terus dapat bertumbuh secara rohani, agar mereka pun mengerti firman Tuhan dengan lebih dalam sampai akhirnya, mungkin suatu saat, mereka dapat menginjili yang lain dan membuat lebih banyak lagi orang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.

Akhir kata, saya akan menutup dengan pemikiran saya. Pekerjaan Tuhan di dunia ini sangat banyak yang perlu dikerjakan. Perlu adanya penabur yang menabur firman Tuhan dan perlu adanya penuai yang membina orang dalam firman Tuhan. Melalui pekerjaan/karier, kita semua bisa memuliakan Tuhan. Akan tetapi, seberapa relanya kita untuk melayani Tuhan? Apakah kita berani untuk 100% terjun ke dalam dunia pelayanan? Siapakah yang akan mengerjakan pekerjaan Tuhan yang begitu banyak di dunia yang berdosa ini? Siapakah yang harus Tuhan utus untuk melakukan misinya?

Amanat Agung - Matius 28:19-20
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Blessings,
David I Widjaja
Student at Calvin College, USA
"Duty makes us do things well, but love makes us do them beautifully"
Soli Deo Gloria

Categories: PEPAK

Pelayanan #Ayo_PA! di GKIm Anugerah

Tue, 07/26/2016 - 14:41

Pada tanggal 19 Juni 2016, kami berkesempatan mengisi #ayo_PA! di GKIm Anugerah. Tim ini terdiri dari Mas Ariel, Mbak Ayu, Mas Aji, Liza, dan saya sendiri. Seperti halnya kebiasaan SABDA, sebelum ada roadshow, tim yang akan berangkat terlebih dahulu akan dibekali dan di-briefing. Kami pun juga mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya dapat mempresentasikan #ayo_PA! kepada anak-anak SMP (praremaja) di GKIm Anugerah yang berjumlah 15 orang dengan baik dan lancar.

Pada kesempatan ini, kami diberi waktu 1 jam untuk menjelaskan 2 sesi, yaitu Generasi Digital Native & PA, dan Gerakan #ayo_PA! itu sendiri. Untuk sesi pertama disampaikan oleh Mbak Ayu. Respons dari kakak pengajar dan anak-anak sendiri, mereka tidak menyangka bahwa mereka adalah generasi Z yang setiap hari bersinggungan dengan teknologi. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Lalu, untuk sesi yang kedua, saya dipercaya untuk menyampaikan Gerakan #ayo_PA! Penyampaian materi dimulai dari apa itu PA, mengapa PA, bagaimana melakukan PA, metode PA, dan metode PA dengan menggunakan S.A.B.D.A.

Kami sungguh bersyukur karena dapat membagikan gerakan ini kepada generasi digital di GKIm Anugerah. Kebutuhan gereja dan masyarakat Kristen masa kini adalah bahan-bahan Alkitab (Biblika) yang sudah didigitalisasi dan dapat dipelajari dengan mudah setiap harinya. Bahan-bahan ini dapat dipergunakan untuk PA dengan menggunakan berbagai aplikasi Alkitab yang disediakan oleh YLSA, seperti Alkitab, Kamus Alkitab, Alkitab PEDIA, dan Tafsiran. Dengan melakukan studi Alkitab secara pribadi maupun berkelompok, para generasi Z didorong untuk berinteraksi secara langsung dengan Alkitab. Lebih-lebih di era media sosial seperti sekarang, PA dapat dilakukan dengan menggunakan Whats App maupun Telegram. Banyak cara untuk melakukan PA, dan kini tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan PA.

Inilah pengalaman berharga yang kami sampaikan dan bagikan kepada anak-anak praremaja di GKIm Anugerah. Dalam video di blog ini, Anda juga dapat melihat kesaksian dari peserta yang mengikuti acara ini. Kiranya menjadi berkat.

"Gadgetku untuk pertumbuhan rohaniku dan teman-temanku!"
Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

Pengalaman Pertama Mengikuti Raker Tengah Tahun YLSA

Mon, 07/25/2016 - 15:03

Oleh: Andreas*

Sebelum saya menuliskan cerita saya, terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Andreas Danang A., lahir di Surakarta (Kota Budaya dan terkenal dengan nasi liwetnya ....) Oke, sekarang saya mulai perjalanan cerita saya tentang sebuah kegiatan yang mungkin jadi hal yang menegangkan bagi staf SABDA yang baru, cekidot!!!

Saya baru saja berkerja di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Saya sangat senang dan enjoy bekerja di sana. Hari-hari saya lalui dengan berbagai tugas yang harus saya kerjakan sesuai dengan "job" yang telah diberikan kepada saya sebagai salah satu anggota tim Multimedia. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Waktu menulis blog ini saya sudah dua minggu menjadi bagian dari YLSA. Namun, dalam waktu 2 minggu itu, ada hal yang membuat pikiran saya "berterbangan", yaitu Raker Tengah Tahun YLSA yang akan diadakan dalam waktu dekat, ada juga yang menyebutnya "Raker Mini". Saya mulai berpikir, bertanya, dan mencari tahu di Google apa itu "Raker Mini"? Tak berapa lama, titik terang pun mulai menunjukan batang hidungnya. Ternyata, Raker adalah singkatan dari Rapat Kerja, sedangkan Mini adalah kecil. Jadi sekarang saya paham, dan ini adalah Raker Mini pertama dalam hidup saya, woowwww ... !!!

Semua tak berhenti di situ. Saya dikejutkan lagi dengan kabar yang sangat membuat saya deg-degan, saya harus membawakan presentasi (meskipun itu bergantian dengan teman saya juga). Perasaan saya mulai kacau, semua itu karena dalam Raker Tengah Tahun yang saya belum mengerti seperti apa. Duuaaarrrrrr ...! Seperti disambar petir berkekuatan tinggi, jantung saya mulai menari mengikuti irama denyut nadi. Haaahhhh cemas melanda hati, membayangkan apa yang akan terjadi saat

Hari demi hari selang berganti seperti bom waktu yang tinggal menunggu kapan waktunya akan meledak. Hingga waktunya sekarang tiba. Ya, pada tanggal 23 -- 24 Juni 2016 Raker Tengah Tahun akhirnya berlangsung. Acara demi acara berjalan dengan baik dan menyenangkan. Namun, semua berubah saat tiba giliran saya untuk memberikan presentasi. Saat itu, saya dan rekan saya, Lukas, diminta untuk memberikan presentasi singkat tentang Infografis. Meski kami sudah mempersiapkan bahan dengan baik, tetapi tetap saja badan terasa lemas, keringat dingin keluar, jantung berdebaran, semua bercampur menjadi satu. Saya berdoa kepada Tuhan Yesus agar diberi keberanian dan diberi kelancarkan. Doa saya dijawab Tuhan Yesus, semua berbeda dengan apa yang saya pikirkan dan saya bayang-bayangkan, yang membuat hati saya gemetar saat itu. Presentasi berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh teman-teman dan pimpinan. Banyak masukan dan pelajaran yang kami terima mengenai Infografis. Ternyata, masih banyak hal seputar Infografis yang belum saya dalami. Hal ini memacu saya dan Lukas untuk belajar lebih banyak lagi.Raker nanti.

Sungguh, Tuhan tidak pernah terlambat menolong saya. Saya mulai merenungkan apa yang telah terjadi sebelum Raker Tengah Tahun berlangsung. Ternyata Tuhan tak pernah diam dan meninggalkan saya. Dia kirimkan teman-teman yang mendukung dan memberi masukan untuk saya. Tidak cuma itu, dari bahan yang akan disampaikan, hingga saat presentasi, semua berjalan dengan baik dan lancar. Itu bukan karena kemampuan saya, tetapi karena Tuhan Yesus.

Raker terus berjalan dengan berbagai kegiatan; presentasi-presentasi, foto bersama, rencana ke depan, evaluasi dll.. Acara Raker yang saya kira menegangkan ternyata sangat nyaman dan ada rasa kekeluargaan yang sangat dalam di antara kami. Dari Raker Mini ini saya belajar, jangan pernah menyerah dan putus asa dalam memperjuangkan sesuatu, dan yang terpenting adalah andalkan Tuhan Yesus selalu dalam segala usahamu.

Categories: PEPAK

Diskusi FB Grup Bio-Kristi

Mon, 07/11/2016 - 09:08

Bulan Maret 2016, YLSA membuka satu lagi grup diskusi yaitu grup diskusi Bio-Kristi (Biografi Kristiani). Tujuan YLSA membuka grup diskusi ini adalah agar Facebook Grup Bio-Kristi dapat menjadi sarana bagi orang-orang percaya untuk semakin bertumbuh dan menyadari cinta kasih Tuhan melalui kehidupan tokoh-tokoh Kristen yang telah menjadi teladan iman dalam karya dan hidupnya. Lebih lanjut tentang deskripsi, visi, misi, serta aturan dari grup diskusi ini dapat dilihat dalam Deskripsi Facebook Grup Bio-Kristi .

Artikel yang diangkat sebagai topik dalam diskusi perdana grup Bio-Kristi adalah Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Kristen dari Jerman yang gigih menentang kekejaman NAZI dalam masa perang dunia ke-2. Topik tentang tokoh ini diangkat sebagai bahan dalam diskusi perdana karena Dietrich Bonhoeffer menjadi pengikut Kristus yang gigih memperjuangkan kebenaran imannya sampai mati. Kematian yang dihadapi tokoh ini dengan berani sebagai buah dari kesadarannya sebagai pengikut Kristus yang sejati kami anggap tepat untuk memaknai momen Paskah tahun ini. Dengan melihat hidup dan perjuangan dari Bonhoeffer, kami berharap agar setiap peserta yang mengikuti diskusi dapat memahami arti dari bagaimana menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya dan menghargai anugerah Kristus yang mahal.

Dalam kolom Tahukah Anda edisi Bio-Kristi ke 152 yang menampilkan tokoh pendidikan Brazil, Paulo Freire, disebutkan bahwa Freire menganggap penting dialog dalam proses pembelajaran. Dialog, menurut Freire adalah model komunikasi yang alami untuk belajar karena dalam dialog peserta didik diakui sebagai mitra yang sejajar. Dialog memungkinkan kesempatan untuk belajar bersama, dibanding sekadar mengajar. Dialog diawali dengan penghargaan karena kita berdialog untuk belajar dari mereka yang kita ajar. Nah, dalam proses diskusi, dialog sesungguhnya juga menjadi faktor yang dipraktikkan karena setiap peserta diskusi akan mengungkapkan pendapatnya dalam semangat penghargaan kepada peserta lain yang juga mengungkapkan pendapatnya. Tidak ada peserta atau moderator yang akan merasa dirinya lebih tinggi atau lebih pintar dari yang lain, karena setiap orang menyadari bahwa pendapat mereka akan saling melengkapi dan disempurnakan oleh pendapat yang lain. Dengan demikian, proses pembelajaran yang terjadi pun tidak berlangsung satu arah, tetapi dari berbagai arah karena setiap peserta memberikan kontribusinya.

Dari uraian tersebut, kita tentu menjadi semakin paham akan pentingnya diskusi sebagai salah satu cara pembelajaran. Selain menjadi ajang bagi setiap orang untuk mengemukakan pendapat, pengetahuan, serta wawasannya, diskusi dapat juga menjadi sebuah situasi belajar di mana setiap orang berada dalam posisi yang sejajar dan sama untuk bersikap terbuka dalam menerima pendapat dari yang lain, yang mungkin sangat berbeda dan berlawanan. Tanpa memiliki semua semangat tersebut, diskusi hanya akan menjadi ajang debat kusir, pamer pengetahuan, atau yang lebih buruk lagi, sekedar untuk menjawab pertanyaan yang diajukan moderator. Tak ada manfaat dari berdiskusi yang dapat kita temui dalam situasi seperti itu. Oh ya, satu lagi, terbiasa berdiskusi juga akan meningkatkan keterampilan kita dalam berbahasa, berkomunikasi, dan menjadi kritis, yang tentu akan sangat berguna dalam karya dan pelayanan kita.

Sebagai moderator dari grup diskusi Bio-Kristi, saya merasa mendapat banyak kesempatan belajar dengan terlibat di dalamnya. Bukan hanya karena mendapat pelajaran dan wawasan yang baru dari proses diskusi yang berlangsung, tetapi juga karena dalam prosesnya saya sendiri kemudian menyadari bahwa saya masih harus belajar banyak untuk menjadi moderator yang baik, yang dapat mendorong setiap peserta untuk berdiskusi secara aktif dan mengajukan pertanyaan dan komentar-komentar yang akan menambah seru jalannya diskusi. Sementara dari tokoh Dietrich Bonhoeffer yang menjadi topik dalam diskusi perdana ini saya belajar bahwa sebagai orang Kristen kita sesungguhnya juga dipanggil untuk tidak menjadi sama dengan dunia ini, terutama dalam melawan ketidakadilan dan ketidakbenaran. Bonhoeffer berani menyatakan warna kekristenannya yang berbeda untuk melawan arus utama yang salah. Dan, ia mau membayar harga. Ia sungguh-sungguh menilai anugerah dari Kristus bukan sebagai anugerah yang murah dan mudah.

Dari pihak peserta, saya merasa mereka telah cukup berpartisipasi secara aktif dengan memberi pendapat dan komentarnya, meski ada beberapa orang yang tidak melengkapi jawaban diskusi sampai pada pertanyaan terakhir. Ada beberapa peserta yang juga rupanya cukup aktif sebagai anggota dari FB grup YLSA lainnya, seperti KBS atau FB Wanita Kristen. Yang istimewa, sebagian besar dari anggota diskusi FB grup Bio-Kristi ini adalah kaum wanita (9 dari 10 peserta aktif). Wow, salut untuk kaum wanita Saya berharap, selain mereka, masih ada banyak lagi peserta lainnya yang mau ikut bergabung bersama dalam diskusi tokoh Bio-Kristi selanjutnya.

Nah, jika Anda tertarik untuk belajar bersama melalui proses diskusi dalam media sosial, mari bergabung bersama FB grup diskusi Bio-Kristi. Melalui grup ini kita dapat saling belajar dan memperdalam pengetahuan guna memiliki kesadaran sejati akan panggilan hidup orang percaya melalui hidup yang telah dijalani oleh tokoh-tokoh Bio-Kristi. Selain diskusi tokoh Dietrich Bonhoeffer yang sudah dilakukan pada bulan Maret, diskusi mengenai tokoh Martin Luther juga baru saja kami selesaikan pada akhir bulan Juni lalu. Diskusi grup Bio-Kristi selanjutnya akan diadakan pada bulan September 2016, dan silakan mendaftarkan diri untuk bergabung bersama. Kami tunggu keikutsertaan Anda

Categories: PEPAK

Komentar