Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 2 hours 46 min ago

Digital Ministry Training by SABDA for GRII Karawaci

Tue, 07/26/2016 - 15:00

Oleh: David Imanuel Widjaja*

Selama 5 hari training dengan tim SABDA di Solo, saya mendapatkan banyak berkat sekaligus banyak masalah yang dihadapi dan yang akan dihadapi dalam gereja dan juga dalam kekristenan.

Kita sudah berada di dunia di mana teknologi tidak dapat lagi dihindari. Generasi Z adalah generasi di mana orang-orang sudah fasih memakai teknologi karena saat mereka lahir, teknologi sudah merupakan suatu hal yang biasa. Teknologi sendiri akan berkembang secara cepat dan secara eksponensial. Perkembangan ini akan mengubah zaman menjadi lebih baik ataupun bisa lebih jahat. Maka dari itu, teknologi seharusnya dipakai untuk membantu membawa Kerajaan Tuhan nyata di bumi ini. Kebanyakan orang hanya menganggap bahwa teknologi akan menimbulkan hal-hal yang buruk (biasanya para generasi X, Y, ataupun babyboomers). Akan tetapi, setelah mengikuti training di SABDA ini, aku dapat melihat bahwa Tuhan bisa dan akan menggunakan teknologi untuk pekerjaan Tuhan. Ini nyata dengan hal-hal yang SABDA telah lakukan selama bertahun-tahun.

Digital Ministry merupakan suatu hal yang gereja dapat lakukan agar gereja tidak tertinggal dalam dunia digital. Namun, lebih penting lagi, agar gereja dapat menggapai anak-anak muda, para generasi Z. Kebanyakan orang takut dengan adanya teknologi, seperti internet, HP, komputer, dll. di dalam gereja. Mereka takut bahwa gereja akan kehilangan orang-orang di dalamnya atau hal-hal yang lain, seperti sesat dalam ajaran doktrin. Tetapi sesungguhnya, kita harus mengerti terlebih dahulu apa definisi dari gereja tersebut. Jika kita mengerti apa itu gereja yang sesungguhnya di dalam Alkitab, kita akan lebih terbuka menerima datangnya teknologi ke dalam gereja. Namun ingat, teknologi itu hanya alat bantuan dan tidak boleh menjadi ilah.

Selain teknologi secara general, saya belajar suatu metode Pendalaman Alkitab (PA) yang bernama #ayo_PA!, PA yang dilakukan dengan S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa+Diskusi, Aplikasi). Ini adalah suatu proyek SABDA yang menurut saya cukup efektif untuk para generasi Z. Beberapa orang beranggapan bahwa PA itu harus secara fisik hadir bersama orang-orang dan dipimpin oleh seorang pembicara. Akan tetapi, SABDA mengenalkan kita dengan PA digital metode S.A.B.D.A. yang bertujuan membuat PA menjadi lebih asyik untuk anak-anak muda. PA sekarang dapat dilakukan dengan cara digital, artinya untuk melakukan PA, kita tidak dibatasi oleh ruangan. Kita bisa berada di mana saja bersama siapa aja melakukan PA melalui internet.

PA itu sangat penting. Seorang hanya dapat bertumbuh jika ia mendengarkan dan melakukan firman Tuhan. Alkitab merupakan firman Tuhan yang harus dibaca jika orang ingin bertumbuh dan matang secara rohani. Kebanyakan orang zaman sekarang hanya mengatakan "Kata Pendeta ..." atau "Kata Missionaris ..." dan bukan "Kata ayat Alkitab dalam X:X...." Orang lama-lama akan hanya mendengarkan kata orang lain dan tidak mencari kebenaran dalam Alkitab. Padahal arti Reform adalah Back to the Bible, balik ke Alkitab. Gereja harus memperhatikan keadaan jemaatnya agar mereka dapat Back to the Bible.

Terakhir, gereja harus menjalin suatu komunitas yang berdasarkan Alkitab, seperti Abraham yang dipanggil secara komunal. Betul, gereja harus ada Firman yang benar, tetapi tanpa adanya komunitas, tidak ada bedanya mendengarkan khotbah secara langsung di gereja dan secara online di internet. Maka dari itu, sistem follow up untuk orang-orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus sangat penting. Mereka seharusnya dibina imannya agar terus dapat bertumbuh secara rohani, agar mereka pun mengerti firman Tuhan dengan lebih dalam sampai akhirnya, mungkin suatu saat, mereka dapat menginjili yang lain dan membuat lebih banyak lagi orang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.

Akhir kata, saya akan menutup dengan pemikiran saya. Pekerjaan Tuhan di dunia ini sangat banyak yang perlu dikerjakan. Perlu adanya penabur yang menabur firman Tuhan dan perlu adanya penuai yang membina orang dalam firman Tuhan. Melalui pekerjaan/karier, kita semua bisa memuliakan Tuhan. Akan tetapi, seberapa relanya kita untuk melayani Tuhan? Apakah kita berani untuk 100% terjun ke dalam dunia pelayanan? Siapakah yang akan mengerjakan pekerjaan Tuhan yang begitu banyak di dunia yang berdosa ini? Siapakah yang harus Tuhan utus untuk melakukan misinya?

Amanat Agung - Matius 28:19-20
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Blessings,
David I Widjaja
Student at Calvin College, USA
"Duty makes us do things well, but love makes us do them beautifully"
Soli Deo Gloria

Categories: PEPAK

Pelayanan #Ayo_PA! di GKIm Anugerah

Tue, 07/26/2016 - 14:41

Pada tanggal 19 Juni 2016, kami berkesempatan mengisi #ayo_PA! di GKIm Anugerah. Tim ini terdiri dari Mas Ariel, Mbak Ayu, Mas Aji, Liza, dan saya sendiri. Seperti halnya kebiasaan SABDA, sebelum ada roadshow, tim yang akan berangkat terlebih dahulu akan dibekali dan di-briefing. Kami pun juga mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya dapat mempresentasikan #ayo_PA! kepada anak-anak SMP (praremaja) di GKIm Anugerah yang berjumlah 15 orang dengan baik dan lancar.

Pada kesempatan ini, kami diberi waktu 1 jam untuk menjelaskan 2 sesi, yaitu Generasi Digital Native & PA, dan Gerakan #ayo_PA! itu sendiri. Untuk sesi pertama disampaikan oleh Mbak Ayu. Respons dari kakak pengajar dan anak-anak sendiri, mereka tidak menyangka bahwa mereka adalah generasi Z yang setiap hari bersinggungan dengan teknologi. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Lalu, untuk sesi yang kedua, saya dipercaya untuk menyampaikan Gerakan #ayo_PA! Penyampaian materi dimulai dari apa itu PA, mengapa PA, bagaimana melakukan PA, metode PA, dan metode PA dengan menggunakan S.A.B.D.A.

Kami sungguh bersyukur karena dapat membagikan gerakan ini kepada generasi digital di GKIm Anugerah. Kebutuhan gereja dan masyarakat Kristen masa kini adalah bahan-bahan Alkitab (Biblika) yang sudah didigitalisasi dan dapat dipelajari dengan mudah setiap harinya. Bahan-bahan ini dapat dipergunakan untuk PA dengan menggunakan berbagai aplikasi Alkitab yang disediakan oleh YLSA, seperti Alkitab, Kamus Alkitab, Alkitab PEDIA, dan Tafsiran. Dengan melakukan studi Alkitab secara pribadi maupun berkelompok, para generasi Z didorong untuk berinteraksi secara langsung dengan Alkitab. Lebih-lebih di era media sosial seperti sekarang, PA dapat dilakukan dengan menggunakan Whats App maupun Telegram. Banyak cara untuk melakukan PA, dan kini tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan PA.

Inilah pengalaman berharga yang kami sampaikan dan bagikan kepada anak-anak praremaja di GKIm Anugerah. Dalam video di blog ini, Anda juga dapat melihat kesaksian dari peserta yang mengikuti acara ini. Kiranya menjadi berkat.

"Gadgetku untuk pertumbuhan rohaniku dan teman-temanku!"
Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

Pengalaman Pertama Mengikuti Raker Tengah Tahun YLSA

Mon, 07/25/2016 - 15:03

Oleh: Andreas*

Sebelum saya menuliskan cerita saya, terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Andreas Danang A., lahir di Surakarta (Kota Budaya dan terkenal dengan nasi liwetnya ....) Oke, sekarang saya mulai perjalanan cerita saya tentang sebuah kegiatan yang mungkin jadi hal yang menegangkan bagi staf SABDA yang baru, cekidot!!!

Saya baru saja berkerja di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Saya sangat senang dan enjoy bekerja di sana. Hari-hari saya lalui dengan berbagai tugas yang harus saya kerjakan sesuai dengan "job" yang telah diberikan kepada saya sebagai salah satu anggota tim Multimedia. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Waktu menulis blog ini saya sudah dua minggu menjadi bagian dari YLSA. Namun, dalam waktu 2 minggu itu, ada hal yang membuat pikiran saya "berterbangan", yaitu Raker Tengah Tahun YLSA yang akan diadakan dalam waktu dekat, ada juga yang menyebutnya "Raker Mini". Saya mulai berpikir, bertanya, dan mencari tahu di Google apa itu "Raker Mini"? Tak berapa lama, titik terang pun mulai menunjukan batang hidungnya. Ternyata, Raker adalah singkatan dari Rapat Kerja, sedangkan Mini adalah kecil. Jadi sekarang saya paham, dan ini adalah Raker Mini pertama dalam hidup saya, woowwww ... !!!

Semua tak berhenti di situ. Saya dikejutkan lagi dengan kabar yang sangat membuat saya deg-degan, saya harus membawakan presentasi (meskipun itu bergantian dengan teman saya juga). Perasaan saya mulai kacau, semua itu karena dalam Raker Tengah Tahun yang saya belum mengerti seperti apa. Duuaaarrrrrr ...! Seperti disambar petir berkekuatan tinggi, jantung saya mulai menari mengikuti irama denyut nadi. Haaahhhh cemas melanda hati, membayangkan apa yang akan terjadi saat

Hari demi hari selang berganti seperti bom waktu yang tinggal menunggu kapan waktunya akan meledak. Hingga waktunya sekarang tiba. Ya, pada tanggal 23 -- 24 Juni 2016 Raker Tengah Tahun akhirnya berlangsung. Acara demi acara berjalan dengan baik dan menyenangkan. Namun, semua berubah saat tiba giliran saya untuk memberikan presentasi. Saat itu, saya dan rekan saya, Lukas, diminta untuk memberikan presentasi singkat tentang Infografis. Meski kami sudah mempersiapkan bahan dengan baik, tetapi tetap saja badan terasa lemas, keringat dingin keluar, jantung berdebaran, semua bercampur menjadi satu. Saya berdoa kepada Tuhan Yesus agar diberi keberanian dan diberi kelancarkan. Doa saya dijawab Tuhan Yesus, semua berbeda dengan apa yang saya pikirkan dan saya bayang-bayangkan, yang membuat hati saya gemetar saat itu. Presentasi berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh teman-teman dan pimpinan. Banyak masukan dan pelajaran yang kami terima mengenai Infografis. Ternyata, masih banyak hal seputar Infografis yang belum saya dalami. Hal ini memacu saya dan Lukas untuk belajar lebih banyak lagi.Raker nanti.

Sungguh, Tuhan tidak pernah terlambat menolong saya. Saya mulai merenungkan apa yang telah terjadi sebelum Raker Tengah Tahun berlangsung. Ternyata Tuhan tak pernah diam dan meninggalkan saya. Dia kirimkan teman-teman yang mendukung dan memberi masukan untuk saya. Tidak cuma itu, dari bahan yang akan disampaikan, hingga saat presentasi, semua berjalan dengan baik dan lancar. Itu bukan karena kemampuan saya, tetapi karena Tuhan Yesus.

Raker terus berjalan dengan berbagai kegiatan; presentasi-presentasi, foto bersama, rencana ke depan, evaluasi dll.. Acara Raker yang saya kira menegangkan ternyata sangat nyaman dan ada rasa kekeluargaan yang sangat dalam di antara kami. Dari Raker Mini ini saya belajar, jangan pernah menyerah dan putus asa dalam memperjuangkan sesuatu, dan yang terpenting adalah andalkan Tuhan Yesus selalu dalam segala usahamu.

Categories: PEPAK

Diskusi FB Grup Bio-Kristi

Mon, 07/11/2016 - 09:08

Bulan Maret 2016, YLSA membuka satu lagi grup diskusi yaitu grup diskusi Bio-Kristi (Biografi Kristiani). Tujuan YLSA membuka grup diskusi ini adalah agar Facebook Grup Bio-Kristi dapat menjadi sarana bagi orang-orang percaya untuk semakin bertumbuh dan menyadari cinta kasih Tuhan melalui kehidupan tokoh-tokoh Kristen yang telah menjadi teladan iman dalam karya dan hidupnya. Lebih lanjut tentang deskripsi, visi, misi, serta aturan dari grup diskusi ini dapat dilihat dalam Deskripsi Facebook Grup Bio-Kristi .

Artikel yang diangkat sebagai topik dalam diskusi perdana grup Bio-Kristi adalah Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Kristen dari Jerman yang gigih menentang kekejaman NAZI dalam masa perang dunia ke-2. Topik tentang tokoh ini diangkat sebagai bahan dalam diskusi perdana karena Dietrich Bonhoeffer menjadi pengikut Kristus yang gigih memperjuangkan kebenaran imannya sampai mati. Kematian yang dihadapi tokoh ini dengan berani sebagai buah dari kesadarannya sebagai pengikut Kristus yang sejati kami anggap tepat untuk memaknai momen Paskah tahun ini. Dengan melihat hidup dan perjuangan dari Bonhoeffer, kami berharap agar setiap peserta yang mengikuti diskusi dapat memahami arti dari bagaimana menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya dan menghargai anugerah Kristus yang mahal.

Dalam kolom Tahukah Anda edisi Bio-Kristi ke 152 yang menampilkan tokoh pendidikan Brazil, Paulo Freire, disebutkan bahwa Freire menganggap penting dialog dalam proses pembelajaran. Dialog, menurut Freire adalah model komunikasi yang alami untuk belajar karena dalam dialog peserta didik diakui sebagai mitra yang sejajar. Dialog memungkinkan kesempatan untuk belajar bersama, dibanding sekadar mengajar. Dialog diawali dengan penghargaan karena kita berdialog untuk belajar dari mereka yang kita ajar. Nah, dalam proses diskusi, dialog sesungguhnya juga menjadi faktor yang dipraktikkan karena setiap peserta diskusi akan mengungkapkan pendapatnya dalam semangat penghargaan kepada peserta lain yang juga mengungkapkan pendapatnya. Tidak ada peserta atau moderator yang akan merasa dirinya lebih tinggi atau lebih pintar dari yang lain, karena setiap orang menyadari bahwa pendapat mereka akan saling melengkapi dan disempurnakan oleh pendapat yang lain. Dengan demikian, proses pembelajaran yang terjadi pun tidak berlangsung satu arah, tetapi dari berbagai arah karena setiap peserta memberikan kontribusinya.

Dari uraian tersebut, kita tentu menjadi semakin paham akan pentingnya diskusi sebagai salah satu cara pembelajaran. Selain menjadi ajang bagi setiap orang untuk mengemukakan pendapat, pengetahuan, serta wawasannya, diskusi dapat juga menjadi sebuah situasi belajar di mana setiap orang berada dalam posisi yang sejajar dan sama untuk bersikap terbuka dalam menerima pendapat dari yang lain, yang mungkin sangat berbeda dan berlawanan. Tanpa memiliki semua semangat tersebut, diskusi hanya akan menjadi ajang debat kusir, pamer pengetahuan, atau yang lebih buruk lagi, sekedar untuk menjawab pertanyaan yang diajukan moderator. Tak ada manfaat dari berdiskusi yang dapat kita temui dalam situasi seperti itu. Oh ya, satu lagi, terbiasa berdiskusi juga akan meningkatkan keterampilan kita dalam berbahasa, berkomunikasi, dan menjadi kritis, yang tentu akan sangat berguna dalam karya dan pelayanan kita.

Sebagai moderator dari grup diskusi Bio-Kristi, saya merasa mendapat banyak kesempatan belajar dengan terlibat di dalamnya. Bukan hanya karena mendapat pelajaran dan wawasan yang baru dari proses diskusi yang berlangsung, tetapi juga karena dalam prosesnya saya sendiri kemudian menyadari bahwa saya masih harus belajar banyak untuk menjadi moderator yang baik, yang dapat mendorong setiap peserta untuk berdiskusi secara aktif dan mengajukan pertanyaan dan komentar-komentar yang akan menambah seru jalannya diskusi. Sementara dari tokoh Dietrich Bonhoeffer yang menjadi topik dalam diskusi perdana ini saya belajar bahwa sebagai orang Kristen kita sesungguhnya juga dipanggil untuk tidak menjadi sama dengan dunia ini, terutama dalam melawan ketidakadilan dan ketidakbenaran. Bonhoeffer berani menyatakan warna kekristenannya yang berbeda untuk melawan arus utama yang salah. Dan, ia mau membayar harga. Ia sungguh-sungguh menilai anugerah dari Kristus bukan sebagai anugerah yang murah dan mudah.

Dari pihak peserta, saya merasa mereka telah cukup berpartisipasi secara aktif dengan memberi pendapat dan komentarnya, meski ada beberapa orang yang tidak melengkapi jawaban diskusi sampai pada pertanyaan terakhir. Ada beberapa peserta yang juga rupanya cukup aktif sebagai anggota dari FB grup YLSA lainnya, seperti KBS atau FB Wanita Kristen. Yang istimewa, sebagian besar dari anggota diskusi FB grup Bio-Kristi ini adalah kaum wanita (9 dari 10 peserta aktif). Wow, salut untuk kaum wanita Saya berharap, selain mereka, masih ada banyak lagi peserta lainnya yang mau ikut bergabung bersama dalam diskusi tokoh Bio-Kristi selanjutnya.

Nah, jika Anda tertarik untuk belajar bersama melalui proses diskusi dalam media sosial, mari bergabung bersama FB grup diskusi Bio-Kristi. Melalui grup ini kita dapat saling belajar dan memperdalam pengetahuan guna memiliki kesadaran sejati akan panggilan hidup orang percaya melalui hidup yang telah dijalani oleh tokoh-tokoh Bio-Kristi. Selain diskusi tokoh Dietrich Bonhoeffer yang sudah dilakukan pada bulan Maret, diskusi mengenai tokoh Martin Luther juga baru saja kami selesaikan pada akhir bulan Juni lalu. Diskusi grup Bio-Kristi selanjutnya akan diadakan pada bulan September 2016, dan silakan mendaftarkan diri untuk bergabung bersama. Kami tunggu keikutsertaan Anda

Categories: PEPAK

Liputan Latihan Persiapan Roadshow Tim #Ayo_PA!

Tue, 07/05/2016 - 11:30

"Gagal melakukan persiapan berarti mempersiapkan kegagalan." (Benjamin Franklin)

Senada dengan kutipan di atas, Yayasan Lembaga SABDA selalu berusaha melakukan persiapan sebaik mungkin untuk kegiatan roadshow di mana pun itu. Tidak peduli roadshow untuk skala besar atau kecil, semua didahului dengan persiapan yang matang. Tujuannya bukan hanya agar tim yang bertugas bisa melakukan pelayanan dengan baik, tetapi yang terutama adalah agar dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan yang kami layani. Dengan begitu, setiap peserta roadshow juga dapat menikmati berkat melalui pelayanan yang kami lakukan.

Tim #ayo_PA! juga melakukan hal yang sama. Setiap kali akan mengadakan roadshow, setiap tim yang bertugas harus melakukan persiapan. Mulai dari materi yang akan disampaikan, cara menyampaikan materi, perlengkapan yang harus dibawa, bahkan jika diperlukan melakukan survei lokasi diadakannya roadshow. Seperti pada tanggal 17 Juni 2016 yang lalu, tim kembali melakukan persiapan untuk presentasi gerakan #ayo_PA! di GKIm Anugerah. Setelah melakukan pertemuan kecil sebelumnya untuk menentukan tim dan materi yang akan disampaikan, tim yang akan berangkat harus melakukan latihan presentasi.

Kegiatan ini dimulai dengan latihan bagi pemandu acara (MC), yaitu Ariel. Petugas yang melayani sebagai MC untuk roadshow #ayo_PA! bertugas mengakrabkan peserta dengan tim #ayo_PA!, memberikan overview presentasi yang akan dibawakan, dan memberikan kesimpulan dari setiap sesi presentasi. MC juga akan mengarahkan peserta untuk mengikuti setiap sesi dengan baik melalui pertanyaan-pertanyaan dan interaksi yang diperlukan.

Setelah itu, dilakukan latihan presentasi untuk presentator pertama, yaitu Ayu. Pada sesi ini, presentator harus bisa mengangkat inti dari presentasi tersebut, yaitu generasi digital native. Anak muda masa kini adalah mereka yang disebut dengan generasi digital native, begitu pula dengan peserta yang akan hadir di GKIm Anugerah, mereka adalah generasi yang tidak asing dengan teknologi. Presentator pertama harus mencapai tujuan dari presentasi pertama ini, yaitu membuka wawasan dan pengetahuan anak-anak remaja di tempat itu bahwa mereka adalah generasi digital yang Kristen, yang harus menggunakan gadgetnya untuk pertumbuhan rohani mereka dan teman-temannya. Karena waktu yang disediakan hanya 45 menit untuk dua presentasi, maka presentasi pertama hanya diberi waktu maksimal 15 menit. Dalam latihan tersebut, Ayu mendapat banyak masukan terutama memperbaiki cara presentasi untuk target anak-anak remaja.

Setelah Ayu selesai menyelesaikan latihan presentasinya, Ariel selaku pemandu acara (MC) mempersilakan Amidya untuk melanjutkan latihan presentasi sesi kedua, yaitu presentasi "PA dan Generasi Digital". Dalam latihan ini, Amidya harus mencapai tujuan utama dari presentasi kedua ini, yaitu menyadarkan pentingnya PA untuk generasi digital dan melakukan PA dengan gadget mereka menggunakan metode S.A.B.D.A. Setiap langkah dari metode S.A.B.D.A. ini dijelaskan oleh Amidya dengan baik dan lancar.

Selain Ariel, Ayu, dan Amidya yang melakukan latihan, Aji yang bertugas untuk hal-hal teknis juga harus latihan. Mulai dari mempersiapkan materi, memastikan LCD dan komputer terhubung dengan baik, audio, pointer, kabel-kabel, rekaman video dan audio. Dari latihan ini, diharapkan masalah-masalah teknis yang ada bisa diatasi terlebih dahulu sebelum pelayanan dilakukan.

Setelah selesai melakukan latihan demi latihan, semua staf yang mengikuti latihan hari itu berdiskusi mengenai kedua presentasi yang dilakukan. Masing-masing memberikan pendapat dan saran agar presentasi bisa dijalankan dengan lebih baik. Ada yang berkomentar tentang gerak tubuh, cara bicara, bahkan tampilan dari presentasi yang dibawakan. Namun, hal tersebut bagi kami sangatlah baik, sebab dengan pelatihan ini kami bersama-sama mengevaluasi dan memikirkan kembali bagaimana cara terbaik untuk menumbuhkan semangat #ayo_PA! dalam setiap hati para generasi digital. Di tengah keseriusan diskusi, salah seorang peserta termuda di pelatihan tersebut, yaitu Jordan, mengungkapkan pendapatnya dengan dua kata saja, "Mudah dipahami," sederhana dan ambigu, membuat gelak tawa pecah saat itu juga. Yah, generasi seperti inilah yang akan kami layani nanti. Kiranya melalui gerakan #ayo_PA! dan roadshow yang kami lakukan ini bisa menolong para generasi digital untuk tetap bersekutu dan bertumbuh di dalam Tuhan dan firman-Nya.

Ayo ber-PA!

Categories: PEPAK

Ramainya Diskusi Kepemimpinan Kristen di Facebook Grup!

Fri, 07/01/2016 - 17:40

Tahun 2016 ini menjadi tahun yang cukup menggembirakan bagi para netter Kristen yang memiliki passion di kepemimpinan Kristen. YLSA melalui tim Penjangkauan membuka kelas diskusi seputar Kepemimpinan Kristen di Facebook Grup. Kini, mereka bisa mendiskusikan topik-topik kepemimpinan Kristen dengan lebih baik. Diskusi perdana membahas mengenai "Kepemimpinan Kristen, Apakah Itu?" yang diikuti 16 peserta.

Puji Tuhan, diskusinya sangat ramai dan setiap anggota antusias untuk belajar. Banyak pendapat yang bisa sangat melengkapi dan mengarahkan kita untuk memahami lebih dalam mengenai kepemimpinan Kristen. Sebagai moderator diskusi, saya sangat bersyukur karena Tuhan telah turut campur tangan dalam proses ini.

Apa ya kesaksian dari para peserta diskusi ini? Penasaran? Yuk, baca kesaksiannya sekarang juga!

Akhim Kupeilang:

Lewat kesempatan diskusi ini, saya belajar beberapa hal:

1. Ada banyak pendapat seputar kepemimpinan Kristen dan saya harus rendah hati untuk menerima dan belajar dari pendapat lain.

2. Ternyata kepemimpinan Kristen bukan topik yang menarik untuk dibicarakan oleh Kristen. Topik yang populer antara lain mukjizat, doa, dll.. Mungkin karena gereja tidak memberi porsi yang banyak dalam mengajarkan kepemimpinan.

3. Saya memakai SABDA tools sejak tahun 2005 dan sangat diberkati, saya juga bersyukur SABDA bergerak menjangkau Kristen dan non-Kristen lewat Facebook.

4. Terima kasih untuk Saudari Santy Tilestian yang sudah memimpin diskusi. Menurut saya, diskusinya sudah berjalan dengan baik, kita doakan dan usahakan supaya semakin lebih baik ke depannya.

Dhanang Rohi:

Saya cukup puas mengikuti kegiatan diskusi grup ini. Banyak hal yang dapat dipelajari. Salah satunya, setiap orang mempunyai pemahaman tentang kepemimpinan dan ilmu kepemimpinan yang berbeda-beda. Banyak jawaban anggota lain yang menanggapi pertanyaan diskusi, yang tidak saya pikirkan. Dari hal ,itu saya dapat belajar bahwa kita hidup dalam sebuah komunitas atau masyarakat yang masing-masing anggotanya berbeda pikiran, pendapat, pengalaman, talenta, dll.. Untuk menjadi pemimpin Kristen tidak perlu menguasai suatu komunitas, cukup mendengarkan dan menerima pendapat orang lain, dan mampu mengambil keputusan terbaik berdasarkan semua pendapat.

Selain itu, menjadi pemimpin kristen, saya harus menunjukkan kualitas sesungguhnya dari pemimpin Kristus, yaitu mengasihi, melayani, dan meneladani ajaran Tuhan Yesus.

Saya tetap berpendapat bahwa kepemimpinan didapatkan melalui pengalaman, sikap hidup, sikap dalam menghadapi sebuah masalah.

Saya dapat belajar bahwa sebagai pemimpin, meskipun bukan menduduki jabatan, saya juga harus menaati atasan saya, termasuk atasan yang agung, Yesus Kristus.

Saya dapat belajar juga bahwa: Saya tidak dapat memenuhi semua ekspetasi dan penilaian orang tentang kepemimpinan kristen yang berkualitas, cara memimpin secara baik, sikap hidup pemimpin kristen, tetapi saya hanya dapat menunjukkan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan sebagai pemimpin Kristen.

Saya berterima kasih buat semua anggota lain yang juga telah menyampaikan pendapatnya sehingga saya dapat belajar dari anggota lain. Tuhan Yesus memberkati kita semua yang telah berperan aktif, dan semua pihak yang menyelenggarakan diskusi ini. Amin.

Andre Mafea:

Sekalipun kita tidak memimpin salah satu organisasi, tetapi minimal kita dapat memimpin diri kta sendiri.

Saya yakin bahwa setiap pelajaran yang telah didapatkan dari diskusi ini tidak akan pernah sia-sia dan akan sangat menolong para peserta bisa memimpin sesuai dengan standar kebenaran firman Tuhan. Selamat memimpin dan melayani! Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

(Akhirnya) SABDA 5 ….

Fri, 06/17/2016 - 10:42

Pada 21 November 2015, saat kami mempersiapkan raker tahun 2015, kami mendengar kabar bahwa OLB (OnLine Bible) versi 5 sudah keluar! Hanya 2 hari setelah Drupal 8 keluar! Segera terbayang di mata saya bahwa tahun 2016 akan menjadi tahun yang sibuk. Sibuk sekali! Puji Tuhan, kesibukan itu membuahkan hasilnya pada akhir bulan Mei lalu, kami bisa merilis SABDA 5.1 Beta, berkat anugerah Tuhan Yesus.

SABDA 5.1 Beta Starterpack (92.4 MB) (1 Juni 2016)

Bagi yang belum mengenal Software SABDA, berikut saya ceritakan sedikit latar belakang dan sejarahnya. SABDA adalah program Alkitab OnLine Bible (OLB) versi Indonesia. Awal pertama SABDA lahir (SABDA 'versi 1') adalah tahun 1993/4. Saat itu belum banyak orang yang memiliki dan memakai komputer, apalagi memikirkan untuk memakai program Alkitab. Software SABDA versi 1 hanya berupa 3 versi Alkitab digital dalam bahasa Indonesia yang disebarkan bersama dengan OnLine Bible Eropa (bahasa Inggris). Selama 5 tahun berikutnya, yaitu tahun 1999, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berhasil mengembangkannya dalam versi bahasa Indonesia, baik dalam antarmukanya maupun sebagian besar isinya. YLSA memberi nama OLB versi bahasa Indonesia ini "SABDA" (Software Alkitab, Biblika Dan Alat-alat) dan SABDA versi 2 didistribusikan dalam CD (teknologi baru saat itu). Tahun-tahun berikutnya, YLSA terus mengembangkan SABDA menjadi SABDA versi 3 yang diluncurkan pada tahun 2004, dan SABDA versi 4 pada tahun 2010. SABDA 4 sudah tidak lagi disebarkan dalam CD, melainkan dengan teknologi penyimpanan baru, yaitu USB, DVD, dan SD Card. Pada tahun 2016, akhirnya SABDA versi 5 hadir di tengah-tengah kita.

Sebenarnya, sejak 2013, atau SABDA versi 4.30, kami tidak lagi sempat memperbarui program SABDA walaupun OLB masih terus mengembangkannya hingga versi 4.42. YLSA tidak mengembangkan lagi karena tidak ada staf yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan pengembangan core Software SABDA. Jadi, yang dilakukan hanya menambah modul-modulnya saja.

Nah, menjelang raker atau memasuki tahun 2016, menjadi semakin jelas bahwa sayalah yang ditunjuk mewarisi proyek. Rencana pun disusun bersama dengan programmer ITS lain. Saya yang selama ini hanya sebatas pengguna Software SABDA kini dipercaya untuk mengembangkan SABDA versi berikutnya. Dengan berbekal dokumentasi dari para master sebelum saya, saya mulai menerjemahkan antarmukanya, yang menurut pengetahuan saya akan memakan waktu paling banyak. Benar saja, pertengahan Maret, antarmuka bahasa Indonesianya baru siap digunakan. Kemudian, saya mulai mendalami cara mengompilasi core, memperbarui halaman bantuan, serta meneliti apa saja fitur yang baru, dan akhirnya perlahan-lahan mulai menguasai cara memperbarui software dan modul SABDA.

Apa yang Baru di SABDA 5.1?

Perkembangan utama SABDA versi 5 adalah adanya SABDA Lite untuk peranti mobile, terutama bagi pengguna Windows Phone. Software SABDA sebenarnya sejak dahulu sudah mendukung Pocket PC, tetapi karena Pocket PC tidak berkembang, SABDA pun bergerak ke arah Android. Baru pada versi 4.40, OLB mendukung tablet Windows Intel. Kemudian, pada versi 5.00, OLB akhirnya menghentikan dukungan terhadap Pocket PC. Mungkin itulah satu-satunya perubahan yang signifikan terhadap para pengguna SABDA.

Bersamaan dengan peluncuran SABDA 5, kami pun tidak mau kehilangan momentum untuk membuat modul-modul baru atau memperbarui modul-modul yang sudah ada. Modul baru yang ditambahkan dalam Software SABDA 5.1 Beta ini, di antaranya adalah:

  1. i_AYT -- 2016 Alkitab Yang Terbuka:

    Alkitab dengan terjemahan modern yang mengusung prinsip: Setia - Jelas - Relevan. Alkitab ini disebut "terbuka" karena menyajikan suatu kondisi ketika orang-orang yang memiliki Alkitab ini akan selalu membukanya untuk dibaca dan dipelajari dengan lebih mudah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dilengkapi dengan catatan kaki (PB).

  2. i_TSI -- 2013 Alkitab Terjemahan Sederhana Indonesia:

    Alkitab Perjanjian Baru yang menggunakan terjemahan bahasa Indonesia sederhana yang cocok digunakan untuk penutur bahasa Indonesia di Indonesia bagian Timur.

  3. id_Matthew_Henry_Cat -- Tafsiran Alkitab Matthew Henry:

    Tafsiran Alkitab oleh Matthew Henry dalam bahasa Indonesia. Saat ini, tersedia empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul, Kejadian, Mazmur, dan Amsal.

  4. id_Renungan_Oswald_Chambers:

    Renungan "My Utmost for His Highest" oleh Oswald Chambers yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sebanyak 366 renungan Kristosentris terbit pertama kali pada tahun 1935 dan sangat disukai oleh banyak orang Kristen di seluruh dunia dan masuk menjadi sepuluh besar buku Kristen terlaris.

Saya bersyukur dapat mengambil bagian dalam pengembangan Software SABDA 5 ini. Doakan supaya SABDA 5 menjadi alat yang dapat digunakan untuk mempelajari firman Tuhan dengan lebih dalam lagi, dan menjadi sarana memperluas penyebaran firman-Nya, sama seperti kehendak Allah yang ditulis dalam surat Paulus kepada Timotius, "... (Kristus) menghendaki semua orang diselamatkan dan dapat mengerti pengetahuan akan kebenaran." (1 Timotius 2:4, AYT)

Categories: PEPAK

Seminar: Be A Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be

Wed, 06/15/2016 - 12:58

Dalam budaya Asia, khususnya pada masyarakat Indonesia, bukanlah satu hal yang aneh ketika anak menjadi pusat dan fokus (perhatian) dalam keluarga. Contohnya, jika kita ingin pergi keluar untuk makan, tawaran untuk memilih tempat tujuan jajan/makan pertama-tama ditujukan kepada anak. Atau, ketika seorang ibu memasak dan menyediakan lauk-pauk, seringnya bagian yang terbaik dan terenak diberikan kepada anak. Bahkan, sampai di atas usia lima tahun, anak-anak terkadang masih dibiarkan tidur bersama orangtua karena orangtua tidak tega membuat anak tidur sendiri di kamarnya. Nah, ternyata menurut Ibu Charlotte Priatna, pembicara dari seminar "Be a Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be", hal-hal itu merupakan budaya dan kebiasaan yang salah dari banyak keluarga. Nyatanya, masih ada beberapa kesalahan atau kekeliruan lagi yang sering kita lakukan, tetapi tidak disadari sebagai suatu kesalahan karena sudah berlaku secara umum. Namun, terus menjalani kekeliruan tersebut tanpa menyadari implikasi dan dampaknya terhadap anak dan masa depannya, tentu saja bukanlah hal yang kita inginkan. Semenjak kecil, anak harus mendapat contoh dan teladan yang benar dalam hal relasi, peran, fokus, tujuan, serta kebiasaan-kebiasaan dari orangtua sehingga kelak mereka pun dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara benar sebagai suami, istri, dan orangtua.

Dalam acara seminar yang berlangsung di Gereja Kristen Kalam Kudus, tanggal 4 Juni 2016 tersebut, Ibu Charlotte mengemukakan dua hal yang menjadi ancaman orangtua dalam mendidik anak. Yang pertama adalah meremehkan pentingnya peran dari hubungan suami istri dalam proses mendidik anak. Dalam kesalahan ini, pembicara menjelaskan bahwa sesungguhnya pengaruh terbesar dalam mendidik anak tidak berasal dari peran sebagai ayah dan ibu, melainkan dalam peran sebagai suami istri. Keberhasilan anak ditentukan dari hubungan ayah ibunya sebagai suami dan istri, dan bukan semata-mata dari hubungan antara orangtua dengan anak. Yang perlu dicatat bagi para orangtua adalah bahwa hubungan yang harmonis di antara suami dan istri merupakan hadiah yang sangat berharga dari orangtua kepada anak. Mengapa? Karena, ketika anak-anak melihat hubungan di antara ayah dan ibunya terjalin dengan harmonis dan penuh dengan cinta kasih, maka hal itu memberikan dasar dan landasan yang kuat bagi psikologis anak untuk merasa aman dan bahagia. Relasi antara suami dan istri menjadi faktor penting yang menyangga sebuah keluarga karena dari sanalah struktur dan jalinan relasi keluarga dibentuk dan diawali. Tanpa kerangka dasar relasi yang kuat antara suami dan istri, maka akan rapuhlah struktur bangunan relasi dalam sebuah keluarga. Hal itu pertama-tama akan berpengaruh pada psikologis dan perkembangan anak, yang kemudian menjalar kepada berbagai bidang kehidupan anak. Maka, untuk terus memupuk dan memelihara relasi di antara suami dan istri, hal-hal seperti dating, bulan madu, dan perayaan hari ulang tahun perkawinan dapat menjadi kegiatan rutin yang perlu selalu dilakukan oleh tiap pasangan. Tidak perlu dilakukan di restoran atau tempat-tempat traveling yang mahal, sebab yang terpenting adalah suasana dan kesempatan untuk meningkatkan relasi dan cinta kasih di antara suami dan istri .

Kesalahan yang kedua adalah hal yang telah disebutkan dalam paragraf pertama, yaitu saat orangtua terperangkap untuk menjadikan anak sebagai pusat (child centered) dalam keluarga. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga sesungguhnya bukanlah untuk membentuk atau melengkapi sebuah keluarga, tetapi hanya memperluas lingkup sebuah keluarga. Yang seharusnya menjadi pusat atau fokus utama dalam sebuah keluarga adalah Tuhan (Christ Centered), karena memang Kristuslah yang menjadi fokus dan inti utama dalam kekristenan. Bukan hanya menjadikan-Nya sebagai kepala dalam tiap rumah tangga, berfokus kepada Kristus juga akan memberikan arahan dan tujuan yang benar bagi tiap keluarga. Jika bukan Kristus yang menjadi fokus dalam keluarga, akan terjadi banyak hal yang tidak akan mendatangkan damai sejahtera di dalam keluarga, dan tentu saja rencana dan kehendak Allah akan sulit terjadi di tengah-tengah situasi seperti itu.

Hal terakhir yang dibicarakan oleh Ibu Charlotte adalah peran suami dan istri di dalam keluarga. Landasan Alkitab bagi struktur peran keluarga terdapat di dalam Efesus 5:21-33. Dari sana, jelas terdapat perbedaan peran antara ayah dan ibu di dalam keluarga meskipun dalam pelaksanaannya keduanya dapat berbagi peran bersama atau saling mengisi peran yang lain ketika memang hal itu diperlukan dalam situasi-situasi tertentu. Peran ayah tidak dapat dilalaikan, begitu pula peran ibu. Karena jika demikian, akan terjadi disfungsi di dalam keluarga. Para istri perlu menundukkan diri kepada suami yang adalah kepala dalam keluarga meskipun kaum wanita adalah pihak yang sering kali memiliki sikap yang mendominasi dan mengatur segala sesuatu. Para suami sebaiknya juga harus mengasihi dan mendukung istri karena itulah yang menjadi kunci dari penundukan diri para istri. Jika peran itu sudah dijalankan oleh masing-masing pihak dengan baik, keduanya akan menjadi tim yang solid dalam berperan sebagai orangtua bagi anak-anak.

Sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu, saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar ini. Ada banyak pembelajaran yang saya dapat melaluinya yang tentu saja sangat berguna untuk diaplikasikan, baik di dalam peran sebagai seorang istri, ibu, maupun di dalam pelayanan. Nah, setelah membaca blog ini, saya harap kita semua bisa mulai menerapkan apa yang sudah disampaikan oleh Ibu Charlotte bersama pasangan masing-masing untuk memberikan teladan dan pola pengasuhan yang baik bagi anak-anak kita. Dengan demikian, kita pun akan dapat melaksanakan dengan baik apa yang menjadi panggilan hidup kita sebagai orang percaya, baik sebagai istri, suami, ibu, ayah, dan orang tua untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Segala puji hanya bagi Tuhan!

Categories: PEPAK

Bukan Rencana-ku, Bukan Rencana-mu, tetapi Rencana Tuhan

Wed, 06/15/2016 - 12:04

Saat sedang menulis sebuah artikel di kantor, aku teringat akan temanku si Yuku, yang memberi tahu soal lowongan kerja di Yayasan Lembaga SABDA. Aku bercerita kepada Mbak Evie di sampingku, "Rasanya, aku tidak akan sampai di SABDA kalau aku tidak kenal Yuku. Aku berutang budi pada dia." Jawaban Mbak Evie sangat tidak terduga, "Bukan Yuku yang memanggilmu ke sini, Jon, tetapi Tuhan yang memanggilmu." Wow, jawaban yang sangat teologis di tengah pembicaraan mengenai pekerjaan. Persoalan hidup yang dibahas dengan kacamata rohani.

Urusan Rohani dan Duniawi di Tangan Tuhan

Inilah pelajaran berharga yang kudapat selama bekerja di YLSA, yaitu semua hal dalam hidup dikerjakan untuk Tuhan (Kolose 3:23), tak ada pemisahan antara urusan rohani dan duniawi. Setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah pertanggungjawaban pada Tuhan. Mulai dari cara kerja, motivasi, dan hasilnya harus dibawa kepada Tuhan sehingga menghasilkan kualitas dan manfaat yang jelas bagi orang lain. Bagi YLSA, hal itu adalah membuat orang mengenal firman Tuhan melalui Alkitab dalam media digital, baik itu situs, media sosial, aplikasi mobile, dan beragam teknologi lainnya.

Jadinya, kondisi kerohanian kita akan terlihat dalam hasil kerja kita, sebab karakter dan pemahaman rohani kita akan terbawa dalam hasil kerja kita, dan bagian yang kurang tepat akan serta-merta dikoreksi untuk menyebarkan firman Tuhan dengan tepat dan komunikatif. Bukan cuma beban kerja, tetapi juga beban rohani dibawa turut serta.

Namun, beban itu tak serta-merta memberatkan, melainkan membuka jalan bagi karunia Tuhan dalam melayani di YLSA. Di antaranya adalah lebih mengenal firman Tuhan dan mengenal potensi diri.

Karunia Rohani dan Profesional

Setiap hari, kami sekantor menjalani Pemahaman Alkitab (PA) bersama untuk memahami dan menerapkan kebenaran firman Tuhan di dalam hidup kami. Dalam 1 jam, kami bisa menggali banyak hal dalam PA dengan metode S.A.B.D.A. ini, baik mengenai konteks ayat, makna tafsiran, dan karakter para tokoh di dalamnya. Terkadang, pembicaraan kami bisa melebar ke berbagai hal: pelayanan gereja, kondisi masyarakat, kesaksian pribadi, dan lain-lain. PA ini membuat Alkitab menjadi sangat dekat dengan kehidupan kami sehari-hari dan mendorong kami untuk membuat aplikasi yang akan diterapkan dalam hidup kami masing-masing. Setiap permohonan kami ditutup di dalam doa.

Dalam pekerjaan, aku diberikan beragam pekerjaan digital. Pertama-tama, aku ditugaskan untuk membuat aplikasi Android dengan programming. Tugas ini berjalan cukup baik dan dikerjakan secara individual. Kemudian, aku didapuk untuk mengelola pelayanan Apps4God yang mencakup situs web, media sosial, dan publikasi sekaligus. Model pekerjaan yang skalanya lebih luas ini menuntut kerja tim, perencanaan, dan manajemen tim yang baik, kontras dengan sebelumnya. Pengalihan kerja ini membuatku frustrasi karena terbiasa bekerja sendiri dan pasif. Aku belajar membuat perencanaan dan pengaturan waktu dengan rinci. Aku perlu melengkapi diri agar bisa melakukan tugas dengan optimal. Teori-teori manajemen seperti PACE, Lean Startup, dan Agile Process, harus diserap dan dipraktikkan. Hasilnya naik turun, tetapi di bagian inilah yang paling memberiku banyak pelajaran untuk mengenal diri, memimpin orang lain, dan bekerja keras sesuai tenggat waktu.

Pelajaran dari YLSA

Dari YLSA, aku belajar bahwa Tuhan telah mempersiapkan pelayanan untuk masa depan, di mana firman Tuhan dapat menyentuh hati orang-orang di zaman yang serba digital. Di zaman yang mulai mengilahkan teknologi dan membuatnya cenderung dijauhi gereja, YLSA menjadi game changer yang menundukkan teknologi untuk melayani Tuhan melalui visi IT4God dan Apps4God. Bagiku, pelayanan YLSA ini keren, revolusioner, dan berdampak.

Masih banyak pelayanan YLSA yang belum sempat aku gali lebih jauh: PESTA, multimedia, SABDA-Bot, dan beragam publikasi Kristen lainnya seperti e-Konsel atau e-Reformed. Bagianku sudah selesai di sini. Tulisan ini bukan hanya tentang aku, tetapi tentang Anda, para pembaca. Apakah Anda ingin mengambil bagian dalam pelayanan masa depan? Apakah Anda seorang ahli IT yang rindu melayani, atau seorang yang ingin menyentuh hidup orang lain dengan firman Tuhan melalui media digital? Anda akan menemukan tempat Anda di sini. Come and join YLSA!

Categories: PEPAK

Melihat Kehidupan di Balik Kematian Kristus

Mon, 06/06/2016 - 12:26

"The Passion of Jesus Christ" adalah salah satu buku bertema Kristus yang ditulis oleh John Piper. Buku ini menjelaskan 50 alasan mengapa Yesus Kristus menderita dan mati bagi manusia. Selama bulan Maret hingga April 2016, buku ini menjadi bahan PA (Pendalaman Alkitab) dalam kelompok PA di YLSA. Secara pribadi, saya tertarik dengan judulnya, khususnya untuk kata "passion". Kata tersebut selalu mengingatkan saya akan satu hal, yaitu "penderitaan Yesus" yang tergambar melalui sebuah film karya Mel Gibson. Penderitaan tersebut ditanggungnya karena kasih dan ketaatan-Nya kepada Bapa. Bahan PA kali ini sangat unik, dan membuat kami ingin lebih memaknai Paskah dengan semakin merenungkan kebenaran di balik penderitaan dan kematian Sang Anak Manusia.

Pertanyaan ini akan selalu muncul dalam benak orang Kristen, gereja, dan mungkin para pengikut agama lain, bahkan seorang ateis. Mengapa Yesus Kristus, yang disebut sebagai Tuhan, harus menderita dan mati untuk manusia berdosa? Bukankah Dia dapat dengan mudah mengambil keadaan yang jauh lebih baik daripada harus menderita, terhina, terbuang, dan mati? Mengapa Dia memilih bagian yang begitu hina dan tidak pantas untuk seorang Raja Yang Termulia ini? Dia tak bersalah, Dia begitu mengalah, Dia menerima segala hukuman. Banyak orang Kristen akan melewatkan pemahaman anugerah yang begitu besar jika tidak mengerti alasan-alasan di balik penderitaan dan kematian Yesus bagi manusia berdosa.

Dalam buku ini, saya merasa sangat bersyukur. Setiap hari, satu alasan demi satu alasan mengapa Kristus menderita dan mati mulai terungkap dan meninggalkan kesan yang dalam di pikiran saya. Beberapa waktu yang lalu, saya hanya berpikir dan mengerti beberapa hal saja mengenai alasan kematian Kristus. Namun, syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, ada begitu banyak hal yang Ia kerjakan melalui penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib, mungkin lebih dari 50 alasan mengapa Yesus Kristus menderita dan mati bagi kita semua. Saya melihat ada dua sisi besar, dan Kristus berada di tengah. Satu sisi alasan penderitaan-Nya adalah karena ada hal yang Ia kerjakan bagi Allah Bapa, sisi alasan yang lain adalah alasan yang Ia kerjakan bagi manusia berdosa. Kristus menjadi pengantara (mediator) bagi manusia berdosa datang kepada Allah. Bukan hanya itu saja, ia juga memberikan banyak hal, Ia menggantikan posisi kita menelan murka Allah, Ia menjamin keselamatan kita, Ia memberikan dasar bagi kita, dan masih ada banyak hal lain lagi yang Ia kerjakan dan Ia bawa melalui penderitaan dan kematian-Nya.

Bersyukur kepada Tuhan untuk kebenaran yang Ia nyatakan. Melalui kematian-Nya, kita beroleh hidup. Saya rasa bukan hanya saya yang merasa beroleh berkat melimpah melalui PA ini, tetapi teman-teman PA lain di YLSA pun juga beroleh kesempatan dan berkat yang sama dengan saya. Saya harus belajar banyak hal selama PA untuk mengerti seberapa besar anugerah yang kita terima di dalam Kristus. Untuk itu, langkah baik yang harus saya kerjakan adalah melihat lebih sungguh Pribadi Yesus Kristus yang menderita dan mati bagi kita sekalian. Puji Tuhan, semangat PA teman-teman!

Categories: PEPAK

Satu Tahun yang Ajaib di YLSA

Fri, 06/03/2016 - 10:33

Oleh: Hossiana*

Tidak terasa sudah hampir satu tahun lamanya saya bergabung di Yayasan Lembaga SABDA untuk bekerja dan melayani Tuhan dalam dunia digital. Saya percaya, jika saya bisa berada di tempat ini, itu semata-mata bukan karena keputusan yang saya buat, melainkan karena campur tangan Tuhan Yesus yang luar biasa dalam diri saya.

Tanggal 18 Mei 2015 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di kantor YLSA untuk kerja magang. Ya, awalnya saya memang berencana hanya untuk magang, mengisi hari libur setelah menghadapi ujian nasional tingkat SMA sekaligus menunggu pengumuman kelulusan. Namun, seiring berjalannya waktu, Tuhan mengubah pemikiran saya itu. Melalui serangkaian proses yang saya lalui di YLSA, di situ Tuhan secara perlahan-lahan menyadarkan saya bahwa saya berada di tempat ini bukan sekadar bekerja dan mengisi waktu senggang, tetapi saya ada di sini untuk melayani Tuhan.

Ada banyak pelajaran rohani yang saya dapatkan di YLSA selama setahun ini. Utamanya, saya belajar untuk mau lebih sungguh lagi belajar firman Tuhan dan memahami kehendak-Nya bagi saya. Melalui PA dan PD yang dilakukan secara rutin, hal itu sangat menolong saya untuk memahami firman-Nya di dalam Alkitab.

Selain pelajaran rohani, ada pengalaman-pengalaman lain yang saya terima di YLSA. Pengalaman itu seperti menerjemahkan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (meskipun kemampuan saya di bidang ini pas-pas-an. Hehehe), mendata buku-buku perpustakaan, mencari bahan-bahan kekristenan untuk dibagikan, membalas feedback para pengguna app melalui Laban, bahkan menjadi moderator RH, SH, dan WWG. Terlebih dari itu, saya juga bisa merasakan betapa kerennya melayani Tuhan dengan media elektronik, yaitu dengan gadget kita. Bagi saya, ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Semua ini hanya karena anugerah Tuhan yang begitu ajaib!

Dan, tidak terasa sudah setahun saya ikut ambil bagian dalam pelayanan di YLSA. Dari yang awalnya bekerja sebagai seorang magang, kemudian menjadi pekerja part time, dan kini saya harus benar-benar meninggalkan tempat ini untuk fokus pada pendidikan saya di perguruan tinggi. Akan tetapi, apa yang sudah saya dapatkan dari tempat ini tidak akan saya lupakan, melainkan akan saya bagikan kepada orang-orang di sekitar saya agar mereka juga dapat merasakan berkat Tuhan seperti yang saya rasakan. Saya tahu, tanpa penyertaan Tuhan, saya pasti juga tidak akan bisa bertahan di YLSA hingga saat ini.

Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan berharga ini. Saya juga bersyukur karena melalui YLSA, saya juga dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang bisa menjadi teladan bagi saya, dan juga dapat membantu saya bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukanlah suatu kebetulan jika satu tahun yang indah saya lalui di tempat ini. Sekali lagi, semua itu hanya karena anugerah Tuhan. Ada maksud Tuhan yang baik dengan menempatkan saya di YLSA. Tuhan sudah bekerja secara luar biasa bagi saya.

Kiranya Tuhan Yesus selalu memberkati pekerjaan dan pelayanan kita semua. Amin.

Categories: PEPAK

#Ayo_PA! dalam Persekutuan Komisi Pemuda GKAI Betlehem Karanganyar

Tue, 05/31/2016 - 15:04

Dalam evaluasi presentasi PA untuk Generasi Digital di PPA Berea GKI Sorogenen, Ibu Yulia, Ketua YLSA, mendorong kami untuk melanjutkan kegiatan ini, yang kami namakan gerakan #ayo_PA!. Pada saat itu, kami semua yang mengikuti evaluasi juga sepakat untuk meneruskannya. Kami mendapat tugas untuk menghubungi gereja-gereja, persekutuan Kristen, sekolah Kristen, dan komunitas Kristen apa pun yang kami ketahui untuk memperkenalkan tentang #ayo_PA! ini.

Saya mendapat tugas untuk sharing kepada rekan-rekan pemuda di gereja saya sendiri, yaitu GKAI Betlehem. Saya menghubungi Sdr. Hosiana, seksi acara dari Komisi Pemuda GKAI Betlehem, dan mendapat respons yang baik. Setelah didiskusikan dengan Ketua Komisi Pemuda GKAI Betlehem, disepakatilah pada tanggal 20 Mei 2016, tim #ayo_PA! akan memberikan presentasi mengenai PA di era digitalini dan metode-metodenya kepada remaja dan pemuda GKAI Betlehem.

Seperti biasa, sebelum melakukan presentasi yang sebenarnya, masing-masing staf yang bertugas harus latihan minimal dua kali di depan teman-teman YLSA lainnya. Untuk acara di GKAI Betlehem ini, tim yang bertugas adalah saya, Ody, Hilda, Jono, dan Aji. Ody dan Hilda, yang akan menyampaikan presentasi sesi satu dan dua, berlatih dengan cukup keras. Hasilnya? Tentu saja, dengan latihan, masukan dari teman-teman, dan pertolongan Tuhan, mereka dapat melakukannya dengan baik pada hari H. Jono juga mempersiapkan dengan baik semua perlengkapan teknis yang diperlukan dalam acara tersebut. Sayangnya, kami tidak membawa layar dan LCD projector cadangan. Meski fasilitas itu ada di GKAI Betlehem, tetapi kurang maksimal karena jarak antara peserta dan layar LCD yang terlalu jauh. Ini jadi catatan penting bagi tim-tim selanjutnya. Sementara itu, saya bertugas sebagai MC yang mengarahkan acara berjalan sesuai rencana dan memastikan peserta bisa mengikuti setiap penjelasan dengan baik. Aji menolong Jono untuk melakukan dokumentasi acara dalam bentuk video.

Dalam acara tersebut, baik Hilda maupun Ody, terus menekankan pentingnya ber-PA bagi generasi digital dengan menggunakan setiap gadget yang mereka miliki untuk melakukan PA. Dimulai dari penjelasan Hilda di sesi pertama tentang generasi digital dan pertumbuhan rohani. Semua orang percaya, termasuk generasi digital yang Kristen, harus mengalami pertumbuhan rohani. Oleh karena itu, di tengah-tengah perkembangan teknologi ini, firman Tuhan yang adalah sumber pertumbuhan rohani harus menjadi hal utama yang diakses para generasi digital melalui gadget mereka. Dengan begitu, mereka bisa tetap teguh dalam iman kepada Tuhan ketika godaan duniawi untuk menjauh dari Tuhan membayangi mereka setiap hari. Mereka harus menggunakan HP mereka untuk makin mengenal Tuhan dan memuliakan Tuhan. Pada sesi kedua, ody kembali menekankan pentingnya PA. Alkitab adalah firman Tuhan yang melaluinya kita bisa mengenal Allah. Alkitab juga yang akan memberikan tuntunan ketika kita mengalami permasalahan dalam kehidupan. Tidak perlu bingung dengan metode karena ada banyak metode yang bisa digunakan untuk PA digital. Salah satunya adalah metode PA S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, Aplikasi). Metode ini bisa digunakan untuk melakukan PA secara digital menggunakan Alkitab audio, aplikasi Alkitab, Alkitab PEDIA, Kamus Alkitab, dan Tafsiran. Kita juga bisa menggunakan sosial media sebagai sarana untuk berbagi firman Tuhan.

Ketika saya menanyakan kepada peserta, apakah mereka sudah biasa melakukan PA, baik secara pribadi maupun kelompok dalam gereja, hampir semua menjawab belum. Inilah tantangannya. Gereja atau institusi pendidikan Kristen sendiri tidak mendorong jemaat atau siswanya untuk melakukan PA. Makanan rohani bagi jemaat hanya diberikan seminggu sekali melalui khotbah pendeta. Atau, bagi siswa/mahasiswa Kristen, pengetahuan Alkitab hanya diberikan berdasarkan kurikulum yang berlaku untuk diajarkan, itu pun hanya kulit-kulitnya. Namun, kami bersyukur karena tantangan kami kepada peserta yang hadir untuk mereka memulai PA disambut dengan baik. Ada yang mengatakan bahwa mereka akan memulai PA itu dimulai dari diri mereka sendiri. Dan, ada juga yang berkomitmen untuk melakukan PA di kelompok kamar asrama mereka (karena peserta kebanyakan mahasiswa STT yang tinggal di asrama). Melalui gadgetnya, mereka dapat mengakses banyak sumber dan alat untuk melakukan PA dengan cara yang menyenangkan, mudah, tetapi tetap mendalam. Beberapa peserta sempat mengakui bahwa mereka tahu kalau PA itu penting, tetapi memang sulit diaplikasikan karena banyak alasan yang dicari-cari. Kiranya melalui presentasi tentang PA untuk Generasi Digital ini, kaum muda yang hadir dalam acara tersebut diterangi hatinya oleh Roh Kudus untuk makin mencintai Alkitab sehingga mereka makin memuliakan Allah setiap hari.

#Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Ulang Tahun Pertama di YLSA

Wed, 05/25/2016 - 13:36

Rabu, 18 Mei 2016, adalah kali pertama aku melewati hari ulang tahunku di SABDA dan kali kelima aku melewati hari ulang tahunku tidak bersama dengan orangtua dan adik-adikku. Ya, sejak 5 tahun lalu, aku kuliah di Surabaya dan karena kesibukan kuliah, aku sering tidak bisa pulang ke rumah tepat pada hari ulang tahunku. Akhir tahun 2015, aku bekerja di Solo, yang jaraknya lebih jauh lagi dari rumah. Namun, aku menyadari bahwa setiap tahunnya, aku tak pernah melewatinya tanpa Allah, Sang Pemberi hidupku. Ayat yang mengingatkanku adalah ini, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu" (Yesaya 46:4).

Setiap ulang tahun, aku terus mengingatkan diriku bahwa waktuku untuk melayani Tuhan sudah berkurang 1 tahun lagi. Bersyukur, kalau setengah tahun ini, aku bisa melayani Tuhan di SABDA. Bertemu dengan teman-teman yang mempunyai hati untuk bekerja bagi Tuhan melalui teknologi di era digital ini.

Apa yang akan terjadi ke depan aku tidak tahu, tetapi aku tahu siapa yang pegang hari esok. Ada satu kalimat yang kuingat pernah diucapkan oleh teman sepelayanan di pelayanan mahasiswa sewaktu kuliah, "Tuhan tidak membawamu sampai sejauh ini hanya untuk meninggalkanmu." Ya, Allah yang sudah menyertaiku sampai sekarang, Allah yang sama jugalah yang akan menuntunku menjalani hari-hari ke depan. Soli deo Gloria!

Kategori: Pelayanan
Kata kunci:

Categories: PEPAK

SABDA MENCANANGKAN GERAKAN #AYO_PA!

Tue, 05/17/2016 - 12:26

Oleh: Aji + Yulia

Beberapa waktu ini, saya dan teman-teman di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) disibukkan dengan perancangan sebuah kampanye untuk gerakan mencintai dan memahami Alkitab yang dinamakan #Ayo_PA! Seperti namanya, kampanye ini pada intinya ingin mengajak orang percaya, khususnya kaum muda, untuk kembali memiliki kebiasaan ber-PA (pemahaman Alkitab), dengan fokus pada penggunaan alat digital, dalam hal ini adalah gawai smartphone. Kampanye ini dirasa mendesak karena pemakaian gawai smartphone sudah begitu marak, tetapi umumnya hanya untuk bersosialisasi, entertainment atau hal lain yang membuang banyak waktu, tak terkecuali oleh anak-anak Tuhan. Melalui kampanye #ayo_PA! YLSA tergerak untuk memberi pemahaman bahwa gawai seharusnya digunakan untuk pelayanan, terutama untuk belajar firman. Yang terutama, YLSA ingin mengampanyekan hal-hal yang bersifat lebih dasar seperti apa pentingnya melakukan PA dan bagaimana melakukannya dengan cara-cara yang relevan pada abad ini.

Seperti diketahui, teknologi terus berubah dari generasi ke generasi. Karena itu, cara-cara melakukan sesuatu tentunya tidak lagi sama dengan sebelumnya. Kampanye ini juga dibentuk atas dasar fakta bahwa banyak gereja sudah meninggalkan kebiasaan ber-PA dan pada saat yang sama mereka kehilangan anak muda dengan sangat cepat. Gereja sebagai tubuh Kristus yang dipimpin oleh Roh Kudus seharusnya menjadi organisme yang paling dinamis untuk bertumbuh, tetapi justru menjadi organisasi yang paling kaku dan sulit menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tidak heran jika gereja menjadi tidak relevan dan tidak menarik bagi anak-anak muda. Dalam hal menelaah firman Tuhan, gereja hanya menggunakan metode khotbah sehingga menghasilkan jemaat yang tidak mandiri dan tidak bergairah dalam belajar firman Tuhan. Jika gereja tidak kembali kepada Alkitab dan tidak beradaptasi dengan kemajuan zaman, anak-anak muda zaman ini berpotensi besar menjadi generasi yang terhilang dari gereja.

Gerakan #ayo_PA! lahir dari pemahaman bahwa kemudahan akses Alkitab di mana pun dan kapan pun, tidak bisa menjadi tolok ukur kesadaran seseorang untuk cinta dan hidup sesuai dengan firman Allah. Orang-orang percaya masih perlu dibimbing, dimotivasi, dan diperlengkapi dengan metode dan alat-alat PA yang tepat dan relevan dengan zaman ini. Untuk melakukan kampanye ini, YLSA untungnya tidak perlu memulai dari nol karena sudah memiliki alat-alat aplikasi dan bahan-bahan pendukung seperti Alkitab elektronik, Kamus Alkitab, AlkiPedia, Alkitab audio, dan masih banyak lagi. YLSA juga telah membuka berbagai chat group dan media sosial yang dapat menjadi wadah berkomunitas dan berbagi firman Tuhan. Selain itu, YLSA juga telah menyediakan metode belajar Alkitab seperti S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa + Diskusi, dan Aplikasi) yang membantu anak-anak Tuhan belajar firman Tuhan dengan cara yang terstruktur.

Seperti telah disebutkan di atas, kampanye #ayo_PA! berharap dimulai dengan menjangkau kalangan anak muda, walaupun bukan berarti jemaat umum tidak bisa ikut berbagian. Mengapa anak muda dulu? Alasannya sederhana, kita harus memulai dari satu titik untuk kemudian menyebar bersama-sama ke kelompok-kelompok yang lain. Namun lebih dari itu, remaja dan pemuda adalah kelompok yang paling mudah beradaptasi dengan teknologi ("digital native"). Kelompok ini juga kelompok yang paling lapar rohani dan paling dibutuhkan gereja. Mereka sudah sangat intuitif dalam menjalankan gawai sehingga tidak perlu lagi membuang waktu mengajarkan cara menggunakan alat-alatnya. YLSA bisa langsung memfokuskan diri pada pembelajaran PA dan metodenya. Selain itu, anak muda juga "lahir" di tengah-tengah maraknya media-media sosial sehingga untuk membagikan sesuatu atau "share" dengan teman-teman yang lain adalah hal yang natural bagi mereka. Semua ini tentunya menjadi modal besar untuk menyebarluaskan gerakan ini pada lebih banyak kalangan. Karena itu, jika berhasil dengan kaum muda, mereka bisa menolong generasi "digital immigrant" mengenal teknologi dan secara berdampingan bisa bersama-sama membangun tubuh Kristus belajar firman Tuhan.

Hal yang ironis dan yang menjadi tantangan justru terletak pada para pemimpin gereja (Penatua dan Majelis), hamba-hamba Tuhan, dan para mentor. Kemungkinan besar merekalah yang tidak siap karena mereka terlalu nyaman menjalankan pelayanan gereja dari puluhan tahun yang lalu sampai sekarang dengan cara yang sama. Ini tentunya menjadi kendala tersendiri mengingat merekalah yang seharusnya membimbing dan memimpin kaum muda. Untuk itu, satu poin penting yang perlu dicatat adalah bahwa kampanye #ayo_PA! tidak sekadar mengajarkan bagaimana ber-PA, tetapi bagaimana mengubah cara pandang pelayanan di era digital, khususnya para hamba Tuhan dan pemimpin gereja, sehingga dapat mengubah gereja untuk dapat lebih relevan dan antisipatif terhadap kebutuhan generasi yang akan datang. Perlu dipikirkan bagaimana melakukan pelatihan bagi para pemimpin atau "training for the trainers". Jadi, boleh disimpulkan bahwa kampanye #ayo_PA! adalah juga proyek multiplikasi trainer-trainer PA, yang selain mempraktikkan PA bagi diri sendiri, juga mengajarkan dan menularkan semangat ber-PA itu kepada orang lain yang akan kembali mengajarkannya kepada orang lain lagi.

Saat ini, YLSA tengah mempersiapkan bahan-bahan pelatihan dan mencoba metode-metode PA yang tepat untuk menjadi paket yang bisa diduplikasikan oleh siapa saja yang ingin ambil bagian dalam gerakan #ayo_PA! ini. Sudah dibentuk tim-tim staf YLSA yang akan menguji coba supaya menjadi lebih baik lagi. Selain itu, YLSA masih menyiapkan infrastruktur, seperti situs ayo-PA, komunitas-komunitas di berbagai media sosial, dan bahan-bahan penunjang lain yang dapat menolong keberhasilan gerakan #ayo_PA! Besar harapan kami, juga dapat diikuti oleh komunitas-komunitas lain sehingga memberi dampak luas bagi Kerajaan Allah.

Nah, jika Anda membaca blog ini dan berminat untuk bergabung dalam gerakan #ayo_PA! silakan kunjungi situs #Ayo_PA! < http://ayo-pa.org >. Anda juga dapat kontak kami di alamat email ylsa@sabda.org. Anda juga dapat bergabung dengan komunitas #ayo_PA! di sosial media berikut ini:
Facebook: Ayo PA < https://facebook.com/ayo.ayo.pa >
Twitter: @_ayo_pa < https://twitter.com/_ayo_pa >
Instagram: @Ayo PA < https://instagram.com/ayo.pa >

Mari bersama menjadi pembelajar Alkitab yang tekun dengan cara dan perangkat digital abad ini. Namun, yang terutama, kiranya kita semakin dibukakan oleh Roh Kudus dengan kebenaran firman Tuhan dan rindu hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. #ayo_PA!

Categories: PEPAK

“May God Give You More Time to Change the World”

Tue, 05/17/2016 - 08:14

Oleh: Harjono

Kalimat di atas adalah kesan dari serangkaian ucapan selamat ulang tahun yang muncul dari postingan media sosial, chatting, SMS, dan ucapan langsung. Kalimat yang terinspirasi dari ucapan temanku yang adalah seorang penginjil ini sangat berkesan bagiku, terutama dalam menginjak usia 23 tahun ini.

Mbak Setya pernah sharing bahwa ketika ulang tahun, waktu seseorang semakin berkurang. Waktu terus berjalan dan tak bisa diputar balik, maka Alkitab mengajarkan, "Ajari kami menghitung hari-hari kami, supaya hati kami datang kepada hikmat" (Mazmur 90:12, AYT). Setiap hari, kita membutuhkan hikmat -- wisdom -- agar hari-hari kita tidak dilalui dengan sia-sia. Banyak kali, aku bergumul dengan dosa dan menjalani hidup dengan tidak memuliakan Tuhan, baik melakukan imoralitas, mementingkan hal-hal duniawi, malas membaca Firman, apalagi membagikannya. Begitu banyak waktu yang terpakai sia-sia karena dosa, dan itu menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidupku.

Di sinilah, aku bersyukur dari ucapan ultah saudara-saudara seiman. Bukan sekadar ucapan selamat dan sukses, tetapi ada doa-doa yang terus mendorongku untuk setia kepada Tuhan dan berada di dalam-Nya. Penyertaan Tuhan tersampaikan dari kepedulian mereka, dan berulang kali meyakinkanku untuk setia pada Tuhan Yesus. Setia pada Tuhan itu susah, tetapi itulah hal yang paling indah. Karya kematian dan kebangkitan Yesus yang mengubah hidupku yang fana menjadi hidup kekal nan sejati dan kudus. Aku berharap dapat hidup terus menjadi saksi Kristus sampai akhir hayat. Aku rindu untuk membagi dan menghidupi firman Tuhan di sekitarku, keluarga, teman, apalagi mereka yang belum pernah mengenal Tuhan.

Aku tak akan bisa menjadi saksi jika tidak memahami Alkitab dengan benar. Pemahaman yang benar dan sehat adalah kunci untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah, bukan berdasarkan asumsi atau dorongan pribadi yang biasanya hanya berujung pada dosa dan kembali menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan. Kembali dari kalimat di atas, sebelum berpikir mengubah dunia, kenalilah Tuhan dari firman-Nya. Kamu akan mengalami perubahan yang jauh lebih besar dan sejati di dalam Yesus. #ayo_PA!

Categories: PEPAK

#Ayo_PA di PPA Sorogenen: PA untuk Generasi Digital

Wed, 05/11/2016 - 14:01

Oleh: Ayu*

Pada bulan Mei 2016, YLSA mulai mencanangkan gerakan #Ayo_PA. Gerakan ini bertujuan untuk menolong remaja dan pemuda Kristen menggunakan gadgetnya dengan benar, terutama untuk belajar firman Tuhan. Kegiatan pertama gerakan #Ayo_PA dilakukan dalam bentuk presentasi dan pelatihan singkat untuk melakukan PA dengan gadget kepada remaja di PPA GKI Sorogenen, Surakarta, pada tanggal 2 Mei 2016.

Acara di PPA GKI Sorogenen diprakarsai oleh Ibu Tutik, mentor PPA GKI Sorogenen. Beliau rindu agar anak-anak didiknya menggunakan gadget untuk memuliakan Tuhan dan mendalami firman-Nya. Kerinduan itu akhirnya disampaikan kepada YLSA dalam bentuk undangan untuk mempresentasikan tentang "PA untuk Generasi Digital" kepada anak-anak remaja di PPA GKI Sorogenen. Hal ini menjadi kesempatan bagi SABDA untuk memulai kegiatan #Ayo_PA untuk pertama kalinya.

Sebelumnya, kami membentuk satu kelompok yang ditugaskan merancang konsep acara dan presentasi yang akan disampaikan. Meski topik ini tidak asing bagi kami, tetapi ini kali pertama kami harus menyampaikannya kepada anak-anak remaja. Saya bersyukur, sebab meskipun saya masih baru, tetapi saya mendapat kesempatan untuk terlibat juga dalam pelayanan ini. Dari kelompok tersebut, kami menghasilkan outline presentasi, power point presentasi, infografis metode PA S.A.B.D.A, dan bahan-bahan pendukung lainnya. Teman-teman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Hilda, Ariel, Amidya , Santi , Ibu Yulia, Harjono, Evie, dan saya sendiri.

Setelah melakukan dua kali latihan presentasi, pada tanggal 2 Mei 2016, berangkatlah saya, Evie, Ariel, dan Hilda ke GKI Sorogenen. Hari itu, saya mendapat tugas membuat dokumentasi dan operator, Hilda sebagai pemandu acara, Ariel untuk presentasi sesi satu, dan Evie untuk presentasi sesi dua. Karena tiba lebih awal di lokasi, kami punya banyak waktu untuk mempersiapkan tempat dan memberi tambahan informasi dalam file power point. Kami juga membuat satu slide tambahan yang menampilkan nama-nama aplikasi belajar Alkitab yang harus diinstal di HP peserta. Saya dan Ariel juga sudah siap dengan aplikasi-aplikasi di HP kami. Jika ternyata paket data dan wifi tidak bisa digunakan oleh peserta, kami masih bisa melakukan transfer file dengan bluetooth.

Sekitar pukul 14.50, kami sudah selesai menata ruangan dan produk SABDA. Akan tetapi, masalah muncul ketika kami mencoba menembakkan proyektor, tampilan PowerPoint tidak begitu jelas karena layar bersaing dengan cahaya dari jendela. Lalu, kami sepakat menggunakan LCD Projector yang kami bawa dari kantor dan menembakkan ke tembok yang tidak berdekatan dengan jendela. Kami juga terpaksa mengubah seluruh tatanan kursi agar peserta dapat melihat materi presentasi dengan baik. Dalam waktu singkat, layout ruangan yang baru sudah terbentuk. Nice teamwork!

Banyak dari peserta yang datang masih memakai seragam sekolah. Mereka berasal dari beragam Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan. Sekitar pukul 15.35, acara dibuka oleh Kak Glen dari PPA dengan doa. Tim SABDA kemudian memulai acara dipimpin oleh Hilda dengan memperkenalkan tentang SABDA dan tim yang datang saat itu. Kemudian, acara dilanjutkan dengan presentasi sesi pertama, yaitu presentasi mengenai "Generasi Digital" yang disampaikan oleh Ariel. Sesi pertama ini cukup menarik perhatian peserta karena peserta diperhadapkan dengan kondisi dan kebiasaan mereka sehari-hari sebagai digital native.

Slide tentang checklist "Are you a digital native" berhasil menarik perhatian peserta, dan berbagai respons pun bermunculan. Mulai dari senyum kecut, lirik kanan-kiri, sampai tertawa lebar. Selain menunjukkan pada peserta posisi mereka sebagai digital native, dalam sesi pertama ini peserta diingatkan tentang status mereka sebagai anak muda Kristen, sembari menjelaskan korelasi kedua hal tersebut. Wajah-wajah serius mulai bermunculan, apalagi saat diputarkan video tentang "Gadget vs Me" yang mengisahkan tentang pemuda yang masih selalu tergoda membuka akun media sosial saat ibadah berlangsung. "Yeah, we got the point!" Mereka mulai menyadari posisi mereka sekarang.

Kemudian, untuk mencairkan suasana, Hilda mengadakan "ice breaker" dengan meminta peserta menyusun potongan kertas yang berisi kata-kata dari ayat 2 Timotius 3:16 (AYT), dan meminta mereka mengirimkan ayat yang dimaksud melalui SMS ke Hilda. Ruangan mulai riuh, wajah-wajah tegang sebelumnya mulai mencair, diganti dengan rasa ingin tahu khas remaja. Suasana menjadi semakin riuh ketika mbak Evie memberitahukan cara yang sangat gampang dan cepat yang tidak mereka pikirkan, yaitu dengan menyalin ayat tersebut dari aplikasi Alkitab tanpa perlu mengetiknya. Wah, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh mereka. "What a smart thing to start the second session", yang kontennya memang lebih berat.

Sesi kedua fokus pada pentingnya Pemahaman Alkitab (PA) dan cara-cara melakukannya di era digital ini. Sesi yang menurut prediksi saya akan berat dan membosankan bagi peserta ini ternyata berjalan lancar. Mbak Evie lebih tampil "all out" pada saat presentasi live dibanding pada saat latihan. Mencoba untuk membangun komunikasi dua arah dengan peserta ternyata cara yang sangat membantu peserta untuk tetap fokus. Dalam sesi ini, ditampilkan berbagai metode PA yang dapat dilakukan anak muda Kristen dengan medsos maupun gadget mereka. . Ada metode Anda Punya Waktu, Walking With God , dan metode S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa dan Diskusi, Aplikasi). Dengan melakukan simulasi menggunakan metode S.A.B.D.A, peserta dapat mengalami langsung bagaimana teknologi yang ada dalam gadget mereka dapat menolong mereka untuk memahami firman Tuhan. Dengan memahaminya, mereka dapat melakukannya dalam hidup sehar-hari. Meski hanya beberapa peserta yang membawa HP saat presentasi kemarin, kami berharap "cheatsheet" (berisi sumber-sumber bahan Kristen yang dapat diakses dengan gadget) yang kami bagikan dapat menolong mereka setelah pulang dari acara tersebut untuk melakukan PA dengan cara yang fun dan praktis dengan gadget mereka. Dengan begitu, para remaja ini akan semakin bertumbuh dengan benar di masa mudanya.

Doa penutup dari Ibu Tutik menutup pertemuan kami sore itu. Sebuah doa yang luar biasa menginspirasi saya secara pribadi, yang mengingatkan bahwa apa yang Tuhan taruh dalam hidup saya bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk turut serta dalam pelayanan yang dilakukan SABDA. Sebuah pengalaman luar biasa yang memberi pelajaran tentang pentingnya teamwork untuk bekerja dengan "passion" dan kasih. Selain itu, kami juga dapat melihat dan merasakan bagaimana Tuhan menolong kami di setiap proses persiapan dan selama acara berlangsung.

Salam IT 4 God. Can't wait for the next event.

Categories: PEPAK

Persekutuan Pemuda GKA Abdi Sabda “Awas Belenggu Teknologi”

Wed, 05/04/2016 - 17:53

Awalnya, saya menghadiri acara di GKA Abdi SABDA ini karena didorong oleh Bu Yulia yang terlebih dahulu mengetahui info mengenai acara pemuda di sana. Bu Yulia mengatakan bahwa pada bulan April ini, persekutuan pemuda di GKA Abdi SABDA membahas tema "Teknologi". Sebagai Pemimpin Redaksi APPPS Live, saya pun tertarik untuk mengikuti acara ini. Tema kali ini cukup menarik, yaitu "Awas Belenggu Teknologi". "Hmm ... kira-kira belenggu seperti apa ya yang diakibatkan oleh teknologi? Wah, bisa jadi bahan yang menarik nih," batin saya.

Rencananya, saya akan berangkat bertiga dengan Mas Jono dan Mas Aji. Namun, karena suatu hal, akhirnya kami hanya berangkat berdua, saya dan Mas Aji. Sekitar pkl. 17.00, kami sudah berangkat ke GKA Abdi Sabda meskipun acaranya baru akan dimulai jam enam sore. Kami bertemu terlebih dahulu dengan Bapak Gembala GKA Abdi SABDA, Pak Franky, untuk berbincang-bincang dan meminta izin meliput pertemuan persekutuan pemuda kali itu sekaligus mewawancarai salah satu pelayan di sana, Kak Yeremia. Perbincangan kami cukup seru. Namun, kami harus mengakhirinya karena jadwal Bapak Gembala cukup padat dan kebetulan persekutuan pemuda juga akan segera dimulai.

Persekutuan dibuka dengan puji-pujian dan salam hangat yang ditujukan kepada kami yang baru pertama kali menghadiri persekutuan tersebut. Pemuda-pemudi di sana sangatlah ramah dan murah senyum, saya sampai merasa seperti sudah kenal dan akrab dengan mereka . Memasuki perenungan firman Tuhan, ternyata yang membawakan firman adalah Kak Yeremia. Dia mengawali materinya dengan menjelaskan berbagai tipe generasi berdasarkan kedekatan mereka dengan teknologi. Mulai dari generasi X sampai generasi Z, dan yang akan datang, yaitu generasi Alpha. Dia menyadarkan para pemuda yang hadir bahwa mereka yang termasuk ke dalam generasi Y dan Z (generasi yang telah mengenal teknologi sejak lahir bahkan menjadikannya bagian dalam hidup mereka), dan kini mereka sedang mengalami belenggu.

Generasi ini begitu kental dengan teknologi dan gaya hidup yang serba cepat dan multitasking. Informasi yang mereka dapatkan begitu banyak dan membuat mereka sibuk, baik dalam pekerjaan maupun pikiran. Hal ini menyebabkan mereka mengalami 'Solitude Phobia', yaitu ketakutan terhadap keheningan. Mereka merasa bahwa keheningan itu tidak produktif dan membuat mereka bisa ketinggalan perkembangan zaman. Padahal, sebagai orang percaya, kita membutuhkan keheningan, berhenti melakukan sesuatu, kecuali membiarkan diri kita telanjang di hadapan Allah dan ditemukan oleh-Nya. Keheningan memberikan ruang bagi Allah masuk dan mengerjakan sesuatu dalam diri kita sehingga kita memiliki intimitas dengan Allah. Berikut ini adalah sebuah kutipan yang Kak Yeremia ucapkan dan sangat menegur diri saya,

"Semakin kita tidak membutuhkan keheningan, itulah sebenarnya saat di mana kita membutuhkan keheningan."

Selain itu, saya juga diingatkan, terkadang ada juga orang-orang yang sudah memiliki waktu untuk berhening di dalam hidup mereka. Namun, karena terus dilakukan setiap hari, itu hanya menjadi rutinitas atau "kelatahan", mereka tidak lagi menjiwai dan memaknainya dari hati mereka. Sebagai penutup, Kak Yeremia menegaskan: keheningan bukanlah barang jadi, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Teknologi bagaikan Dewa Janus yang memiliki 2 wajah, ia bisa menghancurkan (destruct), tetapi juga bisa membangun (construct) tergantung kita menggunakannya. Mari menggunakan teknologi bukan untuk menghancurkan hidup kita, melainkan lebih lagi menggunakannya untuk membangun dan memuliakan Allah.

Salam IT4God!

Categories: PEPAK

Dibentuk, Diperlengkapi, dan Diutus

Wed, 05/04/2016 - 17:12

Syukur kepada Tuhan Yesus yang terus menopang saya untuk mengikuti Dia dengan setia. Saya berdoa, Roh Kudus terus bersemayam di hati saya dan memimpin saya dalam setiap langkah yang saya ambil.

Saya juga bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan digital di Yayasan Lembaga SABDA. Selama 8 tahun, saya dibentuk dan diperlengkapi di tempat ini. Tentu saja ada banyak pelajaran yang saya peroleh ketika saya berada di YLSA. Selain belajar mengenal Kristus lebih dalam dengan menggali dan merenungkan firman Tuhan dalam kelompok kecil dan kelompok besar, saya juga belajar mengembangkan ketelitian di dunia tulis-menulis, mengedit terjemahan, mengoordinasi tugas dan teman sepelayanan, dan berbagai keterampilan yang lain.

Pengalaman-pengalaman mengikuti roadshow, piknik bersama, kerja bakti, dan setiap kegiatan di YLSA sungguh tidak akan didapatkan di tempat lain. Apalagi persekutuan yang selalu dilakukan di YLSA. Ini benar-benar memberi warisan berharga bagi saya. Suasana yang menyenangkan bersama rekan-rekan sepelayanan di YLSA pun tidak akan terlupakan, baik waktu bekerja maupun waktu senam dan makan siang bersama. Karenanya, saya sedih karena kini harus "berpisah". Namun, apa mau dikata, ada ladang baru yang harus saya kerjakan. Setelah dibentuk dan diperlengkapi Tuhan, inilah saatnya saya diutus Tuhan Yesus menjadi "martir"-Nya di "dunia". Saya berharap, saya tetap dikuatkan dan dipakai serta dikenan Tuhan Yesus untuk menggenapi rencana-Nya di bumi. Mohon dukungan doa dari Teman-Teman, ya.

Akhir kata, saya tentu berharap bahwa relasi dan silaturahmi saya dan teman-teman di YLSA akan terus terjalin walaupun kita melayani Tuhan di tempat yang berbeda. Terima kasih untuk kebersamaan dan dukungan doa yang senantiasa diberikan oleh teman-teman kepada saya. Terlebih, Ibu Yulia dan suami, sebagai orangtua rohani yang banyak memberikan wejangan dan nasihat. Tuhan Yesus pasti akan menambah-nambahkan hikmat dan semangat untuk mengerjakan ladang-Nya di dunia digital. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Categories: PEPAK

SABDA Mengikuti Seminar Media Internal

Fri, 04/22/2016 - 10:51

Oleh: Aji*

Pengelolaan media sebuah organisasi haruslah dikerjakan secara profesional berdasarkan perencanaan yang matang. Media internal adalah corong organisasi untuk menyampaikan pesan-pesan bagi "stakeholder" dan khalayak pendukung organisasi. Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) juga memiliki media internal (Berita YLSA) untuk menjangkau para sahabat dan pendukung yayasan. Inilah salah satu alasan mengapa Ibu Yulia, Ketua Yayasan Lembaga SABDA, tertarik untuk ikut dalam seminar "Mengelola Media Internal" yang diadakan pada 30 -- 31 Maret 2016 lalu di Griya Solopos. Saya diajak Ibu Yulia untuk ikut karena kami berdua didaulat untuk bisa membagikan kembali apa yang kami dapatkan kepada semua staf YLSA yang tidak ikut (dengan begitu, kami bisa menghemat biaya).

Secara garis besar, seminar ini dibagi menjadi lima sesi. Sesi I -- III disampaikan pada hari pertama, sedangkan sesi IV dan V pada hari kedua. Sesi hari pertama lebih teoritis, yaitu teori dasar jurnalisme, etika jurnalisme, juga filosofi dan perancangan media internal. Lalu, sesi hari kedua adalah brainstorming dan konsultasi/evaluasi perancangan media internal yang sifatnya lebih aplikatif.

Materi hari pertama, antara lain membahas tentang apa itu berita dan bagaimana mendapatkan berita. Pada era banjir informasi seperti sekarang ini, sangat penting ada validitas dan konfirmasi sehingga kontennya dapat dipertanggungjawabkan. Setelah itu, kami belajar secara singkat tentang kode etik jurnalisme yang membahas tentang bagaimana menyajikan kebenaran dengan sikap yang independen dan akuntable (tidak berpihak dan bertanggung jawab) sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

Pada hari kedua, Ibu Yulia tidak bisa hadir karena ada tugas lain yang harus dikerjakan sehingga digantikan oleh Sdr. Rendy dari div. Multimedia. Memang Bu Yulia kelihatan agak bosan mengikuti seminar ini, mungkin karena materinya terlalu dasar dan lebih berorientasi pada media cetak, tidak seperti yang beliau harapkan. Menurut Bu Yulia, sesi hari kedua lebih cocok diikuti oleh Sdr. Rendy karena membahas tentang layout. Sesi hari kedua ini membahas tentang bagaimana memuat konten yang di-layout supaya lebih "menjual". Untuk itu, pembahasan dimulai dari menentukan target pembaca, pilihan jenis media internal, bagaimana menemukan ide, juga trik dan tip dalam mengeksekusi perancangan, mencakup reportase, penulisan konten, penataan konten/layouting, dan terakhir adalah publikasi konten. Materi sesi ini agak mengecewakan karena hanya menitikberatkan pada media cetak dan hampir tidak membahas tentang media online seperti yang dibutuhkan YLSA. Alhasil, kami tidak mendapat materi yang cukup signifikan untuk dibawa pulang.

Memasuki sesi terakhir, seminar ditutup dengan brainstorming. Masing-masing wakil organisasi mempresentasikan rancangan media internal mereka di hadapan pembicara dan para peserta yang lain. Ada peserta yang sudah sanggup merancang media dengan baik, ada pula yang masih belum memiliki ide atau idenya belum jelas. Saya sendiri sebagai wakil YLSA mempresentasikan laman Berita YLSA yang merupakan media internal Yayasan SABDA. Puji Tuhan, saya bisa membawakan presentasi dengan cukup baik sekaligus sedikit berpromosi tentang SABDA dan apa saja produk-produknya. Rendy, sesekali memberikan tambahan-tambahan informasi yang luput saya sampaikan. Saya bersyukur, respons peserta dan redaksi Solopos cukup baik, tetapi kurang lebih tidak ada masukan dari mereka, kecuali ide untuk memberi sentuhan personal dengan penulisan blog. Namun, hal itu pun sudah dilakukan oleh yayasan (Blog SABDA) sehingga hampir tak ada sesuatu yang baru yang bisa menjadi masukan bagi kami.

Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa materi seminar ini kurang sesuai untuk YLSA yang sudah mengelola media internal selama belasan tahun, sedangkan materi seminar lebih berbicara tentang bagaimana merancang media dari awal sekali atau dari nol. Namun, tak mengapa ... meski secara pribadi saya kecewa dengan konten seminar yang diberikan, tetapi di sisi lain saya belajar bahwa YLSA sudah melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam konteks pengelolaan media internal. YLSA sudah memiliki apa yang baru direncanakan oleh sebagian organisasi lain. Oleh karena itu, kondisi ini seharusnya menjadikan YLSA lebih percaya diri dengan apa yang sedang dikerjakannya saat ini meski bukan berarti boleh bersikap sombong dan tak mau belajar lagi. Yayasan SABDA harus tetap rendah hati untuk mau belajar lebih banyak lagi kepada pihak-pihak lain yang lebih berpengalaman, sembari membagikan ilmunya tanpa pamrih kepada mereka yang baru memulai.

Sesuai dengan perjanjian, walaupun banyak sisi minus dari seminar ini, saya, Rendy, dan Bu Yulia wajib mengajarkan ulang materi yang telah kami terima. Oleh karenanya, seminggu kemudian, kami mempresentasikan kembali apa yang kami dapat sekaligus menjawab rasa penasaran yang berupa pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan kami. Setelah bolak-balik dipikirkan, beberapa ide "olahan" muncul untuk diterapkan di YLSA, seperti misalnya meningkatkan keterlibatan semua tim pelayanan dalam membuat Berita YLSA sehingga bukan hanya tim Humas yang mengerjakan. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan di atas, YLSA seharusnya cukup berani menyelenggarakan seminar serupa khususnya untuk gereja-gereja yang memiliki media internal bagi jemaat. Karena itu, Bu Yulia memberi tugas agar setiap tim mengajukan tema-tema seminar yang bisa YLSA selenggarakan untuk menjadi berkat bagi jemaat Tuhan, khususnya di Solo. Kami sangat senang bisa berbagi dan berharap itu dapat memicu kami semua untuk memunculkan ide-ide yang dapat memajukan pelayanan Tuhan di Indonesia. Kiranya para Pembaca mendukung kami dalam doa supaya Yayasan SABDA semakin giat belajar dan sanggup menjadi media yang dapat diandalkan dan menghantarkan orang percaya untuk bersemangat melayani Tuhan.

Categories: PEPAK

Memanfaatkan Google Calendar untuk Pengaturan Tugas di YLSA

Mon, 04/11/2016 - 12:54

Tahun 2016 merupakan tahun berbenah dan mengembangkan kemampuan staf YLSA untuk semakin efektif dalam bekerja. Khusus pada tahun ini, kami didorong untuk dapat mengatur seluruh program kerja yang sudah disusun pada saat Raker. Banyaknya program kerja dapat memicu munculnya masalah-masalah dalam bekerja, entah itu penyelesaian tugas yang mundur dari deadline, tugas yang terlewat, dll.. Oleh karena itu, kami mencari alat untuk menolong kami dalam mengatur pengerjaan tugas sehari-hari. Kami pun mencoba untuk memakai Google Calendar.

Google Calendar adalah fitur kalender yang disediakan oleh Google sejak tahun 2006 dan tidak hanya berfungsi sebagai kalender. Dengan fitur-fitur yang ada, kita juga bisa membuat agenda kerja. Wah, ketika ada instruksi untuk mencoba menggunakan Google Calendar, saya langsung pusing. Selama ini, saya terbiasa menggunakan kalender konvensional, tetapi sekarang saya harus belajar dan menggunakan kalender digital. Setelah mencoba dan mulai merasakan manfaatnya, saya bersyukur sekali bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk bekerja.

Dengan Google Calendar, kita bisa membuat jadwal dan menentukan "blocking time" dalam bekerja. Kita bisa mengagendakan rapat bersama teman-teman dalam satu tim atau antartim dengan waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Bagi seorang pemula, menggunakan aplikasi ini cukup mudah karena kita cukup memilih Calendar, kita klik di tanggal, langsung kita bisa membuat agenda kerja. Selain itu, kalender yang kita buat dapat dilihat oleh sesama teman kerja. Bagi saya, ini adalah prinsip keterbukaan dalam bekerja karena tiap staf dapat melihat program kerja masing-masing tim dan rasa memiliki semakin ditumbuhkan.

Saya sendiri sudah menerapkan Google Calendar dalam bekerja kurang lebih selama 3 bulan. Hasilnya, saya merasa bahwa tugas-tugas di tim PESTA dan Pendidikan Kristen dapat diatur dengan baik. Agenda yang saya buat dapat dinyalakan notifikasinya sehingga tidak ada tugas yang terlewat. Selain itu, saya sungguh bersyukur karena waktu-waktu bekerja menjadi lebih maksimal. Sepanjang hari di kantor tidak ada waktu yang terlewatkan, kami bisa mengerjakan berbagai tugas dengan baik sesuai agenda yang sudah dibuat. Untuk program kerja yang dibagi berdasar tahun, kuartal, dan bulanan juga dapat dijalankan dengan baik.

Pada akhirnya, saya mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah memberi kami (seluruh staf YLSA) kesempatan untuk memanfaatkan teknologi dalam bekerja. Dengan kalender digital ini, kami dimotivasi untuk semakin maksimal dalam melayani Tuhan dalam ladang pelayanan digital. Kiranya nama Tuhan senantiasa dimuliakan di dalam setiap proyek dan pekerjaan yang digarap oleh Yayasan Lembaga SABDA.

Categories: PEPAK

Komentar