Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Leadership

Loading

Blog SABDA

Syndicate content
melayani dengan berbagi
Updated: 13 hours 50 min ago

Happy Birthday, Benny!

Tue, 04/08/2014 - 15:36

Pada tanggal 6 April 2014, salah satu staf YLSA berulang tahun yang ke-29. Tidak lagi dan tidak bukan, ia adalah Benny, yang dalam Blog SABDA ini, namanya adalah Kusumanegara. Teman saya ini adalah staf YLSA yang biasanya datang ke kantor pada malam hari, tetapi sudah 1 minggu ini ia selalu datang pagi, dan setiap kali datang, teman-teman di kantor pasti akan tersenyum dan menyapanya "Hai, Ben..."

Karena Benny berulang tahun pada hari Minggu, kami baru bisa mendoakannya bersama-sama pada Senin, 7 April 2014. Dalam acara doa tersebut, Benny mensharingkan kesan dan pesannya pada ulang tahun kali ini. Ia mengingat bagaimana beberapa bulan lalu, saudara sepupunya meninggal dunia. Saudara sepupunya adalah seorang dokter dan ia masih sangat muda. Saudara sepupunya meninggal lantaran kecelakaan. Rekan-rekan saudara sepupunya yang notabene adalah para dokter sangat sedih dan juga kehilangan. Benny sendiri sempat shock dengan kematian saudara sepupunya itu, tetapi ia memercayai bahwa kehidupan dan kematian seseorang ada di dalam tangan Tuhan.

Pada ulang tahunnya yang ke 29 ini, Benny ingin lebih lagi bisa menggunakan waktunya bagi Tuhan. Tuhan telah memberikan beribu-ribu kesempatan dalam hidupnya sejak ia dilahirkan hingga usianya yang ke 29. Oleh sebab itu, ia ingin menggunakan waktu dan peluang yang ada dengan sebaik mungkin untuk kemuliaan nama Tuhan.

"Selamat ulang tahun Benny, wish you all the best!"

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Alkitab Yang Terbuka, Alkitab Abad ke-22

Fri, 03/28/2014 - 07:51

"Alkitab Abad ke-22" adalah Alkitab yang multi-platform, multi-format, dan sosial. Itulah yang saya tangkap dari presentasi SABDA di Salatiga, pada Kamis, 16 Januari 2014 yang lalu. Kalau cerita ini saya mundurkan sedikit, saya akan mulai dari awal perjalanan kami ke Salatiga.

Beberapa bulan yang lalu, ketika saya (mewakili SABDA) berkesempatan mengikuti sebuah kursus misi intensif di Surabaya, saya berkenalan dengan Mas Edi dari Salatiga. Karena tidak banyak peserta yang berasal dari Jawa Tengah, saya pun segera 'nyambung' dengan Mas Edi, dan tidak lama kemudian kami sudah bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa yang 'medok'. Mengetahui saya dari Yayasan Lembaga SABDA, Mas Edi mengundang kami untuk memberikan presentasi kepada anak-anak muda mengenai visi SABDA dan pengenalan tentang Biblical Computing yang digeluti oleh SABDA. Kami pun setuju. Tak berapa lama kemudian, Mas Edi mengontak kami lagi dan memastikan bahwa pertemuan itu akan diadakan di Salatiga pada bulan Januari 2014.

Staf SABDA yang ditunjuk untuk pergi adalah Khenny, Pak Philip, dan saya. Saya mendapat giliran pertama untuk memperkenalkan organisasi YLSA, visi IT 4 GOD, dan sedikit mengenai produk SABDA, khususnya yang terdapat di dalam DVD Library SABDA Anak 1.2. Khenny mendapat ‘jatah’ menyampaikan visi Alkitab mobile, yang sangat relevan untuk para remaja dan pemuda yang hadir saat itu. Sedangkan, Pak Philip menyampaikan presentasi yang menjadi judul dari blog ini. Persiapan kami lakukan dengan cukup cepat. Akhir dari persiapan adalah makan malam bersama dengan keluarga Bu Yulia. Malam itu kami menggodok lagi persiapan terakhir sebelum berangkat ke Salatiga.

Pada Kamis pagi itu, kami di Salatiga dan bertemu dengan Mas Edi. Kami mendapat waktu 3 jam untuk ‘menularkan’ visi pelayanan SABDA kepada sekitar 100 anak muda dari belasan kota dari seluruh Indonesia. Selain memberikan presentasi, kami juga membuka meja display produk-produk pelayanan YLSA dan meja instalasi aplikasi Alkitab ke HP atau perangkat mobile, baik berupa Alkitab teks maupun Alkitab audio dalam berbagai bahasa.

Ada satu presentasi yang baru pertama kali saya dengar dan saya harap meninggalkan kesan yang dalam di hati para remaja dan pemuda itu, yaitu presentasi tentang Alkitab Abad ke-22 yang dibawakan oleh Pak Philip. Presentasi itu diawali dengan adanya kebutuhan bahwa saat ini perlu ada sebuah terjemahan Alkitab yang modern, mudah dimengerti, dan lengkap di Indonesia. Pak Philip menceritakan bagaimana Yayasan Lembaga SABDA dipercaya oleh Tuhan untuk menyelesaikan Alkitab yang Terbuka (AYT), sebuah terjemahan Alkitab, yang diharapkan setia, jelas, dan relevan. Alkitab abad ke-22 adalah Alkitab yang tidak hanya bisa dibaca saja dengan gadget apa pun, tetapi juga dapat dipelajari/digali dan hasilnya bisa dibagikan kepada orang lain lewat sosial media.

Mengapa disebut "AYT" atau "Alkitab Yang Terbuka"? Disebut "terbuka" karena menyajikan suatu kondisi ketika orang-orang yang memiliki Alkitab ini akan selalu membukanya untuk dibaca dan dipelajari dengan lebih mudah. Lawan dari kata "terbuka" adalah "tertutup", artinya tidak sedang dibuka/dibaca. "Motto" dari AYT adalah "Setia, Jelas, Relevan". Apa artinya?

"Setia" berarti terjemahan Alkitab ini didasarkan pada sumber-sumber bahasa asli Alkitab, yaitu Ibrani dan Yunani. Selain itu, terjemahan AYT juga setia pada sejarah terjemahan Alkitab bahasa Indonesia. Fakta mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling kaya memiliki terjemahan Alkitab di dunia (di luar bahasa Eropa). Apa yang sudah dilakukan sejak tahun 1629 sampai sekarang oleh Ruyl, Leydekker, Keasberry, Brouwerius, Shellabear, Klinkert-Bode (Terjemahan Lama), LAI (Terjemahan Baru, Kitab Suci Injil (KSI)), Yayasan Kalam Hidup (Firman Allah yang Hidup--FAYH), Yayasasan OBOR (Kitab Suci Komunitas Kristiani--KSKK), dalam menerjemahkan Alkitab-Alkitab merupakan suatu kekayaan yang luar biasa yang tidak mungkin diabaikan. Belum lagi jika ditambah dengan referensi dari Alkitab-Alkitab terjemahan bahasa Inggris dan bahasa suku yang sangat banyak.

"Jelas" berarti enak dibaca dan isinya mudah dimengerti karena menggunakan bahasa Indonesia modern abad ke-21. Perkembangan bahasa Indonesia mau tidak mau mendesak kebutuhan sebuah Alkitab yang mengikuti perkembangan zaman, khususnya untuk kepentingan anak-anak muda yang sulit membaca struktur kalimat dan pilihan kata dalam bahasa Indonesia kuno. Selain itu, AYT bersifat jelas karena menyediakan bahan-bahan pendukung seperti catatan kaki, referensi silang, kamus Alkitab, dan sebagainya sehingga memudahkan pembaca Alkitab untuk mengerti isi Alkitab dengan lebih baik.

"Relevan" artinya AYT relevan dengan teknologi abad ke-21 sehingga AYT tidak hanya bisa dibaca dalam versi cetak, tetapi juga tersedia dalam bentuk multi-platform (versi web, versi mobile, dll.), beragam format (versi digital: teks-gambar-audio-video), dan sosial (dapat dibagikan melalui media sosial dengan mudah). Dengan demikian, AYT menjadi sangat dekat dengan kebutuhan generasi abad ke-21. Edisi digital AYT terintegrasi dengan terjemahan Alkitab dalam berbagai versi, kompilasi kamus Alkitab, Pustaka Terbuka, kompilasi pengantar kitab, leksikon Yunani dan Ibrani, interlinear, ayat paralel, daftar buku: berisi lebih dari ratusan buku Kristen, lebih dari 750.000 referensi silang, dan informasi detail lainnya.

Setelah menyimak presentasi tersebut, saya merasa tidak sabar menunggu agar tim editing AYT dapat segera menyelesaikan AYT beserta infrastruktur pendukungnya, sambil menunggu datangnya abad ke-22. Doakanlah!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

YLSA dalam Pelayanan 121 Connectors

Thu, 03/27/2014 - 07:42

Percayakah Anda bahwa kemajuan teknologi saat ini telah memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk menjangkau lebih banyak jiwa datang kepada Kristus? Ya, tentu saja! Beberapa lembaga dan perorangan, di Indonesia ataupun di luar negeri, telah melakukannya. Salah satunya adalah Network 211.

Network 211 adalah sebuah yayasan penjangkauan misi dunia yang berfokus pada penginjilan global dan pemuridan melalui internet, melalui situsnya, JourneyAnswer.com. Yayasan ini didirikan oleh Dr. George M. Flattery sejak tahun 1998 dan situsnya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di lebih dari 200 negara, termasuk di Indonesia, TerangHidup.com. Network 211 ini bekerja sama dengan beberapa lembaga untuk menyatakan Injil abad pertama dengan menggunakan teknologi abad ke-21, yaitu melalui jaringan internet.

Mengapa internet? Saat ini, masyarakat abad ke-21 telah menjadi komunitas global dengan akses internet yang tidak terbatas, kapan saja, dan di mana saja. Namun, di tengah segala kemajuan tersebut, ada begitu banyak orang yang sebenarnya sedang mengalami "kemunduran" karena berbagai macam permasalahan hidup yang belum terselesaikan. Mereka membutuhkan Pribadi yang dapat menjadi jawaban atas semua pergumulan mereka selama ini, dan tidak ada cara lain selain membawa mereka kepada Yesus Kristus. Dengan berkunjung ke JourneyAnswer.com, orang-orang yang membutuhkan pelayanan dapat mengirimkan surat elektronik (e-mail) dan membagikan pokok doa, pertanyaan, serta pergumulan hidup yang sedang mereka hadapi. JourneyAnswer.com menyediakan orang-orang yang bertindak sebagai konselor, yang disebut dengan "connectors", yang akan menjawab surat-surat mereka, serta menolong dan membimbing mereka untuk semakin mengenal Yesus Kristus.

Lalu, apa yang dilakukan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berkaitan dengan pelayanan Network 211 ini? Surat-surat yang masuk ke situs Network 211 di Indonesia, yaitu TerangHidup.com, ternyata cukup banyak sehingga perlu bantuan dari pihak luar, yang bertindak sebagai "connectors", untuk ikut melayani dengan menjawab surat-surat tersebut. Karena itu, TerangHidup.com menghubungi YLSA dan berharap bisa berbagi beban untuk melakukan pelayanan ini bersama. Melihat visi pelayanan TerangHidup.com dan juga pentingnya surat-surat ini untuk direspons dengan baik, maka Ibu Yulia, selaku pimpinan YLSA, bersedia mengulurkan tangan. Dengan mengerahkan seluruh staf YLSA untuk menjadi "connectors", maka mulailah kami menjalin pelayanan bersama untuk menjawab surat-surat yang masuk di situs 121Connectors.com.

Sampai hari ini sudah ada ratusan surat yang kami jawab. Dengan kemajuan perkembangan teknologi, orang-orang menjadi semakin "familiar" dengan pelayanan yang disediakan di internet, termasuk orang-orang yang memiliki berbagai macam pergumulan hidup. Mereka datang ke internet untuk mencari pertolongan, mulai dari permasalahan tentang kekhawatiran, kematian, sakit penyakit, keputusasaan, hingga hidup yang tanpa arti dan tujuan. Kesempatan untuk melayani mereka merupakan kesempatan emas yang tidak ingin kami sia-siakan. Melalui pelayanan ini, kemampuan setiap staf dalam berkorespondensi dan memberikan pelayanan konseling juga ditantang agar terus maju. Puji Tuhan untuk berkat pelayanan ini.

Keterlibatan YLSA dalam pelayanan ini senada dengan kerinduan YLSA untuk mempersembahkan teknologi bagi kemuliaan nama Tuhan. Sebenarnya, selama ini YLSA juga telah menyediakan banyak bahan konseling untuk berbagai permasalahan hidup melalui situs C3I dan milis publikasi e-Konsel. Ternyata Tuhan memberikan kami pelayanan bukan saja untuk menyediakan bahan, tapi juga mempraktikkan bahan-bahan tersebut. Puji Tuhan, kerinduan untuk secara langsung menolong jiwa-jiwa yang haus akan kasih Kristus tersalurkan melalui pelayanan ini. Bersyukur pula, karena melalui bahan-bahan yang sudah ada di situs-situs YLSA, kami bisa diperlengkapi untuk merespons surat-surat yang masuk dengan lebih baik.

Bagi staf YLSA yang telah terlibat, silakan memberi kesaksian pengalaman teman-teman melayani sebagai "connectors". Saya yakin kesempatan berbagi ini dapat menjadi berkat bagi Sahabat dan Pendukung YLSA.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Sepenggal Ceritaku di YLSA

Wed, 03/26/2014 - 12:59

Hidup seperti halnya perjalanan, ada pos-pos perhentian yang harus kita lalui agar kita bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Demikian juga dengan waktuku di YLSA, aku merasa sudah harus segera bergegas melanjutkan perjalanan hidupku ke tempat lain.

Tidak disangka, ternyata aku sudah 3 tahun lebih 4 bulan di YLSA, khususnya di divisi PESTA. Waktu berjalan dengan cepat. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di YLSA sampai detik saat aku menulis tulisan ini, ada banyak yang berubah. Dulu, waktu pertama kali masuk YLSA, aku bukan siapa-siapa, tetapi sesudah belajar, bekerja, dan melayani di YLSA, aku masih tetap orang yang sama... (hehehe..:D). Orangnya sih masih tetap sama, bedanya agak lebih gemuk. Yang banyak berubah adalah pengetahuanku, bukan hanya pengetahuan tentang firman Tuhan, tetapi juga pengetahuan dan kemampuan di beberapa bidang pelayanan, khususnya pelayanan yang bersangkutan dengan pelayanan elektronik.

Aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar YLSA karena apa yang dikerjakan YLSA merupakan visi besar dari Tuhan, dan Tuhan masih terus campur tangan dalam pelayanan YLSA. Banyak hal yang membuatku kagum dengan karya Tuhan bagi YLSA. Segala pujian dan hormat hanya bagi Tuhan Yesus.

Terima kasih banyak buat rekan-rekan seperjuangan di YLSA. Bersanding dengan kalian membuat saya dapat belajar banyak. Bukan hanya belajar IPATEK (Ilmu Pengetahuan Alkitab dan Teknologi), tetapi juga belajar banyak tentang filosofi hidup dan arti dari sebuah persahabatan. Bagi saya, keluarga besar YLSA sudah seperti saudara. Terima kasih banyak teman-teman, "Peace and Love". "Aku ora mungkin lali kowe kabeh" (bahasa Jawa), yang artinya: "Saya tidak mungkin melupakan kalian semua."

Dari hati yang paling dalam, saya juga sangat berterima kasih kepada Ibu Yulia yang sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk bergabung dalam pelayanan di YLSA. Urapan Tuhan terus menyertai Ibu Yulia dan keluarga. Saya sangat bangga memiliki pemimpin seperti Ibu yang memiliki dedikasi dalam pelayanan dan hati yang sangat mencintai Tuhan. Intinya terima kasih banyak buat semuanya.

Saya juga mohon dukungan doa untuk pelayanan dan pekerjaan saya selanjutnya karena saya tahu bahwa di mana pun kita bekerja ataupun melayani, pasti ada tantangan yang menghadang. Sebab, itulah hidup, selama kita masih di dunia ini, selama itu juga permasalahan dan tantangan akan mewarnai kehidupan kita semua.

Di akhir cerita, saya ingin minta maaf kepada teman-teman dan seluruh keluarga besar YLSA. "Tidak ada gading yang tak retak", begitu juga dengan setiap orang, pasti ada salahnya, tidak terkecuali saya. Karena Tuhan sudah mengampuni segala dosa dan kesalahan kita semua, marilah kita juga saling mengampuni. Akhir kata, "Soli Deo Gloria". Tuhan Yesus menyertai kita semua. Amin.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

KEJUTAN INDAH: KPIN Solo, Seminar oleh Pdt. Dr. Stephen Tong dan YLSA

Fri, 03/14/2014 - 14:10

Oleh: Farida Lahenda

Sungguh luar biasa rencana Tuhan bagi hidup kita ini. Apa pun yang kita alami sehari-hari, tidak ada yang kebetulan. Semuanya telah dirancang dengan sedemikian rapi dan teliti. Kupikir kalau Tuhan adalah seorang figur kekasih, Dia adalah kekasih yang sangat mengasihi kita dan gemar memberi kejutan indah untuk menyatakan kasihNya.

Perjalananku ke Solo adalah karena undangan Ibu Yulia untuk mengetahui secara langsung aktivitas pelayanan Yayasan Lembaga SABDA. Perjalanan ini ternyata adalah bonus awal tahun dari Tuhan yang merupakan kejutan rohani yang teramat indah untukku. Betapa tidak? Aku yang sudah berusia 63 tahun, tanpa konsep apa pun di dalam benak ini kecuali kerinduan untuk terlibat dalam pelayanan untuk Tuhan, bisa tiba di Solo, mengenal YLSA, dan mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan. Begini kisahnya:

Aku berangkat dari Surabaya pada hari Rabu pagi tanggal 12 Februari 2014 dan tiba sore hari di Solo. Keesokan harinya, Kamis 13 Februari 2014, aku langsung mendapat kesempatan bersama teman-teman staf YLSA, mengikuti acara Kebaktian Pembaruan Iman Nasional (KPIN). Acara ini adalah salah satu safari pelayanan Pdt. Dr. Stephen Tong beserta timnya ke seluruh Indonesia sejak tahun 2012, untuk memberitakan Injil dan menguatkan iman orang-orang percaya di Indonesia. Solo adalah kota ke-70 yang dilayani Pdt. Dr. Stephen Tong. Aku begitu terpana mendapatkan kesempatan langka ini. Tidak disangka-sangka kalau kesempatan emas mengikuti KPIN ini kuperoleh dengan begitu mudahnya. Bersama semua staf YLSA, aku dapat ikut berpartisipasi melayani sekaligus mendengar khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong yang bertemakan: “Bertobatlah! Mengapa harus binasa?” Aku yakin banyak anak Tuhan yang ingin dapat menghadiri acara ini dan berusaha dengan segala cara, namun tidak ada kesempatan. Aku sungguh bersyukur. Aku mendengar cerita dari teman-teman mudaku, staf YLSA, mereka berhujan-hujan dan berlelah-lelah bertugas di lapangan untuk mengatur transportasi peserta. Walaupun aku tidak bisa ikut terjun di lapangan, aku bisa duduk di tribun dengan Santi untuk menjaga barang-barang teman-teman yang sedang melaksanakan tugas di lapangan. Bukankah ini suatu kemudahan karena di tengah keterbatasanku aku masih tetap bisa melayani? Ini adalah rangkaian kejutan indah yang Tuhan berikan untukku.

Acara KPIN Solo ini memang luar biasa menakjubkan. Sekalipun hujan deras mengguyur kota Solo, terutama di stadion Sriwedari, yang menjadi lokasi diselenggarakannya acara tersebut, namun pada sekitar pukul 18.00 hujan berhenti tepat saat kebaktian dimulai. Tuhan telah menjawab doa-doa orang percaya yang mengandalkan pertolonganNya tepat pada waktunya.

Semangat para peserta kebaktian juga tidak terkendala oleh cuaca buruk. Di tengah hujan rintik-rintik, mereka tetap berdatangan membanjiri stadion Sriwedari. Ribuan orang datang menghadiri kebaktian, bukan hanya dari kota Solo saja, tetapi dari berbagai kota di sekitar Solo. Banyak jiwa terhibur dan dikuatkan oleh Firman Tuhan yang dibawakan oleh Pdt.Dr. Stephen Tong dan juga oleh Ev. Michael Liu, seorang penginjil muda yang memberikan kesaksian mengenai pertobatannya. Bahkan, aku yakin ada juga banyak orang yang dimenangkan untuk Kristus melalui KPIN ini. Secara pribadi, aku juga mendapatkan berkat, bukan hanya melalui Firman Tuhan yang jelas kurasakan kehadiranNya, melainkan juga dari keteladanan hamba Tuhan yang sudah berusia 74 tahun ini. Ia memberikan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan dengan setia dan tidak kenal lelah. Di tengah cuaca yang tidak berkompromi, hujan rintik masih sesekali turun di lapangan sehingga menjadi becek dan kotor, berdiri di atas panggung tanpa tenda pelindung, semangatnya seperti tidak pernah akan padam. Suaranya tetap menggelegar dan berapi-api sekalipun kadang terbatuk-batuk. Karismanya menawan para peserta kebaktian yang merindukan hadirat Tuhan dinyatakan melalui Firman Tuhan yang disampaikannya. Aku jadi merasa semakin kecil dan tidak berarti karena baru akan mulai menyerahkan diri di usiaku yang sudah senja ini. Boleh dikata, aku hanyalah seorang ‘pupuk bawang’. Namun, sungguh karya hidup Pdt. Dr. Stephen Tong dalam pelayanan membuatku makin diteguhkan untuk tidak pantang menyerah dalam melakukan pelayanan apa pun nantinya. Dan, talenta sekecil apa pun yang kumiliki, akan dapat dilipatgandakan untuk kemuliaan Tuhan.

Kejutan selanjutnya terjadi pada keesokan harinya, tanggal 14 Februari 2014. Pada saat orang-orang di belahan barat bumi ini merayakan ‘Valentine day’ atau hari kasih sayang, maka di Solo, dalam guyuran hujan abu vulkanik Gunung Kelud, aku mendapat kesempatan mengikuti seminar Pdt.Dr. Stephen Tong, yang diadakan di Hotel Novotel. Hujan abu terus mengguyur kota Solo selama seminar berlangsung.

Walaupun di hotel, di dalam ruangan yang tertutup dan berpendingin, debu abu masih terasa merayap dan menghinggapi setiap sisi dan pojok ruangannya. Namun, hal itu tidak mematahkan semangat para peserta yang sangat antusias mendengarkan ceramah dari pembicara penuh karisma, Pdt. Dr. Stephen Tong. Ruang seminar yang cukup besar itu diisi oleh lebih dari separuh peserta dari kalangan pendidik, hamba Tuhan, penginjil, dan aktivis gereja. Acara yang dimulai pukul 10 pagi itu dikemas dalam bentuk wawancara. Tanpa terasa, para peserta digiring untuk belajar melalui kesaksian para hamba Tuhan GRII yang diwawancara oleh Pdt.Dr. Stephen Tong. Beberapa pertanyaan cerdas dan tajam diberikan dan harus dijawab dengan lugas dan tidak bertele-tele oleh ‘interviewee’.

Menurut saya, seminar bermetode wawancara ini sangat inovatif dan kreatif, serta menjadikan seminar ini santai, namun tetap berkualitas. Di tengah-tengah wawancara, Pdt. Dr. Stephen Tong sering memasukkan banyak pengajaran sehingga peserta dapat belajar mencermati isu-isu penting yang disampaikan oleh pembicara, terutama dalam konteks pelayanan penginjilan. Seminar ini benar-benar menyemangati semua pekerja Tuhan untuk memiliki roh semangat pelayanan seperti yang dimiliki pembicara.

Tak terasa tiga jam berlalu, walaupun sebenarnya masih ingin duduk lebih lama lagi untuk lebih banyak belajar. Pada akhir seminar, semua staf YLSA yang hadir tidak hanya mendapat kesempatan berjabat tangan dengan Pdt. Dr. Stephen Tong, tapi juga berfoto bersama. Berkat yang kuperoleh hari itu akan terus terpateri dalam memori, dan membawaku lebih bersemangat melayani Tuhan sesuai dengan porsi dan talenta yang kumiliki, dan tempat di mana Tuhan menempatkan aku nanti.

Terima kasih Tuhan untuk kesempatan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan di kota Solo melalui KPIN, seminar, dan juga kesaksian yang kulihat dari teman-teman muda staf YLSA untuk membesarkan dan meninggikan nama Tuhan. Sungguh suatu kejutan rohani yang sangat luar biasa indah bagiku. Haleluya!

Farida Lahenda adalah salah satu sahabat YLSA yang sempat berkunjung ke kantor YLSA beberapa waktu yang lalu.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

YLSA dan Kebaktian Pembaruan Iman Nasional (KPIN) Solo

Wed, 03/12/2014 - 13:07

Bagi beberapa orang, terutama anak muda, 'Valentine' atau hari Kasih Sayang merupakan momen istimewa untuk mengungkapkan perasaan kasih kita kepada pasangan, keluarga, sahabat, atau orang-orang terdekat lainnya. Tahun ini, seluruh "penghuni" SABDA mendapatkan kesempatan langka dan berharga untuk menyatakan kasih kami kepada Tuhan Yesus.
Pada malam hari Valentine, yaitu tanggal 13 Februari 2014, di Solo diadakan acara Kebaktian Pembaruan Iman Nasional (KPIN) yang diselenggarakan oleh Stephen Tong Evangelistic Ministry International (STEMI), dengan pembicara utama Pdt. DR. Stephen Tong, seorang penginjil kaliber dunia yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Acara ini dilangsungkan di Stadion Sriwedari Solo, mulai pukul 18.00 hingga selesai, dan dihadiri oleh kurang lebih tujuh ribu anak-anak Tuhan dari Solo dan sekitarnya.

Pada acara ini, tim Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) sebenarnya tidak masuk dalam kepanitiaan, tetapi karena menyadari besar dan pentingnya acara ini, kami belajar proaktif dengan mengajukan diri untuk bergabung menjadi bagian dari tim Ibu Widya (salah seorang panitia). Dua minggu sebelum acara, kami sudah membentuk "internal team" untuk menyebarkan brosur ke beberapa tempat seperti: sekolah, kampus, gereja, komunitas Kristen, dsb.. Dalam briefing yang dipimpin oleh Ibu Yulia, sebelum menyebarkan brosur, kata-kata yang cukup menggugah adalah "satu brosur, mungkin akan menyelamatkan satu jiwa". Ya, kita tidak tahu apa rencana Tuhan bagi individu-individu yang menerima brosur untuk hadir di acara KPIN ini. Mungkin saja, brosur itu menjadi salah satu cara agar orang tersebut mendengar Injil Keselamatan. Bagi saya, menyadari dampak besar dari hal kecil yang kita lakukan dalam Tuhan sangatlah penting. Itu menjadi salah satu "bahan bakar" dalam melayani Tuhan.

Rencananya, pada hari H, kami akan berkumpul di lokasi mulai pukul 15.00, tetapi ternyata sejak pukul 10.00 beberapa staf YLSA sudah berangkat untuk membantu membungkus snack. Saya dan beberapa teman cowok lainnya juga sudah ada di lokasi pukul 13.00. Di sana, kami membantu memperbaiki penataan kursi... Ya, sekian ribu kursi yang sudah ditata di tengah stadion, ternyata harus ditata ulang untuk memudahkan peserta keluar masuk dari barisan kursi-kursi tersebut. Di bawah teriknya matahari pukul 13.00, bersama beberapa panitia dari Jakarta, kami mencoba melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Saya "meneduhkan" pikiran dengan membayangkan ribuan orang yang merasa bersyukur karena dapat duduk dengan nyaman mendengarkan firman Tuhan dan mendapatkan pembaruan iman. Bukan menghibur diri sih, tetapi daripada mengeluh, saya ingin belajar untuk melakukannya dengan kerelaan. Toh, dalam situasi seperti itu, mengeluh justru akan membuat badan lebih capek.

Acara KPIN akan dimulai pukul 18.00, tetapi pada pukul 16.00 hujan deras mengguyur kota Solo. Dari tribun stadion, kami bisa melihat besarnya angin yang datang bersama hujan. Bahkan, panggung tempat Pak Tong akan berkhotbah juga berantakan. Di tengah hujan lebat itulah, tim YLSA harus siap melayani sebagai tim transportasi. Dengan mengenakan jas hujan, kami berlari menyeberangi stadion untuk melakukan tugas 'check point' pada kendaraan peserta yang khusus mendapat subsidi. Kami berbaris di pinggir jalur yang dikhususkan bagi kendaraan bersubsidi dan mendata jumlah peserta yang ada dalam kendaraan tersebut. Puji Tuhan, hujan semakin mereda seiring dengan kedatangan kendaraan-kendaraan peserta. Tim SABDA, dengan didampingi oleh Ibu Widya, dapat menjalankan tugas dengan baik dan dengan sukacita. Ada banyak peristiwa lucu dan menyenangkan yang tidak akan kami lupakan. Sesuai jadwal, kami harus menyudahi pendataan ini pukul 19.00 karena kami sendiri juga harus ikut mendengarkan firman Tuhan.

Secara pribadi, saya mendapat berkat dari sesi kesaksian penginjil Michael Liu. Salah satu kalimat yang dia ucapkan yang saya ingat adalah, semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita menyadari betapa kita tidak serupa dengan-Nya. Bagi saya, kata-kata ini memiliki makna yang dalam dan menempelak. Harapan saya, kesadaran akan ketidakserupaan itu akan mendorong saya untuk terus berusaha semakin serupa dengan Dia. Dengan semakin berfokus pada Kristus, saya berharap saya dapat semakin memahami kehendak-Nya atas hidup saya. Itulah malam Valentine kami bersama Tuhan.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Menata Buku-Buku di Perpustakaan YLSA

Tue, 03/11/2014 - 12:48

Saya teringat dengan kesibukan triwulan 2013 yang lalu dan ingin membuat catatan supaya tidak terlupakan, khususnya ketika kami mulai sibuk menata Perpustakaan YLSA.

Tiga bulan sebelum mengakhiri tahun 2013 adalah bulan-bulan yang sungguh sibuk bagi seluruh staf divisi Publikasi. Selain mengerjakan tugas-tugas rutin publikasi dan mencari bahan untuk situs Natal, kami juga sibuk menyiapkan laporan akhir tahun, mengerjakan AYT dan AMD, serta membantu pelaksanaan KKR regional dari tim STEMI. Pada saat yang bersamaan, divisi Publikasi juga harus mengerjakan pengaturan dan pengategorian buku-buku perpustakaan di Griya SABDA. Tugas ini cukup mendesak karena saat itu kami sudah akan segera pindah dari gedung kantor lama ke kantor baru, yang tak lain dan tak bukan adalah Griya SABDA.

Puji Tuhan, YLSA memiliki kira-kira lima belas ribuan buku. Tetapi, memindahkan banyak buku tidaklah mudah, apalagi karena kami belum memiliki sistem pengaturan buku yang permanen sehingga harus dilakukan dalam beberapa tahap. Sejak Maret/April 2013, sebenarnya sudah dilakukan pemindahan buku tahap pertama. Saat itu, hampir 80% buku sudah dipindahkan ke kantor yang baru. Untuk sementara, buku-buku hanya ditempatkan di rak-rak buku di perpustakaan Griya SABDA, tapi belum dikategorikan sebagaimana seharusnya. Karena kantor masih belum jadi, ruang perpustakaan masih berantakan dengan berbagai furnitur untuk kantor baru. Beberapa kali buku-buku mengalami perpindahan rak dan tempat, tapi masih sangat terbatas. Baru sekitar bulan Oktober, saat kantor SABDA sudah mulai akan selesai, tahap pengaturan buku-buku lebih intens dilakukan. Puji Tuhan, pada awal tahun 2014, kami telah menyelesaikan tahap akhir penataan buku-buku perpustakaan YLSA. Karena kantor lama juga masih dipakai, khususnya untuk mengerjakan proyek "Alkitab Yang Terbuka", maka sebagian buku-buku (20%), terutama yang berhubungan dengan dan seputar Alkitab, masih ada di kantor yang lama.

Selain memindahkan buku-buku, kami juga harus membersihkan dan mengatur buku-buku yang ada ke dalam rak-rak yang sudah diatur kategorinya. Pekerjaan mengatur buku-buku yang cukup banyak ini tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang. Karena itu, seluruh staf dikerahkan untuk mengatur buku-buku sesuai dengan kategorinya sekaligus membersihkannya. Ada puluhan kategori yang kami buat, mulai dari kategori anak, remaja, pemuda, pernikahan, keluarga, parenting, pendidikan, wanita, konseling, kepemimpinan, teknologi dan informasi, bisnis, manajemen, dsb.. Kategori-kategori tersebut masih terbagi lagi ke dalam kategori-kategori yang lebih spesifik. Tak berlebihanlah kalau saya katakan bahwa perpustakaan YLSA adalah salah satu perpustakaan yang paling lengkap di kota Solo, selain Radya Pustaka.

Lelah? Pasti, karena mengangkat, membersihkan, dan mengatur buku dalam jumlah sebanyak itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Tetapi, dalam prosesnya kami cukup merasa senang karena bisa "refreshing" dari tugas rutin, sekilas membaca buku-buku yang dianggap menarik, dan semakin mengetahui letak posisi dari buku-buku yang kami perlukan untuk bahan-bahan publikasi YLSA. Proses mengatur buku-buku ini juga sangat bermanfaat bagi para staf baru karena mereka belajar mengenal buku-buku yang dimiliki YLSA dan tahu berapa banyak yang kami miliki.

Bagi saya pribadi, tugas mengatur dan mengategorikan buku perpustakaan menjadi salah satu pengalaman yang berguna. Pada waktu-waktu mendatang, saya tak perlu lagi bertanya sana-sini atau bingung mencari-cari buku atau bahan yang diperlukan untuk publikasi yang saya butuhkan. Selain itu, saya juga belajar sabar dan setia dalam perkara kecil. Bagi beberapa orang, tugas menata, mengategorikan, dan membersihkan buku mungkin dianggap sebagai tugas yang tidak menarik, tetapi ini adalah bagian dari pelayanan kami di YLSA, yang tentu saja adalah bentuk pelayanan kami bagi Tuhan. Tidak ada hal besar yang tidak berawal dari hal kecil. Dan, menata buku di perpustakaan YLSA adalah bagian dari pelayanan kami untuk memuliakan nama Tuhan.

Ayo, sering-sering ke perpustakaan untuk membaca!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Ikuti Proses

Sat, 03/01/2014 - 12:07

Di zaman serba instan ini, semua hal sudah seperti mi instan. Buka bungkusnya masak dan… nikmati! Terkadang terjebak dalam instan seperti itu yang maunya serba cepat.

Sebenarnya ada keuntungan dari instan itu. Misalnya, ketika Gunung Kelud meletus, di kota Solo yang imbas hujan abu gunung Kelud sangat terasa, sehingga sulit untuk menemukan tempat makan atau warung yang buka pada saat itu. Beberapa teman mengaku, sudah berkeliling ke jalan-jalan besar dan kecil kota Solo untuk mencari tempat makan tapi tidak ada yang buka.

“Saya dan Meland sudah keliling dan tidak ada yang buka. Jadi kita cari mini market dan beli mi instan. Dan jadilah makan mi instan itu,” kata Khenny soal kondisi pada waktu itu. Saya mengamini hal itu.

Dalam proses menyusun Pustaka Terbuka awalnya juga ingin cepat. Karena bahan warisan sudah ada, buku-buku tambahan juga sudah ada, tinggal diperiksa, diedit atau dibetulkan huruf dan kalimatnya saja. Kelihatannya mudah, tapi ternyata jauh dari mudah!

Yang dimaui Tuhan ternyata bukan cepat-cepat jadi buku. Dia mau supaya mengikuti proses. Setiap bahan dibaca dengan teliti kemudian diresapi baik-baik. Lalu dilakukan diskusi dengan bertanya sana-sini dan mulai sedikit demi sedikit dikerjakan. Proses itulah yang harus diikuti dan dijalankan.

Awal pengerjaannya, bertanya dalam hati, apa sih Pustaka Terbuka itu? Apakah pengertiannya seperti perpusatakaan yang memiliki banyak buku dan selalu terbuka bagi siapa saja? Secara pendek, pengertian itu bisa juga digunakan. Namun keberadaan Pustaka Terbuka tidak bisa dipisahkan dengan penyusunan Alkitab Yang Terbuka (AYT).

Lewat proses pula, Tuhan menunjukkan pemahaman tentang AYT. Nama Alkitab Yang Terbuka dipilih berdasarkan pada harapan bahwa orang-orang yang membaca dan menggunakan Alkitab ini akan menjadi "Terbuka" pengertiannya, karena struktur bahasa dan pilihan katanya lebih mudah dipahami dan dimengerti. Sekalipun lebih mudah untuk dipahami dan dimengerti, AYT tidak meninggalkan makna asli dari firman itu sendiri. Proses terjemahannya berdasar pada prinsip Setia, Jelas dan Relevan. Dan untuk mendukung penelusuran atau proses belajar firman Tuhan lewat AYT itu diperlukan Pustakan Terbuka. Sehingga nantinya pembaca AYT, akan mendapatkan informasi secara lengkap. Karena AYT terintegrasi dengan sumber-sumber pendukung studi Alkitab baik offline, online. Proses itu juga harus diikuti.

Lewat mengikuti proses bisa diketahui pergumulan teman-teman yang menyusun, mengumpulkan bahan lalu mengeditnya bahkan menterjemahkannya. Lewat proses itu pula diketahui bagaimana sulitnya bisa juga dikatakan stress-nya mencari, mengumpulkan bahan dan bahkan berdiskusi. Gambaran utuh dari proses penyusunan itulah yang dimaui Tuhan untuk dirasakan dan dilakukan.

Lewat mengikuti proses itulah dapat dibayangkan akhirnya seperti apa? Penyusunan Pustaka Terbuka awalnya berkembang 64 halaman. Namun dirasa perlu diringkas lagi sehingga menjadi 32 halaman. Langkah menentukan jumlah halaman itu pula perlu berdiskusi berkali-kali. Belum lagi menentuan isi materi untuk tiap-tiap bab dari Pustaka Terbuka, cetak apa saja yang akan disajikan.

Saya sempat terhenti dalam beberapa hari untuk tidak berbuat apa-apa karena banyaknya bahan yang harus dirangkum. Belum lagi harus melihat buku-buku lainnya sebagai pembanding. Saya menyadari, proses berhenti dan cuma membaca buku-buku pembanding merupakan proses yang harus dijalani juga. Dan, syukur pada Tuhan, proses itu bisa diikuti satu-satu.

Jadi ingat kisah Yunus yang awalnya tidak mau mengikuti proses Tuhan. Alih-alih menghindar dari perintahNya, justru Tuhan memberikan pengalaman besar yang mengubah sikap Yunus.

Proses penyusunan Pustaka Terbuka adalah proses pergumulan panjang yang tahapannya mesti diikuti dengan cara Tuhan. Dan saya mengamininya.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Apa yang dibutuhkan ?

Sat, 03/01/2014 - 10:21

Pertanyaan itu lengkapnya adalah, Apa yang paling dibutuhkan saat menyusun kotbah atau renungan? Lalu semacam survey kecil-kecilan dilakukan ke sejumlah Pendeta, hamba Tuhan dan aktivis gereja lainnya dengan menyebarkan pertanyaan itu. Jawabnya beragam. Ada yang menjawab tema kotbah atau renungan sesuai permintaan dan ada pula yang berdasarkan tema-tema tertentu.

Dari survey kecil-kecilan itu juga ditemukan tema-tema yang seringkali muncul, seperti soal Yesus, Iman, Kehidupan rohani, Sejarah dan lainnya. Berikut ini kutipan dari salah satu jawaban hamba Tuhan atas pertanyaan itu :

Untuk mengerti tema itu diperlukan: 1) buku2 yang membukakan kepada kita konteks sejarah, konteks peristiwa, konteks penulis / pembaca zaman waktu teks tsb disampaikan. Ini adalah Kamus Alkitab dan Introduksi kitab2 tersebut. 2) gramatika teks tsb - bentuk waktu, pilihan kata dlm perikop ybs, dalam kitab tsb, dibanding dlm kitab yang lain dr penulis yang sama dan dr penulis lain. Misal bgm perbandingan konsep Paulus tentang keselamatan didalam Roma dibanding dalam kitab2 spt Galatia, Timotius, dll. juga dibanding dgn Petrus atau Ibrani atau Yohanes. Jadi melalui perbanding kita melihat keluasan dan kedalaman kata yang ia pakai. Tentang grammar kalau tidak bisa bahasa Ibrani atau Yunani terpaksa hanya bergantung pd terj bhs Inggris. Pengantar tafsiran yang baik bisa membantu.

Dari survey kecil-kecilan itu meyakinkan saya bahwa ada kebutuhan penyediaan informasi untuk melengkapi Pendeta, hamba Tuhan atau aktivis gereja dalam menyusun kotbah atau renungan atau bahan mengajar. Diperlukan buku panduan dalam menggali Alkitab yang menyediakan informasi yang lengkap.

Saat ini ada ribuan bahan pelengkap atau pengantar atau tafsiran atau infromasi lainnya yang tersedia dalam buku-buku rohani dan juga di laman-laman internet. Namun kadang sulit untuk mendapatkan petunjuk yang mengarahkan pada apa yang dibutuhkan. Buku-buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang menyediakan informasi itu kadang masih dianggap sulit atau membingungkan oleh aktivis gereja untuk digunakan.

Menjawab kondisi itulah dan kebutuhan lain akan informasi tentang Alkitab maka Pustaka Terbuka disusun.

Awalnya saya bingung, karena begitu banyak bahan yang harus dirangkum dari warisan pendahulu dan bahan tambahan lainnya. Terima kasih untuk hikmat Tuhan yang diberikan. Wujudnya mulai terbentuk sedikit demi sedikit. Gambarannya, Pustaka Terbuka yang adalah bagian dari Alkitab Yang Terbuka akan menjadi buku penuntun bagi siapapun yang ingin belajar Alkitab sehingga mendapatkan informasi yang lengkap.

Maka dari pertanyaan Apa yang dibutuhkan? tadi, menjadi titik awal pengerjaan Pustaka Terbuka. Pencarian jawaban dari pertanyaan itulah yang secara bertahap disusun, dikoreksi dan kemudian diwujudkan. Ujungnya belum terwujud secara sempurna namun bentuk awal sudah terbayang.

Dan, satu harapannya adalah ketika seseorang membaca Pustaka Terbuka baik cetak dan online bukan hanya bersyukur mendapatkan informasi yang dibutuhkan tetapi juga semakin senang untuk terus membaca Firman Tuhan dan akhirnya berbagi dengan yang lain.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Kantor Baru YLSA: GRIYA SABDA

Thu, 02/27/2014 - 13:37

Seperti mimpi rasanya. Setelah liburan panjang akhir Desember 2013, kami kembali masuk kerja dengan acara pindahan ke kantor yang baru, yaitu di "GRIYA SABDA". Saya ingat pada tahun 1996, ketika pertama kali masuk kantor YLSA, saya bukan seperti masuk kantor, tetapi masuk ke rumah pribadi. Waktu itu baru ada beberapa orang yang bekerja di YLSA, yang saya ingat Mbak Katrin dan Mbak Anna, tetapi dengan berjalannya waktu jumlah staf mulai bertambah, ada Mas Woenar, Mas Bowo, Mas Has, dan terus menerus bertambah walaupun ada yang keluar.

Kalau teringat masa lalu, lucu juga, rumah dijadikan kantor. Kami harus duduk berdekatan karena tempatnya masih di satu kamar. Kita belum punya apa-apa, semua masih serba minim. Pernah, suatu kali pada acara raker YLSA, kami menyebutkan mimpi staf untuk YLSA adalah ingin punya kursi yang empuk karena pada waktu itu kursinya terbuat dari kayu mentah yang sangat keras. Mimpi-mimpi kami dulu sederhana sekali, tetapi satu per satu Tuhan jawab.

Mempunyai kantor baru pada awalnya juga adalah mimpi kami untuk YLSA selama bertahun-tahun dan sangat kami idam-idamkan. Saya ingat waktu itu Ibu Yulia berusaha mencari informasi tentang tanah/rumah ke sana kemari, tetapi hasilnya selalu gagal, dan gagal. Namun, sungguh rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia dan semua indah tepat pada waktunya. Mimpi besar itu akhirnya Tuhan jadikan kenyataan walaupun prosesnya sulit karena harus melalui lelang, tetapi sungguh luar biasa berkat yang diberikan Tuhan untuk YLSA. Hari berganti hari dan tahun berganti tahun, akhirnya setelah hampir dua puluh tahun Tuhan memberkati YLSA dengan kantor yang baru. Tetapi waktu dibeli tempat yang baru ini sangat tidak memadai, selain bentuk ruangannya yang kecil-kecil, juga gelap dan kurang ventilasi. Maka, segera dilakukan renovasi agar sesuai dengan kebutuhan. Proyek renovasi ini benar-benar dengan iman karena saya sendiri mendengar kesaksian dari staf keuangan bahwa YLSA tidak punya uang, dan harus pinjam dulu. Tetapi saya percaya Tuhan sungguh luar biasa. Kalau Ia dapat membuat dari yang tidak ada menjadi ada, maka Ia pun akan sanggup menyediakan kebutuhan kami.

Saat ini Griya SABDA sudah dapat dikatakan selesai dibangun (walaupun masih ada beberapa tempat yang bocor dan perlu perbaikan untuk jangka panjang). Semua staf YLSA sudah bekerja sama memindahkan barang-barang kantor dari tempat yang lama mulai tanggal 6 Januari 2014 yang lalu. Saat ini, sebagian besar staf sudah bekerja di tempat yang baru, khususnya staf divisi publikasi, komunitas, web, dan admin/keuangan, serta HRD. Semua staf bersukacita dengan kantor yang jauh lebih luas. Saya berharap kantor ini bisa digunakan dengan maksimal untuk kemuliaan Tuhan.

Kantor yang lama telah meninggalkan kesan yang begitu banyak untuk YLSA, dan khususnya untukku. Meskipun tempatnya sempit, duduk berdesak-desakan, dan fasilitas yang sangat terbatas, tetapi suasana kekeluargaan selalu terjalin indah di antara rekan-rekan, juga sampai hari ini. Karena itu, dengan tempat yang baru, Tuhan juga menuntut tanggung jawab yang lebih untuk memelihara dan mengembangkannya. Oleh karena itu, sekarang sudah ada jadwal piket bagi setiap staf untuk membersihkan ruangan, mengepel, dan lain-lain supaya tercipta rasa memiliki "GRIYA SABDA" yang lebih besar. Kantor baru saya harap dibarengi dengan semangat baru bagi semua rekan-rekan yang terlibat dalam pelayanan YAYASAN LEMBAGA SABDA. Semoga dengan adanya "GRIYA SABDA" semakin banyak staf yang melayani dan semakin banyak orang diberkati melalui pelayanan kami. Amin.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Raker YLSA 2014

Tue, 02/25/2014 - 13:27

Minggu pertama awal tahun 2014 merupakan minggu yang cukup padat bagi para staf YLSA. Semua staf YLSA melakukan pindahan kantor ke Griya SABDA, yang merupakan kantor YLSA yang baru. Pindahan ini berlangsung kira-kira selama empat hari. Kami melakukan pindahan bukan hanya di kantor yang baru karena kantor yang lama juga masih akan digunakan oleh Divisi ITS. Setelah kedua kantor siap digunakan, barulah rapat kerja (raker) tahunan YLSA 2014 dapat dimulai. Kami memulai raker ini pada hari Kamis, 9 Januari 2014, setelah makan siang. Sesuai dengan rencana, raker tahun ini akan berlangsung selama tiga hari.

Agenda raker hari pertama adalah laporan dari setiap divisi mengenai hasil kerja tahunannya. Presentasi laporan dilakukan oleh divisi Web, Multimedia, ITS, Publikasi, Komunitas, Proyek Alkitab Yang Terbuka (AYT) dan Alkitab Mudah Dibaca (AMD), Humas, HRD, dan Keuangan. Masing-masing perwakilan dari tiap divisi melaporkan segala sesuatu yang telah dikerjakan pada tahun 2013. Pada raker kali ini, saya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan laporan hasil kerja dari proyek AYT yang telah dikerjakan oleh semua staf YLSA.

Dari hasil laporan, banyak keberhasilan yang telah diraih, tetapi tidak sedikit juga kegagalan yang dialami. Kami berharap keberhasilan-keberhasilan yang diraih dapat menjadi semangat untuk kami terus melayani di YLSA. Tetapi, kegagalan-kegagalan yang kami alami juga dapat menjadi motivasi untuk kami berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya. Untuk divisi ITS, saya rasa banyak kegagalan yang kami alami. Kegagalan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pengerjaan proyek AYT dan AMD sepanjang tahun 2013 cukup menghabiskan banyak tenaga dan waktu sehingga banyak proyek ITS tidak dapat diselesaikan. Namun, walaupun kami tidak mempunyai waktu yang optimal, kami bersyukur karena ada banyak proyek yang tetap bisa kami kerjakan sepanjang tahun 2013. Semuanya hanya karena kekuatan dan hikmat dari Tuhan.

Selain laporan kerja dari 6 divisi, ada juga laporan tambahan dari Benny yang sangat menarik, yaitu laporan proyek Alkitab Aksara Jawa. Proyek Alkitab Aksara Jawa ini adalah proyek yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Dalam proyek ini, Benny berhasil mengimplementasikan huruf-huruf aksara Jawa pada Alkitab bahasa Jawa sehingga menghasilkan suatu Alkitab bahasa Jawa dengan huruf aksara yang digital. Di akhir raker hari pertama, kami juga diminta membuat evaluasi dari laporan-laporan yang sudah dipresentasikan supaya bisa kami bahas pada keesokan harinya.

Pada hari kedua, hari Jumat, acara Raker diawali dengan evaluasi dari laporan divisi. Dan pada siang harinya, pada acara rencana kerja 2014, Pak Philip memulai dengan memberikan Presentasi yang berjudul "Alkitab Abad 22". Pada presentasi tersebut dijelaskan dengan hal-hal yang berhubungan dengan proyek AYT dan Pustaka Terbuka beserta rencana pengembangannya ke depan. Setelah itu, acara diikuti dengan presentasi rencana kerja dari tiap-tiap divisi YLSA. Pada saat presentasi berlangsung, setiap staf diwajibkan membuat tanggapan yang berisi usulan beserta inovasi baru untuk tahun 2014.

Pada hari terakhir, setiap divisi diberi kesempatan untuk membahas usulan-usulan serta inovasi yang telah kami buat. Selain itu, tiap divisi juga diwajibkan untuk memberi "hadiah" sebagai partisipasi kami merayakan ulang tahun YLSA yang ke-20. Akhir dari rangkaian acara Rapat Kerja YLSA ditutup dengan makan bersama di warung makan terapung yang berada di daerah wisata Kedung Ombo.

Setelah mengikuti raker tahun ini, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan, baik dari laporan maupun rencana yang telah kami buat. Kami merasa proyek-proyek dan tugas-tugas tahun 2014 adalah tanggung jawab yang sudah Tuhan berikan kepada kami untuk dikerjakan. Khususnya untuk mempersiapkan peluncuran Alkitab Yang Terbuka (AYT) dan juga menyambut ulang tahun YLSA ke-20. Saya berharap semua yang telah direncanakan dapat dikerjakan tepat pada waktunya sesuai dengan pimpinan dan penyertaan Tuhan. Kiranya apa yang akan kami kerjakan pada tahun 2014 ini dapat memberitakan kemuliaan Allah. Soli Deo Gloria. ^_^v

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Hadiah Buku untuk Perpustakaan YLSA

Fri, 02/21/2014 - 07:58

Siang itu saya memandang setumpukan buku-buku di Perpustakaan Griya SABDA dengan perasaan lega. Akhirnya, tugas saya selama beberapa hari ini bisa selesai juga. Tugas tersebut sebenarnya tidak berat, hanya saja menyita banyak waktu. Untungnya, saya cukup menikmati tugas ini. Dikelilingi tumpukan buku-buku berkualitas, sensasi saat membuka plastik yang membungkus buku, dan aroma buku baru yang khas, semua itu menggugah semangat membaca saya. Sampai di sini mungkin Anda bertanya-tanya, tugas apakah yang saya kerjakan dan baru saja saya selesaikan?

Beberapa minggu sebelumnya, Bu Yulia mendapatkan telepon dari Bapak Tjahjadi, salah seorang Sahabat yang setia dan selalu terbeban membantu pelayanan YLSA. Dalam perbincangan di telepon, Bu Yulia bercerita bahwa YLSA memiliki perpustakaan di gedung baru Griya SABDA. Mendengar hal itu, beliau antusias sekali dan menawarkan untuk menyumbang buku-buku baru untuk menambah koleksi perpustakaan YLSA. Sebenarnya, buku-buku yang akan disumbangkan itu adalah buku-buku Kristen berbahasa Inggris, tetapi rupanya Bu Yulia memiliki pertimbangan yang lain. Untuk saat ini, perpustakaan YLSA lebih membutuhkan buku-buku Kristen yang bermutu dalam bahasa Indonesia. Dari situ, tidak perlu waktu yang lama untuk memutuskan karena Pak Tjahjadi dan Bu Yulia setuju untuk memesan semua buku-buku yang telah diterbitkan oleh Penerbit Momentum. Maka, kami langsung menghubungi pihak Penerbit Momentum. Ternyata, berkat Tuhan tidak berhenti sampai di sini. Ketika pihak Momentum mengetahui bahwa YLSA memesan buku-buku baru untuk melengkapi perpustakaan, mereka dengan senang hati memberikan potongan harga. Suatu anugerah yang luar biasa mendapat buku-buku yang sangat kami perlukan sebagai sumber-sumber bahan di pelayanan YLSA. Jumlah judul buku yang diterima oleh Perpustakaan YLSA adalah sebanyak 265 judul. Bersyukur kepada Tuhan karena telah memakai Bapak Tjahjadi untuk menjadi saluran berkat bagi kami.

Apa hubungan kisah pembelian buku-buku Momentum dengan tugas yang baru saja saya selesaikan? Baiklah, langsung saja saya beri tahu kepada Anda bahwa tugas saya adalah memasukkan data-data semua buku tersebut ke katalog perpustakaan YLSA. Tantangan terbesar dalam tugas ini adalah menahan godaan untuk membuka dan "keterusan" membaca buku-buku ini pada saat memasukkan data-data buku, khususnya yang menarik minat saya. Tugas ini tambah berat karena buku-buku yang menarik bukan cuma satu atau dua tapi ada banyak buku menurut saya bagus. Jika itu terjadi, saya harus cepat-cepat meletakkan buku itu sebelum saya tenggelam membaca lebih lanjut. Yah, tapi akhirnya tugas saya sudah selesai dan mungkin nanti saya akan minta izin untuk meminjam buku-buku tersebut. Saya berharap buku-buku ini dapat memberkati siapa saja yang membacanya. Terima kasih untuk Pak Tjahjadi dan Penerbit Momentum. Dan, yang terutama, terima kasih, Tuhan Yesus!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Kesehatian Staf YLSA di Kedung Ombo

Wed, 02/19/2014 - 15:43

"Besok Sabtu Raker cuma setengah hari, habis itu kita ke Kedung Ombo..."

"Apa? Gedung Ombo?"

"Bukan, Kedung Ombo. Tempatnya di daerah Boyolali, 1,5 jam dari Solo. Selain sebagai waduk, Kedung Ombo juga objek wisata, ada tempat pemancingannya juga."

Begitulah percakapan saya dengan salah satu staf YLSA di tengah kesibukan mempersiapkan Raker YLSA 2014. Saya membayangkan Raker yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pasti akan membuat kepala pening. Tapi, ide wisata ke "Kedung Ombo" menjadi 'berita baik' yang melegakan hati saya, dan mungkin juga semua staf YLSA lainnya (iya ga?).

Sesuai dengan rencana, selesai hari terakhir Raker (Sabtu, 11 Januari 2014), kami berangkat ke Kedung Ombo pukul setengah 12 siang dengan 5 mobil. Saya ikut mobil suami Mbak Okti. Selain keluarga Mbak Okti (suaminya, Mas Sigit, dan anaknya, Bening), ada juga Mbak Anik dan Yegar. Perjalanan yang cukup jauh memberikan banyak kesempatan bagi kami untuk mengobrol sehingga kami sangat menikmati perjalanan kami.

Akhirnya, senang sekali kami bisa sampai di Kedung Ombo dan bisa berpiknik lagi dengan keluarga YLSA! (sebelumnya saya juga pernah menuliskan blog tentang piknik YLSA di Tawangmangu). Tempat yang kami tuju di Kedung Ombo adalah sebuah rumah makan terapung di pinggir waduk. Sebelumnya, Mas Benny sudah menyurvei dan memesan tempat untuk kami bisa bersama-sama piknik di sana. Wah..., suasana waktu itu sejuk dan sepi, tetapi tiba-tiba ramai karena kedatangan kami semua.

Kami semua duduk lesehan. Sambil menikmati keindahan waduk, kami mendengar lebih dulu presentasi divisi HRD, Humas, dan Keuangan yang dibawakan oleh Mbak Evie karena belum sempat dipresentasikan pada saat Raker tadi pagi di kantor. Setelah selesai, kami pun berdoa bersama dan mengucap syukur atas Raker yang bisa berakhir dengan baik dan berkat yang sudah Tuhan sediakan siang itu, yaitu 'puncak acara' santap siang dengan menu ikan nila goreng dan nila bakar (Ingat, masing-masing hanya mendapat satu porsi saja ya!).

Kunjungan keluarga YLSA ke Kedung Ombo juga menjadi bentuk kesehatian kami sebagai rekan sekerja dalam pelayanan. Oleh karena itu, kesempatan ini tidak kami sia-siakan hanya dengan makan dan langsung pulang. Yegar dengan piawainya memandu kami dengan beberapa permainan yang semakin mengakrabkan suasana kebersamaan. Semua terlihat sangat menikmati suasana, termasuk Pak Philip yang terlihat akrab walaupun baru beberapa hari bergabung dengan kami semua.

Belum selesai dengan beberapa permainan, kami masih punya 'puncak acara' berikutnya, yaitu menikmati kelapa muda yang dibawa Mas Benny dari Solo dan 'camilan' yang dibawa oleh semua staf untuk acara perjamuan kasih. Tapi sayang, acara 'ngemil' tidak terlalu berhasil, mungkin karena kami sudah kekenyangan. Karena itu, kami melanjutkan kebersamaan kami dengan saling mengobrol, bersendau gurau bersama, dan tentu saja berfoto-foto ria. Sampai kira-kira pukul 3 sore, ketika kami sudah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah makan terapung, tiba-tiba hujan turun seakan menahan kami pulang. Alhasil, kami pun melanjutkan acara 'ngemil', dan juga doa bersama. Belum acara doa berakhir, hujan reda, maka kami pun bergegas untuk kembali ke Solo.

Sebagai pelayan Tuhan, kami semua sangat senang dengan kesempatan yang diberikan untuk berekreasi dan bersantai sejenak. Rencana pelayanan 2014 yang dihasilkan selama Raker sudah ada di depan mata. Agenda-agenda pelayanan menyambut 20 tahun YLSA juga sudah menanti untuk segera direalisasikan. Semua itu tentu memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Namun, ketika mengingat semua kebersamaan kami, kami menyadari bahwa kami tidak berjalan sendirian. Kami bersama-sama dalam satu tubuh Kristus akan terus melangkah dan berjuang bersama memuliakan Tuhan melalui bidang pelayanan kami, yaitu IT for GOD. Maju terus YLSA! Tuhan Yesus memberkati.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Bayu, Selamat Ulang Tahun Ya!

Fri, 02/07/2014 - 15:04

Salah satu staf YLSA yang mempunyai ciri khas berambut ikal, selalu senyum, ramah, bertubuh (agak) gemuk, dan suka menolong, hari ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-25. Dia adalah Yohanes Bayu Prajanto, staf yang membantu divisi web dan juga beberapa divisi lainnya dalam pelayanan di YLSA ini. Bayu begitu bersyukur karena Tuhan telah menyertainya selama 25 tahun ini. Banyak hal yang menjadi rencana Bayu dalam menjalani hidup ini, tetapi Tuhanlah yang menentukan langkah hidupnya. Salah satunya adalah keberadaan Bayu di YLSA sehingga Ia bisa melayani Tuhan selama setahun ini. Ini bukan karena kekuatannya, tetapi karena rencana Tuhan.

Terlihat jelas dalam wajahnya, hal yang paling Bayu syukuri di tahun ini adalah ia mendapatkan keponakan baru, yang baru beberapa minggu yang lalu lahir. Rasa syukur ini juga diiringi dengan permohonan doa darinya agar keluarga kakaknya bisa belajar mandiri, baik dalam mengurus buah hati maupun kehidupan keluarga mereka ketika mereka kembali lagi ke Jakarta nanti (saat ini mereka masih tinggal bersama orang tua di Sukoharjo). Inilah serangkaian ucapan syukur Bayu di hari ulang tahunnya. Kiranya Bayu semakin dekat dengan Tuhan, semakin bisa mengerti keinginan Tuhan dalam hidupnya, dan terus dipakai Tuhan dalam memberitakan Kabar Baik bagi semua orang. Semangat ya, Bayu! Tuhan Yesus menuntun langkahmu. Amin.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Serunya Ulang Tahun Jesica!

Tue, 02/04/2014 - 16:12

Pagi ini saya tiba di kantor sekitar pukul 07.45. Seperti biasa, saya membuka akun gmail saya untuk membaca surat yang masuk. Namun, mata saya tertuju kepada notifikasi kecil di pojok kanan atas. Karena penasaran saya meng-kliknya. Ternyata itu adalah notifikasi dari Google Plus. Isinya adalah pemberitahuan bahwa hari ini adalah ulang tahun Jesica. Siapakah Jesica? Yup, Jesica alias Jevi adalah anak dari Ibu Yulia, pimpinan YLSA. Jevi berulang tahun yang ke-15 pada tanggal 2 Februari kemarin.

Tepat pukul 15.00 seluruh staf YLSA berkumpul di ruang training Griya SABDA untuk merayakan ulang tahun Jevi. Perayaan ulang tahun Jevi dilakukan dengan sederhana namun 'mewah'. Sederhana karena tidak banyak atribut dan acara yang kami siapkan. Namun, 'mewah' karena kami merayakan dengan kasih dan penuh ucapan syukur. Perayaan kami awali dengan persekutuan doa yang memang biasa dilakukan oleh segenap staf YLSA setiap hari Senin. Kami menaikkan pujian, berdoa, dan mendengarkan beberapa sharing dari beberapa staf. Kemudian, barulah kami merayakan ulang tahun Jesica. Semua staf diminta untuk menyebutkan ciri khas Jevi melalui sebuah permainan yang saya pimpin. Diwarnai dengan canda tawa, kami pun mencoba untuk menyebutkan keunikan dan keistimewaan gadis remaja yang sebentar lagi akan memasuki bangku SMA ini. Acara dilanjutkan dengan sharing dan ucapan syukur dari Jevi dan diakhiri dengan tiup lilin dan doa. Selamat ulang tahun Jesica Setiawan! Masa depan masih panjang, terus berjuang di dalam Tuhan.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Kembali ke YLSA

Thu, 01/30/2014 - 15:39

Pada tanggal 6 Januari 2014, saya kembali bergabung dengan YLSA. Hanya oleh anugerah Tuhan saja saya mendapat kesempatan kedua untuk melakukan pekerjaan Tuhan di sini. Senang karena masih dipercaya kembali untuk mengerjakan tugas-tugas pelayanan di YLSA, tetapi di sisi lain ada rasa takut karena berhadapan dengan tanggung jawab besar untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Namun, saya percaya bahwa Tuhan akan memampukan saya untuk melakukannya.

Oya, perlu diketahui bahwa saya sebelumnya telah bekerja sebagai staf YLSA selama dua tahun yaitu pada bulan Mei 2010 sampai dengan bulan Agustus 2012, selanjutnya karena alasan tertentu saya lepas dari YLSA dan bergabung dengan salah satu perusahaan software house di Solo, pemiliknya adalah teman saya sendiri. Saya sepakat untuk bekerja hanya setahun saja. Di sana, saya cukup menikmati apa yang saya kerjakan karena sesuai dengan ketertarikan saya dalam membangun aplikasi komputer. Menjelang akhir masa kontrak saya habis, Ibu Yulia memberikan penawaran kepada saya untuk bisa bergabung lagi di YLSA. Tawaran ibu Yulia membuat saya berpikir kembali, saya bergumul, "Apakah saya yakin akan bekerja di ladang Tuhan lagi?" Secara manusia, saya tidak berani, tetapi melalui hikmat Tuhan saya akhirnya bisa memutuskan untuk menerimanya dan kembali bekerja di YLSA.

"IT 4 GOD", itulah hal yang mendorong saya untuk kembali ke YLSA. Saya bersyukur Tuhan menggerakkan saya untuk melayani-Nya di ladang elektronik. Misi yang menggugah saya untuk menggunakan kemampuan IT untuk kemuliaan Tuhan. Mungkin saja pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki masih belum cukup, tapi saya akan selalu belajar supaya semakin bertumbuh dan berkembang. Lebih lagi, teknologi informasi yang terus maju dari waktu ke waktu, secara khusus memacu saya untuk berpikir kritis dalam menyikapinya dan rindu memakainya sebagai media penyebaran firman Tuhan secara efektif.

Saya akan berusaha melayani dengan segenap 'kekayaan' yang saya miliki. Saya percaya Tuhan akan memberi kekuatan dan memperlengkapi saya sehingga bisa bekerja dengan baik dan benar. Melalui tulisan ini, saya juga mengajak rekan-rekan IT supaya bisa menggunakan kemampuan IT yang dimiliki untuk kemuliaan Tuhan.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Kesempatan Melayani Bersama YLSA

Thu, 01/30/2014 - 06:47

Perasaan manusia selalu paling murni dan paling bersinar di jam pertemuan dan perpisahan. (Jean Paul Richter)

Saya bangga pernah menjadi bagian dari tim YLSA dan melewati momen pertumbuhan rohani saya bersama YLSA. Bagaimana tidak? Selama ini, YLSA telah banyak memperlengkapi para pelayan Tuhan. Di YLSA, saya pun banyak menemukan dan belajar hal-hal baru yang tidak pernah saya temui di tempat lain, seperti yang pernah Benny katakan "...karena YLSA adalah pelayanan yang unik...". YLSA percaya bahwa semua diciptakan untuk kemuliaan Tuhan, termasuk teknologi. Teknologi juga harus digunakan untuk memuliakan Tuhan.

Sebelumnya, saya bekerja selama hampir delapan tahun di bidang IT. Saya rindu membagikan apa yang sudah Tuhan percayakan kepada saya untuk melayani. YLSA mewujudkan harapan saya dan saya senang sekali selama di YLSA saya bisa dipakai Tuhan menjadi alat kemuliaan-Nya.

Well, bagi saya, tahun 2013 adalah masa-masa memulai pelayanan. Sebagai staf di YLSA, saya mengerjakan tugas-tugas pelayanan; sebagai pelayan Tuhan di gereja, saya melayani jemaat; sebagai suami, saya adalah pemimpin dalam rumah tangga; sebagai seorang guru, saya menyemangati murid-murid dan melewatkan banyak hal seiring pertumbuhan mereka. Ya, bagi saya, semuanya itu terasa sangat berarti sepanjang tahun 2013 ini. Dan, ketika semuanya itu saya lakukan, sebuah kerumitan yang saya sebut sebagai "masalah" tiba-tiba datang tanpa saya sadari. Ya, saya tahu sebenarnya semua hal terjadi atau datang atas dasar sebab-akibat. Dan, sebab-akibat itu tiba-tiba tampak nyata sekali di depan saya setelah "masalah" datang. Namun, bagi saya, prioritas utama adalah keluarga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika keputusan yang saya ambil tampak baik untuk saya pribadi, padahal saya mengabaikan keluarga. Bagi saya, keluarga menjadi tempat pertama saya belajar melayani Tuhan.

Tahun 2013, Tuhan juga menumbuhkan kecintaan saya terhadap beberapa hal. Yang utama adalah semakin cinta Tuhan. Selain itu, saya juga semakin mencintai keluarga, pekerjaan, dan yang paling aneh buat saya adalah mencintai negeri ini (ini aneh atau bukan ya?). Sebelumnya, saya tidak pernah sebesar ini mencintai negeri Indonesia. Saat itu, 15 November 2013, saya bangga dengan Indonesia, saat nama Indonesia disebut dan bendera merah putih mini dikibar-kibarkan di antara negara lain. Rasanya, selama ini saya kurang mengucap syukur telah tinggal di tanah Indonesia dan minum airnya. Tiba-tiba, mata saya berkaca-kaca di tengah kerumunan orang.

Saya mengucap syukur dipertemukan dengan YLSA, beserta pimpinan dan semua stafnya. Terima kasih telah memberikan saya kesempatan bertumbuh dan berkembang secara rohani dalam pelayanan. Terus maju dalam pelayanan dan menjadi berkat melalui teknologi. Sampai jumpa di pelayanan-pelayanan selanjutnya.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Natal YLSA 2013: “Born to Die, so We May Live”

Tue, 01/28/2014 - 11:13

Itulah tema Natal YLSA tahun ini. Tuhan Yesus dilahirkan untuk mati sehingga kita bisa menikmati kehidupan di dalam Kristus. Oleh karena pengorbanan-Nya, kita bisa memperoleh pengampunan. "Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa" (Galatia 4:5-6).

Pada tanggal 18 Desember 2013, keluarga besar YLSA merayakan Natal di Griya SABDA. Awalnya saya hampir ditunjuk sebagai ketua panitia. Namun, karena saya juga sudah menyanggupi untuk menjadi panitia Natal di gereja (dua kepanitiaan sekaligus, yaitu Natal Remaja Pemuda dan Natal Umum), maka saya tidak berani menyanggupinya. Dan akhirnya, jabatan ketua panitia jatuh ke tangan Mbak Tika. Tetapi, karena tidak jadi ketua, sebagai gantinya, saya menawarkan diri terlibat di bagian musik saja...hehehe...

Bagi saya pribadi, persiapan Natal YLSA berlangsung cukup singkat. Ini kedua kalinya saya mengikuti perayaan Natal di YLSA. Karena tahun lalu saya baru bergabung di YLSA pada pertengahan bulan Desember, saya tidak terlalu mengetahui persiapannya sejak awal (meskipun tahun lalu saya juga terlibat di bagian musik juga). Semua staf, baik panitia maupun bukan, tetap terlibat dalam persiapan Natal ini.

Perayaan Natal kali ini, acara tidak seluruhnya dipimpin oleh MC, namun lebih bersifat liturgis. Artinya, seluruh susunan acara telah dipersiapkan terlebih dahulu secara detail sehingga acara dapat berjalan mengalir tanpa MC (MC hanya bertugas di bagian tertentu saja). Acara dimulai dengan nyanyian "Hai Kota Mungil Betlehem" sebagai tanda bahwa semua tamu diharapkan masuk, dan kemudian menyanyikan lagu "Hai Mari Berhimpun" sebagai lagu pembuka. Acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin yang diiringi lagu "Malam Kudus".

Jika acara Natal YLSA tahun lalu tidak ada khotbah secara khusus, tahun ini khotbah disampaikan oleh Bp. Gunawan Sri Haryono (Perkantas Solo). Beliau mengambil nats bacaan dari Galatia 4:4-7. Dari tema dan nats tersebut, beliau menjelaskan bahwa segala karya mulia ini telah direncanakan Allah sejak awal dan digenapi tepat pada waktunya. Janji ini telah dinanti-nantikan oleh umat Allah. Kristus rela menjadi manusia yang terbatas dan menggenapi hukum Taurat karena manusia sendiri tidak dapat memenuhi hukum Taurat itu. Selain itu, Ia juga turut merasakan penderitaan-penderitaan yang kita alami. Bahkan, oleh karena karya penebusan Kristus, kita yang semula adalah hamba telah dijadikan anak dan diizinkan untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita.

Dampak karya Kristus ini tidak hanya sampai di situ saja. Kita sebagai orang Indonesia patut bersyukur karena keselamatan ditujukan kepada seluruh bangsa, bukan hanya bangsa Yahudi saja. Kita yang secara geografis jauh dari kawasan Timur Tengah, mendapat akses untuk mendengar berita Injil, bahkan menikmati kekayaan firman Tuhan yang telah dinyatakan di dalam Alkitab. Kekayaan Alkitab ini cukup mudah untuk dimengerti oleh anak kecil, tetapi sekaligus terlalu dalam untuk dipahami oleh profesor sekalipun. Namun pertanyaannya: Apakah sejauh ini kita sudah menikmati Firman Tuhan? Banyak orang mencari keindahan dengan pergi ke luar negeri. Padahal, sebenarnya keindahan dapat kita nikmati dari dinding kamar kita. Pertanyaan yang berkesan bagi saya adalah: "Ketika SABDA membagi-bagikan CD dan DVD SABDA, apakah pelayan-pelayan yang melayani di SABDA sendiri sudah menikmati isinya?"

Banyak orang terlalu sibuk dengan segala kegiatannya, bahkan pelayanan sekalipun, tetapi justru melupakan esensi yang sebenarnya: Apakah di balik segala kesibukan itu, kita sendiri sudah menikmati apa yang kita kerjakan? Apakah di balik pelayanan kita, kita sudah menikmati karya Kristus yang sejati?

Marilah kita menikmati berkat Natal dan segala anugerah yang Ia berikan dalam kehidupan kita. Kiranya damai sejahtera Natal dari Kristus hadir dalam hidup kita sekalian. Amin.

Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.
Soli Deo Gloria!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Happy Birthday to Khenny!

Mon, 01/27/2014 - 16:26

Hari ini adalah hari yang istimewa bagi Khenny! Betapa tidak, pada tanggal 27 Januari ini Khenny merayakan ulang tahunnya yang ke -27! Kebetulan yang keren! Hehehe...

Pada PD pagi tadi, Khenny diberi kesempatan oleh Lusi (sebagai MC persekutuan) untuk memberi kesaksian atas segala karya Tuhan yang terjadi dalam hidupnya. Ucapan syukur Khenny banyak berkisar pada kedewasaan rohani yang terus Tuhan tambahkan, serta tanggung jawab pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya melalui YLSA. Tak hanya ucapan syukur, Khenny juga menyertakan pokok doa; terkhusus untuk tugas pelayanan yang diembannya di YLSA (Khenny adalah anggota Divisi ITS yang juga bertanggung jawab untuk mendukung pengerjaan proyek Alkitab Yang Terbuka (AYT), khusunya dalam hal teknis), perkembangan pelayanan yang sedang dikerjakan oleh kedua orang tuanya, dan juga agar Tuhan menjaga serta membimbing sang adik yang sedang studi di luar negeri.

Secara pribadi, saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk agan Khenny! Semoga panjang umur dan semakin berbuah dalam pelayananmu. Tuhan Yesus memberkati!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Roadshow PESTA di GBI Bait Kudus

Mon, 01/27/2014 - 16:11

Pada saat menyusun rencana kerja tahun 2013 lalu, tim PESTA memang tidak merencanakan kegiatan roadshow. Puji Tuhan, sebelum menutup tahun 2013, divisi PESTA dapat mengadakan roadshow di GBI Bait Kudus, pada hari Rabu, tanggal 11 Desember 2013. Meskipun cuaca tidak mendukung, sebentar hujan sebentar terang, tetapi kami tetap semangat untuk berangkat roadshow. Tim yang berangkat adalah Bu Yulia, Jesica, Yegar, Pak Gunung, Ryan, Amidya, dan saya. Enam jam sebelum berangkat, kami menanyakan kembali kepada pihak gereja kira-kira berapa orang yang sudah mendaftar untuk menjadi peserta nantinya dan kami mendapat informasi ada sekitar 15 orang yang akan datang dalam acara tersebut. Pada pukul 16.00 sore, kami sudah mengecek kembali peralatan atau barang-barang yang akan kami bawa karena rencananya kami akan berangkat dari kantor pada pukul 17.00. Dan, pukul 17.00 kami berangkat ke lokasi GBI Bait Kudus, dekat Stadion Manahan, Solo.

Sesampainya di lokasi, kami segera menata peralatan yang sudah kami bawa, mulai dari LCD, display CD-CD SABDA, instalasi software Alkitab, hingga perlengkapan lainnya yang harus kami persiapkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 lewat, tetapi peserta yang kami tunggu-tunggu tidak kunjung datang, hanya ada gembala gereja dan lima aktivis gereja yang hadir. Ketika waktu menunjukkan hampir pukul 19.00, Ibu Yulia mengambil keputusan untuk memulai acara berapapun jumlah jemaat yang datang. Konsep presentasinya pun sedikit diubah. Kami lebih banyak berdiskusi sehingga suasana terkesan lebih santai dan akrab. Waktu itu, Ibu Yulia menyampaikan materi presentasi pendahuluan tentang Yayasan Lembaga SABDA, Ryan membawakan materi presentasi tentang PESTA, Amidya membawakan materi DVD Library SABDA Anak, dan Pak Gunung, Yegar, dan Jesica membantu instalasi Alkitab di laptop dan HP. Sementara saya sendiri membawakan materi bagaimana PESTA dapat dilakukan secara offline.

Selama ini YLSA melakukan pelayanan PESTA secara online, yaitu melalui milis. Sebenarnya, konsep online PESTA juga bisa dilakukan secara offline, apalagi kalau itu dilakukan sebagai konsep pembinaan dan pembelajaran teologia secara tatap muka oleh gereja atau komunitas Kristen lainnya. Bahan atau modul PESTA dapat diunduh secara bebas dan siap digunakan oleh siapa saja. Pihak pengguna dapat mencetak bahan tersebut sesuai dengan kebutuhan lalu mengajak jemaat untuk belajar dan mengerjakan tugas bersama-sama, lalu disambung dengan diskusi bersama dengan dipimpin oleh gembala jemaat atau yang dipercaya untuk membina jemaat. Harapan kami melalui presentasi PESTA ini, kami bisa mendorong pihak gereja untuk bisa semakin giat membina jemaatnya dengan bahan-bahan pengajaran yang bermutu. Jika dibutuhkan, staf PESTA juga bisa memberikan proyek percontohan sehingga nantinya gereja bisa melakukannya secara mandiri.

Secara keseluruhan, acara berjalan dengan lancar walaupun kami sedikit kecewa karena jumlah peserta yang hadir tidak seperti yang diharapkan. Namun demikian, saya pribadi sangat bersyukur karena tim PESTA mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan roadshow perdana di GBI Bait Kudus. Segala hormat dan kemuliaan adalah bagi nama Tuhan saja. Ya, ini menjadi pengalaman yang berharga bagi tim PESTA. Semoga ke depannya kami dapat kembali melayani dengan lebih baik lagi. Terimakasih. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Komentar