Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 2 hours 33 min ago

Staf SABDA Mengikuti Seminar “Answer in Genesis”

Tue, 02/21/2017 - 13:37

Sabtu, 11 Februari 2017, saya dan Ayub menghadiri seminar "Answer in Genesis" di Griya Konseling, Solo. Saya tertarik menghadiri seminar ini karena sebelumnya, sekitar awal Januari, Ibu Vivi dan anaknya datang ke SABDA untuk menginformasikan tentang seminar ini. Jadi, saya punya harapan seminar ini akan mengupas lebih dalam tentang argumentasi seputar teori Big Bang, teori evolusi, dan lainnya. Namun, materi yang saya sebutkan itu ternyata hanya dibahas permukaannya, tidak mendalam. Banyak sekali topik yang dibahas, tetapi pembahasan tidak mendalam. Penyampaiannya juga terkesan melompat-lompat dan kurang terstruktur.

Berikut beberapa hal yang saya belajar dari seminar ini: Pertama, setiap manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan pasti dipengaruhi oleh cara pandangnya (worldview). "Starting point" akan memengaruhi kesimpulan akhir kita. Pembicara sempat memutar satu video tentang dua ilmuwan yang memiliki starting point berbeda. Ilmuwan pertama memulai dari sudut pandang naturalis, maka kesimpulan akhirnya adalah evolusi itu benar, kisah penciptaan di Alkitab itu salah. Namun, ilmuwan kedua yang memulai sudut pandangnya dari sisi Alkitab, pada akhir penelitiannya menyimpulkan bahwa Alkitab memang benar. Selain itu, pembicara juga menunjukkan alat peraga yang ia gunakan untuk mengajarkan Alkitab kepada anaknya dengan cara yang berbeda, sesuai dengan porsi untuk anak-anak. Tujuannya supaya sejak dari kecil, anak juga dapat belajar apologetika.

Seminar ini berdurasi 3 jam. Dua jam pertama berisi pembahasan materi, dengan waktu istirahat sekitar 10 menit di pertengahan. Setelah itu, 1 jam terakhir peserta diberi kesempatan untuk bertanya dalam sesi tanya jawab. Pertanyaan disambut dengan antusias dan pertanyaannya menarik untuk dibahas. Beberapa pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan asal mula manusia purba, asal mula ras manusia, ada juga tentang bagaimana mengajarkan materi ini kepada anak-anak karena banyak di antara peserta adalah guru.

Sebagai lanjutan dari seminar ini, panitia akan mengadakan seminar dengan pembicara dari Amerika pada September mendatang. Semoga seminar selanjutnya dapat memaparkan materi dengan lebih baik lagi.

Categories: PEPAK

Paradoks Kasih dan Keadilan Allah: Predestinasi

Fri, 02/17/2017 - 13:48

Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK), atau sering disebut "Progsif", merupakan salah satu kegiatan pembelajaran rohani yang saya nantikan dalam beberapa bulan terakhir. Sudah beberapa waktu lamanya, saya merindukan untuk belajar sesuatu, dan puji Tuhan, pada 23 -- 24 Januari 2017, kegiatan ini diadakan kembali. Tema kali ini sangat menarik, "Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah". Rekan saya, Okti, sudah menulis blog tentang progsif ini untuk hari pertama, tanggal 23 Januari 2017. Nah, sekarang saya membahas untuk hari yang kedua. Semula, saya hanya menebak bila inti yang disampaikan adalah tentang salib Kristus, tetapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Tema dari seminar tersebut malah mengerucut pada salah satu doktrin kontroversial yang sebenarnya justru adalah dasar dari iman Kristen. Topik ini dibahas pada hari kedua, yaitu "Predestinasi". Wah, tentu topik ini semakin membuat saya tertarik dan ingin belajar lebih.

Tentu tidak asing lagi bila mendengar istilah "Predestinasi". Predestinasi merupakan salah satu doktrin penting dan mendasar dalam iman Kristen. Predestinasi adalah keyakinan bahwa Tuhan sudah memilih seseorang untuk memperoleh anugerah keselamatan dan menjadi milik-Nya sejak sebelum dunia dijadikan.

Beberapa hal baru saya dapatkan melalui seminar ini, yaitu tentang predestinasi melalui kisah Kain dan Habel. Kisah tersebut cukup jelas mewakili keberadaan orang pilihan yang beriman dan orang bukan pilihan yang akan binasa. Salah satu pertanyaan yang begitu mengusik saya adalah, "Apakah ada orang yang sebenarnya layak untuk menerima anugerah keselamatan?" Seorang pun tidak! Tuhan memilih kepada siapa Ia berkenan memilih meskipun manusia telah melawan Tuhan dan diusir dari Taman Eden, seperti yang dinyatakan oleh kitab Kejadian, tetapi Tuhan tetap mengasihi. Semua orang pilihan adalah orang yang TIDAK LAYAK menerima pengampunan. Keselamatan hanya oleh anugerah yang dikerjakan melalui salib Kristus semata. Konsekuensi dari dosa tetap kita peroleh, yaitu keadilan Tuhan yang ditanggung oleh Kristus, supaya kita beroleh kasih kekal Bapa dan penyertaan Roh Kudus sepanjang zaman.

Pertanyaan lain yang muncul dalam seminar ini adalah, "Untuk apa menginjili ketika Tuhan sudah menentukan keselamatan seseorang?" Seseorang yang dipilih adalah seseorang yang mengalami penebusan oleh salib dan darah Kristus (1 Petrus 1:18,19), Injil menjadi pintu masuknya. Kita tidak akan pernah tahu siapakah orang di sekitar kita yang disebut orang pilihan. Belum tentu semua orang Kristen adalah orang pilihan, dan semua orang non-Kristen adalah bukan orang pilihan. Injil akan membawa seseorang pada pertobatan dan penemuan kepada Sang Juru Selamat Kristus Yesus, dan orang pilihan pasti akan mendengar dan menerima Injil dengan segenap hati.

Ketika Kristus menuju pada kematian di kayu salib, Dia mengatakan bahwa Dia mengampuni mereka semua, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tuhan memberikan pengampunan kepada semua orang, tetapi hanya orang yang dipilih-Nya yang akan beroleh keselamatan kekal. Seminar kali ini mengusik saya untuk lebih serius dan tidak buta dalam menginjili orang. Diperlukan hikmat dari Roh Kudus yang akan membawa saya untuk memberitakan Injil bagi orang-orang pilihan-Nya. Solus Christus!

Categories: PEPAK

Seminar Pembinaan Kristen: Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah

Thu, 02/09/2017 - 14:40

Senin sore itu (23 Januari 2017), sebenarnya saya urung berangkat ke Seminar Pembinaan Iman yang diadakan oleh MRII Surakarta. Selain karena cuaca yang buruk akibat senantiasa diguyur hujan, saya juga enggan meninggalkan anak sendiri di rumah. Namun, karena keinginan untuk mendengarkan tema "Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah" lebih besar dan didukung dengan akan ada yang dapat menemani anak saya di rumah, maka saya pun berangkat. Bersama dengan teman-teman kantor, yaitu Liza, Maskunarti, Hadi, Ayub, Aji, Pioneer, Andre, dan Danang, kami berangkat ke Orient Resto, tempat seminar diadakan. Keputusan saya untuk berangkat adalah keputusan yang tepat karena banyak berkat yang saya terima melalui seminar tersebut.

Acara seminar dimulai pada pukul 18.30 dan dibawakan oleh Pdt. Aiter M.Div dari MRII Jakarta. Memulai seminarnya, Pdt. Aiter mengajak kami untuk membuka kitab Wahyu 3:19 sebagai landasan utama dari kasih dan keadilan Tuhan. Dalam kasih-Nya, Allah dapat menghukum dan mendisiplin manusia sebagai ciptaan. Namun, perlu diingat bahwa kasih senantiasa mendahului peringatan dan hukuman. Contoh nyata dari kasih Allah adalah bahwa sebelum Adam dijadikan, Ia sudah menciptakan segala sesuatunya terlebih dahulu sehingga semua kebutuhan manusia sudah terpenuhi. Allah bahkan menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan bagi Adam karena dilihat-Nya tidak baik jika Adam sendirian saja. Seiring dengan perintah untuk mengusahakan dan memelihara taman itu, manusia juga diberi peringatan untuk tidak memakan buah dari satu pohon di sana. Namun, manusia menolak untuk mematuhi Allah dan akhirnya memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu. Karena melanggar perintah Allah, mereka pun harus menerima hukuman, diusir dari Taman Eden, dan menanggung akibat dari pelanggaran mereka. Akan tetapi, setelah pengusiran itu, Allah masih mengasihi dan memedulikan mereka dengan mengenakan pakaian dari kulit binatang kepada mereka. Pakaian itu, selain lebih baik dari pakaian buatan manusia yang terbuat dari daun ara, juga mengandung teologi yang amat dalam bahwa anugerah keselamatan itu benar-benar berasal dari Allah. Tidak ada jasa manusia di dalam keselamatan karena bahkan Allah yang mengenakan pakaian itu kepada mereka.

Setelah kejatuhannya, Adam dan Hawa ternyata masih memiliki iman yang besar kepada Allah. Terbukti dalam peristiwa kelahiran Kain (Kej. 4:1), iman anak-anak mereka yang juga terarah kepada Allah (Kej. 4:3-4), dan kelahiran Set (Kej. 25). Semua peristiwa itu menjadi pernyataan bahwa mereka percaya kepada Allah, kepada kasih dan pemeliharaan-Nya, dan bahwa iman itu juga diturunkan kepada anak-anak mereka. Selanjutnya, manusia keturunan Adam menjadi semakin jahat dan rusak secara moral sehingga Allah harus menghukum dan memusnahkan seluruh dunia dalam peristiwa air bah, kecuali Nuh dan seisi rumahnya. Hukuman itu dilakukan Allah untuk kebaikan generasi manusia selanjutnya agar tidak menanggung akibat mengerikan yang sudah dibuat oleh manusia pada zaman itu, terutama karena perilaku seksual mereka. Namun, sebelum penghukuman itu dilakukan, Allah sudah memberi peringatan kepada manusia tentang kejahatan mereka melalui nama Metusalah, anak Henokh, yang berarti "ketika aku lahir, kiamatlah dunia". Artinya, peringatan itu sudah diberikan sekitar 900 tahun sebelum peristiwa banjir besar itu terjadi. Kisah serupa juga terjadi pada peristiwa tulah di Mesir, yang sudah dinubuatkan kepada Abraham (Kej. 18:20-21), peristiwa pemusnahan Sodom dan Gomora (Kej. 13:12-13), penumpasan terhadap bangsa Amalek (1 Sam. 15:1-3). Hal yang sama juga terjadi saat Allah menghukum bangsa-bangsa lain yang sangat berdosa dan melawan Allah (Amos 1:6,9,13; Amos 2:1-3).

Jelaslah bahwa ketika Allah menghukum dan menumpas suatu bangsa (atau manusia) pasti karena mereka sudah melakukan suatu kejahatan yang luar biasa keji dalam pandangan Allah. Mereka bukan hanya memberontak terhadap Allah dan menghalangi misi-Nya, tetapi juga melakukan kejahatan yang buruk. Akan tetapi, mengapa harus semua bangsa ditumpas, sampai kepada anak-anak dan hewan ternak yang mereka miliki? Dosa bersifat menular, diturunkan, dan menjalar. Karena itu, untuk tetap menjaga kekudusan umat-Nya serta generasi selanjutnya, Allah harus melakukan penghukuman seperti itu. Yang harus kita ingat adalah Allah tidak pernah menghukum tanpa kasih dan peringatan. Jika hukuman itu dilakukan-Nya, hal itu diberikan dalam kerangka kasih dan kesetiaan-Nya. Jika ada yang mengatakan bahwa Allah itu kejam karena menghukum dan menghabisi suatu bangsa, ia pasti belum mengenal Allah dan firman-Nya. Lagi pula, pribadi macam apa yang kita sembah jika Ia tidak bertindak untuk menegakkan keadilan dan kebenaran?

Nah, itu adalah rangkuman materi yang saya dapatkan dari seminar pembinaan iman Kristen "Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah" pada hari pertama. Selanjutnya, silakan membaca blog dari rekan saya Ayub yang akan mengulas mengenai isi seminar pada hari kedua.

Blessings!

Categories: PEPAK

+TED @SABDA Tim Penjangkauan

Mon, 01/30/2017 - 08:31

Sesuai dengan kesepakatan rapat internal Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), diputuskan +TED @SABDA 2017 akan dilaksanakan setiap kuartal sekali, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober. +TED SABDA perdana tahun ini kami adakan pada tanggal 20 Januari 2017. Sedikit berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, penyelenggaraan +TED @SABDA tahun 2017 ditangani oleh tim-tim pelayanan YLSA. Salah satu tujuannya adalah supaya materi +TED bisa lebih fokus sesuai dengan bidang-bidang pelayanan YLSA.

Tim Penjangkauan terpilih untuk menjadi pelaksana penyelenggaraan +TED @SABDA pertama tahun 2017. Tim Penjangkauan, yang diwakili oleh bidang penulis, konseling, wanita, kepemimpinan, kesaksian, humor, dan biografi tokoh Kristen, memiliki fokus untuk memberitakan kebenaran firman Tuhan melalui tujuh bidang pelayanan umum tersebut. Karena itu, +TED @SABDA Tim Penjangkauan ini diisi oleh enam pembicara dengan materi-materi bidang penjangkauan.

Presentasi sesi satu disampaikan oleh tiga pembicara, yaitu: Odysius Bio Temara yang berbicara tentang "Menjangkau dengan Tulisan", Abraham Aji tentang "Menjangkau dengan Audio", dan Debora Istiawati tentang "Menjangkau dengan Pelayanan Pemulihan". Sebelum masuk ke sesi kedua, peserta diajak menikmati makan malam yang telah disediakan dan juga berdoa untuk salah satu staf YLSA, Hadi Pramono, yang berulang tahun tepat pada hari itu.

Presentasi sesi dua juga diisi oleh tiga pembicara, yaitu: Hariyono Wongsohadi tentang "Menjangkau dengan Multimedia", Dwi Erni Nugrohowati tentang "Kesaksian Pengacara Kristen", dan terakhir Jokanan Unus Prayitna tentang "Menjangkau dengan Tarian". Karena sebelum acara dimulai para pembicara sudah mendapat pengarahan terlebih dahulu tentang tata cara +TED (waktu presentasi, urutan pembicara, penyampaian pertanyaan, dan lain-lain), maka semua presentasi berjalan dengan lancar dan mencapai tujuannya, termasuk acara tanya jawab dari peserta, semua berlangsung dengan baik.

Salah satu materi yang sangat berkesan bagi saya adalah kesaksian dari Ibu Erni. Beliau memaparkan tentang lika-liku kehidupan seorang pengacara Kristen dalam menegakkan serta mengajarkan arti kebenaran firman Tuhan kepada para kliennya. Namun, secara pribadi, saya merasa puas dengan semua presentasi yang disampaikan oleh keenam pembicara. Melalui profesi sebagai penerjemah, konselor, praktisi multimedia, pengacara, juga seniman, Tuhan bisa pakai untuk melebarkan Kerajaan-Nya.

Puji Tuhan! Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam itu berakhir dengan baik. Berdasarkan form evaluasi yang terkumpul, para peserta merasa terberkati dan ingin kembali hadir di acara +TED @SABDA selanjutnya. Bahkan, ada beberapa peserta yang mengusulkan nama-nama untuk diundang sebagai peserta atau diundang sebagai pembicara di @TED SABDA berikutnya, yaitu April oleh Tim Pembinaan YLSA. Saya sangat diberkati. Karena itu, saya berharap orang lain juga diberkati.

Categories: PEPAK

#Ayo_PA! dalam Natal “ABA”

Wed, 01/25/2017 - 14:18

Kampanye #Ayo_PA! sudah berjalan lebih dari setahun, tetapi kampanye ini tampaknya masih jauh dari selesai karena banyak sekali yang masih harus kami jangkau agar kembali kepada kebiasaan ber-PA. Salah satunya, ketika kami diundang Bpk. Aris untuk melakukan roadshow #Ayo_PA! dalam acara Natal kelompok "ABA" yang diselenggarakan di CS Resto, 18 Januari 2017 lalu. ABA adalah singkatan dari Asyiknya Baca Alkitab. Bapak Aris adalah perintis kelompok ABA untuk wilayah Solo. Kegiatan ABA adalah membaca Alkitab secara teratur, setiap hari sebanyak 3 pasal, dan setiap peserta harus memberikan laporan bacaannya melalui group WA ABA. Pada tanggal 18 Januari 2017, diadakanlah Natal kelompok ini dan untuk mengisi acara tersebut, Bpk. Aris berinisiatif mengundang tim #Ayo_PA! Sebelumnya, Pak Aries sudah mengikuti presentasi yang sama ketika tim #Ayo_PA! melayani dalam pertemuan Youth FGBMFI di Orient Solo pada tanggal 13 Desember 2016. Karena merasa ini juga perlu untuk anggota ABA, beliau pun mengundang kami. Menurut beliau, gerakan #Ayo_PA! ini satu visi dengan kegiatan mereka dan diharapkan bisa melengkapi mereka dalam mempelajari Alkitab dengan bantuan teknologi abad ini.

Waktu itu, saya ditugaskan untuk melakukan roadshow bersama dengan mbak Evie dan Mas Danang. Mbak Evie bertugas sebagai pemateri pertama, saya pemateri kedua, dan Mas Danang didaulat untuk tugas-tugas multimedia dan persiapan alat. Kami bertiga juga mempersiapkan booth SABDA agar para peserta bisa melihat dan mendapatkan produk-produk pelayanan dari SABDA sesuai kebutuhan mereka dalam pelayanan.

Pkl. 19.00 acara dimulai dengan kata sambutan dari panitia dan makan malam. Sempat molor selama 30 menit, akhirnya pada pkl. 19.45 kami mulai memberikan presentasi tentang PA di Era Digital. Mbak Evie memulai presentasi dengan materi pertama tentang pentingnya melakukan PA dan mengapa kita perlu menggunakan teknologi untuk belajar firman Tuhan. Ia membawakan materi dengan sangat smooth, seakan tak perlu melihat lagi ke arah slide. Dalam hal ini, saya masih perlu belajar banyak dari beliau agar presentasi saya juga semakin baik lagi ke depannya.

Selanjutnya, giliran saya. Pada sesi kedua, saya membawakan materi tentang penggunaan lima aplikasi Android SABDA. Saya berusaha menerangkan dengan cukup jelas dengan sesering mungkin mengingatkan hadirin untuk mempraktikkan langsung cara penggunaan lima aplikasi tersebut pada gawai mereka. Saya senang karena sebagian besar peserta dengan serius mempelajarinya. Tak jarang, pandangan mereka terus beralih dari layar LCD ke gawai mereka, mengikuti satu per satu langkah yang saya paparkan. Ada yang menggunakan gawainya masing-masing, tetapi ada pula beberapa orang sekaligus yang menggunakan satu gawai karena mereka tidak membawa gawai atau memori gawainya sudah penuh.

Untuk lebih memantapkan materi, presentasi sesi kedua ini saya lengkapi juga dengan dua kuis, satu untuk mencari arti kata "mahkota" menggunakan aplikasi Kamus Alkitab, dan yang kedua adalah mencari jumlah kata "roti" dalam kitab Matius saja. Awalnya, peserta masih canggung dengan penggunaan aplikasi yang sudah dijelaskan, tetapi pada akhirnya mereka bisa belajar dengan cukup cepat dan menjawab dua pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya. Kuis ini juga semakin meriah karena Bpk. Aris rupanya sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk peserta yang bisa memberi jawaban paling cepat.

Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya-jawab dan beberapa kuis tambahan dari Pak Aris karena hadiah yang tersedia masih cukup banyak. Masing-masing peserta juga diminta memberi testimoni, baik tentang materi presentasi maupun tentang kegiatan dalam kelompok baca Alkitab. Tak lupa, kami juga melakukan "ritual" rutin tiap kali roadshow #Ayo_PA! diadakan, yaitu dengan berfoto bersama dengan para peserta, dan dengan MMT #Ayo_PA! yang kami bentangkan di barisan paling depan. Dengan demikian, selesailah sudah acara pada hari itu.

Kami bersyukur karena sudah memberikan yang terbaik untuk mengajarkan kepada peserta cara ber-PA dengan teknologi abad ini, dan berharap, materi yang sudah kami sampaikan tidak berlalu begitu saja, tetapi mampu menggugah peserta untuk terus belajar firman Tuhan secara disiplin. Memang benar, bahwa di setiap roadshow yang kami adakan, ada saja sebagian kecil peserta yang cuek dengan materi yang disampaikan. Akan tetapi, kami berusaha untuk tidak berkecil hati karena tugas kami hanyalah mengajak orang lain kembali memiliki kebiasaan ber-PA, dan selebihnya, Tuhanlah yang berkarya dalam mengetuk pintu hati setiap orang.

Menutup tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat ber-PA bagi kita semua, dan kiranya kita juga turut aktif membagikan berkat yang kita dapat dari ber-PA kepada orang lain. Anda pun bisa mempraktikkan roadshow #Ayo_PA! ini kepada orang lain di sekitar Anda. Informasi lebih jelas mengenai pelayanan #Ayo_PA! dapat Anda lihat dalam situs Ayo-PA.org dan Ayo-PA.net.

Mari manfaatkan teknologi dalam genggaman kita untuk belajar firman-Nya supaya kita memahami kehendak Allah dan boleh menjadi terang dan garam bagi orang-orang di sekitar kita. #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Sastra Oh Bahasa … Apa Kabar?

Mon, 01/23/2017 - 14:05

Akhir-akhir ini, saya bernostalgia lagi dengan sastra. Eitz ... tak hanya sastra, tetapi juga bahasa Indonesia. Jadi ingat masa-masa kuliah dulu yang setiap hari berkecimpung dengan itu .... Sastra itu asyik apalagi bahasa Indonesia. Namun, kita tidak boleh terlena dan hanya asyik menikmati karya-karya sastra dan bacaan-bacaan berkualitas dari penulis-penulis ternama, sampai-sampai kita tutup mata dengan keberadaan bahasa dan nasib sastra saat ini. Inilah kesimpulanku setelah membaca beberapa kliping artikel bertema sastra dan bahasa yang sempat diedarkan di kantor.

"Artikel ini harus dibaca semua staf. Bagi yang sudah baca, harus kasih tanda tangan di pinggir ya!" Itulah perintah perdana ketika sebuah kliping bertema sastra diedarkan di kantor Griya SABDA. Artikel pertama dan disusul beberapa artikel selanjutnya diedarkan dan dibaca dengan cepat oleh semua staf secara bergilir. Namun, untuk artikel yang terakhir, peredarannya cukup lambat ... he-he-he ... karena kami tak hanya membaca dan tanda tangan, tetapi harus menulis komentar mengenai artikel tersebut. Perintahnya semakin "kompleks" ya ... hmmm.

Di YLSA, semua staf selalu didorong, bahkan dipaksa, untuk membaca. Nah, kegiatan membaca artikel ini menjadi salah satu cara YLSA untuk menolong staf YLSA, khususnya staf publikasi, untuk bisa mengikuti perkembangan bahasa dan sastra saat ini, selain juga menambah pengetahuan dan membiasakan aktivitas membaca. Dari keempat artikel yang sudah diedarkan, saya jadi terusik dengan keberadaan sastra dan bahasa Indonesia saat ini. Sebenarnya, bukan hanya dari artikel ini saja sih. Ketika saya "blusukan" ke toko buku pun, saya sudah curiga dengan eksistensi sastra dan bahasa Indonesia sekarang ini. Banyak karya fiksi terpampang di sana, bahkan sampai didiskon tinggi, tetapi semuanya hanya menarik di cover-nya saja. Bahkan, ketika halaman pertama dibuka pun, bahasa-bahasa gaul dan bahasa Inggris sudah mendiami hampir di setiap paragrafnya. Tak heran juga jika Na'imatur Rofiqoh, penulis artikel yang berjudul "Nasib Bahasa Indonesia", mengkritik tentang pemakaian kata-kata dalam bahasa Inggris di iklan-iklan, instansi, tempat umum, dll., padahal kata-kata tersebut sudah memiliki terjemahan/padanannya dalam bahasa Indonesia.

Sedikit nostalgia ya, semasa kuliah, saya suka karya Marianne Katoppo, yang salah satu novelnya berjudul "Raumanen" -- kontennya kental dengan budaya, adat Batak, dan masalah-masalah adat, Remy Silado dengan puisi-puisi Mbeling, Kerygma dan Martyria, semua karya Mira W. yang selalu memuat istilah kedokteran di dalam novel-novelnya, Pudji Santosa dengan karya "Semiotika", dll.. Ketika membaca artikel "Hidupkan Sastra Lama Lewat Penulisan Ulang" yang diambil dari koran Solopos, 19 Desember 2016, saya jadi sedih juga, soalnya karya-karya sastra zaman lama kini kurang dilirik lagi. Seharusnya, karya-karya sastra Indonesia bisa dikenal juga oleh siswa-siswi zaman sekarang supaya menolong mereka mengenal karya sastra dan keunikan budaya Indonesia. Meski bahasa penyampaian disederhanakan tak masalah, yang penting karya sastranya bisa disampaikan dan dimengerti oleh siswa-siswi zaman ini. Apa sih keuntungannya? Menurut seorang guru SMAN 1 Karanganyar, Giyato, dalam artikelnya berjudul "Darurat Sastra di Sekolah", membaca sastra akan membentuk kecintaan dan adiksi membaca buku. Nilai estetik dan puitik dari sebuah sastra diyakini mampu memompa dan membangun karakter siswa. Saya berpikir bahwa Indonesia pasti akan sangat kehilangan keindahan dan keunikan sastra Indonesia dan bahasanya jika kita semua, terutama yang pernah menikmati keindahan dan keunikan itu sejak dulu, tidak ikut berjuang membangkitkan dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Kita adalah orang Indonesia, mari menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan mengenal karya-karya sastra Indonesia.

Sebagai orang percaya, kita harus menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dengan menghargai bahasa, budaya, dan karya sastra Indonesia. Mari kita budayakan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, mendukung gerakan gemar membaca, dan mengenal karya-karya sastra Indonesia supaya kita dan Indonesia dengan segala keindahan dan keunikannya bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

"Gunakan bahasa yang kamu ingin gunakan, kamu tidak akan pernah mengatakan sesuatu, selain dirimu.
(Use what language you will, you can never say anything but what you are -- Ralph Waldo Emerson)

Categories: PEPAK

Kreatif, Konsisten, dan Komitmen: Kunci Pelayanan di Situs Berbagi Video

Fri, 01/06/2017 - 10:20

Oleh: Rinto Ari N*

Saya mengaminkan bahwa firman Tuhan senantiasa tepat dan relevan di segala keadaan dan zaman. Akan tetapi, teknologi dan gaya hidup terus berubah dengan cepat. Karena itu, menurut saya, media penyampaian kebenaran firman Tuhan harus terus dikembangkan supaya bisa diterima oleh zamannya, contohnya, saat ini kita harus bisa beradaptasi dengan perkembangan di dunia maya. Tren demi tren silih berganti mewarnai dinamika dunia maya. Mulai dari penggunaan email, situs, media sosial (medsos) hingga situs berbagi video, semuanya terus mewarnai kehidupan masyarakat saat ini.

Setelah dunia maya diramaikan dengan tren media sosial Facebook, Twitter hingga Instagram, ke depannya saya pikir orang akan semakin tidak puas. Mereka tidak hanya ingin mendapatkan informasi terbaru melalui tulisan dan gambar, tetapi juga video. Wahana audio-visual yang satu ini memang semakin memanjakan penikmatnya. Mereka tidak hanya bisa membayangkan, tetapi mendapatkan penyajian langsung atas apa yang disampaikan.

Untuk mendapatkan video, sekarang orang bisa mendapatkannya dengan mudah dari situs layanan berbagi video di internet. Dari puluhan hingga ratusan situs berbagi video di internet, Youtube merupakan situs yang terhitung paling populer. Setahu saya, meski baru memulai debutnya pada Mei 2005, namun Youtube telah melejit menjadi situs berbagi video terpopuler. Tidak salah kalau setahun setelah lahir, Youtube diakusisi oleh Google untuk menjadi anak perusahaannya.

Popularitas Youtube menurut saya sangat mencengangkan. Misalnya saja perusahaan analisis traffic web di internet, Alexa menempatkan Youtube sebagai situs paling banyak diakses kedua setelah Google -- yang merupakan perusahaan induknya sendiri. Peringkat serupa juga terjadi di Indonesia di mana Youtube menempati peringkat ketiga setelah google.com dan google.co.id -- yang juga merupakan induk dari Youtube sendiri. Kepopuleran Youtube mengalahkan Facebook sebagai situs medsos terpopuler yang sempat merajai internet beberapa waktu belakangan.

Dari pengamatan saya, salah satu sebab mengapa Youtube begitu populer saat ini adalah orang bisa menonton nyaris apa pun sesuai dengan yang mereka inginkan, baik itu hiburan, musik tutorial, jalan-jalan, maupun ilmu pengetahuan. Popularitas ini juga terlihat dari pertumbuhan durasi menonton Youtube yang naik sekitar 130 persen. Yang luar biasa, hal ini juga diimbangi dengan pertumbuhan para pembuat video yang mencapai 600 persen. Hebatnya lagi, pertumbuhan creator video ini paling pesat terjadi di wilayah Asia-Pasifik termasuk Indonesia. Hal ini terjadi karena mulai membaiknya infrastruktur teknologi komunikasi di Indonesia. Saya melihat sebagian besar wilayah Indonesia saat ini telah bisa menikmati layanan akses data berkecepatan tinggi sehingga menonton video melalui layanan internet menjadi hal yang lumrah.

Bagaimana hubungan kemajuan ini dengan dunia pelayanan? Sejatinya, segmen rohani Kristen di situs berbagi video termasuk Youtube, menurut saya, sudah cukup banyak, terutama sumber dari luar negeri. Mulai dari lagu rohani, kesaksian, khotbah, hingga rekaman ibadah banyak menghiasi internet sejak lama. Tetapi, di Indonesia kondisinya sedikit berbeda meskipun konten sudah mulai berkembang, tetapi sebagian besar masih berupa lagu rohani. Lantas, bagaimana dengan layanan Alkitab? Jangan khawatir. Di situs berbagi video, saya lihat hal ini juga ada meski jumlahnya belum cukup banyak.

Hal ini tentu menjadi peluang bagi SABDA untuk melayani dan menjangkau secara lebih luas lagi. Adalah langkah yang patut diapresiasi ketika SABDA mulai memiliki saluran di situs berbagi video. Namun, menurut saya diperlukan langkah konkret untuk membuatnya lebih optimal. Dengan perjalanan panjang SABDA sebagai penyedia berbagai sumber berbasis Alkitab, saya yakin tidak menjadi masalah serius dalam hal menyediakan dan mengolah kontennya. Yang perlu menjadi perhatian adalah sumber daya manusianya yang perlu dipersiapkan secara lebih intens.

Dalam hal melayani di situs berbagi video, ada tiga hal yang ingin saya tekankan sebagai pilar. Yang pertama adalah kreativitas. Banyaknya sumber bahan yang dimiliki SABDA tentu menjadi modal berharga untuk melakukan pelayanan. Kreativitas berperan dalam mengolah dan menyajikan berbagai bahan tersebut agar menarik perhatian penonton. Langkah nyata pertama yang bisa dilakukan adalah memperbaiki halaman utama saluran SABDA agar tampil lebih segar. Berikutnya, penyegaran konten yang disajikan. Berbagai sumber SABDA bisa diindeks dan diberikan label kategori, lalu diunggah dalam saluran atau subsaluran yang sesuai.

Pilar berikutnya adalah konsisten. Hal ini sangat penting karena bermain di ranah situs berbagi video berarti menjanjikan kepercayaan kepada penonton. Untuk itu, saluran SABDA diharapkan dapat secara konsisten mengunggah konten baru. Tidak harus setiap hari, minimal setiap minggu diharapkan ada bahan baru sehingga penonton senantiasa mendapatkan bahan yang segar. Dalam hal konsistensi ini, pengelola saluran juga harus memiliki jadwal pasti tentang kapan SABDA akan mengunggah video baru. Apabila pelanggan dan penonton sudah tahu, tentu mereka tidak akan kebingungan tentang kapankah bahan baru akan tersedia.

Yang terakhir adalah komitmen. Membangun kepercayaan penonton tidak bisa dilakukan dalam sehari atau dua hari. Karena itu, komitmen pengelola saluran SABDA untuk mengolah dan menampilkan bahan baru sangat diharapkan.

Categories: PEPAK

Tim #Ayo_PA! di Youth Chapter FGBMFI

Fri, 12/23/2016 - 14:57


Senin, 13 Desember 2106, tim #Ayo_PA diundang untuk mengisi acara di Youth Chapter "Full Gospel Business Men's Fellowship Indonesia (FGBMFI)", Solo. Kami berangkat dengan 6 personil, yang terdiri dari 3 orang presentator, seorang yang bertugas di bagian booth, seorang dari bagian multimedia, dan seorang pengamat. Kami berangkat dengan persiapan yang cukup matang, tetapi cuaca sangat tidak mendukung karena hujan yang mengguyur kota Solo sejak sore. Setibanya di lokasi, kami langsung mempersiapkan booth untuk produk-produk SABDA yang akan kami bagikan kepada peserta. Sementara itu, petugas multimedia menyiapkan semua keperluan untuk merekam acara.

Kegiatan yang berlangsung di rumah makan Orient Solo ini sebenarnya dimulai pukul 18.00, tetapi acara sedikit molor karena menunggu peserta datang. Rupanya, hujan yang cukup deras membuat para peserta sulit untuk tiba tepat waktu. Sementara menunggu, kami menolong peserta yang belum memiliki aplikasi-aplikasi SABDA Android, seperti Alkitab, Alkipedia, Kamus, Tafsiran, Peta, dan Telegram untuk bisa terpasang di gawai mereka. Kami bersyukur memiliki waktu yang cukup banyak untuk duduk dan berbincang-bincang dengan peserta yang sudah datang lebih awal sehingga kami bisa membangun hubungan yang akrab. Youth Chapter FGBMFI Solo memang belum banyak anggotanya. Karena itu, mereka juga mengundang chapter lain, yang notabene tidak "youth" lagi.

Setelah makan malam, acara pelatihan dimulai dengan 19 peserta yang hadir. Presentasi pertama dibawakan oleh Ibu Yulia dengan materi Tujuh Alasan Utama Mengapa Perlu PA, Presentasi kedua oleh Hilda dengan materi PA di Era Digital, dan presentasi ketiga yang saya bawakan, yaitu Memakai HP untuk Melakukan PA. Sempat terjadi kebingungan karena ekspektasi kami, tamu-tamu yang datang adalah "youth", yaitu anak-anak muda. Namun, fakta berkata lain. Puji Tuhan, walaupun tidak tergolong 'pemuda' lagi, para peserta sangat antusias melakukan pelatihan dengan gawai mereka yang cukup mumpuni, yang lebih canggih dari kebanyakan gawai kami. Selama pelatihan, semua tim Ayo_PA bisa membantu peserta yang mengalami kesulitan dan mereka sangat senang bisa mencoba semua fitur-fitur untuk belajar Alkitab dengan lebih dalam.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Acara ditutup dengan perasa lega karena peserta sangat diberkati dengan pelatihan ini dan produk-produk SABDA bisa dibagikan untuk disebarkan ke rekan-rekan mereka yang tidak hadir. Acara diakhiri dengan foto bersama dan testimoni dari para peserta. Puji Tuhan, kami mendengar secara pribadi bahwa mereka merindukan bisa belajar Alkitab dengan lebih rutin. Harapan kami, firman Tuhan akan semakin nyata dalam hidup mereka. #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

VIDEO NITE NATAL @ SABDA

Fri, 12/23/2016 - 10:06


NATAL? Apa yang ada di benak kita mengenai Natal? Santa Klaus, kado, hiasan-hiasan Natal, ataukah Natal sekadar perayaan keagamaan? Bukan! Natal adalah perayaan akan pengorbanan Kristus. Ya, Kristus yang adalah Tuhan, Pencipta, dan Penguasa dunia rela turun ke dunia menjadi bayi kecil yang tidak berdaya, hidup menderita, dan mati di atas kayu salib untuk membawa umat-Nya kembali kepada Allah. Inilah makna Natal yang sebenarnya.

Pengertian inilah yang ingin disampaikan oleh YLSA pada Natal tahun ini. Saya sendiri pernah mengalami, setiap kali merayakan Natal, saya disibukkan dengan berbagai persiapan di gereja, persekutuan, bahkan di kantor. Namun, kesibukan tersebut justru membuat saya melupakan Kristus yang adalah Sang Natal itu sendiri. Oleh karena itu, pada perayaan Natal SABDA tahun ini, kami mencoba menghindari kesibukan-kesibukan yang bisa mengaburkan inti Natal yang sebenarnya. Dengan persiapan yang tidak terlalu "ribet", diharapkan perayaan Natal SABDA tetap spesial. Tema inti Natal dikemas dalam acara "Video Nite Natal" pada Rabu, 21 Desember 2016, pkl. 17.30, sengaja disiapkan untuk mengajak keluarga dan teman-teman menikmati kisah Natal dari nobar (nonton bareng) video kisah kelahiran Yesus Kristus.

Saya diminta untuk menjadi ketua panitia sekaligus melayani booth SABDA bersama Ami. Teman-teman dari sie acara menyiapkan pengantar untuk menyanyikan puji-pujian Natal dengan drama-drama pendek (sakit) yang diharapkan dapat menolong kita menangkap pesan dari nyanyian yang dinyanyikan. Ada dua pesan yang ingin disampaikan, yaitu kita harus mengabarkan keselamatan kepada orang lain dan juga jangan sampai kita kehilangan makna Natal itu sendiri. Selanjutnya, renungan Natal dibawakan oleh Pdt. Edward B. Siburian, S.Th.. Melalui khotbahnya, ia menyampaikan bahwa Kristus bukan hanya lahir di kandang domba, tetapi di dalam hati dan hidup kita. Lalu, acara disambung dengan penyalaan lilin dan makan malam. Setelah itu, pemutaran film Natal yang berjudul "The Nativity Story".

Ada banyak berkat yang kami dapat dari nonton bersama ini. Saat diminta untuk berdiskusi dan membagikan pelajaran apa yang didapat dari film tersebut. Ada beberapa orang yang membagikan beberapa pelajaran, di antaranya, film ini memberikan gambaran tentang apa yang terjadi sehingga kita bisa memiliki imajinasi yang lebih lengkap ketika membaca Alkitab. Juga, banyak yang terkesan dengan banyaknya detail yang cukup ilmiah dan menarik yang ditunjukkan sehingga membuka wawasan yang lebih lengkap tentang sejarah dan budaya saat Tuhan Yesus lahir. Sebagai penutup, Ibu Yulia juga menyampaikan bahwa Natal adalah awal penderitaan Kristus. Dia yang adalah Allah yang Empunya langit dan bumi, lahir ke dunia dalam sebuah kandang yang hina dan kotor. Saya sempat melirik istri saya yang meneteskan air mata. Saya yakin dia makin memahami arti Natal yang sebenarnya. Puji Tuhan! Kami benar-benar merasakan kasih Allah yang luar biasa melalui Natal SABDA tahun ini. Pukul 21.00 acara selesai, tetapi masih ada beberapa tamu yang beramah-tamah.

Natal membawa damai bagi kita, umat tebusan-Nya, dan untuk itulah Ia rela menderita dan mengorbankan diri-Nya. Kelahiran Kristus membuktikan bahwa Ia taat kepada Allah Bapa. Kedatangan-Nya memperdamaikan manusia dengan Allah Bapa.

Selamat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, Tuhan memberkati.

Categories: PEPAK

Rapat Kerja YLSA 2016: Penyertaan dan Pemeliharaan Tuhan bagi SABDA

Tue, 12/13/2016 - 08:38

Oleh: Danang*

Saya sudah lama mengenal pelayanan SABDA, bahkan sudah menggunakan software SABDA sejak versi 2, yang termasuk software pertama yang saya kenal sebagai pengganti Alkitab versi cetak. Software tersebut mempercepat melakukan PA karena ada fitur pencari, kamus, dsb.. Akhir November 2016, saya bergabung menjadi staf SABDA di bagian IT dan saya melihat cukup banyak program kerja yang dilakukan, di antaranya digitalisasi buku-buku, memelihara beragam situs, proyek penerjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT), aplikasi-aplikasi studi Alkitab untuk HP, puluhan media sosial, dan sebagainya. Semua hal itu saya ketahui ketika untuk pertama kalinya saya mengikuti rapat kerja YLSA pada 2 -- 3 Desember 2016. Dalam setiap laporan tim, saya melihat sistem kerja yang bagus dan terukur untuk memelihara proyek-proyek tersebut. Cukup menarik melihat perkembangan SABDA sampai sejauh ini.

SABDA sudah melayani selama 22 tahun, berarti dimulai sebelum masa internet menjadi konsumsi publik secara luas. Sejak awal, SABDA sudah melihat tren masa depan, yaitu umat manusia akan semakin aktif di dunia maya. Penggunaan komputer dan gawai semakin dominan. Ke mana-mana orang membawa gawai untuk melakukan akses ke jaringan internet. Karena hidup manusia tidak bisa lepas dari gawai, maka SABDA Tuhan harus dibawa ke dunia digital supaya generasi digital terus bisa mendengar Suara-Nya yang berseru-seru, memanggil manusia untuk bertobat, dan mengenal Tuhan yang sejati itu. Itulah panggilan Tuhan bagi tim SABDA.

Untuk ini, diperlukan orang-orang yang berdedikasi untuk melakukan panggilan Tuhan ini. Dan, Tuhan banyak mengirim pelayan-pelayan-Nya ke SABDA. Tuhan yang memanggil, Tuhan juga yang akan memperlengkapi, itu salah satu prinsip kebenaran yang diterapkan SABDA. Dalam rapat kerja yang saya ikuti, selain pencapaian yang sudah diraih, saya juga melihat tantangan dan persoalan yang dihadapi. Beberapa hal yang menjadi pergumulan SABDA dari sisi SDM adalah intensitas pergantian staf yang tinggi sehingga menimbulkan kesulitan dalam menetapkan orang untuk proyek-proyek jangka panjang. Untuk itulah, perlunya komitmen kerja 2 tahun untuk menjadi staf fulltimer di SABDA. Saya turut bersyukur karena di tengah-tengah kondisi yang mungkin kurang mendukung tersebut, proyek-proyek SABDA bisa dijalankan dengan baik.

Rapat kerja menjadi agenda tahunan untuk melakukan evaluasi kerja dan perbaikan dari kegagalan sebelumnya. Ada banyak hal yang dievaluasi, secara umum trennya adalah positif. Makin banyak orang memanfaatkan produk-produk SABDA untuk belajar Alkitab. Orang mudah mengakses beragam versi kitab suci, beragam bahasa, beserta semua bahan lain untuk belajar Alkitab, misalnya kamus, ensiklopedia, ilustrasi, bahan-bahan renungan, peta, dan sebagainya. Di samping itu, telah dibuat juga beragam kelompok diskusi di media sosial yang menarik banyak orang untuk aktif terlibat. Jadi, ketika budaya manusia berpindah ke digital, ada banyak orang yang terjangkau supaya mengenal Sabda Tuhan. Hal ini adalah tren pelayanan yang perlu diperhatikan, pelayanan-pelayanan yang tidak mau beradaptasi berkaitan dengan metode akan kesulitan menjalankan visi Amanat Agung. Ada juga komunitas-komunitas digital lain selain SABDA yang juga menangkap visi yang sama. Ada beragam perangkat lunak yang dibuat dengan tujuan supaya orang mudah belajar Sabda Tuhan, demikian pula banyak usaha dari SABDA yang masih berlangsung untuk melakukan digitalisasi buku-buku, kitab-kitab, dan bahan-bahan lain sehingga dengan mudah diakses semua orang dan dibagikan secara gratis. Apa yang diterima dari Tuhan dibagikan secara terbuka supaya orang tidak kesulitan memperolehnya, ini visi yang surgawi. Sebab, orang-orang miskin pun harus bisa memperoleh kebenaran. Bagi orang miskin, memiliki akses kepada gawai pun merupakan sesuatu yang luar biasa, dan akan menjadi persoalan besar apabila mereka masih harus membayar untuk belajar Alkitab.

Raker SABDA ini bisa menjadi cara Tuhan menyatakan pemeliharaan dan penyertaan-Nya dalam pelayanan SABDA. Tuhan tidak meninggalkan SABDA, Dia terus menyertai dan memimpin. Hal ini menjadi pokok kebenaran yang dipegang SABDA untuk terus melayani umat-Nya. Terpujilah Tuhan yang sudah memanggil SABDA dan biarlah segala sesuatu yang dilakukan SABDA memberikan hormat dan kemuliaan bagi nama-Nya. Amin. Haleluya.

Categories: PEPAK

Pengalaman Mengikuti KKR Natal Pdt. Stephen Tong

Fri, 12/09/2016 - 15:55

Oleh: Maskunarti*

Shalom, perkenalkan nama saya Maskunarti Wahyu Budiarti. Saya saat ini masih menjadi staf masa percobaan di SABDA. Pada kesempatan kali ini, saya mau membagikan berkat ketika saya mengikuti KKR Natal Pdt. Stephen Tong. KKR Natal tersebut diadakan pada Jumat, 2 Desember 2016, di Hotel Best Western Premiere Solo Baru, pada pukul 18.00. Kala itu, aku dan teman-teman baru saja melaksanakan Rapat Kerja Tahunan hari pertama di SABDA. Seusai Rapat Kerja, kami langsung bergegas menuju KKR Natal. Ada yang mengendarai motor dan ada yang naik mobil. Aku dan teman-teman segera menuju Hotel Best Western Solo Baru. Kami mengejar waktu karena para staf SABDA dipercaya untuk bertugas sebagai usher, kolektan, dan petugas parkir, jadi kami semua harus tiba di sana lebih awal untuk briefing terlebih dahulu dengan panitia KKR Natal.

Bersyukur saat itu cuaca cerah. Sekalipun aku dan teman-teman kecapaian karena habis mengikuti Rapat Kerja Tahunan SABDA, kami tetap bersukacita karena bertugas melayani DIA, Tuhan yang begitu baik. Setibanya kami di Best Western Solo Baru, aku dan teman-teman langsung bersiap diri sesuai dengan tugas kami masing-masing. Yang bertugas sebagai usher dan kolektan adalah aku sendiri, Mbak Evie, Mbak Okti, Mbak Elly, Mbak Indah, Mbak Tika, Ria, Mas Ariel, Ayub, Pio, dan Jordan. Untuk teman-teman yang bertugas di bagian parkir ada Mas Andre, Mas Aji, Mas Hadi, Mas Danang, Ody, dan Lukas. Jemaat pun satu-satu berdatangan hingga kursi terpenuhi seluruhnya. Hingga tibalah saatnya KKR Natal tersebut dimulai. Lagu-lagu pujian kami lantunkan bersama-sama dengan dipimpin oleh liturgos serta iringan bunyi piano yang membuat suasana ibadah KKR Natal berlangsung khidmat. Lalu, tiba saatnya Pdt. Stephen Tong naik ke mimbar untuk menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Ada banyak hal yang aku dapat ketika mengikuti KKR Natal ini.

Aku kembali mengenang saat-saat terindah dalam hidupku, ketika aku boleh menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat hidupku. Firman-Nya begitu indah seperti yang tertulis dalam Yohanes 1:1,4 dan 14, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah .... Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia .... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran". Ya, betapa bersyukurnya aku karena hanya oleh anugerah-Nya semata, aku boleh diizinkan untuk mengetahui tentang kebenaran itu sendiri.

Dikatakan juga dalam KKR Natal tersebut bahwa ketika kita sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat bukan lantas semuanya usai. Ada kehidupan lanjutan yang juga perlu kita bagikan bagi orang lain, khususnya kebenaran dari firman itu sendiri yang harus kita bagikan. Kita dituntut untuk hidup yang memberikan nilai guna bagi sesama kita. Ketika kita hidup, kita tidak hanya sekadar hidup. Karena jikalau kita hidup di dunia ini sekadar hidup, maka kita tidak jauh beda dengan binatang sapi. Hewan sapi semisal, sapi itu hidup, makan, berkembang biak lalu mati .... Yaaa, hidup sapi itu tak ada tujuan bukan? Hidup berguna bagi sesama berarti kita harus menjadi terang bagi sesama. Sama seperti lilin yang menyala dalam kegelapan sehingga lilin itu begitu memberi dampak di tengah kegelapan. Sebagai sebuah perenungan, sudahkah kita menjadi lilin dalam kegelapan?

Kiranya Allah sendiri yang memampukan kita untuk terus dipakai sebagai pembawa terang. Bagi Dia segala kemuliaan. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Thanksgiving: God is Good

Tue, 12/06/2016 - 08:24

"Mengucap syukurlah dalam segala hal. Sebab, itulah kehendak Allah bagimu di dalam Kristus Yesus." 1 Tesalonika 5:18 (AYT)

Kehidupan orang Kristen mesti ditandai dengan ucapan syukur. Itu jelas tertera dalam firman Tuhan, seperti yang tertulis di awal blog ini. Mengapa? Setidaknya, ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, karena karya keselamatan yang sudah dikerjakan Kristus bagi kita. Kedua, karena Tuhan menghendaki agar kita memiliki kemampuan untuk bersyukur dalam setiap waktu dan kondisi, atau dalam bahasa kerennya, attitude of gratitude. Dengan memiliki sikap bersyukur, pandangan kita akan terus terarah pada kebaikan dan pemeliharaan Tuhan, yang selanjutnya akan mengarahkan kita untuk hidup di dalam iman, pengharapan, dan kasih. So, terkait dengan hal itu, setiap tahun, pada hari Kamis terakhir bulan November, pemimpin dan staf YLSA mengadakan acara Thanksgiving di kantor. Meski Thanksgiving awalnya (dan masih) menjadi budaya tahunan yang berkembang dan terjadi di negara Amerika Serikat dan Kanada, tetapi inti dari budaya Thanksgiving, yaitu mengkhususkan satu hari untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, menjadi satu budaya atau kebiasaan yang juga dikembangkan oleh YLSA dari waktu ke waktu.

Sejarah Thanksgiving sendiri diawali dengan perjalanan (pilgrimage) sebagian rakyat Inggris yang mencari kebebasan religi di benua yang baru (new land) Amerika. Mereka harus menemui banyak hambatan, kesulitan, serta penyakit, sebelum akhirnya mereka dapat menghasilkan panen pertama di tanah yang baru. Sebagai ungkapan syukur mereka atas pemeliharaan Tuhan, mereka pun mengadakan jamuan makan untuk ucapan syukur dengan mengundang "tetangga baru" mereka, suku asli Indian, yang telah membantu mereka melalui tahun-tahun sulit di tanah yang baru itu. Seiring dengan perkembangan sejarah, Thanksgiving kemudian ditetapkan sebagai hari perayaan nasional di Amerika, yang kemudian juga menjadi ajang "mudik" bareng dari banyak masyarakat untuk berkumpul dengan keluarga dan teman.

Tahun ini, acara Thanksgiving di YLSA diawali dengan PA Kisah Rasul 13-14. Bacaan ini sungguh terkait dengan sejarah tradisi Thanksgiving, yaitu kisah perjalanan dan ucapan syukur Paulus dan Barnabas setelah mengabarkan Injil di berbagai tempat. Keduanya harus menemui banyak tantangan dan rintangan. Namun, pada akhirnya, mereka dapat menyelesaikan tugas yang dikaruniakan kepada mereka dengan pertolongan Roh Kudus.

Sebagai aplikasi dari PA Kisah Rasul 13-14 ini, semua staf harus membagikan ungkapan syukurnya kepada Tuhan, terutama terkait dengan timeline (kisah perjalanan hidup) pribadi yang sudah kami buat pada awal PA bulan November. Semua staf pun tanpa malu-malu (meski awalnya agak sedikit ragu-ragu) membagikan curahan hatinya tentang kebaikan Tuhan. Mulai dari sharing terpanjang sampai sharing tersingkat, sharing dari zaman "dahulu kala" kisah orangtua sampai ke sekarang, sharing yang penuh dengan haha hihi sampai yang penuh tangis haru, sharing tentang masalah jodoh, pelayanan, jalan hidup, pendidikan, dsb., dsb.. Komplet plet pokoknya, seperti nasi goreng ayam pakai telur, krupuk, dan acar . Tampaknya, ajang mengungkapkan rasa syukur ini bisa menjadi semacam rangkaian presentasi TED mini untuk tiap staf karena hampir semua relatif sulit untuk bisa mengungkapkan sharingnya hanya dalam satu atau dua kalimat. "Kabeh pengen dadi lakon," (semua ingin jadi bintang/pemeran utama - Red.) begitu kata Evie ketika mendengar satu per satu teman membagikan ungkapan syukurnya. Ya, so pastilah. Sulit untuk tidak menceritakan semua perbuatan yang sudah Tuhan lakukan dalam hidup ini. Kalau kata anak alay zaman sekarang, "Banyak bingits euy." Tidak heran kalau acara PA + Thanksgiving yang awalnya dijadwalkan selesai sekitar jam 10-11, akhirnya baru selesai pkl. 13.30! Wew :-O

Sharing semua staf akhirnya ditutup dengan sharing dari Bu Yulia, yang sudah 22 kali merayakan acara Thanksgiving di YLSA. Satu hal berkesan yang dikatakan oleh beliau adalah "Kesulitan hidup kadang membuat kita ingin mengeluh, tetapi ketika ingat betapa banyaknya Tuhan sudah menolong, keluhan langsung berubah menjadi syukur". Benar sekali. Satu keluhan yang kita rasakan tidak akan sebanding dengan berkat-berkat lain yang Tuhan sudah berikan. Count your blessings instead of sheep and you'll fall asleep, atau terjemahan bebasnya: hitung deh berkat-berkatmu, maka kamu akan kecapekan sampai tertidur. Lalu, sesudah membagikan sharingnya, Bu Yulia menutup dengan doa syukur. Kemudian, acara dilanjutkan dengan makan siang Thanksgiving yang istimewa. Yum!

Hidup bersama Tuhan sungguh indah meski seringnya bukan hidup yang mudah. Di dalam kesesakan dan pergumulan, kesetiaan-Nya selalu terbukti dan kebaikan-Nya merekah bagai fajar yang menerangi kehidupan kami setiap hari. Karena itu, ayo kita terus bersyukur tanpa perlu menunggu momen Thanksgiving, sebab Tuhan selalu saja baik, amat baik, sangat baik!

Categories: PEPAK

Pengantar PA Kisah Para Rasul

Fri, 11/11/2016 - 17:35

Setelah menyelesaikan Injil Lukas pada bulan Oktober lalu, pada bulan November ini semua staf Yayasan Lembaga SABDA akan melanjutkan PA dengan menggunakan bahan dari kitab Kisah Para Rasul. Akan tetapi, kami tidak langsung terjun ke dalamnya, melainkan kami terlebih dahulu melakukan beberapa kegiatan sebagai transisi dari Lukas menuju Kisah Para Rasul. Kegiatan tersebut salah satunya adalah menonton video, yaitu tentang pengantar kitab Kisah Para Rasul, kaitan antara kitab Lukas-Kisah Para Rasul, gambaran umum dan tema-tema kunci kitab tersebut, serta beberapa video lainnnya.

Setelah menonton video, kami kemudian mendiskusikannya dalam masing-masing kelompok. Untuk lebih mendalami kitab yang dapat dikatakan sebagai sebuah kisah perjalanan pemberitaan tentang Yesus ini, kami juga mencoba untuk membuat gambar storyline kisah perjalanan hidup kami masing-masing untuk melihat bagaimana tema-tema yang akan kami pelajari dalam kitab ini -- gereja, saksi, mukjizat, Roh Kudus -- menjadi bagian dalam hidup kami hari lepas hari hingga detik ini. Saya menduga akan ada banyak peristiwa dan hal menarik dalam kitab ini yang akan semakin memperlengkapi kita semua untuk menjadi saksi bagi Kristus. Kiranya Tuhan sendiri yang akan menolong kita memahami kebenaran firman-Nya dan menghidupi-Nya dalam hidup keseharian kita. Tuhan Yesus memberkati.


Sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=CGbNw855ksw

 

Categories: PEPAK

Dua Bulan Magang di SABDA yang Tak Terlupakan

Fri, 11/11/2016 - 08:41

Oleh: Illene Victoria*

Aku adalah mahasiswa Sastra Inggris semester tujuh yang telah menyelesaikan masa dua bulan magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) pada bulan Oktober lalu. Setelah selesai, saat melihat ke belakang, tak terkira banyaknya pengalaman yang aku dapat selama magang ini. Yang pertama adalah mengenai kemampuanku. Pada awalnya, aku hanya berfokus pada tugas sebagai penerjemah, tetapi ternyata di SABDA aku mendapat banyak tugas yang sangat bervariasi. Tugas-tugas tersebut, di antaranya menulis blog, menulis kesaksian, mencari artikel, membuat pokok doa , menulis editorial. Semua ini benar-benar mengasah kemampuanku dalam menulis, dan juga mengedit teknis serta mengedit terjemahan. Aku menjadi semakin mengerti aturan-aturan menulis yang benar.

Ketika pertama kali aku dapat tugas menerjemahkan, aku agak kesulitan karena aku sama sekali nggak pernah belajar kosakata bahan-bahan kerohanian, khususnya kekristenan, lebih-lebih untuk artikel-artikel yang berbau teologi Reformed atau filsafat. Di kampus, aku hanya terbiasa menerjemahkan karya fiksi. Saya juga melakukan banyak kesalahan memilih kata dalam menerjemahkan, tetapi koordinator penerjemah, Mbak Okti, membimbing aku. Dialah yang mengedit hasil terjemahanku. Dia juga yang memberi tahu kesalahan-kesalahan pilihan kata yang aku buat, dan dari situ aku semakin tahu konteks penggunaan kata-kata yang salah itu. Selain itu, aku juga belajar menerjemahkan istilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, seperti gadget menjadi gawai, dengan tujuan agar para pembaca mengenal dan tidak asing dengan istilah dalam bahasa kita sendiri. Dalam hal mengedit teknis, aku juga belajar penggunaan tanda baca atau kata yang sesuai dengan EYD, yang sebelumnya aku kurang menguasai.

Selain kemampuan, mental dan kerohanianku di SABDA juga diasah. Aku mungkin salah satu anak magang yang beruntung karena saat aku magang (September dan Oktober) ada banyak acara heboh-heboh yang sedang dilaksanakan di SABDA, seperti roadshow #Ayo_PA!, kopdar SABDA Space, HUT ke-22 SABDA dengan mengadakan TED dua kali, dan juga mengerjakan proyek Film Cinema48 yesHeis. Dari acara-acara tersebut, aku belajar untuk bekerja sama dalam tim, khususnya pada acara-acara TED di mana aku pertama kali bertugas menjadi operator. Aku juga belajar dari acara-acara seperti TED atau bahkan roadshow yang aku ikuti pada bulan September yang melatihku untuk berinteraksi dengan banyak orang yang nggak aku kenal. Dari situ pula, aku bisa belajar untuk menjadi supel, tidak memperhatikan diri sendiri seperti malu atau lain sebagainya. Aku juga terlatih untuk berani berbicara di depan orang, khususnya saat PD atau rapat kecil yang perlu mengeluarkan pendapat, dan terlebih saat aku membawakan presentasi di depan staf.

Dalam kerohanian, aku juga dibiasakan untuk mengutamakan Tuhan dalam keseharian dan kesibukanku. Di tempat ini, aku terbiasa untuk mengikuti PD dan PA yang melatihku untuk merenungkan Firman, lalu membagikannya dengan kelompok kecil. Dari PA yang menggunakan metode S.A.B.D.A tersebut, aku dapat semakin mengenal karakter Tuhan dan apa yang Ia kehendaki dalam hidupku. Metode itu sangat membantuku untuk menggali firman Tuhan sehingga aku merekomendasikan kita untuk memakainya ketika PA. Selama masa magang, aku juga merasakan penyertaan Tuhan nyata dalam hidupku. Dialah yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Awalnya, aku nggak kuat dengan tekanan tugas dan deadline karena dari pertama masuk ada begitu banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum deadline. Di sisi lain, ini baru pertama kalinya aku masuk ke dunia kerja nyata. Aku juga agak kesulitan untuk membagi waktu dan membagi fokus karena aku masih memiliki tanggungan kuliah proposal di mana juga banyak tugas yang harus aku kerjakan. Akan tetapi, lama-kelamaan aku mulai terbiasa dan terlatih. Aku juga bisa beradaptasi dengan staf-staf dengan baik. Mereka nggak pernah sungkan kalau aku tanya atau meminta tolong. Mereka juga ramah, terlebih teman-teman staf satu kost yang selalu mengajak aku terlibat dengan kegiatan-kegiatan mereka. Ini juga salah satu alasan yang membuatku betah dan senang berada di SABDA. Ada banyak hal positif yang aku dapatkan di SABDA sehingga membuatku tetap yakin pada diriku bahwa aku memang nggak salah pilih tempat magang.

Categories: PEPAK

Cerita Di Balik 48 Jam Membuat Karya Bersama

Fri, 11/11/2016 - 08:29

Shalom, Hilda kembali menyapa para pembaca setia Blog SABDA.

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman menarik saya bersama seluruh staf Yayasan Lembaga SABDA ketika mengikuti event Cinema48, sebuah ajang kompetisi dari yesHEis di mana dalam 48 jam para peserta dari berbagai tempat yang berbeda, bersama-sama membuat skrip/naskah, melakukan shooting sampai dengan editing video untuk sebuah film pendek berdurasi 2 -- 3 menit yang menceritakan Kabar Baik sesuai dengan perspektif masing-masing. Sebelumnya, para staf telah dibagi menjadi tiga kelompok besar, dan saya ikut di kelompok ke-3 di mana (kebetulan sekali!) anggotanya didominasi oleh ibu-ibu muda.

Sekitar pukul 18.00, sebagian besar staf mulai berdatangan dan berkumpul di Griya SABDA. Bahkan, ada beberapa yang belum sempat pulang ke rumah sejak pagi demi mempersiapkan hardware-hardware agar bisa digunakan dengan baik untuk proses pengerjaan editing nantinya. Lalu, tepat pukul 19.00, e-mail berisi tema dan instruksi-instruksi persyaratan kompetisi dari panitia masuk dan sempat mericuhkan suasana. Setiap kelompok segera berkumpul dan bersama-sama melakukan brainstroming untuk membuat ide cerita sesuai dengan tema yang diberikan. Bersyukur, sebelumnya kami telah berlatih melakukan brainstorming sehingga kali ini bisa mengeluarkan ide-ide dengan lebih cepat. Meskipun begitu, kami juga sempat mengalami frustrasi karena kami merasa ide-ide yang dipilih masih kurang tajam dan menarik untuk disajikan ke dalam film pendek. Apalagi dengan bergulirnya waktu yang semakin larut, sebagian anggota mulai berkurang karena harus kembali ke rumah mereka. Saya sempat merasa iri dengan kelompok-kelompok lain yang anggotanya masih cukup banyak yang bisa "stay" hingga larut malam. Namun, saya sangat bersyukur, di tengah kekurangan personel, ide cerita berhasil dimatangkan, dan storyboard mulai terbentuk, sudah cukup untuk bahan shooting esok hari.

Pada hari kedua, saya sangat bersukacita karena akhirnya anggota kelompok saya lengkap. Bersama-sama, kami memikirkan kembali ide cerita yang telah selesai dipikirkan semalam dan menunjuk aktor-aktor yang akan memerankan tokoh ceritanya. Kemudian, sekitar jam 12 siang kami berangkat ke rumah Mbak Okti yang merekomendasikan untuk melakukan shooting di jalan depan rumahnya karena di sana ada mural-mural yang sangat bagus untuk dijadikan background pengambilan gambar. Proses membuat shooting adalah hal yang sangat berkesan buat saya. Meskipun ini bukan kali pertama saya melakukan shooting, tetapi proses shooting kali ini sangatlah berbeda karena saya melakukannya bersama dengan orang-orang yang baru pertama kali melakukannya dan saya juga melihat potensi-potensi baru yang luar biasa yang dimiliki rekan-rekan saya. Kami menjadi semakin dekat dan dapat melihat sisi lain dari diri kami masing-masing, yang berbeda dari mode kerja kantor. Namun, yang namanya shooting itu memang menguras tenaga. Begitu kami kembali ke Griya SABDA, kami langsung tertidur kelelahan.

Habis shooting terbitlah editing. Ya, proses ini belum selesai. Masih ada proses editing yang tentunya akan memakan waktu dan kesabaran apalagi storyboard kami cukup complicated. Namun sayangnya, Lukas salah satu anggota yang seharusnya bertugas melakukan editing, pamit karena dirinya kelelahan. Apalagi dalam proyek ini dia adalah aktor utamanya, tentu kami paham betul dia sangat kelelahan. Melihat kondisi kelompok kami, salah satu anggota kelompok lain, Mas Pio menawarkan bantuan dan menolong kami mengedit hasil shooting hari itu hingga pukul tiga pagi. Saya sangat berterima kasih untuk kesediaannya membantu dan itu akan sangat meringankan pekerjaan Lukas esok harinya.

Masih ada lagi masalah lain, yaitu kami harus bergumul dengan judul yang belum ditentukan dan subtitle yang belum dibuat untuk melengkapi persyaratan dari panitia. Hari ketiga, kami habiskan dengan melengkapi hal-hal kecil yang diperlukan dalam komponen film kami. Meskipun saya bilang "hal-hal kecil", hal-hal ini ternyata tidak sesimpel yang dipikirkan. Mulai dari mencari dan memilih background sound yang cocok dengan suasana cerita, membuat narasi untuk menolong pesan dari cerita semakin tersampaikan, proses rekaman di antara riuhnya suasana, semakin dekatnya dengan tenggat waktu pengumpulan, dan proses converting yang terus mengalami masalah. Meskipun begitu, bersyukur kami ternyata berhasil menyelesaikan film pendek kami dan mengumpulkannya tepat waktu.

Benar-benar pengalaman yang sangat menguras tenaga, waktu, dan air mata. Namun, semuanya tidak sia-sia karena akan menjadi pengalaman berharga bagi kami pribadi lepas pribadi. Dari pengalaman ini, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu bagaimana kita menghargai waktu. Waktu 48 jam bisa berlalu begitu saja jika kita gunakan hanya untuk bersenang-senang, tetapi 48 jam juga bisa menjadi waktu yang sangat berharga dan bermanfaat untuk mengabarkan Kabar Baik kepada orang lain. Saya juga menjadi semakin menghargai ide dan karya mereka-mereka yang berkecimpung di dunia multimedia, baik yang dikerjakan oleh rumah produksi terkenal maupun karya-karya indie. Sekarang, saya tahu bahwa proses di balik pembuatan video itu sangatlah rumit dan penuh perjuangan. Saya senang bisa menjadi bagian dari event ini dan mengenal lebih dekat teman-teman di kantor YLSA.

Kiranya para pembaca bisa terberkati melalui sharing saya ini. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.

Categories: PEPAK

Komentar