Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 2 hours 1 min ago

(Akhirnya) SABDA 5 ….

Fri, 06/17/2016 - 10:42

Pada 21 November 2015, saat kami mempersiapkan raker tahun 2015, kami mendengar kabar bahwa OLB (OnLine Bible) versi 5 sudah keluar! Hanya 2 hari setelah Drupal 8 keluar! Segera terbayang di mata saya bahwa tahun 2016 akan menjadi tahun yang sibuk. Sibuk sekali! Puji Tuhan, kesibukan itu membuahkan hasilnya pada akhir bulan Mei lalu, kami bisa merilis SABDA 5.1 Beta, berkat anugerah Tuhan Yesus.

SABDA 5.1 Beta Starterpack (92.4 MB) (1 Juni 2016)

Bagi yang belum mengenal Software SABDA, berikut saya ceritakan sedikit latar belakang dan sejarahnya. SABDA adalah program Alkitab OnLine Bible (OLB) versi Indonesia. Awal pertama SABDA lahir (SABDA 'versi 1') adalah tahun 1993/4. Saat itu belum banyak orang yang memiliki dan memakai komputer, apalagi memikirkan untuk memakai program Alkitab. Software SABDA versi 1 hanya berupa 3 versi Alkitab digital dalam bahasa Indonesia yang disebarkan bersama dengan OnLine Bible Eropa (bahasa Inggris). Selama 5 tahun berikutnya, yaitu tahun 1999, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berhasil mengembangkannya dalam versi bahasa Indonesia, baik dalam antarmukanya maupun sebagian besar isinya. YLSA memberi nama OLB versi bahasa Indonesia ini "SABDA" (Software Alkitab, Biblika Dan Alat-alat) dan SABDA versi 2 didistribusikan dalam CD (teknologi baru saat itu). Tahun-tahun berikutnya, YLSA terus mengembangkan SABDA menjadi SABDA versi 3 yang diluncurkan pada tahun 2004, dan SABDA versi 4 pada tahun 2010. SABDA 4 sudah tidak lagi disebarkan dalam CD, melainkan dengan teknologi penyimpanan baru, yaitu USB, DVD, dan SD Card. Pada tahun 2016, akhirnya SABDA versi 5 hadir di tengah-tengah kita.

Sebenarnya, sejak 2013, atau SABDA versi 4.30, kami tidak lagi sempat memperbarui program SABDA walaupun OLB masih terus mengembangkannya hingga versi 4.42. YLSA tidak mengembangkan lagi karena tidak ada staf yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan pengembangan core Software SABDA. Jadi, yang dilakukan hanya menambah modul-modulnya saja.

Nah, menjelang raker atau memasuki tahun 2016, menjadi semakin jelas bahwa sayalah yang ditunjuk mewarisi proyek. Rencana pun disusun bersama dengan programmer ITS lain. Saya yang selama ini hanya sebatas pengguna Software SABDA kini dipercaya untuk mengembangkan SABDA versi berikutnya. Dengan berbekal dokumentasi dari para master sebelum saya, saya mulai menerjemahkan antarmukanya, yang menurut pengetahuan saya akan memakan waktu paling banyak. Benar saja, pertengahan Maret, antarmuka bahasa Indonesianya baru siap digunakan. Kemudian, saya mulai mendalami cara mengompilasi core, memperbarui halaman bantuan, serta meneliti apa saja fitur yang baru, dan akhirnya perlahan-lahan mulai menguasai cara memperbarui software dan modul SABDA.

Apa yang Baru di SABDA 5.1?

Perkembangan utama SABDA versi 5 adalah adanya SABDA Lite untuk peranti mobile, terutama bagi pengguna Windows Phone. Software SABDA sebenarnya sejak dahulu sudah mendukung Pocket PC, tetapi karena Pocket PC tidak berkembang, SABDA pun bergerak ke arah Android. Baru pada versi 4.40, OLB mendukung tablet Windows Intel. Kemudian, pada versi 5.00, OLB akhirnya menghentikan dukungan terhadap Pocket PC. Mungkin itulah satu-satunya perubahan yang signifikan terhadap para pengguna SABDA.

Bersamaan dengan peluncuran SABDA 5, kami pun tidak mau kehilangan momentum untuk membuat modul-modul baru atau memperbarui modul-modul yang sudah ada. Modul baru yang ditambahkan dalam Software SABDA 5.1 Beta ini, di antaranya adalah:

  1. i_AYT -- 2016 Alkitab Yang Terbuka:

    Alkitab dengan terjemahan modern yang mengusung prinsip: Setia - Jelas - Relevan. Alkitab ini disebut "terbuka" karena menyajikan suatu kondisi ketika orang-orang yang memiliki Alkitab ini akan selalu membukanya untuk dibaca dan dipelajari dengan lebih mudah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dilengkapi dengan catatan kaki (PB).

  2. i_TSI -- 2013 Alkitab Terjemahan Sederhana Indonesia:

    Alkitab Perjanjian Baru yang menggunakan terjemahan bahasa Indonesia sederhana yang cocok digunakan untuk penutur bahasa Indonesia di Indonesia bagian Timur.

  3. id_Matthew_Henry_Cat -- Tafsiran Alkitab Matthew Henry:

    Tafsiran Alkitab oleh Matthew Henry dalam bahasa Indonesia. Saat ini, tersedia empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul, Kejadian, Mazmur, dan Amsal.

  4. id_Renungan_Oswald_Chambers:

    Renungan "My Utmost for His Highest" oleh Oswald Chambers yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sebanyak 366 renungan Kristosentris terbit pertama kali pada tahun 1935 dan sangat disukai oleh banyak orang Kristen di seluruh dunia dan masuk menjadi sepuluh besar buku Kristen terlaris.

Saya bersyukur dapat mengambil bagian dalam pengembangan Software SABDA 5 ini. Doakan supaya SABDA 5 menjadi alat yang dapat digunakan untuk mempelajari firman Tuhan dengan lebih dalam lagi, dan menjadi sarana memperluas penyebaran firman-Nya, sama seperti kehendak Allah yang ditulis dalam surat Paulus kepada Timotius, "... (Kristus) menghendaki semua orang diselamatkan dan dapat mengerti pengetahuan akan kebenaran." (1 Timotius 2:4, AYT)

Categories: PEPAK

Seminar: Be A Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be

Wed, 06/15/2016 - 12:58

Dalam budaya Asia, khususnya pada masyarakat Indonesia, bukanlah satu hal yang aneh ketika anak menjadi pusat dan fokus (perhatian) dalam keluarga. Contohnya, jika kita ingin pergi keluar untuk makan, tawaran untuk memilih tempat tujuan jajan/makan pertama-tama ditujukan kepada anak. Atau, ketika seorang ibu memasak dan menyediakan lauk-pauk, seringnya bagian yang terbaik dan terenak diberikan kepada anak. Bahkan, sampai di atas usia lima tahun, anak-anak terkadang masih dibiarkan tidur bersama orangtua karena orangtua tidak tega membuat anak tidur sendiri di kamarnya. Nah, ternyata menurut Ibu Charlotte Priatna, pembicara dari seminar "Be a Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be", hal-hal itu merupakan budaya dan kebiasaan yang salah dari banyak keluarga. Nyatanya, masih ada beberapa kesalahan atau kekeliruan lagi yang sering kita lakukan, tetapi tidak disadari sebagai suatu kesalahan karena sudah berlaku secara umum. Namun, terus menjalani kekeliruan tersebut tanpa menyadari implikasi dan dampaknya terhadap anak dan masa depannya, tentu saja bukanlah hal yang kita inginkan. Semenjak kecil, anak harus mendapat contoh dan teladan yang benar dalam hal relasi, peran, fokus, tujuan, serta kebiasaan-kebiasaan dari orangtua sehingga kelak mereka pun dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara benar sebagai suami, istri, dan orangtua.

Dalam acara seminar yang berlangsung di Gereja Kristen Kalam Kudus, tanggal 4 Juni 2016 tersebut, Ibu Charlotte mengemukakan dua hal yang menjadi ancaman orangtua dalam mendidik anak. Yang pertama adalah meremehkan pentingnya peran dari hubungan suami istri dalam proses mendidik anak. Dalam kesalahan ini, pembicara menjelaskan bahwa sesungguhnya pengaruh terbesar dalam mendidik anak tidak berasal dari peran sebagai ayah dan ibu, melainkan dalam peran sebagai suami istri. Keberhasilan anak ditentukan dari hubungan ayah ibunya sebagai suami dan istri, dan bukan semata-mata dari hubungan antara orangtua dengan anak. Yang perlu dicatat bagi para orangtua adalah bahwa hubungan yang harmonis di antara suami dan istri merupakan hadiah yang sangat berharga dari orangtua kepada anak. Mengapa? Karena, ketika anak-anak melihat hubungan di antara ayah dan ibunya terjalin dengan harmonis dan penuh dengan cinta kasih, maka hal itu memberikan dasar dan landasan yang kuat bagi psikologis anak untuk merasa aman dan bahagia. Relasi antara suami dan istri menjadi faktor penting yang menyangga sebuah keluarga karena dari sanalah struktur dan jalinan relasi keluarga dibentuk dan diawali. Tanpa kerangka dasar relasi yang kuat antara suami dan istri, maka akan rapuhlah struktur bangunan relasi dalam sebuah keluarga. Hal itu pertama-tama akan berpengaruh pada psikologis dan perkembangan anak, yang kemudian menjalar kepada berbagai bidang kehidupan anak. Maka, untuk terus memupuk dan memelihara relasi di antara suami dan istri, hal-hal seperti dating, bulan madu, dan perayaan hari ulang tahun perkawinan dapat menjadi kegiatan rutin yang perlu selalu dilakukan oleh tiap pasangan. Tidak perlu dilakukan di restoran atau tempat-tempat traveling yang mahal, sebab yang terpenting adalah suasana dan kesempatan untuk meningkatkan relasi dan cinta kasih di antara suami dan istri .

Kesalahan yang kedua adalah hal yang telah disebutkan dalam paragraf pertama, yaitu saat orangtua terperangkap untuk menjadikan anak sebagai pusat (child centered) dalam keluarga. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga sesungguhnya bukanlah untuk membentuk atau melengkapi sebuah keluarga, tetapi hanya memperluas lingkup sebuah keluarga. Yang seharusnya menjadi pusat atau fokus utama dalam sebuah keluarga adalah Tuhan (Christ Centered), karena memang Kristuslah yang menjadi fokus dan inti utama dalam kekristenan. Bukan hanya menjadikan-Nya sebagai kepala dalam tiap rumah tangga, berfokus kepada Kristus juga akan memberikan arahan dan tujuan yang benar bagi tiap keluarga. Jika bukan Kristus yang menjadi fokus dalam keluarga, akan terjadi banyak hal yang tidak akan mendatangkan damai sejahtera di dalam keluarga, dan tentu saja rencana dan kehendak Allah akan sulit terjadi di tengah-tengah situasi seperti itu.

Hal terakhir yang dibicarakan oleh Ibu Charlotte adalah peran suami dan istri di dalam keluarga. Landasan Alkitab bagi struktur peran keluarga terdapat di dalam Efesus 5:21-33. Dari sana, jelas terdapat perbedaan peran antara ayah dan ibu di dalam keluarga meskipun dalam pelaksanaannya keduanya dapat berbagi peran bersama atau saling mengisi peran yang lain ketika memang hal itu diperlukan dalam situasi-situasi tertentu. Peran ayah tidak dapat dilalaikan, begitu pula peran ibu. Karena jika demikian, akan terjadi disfungsi di dalam keluarga. Para istri perlu menundukkan diri kepada suami yang adalah kepala dalam keluarga meskipun kaum wanita adalah pihak yang sering kali memiliki sikap yang mendominasi dan mengatur segala sesuatu. Para suami sebaiknya juga harus mengasihi dan mendukung istri karena itulah yang menjadi kunci dari penundukan diri para istri. Jika peran itu sudah dijalankan oleh masing-masing pihak dengan baik, keduanya akan menjadi tim yang solid dalam berperan sebagai orangtua bagi anak-anak.

Sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu, saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar ini. Ada banyak pembelajaran yang saya dapat melaluinya yang tentu saja sangat berguna untuk diaplikasikan, baik di dalam peran sebagai seorang istri, ibu, maupun di dalam pelayanan. Nah, setelah membaca blog ini, saya harap kita semua bisa mulai menerapkan apa yang sudah disampaikan oleh Ibu Charlotte bersama pasangan masing-masing untuk memberikan teladan dan pola pengasuhan yang baik bagi anak-anak kita. Dengan demikian, kita pun akan dapat melaksanakan dengan baik apa yang menjadi panggilan hidup kita sebagai orang percaya, baik sebagai istri, suami, ibu, ayah, dan orang tua untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Segala puji hanya bagi Tuhan!

Categories: PEPAK

Bukan Rencana-ku, Bukan Rencana-mu, tetapi Rencana Tuhan

Wed, 06/15/2016 - 12:04

Saat sedang menulis sebuah artikel di kantor, aku teringat akan temanku si Yuku, yang memberi tahu soal lowongan kerja di Yayasan Lembaga SABDA. Aku bercerita kepada Mbak Evie di sampingku, "Rasanya, aku tidak akan sampai di SABDA kalau aku tidak kenal Yuku. Aku berutang budi pada dia." Jawaban Mbak Evie sangat tidak terduga, "Bukan Yuku yang memanggilmu ke sini, Jon, tetapi Tuhan yang memanggilmu." Wow, jawaban yang sangat teologis di tengah pembicaraan mengenai pekerjaan. Persoalan hidup yang dibahas dengan kacamata rohani.

Urusan Rohani dan Duniawi di Tangan Tuhan

Inilah pelajaran berharga yang kudapat selama bekerja di YLSA, yaitu semua hal dalam hidup dikerjakan untuk Tuhan (Kolose 3:23), tak ada pemisahan antara urusan rohani dan duniawi. Setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah pertanggungjawaban pada Tuhan. Mulai dari cara kerja, motivasi, dan hasilnya harus dibawa kepada Tuhan sehingga menghasilkan kualitas dan manfaat yang jelas bagi orang lain. Bagi YLSA, hal itu adalah membuat orang mengenal firman Tuhan melalui Alkitab dalam media digital, baik itu situs, media sosial, aplikasi mobile, dan beragam teknologi lainnya.

Jadinya, kondisi kerohanian kita akan terlihat dalam hasil kerja kita, sebab karakter dan pemahaman rohani kita akan terbawa dalam hasil kerja kita, dan bagian yang kurang tepat akan serta-merta dikoreksi untuk menyebarkan firman Tuhan dengan tepat dan komunikatif. Bukan cuma beban kerja, tetapi juga beban rohani dibawa turut serta.

Namun, beban itu tak serta-merta memberatkan, melainkan membuka jalan bagi karunia Tuhan dalam melayani di YLSA. Di antaranya adalah lebih mengenal firman Tuhan dan mengenal potensi diri.

Karunia Rohani dan Profesional

Setiap hari, kami sekantor menjalani Pemahaman Alkitab (PA) bersama untuk memahami dan menerapkan kebenaran firman Tuhan di dalam hidup kami. Dalam 1 jam, kami bisa menggali banyak hal dalam PA dengan metode S.A.B.D.A. ini, baik mengenai konteks ayat, makna tafsiran, dan karakter para tokoh di dalamnya. Terkadang, pembicaraan kami bisa melebar ke berbagai hal: pelayanan gereja, kondisi masyarakat, kesaksian pribadi, dan lain-lain. PA ini membuat Alkitab menjadi sangat dekat dengan kehidupan kami sehari-hari dan mendorong kami untuk membuat aplikasi yang akan diterapkan dalam hidup kami masing-masing. Setiap permohonan kami ditutup di dalam doa.

Dalam pekerjaan, aku diberikan beragam pekerjaan digital. Pertama-tama, aku ditugaskan untuk membuat aplikasi Android dengan programming. Tugas ini berjalan cukup baik dan dikerjakan secara individual. Kemudian, aku didapuk untuk mengelola pelayanan Apps4God yang mencakup situs web, media sosial, dan publikasi sekaligus. Model pekerjaan yang skalanya lebih luas ini menuntut kerja tim, perencanaan, dan manajemen tim yang baik, kontras dengan sebelumnya. Pengalihan kerja ini membuatku frustrasi karena terbiasa bekerja sendiri dan pasif. Aku belajar membuat perencanaan dan pengaturan waktu dengan rinci. Aku perlu melengkapi diri agar bisa melakukan tugas dengan optimal. Teori-teori manajemen seperti PACE, Lean Startup, dan Agile Process, harus diserap dan dipraktikkan. Hasilnya naik turun, tetapi di bagian inilah yang paling memberiku banyak pelajaran untuk mengenal diri, memimpin orang lain, dan bekerja keras sesuai tenggat waktu.

Pelajaran dari YLSA

Dari YLSA, aku belajar bahwa Tuhan telah mempersiapkan pelayanan untuk masa depan, di mana firman Tuhan dapat menyentuh hati orang-orang di zaman yang serba digital. Di zaman yang mulai mengilahkan teknologi dan membuatnya cenderung dijauhi gereja, YLSA menjadi game changer yang menundukkan teknologi untuk melayani Tuhan melalui visi IT4God dan Apps4God. Bagiku, pelayanan YLSA ini keren, revolusioner, dan berdampak.

Masih banyak pelayanan YLSA yang belum sempat aku gali lebih jauh: PESTA, multimedia, SABDA-Bot, dan beragam publikasi Kristen lainnya seperti e-Konsel atau e-Reformed. Bagianku sudah selesai di sini. Tulisan ini bukan hanya tentang aku, tetapi tentang Anda, para pembaca. Apakah Anda ingin mengambil bagian dalam pelayanan masa depan? Apakah Anda seorang ahli IT yang rindu melayani, atau seorang yang ingin menyentuh hidup orang lain dengan firman Tuhan melalui media digital? Anda akan menemukan tempat Anda di sini. Come and join YLSA!

Categories: PEPAK

Melihat Kehidupan di Balik Kematian Kristus

Mon, 06/06/2016 - 12:26

"The Passion of Jesus Christ" adalah salah satu buku bertema Kristus yang ditulis oleh John Piper. Buku ini menjelaskan 50 alasan mengapa Yesus Kristus menderita dan mati bagi manusia. Selama bulan Maret hingga April 2016, buku ini menjadi bahan PA (Pendalaman Alkitab) dalam kelompok PA di YLSA. Secara pribadi, saya tertarik dengan judulnya, khususnya untuk kata "passion". Kata tersebut selalu mengingatkan saya akan satu hal, yaitu "penderitaan Yesus" yang tergambar melalui sebuah film karya Mel Gibson. Penderitaan tersebut ditanggungnya karena kasih dan ketaatan-Nya kepada Bapa. Bahan PA kali ini sangat unik, dan membuat kami ingin lebih memaknai Paskah dengan semakin merenungkan kebenaran di balik penderitaan dan kematian Sang Anak Manusia.

Pertanyaan ini akan selalu muncul dalam benak orang Kristen, gereja, dan mungkin para pengikut agama lain, bahkan seorang ateis. Mengapa Yesus Kristus, yang disebut sebagai Tuhan, harus menderita dan mati untuk manusia berdosa? Bukankah Dia dapat dengan mudah mengambil keadaan yang jauh lebih baik daripada harus menderita, terhina, terbuang, dan mati? Mengapa Dia memilih bagian yang begitu hina dan tidak pantas untuk seorang Raja Yang Termulia ini? Dia tak bersalah, Dia begitu mengalah, Dia menerima segala hukuman. Banyak orang Kristen akan melewatkan pemahaman anugerah yang begitu besar jika tidak mengerti alasan-alasan di balik penderitaan dan kematian Yesus bagi manusia berdosa.

Dalam buku ini, saya merasa sangat bersyukur. Setiap hari, satu alasan demi satu alasan mengapa Kristus menderita dan mati mulai terungkap dan meninggalkan kesan yang dalam di pikiran saya. Beberapa waktu yang lalu, saya hanya berpikir dan mengerti beberapa hal saja mengenai alasan kematian Kristus. Namun, syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, ada begitu banyak hal yang Ia kerjakan melalui penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib, mungkin lebih dari 50 alasan mengapa Yesus Kristus menderita dan mati bagi kita semua. Saya melihat ada dua sisi besar, dan Kristus berada di tengah. Satu sisi alasan penderitaan-Nya adalah karena ada hal yang Ia kerjakan bagi Allah Bapa, sisi alasan yang lain adalah alasan yang Ia kerjakan bagi manusia berdosa. Kristus menjadi pengantara (mediator) bagi manusia berdosa datang kepada Allah. Bukan hanya itu saja, ia juga memberikan banyak hal, Ia menggantikan posisi kita menelan murka Allah, Ia menjamin keselamatan kita, Ia memberikan dasar bagi kita, dan masih ada banyak hal lain lagi yang Ia kerjakan dan Ia bawa melalui penderitaan dan kematian-Nya.

Bersyukur kepada Tuhan untuk kebenaran yang Ia nyatakan. Melalui kematian-Nya, kita beroleh hidup. Saya rasa bukan hanya saya yang merasa beroleh berkat melimpah melalui PA ini, tetapi teman-teman PA lain di YLSA pun juga beroleh kesempatan dan berkat yang sama dengan saya. Saya harus belajar banyak hal selama PA untuk mengerti seberapa besar anugerah yang kita terima di dalam Kristus. Untuk itu, langkah baik yang harus saya kerjakan adalah melihat lebih sungguh Pribadi Yesus Kristus yang menderita dan mati bagi kita sekalian. Puji Tuhan, semangat PA teman-teman!

Categories: PEPAK

Satu Tahun yang Ajaib di YLSA

Fri, 06/03/2016 - 10:33

Oleh: Hossiana*

Tidak terasa sudah hampir satu tahun lamanya saya bergabung di Yayasan Lembaga SABDA untuk bekerja dan melayani Tuhan dalam dunia digital. Saya percaya, jika saya bisa berada di tempat ini, itu semata-mata bukan karena keputusan yang saya buat, melainkan karena campur tangan Tuhan Yesus yang luar biasa dalam diri saya.

Tanggal 18 Mei 2015 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di kantor YLSA untuk kerja magang. Ya, awalnya saya memang berencana hanya untuk magang, mengisi hari libur setelah menghadapi ujian nasional tingkat SMA sekaligus menunggu pengumuman kelulusan. Namun, seiring berjalannya waktu, Tuhan mengubah pemikiran saya itu. Melalui serangkaian proses yang saya lalui di YLSA, di situ Tuhan secara perlahan-lahan menyadarkan saya bahwa saya berada di tempat ini bukan sekadar bekerja dan mengisi waktu senggang, tetapi saya ada di sini untuk melayani Tuhan.

Ada banyak pelajaran rohani yang saya dapatkan di YLSA selama setahun ini. Utamanya, saya belajar untuk mau lebih sungguh lagi belajar firman Tuhan dan memahami kehendak-Nya bagi saya. Melalui PA dan PD yang dilakukan secara rutin, hal itu sangat menolong saya untuk memahami firman-Nya di dalam Alkitab.

Selain pelajaran rohani, ada pengalaman-pengalaman lain yang saya terima di YLSA. Pengalaman itu seperti menerjemahkan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (meskipun kemampuan saya di bidang ini pas-pas-an. Hehehe), mendata buku-buku perpustakaan, mencari bahan-bahan kekristenan untuk dibagikan, membalas feedback para pengguna app melalui Laban, bahkan menjadi moderator RH, SH, dan WWG. Terlebih dari itu, saya juga bisa merasakan betapa kerennya melayani Tuhan dengan media elektronik, yaitu dengan gadget kita. Bagi saya, ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Semua ini hanya karena anugerah Tuhan yang begitu ajaib!

Dan, tidak terasa sudah setahun saya ikut ambil bagian dalam pelayanan di YLSA. Dari yang awalnya bekerja sebagai seorang magang, kemudian menjadi pekerja part time, dan kini saya harus benar-benar meninggalkan tempat ini untuk fokus pada pendidikan saya di perguruan tinggi. Akan tetapi, apa yang sudah saya dapatkan dari tempat ini tidak akan saya lupakan, melainkan akan saya bagikan kepada orang-orang di sekitar saya agar mereka juga dapat merasakan berkat Tuhan seperti yang saya rasakan. Saya tahu, tanpa penyertaan Tuhan, saya pasti juga tidak akan bisa bertahan di YLSA hingga saat ini.

Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan berharga ini. Saya juga bersyukur karena melalui YLSA, saya juga dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang bisa menjadi teladan bagi saya, dan juga dapat membantu saya bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukanlah suatu kebetulan jika satu tahun yang indah saya lalui di tempat ini. Sekali lagi, semua itu hanya karena anugerah Tuhan. Ada maksud Tuhan yang baik dengan menempatkan saya di YLSA. Tuhan sudah bekerja secara luar biasa bagi saya.

Kiranya Tuhan Yesus selalu memberkati pekerjaan dan pelayanan kita semua. Amin.

Categories: PEPAK

#Ayo_PA! dalam Persekutuan Komisi Pemuda GKAI Betlehem Karanganyar

Tue, 05/31/2016 - 15:04

Dalam evaluasi presentasi PA untuk Generasi Digital di PPA Berea GKI Sorogenen, Ibu Yulia, Ketua YLSA, mendorong kami untuk melanjutkan kegiatan ini, yang kami namakan gerakan #ayo_PA!. Pada saat itu, kami semua yang mengikuti evaluasi juga sepakat untuk meneruskannya. Kami mendapat tugas untuk menghubungi gereja-gereja, persekutuan Kristen, sekolah Kristen, dan komunitas Kristen apa pun yang kami ketahui untuk memperkenalkan tentang #ayo_PA! ini.

Saya mendapat tugas untuk sharing kepada rekan-rekan pemuda di gereja saya sendiri, yaitu GKAI Betlehem. Saya menghubungi Sdr. Hosiana, seksi acara dari Komisi Pemuda GKAI Betlehem, dan mendapat respons yang baik. Setelah didiskusikan dengan Ketua Komisi Pemuda GKAI Betlehem, disepakatilah pada tanggal 20 Mei 2016, tim #ayo_PA! akan memberikan presentasi mengenai PA di era digitalini dan metode-metodenya kepada remaja dan pemuda GKAI Betlehem.

Seperti biasa, sebelum melakukan presentasi yang sebenarnya, masing-masing staf yang bertugas harus latihan minimal dua kali di depan teman-teman YLSA lainnya. Untuk acara di GKAI Betlehem ini, tim yang bertugas adalah saya, Ody, Hilda, Jono, dan Aji. Ody dan Hilda, yang akan menyampaikan presentasi sesi satu dan dua, berlatih dengan cukup keras. Hasilnya? Tentu saja, dengan latihan, masukan dari teman-teman, dan pertolongan Tuhan, mereka dapat melakukannya dengan baik pada hari H. Jono juga mempersiapkan dengan baik semua perlengkapan teknis yang diperlukan dalam acara tersebut. Sayangnya, kami tidak membawa layar dan LCD projector cadangan. Meski fasilitas itu ada di GKAI Betlehem, tetapi kurang maksimal karena jarak antara peserta dan layar LCD yang terlalu jauh. Ini jadi catatan penting bagi tim-tim selanjutnya. Sementara itu, saya bertugas sebagai MC yang mengarahkan acara berjalan sesuai rencana dan memastikan peserta bisa mengikuti setiap penjelasan dengan baik. Aji menolong Jono untuk melakukan dokumentasi acara dalam bentuk video.

Dalam acara tersebut, baik Hilda maupun Ody, terus menekankan pentingnya ber-PA bagi generasi digital dengan menggunakan setiap gadget yang mereka miliki untuk melakukan PA. Dimulai dari penjelasan Hilda di sesi pertama tentang generasi digital dan pertumbuhan rohani. Semua orang percaya, termasuk generasi digital yang Kristen, harus mengalami pertumbuhan rohani. Oleh karena itu, di tengah-tengah perkembangan teknologi ini, firman Tuhan yang adalah sumber pertumbuhan rohani harus menjadi hal utama yang diakses para generasi digital melalui gadget mereka. Dengan begitu, mereka bisa tetap teguh dalam iman kepada Tuhan ketika godaan duniawi untuk menjauh dari Tuhan membayangi mereka setiap hari. Mereka harus menggunakan HP mereka untuk makin mengenal Tuhan dan memuliakan Tuhan. Pada sesi kedua, ody kembali menekankan pentingnya PA. Alkitab adalah firman Tuhan yang melaluinya kita bisa mengenal Allah. Alkitab juga yang akan memberikan tuntunan ketika kita mengalami permasalahan dalam kehidupan. Tidak perlu bingung dengan metode karena ada banyak metode yang bisa digunakan untuk PA digital. Salah satunya adalah metode PA S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, Aplikasi). Metode ini bisa digunakan untuk melakukan PA secara digital menggunakan Alkitab audio, aplikasi Alkitab, Alkitab PEDIA, Kamus Alkitab, dan Tafsiran. Kita juga bisa menggunakan sosial media sebagai sarana untuk berbagi firman Tuhan.

Ketika saya menanyakan kepada peserta, apakah mereka sudah biasa melakukan PA, baik secara pribadi maupun kelompok dalam gereja, hampir semua menjawab belum. Inilah tantangannya. Gereja atau institusi pendidikan Kristen sendiri tidak mendorong jemaat atau siswanya untuk melakukan PA. Makanan rohani bagi jemaat hanya diberikan seminggu sekali melalui khotbah pendeta. Atau, bagi siswa/mahasiswa Kristen, pengetahuan Alkitab hanya diberikan berdasarkan kurikulum yang berlaku untuk diajarkan, itu pun hanya kulit-kulitnya. Namun, kami bersyukur karena tantangan kami kepada peserta yang hadir untuk mereka memulai PA disambut dengan baik. Ada yang mengatakan bahwa mereka akan memulai PA itu dimulai dari diri mereka sendiri. Dan, ada juga yang berkomitmen untuk melakukan PA di kelompok kamar asrama mereka (karena peserta kebanyakan mahasiswa STT yang tinggal di asrama). Melalui gadgetnya, mereka dapat mengakses banyak sumber dan alat untuk melakukan PA dengan cara yang menyenangkan, mudah, tetapi tetap mendalam. Beberapa peserta sempat mengakui bahwa mereka tahu kalau PA itu penting, tetapi memang sulit diaplikasikan karena banyak alasan yang dicari-cari. Kiranya melalui presentasi tentang PA untuk Generasi Digital ini, kaum muda yang hadir dalam acara tersebut diterangi hatinya oleh Roh Kudus untuk makin mencintai Alkitab sehingga mereka makin memuliakan Allah setiap hari.

#Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Ulang Tahun Pertama di YLSA

Wed, 05/25/2016 - 13:36

Rabu, 18 Mei 2016, adalah kali pertama aku melewati hari ulang tahunku di SABDA dan kali kelima aku melewati hari ulang tahunku tidak bersama dengan orangtua dan adik-adikku. Ya, sejak 5 tahun lalu, aku kuliah di Surabaya dan karena kesibukan kuliah, aku sering tidak bisa pulang ke rumah tepat pada hari ulang tahunku. Akhir tahun 2015, aku bekerja di Solo, yang jaraknya lebih jauh lagi dari rumah. Namun, aku menyadari bahwa setiap tahunnya, aku tak pernah melewatinya tanpa Allah, Sang Pemberi hidupku. Ayat yang mengingatkanku adalah ini, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu" (Yesaya 46:4).

Setiap ulang tahun, aku terus mengingatkan diriku bahwa waktuku untuk melayani Tuhan sudah berkurang 1 tahun lagi. Bersyukur, kalau setengah tahun ini, aku bisa melayani Tuhan di SABDA. Bertemu dengan teman-teman yang mempunyai hati untuk bekerja bagi Tuhan melalui teknologi di era digital ini.

Apa yang akan terjadi ke depan aku tidak tahu, tetapi aku tahu siapa yang pegang hari esok. Ada satu kalimat yang kuingat pernah diucapkan oleh teman sepelayanan di pelayanan mahasiswa sewaktu kuliah, "Tuhan tidak membawamu sampai sejauh ini hanya untuk meninggalkanmu." Ya, Allah yang sudah menyertaiku sampai sekarang, Allah yang sama jugalah yang akan menuntunku menjalani hari-hari ke depan. Soli deo Gloria!

Kategori: Pelayanan
Kata kunci:

Categories: PEPAK

SABDA MENCANANGKAN GERAKAN #AYO_PA!

Tue, 05/17/2016 - 12:26

Oleh: Aji + Yulia

Beberapa waktu ini, saya dan teman-teman di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) disibukkan dengan perancangan sebuah kampanye untuk gerakan mencintai dan memahami Alkitab yang dinamakan #Ayo_PA! Seperti namanya, kampanye ini pada intinya ingin mengajak orang percaya, khususnya kaum muda, untuk kembali memiliki kebiasaan ber-PA (pemahaman Alkitab), dengan fokus pada penggunaan alat digital, dalam hal ini adalah gawai smartphone. Kampanye ini dirasa mendesak karena pemakaian gawai smartphone sudah begitu marak, tetapi umumnya hanya untuk bersosialisasi, entertainment atau hal lain yang membuang banyak waktu, tak terkecuali oleh anak-anak Tuhan. Melalui kampanye #ayo_PA! YLSA tergerak untuk memberi pemahaman bahwa gawai seharusnya digunakan untuk pelayanan, terutama untuk belajar firman. Yang terutama, YLSA ingin mengampanyekan hal-hal yang bersifat lebih dasar seperti apa pentingnya melakukan PA dan bagaimana melakukannya dengan cara-cara yang relevan pada abad ini.

Seperti diketahui, teknologi terus berubah dari generasi ke generasi. Karena itu, cara-cara melakukan sesuatu tentunya tidak lagi sama dengan sebelumnya. Kampanye ini juga dibentuk atas dasar fakta bahwa banyak gereja sudah meninggalkan kebiasaan ber-PA dan pada saat yang sama mereka kehilangan anak muda dengan sangat cepat. Gereja sebagai tubuh Kristus yang dipimpin oleh Roh Kudus seharusnya menjadi organisme yang paling dinamis untuk bertumbuh, tetapi justru menjadi organisasi yang paling kaku dan sulit menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tidak heran jika gereja menjadi tidak relevan dan tidak menarik bagi anak-anak muda. Dalam hal menelaah firman Tuhan, gereja hanya menggunakan metode khotbah sehingga menghasilkan jemaat yang tidak mandiri dan tidak bergairah dalam belajar firman Tuhan. Jika gereja tidak kembali kepada Alkitab dan tidak beradaptasi dengan kemajuan zaman, anak-anak muda zaman ini berpotensi besar menjadi generasi yang terhilang dari gereja.

Gerakan #ayo_PA! lahir dari pemahaman bahwa kemudahan akses Alkitab di mana pun dan kapan pun, tidak bisa menjadi tolok ukur kesadaran seseorang untuk cinta dan hidup sesuai dengan firman Allah. Orang-orang percaya masih perlu dibimbing, dimotivasi, dan diperlengkapi dengan metode dan alat-alat PA yang tepat dan relevan dengan zaman ini. Untuk melakukan kampanye ini, YLSA untungnya tidak perlu memulai dari nol karena sudah memiliki alat-alat aplikasi dan bahan-bahan pendukung seperti Alkitab elektronik, Kamus Alkitab, AlkiPedia, Alkitab audio, dan masih banyak lagi. YLSA juga telah membuka berbagai chat group dan media sosial yang dapat menjadi wadah berkomunitas dan berbagi firman Tuhan. Selain itu, YLSA juga telah menyediakan metode belajar Alkitab seperti S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa + Diskusi, dan Aplikasi) yang membantu anak-anak Tuhan belajar firman Tuhan dengan cara yang terstruktur.

Seperti telah disebutkan di atas, kampanye #ayo_PA! berharap dimulai dengan menjangkau kalangan anak muda, walaupun bukan berarti jemaat umum tidak bisa ikut berbagian. Mengapa anak muda dulu? Alasannya sederhana, kita harus memulai dari satu titik untuk kemudian menyebar bersama-sama ke kelompok-kelompok yang lain. Namun lebih dari itu, remaja dan pemuda adalah kelompok yang paling mudah beradaptasi dengan teknologi ("digital native"). Kelompok ini juga kelompok yang paling lapar rohani dan paling dibutuhkan gereja. Mereka sudah sangat intuitif dalam menjalankan gawai sehingga tidak perlu lagi membuang waktu mengajarkan cara menggunakan alat-alatnya. YLSA bisa langsung memfokuskan diri pada pembelajaran PA dan metodenya. Selain itu, anak muda juga "lahir" di tengah-tengah maraknya media-media sosial sehingga untuk membagikan sesuatu atau "share" dengan teman-teman yang lain adalah hal yang natural bagi mereka. Semua ini tentunya menjadi modal besar untuk menyebarluaskan gerakan ini pada lebih banyak kalangan. Karena itu, jika berhasil dengan kaum muda, mereka bisa menolong generasi "digital immigrant" mengenal teknologi dan secara berdampingan bisa bersama-sama membangun tubuh Kristus belajar firman Tuhan.

Hal yang ironis dan yang menjadi tantangan justru terletak pada para pemimpin gereja (Penatua dan Majelis), hamba-hamba Tuhan, dan para mentor. Kemungkinan besar merekalah yang tidak siap karena mereka terlalu nyaman menjalankan pelayanan gereja dari puluhan tahun yang lalu sampai sekarang dengan cara yang sama. Ini tentunya menjadi kendala tersendiri mengingat merekalah yang seharusnya membimbing dan memimpin kaum muda. Untuk itu, satu poin penting yang perlu dicatat adalah bahwa kampanye #ayo_PA! tidak sekadar mengajarkan bagaimana ber-PA, tetapi bagaimana mengubah cara pandang pelayanan di era digital, khususnya para hamba Tuhan dan pemimpin gereja, sehingga dapat mengubah gereja untuk dapat lebih relevan dan antisipatif terhadap kebutuhan generasi yang akan datang. Perlu dipikirkan bagaimana melakukan pelatihan bagi para pemimpin atau "training for the trainers". Jadi, boleh disimpulkan bahwa kampanye #ayo_PA! adalah juga proyek multiplikasi trainer-trainer PA, yang selain mempraktikkan PA bagi diri sendiri, juga mengajarkan dan menularkan semangat ber-PA itu kepada orang lain yang akan kembali mengajarkannya kepada orang lain lagi.

Saat ini, YLSA tengah mempersiapkan bahan-bahan pelatihan dan mencoba metode-metode PA yang tepat untuk menjadi paket yang bisa diduplikasikan oleh siapa saja yang ingin ambil bagian dalam gerakan #ayo_PA! ini. Sudah dibentuk tim-tim staf YLSA yang akan menguji coba supaya menjadi lebih baik lagi. Selain itu, YLSA masih menyiapkan infrastruktur, seperti situs ayo-PA, komunitas-komunitas di berbagai media sosial, dan bahan-bahan penunjang lain yang dapat menolong keberhasilan gerakan #ayo_PA! Besar harapan kami, juga dapat diikuti oleh komunitas-komunitas lain sehingga memberi dampak luas bagi Kerajaan Allah.

Nah, jika Anda membaca blog ini dan berminat untuk bergabung dalam gerakan #ayo_PA! silakan kunjungi situs #Ayo_PA! < http://ayo-pa.org >. Anda juga dapat kontak kami di alamat email ylsa@sabda.org. Anda juga dapat bergabung dengan komunitas #ayo_PA! di sosial media berikut ini:
Facebook: Ayo PA < https://facebook.com/ayo.ayo.pa >
Twitter: @_ayo_pa < https://twitter.com/_ayo_pa >
Instagram: @Ayo PA < https://instagram.com/ayo.pa >

Mari bersama menjadi pembelajar Alkitab yang tekun dengan cara dan perangkat digital abad ini. Namun, yang terutama, kiranya kita semakin dibukakan oleh Roh Kudus dengan kebenaran firman Tuhan dan rindu hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. #ayo_PA!

Categories: PEPAK

“May God Give You More Time to Change the World”

Tue, 05/17/2016 - 08:14

Oleh: Harjono

Kalimat di atas adalah kesan dari serangkaian ucapan selamat ulang tahun yang muncul dari postingan media sosial, chatting, SMS, dan ucapan langsung. Kalimat yang terinspirasi dari ucapan temanku yang adalah seorang penginjil ini sangat berkesan bagiku, terutama dalam menginjak usia 23 tahun ini.

Mbak Setya pernah sharing bahwa ketika ulang tahun, waktu seseorang semakin berkurang. Waktu terus berjalan dan tak bisa diputar balik, maka Alkitab mengajarkan, "Ajari kami menghitung hari-hari kami, supaya hati kami datang kepada hikmat" (Mazmur 90:12, AYT). Setiap hari, kita membutuhkan hikmat -- wisdom -- agar hari-hari kita tidak dilalui dengan sia-sia. Banyak kali, aku bergumul dengan dosa dan menjalani hidup dengan tidak memuliakan Tuhan, baik melakukan imoralitas, mementingkan hal-hal duniawi, malas membaca Firman, apalagi membagikannya. Begitu banyak waktu yang terpakai sia-sia karena dosa, dan itu menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidupku.

Di sinilah, aku bersyukur dari ucapan ultah saudara-saudara seiman. Bukan sekadar ucapan selamat dan sukses, tetapi ada doa-doa yang terus mendorongku untuk setia kepada Tuhan dan berada di dalam-Nya. Penyertaan Tuhan tersampaikan dari kepedulian mereka, dan berulang kali meyakinkanku untuk setia pada Tuhan Yesus. Setia pada Tuhan itu susah, tetapi itulah hal yang paling indah. Karya kematian dan kebangkitan Yesus yang mengubah hidupku yang fana menjadi hidup kekal nan sejati dan kudus. Aku berharap dapat hidup terus menjadi saksi Kristus sampai akhir hayat. Aku rindu untuk membagi dan menghidupi firman Tuhan di sekitarku, keluarga, teman, apalagi mereka yang belum pernah mengenal Tuhan.

Aku tak akan bisa menjadi saksi jika tidak memahami Alkitab dengan benar. Pemahaman yang benar dan sehat adalah kunci untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah, bukan berdasarkan asumsi atau dorongan pribadi yang biasanya hanya berujung pada dosa dan kembali menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan. Kembali dari kalimat di atas, sebelum berpikir mengubah dunia, kenalilah Tuhan dari firman-Nya. Kamu akan mengalami perubahan yang jauh lebih besar dan sejati di dalam Yesus. #ayo_PA!

Categories: PEPAK

#Ayo_PA di PPA Sorogenen: PA untuk Generasi Digital

Wed, 05/11/2016 - 14:01

Oleh: Ayu*

Pada bulan Mei 2016, YLSA mulai mencanangkan gerakan #Ayo_PA. Gerakan ini bertujuan untuk menolong remaja dan pemuda Kristen menggunakan gadgetnya dengan benar, terutama untuk belajar firman Tuhan. Kegiatan pertama gerakan #Ayo_PA dilakukan dalam bentuk presentasi dan pelatihan singkat untuk melakukan PA dengan gadget kepada remaja di PPA GKI Sorogenen, Surakarta, pada tanggal 2 Mei 2016.

Acara di PPA GKI Sorogenen diprakarsai oleh Ibu Tutik, mentor PPA GKI Sorogenen. Beliau rindu agar anak-anak didiknya menggunakan gadget untuk memuliakan Tuhan dan mendalami firman-Nya. Kerinduan itu akhirnya disampaikan kepada YLSA dalam bentuk undangan untuk mempresentasikan tentang "PA untuk Generasi Digital" kepada anak-anak remaja di PPA GKI Sorogenen. Hal ini menjadi kesempatan bagi SABDA untuk memulai kegiatan #Ayo_PA untuk pertama kalinya.

Sebelumnya, kami membentuk satu kelompok yang ditugaskan merancang konsep acara dan presentasi yang akan disampaikan. Meski topik ini tidak asing bagi kami, tetapi ini kali pertama kami harus menyampaikannya kepada anak-anak remaja. Saya bersyukur, sebab meskipun saya masih baru, tetapi saya mendapat kesempatan untuk terlibat juga dalam pelayanan ini. Dari kelompok tersebut, kami menghasilkan outline presentasi, power point presentasi, infografis metode PA S.A.B.D.A, dan bahan-bahan pendukung lainnya. Teman-teman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Hilda, Ariel, Amidya , Santi , Ibu Yulia, Harjono, Evie, dan saya sendiri.

Setelah melakukan dua kali latihan presentasi, pada tanggal 2 Mei 2016, berangkatlah saya, Evie, Ariel, dan Hilda ke GKI Sorogenen. Hari itu, saya mendapat tugas membuat dokumentasi dan operator, Hilda sebagai pemandu acara, Ariel untuk presentasi sesi satu, dan Evie untuk presentasi sesi dua. Karena tiba lebih awal di lokasi, kami punya banyak waktu untuk mempersiapkan tempat dan memberi tambahan informasi dalam file power point. Kami juga membuat satu slide tambahan yang menampilkan nama-nama aplikasi belajar Alkitab yang harus diinstal di HP peserta. Saya dan Ariel juga sudah siap dengan aplikasi-aplikasi di HP kami. Jika ternyata paket data dan wifi tidak bisa digunakan oleh peserta, kami masih bisa melakukan transfer file dengan bluetooth.

Sekitar pukul 14.50, kami sudah selesai menata ruangan dan produk SABDA. Akan tetapi, masalah muncul ketika kami mencoba menembakkan proyektor, tampilan PowerPoint tidak begitu jelas karena layar bersaing dengan cahaya dari jendela. Lalu, kami sepakat menggunakan LCD Projector yang kami bawa dari kantor dan menembakkan ke tembok yang tidak berdekatan dengan jendela. Kami juga terpaksa mengubah seluruh tatanan kursi agar peserta dapat melihat materi presentasi dengan baik. Dalam waktu singkat, layout ruangan yang baru sudah terbentuk. Nice teamwork!

Banyak dari peserta yang datang masih memakai seragam sekolah. Mereka berasal dari beragam Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan. Sekitar pukul 15.35, acara dibuka oleh Kak Glen dari PPA dengan doa. Tim SABDA kemudian memulai acara dipimpin oleh Hilda dengan memperkenalkan tentang SABDA dan tim yang datang saat itu. Kemudian, acara dilanjutkan dengan presentasi sesi pertama, yaitu presentasi mengenai "Generasi Digital" yang disampaikan oleh Ariel. Sesi pertama ini cukup menarik perhatian peserta karena peserta diperhadapkan dengan kondisi dan kebiasaan mereka sehari-hari sebagai digital native.

Slide tentang checklist "Are you a digital native" berhasil menarik perhatian peserta, dan berbagai respons pun bermunculan. Mulai dari senyum kecut, lirik kanan-kiri, sampai tertawa lebar. Selain menunjukkan pada peserta posisi mereka sebagai digital native, dalam sesi pertama ini peserta diingatkan tentang status mereka sebagai anak muda Kristen, sembari menjelaskan korelasi kedua hal tersebut. Wajah-wajah serius mulai bermunculan, apalagi saat diputarkan video tentang "Gadget vs Me" yang mengisahkan tentang pemuda yang masih selalu tergoda membuka akun media sosial saat ibadah berlangsung. "Yeah, we got the point!" Mereka mulai menyadari posisi mereka sekarang.

Kemudian, untuk mencairkan suasana, Hilda mengadakan "ice breaker" dengan meminta peserta menyusun potongan kertas yang berisi kata-kata dari ayat 2 Timotius 3:16 (AYT), dan meminta mereka mengirimkan ayat yang dimaksud melalui SMS ke Hilda. Ruangan mulai riuh, wajah-wajah tegang sebelumnya mulai mencair, diganti dengan rasa ingin tahu khas remaja. Suasana menjadi semakin riuh ketika mbak Evie memberitahukan cara yang sangat gampang dan cepat yang tidak mereka pikirkan, yaitu dengan menyalin ayat tersebut dari aplikasi Alkitab tanpa perlu mengetiknya. Wah, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh mereka. "What a smart thing to start the second session", yang kontennya memang lebih berat.

Sesi kedua fokus pada pentingnya Pemahaman Alkitab (PA) dan cara-cara melakukannya di era digital ini. Sesi yang menurut prediksi saya akan berat dan membosankan bagi peserta ini ternyata berjalan lancar. Mbak Evie lebih tampil "all out" pada saat presentasi live dibanding pada saat latihan. Mencoba untuk membangun komunikasi dua arah dengan peserta ternyata cara yang sangat membantu peserta untuk tetap fokus. Dalam sesi ini, ditampilkan berbagai metode PA yang dapat dilakukan anak muda Kristen dengan medsos maupun gadget mereka. . Ada metode Anda Punya Waktu, Walking With God , dan metode S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa dan Diskusi, Aplikasi). Dengan melakukan simulasi menggunakan metode S.A.B.D.A, peserta dapat mengalami langsung bagaimana teknologi yang ada dalam gadget mereka dapat menolong mereka untuk memahami firman Tuhan. Dengan memahaminya, mereka dapat melakukannya dalam hidup sehar-hari. Meski hanya beberapa peserta yang membawa HP saat presentasi kemarin, kami berharap "cheatsheet" (berisi sumber-sumber bahan Kristen yang dapat diakses dengan gadget) yang kami bagikan dapat menolong mereka setelah pulang dari acara tersebut untuk melakukan PA dengan cara yang fun dan praktis dengan gadget mereka. Dengan begitu, para remaja ini akan semakin bertumbuh dengan benar di masa mudanya.

Doa penutup dari Ibu Tutik menutup pertemuan kami sore itu. Sebuah doa yang luar biasa menginspirasi saya secara pribadi, yang mengingatkan bahwa apa yang Tuhan taruh dalam hidup saya bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk turut serta dalam pelayanan yang dilakukan SABDA. Sebuah pengalaman luar biasa yang memberi pelajaran tentang pentingnya teamwork untuk bekerja dengan "passion" dan kasih. Selain itu, kami juga dapat melihat dan merasakan bagaimana Tuhan menolong kami di setiap proses persiapan dan selama acara berlangsung.

Salam IT 4 God. Can't wait for the next event.

Categories: PEPAK

Persekutuan Pemuda GKA Abdi Sabda “Awas Belenggu Teknologi”

Wed, 05/04/2016 - 17:53

Awalnya, saya menghadiri acara di GKA Abdi SABDA ini karena didorong oleh Bu Yulia yang terlebih dahulu mengetahui info mengenai acara pemuda di sana. Bu Yulia mengatakan bahwa pada bulan April ini, persekutuan pemuda di GKA Abdi SABDA membahas tema "Teknologi". Sebagai Pemimpin Redaksi APPPS Live, saya pun tertarik untuk mengikuti acara ini. Tema kali ini cukup menarik, yaitu "Awas Belenggu Teknologi". "Hmm ... kira-kira belenggu seperti apa ya yang diakibatkan oleh teknologi? Wah, bisa jadi bahan yang menarik nih," batin saya.

Rencananya, saya akan berangkat bertiga dengan Mas Jono dan Mas Aji. Namun, karena suatu hal, akhirnya kami hanya berangkat berdua, saya dan Mas Aji. Sekitar pkl. 17.00, kami sudah berangkat ke GKA Abdi Sabda meskipun acaranya baru akan dimulai jam enam sore. Kami bertemu terlebih dahulu dengan Bapak Gembala GKA Abdi SABDA, Pak Franky, untuk berbincang-bincang dan meminta izin meliput pertemuan persekutuan pemuda kali itu sekaligus mewawancarai salah satu pelayan di sana, Kak Yeremia. Perbincangan kami cukup seru. Namun, kami harus mengakhirinya karena jadwal Bapak Gembala cukup padat dan kebetulan persekutuan pemuda juga akan segera dimulai.

Persekutuan dibuka dengan puji-pujian dan salam hangat yang ditujukan kepada kami yang baru pertama kali menghadiri persekutuan tersebut. Pemuda-pemudi di sana sangatlah ramah dan murah senyum, saya sampai merasa seperti sudah kenal dan akrab dengan mereka . Memasuki perenungan firman Tuhan, ternyata yang membawakan firman adalah Kak Yeremia. Dia mengawali materinya dengan menjelaskan berbagai tipe generasi berdasarkan kedekatan mereka dengan teknologi. Mulai dari generasi X sampai generasi Z, dan yang akan datang, yaitu generasi Alpha. Dia menyadarkan para pemuda yang hadir bahwa mereka yang termasuk ke dalam generasi Y dan Z (generasi yang telah mengenal teknologi sejak lahir bahkan menjadikannya bagian dalam hidup mereka), dan kini mereka sedang mengalami belenggu.

Generasi ini begitu kental dengan teknologi dan gaya hidup yang serba cepat dan multitasking. Informasi yang mereka dapatkan begitu banyak dan membuat mereka sibuk, baik dalam pekerjaan maupun pikiran. Hal ini menyebabkan mereka mengalami 'Solitude Phobia', yaitu ketakutan terhadap keheningan. Mereka merasa bahwa keheningan itu tidak produktif dan membuat mereka bisa ketinggalan perkembangan zaman. Padahal, sebagai orang percaya, kita membutuhkan keheningan, berhenti melakukan sesuatu, kecuali membiarkan diri kita telanjang di hadapan Allah dan ditemukan oleh-Nya. Keheningan memberikan ruang bagi Allah masuk dan mengerjakan sesuatu dalam diri kita sehingga kita memiliki intimitas dengan Allah. Berikut ini adalah sebuah kutipan yang Kak Yeremia ucapkan dan sangat menegur diri saya,

"Semakin kita tidak membutuhkan keheningan, itulah sebenarnya saat di mana kita membutuhkan keheningan."

Selain itu, saya juga diingatkan, terkadang ada juga orang-orang yang sudah memiliki waktu untuk berhening di dalam hidup mereka. Namun, karena terus dilakukan setiap hari, itu hanya menjadi rutinitas atau "kelatahan", mereka tidak lagi menjiwai dan memaknainya dari hati mereka. Sebagai penutup, Kak Yeremia menegaskan: keheningan bukanlah barang jadi, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Teknologi bagaikan Dewa Janus yang memiliki 2 wajah, ia bisa menghancurkan (destruct), tetapi juga bisa membangun (construct) tergantung kita menggunakannya. Mari menggunakan teknologi bukan untuk menghancurkan hidup kita, melainkan lebih lagi menggunakannya untuk membangun dan memuliakan Allah.

Salam IT4God!

Categories: PEPAK

Dibentuk, Diperlengkapi, dan Diutus

Wed, 05/04/2016 - 17:12

Syukur kepada Tuhan Yesus yang terus menopang saya untuk mengikuti Dia dengan setia. Saya berdoa, Roh Kudus terus bersemayam di hati saya dan memimpin saya dalam setiap langkah yang saya ambil.

Saya juga bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan digital di Yayasan Lembaga SABDA. Selama 8 tahun, saya dibentuk dan diperlengkapi di tempat ini. Tentu saja ada banyak pelajaran yang saya peroleh ketika saya berada di YLSA. Selain belajar mengenal Kristus lebih dalam dengan menggali dan merenungkan firman Tuhan dalam kelompok kecil dan kelompok besar, saya juga belajar mengembangkan ketelitian di dunia tulis-menulis, mengedit terjemahan, mengoordinasi tugas dan teman sepelayanan, dan berbagai keterampilan yang lain.

Pengalaman-pengalaman mengikuti roadshow, piknik bersama, kerja bakti, dan setiap kegiatan di YLSA sungguh tidak akan didapatkan di tempat lain. Apalagi persekutuan yang selalu dilakukan di YLSA. Ini benar-benar memberi warisan berharga bagi saya. Suasana yang menyenangkan bersama rekan-rekan sepelayanan di YLSA pun tidak akan terlupakan, baik waktu bekerja maupun waktu senam dan makan siang bersama. Karenanya, saya sedih karena kini harus "berpisah". Namun, apa mau dikata, ada ladang baru yang harus saya kerjakan. Setelah dibentuk dan diperlengkapi Tuhan, inilah saatnya saya diutus Tuhan Yesus menjadi "martir"-Nya di "dunia". Saya berharap, saya tetap dikuatkan dan dipakai serta dikenan Tuhan Yesus untuk menggenapi rencana-Nya di bumi. Mohon dukungan doa dari Teman-Teman, ya.

Akhir kata, saya tentu berharap bahwa relasi dan silaturahmi saya dan teman-teman di YLSA akan terus terjalin walaupun kita melayani Tuhan di tempat yang berbeda. Terima kasih untuk kebersamaan dan dukungan doa yang senantiasa diberikan oleh teman-teman kepada saya. Terlebih, Ibu Yulia dan suami, sebagai orangtua rohani yang banyak memberikan wejangan dan nasihat. Tuhan Yesus pasti akan menambah-nambahkan hikmat dan semangat untuk mengerjakan ladang-Nya di dunia digital. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Categories: PEPAK

SABDA Mengikuti Seminar Media Internal

Fri, 04/22/2016 - 10:51

Oleh: Aji*

Pengelolaan media sebuah organisasi haruslah dikerjakan secara profesional berdasarkan perencanaan yang matang. Media internal adalah corong organisasi untuk menyampaikan pesan-pesan bagi "stakeholder" dan khalayak pendukung organisasi. Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) juga memiliki media internal (Berita YLSA) untuk menjangkau para sahabat dan pendukung yayasan. Inilah salah satu alasan mengapa Ibu Yulia, Ketua Yayasan Lembaga SABDA, tertarik untuk ikut dalam seminar "Mengelola Media Internal" yang diadakan pada 30 -- 31 Maret 2016 lalu di Griya Solopos. Saya diajak Ibu Yulia untuk ikut karena kami berdua didaulat untuk bisa membagikan kembali apa yang kami dapatkan kepada semua staf YLSA yang tidak ikut (dengan begitu, kami bisa menghemat biaya).

Secara garis besar, seminar ini dibagi menjadi lima sesi. Sesi I -- III disampaikan pada hari pertama, sedangkan sesi IV dan V pada hari kedua. Sesi hari pertama lebih teoritis, yaitu teori dasar jurnalisme, etika jurnalisme, juga filosofi dan perancangan media internal. Lalu, sesi hari kedua adalah brainstorming dan konsultasi/evaluasi perancangan media internal yang sifatnya lebih aplikatif.

Materi hari pertama, antara lain membahas tentang apa itu berita dan bagaimana mendapatkan berita. Pada era banjir informasi seperti sekarang ini, sangat penting ada validitas dan konfirmasi sehingga kontennya dapat dipertanggungjawabkan. Setelah itu, kami belajar secara singkat tentang kode etik jurnalisme yang membahas tentang bagaimana menyajikan kebenaran dengan sikap yang independen dan akuntable (tidak berpihak dan bertanggung jawab) sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

Pada hari kedua, Ibu Yulia tidak bisa hadir karena ada tugas lain yang harus dikerjakan sehingga digantikan oleh Sdr. Rendy dari div. Multimedia. Memang Bu Yulia kelihatan agak bosan mengikuti seminar ini, mungkin karena materinya terlalu dasar dan lebih berorientasi pada media cetak, tidak seperti yang beliau harapkan. Menurut Bu Yulia, sesi hari kedua lebih cocok diikuti oleh Sdr. Rendy karena membahas tentang layout. Sesi hari kedua ini membahas tentang bagaimana memuat konten yang di-layout supaya lebih "menjual". Untuk itu, pembahasan dimulai dari menentukan target pembaca, pilihan jenis media internal, bagaimana menemukan ide, juga trik dan tip dalam mengeksekusi perancangan, mencakup reportase, penulisan konten, penataan konten/layouting, dan terakhir adalah publikasi konten. Materi sesi ini agak mengecewakan karena hanya menitikberatkan pada media cetak dan hampir tidak membahas tentang media online seperti yang dibutuhkan YLSA. Alhasil, kami tidak mendapat materi yang cukup signifikan untuk dibawa pulang.

Memasuki sesi terakhir, seminar ditutup dengan brainstorming. Masing-masing wakil organisasi mempresentasikan rancangan media internal mereka di hadapan pembicara dan para peserta yang lain. Ada peserta yang sudah sanggup merancang media dengan baik, ada pula yang masih belum memiliki ide atau idenya belum jelas. Saya sendiri sebagai wakil YLSA mempresentasikan laman Berita YLSA yang merupakan media internal Yayasan SABDA. Puji Tuhan, saya bisa membawakan presentasi dengan cukup baik sekaligus sedikit berpromosi tentang SABDA dan apa saja produk-produknya. Rendy, sesekali memberikan tambahan-tambahan informasi yang luput saya sampaikan. Saya bersyukur, respons peserta dan redaksi Solopos cukup baik, tetapi kurang lebih tidak ada masukan dari mereka, kecuali ide untuk memberi sentuhan personal dengan penulisan blog. Namun, hal itu pun sudah dilakukan oleh yayasan (Blog SABDA) sehingga hampir tak ada sesuatu yang baru yang bisa menjadi masukan bagi kami.

Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa materi seminar ini kurang sesuai untuk YLSA yang sudah mengelola media internal selama belasan tahun, sedangkan materi seminar lebih berbicara tentang bagaimana merancang media dari awal sekali atau dari nol. Namun, tak mengapa ... meski secara pribadi saya kecewa dengan konten seminar yang diberikan, tetapi di sisi lain saya belajar bahwa YLSA sudah melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam konteks pengelolaan media internal. YLSA sudah memiliki apa yang baru direncanakan oleh sebagian organisasi lain. Oleh karena itu, kondisi ini seharusnya menjadikan YLSA lebih percaya diri dengan apa yang sedang dikerjakannya saat ini meski bukan berarti boleh bersikap sombong dan tak mau belajar lagi. Yayasan SABDA harus tetap rendah hati untuk mau belajar lebih banyak lagi kepada pihak-pihak lain yang lebih berpengalaman, sembari membagikan ilmunya tanpa pamrih kepada mereka yang baru memulai.

Sesuai dengan perjanjian, walaupun banyak sisi minus dari seminar ini, saya, Rendy, dan Bu Yulia wajib mengajarkan ulang materi yang telah kami terima. Oleh karenanya, seminggu kemudian, kami mempresentasikan kembali apa yang kami dapat sekaligus menjawab rasa penasaran yang berupa pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan kami. Setelah bolak-balik dipikirkan, beberapa ide "olahan" muncul untuk diterapkan di YLSA, seperti misalnya meningkatkan keterlibatan semua tim pelayanan dalam membuat Berita YLSA sehingga bukan hanya tim Humas yang mengerjakan. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan di atas, YLSA seharusnya cukup berani menyelenggarakan seminar serupa khususnya untuk gereja-gereja yang memiliki media internal bagi jemaat. Karena itu, Bu Yulia memberi tugas agar setiap tim mengajukan tema-tema seminar yang bisa YLSA selenggarakan untuk menjadi berkat bagi jemaat Tuhan, khususnya di Solo. Kami sangat senang bisa berbagi dan berharap itu dapat memicu kami semua untuk memunculkan ide-ide yang dapat memajukan pelayanan Tuhan di Indonesia. Kiranya para Pembaca mendukung kami dalam doa supaya Yayasan SABDA semakin giat belajar dan sanggup menjadi media yang dapat diandalkan dan menghantarkan orang percaya untuk bersemangat melayani Tuhan.

Categories: PEPAK

Memanfaatkan Google Calendar untuk Pengaturan Tugas di YLSA

Mon, 04/11/2016 - 12:54

Tahun 2016 merupakan tahun berbenah dan mengembangkan kemampuan staf YLSA untuk semakin efektif dalam bekerja. Khusus pada tahun ini, kami didorong untuk dapat mengatur seluruh program kerja yang sudah disusun pada saat Raker. Banyaknya program kerja dapat memicu munculnya masalah-masalah dalam bekerja, entah itu penyelesaian tugas yang mundur dari deadline, tugas yang terlewat, dll.. Oleh karena itu, kami mencari alat untuk menolong kami dalam mengatur pengerjaan tugas sehari-hari. Kami pun mencoba untuk memakai Google Calendar.

Google Calendar adalah fitur kalender yang disediakan oleh Google sejak tahun 2006 dan tidak hanya berfungsi sebagai kalender. Dengan fitur-fitur yang ada, kita juga bisa membuat agenda kerja. Wah, ketika ada instruksi untuk mencoba menggunakan Google Calendar, saya langsung pusing. Selama ini, saya terbiasa menggunakan kalender konvensional, tetapi sekarang saya harus belajar dan menggunakan kalender digital. Setelah mencoba dan mulai merasakan manfaatnya, saya bersyukur sekali bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk bekerja.

Dengan Google Calendar, kita bisa membuat jadwal dan menentukan "blocking time" dalam bekerja. Kita bisa mengagendakan rapat bersama teman-teman dalam satu tim atau antartim dengan waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Bagi seorang pemula, menggunakan aplikasi ini cukup mudah karena kita cukup memilih Calendar, kita klik di tanggal, langsung kita bisa membuat agenda kerja. Selain itu, kalender yang kita buat dapat dilihat oleh sesama teman kerja. Bagi saya, ini adalah prinsip keterbukaan dalam bekerja karena tiap staf dapat melihat program kerja masing-masing tim dan rasa memiliki semakin ditumbuhkan.

Saya sendiri sudah menerapkan Google Calendar dalam bekerja kurang lebih selama 3 bulan. Hasilnya, saya merasa bahwa tugas-tugas di tim PESTA dan Pendidikan Kristen dapat diatur dengan baik. Agenda yang saya buat dapat dinyalakan notifikasinya sehingga tidak ada tugas yang terlewat. Selain itu, saya sungguh bersyukur karena waktu-waktu bekerja menjadi lebih maksimal. Sepanjang hari di kantor tidak ada waktu yang terlewatkan, kami bisa mengerjakan berbagai tugas dengan baik sesuai agenda yang sudah dibuat. Untuk program kerja yang dibagi berdasar tahun, kuartal, dan bulanan juga dapat dijalankan dengan baik.

Pada akhirnya, saya mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah memberi kami (seluruh staf YLSA) kesempatan untuk memanfaatkan teknologi dalam bekerja. Dengan kalender digital ini, kami dimotivasi untuk semakin maksimal dalam melayani Tuhan dalam ladang pelayanan digital. Kiranya nama Tuhan senantiasa dimuliakan di dalam setiap proyek dan pekerjaan yang digarap oleh Yayasan Lembaga SABDA.

Categories: PEPAK

Tentang Menulis

Wed, 04/06/2016 - 16:21

Awalnya, saya tidak terlalu menyadari kalau saya suka menulis. Akan tetapi, setelah saya pikir-pikir, kegiatan menulis sudah saya lakukan sejak saya masih SD. Mulai dari kegemaran saya menulis biodata diri di buku "diary" teman-teman SD, menulis buku harian saat SMP-SMU, menulis puisi dan cerpen saat kuliah, menulis artikel dan renungan saat sudah bekerja, dan sampai sekarang. Selain menulis, ada kegiatan positif yang dulu sering saya lakukan. Saya suka membaca. Kegemaran membaca ini sebenarnya cukup baik karena saya sudah memulainya sejak SD. Mulai dari majalah anak (Bobo), buku pelajaran, dan cerita anak. Dilanjutkan dengan serial Goosebumps, berbagai cerpen remaja, novel-novel Mira W., komik-komik sampai buku Chicken Soup dalam berbagai seri, kumpulan puisi Remy Silado, buku karya Watchman Nee, dsb.. Ketika SMU, kuantitas membaca saya menurun, dan itu berlanjut sampai kuliah. Saya juga masih bingung apa ya penyebabnya. Mungkin karena terlalu fokus dengan pelajaran atau mata kuliah, jadi sudah capek ... hehehe.

Puji Tuhan, seiring berjalannya waktu, saya kembali menemukan keindahan dalam menulis. Saya kangen menulis lagi. Bukan hanya keindahan dalam menulis, melainkan tanggung jawab seorang penulis Kristen, nilai-nilai penting dalam sebuah tulisan, dan bagaimana tulisan kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Inilah yang saya temukan dalam sebuah buletin elektronik e-Penulis yang diterbitkan oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Buletin ini sangat mendorongku untuk kembali menulis, tentunya menulis yang berkualitas. Buletin ini juga menyajikan berbagai informasi dunia literatur Kristen dan umum. Banyak artikel dengan berbagai macam topik, berbagai masalah kebahasaan, informasi seputar situs penulisan, dll. yang disajikan secara rapi dalam buletin ini. Memang tidak serta-merta saya bisa langsung mengaplikasikan informasi yang ada. Akan tetapi, setidaknya ada bekal pengetahuan yang boleh saya kumpulkan untuk saya realisasikan menjadi sebuah tulisan yang berkualitas.

Berawal dari hanya sebagai pembaca buletin e-Penulis, kini saya justru terlibat langsung dalam proses penerbitannya. Mulai tahun 2016 ini, saya menjadi pemimpin redaksi e-Penulis, yang sebelumnya sempat beberapa kali terlibat sebagai staf redaksi. Saya bersyukur atas kesempatan ini dan saya terus rindu untuk bisa mempersembahkan yang terbaik bagi hormat dan kemuliaan Tuhan melalui setiap terbitan e-Penulis. Dalam menjalani panggilan ini, saya belajar banyak hal, baik melalui proses, pemilihan bahan, penulisan, pengeditan, penerbitan, maupun berkorespondensi dengan pelanggan. Semoga saya bisa tetap setia melayani-Nya.

Saya ingin menekankan bahwa wawasan seputar dunia penulisan memang harus ditingkatkan jika kita ingin menghasilkan tulisan yang berkualitas. Akan tetapi, jangan lupa, sebagai penulis Kristen, kita harus memiliki visi dalam menulis. Hidup kita sudah diselamatkan, Allah sudah berbelas kasih kepada kita, hidup kita diperbarui, dan keselamatan kita terima dengan cuma-cuma, itulah yang seharusnya menjadi visi kita dalam menulis supaya tulisan kita bisa menjadi perpanjangan kasih Tuhan. Kiranya banyak pembaca boleh mengenal Kristus dan firman-Nya.

**Tulisan ini juga bisa dibaca di http://pelitaku.sabda.org/tentang_menulis

Categories: PEPAK

Merayakan Paskah dengan Infografis dan Klip Paskah dari YLSA

Fri, 04/01/2016 - 11:11

Satu bulan sebelum Paskah, saya cukup bingung mempersiapkan materi untuk mengajarkan tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus kepada anak-anak di sekolah minggu saya. Saya rindu, Tuhan memakai hari Paskah ini sebagai kesempatan bagi anak-anak untuk memahami lagi makna kasih dan pengorbanan Kristus bagi mereka. Meski mereka masih kecil, saya yakin bahwa anugerah kelahiran baru itu diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, termasuk kepada anak-anak. Tugas saya sebagai pelayan anak adalah menjadi alat Tuhan untuk mengenalkan kebenaran firman Tuhan, yang melaluinya anak-anak dapat mengenal siapa Allah dan Juru Selamatnya, sampai pada akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menerima Tuhan secara pribadi.

Lalu, 3 minggu menjelang hari Paskah, saya tidak bingung lagi. Lusia, koordinator divisi Multimedia YLSA, meminta saya untuk melakukan cek infografis Kisah Paskah sebelum di-upload ke Situs Paskah Indonesia. Saat itu, tiba-tiba saja, AHA! Inilah jawaban Tuhan atas doa saya mengenai acara Paskah di sekolah minggu saya. Infografis inilah yang akan saya gunakan sebagai alat peraga dalam menceritakan kisah Paskah. Alur cerita, mulai dari perjamuan terakhir sampai Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena, terekam dengan sangat jelas dalam infografis ini.

Tren infografis saat ini tidak boleh disia-siakan guna mendukung pelayanan kekristenan. Divisi Multimedia menangkap kesempatan ini. Setelah berhasil membuat infografis Kisah Natal pada tahun 2015 lalu, tahun ini dibuatlah infografis Kisah Paskah yang didasarkan pada kebenaran Alkitab. Alur cerita disusun dengan memerhatikan detail yang dituliskan dalam empat kitab Injil sehingga saya dapat menyampaikan kisah Paskah secara keseluruhan sesuai rentang perhatian yang dimiliki anak, bahkan lebih. Saya menyampaikan kisah Paskah ini dalam waktu 30 menit, dan anak-anak bisa tetap fokus sampai selesai. Karena anak-anak digital native ini senang belajar dengan menggunakan ilustrasi, infografis ini merupakan salah satu strategi yang cukup baik untuk menyampaikan Kabar Baik kepada mereka. Di sela-sela saya bercerita, tidak sedikit terlontar pendapat dari mereka mengenai kematian Tuhan Yesus. Meski mereka sudah sangat sering mendengar tentang kisah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus di sekolah minggu, infografis ini memberikan detail dan pengertian yang lebih mendalam sampai kepada hati mereka. Syukur kepada Tuhan!

Selain menampilkan infografis PASKAH, sebagai penutup, saya putarkan pula video Kasih Ilahi yang Penuh Pengorbanan. Video klip yang berdurasi 1 menitan ini menjadi penutup yang baik untuk mengantar anak-anak merenungkan secara pribadi tentang kasih Allah kepada mereka melalui ketaatan Tuhan Yesus kepada kehendak Bapa-Nya, bahkan taat sampai mati, untuk menebus kita dari perbudakan dosa. Setelah menonton klip singkat ini, anak-anak menyampaikan doa mereka secara pribadi kepada Tuhan. Saya tidak tahu apa yang mereka sampaikan kepada Tuhan. Dalam suasana kelas yang hening, saya hanya mendengar suara berbisik dari bibir anak-anak yang sedang berbicara kepada Tuhan. Kiranya, mereka makin mengenal Allah dan membuka hatinya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya pada hari Paskah itu.

Terima kasih banyak untuk divisi Multimedia YLSA. Kiranya, hasil dari pelayanan dan kerja kerasmu dipakai Tuhan lebih lagi untuk memberkati anak-anak dan gereja Tuhan di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Terpujilah Tuhan!

Categories: PEPAK

Seminar LGBT @Griya Pelikan

Fri, 03/25/2016 - 12:21

Setelah mendapat pesan WhatsApp dari Setya yang menginformasikan adanya seminar LGBT yang akan diadakan di Griya Pelikan pada tanggal 23 Maret 2016, langsung saja saya menjadi antusias untuk mengikutinya. Topik LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) adalah topik yang marak dibahas dalam Medsos dan media cetak maupun elektronik selama 3 bulan terakhir, dan saya menjadi salah seorang yang rajin menyimak diskusi maupun perdebatan mengenai topik ini. Begitulah, akhirnya saya dan Setya datang mengikuti seminar ini, yang diadakan di Griya Pelikan mulai dari pukul 18.00 hingga 21.00.

Seminar dibawakan oleh Bapak Jusuf Tjahjo Purnomo, M.A, Psi., yang merupakan salah seorang staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Sebagai pembuka, beliau mengatakan bahwa meskipun ada berbagai isu terkait dengan topik pembahasan LGBT, yakni dari segi sosial dan hukum, psikologis, dan moral teologis, tetapi pembahasan malam itu hanya akan dititikberatkan dari segi psikologis yang sesuai dengan latar belakang pembicara sebagai dosen psikologi. Seminar kemudian dimulai dengan menyorot pada penyebab seseorang menjadi pelaku LGBT, yang hingga kini masih menjadi perdebatan dari banyak ahli dan kalangan, yakni apakah itu karena pengaruh nature (bawaan), nurture (dipelajari), atau malah kombinasi dari keduanya. Sejauh ini, masih belum ada kesimpulan atau jawaban yang jelas mengenai penyebab dari LGBT karena belum ada penelitian ilmiah yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan dari serangkaian penelitian yang sudah diterapkan. Pembicara sempat menyatakan meskipun ada penelitian yang menyatakan bahwa bagian otak dari pelaku LGBT berbeda dari otak pribadi yang heteroseksual, tetapi penelitian itu tidak menjawab apakah perbedaan tersebut menjadi sebab atau malah akibat dari kecenderungan seksual pelaku LGBT.

Pembahasan kemudian beralih pada konsep normal dan abnormalitas perilaku LGBT. Normal atau tidaknya suatu perilaku pada umumnya dinilai oleh masyarakat sebagai pengawas/hakim pada perilaku anggota masyarakatnya. Secara fakta, komunitas LGBT adalah komunitas yang memiliki distribusi kecil dalam statistik normalitas, alias ditentukan sebagai komunitas yang tidak normal secara seksual. Mengapa tidak normal? Karena jumlah mereka yang jauh lebih sedikit dibanding perilaku masyarakat umumnya yang bersifat heteroseksual. Namun, perlu dicatat bahwa apa yang dianggap normal atau dapat diterima dalam setiap komunitas masyarakat bersifat relatif, bukan mutlak. Artinya, apa yang dianggap tabu atau buruk dalam sebuah komunitas, bisa jadi dianggap wajar dalam sebuah komunitas di satu wilayah atau negara. Budaya sunat perempuan misalnya, yang dianggap sebagai perilaku tradisi yang kejam di banyak negara barat, ternyata menjadi sebuah perilaku yang justru dapat berakibat pada pengucilan anggotanya jika tidak dilakukan dalam budaya sebuah komunitas di NTT. Nah, fenomena yang sama rupanya terjadi juga bagi komunitas LGBT, yang pada awalnya dianggap sebagai komunitas minor, tabu, dan ditolak di berbagai wilayah di dunia.

Pada tahun 1992, WHO sudah menyatakan bahwa perilaku homoseksual bukanlah sebuah penyakit atau gangguan, berdasarkan dari konsep medis atau psikologis. Perilaku LGBT disepakati sebagai sebuah deviasi atau penyimpangan, merujuk pada konsep norma sosial, karena para pelakunya melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma masyarakat secara umum. Namun, menariknya, dalam abad ini sikap masyarakat terhadap persoalan LGBT dapat sangat berbeda-beda di setiap tempat dan negara yang disebabkan karena setiap tempat dan negara memiliki budaya, pola pikir, juga landasan teologis yang berbeda satu sama lain. Perilaku LGBT yang dianggap tidak normal di beberapa negara, termasuk Indonesia, kenyataannya telah diterima dengan baik bahkan dianggap sebagai sebuah gaya hidup yang normal di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Dan, pengakuan dari WHO ternyata kian menjadi dasar yang kuat bagi kaum LGBT untuk semakin mengukuhkan diri sebagai komunitas yang normal dan tidak berbahaya seperti penyakit menular. Pada akhirnya, penerimaan LGBT sebagai sebuah gaya dan pilihan hidup beserta legalitas di berbagai aspek kehidupan menjadi agenda besar dari komunitas LGBT di seluruh dunia. Advokasi, perjuangan melalui jalur hukum, media, isu-isu HAM, menjadi cara-cara yang dilakukan dalam pergerakan LGBT agar komunitas mereka semakin mendapat tempat dalam masyarakat, serta mendapat pengakuan legal dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dari gereja dan kaum spiritual. Ironis.

Sayang sekali, pembicara tidak menutup acara seminar dengan topik yang kontroversial ini dengan kesimpulan yang tajam. Meskipun cukup banyak informasi yang kami terima, tetapi saya pribadi merasa tidak ada pesan yang digemakan dengan cukup dalam melaluinya, yang dapat membuat seluruh peserta seminar pulang tidak hanya dengan sekadar informasi baru, tetapi juga dengan sebuah kesadaran dan pemahaman yang baru untuk lebih bersikap kritis. Bagi saya, itu menjadi sebuah poin penting karena saat ini gereja tengah mengalami tantangan zaman, salah satunya dengan isu LGBT, sehingga setiap orang percaya seharusnya memiliki pemahaman dan sikap kritis yang benar dalam menyikapinya.

Anyway, tetap senang bisa datang ke acara-acara semacam ini, dan saya menantikan topik seminar lainnya dari Griya Pelikan dalam waktu-waktu yang akan datang. So, see you next time with another topics and issues

Categories: PEPAK

Piano, Sebuah Mimpi yang Diwujudkan Tuhan

Mon, 03/21/2016 - 12:34

Belakangan ini makin sering terdengar lantunan nada-nada indah nan merdu dari dalam ruang perpustakaan, sekaligus ruang training, Yayasan Lembaga SABDA. Memang benar, hadirnya sebuah piano di dalam ruangan itu sungguh memberikan suasana yang berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Apabila tadinya kami pergi ke ruangan itu hanya untuk membaca atau mencari sumber bahan, sekarang kami bisa bermain piano sambil bernyanyi dan bersenandung ria. Saya dan teman-teman sering melakukannya. Ketika jam kerja berakhir, saya kadang akan bermain piano dan teman-teman bernyanyi, atau sebaliknya. Dengan alat-alat musik lain yang sudah lebih dulu hadir di sana, yaitu gitar dan cajon, berada di ruangan tersebut bisa menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dari seluruh aktivitas hari itu.

Bagaimana YLSA bisa memiliki piano? Ternyata bermula dari mimpi Ketua YLSA, Ibu Yulia, yang merindukan adanya piano untuk melengkapi acara-acara resmi YLSA dan juga meramaikan hari-hari persekutuan bersama staf. Musik selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan orang Kristen. Diceritakanlah mimpinya itu ke Pak Josep Tong, bekas dosen dan mentor Bu Yulia saat beliau menempuh studi teologia. Bu Yulia sengaja kontak Pak Joseph Tong karena tahu kalau saudara Pak Joseph Tong, yaitu Pak Solomon Tong melakukan jual-beli piano. Pak Solomon Tong sangat terkenal karena beliau adalah pendiri dan ketua dari Surabaya Symphony Orchestra yang selalu menyelenggarakan Christmas Orchestra pada setiap Desember di Surabaya. Bu Yulia memulai dengan bertanya apakah Pak Solomon memiliki piano yang baik dan murah yang bisa dibeli YLSA. Ketika Pak Joseph Tong tahu bahwa YLSA hanya punya sedikit uang yang dapat disisihkan untuk membeli piano, beliau pun menanggapi dengan berkata bahwa uang yang sedikit itu hanya bisa untuk membeli piano 'junky'. Pak Josep Tong dengan baik hati menawarkan bantuan. Setelah melakukan pembicaraan dengan Pak Solomon, mereka berdua sepakat untuk membantu karena kebetulan ada sebuah piano bekas yang masih baik yang siap dikirim ke Solo. Kekurangan dana ditanggung oleh Pak Joseph Tong, sedangkan ongkos kirim piano ke Solo ditanggung oleh Pak Solomon Tong. Luas biasa!! Tuhan punya banyak cara untuk menghadirkan karya-Nya di tengah-tengah kehidupan anak-anak-Nya.

Alhasil, pada bulan November 2015, mimpi itu terwujud. Sebuah piano cantik menjadi "penghuni" baru ruang training di Griya SABDA. Piano yang siap mengiringi setiap pujian yang dinaikkan staf YLSA bagi Tuhan. Bersyukur, ada beberapa staf yang bisa memainkannya, seperti Liza , Tika, dan saya sendiri sehingga tidak perlu menunggu lama, piano tersebut bisa langsung digunakan dalam persekutuan staf dan acara-acara lainnya. Puji Tuhan!

Meskipun tidak begitu piawai seperti layaknya seorang pemain piano yang sudah ahli, saya cukup bangga dengan kemampuan saya memainkan alat musik tersebut. Bagi saya, bisa bermain piano merupakan salah satu karunia Tuhan yang paling saya syukuri di dalam hidup ini. Melihat piano sering mengingatkan saya akan kenangan masa lalu. Saya masih ingat persis ketika saya pertama kali belajar memainkan piano. Semuanya berawal ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, dan saya sangat ingin sekali bisa memainkan alat musik gitar pada waktu itu, terlebih gitar elektrik. Gereja kami saat itu menyelenggarakan program untuk melatih kaum pemuda dan remaja bermain musik melalui les musik privat. Tentu saja, saya sangat antusias dan mendaftarkan diri untuk belajar bermain gitar. Alih-alih mendapatkan ilmu yang spesifik dengan masing-masing instrumen yang kami pilih, kami semua malah diharuskan mempelajari piano terlebih dahulu. Sejujurnya, saya merasa kecewa ketika itu. Namun, justru dari situlah, kemampuan saya bermain musik diasah dan ditajamkan. Bahkan, dengan mempelajari piano, saya juga dapat mempelajari instrumen-instrumen lain dengan lebih mudah. Oleh karena itu, saya tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi, saya justru sangat mensyukurinya. Perjalanan saya bersama piano masih belum usai dan akan terus berlanjut. Harapan saya adalah supaya karunia yang telah dipercayakan Tuhan kepada saya ini tidak menjadi sia-sia dan saya dapat mempersembahkan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya.

Saya dan teman-teman di SABDA selalu bisa berlatih dan bermain kapan pun ada waktu senggang, entah itu sepulang kerja, ketika akhir pekan, setelah makan malam, atau kapan pun. Piano ini mengingatkan kami akan kebaikan Tuhan. Sesuatu yang kami hanya anggap suatu mimpi, diwujudkan Tuhan dengan indah. Tentu saja, Tuhan memberikannya bukan untuk kesenangan "para pemain piano" dan "pemuji" di SABDA, tetapi untuk kesenangan Dia. Saya percaya bahwa berkat apa pun yang diberikan oleh Tuhan harus digunakan, dikembangkan, dan pada akhirnya harus dipersembahkan kembali demi kemuliaan nama Tuhan. To God be the glory!

Categories: PEPAK

Seminar SABDA di Jakarta International Christian Fellowship (JICF)

Tue, 03/15/2016 - 11:54

Permintaan untuk memimpin seminar misi di JICF seharusnya dilakukan pada Januari 2016. Namun, karena saya harus menjaga Tante (adik Ibu) yang sedang sakit akibat stroke di rumah sakit, ditambah dengan kaki saya yang keseleo berat pada awal Januari, maka seminar JICF berbaik hati mengundur seminar menjadi 6 Maret 2016. Puji Tuhan, setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Jakarta setelah hampir 5 bulan lebih tidak bisa pergi ke luar kota karena harus menjaga Tante yang sakit dan menunggu pemulihan kaki saya.

Topik tentang "misi" sangat sejalan dengan visi dan misi pelayanan Yayasan Lembaga SABDA. Karena itu judul yang saya pilih adalah "The Digital WORD for a Digital World". Intinya, atau sub judulnya adalah, bagaimana menjalankan misi Allah (Kabar Baik) kepada dunia yang sekarang ada di era digital (Doing Mission in a Digital Era). Selain sebagai gereja/persekutuan yang menyelenggarakan kebaktiannya dalam bahasa Inggris, terus terang saya sebenarnya kurang mengenal JICF. Saya hanya berdoa kiranya Roh Kudus menuntun sehingga apa yang saya bawakan akan menjadi berkat bagi jemaat JICF. Puji Tuhan, setelah mengenal mereka dari dekat, saya melihat bahwa JICF sangat mengedepankan misi, terlihat dari laporan keuangan yang menyebutkan bahwa 47% budget gereja tahun lalu dipakai untuk pelayanan misi. Sangat jarang ada gereja di Indonesia yang dana terbesarnya adalah untuk pelayanan misi.

Dari Pak Wan, salah satu pemimpin dari pelayanan misi, saya mendapat informasi bahwa SABDA juga boleh buka booth untuk melayani jemaat yang hadir pada dua kebaktian Minggu pagi sebelum seminar pada siang hari. Karena itu, saya senang sekali ketika mendapat kesempatan untuk memberikan dua kali (kebaktian jam 08.30 dan jam 10.00) presentasi singkat tentang pelayanan booth SABDA kepada seluruh jemaat JICF (total hampir 400 -- 500 orang). Puji Tuhan, banyak jemaat yang datang ke booth SABDA untuk mengambil CD-CD Alkitab Audio dalam berbagai bahasa; DVD bahan-bahan pelayanan anak, konseling, dan biblika. Juga, traktat penginjilan "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu" dan traktat "Hatiku Rumah Kristus" banyak diminati. Sebagaimana disebutkan dalam presentasi, bahan-bahan yang dibagikan SABDA ini bukan hanya untuk mereka, tetapi terutama untuk menjadi alat pelayanan bagi teman-teman mereka yang membutuhkan.

Seminar diadakan pada jam 12.30 siang (setelah kebaktian kedua) di ruangan yang biasa dipakai untuk sekolah minggu dengan diawali makan siang bersama. Jemaat yang hadir ternyata tidak terlalu banyak (25 orang), dan memang beberapa orang sempat datang ke saya dan minta maaf tidak bisa hadir karena sudah ada acara sebelumnya. Isi seminar dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama membicarakan tentang dunia yang berubah karena perkembangan teknologi yang demikian maju dan peran teknologi bagi Kerajaan Allah. Bagian kedua lebih menekankan kepada teknologi dan misi. Bagian kedua ini menurut saya yang paling menarik karena pengertian misi di era digital sudah tidak lagi sama dengan sebelumnya. Lebih dari setengah penduduk dunia sekarang sudah terkoneksi aktif di dunia digital karena di sanalah mereka hidup, berelasi, dan berkomunitas. Karena itu, tidak heran jika dunia digital saat ini telah menjadi ladang misi terbesar abad 21. Terakhir, bagian ketiga membicarakan tentang bagaimana gereja memulai pelayanan misi dengan memakai teknologi, khususnya dengan smartphone dan media sosial.

Peserta yang mengikuti seminar memberikan tanggapan yang cukup positif walaupun banyak dari mereka yang menganggap diri "gaptek". Semoga seminar ini membuka wawasan bahwa di era digital saat ini, melakukan pelayanan misi tidak harus pergi ke benua lain atau meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Ketersediaan teknologi membuktikan bahwa Allah turut bekerja "menyempitkan dunia" sehingga yang terhilang dapat dijangkau hanya lewat alat yang ada di tangan kita. "Sampai semua orang mendengar Kabar Baik", maka waktu kedatangan Kristus yang kedua kali akan semakin dekat. Marilah bekerja selagi hari masih siang.

Categories: PEPAK

Komentar