Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 2 hours 40 min ago

Pengantar PA Kisah Para Rasul

Fri, 11/11/2016 - 17:35

Setelah menyelesaikan Injil Lukas pada bulan Oktober lalu, pada bulan November ini semua staf Yayasan Lembaga SABDA akan melanjutkan PA dengan menggunakan bahan dari kitab Kisah Para Rasul. Akan tetapi, kami tidak langsung terjun ke dalamnya, melainkan kami terlebih dahulu melakukan beberapa kegiatan sebagai transisi dari Lukas menuju Kisah Para Rasul. Kegiatan tersebut salah satunya adalah menonton video, yaitu tentang pengantar kitab Kisah Para Rasul, kaitan antara kitab Lukas-Kisah Para Rasul, gambaran umum dan tema-tema kunci kitab tersebut, serta beberapa video lainnnya.

Setelah menonton video, kami kemudian mendiskusikannya dalam masing-masing kelompok. Untuk lebih mendalami kitab yang dapat dikatakan sebagai sebuah kisah perjalanan pemberitaan tentang Yesus ini, kami juga mencoba untuk membuat gambar storyline kisah perjalanan hidup kami masing-masing untuk melihat bagaimana tema-tema yang akan kami pelajari dalam kitab ini -- gereja, saksi, mukjizat, Roh Kudus -- menjadi bagian dalam hidup kami hari lepas hari hingga detik ini. Saya menduga akan ada banyak peristiwa dan hal menarik dalam kitab ini yang akan semakin memperlengkapi kita semua untuk menjadi saksi bagi Kristus. Kiranya Tuhan sendiri yang akan menolong kita memahami kebenaran firman-Nya dan menghidupi-Nya dalam hidup keseharian kita. Tuhan Yesus memberkati.


Sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=CGbNw855ksw

 

Categories: PEPAK

Dua Bulan Magang di SABDA yang Tak Terlupakan

Fri, 11/11/2016 - 08:41

Oleh: Illene Victoria*

Aku adalah mahasiswa Sastra Inggris semester tujuh yang telah menyelesaikan masa dua bulan magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) pada bulan Oktober lalu. Setelah selesai, saat melihat ke belakang, tak terkira banyaknya pengalaman yang aku dapat selama magang ini. Yang pertama adalah mengenai kemampuanku. Pada awalnya, aku hanya berfokus pada tugas sebagai penerjemah, tetapi ternyata di SABDA aku mendapat banyak tugas yang sangat bervariasi. Tugas-tugas tersebut, di antaranya menulis blog, menulis kesaksian, mencari artikel, membuat pokok doa , menulis editorial. Semua ini benar-benar mengasah kemampuanku dalam menulis, dan juga mengedit teknis serta mengedit terjemahan. Aku menjadi semakin mengerti aturan-aturan menulis yang benar.

Ketika pertama kali aku dapat tugas menerjemahkan, aku agak kesulitan karena aku sama sekali nggak pernah belajar kosakata bahan-bahan kerohanian, khususnya kekristenan, lebih-lebih untuk artikel-artikel yang berbau teologi Reformed atau filsafat. Di kampus, aku hanya terbiasa menerjemahkan karya fiksi. Saya juga melakukan banyak kesalahan memilih kata dalam menerjemahkan, tetapi koordinator penerjemah, Mbak Okti, membimbing aku. Dialah yang mengedit hasil terjemahanku. Dia juga yang memberi tahu kesalahan-kesalahan pilihan kata yang aku buat, dan dari situ aku semakin tahu konteks penggunaan kata-kata yang salah itu. Selain itu, aku juga belajar menerjemahkan istilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, seperti gadget menjadi gawai, dengan tujuan agar para pembaca mengenal dan tidak asing dengan istilah dalam bahasa kita sendiri. Dalam hal mengedit teknis, aku juga belajar penggunaan tanda baca atau kata yang sesuai dengan EYD, yang sebelumnya aku kurang menguasai.

Selain kemampuan, mental dan kerohanianku di SABDA juga diasah. Aku mungkin salah satu anak magang yang beruntung karena saat aku magang (September dan Oktober) ada banyak acara heboh-heboh yang sedang dilaksanakan di SABDA, seperti roadshow #Ayo_PA!, kopdar SABDA Space, HUT ke-22 SABDA dengan mengadakan TED dua kali, dan juga mengerjakan proyek Film Cinema48 yesHeis. Dari acara-acara tersebut, aku belajar untuk bekerja sama dalam tim, khususnya pada acara-acara TED di mana aku pertama kali bertugas menjadi operator. Aku juga belajar dari acara-acara seperti TED atau bahkan roadshow yang aku ikuti pada bulan September yang melatihku untuk berinteraksi dengan banyak orang yang nggak aku kenal. Dari situ pula, aku bisa belajar untuk menjadi supel, tidak memperhatikan diri sendiri seperti malu atau lain sebagainya. Aku juga terlatih untuk berani berbicara di depan orang, khususnya saat PD atau rapat kecil yang perlu mengeluarkan pendapat, dan terlebih saat aku membawakan presentasi di depan staf.

Dalam kerohanian, aku juga dibiasakan untuk mengutamakan Tuhan dalam keseharian dan kesibukanku. Di tempat ini, aku terbiasa untuk mengikuti PD dan PA yang melatihku untuk merenungkan Firman, lalu membagikannya dengan kelompok kecil. Dari PA yang menggunakan metode S.A.B.D.A tersebut, aku dapat semakin mengenal karakter Tuhan dan apa yang Ia kehendaki dalam hidupku. Metode itu sangat membantuku untuk menggali firman Tuhan sehingga aku merekomendasikan kita untuk memakainya ketika PA. Selama masa magang, aku juga merasakan penyertaan Tuhan nyata dalam hidupku. Dialah yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Awalnya, aku nggak kuat dengan tekanan tugas dan deadline karena dari pertama masuk ada begitu banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum deadline. Di sisi lain, ini baru pertama kalinya aku masuk ke dunia kerja nyata. Aku juga agak kesulitan untuk membagi waktu dan membagi fokus karena aku masih memiliki tanggungan kuliah proposal di mana juga banyak tugas yang harus aku kerjakan. Akan tetapi, lama-kelamaan aku mulai terbiasa dan terlatih. Aku juga bisa beradaptasi dengan staf-staf dengan baik. Mereka nggak pernah sungkan kalau aku tanya atau meminta tolong. Mereka juga ramah, terlebih teman-teman staf satu kost yang selalu mengajak aku terlibat dengan kegiatan-kegiatan mereka. Ini juga salah satu alasan yang membuatku betah dan senang berada di SABDA. Ada banyak hal positif yang aku dapatkan di SABDA sehingga membuatku tetap yakin pada diriku bahwa aku memang nggak salah pilih tempat magang.

Categories: PEPAK

Cerita Di Balik 48 Jam Membuat Karya Bersama

Fri, 11/11/2016 - 08:29

Shalom, Hilda kembali menyapa para pembaca setia Blog SABDA.

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman menarik saya bersama seluruh staf Yayasan Lembaga SABDA ketika mengikuti event Cinema48, sebuah ajang kompetisi dari yesHEis di mana dalam 48 jam para peserta dari berbagai tempat yang berbeda, bersama-sama membuat skrip/naskah, melakukan shooting sampai dengan editing video untuk sebuah film pendek berdurasi 2 -- 3 menit yang menceritakan Kabar Baik sesuai dengan perspektif masing-masing. Sebelumnya, para staf telah dibagi menjadi tiga kelompok besar, dan saya ikut di kelompok ke-3 di mana (kebetulan sekali!) anggotanya didominasi oleh ibu-ibu muda.

Sekitar pukul 18.00, sebagian besar staf mulai berdatangan dan berkumpul di Griya SABDA. Bahkan, ada beberapa yang belum sempat pulang ke rumah sejak pagi demi mempersiapkan hardware-hardware agar bisa digunakan dengan baik untuk proses pengerjaan editing nantinya. Lalu, tepat pukul 19.00, e-mail berisi tema dan instruksi-instruksi persyaratan kompetisi dari panitia masuk dan sempat mericuhkan suasana. Setiap kelompok segera berkumpul dan bersama-sama melakukan brainstroming untuk membuat ide cerita sesuai dengan tema yang diberikan. Bersyukur, sebelumnya kami telah berlatih melakukan brainstorming sehingga kali ini bisa mengeluarkan ide-ide dengan lebih cepat. Meskipun begitu, kami juga sempat mengalami frustrasi karena kami merasa ide-ide yang dipilih masih kurang tajam dan menarik untuk disajikan ke dalam film pendek. Apalagi dengan bergulirnya waktu yang semakin larut, sebagian anggota mulai berkurang karena harus kembali ke rumah mereka. Saya sempat merasa iri dengan kelompok-kelompok lain yang anggotanya masih cukup banyak yang bisa "stay" hingga larut malam. Namun, saya sangat bersyukur, di tengah kekurangan personel, ide cerita berhasil dimatangkan, dan storyboard mulai terbentuk, sudah cukup untuk bahan shooting esok hari.

Pada hari kedua, saya sangat bersukacita karena akhirnya anggota kelompok saya lengkap. Bersama-sama, kami memikirkan kembali ide cerita yang telah selesai dipikirkan semalam dan menunjuk aktor-aktor yang akan memerankan tokoh ceritanya. Kemudian, sekitar jam 12 siang kami berangkat ke rumah Mbak Okti yang merekomendasikan untuk melakukan shooting di jalan depan rumahnya karena di sana ada mural-mural yang sangat bagus untuk dijadikan background pengambilan gambar. Proses membuat shooting adalah hal yang sangat berkesan buat saya. Meskipun ini bukan kali pertama saya melakukan shooting, tetapi proses shooting kali ini sangatlah berbeda karena saya melakukannya bersama dengan orang-orang yang baru pertama kali melakukannya dan saya juga melihat potensi-potensi baru yang luar biasa yang dimiliki rekan-rekan saya. Kami menjadi semakin dekat dan dapat melihat sisi lain dari diri kami masing-masing, yang berbeda dari mode kerja kantor. Namun, yang namanya shooting itu memang menguras tenaga. Begitu kami kembali ke Griya SABDA, kami langsung tertidur kelelahan.

Habis shooting terbitlah editing. Ya, proses ini belum selesai. Masih ada proses editing yang tentunya akan memakan waktu dan kesabaran apalagi storyboard kami cukup complicated. Namun sayangnya, Lukas salah satu anggota yang seharusnya bertugas melakukan editing, pamit karena dirinya kelelahan. Apalagi dalam proyek ini dia adalah aktor utamanya, tentu kami paham betul dia sangat kelelahan. Melihat kondisi kelompok kami, salah satu anggota kelompok lain, Mas Pio menawarkan bantuan dan menolong kami mengedit hasil shooting hari itu hingga pukul tiga pagi. Saya sangat berterima kasih untuk kesediaannya membantu dan itu akan sangat meringankan pekerjaan Lukas esok harinya.

Masih ada lagi masalah lain, yaitu kami harus bergumul dengan judul yang belum ditentukan dan subtitle yang belum dibuat untuk melengkapi persyaratan dari panitia. Hari ketiga, kami habiskan dengan melengkapi hal-hal kecil yang diperlukan dalam komponen film kami. Meskipun saya bilang "hal-hal kecil", hal-hal ini ternyata tidak sesimpel yang dipikirkan. Mulai dari mencari dan memilih background sound yang cocok dengan suasana cerita, membuat narasi untuk menolong pesan dari cerita semakin tersampaikan, proses rekaman di antara riuhnya suasana, semakin dekatnya dengan tenggat waktu pengumpulan, dan proses converting yang terus mengalami masalah. Meskipun begitu, bersyukur kami ternyata berhasil menyelesaikan film pendek kami dan mengumpulkannya tepat waktu.

Benar-benar pengalaman yang sangat menguras tenaga, waktu, dan air mata. Namun, semuanya tidak sia-sia karena akan menjadi pengalaman berharga bagi kami pribadi lepas pribadi. Dari pengalaman ini, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu bagaimana kita menghargai waktu. Waktu 48 jam bisa berlalu begitu saja jika kita gunakan hanya untuk bersenang-senang, tetapi 48 jam juga bisa menjadi waktu yang sangat berharga dan bermanfaat untuk mengabarkan Kabar Baik kepada orang lain. Saya juga menjadi semakin menghargai ide dan karya mereka-mereka yang berkecimpung di dunia multimedia, baik yang dikerjakan oleh rumah produksi terkenal maupun karya-karya indie. Sekarang, saya tahu bahwa proses di balik pembuatan video itu sangatlah rumit dan penuh perjuangan. Saya senang bisa menjadi bagian dari event ini dan mengenal lebih dekat teman-teman di kantor YLSA.

Kiranya para pembaca bisa terberkati melalui sharing saya ini. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.

Categories: PEPAK

+TED @ SABDA, 14 Oktober 2016

Mon, 10/17/2016 - 11:52

Puji Tuhan! Acara +TED @ SABDA yang pertama pada tanggal 7 Oktober 2016 berhasil dilaksanakan. Pada 14 Oktober 2016, acara yang sama diadakan kembali. Jika dalam +TED @ SABDA yang pertama, Ody menjadi ketua panitianya, dalam acara yang kedua, saya yang dipercaya untuk menjadi ketuanya. Secara bersama-sama, seluruh staf SABDA mendukung terlaksananya acara ini, mulai dari berbagi tugas, menyusun acara, mengusulkan makanan, menyediakan alat-alat, hingga menata tempat. Semua tugas ini bisa dilakukan dengan baik karena setiap jenis tugas memiliki seorang penanggung jawab yang mengoordinasi tiap anggotanya. Setiap prosesnya mengajarkan betapa penting komunikasi satu dengan yang lain. Saya bersyukur karena pada 10 Oktober 2014 diadakan evaluasi dari acara +TED @ SABDA yang pertama sehingga beberapa masukan yang baik bisa diaplikasikan untuk acara +TED kedua.

Pada +TED @ SABDA yang kedua ini, tamu yang datang lebih banyak dibanding +TED yang pertama. Sebagian besar tamu adalah teman-teman YLSA dari beberapa organisasi Kristen dan gereja. Meski acaranya sama, tetapi presentator acara pertama dan kedua berbeda. Pada 14 Oktober 2016, ada 8 presentator. Melalui acara ini, kami berharap para peserta semakin bertambah wawasan baru melalui ide-ide, gagasan-gagasan, dan pengetahuan-pengetahuan baru yang disampaikan oleh para presentator. Sementara itu, sisi yang lain, acara ini juga bermanfaat bagi para presentator untuk berlatih menyampaikan presentasi sesuai waktu yang ditentukan, yaitu 12 menit.

Sama halnya dengan Ody, saya juga mendapat berkat dari setiap materi yang disampaikan. Ada 7 materi dalam +TED kali ini, yaitu "Berpikir Kreatif" (Purnawan Kristanto), "Dunia PAUD" (Dhani Pranoto, "Persyaratan Mendirikan Yayasan/Gereja" (Debora Enny), "Days With Jesus" (Agustinus Budi), "Alkitab Yang Terbuka" (Yulia), "Interlinear" (Aji), "Letakkan Tuhan di Tempat Utama" (Thomas Hutomo), dan "Indonesia for God's Glory" (Hagai). Selain presentasi dari pembicara, diputar juga sebuah video TED Talks yang berjudul "Grit: The power of passion and perseverance". Video tersebut akan membantu para pembicara maupun tamu undangan mengerti konsep dari +TED @ SABDA dan hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan kegiatan TED. Secara pribadi, saya terkesan dengan para pembicara yang dapat menyampaikan point presentasi mereka dengan singkat dan jelas, dengan cara yang bervariasi juga, seperti menambahkan video di dalam presentasi mereka. Materi-materi yang dibawakan juga menarik. Melalui video "Grit", saya juga belajar tentang tekad. Tekad adalah salah satu faktor penting, selain kemampuan dan bakat, untuk mencapai tujuan kita. Tekad adalah semangat dan ketekunan untuk mencapai tujuan.

Sebagai ketua panitia, saya berterima kasih atas kerja keras teman-teman yang telah mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan baik, yang tentunya harus dikembangkan lagi untuk dapat melaksanakan tugas lain dengan lebih baik lagi. Tuhan Yesus memberkati. Sampai jumpa di acara YLSA lainnya.

Categories: PEPAK

Semarak HUT Yayasan Lembaga SABDA ke-22: +TED @ SABDA

Mon, 10/10/2016 - 13:10

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-22, Yayasan Lembaga SABDA menyelenggarakan sebuah rangkaian acara +TED @ SABDA dengan moto "Knowledge Worth Sharing". Acara yang terinspirasi oleh konferensi TED di Amerika ini diadakan sebanyak dua kali, yaitu tepatnya pada tanggal 7 & 14 Oktober 2016, di Griya SABDA. Melalui tulisan kali ini, saya ingin sedikit bercerita tentang acara yang diselenggarakan pada tanggal 7 Oktober.

Saya sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk bisa terlibat dalam acara perayaan HUT kali ini. Banyak pengalaman dan pelajaran baru yang saya dapat, baik dari materi-materi yang dibawakan oleh para pembicara maupun dari keterlibatan saya sebagai anggota panitia pelaksana, sekaligus salah satu pembicara TED dari perwakilan staf SABDA.

Meski awalnya terlambat sekitar 20 menit dari jadwal semula, tetapi acara dapat tetap berlangsung dengan lancar, setidaknya dari sudut pandang saya. Mengapa? Karena sekalipun mulainya sedikit molor, tetapi tetap "on-time" dalam kemolorannya. Maksudnya, tidak ada kemoloran lain yang terjadi setelah itu. Semua sesi acara berjalan sesuai dengan durasi waktu yang sudah diperkirakan. Dipimpin oleh MC, acara +TED dibuka dengan menyanyikan dua lagu pujian, yang kemudian disambung dengan doa pembuka, dan langsung dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Yulia selaku ketua yayasan. Selepas itu, MC mengambil peran sebagai moderator, dan sesi presentasi-presentasi ala TED Talks pun dimulai.

7 orang pembicara dalam acara kali ini. Banyak sekali, bukan? Untungnya, masing-masing pembicara hanya diberi waktu 12 menit untuk menyampaikan materinya. Kalau tidak, pasti acara ini akan sangat panjang sekali. Akan tetapi, meski hanya dalam 12 menit, nyatanya tidak ada satu pun materi yang sama sekali tidak memberkati. Saya secara pribadi sangat terberkati melalui materi-materi, seperti "Firman Tuhan, Pemuda, dan Teknologi" yang dibawakan oleh Pak Gunawan, dan "Pemuridan" yang dibawakan oleh Pak Wahyu. Dan, dalam waktu sesingkat itu pun, para pembicara tetap dapat menyampaikan materinya dengan baik. Adapun materi-materi lain yang disampaikan pada hari itu adalah "Proyek Wiki Alkitab" oleh Benny, "Sharing Pelayanan" oleh Ibu Lois Jenks, "Sukses" oleh Pak Yochan, "Keuntungan Menguasai Bahasa Inggris" oleh saya sendiri, dan "Finishing the Task" oleh Pak Paul Jenks.

Selain dari materi-materi yang dibawakan oleh para pembicara, ada hal lain yang juga sangat saya syukuri secara pribadi, yaitu saya dapat berjumpa dan berkenalan dengan orang-orang baru. Setelah acara berakhir, panitia menyediakan minuman ronde yang bisa dinikmati sambil beramah-tamah. Di sanalah, semua orang saling berkenalan dan mengobrol. Di antara banyak orang yang saya temui, saya teramat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk mengenal Pak Paul Jenks beserta istrinya, Ibu Lois Jenks. Mereka berdua merupakan inspirasi bagi saya untuk tetap setia dalam pelayanan karena Tuhan sendiri yang akan senantiasa menyertai orang-orang yang setia kepada-Nya.

Begitu banyak hal yang terjadi. Begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat. Dan, begitu banyak kesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Semuanya itu tidak mungkin dituangkan ke dalam satu tulisan yang ringkas. Kiranya tulisan yang singkat dan jauh dari kata lengkap ini bisa menggambarkan sedikit tentang apa yang kami lakukan di sini, di Yayasan Lembaga SABDA. Kiranya tidak hanya peserta yang hadir saja yang merasa terberkati, melainkan orang-orang lain juga bisa terberkati melalui tulisan ini.

Categories: PEPAK

NOBAR @SABDA

Fri, 10/07/2016 - 08:38

Karena padatnya kegiatan bulan Agustus sehingga membuat beberapa acara sempat tertunda, termasuk acara Nobar (nonton bareng). Sebelumnya, saya mengira acara bakal dibatalkan, tetapi ternyata tiba-tiba ada pengumuman waktu PD Senin (29/8) kalau nanti siang akan ada "nobar" serial Flash Point.

Awalnya, Bu Yulia memberikan sedikit pengantar tentang film yang akan kami tonton tersebut. Bu Yulia menceritakan tentang bagaimana cara kerja tim yang dilakukan oleh SRU dalam menangani sebuah kasus yang mereka terima. Semboyan Tim SRU adalah "Keep Peace", dalam arti bagaimanapun kondisi yang mereka hadapi mereka harus melakukan dengan jalan yang terbaik, terutama jangan sampai melakukan pembunuhan.

Dalam cerita serial Flash Point ini sangat terkait dengan keadaan anak muda saat ini. Film ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Billy yang pandai sekali melukis dan memiliki kepribadian yang unik. Serial kali ini juga memberikan tambahan mengenai bagaimana SRU menyelesaikan sebuah kasus yang mereka terima dari para pelapor. Permasalahan terjadi ketika Billy ini di-bully oleh Scott dan teman-temannya saat membela Ella, teman perempuan di kelas lukisnya. Oh ya, Ella juga sering mendapat perlakuan kasar dari Scott, pacarnya. Dari kejadian tersebut, Billy mengalami perlakuan yang memalukan dan direkam oleh salah satu dari mereka, bahkan rekaman ini disebarkan oleh teman-teman Scott. Peristiwa ini membuat Billy semakin tertekan dan sakit hati karena rekaman ini diterima oleh semua orang di sekolah tersebut. Dari kekesalan hatinya, Billy lalu mengambil langkah balas dendam. Dari sanalah, kisah dimulai dengan banyak adegan dan teka-teki yang mengarahkan penonton untuk menebak akhir dari cerita ini.

Billy lalu mengambil pistol di rumahnya. Dari adegan itu, saya mengetahui kalau kehidupan Billy sangat kacau dan kesepian seperti yang tergambar di lukisannya. Setelah dia mendapatkan pistol, dengan perasaan tertekan, dia mencari orang-orang yang menyakitinya untuk melakukan pembalasan. Dia memasuki suatu kelas, kelas Geografi, dan mencari si pelaku, tetapi justru dari tempat inilah awal dari kesalahan fatalnya. Billy melakukan penembakan di kelas itu, dan kepanikan pun terjadi. Pihak sekolah memanggil Strategic Response Unit (SRU) untuk menangani kasus tersebut, dan tim SRU mulai mempersiapkan apa yang akan mereka lakukan di tempat kejadian.

Saat tim SRU akan beraksi, pemutaran film dihentikan dan staf diberi pertanyaan tentang apa yang kira-kira akan dilakukan oleh tim SRU ini dalam memecahkan kasus penembakan yang terjadi di kelas Geografi. Kami pun berlomba menebak apa yang akan dilakukan jika kita semua menjadi pemimpin SRU. Syarat yang paling utama dalam tim SRU adalah mengutamakan komunikasi dan mengatur strategi dengan cepat, dengan mencari informasi dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam cerita kali ini, mereka bekerja sama dengan penjaga keamanan sekolah.

Apa yang mereka kerjakan sangatlah sistematis dan canggih sekali. Bahkan, saya membayangkan kalau saja itu terjadi di Indonesia, hmmm pasti seru deh. Akhir dari cerita ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Awalnya, saya mengira Billy ini pasti akan membunuh si pelaku, tetapi ternyata dia bisa dibujuk oleh Ella sehingga mau meletakkan pistol. Akan tetapi, karena kecerobohan seorang petugas keamanan, yang mengira anaknya (Toni) sudah ditembak oleh Billy, Billy justru ditembak olehnya. Billy langsung dievakuasi oleh tim SRU sehingga ia tidak meninggal. Akan tetapi, pemimpin SRU sangat sedih karena dia merasa gagal dalam menyelesaikan kasus kali ini. Dia pun berterima kasih kepada Ella yang melakukan tugasnya dengan baik ketika membujuk Billy, sebab tugas itu seharusnya dilakukan oleh tim SRU.

Setelah selesai menonton film ini, hal yang kami lakukan adalah berbagi pelajaran yang telah kami dapatkan dari film ini. Semua staf berbagi kesan tentang cerita, bahkan tokoh-tokoh dalam film ini. Ada yang berkesan dengan bagaimana tim SRU menangani/menyelesaikan suatu kasus, ada juga yang belajar tentang bagaimana mengatur semua tim untuk bisa bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Saya belajar dua hal dari cerita kali ini. Satu, jika kita salah berkata atau bertindak, pastilah kita akan mendapatkan akibat dari apa yang seharusnya kita tanggung, seperti yang terjadi di film ini. Kedua, saya belajar dari Ella yang berani mengambil tindakan yang benar tanpa melihat keadaan yang mungkin bisa membahayakan nyawanya ataupun orang di sekitarnya. Pelajaran kedua ini memberi saya kesan mendalam bahwa saya memerlukan hikmat Tuhan yang akan menolong saya dalam segala kondisi dan keadaan.

Menonton film dengan cerita yang sedikit "sad ending", tetapi membawa pesan yang dalam ini, menjadi salah satu agenda yang sering dilakukan karena selain kami nobar juga belajar dari apa yang kita tonton. Semoga film-film berikutnya juga akan membawa pesan yang berguna.

Categories: PEPAK

Kebaktian Syukur HUT YLSA ke-22

Mon, 10/03/2016 - 08:36

Hut YLSA ke-22 tahun

Menyambut usianya yang ke-22 tahun, Yayasan Lembaga SABDA membuat sebuah "pesta-pesta" kecil untuk memperingati rekam jejak dan karyanya selama ini. Perayaan yang dilaksanakan tanggal 1 Oktober 2016 silam berlangsung cukup sederhana dan hanya dihadiri oleh pengurus dan staf SABDA saja karena acara ini memang dikhususkan untuk kami yang bekerja di YLSA. Sebelumnya, kami berencana untuk merayakan ulang tahun sambil berekreasi ke objek wisata Cokro dan Umbul Ponggok di Klaten dengan mengajak keluarga atau kenalan kami. Namun, berdasarkan beberapa pertimbangan, terutama melihat perkiraan cuaca yang dipastikan akan hujan lebat, maka akan lebih "aman" jika dirayakan "indoor" saja. Akhirnya, kami putuskan melangsungkan acara ini di Griya SABDA yang notabene kantor SABDA sendiri. Pada hari H, saat masih pagi, cuaca sangat cerah sehingga menolong kami menyiapkan segala sarana dan prasarana dengan mudah.

Acara dimulai pukul 09.00 pagi, dengan Ariel sebagai MC. Sikapnya yang supel dan kemampuannya yang mudah menarik perhatian membuat suasana semarak. Nyanyian pujian dipimpin oleh Ayub. Selepas pujian, kami mendengarkan renungan mengenai lima cara belajar firman. Saya belajar bahwa membaca firman saja tidak cukup karena membaca berarti hanya mendapatkan data (fakta) yang belum diolah sehingga pemahaman yang didapat baru sebatas di permukaan. Puncak dari belajar Firman adalah menghidupi Firman. Terkait hal ini, saya teringat tulisan Charles Swindoll yang menyebut bahwa Alkitab adalah petunjuk yang benar dan tepercaya, tetapi membacanya saja tidak akan membuat kita serta-merta menjadi serupa Kristus. Banyak orang Kristen telah membaca Alkitab berulang-ulang, mengikuti kursus-kursus Alkitab, dan berpindah-pindah gereja, tetapi mereka juga adalah orang Kristen yang paling "rewel" dan tidak bertanggung jawab. Hal ini karena mereka tidak beranjak dewasa dengan menerapkan Firman yang mereka baca. Jadi, meski renungan yang disampaikan sangat detail, panjang, dan agak melelahkan bagi saya, menurut saya itu benar dan hendaknya menjadi perhatian staf SABDA yang giat mempelajari Firman.

Perayaan ultah diisi dengan permainan dan sharing. Saya bersyukur untuk Mbak Santi yang berhasil memimpin permainan bertajuk "sejauh mana pengetahuan Anda tentang YLSA" yang bisa mengakrabkan staf dan pemimpin, sekaligus bersyukur untuk yayasan tempat kami berkarya. Lalu, acara disambung dengan sharing kesan dan pesan dari pengurus dan staf mengenai YLSA. Saya bersyukur, pengurus dan staf memberi kesan dan masukan yang positif bagi YLSA. Bahkan, ada pula yang memberikan persembahan baik puisi, video kreatif, maupun nyanyian pujian. Semuanya kami berikan sebagai ucapan syukur kami atas kepercayaan yang Tuhan berikan sehingga bisa melayani di YLSA. Tidak semua sharing saya ingat, tetapi sharing yang paling berkesan bagi saya adalah sharing Ayub yang mengatakan bahwa semua yang terjadi mulai dari awal berdirinya hingga YLSA berusia 22 tahun adalah karena Allah. Ini semua adalah tentang Allah, tentang "HIStory".

Oh ya, ada pelajaran berharga dari persembahan video yang dibuat oleh salah seorang staf YLSA. Video berdurasi 10 menit ini sangat menarik, bukan hanya karena isinya, tetapi karena cocok dengan cara komunikasi generasi abad ini, generasi digital. Secara pribadi, saya sangat menghargai pengorbanan dan usaha si pembuat video karena berhasil menyelesaikannya hanya dalam 1 malam; sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi tanggal 1 Oktober pukul 05.00. Nilai pengorbanan yang saya pelajari di sini merupakan kunci sukses untuk melakukan sebuah pelayanan. Prinsip yang tidak biasa, yang tidak hanya "bekerja sesuai jobdesk saja" akan menghasilkan kesuksesan. Pengorbanan manusia tentu saja tidak akan sebesar yang Yesus berikan, tetapi apa yang Yesus lakukan untuk kita dapat menginspirasi agar kita berjuang lebih sungguh lagi dalam setiap pelayanan yang dipercayakan kepada kita.
Akhirnya, acara ditutup oleh Bu Yulia yang menyatakan kegundahannya dengan masalah SDM YLSA yang masih sangat kurang. Beliau juga mengingatkan supaya kami terus-menerus belajar dan mengembangkan diri karena Allah pun berharap kita terus "naik level" sesuai dengan harapan-Nya. Saya bisa memahami apa yang beliau sampaikan. Apalagi, dalam konteks pelayanan berbasis teknologi, seseorang harus terus menaikkan tingkat pengetahuan dan kemampuannya mengingat teknologi terus berkembang. Saya pikir, pernyataan beliau tidak hanya untuk kami, staf YLSA, tetapi juga untuk setiap hamba Tuhan yang perlu memperlengkapi diri, khususnya dengan cara komunikasi abad ini supaya firman Tuhan tersebar lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang lagi.

Secara umum, perayaan ulang tahun yang ke-22 ini berlangsung dengan baik. Saya ingin menutup tulisan ini dengan ucapan selamat ulang tahun untuk Yayasan Lembaga SABDA yang ke-22. Saya berharap Yayasan Lembaga SABDA tetap bertekun memperjuangkan misi yang dibebankan oleh Tuhan sejak awal berdiri, yaitu pelayanan melalui teknologi. Namun, perlu diingat, betapapun hebat dan besarnya sumber daya yang dimiliki YLSA, yayasan ini tidak bisa bekerja sendirian. YLSA perlu berelasi dan bermitra dengan yayasan atau organisasi lain yang memiliki visi yang sama sehingga pekerjaan pelayanan berdampak lebih luas lagi. Selamat berjuang YLSA, dengan segala kekurangan yang masih ada. Saya percaya ketika Allah sudah memulai pelayanan ini, Allah pula yang akan memimpin dan mengakhirinya dengan baik. Terpujilah Dia, yang empunya ladang pelayanan YLSA.

Categories: PEPAK

ROADSHOW #AYO_PA! DI GBI DEBEGAN

Sat, 10/01/2016 - 12:27

Oleh: Ria*

Saya Ria, staf baru yang sudah mengikuti roadshow #Ayo_PA! dua kali, dan ini adalah roadshow saya yang kedua. Tim SABDA yang berangkat adalah Mas Ariel, Mas Ayub, Mbak Ayu, dan Ibu Yulia. Kami melakukan roadshow di GBI Debegan pada tanggal 27 September 2016, jam 18.30. Sesuai dengan aturan HRD, sehari sebelum roadshow, kami melakukan briefing terlebih dahulu untuk memfinalisasi persiapan yang sudah dilakukan. Karena keputusan saya ikut roadshow mendadak, hanya selang beberapa jam sebelum berangkat roadshow, maka saya tidak mengikuti briefing. Namun, tugas saya adalah menjaga booth SABDA. Kami berangkat pukul 18.00 dengan 3 kendaraan motor karena jarak kantor dan GBI Debegan tidak terlalu jauh. Hari-hari itu, cuaca buruk karena sering hujan di sore/malam hari, tetapi berkat doa teman-teman dan pertolongan Tuhan, cuaca yang sebelumnya mendung berubah menjadi baik sehingga selama pelatihan sampai pulang ke rumah kami tidak kehujanan.

Kami tiba di GBI Debegan kira-kira pukul 18.15 dengan sambutan hangat dari jemaat muda gereja itu dan Ibu pendetanya, Notaris Debora Enny. Saya cepat-cepat mencari meja dan mempersiapkan booth, dan Mas Ayub membantu saya menata CD-CD, DVD, dll.. Sementara itu, Mbak Ayu mempersiapkan file-file untuk presentasi dan juga mempersiapkan tripod untuk rekaman. Di sela-sela kesibukan itu, kami meng-instal aplikasi-aplikasi SABDA kepada peserta yang belum memiliki aplikasi secara lengkap. Acara dimulai agak molor, pukul 18.45 WIB, karena banyak jemaat yang baru pulang dari kerja. Selain itu, peserta ternyata bukan hanya dari GBI Debegan saja, tetapi juga beberapa dari GBI Bukit Zaitun, termasuk bapak dan ibu pendetanya. Kami sangat senang karena ada lebih dari 30 orang yang ikut pelatihan. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda belasan tahun (generasi Z), sepertiga peserta adalah generasi Y dan X.

Sesudah doa dan satu lagu pujian, acara diserahkan kepada MC tim SABDA. Mas Ariel sebagai MC memberi pendahuluan tentang jalannya presentasi dan beberapa pengumuman kecil. Lalu pelatihan dimulai dengan presentator pertama, yaitu Mas Ayub, dengan judul "PA untuk Generasi Digital". Para peserta antusias mengikuti dan memperhatikan presentasi yang dibawakannya. Di tengah-tengah presentasi, Mas Ayub juga memberikan jargon atau yel-yel untuk menambah semangat para peserta.

Presentasi kedua, yaitu "Metode SABDA dan Aplikasi SABDA Android" oleh Bu Yulia. Saat Bu Yulia memberikan presentasi, banyak peserta yang antusias karena mereka juga harus mempraktikkan dengan HP mereka masing-masing. Meski ada peserta yang tidak mempunyai HP Android, tetapi tim kami ada yang meminjamkan HP-nya sehingga mereka akhirnya dapat juga ikut mencoba mempraktikkan. Mereka sangat bersemangat, bahkan sampai tidak memperhatikan apa yang Ibu Yulia katakan. Namun, kami bersyukur karena mereka berespons dengan cepat dan mengaplikasikannya dengan sigap. Jumlah peserta yang berkisar tiga puluhan memang bukan jumlah yang besar, tetapi Tuhan menyertai jalannya presentasi dan setengah dari jumlah peserta dapat mempraktikkan dengan baik sehingga hati kami sangat bersyukur sekali. Mari #Ayo_PA dengan HP Anda! GBU all.

Categories: PEPAK

Pentingnya #Ayo_PA!

Fri, 09/30/2016 - 11:26

Oleh: Illene Victoria*

Sebagai anak magang yang baru mengenal dan masuk dalam dunia kerja, terlebih yang baru bergabung dengan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), mengikuti acara roadshow SABDA adalah pengalaman yang sangat menarik. Menurut saya, roadshow #Ayo_PA! yang diadakan di GKI Coyudan pada Sabtu, 17 September 2016, lalu berjalan cukup baik dan sukses. Pada awalnya, saya merasa pesimis karena sore itu hujan sangat lebat, ditambah dengan kabar bahwa peserta yang mendaftar hanya 25 orang. Tapi ternyata, hujan tidak menghalangi pemuda-pemudi itu untuk datang, terbukti ada 55 orang yang hadir di acara #Ayo_PA! ini. Tim SABDA yang melayani adalah Ibu Yulia, Mbak Okti, Mas Ariel, Mas Ari, Mas Hadi, Mas Pio, Mas Lukas, dan saya.

Tugas saya selain menjaga booth juga menjadi pengamat. Salah satu hal yang saya pelajari adalah tentang koordinasi kerja antara panitia GKI Coyudan dan tim SABDA. Panitia menyambut kami dengan ramah, dan mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab. Saat masuk gedung gereja, saya mendengar mereka sedang berlatih lagu #Ayo_PA! [link]. Wow ... mereka sungguh mempersiapkan acara ini dengan baik. Panitia bahkan membantu kami menata booth, saya merasa terkesan dengan mereka. Meskipun acara mulai sedikit telat, karena hujan, tetapi waktu yang diberikan kepada tim SABDA, yaitu jam 18.00, dimulai tepat waktu.

Selain itu, hal menarik yang saya amati adalah pesertanya. Mereka adalah anak-anak muda dari generasi Z karena mereka rata-rata masih remaja. Kadang, mereka kelihatan bosan ketika mendengarkan penjelasan yang panjang lebar, dan kalau ditanya mereka malu-malu untuk menjawab walaupun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sederhana. Yah ... begitulah remaja. Namun demikian, secara keseluruhan, mereka mengikuti acara dengan baik dan banyak dari mereka juga membuka telepon genggamnya dan membuka aplikasi SABDA untuk mencoba mengikuti instruksi yang diberikan pembicara.

Selama acara berlangsung, saya pribadi belajar tentang pentingnya PA dan juga metode S.A.B.D.A. dari Ibu Yulia. Saat Bu Yulia menyampaikan presentasi dan mendapati respons yang kurang dari peserta, beliau mencari cara untuk sedikit memaksa agar peserta aktif dengan melempar pertanyaan, atau turun ke bawah mendekati para peserta, dan menyodorkan mic kepada beberapa peserta untuk menjawab pertanyaan. Saya melihat hal ini cukup efektif sehingga peserta mulai terlibat. Beliau juga meminta tolong kami, para staf SABDA, untuk mendampingi peserta yang kesulitan mempraktikkan PA metode S.A.B.D.A. dan memastikan peserta sudah mengunduh aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan. Seketika saya melihat peserta sebenarnya juga menikmati dan tertarik untuk belajar karena banyak dari mereka mencatat bahan-bahan yang disampaikan pembicara.

Dari situ, saya belajar dan dituntut untuk tidak egois atau bersikap cuek, tetapi bersikap ramah, tidak perlu malu untuk berkomunikasi dengan orang baru. Yang jelas, saya harus mengutamakan peserta supaya saat pulang mereka membawa sesuatu yang baru yang menjadi berkat bagi hidup mereka. Saya cenderung pendiam jika berada di tempat umum di antara orang-orang asing di sekeliling saya. Saya belajar, saya harus mengubah kebiasaan saya supaya di lain kesempatan saya bisa melayani lebih baik. Saya juga belajar bahwa di mana pun nanti saya menyampaikan presentasi, saya harus mencari strategi bagaimana "audience" ikut serta aktif dan memastikan mereka mengikuti dan memperhatikan presentasi dengan baik.

Di akhir acara, kita bersama-sama menyanyikan lagu #Ayo_PA! dan berfoto bersama. Sebagian dari mereka juga ada yang tertarik melihat booth SABDA. Ada yang mengambil CD-CD Alkitab audio untuk keluarga, ada yang mengambil kertas komitmen membaca Alkitab, dan juga bertanya-tanya seputar PA. Sebelumnya, saya sempat mendengar mereka jarang melakukan PA, dan saya rasa, dengan adanya roadshow ini mereka jadi tertarik untuk kembali melakukan PA. Ditambah lagi dengan langkah yang praktis, yaitu melakukannya dengan gawai mereka. Panitia juga melakukan evaluasi, dan mereka senang atas pelayanan kami dan bisa bekerja sama. Ke depannya, mereka akan menerapkan metode S.A.B.D.A. yang sudah diajarkan dalam komunitas pemuda mereka.

Dari pengalaman baru ini, saya berpikir mungkin dalam roadshow selanjutnya bisa dilakukan semacam training singkat untuk memastikan staf SABDA bisa melayani dengan lebih baik, khususnya tentang bagaimana mendampingi peserta, memastikan mereka mempraktikkan apa yang diajarkan, terlebih jika pesertanya adalah orang-orang yang tidak muda lagi dan kesusahan menjalankan fitur-fitur aplikasi. Saya usulkan diadakan aktivitas sederhana, seperti permainan dan kuis-kuis Alkitab, agar mereka ingat dan senang belajar Alkitab. Kalau peserta terlalu pasif bisa diberikan "ice breaker" untuk mengakrabkan satu sama lain, atau menyediakan pertanyaan-pertanyaan supaya bisa berperan aktif. Sebab, biasanya anak-anak seumur mereka memang cepat bosan kalau hanya mendengar. Akan tetapi, satu-satunya peserta dari Generasi X, seorang bapak dari Magelang, saya perhatikan ia sangat tertarik dan antusias belajar metode S.A.B.D.A. ini.

Secara keseluruhan, acara roadshow #Ayo_PA! sangat baik karena membuat orang mengerti bahwa gawai mereka bisa digunakan untuk kemuliaan Tuhan. Saya pribadi saat pertama kali mengetahui metode S.A.B.D.A. merasa sangat tertarik untuk menerapkannya dalam PA pribadi. Ini hal baru yang dipelopori oleh SABDA untuk memanfaatkan teknologi bagi pembelajaran kebenaran Alkitab. Di samping itu, cara yang diajarkan sangat mudah dan sederhana, terlebih semua aplikasi yang dibutuhkan sudah ada. Saya rasa, SABDA perlu mengadakan roadshow di tempat-tempat lain, seperti luar kota Solo, karena banyak orang yang belum mengetahui cara ini. Saya yakin, ketika mereka mengetahuinya, mereka pasti akan sangat tertarik untuk ber-PA.

Categories: PEPAK

Berbagi Semangat Ayo PA di PPA Bahtera Kasih

Fri, 09/16/2016 - 08:05

Ayo PA di PPA Bahtera Kasih

Halo, pembaca setia blog SABDA (^-^)/, berjumpa kembali dengan saya, Hilda Debora.

Pada blog kali ini, saya akan berbagi pengalaman kedua saya mempresentasikan gerakan #Ayo_PA! kepada sahabat-sahabat cilik di PPA Bahtera Kasih pada Jumat, 9 September 2016. Saya berangkat bersama Mbak Santi, Mbak Indah, dan Lukas. Dalam roadshow kali ini, saya bertugas menyampaikan presentasi 1 mengenai manfaat dan bahaya media digital, Mbak Santi bertugas memberikan presentasi kedua tentang bagaimana ber-PA dengan menggunakan gadget, Mbak Indah bertugas sebagai MC, dan Lukas yang bertanggung jawab untuk dokumentasi. Awalnya, saya merasa tidak percaya diri karena saya tidak pernah presentasi di depan anak-anak. Namun, karena itu jugalah saya termotivasi untuk meng-upgrade diri agar memiliki kapasitas tersebut. Apalagi saya adalah mahasiswa pendidikan yang nantinya akan mengajar. Ini bisa menjadi kesempatan emas bagi saya untuk mengasah diri agar nantinya siap ketika terjun di dunia pendidikan.

Sebelum berangkat, kami terlebih dahulu dibekali dengan berbagai persiapan wajib dari SABDA seperti perbekalan presentasi, latihan presentasi di depan staf-staf lain, dan briefing singkat untuk roadshow kali ini. Briefing kami lakukan bersama Ibu Yulia selaku pemimpin YLSA dan juga Mbak Ayu sebagai penanggung jawab gerakan #Ayo_PA, yang sangat menolong kami dalam memikirkan secara matang segala persiapan dan keputusan yang bisa kami ambil ketika menghadapi kondisi-kondisi yang mungkin terjadi di sana nanti. Tepat pukul 15.00, kami sudah siap berangkat menuju lokasi PPA Bahtera Kasih. Di sana, kami berjumpa dengan para mentor yang sangat ramah dan sigap menolong kami melakukan persiapan. Kami juga sangat tersentuh ketika salah seorang anak bersedia dan senang hati untuk menolong kami membagikan traktat "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu", "Hatiku Rumah Kristus", dan kertas lirik lagu "Ayo PA" kepada teman-temannya. Sambil menunggu persiapan, saya bersama seorang mentor mencoba berlatih lagu "Ayo PA". Saya juga mengajak anak-anak yang sudah ada di dalam gereja untuk ikut berlatih lagu tersebut dan respons mereka pun sangat antusias, sampai-sampai mentor mengira acara presentasi kami sudah dimulai.

Sekitar pukul 16.00, mentor membuka acara dengan puji-pujian dan interaksi dengan anak-anak. Mereka sangat aktif dan antusias dalam mengikuti instruksi dari mentor mereka. Selanjutnya, acara diserahkan kepada Mbak Indah selaku MC, yang kemudian memberi perkenalan secara singkat tentang pelayanan SABDA. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan presentasi dari saya mengenai "Manfaat dan Bahaya Media Digital". Presentasi ini disambut dengan antusias oleh anak-anak PPA. Setelah sesi 1 selesai, presentasi kedua disampaikan oleh Mbak Santi. Dalam presentasi ini, Mbak Santi mengajak anak-anak untuk sadar bahwa PA itu penting dan menyenangkan. Di sela-sela presentasi, kami memutar video metode S.A.B.D.A untuk menjelaskan betapa simpelnya melakukan PA. Oh ya, selain itu, Mbak Indah sangat sigap bahkan sering berinteraksi dengan anak-anak, misalnya dengan memberi kuis untuk mem-follow up materi yang baru saja dipresentasikan, ketika terjadi transisi dari setiap sesi.

Meskipun masih sangat kecil, anak-anak PPA tersebut terlihat cukup memahami materi yang telah kami presentasikan. Bahkan, sesekali mereka mengangguk-angguk dan tertawa kecil, yang mengekspresikan kesadaran mereka akan fakta-fakta bahwa ternyata mereka adalah digital native, dan gadget mereka bisa digunakan untuk belajar firman Tuhan dan bertumbuh secara rohani. Semangat jargon "Gadgetku untuk pertumbuhan rohaniku dan teman-temanku" pun benar-benar terasa. Kami yakin, meskipun saat ini mereka belum memiliki gadget mereka sendiri, setidaknya semangat tersebut telah melekat dalam hati mereka.

Saya bersyukur untuk kesempatan ini. Semoga semangat Ayo PA yang telah kami bagikan bisa menjadi berkat dan mendorong mereka untuk memulai Pendalaman Alkitab dan menumbuhkan hati yang cinta akan firman Tuhan. Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

UMUR SABDA SPACE 9 TAHUN 12 MENIT

Thu, 09/08/2016 - 08:14

Oleh: Tante Paku*

Ada beberapa cara untuk menghitung umur anjing. Bagi mereka yang menggeluti dunia peranjingan pasti memahami cara menghitungnya, tetapi bagi yang konvensional hanya bisa memperkirakan bahwa umur anjing 1 tahun sama dengan 7 tahun umur manusia. Ada lagi yang berpendapat bahwa umur anjing jauh lebih cepat daripada umur manusia saat dua tahun pertama, yaitu tahun pertama anjing sebanding dengan 15 tahun umur manusia.

Kenapa saya memulai tulisan tentang Ulang Tahun SABDA Space yang ke-9 ini dengan mengaitkan umur anjing? Karena saat acara Kopdar, yang dibuka oleh blogger SS Love, ia menyinggung soal anjing. Ia dulu pernah diberi anjing mungil oleh Tante Paku. Blogger Wallcot juga pernah mendapat anjing yang sama mungilnya. Jadi, apakah usia sebuah situs itu bisa disamakan dengan umur seekor anjing?

Tentu saja tidak! Namun, ada kesamaan dalam sisi kedewasaan hidup di media maya ini. Umur 9 tahun bagi SABDA Space tentu sudah dewasa sekali dibandingkan 1 atau 3 tahun pertama sejak di-publish sebagai media yang ingin mewadahi blogger Kristen Indonesia di dunia ini.

Terbakar

SABDA Space sudah melewati masa-masa akil balik yang penuh konflik, banyak suka duka dari para bloggernya, atau sering disebut Blossaser itu. Saat itu, SABDA Space bisa disebut sebagai website Kristen yang paling ramai di dunia, dari pagi sampai pagi lagi selalu ada usernya yang online dan berinteraksi. Saking ramainya, mereka menyebutnya sebagai Pasar Klewer. Apakah sebutan itu membawa berkah?

Pasar Klewer terbakar, sama seperti situs SABDA Space yang ikutan terbakar, adminnya pun ikut kebakaran janggutnya karena tidak punya jenggot. Para blogger senior tak ada titik temu dengan pengelola situs ini, akhirnya banyak yang tidak menulis lagi di SABDA Space atau mengambil cuti untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. SABDA Space pelan-pelan pasti mulai sepi. Hingga akhirnya menginjak usia ke-9 ini SABDA Space sepertinya merindukan kembali saat-saat ramai, tetapi diharapkan ramai dalam kasih, bukan ramai penuh maki, bisakah harapan itu terwujud?

Saya sendiri baru pertama ini menginjak Griya SABDA, sempat kesasar tetapi sebentar, untuk menghadiri Kopdarnas (Kopi Darat Nasional) di ulang tahunnya yang ke-9 ini. Walau tidak banyak yang hadir dari para blogger seniornya, mungkin pemilihan waktu yang kurang pas karena memang bukan hari libur, jadi pesertanya banyak yang tidak bisa datang. Mungkin di lain waktu ada hari-hari yang bisa mempertemukan blogger SABDA Space yang tersebar di berbagai penjuru itu.

12 Menit

Saya baru kali ini paham apa itu presentasi ala TED (Technology, Entertainment, Design). Sebelumnya, saya diminta untuk membuat presentasi ala TED, tetapi saya masih kurang "ngeh". Karena kesibukan pekerjaan, saya memang tidak terlalu memikirkan hal itu. Kopdarnas yang berlangsung pukul 15.30 itu dibuka blogger senior Love, ditemani yuniornya yang sering dipanggil Ariel.

Nyanyi lagu rohani dengan menggubah salah satu kalimatnya menjadi kata SABDA Space membuka acara, dan doa yang dipimpin blogger Victor melengkapinya.

Beberapa blogger pun melakukan sesi TED sesuai dengan keahliannya, mulai dari blogger Okti, Tante Paku, Aji, Purnawan Kristanto, Victor, Liza, Iik J, Sadrah, Ayu, dan Tika.

Karena cukup banyak yang didaulat untuk membagikan pengetahuannya, masing-masing hanya diberi waktu selama 12 menit. Bagi saya itu sudah cukup, mengingat banyaknya blogger yang ditampilkan dalam TED itu, walau secara pengetahuan masih banyak yang belum dikeluarkan oleh para pembicara.

Blogger SABDA Space yang terjauh datang dari Malang, tetapi pihak panitia sudah menyediakan tempat menginap bila memang ingin menginap. Dan, acara akhirnya ditutup dengan makan malam bersama, istilahnya pesta kebun secara sederhana.

Ada rencana setiap 4 bulan sekali ada temu blogger SABDA Space dengan tempat yang bisa dirundingkan nantinya, hal ini untuk lebih mempererat tali kasih persaudaraan para blogger di komunitas ini. Tentu saja, saya harapkan kopdar 4 bulanan itu tidak harus diikuti oleh blogger dari SABDA Space saja, tetapi bisa dari SABDA Space Teens atau blogger dari luar yang barangkali bisa ikut membagikan ilmunya buat kita semua. Tidak terbatas usia lho, yang muda pun harus tampil dengan pengetahuan kekiniannya itu, sebab blogger senior lebih ahli dalam kekunoannya ha ha ha ha ha ha .......

Semoga saja di ulang tahun SABDA Space yang ke-9 ini, pengurus/admin situs bisa menata kembali situsnya agar lebih mudah di akses, tidak sering down, fleksibel dalam term and conditionnya, dan bisa bijak memperhatikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi semua penggunanya.

Salam.

Categories: PEPAK

SABDA Berpartisipasi dalam Lausanne Young Leaders Gathering 2016

Wed, 09/07/2016 - 09:01

Puji syukur bahwa pada acara Lausanne Young Leaders Gathering (YLG), yang diadakan setiap 10 tahun sekali ini, atas providensia Allah, Jakarta terpilih sebagai tempat penyelenggaraan #YLG2016 dan tim SABDA bisa ikut terlibat. Keterlibatan SABDA dalam penyelenggaraan YLG ini pun saya kira bukan suatu kebetulan. Acara #YLG2016 yang diselenggarakan tanggal 2 --10 Agustus 2016 diikuti oleh lebih dari 1.200 pemimpin Kristen dari 160 negara, dengan tajuk "United in the Great Story" atau "Bersatu di Dalam Kisah Agung" ini. Gerakan Lausanne yang dimulai oleh Billy Graham, John Stott, Ralph Winter, Francis Schaeffer, dan pemimpin-pemimpin Injili lainnya adalah gerakan yang bertujuan untuk menjadi fasilitator bagi para pembuat perubahan dan pemikir-pemikir Kristen bagi penginjilan di seluruh dunia, dan meletakkan dasar bagi Ikrar Lausanne, sebuah momen penting bagi gerakan pengabaran Injil global.

Dalam acara #YLG2016, ada 150-an sukarelawan yang membantu agar pertemuan selama 8 hari ini berjalan dengan baik. Saya terlibat dalam anggota tim pendukung teknologi yang hanya beranggotakan sekitar 10 orang. Tugas khusus kami adalah memastikan bahwa setiap peserta yang hadir dapat memasang dan menggunakan aplikasi "Connector", yaitu sebuah aplikasi (iOS dan Android) yang khusus digunakan dalam #YLG2016 ini. Walaupun para peserta telah diminta untuk memasang aplikasi ini jauh-jauh hari sebelum mereka datang ke Jakarta, tetapi sekitar 1/3 dari mereka belum memasangnya pada hari pertama pertemuan. Hari pertama dan kedua adalah hari tersibuk, karena kami harus memasang dan melayani pertanyaan serta kesulitan-kesulitan dari ratusan peserta. Setelah semua telepon pintar peserta terpasang aplikasi tersebut, tugas utama kami berikutnya adalah berjaga di meja "Connect Point" yang merangkap sebagai meja untuk mengisi ulang baterai. Selain itu, apabila ada tim sukarelawan lain yang memerlukan bantuan, misalnya tim konsumsi, maka kami pun turun tangan untuk membantu. Beberapa peserta juga memerlukan bantuan yang sebenarnya di luar tugas kami, misalnya kalau ada peserta yang sakit (cukup banyak), dan sekali dua kali kami membantu mengantar mereka ke klinik atau mencarikan kendaraan untuk kembali ke hotel. Pada hari pertama, kami membantu mengangkat koper mereka ke kamar, dan kembali membantu ketika akan kembali ke negara mereka. Pada hari terakhir, saya juga sempat membantu mencarikan taksi daring untuk mengantar ke bandara.

Beberapa kendala yang sempat timbul, antara lain peserta tidak membawa atau tidak memiliki telepon pintar Android atau iOS. Selain itu, karena berasal dari berbagai negara, banyak yang tidak fasih berbahasa Inggris, dan ada yang hanya bisa berbahasa Perancis, Portugis, Korea, Tionghoa, dll.. Untung kendala-kendala tersebut dapat diatasi oleh para sukarelawan. Untuk jalannya acara, kami sangat bersyukur dapat mengikuti sesi-sesi yang sangat menggugah, yang dibawakan oleh tokoh-tokoh Injili dunia, seperti Ravi Zacharias, David Platt, Nick Hall, Os Guiness, Becky Pipert, dan juga bertemu, berinteraksi, bercakap-cakap dengan puluhan bahkan ratusan pemimpin muda dari seluruh dunia yang Tuhan pakai, perlengkapi, dan utus untuk menyelesaikan Amanat Agungdi tempat mereka berada.

Secara keseluruhan, saya sangat terkesan dan belajar banyak dari penyelenggaraan acara ini yang sangat rapi dan profesional. Acara ini berjalan baik bukan hanya karena sudah dipersiapkan selama 3 tahun, tetapi juga tidak terhitung berapa banyak pendoa yang sudah mendoakan acara ini. Melalui acara ini, mata saya juga kembali dibukakan bahwa Allah masih terus aktif bekerja di seluruh dunia, bahkan di negara-negara yang tampaknya tertutup ternyata masih ada anak-anak Tuhan yang dipakai oleh-Nya untuk mengabarkan Injil di sana. Melihat mereka dan mendengar sendiri kesaksian-kesaksian saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, saya seperti mendapat konfirmasi dari Allah bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan sebelum Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Saya berharap para "atlet-atlet Tuhan" ini 1 pulang ke tempat mereka masing-masing dengan api yang semakin berkobar-kobar 2 untuk memberitakan Injil dan menjadi pemimpin-pemimpin yang membawa perubahan di sekitar mereka.

*1 2 Timotius 2:5
*2 Roma 12:11

Categories: PEPAK

Malam Mingguan dengan #Ayo_PA!

Tue, 09/06/2016 - 11:58

Sabtu lalu (27 Agustus 2016), saya dan teman-teman satu tim, Kak Evie (MC), Kak Ros (Presenter 2), Kak Ody (dokumentasi), dan kak Hadi (Perlengkapan dan video) berkesempatan untuk memberikan materi presentasi ayo PA kepada gabungan pemuda Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Surakarta. Setibanya di GKMI Solo, format acara sebenarnya adalah ibadah gabungan dari pemuda gereja GKMI se-Solo. Kami tiba di sana sekitar pukul 6 sore, kami masuk satu gedung di depan gereja yang biasa dipakai untuk ibadah pemuda dan sekolah minggu, dan kami mulai menata booth dan bahan yang sudah kami bawa. Puji Tuhan, kami disambut ramah oleh hamba Tuhan setempat, Ibu Rotua beserta suaminya Bapak Widodo, dan beberapa teman-teman remaja dan pemuda di sana. Setelah beberapa remaja dan pemuda menampakkan diri, beberapa orang dari tim kami menawarkan untuk install aplikasi Alkitab bagi teman-teman remaja dan pemuda. Beberapa ada yang bersedia, beberapa ada yang enggan, dan beberapa tidak bawa HP.

Acara ibadah dimulai dan kami turut bergabung di dalamnya. Bersyukur bisa beribadah dengan teman-teman baru di GKMI. Setelah beberapa lagu pujian, waktu yang diberikan kepada kami pun tiba. MC dari tim kami, Kak Evie, maju dan mulai menyampaikan pendahuluan dan perkenalan di awal. Ya, memang ada kesulitan tersendiri ketika menghadapi anak-anak remaja. Beberapa anak mulai bertingkah dan membuat sedikit ulah. Namun, kami bersyukur karena MC kami adalah seorang yang sudah berpengalaman. Dengan dibantu beberapa teman, maka beberapa kesulitan tersebut bisa teratasi. Kak Evie juga mengajarkan teman-teman remaja GKMI untuk menyanyikan lagu "Ayo PA", kami bernyanyi bersama, dan kami bisa!

Setelah selesai perkenalan, tibalah waktunya bagi saya untuk menyampaikan presentasi sesi 1 mengenai "Siapakah Generasi Digital?" Sesi satu membutuhkan waktu sekitar 15 -- 20 menit. Berlanjut ke sesi 2 yang di presentasikan oleh Kak Ros mengenai "PA Generasi Digital Abad 21". Waktu yang dibutuhkan lebih lama karena langsung diisi dengan latihan memakai aplikasi Alkitab dan PA dengan metode S.A.B.D.A. Sementara Kak Ros menyampaikan materi dan memberi kami instruksi untuk mencoba, saya, Kak Evie, Kak Ody, dan juga Kak Hadi menolong beberapa teman remaja untuk menggunakan Alkitab, dan mereka sangat bisa untuk belajar dengan cepat. Mereka adalah Anugerah yang harus gereja lihat dengan hati yang penuh belas kasih dan harapan. Ya, walau Kak Ros sedikit mengalami kesulitan menyampaikan materi karena beberapa anak sudah mulai bosan, kami selesaikan hingga akhir. Bersyukur, ada beberapa pengurus gereja dan ketua majelis juga hadir saat itu, juga bersyukur ada 10 pemuda dari Lampung boleh ikut dalam sesi Ayo PA dan melihat peluang besar yang bisa menolong generasi masa depan gereja ini. Beberapa orang sempat memberikan testimoni, dan mereka menangkap inti materi yang sudah kami bawa.

Kami sudah melakukan dengan maksimal, selanjutnya kami memohon belas kasih Tuhan untuk menolong mereka, pribadi lepas pribadi. Saya pribadi memiliki kerinduan besar, gereja harus kembali kepada kebenaran Alkitab dan generasi muda gereja harus ditolong untuk berteman dengan Alkitab dan hidup bersamanya. Mari bergerak menolong dan menjangkau setiap jiwa, #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Pelayanan SABDA di STBI Semarang

Tue, 09/06/2016 - 11:37

Pada tanggal 10 -- 11 Agustus 2016, tim SABDA mendapat undangan ke STBI Semarang untuk mengikuti acara yang diadakan oleh Sinode Baptis. Saya dan Mbak Indah, berangkat dari Solo sehari sebelumnya guna mempersiapkan booth SABDA yang akan dibuka selama acara berlangsung. Pukul 9 malam, kami tiba di STBI. Setelah mendapat kamar untuk menginap di STBI, kami langsung mempersiapkan booth SABDA untuk mendisplay produk-produk SABDA. Kami bersyukur mendapatkan tempat yang cukup strategis, yaitu di sebelah pintu keluar aula. Harapan kami, booth SABDA bisa melayani semua peserta yang hadir, yang membutuhkan bahan-bahan digital untuk memperlengkapi pelayanan mereka.

Acara ini diadakan dalam rangka Ulang Tahun ke-45 gabungan gereja-gereja Baptis Indonesia yang jatuh pada tanggal 10 Agustus. Pagi itu, para peserta, yang adalah hamba-hamba Tuhan gereja Baptis dari berbagai daerah, mulai berdatangan. Ada beberapa orang yang sebelumnya sudah menggunakan bahan-bahan dari SABDA dan menceritakan pengalamannya kepada kami. Selain SABDA, ada beberapa mitra pelayanan lain yang juga membuka booth, seperti IOTA Project, Gereja Baptis Kediri, dan beberapa organisasi pelayanan lain. Kami senang sekali bisa melayani hamba-hamba Tuhan dan mahasiswa teologi yang mampir di booth SABDA. Beberapa peserta merasa terberkati dengan bahan-bahan yang mereka terima, baik bahan berupa CD Alkitab audio, DVD bahan-bahan pelayanan, maupun aplikasi-aplikasi yang kami install ke HP mereka. Menariknya, karena saya dan Indah tidak bisa melayani semua pengunjung booth sekaligus, ada seorang mahasiswa dari STBI yang dengan sukarela menolong kami untuk melakukan instalasi aplikasi-aplikasi untuk belajar Alkitab ke HP teman-temannya. Puji Tuhan!

Keesokan harinya, acara ulang tahun Gabungan Gereja-gereja Baptis ini dilanjutkan dengan Seminar Misi Internasional. Hari itu, Ibu Yulia dan Liza datang dari Solo naik bis untuk bergabung dengan kami. Pada kesempatan itu, Ibu Yulia mendapat kesempatan untuk membawakan presentasi "Mission in the Digital Era". Beliau menyampaikan dua tantangan bagi gereja, khususnya gereja-gereja Baptis. Pertama, mengapa gereja belum memanfaatkan teknologi bagi kemajuan misi? Terlebih di era digital saat ini, yang selain telah mengubah cara orang bekerja, berkomunikasi, cara melayani misi seharusnya juga berubah. Memang terasa bahwa alat-alat digital pada umumnya masih dipakai sebatas kebutuhan pribadi. Tantangan kedua, mengapa gereja belum mempersiapkan diri menyambut "generasi-Z" atau generasi "digital native", yang adalah aset masa depan gereja. Sikap gereja terhadap teknologi digital memberikan dampak yang besar pada penerimaan generasi digital (generasi Z) di gereja. Pada tahun 2020, generasi Z akan memasuki usia produktif (20-25 tahun), apakah gereja akan memberi tempat kepada mereka untuk terlibat dalam kepemimpinan gereja? Beberapa peserta mengakui bahwa mereka memang kurang memikirkan pelayanan untuk generasi digital ini. Melalui presentasi "Misi di Era Digital", peserta, yang sebagian besar adalah para pemimpin gereja, mendapatkan pandangan baru tentang keberadaan dunia digital sebagai ladang misi yang harus segera digarap. Jika gereja tidak memikirkan hal ini, tanpa disadari, hanya generasi "digital imigrant" saja yang akan duduk di bangku-bangku gereja. Akibat yang paling buruk adalah, gereja akan kehilangan satu generasi yang seharusnya menjadi tumpuan gereja masa depan.

Demikianlah rangkuman dari pengalaman selama dua hari di STBI Semarang. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman serta relasi yang saya dapatkan dari acara tersebut. Kiranya apa yang dibagikan dapat menjadi berkat dan nama Tuhan dimuliakan. IT4GOD!

Categories: PEPAK

Hai Pemuda … #Ayo_PA!

Fri, 09/02/2016 - 10:30

Hari Jumat, 8 Agustus 2016 yang lalu, saya bersama dengan teman-teman dari SABDA yang beranggotakan 7 orang beroleh kesempatan berharga untuk melakukan presentasi tentang gerakan #Ayo_PA! kepada para siswa Kristen di SMAN 5 Surakarta. Kami sudah melakukan beberapa persiapan penting sebelumnya, kami benar-benar memastikan tim kami siap untuk melakukan tugas. Setelah itu, kami berangkat menuju lokasi yang biasa dipakai untuk mereka beribadah setiap hari Jumat sepulang sekolah, tempat itu adalah sebuah Gereja Kristen Jawa. Acara dimulai pukul 12.00, waktu yang biasa mereka pakai untuk kegiatan ibadah PSKS (Persekutuan Siswa Kristen Surakarta). Kami datang satu jam lebih awal untuk mempersiapkan tempat dan segala perlengkapan yang akan kami pakai.

Satu keadaan yang unik ketika kami tiba, kami disambut anak-anak kecil yang berada di depan pintu gereja yang tertutup. Mereka adalah anak-anak SD di sebelah gereja yang menunggu untuk dijemput oleh orangtua mereka atau sekadar ingin berkumpul dengan temannya. Singkat cerita, ketika kami mulai menata meja booth dengan bahan-bahan yang kami bawa seperti audio Alkitab, traktat, brosur, dan lain sebagainya, anak-anak ini tertarik dan mulai mendekat, bahkan bertanya banyak tentang sesuatu yang kami bawa. Syukur kepada Tuhan, tadinya saya tidak peduli dengan kehadiran mereka, tetapi saya mulai menyadari suatu hal yang penting ketika mereka mulai mengambil traktat "Hatiku Rumah Kristus", sebagian besar dari mereka bukan anak-anak Kristen. Saya sayup-sayup mendengar obrolan mereka, beberapa anak sangat suka dengan traktat bergambar yang memang dibuat untuk anak-anak. Bersyukur sekali, hati saya kembali tergerak untuk bergumul bagi generasi mendatang.

Waktu mulai menunjukkan pukul 11.30 lebih, beberapa anak kecil tadi sudah mulai menghilang dan bergantian dengan anak-anak SMA yang mulai datang dengan berseragam pramuka sampai hampir memenuhi kursi di dalam gereja. Pukul 12.00 lebih akhirnya ibadah dimulai, diawali dengan beberapa lagu pujian. Setelah itu, akan ada sesi renungan, yang nantinya akan diisi oleh tim kami dengan melakukan presentasi Ayo PA. MC dari tim kami mulai maju dan mulai memimpin para siswa untuk belajar lagu mars #ayo_PA! Setelah mereka selesai menyanyikan lagu, peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu di ruang atas dan ruang bawah. Saya mendapat bagian untuk kelas yang di bawah, diawali dengan presentasi sesi 1 yang mengenalkan tentang siapa diri mereka dalam zaman digital ini. Presentasi yang kedua, yang saya sampaikan, adalah PA (Pemahaman Alkitab) untuk generasi digital (bahan yang disampaikan dalam presentasi 1). Bersyukur sekali melihat antusias teman-teman siswa SMAN 5 Surakarta dalam mengikuti presentasi sesi satu dan dua. Waktu yang disediakan kepada kami sangat pas, tetapi kami bersyukur bisa menyelesaikannya tepat waktu. Semua dikerjakan dengan baik, bahkan hari itu juga peraturan yang telah lama diterapkan kepada siswa, yaitu siswa dilarang membuka Alkitab digital dalam persekutuan tersebut, telah sah dihapus oleh guru pengampu mereka. Beliau juga memiliki kerinduan yang besar dan merekomendasikan supaya tiap siswa memakai berbagai macam aplikasi yang sudah dikembangkan oleh YLSA sebagai bahan pendukung belajar dan diskusi firman Tuhan.

Hari ini, jika Tuhan masih memberi kesempatan untuk kita melayani banyak orang, hal itu adalah kesempatan yang patut kita perjuangkan, terlebih membagikan semangat untuk generasi muda agar mencintai Alkitab dan berteman baik dengannya. #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

Diskusi Facebook Grup e-BinaAnak “Mewujudkan Gereja Ramah Anak”

Thu, 09/01/2016 - 12:56

Dalam suasana memperingati Hari Anak Nasional 2016, Yayasan Lembaga SABDA mengadakan diskusi grup e-BinaAnak di Facebook yang dijalankan oleh tim Pendidikan Kristen.

Diskusi ini diikuti oleh 17 orang yang terlibat dan aktif dalam pelayanan anak. Salah satunya adalah saya. Bagi saya sendiri, mengikuti diskusi ini sangat memberkati. Tidak hanya diperkaya dengan artikel yang telah di-posting moderator, tetapi setiap sharing dari para peserta sangat memperkaya saya untuk melihat pentingnya mewujudkan gereja yang ramah anak. Artikel ini mengajak seluruh anggota grup untuk mendeskripsikan, menganalisa, dan menerapkan gereja yang ramah anak. Tujuan dari gereja yang ramah anak ini adalah kita (gereja) bisa terlibat dengan anak-anak, dengan cara memulai dari diri sendiri, mengetahui posisi kita, temukan tempat di mana kita bergabung, dan melibatkan diri dalam pelayanan anak. Gereja yang ramah anak bukan hanya tugas segelintir guru sekolah minggunya saja, semua jemaat perlu terlibat dalam mewujudkan gereja yang ramah anak.

Pembahasan yang sangat menarik bagi saya adalah pembuatan program yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Hal ini sangat mendorong GSM untuk memikirkan apa kebutuhan anak dan bagaimana memberikan materi ajar yang menjawab kebutuhan anak. Nah, apa yang hendak dicapai sangat perlu diimplementasikan dalam sebuah kurikulum. Mendiskusikan hal ini, membuat saya dan beberapa peserta menyadari bahwa kepentingan pertama bukanlah anak-anak yang hadir ke sekolah minggu, tetapi sudahkah kebutuhan anak akan firman Allah terpenuhi. Sangat penting memperhatikan kualitas para guru sehingga gereja atau departemen anak tidak hanya asal merekrut GSM. GSM perlu diberikan training untuk mengembangkan diri dan melayani anak dengan penuh tanggung jawab.

Selanjutnya, kami juga mendiskusikan topik mengenai "Masa Depan Gereja dan Teknologi (5, 10, 25 Tahun dari Sekarang"). Dalam topik ini, kami diingatkan bahwa anak yang kami ajar adalah para generasi Z. Generasi yang lahir di zaman teknologi menggunakan jarinya untuk mendapat semua informasi yang dibutuhkan. Namun, masih banyak gereja maupun GSM yang gagap teknologi. Hal ini juga menjadi kecemasan tersendiri bagi saya karena anak-anak yang saya layani sudah berkembang sedemikian rupa dan menggunakan berbagai gadget di tangannya, sedangkan para guru masih bergumul dengan metode dan media konvensional dalam mengajar. Inilah PR bagi gereja dan pelayan untuk memaksimalkan teknologi dalam memperlengkapi anak-anak untuk mengenal Tuhan.

Anak tidak hanya pribadi yang dilahirkan, kemudian dibiarkan begitu saja. Anak adalah domba-domba kecil Allah. Anak adalah pribadi yang harus dididik, diajar, dan dituntun untuk mengenal Allah, bertumbuh dalam Kristus, dan dewasa dalam pengajaran Alkitab yang benar. Sebagai pelayan anak, janganlah kita patah semangat. Mari, tetap bersemangat untuk melayani anak-anak layan kita dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Wujudkan gereja yang ramah anak dimulai dari diri sendiri, dan tularkan itu kepada lebih banyak orang. Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

Staf YLSA Mengikuti Training Leadership “Thinking for a Change”

Thu, 09/01/2016 - 11:24

Oleh: Bara*

Training Leadership kembali diadakan oleh EQUIP dan TOTAL pada tanggal 30 -- 31 Juli 2016 yang lalu dengan tema "Thinking for a Change". Ini kali kedua saya mengikuti training leadership yang didasarkan dari buku dan modul dari John C. Maxwell setelah Januari 2016 yang lalu. Waktu itu, saya beserta tim Exodus diutus YLSA untuk mengikuti training leadership bersama dengan beberapa staf YLSA . Seperti yang lalu, training ini diadakan selama dua hari dengan membagi materi ke dalam enam sesi training yang dibawakan secara bergantian oleh Pak Paulus Winarto dan Pak Sunjoyo.

Pada training ini, dibahas 11 cara berpikir yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk dapat memikirkan mengenai perubahan. Kesebelas cara berpikir tersebut adalah:
1. Berpikir mengenai gambar besar.
2. Cara berpikir terfokus.
3. Cara berpikir kreatif.
4. Cara berpikir realistis.
5. Cara berpikir strategis.
6. Cara berpikir probability.
7. Cara berpikir reflektif.
8. Cara berpikir populer.
9. Shared Thinking.
10. Cara berpikir yang tidak egois.
11. Cara berpikir mengenai keuntungan.

Bagian yang tidak kalah menarik dari penjabaran dan pembahasan mengenai masing-masing cara berpikir adalah suatu pengertian mengenai "mengubah cara berpikir kita" yang menjadi landasan ketika kita melatih diri dalam mengembangkan kesebelas cara berpikir tersebut. Saya sangat setuju dengan hal-hal inti yang diberikan pada awal training bahwa mengubah cara berpikir itu tidak terjadi secara otomatis, tetapi membutuhkan perjuangan, proses, waktu, dan membutuhkan usaha yang keras karena mengubah cara berpikir adalah suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Sekalipun demikian, memutuskan untuk mengubah cara berpikir kita merupakan suatu investasi yang layak dan harus dilakukan. Mengubah cara berpikir kita berarti mengubah keyakinan, ekspektasi, sikap, perilaku, performa, dan bahkan mengubah kehidupan kita. Membangun suatu cara berpikir yang baik, yang dapat memberikan perubahan positif pada diri kita sendiri dan orang lain, tentu sangat memberkati dan layak diperjuangkan, bahkan dimiliki oleh setiap orang.

Rekan-rekan saya yang lainnya dari SABDA yang mengikuti training ini, yaitu Liza, Evie, Hadi, Ayub, dan Tika telah menyampaikan pula materi ini kepada rekan-rekan di SABDA. Selama hampir 2 jam, mereka bergantian mempresentasikan materi tersebut agar teman-teman yang lain juga mendapatkan berkat dan bisa mengaplikasikannya dalam pelayanan di SABDA.

Categories: PEPAK

Roadshow #Ayo_PA di Sekolah Kristen Kalam Kudus

Fri, 08/26/2016 - 08:32

Pada tanggal 19 Juli 2016, SABDA mendapat kesempatan untuk mengisi sesi di acara MOS (Masa Orientasi Siswa) yang diadakan oleh SMA Kristen Kalam Kudus, Solo Baru. Tim yang berangkat ke sana ada saya, Ibu Yulia, mbak Evie, Andreas, mbak Ayu, dan Ria. Kami datang di sana sekitar pukul 07.45 pagi. Sesampainya di sana, kami diantar oleh Pak Hendik ke lantai 2. Sambil menunggu sesi sebelumnya selesai, kami mempersiapkan booth SABDA. Setelah sesi sebelumnya selesai, para peserta diberi waktu untuk break sekitar 15 menit. Mereka keluar dan beberapa dari mereka mulai datang mengunjungi booth kami. Para guru pun juga ada yang mengunjungi booth kami.

Kami berbagi tugas, ada yang membantu Ibu Yulia mempersiapkan hal teknis untuk presentasi, ada yang menjaga booth dan ada yang meng-install aplikasi yang dibutuhkan untuk sesi nanti.

Presentasinya tentang "PA Generasi Digital Abad 21". Presentasi ini dibawakan oleh Ibu Yulia. Para siswa-siswi yang ada sekitar 120 anak. Ada juga para guru yang menemani muridnya dan ikut mendengarkan presentasi.

Di tengah-tengah presentasi, Bu Yulia berinteraksi dengan peserta dan mengajak mereka menggunakan HP yang ada untuk bermain game. Gamesnya adalah lomba mengetik cepat! Namun, tidak semua peserta membawa HP karena peraturan sekolah memang tidak mengizinkannya. Karena itu, hanya ada sekitar 20 -- 25 HP yang dapat digunakan. Sebelumnya, HP tersebut di-install aplikasi Telegram dan account mereka dikumpulkan pada 1 grup di Telegram. Mereka diminta mengetikkan 1 kalimat dan dikirim pada grup tersebut. Pada layar LCD satunya dibuka aplikasi chat Telegram tersebut via web, maka yang lain dapat melihat secara real time siapa yang mengetik tercepat. Selain games ini Bu Yulia juga mengajak peserta untuk lomba mencari arti suatu kata di dalam Aplikasi Kamus.

Di akhir presentasi, kita bersama-sama menyanyikan lagu "Ayo PA". Mereka bersemangat sekali saat kita ajarkan lagu ini. Bahkan, mereka sampai meminta untuk mengulangnya beberapa kali.

Bersyukur bisa mengikuti roadshow kali ini. Semoga apa yang sudah dibagikan boleh menjadi berkat bagi mereka.
Soli deo Gloria!

Categories: PEPAK

Berbagi Kerinduan untuk Mencintai Firman Tuhan kepada Digital Natives GKI Mojosongo

Fri, 08/19/2016 - 08:29

Setelah hampir dua tahun tidak melakukan presentasi di luar kantor YLSA, akhirnya tiba juga waktunya bagi saya untuk melakukan presentasi dalam pelayanan roadshow #Ayo_PA! Bersama dengan Tika sebagai partner presentasi, Ayu yang bertugas sebagai MC, dan Lukas yang akan merekam jalannya acara, kami pun melakukan briefing dengan tim roadshow #Ayo_PA di SMP Kalam Kudus pada hari Jumat setelah acara Persekutuan Doa selesai. Esoknya, pada Sabtu sore yang (untungnya) cerah itu, kami bertiga berangkat ke TKP di kawasan Ring Road Mojosongo. Acara presentasi Ayo_PA kali ini akan kami lakukan dalam Persekutuan Pemuda GKI Mojosongo.

Ternyata, tim kami adalah orang-orang pertama yang tiba di tempat acara. Kami sempat menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya dua orang peserta persekutuan datang dan membukakan pintu bagi kami. Setelah berkenalan dan mengobrol sejenak dengan keduanya, kami pun langsung mempersiapkan tempat dan alat-alat yang akan kami gunakan untuk presentasi. Acara yang seharusnya berlangsung pukul 18.00 pun akhirnya harus mundur karena peserta yang lain belum hadir. Mulai pukul 18.15, satu per satu peserta mulai berdatangan, hingga akhirnya terkumpul sampai 10 orang peserta. Dalam obrolan kami dengan para peserta yang rata-rata sudah duduk di bangku kuliah, ternyata banyak dari mereka yang belum mengenal YLSA dan menggunakan produk-produk SABDA. Tanpa membuang kesempatan, Ayu kemudian membantu semua peserta yang membawa smartphone untuk mengunduh beberapa aplikasi Android SABDA seperti Alkitab, Alkitab PEDIA, Kamus, Tafsiran, dan Peta.

Pukul 18.30, acara dimulai dengan lagu pembuka serta sharing dari beberapa orang yang ditunjuk oleh MC dari pihak persekutuan. Setelah sharing dan doa untuk persiapan firman, MC pun menyerahkan acara kepada tim SABDA. Ayu segera mengambil alih kesempatan dengan memperkenalkan Tim SABDA dan memberi sedikit pengantar untuk presentasi kami mengenai pentingnya ber-PA. Setelah itu, saya memulai presentasi "PA untuk Generasi Digital" yang membahas mengenai pentingnya PA untuk pertumbuhan rohani para digital native serta pemahaman bahwa gawai yang mereka miliki dapat menjadi alat untuk ber-PA dan bertumbuh secara rohani. Sekitar 15 menit saya membawakan presentasi yang juga diselingi dengan video itu, sebelum akhirnya tiba giliran Tika untuk memberi presentasi tentang PA dengan metode SABDA beserta tutorial untuk menggunakan aplikasi SABDA dalam ber-PA. Selama presentasi, kami juga membagikan brosur aplikasi Android SABDA, Anda Punya Waktu, dan traktat "Hatiku Rumah Kristus" serta "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu" kepada semua yang hadir.

Sedikit peserta ternyata tidak selamanya berarti buruk. Jumlah peserta yang hanya sepuluh orang ternyata juga memiliki keuntungan tersendiri. Selain semua peserta dapat menerima apa yang kami sampaikan secara fokus, mereka juga dapat dengan mudah mengikuti instruksi yang diberikan Tika saat mencoba mempraktikkan instruksi dari tutorial aplikasi Android SABDA. Dari tanggapan yang mereka berikan, kami dapat merasakan bahwa apa yang kami berikan akan menjadi sesuatu yang berguna bagi mereka. Dan, yang paling penting, mereka kini dapat mengetahui bahwa gawai yang mereka miliki ternyata dapat menjadi media yang sangat berguna untuk semakin mencintai Tuhan dan firman-Nya.

Senang rasanya bisa mendapat kesempatan untuk melayani dan mengenal kelompok digital natives dari GKI Mojosongo ini. Kiranya apa yang sudah kami taburkan dalam hati dan pikiran mereka pada malam itu akan terus berkembang dan pada akhirnya menghasilkan buah-buah yang manis bagi kemuliaan Tuhan.

Sampai jumpa lagi di Roadshow di tempat yang berbeda!

Categories: PEPAK

Komentar