Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 12 min 55 sec ago

Ulang Tahun Pertama di YLSA

Wed, 05/25/2016 - 13:36

Rabu, 18 Mei 2016, adalah kali pertama aku melewati hari ulang tahunku di SABDA dan kali kelima aku melewati hari ulang tahunku tidak bersama dengan orangtua dan adik-adikku. Ya, sejak 5 tahun lalu, aku kuliah di Surabaya dan karena kesibukan kuliah, aku sering tidak bisa pulang ke rumah tepat pada hari ulang tahunku. Akhir tahun 2015, aku bekerja di Solo, yang jaraknya lebih jauh lagi dari rumah. Namun, aku menyadari bahwa setiap tahunnya, aku tak pernah melewatinya tanpa Allah, Sang Pemberi hidupku. Ayat yang mengingatkanku adalah ini, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu" (Yesaya 46:4).

Setiap ulang tahun, aku terus mengingatkan diriku bahwa waktuku untuk melayani Tuhan sudah berkurang 1 tahun lagi. Bersyukur, kalau setengah tahun ini, aku bisa melayani Tuhan di SABDA. Bertemu dengan teman-teman yang mempunyai hati untuk bekerja bagi Tuhan melalui teknologi di era digital ini.

Apa yang akan terjadi ke depan aku tidak tahu, tetapi aku tahu siapa yang pegang hari esok. Ada satu kalimat yang kuingat pernah diucapkan oleh teman sepelayanan di pelayanan mahasiswa sewaktu kuliah, "Tuhan tidak membawamu sampai sejauh ini hanya untuk meninggalkanmu." Ya, Allah yang sudah menyertaiku sampai sekarang, Allah yang sama jugalah yang akan menuntunku menjalani hari-hari ke depan. Soli deo Gloria!

Kategori: Pelayanan
Kata kunci:

Categories: PEPAK

SABDA MENCANANGKAN GERAKAN #AYO_PA!

Tue, 05/17/2016 - 12:26

Oleh: Aji + Yulia

Beberapa waktu ini, saya dan teman-teman di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) disibukkan dengan perancangan sebuah kampanye untuk gerakan mencintai dan memahami Alkitab yang dinamakan #Ayo_PA! Seperti namanya, kampanye ini pada intinya ingin mengajak orang percaya, khususnya kaum muda, untuk kembali memiliki kebiasaan ber-PA (pemahaman Alkitab), dengan fokus pada penggunaan alat digital, dalam hal ini adalah gawai smartphone. Kampanye ini dirasa mendesak karena pemakaian gawai smartphone sudah begitu marak, tetapi umumnya hanya untuk bersosialisasi, entertainment atau hal lain yang membuang banyak waktu, tak terkecuali oleh anak-anak Tuhan. Melalui kampanye #ayo_PA! YLSA tergerak untuk memberi pemahaman bahwa gawai seharusnya digunakan untuk pelayanan, terutama untuk belajar firman. Yang terutama, YLSA ingin mengampanyekan hal-hal yang bersifat lebih dasar seperti apa pentingnya melakukan PA dan bagaimana melakukannya dengan cara-cara yang relevan pada abad ini.

Seperti diketahui, teknologi terus berubah dari generasi ke generasi. Karena itu, cara-cara melakukan sesuatu tentunya tidak lagi sama dengan sebelumnya. Kampanye ini juga dibentuk atas dasar fakta bahwa banyak gereja sudah meninggalkan kebiasaan ber-PA dan pada saat yang sama mereka kehilangan anak muda dengan sangat cepat. Gereja sebagai tubuh Kristus yang dipimpin oleh Roh Kudus seharusnya menjadi organisme yang paling dinamis untuk bertumbuh, tetapi justru menjadi organisasi yang paling kaku dan sulit menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tidak heran jika gereja menjadi tidak relevan dan tidak menarik bagi anak-anak muda. Dalam hal menelaah firman Tuhan, gereja hanya menggunakan metode khotbah sehingga menghasilkan jemaat yang tidak mandiri dan tidak bergairah dalam belajar firman Tuhan. Jika gereja tidak kembali kepada Alkitab dan tidak beradaptasi dengan kemajuan zaman, anak-anak muda zaman ini berpotensi besar menjadi generasi yang terhilang dari gereja.

Gerakan #ayo_PA! lahir dari pemahaman bahwa kemudahan akses Alkitab di mana pun dan kapan pun, tidak bisa menjadi tolok ukur kesadaran seseorang untuk cinta dan hidup sesuai dengan firman Allah. Orang-orang percaya masih perlu dibimbing, dimotivasi, dan diperlengkapi dengan metode dan alat-alat PA yang tepat dan relevan dengan zaman ini. Untuk melakukan kampanye ini, YLSA untungnya tidak perlu memulai dari nol karena sudah memiliki alat-alat aplikasi dan bahan-bahan pendukung seperti Alkitab elektronik, Kamus Alkitab, AlkiPedia, Alkitab audio, dan masih banyak lagi. YLSA juga telah membuka berbagai chat group dan media sosial yang dapat menjadi wadah berkomunitas dan berbagi firman Tuhan. Selain itu, YLSA juga telah menyediakan metode belajar Alkitab seperti S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa + Diskusi, dan Aplikasi) yang membantu anak-anak Tuhan belajar firman Tuhan dengan cara yang terstruktur.

Seperti telah disebutkan di atas, kampanye #ayo_PA! berharap dimulai dengan menjangkau kalangan anak muda, walaupun bukan berarti jemaat umum tidak bisa ikut berbagian. Mengapa anak muda dulu? Alasannya sederhana, kita harus memulai dari satu titik untuk kemudian menyebar bersama-sama ke kelompok-kelompok yang lain. Namun lebih dari itu, remaja dan pemuda adalah kelompok yang paling mudah beradaptasi dengan teknologi ("digital native"). Kelompok ini juga kelompok yang paling lapar rohani dan paling dibutuhkan gereja. Mereka sudah sangat intuitif dalam menjalankan gawai sehingga tidak perlu lagi membuang waktu mengajarkan cara menggunakan alat-alatnya. YLSA bisa langsung memfokuskan diri pada pembelajaran PA dan metodenya. Selain itu, anak muda juga "lahir" di tengah-tengah maraknya media-media sosial sehingga untuk membagikan sesuatu atau "share" dengan teman-teman yang lain adalah hal yang natural bagi mereka. Semua ini tentunya menjadi modal besar untuk menyebarluaskan gerakan ini pada lebih banyak kalangan. Karena itu, jika berhasil dengan kaum muda, mereka bisa menolong generasi "digital immigrant" mengenal teknologi dan secara berdampingan bisa bersama-sama membangun tubuh Kristus belajar firman Tuhan.

Hal yang ironis dan yang menjadi tantangan justru terletak pada para pemimpin gereja (Penatua dan Majelis), hamba-hamba Tuhan, dan para mentor. Kemungkinan besar merekalah yang tidak siap karena mereka terlalu nyaman menjalankan pelayanan gereja dari puluhan tahun yang lalu sampai sekarang dengan cara yang sama. Ini tentunya menjadi kendala tersendiri mengingat merekalah yang seharusnya membimbing dan memimpin kaum muda. Untuk itu, satu poin penting yang perlu dicatat adalah bahwa kampanye #ayo_PA! tidak sekadar mengajarkan bagaimana ber-PA, tetapi bagaimana mengubah cara pandang pelayanan di era digital, khususnya para hamba Tuhan dan pemimpin gereja, sehingga dapat mengubah gereja untuk dapat lebih relevan dan antisipatif terhadap kebutuhan generasi yang akan datang. Perlu dipikirkan bagaimana melakukan pelatihan bagi para pemimpin atau "training for the trainers". Jadi, boleh disimpulkan bahwa kampanye #ayo_PA! adalah juga proyek multiplikasi trainer-trainer PA, yang selain mempraktikkan PA bagi diri sendiri, juga mengajarkan dan menularkan semangat ber-PA itu kepada orang lain yang akan kembali mengajarkannya kepada orang lain lagi.

Saat ini, YLSA tengah mempersiapkan bahan-bahan pelatihan dan mencoba metode-metode PA yang tepat untuk menjadi paket yang bisa diduplikasikan oleh siapa saja yang ingin ambil bagian dalam gerakan #ayo_PA! ini. Sudah dibentuk tim-tim staf YLSA yang akan menguji coba supaya menjadi lebih baik lagi. Selain itu, YLSA masih menyiapkan infrastruktur, seperti situs ayo-PA, komunitas-komunitas di berbagai media sosial, dan bahan-bahan penunjang lain yang dapat menolong keberhasilan gerakan #ayo_PA! Besar harapan kami, juga dapat diikuti oleh komunitas-komunitas lain sehingga memberi dampak luas bagi Kerajaan Allah.

Nah, jika Anda membaca blog ini dan berminat untuk bergabung dalam gerakan #ayo_PA! silakan kunjungi situs #Ayo_PA! < http://ayo-pa.org >. Anda juga dapat kontak kami di alamat email ylsa@sabda.org. Anda juga dapat bergabung dengan komunitas #ayo_PA! di sosial media berikut ini:
Facebook: Ayo PA < https://facebook.com/ayo.ayo.pa >
Twitter: @_ayo_pa < https://twitter.com/_ayo_pa >
Instagram: @Ayo PA < https://instagram.com/ayo.pa >

Mari bersama menjadi pembelajar Alkitab yang tekun dengan cara dan perangkat digital abad ini. Namun, yang terutama, kiranya kita semakin dibukakan oleh Roh Kudus dengan kebenaran firman Tuhan dan rindu hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. #ayo_PA!

Categories: PEPAK

“May God Give You More Time to Change the World”

Tue, 05/17/2016 - 08:14

Oleh: Harjono

Kalimat di atas adalah kesan dari serangkaian ucapan selamat ulang tahun yang muncul dari postingan media sosial, chatting, SMS, dan ucapan langsung. Kalimat yang terinspirasi dari ucapan temanku yang adalah seorang penginjil ini sangat berkesan bagiku, terutama dalam menginjak usia 23 tahun ini.

Mbak Setya pernah sharing bahwa ketika ulang tahun, waktu seseorang semakin berkurang. Waktu terus berjalan dan tak bisa diputar balik, maka Alkitab mengajarkan, "Ajari kami menghitung hari-hari kami, supaya hati kami datang kepada hikmat" (Mazmur 90:12, AYT). Setiap hari, kita membutuhkan hikmat -- wisdom -- agar hari-hari kita tidak dilalui dengan sia-sia. Banyak kali, aku bergumul dengan dosa dan menjalani hidup dengan tidak memuliakan Tuhan, baik melakukan imoralitas, mementingkan hal-hal duniawi, malas membaca Firman, apalagi membagikannya. Begitu banyak waktu yang terpakai sia-sia karena dosa, dan itu menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidupku.

Di sinilah, aku bersyukur dari ucapan ultah saudara-saudara seiman. Bukan sekadar ucapan selamat dan sukses, tetapi ada doa-doa yang terus mendorongku untuk setia kepada Tuhan dan berada di dalam-Nya. Penyertaan Tuhan tersampaikan dari kepedulian mereka, dan berulang kali meyakinkanku untuk setia pada Tuhan Yesus. Setia pada Tuhan itu susah, tetapi itulah hal yang paling indah. Karya kematian dan kebangkitan Yesus yang mengubah hidupku yang fana menjadi hidup kekal nan sejati dan kudus. Aku berharap dapat hidup terus menjadi saksi Kristus sampai akhir hayat. Aku rindu untuk membagi dan menghidupi firman Tuhan di sekitarku, keluarga, teman, apalagi mereka yang belum pernah mengenal Tuhan.

Aku tak akan bisa menjadi saksi jika tidak memahami Alkitab dengan benar. Pemahaman yang benar dan sehat adalah kunci untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah, bukan berdasarkan asumsi atau dorongan pribadi yang biasanya hanya berujung pada dosa dan kembali menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan. Kembali dari kalimat di atas, sebelum berpikir mengubah dunia, kenalilah Tuhan dari firman-Nya. Kamu akan mengalami perubahan yang jauh lebih besar dan sejati di dalam Yesus. #ayo_PA!

Categories: PEPAK

#Ayo_PA di PPA Sorogenen: PA untuk Generasi Digital

Wed, 05/11/2016 - 14:01

Oleh: Ayu*

Pada bulan Mei 2016, YLSA mulai mencanangkan gerakan #Ayo_PA. Gerakan ini bertujuan untuk menolong remaja dan pemuda Kristen menggunakan gadgetnya dengan benar, terutama untuk belajar firman Tuhan. Kegiatan pertama gerakan #Ayo_PA dilakukan dalam bentuk presentasi dan pelatihan singkat untuk melakukan PA dengan gadget kepada remaja di PPA GKI Sorogenen, Surakarta, pada tanggal 2 Mei 2016.

Acara di PPA GKI Sorogenen diprakarsai oleh Ibu Tutik, mentor PPA GKI Sorogenen. Beliau rindu agar anak-anak didiknya menggunakan gadget untuk memuliakan Tuhan dan mendalami firman-Nya. Kerinduan itu akhirnya disampaikan kepada YLSA dalam bentuk undangan untuk mempresentasikan tentang "PA untuk Generasi Digital" kepada anak-anak remaja di PPA GKI Sorogenen. Hal ini menjadi kesempatan bagi SABDA untuk memulai kegiatan #Ayo_PA untuk pertama kalinya.

Sebelumnya, kami membentuk satu kelompok yang ditugaskan merancang konsep acara dan presentasi yang akan disampaikan. Meski topik ini tidak asing bagi kami, tetapi ini kali pertama kami harus menyampaikannya kepada anak-anak remaja. Saya bersyukur, sebab meskipun saya masih baru, tetapi saya mendapat kesempatan untuk terlibat juga dalam pelayanan ini. Dari kelompok tersebut, kami menghasilkan outline presentasi, power point presentasi, infografis metode PA S.A.B.D.A, dan bahan-bahan pendukung lainnya. Teman-teman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Hilda, Ariel, Amidya , Santi , Ibu Yulia, Harjono, Evie, dan saya sendiri.

Setelah melakukan dua kali latihan presentasi, pada tanggal 2 Mei 2016, berangkatlah saya, Evie, Ariel, dan Hilda ke GKI Sorogenen. Hari itu, saya mendapat tugas membuat dokumentasi dan operator, Hilda sebagai pemandu acara, Ariel untuk presentasi sesi satu, dan Evie untuk presentasi sesi dua. Karena tiba lebih awal di lokasi, kami punya banyak waktu untuk mempersiapkan tempat dan memberi tambahan informasi dalam file power point. Kami juga membuat satu slide tambahan yang menampilkan nama-nama aplikasi belajar Alkitab yang harus diinstal di HP peserta. Saya dan Ariel juga sudah siap dengan aplikasi-aplikasi di HP kami. Jika ternyata paket data dan wifi tidak bisa digunakan oleh peserta, kami masih bisa melakukan transfer file dengan bluetooth.

Sekitar pukul 14.50, kami sudah selesai menata ruangan dan produk SABDA. Akan tetapi, masalah muncul ketika kami mencoba menembakkan proyektor, tampilan PowerPoint tidak begitu jelas karena layar bersaing dengan cahaya dari jendela. Lalu, kami sepakat menggunakan LCD Projector yang kami bawa dari kantor dan menembakkan ke tembok yang tidak berdekatan dengan jendela. Kami juga terpaksa mengubah seluruh tatanan kursi agar peserta dapat melihat materi presentasi dengan baik. Dalam waktu singkat, layout ruangan yang baru sudah terbentuk. Nice teamwork!

Banyak dari peserta yang datang masih memakai seragam sekolah. Mereka berasal dari beragam Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan. Sekitar pukul 15.35, acara dibuka oleh Kak Glen dari PPA dengan doa. Tim SABDA kemudian memulai acara dipimpin oleh Hilda dengan memperkenalkan tentang SABDA dan tim yang datang saat itu. Kemudian, acara dilanjutkan dengan presentasi sesi pertama, yaitu presentasi mengenai "Generasi Digital" yang disampaikan oleh Ariel. Sesi pertama ini cukup menarik perhatian peserta karena peserta diperhadapkan dengan kondisi dan kebiasaan mereka sehari-hari sebagai digital native.

Slide tentang checklist "Are you a digital native" berhasil menarik perhatian peserta, dan berbagai respons pun bermunculan. Mulai dari senyum kecut, lirik kanan-kiri, sampai tertawa lebar. Selain menunjukkan pada peserta posisi mereka sebagai digital native, dalam sesi pertama ini peserta diingatkan tentang status mereka sebagai anak muda Kristen, sembari menjelaskan korelasi kedua hal tersebut. Wajah-wajah serius mulai bermunculan, apalagi saat diputarkan video tentang "Gadget vs Me" yang mengisahkan tentang pemuda yang masih selalu tergoda membuka akun media sosial saat ibadah berlangsung. "Yeah, we got the point!" Mereka mulai menyadari posisi mereka sekarang.

Kemudian, untuk mencairkan suasana, Hilda mengadakan "ice breaker" dengan meminta peserta menyusun potongan kertas yang berisi kata-kata dari ayat 2 Timotius 3:16 (AYT), dan meminta mereka mengirimkan ayat yang dimaksud melalui SMS ke Hilda. Ruangan mulai riuh, wajah-wajah tegang sebelumnya mulai mencair, diganti dengan rasa ingin tahu khas remaja. Suasana menjadi semakin riuh ketika mbak Evie memberitahukan cara yang sangat gampang dan cepat yang tidak mereka pikirkan, yaitu dengan menyalin ayat tersebut dari aplikasi Alkitab tanpa perlu mengetiknya. Wah, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh mereka. "What a smart thing to start the second session", yang kontennya memang lebih berat.

Sesi kedua fokus pada pentingnya Pemahaman Alkitab (PA) dan cara-cara melakukannya di era digital ini. Sesi yang menurut prediksi saya akan berat dan membosankan bagi peserta ini ternyata berjalan lancar. Mbak Evie lebih tampil "all out" pada saat presentasi live dibanding pada saat latihan. Mencoba untuk membangun komunikasi dua arah dengan peserta ternyata cara yang sangat membantu peserta untuk tetap fokus. Dalam sesi ini, ditampilkan berbagai metode PA yang dapat dilakukan anak muda Kristen dengan medsos maupun gadget mereka. . Ada metode Anda Punya Waktu, Walking With God , dan metode S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa dan Diskusi, Aplikasi). Dengan melakukan simulasi menggunakan metode S.A.B.D.A, peserta dapat mengalami langsung bagaimana teknologi yang ada dalam gadget mereka dapat menolong mereka untuk memahami firman Tuhan. Dengan memahaminya, mereka dapat melakukannya dalam hidup sehar-hari. Meski hanya beberapa peserta yang membawa HP saat presentasi kemarin, kami berharap "cheatsheet" (berisi sumber-sumber bahan Kristen yang dapat diakses dengan gadget) yang kami bagikan dapat menolong mereka setelah pulang dari acara tersebut untuk melakukan PA dengan cara yang fun dan praktis dengan gadget mereka. Dengan begitu, para remaja ini akan semakin bertumbuh dengan benar di masa mudanya.

Doa penutup dari Ibu Tutik menutup pertemuan kami sore itu. Sebuah doa yang luar biasa menginspirasi saya secara pribadi, yang mengingatkan bahwa apa yang Tuhan taruh dalam hidup saya bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk turut serta dalam pelayanan yang dilakukan SABDA. Sebuah pengalaman luar biasa yang memberi pelajaran tentang pentingnya teamwork untuk bekerja dengan "passion" dan kasih. Selain itu, kami juga dapat melihat dan merasakan bagaimana Tuhan menolong kami di setiap proses persiapan dan selama acara berlangsung.

Salam IT 4 God. Can't wait for the next event.

Categories: PEPAK

Persekutuan Pemuda GKA Abdi Sabda “Awas Belenggu Teknologi”

Wed, 05/04/2016 - 17:53

Awalnya, saya menghadiri acara di GKA Abdi SABDA ini karena didorong oleh Bu Yulia yang terlebih dahulu mengetahui info mengenai acara pemuda di sana. Bu Yulia mengatakan bahwa pada bulan April ini, persekutuan pemuda di GKA Abdi SABDA membahas tema "Teknologi". Sebagai Pemimpin Redaksi APPPS Live, saya pun tertarik untuk mengikuti acara ini. Tema kali ini cukup menarik, yaitu "Awas Belenggu Teknologi". "Hmm ... kira-kira belenggu seperti apa ya yang diakibatkan oleh teknologi? Wah, bisa jadi bahan yang menarik nih," batin saya.

Rencananya, saya akan berangkat bertiga dengan Mas Jono dan Mas Aji. Namun, karena suatu hal, akhirnya kami hanya berangkat berdua, saya dan Mas Aji. Sekitar pkl. 17.00, kami sudah berangkat ke GKA Abdi Sabda meskipun acaranya baru akan dimulai jam enam sore. Kami bertemu terlebih dahulu dengan Bapak Gembala GKA Abdi SABDA, Pak Franky, untuk berbincang-bincang dan meminta izin meliput pertemuan persekutuan pemuda kali itu sekaligus mewawancarai salah satu pelayan di sana, Kak Yeremia. Perbincangan kami cukup seru. Namun, kami harus mengakhirinya karena jadwal Bapak Gembala cukup padat dan kebetulan persekutuan pemuda juga akan segera dimulai.

Persekutuan dibuka dengan puji-pujian dan salam hangat yang ditujukan kepada kami yang baru pertama kali menghadiri persekutuan tersebut. Pemuda-pemudi di sana sangatlah ramah dan murah senyum, saya sampai merasa seperti sudah kenal dan akrab dengan mereka . Memasuki perenungan firman Tuhan, ternyata yang membawakan firman adalah Kak Yeremia. Dia mengawali materinya dengan menjelaskan berbagai tipe generasi berdasarkan kedekatan mereka dengan teknologi. Mulai dari generasi X sampai generasi Z, dan yang akan datang, yaitu generasi Alpha. Dia menyadarkan para pemuda yang hadir bahwa mereka yang termasuk ke dalam generasi Y dan Z (generasi yang telah mengenal teknologi sejak lahir bahkan menjadikannya bagian dalam hidup mereka), dan kini mereka sedang mengalami belenggu.

Generasi ini begitu kental dengan teknologi dan gaya hidup yang serba cepat dan multitasking. Informasi yang mereka dapatkan begitu banyak dan membuat mereka sibuk, baik dalam pekerjaan maupun pikiran. Hal ini menyebabkan mereka mengalami 'Solitude Phobia', yaitu ketakutan terhadap keheningan. Mereka merasa bahwa keheningan itu tidak produktif dan membuat mereka bisa ketinggalan perkembangan zaman. Padahal, sebagai orang percaya, kita membutuhkan keheningan, berhenti melakukan sesuatu, kecuali membiarkan diri kita telanjang di hadapan Allah dan ditemukan oleh-Nya. Keheningan memberikan ruang bagi Allah masuk dan mengerjakan sesuatu dalam diri kita sehingga kita memiliki intimitas dengan Allah. Berikut ini adalah sebuah kutipan yang Kak Yeremia ucapkan dan sangat menegur diri saya,

"Semakin kita tidak membutuhkan keheningan, itulah sebenarnya saat di mana kita membutuhkan keheningan."

Selain itu, saya juga diingatkan, terkadang ada juga orang-orang yang sudah memiliki waktu untuk berhening di dalam hidup mereka. Namun, karena terus dilakukan setiap hari, itu hanya menjadi rutinitas atau "kelatahan", mereka tidak lagi menjiwai dan memaknainya dari hati mereka. Sebagai penutup, Kak Yeremia menegaskan: keheningan bukanlah barang jadi, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Teknologi bagaikan Dewa Janus yang memiliki 2 wajah, ia bisa menghancurkan (destruct), tetapi juga bisa membangun (construct) tergantung kita menggunakannya. Mari menggunakan teknologi bukan untuk menghancurkan hidup kita, melainkan lebih lagi menggunakannya untuk membangun dan memuliakan Allah.

Salam IT4God!

Categories: PEPAK

Dibentuk, Diperlengkapi, dan Diutus

Wed, 05/04/2016 - 17:12

Syukur kepada Tuhan Yesus yang terus menopang saya untuk mengikuti Dia dengan setia. Saya berdoa, Roh Kudus terus bersemayam di hati saya dan memimpin saya dalam setiap langkah yang saya ambil.

Saya juga bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan digital di Yayasan Lembaga SABDA. Selama 8 tahun, saya dibentuk dan diperlengkapi di tempat ini. Tentu saja ada banyak pelajaran yang saya peroleh ketika saya berada di YLSA. Selain belajar mengenal Kristus lebih dalam dengan menggali dan merenungkan firman Tuhan dalam kelompok kecil dan kelompok besar, saya juga belajar mengembangkan ketelitian di dunia tulis-menulis, mengedit terjemahan, mengoordinasi tugas dan teman sepelayanan, dan berbagai keterampilan yang lain.

Pengalaman-pengalaman mengikuti roadshow, piknik bersama, kerja bakti, dan setiap kegiatan di YLSA sungguh tidak akan didapatkan di tempat lain. Apalagi persekutuan yang selalu dilakukan di YLSA. Ini benar-benar memberi warisan berharga bagi saya. Suasana yang menyenangkan bersama rekan-rekan sepelayanan di YLSA pun tidak akan terlupakan, baik waktu bekerja maupun waktu senam dan makan siang bersama. Karenanya, saya sedih karena kini harus "berpisah". Namun, apa mau dikata, ada ladang baru yang harus saya kerjakan. Setelah dibentuk dan diperlengkapi Tuhan, inilah saatnya saya diutus Tuhan Yesus menjadi "martir"-Nya di "dunia". Saya berharap, saya tetap dikuatkan dan dipakai serta dikenan Tuhan Yesus untuk menggenapi rencana-Nya di bumi. Mohon dukungan doa dari Teman-Teman, ya.

Akhir kata, saya tentu berharap bahwa relasi dan silaturahmi saya dan teman-teman di YLSA akan terus terjalin walaupun kita melayani Tuhan di tempat yang berbeda. Terima kasih untuk kebersamaan dan dukungan doa yang senantiasa diberikan oleh teman-teman kepada saya. Terlebih, Ibu Yulia dan suami, sebagai orangtua rohani yang banyak memberikan wejangan dan nasihat. Tuhan Yesus pasti akan menambah-nambahkan hikmat dan semangat untuk mengerjakan ladang-Nya di dunia digital. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Categories: PEPAK

SABDA Mengikuti Seminar Media Internal

Fri, 04/22/2016 - 10:51

Oleh: Aji*

Pengelolaan media sebuah organisasi haruslah dikerjakan secara profesional berdasarkan perencanaan yang matang. Media internal adalah corong organisasi untuk menyampaikan pesan-pesan bagi "stakeholder" dan khalayak pendukung organisasi. Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) juga memiliki media internal (Berita YLSA) untuk menjangkau para sahabat dan pendukung yayasan. Inilah salah satu alasan mengapa Ibu Yulia, Ketua Yayasan Lembaga SABDA, tertarik untuk ikut dalam seminar "Mengelola Media Internal" yang diadakan pada 30 -- 31 Maret 2016 lalu di Griya Solopos. Saya diajak Ibu Yulia untuk ikut karena kami berdua didaulat untuk bisa membagikan kembali apa yang kami dapatkan kepada semua staf YLSA yang tidak ikut (dengan begitu, kami bisa menghemat biaya).

Secara garis besar, seminar ini dibagi menjadi lima sesi. Sesi I -- III disampaikan pada hari pertama, sedangkan sesi IV dan V pada hari kedua. Sesi hari pertama lebih teoritis, yaitu teori dasar jurnalisme, etika jurnalisme, juga filosofi dan perancangan media internal. Lalu, sesi hari kedua adalah brainstorming dan konsultasi/evaluasi perancangan media internal yang sifatnya lebih aplikatif.

Materi hari pertama, antara lain membahas tentang apa itu berita dan bagaimana mendapatkan berita. Pada era banjir informasi seperti sekarang ini, sangat penting ada validitas dan konfirmasi sehingga kontennya dapat dipertanggungjawabkan. Setelah itu, kami belajar secara singkat tentang kode etik jurnalisme yang membahas tentang bagaimana menyajikan kebenaran dengan sikap yang independen dan akuntable (tidak berpihak dan bertanggung jawab) sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

Pada hari kedua, Ibu Yulia tidak bisa hadir karena ada tugas lain yang harus dikerjakan sehingga digantikan oleh Sdr. Rendy dari div. Multimedia. Memang Bu Yulia kelihatan agak bosan mengikuti seminar ini, mungkin karena materinya terlalu dasar dan lebih berorientasi pada media cetak, tidak seperti yang beliau harapkan. Menurut Bu Yulia, sesi hari kedua lebih cocok diikuti oleh Sdr. Rendy karena membahas tentang layout. Sesi hari kedua ini membahas tentang bagaimana memuat konten yang di-layout supaya lebih "menjual". Untuk itu, pembahasan dimulai dari menentukan target pembaca, pilihan jenis media internal, bagaimana menemukan ide, juga trik dan tip dalam mengeksekusi perancangan, mencakup reportase, penulisan konten, penataan konten/layouting, dan terakhir adalah publikasi konten. Materi sesi ini agak mengecewakan karena hanya menitikberatkan pada media cetak dan hampir tidak membahas tentang media online seperti yang dibutuhkan YLSA. Alhasil, kami tidak mendapat materi yang cukup signifikan untuk dibawa pulang.

Memasuki sesi terakhir, seminar ditutup dengan brainstorming. Masing-masing wakil organisasi mempresentasikan rancangan media internal mereka di hadapan pembicara dan para peserta yang lain. Ada peserta yang sudah sanggup merancang media dengan baik, ada pula yang masih belum memiliki ide atau idenya belum jelas. Saya sendiri sebagai wakil YLSA mempresentasikan laman Berita YLSA yang merupakan media internal Yayasan SABDA. Puji Tuhan, saya bisa membawakan presentasi dengan cukup baik sekaligus sedikit berpromosi tentang SABDA dan apa saja produk-produknya. Rendy, sesekali memberikan tambahan-tambahan informasi yang luput saya sampaikan. Saya bersyukur, respons peserta dan redaksi Solopos cukup baik, tetapi kurang lebih tidak ada masukan dari mereka, kecuali ide untuk memberi sentuhan personal dengan penulisan blog. Namun, hal itu pun sudah dilakukan oleh yayasan (Blog SABDA) sehingga hampir tak ada sesuatu yang baru yang bisa menjadi masukan bagi kami.

Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa materi seminar ini kurang sesuai untuk YLSA yang sudah mengelola media internal selama belasan tahun, sedangkan materi seminar lebih berbicara tentang bagaimana merancang media dari awal sekali atau dari nol. Namun, tak mengapa ... meski secara pribadi saya kecewa dengan konten seminar yang diberikan, tetapi di sisi lain saya belajar bahwa YLSA sudah melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam konteks pengelolaan media internal. YLSA sudah memiliki apa yang baru direncanakan oleh sebagian organisasi lain. Oleh karena itu, kondisi ini seharusnya menjadikan YLSA lebih percaya diri dengan apa yang sedang dikerjakannya saat ini meski bukan berarti boleh bersikap sombong dan tak mau belajar lagi. Yayasan SABDA harus tetap rendah hati untuk mau belajar lebih banyak lagi kepada pihak-pihak lain yang lebih berpengalaman, sembari membagikan ilmunya tanpa pamrih kepada mereka yang baru memulai.

Sesuai dengan perjanjian, walaupun banyak sisi minus dari seminar ini, saya, Rendy, dan Bu Yulia wajib mengajarkan ulang materi yang telah kami terima. Oleh karenanya, seminggu kemudian, kami mempresentasikan kembali apa yang kami dapat sekaligus menjawab rasa penasaran yang berupa pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan kami. Setelah bolak-balik dipikirkan, beberapa ide "olahan" muncul untuk diterapkan di YLSA, seperti misalnya meningkatkan keterlibatan semua tim pelayanan dalam membuat Berita YLSA sehingga bukan hanya tim Humas yang mengerjakan. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan di atas, YLSA seharusnya cukup berani menyelenggarakan seminar serupa khususnya untuk gereja-gereja yang memiliki media internal bagi jemaat. Karena itu, Bu Yulia memberi tugas agar setiap tim mengajukan tema-tema seminar yang bisa YLSA selenggarakan untuk menjadi berkat bagi jemaat Tuhan, khususnya di Solo. Kami sangat senang bisa berbagi dan berharap itu dapat memicu kami semua untuk memunculkan ide-ide yang dapat memajukan pelayanan Tuhan di Indonesia. Kiranya para Pembaca mendukung kami dalam doa supaya Yayasan SABDA semakin giat belajar dan sanggup menjadi media yang dapat diandalkan dan menghantarkan orang percaya untuk bersemangat melayani Tuhan.

Categories: PEPAK

Memanfaatkan Google Calendar untuk Pengaturan Tugas di YLSA

Mon, 04/11/2016 - 12:54

Tahun 2016 merupakan tahun berbenah dan mengembangkan kemampuan staf YLSA untuk semakin efektif dalam bekerja. Khusus pada tahun ini, kami didorong untuk dapat mengatur seluruh program kerja yang sudah disusun pada saat Raker. Banyaknya program kerja dapat memicu munculnya masalah-masalah dalam bekerja, entah itu penyelesaian tugas yang mundur dari deadline, tugas yang terlewat, dll.. Oleh karena itu, kami mencari alat untuk menolong kami dalam mengatur pengerjaan tugas sehari-hari. Kami pun mencoba untuk memakai Google Calendar.

Google Calendar adalah fitur kalender yang disediakan oleh Google sejak tahun 2006 dan tidak hanya berfungsi sebagai kalender. Dengan fitur-fitur yang ada, kita juga bisa membuat agenda kerja. Wah, ketika ada instruksi untuk mencoba menggunakan Google Calendar, saya langsung pusing. Selama ini, saya terbiasa menggunakan kalender konvensional, tetapi sekarang saya harus belajar dan menggunakan kalender digital. Setelah mencoba dan mulai merasakan manfaatnya, saya bersyukur sekali bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk bekerja.

Dengan Google Calendar, kita bisa membuat jadwal dan menentukan "blocking time" dalam bekerja. Kita bisa mengagendakan rapat bersama teman-teman dalam satu tim atau antartim dengan waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Bagi seorang pemula, menggunakan aplikasi ini cukup mudah karena kita cukup memilih Calendar, kita klik di tanggal, langsung kita bisa membuat agenda kerja. Selain itu, kalender yang kita buat dapat dilihat oleh sesama teman kerja. Bagi saya, ini adalah prinsip keterbukaan dalam bekerja karena tiap staf dapat melihat program kerja masing-masing tim dan rasa memiliki semakin ditumbuhkan.

Saya sendiri sudah menerapkan Google Calendar dalam bekerja kurang lebih selama 3 bulan. Hasilnya, saya merasa bahwa tugas-tugas di tim PESTA dan Pendidikan Kristen dapat diatur dengan baik. Agenda yang saya buat dapat dinyalakan notifikasinya sehingga tidak ada tugas yang terlewat. Selain itu, saya sungguh bersyukur karena waktu-waktu bekerja menjadi lebih maksimal. Sepanjang hari di kantor tidak ada waktu yang terlewatkan, kami bisa mengerjakan berbagai tugas dengan baik sesuai agenda yang sudah dibuat. Untuk program kerja yang dibagi berdasar tahun, kuartal, dan bulanan juga dapat dijalankan dengan baik.

Pada akhirnya, saya mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah memberi kami (seluruh staf YLSA) kesempatan untuk memanfaatkan teknologi dalam bekerja. Dengan kalender digital ini, kami dimotivasi untuk semakin maksimal dalam melayani Tuhan dalam ladang pelayanan digital. Kiranya nama Tuhan senantiasa dimuliakan di dalam setiap proyek dan pekerjaan yang digarap oleh Yayasan Lembaga SABDA.

Categories: PEPAK

Tentang Menulis

Wed, 04/06/2016 - 16:21

Awalnya, saya tidak terlalu menyadari kalau saya suka menulis. Akan tetapi, setelah saya pikir-pikir, kegiatan menulis sudah saya lakukan sejak saya masih SD. Mulai dari kegemaran saya menulis biodata diri di buku "diary" teman-teman SD, menulis buku harian saat SMP-SMU, menulis puisi dan cerpen saat kuliah, menulis artikel dan renungan saat sudah bekerja, dan sampai sekarang. Selain menulis, ada kegiatan positif yang dulu sering saya lakukan. Saya suka membaca. Kegemaran membaca ini sebenarnya cukup baik karena saya sudah memulainya sejak SD. Mulai dari majalah anak (Bobo), buku pelajaran, dan cerita anak. Dilanjutkan dengan serial Goosebumps, berbagai cerpen remaja, novel-novel Mira W., komik-komik sampai buku Chicken Soup dalam berbagai seri, kumpulan puisi Remy Silado, buku karya Watchman Nee, dsb.. Ketika SMU, kuantitas membaca saya menurun, dan itu berlanjut sampai kuliah. Saya juga masih bingung apa ya penyebabnya. Mungkin karena terlalu fokus dengan pelajaran atau mata kuliah, jadi sudah capek ... hehehe.

Puji Tuhan, seiring berjalannya waktu, saya kembali menemukan keindahan dalam menulis. Saya kangen menulis lagi. Bukan hanya keindahan dalam menulis, melainkan tanggung jawab seorang penulis Kristen, nilai-nilai penting dalam sebuah tulisan, dan bagaimana tulisan kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Inilah yang saya temukan dalam sebuah buletin elektronik e-Penulis yang diterbitkan oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Buletin ini sangat mendorongku untuk kembali menulis, tentunya menulis yang berkualitas. Buletin ini juga menyajikan berbagai informasi dunia literatur Kristen dan umum. Banyak artikel dengan berbagai macam topik, berbagai masalah kebahasaan, informasi seputar situs penulisan, dll. yang disajikan secara rapi dalam buletin ini. Memang tidak serta-merta saya bisa langsung mengaplikasikan informasi yang ada. Akan tetapi, setidaknya ada bekal pengetahuan yang boleh saya kumpulkan untuk saya realisasikan menjadi sebuah tulisan yang berkualitas.

Berawal dari hanya sebagai pembaca buletin e-Penulis, kini saya justru terlibat langsung dalam proses penerbitannya. Mulai tahun 2016 ini, saya menjadi pemimpin redaksi e-Penulis, yang sebelumnya sempat beberapa kali terlibat sebagai staf redaksi. Saya bersyukur atas kesempatan ini dan saya terus rindu untuk bisa mempersembahkan yang terbaik bagi hormat dan kemuliaan Tuhan melalui setiap terbitan e-Penulis. Dalam menjalani panggilan ini, saya belajar banyak hal, baik melalui proses, pemilihan bahan, penulisan, pengeditan, penerbitan, maupun berkorespondensi dengan pelanggan. Semoga saya bisa tetap setia melayani-Nya.

Saya ingin menekankan bahwa wawasan seputar dunia penulisan memang harus ditingkatkan jika kita ingin menghasilkan tulisan yang berkualitas. Akan tetapi, jangan lupa, sebagai penulis Kristen, kita harus memiliki visi dalam menulis. Hidup kita sudah diselamatkan, Allah sudah berbelas kasih kepada kita, hidup kita diperbarui, dan keselamatan kita terima dengan cuma-cuma, itulah yang seharusnya menjadi visi kita dalam menulis supaya tulisan kita bisa menjadi perpanjangan kasih Tuhan. Kiranya banyak pembaca boleh mengenal Kristus dan firman-Nya.

**Tulisan ini juga bisa dibaca di http://pelitaku.sabda.org/tentang_menulis

Categories: PEPAK

Merayakan Paskah dengan Infografis dan Klip Paskah dari YLSA

Fri, 04/01/2016 - 11:11

Satu bulan sebelum Paskah, saya cukup bingung mempersiapkan materi untuk mengajarkan tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus kepada anak-anak di sekolah minggu saya. Saya rindu, Tuhan memakai hari Paskah ini sebagai kesempatan bagi anak-anak untuk memahami lagi makna kasih dan pengorbanan Kristus bagi mereka. Meski mereka masih kecil, saya yakin bahwa anugerah kelahiran baru itu diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, termasuk kepada anak-anak. Tugas saya sebagai pelayan anak adalah menjadi alat Tuhan untuk mengenalkan kebenaran firman Tuhan, yang melaluinya anak-anak dapat mengenal siapa Allah dan Juru Selamatnya, sampai pada akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menerima Tuhan secara pribadi.

Lalu, 3 minggu menjelang hari Paskah, saya tidak bingung lagi. Lusia, koordinator divisi Multimedia YLSA, meminta saya untuk melakukan cek infografis Kisah Paskah sebelum di-upload ke Situs Paskah Indonesia. Saat itu, tiba-tiba saja, AHA! Inilah jawaban Tuhan atas doa saya mengenai acara Paskah di sekolah minggu saya. Infografis inilah yang akan saya gunakan sebagai alat peraga dalam menceritakan kisah Paskah. Alur cerita, mulai dari perjamuan terakhir sampai Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena, terekam dengan sangat jelas dalam infografis ini.

Tren infografis saat ini tidak boleh disia-siakan guna mendukung pelayanan kekristenan. Divisi Multimedia menangkap kesempatan ini. Setelah berhasil membuat infografis Kisah Natal pada tahun 2015 lalu, tahun ini dibuatlah infografis Kisah Paskah yang didasarkan pada kebenaran Alkitab. Alur cerita disusun dengan memerhatikan detail yang dituliskan dalam empat kitab Injil sehingga saya dapat menyampaikan kisah Paskah secara keseluruhan sesuai rentang perhatian yang dimiliki anak, bahkan lebih. Saya menyampaikan kisah Paskah ini dalam waktu 30 menit, dan anak-anak bisa tetap fokus sampai selesai. Karena anak-anak digital native ini senang belajar dengan menggunakan ilustrasi, infografis ini merupakan salah satu strategi yang cukup baik untuk menyampaikan Kabar Baik kepada mereka. Di sela-sela saya bercerita, tidak sedikit terlontar pendapat dari mereka mengenai kematian Tuhan Yesus. Meski mereka sudah sangat sering mendengar tentang kisah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus di sekolah minggu, infografis ini memberikan detail dan pengertian yang lebih mendalam sampai kepada hati mereka. Syukur kepada Tuhan!

Selain menampilkan infografis PASKAH, sebagai penutup, saya putarkan pula video Kasih Ilahi yang Penuh Pengorbanan. Video klip yang berdurasi 1 menitan ini menjadi penutup yang baik untuk mengantar anak-anak merenungkan secara pribadi tentang kasih Allah kepada mereka melalui ketaatan Tuhan Yesus kepada kehendak Bapa-Nya, bahkan taat sampai mati, untuk menebus kita dari perbudakan dosa. Setelah menonton klip singkat ini, anak-anak menyampaikan doa mereka secara pribadi kepada Tuhan. Saya tidak tahu apa yang mereka sampaikan kepada Tuhan. Dalam suasana kelas yang hening, saya hanya mendengar suara berbisik dari bibir anak-anak yang sedang berbicara kepada Tuhan. Kiranya, mereka makin mengenal Allah dan membuka hatinya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya pada hari Paskah itu.

Terima kasih banyak untuk divisi Multimedia YLSA. Kiranya, hasil dari pelayanan dan kerja kerasmu dipakai Tuhan lebih lagi untuk memberkati anak-anak dan gereja Tuhan di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Terpujilah Tuhan!

Categories: PEPAK

Seminar LGBT @Griya Pelikan

Fri, 03/25/2016 - 12:21

Setelah mendapat pesan WhatsApp dari Setya yang menginformasikan adanya seminar LGBT yang akan diadakan di Griya Pelikan pada tanggal 23 Maret 2016, langsung saja saya menjadi antusias untuk mengikutinya. Topik LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) adalah topik yang marak dibahas dalam Medsos dan media cetak maupun elektronik selama 3 bulan terakhir, dan saya menjadi salah seorang yang rajin menyimak diskusi maupun perdebatan mengenai topik ini. Begitulah, akhirnya saya dan Setya datang mengikuti seminar ini, yang diadakan di Griya Pelikan mulai dari pukul 18.00 hingga 21.00.

Seminar dibawakan oleh Bapak Jusuf Tjahjo Purnomo, M.A, Psi., yang merupakan salah seorang staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Sebagai pembuka, beliau mengatakan bahwa meskipun ada berbagai isu terkait dengan topik pembahasan LGBT, yakni dari segi sosial dan hukum, psikologis, dan moral teologis, tetapi pembahasan malam itu hanya akan dititikberatkan dari segi psikologis yang sesuai dengan latar belakang pembicara sebagai dosen psikologi. Seminar kemudian dimulai dengan menyorot pada penyebab seseorang menjadi pelaku LGBT, yang hingga kini masih menjadi perdebatan dari banyak ahli dan kalangan, yakni apakah itu karena pengaruh nature (bawaan), nurture (dipelajari), atau malah kombinasi dari keduanya. Sejauh ini, masih belum ada kesimpulan atau jawaban yang jelas mengenai penyebab dari LGBT karena belum ada penelitian ilmiah yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan dari serangkaian penelitian yang sudah diterapkan. Pembicara sempat menyatakan meskipun ada penelitian yang menyatakan bahwa bagian otak dari pelaku LGBT berbeda dari otak pribadi yang heteroseksual, tetapi penelitian itu tidak menjawab apakah perbedaan tersebut menjadi sebab atau malah akibat dari kecenderungan seksual pelaku LGBT.

Pembahasan kemudian beralih pada konsep normal dan abnormalitas perilaku LGBT. Normal atau tidaknya suatu perilaku pada umumnya dinilai oleh masyarakat sebagai pengawas/hakim pada perilaku anggota masyarakatnya. Secara fakta, komunitas LGBT adalah komunitas yang memiliki distribusi kecil dalam statistik normalitas, alias ditentukan sebagai komunitas yang tidak normal secara seksual. Mengapa tidak normal? Karena jumlah mereka yang jauh lebih sedikit dibanding perilaku masyarakat umumnya yang bersifat heteroseksual. Namun, perlu dicatat bahwa apa yang dianggap normal atau dapat diterima dalam setiap komunitas masyarakat bersifat relatif, bukan mutlak. Artinya, apa yang dianggap tabu atau buruk dalam sebuah komunitas, bisa jadi dianggap wajar dalam sebuah komunitas di satu wilayah atau negara. Budaya sunat perempuan misalnya, yang dianggap sebagai perilaku tradisi yang kejam di banyak negara barat, ternyata menjadi sebuah perilaku yang justru dapat berakibat pada pengucilan anggotanya jika tidak dilakukan dalam budaya sebuah komunitas di NTT. Nah, fenomena yang sama rupanya terjadi juga bagi komunitas LGBT, yang pada awalnya dianggap sebagai komunitas minor, tabu, dan ditolak di berbagai wilayah di dunia.

Pada tahun 1992, WHO sudah menyatakan bahwa perilaku homoseksual bukanlah sebuah penyakit atau gangguan, berdasarkan dari konsep medis atau psikologis. Perilaku LGBT disepakati sebagai sebuah deviasi atau penyimpangan, merujuk pada konsep norma sosial, karena para pelakunya melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma masyarakat secara umum. Namun, menariknya, dalam abad ini sikap masyarakat terhadap persoalan LGBT dapat sangat berbeda-beda di setiap tempat dan negara yang disebabkan karena setiap tempat dan negara memiliki budaya, pola pikir, juga landasan teologis yang berbeda satu sama lain. Perilaku LGBT yang dianggap tidak normal di beberapa negara, termasuk Indonesia, kenyataannya telah diterima dengan baik bahkan dianggap sebagai sebuah gaya hidup yang normal di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Dan, pengakuan dari WHO ternyata kian menjadi dasar yang kuat bagi kaum LGBT untuk semakin mengukuhkan diri sebagai komunitas yang normal dan tidak berbahaya seperti penyakit menular. Pada akhirnya, penerimaan LGBT sebagai sebuah gaya dan pilihan hidup beserta legalitas di berbagai aspek kehidupan menjadi agenda besar dari komunitas LGBT di seluruh dunia. Advokasi, perjuangan melalui jalur hukum, media, isu-isu HAM, menjadi cara-cara yang dilakukan dalam pergerakan LGBT agar komunitas mereka semakin mendapat tempat dalam masyarakat, serta mendapat pengakuan legal dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dari gereja dan kaum spiritual. Ironis.

Sayang sekali, pembicara tidak menutup acara seminar dengan topik yang kontroversial ini dengan kesimpulan yang tajam. Meskipun cukup banyak informasi yang kami terima, tetapi saya pribadi merasa tidak ada pesan yang digemakan dengan cukup dalam melaluinya, yang dapat membuat seluruh peserta seminar pulang tidak hanya dengan sekadar informasi baru, tetapi juga dengan sebuah kesadaran dan pemahaman yang baru untuk lebih bersikap kritis. Bagi saya, itu menjadi sebuah poin penting karena saat ini gereja tengah mengalami tantangan zaman, salah satunya dengan isu LGBT, sehingga setiap orang percaya seharusnya memiliki pemahaman dan sikap kritis yang benar dalam menyikapinya.

Anyway, tetap senang bisa datang ke acara-acara semacam ini, dan saya menantikan topik seminar lainnya dari Griya Pelikan dalam waktu-waktu yang akan datang. So, see you next time with another topics and issues

Categories: PEPAK

Piano, Sebuah Mimpi yang Diwujudkan Tuhan

Mon, 03/21/2016 - 12:34

Belakangan ini makin sering terdengar lantunan nada-nada indah nan merdu dari dalam ruang perpustakaan, sekaligus ruang training, Yayasan Lembaga SABDA. Memang benar, hadirnya sebuah piano di dalam ruangan itu sungguh memberikan suasana yang berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Apabila tadinya kami pergi ke ruangan itu hanya untuk membaca atau mencari sumber bahan, sekarang kami bisa bermain piano sambil bernyanyi dan bersenandung ria. Saya dan teman-teman sering melakukannya. Ketika jam kerja berakhir, saya kadang akan bermain piano dan teman-teman bernyanyi, atau sebaliknya. Dengan alat-alat musik lain yang sudah lebih dulu hadir di sana, yaitu gitar dan cajon, berada di ruangan tersebut bisa menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dari seluruh aktivitas hari itu.

Bagaimana YLSA bisa memiliki piano? Ternyata bermula dari mimpi Ketua YLSA, Ibu Yulia, yang merindukan adanya piano untuk melengkapi acara-acara resmi YLSA dan juga meramaikan hari-hari persekutuan bersama staf. Musik selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan orang Kristen. Diceritakanlah mimpinya itu ke Pak Josep Tong, bekas dosen dan mentor Bu Yulia saat beliau menempuh studi teologia. Bu Yulia sengaja kontak Pak Joseph Tong karena tahu kalau saudara Pak Joseph Tong, yaitu Pak Solomon Tong melakukan jual-beli piano. Pak Solomon Tong sangat terkenal karena beliau adalah pendiri dan ketua dari Surabaya Symphony Orchestra yang selalu menyelenggarakan Christmas Orchestra pada setiap Desember di Surabaya. Bu Yulia memulai dengan bertanya apakah Pak Solomon memiliki piano yang baik dan murah yang bisa dibeli YLSA. Ketika Pak Joseph Tong tahu bahwa YLSA hanya punya sedikit uang yang dapat disisihkan untuk membeli piano, beliau pun menanggapi dengan berkata bahwa uang yang sedikit itu hanya bisa untuk membeli piano 'junky'. Pak Josep Tong dengan baik hati menawarkan bantuan. Setelah melakukan pembicaraan dengan Pak Solomon, mereka berdua sepakat untuk membantu karena kebetulan ada sebuah piano bekas yang masih baik yang siap dikirim ke Solo. Kekurangan dana ditanggung oleh Pak Joseph Tong, sedangkan ongkos kirim piano ke Solo ditanggung oleh Pak Solomon Tong. Luas biasa!! Tuhan punya banyak cara untuk menghadirkan karya-Nya di tengah-tengah kehidupan anak-anak-Nya.

Alhasil, pada bulan November 2015, mimpi itu terwujud. Sebuah piano cantik menjadi "penghuni" baru ruang training di Griya SABDA. Piano yang siap mengiringi setiap pujian yang dinaikkan staf YLSA bagi Tuhan. Bersyukur, ada beberapa staf yang bisa memainkannya, seperti Liza , Tika, dan saya sendiri sehingga tidak perlu menunggu lama, piano tersebut bisa langsung digunakan dalam persekutuan staf dan acara-acara lainnya. Puji Tuhan!

Meskipun tidak begitu piawai seperti layaknya seorang pemain piano yang sudah ahli, saya cukup bangga dengan kemampuan saya memainkan alat musik tersebut. Bagi saya, bisa bermain piano merupakan salah satu karunia Tuhan yang paling saya syukuri di dalam hidup ini. Melihat piano sering mengingatkan saya akan kenangan masa lalu. Saya masih ingat persis ketika saya pertama kali belajar memainkan piano. Semuanya berawal ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, dan saya sangat ingin sekali bisa memainkan alat musik gitar pada waktu itu, terlebih gitar elektrik. Gereja kami saat itu menyelenggarakan program untuk melatih kaum pemuda dan remaja bermain musik melalui les musik privat. Tentu saja, saya sangat antusias dan mendaftarkan diri untuk belajar bermain gitar. Alih-alih mendapatkan ilmu yang spesifik dengan masing-masing instrumen yang kami pilih, kami semua malah diharuskan mempelajari piano terlebih dahulu. Sejujurnya, saya merasa kecewa ketika itu. Namun, justru dari situlah, kemampuan saya bermain musik diasah dan ditajamkan. Bahkan, dengan mempelajari piano, saya juga dapat mempelajari instrumen-instrumen lain dengan lebih mudah. Oleh karena itu, saya tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi, saya justru sangat mensyukurinya. Perjalanan saya bersama piano masih belum usai dan akan terus berlanjut. Harapan saya adalah supaya karunia yang telah dipercayakan Tuhan kepada saya ini tidak menjadi sia-sia dan saya dapat mempersembahkan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya.

Saya dan teman-teman di SABDA selalu bisa berlatih dan bermain kapan pun ada waktu senggang, entah itu sepulang kerja, ketika akhir pekan, setelah makan malam, atau kapan pun. Piano ini mengingatkan kami akan kebaikan Tuhan. Sesuatu yang kami hanya anggap suatu mimpi, diwujudkan Tuhan dengan indah. Tentu saja, Tuhan memberikannya bukan untuk kesenangan "para pemain piano" dan "pemuji" di SABDA, tetapi untuk kesenangan Dia. Saya percaya bahwa berkat apa pun yang diberikan oleh Tuhan harus digunakan, dikembangkan, dan pada akhirnya harus dipersembahkan kembali demi kemuliaan nama Tuhan. To God be the glory!

Categories: PEPAK

Seminar SABDA di Jakarta International Christian Fellowship (JICF)

Tue, 03/15/2016 - 11:54

Permintaan untuk memimpin seminar misi di JICF seharusnya dilakukan pada Januari 2016. Namun, karena saya harus menjaga Tante (adik Ibu) yang sedang sakit akibat stroke di rumah sakit, ditambah dengan kaki saya yang keseleo berat pada awal Januari, maka seminar JICF berbaik hati mengundur seminar menjadi 6 Maret 2016. Puji Tuhan, setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Jakarta setelah hampir 5 bulan lebih tidak bisa pergi ke luar kota karena harus menjaga Tante yang sakit dan menunggu pemulihan kaki saya.

Topik tentang "misi" sangat sejalan dengan visi dan misi pelayanan Yayasan Lembaga SABDA. Karena itu judul yang saya pilih adalah "The Digital WORD for a Digital World". Intinya, atau sub judulnya adalah, bagaimana menjalankan misi Allah (Kabar Baik) kepada dunia yang sekarang ada di era digital (Doing Mission in a Digital Era). Selain sebagai gereja/persekutuan yang menyelenggarakan kebaktiannya dalam bahasa Inggris, terus terang saya sebenarnya kurang mengenal JICF. Saya hanya berdoa kiranya Roh Kudus menuntun sehingga apa yang saya bawakan akan menjadi berkat bagi jemaat JICF. Puji Tuhan, setelah mengenal mereka dari dekat, saya melihat bahwa JICF sangat mengedepankan misi, terlihat dari laporan keuangan yang menyebutkan bahwa 47% budget gereja tahun lalu dipakai untuk pelayanan misi. Sangat jarang ada gereja di Indonesia yang dana terbesarnya adalah untuk pelayanan misi.

Dari Pak Wan, salah satu pemimpin dari pelayanan misi, saya mendapat informasi bahwa SABDA juga boleh buka booth untuk melayani jemaat yang hadir pada dua kebaktian Minggu pagi sebelum seminar pada siang hari. Karena itu, saya senang sekali ketika mendapat kesempatan untuk memberikan dua kali (kebaktian jam 08.30 dan jam 10.00) presentasi singkat tentang pelayanan booth SABDA kepada seluruh jemaat JICF (total hampir 400 -- 500 orang). Puji Tuhan, banyak jemaat yang datang ke booth SABDA untuk mengambil CD-CD Alkitab Audio dalam berbagai bahasa; DVD bahan-bahan pelayanan anak, konseling, dan biblika. Juga, traktat penginjilan "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu" dan traktat "Hatiku Rumah Kristus" banyak diminati. Sebagaimana disebutkan dalam presentasi, bahan-bahan yang dibagikan SABDA ini bukan hanya untuk mereka, tetapi terutama untuk menjadi alat pelayanan bagi teman-teman mereka yang membutuhkan.

Seminar diadakan pada jam 12.30 siang (setelah kebaktian kedua) di ruangan yang biasa dipakai untuk sekolah minggu dengan diawali makan siang bersama. Jemaat yang hadir ternyata tidak terlalu banyak (25 orang), dan memang beberapa orang sempat datang ke saya dan minta maaf tidak bisa hadir karena sudah ada acara sebelumnya. Isi seminar dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama membicarakan tentang dunia yang berubah karena perkembangan teknologi yang demikian maju dan peran teknologi bagi Kerajaan Allah. Bagian kedua lebih menekankan kepada teknologi dan misi. Bagian kedua ini menurut saya yang paling menarik karena pengertian misi di era digital sudah tidak lagi sama dengan sebelumnya. Lebih dari setengah penduduk dunia sekarang sudah terkoneksi aktif di dunia digital karena di sanalah mereka hidup, berelasi, dan berkomunitas. Karena itu, tidak heran jika dunia digital saat ini telah menjadi ladang misi terbesar abad 21. Terakhir, bagian ketiga membicarakan tentang bagaimana gereja memulai pelayanan misi dengan memakai teknologi, khususnya dengan smartphone dan media sosial.

Peserta yang mengikuti seminar memberikan tanggapan yang cukup positif walaupun banyak dari mereka yang menganggap diri "gaptek". Semoga seminar ini membuka wawasan bahwa di era digital saat ini, melakukan pelayanan misi tidak harus pergi ke benua lain atau meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Ketersediaan teknologi membuktikan bahwa Allah turut bekerja "menyempitkan dunia" sehingga yang terhilang dapat dijangkau hanya lewat alat yang ada di tangan kita. "Sampai semua orang mendengar Kabar Baik", maka waktu kedatangan Kristus yang kedua kali akan semakin dekat. Marilah bekerja selagi hari masih siang.

Categories: PEPAK

Perpisahan dengan Staf Magang

Fri, 03/11/2016 - 11:40

Oleh: Ariel Wicaksono*

Sabtu, 27 Februari 2016. Cuaca mendung tidak menghalangi para staf YLSA untuk mengadakan persekutuan staf. Persekutuan kali ini tidak seperti persekutuan biasanya karena kali ini sekaligus "merayakan" perpisahan dengan mahasiswa magang (Cleming, Steven, Bara, dan Alex). Persekutuan diadakan di rumah Bara..

Ibadah dimulai dengan menyanyikan beberapa lagu pujian yang dipimpin oleh mbak Evi dengan iringan gitar dan kajon. Kemudian, dilanjutkan dengan Renungan dengan tema DABDA (Denial, Anger, Bargaining, Deppression, Acceptance). Renungan ini memang ditujukan terkhusus kepada mahasiswa yang sudah selesai magang, sebab mereka pasti akan merasakan kelima hal tersebut. Sesuatu yang menyedihkan (dalam hal ini perpisahan) pasti akan diikuti oleh hal-hal tersebut. Acara dilanjutkan dengan permainan yang dipimpin oleh saya sendiri. Permainannya cukup seru walaupun harus diulangi karena tidak berjalan seperti yang direncanakan. Permainan ini berjudul "Battleship". Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok (1 kelompok 4 orang) dan mereka diminta membuat nama kelompok sesulit mungkin supaya susah dikenali oleh musuh. Nah, gagalnya permainan ini karena tim YLSA adalah orang-orang yang kreatif sehingga mereka membuat nama yang sangat-sangat sulit sehingga bukan hanya musuh yang tidak dapat menghafalkan nama kelompoknya, bahkan anggota 1 tim pun kesulitan menghafalkan nama kelompok sendiri. Dan, permainan pun berjalan tidak lancar. Akhirnya, permainan diulang dengan membuat nama kelompok lain dengan syarat nama harus unik. Peperangan cukup seru, ada yang salah menyebut nama musuh, ada yang salah menyebut nama sendiri, ada yang cuma bengong, tetapi semuanya terhibur dan menambah keakraban di antara kami.

Kemudian, tibalah acara puncak saat masing-masing anggota magang menyampaikan kesan dan pesan selama magang di YLSA. Setelah itu, secara bergantian para staf menyampaikan kesan dan pesan kepada tim magang. Teman-teman magang sendiri mengaku sangat senang bisa diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melayani di SABDA meski hanya 2 bulan. Banyak pelajaran baru yang mereka dapatkan, bukan hanya pelajaran untuk menambah kompetensi mereka, tetapi juga pelajaran untuk memiliki hidup yang erat dengan Tuhan. Semua kegiatan di SABDA menolong mereka untuk belajar arti melayani Tuhan. Staf SABDA pun bersyukur bisa belajar banyak dari teman-teman magang. Cara kerja mereka selama di SABDA memberi ide-ide segar untuk mengevaluasi cara kerja dalam setiap tim. Selain itu, kami juga belajar untuk bekerja sama dalam menjalankan panggilan Tuhan di SABDA. Acara ini membuat terharu, bahkan saya melihat Cleming (salah 1 anggota magang) hampir menangis meski dia menutupinya dengan banyolan-banyolan khasnya ... ha ha ha ... Cleming ketahuannn. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan yang diwakili oleh mas Hadi selaku koord. ITS.

Pengalaman ini sekaligus menjadi pengalaman pertama bagi saya mengikuti persekutuan staf di YLSA. Pengalaman yang mengharukan, menyenangkan, dan penuh berkat. Kiranya nama Tuhan dimuliakan melalui persekutuan ini. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Belajar Melayani dan Bekerja di YLSA

Tue, 03/01/2016 - 13:48

Oleh: Bara Okta Pratista Johannanda*

Dua bulan saya berkesempatan mencicipi bagaimana rasanya magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), mulai dari 4 Januari sampai 27 Februari 2016. Pada waktu mencari dan mengajukan tempat magang di kampus, Yayasan Lembaga SABDA sudah menjadi salah satu pilihan tempat magang saya. Sejak masih kecil, saya sudah sering mendengar tentang SABDA dan sudah ada beberapa CD Software SABDA di rumah saya sehingga nama "Yayasan Lembaga SABDA" bukanlah nama yang asing bagi saya (meskipun ternyata saya masih tidak mengerti apa saja bentuk bahan dan pelayanan dari YLSA).

Di kampus, hanya ada beberapa mahasiswa yang mengajukan permohonan magang pada bulan Januari 2016, hal ini pula yang membuat saya menjadi 'single fighter' dari kampus Informatika UNS angkatan 2013 dalam mengajukan permohonan magang di YLSA. Bersyukur sekali, ketika saya menghubungi Bu Yulia untuk permohonan magang, Bu Yulia mengatakan bahwa saya bisa mengirimkan surat permohonan untuk periode Januari -- Februari 2016, saya baru menghubungi pada bulan Desember 2015 karena permohonan saya di perusahaan lain tidak diterima. Setelah saya mengirimkan dokumen permohonan, seperti yang biasa dilakukan dalam seleksi dan rekrutmen staf Yayasan Lembaga SABDA yang lain, saya lebih dulu datang ke kantor untuk melakukan wawancara dan beberapa tes lain. Bersyukur juga karena sebelum mulai magang, saya diberi kesempatan untuk mengikuti raker tahun 2015 bersama dengan staf YLSA yang lain. Tanggal 4 Januari 2016, hari pertama untuk magang, bersyukur karena ada tiga mahasiswa magang lain dari Universitas Kristen PETRA, Surabaya,dan tim magang kami ini mengerjakan satu proyek, yaitu proyek cloud.

Selama dua bulan berinteraksi dengan kakak-kakak staf SABDA, bekerja sama dengan mereka, dan tentunya bekerja sama dengan teman-teman magang dari Universitas Kristen Petra, banyak pelajaran yang saya dapatkan. Tim magang selama bulan Januari -- Februari 2016 ini akhirnya disebut dengan tim Exodus, nama yang didapatkan secara ajaib oleh Cleming setelah beberapa waktu kami stuck dengan nama tim. Tantangan besar sudah dimulai pada hari pertama kami melakukan magang, di mana proses pembuatan sistem, yang akhirnya disebut dengan SABDA Library (SALib)[link], dilakukan dengan menggunakan prinsip Lean. Tim Exodus bekerja dengan menggunakan prinsip Lean Startup dengan rekursi atau perulangan dari tahap 'Build-Measure-Learn'. Prinsip Lean ini merupakan hal baru bagi kami apalagi untuk melakukan implementasi Lean Startup ke dalam proses kerja tim Exodus.

Minggu pertama pada bulan Januari, kami gunakan untuk mempelajari prinsip-prinsip Lean Startup dan Lean Software Development, yang hasilnya adalah sebuah Lean Canvas yang menunjukkan arah kerja atau tujuan dari tim Exodus selama dua bulan magang di YLSA. Inilah menariknya magang di YLSA, bahkan pada hari pertama magang kami sudah melakukan brainstorming dan bukan hanya bersantai-santai. Minggu kedua dan ketiga diisi dengan melakukan riset mengenai Digital Asset Management dan tools yang dapat digunakan untuk membantu mengimplementasikan proyek SALib. Sangat bersyukur karena sebelum memulai suatu proyek kami diajak untuk terlebih dahulu memahami latar belakang masalah, dasar-dasar pengetahuan yang tentu akan sangat berguna ketika sudah melakukan implementasi sistem. Kami dibimbing untuk bukan hanya mengerjakan suatu proyek, tetapi juga mengerti latar belakang kami dalam melakukan suatu proyek. Menarik, karena prinsip dan cara berpikir seperti ini akan sangat membantu, bukan hanya dalam bidang pekerjaan saja, tetapi dalam setiap segi kehidupan tentu kita harus tahu apa yang mendasari keputusan kita dan bukan hanya asal ikut saja .

Selesai dengan urusan riset, kami mulai mengimplementasikan hasil riset dan menggunakan salah satu tool untuk membuat sistem SALib. Bermula dari banyaknya bahan dalam bentuk digital yang dikelola oleh YLSA, proses pembuatan sistem ini tidak hanya murni coding, tetapi juga melakukan pemrosesan terhadap bahan-bahan yang akan dimasukkan ke dalam sistem SALib itu sendiri. Dengan adanya ketiga teman dari Universitas Kristen Petra ini, saya merasa sangat terbantu dan bersyukur melihat proses kerja sama di tim Exodus, dan tentunya kerja sama dengan tim ITS. Bersyukur dengan ketiga anggota Exodus yang lain, yang bersama-sama bekerja, saling mengingatkan, bersyukur dipercaya untuk memimpin tim Exodus sebagai project manager, suatu pengalaman yang istimewa juga bagi saya secara pribadi. Menikmati juga kuliah-kuliah panjang, tetapi penting, proses Scrum[link] dengan mas Hadi yang menjadi penasihat dan penyelamat di tim Exodus dan mbak Evie yang menjadi penengah bila kami terlalu panjang berdiskusi. Selalu ada tantangan setiap hari, dan pada akhirnya kami sangat bersyukur ketika pada minggu ke tujuh sistem SALib sudah bisa dipresentasikan di hadapan pemimpin dan seluruh staf SABDA[link]. Bersyukur juga untuk tim ITS dan mas Hadi yang dengan setia membimbing tim Exodus sehingga selama dua bulan sudah ada hasil yang bisa ditunjukkan.

Saya menantikan kembali waktu untuk saya bisa berlatih melayani melalui teknologi di YLSA ini .

Categories: PEPAK

Penyertaan Tuhan dalam Proses Magang

Tue, 03/01/2016 - 13:06

Oleh:

Pemeliharaan dan penyertaan Tuhan selama proses magang di SABDA sangat terasa nyata, bahkan sebelum saya mulai magang. Berawal dari sharing kakak kelas, Kevin Fidelis yang baru saja pulang menyelesaikan magangnya di SABDA. Pada saat itu, saya merasakan panggilan Tuhan yang jelas untuk saya magang di SABDA ini. Sementara teman-teman seangkatan sibuk mencari tempat magang, saya sudah mengirimkan lamaran magang kepada pihak SABDA dan singkat cerita saya diterima untuk magang selama dua bulan. Pergumulan mulai muncul ketika saya tidak dapat menemukan teman yang mau ikut magang bersama saya di SABDA. Banyak yang beranggapan kota Solo terlalu jauh. Pergumulan bertambah lagi ketika saya menerima proyek yang diberikan oleh pihak SABDA. "Simple Cloud Interface yang Dilengkapi dengan Metadata", itulah judul magang yang diberikan kepada saya.

Cloud dan metadata. Dalam perkuliahan saya hanya mendapatkan teori mengenai cloud, sedangkan metadata, pada saat saya membaca email itulah pertama kali saya tahu ada yang namanya metadata. Malam itu, saya tidak bisa tidur dengan tenang, dihantui oleh Cloud dan Metadata. Akan tetapi, karena saya tahu bahwa ini adalah suatu panggilan dari Tuhan, saya memutuskan untuk terus maju sekaligus mempersiapkan diri meskipun tetap tidak tahu bagaimana nasib saya di tempat magang nanti.

Pada bulan Januari 2016, saya memulai magang di Yayasan Lembaga SABDA. Ada sebuah kejutan besar! Ternyata ada dua teman seangkatan dari Petra yang ikut magang di SABDA, yaitu Steven dan Alex. Singkat cerita, kami memulai magang di SABDA. Begitu masuk hari pertama, sungguh di luar dugaan, kami malah disuruh mencari masalah. Cari masalah bukan berarti saya cari gara-gara dengan teman sekantor, tetapi masalah yang menjadi latar belakang dikerjakannya proyek ini. Saya belajar satu cara startup yang dinamakan Lean Startup yang mana memiliki siklus Build-Measure–Learn. Sebelum menggarap suatu proyek, saya belajar untuk mencari tahu masalah apa yang sedang dihadapi dan tujuan proyek yang sedang saya buat ini. Dengan demikian, saya semakin memahami apa yang menjadi masalah user dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Setelah menemukan solusi, selanjutnya adalah tahap perencanaan. Tahap perencanaan ini adalah tahap yang sangat penting, dan selama ini saya meremehkan satu perencanaan. Inginnya langsung cepat-cepat kerja. Saya belajar bahwa "fail to plan" adalah sama dengan "plan to fail".

Saya juga belajar untuk bekerja sama sebagai satu tim, yaitu tim Exodus. Tim Exodus terdiri dari empat orang, yaitu Bara, Alex, Steven, dan saya sendiri. Mengapa dinamakan Exodus? Ketika memikirkan nama tim, pada awalnya saya merasa bingung. Namun, suatu ide memang terkadang bisa tiba-tiba saja muncul, di mana saja, dan kapan saja. Ketika sedang mencuci baju (ya, benar-benar sedang mencuci pakaian kotor yang menumpuk di sore hari yang mendung), saya teringat bahwa keadaan saya dan teman-teman ini sedang dikeluarkan dari zona nyaman masing-masing. Pada saat itu, kami berempat benar-benar tidak tahu apa itu Cloud, apa itu Metadata, dan bahan-bahan SABDA itu sangat banyak. Masalah yang sedang dihadapi terasa begitu besar dan tidak menemukan kejelasan. Hal ini serupa dengan keadaan bangsa Israel ketika baru dikeluarkan dari Mesir. Mereka benar-benar tidak tahu ke mana Tuhan menuntun mereka. Berputar-putar tanpa tujuan yang jelas di padang gurun selama puluhan tahun (kalau kami kurang lebih, ya hanya beberapa minggu). Meskipun demikian, toh pada akhirnya bangsa Israel dapat masuk ke tanah perjanjian walau dengan perjuangan yang berat. Melihat keadaan dan permasalahan yang serupa, akhirnya disetujuilah nama tim Exodus. Bersama-sama kami berjuang dalam proses magang selama dua bulan hingga menghasilkan satu produk yang dinamakan "SABDA Library" atau disingkat SALib.

Saya sangat bersyukur karena Tuhan menempatkan saya di dalam satu komunitas yang membangun di Yayasan Lembaga SABDA ini. Setiap pagi sebelum memulai pekerjaan selalu ada pemahaman Alkitab dalam kelompok. Sepanjang Januari -- Februari, kebetulan YLSA sedang melakukan PA dengan bahan dari buku "Jesus Freak". Saya belajar bahwa sebelum melakukan pekerjaan akan sangat baik bila dimulai dengan berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Ada juga persekutuan doa tiap hari Senin dan Jumat. Sepulang kerja pun, ada teman-teman di mess yang asyik, baik untuk bertumbuh secara iman dan karakter, maupun bertumbuh berat badan .

Bagi saya, kesempatan magang di Yayasan Lembaga SABDA benar-benar bukti nyata, betapa indahnya bila apa yang saya suka dan apa yang saya kerjakan itu sejalan dengan panggilan dan kehendak Allah. Meskipun pada awalnya saya khawatir dan takut, tetapi kini saya memahami maksud Tuhan dari semua proses yang saya alami selama magang di SABDA ini. Untuk dapat diproses oleh Tuhan secara luar biasa, terlebih dulu saya harus keluar (atau dikeluarkan) dari zona nyaman saya. Setelah keluar dari zona nyaman, yang bisa saya lakukan adalah menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam tangan pemeliharaan Tuhan, dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Bukti nyata juga bahwa Tuhan Yesus adalah gembala yang baik, Ia memelihara saya dengan kasih-Nya yang sempurna, saya merasa puas.

Mazmur 23:1: "Tuhan adalah gembalaku; takkan kekurangan aku."

Kategori: Pelayanan
Kata kunci:

Categories: PEPAK

Bertumbuh dan Berkembang di SABDA

Tue, 03/01/2016 - 12:45

Oleh: Steven Sachio*

Nama saya Steven Sachio, mahasiswa dari Teknik Informatika Universitas Kristen Petra Surabaya. Berikut adalah cerita saya mengikuti magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Selama 2 bulan mengikuti magang di YLSA, saya merasa sangat beruntung dan merasakan bahwa pengalaman ini adalah berkat dari Tuhan. Jika diceritakan bagaimana saya sampai bisa magang di SABDA, tentu saja semuanya tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Kira-Kira, 3 bulan yang lalu, sekitar akhir November, saya dan Alex mencari tempat magang. Tujuan kami, awalnya mencari tempat magang di sekitar Surabaya saja. Namun, setelah kami mencari tempat, dimulai dari daftar yang diberikan oleh dosen koordinator magang dan mencoba mencari sendiri, tidak satu pun perusahaan yang menerima kami. Ya, mungkin semua merupakan rencana Tuhan untuk saya dan Alex agar kami bisa magang di SABDA. Awalnya, opsi untuk magang di SABDA tidak sedikit pun terpikirkan oleh kami karena jarak yang jauh dari Surabaya.

Keberangkatan saya ke SABDA merupakan pengalaman saya ke Solo yang kedua kalinya. Kedatangan pertama pada tahun lalu hanya bertujuan untuk berlibur dan menikmati keindahan Solo. Namun, pada kedatangan yang kedua ini, ternyata Tuhan mau mendidik saya untuk bertumbuh secara jasmani dan rohani. Selain itu, saya juga mendapatkan hal yang lain seperti teman-teman baru, pengalaman, pembelajaran, dan yang paling saya senangi adalah bisa berwisata ke Tawangmangu walaupun hanya sebentar. Saya juga terkesan dengan kuliner yang ada di Solo karena hampir semuanya uenak. Intinya, rugi kalau ke Solo tidak mencoba kulinernya.

Pengalaman magang di SABDA memang tidak seperti yang saya bayangkan. Dalam bayangan saya dulu, magang di SABDA pasti akan sangat membosankan. Namun, hal itu sirna setelah saya menjalani magang di SABDA karena teman-teman SABDA peduli terhadap kami. Kami tidak dipandang sebelah mata seperti staf magang di perusahaan lainnya. Jika dibandingkan dengan yang saya dapat di SABDA dengan teman-teman saya yang magang di tempat lain, saya merasa sangat beruntung.

Dari 2 bulan magang yang saya jalani, sangat banyak pelajaran yang saya dapat, mulai dari pelajaran teknis sampai pelajaran rohani/spiritual. Dari sisi teknis, kami mendapat tugas untuk membuat sebuah sistem Cloud yang diperlukan SABDA untuk memudahkan pengguna dalam mendapatkan bahan-bahan kristiani digital. Proyek ini juga menggunakan konsep Lean untuk manajemen proyeknya. Dari keduanya, yang paling asing bagi saya adalah konsep Lean Management karena ini merupakan konsep yang sangat baru dan berharga dalam manajemen proyek. Saya sempat takut, apakah saya bisa menyelesaikan proyek ini. Namun, karena penyertaan Tuhan, kami dapat menyelesaikan proyek ini.

Dari segi spiritual, setiap hari staf SABDA diwajibkan mengikuti PA dalam kelompok kecil yang pada bulan Januari -- Februari 2016 menggunakan bahan dari buku Jesus Freak. Dalam PA ini, saya dan teman teman SABDA lainnya merefleksikan, membagikan, membuat komitmen penerapan firman Tuhan, dan mendoakan sehingga kami dapat bertumbuh dalam iman kepada Tuhan.

Itulah pengalaman saya magang di SABDA. Seharusnya, masih banyak yang bisa saya ceritakan. Saya berharap pengalaman ini dapat berguna bukan hanya untuk saya, tetapi untuk semua yang membaca blog ini. Saya juga berharap SABDA menjadi semakin maju dan berkembang dalam melayani Tuhan sehingga dapat menjadi berkat bagi banyak orang, bukan hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Singkat cerita, terima kasih atas pengalaman yang berharga ini di SABDA. Tidak lupa, saya berterima kasih untuk kebaikan dan dukungan Bu Yulia sekeluarga dan teman teman SABDA.

Tetap semangat melayani Tuhan. God Bless You All!

Categories: PEPAK

Pengalaman Magang di SABDA: Indah Pada Waktunya

Mon, 02/29/2016 - 13:02

Oleh: Ignatius Alex Wijayanto*

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku." Yesaya 55:8

Firman Tuhan tersebut terbesit di pikiran saya ketika saya magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Hal yang terjadi di hidupku tidak luput dari kedaulatan Tuhan. Sebelumnya, saya tidak memiliki rencana untuk magang di YLSA karena ingin cari yang dekat-dekat daerah Surabaya. Akan tetapi, saya tidak dapat menemukan perusahaan yang mau menerima magang dengan berbagai alasan. Sampai menjelang deadline pengumpulan proposal magang di kampus, saya masih belum mendapat tempat magang, hingga ada teman yang mengajak saya untuk magang di YLSA. Di YLSA, saya diberi kesempatan belajar banyak hal, baik dari segi kemampuan teknis, soft skill, maupun kehidupan rohani.

Saya tidak magang sendiri, ada tiga orang rekan seperjuangan yang membantu saya menyelesaikan proyek ini. Dua di antaranya dari universitas yang sama dengan saya (Universitas Kristen Petra), yaitu Steven dan Cleming. Yang satu lagi ialah Bara, dari UNS Solo.

Proyek yang kami kerjakan adalah merancang dan membuat sistem cloud berbasis web. Pada awalnya, saya tidak mengerti arah tujuan proyek ini. Saya dan tim magang dibuat kebingungan dengan teori-teori yang diberikan. Pada awal bulan, kami hanya melakukan pembelajaran dan riset, hal ini terus dilakukan sampai akhir bulan. Pembelajaran tersebut seputar Cloud Model, Cloud Deployment , Lean Startup, dan Lean Canvas. Semua itu merupakan hal baru bagi kami karena memang belum pernah diajarkan selama kuliah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya dituntut untuk lebih berusaha, harus membaca banyak dokumentasi, artikel, dan buku-buku terkait seputar itu. Namun, hal ini membuat saya semakin berkembang dan memiliki pengalaman bekerja dengan orang di dunia kerja yang sesungguhnya. Meskipun butuh kerja keras selama proses, saya sangat puas dan menikmatinya karena selain mendapat pengetahuan, proyek ini dapat menjadi bentuk pelayanan saya dalam bidang IT.

Selain dari segi teknis, saya juga mendapat pengalaman kerja yang akan berguna nantinya dibandingkan dengan magang di tempat lain. Mengapa demikian? Karena di YLSA kami benar-benar diterima dan dituntut untuk berkembang menjadi individu yang lebih berpotensi. Kami diikutsertakan dalam berbagai acara yang diadakan, seperti mengikuti Rapat Kerja Tengah Tahun pada bulan Januari 2016. Kami juga diharuskan untuk berpartisipasi aktif selama mengikuti rapat tersebut, seperti wajib memberikan tanggapan/pertanyaan pada setiap divisi yang memberikan laporan supaya dapat meningkatkan potensi kerja semaksimal mungkin. Acara lainnya adalah nonton bareng, pada acara ini kami melihat bersama sebuah film pendek sambil mengidentifikasi nilai-nilai yang dapat diambil.

Bagaimana dengan segi rohani? Saya juga bertumbuh dalam segi rohani. YLSA tidak hanya menuntut pengembangan diri, tetapi juga perkembangan rohani. Setiap hari kerja pasti ada persekutuan doa yang wajib diikuti sebelum mulai kerja. Hal ini memaksa saya untuk tekun membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam kelompok kecil. Selain itu, saya juga mendapat kesempatan bertugas menjadi pemimpin pujian dalam persekutuan doa kelompok besar. Untuk perkembangan diri, saya juga ditugaskan membawakan presentasi dengan metode T.E.D kepada semua staf. Acara ini merupakan acara bulanan di mana setiap staf membawakan materi yang dapat memberi dampak untuk semua staf di YLSA sehingga mereka semakin berkembang.

Di luar hal itu, semua staf YLSA juga menerima dan mendukung kami selama berada di YLSA. Semula saya berpikir jika suasana kerja di YLSA akan penuh dengan persaingan dan tidak peduli satu sama lain. Namun, kenyataannya sangat bertolak belakang dari pikiran saya. Bahkan, di luar jam kerja kami sempat berwisata, makan malam bersama setiap hari, berlatih gamelan, dan banyak hal lainnya.

Saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk mengalami proses magang di YLSA. Banyak pelajaran yang saya dapatkan yang pasti dapat berguna dalam dunia kerja nanti. Hal yang sangat berkesan untuk saya adalah bahwa bekerja dan melayani bukanlah sesuatu yang terpisah, kita dapat bekerja dan melayani Tuhan secara bersamaan. Saya sungguh berterima kasih kepada Ibu Yulia selaku ketua YLSA yang sudah memberikan kesempatan berharga ini kepada saya untuk magang di YLSA. Saya juga berterima kasih kepada Mas Hadi selaku koordinator yang telah membimbing tim magang ini dari awal hingga akhir pengerjaan proyek, serta semua staf yang ikut ambil bagian, mendukung kami secara langsung maupun tidak langsung. Pengalaman berharga ini tidak akan terlupakan selama hidup saya. Saya berharap YLSA dapat terus menjadi berkat dan memberikan pelayanan kepada masyarakat Kristen untuk kemuliaan nama Tuhan.

Categories: PEPAK

Traktat TYM di Tangan Anak-Anak Papua

Thu, 02/11/2016 - 13:08

Oleh: Ev. Nicodemus Kaborang, S.Mis.*

Saya, Ev. Nicodemus Kaborang, S.Mis., melayani anak-anak, remaja, dan pemuda di Papua. Awalnya, saya mengirim pesan ke YLSA melalui Facebook untuk meminta bahan traktat untuk misi. Ternyata, YLSA memiliki dua jenis traktat, "Hatiku Rumah Kristus" dan "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu". Setelah percakapan demi percakapan terjadi, akhirnya saya memilih dan diperbolehkan untuk mendapatkan traktat "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu" sejumlah yang kami butuhkan. Puji Tuhan.

Saya dan rekan-rekan sepelayanan membagikan traktat ini ke anak-anak sekolah, remaja, dan pemuda supaya mereka mengerti kebenaran firman Tuhan. Inilah kerinduan saya. Selain itu, saya juga dapat memakainya sebagai referensi dalam berkhotbah dan pelayanan misi. Saya melayani sebagai Majelis perwakilan Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia Batu di Papua, yang merupakan buah pelayanan Bapak Petrus oktavianus. Kantor pusat pelayanan ini di Batu Malang, dan di Papua merupakan kantor perwakilan dari kantor pusat.

Saya memiliki kerinduan dan doa untuk anak-anak Indonesia. Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, terkhusus gereja, dan lingkungan keluarga. Kami sangat merindukan anak-anak bisa memengaruhi keluarga dan gereja. Oh ya, tanggal 31 Januari 2016, saya sudah menerima kiriman traktat TYM dari YLSA. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus dan berdoa bagi pelayanan YLSA supaya senantiasa diberkati Tuhan. Beberapa hal yang saya lakukan dengan traktat TYM yang saya terima dari YLSA:

1. Membagikan traktat kepada anak-anak dan mereka kelihatan sangat senang sekali menerimanya.
2. Memberikan anjuran supaya traktatnya dipakai dengan baik.
3. Memberikan penjelasan supaya traktat dibaca ketika sampai di rumah saja supaya bisa fokus.

Anak-anak yang tidak bisa membaca juga saya beri traktat. Sebelum saya membagikannya kepada anak-anak itu, saya menjelaskan isi traktat tersebut. Saya juga berpesan supaya ketika sampai di rumah, traktat tersebut diberikan kepada ayah atau ibu supaya mereka membacakannya untuk mereka.

Sekarang ini, pelayanan anak di Papua hanya berupa kegiatan ibadah bersama di tempat-tempat yang berbeda. Pelayanan ini kami lakukan seminggu empat kali. Dengan adanya traktat TYM, anak-anak juga bisa mengerti dan bisa memahami mengenai keselamatan, sebab banyak anak-anak masih ragu akan keselamatan mereka. Sebenarnya, yang menjadi fokus utama pelayanan di Papua adalah anak-anak, remaja, dan pemuda karena di Papua tingkat kejahatan begitu tinggi dan tingkat pelaku free sex dan narkoba juga tinggi. Itulah yang menjadi pergumulan kami bersama. Dukung dalam doa untuk pelayanan kami di Papua supaya saya bisa melakukan follow up terhadap anak-anak yang sudah menerima traktat. Saya berharap ada kesaksian iman di tengah-tengah mereka. Saya juga berdoa agar pelayanan YLSA terus maju di dalam Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Seminar Kepemimpinan: Winning with People

Tue, 02/09/2016 - 12:23

Oleh: Liza

Pada dua hari terakhir bulan Januari 2016, saya bersama tujuh teman saya yang lain dari SABDA berkesempatan untuk mengikuti seminar kepemimpinan [;link] di Orient International Restaurant, Surakarta. Seminar yang diadakan oleh Equip Christian Leadership Training dan TOTAL ini mengangkat tema dari salah satu buku dari John C. Maxwell, yaitu "Winning with People". Ternyata, ini adalah seminar ketiga yang telah mereka adakan, tetapi ini kali pertama saya mengikutinya.

Secara keseluruhan, seminar ini membahas 25 prinsip agar bisa menang dengan orang lain yang juga diambil dari buku John C. Maxwell. Tiap prinsip diuraikan dengan baik dan menarik oleh dua orang narasumber. Narasumber pertama adalah Pak Paulus Winarto dan narasumber kedua adalah Pak Sunjoyo. Tiap sesi, mereka bergantian menyampaikan materi. Total sesi yang ada adalah 6 sesi, 1 sesi untuk introduction dan 5 sesi sisanya membahas 25 prinsip How to Win with People. Di sini, saya tidak akan mensharingkan semua prinsip, hanya beberapa poin saja.

Menang dengan orang lain bukan menang dalam perlombaan atau sejenisnya, tetapi materi berbicara mengenai bagaimana bisa membangun relasi dengan orang lain. Mengapa hal ini penting? Karena kita tidak bisa menjadikan musuh kita teman untuk mencapai satu tujuan yang sama. Terlebih, sebagai orang percaya, kita tidak dapat membawa musuh untuk mengenal Tuhan, kecuali kita sudah dapat memenangkan mereka untuk menjadi teman kita. Kalau orang tidak suka dengan kita, mereka tidak akan mungkin membantu/mendukung kita dengan segenap hati. Dikatakan bahwa 85% kepemimpinan bicara tentang relasi, bukan soal posisi, gelar, dan lainnya. Kekristenan juga berbicara soal relasi. Jika kita seorang Kristen, tetapi susah membangun hubungan dengan orang lain, diragukan apakah kita memang benar-benar hidup dalam terang.

Sebelum menjadi pemimpin, kita harus mengerti tentang siapa diri kita di dalam Kristus. Siapa diri kita bukan tergantung pada apa yang kita miliki, seharusnya kita bertanya, "Milik siapa saya ini?" Ya, sebagai orang Kristen, kita adalah milik Kristus. Kita adalah budak/pelayan (servant/steward) Kristus. Berarti kalau menjadi budak, tidak boleh ada agenda pribadi dalam hidup kita. Kalau konsep diri ini benar, baru kita bisa memimpin orang lain dengan konsep yang benar pula.

Selain itu, seorang pemimpin adalah orang yang bisa mengangkat orang lain juga bersamanya, bukan justru menjatuhkannya. Tuhan juga ingin kita mengembangkan orang lain. Apakah kita bersedia fokus pada orang lain? Berfokus pada orang lain berarti menjauhkan ego kita. Orang tertarik pada seseorang yang tertarik kepada mereka. Di bukunya, Maxwell berkata, "People don't care how much you know until they know how much you care." Menurut saya, ini benar, kita harus menunjukkan terlebih dahulu seberapa peduli kita pada orang lain.

Poin lainnya adalah seorang pemimpin harus mempunyai accountability partner. Dia adalah seseorang yang ikut bersukacita saat kita bersukacita dan terus mendukung kita saat kita jatuh. Kita bisa bercerita apa pun tanpa takut dilukai. Tiap orang pasti punya blind spot atau titik lemah masing-masing. Kadang yang bisa melihat hal itu adalah orang lain, di sini pentingnya memiliki accountability partner.

Prinsip lainnya adalah kita harus memberi nilai 10 (yang terbaik) saat bertemu orang lain karena kita cenderung untuk memperlakukan seseorang sesuai dengan penilaian kita pada mereka. Berhubungan dengan ini, kita juga harus memperlakukan orang lain lebih baik dari cara orang lain memperlakukan kita. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menciptakan sebuah hubungan yang menang.

Kesan saya adalah ini seminar yang menarik dan disampaikan dengan sangat baik oleh para narasumber. Saya sangat terberkati, banyak hal baru yang didapat dan menegur saya secara pribadi. Tentang bagaimana untuk menjadi seorang pemimpin, yang terpenting dari pemimpin bukan soal posisi, tetapi soal memberi pengaruh dan membangun relasi dengan rekan-rekannya. Hal lainnya yang sering dilupakan oleh para pemimpin adalah pentingnya untuk memikirkan kader atau regenerasinya. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang bisa menghasilkan kadernya agar visinya dapat terus dilanjutkan.

Oh ya, seminar ini adalah salah satu seminar yang membuat saya tidak mengantuk sama sekali pada setiap sesinya. Biasanya, kalau saya mengikuti seminar yang lain, ada beberapa saat rasa kantuk menyerang saya. Namun, seminar kali ini berbeda. Pendingin ruangan (AC) bekerja dengan maksimal dan berhasil membuat hampir sebagian orang menjadi kedinginan. Tidak lupa, snack dan makanan berat yang disediakan enak-enak.

Categories: PEPAK

Komentar