Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 1 hour 36 min ago

Prajurit Kristus juga Perlu Menulis — Secara Digital

Tue, 07/28/2015 - 14:18

Blog ini adalah kelanjutan dari blog sdr. Yans yang menceritakan paroh pertama perjalanan kami ke Jakarta dan Bandung tanggal 18 -- 23 Mei 2015.

Seratus lima puluh tahun yang lalu, bulan Juli tanggal 2, William Booth memulai pelayanan Salvation Army di London, Inggris, dengan nama "the East London Christian Mission". Kemudian, tanggal 24 November 1894, Staf Kapten Jacob Gerrit Brouwer dan Ensign Adolf Theodorus van Emmerik menjejakkan kaki di pelabuhan Batavia, dan menandai dimulainya pelayanan Bala Keselamatan di Nusantara.

Bala Keselamatan memiliki sejarah yang sangat panjang dan sangat berwarna, atau paling tidak itulah yang saya tangkap dari membaca buku "Zamrud di Khatulistiwa: Sejarah Gereja Bala Keselamatan di Indonesia 1894 -- 1994". Selama lebih dari 110 tahun mereka telah melayani di Indonesia, mulai pelayanan kesehatan, pelayanan kepada penderita kusta yang dibuang oleh masyarakat, orang-orang dalam tahanan, pemulung, pelayanan berbagai jenjang usia, mulai dari anak-anak yang terlantar dan anak jalanan hingga orang-orang lanjut usia, dan pelayanan di daerah-daerah yang terkena bencana.

Namun, selain pelayanan sosial yang membuat nama mereka terkenal dan nama Tuhan dimuliakan, Bala Keselamatan ternyata juga memiliki pelayanan pendidikan dan pelayanan literatur yang tidak kalah tuanya. Tercatat majalah bulanan Bala Keselamatan merupakan majalah tertua kedua di Indonesia yang masih terbit hingga saat ini, lebih dari 100 tahun usianya. Tidak hanya itu, mereka juga menerbitkan sebuah buku renungan yang mengupas Alkitab secara ekspositori dan sistematis. Di sini, saya melihat sendiri ternyata menjadi prajurit Kristus (lengkap dengan seragam dan tanda kepangkatan) tidak menghalangi mereka untuk menulis!

Untuk kegiatan pelatihan yang berlangsung di Bandung, secara garis besar kurang lebih sama dengan yang sudah dijelaskan sdr. Yans di blognya. Dari antara tujuh sesi yang saya dan Bu Yulia bawakan, sesi ketujuh yang saya bawakan mungkin adalah yang paling berkesan untuk saya. Sesi ketujuh ini ditujukan untuk mempersiapkan para "Salvationist" bertransisi ke dunia kepenulisan digital, judul presentasi adalah "C.O.D.E.", singkatan dari "Create Once Distribute Everywhere". Berdasarkan pengalaman dan pengamatan kami sebagai organisasi yang bergerak di dunia literatur dan digital, hal inilah yang akan menjadi kebutuhan organisasi Kristen di masa depan, khususnya yang berhubungan dengan literatur dan dunia digital.

Menulis di zaman sekarang tidak lagi hanya terbatas untuk buku cetak saja, tetapi juga sudah harus mulai dipikirkan buku digital dan jalur-jalur distribusi melalui media elektronik lain, termasuk email, media sosial, situs web, aplikasi Android, dll.. Ambil contoh publikasi renungan cetak yang memiliki oplah 5.000 eksemplar, setelah dicetak maka daur hidup renungan tersebut hanya sebatas jumlah eksemplarnya karena untuk mencetak ulang hampir tidak mungkin. Biaya yang dikeluarkan untuk mencetak berbanding lurus dengan jumlah cetaknya, alias 5.000 kali biaya cetak dan transportasi. Sementara itu, dengan paradigma "C.O.D.E.", maka suatu renungan hanya perlu dibuat sekali saja, dan renungan tersebut dapat didistribusikan melalui berbagai jalur untuk dapat dibaca oleh pelanggan di mana pun, kapan pun, dengan platform apa pun (web, app, dll.), dan dengan biaya yang dapat ditekan hingga mendekati nol! Kami dengan segenap hati mendorong para penulis-penulis Kristen untuk tidak hanya membatasi diri dengan menulis buku cetak, tetapi juga mulai merambah dunia digital.

Seusai memberikan pelatihan untuk Bala Keselamatan, kami berpisah dengan penuh haru karena menyaksikan semangat pelayanan mereka yang berapi-api, membuat kami pun tertular dengan semangat tersebut hingga kami pulang. Haleluya!

Dari Bandung, kami kembali ke Jakarta untuk melayani di ibadah para mahasiswa Sekolah Surya di Tangerang. Puji Tuhan, pelayanan pada hari Pentakosta tersebut kami lakukan dengan semangat yang masih menggebu-gebu dari Bandung. Kami melayani para mahasiswa yang kebanyakan berasal dari Papua, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan beberapa tempat lainnya. Kami membagi-bagikan DVD-DVD bahan pelayanan, khususnya untuk lulusan angkatan pertama dari sekolah keguruan tersebut. Kami sungguh bersyukur karena para alumni pertama ini akan pulang ke tempat pelayanan mereka masing-masing dengan membawa bekal perpustakaan SABDA di tangan mereka.

Dari Jakarta, kami pun kembali ke Solo dengan penuh sukacita, walaupun lelah setelah mengadakan perjalanan dan pelayanan selama seminggu tanpa berhenti. Semoga Tuhan terus memberi kesempatan kepada kami untuk melayani demi kemuliaan-Nya!

Categories: PEPAK

Pengalaman Roadshow SABDA di Bala Keselamatan

Tue, 07/28/2015 - 14:03

Perjalanan roadshow SABDA ke Jakarta dan Bandung (selama 7 hari) ini adalah roadshow terlama yang pernah saya ikuti. Tim SABDA akan melayani di Yayasan Bala Keselamatan untuk pelatihan kepenulisan "Writing for God". Tim yang berangkat pelayanan adalah Bu Yulia, Benny, dan saya. Kami berangkat tanggal 17 Mei 2015, pukul 15.00, karena kami akan naik bus. Menurut Bu Yulia, walaupun perjalanan akan melelahkan karena naik bus, tetapi ini adalah pimpinan Tuhan. Singkat cerita, kami bersyukur karena kalau naik pesawat atau naik kereta, maka nama-nama yang sudah tertera pada tiket tidak akan bisa diganti sehingga tiket akan hangus. Padahal terjadi 2 kali perubahan nama staf yang berangkat. Puji Tuhan untuk pimpinan-Nya.

Staf Bala keselamatan telah menunggu kami di terminal sejak pukul 06.00, tetapi kami baru tiba pkl. 10.00 karena kemacetan ketika masuk kota Jakarta. Sesuai dengan jadwal, bagian pertama adalah pelatihan Kepenulisan "Writing for God" adalah di PUSDIKLAT Bala Keselamatan selama 3 hari. Kedatangan kami disambut dengan hangat meskipun kami datang setelah acara pembukaan selesai. Ketika memasuki ruangan seminar, kami bertiga disambut sangat meriah oleh para kadet dan juga Opsir dari Bala Keselamatan. Kami mendapat 3x sorakan "Haleluya", benar-benar suatu kehormatan.

Hari pertama presentasi dibawakan oleh Bu Yulia, dan saya membantu set up booth SABDA. Cuaca di Jakarta panas sekali, tetapi untungnya tiap ruangan diperlengkapi dengan AC. Malah saya sempat kedinginan karena duduk tepat di bawah AC. Hari pertama berjalan dengan lancar meskipun pada akhir sesi jam 18.00, Bu Yulia merasa tenggorokannya sakit, mungkin karena perjalanan semalam yang panjang dan kedinginan selama dalam bus. Setelah selesai sesi di hari pertama, saya dan kak Benny pergi membeli obat untuk Ibu Yulia ke apotek di seberang jalan dari gedung Bala Keselamatan. Saya kurang paham dengan keadaan Jakarta sehingga cukup terkejut dengan keadaan jalan yang sangat ramai, dan mengalami kesulitan sehingga hampir saja mendapat kecelakaan ketika menyeberang. Pengalaman yang membuat saya "kapok" menyeberang di jalanan Jakarta ... hehehe.

Setelah kami beristirahat semalam, kami mempersiapkan pelatihan untuk hari kedua. Presentasi akan diisi oleh Bu Yulia dan juga Kak Benny. Menurut saya, semuanya berjalan lancar, dan puji Tuhan tidak ada kendala apa pun yang serius. Semua peserta yang datang, 60-an kadet, kebanyakan berasal dari Sulawesi Tengah daerah Palu, karena basis dari Bala Keselamatan adalah di Palu. Banyak dari mereka yang bertanya seputar materi yang disampaikan, dan saya menjaga booth berbagai produk SABDA. Kami juga melayani instalasi aplikasi, tetapi sayang ada beberapa HP yang tidak bisa saya instal aplikasi karena masalah OS dan lain sebagainya. Bersyukur karena CD Audio bahasa Da'a laku keras ... hehe ... karena bahasa itu adalah bahasa suku yang dipakai di Palu.

Setelah selesai acara malam itu, kami bertiga berdiskusi dan memberi evaluasi tentang jalannya presentasi. Juga, kami menyeleksi pertanyaan-pertanyaan yang dikumpulkan karena besok adalah hari terakhir pelatihan. Banyak sekali dari mereka yang kurang akrab dengan dunia internet karena daerah pelayanan mereka masih di pelosok, bahkan ada yang belum memiliki listrik.

Pada sesi tanya jawab, para peserta sangat antusias mendengarkan berbagai jawaban yang disampaikan oleh Bu Yulia. Yang membuat saya berkesan adalah campur tangan Tuhan dalam setiap presentasi dan sesi acara yang kami lalui. Saya juga benar-benar terberkati dengan jawaban yang Ibu Yulia berikan, khususnya tentang pelayanan Filipus (Kisah Rasul). Saya berpikir para kadet pun pasti juga terberkati. Karena mereka akan melakukan pelayanan di luar pulau di daerah pelosok, mungkin juga di daerah yang belum mereka kenal. Kisah Filipus benar-benar membuka pandangan mereka tentang penginjilan, bahkan Tuhan bisa memakai alat apa pun, memakai siapa pun untuk memberitakan Injil. Penjelasan tentang Filipus ini disampaikan dengan menggunakan presentasi digital, banyak contoh juga dari internet.

Setelah acara foto bersama, saya dan Bu Yulia sudah dijemput untuk pergi ke daerah Mangga Besar untuk memperkenalkan pelayanan SABDA bagi beberapa hamba Tuhan dari berbagai daerah yang sedang mengikuti pelatihan di BEACH. Saya membuka booth SABDA dan juga instalasi HP di sana. Walaupun tidak banyak pesertanya, tetapi mereka benar-benar antusias melihat pelayanan SABDA. Semoga mereka terberkati dengan produk SABDA, yaitu paket yang diberikan dan juga Aplikasi Android yang juga mereka pakai.

Melalui pengalaman roadshow ini, saya melihat pertolongan Tuhan yang sungguh memberkati pelayanan tim SABDA. Saya bersyukur bisa ikut di roadshow ini karena melihat bagaimana pelayanan dan produk-produk SABDA dapat memperlengkapi para peserta sehingga mereka dapat melayani dan berbagi kepada orang-orang yang mereka layani.

Categories: PEPAK

Raker Mini YLSA 2015

Mon, 07/27/2015 - 14:32

Acara Raker Mini Juli 2015 diadakan agak berbeda dari tahun sebelumnya. Biasanya, Raker diadakan 2 hari penuh, tetapi karena adanya kesibukan staf, maka raker mini diadakan 3 hari; dua hari pertama hanya setengah hari dan baru hari terakhir satu hari penuh. Seperti biasa, menu utama raker adalah laporan kerja tengah tahun (Januari -- Juni 2015) dan rencana kerja tengah tahun terakhir (Juli -- Desember 2015). Akan tetapi, tentu saja bukan hanya itu yang disampaikan dalam raker mini ini.

Seperti suasana raker-raker sebelumnya, sebelum hari H, kesibukan staf terasa meningkat. Celoteh "Haduh perutku mules" kadang terdengar, khususnya dari staf yang sedang mempersiapkan materi untuk disampaikan di raker. Meski frasa itu tidak selalu bermakna sesungguhnya, itu cukup menggambarkan kesibukan, atau mungkin lebih tepat "kecemasan", teman-teman staf menjelang raker. Tidak dapat disangkal, memang ada ketegangan sendiri ketika harus menyampaikan materi di depan semua staf yang lain.

Di Griya SABDA, tempat raker ini diadakan, terdengar nyanyian "Tuhanlah Kekuatan dan Mazmurku". Nyanyian yang dipilih dan dipimpin oleh Ayub ini sangat cocok menjadi pujian pembuka raker hari pertama. Setelah penjelasan singkat dari Bu Yulia, raker dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing divisi mulai dari divisi ITS, Web, Multimedia, Komunitas, Publikasi, PESTA , AYT, Humas, Keuangan, dan terakhir HRD. Laporan-laporan ini menolong kami melihat hasil yang sudah dicapai selama setengah tahun 2015 ini. Banyak yang bisa kami syukuri, tetapi ada juga yang harus kami evaluasi dan perbaiki. Melihat fakta ini, harapan kami, sisa waktu setengah tahun ke depan akan mendorong kami bekerja dengan lebih baik.

Hari kedua, raker diisi dengan presentasi singkat tentang berbagai topik dari beberapa staf yang sudah ditunjuk. Presentasi pertama dimulai oleh Jono yang menyampaikan tentang "Android for SABDA: Injil Digital". Kemudian, Kevin dan Andi menyampaikan tentang "Single Page Application with Angular JS"; Pak Victor tentang "Overview PL dan PB"; Liana tentang "Seni Membaca Alkitab dengan Metode BGA", Hadi, Setya, dan Evie menyampaikan tentang pelajaran yang mereka dapatkan dari mengikuti seminar kepemimpinan, dengan sumber buku "Todays Matter". Raker hari itu ditutup dengan presentasi Bu Yulia tentang "Teori Pertumbuhan", yang mendorong staf untuk tidak berhenti belajar sampai kapan pun. Pasti sudah kebayang berapa banyak informasi dan pelajaran yang kami dapat dari semua materi presentasi ini, bukan?

Raker hari terakhir kami mulai dengan PA bersama. Setelah itu, dilanjutkan dengan makan pagi bersama karena raker hari itu akan diadakan dari pagi sampai sore. Tema acara utama adalah "Visi YLSA/SABDA 2020". Visi 2020 sangat penting untuk menjadi wawasan staf supaya kami mulai mempersiapkan diri dengan pelayanan yang relevan, terutama untuk menyongsong tahun 2020. Karena YLSA bergerak dalam pelayanan melalui IT, maka pelayanan kami harus terus mengikuti perkembangan teknologi supaya pelayanan kami terus "up to date" dan tidak ketinggalan zaman. Bahkan, sering kali kami harus bisa mengantisipasi ke arah mana teknologi akan bergerak. Dalam konteks mengerti visi ke depan inilah, masing-masing divisi menyampaikan rencana-rencana tengah tahun ke depan. Acara cukup padat dan banyak komentar dan masukan yang sangat berguna bagi perbaikan masing-masing divisi.

Acara ditutup dengan wacana/rencana YLSA untuk menggelar gerakan "Apps4God" di bulan Oktober 2015, yaitu bulan ulang tahun YLSA. Ini akan menjadi salah satu "big event" dalam rangka menyambut "Visi SABDA 20/20". Bagaimana pelaksanaannya? Mari kita tunggu bersama karena masih ada banyak PR yang harus dikerjakan sebelum hal itu betul-betul terjadi.

Selain tentang kerja sama tim, penyusunan evaluasi yang baik, rencana yang SMART, secara pribadi, dalam raker ini saya banyak belajar dari materi kepemimpinan yang disampaikan oleh Hadi, Setya, dan Evie. Ada 12 fokus hidup yang perlu kita latih dan kembangkan untuk bisa menjadikan kita seorang pemimpin, atau paling tidak menghasilkan hidup yang bermakna. Dua dari dua belas poin itu adalah "Sikap Hati" dan "Nilai-Nilai Hidup". Saya melihat bahwa membentuk sikap hati yang benar sangat menentukan respons kita terhadap situasi di sekitar kita, supaya kita tidak mudah terpengaruh hal-hal yang tidak benar. Sikap hati ini akan banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai hidup yang ditanamkan atau yang kita tanamkan dalam diri seseorang. Itulah sedikit pelajaran-pelajaran yang saya dapat di raker di YLSA 2015. Tuhan memberkati.

Categories: PEPAK

SABDA DALAM DIKLAT GURU AGAMA KRISTEN SINODE GKJ

Tue, 07/14/2015 - 16:53

Pada tanggal 19 Juni 2015, Yayasan Lembaga SABDA mendapat kesempatan untuk memperkenalkan pelayanan YLSA dan membagikan produk-produk YLSA di acara Diklat Guru Agama Kristen kelompok 1 Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa yang berlangsung di GKJ Margoyudan , Surakarta. Mereka adalah guru-guru agama Kristen yang berasal dari Surakarta, Demak, Purwodadi, Salatiga, dan kota-kota di sekitar Surakarta.

Informasi mengenai acara ini kami dapat dari Mbak Elly, yang suaminya bekerja di GKJ Margoyudan. Kesempatan yang sangat baik ini tentu tidak kami lewatkan begitu saja. Karena itu, kami segera berkoordinasi dengan panitia. Puji Tuhan! Panitia juga mengizinkan YLSA untuk memberikan presentasi tentang produk-produk YLSA supaya para guru mengerti bahan-bahan apa saja yang tersedia sehingga dapat menggunakannya dengan tepat.

Persiapan kami lakukan dengan cepat. Indah dengan sigap mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan untuk membuka "booth" SABDA, mulai dari CD-CD Alkitab Audio, DVD Anak, DVD Telaga, DVD Dengar Alkitab, traktat-traktat [;link], brosur, dsb., sedangkan Bayu mempersiapkan perlengkapan instalasi Alkitab dan aplikasi-aplikasi SABDA untuk laptop atau HP peserta.

Pagi harinya, saya, Ibu Yulia , Jessica, dan Harjono berangkat lebih dahulu untuk melihat apakah akan ada banyak laptop peserta yang bisa di-"instal" dengan software Alkitab. Lalu, Liana dan Ami datang menyusul. Sayang sekali, tidak banyak guru yang membawa laptop dan handphone seperti yang kami harapkan. Total ada 17 laptop dan 15 handphone yang kami isi dengan bahan-bahan SABDA, termasuk software SABDA dan aplikasi-aplikasi SABDA. Hal yang membuat kami juga bersyukur adalah Ibu Nike, salah satu panitia, yang ikut aktif membantu kami.

Kesempatan memberikan presentasi mengenai YLSA dan bahan-bahan digital SABDA disampaikan oleh Ibu Yulia. Meskipun waktu yang diberikan hanya 20 menit, tetapi melalui presentasi ini peserta mendapat banyak informasi tentang bahan-bahan yang sudah dibagikan YLSA. Sebelum presentasi, tidak banyak peserta yang datang ke booth SABDA. Namun, setelah presentasi banyak peserta yang menuju ke booth SABDA karena mereka ingin mendapatkan bahan-bahan seperti yang telah dipresentasikan Bu Yulia. Kami pun melayani mereka dengan sepenuh hati dan memberikan apa yang mereka butuhkan.

Saya sangat bersyukur ikut dalam acara roadshow ini karena banyak guru dari berbagai tempat dapat memanfaatkan bahan-bahan dari SABDA bagi kemajuan pelayanan mereka. Saya melihat tangan Tuhan bekerja sehingga pekerjaan-Nya di SABDA tidak sia-sia. Biarlah pelayanan YLSA terjadi sesuai dengan yang menjadi tujuan-Nya. Terpujilah Tuhan!

Categories: PEPAK

Roadshow SABDA di GAIS Gideon, Solo

Tue, 07/14/2015 - 14:39

Oleh:Meiliana*

Pada tanggal 10 Juni 2015, SABDA mendapat kesempatan untuk memperkenalkan dan membagikan bahan-bahan SABDA kepada para hamba Tuhan yang melayani di daerah pinggiran kota Solo dalam acara diklat di GAIS Gideon, Solo.

Kali ini, SABDA mengutus para wanita untuk melakukan pelayanan di sana, yaitu saya, Elly , Indah, Mei, Oci , dan Nidia. Kami berangkat pkl. 11.00 dari kantor. Sesuai jadwal, sebelum acara makan siang, panitia memberikan kesempatan kepada kami untuk mempresentasikan bahan-bahan pelayanan dari SABDA yang akan sangat berguna bagi para hamba Tuhan yang hadir. Ketika melihat kami memasuki gereja, Pdt. Rudi Wouters, yang adalah pendiri gereja GAIS Gideon, spontan berkata, "Itu tim SABDA sudah datang! Yang empunya SABDA adalah Ibu Yulia yang sangat baik dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pelayanan SABDA." Saya masuk ke gereja dan masih kaget dengan suara spontan dari Pak Rudi sambil berusaha mencari dari mana sumber suara itu. Ternyata Pak Rudi ada di altar gereja dan duduk di atas kursi roda. Saya salut dengan beliau karena di tengah segala keterbatasan dan usia yang sudah lanjut, beliau masih bersemangat untuk melayani Tuhan. Pak Rudi pun langsung mempromosikan SABDA kepada seluruh peserta dan meminta mereka memberikan HP dan laptopnya untuk di-"instal" Alkitab/aplikasi-aplikasi studi Alkitab oleh tim SABDA.

Jumlah peserta yang hadir saat itu kurang lebih ada 35 orang. YLSA juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan tentang pelayanan YLSA. Untuk itu, saya ditunjuk Bu Yulia untuk memberikan presentasi ini. Puji Tuhan! Presentasi berjalan baik. Saya berusaha menyampaikan presentasi dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti karena kebanyakan peserta sudah berusia di atas 45 tahun. Mereka juga memberikan respons yang positif atas pelayanan "booth" SABDA yang kami lakukan. Selain membagikan aplikasi Alkitab [;link], kami juga membagikan aplikasi pendukung untuk studi Alkitab seperti Kamus Alkitab, Tafsiran, AlkiPEDIA, dan Alkitab Karaoke. Mereka antusias sekali dan memberi respons "SABDA luar biasa!" Sayangnya, tidak semua peserta memiliki gawai Android yang mendukung semua aplikasi dari SABDA.

Saya sangat salut kepada para hamba Tuhan yang memiliki kerinduan dan hati yang tulus untuk melayani orang-orang yang berada di daerah pinggiran. Mereka juga berusaha mengikuti kemajuan teknologi untuk tugas pelayanan mereka. Dari pelayanan ini, saya juga belajar bahwa sesungguhnya Yesuslah yang luar biasa karena SABDA hanyalah alat yang Tuhan pakai untuk menolong para hamba Tuhan ini melayani di era digital. Maju terus dan tetap semangat melayani TUHAN untuk Pak Pdt. Rudi W. dan semua hamba Tuhan yang sudah hadir. Segala jerih payah dan pengorbananmu tidak akan sia-sia. Imanuel.

Categories: PEPAK

Pengalaman dan Kesanku Menjadi Juri Lomba Remaja

Tue, 07/07/2015 - 15:01

Oleh: Christia Levina Leo*

Saya cukup kaget ketika diberi tahu bahwa saya kemungkinan besar akan menjadi juri di lomba "Ekspresi Remaja di Dunia Digital" yang diselenggarakan oleh YLSA pada bulan Mei -- Juni 2015. Pertama, saya kaget karena pemberitahuannya hanya beberapa hari sebelum hari pengarahan pertama untuk peserta lomba. Kedua, karena ini akan menjadi pengalaman pertama saya menjadi juri di acara perlombaan seperti ini. Lomba yang mengambil tema "Remaja dan Amanat Agung" ini memiliki 3 jenis lomba, yaitu Desain T-shirt, Foto Art, dan Video pendek. Dari setiap jenis lomba, akan dipilih masing-masing 5 finalis yang akan diminta untuk mempresentasikan karya mereka pada penilaian terakhir, yaitu Sabtu, 13 Juni 2015.

Ternyata menjadi juri memang tidak gampang. Saya ingat bagaimana satu per satu karya saya lihat berulang-ulang sebelum diberi skor final untuk tiap kriteria penilaian. Ada karya yang konsepnya bagus tapi visualnya kurang, ada yang kebalikannya. Tapi seru juga melihat karya-karya yang masuk, melihat beragam ide kreatif yang digambarkan oleh adik-adik remaja. Ide-ide tersebut belum tentu terpikir oleh saya saat seusia mereka. Salut deh buat usaha dan kerja keras mereka, apalagi waktu tahu kalau mereka mengerjakan karyanya di waktu yang berdekatan dengan jadwal ujian kenaikan kelas! Sayangnya, beberapa karya terpaksa harus didiskualifikasi karena melanggar peraturan yang berkaitan dengan originalitas.

Setelah penilaian tahap pertama dari semua juri dikumpulkan dan dijumlah, terpilihlah 5 finalis dari masing-masing jenis lomba (yang dirahasiakan dari para juri). Hari presentasi pun tiba. Acara dimulai pada pukul 10 pagi dan diawali dengan doa bersama. Setelah itu, para juri diberikan penjelasan singkat di ruang juri. Saya yang baru tiba di Solo Jumat malam, akhirnya bertemu dengan juri-juri lainnya, yaitu Jaya, Mbak Lusi, dan Yans. Kami dipersilakan masuk dan duduk di kursi juri setelah diperkenalkan satu per satu oleh MC. Aneh juga rasanya, biasanya saya yang presentasi di depan, yang ditanya-tanyai dan dinilai, eh kali ini saya yang harus memberi penilaian dan pertanyaan. Acara presentasi pun langsung dimulai. Tiap peserta diberi waktu 5 menit untuk presentasi dan para juri diberikan waktu 5 menit untuk bertanya kepada peserta lomba.

Tahap presentasi ini menjadi tahap penilaian yang paling berkesan buat saya. Seru sekali melihat para finalis menceritakan konsep, proses pembuatan, kesulitan, dan harapan untuk karya mereka masing-masing. Ada yang penuh percaya diri, ada yang kelihatan masih gugup saat menjelaskan, ada juga yang sangat kreatif dalam membuat media presentasinya. Yang jelas, mereka semua tentu berharap karya mereka bisa menjadi berkat bagi banyak remaja lain.

Setelah semua peserta selesai memberikan presentasi, waktu makan siang pun tiba. Para juri kembali berkumpul di ruang juri. Selagi skor penilaian dihitung oleh tim, kami berdiskusi sambil makan siang. Setelah itu, setiap juri juga diberi kesempatan untuk memberi tanggapan mengenai keseluruhan acara lomba. Diharapkan kekurangan-kekurangan yang ada pada acara kali ini bisa menjadi pelajaran untuk penyelenggaraan acara selanjutnya.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu pengumuman pemenang dari setiap lomba. Selamat untuk para pemenang! Semoga semakin bersemangat dalam berkarya untuk Tuhan, dan giat untuk belajar lebih banyak lagi. Bersyukur atas terselenggaranya acara ini. Bersyukur pula atas kesempatan yang diberikan ke saya untuk menjadi juri. Saya sangat senang melihat semangat dari para remaja yang hadir, baik peserta maupun penonton. Saya sendiri berharap setiap peserta tidak hanya berlomba untuk menjadi juara saja. Semoga setelah mengikuti lomba ini, mereka terpacu untuk menghasilkan karya-karya keren yang bisa menjadi berkat bagi banyak orang, terutama menarik bagi para remaja lain untuk semakin mengenal Kristus dan mengajak para remaja Kristen untuk giat memberitakan injil. Semangat!

Categories: PEPAK

Lomba “Ekspresi Remaja di Dunia Digital”

Tue, 07/07/2015 - 12:51

Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus karena Yayasan Lembaga SABDA tidak hanya diberi hati untuk memperlengkapi para hamba Tuhan dengan berbagai bahan pelayanan, tetapi juga diberi hati untuk merangkul dan mendorong para remaja untuk turut ambil bagian dalam melakukan Amanat Agung Kristus melalui media digital.

Berawal dari kegiatan roadshow YLSA "Berekspresi di Dunia Digital" dan "Media Digital Kawan atau Lawan?" yang dilakukan di beberapa PPA, seperti (PPA Sambeng, PPA Sumpingan, PPA Samaan, PPA JFAN]) dan persekutuan siswa-siswi SMP-SMU se-Sragen, akhirnya mendorong YLSA untuk menyelenggarakan lomba bagi para remaja sebagai bentuk follow up dari roadshow-roadshow tersebut. Nah, pada saat Persekutuan Doa bersama, mulailah semua staf YLSA melontarkan ide-ide untuk kelanjutan pelaksanaan lomba ini, mulai dari tema, jenis lomba, tim juri, hadiah, dll.. Setelah melalui proses pertimbangan dan pengambilan keputusan, akhirnya YLSA mengadakan lomba "Ekspresi Remaja di Dunia Digital" dengan tema "Remaja dan Amanat Agung".

Tema lomba diambil dari Matius 28:19-20, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, ...." Banyak remaja dari berbagai SMP/SMU Kristen di Surakarta dan sekitarnya mendaftarkan diri mengikuti lomba ini. Pembagian kategori lomba adalah sbb.: Desain T-Shirt untuk SMP; Foto Art untuk SMP/SMU; dan Video untuk SMU). Saya sangat bersyukur melihat antusias para peserta mengikuti tahapan lomba, dari pengarahan lomba (9 Mei dan 16 Mei 2015), pengarahan presentasi bagi lima finalis per kategori lomba (6 Juni 2015), dan presentasi para finalis tentang karya mereka dan pengumuman pemenang (13 Juni 2015). Semua staf YLSA ikut ambil bagian membantu mempersiapkan dan mengatur hal-hal yang diperlukan agar pelaksanaan lomba berjalan lancar, mulai dari penyebaran brosur, jalin relasi dengan guru/mentor PPA, pengarahan lomba sampai pengumuman pemenang.

Selain 2 staf YLSA, ada juga dua Sahabat YLSA yang khusus membantu penjurian. Mereka adalah Jaya Satrio Hendrick, Christia Levina Leo, Yans Albert, dan Lusia Ratih. Keempat juri ini berjuang keras untuk menilai semua karya yang masuk ke panitia (13 Desain T-Shirt, 18 Foto Art, 5 Video Pendek) dan presentasi para peserta. Proses penilaian lomba ini dilakukan dalam beberapa tahap, sampai akhirnya membuahkan hasil siapa saja yang menjadi juaranya. Mau tahu para juaranya? Ini nih ...

Desain T-Shirt:
1. Ayu Andira Wulandari (SMPN 20)
2. Soleh Wahyu Utomo (PPA GKI Sorogenen)
3. Ivana Gracia Putri (SMP Regina Pacis)

Foto Art:
1. Noa Christian (SMU Widya Wacana)
2. Aldorino Adhisasmita Y. (SMU Pelita Kasih)
3. Michael Gilang (SMK Kristen 1)

Video:
1. Michael G., Rinaldi Eko B., Fajar Gumilang (SMK Kristen 1)
2. Brian Christiansen, Anggit Kristianto, Elvestara G., Andrew V. (GKIM Anugerah)
3. Kirana Pinkan, Francisco R., Vina Kurnia, Putri D., Setiawati A. (SMK Kristen 1)

Selamat ya untuk para juara!! Saya bangga dengan semua peserta lomba yang sudah berusaha membuat karya terbaik untuk menuangkan makna Amanat Agung Kristus melalui karya-karya mereka. Doakan agar para peserta lomba dan para remaja Kristen semakin memanfaatkan media digital untuk memberitakan Injil dan mereka membawa berkat dan pengaruh bagi sesama dan banyak orang lainnya. Saya berharap di tahun-tahun mendatang akan ada lomba-lomba seperti ini lagi, dengan persiapan yang lebih baik, dan tentu saja supaya lebih banyak remaja yang memiliki visi "IT 4 GOD". Terima kasih untuk Tuhan Yesus, teman-teman YLSA, Jaya, Vivin, dan Ibu Yulia yang banyak terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan lomba ini. Mari kita semakin bersemangat melayani Tuhan Yesus! Amin.

Categories: PEPAK

Roadshow Tim SABDA ke PT. Intan Pariwara

Mon, 07/06/2015 - 14:07

Acara perkenalan YLSA ini sebenarnya adalah inisiatif Pak Imam karena tertarik melihat informasi tentang roadshow YLSA di Facebook. Rupanya, Pak Imam ingin agar teman-teman persekutuannya di PT. Intan Pariwara ini juga mengenal produk-produk pelayanan YLSA. Nah, singkat cerita, tim YLSA diundang ke Klaten untuk memberikan presentasi perkenalan pelayanan YLSA.

<a href="http://blog.sabda.org/blog/blogger-sabda/rostika-surya/">Saya</a>, <a href="http://blog.sabda.org/blog/blogger-sabda/lusia-ratih/">Mbak Lusi</a>, dan <a href="http://blog.sabda.org/blog/blogger-sabda/yohanes-bayu-prajanto/">Bayu</a> ditunjuk sebagai tim roadshow ke Klaten ini. Mbak Lusi diberi tugas untuk membawakan presentasi, sedangkan saya dan Bayu akan membantu melayani instalasi dan jaga booth. Pak Imam dan Pak Sigit datang ke kantor YLSA pukul 13.30 WIB untuk membawa kami ke Klaten. Karena kedatangan kami di kantor PT. Intan Pariwara cukup awal, maka Pak Imam memandu kami untuk melihat proses pembuatan majalah Sahabat Tiko. Majalah ini adalah salah satu produk andalan PT. Intan Pariwara. Saya senang mendapat kesempatan melihat alur pembuatan majalah Sahabat Tiko dari awal sampai akhir.

Saya, Mbak Lusi, dan Bayu ditunjuk sebagai tim roadshow ke Klaten ini. Mbak Lusi diberi tugas untuk membawakan presentasi, sedangkan saya dan Bayu akan membantu melayani instalasi dan jaga booth. Pak Imam dan Pak Sigit datang ke kantor YLSA pukul 13.30 WIB untuk membawa kami ke Klaten. Karena kedatangan kami di kantor PT. Intan Pariwara cukup awal, maka Pak Imam memandu kami untuk melihat proses pembuatan majalah Sahabat Tiko. Majalah ini adalah salah satu produk andalan PT. Intan Pariwara. Saya senang mendapat kesempatan melihat alur pembuatan majalah Sahabat Tiko dari awal sampai akhir.

Sambil kami mempersiapkan "display", para peserta membantu kami membagikan paket DVD Library Anak kepada tamu-tamu yang lain. Suasana cukup menyenangkan karena beberapa tamu yang hadir rupanya sudah mengenal Mbak Lusi sehingga memudahkan tim SABDA berinteraksi dengan peserta. Presentasi Mbak Lusi ditayangkan lewat LCD dan acara berjalan lancar sampai akhir. Bayu menutup acara ini dengan doa. Lalu, peserta dipersilakan untuk melihat-lihat display produk SABDA yang sudah kami persiapkan. Beberapa peserta mengatakan waktu presentasi kurang panjang karena mereka ingin tahu lebih banyak. Kami berharap semoga apa yang kami bagikan menjadi berkat, dan nama Tuhan dimuliakan. IT 4 GOD!

Ultah Nih… Mbak Amid

Wed, 07/01/2015 - 16:23

Bersyukur kali ini sahabat dan rekan kami, Amidya, berulang tahun pada usia yang telah mencapai seperempat abad. Usia yang matang untuk seorang wanita yang gemar belajar sejarah ini. Dan, bila Tuhan menghendaki, tahun ini ia juga akan menyediakan diri untuk dipinang oleh seorang laki-laki idamannya....ciyeee...eee.

Seperti biasa, ada tradisi keluarga besar YLSA dalam menyambut staf yang berulang tahun. Yups, tradisi berkumpul bersama dan berdoa. Tepat jam 3 kemarin (30/6/'15), kami para staf berkumpul di dapur Griya Sabda. Kami mempersilahkan wanita periang yang berulang tahun ini untuk sharing ucapan syukur dan pokok doanya. Ia mengucap syukur untuk setiap anugerah Tuhan yang telah diterimanya, untuk pelayanan yang boleh dikerjakannya bersama dengan rekan-rekan staf YLSA. Ia bersyukur Tuhan telah menolong pelayanannya sebagai koodinator PESTA, banyak berkat yang telah diterimanya dan Tuhan mengerjakan banyak hal dalam hidupnya sehingga ia pun mengalami pertumbuhan secara rohani.

Setelah itu ia juga membagikan beberapa pokok doa. Pokok doa pertama adalah supaya Tuhan turut campur tangan menolong pelayanannya sebagai seorang Pelayan Tuhan, terkhusus sebagai koordinator PESTA. Pokok doa keduanya adalah untuk penyelesaian tugas akhirnya di kampus dan agar dapat wisuda tepat waktu sebagai seorang Magister Pendidikan. Ketiga, berhubungan dengan topik panas...hehe, yaitu pokok doa untuk pernikahannya di akhir tahun nanti, yaitu agar Tuhan menolong dalam segala persiapan hari penikahannya nanti. Terakhir kami berdoa bersama untuk ketiga pokok doa ini, kali ini mbak Okti yang berkesempatan untuk memimpin kami para staf berdoa bagi yang berulang tahun.

Mari, kita katakan sama-sama: Selamat ulang tahun sobat kami, Amidya.......
Kiranya belas kasih dan kasih karunia Tuhan Yesus besertamu selalu.

Categories: PEPAK

Ulang Tahun Yuni

Thu, 06/25/2015 - 14:04

Hari senin kemarin, ada 2 orang cowok magang yang berasal dari Universitas Petra, Surabaya serta 1 orang cewek baru yang masuk sebagai staf baru di YLSA. Nah, pada waktu Persekutuan Doa Hari Senin, mereka diberi waktu untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing, dengan menyebutkan nama, tempat tinggal dan hobby. Setelah persekutuan, mereka langsung aku berikan orientasi bareng untuk masalah presensi, laporan kerja, dan hal-hal pokok di seputar admin. Dari 3 orang ini, yaitu, Andi, Kevin dan Yuni, Yuni adalah orang yang paling diam pada saat aku orientasi alias tidak banyak tanya.

Nah, hari Rabu kemarin, tiba-tiba ada teman yang mengatakan kalau hari ini salah satu dari mereka Ultah. Orang itu adalah Yuniatun atau yang sering dipanggil Yuni. Dia berulang tahun pada tanggal 24, untuk usia yang ke 24. Wah.... cantik... cantik.... tanggal 24, usia 24, hehehe... Jadi, sehabis makan siang hari itu, kami berkumpul sebentar untuk menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" serta mendengarkan sharing dan pokok doa dari Yuni. Pemimpin acara siang itu adalah Setya yang kemudian langsung memberikan hak istimewa untuk mendoakan Yuni kepada Andi, staf magang baru.

Isi dari pokok-pokok doa Yuni adalah untuk pelayanannya di YLSA, untuk kesehatannya, dan juga agar keluarganya dapat dimenangkan oleh Kristus. Kami pun bersama-sama mendoakan kerinduannya tersebut dengan dipimpin oleh Andi. Selesai berdoa, kami semua langsung antri untuk bersalaman sambil mengucapkan ucapan selamat ultah kepada Yuni.

Selamat ulang tahun Yuni, Tuhan Yesus berkati selalu

Categories: PEPAK

Pelatihan BGA di STT Amanat Agung, Jakarta

Wed, 06/10/2015 - 13:53

Pada tanggal 1 -- 6 Juni 2015, saya, Mbak Liana, dan Pak Victor berkesempatan untuk mengikuti training Baca Gali Alkitab (BGA) yang diselenggarakan oleh Scripture Union Indonesia di STT Amanat Agung, Kedoya, Jakarta Barat. Saya pribadi sungguh bersyukur karena mendapat kesempatan untuk belajar memahami proses BGA dan pelajaran dalam Biblika Alkitab selama 1 minggu.

Pelatihan BGA ini adalah pelatihan tingkat nasional, jumlah peserta yang mengikuti ada 55 peserta dan didominasi oleh peserta dari Papua dan Halmahera. Dosen pengajar yang dipilih adalah ahli-ahli Biblika di bidangnya, yaitu Ev. Inawati Teddy (Perjanjian Lama) dari Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili yang membawakan Eksposisi Daud dan Memahami Kitab Kejadian, Pdt. Yongky Karman (Perjanjian Lama) dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta yang mengajar Memahami Kitab Amsal dan Roh-Roh dalam Perjanjian Lama, dan Pdt. Yohanes Adrie Martopo (Perjanjian Baru) dari STT Amanat Agung yang mengajar Memahami Injil Matius. Selain para dosen, ada pula para fasilitator dari Scripture Union yang mengajarkan metode BGA kepada semua peserta. Ada Pdt. Armand Barus yang menjadi fasilitator Surat 1 Yohanes, Ibu Tety yang menjadi fasilitator Kitab Amsal, dan Ibu Rondang Sitompul yang menjadi fasilitator Injil Matius.

Saya sungguh mengingat baik-baik pesan Ibu Yulia sebelum kami berangkat, "Selama pelatihan BGA, kalian harus belajar sebaik mungkin, serap sebanyak mungkin ilmu, dan harus melayani semua peserta". Dalam pelatihan ini, kami tidak hanya datang sebagai peserta, tetapi kami juga membagikan produk-produk SABDA di sana. Dapat dikatakan tugas kami cukup berat, tidak hanya belajar, kami juga harus melayani. Dalam semua itu, kami sungguh mengucap syukur kepada Tuhan, sebab Ia menolong dan memampukan kami. ^_^

Selama mengikuti pelatihan BGA, saya pribadi belajar banyak. Misalnya dari pelajaran Pengantar Kitab, saya belajar bahwa masing-masing kitab dalam Alkitab memiliki kekhasan dan keunikannya sendiri, sementara dari kelas BGA saya belajar bagaimana melakukan PA dengan melihat satu per satu ayat dalam teks yang sedang dipelajari. Dalam kelas BGA, ada beberapa varian yang diajarkan, tetapi karena kami berada di level Executive Ministry 1 (EM 1), varian yang kami terima adalah varian 1. Ada tiga hal penting dalam varian 1 ini, yaitu:
1) Kupelajari (Siapa dan Apa yang kutemukan dalam teks?)
2) Pesan
3) Respons

Sementara untuk booth SABDA, kami sungguh bersyukur karena semua peserta antusias dan terberkati dengan produk-produk pelayanan SABDA. Sejak hari pertama, booth SABDA "laris manis" dikunjungi peserta, dapat dikatakan bawaan kami tinggal separuh. Akan tetapi, booth tetap dibuka sampai hari terakhir. Peserta juga sangat berminat dengan aplikasi-aplikasi Android dari SABDA, dan mereka sangat bersyukur mendapatkan aplikasi-aplikasi tersebut. Beberapa Pendeta dari Papua, Ambon, dan Halmahera berkata, "Akhirnya, saya dapat juga apa yang saya butuhkan untuk belajar Alkitab dan berkhotbah." Dalam bahasa dan dialeknya, Pdt. Otniel dari Papua mengucapkan terima kasih kepada SABDA, "Kasumasa, SABDA!" Harapan kami, semua peserta yang sudah menerima produk dari SABDA dapat terus dipacu untuk melek teologi dan menggunakan bahan-bahan yang sudah ada di tangan mereka. Bahkan, kami berdoa mereka akan membagikannya kepada lebih banyak orang.

Akhirnya, kami mengucap syukur karena selama satu minggu di Jakarta, kami dapat belajar dan melayani semua peserta dengan baik. Kasih dan pemeliharaan Tuhan sungguh kami rasakan setiap harinya. Sebagaimana motto Scripture Union Indonesia "Segar, Kuat, Sigap", saya pun merasakan segar dengan pelajaran yang saya terima, iman saya dikuatkan, dan saya harus selalu sigap dalam melayani pekerjaan Tuhan.

Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

Nonton Bareng Film “The Gospel of Luke”

Wed, 06/10/2015 - 12:58

Oleh: Viktor Kristianto*

Minggu lalu, saya baru menyelesaikan review terhadap Injil Lukas versi Alkitab Yang Terbuka, kemudian kami berkesempatan menonton sebuah film berjudul "The Gospel of Luke" berdurasi 4x30 menit dengan narator musisi Michael Card. Kami menonton film tersebut bersama-sama seluruh staf Yayasan Lembaga SABDA, dengan tujuan agar memperoleh wawasan yang lebih lengkap tentang Injil Lukas, terutama dengan latar belakang daerah di mana Yesus dulu pernah tinggal dan melayani. Latar belakang film adalah Palestina, khususnya lokasi-lokasi yang bernilai historis seperti sungai Yordan, danau Galilea, Hotel King David di Yerusalem, dan lain-lain.

Ada beberapa kesan yang saya peroleh dari film tersebut, di antaranya:

a. Injil Lukas memiliki ciri yang khas dibandingkan dengan ketiga Injil yang lain, yaitu banyaknya pujian yang ditulis Lukas. Ada pujian Maria, pujian Zakharia, pujian malaikat di padang, dan juga pujian Simeon. Dari puji-pujian itu, Injil Lukas menonjolkan pesan sosial yang kuat.

b. Ada kontras yang mencolok antara para pemimpin yang gagal menangkap pesan Yesus, dan orang-orang sederhana yang tersisih dari masyarakat yang justru menangkap pesan Yesus. Orang-orang yang tersisih itu termasuk para gembala, pemungut cukai, orang Samaria, dan juga para perempuan. Dengan kata lain, para pahlawan dalam Injil Lukas adalah orang-orang yang tersisih dalam masyarakat.

c. Kontras yang lain adalah kedatangan Yesus ke dunia dalam kondisi yang sangat sederhana, dibandingkan dengan pola hidup raja-raja pada masa itu seperti Herodes, Tiberius, dan Pontius Pilatus yang cenderung hedonis.

d. Narasi yang dibawakan oleh Michael Card sangat baik, apalagi dengan latar belakang daerah-daerah di Palestina ataupun Roma, seperti sungai Yordan atau Circus Maximus (arena perlombaan kereta zaman dulu, dan konon tempat Petrus disalibkan secara terbalik).

Latar belakang tempat-tempat bersejarah di sekitar Galilea dan Yerusalem itu sangat membantu saya untuk dapat lebih memahami makna tindakan-tindakan yang dilakukan Yesus.

Di penghujung film, Michael Card mengisahkan tentang dua orang murid Yesus yang tidak mengenal Yesus walaupun Ia berjalan bersama-sama dengan mereka cukup jauh. Mereka sepertinya kehilangan pengharapan, tetapi ketika Yesus memecahkan roti di depan mereka, barulah mereka menyadari bahwa itu Yesus. Jadi dari harapan yang rendah, mereka kembali memiliki harapan yang tinggi. Demikian juga para perempuan yang datang ke kubur Yesus pada hari Minggu pagi, sebenarnya hanya ingin meminyaki jenazah Yesus. Mereka pun memiliki pengharapan yang rendah, tetapi ketika mereka mendapati kubur yang kosong dan berjumpa dengan malaikat, barulah mereka kembali memiliki harapan yang tinggi akan Yesus. Sampai di sini, Michael Card lalu bertanya, "Bagaimana dengan Anda? Harapan apakah yang Anda miliki di dalam Yesus?"

Akhirnya, film ini direkomendasikan tidak saja bagi para hamba Tuhan dan para pendeta agar dapat lebih memahami konteks Injil Lukas, tetapi juga bagi semua orang Kristen awam yang belum sempat membaca Injil Lukas dengan penuh rasa hormat. Dengan melihat film ini, dalam 2 jam saja Anda akan belajar memahami kekayaan pesan yang disampaikan oleh Injil Lukas.

Categories: PEPAK

Seminar Doktrin Predestinasi dan Kebebasan

Wed, 06/10/2015 - 12:51

"Datang ya, ke seminar 'Doktrin Predestinasi dan Keselamatan' besok ...," kata Evie mengingatkan kami semua pada akhir persekutuan staf Jumat siang itu. Kebetulan di beberapa persekutuan staf sebelumnya, Ibu Yulia memberikan training mengenai dosa dan keselamatan kepada seluruh staf YLSA. Didorong oleh perasaan ingin tahu lebih banyak tentang doktrin John Calvin mengenai predestinasi, saya berniat datang ke seminar yang berupa tayangan langsung dari Katedral RMCI Jakarta oleh Pdt. Dr. Stephen Tong dan rekan-rekannya. Saya datang ke MRII Solo bersama tante saya yang juga berminat untuk belajar tentang Predestinasi. Berikut adalah sharing yang saya dapat dari seminar tersebut:

Seminar dibuka dengan sesi pertama tentang dosa manusia dan kedaulatan Allah. Pembicara membuka dengan kata-kata Paulus dalam Roma 3, yang menyatakan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Hal ini penting agar kita memahami bahwa keselamatan adalah sepenuhnya karya Allah dan tidak ada usaha manusia sehingga manusia tidak dapat membanggakan dirinya. Jika sampai saat ini masih ada kebaikan, keindahan, dan kemampuan manusia untuk melakukan hal yang baik, misalnya untuk mencipta dan menikmati keindahan, itu pun karena Allah yang memberikan anugerah umum kepada setiap manusia.

Kemudian, pembicara mengajak kami untuk membuka Ayub 42:2, yang menyatakan tentang rencana Allah yang tidak pernah gagal karena Allah kita adalah Allah yang berdaulat. Allah berdaulat, artinya:
1. Allah berhak dan berkuasa untuk menentukan segala sesuatu demi kemuliaan-Nya.
2. Allah melaksanakan apa yang ditetapkan-Nya demi kemuliaan-Nya.
3. Allah mengendalikan ciptaan-Nya demi kemuliaan-Nya.
Dari sini, disimpulkan bahwa kedaulatan Allah sesungguhnya adalah usaha-usaha yang dilakukan Allah demi kemuliaan nama-Nya. Namun, sifat kedaulatan Allah itu harus dipahami dalam integrasi sifat-sifat Allah; yang suci, yang tidak akan berbuat dosa, dan yang bijaksana, sehingga tidak ada yang dilakukan Allah yang sia-sia. Peristiwa penciptaan sendiri merupakan ekspresi dari kedaulatan Allah.

Pembicara berikutnya adalah Pdt. Stephen Tong, yang memulai pembicaraannya dengan mengatakan bahwa doktrin itu penting. Mengapa? Karena dengan doktrin, kita dapat memelihara pengajaran para rasul dengan setia dan benar, sehingga kita tahu apa dan siapa yang kita percayai. Tidak ada agama yang tidak memiliki doktrin atau pengajaran. Salah memilih doktrin, kita menjadi tersesat. Beliau menceritakan tentang kehidupan Agustinus, seorang tokoh gereja yang besar, yang pada awalnya hidup dalam kesesatan dan doktrin yang salah, sehingga berdampak pada kehidupan yang dijalaninya. Namun, ketika akhirnya ia bertobat dan mengikuti doktrin yang benar, yang tidak didasarkan pada pengalaman, pendapat, atau kebiasaan yang dimilikinya, Agustinus akhirnya menjadi salah satu filsuf Kristen terbesar di sepanjang masa, yang memuliakan Tuhan dengan iman dan akal budinya.

Selanjutnya, beliau berbicara mengenai definisi kebebasan. Bagi manusia, kebebasan berarti dapat melakukan segala sesuatu sekehendak hati. Namun, pada kenyataannya, hal itu tidak mungkin terjadi karena kebebasan manusia dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain. Immanuel Kant mendefinisikan kebebasan yang mutlak sebagai kebuasan karena kebebasan sesungguhnya memiliki definisi yang bersifat mengikat dan terbatas. Menarik apa yang diungkapkan oleh Pak Tong mengenai makna dari kebebasan sejati, yaitu: "Ketika saya dapat melakukan apa yang tidak ingin saya lakukan". Ketika manusia jatuh dalam dosa, ia menjadi hamba dosa, dan hanya dapat melakukan apa yang menjadi keinginan daging, yaitu keinginan dosa. Hanya ketika menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, maka manusia dapat menjadi manusia yang merdeka, karena Roh Kudus memampukan manusia untuk tidak melakukan keinginan kedagingannya.

Kebebasan manusia berasal dari Allah, oleh karena itu manusia harus mempertanggungjawabkan kebebasannya kepada Allah. Hanya Allah satu-satunya Pribadi yang memiliki kebebasan yang benar-benar bebas. Allah mampu membatasi kebebasan-Nya yang mutlak di bawah prinsip kebenaran-Nya, sehingga ia tidak berdosa dan menjadi satu-satunya Pribadi yang dapat menghakimi manusia. Yesus Kristus adalah teladan yang sempurna dalam menggunakan kebebasan-Nya, terutama ketika tunduk pada kehendak Bapa-Nya pada peristiwa penyaliban 2000 tahun yang lalu.

Sayang sekali, saya tidak dapat mengikuti acara sampai selesai sehingga tidak dapat membagikan materi dengan lengkap. Meskipun demikian, saya bersyukur dapat mendengar sebagian dari seminar Doktrin Predestinasi dan Kebebasan ini sehingga saya mendapatkan penjelasan yang lebih dalam mengenai doktrin yang dianut oleh gereja-gereja aliran reformed. Kata "diselamatkan" tidak lagi memiliki makna sama seperti yang saya ketahui sebelumnya. Semoga ini bukan menjadi euforia sesaat, melainkan menjadi pupuk bagi pertumbuhan iman dan menjadikan iman saya semakin lebih hidup.

To God be the Glory!

Categories: PEPAK

Training Kepenulisan di SABDA (10 April 2015)

Mon, 06/08/2015 - 16:23

Dalam mengerjakan pelayanan yang telah dipercayakan oleh Tuhan bagi kita, ketetapan dan kesungguhan hati memang merupakan hal yang paling utama bila dibandingkan dengan yang lain. Akan tetapi, hal ini juga perlu diimbangi dengan kemauan untuk terus belajar dan menemukan hal yang baru untuk menjadikan kualitas pekerjaan pelayanan kita terus meningkat hari demi hari. Oleh karena itu, Yayasan Lembaga SABDA selalu memotivasi dan memfasilitasi para stafnya untuk meningkatkan kompetensi mereka melalui berbagai macam pelatihan yang terus diberikan untuk mencapai tujuan tersebut.

Pada hari Kamis tanggal 10 April 2015 yang lalu, Yayasan Lembaga SABDA juga kembali mengadakan pelatihan untuk para stafnya. Ada dua topik yang diangkat dalam pelatihan kali ini. Topik yang pertama adalah tentang cara menyusun paragraf yang logis. Topik ini sangat bermanfaat, khususnya bagi para staf divisi publikasi yang memang berkecimpung dalam bidang tulis-menulis. Sekalipun tidak semua bahan yang ada dalam divisi publikasi ditulis sendiri oleh para stafnya, hal-hal yang didapatkan melalui pelatihan ini akan sangat membantu ketika mereka harus membuat editorial, menulis kesaksian, menyunting artikel, dll.. Tidak hanya bagi divisi ini saja, topik ini juga bermanfaat bagi para staf dari divisi-divisi yang lain untuk membantu mereka dalam mengerjakan tugas-tugas menulis artikel, blog atau sejenisnya.

Topik lain yang dibahas dalam pelatihan kali ini adalah kelebihan dan kekurangan penggunaan slide PowerPoint sebagai alat bantu presentasi. Tentu saja, topik ini sangat relevan karena memberikan pemahaman bagi kita bahwa sekalipun memiliki kelebihan yang cukup banyak, kita tidak boleh bergantung kepada slide PowerPoint yang kita buat. Slide PowerPoint hanyalah alat bantu untuk kita dalam menyampaikan materi agar lebih mudah diterima oleh orang lain, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, kita seharusnya lebih menguasai materi sehingga ketika listrik padam dan slide yang kita buat tidak dapat ditampilkan pun kita masih tetap bisa menyampaikan materi dengan maksimal.

Bersyukur untuk pelatihan kali ini karena wawasan saya semakin ditambah melalui materi-materi yang disampaikan. Semoga dengan lebih banyak lagi pelatihan-pelatihan semacam ini, potensi setiap pelayan Tuhan bisa lebih lagi dikembangkan dan kinerja mereka bisa semakin ditingkatkan. Hanya, perlu selalu diingat bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan dan harus dikembalikan kepada Tuhan demi kemuliaan nama-Nya. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Tidak Pernah Menyesal Berada di SABDA

Fri, 05/29/2015 - 15:12

Oleh: Wiwin*

Dari perusahaan farmasi masuk ke SABDA?? Ehm, jelas hal yang cukup besar bedanya. Tidak sekadar istilah-istilah yang berubah, tetapi juga metode kerja pun berubah. Memang perlu adaptasi, tetapi saya sangat percaya bahwa Allah tidak pernah salah menempatkan saya di SABDA. Setiap hari saya dibawa untuk berjumpa dengan firman Tuhan di sela-sela jam kantor, yang secara otomatis mengarahkan hati dan pikiran saya juga kepada TUHAN sebagai pribadi di balik firman Tuhan itu sendiri. Pikiran saya semakin difokuskan kepada hal-hal yang bernilai kekal.

Karena saya tidak punya background IT, selama 8 bulan saya hanya bisa membantu pelayanan di divisi AYT (Alkitab Yang Terbuka), Komunitas , dan Publikasi , sekalipun kadang saya berpikir akan sangat senang jadi Hadi atau Khenny (Personal di divisi ITS) yang dipakai Tuhan untuk menghasilkan produk-produk IT. Demikian juga jadi seperti Mbak Lusi dan Yans yang dipakai Tuhan menghasilkan produk-produk Multimedia. Namun, bersyukur Allah mengizinkan saya untuk belajar banyak hal juga di divisi AYT, Komunitas, dan Publikasi.

Di divisi AYT, saya mengerjakan proses interlinier, membaca cepat kitab Markus, Bilangan, Hakim-Hakim, Rut, Nehemia, dan 1 Samuel. Melalui pekerjaan ini, ketelitian, kemampuan bahasa Indonesia, dan kemampuan bahasa Inggris saya diasah lebih lagi.

Di divisi Komunitas, saya belajar menjadi moderator PA online di e-Renungan Harian dan e-Santapan Harian. Suatu pengalaman yang unik karena biasanya saya memimpin PA secara langsung. Dibukakan kembali bahwa teknologi yang diberikan Tuhan bisa digunakan dalam mengenal Tuhan dan menjalin relasi yang luas dengan sesama tubuh Kristus lainnya.

Di divisi Publikasi, saya membantu pengerjaan publikasi e-Wanita, e-Doa, e-JEMMi, dan KADOS. Saya tidak saja mencari artikel-artikel untuk beberapa publikasi, tetapi saya juga membantu menerjemahkan beberapa artikel. Sangat menyenangkan ketika saya bisa melihat Allah menambahkan banyak hal dari tugas-tugas ini.

Typing test yang diwajibkan bagi staf baru pun bisa saya cicipi. Sekarang, saya tidak lagi mengetik dengan 4 jari saja karena latihan tes tersebut. Hal ini tentu memberi nilai tambahan dalam kemampuan saya. Sepertinya, hanya di SABDA yang memberikan pelatihan ini bagi staf-stafnya.

Hal yang menyenangkan lagi di SABDA adalah Griya SABDA itu sendiri, ruangan yang didesain sangat asri dan alami. Saya beberapa kali menggunakan suasana yang teduh di griya untuk berdoa dan saat teduh sendiri di sana, tentunya di luar jam kantor. Selain itu, ada ribuan buku di Griya SABDA yang siap dibaca setiap saat oleh staf. Di Griya SABDA ini juga semua staf rutin berkumpul untuk bersekutu bersama tiap Senin dan Jumat. Tempat ini menjadi saksi bisu perjuangan saya untuk berjuang melawan rasa malas saya untuk berbicara di depan umum dan berpikir kritis. Benarlah jika saya menyimpulkan Allah sangat sengaja membawa saya ke tempat ini untuk meng-"upgrade" saya.

Teman-teman di mess, temasuk keluarga Bu Yulia, juga memberi warna indah dalam hidup saya selama 8 bulan ini. Mereka membuat saya semakin menyadari saya punya banyak saudara di dalam Tuhan. Sekalipun dengan temperamen dan kebiasaan berbeda, semua pribadi menoreh kesan yang indah dalam hidup saya. Saya masih ingat Desember tahun lalu saat saya makan bersama dengan keluarga Ibu Yulia di malam Natal, saya begitu bahagia karena merasa seolah-olah saya mendapatkan orang tua saya kembali.

Hal yang paling saya sukai adalah ketika diikutkan roadshow ke luar kota. Melayani bersama teman-teman SABDA dan langsung bertemu dengan para pengguna produk SABDA adalah hal yang mengasyikkan. Selain menambah kedekatan antarsesama staf yang ikut roadshow, hal itu juga membuka wawasan saya terhadap lingkungan Kristen di luar Solo. Melalui roadshow, saya bisa berkenalan dengan para pelayan Tuhan dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, bahkan sampai luar pulau Jawa.

Sepertinya akan cukup panjang untuk menuliskan kisah-kisah menyenangkan di SABDA. Bagi saya, SABDA adalah tempat yang aman untuk menjaga hidup semakin fokus pada Allah, tempat yang subur untuk mempraktikkan hidup sederhana, jujur, disiplin, dan kerja keras. Tempat yang subur juga untuk membuat diri semakin pandai. Hal ini bisa terjadi bukan sekadar sistem dan prasarana yang didesain sedemikian rupa untuk hal-hal tersebut. Namun, karena teladan hidup dari pemimpin SABDA dan keluarga yang terus bisa dilihat setiap hari oleh staf-staf SABDA.

Saya sendiri berharap semua yang saya dapat di SABDA akan saya terus lakukan dalam hidup saya. Terima kasih untuk Ibu Yulia sekeluarga dan teman-teman semua. Kalian semua adalah berkat Tuhan yang tidak ternilai, yang saya dapatkan selama 8 bulan ini. Sekalipun berpisah, ikatan persaudaraan di dalam Kristus tidak akan pernah diputuskan. Adalah sukacita bagi saya jika saya bisa terus menjadi keluarga besar SABDA dengan cara yang lain. Saya yakin tempat seperti SABDA adalah tempat yang harus dilestarikan dan digandakan di semua tempat. Sampai bertemu lagi semua!! I will miss u all.

*Wiwin adalah staf magang YLSA.

Categories: PEPAK

Jaga Booth SABDA “Sendiri”? Inilah Pengalamanku ….

Thu, 05/21/2015 - 15:34

Bersyukur kepada Tuhan Yesus karena YLSA diberi kesempatan untuk melayani para pendeta GMII di Bogor. Kesempatan ini ada karena terselenggaranya acara sidang sinode GMII. Dalam acara ini, semua pendeta GMII hadir, ada sekitar 300 pendeta. GMII mempunyai 150 gereja, dan semua gereja diwajibkan mengutus dua orang (pendeta & majelis), jadi ya minimal 300 orang ada dalam acara ini, itu belum termasuk panitia dan tamu. Acara ini berlangsung selama tiga hari, 25 -- 27 Maret 2015, di Hotel Seruni, Bogor.

Saya mewakili tim SABDA hadir di sana untuk melayani banyak pendeta. Mulai dari mempersiapkan booth SABDA, menjelaskan produk, meng-"instal" HP/Laptop, dan membagikan produk-produk SABDA, saya melakukannya seorang diri. Ada sekitar 40 HP yang saya instal. Banyak dari mereka yang tertarik dengan Kamus Alkitab (karena 'kan pendeta ... hehe). Selain itu, semua gereja mendapatkan 1 paket SABDA (DVD Anak 1.3, DVD Dengar Alkitab, dan DVD TELAGA). Pengalaman saya jaga booth SABDA sendirian cukup berkesan. Ya awalnya sih semangat, tetapi waktu mulai buka booth ... baru terasa susah karena semua harus ditangani sendiri. Yang paling terasa waktu makan siang/malam. Awalnya, saya berpikir bahwa "pasti bisa saya tangani sendiri" dan juga "tempat makannya akan dekat dengan booth", tapi ya, kenyataannya tempat makan jauh sekali (di gedung yang berbeda), dan susah cari orang untuk bantu jaga booth waktu saya makan. Namun, saya bersyukur karena ada orang-orang yang akhirnya bisa membantu. Dari pengalaman ini, saya punya saran untuk SABDA. Kalau buka booth SABDA, minimal ada dua orang yang terlibat supaya bisa saling menolong kalau ada hal-hal yang "urgent"/tidak direncanakan sebelumnya. Kita harus bisa berkomunikasi aktif dengan panitia. Sering kali dalam acara-acara seperti ini, ada beberapa hal yang berubah tanpa sepengetahuan kita, jadi kita harus aktif menghubungi panitia untuk mendapatkan informasi.

Oh iya, anggota GMII yang sudah mendapatkan produk SABDA sangat senang dan bersemangat, khususnya mereka yang mendapatkan produk Android, seperti Kamus Alkitab. Ada juga pendeta-pendeta dari pedalaman Kalimantan, mereka senang bisa membawa banyak bahan (paket SABDA) ke gereja mereka. Puji Tuhan!

Dari pengalaman ini, saya belajar "you can't do it alone", seperti yang dipelajari teman-teman sewaktu training. Saya sudah sering melakukan roadshow , dan awalnya sih saya pikir bisa dilakukan sendiri karena acara gereja sendiri dan sudah kenal banyak orang. Akan tetapi, ketika acara berlangsung, panitia sangat sibuk untuk mengurus acara, apalagi karena acara dilakukan di luar (di hotel). Jadi, karena semua sangat sibuk, tidak ada orang yang punya waktu untuk membantu saya kalau saya butuh bantuan. Bersyukur kepada Tuhan karena memang saya tidak mengerjakannya ini sendirian. Selalu ada Tuhan yang menyertai pelayanan SABDA di mana pun dan kapan pun. Terpujilah Tuhan!

Categories: PEPAK

Ulang Tahun Pertama Mei di YLSA

Wed, 05/13/2015 - 08:57

Hari minggu sore, tanggal 10 Mei 2015, saya membaca notifikasi dari Facebook tentang orang-orang yang berulang tahun hari itu. Eh, ternyata salah satunya adalah Mei, teman 'semeja' di kantor Griya SABDA dari Divisi PESTA, yang belum genap setahun bergabung bersama kami di YLSA. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengucapkan selamat ulang tahun di wall profil Facebooknya dengan ucapan, "Eh, ada yang ultah niy... besok ada ting ting berarti Selamat tambah tua ya Mei.. Tambah geulis, gesit, gempi, dan gemilang. Tak doakeun ^_^." Itu adalah ungkapan doa sekaligus harapan tulus dari lubuk hati terdalam (ciee.. :-p) untuk Mei, yang selama ini dikenal sebagai salah satu staf YLSA yang cekatan, baik hati, rajin, ramah, dan tidak sombong, plus selalu asyik untuk jadi ajang ledekan teman-teman di kantor. Seperti ungkapan yang sedang 'in' saat ini, "Mei mah emang gitu orangnya.."

Nah, hari Seninnya, saat Persekutuan staf pagi di kantor, Mei pun didaulat untuk memberi kesan dan pesan untuk hari ulang tahunnya yang perdana di YLSA sekaligus juga pokok-pokok doa untuk disharingkan kepada kami semua. Mei dengan bijak (cie..), mengatakan bahwa ia sungguh bersyukur kalau ia dan sebagian besar anggota keluarganya telah mengenal Tuhan Yesus. Itu adalah anugerah terbesar yang ia terima, yang sangat berarti bagi diri beserta ibu dan kakak serta adiknya. Namun, di sisi lain ia juga berharap agar ayah dan kakak keduanya yang masih belum mengenal Kristus juga dapat beroleh kesempatan untuk memperoleh anugerah keselamatan dalam pengenalan akan Kristus. Itu kemudian menjadi pokok doanya, selain juga pokok doa lainnya untuk keluarga kakak pertamanya serta adik-adiknya, agar semakin berakar dan bertumbuh di dalam Kristus. Kami pun kemudian mendoakan kerinduan Mei pada keluarganya itu, disertai dengan permohonan agar Mei sendiri semakin diteguhkan dalam pelayanannya, agar semakin menjadi berkat dan memberi dampak yang baik di mana pun ia ditempatkan oleh Tuhan.

Last but not least, i wish you a very Happy Birthday, Mei. May your life will be full of love, laugh, joy, and blessings from above. Semoga lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi, kalau bertemu dengan Mei dan buntut-buntutnya (haha..amin!), masih tetap bisa menemukan Mei yang sama, yang suka ber-haha hihi dan membawa suasana ceria di kantor, di mana saja. Kami doakan.

Categories: PEPAK

Perjalanan Roadshow yang Menegangkan ke GKI Ngupasan

Tue, 05/12/2015 - 13:58

Oleh: Wiwin*

Suasana mendung siang hari, Sabtu, 2 Mei 2015, tidak menyurutkan persiapan kami untuk memulai perjalanan ke GKI Ngupasan, Yogyakarta. Kami (Bu Yulia, Jesica, saya, dan Yans) berangkat dari Solo sekitar pukul 14.00 WIB dengan menggunakan si "Opel" yang setia. Sebelum si "Opel" melaju, kami tentu tidak lupa berdoa bersama untuk pelayanan kami. Di tengah perjalanan, kami baru sadar bannernya ketinggalan di kantor, hemm. Kesedihan berlanjut ketika Pak Hartono, kontak person kami dari GKI Ngupasan, memberi tahu bahwa di Yogyakarta kendaraan ramai sekali, dan kami disarankan untuk tidak lewat Jalan Malioboro supaya tidak terjebak kemacetan. Ternyata belum sampai masuk Yogya, beberapa kilometer sebelum bandara Adi Sucipto, kemacetan sudah terjadi. Walaupun sempat tegang karena mobil kami hanya bisa berjalan merayap, kami berhasil keluar dari jalan utama sesuai dengan petunjuk Pak Hartono. Akan tetapi, karena ada beberapa jalan yang ditutup untuk demo buruh, maka kami terpaksa berhenti di alun-alun Keraton dan menunggu Pak Satpam gereja menjemput Bu Yulia, yang harus mengisi kebaktian jam 17.30. Walaupun tidak terlalu terasa, tetapi kami cukup panik mencari cara untuk sampai ke tempat tujuan tanpa terhalang macet. Waktu sudah menunjukkan jam 18.00 lewat ketika akhirnya Bu Yulia sampai di GKI Ngupasan bersama Pak Satpam.

Setelah melewati pengalaman yang cukup menegangkan itu, kami menjadi lega melihat Bu Yulia sudah bisa berdiri di atas mimbar dan memulai khotbahnya. Sedangkan kami juga tidak membuang waktu, langsung mengerjakan tugas kami menyiapkan booth SABDA untuk melayani jemaat GKI Ngupasan. Hadi yang sudah datang lebih dahulu di GKI Ngupasan juga langsung menyiapkan booth instalasi. Kami menyiapkan booth di Atrium di samping ruang utama ibadah. Selesai ibadah, Yans harus pulang ke Solo naik kereta api karena besok (hari Minggu) dia ada tugas di gerejanya. Malam itu, Hadi, Jesica, dan saya berjuang untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi mereka yang datang ke booth.

Booth langsung diserbu jemaat setelah ibadah usai. Booth SABDA menjadi penuh dengan gawai (handphone) Android untuk diinstalkan enam aplikasi SABDA, dan banyak jemaat melihat-lihat booth SABDA. Jemaat GKI Ngupasan sangat antusias mendapatkan aplikasi yang dipromosikan Bu Yulia di akhir khotbahnya. Mereka sangat berharap aplikasi-aplikasi itu akan menolong mereka belajar firman Tuhan dengan lebih luas dan menarik. Tidak hanya itu, mereka juga bisa menambah bahan-bahan audio dan DVD bahan pelayanan anak yang dipajang di booth SABDA. Untuk mereka yang tidak memiliki handphone Android, mereka cukup lega mendapatkan DVD Telaga, DVD Dengar Alkitab, dan DVD Anak serta CD Audio Alkitab dari berbagai bahasa. Bagi mereka yang ingin lebih praktis, tersedia SD Card 16 GB yang sudah diisi dengan bahan-bahan dari 3 DVD tersebut. Roadshow malam itu berhasil kami selesaikan sampai sekitar pukul 20.30 WIB. Akhirnya, kami bisa menghela napas dan mengisi perut kami di sebuah rumah makan bersama Pak Hartono dan keluarga Pak Natan. Kami beristirahat malam itu dengan nyaman di guest house gereja. Sedangkan Hadi pulang ke rumahnya di Yogya.

Antusias jemaat GKI Ngupasan untuk mendapatkan aplikasi Alkitab Android juga kami saksikan di hari Minggu, 3 Mei 2015. Setiap selesai ibadah, banyak jemaat yang menyerbu booth SABDA untuk instalasi handphone Android dan laptop, juga untuk mendapatkan CD Alkitab Audio, DVD bahan-bahan, SD Card, dan traktat. Saya senang dengan beberapa remaja dan anak sekolah minggu yang sempat mampir ke booth dan melihat video yang kami putar di Tablet. Dengan sangat semangat, saya menjelaskan isi DVD Library Anak dan menawarkan 2 traktat; Tuhan Yesus Menyelamatkanmu dan Hatiku Rumah Kristus. Semoga traktat-traktat itu mereka baca dan bagikan berkatnya kepada teman-temannya yang lain.

Ibu Yulia berkhotbah 3 kali dalam ibadah minggu di GKI Ngupasan dan senang sekali mendengar respons yang mereka sampaikan secara langsung ke Bu Yulia. Firman yang dikhotbahkan diambil dari Kisah Para Rasul 8:26-40. Khotbah itu sekaligus menjadi contoh cara penggalian ekspositori yang bisa dilakukan oleh jemaat dibantu dengan aplikasi Kamus Alkitab, AlkiPEDIA, dan Tafsiran.

Dalam 4 kali ibadah itu, Sabtu dan Minggu, antara Hadi dan Jesica telah sempat menginstal aplikasi SABDA di hampir 140 handphone dan beberapa laptop. Benar-benar kerja keras sehingga mereka tidak berinteraksi dengan bebas dengan para pengunjung. Saya juga bersukacita dapat membagikan 82 DVD Library Anak, 60 DVD Telaga, 78 DVD Dengar Alkitab sehingga jemaat dapat membawa pulang bahan-bahan yang dapat memperlengkapi pelayanan mereka. Pelayanan SABDA di GKI Ngupasan dapat berjalan baik karena didukung oleh pelayanan yang sangat bersahabat dari pihak gereja. Selain memberi perhatian, mereka juga ikut membuat kami bersemangat dan bersukacita, terutama Bapak Hartono dan ibu-ibu yang sangat ramah menemani kami melayani. Terima kasih Tuhan untuk teman sekerja yang baik dari GKI Ngupasan!

Yans datang lagi ke Yogyakarta sekitar jam 20.00 untuk membawa kami dan "Opel" pulang ke Solo. Kami tiba di kantor dengan selamat sekitar pukul 21.30. Terima kasih Tuhan untuk kuasa dan pemeliharaan-Mu yang menyertai kami! Terpujilah nama-Mu!

*Wiwin adalah staf magang YLSA.

Categories: PEPAK

Pengalamanku di SABDA

Mon, 05/11/2015 - 11:39

Oleh: Eben Gunadi*

Saya bersyukur bahwa selama lebih dari setengah tahun ke belakang ini diberi kesempatan untuk magang di SABDA. Jarang di dunia ini ada komunitas seperti SABDA -- komunitas yang dibenamkan di dunia teknologi modern yang begitu canggih, tetapi masih hidup dan berinteraksi di tengah-tengah pedesaan yang sederhana. Namun, justru karena kontradiksi itulah, saya bisa bertumbuh dalam dua aspek yang berbeda (tetapi sama pentingnya), yakni dalam keterampilan teknologi maupun dalam kebudayaan Kristen yang ditegakkan di SABDA.

Dalam segi teknologi, hal pertama yang harus dipelajari adalah bahwa tidak ada satu orang yang bisa memberi dampak besar kalau hanya sendirian. Karena dunia teknologi begitu luas dan berbagai jenis, sangat diperlukan kemampuan untuk berkerja sama sebagai satu tim dalam menyelesaikan tugas dengan efektif. Dalam konteks ini; hal-hal seperti workflow (sistem kerja), komunikasi (bahkan komunikasi yang berlebihan), dan sikap positif, menjadi hal-hal yang sangat penting dalam lingkungan IT. Ini tidak mudah karena IT menuntut perkembangan karakter dari pelakunya. Saya sendiri masih ingat bagaimana sulitnya berjuang untuk tetap fokus di rapat-rapat tim; untuk mendengar usulan rekan-rekan yang lain dengan terbuka, dan bahkan untuk bisa merasa senang ketika menemukan masalah (karena itu membuka kesempatan untuk perkembangan!).

Dunia teknologi yang berkembang secepat kilat juga menuntut para pekerjanya untuk senang belajar hal-hal yang baru. Bahkan, salah satu pengurus di SABDA merekomendasikan kami untuk membaca paling tidak 100 halaman buku IT setiap hari! Tapi memang sangat penting juga bagi setiap anggota dalam tim IT untuk bisa belajar secara mandiri. Akan sangat membebankan tim jika ada orang yang harus terus-menerus meminta bantuan/penjelasan dari rekan-rekannya, dan orang yang tidak gemar belajar hal-hal baru tentang IT kemungkinan besar juga tidak akan membawa sikap positif ke dalam kantor kerja. Bagi saya sendiri, butuh waktu yang cukup lama -- juga diperlambat dengan penyesuaian fisik, transisi dari LA ke Solo -- untuk menemukan rutinitas belajar yang produktif. Hal yang saya temukan berguna bagi saya adalah belajar memakai situs-situs interaktif, pertama-pertama dengan codeacademy.com, dan sekarang dengan teamtreehouse.com (codeschool.com juga situs yang layak diperiksa). Untuk membuat fondasi yang kuat sebagai web designer, saya sedang berusaha untuk menekuni HTML & CSS, JS & JQ, serta sedikit PHP untuk coding.

Di jam kerja SABDA sendiri ada banyak hal teknis yang harus dipelajari, mulai dari hal-hal mendasar seperti cara membuat proposal situs, menginventarisasi konten, dan merencanakan layout situs, sampai ke hal-hal yang lebih teknis seperti membuat script PHP yang bisa interaktif dengan database MySQL untuk mengelola data. SABDA memakai CMS Drupal untuk membuat situs-situsnya, dan program ini juga sesuatu yang tidak mudah dipelajari. Saya masih ingat, pada bulan-bulan awal di SABDA, saya menghabiskan banyak jam di kantor untuk menonton video tutorial satu demi satu untuk bisa menggunakan Drupal.

Mungkin semua hal teknis tersebut bisa pelajari di luar SABDA, tetapi hal yang membuat SABDA unik adalah cara semua hal itu dapat diintegrasikan ke dalam kebudayaan dan komunitas Kristen yang erat. SABDA memiliki fasilitas mess yang cukup luas, yang memungkinkan sekitar setengah dari stafnya bisa hidup bersebelahan dengan kantor dan dengan sesama. Ditambah lagi lingkungan pedesaan yang tidak memiliki terlalu banyak hiburan materi, dan hasilnya adalah sekelompok orang yang bisa berkawan akrab dan bukan sekadar rekan kerja biasa. Rata-rata, lebih dari satu jam kerja disisihkan setiap hari untuk kami merenungkan firman bersama, berbagi berbagai macam pergumulan yang sedang dialami, serta mendukung sesama dengan kata-kata penghiburan dan doa. Sekitar sebulan sekali, kami juga pasti ada semacam acara di luar kantor, misalnya persekutuan di salah satu rumah staf ataupun retret ke tempat wisata.

Bagi orang luar yang mendengar kisah ini pasti berkata alangkah indahnya komunitas erat seperti ini. Namun, dalam aspek ini pun, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk penyesuaian. Saat kita ada persekutuan staf yang bisa berlanjut sampai dua jam atau lebih, dibutuhkan disiplin yang tinggi untuk saya bisa fokus terus-menerus, apalagi kalau topik yang sedang dibahas tidak terkait dengan saya secara langsung. Saya masih ingat perjuangan untuk melawan pikiran saya yang melayang-layang, sampai mencoba menerapkan metode-metode meditasi ataupun mengambar muka-muka orang yang sedang berbicara. Metode-metode tersebut adalah temuan instan yang saya pakai ketika akar masalahnya, yaitu kurangnya hati yang peduli akan orang lain, sedang diperbaiki dengan perlahan. Sebab, memang tidak ada jalan pintas untuk mengembangkan kebesaran hati seperti itu. Untuk keluar wedangan bersama ketika ada kesempatan, atau untuk "nongkrong" seolah-olah tidak ada tujuan, atau menggunakan bahasa Jawa (apalagi Jawa kromo!) ketika saya bisanya hanya memakai bahasa Indonesia atau Inggris -- hal-hal kecil inilah yang sedikit demi sedikit mengubah hati saya untuk lebih peduli dengan rekan-rekanku di SABDA.

Untuk maju di masa depan, saya merasa cukup diperlengkapi SABDA; untuk bisa masuk ke dalam dunia IT maupun untuk bertumbuh secara rohani dengan konsisten dan dengan tujuan. Banyak pelajaran di dunia ini yang kita tidak bisa pelajari lewat sekolah, sebaliknya harus dengan pengalaman. Walaupun tidak dengan cara yang mudah, SABDA telah memfasilitasi pengalaman ini untuk saya agar saya bisa belajar berkerja sama dengan orang lain, mengembangkan visi dan misi yang sehat untuk hidup ini, mengubah sikap terhadap pekerjaan, dan membangun relasi dengan sesama dan dengan Allah.

Sekali lagi, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bu Yulia dan keluarganya, serta semua rekan di SABDA, termasuk Snoopy, untuk pengalaman yang tak akan terlupakan untuk saya. Kiranya Tuhan terus memberkati dan menyertai pelayanan SABDA di abad-abad yang akan datang.

Categories: PEPAK

SABDA di Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia

Fri, 05/08/2015 - 16:23

Berawal dari tawaran Pak Bambang Sriyanto yang saat itu sedang memimpin seminar "Menjawab Tantangan Kepemimpinan Kristen Abad 21", yang diselenggarakan oleh STT Berita Hidup, kami mendapat kesempatan untuk membuka booth di acara Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia yang diadakan pada Maret yang lalu di Surabaya. Pada roadshow ini saya pergi dengan ditemani Khenny dan anak saya Jesica yang kebetulan sedang libur sekolah.

Selama dua hari, YLSA membagikan produk-produk SABDA, di antaranya 3 macam DVD sumber bahan, CD-CD Alkitab Audio dari berbagai bahasa, traktat dan informasi-informasi produk YLSA supaya para hamba Tuhan gereja Baptis yang hadir bisa membawa pulang bahan-bahan SABDA untuk memperlengkap pelayanan mereka. Ada cukup banyak hamba Tuhan yang datang di booth SABDA, bahkan tidak saya sangka ada banyak yang tertarik dengan DVD Alkitab Aksara Jawa dan juga DVD bahan-bahan dalam bahasa Chinese .

Selain membagikan produk-produk tersebut, YLSA juga menjalin relasi dengan hamba-hamba Tuhan dari Gereja Baptis. Itulah salah satu tujuan saya ikut dalam roadshow ini. Walaupun cukup kecewa karena tidak mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi, tapi kami cukup bersemangat melayani para hamba Tuhan yang datang ke booth kami, termasuk teman-teman dari STBI. Semoga melalui pertemuan ini, akan disambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

Ketika kami sedang berjalan keluar dari tempat pertemuan, kami bertemu dengan Bu Anna dari STTIAA Pacet yang sedang kunjungan ke rekan pelayanan dari gereja Baptis yang ikut kongres. Pertemuan itu ternyata berbuntut panjang.... karena gara-gara pertemuan ini, beberapa minggu kemudian Bu Anna mengirim Mas Aning untuk mengikuti training di SABDA ...

Kesempatan ke Surabaya juga kami manfaatkan untuk berkunjung ke rekan pelayanan yang sudah lama sekali kami kenal yaitu, pdt. Jusuf BS dari Gereja Bukit Zaitun, Surabaya. Sambil saling berbagi berkat kami banyak berbincang-bincang tentang proyek penerjemahan yang sedang dikerjakan, baik oleh Pdt. Jusuf (Alkitab Wasiat Baru) maupun oleh SABDA (Alkitab Yang Terbuka). Sungguh senang bertemu dengan hamba Tuhan yang punya 'passion' terhadap penerjemahan Alkitab. Semoga Tuhan terus mendorong kami untuk berbagi berkat sebagai sesama pelayan Tuhan.

Perjalanan pulang ke Solo cukup "unforgetable" karena terjebak macet setelah Mojokerto karena ada trailer yang terguling di jalan... wow berjam-jam kami menunggu jalan dibuka lagi. Kami bersyukur bisa pulang dengan selamat.

To God be the glory.

Categories: PEPAK

Komentar