Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Leadership
Blog SABDA
Indahnya Berbagi Kasih Tuhan
“Oh… betapa indahnya hidup kita jalani
Tiada waktu terlewat tanpa bahagia
Mari lihat ke luar, terkadang kita lupa
Kita tak sendiri menikmati indahnya
Hidup yang diberikan oleh Sang Pencipta….”
(Sumber lirik: Kidung)
Penggalan bagian lirik lagu di atas begitu indah. Bagian lirik itu intinya kira-kira demikian, “Bukti seseorang mengasihi Allah adalah mengasihi sesamanya.” Itulah yang memberikan dorongan bagi keluarga besar YLSA untuk turun gunung dan berbagi kasih melalui bakti sosial bersama dengan saudara-saudara seiman. Tepatnya mulai pertengahan tahun lalu, semua staf YLSA mulai mengumpulkan koin-koin yang kami miliki, baik di kantong ataupun di dompet kami, khususnya ketika staf kembali dari jajan saat ‘break’ kantor berakhir. Seperti tidak kenal lelah, mbak Elly dengan sabar berkunjung dari satu meja ke meja yang lain untuk menghimpun setiap koin yang ada. Ada kalanya mendapat sambutan seperti, “Lewat dulu ya mbak….” Puji Tuhan, selalu ada yang bisa dikumpulkan.
Seperti kata pepatah, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Kalimat itulah yang tepat mewakili setiap koin yang kami kumpulkan bersama-sama yang pada akhirnya memberikan hasil. Meski tidak banyak, saya melihat antusias yang besar dari teman-teman untuk menyukseskan acara ini. Satu kerinduan kami melalui momen ini adalah menjadi saluran berkat bagi orang lain. Karena itu kami mulai merencanakan ‘aksi sosial SABDA’. Berbagai ide-ide kreatif telah banyak diusulkan oleh teman-teman dan akhirnya kami sepakat untuk mengadakan acara nonton bareng bersama anggota Persekutuan Pemulung Solo, “Biji Mata Yesus”. Film yang kami tonton adalah “Jesus Story for Children” yang diambil dari DVD Library SABDA Anak 1.2.
Agenda yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba, yaitu tanggal 14 Mei 2013, pukul 18.00 WIB. Acara nonton bareng ini dibuka dengan puji-pujian yang dipimpin oleh Sdr. Yegar dengan tim singer (Sdri. Lusi Lusi, Ade Ade, Evie Evie dan Tika) yang dengan suara emasnya dapat mengajak setiap orang yang hadir larut dalam sukacita. Sesekali Yegar mengajak jemaat untuk menirukan gerakannya, yang membuat suasana semakin hidup. Senyuman dari wajah-wajah yang bersukacita menghiasi indahnya kebersamaan ibadah malam itu. Sesudah puji-pujian berakhir, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Yulia dan diteruskan dengan refleksi singkat. Setelah itu, acara diteruskan dengan menonton film Yesus. Film yang diambil dari Injil Lukas ini menceritakan pelayanan Yesus selama berada di dunia dilihat dari sudut pandang anak. Saya mengamati mereka semua sangat antusias menonton tayangan film yang diputar. Bahkan, anak-anak yang datang pun bisa duduk diam menyaksikan pemutaran film malam itu. Setelah film berakhir, kami menutup acara dengan sedikit refleksi dan berdoa. Lalu kami membagikan makan malam berupa nasi bungkus kepada semua yang hadir. Puji Tuhan, acara dapat berjalan dengan lancar meski masih banyak hal-hal yang perlu ditingkatkan lagi. Saya sangat diberkati setelah mengikuti acara tersebut. Harapan saya, acara seperti ini dapat membangkitkan semangat semua yang datang untuk mengakui bahwa “Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat.” Tuhan memberkati.
Pelatihan SABDA di STA Tiranus Bandung
Oleh: Zorin*
Pada tanggal 15 — 17 April 2013, saya diberi kesempatan oleh tim SABDA untuk ikut serta dalam Roadshow Pelatihan SABDA di STT Tiranus di Cihanjuang, Bandung. Hal tersebut merupakan pengalaman yang berharga karena selain saya bisa lebih mengerti tantangan Kristen generasi zaman ini, saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan beberapa pelayan Kristen yang sudah puluhan tahun melayani Tuhan.
Saat tiba di STT Tiranus, kami disambut hangat oleh Bpk. Sridadi selaku rektor STA Tiranus beserta istrinya. Kami menikmati makan malam bersama sambil berdialog hangat. Kami sempat bertamu juga ke rumah Pak Purnawan Tenibemas (mantan Rektor STA Tiranus sebelumnya). STA Tiranus telah menyediakan sebuah “guest house” yang lebih dari cukup untuk menjadi tempat tinggal kami selama 3 hari. Secara pribadi, saya sangat berterima kasih untuk ‘hospitality’ STA Tiranus.
Pada hari pertama, kami mengadakan pelatihan penggunaan software SABDA untuk para mahasiswa S1 yang sedang menempuh studi di STA Tiranus. Ternyata, ada banyak mahasiswa yang belum paham menggunakan IT, tetapi banyak juga di antara mereka yang mau belajar menggunakan software SABDA dan mereka tampak takjub akan potensi dari software ini. Software SABDA memiliki banyak fitur dan dilengkapi dengan sumber-sumber bahan biblika yang sangat mempermudah menyiapkan khotbah. Misalnya, untuk studi bahasa asli Alkitab. Dulu, kita harus mempunyai kamus asli bahasa Ibrani atau Gerika, dan kita harus mencari kata-kata yang dicari secara manual. Proses tersebut memakan banyak waktu, namun dengan software Alkitab seperti SABDA, hanya dengan hitungan detik kita bisa menemukan makna asli tiap kata karena sudah terhubung dengan kamus bahasa asli. Bahkan, orang awam tanpa studi teologi pun mampu melakukannya dengan mudah.
Pada hari kedua, kami mengadakan seminar mengenai pelayanan “IT 4 God” yang diberikan oleh tim SABDA. Kita bisa melihat bahwa IT memiliki potensi yang luar biasa dan sudah mentransformasi kehidupan kita secara drastis pada semua aspek kehidupan. Namun, faktanya masih banyak orang Kristen menganggap IT sebagai suatu fenomena dunia yang terpisah dari kehidupan gerejawi. Dampaknya terlihat dari hilangnya generasi muda di gereja-gereja seluruh dunia. Generasi ini sudah terbiasa dengan IT sehingga ketika melihat gereja yang masih kuno, mereka cenderung memilih untuk tidak pergi ke gereja. Kita kehilangan generasi tersebut secara perlahan-lahan jika kita tidak melakukan sesuatu.
IT ini sendiri, yang merupakan ciptaan manusia dan sesuatu yang diizinkan Tuhan untuk ada di dunia, adalah sebuah anugerah. Namun, hal ini tidak banyak dilihat oleh orang Kristen sehingga IT justru banyak dikelola oleh orang dunia, yang tentunya berujung pada hilangnya jiwa-jiwa yang seharusnya kita menangkan bagi Kristus. Yayasan Lembaga SABDA merupakan satu-satunya organisasi yang memperjuangkan “IT 4 God”, yakni penggunaan IT demi Kemuliaan Tuhan. Yayasan ini menyebarkan materi-materi rohani/biblika secara giat pada pihak-pihak yang membutuhkan untuk mempersiapkan mereka dalam tugas pelayanan pada zaman ini. Ini merupakan tugas yang berat, namun Tuhan selalu menjaga yayasan ini dalam umurnya yang sudah hampir dua puluh tahun.
Di sela waktu kosong dari dua hari tersebut, saya mendapat kesempatan untuk berdialog singkat dengan Dr. Stanley Heath selaku pendiri STA Tiranus. Beliau sudah berusia 88 tahun dan sudah melayani sekitar 50 tahun di Indonesia. Beliau memiliki banyak gelar doktor, namun ia orang yang amat sederhana. Saya takjub mendengar pernyataannya bahwa dalam berbagai zaman yang sudah dia lewati, semua yang telah ia pelajari tidak ada apa-apanya dibanding Alkitab. Beliau mengatakan bahwa yang paling esensial dalam kehidupan Kristen adalah hubungan erat dengan Kristus melalui devosi ketaatan pada Alkitab dan doa.
Jika Tuhan mengizinkan, saya ingin mengikuti kesempatan berikutnya dalam roadshow, pelayanan SABDA. Saya berharap Anda, sebagai Sahabat dan Pendukung SABDA selalu dekat dengan Kristus melalui doa dan Alkitab, karena hanya dua hal tersebut yang bisa menjaga iman kita di zaman yang terus berubah ini. Doakanlah kehidupan kekristenan zaman ini beserta pelayanan yang bersangkutan, seperti pelayanan di bidang IT yang dilakukan oleh pihak SABDA. Tuhan memberkati.
*Zorin adalah mitra YLSA yang menjadi volunteer dalam pelatihan SABDA di Bandung.
Pelatihan SABDA untuk Sinode Gereja Isa Almasih di Semarang
Oleh: Suparjoko T.A.*
“Terima kasih atas pelayanannya, Pak Joko.”
Kata-kata itu yang berkesan di hati saya sebelum pergi meninggalkan SMA YSKI (Yayasan Sekolah Kristen Indonesia) yang beralamat di Jl. Sidodadi Timur 23, Semarang. Ucapan terima kasih diiringi senyuman dari hamba-hamba Tuhan malam itu membuat saya menyadari betapa besar Tuhan kita. Saya yang dari bukan siapa-siapa, tidak mengerti apa-apa, bahkan baru belajar merangkak dalam pelayanan, ataupun belajar firman Tuhan bisa dipakai oleh Tuhan untuk melayani para hamba Tuhan yang rindu menggunakan Software SABDA untuk menunjang pelayanan mereka.
Ya, pada awal bulan Mei lalu, saya beserta tim YLSA, yaitu Ade, Yegar, dan Mbak Evie, bersama-sama melayani pelatihan penggunaan Software SABDA untuk hamba-hamba Tuhan Gereja Isa Almasih (GIA) se kota Semarang. Saya belum lama bergabung dengan YLSA, bahkan baru dalam hitungan hari, tetapi saya sangat bersyukur karena teman-teman di YLSA memberi dukungan dan membantu saya untuk latihan, khususnya Ade dan Yegar yang mau mengorbankan waktu mereka pada malam hari untuk latihan presentasi. Mbak Evie juga sangat membantu dengan saran-sarannya, bahkan menyelamatkan saya dengan menjawab beberapa pertanyaan yang saya belum bisa menjawab.
Pada Kamis, 2 Mei 2013, Tim YLSA berangkat setelah makan siang, yaitu sekitar pukul 12.00 dengan mengendarai mobil menuju Semarang. Dalam mobil, kami berbincang seputar pekerjaan di YLSA dan kami sangat beruntung diantar oleh sopir yang sudah berpengalaman dengan gaya menyetir yang membuat kami tidak bisa mengantuk. Perjalanan yang menyenangkan membuat kami tidak bosan, bahkan tanpa kami sadari, tiba-tiba sudah tiba di Semarang sekitar pukul 14.45. Segera, kami melakukan survei tempat, yaitu di SMA YSKI yang memakai ruang lab komputer untuk tempat pelatihan. Ternyata, di sana sudah ada beberapa orang bapak yang sedang sibuk memasang LCD proyektor, salah satunya adalah Bapak Joko selaku petugas multimedia di lab tersebut. Setelah mengamati dan menganalisis situasi, kami bersyukur menemukan posisi terbaik supaya peserta bisa fokus mengikuti pelatihan dengan maksimal.
Setelah mengatur tempat, menata meja untuk display, menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk presentasi selesai, kami bersiap-siap menyambut peserta yang datang. Acara dibuka oleh Bapak Yusuf, yang khusus datang dari Bandung untuk mengkoordinir pelatihan ini. Presentasi dimulai dengan pembukaan oleh Ade yang memperkenalkan YLSA, kemudian dilanjutkan dengan Yegar yang memberikan presentasi tentang pendahuluan software SABDA–manfaat dan kelebihan software SABDA. Presentasi ini menolong menumbuhkan hasrat ingin tahu dari para peserta untuk menggunakan software SABDA sebelum mereka benar-benar belajar dengan mempraktekan software SABDA. Pada saat saya membawakan presentasi dan mencoba mengajak para hamba Tuhan untuk mempraktikkan bagaimana menggunakan software SABDA, saya menemukan beberapa pertanyaan yang menambah wawasan saya, khususnya tentang versi terjemahan Alkitab, apa saja yang paling diinginkan oleh pengguna software SABDA, dan beberapa sumber bahan yang diinginkan. Bahkan, ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, beberapa peserta justru membantu menjawab. Apa yang disampaikan menambah wawasan bagi semuanya yang belum tahu (termasuk saya.. hehehe….).
Pada saat mempraktikkan bagaimana menggunakan software SABDA, Ade dan Mbak Evie menyebar untuk membantu para peserta yang mengalami kesulitan. Sedangkan, Yegar menjadi operator selama saya memberikan presentasi. Sebelum acara selesai Yegar juga membantu instalasi Alkitab di handphone bagi peserta yang menginginkan. Saya sangat bersyukur karena para peserta mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar Alkitab dengan software SABDA. Tentu saja, ini menjadi modal utama untuk kesuksesan pelatihan ini. Di samping itu, belakangan baru saya ketahui ternyata sebelumnya para peserta sudah mendapatkan pelatihan sendiri tentang multimedia dan internet. Hal ini tentu sangat membantu karena dapat menjadi pemanasan atau persiapan bagi peserta yang belum mahir menggunakan teknologi komputer.
Setelah saya selesai memberikan pelatihan software SABDA, Mbak Evie mereview hal-hal apa saja yang sering ditemui pada saat menggunakan Software SABDA, dan juga sekaligus membawakan presentasi SABDA Care sebagai penutup. Pada acara ini seluruh peserta menerima paket DVD Library SABDA Anak 1.2 yang kami bagikan secara gratis. Isi dan kegunaan dari DVD ini dijelaskan oleh Ade sebelumnya.
Saya bersyukur telah menyelesaikan tugas roadshow bagi hamba Tuhan GIA Semarang ini. Saya menjadi lebih tahu hal-hal yang harus lebih saya persiapkan dan pelajari. Menguasai bahan itu penting sekali, tetapi ada kalanya kita harus melangkah lebih dulu. Sebagai gambaran, “Saat seseorang berdoa minta ‘kesabaran’ atas masalah yang dihadapi, Tuhan tidak dengan seketika membuat orang itu ‘sabar’, tetapi harus terjun dulu untuk mengalaminya. Begitu juga dengan hal-hal yang belum kita pelajari dan kuasai, saat kita mulai melangkahlah ada kekuatan, ada kemampuan, apalagi ketika melayani di ladangnya Tuhan.
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kol. 3:23
Terima kasih. Tuhan memberkati.
*Suparjoko T.A. adalah staf YLSA divisi Humas untuk training yang sedang dalam masa percobaan.
Alkitab: Sulit/Mudah Dibaca?
“Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku ….” (Mazmur 119:105)
Jika Alkitab sedemikian penting, kapan terakhir Anda membaca Alkitab? Apakah Anda membaca Alkitab setiap hari? Sudahkah Anda membaca seluruh Alkitab (Kejadian — Wahyu)?
Saya yakin pertanyaan-pertanyaan di atas sering Anda dengar. Bagi orang Kristen, Alkitab bukanlah buku kuno yang ditinggalkan atau dilupakan orang, termasuk pada zaman “e-book” yang serba elektronik ini. Di semua gadget, seperti HP/I-Pad/Notebook/Tab yang dimiliki orang Kristen, pasti kita akan temukan Alkitab. Beberapa produk elektronik selalu bersaing untuk memberikan “feature” terbaik bagi penggunanya, Alkitab pun menjadi salah satu yang diperhitungkan. Ada HP yang bisa diset sehingga bisa menampilkan ayat favorit atau ayat hafalan pada layarnya. Tidak hanya itu, kita juga bisa mengganti mode suara sehingga ayat itu bisa didengarkan sesering yang diinginkan/dibutuhkan oleh user, bahkan dengan tampilan bentuk yang keren dan warna-warni yang bisa diatur.
Mendapatkan Alkitab seharusnya sekarang tidaklah sulit, khususnya dengan tunjangan teknologi yang serba canggih, cepat, dan trendy. Karena itu, membaca Alkitab kapan pun dan di mana pun, sesungguhnya sudah tidak masalah lagi. Namun, pertanyaannya sekarang, apakah kita semakin mudah memahami isi Alkitab?
Saya mengenal seorang petobat baru yang tinggal di sebuah desa dengan segala keterbatasannya — transportasi sulit, tempat tidak mudah dijangkau, penduduk yang tidak memiliki pendidikan yang memadai. Ketika Yesus masuk ke dalam hidupnya, hatinya rindu menggebu-gebu ingin mengenal lebih dalam. Siapakah Yesus yang sudah begitu mengasihi dan mau mati bagi dirinya yang berdosa? Mengapa Ia mau menyelamatkannya dari hukuman maut dan menganugerahkan kehidupan yang kekal dan mulia? Bagaimana ia bisa memenuhi kerinduannya yang begitu menggebu-gebu ini? Keluarganya belum ada yang mau bertobat, teman-temannya berbeda agama. Puji Tuhan, ia diberi Alkitab yang bisa dia baca, meskipun harus dengan sembunyi-sembunyi karena dilarang keras oleh keluarganya. Dari Alkitab, ia bisa mulai mengenal Yesus Kristus Tuhannya. Namun, pada saat yang sama, ia menemukan banyak hal yang ia tidak bisa mengerti dari Alkitab. Kata-kata di dalam Alkitab kadang begitu sulit dimengerti, meskipun dia mengerti bahasa Indonesia — maklum dia tidak pernah mengenyam pendidikan. Saya juga punya seorang teman di kota besar, pengusaha yang sukses, menjadi orang Kristen sudah bertahun-tahun. Dia adalah orang yang suka berpikir dengan sederhana, jadi sungguh memusingkan bagi dia jika membaca Alkitab dan berusaha untuk memahami isinya. “Kalau saya baca Alkitab, saya bukannya mengerti, tapi malah bingung,” begitu pernah dikatakannya.
Apakah untuk memahami isi Alkitab seseorang harus pandai, dan berpikiran kompleks? Akan tetapi, bukankah Alkitab itu ditujukan Allah untuk semua orang? Jelas-jelas Tuhan Yesus datang bukan untuk orang yang pandai-pandai saja. Karena itu, Alkitab tentu diberikan kepada semua orang dengan berbagai latar belakang pendidikan, bangsa, bahasa, budaya, dan keunikannya masing-masing. Adanya penerjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa di dunia oleh para utusan Injil dan timnya merupakan usaha untuk membuat semua orang di dunia bisa memahami Alkitab dengan lebih mudah, dengan menggunakan bahasa yang mereka mengerti. Namun, pada satu sisi yang lain, perlu ada usaha penerjemahan Alkitab yang bisa memberikan solusi bagi kedua teman saya di atas, yaitu bagaimana membaca Alkitab dengan bahasa yang bisa lebih mudah dimengerti oleh mereka.
Kesulitan memahami isi Alkitab bukan hanya karena Alkitab memiliki latar belakang budaya dan tradisi, zaman yang berbeda, tetapi juga karena cara penerjemahannya — pemilihan kata, dan susunan kalimat yang dipakai. Di seluruh dunia ada ratusan versi Alkitab. Dalam satu bahasa tertentu, Alkitab juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa versi (cara penerjemahan yang berbeda). Seperti yang kita ketahui, untuk Alkitab Bahasa Indonesia saja, ada banyak versi, seperti TL, BIS, LAI, FAYH, dan ada banyak lagi yang lain. Masing-masing versi memiliki target pembacanya sendiri-sendiri, sesuai dengan kebutuhan mereka. Meskipun tidak 100% menjamin dapat memenuhi semua kebutuhan, mengingat begitu terbatas dan kompleksnya kebutuhan manusia, tetapi kehadiran berbagai versi Alkitab ini sangat membantu. Paling tidak hal ini dapat memperkaya dan memperluas pemahaman pembaca tentang firman Tuhan yang begitu ajaib.
Jerih payah orang-orang yang mengasihi Tuhan untuk menerjemahkan Alkitab didasari salah satunya oleh kerinduan agar semakin banyak orang mengenal Kristus. Karena itu, hasil penerjemahan dituntut untuk mudah dibaca sehingga lebih mudah orang memahami firman Tuhan yang berisi Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) adalah salah satu yayasan Kristen di Indonesia yang memberikan perhatian yang sangat besar kepada Alkitab. Memang sudah ada banyak versi Alkitab, tetapi YLSA melihat bahwa masyarakat Kristen Indonesia membutuhkan sebuat Alkitab baru yang mudah dibaca. Alkitab yang mudah dibaca ini memiliki semangat yang sama dengan Alkitab Bahasa Inggris yang disebut “Easy-to-Read Version” (ERV). Proses pengerjaan Alkitab ini sebenarnya sudah dimulai oleh tim dari Yasuma, dan YLSA mengambil bagian untuk melakukan pengeditan agar menghasilkan Alkitab yang bukan hanya enak dan mudah dibaca, tetapi juga setia kepada Alkitab dalam bahasa aslinya. Sampai saat ini pengerjaan pengeditan memasuki tahap-tahap terakhir.
Sungguh merupakan anugerah yang tiada tara kalau saya boleh ikut ambil bagian dalam proyek penerjemahan Alkitab ini. Dengan penuh kegentaran, saya ikut masuk dalam tim SABDA untuk mengedit penerjemahan Alkitab, yang adalah Firman tertulis dari Tuhan sendiri. Kerinduan saya adalah agar lebih banyak orang yang bisa memahami Alkitab yang dibacanya, dan bukannya menjadi bingung. Dengan akan hadirnya Alkitab baru yang mudah dibaca, semoga orang-orang Kristen sekarang menjadi mengerti firman Tuhan sehingga dapat semakin mencintai firman Tuhan, bertumbuh dalam pengenalan yang benar, serta menjadi pelaku Firman.
“Sungguh, Firman-Mu pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku;
kalau aku membaca Kitab Suci,
aku akan bertumbuh;
karena ku tahu,
ya tahu Alkitab sungguh benar.”
Perayaan Paskah YLSA 2013
Masih terngiang dalam ingatan saya momen ketika kami seluruh staf YLSA merayakan Natal pada Desember tahun lalu. Perayaan Natal ini sangat istimewa karena untuk pertama kalinya YLSA merayakannya di tempat yang baru, yaitu di Griya SABDA, momen yang menyenangkan dan tak terlupakan. Kenangan itu kini terulang kembali, karena pada hari Jumat, 5 April 2013 kami kembali menggunakan Griya SABDA untuk merayakan Paskah 2013.
Beberapa hari sebelumnya, panitia Paskah cukup disibukkan dengan berbagai persiapan. Mulai dari acara, konsumsi, dekorasi, ‘talent show’, dan sebagainya. Termasuk saya, yang ditunjuk untuk mempersiapkan dekorasi, dokumentasi, dan drama. Walaupun cukup lelah dan pusing, tetapi saya senang melihat semangat rekan-rekan semua. Di tengah-tengah kesibukan pekerjaan kantor yang menumpuk kami semua bersemangat melakukan tanggung jawab kami mempersiapkan perayaan Paskah bersama. Itulah yang memberikan inspirasi kepada saya.
Jerih lelah kami ternyata tidaklah sia-sia karena ketika perayaan Paskah tiba, acara berlangsung begitu hangat dan menyenangkan dengan kehadiran sekitar enam puluh orang. Rasa kekeluargaan dan kesan elegan berhasil membayar lunas semua rasa ‘kecewa’ yang sempat ‘mampir’ dalam hati saya. Terlebih saya merasakan detak kagum ketika merenungkan kembali bagaimana Yesus mati dan bangkit untuk saya. Sebelum pemberitaan firman Tuhan, ada suguhan menonton video tentang kebangkitan Yesus, dan istimewanya, video tersebut merupakan buah karya staf YLSA sendiri. Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami.
Secara pribadi, saya juga sangat senang dengan tema yang dipilih pada perayaan Paskah tahun ini yaitu “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita” (1 Korintus 15:14). Tema firman Tuhan malam itu dibawakan oleh Pdt. Nathanael Harinoto. Beliau adalah seorang pelayan Tuhan yang menggembalakan sebuah jemaat di Kota Sragen. Saya sangat terkesan dengan penampilan beliau, terutama karena antusiasme dan semangatnya yang berkobar-kobar ketika memberitakan firman Tuhan. Perayaan Paskah malam itu ditutup dengan acara ‘talent show’ berupa persembahan pujian dan drama Paskah. Acara ini memberikan warna tersendiri dalam memaknai Paskah tahun ini.
Akhir kata, saya sangat bersyukur dapat merayaan Paskah 2013 bersama staf YLSA. Terlebih lagi, saya mendapat kesempatan untuk menulis blog perayaan Paskah 2013. Saya juga senang karena telah dilibatkan dalam perayaan Paskah tersebut sebagai sie dekorasi dan dokumentasi dengan dibantu oleh Mas Sigit, Yusak, dan Kak Yochan. Terima kasih juga kepada Ibu Yulia, seluruh panitia Paskah, semua keluarga besar YLSA, dan para tamu undangan. Tetaplah bersemangat melayani Tuhan … Maju Terus Pantang Mundur …!!! Hehe … !
Doa saya, kiranya melalui perayaan Paskah ini kerohanian dan pengenalan kita akan Tuhan Yesus Kristus semakin bertambah, sehingga kita semakin serupa dengan Dia dalam hal karakter dan sikap hidup. Selamat Paskah, Tuhan Yesus memberkati.
Monk, OCD, dan Pelayanan
Beberapa waktu yang lalu, YLSA kembali mengadakan pelatihan staf dengan metode menonton film bersama. Kali ini kami menonton film Monk, sebuah serial TV AS yang menceritakan tentang seorang detektif bernama Adrian Monk. Monk adalah detektif yang terkenal dengan ‘keunikannya’ sebagai penderita ‘OCD’.
OCD atau “Obsessive-Compulsive Disorder” (gangguan obsesif-kompulsif) adalah sebuah gangguan kecemasan yang ditandai dengan munculnya secara tetap pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang dilakukan berulang-ulang dan sulit dikendalikan. Contohnya, berulang kali mencuci tangan karena khawatir terkena kotoran, berulang kali memeriksa kunci rumah karena khawatir belum dikunci, atau berulang kali memeriksa kompor karena takut belum dimatikan.
Selain memiliki OCD, Monk juga memiliki fobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap 312 hal, mulai dari takut terhadap kuman hingga takut ketinggian. Walaupun demikian, ia mampu mengatasi kekurangan-kekurangannya tersebut dan mengubahnya menjadi kelebihan-kelebihan yang sangat berguna dalam menginvestigasi kasus-kasus kriminal, misalnya, karena banyak yang ia takuti, ia jadi memperhatikan hal-hal yang detil, dan ingatan Monk sangat tajam, lebih daripada orang normal. Dalam episode yang kami tonton, ada satu fakta sepele tentang pulpen yang menggelinding pada awal episode yang ternyata mengantarkannya untuk memecahkan kasus pembunuhan.
Dari ‘nonton bareng’ film Monk ini, apa yang dapat kami (staf YLSA) pelajari dan terapkan dari menonton episode Monk untuk pelayanan di YLSA? Saya pribadi belajar bahwa OCD yang berlebihan memang dapat mengganggu orang-orang di sekitar kita — itu sebabnya ia disebut “disorder” atau “gangguan”. Tetapi dengan memiliki sedikit gejala “obsesif-kompulsif” yang tepat, kita bisa memanfaatkannya untuk menjadi sesuatu yang menguntungkan kita. Misalnya, ketika menulis saya sering mengkhawatirkan apakah saya sudah menulis dengan bahasa Indonesia yang benar atau belum. Sementara itu, ketika saya menulis kode pemrograman, saya juga melatih diri untuk memberi perhatian pada hal-hal detail. “Obsesi” terhadap kode program yang benar mendorong saya untuk bekerja lebih teliti lagi, memperhatikan setiap detil, dan menandai setiap kesalahan dengan cepat dan tepat. Sifat “kompulsi” membantu saya menemukan pola kesalahan dan menghubungkannya dengan semua kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi.
Nah, teman-teman dan pembaca sekalian yang pernah menonton film ini, apa yang dapat Anda pelajari? Silakan saling berbagi dengan meninggalkan komentar di bawah ini.
AMD: Alkitab Mudah Dibaca
Jika ada orang bertanya pada saya, “Apakah hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu hingga saat ini?” Saya akan menjawab, “Selain anugerah keselamatan dan pemeliharaan Tuhan lewat orang-orang yang saya kasihi, maka hal terbesar dalam hidup saya sampai saat ini adalah keterlibatan saya dalam proyek AMD.” Mungkin hal ini bukan saja yang terbesar, tetapi juga menjadi hal yang mendasari pertumbuhan iman saya dalam masa-masa yang akan datang.
Ada banyak kesan, pelajaran dan hal-hal yang luar biasa yang saya nikmati ketika mengerjakan proyek ini bersama rekan-rekan YLSA. Yang pertama, melalui proyek AMD ini Tuhan menunjukkan kepada saya bagaimana indahnya berjuang bersama-sama saudara seiman. Sering, ketika kami tengah makan siang bersama atau menikmati kudapan, saya mendengar dan ikut terlibat dalam obrolan-obrolan ringan mengenai kemajuan yang dicapai oleh masing-masing kelompok, kesulitan-kesulitan, bahkan pelajaran yang kami dapat hari itu.
Hal kedua yang saya dapat dari proses penyuntingan AMD ini adalah pengetahuan mengenai dunia dan kebudayaan zaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Pengetahuan-pengetahuan itu saya dapat terutama dari diskusi dan pelatihan yang diadakan selama dua minggu, dari tanggal 11-22 Februari, yang dibawakan oleh konsultan dari Bible League International (BLI). Dari presentasi-presentasi beliau mengenai sejarah budaya zaman kuno itulah saya bisa lebih memahami budaya dan kebiasaan yang melatarbelakangi penulisan Alkitab. Ada banyak “Momen Aha!” (ungkapan yang kami gunakan saat menemukan pemahaman baru) yang kami alami ketika mengupas istilah-istilah, kebiasaan-kebiasaan, dan sistem-sistem masyarakat yang berlaku pada zaman itu.
Selama dua minggu itu saya juga banyak belajar tentang ayat-ayat Alkitab beserta makna yang terkandung di dalamnya. Di satu sisi saya merasa “dikenyangkan” oleh penjelasan dan pengetahuan baru yang saya terima, tetapi di sisi lain juga semakin menyadari besarnya tanggung jawab yang dipikul di pundak para editor AMD. Bagaimana tidak? Ternyata susunan kalimat dan kata yang kurang tepat dalam suatu terjemahan bisa membuat pembaca Alkitab kehilangan akses ke dalam kekayaan firman Tuhan. Jika hal itu terjadi, maka itu adalah kesalahan kami! Selain pengajaran dan evaluasi, hampir setiap pagi kami juga menerima berkat melalui renungan singkat yang diberikan. Menurut saya, renungan-renungan yang diberikan sangat sederhana tetapi sangat dalam. Dalam renungan-renungan itu beliau sering menekankan bahwa tidak ada Allah yang bersembunyi di belakang Yesus, sebab Yesus adalah perwujudan Allah yang paling sempurna.
Pada hari Jumat (22/2), pelatihan AMD resmi selesai, itu berarti kami mulai memasuki babak baru. Kami harus melakukan ‘editing’ dengan lebih teliti dan sistematis untuk seluruh Perjanjian Baru, dan menyelesaikan alat-alat bantu (halaman-halaman tambahan) yang akan disertakan dalam Alkitab Mudah Dibaca ini, seperti misalnya catatan kaki, glosarium, referensi silang, dll.. Ini berarti kisah pengalaman saya mengedit AMD masih akan berlanjut. Saya berharap akan ada lebih banyak “Momen Aha!” yang akan saya dan rekan-rekan lain dapatkan. Saya berdoa semoga Tuhan memberikan lebih banyak lagi pelajaran yang mengubah hidup dan saya semakin merasakan anugerah Tuhan dalam proses-proses selanjutnya. Kerinduan saya pribadi adalah banyak orang bisa merasakan apa yang saya rasakan saat mengerjakan proyek ini; mengalami sentuhan firman Tuhan.
Belajar Kerja Sama Tim Melalui “West Wing”
Huaaahh segarnyaa. Eits, saya bukan habis mandi loh. Saya baru saja selesai mengikuti sesi training di SABDA. Kenapa segar? Karena trainingnya dilakukan dengan cara yang unik. Oya, sebelumnya perkenalkan, saya adalah Yegar. Saya baru satu bulan bekerja di SABDA. Sebagai staf baru, saya ikut mendapatkan training mengenai ‘teamwork’ (kerja sama tim) yang diharapkan berguna untuk saya terapkan dalam lingkungan pekerjaan. Training ini dilakukan bersama-sama dengan dua belas staf lainnya. Uniknya, training ini dilakukan melalui menonton sebuah film.
Tadinya saya pikir training ini akan menjadi waktu yang membosankan dan membuat ngantuk. Apalagi dilakukan tepat setelah makan siang. Ternyata saya salah. Bukannya ngantuk, mata saya malah melotot menyaksikan film yang sedang diputar. Tentu saja bukan sembarang menonton seperti yang kita lakukan di gedung-gedung bioskop. Seperti kata Ibu Yulia, “Kita menonton film ini bukan untuk hiburan, tapi untuk belajar. Perhatikan detailnya!”
Sampai di sini, Anda mungkin penasaran, film apa sih yang bisa membuat segar sekaligus menanamkan sebuah nilai dalam pekerjaan? Film yang kami saksikan merupakan salah satu episode dari sebuah serial terkenal di Amerika, yang berjudul “West Wing”. Cerita ini mengambil latar belakang suasana gedung putih, tempat Presiden Amerika Serikat tinggal dan berkantor. Fokus utamanya adalah tim yang berada di balik sosok Sang Presiden. Bagaimana tim ini bekerja sama untuk membuat Sang Presiden dapat mengambil keputusan yang tepat, memiliki citra yang baik di mata rakyat, bahkan mengurus hal-hal kecil yang dibutuhkan Presiden seperti kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Sayangnya, di tengah-tengah pemutaran film, hujan turun dengan deras sehingga suara percakapan tidak terdengar dengan baik. Namun, itu bukan masalah besar karena ada ‘subtitle’ yang bisa kami baca. Kami pun terus menonton dengan antusias. Selesai menonton, kami langsung berdiskusi tentang apa yang kami dapatkan di film ini. Berbagai tanggapan dan masukkan dari staf yang mengikuti training memenuhi ruang diskusi. Setelah menonton film ini, saya pun belajar bagaimana bekerja dalam satu tim. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana menghadapi konflik, mengatasi ketegangan, mengambil keputusan, membangun hubungan dan masih banyak lagi. Terlebih, saya adalah pendatang baru di dunia kerja.
Setelah semua membagikan pencerahan yang kami dapat, maka kami pun menutup training dengan doa dan kembali bekerja. Semoga apa yang kami dapatkan dari film tersebut dapat kami praktikkan di kantor.
Mimpi yang Menjadi Nyata: SABDA di Toraja
Kangen nenek! Itulah pikiran pertama yang muncul di benakku ketika membuat rencana jauh-jauh hari untuk pulang ke kampung halaman tercinta, “Tator — Tana Toraja”. Sudah 12 tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sana….
Bagi-bagi produk SABDA! Itu adalah pikiran kedua yang muncul. Aku rindu bisa membagikan berkat bagi pelayan anak dan hamba Tuhan di Tator. Mumpung pulang kampung!
Selama ini, aku sudah diberi kesempatan oleh Tuhan melayani di SABDA dan sudah berkali-kali ikut roadshow-roadshow SABDA di beberapa tempat. Aku juga sudah cukup diperlengkapi untuk mempresentasikan pelayanan SABDA di beberapa gereja dan persekutuan. Nah, sekarang saatnya untuk berbagi pula dengan sauadara-saudara seiman di Tator dan sekitarnya. Akhirnya, aku kontak banyak rekan-rekan di sana. Sayangnya, aku akan pulang pada bulan Desember dan bulan itu adalah bulan super sibuk bagi semua gereja dan pelayan Tuhan di Tator. Perayaan Natal akan diadakan di mana-mana dan jadwal sudah penuh. Sebenarnya agak sedih karena tidak bisa memberi presentasi ke gereja terutama ke guru-guru SM di sana. Namun, semangat untuk berbagi tidak surut. Aku tetap memutuskan untuk berbagi dengan siapa pun yang nanti aku temui: hamba Tuhan, pelayan anak, guru, atau siapa saja yang Tuhan izinkan aku jumpai. Jauh-jauh hari aku sudah minta tolong ke beberapa teman di kantor. Terima kasih untuk Khenny, Tika, Lusi, dan mbak Anik . Selain membawa DVD Library SABDA Anak 1.2 dan CD Alkitab Audio, aku juga membawa beberapa file presentasi.
Namun, Tuhan punya rencana yang lebih indah! Pada tanggal 2 November 2012, teman-teman redaksi Renungan Harian berkunjung ke SABDA. Pak Stefanus, salah satu pengurus RH, bercerita dengan semangat tentang pelayanan Yayasan Gloria ke Toraja. Ternyata, mereka akan ke sana lagi pada bulan Januari 2013. Dan, tidak disangka-sangka, mereka mengajak SABDA untuk bergabung dalam acara tersebut. Bahkan, mereka memberikan waktu kepada SABDA untuk masuk dalam jadwal acara Training Guru Sekolah Minggu Sinode Gereja Toraja. Wah, Tuhan Yesus memang luar biasa!
Sebenarnya, ada kendala karena aku sudah membeli tiket pulang pada tanggal 3 Januari ’13 (tiket promo yang sangat murah). Padahal, pelayanan dengan Yayasan Gloria dijadwalkan tanggal 5 Januari ’13. Kalau tiketku dibatalkan, berarti harus cari tiket pulang tanggal 7 Januari dan setelah aku cek, harganya mahal sekali! Tapi, lagi-lagi Tuhan itu luarrr biaassaaaa! Tiket promoku, yang seharusnya tidak bisa diundur, ternyata bisa diundur sampai tanggal 7 Januari. Dan, bukan hanya tiketku, bahkan tiket seluruh keluargaku dari Jawa yang bersama-sama dengan aku ke Toraja, semuanya bisa diundur ke hari yang sama!
Tgl 18 Desember 2012 aku sudah menginjakkan kaki di Makassar, untuk selanjutnya menuju ke Tator. Perjalanan ke Tator membutuhkan waktu hampir 10 jam. Puji Tuhan aku sampai dengan selamat, dengan perut yang diaduk-aduk selama dalam perjalanan…. Di Tator, aku mulai membagikan Alkitab HP kepada beberapa orang yang aku temui. Sayangnya, beberapa HP tidak mendukung aplikasi tersebut, sehingga belum dapat dimasukkan ke HP mereka. Aku ikut juga ke mana pun orang tuaku melakukan pelayanan sehingga ada kesempatan bertemu dengan beberapa hamba Tuhan. Aku bisa sedikit berbagi tentang Software SABDA dan lebih banyak tentang DVD Library SABDA Anak 1.2. Setiap ada anak-anak berkumpul, aku membuka laptopku untuk memutarkan beberapa animasi Alkitab dan film Yesus yang ada dalam DVD Library SABDA Anak 1.2. Mereka sangat antusias dan menonton sampai selesai. Pada 27 Desember 2012, Tuhan memberiku kesempatan melayani dalam sebuah Natal Anak-Anak SM di daerah yang belum masuk layanan listrik. Ketika selesai ibadah, aku memutarkan film Yesus versi anak dan Video Kabar Baik. Selama 3 jam lebih mereka mengerumuni netbook kecilku itu. Untung sudah diisi penuh baterainya sebelum masuk ke pedalaman itu . Kiranya, Tuhan membuka hati anak-anak itu untuk menerima Dia sebagai Juru Selamat dan semakin mengasihi Tuhan setiap hari.
Jadwal presentasi SABDA di Tator bersama Tim Gloria dimajukan menjadi tanggal 3 Januari 2013. Pkl. 07.30 WITA aku sudah tiba di lokasi, karena acara akan dimulai pkl. 08.00 WITA. Namun, kenapa belum ada yang datang ya? Ternyata acara molor dan baru dimulai pkl. 11.00 WITA. Ada sekitar 100 peserta dari berbagai klasis Gereja Toraja. Tidak hanya yang di Tator, tapi juga dari kabupaten sekitar. Sembari menunggu acara dimulai, aku membagi-bagikan aplikasi Alkitab dan Kidung Kristen ke HP peserta yang sudah datang. Presentasi SABDA masuk dalam sesi pelayanan Multimedia untuk Pelayanan Anak. Materi yang disampaikan adalah tentang Pelayanan YLSA, IT 4 God, dan DVD Library SABDA Anak 1.2. Karena acara tersebut adalah pelatihan untuk guru-guru sekolah minggu, aku pun banyak memberikan contoh-contoh penggunaan bahan yang ada dalam DVD untuk pelayanan di SM. Senang melihat antusias para peserta yang sebagian besar sudah berusia setengah baya. Aku mendorong mereka untuk mengikuti juga perkembangan teknologi. Jangan malu untuk belajar teknologi HP atau multimedia dan mengajarkannya kepada anak-anak mereka atau pemuda di gereja. Peserta sangat senang ketika tahu bahwa mereka akan mendapatkan paket produk SABDA untuk masing-masing klasis. Mereka akan mengcopy sendiri semua bahan-bahan dalam DVD ke komputer mereka melalui gereja/pengurus SM.
Ini adalah pengalaman pertama mengerjakan semuanya sendirian tanpa partner hehehe. Persiapan dan latihan presentasi, operator, install Alkitab ke HP, dan instal SABDA ke laptop, semuanya aku lakukan sendiri. Tapi walau sendiri, aku tahu aku tidak sendiri. Ada Tuhan Yesus yang setia menyertai dan menjadi sumber kekuatan bagiku. Puji Tuhan! Saat melakukan instalasi, ada seorang peserta, tanpa diminta, membantu untuk menginstalkan Software SABDA di laptop-laptop yang antre. Jadi, aku bisa fokus untuk pasang aplikasi Alkitab dan Kidung Kristen ke HP-HP peserta. Mereka senang sekali ketika akhirnya ada Alkitab dan Kidung Kristen di HP mereka. Dari komentar dan ekspresinya, mereka tahu bahwa mereka baru saja memperoleh sesuatu yang berharga. Dan, harus demikian! Sekarang, di mana saja dan kapan saja, mereka bisa membaca firman Tuhan melalui HP mereka. Jika selama ini mereka hanya menelepon, SMS, atau berjejaring sosial dengan HP-nya, maka sekarang mereka pun bisa membaca atau mendengar firman Tuhan.
Akhirnya, SABDA datang ke Toraja, ke kampung halaman nenek moyangku. Dua kerinduan besar terjawab sudah dengan cara yang ajaib. Menengok nenekku dan berbagi berkat pelayanan SABDA di sana. Bagiku, ini mimpi yang menjadi kenyataan. Terpujilah Tuhan yang sudah melayakkan aku memperoleh kesempatan istimewa ini. Terima kasih kepada Ibu Yulia selaku pimpinan SABDA yang sudah mengizinkan aku cuti lebih lama dari libur Natal dan mendorong aku untuk ambil kesempatan pelayanan dengan tim Gloria. Terima kasih pula atas doa semua teman-teman SABDA. Kalian tidak ada di sana, namun setiap doa menjadi “partner” bagiku. Terima kasih kepada tim Gloria yang sudah memberikan waktu kepada SABDA di tengah padatnya jadwal training di Toraja.
Terima kasih banyak Tuhan Yesus! Biarlah segala kemuliaan hanya bagi-Mu!
SABDA di Gereja Kristen Kalam Kudus Bandung
Pagi itu, Minggu, 24 Februari 2013, sekitar pukul 04.30, saya sudah menyambangi kantor YLSA. Hari masih gelap, hawa dingin menusuk, dan mata masih sedikit berat. Waktu itu, Bu Yulia sudah bersiap dengan kopornya. Ada apa gerangan? Ada kepentingan apa, sehingga saya harus terlibat dalam pertemuan pagi-pagi buta ini? Saya sampai lupa menjelaskan … hehe ….
Perkenalkan, nama saya Ade, yang dalam 2 bulan ini masih menjalani masa percobaan di YLSA. Saya bergabung di divisi Humas, calon divisi baru YLSA. Pelayanan YLSA memang dipimpin Tuhan sehingga semakin bertambah luas. Saya mengetahui perkembangan pelayanan YLSA ketika mengikuti Raker YLSA 2013, melalui laporan dan rencana kerja yang disampaikan oleh masing-masing divisi. Untuk menjembatani YLSA dengan mitra-mitra dan sahabat-sahabat YLSA lainnya, semakin terlihat sangat dibutuhkan divisi Humas untuk menanganinya dengan lebih baik. Dan, saya bersyukur diberi kesempatan untuk bergabung di dalamnya.
Boleh saya lanjutkan? Jadi sebenarnya, pagi itu saya dan Bu Yulia akan memulai perjalanan dalam rangka roadshow SABDA di Bandung. Rencananya, YLSA akan memberikan pelatihan software SABDA dan Seminar “IT for GOD” kepada jemaat Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK) Bandung Kopo Permai. Pagi itu kami ke bandara untuk menuju ke Jakarta lebih dahulu, karena tidak ada pesawat jurusan Solo — Bandung. Sesampainya di Jakarta, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan menggunakan travel. Puji Tuhan, perjalanan lancar dan kami bisa sampai di Bandung cukup awal untuk bisa melakukan persiapan lebih dahulu. Oiya, pelatihan SABDA dijadwalkan Minggu, 24 Februari, pukul 14.00 siang, dan Seminar ‘IT for God’, Senin, 25 Februari, pukul 18.30 malam.
Ini adalah perjalanan saya yang pertama untuk tugas roadshow SABDA. Saya berangkat sebenarnya dalam rangka orientasi staf baru, karena nantinya saya akan terlibat banyak dengan urusan roadshow dan presentasi SABDA. Saya berangkat dengan modal kepercayaan penuh pada Tuhan, dan berusaha melakukan yang terbaik, karena kalau boleh jujur, hati saya carut-marut. Saya sempat sedikit tenang ketika Bu Yulia menyampaikan bahwa ada 2 orang yang dulu sempat magang di YLSA akan membantu urusan teknis pada waktu roadshow nanti. Namun, di perjalanan, Bu Yulia mendapat kabar bahwa ternyata mereka tidak dapat membantu, aduh… hati saya kembali menciut. Perasaan gugup dan antusias bercampur aduk di benak saya. Saya tidak tahu istilah yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu….
Sesampainya di Bandung, kira-kira pukul 11.15 kami dijemput di dekat pangkalan travel oleh pasangan suami istri muda, aktivis GKKK, yaitu Pak Jupri dan Ibu Sisca. Kami langsung diantar ke tempat pelatihan di GKKK Kopo Permai dan bertemu dengan Ibu Priska, hamba Tuhan yang selama ini menjadi ‘contact person’ kami. Pelatihan SABDA akan diadakan di aula pertemuan di gereja. Dengan bantuan panitia semua persiapan (meja kursi peserta, layar LCD dan meja display YLSA) dapat diselesaikan dengan baik. Sejak pukul 13.30, peserta satu per satu mulai berdatangan dengan laptop mereka. Puji Tuhan, ada dua orang pemuda gereja dan Pak Jonathan, yang cukup canggih dengan IT, bersedia membantu saya. Dengan bekal training dari mbak Lusi, maka dengan cukup meyakinkan, saya bisa memberi training singkat instalasi SABDA kepada mereka. Proses instalasi SABDA ke 20 laptop peserta berlangsung cepat dan lancar. Sekitar hampir pukul 14.30, Bu Yulia sudah bisa memulai pelatihannya, dengan jumlah peserta yang hadir sekitar 30 orang. Selain jemaat GKKK Kopo Permai, ada juga aktivis gereja lain yang mengikuti pelatihan ini. Selama pelatihan dimulai, saat yang paling mendebarkan bagi saya adalah ketika ada peserta yang menaikkan tangan dan ingin saya datang untuk memberi bantuan teknis. Saya datang dengan langkah pasti tetapi dengan hati yang penuh keraguan, takut kalau-kalau saya tidak dapat menanganinnya. Namun, hanya karena kemurahan Tuhan, dan ms Yochan (yang ‘stand by’ di Solo dengan hp-nya) saya bisa membantu mengatasi pertanyaan peserta yang minta bantuan. Puji Tuhan hari pertama berjalan lancar. Peserta sangat antusias dan mau mengikuti training sampai selesai sekitar pukul 16.30. Mereka juga antusias mendapatkan CD Alkitab Audio dan flashdisk SABDA yang kami bawa.
Setelah makan malam dengan Ibu Priska dan Bapak Wilfrid (suami Ibu Priska, yang juga pernah magang di SABDA), kami diantar ke rumah Bapak Ari dan Ibu Silvi. Mereka adalah jemaat dan aktivis GKKK, suami istri setengah baya yang sangat baik dan dengan senang hati memberi tumpangan bagi kami selama kami ada di Bandung. Sesampainya di rumah Bapak Ari dan Ibu Silvi, kamar untuk saya dan Bu Yulia sudah disiapkan, sehingga kami dapat segera beristirahat dengan sangat nyaman.
Hari kedua, karena tidak ada pelayanan pada pagi itu, maka Bu Yulia berencana pergi ke Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus. Puji Tuhan, pertemuan dengan pihak STA dapat diatur dengan bantuan Ibu Yenni dari JPA. Pukul 11 siang, Pak Daluyo, supir GKKK, dengan baik hati membawa kami ke STA Tiranus. Kami bertemu dengan Rektor STA Tiranus, yaitu Bapak Sri. Bu Yulia mempresentasikan pelayanan SABDA kepada beliau dan mendapatkan respons yang sangat baik. Bahkan, kami juga sempat bertemu dengan Pak Elfian dan mengobrol cukup panjang lebar seputar pelayanan IT, termasuk pengembangan DML (Digital Media Library) yang sedang dikerjakan YLSA. Seperti gayung bersambut, dan saya percaya ini bukan ‘kebetulan’ saja terjadi, ternyata hal ini juga sudah menjadi kerinduan para pustakawan STT se-Jawa Barat, dimana Pak Elfian adalah ketuanya. Puji Tuhan!
Tindak lanjut dari pertemuan ini adalah pihak STA akan mengudang tim SABDA untuk memberi pelatihan intensif kepada mahasiswa bertepatan dengan pekan kerohanian yang akan diadakan oleh kampus sekitar bulan Maret atau April mendatang. Juga, kalau Tuhan kehendaki, pada saatnya nanti, tim SABDA akan bertemu dengan para pustakawan STT untuk membicarakan kerjasama yang lebih konkrit dengan STT-STT se-Jabar. Kami pulang dari STA Tiranus dengan beberapa rencana pelayanan ke depan yang tentunya akan kami sharingkan di blog SABDA selanjutnya.
Kami sempat pulang dan beristirahat di rumah Bapak Ari sebelum melanjutkan pelayanan di GKKK pukul 18.30. Malam itu, Bu Yulia membawakan seminar ‘IT for GOD’. Saya sendiri baru pertama kali mendengar presentasi Bu Yulia tentang IT for GOD. Saya merasa banyak ditegur dan dibukakan bahwa sebenarnya ada banyak kesempatan bagi gereja dan anak-anak Tuhan untuk menggunakan teknologi dan informasi bagi kemuliaan-Nya. Diharapkan dengan seminar ini, para peserta secara pribadi semakin berhikmat dalam menggunakan IT dan bisa semakin memanfaatkannya untuk pelayanan penjangkauan, terutama untuk mengajak anak-anak muda memuliakan Allah lewat teknologi dan informasi. Puji Tuhan hari kedua juga berjalan dengan lancar. Hanya saja, beberapa kali terjadi masalah teknis saat Bu Yulia memberikan presentasi, tetapi bersyukur untuk jemaat GKKK yang sigap membantu ketika terjadi kesulitan.
Keesokan paginya, kami dijemput oleh Mas Yudhi, salah satu jemaat GKKK, pada pukul 06.00 untuk mengantar ke stasiun kereta api untuk kami bisa kembali ke Solo. Selama perjalanan pulang, saya memikirkan banyak hal tentang semua yang telah saya alami di Bandung. Tidak ada kata lain selain ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan dan pengalaman baru yang begitu berharga. Saya memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi saya percaya bahwa pelayanan ini adalah milik Tuhan dan Tuhanlah yang sanggup mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat yang juga rindu melayani Dia. Saya yakin akan ada lebih banyak lagi kesempatan ke depan dan Tuhan mau sediakan supaya YLSA lebih lagi dipakai Tuhan dan saya akan bersyukur bisa menjadi bagian di dalamnya. Thanks Jesus! Thanks Bandung! Thanks SABDA!
Staf SABDA Mengikuti Seminar Terang vs Gelap
Pada awal tahun 2013 yang lalu, saya ingat kami mulai kembali bekerja di YLSA dengan semangat baru. Kami mulai bekerja seperti biasa, tapi pada hari itu, ada yang tidak biasa, karena sore harinya kami mengikuti seminar yang bertemakan “Terang vs Gelap” yang disampaikan oleh Pdt. Aiter di MRII Solo. Di antara kami yang berangkat ada Bu Yulia, Jesica, Doni, Bayu, mas Ryan, mas Anto, kak Beny, mbak Setya, mbak Okti dan saya. Sore itu hujan rintik-rintik, kami bersama-sama berangkat menggunakan mobil kantor kecuali mbak Okti yang diantar suami dari rumahnya. Sebelum kami menuju ke MRII, Bu Yulia menyempatkan membeli nasi kotak berisi ayam goreng tulang lunak untuk kami semua. Kami bersyukur bisa makan dahulu sehingga tidak kelaparan selama mengikuti seminar.
Acara dimulai pukul 18.00, dengan menyanyikan sebuah kidung, lalu diteruskan dengan doa pembukaan. Setelah, itu Pak Aiter langsung menyampaikan seminar yang berjudul “Terang vs Gelap”. Beliau menjelaskan bahwa peperangan antara terang dan gelap sudah terjadi dari awal penciptaan dunia sampai sekarang. Contoh-contohnya antara lain, di Kitab Kejadian 1:2, ketika Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Di kitab Keluaran, ketika Allah menurunkan 10 tulah atas bangsa Mesir, yang salah satunya adalah mengubah air sungai Nil menjadi darah; ketika Musa membelah air laut Teberau sehingga orang-orang Israel berjalan melewati tanah yang kering; ketika Allah menyertai umat Israel dengan tiang awan dan tiang api; dan ketika mereka berada di padang gurun. Di kitab Yosua, ketika para imam membawa tabut Perjanjian dan menginjakkan kaki di Sungai Yordan sehingga air sungai itu terbelah dan orang-orang Israel dapat menyeberangi sungai itu; dan kisah-kisah selanjutnya. Sampai di Perjanjian Baru, salah satu contohnya adalah ketika Tuhan Yesus berjalan di atas air.
Pak Aiter menjelaskan bahwa orang Mesir percaya bahwa sungai Nil berasal dari air mata dewi Isis. Ketika Allah mengubah air sungai Nil menjadi darah, Allah menunjukan kepada orang Mesir dan orang Israel bahwa Ia berkuasa atas dewi Isis. Orang-orang zaman dahulu juga percaya bahwa ada yang berkuasa atas sungai dan laut, yaitu Lewiatan. Juga, ketika Allah membelah laut Teberau dan sungai Yordan, Allah menunjukan bahwa Ia menaklukkan Lewiatan. Di padang gurun pun dipercaya ada penguasanya yaitu kuasa si Jahat. Namun, Allah menyertai bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun dan memelihara mereka. Allah menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa di atas semua kekuatan gelap. Seminar malam itu diakhiri pukul 21.00 dan akan dilanjutkan keesokan harinya.
Seminar hari ke-2, Pak Aiter menjelaskan tentang terang yang bukan lagi berdasarkan benda-benda penerang ciptaan seperti matahari, bulan, dan bintang. Namun, lebih kepada Pribadi Tuhan Yesus yang adalah terang dunia. Ia datang sebagai terang untuk menerangi kegelapan dunia dan menginsafkan dunia akan dosa. Demikian juga, kita sebagai pengikut Kristus juga harus memancarkan terang kepada orang-orang di sekitar kita. Pak Aiter menambahkan bahwa sekarang ini banyak hamba Tuhan yang hanya ingin menyenangkan telinga orang, sehingga ia tidak pernah menunjukkan kesalahan orang agar orang itu bertobat. Tetapi hamba Tuhan sejati seharusnya berani membongkar dosa. Selain itu, hati orang percaya yang sudah diterangi akan hidup dalam kasih dan tidak dikuasai kebencian. Akhirnya, disimpulkan bahwa memang Terang vs Gelap terus berlangsung. Namun, teranglah yang akan tetap menang.
Saya sangat senang dengan seminar yang telah saya ikuti karena banyak hal baru yang tidak saya pelajari di gereja, bisa saya pelajari di seminar itu. Melalui seminar-seminar seperti ini, saya dapat meningkatkan pemahaman terhadap kebenaran-kebenaran Alkitab secara lebih dalam, sehingga kerohanian saya pun dapat bertumbuh. Bagi saudara-saudara yang belum pernah ikut seminar di MRII, mari saya ajak bergabung di seminar-seminar berikutnya. Tuhan Yesus memberkati.






sabda.org