Blog SABDA

Subscribe to Blog SABDA feed
Updated: 1 hour 47 min ago

Kreatif, Konsisten, dan Komitmen: Kunci Pelayanan di Situs Berbagi Video

Fri, 01/06/2017 - 10:20

Oleh: Rinto Ari N*

Saya mengaminkan bahwa firman Tuhan senantiasa tepat dan relevan di segala keadaan dan zaman. Akan tetapi, teknologi dan gaya hidup terus berubah dengan cepat. Karena itu, menurut saya, media penyampaian kebenaran firman Tuhan harus terus dikembangkan supaya bisa diterima oleh zamannya, contohnya, saat ini kita harus bisa beradaptasi dengan perkembangan di dunia maya. Tren demi tren silih berganti mewarnai dinamika dunia maya. Mulai dari penggunaan email, situs, media sosial (medsos) hingga situs berbagi video, semuanya terus mewarnai kehidupan masyarakat saat ini.

Setelah dunia maya diramaikan dengan tren media sosial Facebook, Twitter hingga Instagram, ke depannya saya pikir orang akan semakin tidak puas. Mereka tidak hanya ingin mendapatkan informasi terbaru melalui tulisan dan gambar, tetapi juga video. Wahana audio-visual yang satu ini memang semakin memanjakan penikmatnya. Mereka tidak hanya bisa membayangkan, tetapi mendapatkan penyajian langsung atas apa yang disampaikan.

Untuk mendapatkan video, sekarang orang bisa mendapatkannya dengan mudah dari situs layanan berbagi video di internet. Dari puluhan hingga ratusan situs berbagi video di internet, Youtube merupakan situs yang terhitung paling populer. Setahu saya, meski baru memulai debutnya pada Mei 2005, namun Youtube telah melejit menjadi situs berbagi video terpopuler. Tidak salah kalau setahun setelah lahir, Youtube diakusisi oleh Google untuk menjadi anak perusahaannya.

Popularitas Youtube menurut saya sangat mencengangkan. Misalnya saja perusahaan analisis traffic web di internet, Alexa menempatkan Youtube sebagai situs paling banyak diakses kedua setelah Google -- yang merupakan perusahaan induknya sendiri. Peringkat serupa juga terjadi di Indonesia di mana Youtube menempati peringkat ketiga setelah google.com dan google.co.id -- yang juga merupakan induk dari Youtube sendiri. Kepopuleran Youtube mengalahkan Facebook sebagai situs medsos terpopuler yang sempat merajai internet beberapa waktu belakangan.

Dari pengamatan saya, salah satu sebab mengapa Youtube begitu populer saat ini adalah orang bisa menonton nyaris apa pun sesuai dengan yang mereka inginkan, baik itu hiburan, musik tutorial, jalan-jalan, maupun ilmu pengetahuan. Popularitas ini juga terlihat dari pertumbuhan durasi menonton Youtube yang naik sekitar 130 persen. Yang luar biasa, hal ini juga diimbangi dengan pertumbuhan para pembuat video yang mencapai 600 persen. Hebatnya lagi, pertumbuhan creator video ini paling pesat terjadi di wilayah Asia-Pasifik termasuk Indonesia. Hal ini terjadi karena mulai membaiknya infrastruktur teknologi komunikasi di Indonesia. Saya melihat sebagian besar wilayah Indonesia saat ini telah bisa menikmati layanan akses data berkecepatan tinggi sehingga menonton video melalui layanan internet menjadi hal yang lumrah.

Bagaimana hubungan kemajuan ini dengan dunia pelayanan? Sejatinya, segmen rohani Kristen di situs berbagi video termasuk Youtube, menurut saya, sudah cukup banyak, terutama sumber dari luar negeri. Mulai dari lagu rohani, kesaksian, khotbah, hingga rekaman ibadah banyak menghiasi internet sejak lama. Tetapi, di Indonesia kondisinya sedikit berbeda meskipun konten sudah mulai berkembang, tetapi sebagian besar masih berupa lagu rohani. Lantas, bagaimana dengan layanan Alkitab? Jangan khawatir. Di situs berbagi video, saya lihat hal ini juga ada meski jumlahnya belum cukup banyak.

Hal ini tentu menjadi peluang bagi SABDA untuk melayani dan menjangkau secara lebih luas lagi. Adalah langkah yang patut diapresiasi ketika SABDA mulai memiliki saluran di situs berbagi video. Namun, menurut saya diperlukan langkah konkret untuk membuatnya lebih optimal. Dengan perjalanan panjang SABDA sebagai penyedia berbagai sumber berbasis Alkitab, saya yakin tidak menjadi masalah serius dalam hal menyediakan dan mengolah kontennya. Yang perlu menjadi perhatian adalah sumber daya manusianya yang perlu dipersiapkan secara lebih intens.

Dalam hal melayani di situs berbagi video, ada tiga hal yang ingin saya tekankan sebagai pilar. Yang pertama adalah kreativitas. Banyaknya sumber bahan yang dimiliki SABDA tentu menjadi modal berharga untuk melakukan pelayanan. Kreativitas berperan dalam mengolah dan menyajikan berbagai bahan tersebut agar menarik perhatian penonton. Langkah nyata pertama yang bisa dilakukan adalah memperbaiki halaman utama saluran SABDA agar tampil lebih segar. Berikutnya, penyegaran konten yang disajikan. Berbagai sumber SABDA bisa diindeks dan diberikan label kategori, lalu diunggah dalam saluran atau subsaluran yang sesuai.

Pilar berikutnya adalah konsisten. Hal ini sangat penting karena bermain di ranah situs berbagi video berarti menjanjikan kepercayaan kepada penonton. Untuk itu, saluran SABDA diharapkan dapat secara konsisten mengunggah konten baru. Tidak harus setiap hari, minimal setiap minggu diharapkan ada bahan baru sehingga penonton senantiasa mendapatkan bahan yang segar. Dalam hal konsistensi ini, pengelola saluran juga harus memiliki jadwal pasti tentang kapan SABDA akan mengunggah video baru. Apabila pelanggan dan penonton sudah tahu, tentu mereka tidak akan kebingungan tentang kapankah bahan baru akan tersedia.

Yang terakhir adalah komitmen. Membangun kepercayaan penonton tidak bisa dilakukan dalam sehari atau dua hari. Karena itu, komitmen pengelola saluran SABDA untuk mengolah dan menampilkan bahan baru sangat diharapkan.

Categories: PEPAK

Tim #Ayo_PA! di Youth Chapter FGBMFI

Fri, 12/23/2016 - 14:57


Senin, 13 Desember 2106, tim #Ayo_PA diundang untuk mengisi acara di Youth Chapter "Full Gospel Business Men's Fellowship Indonesia (FGBMFI)", Solo. Kami berangkat dengan 6 personil, yang terdiri dari 3 orang presentator, seorang yang bertugas di bagian booth, seorang dari bagian multimedia, dan seorang pengamat. Kami berangkat dengan persiapan yang cukup matang, tetapi cuaca sangat tidak mendukung karena hujan yang mengguyur kota Solo sejak sore. Setibanya di lokasi, kami langsung mempersiapkan booth untuk produk-produk SABDA yang akan kami bagikan kepada peserta. Sementara itu, petugas multimedia menyiapkan semua keperluan untuk merekam acara.

Kegiatan yang berlangsung di rumah makan Orient Solo ini sebenarnya dimulai pukul 18.00, tetapi acara sedikit molor karena menunggu peserta datang. Rupanya, hujan yang cukup deras membuat para peserta sulit untuk tiba tepat waktu. Sementara menunggu, kami menolong peserta yang belum memiliki aplikasi-aplikasi SABDA Android, seperti Alkitab, Alkipedia, Kamus, Tafsiran, Peta, dan Telegram untuk bisa terpasang di gawai mereka. Kami bersyukur memiliki waktu yang cukup banyak untuk duduk dan berbincang-bincang dengan peserta yang sudah datang lebih awal sehingga kami bisa membangun hubungan yang akrab. Youth Chapter FGBMFI Solo memang belum banyak anggotanya. Karena itu, mereka juga mengundang chapter lain, yang notabene tidak "youth" lagi.

Setelah makan malam, acara pelatihan dimulai dengan 19 peserta yang hadir. Presentasi pertama dibawakan oleh Ibu Yulia dengan materi Tujuh Alasan Utama Mengapa Perlu PA, Presentasi kedua oleh Hilda dengan materi PA di Era Digital, dan presentasi ketiga yang saya bawakan, yaitu Memakai HP untuk Melakukan PA. Sempat terjadi kebingungan karena ekspektasi kami, tamu-tamu yang datang adalah "youth", yaitu anak-anak muda. Namun, fakta berkata lain. Puji Tuhan, walaupun tidak tergolong 'pemuda' lagi, para peserta sangat antusias melakukan pelatihan dengan gawai mereka yang cukup mumpuni, yang lebih canggih dari kebanyakan gawai kami. Selama pelatihan, semua tim Ayo_PA bisa membantu peserta yang mengalami kesulitan dan mereka sangat senang bisa mencoba semua fitur-fitur untuk belajar Alkitab dengan lebih dalam.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Acara ditutup dengan perasa lega karena peserta sangat diberkati dengan pelatihan ini dan produk-produk SABDA bisa dibagikan untuk disebarkan ke rekan-rekan mereka yang tidak hadir. Acara diakhiri dengan foto bersama dan testimoni dari para peserta. Puji Tuhan, kami mendengar secara pribadi bahwa mereka merindukan bisa belajar Alkitab dengan lebih rutin. Harapan kami, firman Tuhan akan semakin nyata dalam hidup mereka. #Ayo_PA!

Categories: PEPAK

VIDEO NITE NATAL @ SABDA

Fri, 12/23/2016 - 10:06


NATAL? Apa yang ada di benak kita mengenai Natal? Santa Klaus, kado, hiasan-hiasan Natal, ataukah Natal sekadar perayaan keagamaan? Bukan! Natal adalah perayaan akan pengorbanan Kristus. Ya, Kristus yang adalah Tuhan, Pencipta, dan Penguasa dunia rela turun ke dunia menjadi bayi kecil yang tidak berdaya, hidup menderita, dan mati di atas kayu salib untuk membawa umat-Nya kembali kepada Allah. Inilah makna Natal yang sebenarnya.

Pengertian inilah yang ingin disampaikan oleh YLSA pada Natal tahun ini. Saya sendiri pernah mengalami, setiap kali merayakan Natal, saya disibukkan dengan berbagai persiapan di gereja, persekutuan, bahkan di kantor. Namun, kesibukan tersebut justru membuat saya melupakan Kristus yang adalah Sang Natal itu sendiri. Oleh karena itu, pada perayaan Natal SABDA tahun ini, kami mencoba menghindari kesibukan-kesibukan yang bisa mengaburkan inti Natal yang sebenarnya. Dengan persiapan yang tidak terlalu "ribet", diharapkan perayaan Natal SABDA tetap spesial. Tema inti Natal dikemas dalam acara "Video Nite Natal" pada Rabu, 21 Desember 2016, pkl. 17.30, sengaja disiapkan untuk mengajak keluarga dan teman-teman menikmati kisah Natal dari nobar (nonton bareng) video kisah kelahiran Yesus Kristus.

Saya diminta untuk menjadi ketua panitia sekaligus melayani booth SABDA bersama Ami. Teman-teman dari sie acara menyiapkan pengantar untuk menyanyikan puji-pujian Natal dengan drama-drama pendek (sakit) yang diharapkan dapat menolong kita menangkap pesan dari nyanyian yang dinyanyikan. Ada dua pesan yang ingin disampaikan, yaitu kita harus mengabarkan keselamatan kepada orang lain dan juga jangan sampai kita kehilangan makna Natal itu sendiri. Selanjutnya, renungan Natal dibawakan oleh Pdt. Edward B. Siburian, S.Th.. Melalui khotbahnya, ia menyampaikan bahwa Kristus bukan hanya lahir di kandang domba, tetapi di dalam hati dan hidup kita. Lalu, acara disambung dengan penyalaan lilin dan makan malam. Setelah itu, pemutaran film Natal yang berjudul "The Nativity Story".

Ada banyak berkat yang kami dapat dari nonton bersama ini. Saat diminta untuk berdiskusi dan membagikan pelajaran apa yang didapat dari film tersebut. Ada beberapa orang yang membagikan beberapa pelajaran, di antaranya, film ini memberikan gambaran tentang apa yang terjadi sehingga kita bisa memiliki imajinasi yang lebih lengkap ketika membaca Alkitab. Juga, banyak yang terkesan dengan banyaknya detail yang cukup ilmiah dan menarik yang ditunjukkan sehingga membuka wawasan yang lebih lengkap tentang sejarah dan budaya saat Tuhan Yesus lahir. Sebagai penutup, Ibu Yulia juga menyampaikan bahwa Natal adalah awal penderitaan Kristus. Dia yang adalah Allah yang Empunya langit dan bumi, lahir ke dunia dalam sebuah kandang yang hina dan kotor. Saya sempat melirik istri saya yang meneteskan air mata. Saya yakin dia makin memahami arti Natal yang sebenarnya. Puji Tuhan! Kami benar-benar merasakan kasih Allah yang luar biasa melalui Natal SABDA tahun ini. Pukul 21.00 acara selesai, tetapi masih ada beberapa tamu yang beramah-tamah.

Natal membawa damai bagi kita, umat tebusan-Nya, dan untuk itulah Ia rela menderita dan mengorbankan diri-Nya. Kelahiran Kristus membuktikan bahwa Ia taat kepada Allah Bapa. Kedatangan-Nya memperdamaikan manusia dengan Allah Bapa.

Selamat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, Tuhan memberkati.

Categories: PEPAK

Rapat Kerja YLSA 2016: Penyertaan dan Pemeliharaan Tuhan bagi SABDA

Tue, 12/13/2016 - 08:38

Oleh: Danang*

Saya sudah lama mengenal pelayanan SABDA, bahkan sudah menggunakan software SABDA sejak versi 2, yang termasuk software pertama yang saya kenal sebagai pengganti Alkitab versi cetak. Software tersebut mempercepat melakukan PA karena ada fitur pencari, kamus, dsb.. Akhir November 2016, saya bergabung menjadi staf SABDA di bagian IT dan saya melihat cukup banyak program kerja yang dilakukan, di antaranya digitalisasi buku-buku, memelihara beragam situs, proyek penerjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT), aplikasi-aplikasi studi Alkitab untuk HP, puluhan media sosial, dan sebagainya. Semua hal itu saya ketahui ketika untuk pertama kalinya saya mengikuti rapat kerja YLSA pada 2 -- 3 Desember 2016. Dalam setiap laporan tim, saya melihat sistem kerja yang bagus dan terukur untuk memelihara proyek-proyek tersebut. Cukup menarik melihat perkembangan SABDA sampai sejauh ini.

SABDA sudah melayani selama 22 tahun, berarti dimulai sebelum masa internet menjadi konsumsi publik secara luas. Sejak awal, SABDA sudah melihat tren masa depan, yaitu umat manusia akan semakin aktif di dunia maya. Penggunaan komputer dan gawai semakin dominan. Ke mana-mana orang membawa gawai untuk melakukan akses ke jaringan internet. Karena hidup manusia tidak bisa lepas dari gawai, maka SABDA Tuhan harus dibawa ke dunia digital supaya generasi digital terus bisa mendengar Suara-Nya yang berseru-seru, memanggil manusia untuk bertobat, dan mengenal Tuhan yang sejati itu. Itulah panggilan Tuhan bagi tim SABDA.

Untuk ini, diperlukan orang-orang yang berdedikasi untuk melakukan panggilan Tuhan ini. Dan, Tuhan banyak mengirim pelayan-pelayan-Nya ke SABDA. Tuhan yang memanggil, Tuhan juga yang akan memperlengkapi, itu salah satu prinsip kebenaran yang diterapkan SABDA. Dalam rapat kerja yang saya ikuti, selain pencapaian yang sudah diraih, saya juga melihat tantangan dan persoalan yang dihadapi. Beberapa hal yang menjadi pergumulan SABDA dari sisi SDM adalah intensitas pergantian staf yang tinggi sehingga menimbulkan kesulitan dalam menetapkan orang untuk proyek-proyek jangka panjang. Untuk itulah, perlunya komitmen kerja 2 tahun untuk menjadi staf fulltimer di SABDA. Saya turut bersyukur karena di tengah-tengah kondisi yang mungkin kurang mendukung tersebut, proyek-proyek SABDA bisa dijalankan dengan baik.

Rapat kerja menjadi agenda tahunan untuk melakukan evaluasi kerja dan perbaikan dari kegagalan sebelumnya. Ada banyak hal yang dievaluasi, secara umum trennya adalah positif. Makin banyak orang memanfaatkan produk-produk SABDA untuk belajar Alkitab. Orang mudah mengakses beragam versi kitab suci, beragam bahasa, beserta semua bahan lain untuk belajar Alkitab, misalnya kamus, ensiklopedia, ilustrasi, bahan-bahan renungan, peta, dan sebagainya. Di samping itu, telah dibuat juga beragam kelompok diskusi di media sosial yang menarik banyak orang untuk aktif terlibat. Jadi, ketika budaya manusia berpindah ke digital, ada banyak orang yang terjangkau supaya mengenal Sabda Tuhan. Hal ini adalah tren pelayanan yang perlu diperhatikan, pelayanan-pelayanan yang tidak mau beradaptasi berkaitan dengan metode akan kesulitan menjalankan visi Amanat Agung. Ada juga komunitas-komunitas digital lain selain SABDA yang juga menangkap visi yang sama. Ada beragam perangkat lunak yang dibuat dengan tujuan supaya orang mudah belajar Sabda Tuhan, demikian pula banyak usaha dari SABDA yang masih berlangsung untuk melakukan digitalisasi buku-buku, kitab-kitab, dan bahan-bahan lain sehingga dengan mudah diakses semua orang dan dibagikan secara gratis. Apa yang diterima dari Tuhan dibagikan secara terbuka supaya orang tidak kesulitan memperolehnya, ini visi yang surgawi. Sebab, orang-orang miskin pun harus bisa memperoleh kebenaran. Bagi orang miskin, memiliki akses kepada gawai pun merupakan sesuatu yang luar biasa, dan akan menjadi persoalan besar apabila mereka masih harus membayar untuk belajar Alkitab.

Raker SABDA ini bisa menjadi cara Tuhan menyatakan pemeliharaan dan penyertaan-Nya dalam pelayanan SABDA. Tuhan tidak meninggalkan SABDA, Dia terus menyertai dan memimpin. Hal ini menjadi pokok kebenaran yang dipegang SABDA untuk terus melayani umat-Nya. Terpujilah Tuhan yang sudah memanggil SABDA dan biarlah segala sesuatu yang dilakukan SABDA memberikan hormat dan kemuliaan bagi nama-Nya. Amin. Haleluya.

Categories: PEPAK

Pengalaman Mengikuti KKR Natal Pdt. Stephen Tong

Fri, 12/09/2016 - 15:55

Oleh: Maskunarti*

Shalom, perkenalkan nama saya Maskunarti Wahyu Budiarti. Saya saat ini masih menjadi staf masa percobaan di SABDA. Pada kesempatan kali ini, saya mau membagikan berkat ketika saya mengikuti KKR Natal Pdt. Stephen Tong. KKR Natal tersebut diadakan pada Jumat, 2 Desember 2016, di Hotel Best Western Premiere Solo Baru, pada pukul 18.00. Kala itu, aku dan teman-teman baru saja melaksanakan Rapat Kerja Tahunan hari pertama di SABDA. Seusai Rapat Kerja, kami langsung bergegas menuju KKR Natal. Ada yang mengendarai motor dan ada yang naik mobil. Aku dan teman-teman segera menuju Hotel Best Western Solo Baru. Kami mengejar waktu karena para staf SABDA dipercaya untuk bertugas sebagai usher, kolektan, dan petugas parkir, jadi kami semua harus tiba di sana lebih awal untuk briefing terlebih dahulu dengan panitia KKR Natal.

Bersyukur saat itu cuaca cerah. Sekalipun aku dan teman-teman kecapaian karena habis mengikuti Rapat Kerja Tahunan SABDA, kami tetap bersukacita karena bertugas melayani DIA, Tuhan yang begitu baik. Setibanya kami di Best Western Solo Baru, aku dan teman-teman langsung bersiap diri sesuai dengan tugas kami masing-masing. Yang bertugas sebagai usher dan kolektan adalah aku sendiri, Mbak Evie, Mbak Okti, Mbak Elly, Mbak Indah, Mbak Tika, Ria, Mas Ariel, Ayub, Pio, dan Jordan. Untuk teman-teman yang bertugas di bagian parkir ada Mas Andre, Mas Aji, Mas Hadi, Mas Danang, Ody, dan Lukas. Jemaat pun satu-satu berdatangan hingga kursi terpenuhi seluruhnya. Hingga tibalah saatnya KKR Natal tersebut dimulai. Lagu-lagu pujian kami lantunkan bersama-sama dengan dipimpin oleh liturgos serta iringan bunyi piano yang membuat suasana ibadah KKR Natal berlangsung khidmat. Lalu, tiba saatnya Pdt. Stephen Tong naik ke mimbar untuk menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Ada banyak hal yang aku dapat ketika mengikuti KKR Natal ini.

Aku kembali mengenang saat-saat terindah dalam hidupku, ketika aku boleh menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat hidupku. Firman-Nya begitu indah seperti yang tertulis dalam Yohanes 1:1,4 dan 14, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah .... Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia .... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran". Ya, betapa bersyukurnya aku karena hanya oleh anugerah-Nya semata, aku boleh diizinkan untuk mengetahui tentang kebenaran itu sendiri.

Dikatakan juga dalam KKR Natal tersebut bahwa ketika kita sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat bukan lantas semuanya usai. Ada kehidupan lanjutan yang juga perlu kita bagikan bagi orang lain, khususnya kebenaran dari firman itu sendiri yang harus kita bagikan. Kita dituntut untuk hidup yang memberikan nilai guna bagi sesama kita. Ketika kita hidup, kita tidak hanya sekadar hidup. Karena jikalau kita hidup di dunia ini sekadar hidup, maka kita tidak jauh beda dengan binatang sapi. Hewan sapi semisal, sapi itu hidup, makan, berkembang biak lalu mati .... Yaaa, hidup sapi itu tak ada tujuan bukan? Hidup berguna bagi sesama berarti kita harus menjadi terang bagi sesama. Sama seperti lilin yang menyala dalam kegelapan sehingga lilin itu begitu memberi dampak di tengah kegelapan. Sebagai sebuah perenungan, sudahkah kita menjadi lilin dalam kegelapan?

Kiranya Allah sendiri yang memampukan kita untuk terus dipakai sebagai pembawa terang. Bagi Dia segala kemuliaan. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Thanksgiving: God is Good

Tue, 12/06/2016 - 08:24

"Mengucap syukurlah dalam segala hal. Sebab, itulah kehendak Allah bagimu di dalam Kristus Yesus." 1 Tesalonika 5:18 (AYT)

Kehidupan orang Kristen mesti ditandai dengan ucapan syukur. Itu jelas tertera dalam firman Tuhan, seperti yang tertulis di awal blog ini. Mengapa? Setidaknya, ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, karena karya keselamatan yang sudah dikerjakan Kristus bagi kita. Kedua, karena Tuhan menghendaki agar kita memiliki kemampuan untuk bersyukur dalam setiap waktu dan kondisi, atau dalam bahasa kerennya, attitude of gratitude. Dengan memiliki sikap bersyukur, pandangan kita akan terus terarah pada kebaikan dan pemeliharaan Tuhan, yang selanjutnya akan mengarahkan kita untuk hidup di dalam iman, pengharapan, dan kasih. So, terkait dengan hal itu, setiap tahun, pada hari Kamis terakhir bulan November, pemimpin dan staf YLSA mengadakan acara Thanksgiving di kantor. Meski Thanksgiving awalnya (dan masih) menjadi budaya tahunan yang berkembang dan terjadi di negara Amerika Serikat dan Kanada, tetapi inti dari budaya Thanksgiving, yaitu mengkhususkan satu hari untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, menjadi satu budaya atau kebiasaan yang juga dikembangkan oleh YLSA dari waktu ke waktu.

Sejarah Thanksgiving sendiri diawali dengan perjalanan (pilgrimage) sebagian rakyat Inggris yang mencari kebebasan religi di benua yang baru (new land) Amerika. Mereka harus menemui banyak hambatan, kesulitan, serta penyakit, sebelum akhirnya mereka dapat menghasilkan panen pertama di tanah yang baru. Sebagai ungkapan syukur mereka atas pemeliharaan Tuhan, mereka pun mengadakan jamuan makan untuk ucapan syukur dengan mengundang "tetangga baru" mereka, suku asli Indian, yang telah membantu mereka melalui tahun-tahun sulit di tanah yang baru itu. Seiring dengan perkembangan sejarah, Thanksgiving kemudian ditetapkan sebagai hari perayaan nasional di Amerika, yang kemudian juga menjadi ajang "mudik" bareng dari banyak masyarakat untuk berkumpul dengan keluarga dan teman.

Tahun ini, acara Thanksgiving di YLSA diawali dengan PA Kisah Rasul 13-14. Bacaan ini sungguh terkait dengan sejarah tradisi Thanksgiving, yaitu kisah perjalanan dan ucapan syukur Paulus dan Barnabas setelah mengabarkan Injil di berbagai tempat. Keduanya harus menemui banyak tantangan dan rintangan. Namun, pada akhirnya, mereka dapat menyelesaikan tugas yang dikaruniakan kepada mereka dengan pertolongan Roh Kudus.

Sebagai aplikasi dari PA Kisah Rasul 13-14 ini, semua staf harus membagikan ungkapan syukurnya kepada Tuhan, terutama terkait dengan timeline (kisah perjalanan hidup) pribadi yang sudah kami buat pada awal PA bulan November. Semua staf pun tanpa malu-malu (meski awalnya agak sedikit ragu-ragu) membagikan curahan hatinya tentang kebaikan Tuhan. Mulai dari sharing terpanjang sampai sharing tersingkat, sharing dari zaman "dahulu kala" kisah orangtua sampai ke sekarang, sharing yang penuh dengan haha hihi sampai yang penuh tangis haru, sharing tentang masalah jodoh, pelayanan, jalan hidup, pendidikan, dsb., dsb.. Komplet plet pokoknya, seperti nasi goreng ayam pakai telur, krupuk, dan acar . Tampaknya, ajang mengungkapkan rasa syukur ini bisa menjadi semacam rangkaian presentasi TED mini untuk tiap staf karena hampir semua relatif sulit untuk bisa mengungkapkan sharingnya hanya dalam satu atau dua kalimat. "Kabeh pengen dadi lakon," (semua ingin jadi bintang/pemeran utama - Red.) begitu kata Evie ketika mendengar satu per satu teman membagikan ungkapan syukurnya. Ya, so pastilah. Sulit untuk tidak menceritakan semua perbuatan yang sudah Tuhan lakukan dalam hidup ini. Kalau kata anak alay zaman sekarang, "Banyak bingits euy." Tidak heran kalau acara PA + Thanksgiving yang awalnya dijadwalkan selesai sekitar jam 10-11, akhirnya baru selesai pkl. 13.30! Wew :-O

Sharing semua staf akhirnya ditutup dengan sharing dari Bu Yulia, yang sudah 22 kali merayakan acara Thanksgiving di YLSA. Satu hal berkesan yang dikatakan oleh beliau adalah "Kesulitan hidup kadang membuat kita ingin mengeluh, tetapi ketika ingat betapa banyaknya Tuhan sudah menolong, keluhan langsung berubah menjadi syukur". Benar sekali. Satu keluhan yang kita rasakan tidak akan sebanding dengan berkat-berkat lain yang Tuhan sudah berikan. Count your blessings instead of sheep and you'll fall asleep, atau terjemahan bebasnya: hitung deh berkat-berkatmu, maka kamu akan kecapekan sampai tertidur. Lalu, sesudah membagikan sharingnya, Bu Yulia menutup dengan doa syukur. Kemudian, acara dilanjutkan dengan makan siang Thanksgiving yang istimewa. Yum!

Hidup bersama Tuhan sungguh indah meski seringnya bukan hidup yang mudah. Di dalam kesesakan dan pergumulan, kesetiaan-Nya selalu terbukti dan kebaikan-Nya merekah bagai fajar yang menerangi kehidupan kami setiap hari. Karena itu, ayo kita terus bersyukur tanpa perlu menunggu momen Thanksgiving, sebab Tuhan selalu saja baik, amat baik, sangat baik!

Categories: PEPAK

Pengantar PA Kisah Para Rasul

Fri, 11/11/2016 - 17:35

Setelah menyelesaikan Injil Lukas pada bulan Oktober lalu, pada bulan November ini semua staf Yayasan Lembaga SABDA akan melanjutkan PA dengan menggunakan bahan dari kitab Kisah Para Rasul. Akan tetapi, kami tidak langsung terjun ke dalamnya, melainkan kami terlebih dahulu melakukan beberapa kegiatan sebagai transisi dari Lukas menuju Kisah Para Rasul. Kegiatan tersebut salah satunya adalah menonton video, yaitu tentang pengantar kitab Kisah Para Rasul, kaitan antara kitab Lukas-Kisah Para Rasul, gambaran umum dan tema-tema kunci kitab tersebut, serta beberapa video lainnnya.

Setelah menonton video, kami kemudian mendiskusikannya dalam masing-masing kelompok. Untuk lebih mendalami kitab yang dapat dikatakan sebagai sebuah kisah perjalanan pemberitaan tentang Yesus ini, kami juga mencoba untuk membuat gambar storyline kisah perjalanan hidup kami masing-masing untuk melihat bagaimana tema-tema yang akan kami pelajari dalam kitab ini -- gereja, saksi, mukjizat, Roh Kudus -- menjadi bagian dalam hidup kami hari lepas hari hingga detik ini. Saya menduga akan ada banyak peristiwa dan hal menarik dalam kitab ini yang akan semakin memperlengkapi kita semua untuk menjadi saksi bagi Kristus. Kiranya Tuhan sendiri yang akan menolong kita memahami kebenaran firman-Nya dan menghidupi-Nya dalam hidup keseharian kita. Tuhan Yesus memberkati.


Sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=CGbNw855ksw

 

Categories: PEPAK

Dua Bulan Magang di SABDA yang Tak Terlupakan

Fri, 11/11/2016 - 08:41

Oleh: Illene Victoria*

Aku adalah mahasiswa Sastra Inggris semester tujuh yang telah menyelesaikan masa dua bulan magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) pada bulan Oktober lalu. Setelah selesai, saat melihat ke belakang, tak terkira banyaknya pengalaman yang aku dapat selama magang ini. Yang pertama adalah mengenai kemampuanku. Pada awalnya, aku hanya berfokus pada tugas sebagai penerjemah, tetapi ternyata di SABDA aku mendapat banyak tugas yang sangat bervariasi. Tugas-tugas tersebut, di antaranya menulis blog, menulis kesaksian, mencari artikel, membuat pokok doa , menulis editorial. Semua ini benar-benar mengasah kemampuanku dalam menulis, dan juga mengedit teknis serta mengedit terjemahan. Aku menjadi semakin mengerti aturan-aturan menulis yang benar.

Ketika pertama kali aku dapat tugas menerjemahkan, aku agak kesulitan karena aku sama sekali nggak pernah belajar kosakata bahan-bahan kerohanian, khususnya kekristenan, lebih-lebih untuk artikel-artikel yang berbau teologi Reformed atau filsafat. Di kampus, aku hanya terbiasa menerjemahkan karya fiksi. Saya juga melakukan banyak kesalahan memilih kata dalam menerjemahkan, tetapi koordinator penerjemah, Mbak Okti, membimbing aku. Dialah yang mengedit hasil terjemahanku. Dia juga yang memberi tahu kesalahan-kesalahan pilihan kata yang aku buat, dan dari situ aku semakin tahu konteks penggunaan kata-kata yang salah itu. Selain itu, aku juga belajar menerjemahkan istilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, seperti gadget menjadi gawai, dengan tujuan agar para pembaca mengenal dan tidak asing dengan istilah dalam bahasa kita sendiri. Dalam hal mengedit teknis, aku juga belajar penggunaan tanda baca atau kata yang sesuai dengan EYD, yang sebelumnya aku kurang menguasai.

Selain kemampuan, mental dan kerohanianku di SABDA juga diasah. Aku mungkin salah satu anak magang yang beruntung karena saat aku magang (September dan Oktober) ada banyak acara heboh-heboh yang sedang dilaksanakan di SABDA, seperti roadshow #Ayo_PA!, kopdar SABDA Space, HUT ke-22 SABDA dengan mengadakan TED dua kali, dan juga mengerjakan proyek Film Cinema48 yesHeis. Dari acara-acara tersebut, aku belajar untuk bekerja sama dalam tim, khususnya pada acara-acara TED di mana aku pertama kali bertugas menjadi operator. Aku juga belajar dari acara-acara seperti TED atau bahkan roadshow yang aku ikuti pada bulan September yang melatihku untuk berinteraksi dengan banyak orang yang nggak aku kenal. Dari situ pula, aku bisa belajar untuk menjadi supel, tidak memperhatikan diri sendiri seperti malu atau lain sebagainya. Aku juga terlatih untuk berani berbicara di depan orang, khususnya saat PD atau rapat kecil yang perlu mengeluarkan pendapat, dan terlebih saat aku membawakan presentasi di depan staf.

Dalam kerohanian, aku juga dibiasakan untuk mengutamakan Tuhan dalam keseharian dan kesibukanku. Di tempat ini, aku terbiasa untuk mengikuti PD dan PA yang melatihku untuk merenungkan Firman, lalu membagikannya dengan kelompok kecil. Dari PA yang menggunakan metode S.A.B.D.A tersebut, aku dapat semakin mengenal karakter Tuhan dan apa yang Ia kehendaki dalam hidupku. Metode itu sangat membantuku untuk menggali firman Tuhan sehingga aku merekomendasikan kita untuk memakainya ketika PA. Selama masa magang, aku juga merasakan penyertaan Tuhan nyata dalam hidupku. Dialah yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Awalnya, aku nggak kuat dengan tekanan tugas dan deadline karena dari pertama masuk ada begitu banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum deadline. Di sisi lain, ini baru pertama kalinya aku masuk ke dunia kerja nyata. Aku juga agak kesulitan untuk membagi waktu dan membagi fokus karena aku masih memiliki tanggungan kuliah proposal di mana juga banyak tugas yang harus aku kerjakan. Akan tetapi, lama-kelamaan aku mulai terbiasa dan terlatih. Aku juga bisa beradaptasi dengan staf-staf dengan baik. Mereka nggak pernah sungkan kalau aku tanya atau meminta tolong. Mereka juga ramah, terlebih teman-teman staf satu kost yang selalu mengajak aku terlibat dengan kegiatan-kegiatan mereka. Ini juga salah satu alasan yang membuatku betah dan senang berada di SABDA. Ada banyak hal positif yang aku dapatkan di SABDA sehingga membuatku tetap yakin pada diriku bahwa aku memang nggak salah pilih tempat magang.

Categories: PEPAK

Cerita Di Balik 48 Jam Membuat Karya Bersama

Fri, 11/11/2016 - 08:29

Shalom, Hilda kembali menyapa para pembaca setia Blog SABDA.

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman menarik saya bersama seluruh staf Yayasan Lembaga SABDA ketika mengikuti event Cinema48, sebuah ajang kompetisi dari yesHEis di mana dalam 48 jam para peserta dari berbagai tempat yang berbeda, bersama-sama membuat skrip/naskah, melakukan shooting sampai dengan editing video untuk sebuah film pendek berdurasi 2 -- 3 menit yang menceritakan Kabar Baik sesuai dengan perspektif masing-masing. Sebelumnya, para staf telah dibagi menjadi tiga kelompok besar, dan saya ikut di kelompok ke-3 di mana (kebetulan sekali!) anggotanya didominasi oleh ibu-ibu muda.

Sekitar pukul 18.00, sebagian besar staf mulai berdatangan dan berkumpul di Griya SABDA. Bahkan, ada beberapa yang belum sempat pulang ke rumah sejak pagi demi mempersiapkan hardware-hardware agar bisa digunakan dengan baik untuk proses pengerjaan editing nantinya. Lalu, tepat pukul 19.00, e-mail berisi tema dan instruksi-instruksi persyaratan kompetisi dari panitia masuk dan sempat mericuhkan suasana. Setiap kelompok segera berkumpul dan bersama-sama melakukan brainstroming untuk membuat ide cerita sesuai dengan tema yang diberikan. Bersyukur, sebelumnya kami telah berlatih melakukan brainstorming sehingga kali ini bisa mengeluarkan ide-ide dengan lebih cepat. Meskipun begitu, kami juga sempat mengalami frustrasi karena kami merasa ide-ide yang dipilih masih kurang tajam dan menarik untuk disajikan ke dalam film pendek. Apalagi dengan bergulirnya waktu yang semakin larut, sebagian anggota mulai berkurang karena harus kembali ke rumah mereka. Saya sempat merasa iri dengan kelompok-kelompok lain yang anggotanya masih cukup banyak yang bisa "stay" hingga larut malam. Namun, saya sangat bersyukur, di tengah kekurangan personel, ide cerita berhasil dimatangkan, dan storyboard mulai terbentuk, sudah cukup untuk bahan shooting esok hari.

Pada hari kedua, saya sangat bersukacita karena akhirnya anggota kelompok saya lengkap. Bersama-sama, kami memikirkan kembali ide cerita yang telah selesai dipikirkan semalam dan menunjuk aktor-aktor yang akan memerankan tokoh ceritanya. Kemudian, sekitar jam 12 siang kami berangkat ke rumah Mbak Okti yang merekomendasikan untuk melakukan shooting di jalan depan rumahnya karena di sana ada mural-mural yang sangat bagus untuk dijadikan background pengambilan gambar. Proses membuat shooting adalah hal yang sangat berkesan buat saya. Meskipun ini bukan kali pertama saya melakukan shooting, tetapi proses shooting kali ini sangatlah berbeda karena saya melakukannya bersama dengan orang-orang yang baru pertama kali melakukannya dan saya juga melihat potensi-potensi baru yang luar biasa yang dimiliki rekan-rekan saya. Kami menjadi semakin dekat dan dapat melihat sisi lain dari diri kami masing-masing, yang berbeda dari mode kerja kantor. Namun, yang namanya shooting itu memang menguras tenaga. Begitu kami kembali ke Griya SABDA, kami langsung tertidur kelelahan.

Habis shooting terbitlah editing. Ya, proses ini belum selesai. Masih ada proses editing yang tentunya akan memakan waktu dan kesabaran apalagi storyboard kami cukup complicated. Namun sayangnya, Lukas salah satu anggota yang seharusnya bertugas melakukan editing, pamit karena dirinya kelelahan. Apalagi dalam proyek ini dia adalah aktor utamanya, tentu kami paham betul dia sangat kelelahan. Melihat kondisi kelompok kami, salah satu anggota kelompok lain, Mas Pio menawarkan bantuan dan menolong kami mengedit hasil shooting hari itu hingga pukul tiga pagi. Saya sangat berterima kasih untuk kesediaannya membantu dan itu akan sangat meringankan pekerjaan Lukas esok harinya.

Masih ada lagi masalah lain, yaitu kami harus bergumul dengan judul yang belum ditentukan dan subtitle yang belum dibuat untuk melengkapi persyaratan dari panitia. Hari ketiga, kami habiskan dengan melengkapi hal-hal kecil yang diperlukan dalam komponen film kami. Meskipun saya bilang "hal-hal kecil", hal-hal ini ternyata tidak sesimpel yang dipikirkan. Mulai dari mencari dan memilih background sound yang cocok dengan suasana cerita, membuat narasi untuk menolong pesan dari cerita semakin tersampaikan, proses rekaman di antara riuhnya suasana, semakin dekatnya dengan tenggat waktu pengumpulan, dan proses converting yang terus mengalami masalah. Meskipun begitu, bersyukur kami ternyata berhasil menyelesaikan film pendek kami dan mengumpulkannya tepat waktu.

Benar-benar pengalaman yang sangat menguras tenaga, waktu, dan air mata. Namun, semuanya tidak sia-sia karena akan menjadi pengalaman berharga bagi kami pribadi lepas pribadi. Dari pengalaman ini, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu bagaimana kita menghargai waktu. Waktu 48 jam bisa berlalu begitu saja jika kita gunakan hanya untuk bersenang-senang, tetapi 48 jam juga bisa menjadi waktu yang sangat berharga dan bermanfaat untuk mengabarkan Kabar Baik kepada orang lain. Saya juga menjadi semakin menghargai ide dan karya mereka-mereka yang berkecimpung di dunia multimedia, baik yang dikerjakan oleh rumah produksi terkenal maupun karya-karya indie. Sekarang, saya tahu bahwa proses di balik pembuatan video itu sangatlah rumit dan penuh perjuangan. Saya senang bisa menjadi bagian dari event ini dan mengenal lebih dekat teman-teman di kantor YLSA.

Kiranya para pembaca bisa terberkati melalui sharing saya ini. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.

Categories: PEPAK

+TED @ SABDA, 14 Oktober 2016

Mon, 10/17/2016 - 11:52

Puji Tuhan! Acara +TED @ SABDA yang pertama pada tanggal 7 Oktober 2016 berhasil dilaksanakan. Pada 14 Oktober 2016, acara yang sama diadakan kembali. Jika dalam +TED @ SABDA yang pertama, Ody menjadi ketua panitianya, dalam acara yang kedua, saya yang dipercaya untuk menjadi ketuanya. Secara bersama-sama, seluruh staf SABDA mendukung terlaksananya acara ini, mulai dari berbagi tugas, menyusun acara, mengusulkan makanan, menyediakan alat-alat, hingga menata tempat. Semua tugas ini bisa dilakukan dengan baik karena setiap jenis tugas memiliki seorang penanggung jawab yang mengoordinasi tiap anggotanya. Setiap prosesnya mengajarkan betapa penting komunikasi satu dengan yang lain. Saya bersyukur karena pada 10 Oktober 2014 diadakan evaluasi dari acara +TED @ SABDA yang pertama sehingga beberapa masukan yang baik bisa diaplikasikan untuk acara +TED kedua.

Pada +TED @ SABDA yang kedua ini, tamu yang datang lebih banyak dibanding +TED yang pertama. Sebagian besar tamu adalah teman-teman YLSA dari beberapa organisasi Kristen dan gereja. Meski acaranya sama, tetapi presentator acara pertama dan kedua berbeda. Pada 14 Oktober 2016, ada 8 presentator. Melalui acara ini, kami berharap para peserta semakin bertambah wawasan baru melalui ide-ide, gagasan-gagasan, dan pengetahuan-pengetahuan baru yang disampaikan oleh para presentator. Sementara itu, sisi yang lain, acara ini juga bermanfaat bagi para presentator untuk berlatih menyampaikan presentasi sesuai waktu yang ditentukan, yaitu 12 menit.

Sama halnya dengan Ody, saya juga mendapat berkat dari setiap materi yang disampaikan. Ada 7 materi dalam +TED kali ini, yaitu "Berpikir Kreatif" (Purnawan Kristanto), "Dunia PAUD" (Dhani Pranoto, "Persyaratan Mendirikan Yayasan/Gereja" (Debora Enny), "Days With Jesus" (Agustinus Budi), "Alkitab Yang Terbuka" (Yulia), "Interlinear" (Aji), "Letakkan Tuhan di Tempat Utama" (Thomas Hutomo), dan "Indonesia for God's Glory" (Hagai). Selain presentasi dari pembicara, diputar juga sebuah video TED Talks yang berjudul "Grit: The power of passion and perseverance". Video tersebut akan membantu para pembicara maupun tamu undangan mengerti konsep dari +TED @ SABDA dan hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan kegiatan TED. Secara pribadi, saya terkesan dengan para pembicara yang dapat menyampaikan point presentasi mereka dengan singkat dan jelas, dengan cara yang bervariasi juga, seperti menambahkan video di dalam presentasi mereka. Materi-materi yang dibawakan juga menarik. Melalui video "Grit", saya juga belajar tentang tekad. Tekad adalah salah satu faktor penting, selain kemampuan dan bakat, untuk mencapai tujuan kita. Tekad adalah semangat dan ketekunan untuk mencapai tujuan.

Sebagai ketua panitia, saya berterima kasih atas kerja keras teman-teman yang telah mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan baik, yang tentunya harus dikembangkan lagi untuk dapat melaksanakan tugas lain dengan lebih baik lagi. Tuhan Yesus memberkati. Sampai jumpa di acara YLSA lainnya.

Categories: PEPAK

Semarak HUT Yayasan Lembaga SABDA ke-22: +TED @ SABDA

Mon, 10/10/2016 - 13:10

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-22, Yayasan Lembaga SABDA menyelenggarakan sebuah rangkaian acara +TED @ SABDA dengan moto "Knowledge Worth Sharing". Acara yang terinspirasi oleh konferensi TED di Amerika ini diadakan sebanyak dua kali, yaitu tepatnya pada tanggal 7 & 14 Oktober 2016, di Griya SABDA. Melalui tulisan kali ini, saya ingin sedikit bercerita tentang acara yang diselenggarakan pada tanggal 7 Oktober.

Saya sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk bisa terlibat dalam acara perayaan HUT kali ini. Banyak pengalaman dan pelajaran baru yang saya dapat, baik dari materi-materi yang dibawakan oleh para pembicara maupun dari keterlibatan saya sebagai anggota panitia pelaksana, sekaligus salah satu pembicara TED dari perwakilan staf SABDA.

Meski awalnya terlambat sekitar 20 menit dari jadwal semula, tetapi acara dapat tetap berlangsung dengan lancar, setidaknya dari sudut pandang saya. Mengapa? Karena sekalipun mulainya sedikit molor, tetapi tetap "on-time" dalam kemolorannya. Maksudnya, tidak ada kemoloran lain yang terjadi setelah itu. Semua sesi acara berjalan sesuai dengan durasi waktu yang sudah diperkirakan. Dipimpin oleh MC, acara +TED dibuka dengan menyanyikan dua lagu pujian, yang kemudian disambung dengan doa pembuka, dan langsung dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Yulia selaku ketua yayasan. Selepas itu, MC mengambil peran sebagai moderator, dan sesi presentasi-presentasi ala TED Talks pun dimulai.

7 orang pembicara dalam acara kali ini. Banyak sekali, bukan? Untungnya, masing-masing pembicara hanya diberi waktu 12 menit untuk menyampaikan materinya. Kalau tidak, pasti acara ini akan sangat panjang sekali. Akan tetapi, meski hanya dalam 12 menit, nyatanya tidak ada satu pun materi yang sama sekali tidak memberkati. Saya secara pribadi sangat terberkati melalui materi-materi, seperti "Firman Tuhan, Pemuda, dan Teknologi" yang dibawakan oleh Pak Gunawan, dan "Pemuridan" yang dibawakan oleh Pak Wahyu. Dan, dalam waktu sesingkat itu pun, para pembicara tetap dapat menyampaikan materinya dengan baik. Adapun materi-materi lain yang disampaikan pada hari itu adalah "Proyek Wiki Alkitab" oleh Benny, "Sharing Pelayanan" oleh Ibu Lois Jenks, "Sukses" oleh Pak Yochan, "Keuntungan Menguasai Bahasa Inggris" oleh saya sendiri, dan "Finishing the Task" oleh Pak Paul Jenks.

Selain dari materi-materi yang dibawakan oleh para pembicara, ada hal lain yang juga sangat saya syukuri secara pribadi, yaitu saya dapat berjumpa dan berkenalan dengan orang-orang baru. Setelah acara berakhir, panitia menyediakan minuman ronde yang bisa dinikmati sambil beramah-tamah. Di sanalah, semua orang saling berkenalan dan mengobrol. Di antara banyak orang yang saya temui, saya teramat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk mengenal Pak Paul Jenks beserta istrinya, Ibu Lois Jenks. Mereka berdua merupakan inspirasi bagi saya untuk tetap setia dalam pelayanan karena Tuhan sendiri yang akan senantiasa menyertai orang-orang yang setia kepada-Nya.

Begitu banyak hal yang terjadi. Begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat. Dan, begitu banyak kesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Semuanya itu tidak mungkin dituangkan ke dalam satu tulisan yang ringkas. Kiranya tulisan yang singkat dan jauh dari kata lengkap ini bisa menggambarkan sedikit tentang apa yang kami lakukan di sini, di Yayasan Lembaga SABDA. Kiranya tidak hanya peserta yang hadir saja yang merasa terberkati, melainkan orang-orang lain juga bisa terberkati melalui tulisan ini.

Categories: PEPAK

NOBAR @SABDA

Fri, 10/07/2016 - 08:38

Karena padatnya kegiatan bulan Agustus sehingga membuat beberapa acara sempat tertunda, termasuk acara Nobar (nonton bareng). Sebelumnya, saya mengira acara bakal dibatalkan, tetapi ternyata tiba-tiba ada pengumuman waktu PD Senin (29/8) kalau nanti siang akan ada "nobar" serial Flash Point.

Awalnya, Bu Yulia memberikan sedikit pengantar tentang film yang akan kami tonton tersebut. Bu Yulia menceritakan tentang bagaimana cara kerja tim yang dilakukan oleh SRU dalam menangani sebuah kasus yang mereka terima. Semboyan Tim SRU adalah "Keep Peace", dalam arti bagaimanapun kondisi yang mereka hadapi mereka harus melakukan dengan jalan yang terbaik, terutama jangan sampai melakukan pembunuhan.

Dalam cerita serial Flash Point ini sangat terkait dengan keadaan anak muda saat ini. Film ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Billy yang pandai sekali melukis dan memiliki kepribadian yang unik. Serial kali ini juga memberikan tambahan mengenai bagaimana SRU menyelesaikan sebuah kasus yang mereka terima dari para pelapor. Permasalahan terjadi ketika Billy ini di-bully oleh Scott dan teman-temannya saat membela Ella, teman perempuan di kelas lukisnya. Oh ya, Ella juga sering mendapat perlakuan kasar dari Scott, pacarnya. Dari kejadian tersebut, Billy mengalami perlakuan yang memalukan dan direkam oleh salah satu dari mereka, bahkan rekaman ini disebarkan oleh teman-teman Scott. Peristiwa ini membuat Billy semakin tertekan dan sakit hati karena rekaman ini diterima oleh semua orang di sekolah tersebut. Dari kekesalan hatinya, Billy lalu mengambil langkah balas dendam. Dari sanalah, kisah dimulai dengan banyak adegan dan teka-teki yang mengarahkan penonton untuk menebak akhir dari cerita ini.

Billy lalu mengambil pistol di rumahnya. Dari adegan itu, saya mengetahui kalau kehidupan Billy sangat kacau dan kesepian seperti yang tergambar di lukisannya. Setelah dia mendapatkan pistol, dengan perasaan tertekan, dia mencari orang-orang yang menyakitinya untuk melakukan pembalasan. Dia memasuki suatu kelas, kelas Geografi, dan mencari si pelaku, tetapi justru dari tempat inilah awal dari kesalahan fatalnya. Billy melakukan penembakan di kelas itu, dan kepanikan pun terjadi. Pihak sekolah memanggil Strategic Response Unit (SRU) untuk menangani kasus tersebut, dan tim SRU mulai mempersiapkan apa yang akan mereka lakukan di tempat kejadian.

Saat tim SRU akan beraksi, pemutaran film dihentikan dan staf diberi pertanyaan tentang apa yang kira-kira akan dilakukan oleh tim SRU ini dalam memecahkan kasus penembakan yang terjadi di kelas Geografi. Kami pun berlomba menebak apa yang akan dilakukan jika kita semua menjadi pemimpin SRU. Syarat yang paling utama dalam tim SRU adalah mengutamakan komunikasi dan mengatur strategi dengan cepat, dengan mencari informasi dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam cerita kali ini, mereka bekerja sama dengan penjaga keamanan sekolah.

Apa yang mereka kerjakan sangatlah sistematis dan canggih sekali. Bahkan, saya membayangkan kalau saja itu terjadi di Indonesia, hmmm pasti seru deh. Akhir dari cerita ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Awalnya, saya mengira Billy ini pasti akan membunuh si pelaku, tetapi ternyata dia bisa dibujuk oleh Ella sehingga mau meletakkan pistol. Akan tetapi, karena kecerobohan seorang petugas keamanan, yang mengira anaknya (Toni) sudah ditembak oleh Billy, Billy justru ditembak olehnya. Billy langsung dievakuasi oleh tim SRU sehingga ia tidak meninggal. Akan tetapi, pemimpin SRU sangat sedih karena dia merasa gagal dalam menyelesaikan kasus kali ini. Dia pun berterima kasih kepada Ella yang melakukan tugasnya dengan baik ketika membujuk Billy, sebab tugas itu seharusnya dilakukan oleh tim SRU.

Setelah selesai menonton film ini, hal yang kami lakukan adalah berbagi pelajaran yang telah kami dapatkan dari film ini. Semua staf berbagi kesan tentang cerita, bahkan tokoh-tokoh dalam film ini. Ada yang berkesan dengan bagaimana tim SRU menangani/menyelesaikan suatu kasus, ada juga yang belajar tentang bagaimana mengatur semua tim untuk bisa bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Saya belajar dua hal dari cerita kali ini. Satu, jika kita salah berkata atau bertindak, pastilah kita akan mendapatkan akibat dari apa yang seharusnya kita tanggung, seperti yang terjadi di film ini. Kedua, saya belajar dari Ella yang berani mengambil tindakan yang benar tanpa melihat keadaan yang mungkin bisa membahayakan nyawanya ataupun orang di sekitarnya. Pelajaran kedua ini memberi saya kesan mendalam bahwa saya memerlukan hikmat Tuhan yang akan menolong saya dalam segala kondisi dan keadaan.

Menonton film dengan cerita yang sedikit "sad ending", tetapi membawa pesan yang dalam ini, menjadi salah satu agenda yang sering dilakukan karena selain kami nobar juga belajar dari apa yang kita tonton. Semoga film-film berikutnya juga akan membawa pesan yang berguna.

Categories: PEPAK

Kebaktian Syukur HUT YLSA ke-22

Mon, 10/03/2016 - 08:36

Hut YLSA ke-22 tahun

Menyambut usianya yang ke-22 tahun, Yayasan Lembaga SABDA membuat sebuah "pesta-pesta" kecil untuk memperingati rekam jejak dan karyanya selama ini. Perayaan yang dilaksanakan tanggal 1 Oktober 2016 silam berlangsung cukup sederhana dan hanya dihadiri oleh pengurus dan staf SABDA saja karena acara ini memang dikhususkan untuk kami yang bekerja di YLSA. Sebelumnya, kami berencana untuk merayakan ulang tahun sambil berekreasi ke objek wisata Cokro dan Umbul Ponggok di Klaten dengan mengajak keluarga atau kenalan kami. Namun, berdasarkan beberapa pertimbangan, terutama melihat perkiraan cuaca yang dipastikan akan hujan lebat, maka akan lebih "aman" jika dirayakan "indoor" saja. Akhirnya, kami putuskan melangsungkan acara ini di Griya SABDA yang notabene kantor SABDA sendiri. Pada hari H, saat masih pagi, cuaca sangat cerah sehingga menolong kami menyiapkan segala sarana dan prasarana dengan mudah.

Acara dimulai pukul 09.00 pagi, dengan Ariel sebagai MC. Sikapnya yang supel dan kemampuannya yang mudah menarik perhatian membuat suasana semarak. Nyanyian pujian dipimpin oleh Ayub. Selepas pujian, kami mendengarkan renungan mengenai lima cara belajar firman. Saya belajar bahwa membaca firman saja tidak cukup karena membaca berarti hanya mendapatkan data (fakta) yang belum diolah sehingga pemahaman yang didapat baru sebatas di permukaan. Puncak dari belajar Firman adalah menghidupi Firman. Terkait hal ini, saya teringat tulisan Charles Swindoll yang menyebut bahwa Alkitab adalah petunjuk yang benar dan tepercaya, tetapi membacanya saja tidak akan membuat kita serta-merta menjadi serupa Kristus. Banyak orang Kristen telah membaca Alkitab berulang-ulang, mengikuti kursus-kursus Alkitab, dan berpindah-pindah gereja, tetapi mereka juga adalah orang Kristen yang paling "rewel" dan tidak bertanggung jawab. Hal ini karena mereka tidak beranjak dewasa dengan menerapkan Firman yang mereka baca. Jadi, meski renungan yang disampaikan sangat detail, panjang, dan agak melelahkan bagi saya, menurut saya itu benar dan hendaknya menjadi perhatian staf SABDA yang giat mempelajari Firman.

Perayaan ultah diisi dengan permainan dan sharing. Saya bersyukur untuk Mbak Santi yang berhasil memimpin permainan bertajuk "sejauh mana pengetahuan Anda tentang YLSA" yang bisa mengakrabkan staf dan pemimpin, sekaligus bersyukur untuk yayasan tempat kami berkarya. Lalu, acara disambung dengan sharing kesan dan pesan dari pengurus dan staf mengenai YLSA. Saya bersyukur, pengurus dan staf memberi kesan dan masukan yang positif bagi YLSA. Bahkan, ada pula yang memberikan persembahan baik puisi, video kreatif, maupun nyanyian pujian. Semuanya kami berikan sebagai ucapan syukur kami atas kepercayaan yang Tuhan berikan sehingga bisa melayani di YLSA. Tidak semua sharing saya ingat, tetapi sharing yang paling berkesan bagi saya adalah sharing Ayub yang mengatakan bahwa semua yang terjadi mulai dari awal berdirinya hingga YLSA berusia 22 tahun adalah karena Allah. Ini semua adalah tentang Allah, tentang "HIStory".

Oh ya, ada pelajaran berharga dari persembahan video yang dibuat oleh salah seorang staf YLSA. Video berdurasi 10 menit ini sangat menarik, bukan hanya karena isinya, tetapi karena cocok dengan cara komunikasi generasi abad ini, generasi digital. Secara pribadi, saya sangat menghargai pengorbanan dan usaha si pembuat video karena berhasil menyelesaikannya hanya dalam 1 malam; sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi tanggal 1 Oktober pukul 05.00. Nilai pengorbanan yang saya pelajari di sini merupakan kunci sukses untuk melakukan sebuah pelayanan. Prinsip yang tidak biasa, yang tidak hanya "bekerja sesuai jobdesk saja" akan menghasilkan kesuksesan. Pengorbanan manusia tentu saja tidak akan sebesar yang Yesus berikan, tetapi apa yang Yesus lakukan untuk kita dapat menginspirasi agar kita berjuang lebih sungguh lagi dalam setiap pelayanan yang dipercayakan kepada kita.
Akhirnya, acara ditutup oleh Bu Yulia yang menyatakan kegundahannya dengan masalah SDM YLSA yang masih sangat kurang. Beliau juga mengingatkan supaya kami terus-menerus belajar dan mengembangkan diri karena Allah pun berharap kita terus "naik level" sesuai dengan harapan-Nya. Saya bisa memahami apa yang beliau sampaikan. Apalagi, dalam konteks pelayanan berbasis teknologi, seseorang harus terus menaikkan tingkat pengetahuan dan kemampuannya mengingat teknologi terus berkembang. Saya pikir, pernyataan beliau tidak hanya untuk kami, staf YLSA, tetapi juga untuk setiap hamba Tuhan yang perlu memperlengkapi diri, khususnya dengan cara komunikasi abad ini supaya firman Tuhan tersebar lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang lagi.

Secara umum, perayaan ulang tahun yang ke-22 ini berlangsung dengan baik. Saya ingin menutup tulisan ini dengan ucapan selamat ulang tahun untuk Yayasan Lembaga SABDA yang ke-22. Saya berharap Yayasan Lembaga SABDA tetap bertekun memperjuangkan misi yang dibebankan oleh Tuhan sejak awal berdiri, yaitu pelayanan melalui teknologi. Namun, perlu diingat, betapapun hebat dan besarnya sumber daya yang dimiliki YLSA, yayasan ini tidak bisa bekerja sendirian. YLSA perlu berelasi dan bermitra dengan yayasan atau organisasi lain yang memiliki visi yang sama sehingga pekerjaan pelayanan berdampak lebih luas lagi. Selamat berjuang YLSA, dengan segala kekurangan yang masih ada. Saya percaya ketika Allah sudah memulai pelayanan ini, Allah pula yang akan memimpin dan mengakhirinya dengan baik. Terpujilah Dia, yang empunya ladang pelayanan YLSA.

Categories: PEPAK

Komentar