PEPAK

Roadshow #Ayo_PA! di SMK Warga, Solo

Blog SABDA - Mon, 01/08/2018 - 16:40

Oleh: *Irene

Pada 24 November 2017, saya diberi kesempatan untuk mengikuti acara roadshow #Ayo_PA! di SMK Warga, Solo. Jujur, saya sedikit khawatir karena saya belum begitu paham tentang acara ini. Saya belum pernah menggunakan aplikasi-aplikasi yang digunakan YLSA untuk pendalaman Alkitab, dan saya khawatir apakah saya bisa membantu teman-teman di sana. Pukul 10.45 WIB, saya berangkat menuju SMK Warga bersama Okti, Santi, Hadi, dan Pio. Sebelumnya, saya diberi tahu bahwa tugas saya nanti adalah membuat dokumentasi dan menjaga booth.

Sesampainya di sana, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan kami, seperti ruangan yang masih digunakan, kursi yang belum ditata, tidak adanya mike, dll. Akan tetapi, saya salut dengan teman-teman YLSA karena tetap tenang dan mulai mengerjakan hal yang bisa dilakukan terlebih dahulu. Kami mulai dengan memasang banner, mempersiapkan bahan presentasi, menata booth dan kursi, sambil menunggu Pak Iwan (guru pembimbing). Selang beberapa menit kemudian, aula yang tadinya sepi mulai penuh dengan siswa-siswa yang akan mengikuti persekutuan siang hari itu. Ada sekitar 100-an siswa yang datang. Kami juga meminta bantuan salah satu siswa untuk memainkan gitar saat pujian pembuka.

Sesi pertama tentang "Tujuh Alasan Pentingnya Mempelajari Alkitab" disampaikan oleh Kak Okti, dan dilanjutkan oleh Kak Santi pada sesi kedua tentang "Penggunaan Teknologi Digital untuk ber-PA". Selain itu, pada sesi kedua ini juga dijelaskan tentang metode PA yang telah dikembangkan oleh YLSA, yaitu S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, dan Aplikasi). Kedua presenter menyampaikan materi dengan sangat baik meskipun ada waktu-waktu tertentu mereka harus menegur beberapa siswa karena tidak fokus dan ramai. Siswa-siswa yang membawa HP dan memiliki paket data rata-rata berhasil mengunduh lima aplikasi yang telah dijelaskan, yaitu aplikasi Alkitab, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, dan Peta Alkitab. Mereka tidak sungkan untuk bertanya pada saat mengalami kesulitan, dan teman-teman YLSA dengan sigap membantu. Pada akhir presentasi, Santi memberi kuis untuk siswa-siswa tersebut. Mereka diberi instruksi untuk mencari berapa jumlah kata "firman" dalam kitab-kitab Injil. Para siswa SMK ini sangat antusias, mereka berebut untuk bisa menjawab. Namun, banyak dari mereka yang tidak mendengarkan instruksi dengan baik sehingga jawaban mereka kurang tepat, dan Santi harus mengulang instruksi. Alhasil, ada satu siswa yang bisa menjawab dengan tepat dan mendapatkan hadiah dari YLSA.

Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Mungkin pada awal acara, banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kami, tetapi Tuhan menolong kami. Saya percaya bahwa Roh Kudus akan membimbing mereka dan memberikan pertumbuhan. Saya pun bersukacita karena setelah persekutuan selesai, ada beberapa siswa yang menghampiri booth kami. Mereka mengambil brosur "Anda Punya Waktu 60 Hari" yang bisa membantu mereka untuk menyelesaikan membaca Alkitab PB dalam waktu enam puluh hari. Saya berdoa kiranya mereka bisa berkomitmen dalam melakukannya dan bisa membagikan apa yang mereka dapat ke orang-orang di sekitar mereka.

Categories: PEPAK

Roadshow Mini Tim Pendidikan Kristen di STT Berita Hidup

Blog SABDA - Wed, 01/03/2018 - 12:47

Oleh: Ariel

Shalom, YLSA mengadakan roadshow lagi. Kali ini bukan roadshow #Ayo_PA!, melainkan roadshow mini tim Pendidikan Kristen (PK) YLSA. Kegiatan ini sudah direncanakan dalam program kerja 2017 tim PK. Namun, karena banyaknya kegiatan dan kesibukan di YLSA, rencana ini baru dapat kami laksanakan pada November 2017. Sejak awal, kami sudah menargetkan akan melakukan roadshow mini tim PK di persekutuan pemuda GKAI Betlehem di Karanganyar. Mengapa? Selain jaraknya yang cukup dekat, ada banyak mahasiswa sekolah teologi yang hadir dalam persekutuan ini. Menurut kami, mereka adalah salah satu target yang tepat untuk roadshow mini kali ini. Materi yang akan kami sampaikan kepada peserta adalah "Anak di Mata Allah dan Mengenal Karakter Anak".

Seperti biasa, sebelum melakukan roadshow, kami harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Pio mempersiapkan alat-alat dan DVD yang akan kami bawa, sedangkan Tika dan Joy menyiapkan presentasinya. Sebelum terjun ke lapangan, Joy dan Tika selaku presentator harus melakukan latihan presentasi terlebih dahulu. Dalam latihan tersebut, kami memberikan masukan-masukan agar pada hari H, mereka dapat menyampaikan presentasi dengan baik. Saya sempat khawatir karena merasa persiapannya kurang lancar. Selain memberi dorongan semangat dan beberapa masukan, saya juga mendoakan mereka. Saya yakin dengan persiapan yang serius, Tuhan akan menolong kami melakukan pelayanan ini dengan baik dalam perkenanan-Nya.

Roadshow mini tim Pendidikan Kristen diadakan pada 10 November 2017 pukul 19.00 WIB, bertempat di GKAI Betlehem yang merupakan gereja kampus STT Berita Hidup. Pada pukul 18.00 WIB, kami berangkat dari kantor untuk mempersiapkan alat-alat presentasi. Rintik-rintik hujan yang turun seharian tidak mengurangi semangat kami untuk melayani Tuhan. Sebelum pukul 19.00 WIB, beberapa pemuda sudah datang, kami berkesempatan untuk beramah-tamah dengan mereka. Mereka juga bersedia membantu kami untuk mengatur LCD dan menata kursi. Kami sempat mengubah penataan kursi beberapa kali demi kenyamanan peserta ketika melihat layar LCD.

Tepat pukul 19.00 WIB, ibadah dimulai, yang diawali dengan menyanyikan beberapa pujian dan pemberian persembahan. Setelah pujian selesai, giliran saya menyampaikan pengantar presentasi dan mengenalkan anggota tim kepada peserta. Kami menyampaikan dua presentasi; yang pertama adalah "Anak di Mata Allah" yang disampaikan oleh Tika, yang kedua adalah "Karakter Anak" yang disampaikan oleh Joy. Sebagian besar peserta adalah mahasiswa STT Berita Hidup, sedangkan yang lain adalah pemuda GKAI Betlehem. Mereka semua adalah guru-guru Sekolah Minggu di gereja itu. Semua peserta terlihat antusias mendengarkan presentasi yang disampaikan, baik oleh Tika maupun Joy. Saya juga melihat Tika dan Joy menyampaikan presentasi dengan sangat bagus dan bersemangat. Semua kekhawatiran saya kemarin hilang sudah, yang ada hanyalah rasa syukur kepada Tuhan karena Dia benar-benar bekerja dalam diri Tika, Joy, dan anggota tim yang lain. Presentasi diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pembagian DVD Library SABDA Anak yang dipimpin oleh Evie. Antusiasme dalam hal ini juga terlihat dari setiap peserta, terbukti dengan munculnya berbagai pertanyaan dari mereka. Tepat pukul 21.00 WIB, acara roadshow ini berakhir.

Dari roadshow mini tim Pendidikan Kristen ini, saya belajar tentang koordinasi tim dan yang paling penting adalah penyerahan diri, terutama penyerahan kekhawatiran kepada Tuhan. Kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik bukan karena koordinasi tim yang baik, presentator yang hebat, maupun kepandaian kami semua, melainkan karena Tuhan yang melibatkan kami dalam rencana-Nya sehingga kami dapat melakukan kegiatan ini dan menjadi berkat bagi orang lain.

"Inilah kebanggaan kami, yaitu kesaksian hati nurani kami bahwa kami hidup di dunia ini, terutama terhadap kamu, dengan ketulusan dan kemurnian dari Allah, bukan dalam hikmat dunia, melainkan dalam anugerah Allah." 2 Korintus 1:12 (AYT)

Kategori: Pelayanan, Pendidikan Kristen

Categories: PEPAK

Rapat Kerja YLSA 2017/2018:Tuhan yang Menopang dan Menyertai

Blog SABDA - Tue, 12/19/2017 - 18:17

Oleh: Davida dan Yulia

Mulai pertengahan November 2017, saya melihat suasana di kantor Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) terlihat sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Setiap divisi dan tim pelayanan juga mulai lebih sering rapat. Suasana PA staf pun berbeda dari biasa. Untuk lebih dari seminggu, kami banyak membahas tentang persiapan rohani dan pikiran tentang apa yang Tuhan taruh dalam hati kami. Semua ini kami perjuangkan untuk mempersiapkan Rapat Kerja (Raker) YLSA yang akan diadakan pada 12 -- 13 Desember 2017. Setelah berdoa dan berjibaku dengan berkas-berkas laporan dan rencana tahun depan, hari H yang ditunggu pun akhirnya tiba.

Hari I: 12 Desember 2017: Laporan 2017

Raker hari pertama dibuka dengan sarapan bubur ayam bersama yang disediakan oleh sie konsumsi. Setelah itu, kami mendengarkan renungan yang disampaikan oleh Pak Jeffrey dari Kejadian 2:1-2. Dari renungan ini, saya belajar bahwa Allah kita adalah Allah yang bekerja, bahkan ketika Dia selesai menciptakan dunia dan segala isinya, termasuk manusia, Dia beristirahat tetapi tidak berarti berhenti bekerja. Allah tetap bekerja untuk menopang dunia yang diciptakan-Nya. Tanpa topangan-Nya, maka dunia ini akan hancur semua. Demikian juga kami, staf SABDA, bisa terus melakukan tugas pelayanan kami karena Allah yang selalu menopang. Jika Allah adalah Allah yang bekerja, apalagi kita umat pilihan-Nya.

Acara utama raker hari pertama adalah laporan dari para koordinator, yang mewakili tim-tim pelayanan, untuk melaporkan hasil kerja selama 2017. Selama memberi laporan, setiap staf tidak hanya mendengarkan, tetapi mereka juga diharapkan memberi pertanyaan atau masukan. Saya senang melihat semua staf ikut berpartisipasi sehingga kita semua bisa melihat hasil pelayanan dari berbagai sudut pandang.

Ketika setiap tim menyampaikan laporannya, saya semakin jelas melihat bagaimana topangan tangan Tuhan yang luar biasa sehingga memungkinkan hasil pelayanan yang maksimal. Melalui pemimpin, staf, volunter, mitra, sahabat, teman, dan pengguna produk SABDA, Tuhan bekerja untuk mewujudkan visi-Nya melalui SABDA, yaitu teknologi bagi pembangunan Kerajaan Allah. Beberapa hal yang berbeda dari raker-raker sebelumnya adalah beberapa tim menyertakan kesaksian-kesaksian dari para mitra maupun para pengguna produk-produk SABDA sehingga kami bisa merasakan manfaat dari apa yang kami kerjakan. Sungguh menjadi sukacita yang besar melihat semua jerih lelah kami yang tidak sia-sia. Banyak orang lebih mengenal Tuhan dan firman-Nya melalui berbagai bidang pelayanan yang YLSA kerjakan. Puji Tuhan, hari pertama raker berjalan dengan baik.

Namun, kami tidak bisa menyangkal, di antara pencapaian-pencapaian ada juga hasil yang kurang memuaskan, bahkan ada beberapa yang gagal dikerjakan. Salah satu contohnya adalah pengerjaan Alkitab Yang Terbuka (AYT). Penyelesaian teks AYT masih jauh dari target yang diharapkan. Semoga dari laporan ini, kita dipacu untuk segera menyelesaikan teks AYT karena sudah ada beberapa mitra yang mengantre untuk memakainya. Beberapa kegagalan lain disebabkan karena kurangnya sumber daya manusia. Hal ini menjadi catatan utama HRD. Kami harus terus berdoa agar Tuhan mengirim lebih banyak pekerja sehingga semakin banyak pekerjaan pelayanan yang bisa dikerjakan.

Hari II: 13 Desember 2017: Rencana Pelayanan 2018

Setelah menikmati sarapan dengan menu nasi bakmoy, kami mengawali raker hari kedua dengan mendengarkan renungan. Renungan pagi itu mengingatkan kita tentang waktu istirahat "hari ketujuh", yang disebut "sabat". Bagaimana mengaplikasikan sabat dalam pelayanan YLSA? Harus ada waktu-waktu di mana kita berhenti sejenak dari rutinitas kita untuk menikmati, terutama Tuhan dan firman-Nya. Secara khusus, hasil dari laporan AYT, bahkan pembicaraan beberapa minggu sebelum hari raker, sangat menggugah kita untuk mengaplikasikan "sabat" di SABDA dengan berhenti beberapa waktu dari tugas-tugas rutinitas untuk fokus mengerjakan AYT. Ini keputusan yang sangat drastis yang akan memberi dampak luas bagi pelayanan SABDA. Karena itu, kami harus mengambil keputusan bersama apakah semua staf bisa memberikan 5 jam sehari untuk terlibat "sesuai dengan kapasitas masing-masing", menyelesaikan teks AYT dan seputarnya. Puji Tuhan, di akhir renungan ini, secara bersama-sama kami bisa mengambil komitmen dengan satu semangat untuk menyelesaikan proses editing teks AYT, khususnya Perjanjian Lama. Perencanaan teknis masih harus dipikirkan baik-baik karena ada banyak tugas pekerjaan rutin yang tidak bisa ditinggalkan, misalnya semua komunitas media sosial. Namun, pekerjaan-pekerjaan lain harus disusun ulang berdasarkan prioritas baru ini.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, keputusan "sabat SABDA" berdampak besar bagi rencana pelayanan 2018. Puji Tuhan, satu per satu tim pelayanan, ketika mempresentasikan rencana pelayanan 2018, juga mulai memikirkan tugas-tugas apa yang harus dan bisa dipotong, diefisienkan dan digabungkan sehingga semua rencana ke depan bisa berjalan dengan baik dan penyelesaian pekerjaan AYT juga bisa dikerjakan. Karena itu, pada kuartal I dan II 2018, semua staf akan memberikan 60% waktu kerja untuk pengerjaan AYT. Selain itu, ada prioritas kedua yang juga harus kami perhitungkan, yaitu kelanjutan proyek "Pusat Konseling Digital Indonesia" yang menjadi bagian dari presentasi khusus raker hari kedua, sebagai lanjutan dari proyek aplikasi Android "He cares/Konseling" yang baru saja diluncurkan November 2017. Sesuai dengan dua prioritas ini, maka setelah raker selesai masing-masing tim pelayanan akan memikirkan lebih lanjut strategi teknis pelaksanaan rencana 2018. Berhubung dengan padatnya diskusi rencana 2018, raker tidak dapat ditutup pada hari kedua ini. Penutupan raker dilaksanakan pada keesokan harinya, sekaligus "debriefing" untuk mengevaluasi acara raker itu sendiri.

Hari III: 14 Desember 2017: Penutupan Raker

Acara penutupan raker dimulai dengan "debriefing" untuk masing-masing staf memberikan evaluasi dan hasil belajar selama mengikuti raker. Selain itu, kami juga menyampaikan mimpi-mimpi kami untuk 2018. Seluruh staf berpendapat bahwa acara berjalan dengan lancar dan tidak ada "ketegangan tingkat tinggi". Semua menikmati jalannya raker karena setiap pemaparan laporan maupun rencana dibicarakan dengan kesatuan hati demi kemajuan pelayanan. Beberapa staf juga belajar mengenai fleksibilitas untuk menyesuaikan rencana kerja dengan prioritas pelayanan yang dinyatakan Tuhan.

Puncak penutupan acara raker adalah renungan yang disampaikan oleh Ibu Yulia, Ketua YLSA, dengan tema God's Plan. Dasar dari renungan diambil dari Yesaya 1:1-11 yang merupakan janji Allah yang diterima oleh pemimpin YLSA ketika Allah pertama kali menyatakan visi-Nya kepada beliau untuk membuka ladang pelayanan digital di Indonesia. Saat ini, "dunia internet": alamat domain, software, apps, dan produk-produk digital adalah ladang yang Tuhan percayakan kepada YLSA. Dalam menjalankan rencana Allah itu, jalannya tidak selalu mulus. Banyak tantangan, hambatan, dan rintangan, tetapi Tuhan memberikan janji bahwa Dia akan menyertai asal kami taat. Renungan ini memberikan kekuatan kepada kami untuk setia melayani Dia di "tanah internet, tanah digital" yang saat ini kami "injak". Terpujilah Tuhan! Setelah itu, kami semua berdoa bersama untuk bersyukur kepada Tuhan dan menyatakan permohonan kami agar Tuhan selalu menolong dan menopang kami.

Raker sudah selesai. Selanjutnya adalah membuat strategi melakukan "sabat" dengan memberikan prioritas pada penyelesaian AYT dan prioritas-prioritas berikutnya. Harapan saya, seluruh staf, volunter, mitra, donatur, sahabat, dan pendukung YLSA semakin giat mengerjakan bagian tugas yang Tuhan berikan kepada kita. Mari kita bersatu hati untuk mempersembahkan IT FOR GOD! Segala kemuliaan bagi Tuhan!

Categories: PEPAK

Perayaan “Thanksgiving” di SABDA — Bersyukurlah

Blog SABDA - Wed, 12/06/2017 - 11:38

Oleh: *Irene

Bersyukurlah Senantiasa!

"Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia." (Mazmur 107:21, TB)

Perayaan "Thanskgiving" mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ada banyak orang yang merayakannya, baik di sekolah, di kantor, maupun di keluarga besar mereka. Namun, bagi saya, ini merupakan kali pertama ikut ambil bagian dalam perayaan tersebut di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Perayaan ini dilakukan pada Kamis ketiga bulan November. Saya bertanya dalam hati kala itu, mengapa YLSA merayakannya? Apakah hanya ikut-ikutan orang Barat? Atau, hanya ingin berkumpul bersama? Sebab, saya berpikir hari Thanksgiving adalah perayaan hasil panen raya dan merupakan budaya Amerika serta Kanada.

Semua pertanyaan saya terjawab ketika salah satu staf YLSA meminta saya untuk mencari informasi tentang sejarah hari raya Thanksgiving. Pemikiran saya selama ini ternyata salah besar, faktanya, perayaan Thanksgiving merupakan hari ucapan syukur yang dilakukan oleh Koloni Plymouth atas pemeliharaan Tuhan ketika mereka pergi dari Inggris untuk mencari kebebasan religi. Mereka mengalami banyak rintangan sebelum akhirnya bisa menetap dengan selamat di daerah baru tersebut, dan mereka mengadakan perayaan besar saat mendapatkan hasil panen mereka yang pertama.

Itulah sebabnya, YLSA ikut merayakan hari istimewa ini sebagai momentum untuk semua staf agar selalu ingat akan pemeliharaan Tuhan yang sungguh luar biasa dalam kehidupan kami. Ucapan syukur YLSA sering kali dilakukan dengan cara membersihkan ruangan-ruangan kantor kami, makan bersama, dan beribadah bersama. Renungan yang dibagikan dalam persekutuan diambil dari Santapan Harian dengan judul "Karena Bersyukur, maka Berbahagia" yang terambil dari Kitab Mazmur 107:10-22 sebagai bacaan pengantar. Terkadang, kita sebagai orang percaya baru bisa bersyukur karena kita bahagia. Akan tetapi, pada saat menghadapi banyak rintangan, kita dengan mudahnya marah-marah kepada Tuhan. Bukankah seharusnya rasa bahagia itu timbul dari hati kita saat kita mau belajar bersyukur? Tentunya ketika kita memiliki relasi yang baik dengan Tuhan dan selalu bergaul dengan firman-Nya. Saya pikir kita semua harus belajar untuk bisa berdamai dengan segala situasi dan kondisi di sekitar kita. Akan tetapi, permasalahan utama yang membuat kita sulit bersyukur adalah karena kita masih sulit untuk berkomitmen dalam pengenalan akan Kristus Yesus sehingga kita masih mengejar kepuasan duniawi, merasa khawatir akan hidup ini. Marilah kita belajar untuk bisa lebih lagi mengenal siapa Pemilik hidup ini agar kita tahu bahwa Tuhan sudah menjamin hidup kita sepenuhnya.

Dalam kesempatan ini, saya merasa sangat bersyukur kepada Tuhan. Setelah memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dan komunitas saya di Surabaya untuk kembali ke kota kelahiran saya di Solo, saya bergumul untuk bisa mendapatkan komunitas Kristen yang bisa membantu saya bertumbuh dalam Tuhan Yesus. Ternyata, Tuhan mendengar doa saya. Dua bulan setelah kepulangan saya ke Solo, saya bisa bekerja di YLSA dan mendapatkan komunitas. Ya, Tuhan itu baik, teramat baik dalam kehidupan saya. Jadi, masihkah saya dan Anda punya alasan untuk tidak mengucap syukur kepada-Nya? "Mengucap syukurlah dalam segala hal. Sebab, itulah kehendak Allah bagimu di dalam Kristus Yesus." (1 Tesalonika 5:18, AYT)

Categories: PEPAK

Sukacita Menjadi Mentor Magang

Blog SABDA - Sat, 12/02/2017 - 14:23

Oleh: Santi

Ada rasa "deg-deg'an" ketika saya ditunjuk oleh Ibu Yulia untuk menjadi salah satu mentor bagi sekelompok staf magang dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Seumur-umur, saya belum pernah menjadi mentor staf magang, dan inilah yang membuat saya ragu -- bisa tidak ya, bisa tidak ya. Boleh dibilang, kali ini saya menjalani "magang sebagai mentor" bersama Okti dan Evi yang sudah beberapa kali menjadi mentor.

Selama dua bulan (September - awal November), teman-teman magang yang terdiri dari Manda, Lidya, Rian, Jessica, dan Dita bersama-sama berjuang mengerjakan berbagai jenis tugas yang sudah kami sediakan bagi mereka. Saya menjadi mentor untuk Dita dan Manda, sedangkan Evi menjadi mentor untuk Rian, dan Okti menjadi mentor untuk Lidya dan Jessica. Selama menjadi mentor, saya belajar banyak hal, antara lain: mengambil keputusan, menolong staf magang ketika ada kesulitan, menyemangati/memotivasi, mendoakan, hingga belajar melihat pertumbuhan mereka dari berbagai sisi. "Menantang" dan "menyenangkan" itulah kesan saya. Saya bersyukur sekaligus bersukacita ketika melihat staf magang mau bertekun saat menemui kesulitan atau mau bertahan saat menghadapi masalah hingga akhirnya dapat menang dalam proses ini. Saya senang ketika melihat mereka mulai mendapatkan makna penting di balik kegiatan Pendalaman Alkitab, kliping, membaca, mencari bahan, mengomentari topik diskusi, dll. Saya merasakan ada sukacita ketika melihat staf magang tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi bisa melihat makna penting dari setiap tugas yang mereka kerjakan. Ini salah satu bukti bahwa Tuhan bekerja dalam diri mereka melalui proses magang ini.

Saya pikir, YLSA sangat siap dalam menyambut magang. Terbukti dengan proses magang yang bisa dibilang rapi, baik dalam persiapan pekerjaan maupun sistem kerja dan evaluasi. Sebagai mentor, saya sangat terbantu dengan adanya persiapan ini. Good job SABDA! Oh ya, satu lagi, sikap staf magang dalam merespons setiap tugas dan informasi sangat baik dan antusias sehingga hal ini menjadi semangat juga bagi mentor untuk mendampingi mereka. Good job untuk staf magang! Akhir kata, Tuhan baik! Ia selalu memberi kesempatan kepada anak-anak-Nya untuk bertumbuh melalui banyak cara. Saya berharap dan berdoa kiranya teman-teman magang dari UKSW terus mengasihi Tuhan dan senantiasa bersukacita ketika Ia memercayakan kepada mereka segala sesuatu untuk dikerjakan bagi Kerajaan-Nya. Praise the Lord!

Categories: PEPAK

Roadshow SABDA dalam Temu Raya Pelayan Anak Nasional GKII

Blog SABDA - Wed, 11/29/2017 - 12:29

Oleh: Tika

Pada tanggal 21 September 2017, tim SABDA (Bu Yulia, Evie, Joy, dan saya) mendapat kesempatan untuk menjadi presentator di acara Temu Raya Pelayan Anak Nasional Gereja Kristen Kemah Injil (GKII) yang bertempat di Wisma Taman Eden, Kaliurang, Yogyakarta. Pukul 10.00 WIB, kami tiba di Stasiun Maguwo. Saat itu, salah satu hal yang mengesankan bagi saya, karena tidak seperti biasanya, kami dijemput dengan menggunakan bus pariwisata yang besar. Ternyata hal itu terjadi karena pagi itu panitia menggunakan bus yang sama untuk mengantar peserta tamu ke bandara untuk kembali ke Jakarta.

Karena waktu yang sempit, sesampainya di sana, kami bergegas memasang booth SABDA untuk memajang produk-produk pelayanan YLSA bagi para peserta yang menginginkannya. Jumlah peserta yang hadir lebih dari 300 orang. Peserta terbanyak adalah dari GKII Papua serta Kalimantan. Namun, ada juga peserta yang datang dari GKII Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Kami didaulat untuk membawakan dua presentasi. Sesi presentasi pertama dimulai oleh Bu Yulia yang membahas tentang "Anak di Mata Allah", lalu dilanjutkan oleh Joy tentang "Karakteristik Anak", dan diakhiri dengan sesi tanya jawab. Presentasi kedua dilakukan pada keesokan harinya pukul 08.00 WIB untuk membawakan tentang #Ayo_PA!. Presentasi diawali oleh Bu Yulia untuk memperkenalkan tentang "digital ministry" pelayanan YLSA, lalu disambung oleh Evie yang menjelaskan tentang pemakaian DVD Library SABDA Anak di Sekolah Minggu. Setelah itu, saya melanjutkan dengan presentasi tentang bagaimana menggunakan lima aplikasi Android SABDA yang terintegrasi untuk melakukan #Ayo_PA! bagi guru-guru sekolah minggu. Ini pengalaman pertama bagi saya untuk menyampaikan pelatihan #Ayo_PA! kepada lebih dari 300 orang. Ternyata itu bukan hal yang mudah. Namun, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena peserta cukup aktif. Teman-teman SABDA juga menolong peserta untuk bisa mengikuti setiap langkah yang diajarkan. Tuhan sungguh baik.

Pada roadshow tersebut, tim SABDA juga bertemu beberapa mitra SABDA, salah satunya adalah Bapak Be Ba Li Gea. Beliau adalah seorang pelayan anak yang juga pelanggan beberapa publikasi YLSA, serta peserta yang dalam komunitas diskusi YLSA di Facebook. Selain itu, melalui booth yang dibuka, tim SABDA dapat bertemu dengan orang-orang baru yang mau berbagi pengalaman tentang kebaikan Tuhan dalam melayani anak-anak.

Setelah presentasi kedua selesai, kami bersiap-siap pulang kembali ke Solo. Bersyukur untuk pengalaman pelayanan dengan guru-guru sekolah minggu dari GKII. Saya secara pribadi dibukakan kembali tentang kebesaran Tuhan dalam karya-Nya, yang mengajarkan saya untuk tetap taat melakukan bagian saya dan percaya bahwa Tuhan akan menyatakan pertolongan-Nya, selama kita melakukannya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

Menjadi Mentor bagi Para Magang

Blog SABDA - Mon, 11/27/2017 - 14:20

Oleh: Okti

Saya tidak ingat kapan tepatnya, yang jelas sekitar akhir Agustus ketika Bu Yulia mengatakan bahwa saya, Evie, dan Santi, akan menjadi mentor bagi mahasiswa UKSW yang akan magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). "Tugas kalian adalah membantu mahasiswa magang terkait dengan tugas-tugas atau kesulitan yang mereka hadapi," begitu kira-kira kata Bu Yulia saat menjelaskan apa peran kami sebagai mentor. Hmm, tugas yang cukup menarik dan lumayan menantang sepertinya. Saya mengangguk meski belum punya bayangan apa pun yang terkait dengan tugas mentor ini.

Awal September, mahasiswa magang pun datang. Mereka terdiri dari lima orang -- dua orang dari Jurusan Penerjemahan, Manda dan Dita, dan tiga orang dari Jurusan Penulisan Kreatif, Jessica, Lidya, dan Rian. Saya ditunjuk menjadi mentor dari Jessica dan Lidya, Santi menjadi mentor Manda dan Dita, sedangkan Evie menjadi mentor dari Rian. Pada hari pertama di YLSA, kelimanya langsung mendapat briefing dan orientasi tentang YLSA, tugas, aturan, serta hal-hal yang terkait dengan keberadaan mereka selama magang di YLSA. Mereka juga diberi kesempatan untuk menceritakan tentang talenta atau passion yang mereka miliki, sebagai modal bagi kami untuk mengetahui tugas-tugas apa yang bisa diberikan dan dikembangkan atau digunakan dalam pelayanan selama mereka berada di YLSA. Profiling kemampuan, istilah kerennya. Setelah proses awal itu dilakukan, hari-hari bersama mahasiswa magang pun dimulai di kantor Griya SABDA.

Menerjemahkan, menulis, mencari bahan, rekaman audio dan video, membuat script, orientasi dan training, bergabung dalam komunitas YLSA, PA, presentasi kelompok, stand up meeting, mentoring, evaluasi, adalah tugas-tugas yang kemudian mewarnai hari-hari "magangs" -- begitu kami menyebut mereka -- selama dua bulan. Lalu, dalam proses mentoring yang diadakan seminggu sekali bersama mentor masing-masing, mereka diberi kesempatan mengemukakan kesulitan atau hambatan yang ditemui selama menjalankan tugas-tugas mereka. Sebagai mentor, kami siap sedia membantu dan memberi pengarahan agar mereka dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan baik, bukan hanya dari segi teknis dan pengetahuan teori serta praktik, melainkan juga dalam memberi semangat dan nasihat.

Satu atau dua kali, tentu ada teguran yang diberikan saat proses stand up setiap pagi atau saat mentoring dan evaluasi. Berisik saat jam kerja, kurang tepat dalam mengerjakan tugas, tidak mengikuti arahan, atau belum mengumpulkan tugas menjadi alasan teguran diberikan. Selebihnya, kami lebih banyak memberikan masukan atau saran kepada mereka semua. Tidak sulit bekerja sama dengan mereka. Menyenangkan ternyata, karena semua bersikap kooperatif dan positif dalam menerima tugas, masukan, arahan, bahkan teguran yang diberikan. Hasil pekerjaan mereka pun semakin baik seiring dengan berjalannya waktu, dan keluhan yang pada awalnya sering diutarakan, lama-lama kian jarang didengar oleh para mentor.

Hubungan anak-anak magang dengan semua staf YLSA juga terjalin dengan baik. Rasanya, hari-hari di Griya SABDA yang biasanya tenang jadi ramai dan heboh karena mereka. Tidak selalu karena suara mereka saja sih. Suara dua kipas angin yang selalu menyala sejak mereka datang rupanya juga punya kontribusi yang besar dalam menyumbang keramaian di kantor selama hari-hari yang panas itu. Lalu, celetukan-celetukan seperti, "Kak Ody terbaik," "Sore, Kak," (padahal masih siang), "Sip, Kak,", "Stand up, stand up ...", "Internetnya lemot, Kak," adalah kalimat-kalimat yang akrab di telinga kami dalam dua bulan tersebut.

Menjalani hari-hari di YLSA tentu merupakan pengalaman berharga yang bisa didapatkan oleh semua mahasiswa magang. Selain belajar secara nyata, tentang bagaimana menghadapi dunia kerja dan pelayanan, mahasiswa magang juga mendapat banyak pembelajaran serta proses pembentukan di YLSA. Bertumbuh secara rohani dan mental serta bertambah terampil dan berwawasan adalah satu sisi. Di atas semua itu, mengambil bagian dalam pelayanan Tuhan dan menjadi berkat adalah privilege yang mungkin tidak akan didapatkan di tempat magang lain. Bagi saya sendiri, bisa dipanggil "Kak Okti" dan menjadi Kakak buat mereka selama dua bulan belakangan ini adalah pengalaman yang menyenangkan dan penuh dengan senyum. Dengan perkataan lain, lebih banyak suka daripada dukanya.

So, good job, magangs! Keep your spirit in God, and have a blessed future ahead. We'll miss your noisy voice.

Categories: PEPAK

Pelayanan SABDA di Universitas Pelita Harapan, Surabaya

Blog SABDA - Fri, 11/24/2017 - 16:36

Oleh: *Levina

Puji syukur kepada Tuhan, pada 7 November 2017, saya mendapat kesempatan untuk ikut membantu Ibu Yulia dalam pelayanan SABDA di Universitas Pelita Harapan (UPH), Surabaya. Ada dua pelayanan yang dilakukan oleh Ibu Yulia pada hari itu. Pertama, menjadi pembicara untuk persekutuan pagi bagi para staf/dosen di UPH dan yang kedua adalah menyampaikan seminar kepada para mahasiswa yang bertema “Digital Word for Digital World”.

Kami datang lebih awal. Suasana kampus yang terletak di dalam mall City of Tomorrow ini masih sangat sepi. Kami memanfaatkan waktu untuk menyusun booth SABDA di lorong kecil di depan ruangan chapel, tempat acara berlangsung. Seperti biasa, booth ini dipakai untuk memajang produk-produk SABDA, seperti Alkitab audio dan berbagai alat digital yang berisi bahan-bahan untuk pelayanan. Tugas saya pada hari itu adalah menyambut mereka yang mampir melihat booth tersebut setelah ibadah dan seminar berlangsung.

Dalam persekutuan pagi staf/dosen UPH, Ibu Yulia menyinggung tema yang masih hangat-hangatnya dibahas banyak gereja saat itu, yaitu Reformasi. Beliau menyampaikan keprihatinan bahwa banyak orang Kristen di gereja pada masa kini yang kebanyakan merayakan hari Reformasi hanya sebagai event, tanpa sungguh-sungguh memperjuangkan makna Reformasi itu sendiri. Reformasi bukan terjadi pada masa lalu dan selesai begitu saja. Reformasi harus terus-menerus dijalankan oleh setiap pribadi (semper reformanda/always reforming).

Selain mengingatkan kembali makna dari kelima SOLA dalam reformasi, Ibu Yulia juga mengajak untuk merefleksikan hal tersebut dalam kehidupan orang percaya pada zaman modern ini. Dengan kemudahan yang luar biasa dalam mengakses Alkitab, banyak orang percaya yang malah malas dan tidak menghargainya. Sementara dulu, pada zaman Martin Luther, Alkitab tidak bisa diakses oleh banyak masyarakat biasa dan rakyat kecil sehingga banyak orang dengan mudah ditipu oleh ajaran yang tidak benar. Refleksi tersebut juga kembali disampaikan pada seminar yang diadakan bagi para mahasiswa. Di tengah kehidupan modern dan perkembangan teknologi, mereka diingatkan untuk menggunakan teknologi dan kemudahan yang ada untuk menggali firman Tuhan lebih dalam.

Ini bukan pertama kalinya saya menjaga booth SABDA. Namun, pengalaman saya menjaga booth kali ini sebenarnya bercampur antara senang dan juga prihatin. Saya senang melihat banyak staf dari UPH yang antusias untuk mendapatkan bahan pelayanan lewat produk-produk SABDA, tetapi saya sedih melihat kebanyakan mahasiswa, para masyarakat digital yang hadir, sepertinya kurang tertarik untuk mengunjungi booth. Bahkan, selama acara berlangsung, banyak yang keluar masuk, atau bahkan duduk di luar ruangan.

Lepas dari itu, saya tetap bersyukur bisa ikut serta dalam pelayanan SABDA kali ini. Biarpun mungkin tugas saya sangat kecil, saya bersyukur lewat pelayanan ini saya sendiri juga sebenarnya ditegur karena di tengah kesibukan dalam pekerjaan setiap hari. Saya sering kali malas, terlalu lelah, atau bahkan lupa untuk membaca dan menggali Alkitab. Saya berharap apa yang disampaikan oleh Ibu Yulia dalam pelayanan SABDA kali ini juga boleh tinggal di hati setiap peserta, terutama para mahasiswa yang hadir sehingga hal ini boleh mengingatkan mereka, yaitu pentingnya Alkitab sebagai otoritas utama dalam iman dan kehidupan mereka. Soli deo gloria!

Categories: PEPAK

Pengalaman Magang Dua Bulan

Blog SABDA - Mon, 11/20/2017 - 15:46

Oleh: *Lidya

Halo teman-teman semua. Perkenalkan nama saya Lidya Putnarubun, saya adalah mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Puji syukur, dengan penyertaan Tuhan pada semester ke-7 ini, saya mendapat kesempatan untuk magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) selama dua bulan. Saya magang tidak sendiri karena ada beberapa kawan magang lain, yaitu Dita, Jean, Ryan, dan Jessica. Walaupun belum saling mengenal dekat, tidak butuh waktu lama untuk kami saling akrab. Selain karena berasal dari program studi yang sama dan angkatan yang sama, kami juga dari kelas yang sama meskipun kami memilih konsentrasi yang berbeda.

Selama dua bulan menghabiskan waktu di YLSA, ada banyak suka maupun duka yang saya pribadi alami. Pada umumnya, banyak orang beranggapan bahwa mahasiswa/i magang biasanya hanya akan menjadi pesuruh, seperti membuatkan kopi, fotokopi, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Namun, berbeda dengan apa yang saya alami di YLSA. Di YLSA, saya didorong untuk mengembangkan semua kemampuan yang ada, mengombinasikan setiap ilmu yang didapat selama di kampus dan di YLSA ini, dan kesempatan menjadi pribadi yang aktif berorganisasi. Saya merasa begitu dirangkul di tempat ini sehingga merasa begitu sedih ketika harus berpisah dengan teman-teman di YLSA.

Sungguh sangat berharga mendapatkan tempat magang seperti di YLSA. Semua pengalaman dan kemampuan yang didapat selama magang ini akan saya terapkan saat nanti terjun dalam dunia pekerjaan. YLSA telah menjadi tempat yang sangat membantu saya untuk berkembang. Di kampus, saya belajar teknik penulisan cerita fiksi yang mengutamakan sisi-sisi kehidupan dan lain sebagainya. Di YLSA, saya dilatih untuk menciptakan sebuah karya fiksi yang alkitabiah. Karya fiksi yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan dan Alkitab. Bahkan, ketika menulis naskah drama, puisi, dan karya sastra lainnya, tulisan yang mengutamakan nilai-nilai Alkitab sangat diperhatikan di tempat ini. Ketika saya dan kawan-kawan menulis, kami tidak dibiarkan asal menulis, kami diorientasi, dilatih, dan dibina agar mampu bekerja dengan sebaik mungkin oleh para mentor.

Tugas yang paling menarik bagi saya selama dua bulan ini adalah menulis renungan. Selama di kampus, saya hanya menulis isu-isu seputar kehidupan sesuai teori-teori sastra, tetapi di YLSA sedikit berbeda, yaitu dengan mengutamakan nilai-nilai atau unsur-unsur kekristenan. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, saya harus melewati tiga kali revisi dan beberapa kali tinjauan dari para mentor. Hasilnya, penulisan renungan saya menjadi tulisan yang menarik dan memberkati orang lain agar mengenal kasih Kristus.

YLSA tidak semata-mata berfokus pada kinerja staf saja. Selama menjalani dua bulan magang di sini, saya mendapat pertumbuhan rohani karena adanya persekutuan staf setiap Senin dan Jumat, lalu pendalaman Alkitab setiap Selasa, Rabu, dan Kamis. Saya juga belajar tentang kedisiplinan dalam mengerjakan tugas dan memenuhi tenggat waktu (deadline). Tidak hanya itu, kedisiplinan dalam hidup sehari-hari juga harus saya perhatikan. Di tempat ini, saya belajar membangun relasi yang berkeluargaan. Saya mampu melihat sudut pandang yang berbeda dari setiap orang, dan melatih diri saya untuk secara cepat beradaptasi dengan orang-orang baru. Selain itu, saya juga bisa ikut roadshow untum gerakan #Ayo_PA! di salah satu acara retret universitas di Solo.

YLSA memberi dan membuka kesempatan bagi saya dan teman-teman untuk mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah kami temui, dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Dua bulan, meskipun singkat, sesungguhnya menjadi pengalaman yang sangat bermakna dan bernilai bagi saya dan teman-teman. Banyak yang terjadi selama dua bulan. Kesempatan yang sangat berharga untuk mempersipkan kami menapaki hari esok yang penuh dengan kejutan dan harapan. Terima kasih YLSA.

Categories: PEPAK

Pengalaman Mengikuti KKR Reformasi 500: Dibenarkan Hanya oleh Iman

Blog SABDA - Thu, 11/09/2017 - 14:37

Oleh: *Jessica

Kesempatan untuk datang menghadiri Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dengan tema "Dibenarkan Hanya oleh Iman", yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, di Hotel Best Western Premiere, Solo Baru, merupakan pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Kurang lebih 3000 orang hadir pada kebaktian ini. Sore itu, bersama dengan staf SABDA lainnya, saya datang lebih awal untuk mengikuti beberapa arahan terlebih dahulu karena saya akan membantu menjadi salah satu kolektan. Saya bersyukur, bisa ikut melayani dan mendengarkan khotbah dari awal hingga akhir.

Kebaktian dimulai pada pukul. 18.30 WIB. Gedung yang dipakai untuk kebaktian ini cukup besar sehingga tidak semua kursi terisi. Namun, kursi bagian depan terlihat padat, hanya satu dua kursi yang kosong. Dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kakek-nenek, datang untuk mendengar khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong pada malam itu. Sebelum khotbah, kami diantar untuk menyanyikan beberapa lagu. Satu atau dua lagu diantaranya adalah lagu ciptaan Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri.

Selama kurang lebih 2 jam, Pdt. Dr. Stephen Tong berbicara mengenai iman dan semangat reformasi. John Calvin dan Martin Luther adalah dua tokoh penting yang banyak disebut dalam acara memperingati 500 tahun reformasi ini. Saya sangat terkesan dengan semangat Martin Luther yang diceritakan secara singkat oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Martin Luther berjuang sendiri melawan dunia, melawan apa yang dunia katakan "benar". Namun, Martin Luther memiliki Tuhan yang besar dan penuh kuasa. Ketika dunia menghukumnya, Tuhan mengirim orang-orang baik yang mau membantu Marthin Luther tetap hidup. Pertolongan Tuhan nyata pada setiap umat-Nya yang percaya. Kemudian, yang sangat menarik bagi saya adalah ketika beliau memberi penjelasan mengenai iman dan anugerah dengan memakai ilustrasi air yang mengalir melalui pipa. Pdt. Dr. Stephen Tong menggambarkan air sebagai sebuah anugerah dan pipa adalah iman. Ketika manusia menerima anugerah, artinya ia juga memerlukan iman agar anugerah itu dapat tercurah. Inti yang saya dapatkan dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong yang cukup panjang malam itu adalah kita sebagai orang Kristen perlu membakar terus semangat reformasi pada abad ke-21 ini agar perjuangan John Calvin dan Martin Luther tidak sia-sia.

Kebaktian pada malam itu ditutup dengan kolekte dan doa penutup. Kursi-kursi sebelah kiri gedung tidak terlalu dipenuhi oleh jemaat sehingga kantong-kantong persembahan yang saya bawa tidak banyak terisi. Meskipun begitu, pengalaman ini sangat memberikan kesan bagi saya. Banyak ilmu dan hal baru yang saya pelajari dari sana. Kiranya KKR ini boleh memberkati banyak orang dan menolong orang untuk menemukan kebenaran yang sejati. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Pelayanan SABDA di Tanjung Pinang dan Batam 2017

Blog SABDA - Fri, 11/03/2017 - 11:20

Oleh: *Jeffrey Lim

Puji syukur kepada Tuhan Yesus! Pada 11 -- 15 Oktober 2017, tim SABDA yang terdiri dari Ibu Yulia, Jesica, dan saya mendapat kesempatan untuk melakukan roadshow SABDA di Tanjung Pinang dan Batam. Karena saya memang berdomisili di Tanjung Pinang, saya bertugas untuk menjemput Ibu Yulia dan Jesica di Bandara Tanjung Pinang pada 11 Oktober 2017, sore hari. Dari bandara, kami langsung menuju ke Gereja Kristus Yesus cabang Tanjung Pinang.

Di GKY Tanjung Pinang, Ibu Yulia menyampaikan pentingnya firman Tuhan dan kuasa firman Tuhan yang dapat mengubah hidup manusia. Dari pesan ini, dilanjutkan bahwa Tuhan memakai teknologi terbaik pada tiap zaman untuk menyampaikan Firman Tuhan. Lalu, pada akhirnya, ada refleksi seberapa banyak kita sering belajar firman Tuhan setiap hari. Ibu Yulia menjelaskan bahwa tanpa membaca dan belajar firman Tuhan setiap hari, rohani kita akan menjadi lesu. Saya sendiri sebagai jemaat GKY Tanjung Pinang merasa bahwa pesan ini penting untuk konteks pergumulan jemaat yang ada. Kita tidak bisa mengandalkan khotbah pada hari Minggu saja. Kita perlu menggumuli firman Tuhan secara pribadi dan bersama-sama.

Keesokan harinya, Kamis, 12 Oktober 2017, Pinang. kami melayani di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Tabgha cabang Tanjung Satu hal yang mengesankan dari gereja ini adalah kehangatan persekutuannya, baik Pdt. Heryanto selaku Gembala Jemaat maupun anggota jemaatnya. Pada kesempatan ini, Ibu Yulia memberikan pelatihan "PA dengan Menggunakan Gadget". Sebelum memulai acara, setiap peserta wajib menginstal lima aplikasi untuk belajar Alkitab, yaitu Alkitab SABDA/Yuku, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus Alkitab, dan Peta Alkitab. Kemudian, Ibu Yulia mengajarkan bagaimana menggunakan semua apps tersebut untuk belajar Alkitab. Jemaat memberikan respons yang positif terhadap pelatihan tersebut. Pdt. Heryanto juga bersyukur, bahkan tidak takut kalau jemaatnya bisa belajar banyak Alkitab sehingga mempunyai pengertian yang dalam akan firman. Ini adalah satu sikap yang baik dari seorang hamba Tuhan. Pada malam itu, saya dan Jesica berada di belakang menjaga booth SABDA. Kami bersyukur untuk setiap bahan yang boleh kami bagikan. Semoga bisa dibaca/didengar dan mendatangkan berkat bagi mereka.

Selanjutnya, pada Jumat, 13 Oktober 2017, kami melayani di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Tanjung Pinang yang terletak di sekolah Fawridge Christian Academy (FCA). Mayoritas yang datang selain jemaat adalah orangtua murid dan guru-guru sekolah FCA. Sehari sebelum acara ini dimulai, seluruh orangtua murid sekolah FCA sudah diberi surat undangan seminar dari SABDA dengan judul "Shepherding in Digital Age: Preparing Parents and Children in Facing Digital Age". Mr. Fentje Palit, sebagai wakil gembala, senang menyambut pelayanan SABDA. Pada siang harinya, kami saling berkenalan dan menceritakan pelayanan masing-masing sambil dijamu makan siang yang sangat lezat di pinggir laut. Pada sore harinya, pukul 18.30, acara seminar dimulai dan Ibu Yulia menyampaikan materi selama kurang lebih 50 menit. Melalui materi yang padat ini, Ibu Yulia hendak menekankan pentingnya DQ (Digital Quotient) pada zaman ini. Sebagai penutup seminar, Ibu Yulia menjelaskan bahwa sebagai orang Kristen, yang lebih penting dari DQ sebenarnya adalah Biblical Quotient. Ketika seminar berakhir, terlihat hampir seluruh peserta sangat antusias, terutama ketika mengunjungi booth SABDA. Bahan-bahan SABDA banyak dilihat, diambil, bahkan dipesan. Antusiasme juga terlihat ketika mereka memberikan persembahan kasih sebagai bentuk dukungan bagi pelayanan SABDA. Mr. Fentje Palit mendekati Ibu Yulia dan menanyakan apakah bisa ada kelanjutan dari acara ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terberkati dengan pelayanan SABDA.

Akhirnya, sampai pada pelayanan di kota berikutnya, yaitu Batam. Pada kali ini, kami bersyukur karena Dr. Laura Lee, yang adalah istri saya, bisa turut membantu pelayanan di Batam bersama dengan putri kami, Fidelia Charis. Dari Tanjung Pinang, pada Sabtu 14 Oktober 2017, kami menyeberang pulau menggunakan ferry untuk sampai di Batam. Pelayanan di kota Batam adalah atas undangan dari Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII). Kami dijemput oleh tim GRII Batam dan makan siang bersama sebelum akhirnya berangkat ke GRII Batam untuk persiapan memasang booth SABDA. Setelah istirahat sebentar, kami sudah harus siap untuk melayani lagi.

Sama seperti pelatihan di GBI Tanjung Pinang, kami juga meminta seluruh jemaat yang hadir menginstal lebih dahulu kelima Apps untuk belajar Alkitab dari SABDA. Di depan pintu gereja, sebelum acara dimulai, bukan hanya saya dan istri yang membagikan brosur Apps SABDA, anak kami, Fidelia Charis, juga sangat semangat membagikan brosur. Jesica ada di booth SABDA untuk melayani setiap pertanyaan dari pengunjung booth. Pengunjung cukup membludak karena lebih dari 200 orang yang hadir dari berbagai gereja dan pelayanan. Pada pukul 18.30, pelatihan #Ayo_PA! dimulai oleh Ibu Yulia. Melalui pelatihan ini, jemaat diajak untuk mempelajari Alkitab dengan menggunakan Gadget. Vik. Melinda Mesakh, hamba Tuhan di GRII Batam, sempat mengatakan kepada saya bahwa Apps SABDA itu seperti BibleWorks versi kecil yang ada di Gadget. Bagi orang yang terjun di bidang teologi dan seminari tahu apa itu BibleWorks, yaitu software untuk belajar Alkitab. Selain menyediakan software yang seperti ini, yaitu Software SABDA, SABDA juga diberi anugerah untuk membuat Apps supaya setiap orang percaya bisa mengakses Alkitab dan bahan-bahannya untuk menggali Alkitab. Bagi orang yang percaya teologi Reformasi, tentunya salah satu semangat Reformasi adalah semangat supaya setiap orang (baik imam maupun awam) membaca Alkitab sendiri dalam bahasa yang mereka pahami. Pelayanan SABDA yang interdenominasi sangat sejalan dengan prinsip gereja Reformed yang mementingkan firman Tuhan (Back to the bible). Acara selesai cukup malam, pkl. 21.30. Kami terus melayani booth SABDA yang dipenuhi oleh banyak orang yang ingin melihat, bertanya, mengambil, dan memesan bahan-bahan SABDA. Ini merupakan hari pertama pelayanan SABDA di GRII Batam.

Hari kedua pelayanan SABDA di GRII Batam (15 Oktober 2017) adalah sharing pelayanan misi SABDA oleh Ibu Yulia. Pesan yang disampaikan kali ini adalah bahwa ladang misi terbesar pada zaman ini adalah internet. Dan, SABDA dipanggil untuk melayani di dunia digital. Setelah selesai sharing misi dalam kebaktian I dan II, Ibu Yulia melanjutkan pelayanan untuk guru-guru sekolah minggu dengan memberikan pelatihan bagaimana menggunakan DVD Library SABDA Anak sebagai alat peraga digital untuk pelayanan anak. Pada hari minggu ini, kami pun berpisah. Jesica kembali ke Surabaya, saya dan keluarga pulang ke Tanjung Pinang, dan Ibu Yulia akan pulang keesokan harinya ke Solo.

Ini adalah pengalaman pertama mengikuti pelayanan roadshow SABDA. Saya bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terlibat dalam pelayanan ini. Semua materi dan sharing yang disampaikan kiranya dapat menginspirasi jemaat untuk menggunakan teknologi bagi kemuliaan nama Tuhan. Adalah satu sukacita ketika kami melihat jemaat diberkati dengan seminar dan juga bahan-bahan SABDA. Selain itu, saya juga bersyukur untuk persekutuan dalam tim pelayanan kami. Selain melayani bersama-sama, kami juga menikmati persaudaraan dalam Kristus Yesus. Kiranya semua hormat, puji, dan syukur hanya bagi nama Tuhan kita, Allah Tritunggal. Amin!

*Jeffrey Lim adalah staf partime YLSA yang bekerja di luar Solo

Categories: PEPAK

Staf SABDA Mengikuti Seminar “Akhir Zaman”

Blog SABDA - Thu, 10/19/2017 - 16:25

Oleh: Danang D.K.

Pada Senin, 16 Oktober 2017, seluruh staf SABDA menghadiri seminar tentang "Akhir Zaman" di Gereja Pengharapan Allah, Mangkubumen, Solo. Kami berangkat bersama-sama dari kantor pukul 07.30 WIB, walau ada juga yang langsung berangkat dari rumahnya masing-masing. Acara ini diadakan oleh persekutuan paguyuban hamba-hamba Tuhan se-Solo. Pembicara dari seminar ini adalah Pdt. DR. Paul G. Caram, seorang berkebangsaan Amerika Serikat. Beliau cukup produktif dalam menulis buku dan banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yayasan Voice of Hope menjadi jembatan penghubung antara beliau dengan masyarakat Indonesia. Untuk seminar kali ini, beliau menjelaskan dari dua bukunya, "Menyingkap Rahasia Akhir Zaman" untuk sesi I dan "Pedoman bagi Hamba Tuhan" untuk sesi II.

Saat kami datang, belum banyak peserta yang hadir, masih banyak kursi kosong. Setelah menunggu sekitar 30 menit, peserta mulai berdatangan. Kalau dihitung, jumlah pesertanya hanya puluhan. Jadi, ruangan terasa lengang karena gedung itu bisa menampung 500-an orang. Setelah beberapa pujian, doa, dan sambutan dari pengurus, dimulailah sesi I tentang "Akhir Zaman". Beliau menyampaikan materinya dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Bapak Daniel Saragih, M.Th.

Awalnya, Bapak Paul banyak membahas perspektif Perjanjian Lama berkaitan dengan akhir zaman. Beberapa tokoh PL (Perjanjian Lama) sudah mendapat pencerahan tentang akhir zaman, seperti Abraham dan Ayub . Kemudian, dibahas juga perihal pertumbuhan rohani. Jemaat diharapkan menjadi dewasa supaya siap menyambut kedatangan Kristus. Masa kesukaran menjelang akhir zaman bertujuan untuk menguji manusia. Mereka yang lolos uji adalah mereka yang dewasa rohaninya. Adam dan Ayub diuji untuk membuktikan kesetiaan mereka, dan setan digunakan Tuhan untuk melakukan pengujian tersebut.

Pembahasan materi berlanjut pada peran kita di dunia ini. Kita harusnya memiliki nama baik dan karakter yang baik karena itu adalah tolok ukur kerohanian. Dengan kedua hal itu pula, orang akhirnya bisa menghasilkan buah. Buah yang penting adalah buah yang kekal, yaitu jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa merupakan mahkota kita, upah kita di surga. Semua orang yang percaya kepada Yesus akan masuk surga, tetapi di surga setiap orang memiliki takaran upahnya masing-masing. Ada orang yang upahnya besar, ada yang kecil. Setiap hasil pekerjaan orang akan diuji dengan api, yang lolos uji dengan api akan memperoleh upahnya. Jadi, pembicara mengajak semua orang untuk melakukan investasi yang bijak dan menguntungkan, yaitu investasi pada jiwa-jiwa. Kelak, mereka ini menjadi kemuliaan kita di hadapan Tuhan. Dan, cara kita melakukan investasi tersebut adalah dengan mengajar jemaat dengan ajaran yang sehat. Ajaran yang salah, sekecil apa pun, akan menjadi kesalahan yang berlipat ganda dalam jemaat. Jadi, kita mesti sangat hati-hati dengan apa yang kita ajarkan.

Pembicara juga menjelaskan tentang kemuliaan tubuh kebangkitan, yang memiliki kemuliaan berbeda dengan malaikat, dan dengan tubuh kita yang fana ini. Tubuh kemuliaan memancarkan kemuliaan sosok manusia yang sesungguhnya. Sama seperti kemuliaan Yesus terpancar dalam peristiwa transfigurasi di Bukit Zaitun. Dengan pengharapan demikian, kita akan menanti-nantikan kedatangan Yesus dengan sukacita. Mengasihi Tuhan dan sesama manusia menjadi teladan Yesus yang bisa ditiru untuk semua orang percaya. Kemegahan kita semestinya bukan karena semua hal yang fana, uang, kecerdasan, penampilan, dan keangkuhan, sebab semuanya tidak bisa dibawa mati.

Pada sesi II, pembicara membahas tentang sikap teladan hamba Tuhan dan kondisi pernikahan mereka yang semestinya menjadi panduan bagi jemaat. Orang yang dewasa rohani semestinya menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, ajakan ini menjadi renungan yang besar dalam seminar ini. Pemahaman tentang akhir zaman semestinya mendorong kita untuk lebih hidup kudus dan berkenan kepada Dia sebagai wujud kehidupan beriman yang dipraktikkan secara nyata. Selamat menyambut kedatangan Kristus dengan sukacita. Soli Deo Gloria!

Categories: PEPAK

Roadshow #Ayo_PA! di GSPII Solo

Blog SABDA - Tue, 10/17/2017 - 12:21

Oleh: Ariel

Setelah berulang kali tim SABDA melayani presentasi #Ayo_PA! di luar kota, bahkan di luar Pulau Jawa, kali ini tim SABDA diminta melakukan presentasi di dalam kota. Presentasi kali ini kami lakukan di Gereja Sidang Persekutuan Injil Indonesia (GSPII) Sumber, Surakarta. Yang melayani presentasi kali ini adalah saya dan Tika, dibantu dengan dua staf magang dari Universitas Kristen Satya Wacana, yaitu Rian dan Dita. "Nanti yang akan dilayani adalah para pemuda, guru sekolah minggu, dan juga beberapa majelis," kata Pdt. Beni, gembala sidang gereja tersebut, sewaktu menyampaikan permintaan presentasi untuk gerejanya. Hal itu cukup membuat "deg-degan", tetapi pelayanan harus tetap dilakukan dengan baik.

Pada Sabtu, 14 Oktober 2017, pukul 18.30 WIB, kami tiba di lokasi pelayanan sesuai dengan waktu yang disepakati. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pdt. Beni dan beberapa pemuda yang baru selesai latihan untuk ibadah pada Minggu pagi. Sayang, mereka tidak mengikuti pelatihan. Dibantu oleh Pdt. Beni, kami menyiapkan alat-alat yang diperlukan, kami segera menyiapkan booth, LCD, dan juga laptop untuk presentasi. Dengan teliti, kami menyiapkan semuanya. LCD kami coba, screen-cast juga kami coba, mouse, pointer, semuanya kami coba, dan semuanya berjalan lancar. Saya juga melihat Rian dan Dita sibuk menyiapkan meja booth.

Pukul 19.30 WIB, jemaat mulai berdatangan, tetapi hanya enam orang. Setelah kami tanya, ternyata banyak yang tidak bisa hadir pada malam itu karena banyak acara sekolah, kampus, dsb. Pada saat itu, hadir juga dua orang majelis dari gereja tersebut. Walaupun sedikit yang datang, kami tetap harus melayani mereka sepenuh hati karena pelayanan kami adalah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Setelah menyanyikan dua lagu, tiba waktunya bagi kami untuk melakukan presentasi. Giliran pertama adalah saya, yang menyampaikan tentang "Tujuh Alasan Melakukan PA" dan "Mengapa Menggunakan Alkitab Digital". Tugas yang berat karena saya harus bisa membangun suasana supaya tidak terlalu tegang, tetapi juga tetap harus fokus. Saya menyampaikan materi ini dengan serius karena hal ini sangat penting. Ini adalah dasar melakukan PA (Pendalaman Alkitab). Ibarat bangunan, sebuah fondasi harus benar-benar kuat agar sebuah bangunan berdiri kokoh di atasnya. Puji Tuhan, semua peserta fokus dan perhatian, bukan kepada saya, melainkan kepada materi yang saya sampaikan. Ini terbukti pada sesi akhir ketika saya mengajukan pertanyaan seputar materi dan mereka bisa menjawabnya dengan baik.

Sesi kedua adalah metode PA S.A.B.D.A. yang disampaikan oleh Tika. Diawali dengan gangguan teknis, yaitu screen-cast yang tiba-tiba tidak bisa berfungsi, cukup membuat Tika khawatir. Pada saat terjadi "kekosongan" seperti itu, sebagai anggota, saya harus bertindak sigap dan fleksibel. Saya ambil alih waktu dan tempat untuk mengumumkan tentang booth, dilanjutkan dengan Rian yang mengumumkan tentang form yang harus diisi oleh peserta. Kemudian, walaupun screen-cast tidak bisa berfungsi, Tika tetap melanjutkan presentasinya. Dengan memanfaatkan situasi yang ada, dengan jumlah peserta yang sedikit, ia mengajak peserta untuk maju ke depan sampai bisa melihat handphone yang dipegangnya dengan jelas. Akhirnya, Tika memulai presentasinya tanpa memakai screen-cast, peserta pun memperhatikan dan mempraktikkan setiap instruksi yang diberikan oleh Tika. Di belakang, Rian menjelaskan tutorial SABDA kepada dua majelis yang hadir tadi. Tepat pukul 21.00 WIB, presentasi kami akhiri. Tika sempat meminta testimoni kepada beberapa peserta, dilanjutkan dengan sesi pengambilan foto bersama.

Dari roadshow kali ini, saya belajar beberapa hal antara lain: fleksibel (apa pun yang bisa dikerjakan pada saat itu juga harus segera dikerjakan), lihat peluang, dan manfaatkan kesempatan. Tidak perlu melihat ini tugas siapa dan itu tugas siapa, jika bisa dikerjakan, ya harus segera dikerjakan. Selain itu, kami juga belajar kerja sama dalam tim. Tidak ada yang lebih unggul antara satu dengan hal lain, semua adalah pelayan Tuhan. Oleh sebab itu, dalam satu tim harus saling membantu.

"Apa pun yang ditemukan oleh tanganmu untuk dikerjakan, lakukanlah itu dengan kekuatanmu. Sebab, tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, atau kebijaksanaan di dunia orang mati, tempat ke mana kamu pergi." Pengkhotbah 9:10(AYT).

Categories: PEPAK

SABDA di Konferensi Konseling Keluarga Indonesia: Pastoral dan Media Sosial

Blog SABDA - Sun, 10/15/2017 - 14:30

Oleh: * Harjono

Kesehatan mental adalah isu yang masih terkesan tabu di Indonesia. Banyak yang mengalami, tetapi sedikit yang mengakui.Contohnya bermacam-macam, baik stres berlebihan, depresi, anak berkebutuhan khusus, atau ketidakharmonisan relasi dengan keluarga. Menjawab kebutuhan ini, Konferensi Konseling Keluarga Indonesia 2017 menjadi event khusus bagi konselor untuk bersiap menghadapi tantangan zaman, khususnya zaman digital. Dengan mendasarkan diri pada iman Kristen dalam pelayanan konseling, tentu ada harapan bagi para konselor ini untuk menjadi berkat yang dapat menolong konsele hidup sesuai dengan rencana Allah. Bagaimana caranya? SABDA beserta beberapa narasumber dalam bidang psikologi dan teologi mengupasnya dengan saksama.

Tim SABDA yang terdiri dari saya dan Bu Yulia, hadir pada acara ini Minggu, 8 Oktober 2017, hari ketiga dari konferensi yang berlangsung mulai 6 Oktober 2017 di Lemo Hotel, Serpong, Tangerang. Acara terbilang ramai karena jumlah peserta yang lebih dari 350 orang. Selain menjadi narasumber, YLSA juga berkesempatan membuka booth untuk berbagi produk-produk pelayanan. Dengan bantuan panitia, ada dua meja besar yang disiapkan untuk men-display semua bahan SABDA yang "bejibun", seperti CD Alkitab Audio dengan lebih dari 30 bahasa (bahasa Indonesia, bahasa daerah di Indonesia, dan bahasa asing), DVD bahan pelayanan, SD Card SABDA yang penuh bahan multimedia Kristen, dan brosur-brosur pelayanan YLSA, termasuk brosur aplikasi SABDA Android, publikasi dan situs YLSA, Apps4God, PESTA, Anda Punya Waktu, dll.

Persiapan booth sudah selesai dan ada satu dua panitia yang mulai tertarik melihat booth kami. Pada sesi break, para peserta mulai mendatangi booth dan bertanya tentang bahan-bahan yang kami display di meja. Kami juga kadang-kadang menjelaskan isi masing-masing bahan dan bagaimana memakainya. Contohnya, CD Alkitab Audio yang bisa didengarkan dengan music player di mobil, CD player, atau diunduh file-nya agar bisa didengar melalui gawai mana pun. Kami perlu juga meyakinkan bahwa produk-produk SABDA itu gratis, tetapi bagi yang tergerak bisa memberi persembahan sukarela. Saking banyaknya permintaan, bawaan kami berkurang dengan cepat. Kami berusaha menolong agar peserta-peserta yang datang dan mengambil produk SABDA mengerti sepenuhnya manfaat dari bahan-bahan yang disediakan YLSA.

Pada pleno kedua, Bu Yulia bersiap untuk menjadi pembicara. Beliau membawa sesi "Pastoral dan Media Sosial" yang menurutku sangat manis tanpa kehilangan bobotnya. Topik zaman digital yang biasanya "njelimet" bisa dibawakan dengan lancar melalui contoh-contoh hidup sehari-hari. Yang paling menarik adalah contoh cara Bu Yulia berkomunikasi dengan putrinya yang masih remaja melalui emoticon. Pergumulan beliau yang kadang gaptek, sedangkan putrinya yang hi-tech, terkesan jujur dan membangun. Banyak peserta yang tertawa dan terbawa dengan obrolan Bu Yulia. Menit-menit awal terasa ringan, sampai suasana serius terlihat ketika beliau melontarkan kritik terhadap gereja-gereja dan khususnya konselor yang kurang memperlengkapi diri dengan "Digital Quotient" (Kecerdasan Digital - Red.) dan "Biblical Quotient" (Kecerdasan Alkitab - Red.). Konsep yang sangat penting ini menjadi penentu apakah seseorang akan menjadi pelayan Tuhan yang efektif pada masa depan, khususnya bagi generasi muda.

Respons atas presentasi Bu Yulia tampaknya masih terbawa sepanjang acara. Terbukti dengan diundangnya kembali Bu Yulia menjadi panelis dadakan di sesi Q & A bareng dengan Bu Jenny Lukito. Dalam sesi diskusi panel, para peserta semakin aktif bertanya mengenai isu keluarga, pelayanan, dan gawai yang membayangi kehidupan mereka. Secara keseluruhan, semuanya saling belajar, jawaban tiap panelis melengkapi yang lainnya. Yang penting, mereka siap untuk tidak takut pada teknologi, sebab pada akhirnya teknologi juga adalah untuk Tuhan.

Akhir kata, Tuhan telah memperlengkapi para konselor ini. Semoga mereka semakin siap dan sadar dengan tantangan zaman yang sekarang serba digital dan miskin rohani. Sadar akan anugerah Tuhan, yaitu teknologi yang diberikan pada abad ini untuk menjadi cara baru bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus.

Categories: PEPAK

Roadshow #Ayo_PA! KMK UNSA di Wisma INRI

Blog SABDA - Tue, 10/10/2017 - 15:35

Oleh: Aji

Wisma INRI, yang terletak di daerah Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, menjadi tempat saya dan beberapa teman dari Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) mengadakan roadshow #Ayo_PA!. Roadshow yang diadakan pada Sabtu, 7 Oktober 2017 yang lalu ini, digelar atas undangan panitia retret dari Keluarga Mahasiswa Kristen Universitas Surakarta (KMK UNSA), dengan tema retret "Stronger Together". Ini merupakan agenda tahunan bagi mereka, dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Kristen UNSA yang berasal dari berbagai fakultas. YLSA diminta menjadi salah satu pengisi acara guna berbagi pengetahuan tentang penggunaan teknologi untuk mempelajari firman Allah.

Untuk mengisi acara tersebut, YLSA menugaskan saya dan keempat teman saya, yaitu Ody,  Mei,  Lydia,  dan  Manda. Saya dan Ody ditunjuk sebagai presentator, sedangkan Mei, Lydia, dan Manda bertanggung jawab atas booth, instalasi aplikasi, dan dokumentasi. Kami sampai di wisma INRI pukul 12.00 WIB, lalu disambut oleh panitia dengan perkenalan dan makan siang. Udara yang sejuk, pemandangan yang indah, dan menu makanan yang lezat menambah semangat saya untuk mengikuti kegiatan kali ini. Namun, saya harus segera melupakannya karena kami harus bersiap untuk acara presentasi yang dimulai pukul 13.30 WIB. Sebelum itu, kami sibuk dengan standar prosedur operasional setiap kali roadshow #Ayo_PA! diadakan, seperti: menyiapkan laptop dan alat-alat dokumentasi, pemasangan MMT, dan set-up booth. Kami bersyukur karena pihak panitia memperhatikan kebutuhan kami dan ikut membantu kami menyiapkan segala sesuatu. Ody menjadi presentator pertama memberikan penjelasan tentang "Pentingnya Mempelajari Firman Allah" dan "Peluang Penggunaan Teknologi Digital untuk Ber-PA". Sambil materi pertama disampaikan, kami menginstalkan lima aplikasi Android SABDA ke handphone para peserta karena pada sesi ke-2, cara-cara penggunaan aplikasi tersebut akan dipraktikkan bersama-sama. Saya pikir Ody sangat lancar dalam menjelaskan maksudnya. Konten berhasil disampaikan dengan padat-berisi, tetapi tidak kaku dan terkadang mengundang gelak tawa peserta

Sesi selanjutnya, saya isi dengan mengajarkan cara pakai kelima aplikasi Android SABDA dan langkah-langkah metode S.A.B.D.A.. Kelima aplikasi yang saya jelaskan, antara lain: aplikasi Alkitab, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, dan Peta Alkitab. Dan, diikuti dengan penyampaian metode PA S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa+Diskusi, Aplikasi) yang dirancang oleh YLSA untuk ber-PA dengan bantuan alat-alat digital. Respons peserta cukup baik. Banyak dari mereka mencoba-coba fitur yang ada dalam aplikasi SABDA sambil mendengarkan penjelasan saya. Ketika saya memberi kuis untuk mencari berapa jumlah kata "firman" dengan aplikasi Alkitab SABDA, para peserta dengan antusias mencoba mencari jawaban di handphone mereka. Beberapa di antara mereka memberikan jawaban hingga 1000+ kata walaupun jawaban yang benar sebetulnya hanya puluhan kata. Namun, saya senang, mereka memberikan perhatiannya ketika materi yang saya bawakan adalah materi yang sebetulnya sangat teknis; berisi tutorial-tutorial pemakaian teknologi, bukannya suatu ceramah yang bertujuan untuk menggugah emosi pendengar. Saya menutup presentasi dengan menginformasikan mengenai gerakan #Ayo_PA! dan tautan video tutorial metode PA S.A.B.D.A. pada situs YouTube.


Pada acara ini, produk-produk di booth SABDA cukup laris diminati oleh para peserta retret. Produk yang banyak dibawa pulang adalah DVD Dengar Alkitab dan beberapa DVD Audio Alkitab. Kami juga membagikan brosur metode S.A.B.D.A. kepada semua peserta supaya sewaktu-waktu metode ini bisa dipelajari kembali oleh mereka. Besar harapan kami, bahan-bahan yang dibawa pulang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan dibagikan kepada rekan-rekan peserta agar Kabar Baik dimengerti oleh semakin banyak orang.

Setelah puas mengambil foto dan beramah-tamah dengan para peserta retret, kami berlima memutuskan meninggalkan wisma INRI pada pukul 15.30 WIB. Kami merasa lelah, tetapi senang karena bisa menabur sesuatu yang bermanfaat untuk pertumbuhan iman para mahasiswa. Menjadi suatu kehormatan besar jika kami bisa hadir di tengah mereka dan berbagi informasi tentang penggalian kitab suci menggunakan alat dan cara PA pada abad ke-21. Saya berharap, uraian yang telah kami sampaikan bisa diterima dengan baik oleh peserta, dan diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan mereka agar bisa menjadi berkat untuk sesama. Tidak lupa, kami bersyukur kepada Allah yang memungkinkan acara ini berlangsung dengan sangat baik. Dialah yang memulai suatu pelayanan, dan Dia pula yang akan mengakhirinya dengan hasil yang gemilang. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

Categories: PEPAK

Perjalanan Awal dengan Duo “S” — SABDA dan SOLO

Blog SABDA - Fri, 10/06/2017 - 17:24

Oleh: Jean Amanda

Shalom, nama saya Manda, berasal dari Ambon, Maluku. Saya mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, yang sedang menjalani program magang di Yayasan Lembaga SABDA bersama dengan empat teman saya, yaitu Handa, Jessica, Dita, dan Lidya. Pada kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang awal perjalanan saya dalam menjalankan tanggung jawab di tempat yang baru. SABDA adalah keluarga yang menyambut kehadiran kami semua. Mulai dari staf hingga pemimpinnya menerima kami dengan sukacita, pada 4 September 2017.

Di SABDA, rasa kekeluargaan dan keakraban sangat terasa. Mulai dari Pendalaman Alkitab di kelompok kecil, Persekutuan Doa, senam, dan makan siang, semuanya dilakukan bersama-sama setiap hari. Banyak pula yang mengajak kami untuk makan bersama pada malam hari, baik dari staf maupun pemimpin SABDA. Saya dan teman-teman sangat antusias akan hal-hal baru tersebut, juga dengan keluarga baru yang kami temui di SABDA. Kami tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman yang lebih daripada sekadar bekerja. Bagi saya, hal-hal tersebut adalah cara yang sangat tepat dan hangat bagi para calon magang yang "takut diusili".

Sejak minggu pertama menjalani magang, sudah banyak hal yang saya peroleh dan pelajari. Saya yang tadinya sering absen membaca Alkitab, apalagi melakukan Pendalaman Alkitab, kini mulai belajar untuk lebih tekun dan peka mendengar suara Tuhan. Tidak hanya mendengarkan, saya juga membuat komitmen pribadi setelah membaca firman Tuhan tersebut. Saya yang sebelumnya hanya mempelajari terjemahan dari kelas teori dan praktik yang sangat minim, kini menjadi lebih luas wawasannya dalam praktik terjemahan di dunia kerja. Menulis yang sebenarnya bukan konsentrasi studi saya, juga saya pelajari dan coba selama masa magang di sini. Semua hal ini saya pandang sebagai "bonus magang".

Saya tidak salah ketika memilih SABDA sebagai tempat untuk melayani pekerjaan Tuhan. Saya melihat magang di SABDA sebagai kepercayaan yang Tuhan berikan kepada saya. Tuhan ingin saya menggunakan talenta dari-Nya untuk pekerjaan kemuliaan nama-Nya. Benar saja, saya merasa semakin terberkati, dan dengan tuntunan Tuhan, saya berusaha menjadi berkat bagi orang lain.

Yayasan Lembaga SABDA yang berdomisili di kota Solo membuat saya dan teman-teman mau tak mau harus beradaptasi. Pada awal kedatangan, kami sempat dibuat bingung dengan tata kotanya yang menurut saya memiliki banyak gang besar maupun kecil. Masalah cuaca yang jauh lebih panas dari Salatiga, tempat saya "menimba" ilmu, juga membuat kami sering mengeluh pada awalnya. Puji Tuhan, mengenai makan tidak menjadi penghambat karena tersedianya banyak tempat makan di sekitar mess yang kami tempati. Proses adaptasi berlangsung cukup cepat karena orang-orang di sekitar kami yang turut mendorong dan membantu. Saya dan Lidya, yang berasal dari Ambon, sering ditanya tentang daerah asal kami. Kami senang memberikan jawaban kepada mereka karena kami sekaligus dapat memperkenalkan kebudayaan daerah kami kepada orang-orang yang baru kami kenal.

SABDA dan Solo adalah "duo S" yang cocok bagi orang percaya yang ingin memberikan waktu dan talenta mereka bagi perluasan pekerjaan Tuhan di dunia ini. Baik staf magang maupun staf tetap, semuanya dipersatukan dan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Puji Tuhan!

Categories: PEPAK

Pengalaman Membimbing Staf Magang dari UK PETRA

Blog SABDA - Mon, 10/02/2017 - 17:07

Oleh: Hadi

Sehubungan dengan staf magang ITS pada tahun ini, respons saya pertama adalah bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah keempat kalinya saya diberi kesempatan untuk membimbing teman-teman mahasiswa magang di Yayasan Lembaga SABDA. Pada tahun ini, jumlah mahasiswa magang lebih banyak dari tahun sebelumnya, yaitu enam orang, semuanya dari Universitas Kristen Petra Surabaya. Mereka menjalani masa magang selama 2 bulan, mengikuti setiap pola aktivitas yang dilakukan YLSA, mengerjakan proyek yang sudah ditentukan, dan setiap hari belajar untuk bertumbuh dalam iman, pengetahuan, dan keterampilan.

Persiapan magang kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena pada bulan pertama harus dilakukan tanpa kehadiran Bu Yulia, yang pada saat itu cuti selama satu bulan. Karena itu, kami menyempatkan waktu untuk pergi ke UK Petra Surabaya untuk bertemu dengan dosen pembimbing dan mahasiswa-mahasiswa magang serta mendiskusikan proyek dan aktivitas yang akan dikerjakan selama dua bulan nanti. Mereka adalah Andy, David, Cenius, Teddy, Wilson, dan Hendry.

Tema proyek magang yang dipersiapkan adalah "Alkitab Pintar". Ide dari Alkitab Pintar adalah menggabungkan antara Google Assistant dan Wolfram Alpha. Google Assistant berperan sebagai asisten pengguna yang selalu siap dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Alkitab, sedangkan Wolfram Alpha bertindak sebagai knowledge engine, yang mempunyai banyak informasi seputar Alkitab untuk disajikan kepada pengguna sesuai topik-topik yang berkaitan. Adapun pembagian subtema proyek dibagi menjadi tiga, yaitu Intelligent Search, Topical System, dan Media Management System.

Selama tiga minggu pertama magang, mereka belajar banyak hal tentang perkembangan teknologi terkini yang saat ini dipakai untuk membangun sistem. Mereka harus secara aktif belajar tentang topik-topik yang sudah diberikan. Tugas yang akan mereka kerjakan adalah menulis artikel, mempresentasikan apa yang sudah mereka pelajari dengan teman-teman lainnya, dan demo proyek sebagai implementasi dari apa yang sudah dipelajari. Saya sebagai pembimbing juga harus melakukan persiapan untuk bisa mengarahkan mereka agar tugas-tugas yang dilakukan dapat sesuai dengan yang diharapkan. Selain saya, ada beberapa staf SABDA yang juga ikut ambil bagian, yaitu Evie sebagai scrum master, Liza, Ody, Danang, dan Tika sebagai pembimbing khusus sebelum mereka melakukan presentasi.

Setelah Ibu Yulia selesai dari cutinya, kami lebih fokus dan intensif mengembangkan proyek Alkitab Pintar. Mereka mulai membuat lean canvas, roadmap, dan strategi supaya proyek setiap tim dapat diselesaikan dengan baik. Dalam prosesnya, kami mengalami kesulitan karena banyak dari teman-teman magang yang masih kebingungan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Bersyukur, pada saat itu Pak Jeffrey datang satu minggu ke SABDA, dan setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk mengarahkan teman-teman magang dan pembimbing untuk belajar elasticsearch. Elasticsearch adalah indexing engine yang mampu digunakan sebagai sistem pencarian canggih seperti sistem Google Search maupun Facebook sebagai Graph Engine yang memberikan sistem rekomendasi berdasarkan relasi. Kami belajar secara online dalam kelas udemy, dengan mengambil dua kelas, durasi waktu 5 jam dan 8 jam.

Keputusan untuk belajar elasticsearch membuahkan hasil, ada perkembangan yang baik karena semua ikut ambil bagian saling menolong. Proyek menjadi semakin jelas dengan fokus pada Elasticsearch for More Intelligent Biblical Search, Constructing Topical System with elasticsearc and Custom Analyzer, dan Biblical Media Management System with Elasticsearch and Metadata. Mereka semua belajar dan bekerja dari pagi hingga malam untuk bisa menyelesaikan tugas. Setiap tim harus mengimplementasikan elasticsearch sebagai dasar untuk memasukkan dan menstrukturkan data, dan menggunakan Angularjs untuk membangun user interface. Staf SABDA menolong mereka menyediakan data dan mengarahkan jika mereka mengalami kesulitan, baik dalam struktur data maupun scripting. Pada hari terakhir, mereka mempresentasikan apa yang sudah dibuat, sekaligus menjadi acara perpisahan.

Bersyukur kepada Tuhan karena pertolongan-Nya sehingga teman-teman magang mampu membuat prototype dan menyelesaikan tugas magangnya. Bagi kami, apa yang sudah dihasilkan cukup untuk membuktikan bahwa proyek ini bisa dijalankan. Untuk menyelesaikan proyek Alkitab Pintar, masih dibutuhkan waktu yang panjang dan kerja keras karena proyek ini merupakan pekerjaan besar. Kami tidak bisa mengerjakannya sendiri, harus ada lebih banyak orang yang terlibat, dan harus dipecah-pecah menjadi tugas-tugas yang lebih kecil. Karena itu, kami berdoa kiranya Tuhan mengirim orang-orang yang terpanggil untuk mengerjakan proyek ini bersama kami. Jika ada pembaca yang tergerak untuk membantu, silakan menghubungi kami. Mari bersama-sama mengerjakan proyek Alkitab Pintar untuk menolong orang-orang Kristen belajar firman Tuhan dengan pintar. Kiranya Tuhan menolong kita.

Categories: PEPAK

Komentar