Belum menjadi anggota? Daftar * Lupa Kata Sandi  

PEPAK

Pelatihan Khotbah Langham di YLSA: Kitab Hagai

Blog SABDA - Wed, 02/08/2012 - 16:32

Beberapa waktu yang lalu, YLSA mengadakan pelatihan khotbah Langham yang diikuti oleh semua staf untuk diterapkan dalam PA kelompok setiap pagi. Pelatihan ini merupakan oleh-oleh Ibu Yulia setelah beberapa waktu sebelumnya mengikuti pelatihan khotbah Langham di Bogor. Tujuannya bukan memaksa kami menjadi pengkhotbah, tetapi membekali kami agar tahu bagaimana menyampaikan atau menerima Firman Tuhan secara benar.

Dari pelatihan ini saya belajar bahwa sebelum seseorang bisa menyampaikan khotbah dengan benar, ia harus terlebih dahulu belajar bagaimana menggali Alkitab dengan benar — bukan sekadar membaca ayat dan mengartikannya sesuai dengan keinginannya sendiri. Dibutuhkan cara sistematis untuk mendapatkan hasil penggalian yang benar dan mendalam. Jika hasil penggalian ini dibagikan kepada orang lain, maka pasti akan menjadi berkat yang bermanfaat.

Metode Langham ini sebenarnya mirip dengan metode PA (metode PA studi kata, metode PA survei kitab) yang pernah YLSA gunakan sebelumnya. Langkah awal, setelah berdoa, adalah mengamati perikop Alkitab dengan 7 langkah obeservasi.

1. Apa yang dapat diamati dengan pancaindra?
(apa yang didengar, dilihat, dicium, diraba dan dirasa?)
2. Bagaimana kejadian peristiwanya?
3. Siapa saja yang terlibat dalam bacaan (tokoh)?
4. Dimana tempat kejadiannya?
5. Kapan waktu kejadiannya?
6. Adakah kata-kata yang diulang-ulang?
7. Apakah ada “kata-kata kecil” (kata penghubung, kata depan, dll.)
– tapi, kemudian kami tambah dengan satu langkah lagi (8), yaitu membandingkannya dengan beberapa versi Alkitab lain.

Untuk menjadikan teks Alkitab yang kita gali menjadi khotbah, dipakai ilustrasi pandangan negara, pulau, dan tiga kota. Sedangkan cara untuk mengevaluasi khotbah, adalah dengan menggunakan tiga prinsip yaitu SJR — apakah khotbah itu Setia pada teks Alkitab, apakah pesan atau struktur khotbah itu Jelas, dan apakah khotbah itu Relevan dengan kehidupan pendengarnya. (Langkah-langkah bisa dilihat di situs Khotbah.co.)

Training khotbah Langham itu sudah kami coba terapkan beberapa kali pada acara persekutuan pagi, dan buku-buku yang sudah kami bahas menggunakan 7(+1) langkah-langkah tersebut adalah kitab Filemon, Habakuk, dan Hagai. Secara khusus saya ingin ceritakan berkat yang saya terima ketika membahas kitab Hagai bersama teman-teman di kantor. Kitab Hagai menarik untuk dipelajari dan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan. O iya, sebelumnya saya belum pernah mempelajari kitab Hagai ini secara lengkap dan tuntas secara berseri meski kitab ini hanya terdiri dari dua pasal

Saya secara pribadi bersyukur karena sungguh luar biasa berkat yang saya rasakan. Melalui kitab Hagai Tuhan mengingatkan saya untuk memerhatikan keadaan atau sikap hidup saya. Tuhan menggerakkan semangat saya, seperti pemimpin Zerubabel ketika mau mendengarkan suara Tuhan, sehingga Tuhan menyertai dan menggerakkan semangatnya untuk membangun kembali Bait Allah.

Di akhir setiap pelajaran, kami membagikan apa yang kami pelajari, dan selebihnya kami mendengarkan pelajaran dari Sekolah Alkitab Audio (SAA) yang membahas pengantar kitab Hagai, sehingga kami semakin dibekali dengan pelajaran baru yang kami dapatkan.

Banyak berkat yang saya dapatkan dengan menerapkan prinsip Langham ini. Semoga yang saya sharingkan ini bisa menjadi berkat bagi yang lain. Silakan mencoba. Tuhan memberkati

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Nonton CSI di YLSA

Blog SABDA - Fri, 01/27/2012 - 14:52

Training hari ini, Jumat, 27 Januari 2012 adalah nonton film seri “Crime Scene Investigation (CSI)”, Last Vegas Season 1, dengan episode yang dipilih adalah “Gentle, gentle”.

Film seri CSI adalah salah satu favorit saya, dan kami memiliki koleksi beberapa season. Selain belajar tentang team work, film ini memberi banyak ‘insight’ untuk saya pribadi. Beberapa tahun yang lalu film ini sudah pernah saya pakai untuk memberi training staf, tapi sudah banyak staf baru yang belum menonton. Nah, acara PD kali ini kita gunakan untuk menonton sambil belajar.

Setelah menonton, biasanya kita akan berdiskusi dan berbagi apa saja yang kita pelajari dari film itu. Tapi hari ini kita kehabisan waktu. Karena itu, teman-teman mensharingkannya melalui komentar berikut. Semoga menjadi berkat bagi yang lain.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Training Menulis Cepat di YLSA

Blog SABDA - Tue, 01/24/2012 - 14:24

Tidak seperti training-training kepenulisan yang biasa dilaksanakan oleh Divisi Publikasi setiap hari Kamis, training kepenulisan kali ini berbeda dari biasanya. Mengapa? Begini ceritanya.

Ada staf YLSA yang dulu menghadiri seminar kepenulisan yang diadakan oleh PapirusYayasan Gloria, di Yogyakarta. Sebagaimana diwajibkan di YLSA, kalau ada staf yang ikut seminar, maka sepulang dari seminar dia harus bisa membagikan pengetahuan, pengalaman dan berkat yang didapat dari seminar itu kepada semua staf lain yang tidak ikut.

Oleh-oleh yang dibawa sepulang dari mengikuti pelatihan menulis di Papirus menurut saya cukup menarik. Salah satu berkat yang dibagikan adalah tentang “Menulis Cepat”. Menulis cepat? Apaan tuh? Apakah berarti ada menulis yang tidak cepat? Apa bedanya menulis cepat dan menulis tidak cepat? Pertanyaan ini sempat terlintas dalam benak saya.

“Menulis adalah sebuah kebiasaan…”. Menulis cepat itu seperti halnya belajar naik sepeda atau belajar berenang. Agar bisa mahir naik sepeda atau berenang, maka kita harus sering berlatih. Ketika kita sudah trampil naik sepeda atau berenang, maka ketrampilan tersebut tidak akan pernah hilang, tapi bisa menjadi ‘karatan’ kalau jarang dilakukan. Teknik terbaik untuk membangun kebiasaan menulis adalah dengan menulis cepat. Mengapa? Pertama, ide itu bagaikan angin — mudah datang dan mudah hilang. Kedua, untuk menjadi penulis andal, maka perlu proses pembiasaan — semakin banyak dipakai semakin mudah mendapatkan ide untuk diutak-atik, ditambahi, dikurangi, diperkaya, dll.. Ketiga, menulis cepat dapat menolong kita untuk bisa lebih fokus.

Sebagai aplikasinya, maka kami diberi tugas untuk mempraktikkan latihan menulis cepat. Idealnya, 30 menit setiap hari selama 30 hari, kita diminta untuk berlatih menulis sendiri — menulis apa saja, tidak usah terlalu dipusingkan apa yang kita tulis, apakah kalimat yang kita tulis nyambung dengan kalimat yang lainnya, jangan memusingkan masalah EYD (ejaan yang disempurnakan), apakah tata bahasanya benar, dll., pokoknya menulis apa saja. Dengan “semangat 45″, beberapa rekan yang mengikuti training, langsung mau berkomitmen untuk melakukan latihan menulis cepat ini. Saya secara pribadi agak mikir-mikir, “Ikut apa gak, ya?” Terus terang, saya khawatir tidak bisa mendisiplin diri untuk setiap hari menulis selama 30 menit selama 30 hari karena saat itu saya memiliki banyak kegiatan di gereja. Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk ikut juga (walaupun dengan sedikit dipaksa dan tidak terlalu yakin ).

Setelah dijalankan, saya mengambil kesimpulan bahwa ternyata menulis itu bukan hal yang sulit. Kita bisa menulis apa saja dan kapan saja, entah ketika suasana hati kita sedang senang, atau baru kesal dengan orang lain, atau sedang pusing memikirkan pekerjaan kantor, pokoknya dalam situasi apa saja. Tapi yang paling sulit adalah mendisiplin diri untuk menulis 30 menit setiap hari selama 30 hari. Hasil praktik saya, masih banyak yang “bolong-bolong” . Eh, tapi bukan cuma aku lho, yang tidak disiplin, teman-teman yang lain juga pada “bolong-bolong” (membela diri sendiri )… Doakan semoga kami, terutama tim penulis YLSA, bisa terus disiplin belajar menulis, supaya talenta yang Tuhan berikan ini semakin terasah.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Raker YLSA 2012 “Melangkah dengan Iman”

Blog SABDA - Fri, 01/13/2012 - 16:10

Pada tanggal 9 — 10 Januari 2012, semua staf YLSA mengikuti Rapat Kerja 2012. Sebelumnya, sepanjang bulan November dan Desember 2010, sudah ada banyak rapat, training, dan terutama doa dilakukan untuk persiapan pelaksanaan Raker ini. Semua koordinator divisi sibuk menyiapkan laporan dan penyusunan rencana kegiatan tahun 2012. Divisi HRD, Admin, Publikasi, ITS, Komunitas, Web, PESTA, dan divisi yang terbaru di YLSA, yaitu divisi Multimedia “berusaha keras” mempersiapkan laporan dan rencana dengan sebaik-baiknya untuk dipresentasikan di Raker. Supaya kelihatan lebih cantik, banyak laporan yang disiapkan dengan PowerPoint.

Mengadakan Rapat Kerja Tahunan merupakan salah satu tradisi di YLSA yang dilaksanakan setiap awal tahun. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi hasil kerja tahun sebelumnya dan mempresentasikan rencana kerja tahun ini. Di setiap Raker selalu diberikan tema, misalnya tema tahun 2011 adalah “Terbang Tinggi Bagai Rajawali”, dan tahun 2012 “Melangkah dengan Iman”. Pada pembukaan Raker ini, Ibu Yulia membagikan beban, bahwa Tuhan sudah menyediakan tugas lebih besar bagi YLSA di tahun 2012, tapi masalahnya apakah kita mampu melaksanakannya? Jika kita tidak tinggal di dalam Kristus, dan jika Tuhan tidak menganugerahkan iman, maka tidak mungkin YLSA bisa melakukan tugas besar itu. Semua staf YLSA dituntut untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi melihat dan memandang kepada Tuhan saja. Dengan demikian, apa yang telah Tuhan rencana untuk YLSA, pasti akan bisa kita kerjakan dengan luar biasa.

Rencana semula, raker akan diadakan di luar kota Solo, seperti raker -raker sebelumnya. Namun, karena ada keberatan dari beberapa staf dan cuaca yang hujan terus menerus, akhirnya pimpinan sepakat untuk melaksanakan Raker di kantor saja. Sebagai gantinya, kami akan pergi berpiknik bersama semua keluarga staf ke luar kota jika nanti cuaca sudah lebih baik sehingga bisa lebih menikmati suasana di luar kantor.

Acara raker dilakukan pada jam kerja biasa, pkl. 08.00 sampai dengan pkl. 17.00 sore. Semua staf boleh pulang ke rumah, kecuali Benny , karena kami tidak ingin dia datang kesiangan Acara disusun sangat padat. Hampir 95% isinya adalah rapat dan diskusi, dengan diselingi permainan supaya ada sedikit hiburan. Meskipun padat, semua staf mengikuti raker dengan antusias dan terlibat aktif pada setiap sesi. Pemanfaatan waktu juga cukup baik, karena hanya beberapa acara yang molor. Pada hari pertama setiap divisi memberikan laporan kerja 2011. Ada banyak pertanyaan dan usulan dari rekan-rekan divisi lain. Pada hari kedua, setiap divisi mempresentasikan rencana kerja 2012. Saya lihat setiap divisi memiliki daftar planning yang sangat panjang untuk tahun 2012 ini. Setelah semua presentasi selesai, kita melanjutkan dengan pembahasan mengenai mapping staf dan mimpi-mimpi YLSA, baik mimpi tahun 2011 maupun mimpi tahun 2012.

Raker ini merupakan Raker pertama saya selama di YLSA. Melalui laporan tahun 2011, saya bisa melihat berkat dan anugerah Tuhan yang sangat besar bagi YLSA, karena banyak hasil yang dicapai sehingga YLSA dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Saya juga melihat Tuhan membuka banyak kesempatan dan hal-hal baru sepanjang tahun 2011 — seumpama rajawali, YLSA bisa terbang tinggi dan melihat luasnya pekerjaan yang Tuhan persiapkan bagi YLSA untuk tahun mendatang. Melalui setiap rencana kerja yang dipaparkan, saya juga melihat bahwa raker ini merupakan ajang pengujian iman, apakah seluruh staf berani melangkah untuk membuat program yang lebih besar lagi sesuai dengan kehendak Tuhan? Saya berharap jawabannya ya, karena Tuhan ada bersama dengan kita sehingga kita tidak menjadi lelah sebaliknya semakin giat melakukan pekerjaan Tuhan. Amin!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Sukacita Natal YLSA 2011

Blog SABDA - Wed, 12/21/2011 - 14:00

Sudah dua kali saya ikut merasakan sukacita Natal bersama dengan keluarga besar YLSA. Namun Natal tahun ini, yang diadakan Senin kemarin, tanggal 19 Desember 2011, terasa beda untuk saya, mengapa? Karena Natal tahun ini, sayalah yang ditunjuk menjadi ketua panitia Natal! Sedikit surprise juga sich.., namun dengan segenap tenaga dan kemampuan saya, dan tentunya dengan bantuan teman-teman YLSA, saya melaksanakan amanat itu dengan sebaik-baiknya…hehehe. Tempat merayakan Natal kali ini tidak di kantor, tapi di rumah baru Mbak Evi. Ini sekaligus menjadi kunjungan kami yang pertama sejak kepindahan Mbak Evi dan Pak Broto di rumah barunya. Meski cuaca agak mendung, tapi kami bersyukur karena saat acara berlangsung hujan tidak turun. Saya yakin semua karena campur tangan Tuhan.

Pada Natal YLSA 2011 ini, kami mengundang Mas Hastjarjo (mantan staf YLSA) sebagai pembicara. Dengan gaya yang humoris tapi serius, Mas Has membawakan pesan Natal yang diambil dari Lukas 1:46-47, tentang “Nyanyian Maria”. Inti dari pesan Natal yang dibawakan pada acara ini, adalah biarlah pujian/sukacita hidup kita meluap dari hati yang mengenal Allah; karena kita mengalami kasih Allah, bukan karena berkat-berkat-Nya saja.

Pada sesi perayaan, suasana menjadi lebih santai, karena ada beberapa talent show yang menampilkan kebolehan teman-teman YLSA. Ada drama yang diperankan oleh Ami, Dicky, Yadi, Yudo, Sigit. Nggak kalah dengan OVJ (Opera Van Java), yang ini adalah YVJ (YLSA Van Java)…hehehe. Kemudian ada vokal group, dengan personilnya Hadi, Khenny, Tatik , Gunung. Penampilan yang tidak kalah dengan penyanyi papan atas…hehehe. Tak lupa, ada penampilan Benny dengan biolanya, yang ditemani dengan Ibu Yulia dan Jesica sebagai penyanyinya. Lagu hymne yang dibawakan terdengar sangat syahdu. Acara yang selalu diadakan dalam Natal YLSA adalah acara tukar kado, dibawakan oleh Setya. Acara terakhir, seperti biasa adalah makan bersama. Semuanya membuat sukacita Natal kian hangat.

Seperti biasanya, panitia juga mengundang para mantan staf YLSA dan pasangannya untuk ikut bergabung merayakan malam Natal YLSA. Tamu yang hadir malam kemarin adalah Theo, Titus, Irma, Ratri, Kristin, dan Jinjing. Setiap tahun selalu ada kesan Natal yang berbeda. Natal tahun ini sangat berkesan, khususnya buat saya. Suasana kehangatan dan kebersamaan keluarga besar YLSA mengingatkan saya akan kasih Kristus yang begitu besar dalam hidup saya. Kasih yang tidak tebang pilih, kasih yang rela memberikan nyawa-Nya, dan kasih yang telah mengubahkan hidup saya. Kiranya Natal tahun ini lebih memotivasi dan memberikan kita semangat berlipat untuk melayani Tuhan.

Melalui Blog SABDA ini, saya, Sigit (Divisi PESTA) mewakili semua personil di balik layar YLSA mengucapkan: “Selamat Natal 2011 & Tahun Baru 2012″. Damai Kristus menyertai kita semua. Amin.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

SABDA dalam Konsultasi Pelayanan Anak Indonesia

Blog SABDA - Wed, 11/23/2011 - 14:16

Saya senang sekali mendapat kesempatan dari kantor untuk mengikuti pertemuan Konsultasi Pelayanan Anak (KPA) di Bogor pada tanggal 1 dan 2 November 2011. Selain karena memang terlibat dalam pelayanan anak, saya juga ingin berjejaring dengan banyak pelayan anak di Indonesia, terutama untuk kepentingan pelayanan Yayasan Lembaga SABDA.

Seperti biasa, dalam kegiatan apa pun, YLSA tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengampanyekan Bible Everywhere dengan membagikan “Alkitab” dalam berbagai format — software Alkitab SABDA, Alkitab mobile, aplikasi Alkitab untuk HP, dan CD Alkitab Audio. YLSA punya banyak sekali bahan untuk dibagikan, dan sebagai “hadiah khusus” untuk pelayanan anak pada acara KPA ini, kami siapkan produk terbaru YLSA, yaitu FLASHDISK SABDA ANAK dengan kapasitas 8 Giga. Harapan kami, semua peserta KPA ini dapat membawa pulang banyak bekal untuk memperlengkapi pelayanan mereka.

Untuk mengantisipasi banyaknya hal yang akan dikerjakan dalam rangka melayani peserta KPA, maka Tim SABDA datang bertiga, saya, Yochan dan Bu Yulia. Target panitia, jumlah peserta adalah 100 orang, mewakili 50 organisasi pelayanan anak di Indonesia.

Persiapan dimulai sejak seminggu sebelumnya, dibantu oleh beberapa staf YLSA lain. Tapi yang membuat saya grogi adalah ketika Ibu Yulia mengumumkan bahwa sayalah yang akan membawakan presentasi YLSA. Terakhir kali saya melakukan presentasi adalah di acara One Day Mission YSKI, bulan Maret 2011 yang lalu. Perlu latihan lagi nih, supaya bisa bicara lancar. Masalahnya, waktu presentasi sangat dibatasi, 10 menit saja untuk setiap lembaga! Ketika sampai di Bogor, ternyata panitia malah mengubahnya menjadi 7 menit, karena jumlah lembaga yang datang cukup banyak. Tapi saya sangat bersyukur, Ibu Yulia membantu mengedit presentasi saya sehingga bisa lebih padat dan jelas. Oh iya, terima kasih juga untuk Benny dan Hadi yang sudah membuatkan “Power Point” presentasi. Sangat-sangat menolong

Selain untuk mengikuti acara KPA ini, kami juga menjajagi kemungkinan mengadakan Pelatihan SABDA di Bogor. Puji Tuhan! Ibu Beatris, mitra kami dari GKI Bogor menanggapinya dengan positif. Kami juga segera mengontak Sdr. Ipunk dan istri, mantan staf YLSA yang tinggal di Bogor. Mereka ikut membantu mengontak pendetanya di GSJA Bogor untuk memperkenalkan kami kepada mereka. Nah, kami mendapat dua kesempatan pelatihan SABDA di Bogor. Wah, senang rasanya karena acara perjalanan bisa penuh dengan kegiatan.

Ada peristiwa yang mengesankan saya pada Senin, 31 Oktober 2011, dalam perjalanan “terbang” menuju Jakarta, karena saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang ternyata sedang berduka karena adiknya baru saja meninggal. Ibu ini meneteskan air mata sementara berbicara, dan saya pun spontan membagikan pengalaman duka yang juga pernah saya alami, dan bagaimana Tuhan menolong saya melewati masa-masa duka tersebut. Saya sangat bersyukur karena saya bisa berbagi tentang kasih Tuhan Yesus Doa saya, ibu ini pun mengalami perjumpaan dengan Sang Juru Selamat.

Karena pesawat terlambat berangkat dari Solo, maka kami baru tiba di Bogor, sekitar pkl. 22.00. Saya kasihan dengan Ipunk karena telah menunggu kami semalaman di terminal bus Damri Bogor. Ipunk dan istrinya begitu baik hati menjemput dan menyediakan rumahnya untuk kami berempat menginap sebelum besoknya pergi ke pertemuan KPA di Hotel Seruni. Keramahan Ipunk dan Sari membuat saya serasa di rumah keluarga sendiri. Walaupun sudah tengah malam, kami masih ingin mengobrol dan saya sangat terberkati dengan kesaksian Sari, yang ternyata adalah seorang dokter yang melayani di rumah sakit dan juga di klinik gerejanya. Saya tidak tahu persis jam berapa Yochan tidur malam itu karena dia masih asyik mengcopy flashdisk-flashdisk ketika saya dan Bu Yulia pergi tidur.

Tanggal 1 November 2011, Selasa pagi, Ipunk mengantar kami berempat ke tempat acara, yaitu di Hotel Seruni, Cisarua. Saya sudah sempat “melihat” foto Hotel Seruni dari Billy yang dulu pernah ikut acara Konsultasi Kabar Baik; dan mendengar dari Ibu Yulia (yang mengikuti acara pelatihan khotbah Langham), tentang pemandangan Hotel Seruni yang luar biasa indah. Sekarang saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Benar! Sangat cantik, serasa seperti sedang ada di Bali. Wow! Pokoknya, bagussss banget!

Usai menikmati pemandangan hotel, kami segera menyiapkan “stan SABDA” karena para peserta sudah mulai berdatangan dan mendaftar ulang. Sebelum kami benar-benar selesai menempatkan barang-barang di meja stan SABDA, beberapa peserta sudah mulai mampir menanyakan tentang SABDA, sehingga beberapa laptop, eksternal hardisk, dan juga HP sudah ngantre di stan SABDA sebelum acara dimulai. Saya senang bisa bantu Yochan jadi “teknisi”. Thanks, Yochan, untuk latihan yang sudah diberikan sebelumnya

Ada 37 lembaga dengan jumlah 70 orang peserta yang hadir dalam acara KPA ini. Di antaranya, Kids EE, Street Kids Ministry, Rumah Roti, Lembaga Pelayanan Anak, Domba Kecil, Jesus For Christ, OBI, CBN, Awana, LAI, Mailbox, Jaringan Doa Anak, YASUMA dan beberapa lagi. Setiap lembaga disediakan stan (meja) untuk mempromosikan pelayanan masing-masing.

Pak Junius Suhadi, sebagai penyelenggara KPA, membuka acara dengan memberikan kata sambutan yang sangat memberi semangat kepada setiap peserta. Harapan beliau, selama acara KPA, setiap lembaga pelayanan anak bisa saling berjejaring dan bergabung dalam Jaringan Pelayanan Anak, supaya bisa saling menolong. Ibu Yenny Krismawati memandu acara dengan penuh semangat Banyak lagu dan gerakan baru yang saya pelajari selama acara KPA ini.

B.S. Sidjabat, yang sudah sangat kita kenal sebagai tokoh di bidang Pendidikan Kristen, menjadi satu-satunya nara sumber dalam acara ini untuk membawakan materi “Mengapa Pelayanan Anak itu Penting?” Beliau membawakan materi dengan mantap dan penuh “passion” dengan pelayanan anak-anak. Pada kesempatan istirahat, Ibu Yulia menemui Pak Sidjabat dan memperkenalkan SABDA. Ternyata beliau sudah tidak asing dengan SABDA. Selain mendapatkan USB SABDA Anak, Beliau juga mendapatkan 1 set CD Alkitab Audio (dalam berbagai bahasa dan bahasa suku). Setelah mendengar penjelasan tentang Alkitab audio, Pak Sidjabat menanggapi, “Saya mau jadi pembaca Alkitab bahasa Batak… apakah boleh, Bu?” tanyanya dengan serius.

Acara selebihnya, sampai hari terakhir (Rabu) adalah presentasi dari lembaga-lembaga pelayanan anak, tak terkecuali YLSA. YLSA mendapat kesempatan untuk memberi presentasi pada malam pertama. YLSA diundang untuk mengikuti KPA karena salah satu bidang pelayanan YLSA adalah menyediakan bahan-bahan untuk pelayanan anak. Produk-produk YLSA di bidang pelayanan anak adalah publikasi e-BinaAnak, situs PEPAK, milis diskusi e-BinaGuru, FB e-BinaAnak, Twitter e-BinaAnak, forum diskusi pelayanan anak di In-Christ.Net, kelas diskusi online untuk guru sekolah minggu (PESTA GSM), dan masih banyak lagi. Meski tidak langsung melayani anak-anak, namun YLSA memperlengkapi para pelayan anak agar dapat melakukan tugas pelayanan mereka dengan lebih baik dan bertanggung jawab melalui bahan-bahan yang tersedia.

Saya mengikuti semua presentasi lembaga-lembaga pelayanan anak. Ada lembaga-lembaga yang sudah saya kenal sebelumnya, seperti pelayanan Domba Kecil, tapi banyak juga yang baru saya kenal di acara KPA ini. Satu hal penting yang saya pelajari dari setiap presentasi, bahwa Tuhan mengasihi anak-anak dengan luar biasa. Ada lembaga yang melayani anak-anak tunanetra, anak-anak autis, anak yatim piatu, anak-anak yang tidak mampu, bahkan anak-anak yang belum lahir (pro-life). Sungguh, Tuhan memerhatikan setiap domba kecil-Nya dan tidak ada satu pun yang diabaikan.

Selasa malam, pkl. 19.00, dengan izin panitia, Ibu Yulia dan Yochan meninggalkan lokasi acara untuk memberikan pelatihan SABDA di GKI Bogor. Selain beberapa jemaat dari GKI Bogor, hadir juga Pak Luki F. Hardian, rekan dari PESTA, dan 3 orang temannya. Jumlah peserta yang hadir malam itu ada 15 orang. Saya melihat mereka kembali ke Hotel Seruni lagi sudah menjelang tengah malam. Esok paginya Bu Yulia bercerita bahwa acara semalam berjalan baik, terbukti dengan komentar salah seorang peserta, “Kami perlu belajar lebih banyak lagi. Kapan datang lagi?”

Acara KPA berakhir hari Rabu, 2 November 2011 sehabis makan siang. Jadwal Tim SABDA selanjutnya adalah menuju Bogor untuk memberikan pelatihan pkl. 03.00 sore di GSJA Bogor, tempat Ipunk dan istri bergereja. Rencananya Ipunk yang menjemput kami, tapi ternyata Ipunk terjebak macet, sehingga baru pkl. 14.45 kami meninggalkan hotel menuju ke Bogor. Perjalanan menuju Bogor ternyata lebih macet lagi sehingga mobil Ipunk benar-benar merayap. Melihat waktu yang tidak memungkinkan tiba di Bogor sesuai dengan yang diharapkan, maka Ibu Yulia terpaksa harus membatalkan acara pelatihan. Kami sangat menyesal dan kecewa dengan pembatalan itu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kira-kira pkl. 18.00 kami baru masuk kota Bogor. Walaupun terlambat kami tetap menuju ke GSJA Bogor karena berharap bisa bertemu dengan hamba Tuhan di sana. Puji Tuhan kami bertemu dan berkenalan dengan beberapa hamba Tuhan GSJA dan menitipkan 100 CD Alkitab Audio TB untuk dibagikan kepada para aktivis yang kebetulan akan bertemu malam itu. Kami juga sempat melihat perpustakaan gereja dan memberikan flashdisk SABDA untuk dipasang di perpustakaan sehingga dapat menjadi berkat bagi lebih banyak orang. Pulang dari GSJA Bogor kami diajak makan malam oleh Ipunk dan Sari karena malam itu kami akan menginap lagi di rumah mereka sebelum akhirnya kembali ke Solo.

Tiba di rumah Ipunk, kami kedatangan “tamu”, tetangga Ipunk, yaitu Pdt. Jonatan. Beliau datang dengan membawa laptop dan siap mendapat “les privat” software SABDA dari Yochan. Kami berbincang banyak tentang pelayanan SABDA dan apa yang kami bisa bagikan untuk memperlengkapi pelayanannya. Dengan penuh sukacita kami memberikan banyak CD Alkitab Audio bahasa Nias karena beliau akan berkunjung ke Nias dalam waktu dekat, juga bahan-bahan biblika yang berlimpah ruah untuk pelayanannya. “Semua bahan ini pasti akan sangat menolong pelayanan saya,” kata Pak Jonatan dengan tersenyum lebar. Puji Tuhan! Akhirnya, sekitar pkl. 24.00, Pak Jonatan pulang dengan membawa segerobak bahan-bahan, dan kami segera tidur pulas karena kelelahan. Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan siap diantar Ipunk ke terminal Bogor untuk selanjutnya menuju bandara di Jakarta untuk kembali ke Solo. Sekali lagi, terima kasih Ipunk dan Sari untuk semua kebaikannya.

Wow! Ini adalah perjalanan yang cukup panjang bagi saya. Kami bertemu dengan banyak orang, mengikuti acara yang padat, belajar hal-hal baru, dan mendengarkan banyak sharing tentang pelayanan anak. Secara fisik dan mental tentu kami sangat lelah, tapi secara hati kami penuh sukacita. Kiranya Tuhan terus memberikan kekuatan kepada kami semua, terutama kepada Ibu Yulia, karena sejak Oktober yang lalu ada banyak perjalanan yang dilakukan. Semangat beliau menjadikan saya tetap bersemangat pula Makasih ya Bu, buat “tularan” semangatnya

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Pelatihan Penulis Kristen di Solo

Blog SABDA - Fri, 11/18/2011 - 15:31

Kerinduan YLSA yang sudah sangat lama untuk mengadakan pelatihan penulis Kristen akhirnya tercapai. Hal ini dimulai ketika kami mengadakan pertemuan “khusus”, pada tanggal 12 Agustus 2011, antara YLSA, yang diwakili oleh Ibu Yulia dan beberapa staf YLSA (Evie, Novi, Santi, Yudo) dan Tim SHOW ME, yaitu Pak Purnawan, Pak Arie Saptaji, Ibu Agustina Wijaya, dan Pak Agus). Pertemuan singkat ini menghasilkan kerjasama untuk menyelenggarakan acara “Pelatihan Penulis Kristen” di Solo, pada tanggal 9 dan 10 November 2011. Sesuai dengan kesepakatan dalam pertemuan tersebut, YLSA akan menjadi pihak penyelenggara (panitia pelaksana) dan Tim SHOW ME menjadi pembicara. Tapi selain acara pelatihan, kami juga sepakat untuk meramaikan acara ini dengan mengadakan Bursa Buku Kristen yang akan diatur oleh Pak Agus dari PT. Gloria Usaha Mulia.

Kepanitiaan pun segera dibentuk dan saya ditunjuk oleh teman-teman untuk menjadi ketua. Sebenarnya sih masih banyak waktu untuk persiapan (tiga bulan), tapi saya sudah deg-deg’an sejak bulan Oktober… hehe Sebagai ketua panitia mestinya saya harus tahu apa yang harus diatur, tapi saya masih bingung, maklumlah karena masih sedang belajar. Puji Tuhan, Ia senantiasa menolong kami semua untuk bisa bekerjasama dan berbagi tugas — membuat brosur dan spanduk, mencari tempat pelatihan, menyusun acara, menyiapkan perlengkapan, sound system, rekaman, konsumsi, dll. Tempat pelaksanaan diputuskan di Gedung Serbaguna GKJ Manahan Solo. Gedung ini tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung 70 – 100 peserta dan tempatnya cukup strategis, dekat gedung Gelora Manahan Solo.

Panitia sangat bersyukur karena ternyata masyarakat Kristen Solo cukup antusias menyambut acara Pelatihan Penulis Kristen ini. Sampai hari H, jumlah peserta yang mendaftar ada sekitar 70 orang. Tempat seminar menjadi terlihat padat, karena harus berbagi tempat dengan Bursa Buku Kristen. Peserta yang hadir ternyata bukan dari kalangan pemula saja, sebaliknya banyak dari mereka yang telah berkecimpung di dunia penulisan, misalnya penulis renungan Spirit, Renungan Harian, Renungan Pagi/Malam, aktivis gereja dan pelayanan mahasiswa (Perkantas dan LPMI).

Tiga pembicara dari Tim SHOW ME (Pak Purnawan, Pak Arie dan Ibu Agustina), ditemani oleh Ibu Ita Siregar, seorang penulis novel, yang juga ikut membantu sebagai fasilitator. Acara pelatihan dibagi menjadi 4 sesi, yaitu:
1. Menulis Itu Mendatangkan Berkat (oleh: Ibu Agustina)
2. Menulis Sebagai Gaya Hidup (oleh: Pak Arie)
3. Menyulap Tulisan Menjadi Uang (oleh: Pak Purnawan)
4. Sharing Proses Kreatif (oleh: Ibu Ita)

Materi disajikan dengan cukup santai oleh masing-masing pembicara. Disediakan makalah dari masing-masing pembicara untuk peserta. Di antara materi yang disajikan, ada materi yang cukup menjadi berkat buat saya, yaitu tentang 4 alasan mengapa kita menulis:
1. Kita menulis agar orang-orang yang mencari kebenaran, tahu di mana mereka bisa mendapatkannya.
2. Kita menulis agar ada warisan yang dapat diteruskan.
3. Kita menulis agar kehidupan terus berlangsung bagi generasi selanjutnya.
4. Kita menulis karena Tuhan telah memberi kita kreativitas.

Lalu, apa yang perlu ditulis? Penulis Kristen harus ambil bagian dan bertanggung jawab dalam mengupayakan pertumbuhan rohani umat Kristen. Tulisan yang disajikan sedapat mungkin harus membawa orang untuk memiliki pandangan yang lebih dewasa dalam imannya. Jadikan Kristus sebagai pusatnya, maka tulisan yang kita buat akan menjadi berkat bagi pembacanya. Hal penting yang tidak boleh dilupakan, bahwa tujuan hidup adalah untuk kepentingan Tuhan, bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Penyajian dikemas sedemikian rupa, sehingga peserta tidak hanya mendengarkan ceramah, tapi juga melakukan latihan, baik secara pribadi maupun dalam kelompok-kelompok kecil. Contohnya pelatihan hari kedua, peserta dikelompokkan sesuai dengan minatnya (artikel/Opini, Renungan, atau Cerpen/Puisi). Masing-masing kelompok didampingi oleh seorang pembicara sebagai fasilitator. Selain menjadi panitia, saya pun ikut menjadi peserta dan bergabung dalam kelompok kecil. Melalui kelompok ini, saya mendapatkan banyak berkat dari sharing peserta lain, terutama melalui pengalaman mereka membuat cerpen dan puisi. Saya semakin belajar, bahwa hidup dekat dengan Tuhan dan dipenuhi oleh-Nya, akan membuat kita lebih mudah menulis, karena ada banyak anugerah Tuhan yang bisa kita bagikan sehingga tulisan kita dapat memuliakan nama Tuhan.

Pada kesempatan ini, YLSA juga membuka stan SABDA, dimana peserta bisa mendapatkan secara gratis berbagai produk pelayanan YLSA, misalnya CD Alkitab Audio, Alkitab mobile untuk HP, Software SABDA dan Flashdisk SABDA. Semoga apa yang dilakukan YLSA ini semakin mendorong kemajuan pelayanan literatur Kristen di Solo pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Saya melihat, cukup banyak peserta yang memanfaatkan produk-produk YLSA ini untuk kemajuan pelayanan mereka. Puji Tuhan!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Sabda-Nya Menuntunku ke SABDA

Blog SABDA - Wed, 11/09/2011 - 15:44

Tak terasa sudah 4 bulan sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di Solo untuk bergabung dengan Yayasan Lembaga SABDA. Tak pernah terpikir sebelumnya untuk ikut ambil bagian dalam lembaga pelayanan ini. Dulu saya mengira YLSA hanya bergerak di bidang teknologi informasi saja, sementara saya adalah seorang lulusan dari sastra Inggris. Namun, setelah seorang teman memberi saya informasi mengenai lowongan sebagai penerjemah di YLSA maka saya pun mulai berdoa dan bergumul dengan firman Tuhan untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk melamar kerja di lembaga pelayanan ini.

Saya tiba di Solo pada hari Minggu sore tanggal 19 Juni 2011 dan langsung bertemu dengan ibu Yulia Oeniyati. Hari itu juga saya dibawa ke kantor untuk melihat tempat kerja yang akan saya tempati selama masa percobaan. Keesokan harinya, setelah persekutuan doa staf yang rutin diadakan pada hari Senin (dan Jumat), saya mulai belajar “adat-istiadat” kantor, mulai dari administrasi (diorientasi oleh mbak Melina Martha), dilanjutkan dengan pengenalan tata kerja tim penerjemah (oleh Truly), dan dilatih menggunakan software pengetikan (oleh mbak Santi). Hari itu saya juga mendapat tugas terjemahan dari mbak Novi yang menjabat sebagai Koordinator Divisi Publikasi. Hari pertama yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan. Untuk seorang yang cenderung penyendiri seperti saya, tak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya dapat bekerja dengan banyak orang dan semenarik ini.

Selama masa percobaan di YLSA, saya juga mendapat banyak pemikiran baru mengenai hal-hal yang selama ini kurang saya perhatikan, terutama dalam hal pengembangan diri. Bisa dikatakan, masa percobaan saya lebih banyak berisi pembelajaran, baik mempelajari hal-hal teknis maupun hal-hal rohani.

Singkat cerita, akhirnya pada hari Senin, tanggal 26 September 2011, saya menjalani akhir masa percobaan dengan memberikan presentasi di hadapan seluruh staf YLSA. Saya dibantu oleh Hadi dan Khenny untuk menyiapkan perangkat presentasi, seperti proyektor LCD dan laptop. Jujur, waktu terasa sangat lambat ketika saya memberikan presentasi itu, tapi dengan pertolongan Tuhan saja akhirnya saya dapat memberikan yang terbaik. Satu hal yang sangat membantu saya, di akhir presentasi itu semua staf yang mendengar presentasi saya wajib memberikan komentar dan kritik sehingga saya dapat langsung menyadari hal apa saja yang masih harus diperbaiki dalam memberikan sebuah presentasi.

Pada hari Rabu tanggal 28 September 2011 saya dinyatakan lulus masa percobaan di YLSA dan diberi lebih banyak lagi tanggung jawab yang baru di Divisi Publikasi. Saya sadar, ini bukan akhir dari proses yang Tuhan inginkan bagi saya, ini justru sebuah awal untuk semakin belajar mengenai pelayanan di bidang publikasi dan mengembangkan diri demi pekerjaan baik yang Tuhan sudah siapkan bagi saya.

Berkaitan dengan pengembangan diri, pada tanggal 24 — 25 Oktober yang lalu saya termasuk salah satu dari empat orang dari YLSA yang diundang untuk menghadiri Pelatihan Penulis Renungan Kristiani (Papirus) di Jogja, tepatnya di Wisma Joglo yang diselenggarakan oleh Yayasan Gloria. Sebenarnya, pelatihan ini adalah bagian kedua atau bagian lanjutan dari pelatihan Papirus yang sudah diselenggarakan pada bulan Juni tahun ini. Jika dalam pelatihan pertama tersebut para peserta dibekali dengan teknik-teknik menulis, maka kali ini pelatihan Papirus lebih menitikberatkan kepada pendalaman Alkitab untuk memperkuat isi renungan.

Secara garis besar pelatihan ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Tahap Persiapan yang berisi metode-metode penggalian Alkitab, Tahap Penulisan yang berisi penjelasan mengenai bentuk dan karakteristik tulisan Renungan Harian serta praktek menulis, dan yang terakhir adalah Tahap Penyuntingan yang ditujukan untuk menegaskan ketentuan dan aturan penulisan naskah renungan dan mengoreksi hasil tulisan peserta.

Dalam pelatihan ini, Tim SABDA memberikan materi mengenai Penyelidikan Alkitab dalam dua sesi di Tahap Persiapan. Setelah makan siang pada hari pertama, ibu Yulia menyampaikan bagian pertama dari sesi Penyelidikan Alkitab. Beliau menjelaskan prinsip-prinsip mengamati perikop menggunakan metode 8 Langkah dan memformulasikan hasil pengamatan itu dalam bentuk P-I-A (Penjelasan-Ilustrasi-Aplikasi) yang diambil dari Pelatihan Khotbah Langham. Untuk mempersiapkan sesi kedua, selama waktu istirahat saya dan Benny membantu para peserta pelatihan melakukan instalasi software SABDA ke dalam laptop mereka. Sesi kedua Tim SABDA menyampaikan metode menggali Alkitab yang disebut “A.L.A.T.”, sebuah metode yang dikembangkan berdasarkan fitur-fitur yang terdapat dalam software SABDA. Huruf “A” mewakili kata “Ayat” atau menggali sebuah ayat dengan memahami konteks. Huruf “L” mewakili “Linguistik”, yaitu mendalami sebuah ayat dengan menyelami kata-kata di dalam ayat tersebut dengan bantuan nomor STRONG, leksikon , kamus, thesaurus, perbandingan versi terjemahan Alkitab yang lain, konkordansi dan fitur pencarian kata. Huruf “A” yang selanjutnya mewakili kata “Asosiasi” atau metode yang menggali sebuah ayat dengan mencari referensi silang dari ayat yang digali, dan yang terakhir yaitu “Topikal” yang diwakili oleh huruf “T”; metode ini melihat sebuah konsep atau segi teologis dari sebuah ayat dengan bantuan sistem topikal seperti Torrey, Elwell, Naves, Thompson, dan lain-lain.

Selama acara Papirus ini, YLSA juga membuka “booth” di depan aula pertemuan dan membagikan Alkitab audio dalam berbagai bahasa suku kepada peserta yang membutuhkannya. Kami juga menyediakan Flashdisk SABDA Penulis dengan kapasitas sebesar 8GB yang berisi software SABDA berikut bahan-bahan lain yang sangat membantu para peserta, misalnya kompilasi kamus off-line dan perangkat yang lainnya (KBBI, Kamus Seasite, tesaurus, dan artikel-artikel kepenulisan).

Begitu banyak hal yang saya terima dari dua hari pelatihan itu, tetapi pelajaran yang saya rasa paling melengkapi saya, selain mengenai teknis penulisan renungan, adalah mengenai tanggung jawab untuk mempelajari Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan dengan cara yang benar sebelum saya membagikannya kepada orang lain baik melalui tulisan maupun secara lisan. Sepenggal kalimat yang saya ingat ketika ibu Yulia memberikan materi penyelidikan Alkitab siang itu, “sekarang setelah Anda mendapat alat-alat dan metode untuk menyelidiki Alkitab, Anda tidak memunyai alasan untuk tidak menyelidiki Alkitab dengan benar!”

Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan yang sudah menuntun saya ke YLSA dan berterima kasih kepada Ibu Yulia dan semua teman-teman di YLSA yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk bergabung dan berkembang bersama dengan YLSA. Kiranya, kehadiran saya dapat menjadi berkat bagi YLSA dan bagi rekan-rekan yang melayani di dalamnya serta dapat memberikan sumbangsih bagi pelayanan yang dipercayakan oleh Tuhan kepada lembaga ini. Kiranya segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

YLSA dalam “Indonesian Cross Cultural Conference VII”

Blog SABDA - Fri, 11/04/2011 - 11:17

Pada tanggal 18 — 21 Oktober 2011, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Indonesian Cross Cultural Conference VII (ICCC) di Solo. Saya diutus oleh YLSA karena saya adalah Pemimpin Redaksi e-JEMMi, yang merupakan salah satu e-publikasi yang diterbitkan YLSA yang membahas tentang misi.

Tema ICCC VII kali ini adalah “Catch the Vision, Do the Mission”. Peserta yang menghadiri ada sekitar 100 orang dari berbagai tempat dan organisasi. Tujuan diadakannya konferensi ini adalah untuk menyemangati gereja-gereja, khususnya gereja-gereja di Indonesia, untuk selalu menjadikan panggilan Amanat Agung Yesus Kristus sebagai tugas utama gereja di dunia. Saya sangat bersyukur acara ini dapat berjalan dengan lancar, karena beberapa waktu sebelumnya kota Solo sempat diguncang dengan peristiwa bom bunuh diri.

Acara dari pagi sampai siang hari dibagi dalam tiga sesi, yaitu “Bible Exposition”, “Plenary Session”, dan “Interest Group” (kapita selekta). Pada malam harinya diadakan acara “Mission Night” yang sifatnya terbuka — selain peserta, orang-orang lain juga boleh datang. Pembicara yang diundang dalam konferensi ini ada 13 orang. Mereka menyampaikan materi yang sangat bagus dan sangat memberkati karena membuka dan menambah wawasan saya seputar pelayanan misi. Melalui sesi-sesi yang dibawakan saya bisa melihat dengan lebih jelas lagi apa yang sedang Tuhan kerjakan di dunia saat ini.

Satu hal yang ditekankan dalam ICCC ini adalah pentingnya melihat pelayanan misi sebagai sebuah panggilan, artinya setiap orang percaya harus bersaksi dan wajib terlibat dalam pemberitaan Kabar Baik, karena kita semua adalah duta-duta Allah di dunia. Pelayanan misi juga harus dilaksanakan karena sebuah visi, bukan visi pribadi tapi visi yang berasal dari Allah, maka pelayanan misi kita pasti berhasil. Tapi pelayanan misi sering dianggap hanya sebagai suatu program, sehingga biasanya kita terjebak masuk pada program yang sedang “trend”, dan mulai menghitung untung-ruginya bagi diri pribadi. Selain itu, dijelaskan juga mengenai landasan dalam melakukan pelayanan misi yaitu kasih, di mana kita harus melihat setiap orang sebagai mana Tuhan melihat, artinya setiap manusia harus dipandang sesuai dengan gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26)

Sebuah kesaksian yang memberkati saya adalah sharing dari China mengenai perkembangan kekristenan di China saat ini. Visi mereka adalah menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus, tidak hanya untuk etnis mereka sendiri, melainkan untuk entis-etnis lainnya, agar mereka juga beroleh anugerah keselamatan. Masih banyak lagi berkat yang dibagikan dalam konferensi ini, tapi kalau saya ceritakan semua, blog ini bisa jadi panjang banget .

Di sesi “Interest Group”, setiap peserta boleh memilih, sesuai dengan minat pribadi. Ada 4 “Interest Group” yang dibuka, dan masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 25 peserta. Saya memilih kelompok 4, yang membahas tentang “Living Peacefully among Majority”. Apa yang disampaikan pembicara sangat menarik dan memberkati, karena melalui pelayanannya pembicara dapat membawa dampak yang baik bagi pekerjaan Tuhan.

Selain mendapatkan banyak pengajaran, saya juga mendapatkan teman-teman baru. Peserta konferensi ini sebagian besar kaum pria, yang wanita hanya sekitar 10 atau 15 orang saja. Pada saat “Coffee Break”, kita saling berbagi cerita seputar pelayanan masing-masing. Salah satu teman baru saya adalah calon utusan Injil yang akan melayani di salah satu negara di Asia. Saat ini ia masih terus belajar dan mencari informasi seputar negara tersebut. Ada juga peserta yang sebelumnya sudah saya kenal, tepatnya pada pelatihan “Conversational Evangelism” di Yogyakarta setahun yang lalu. Senang sekali bisa bertemu dengan rekan-rekan yang melayani misi di berbagai tempat.

Oya, dalam konferensi ini YLSA juga membuka “booth” bagi peserta yang ingin mendapatkan program SABDA dengan gratis. Tersedia juga flashdisk (USB) yang berisi bahan-bahan kekristenan dan Alkitab Audio dalam berbagai bahasa. Ada juga peserta yang mampir ke booth SABDA dan menjadi terheran-heran dengan apa yang telah dikerjakan YLSA. Mereka kagum dan bingung, bagaimana YLSA bisa melakukan pekerjaan yang sangat banyak ini. Luar biasanya, semua bahan dibagikan dengan gratis! Secara pribadi, saya hanya bisa menjawab, “semua dicukupkan oleh Tuhan.”

Wah, pokoknya senang banget deh, bisa mengikuti ICCC ini. Kiranya setiap peserta yang hadir di konferensi ini semakin diteguhkan dalam melayanai Tuhan di bidang misi.

Segala kemuliaan hanya bagi Dia.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Flashdisk (USB) SABDA

Blog SABDA - Mon, 10/31/2011 - 15:07

Tak terasa sudah 17 tahun Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) melayani masyarakat Indonesia dalam bidang pelayanan elektronik melalui media komputer dan internet. Banyak proses yang dilalui dan tidak ada satu pun yang lepas dari penyertaan Tuhan. Selama saya berada di YLSA (1 tahun 8 bulan), saya merasakan bagaimana Tuhan menuntun kami semua bertumbuh secara bertahap dan pasti. Saya sangat bersyukur karena YLSA banyak mengalami perkembangan, mulai dari situs-situs SABDA, Alkitab untuk HP, Alkitab Audio, Alkitab Mobi, Kelas virtual PESTA, Komunitas YLSA, Roadshow, Seminar, Pelatihan SABDA, dll..

Pelayanan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) terus mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat Kristen untuk mempelajari Alkitab dengan bertanggung jawab. Salah satu dampak perkembangan teknologi adalah meningkatnya penggunaan gadget-gadget produk IT untuk mendukung segala macam aktivitas manusia, termasuk oleh orang-orang Kristen. Hal inilah yang mendorong YLSA untuk ikut menggunakan gadget-gadget tersebut sebagai kemudahan dalam memperlengkapi masyarakat Kristen. Salah satunya adalah flashdisk, yang sangat memudahkan untuk transfer data. YLSA pun sekarang memanfaatkan flashdisk untuk menyebarkan bahan-bahan SABDA kepada lebih banyak orang lagi.

Mengapa menggunakan flashdisk (USB)?

Pertama, karena alasan praktis. Untuk mengcopy bahan sebesar 8 GB akan butuh waktu, apalagi kalau banyak orang meminta pada saat yang sama. Kalau mereka bisa langsung mendapatkan dalam flashdisk yang sudah diisi bahan-bahan sebelumnya, maka akan sangat mudah sekali melayaninya. Tapi yang menjadi alasan paling utama adalah agar penyebaran bahan-bahan dari SABDA tersebut bisa semakin luas. Kalau ada orang yang ingin membagikan bahan-bahan tersebut kepada teman-teman lain, maka dengan alat flashdisk akan sangat mudah sekali untuk mentransfer data.

Kedua, karena alasan kemajuan teknologi. Dulu YLSA memakai alat CD untuk membagikan program/software SABDA, yang dapat memuat 500Mb data. Tapi sekarang YLSA sudah memunyai jauh lebih banyak bahan selain program SABDA, yang tidak bisa dimuat dalam CD atau DVD. Selain itu, saat ini banyak orang yang memakai netbook, yang sudah tidak lagi dilengkapi dengan diskdrive, maka memasukkan data menggunakan flashdisk menjadi solusi yang mudah. Perkembangan teknologi yang semakin maju juga menjanjikan USB dalam kapasitas yang besar untuk memuat banyak data. Namun demikian, kendalanya adalah harga flashdisk yang masih cukup tinggi, sehingga belum disa dibagikan secara gratis.

Flashdisk apa saja yang disediakan YLSA?

Karena dari hari ke hari bahan-bahan yang dikumpulkan YLSA semakin banyak maka, kami telah menyediakan beberapa flashdisk untuk beberapa keperluan yang berbeda-beda.

  1. Flashdisk SABDA
  2. Flashdisk Anak
  3. Flashdisk Alkitab Audio
  4. Flashdisk Mandarin

Apa saja yang ada dalam flashdisk-flashdisk tersebut?
Berikut adalah daftar isinya:

A. Flashdisk SABDA

  1. SABDA (Software Alkitab, Biblika dan Alat-Alat) [1 GB]
  2. Materi Biblika [3 GB]
  3. Materi Anak [3 GB]
  4. Materi Mobile [1 GB]

B. Flashdisk Anak

  1. SABDA (Software Alkitab, Biblika dan Alat-Alat) [1 GB]
  2. Materi Anak [4,5 GB]
  3. Materi Biblika [2,5 GB]

C. Flashdisk Alkitab Audio

  1. Materi Alkitab Audio CD dan HP Quality [7,3 GB]
  2. Aplikasi HP [103 MB]

D. Flashdisk Mandarin

  1. Bahan-Bahan Multimedia Chinese (Video dan Audio) [3,5 GB]
  2. Materi Mandarin Lainnya [658 MB]

RINCIAN ISI:

I. Software Alkitab SABDA (1 GB)

  1. 70+ versi terjemahan Alkitab
  2. 25+ catatan & tafsiran Alkitab
  3. Kamus bahasa & kamus Alkitab
  4. 9 Leksikon Ibrani & Yunani
  5. Ratusan buku Kristen

II. Materi Biblika (3 GB)

  1. Alkitab untuk HP
  2. Alkitab Audio MP3, versi Terjemahan Baru (Kualitas HP)
  3. Sekolah Alkitab Audio Mini (427 Sesi, 130 Jam)
  4. Alkitab Video
  5. e-Books [494 MB]
  6. Lain-Lain

III. Materi Anak (4,5 GB)

  1. 100+ Alkitab Cerita Bergambar
  2. 8 Film Alkitab
  3. 80+ Animasi untuk Anak
  4. 4 Klip Yesus
  5. 22 Cerita Alkitab
  6. 6 Ilustrasi Video
  7. 3000 Gambar Ilustrasi Alkitab
  8. Bahan-bahan KTB
  9. Bundel e-BinaAnak dan Komik Alkitab
  10. Lain-Lain

IV. Materi Penulis (550 MB)

  1. Bundel PDF e-Penulis (2004 — 2010)
  2. Bundel PDF e-Renungan Harian dan e-Santapan Harian (1997 — 2010)
  3. Kamus SABDA offline
  4. Kamus Alkitab offline
  5. Materi-Materi Pelatihan Penulis
  6. Sumber Bahan Pelayanan Penulis Kristen
  7. Situs-Situs Offline Kepenulisan Kristen
  8. Materi Parakaleo

V. Materi Mobile (1 GB):

  1. Alkitab untuk berbagai “Operating System” HP (Blackberry, Android, iOS, Palm OS, Symbian, Java, Windows)
  2. Alkitab PDF

VI. Materi Alkitab Audio (7,3 GB)

  1. 6 Versi Alkitab Audio CD Quality (3,4 GB)
  2. 18 Versi Alkitab Audio HP Quality (3,9 GB)

VII. Aplikasi HP (103 MB)

  1. App Indonesia-GoBible (59 MB)
  2. App Kidung-GoBible (1 MB)
  3. App Suku-GoBible (43 MB)

VII. Bahan-Bahan Multimedia Chinese (3,5 GB)

  1. Video Bible (130 MB)
  2. Audio Bible (850 MB)
  3. Audio Mini Bible College Classes (2 GB)
  4. The Bible Basically Power Point (560 MB)

IX. Materi Mandarin Lainnya (658 MB)

  1. Aplikasi Alkitab-GoBible (7 MB)
  2. Compiled HTML Chinese Bible (1 MB)
  3. Chinese Treasures 5.0 (650 MB)

Saat ini usaha menyediakan bahan-bahan kekristenan yang baik bagi masyarakat Kristen adalah penting, bahkan kalau boleh dibilang sangat mendesak. Walaupun banyak orang menganggap ada kemajuan pertumbuhan kekristenan di Indonesia, namun pertumbuhan itu tidak disertai dengan kedalaman akar (“growth without depth”). Suatu ketika akan roboh karena tidak ada esensi dalam pertumbuhan tersebut. Oleh karena itu, mari kita tumbuhkan kecintaan untuk belajar firman Tuhan dengan alat-alat yang baik supaya kekristenan di Indonesia menjadi kuat dan tidak mudah diombang-ambingkan angin pengajaran yang sesat.

Saya mengajak setiap Anda untuk memperlengkapi diri dengan bahan-bahan kekristenan yang baik yang terdapat dalam USB SABDA. Saya yakin bahwa semua bahan yang ada dalam USB ini akan memberikan dampak yang sangat baik untuk pertumbuhan iman kita. Bagi Anda yang berminat, silakan memesan kepada kami melalui email di < ylsa(at)sabda.org >. Mari kita belajar mencintai firman Tuhan dan terus membuka hati kita untuk menerima firman-Nya.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

YLSA Menyelenggarakan Seminar Siklus Spiritual

Blog SABDA - Sat, 10/29/2011 - 09:50

Pada bulan September yang lalu, YLSA kembali menyelenggarakan seminar rohani di kota Solo, yang berjudul Siklus Spiritual yang dibawakan oleh Pdt. Yohan Candawasa. Saya pun sangat bersyukur kepada Tuhan, karena bisa ikut terlibat dalam kepanitiaan. Lebih dari itu, momen ini sangat menyejukkan jiwa saya, karena ketika saya merasakan “kekeringan” secara rohani, Dia memberi semangat baru melalui siraman firman dalam seminar ini.

Persiapan seminar sudah kami lakukan sejak bulan Juli 2011. Mulai dari mencari tempat seminar, membuat brosur, banner dan tiket, mengurus surat-menyurat dan publikasi, sampai memesan konsumsi dan berlatih pujian. Selain melibatkan semua staf YLSA, kami juga dibantu oleh rekan pelayanan kami, Ibu Widya, yang berdomisili di Solo. Melayani bersama-sama merupakan kesempatan yang menyenangkan. Masing-masing memiliki tanggung jawab supaya semua berjalan dengan lancar terkoordinasi dengan baik.

Dalam seminar ini, saya melayani sebagai singer bersama Fitri dan Rian. Kami berdoa bersama dengan pembicara, Pdt. Yohan Candawasa, sebelum seminar dimulai. Meskipun saya sudah pernah bertemu dengan Pdt. Yohan Candawasa, tapi baru kali ini bisa berbicara dan berfoto bersama. Hal yang juga seru malam itu adalah dapat bertemu dengan beberapa mantan staf YLSA dan berfoto bersama. Serasa reuni!

Dalam seminar ini, Pdt. Yohan Candawasa membahas tema “Siklus Kehidupan Kristen”. Beliau mengawali dengan membeberkan fakta adanya 2 jurang yang sering menjadi penghalang pertumbuhan rohani orang Kristen. Jurang pertama disebabkan karena hubungan yang rusak antara manusia dan Allah oleh dosa. Untuk itu, Yesus datang ke dunia dan mati disalib untuk menutupi jurang itu sehingga manusia dapat diselamatkan, kembali kepada Allah dengan status sebagai “orang kudus”, tidak lagi sebagai “orang berdosa”. Keselamatan ini adalah karya Kristus yang gratis karena tidak menuntut usaha manusia (Efesus 2:8-9), itu semua adalah anugerah. Namun setelah menerima keselamatan, hidup baru dalam Kristus ternyata tidak lagi gratis — ini menjadi jurang kedua yang harus dilewati orang Kristen, “hidup Kristen yang ideal”, yang akhirnya dijalani sebagai rutinitas keagamaan. Lebih jelas lagi, Pdt. Yohan menunjukkan apa yang dikatakan oleh Wang Ming Tao sebagai “termometer hidup rohani”, yang berisi daftar tuntutan hidup orang Kristen yang ideal:
- rajin berdoa
- pergi ke gereja
- membaca Alkitab setiap hari
- menginjili
- melayani
- dst..

Tuntutan-tuntutan baru ini oleh Pdt. Yohan disebut sebagai Hukum Taurat baru, karena jika tidak dipenuhi akan menimbulkan rasa berdosa. Daftar tuntutan itu makin lama makin panjang, dan orang Kristen menjadi semakin tertekan karena selalu gagal memenuhinya. Di sinilah siklus kerohanian mulai terjadi, yaitu kerohanian yang berbentuk siklis. Menurut Kamus SABDA , kata siklus berarti putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur. Jadi, siklus kerohanian terjadi ketika orang Kristen berputar-putar pada perbuatan yang sama — yaitu jatuh dalam dosa, mengaku dosa, lalu mohon ampun kepada Tuhan dan berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi. Tapi sesaat kemudian, ia jatuh lagi dalam dosa yang sama, lalu mengulangi lagi tindakan sama, lagi dan lagi. Jika orang Kristen sudah masuk ke dalam siklus ini, maka kerohaniannya pasti akan mati.

Pada fase inilah orang Kristen menyadari bahwa “salvation is free, but discipleship is costly“. Salib dan anugerah seakan-akan hanya berlaku pada saat mendapatkan keselamatan, tetapi tidak lagi berguna setelah diselamatkan. Sebaliknya, hidup baru menjadi Kristen menjadi hidup yang sangat mahal, karena harus dibayar dengan usaha yang sangat melelahkan dan kerja keras. Dan pada akhirnya, kehidupan kerohanian Kristen dengan siklus seperti ini akan menjadi beban yang teramat berat dan sangat mengecewakan. Oleh karenanya, tidak jarang orang Kristen pada fase ini akan ketakutan dan bertanya, “jangan-jangan aku belum diselamatkan?” Bisakah orang Kristen keluar dari siklus kehidupan kerohanian yang “dead-end/buntu” seperti ini?

Penjelasan tentang siklus rohani yang terjadi pada banyak orang percaya ini benar-benar menyentak saya, karena itulah yang juga saya alami. Dalam menjalani hidup, tidak jarang saya berkutat dalam siklus pengudusan: berkomitmen untuk hidup benar dan kudus, tapi gagal dan berbuat dosa, lalu mohon ampun, dan berkomitmen lagi untuk tidak mengulanginya, namun gagal lagi dan seterusnya. Menjadi orang Kristen dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat tidak otomatis membuat kita menjadi manusia super yang imun terhadap dosa. Manusia memang sudah rusak karena dosa dan akan tetap rusak selama kita masih hidup di dunia. Status kitalah yang sudah diubahkan oleh Tuhan, dari “berdosa” menjadi “kudus”, bukan keadaan kita.

Semakin kita menyadari keberdosaan kita dan kerusakan kita, maka semakin besar rasa syukur kita kepada Tuhan, dan salib Kristus menjadi semakin berharga dalam hidup kita. Salib Kristus harus semakin bertumbuh besar dalam hidup kita, karena kita menyadari tanpa karya salib Kristus, hidup kita tidak ada apa-apanya dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu sebabnya, Yesus berkata dalam Matius 18:21-35, bahwa orang yang berhutang paling banyak akan bersyukur paling banyak. Demikian juga yang Paulus alami di dalam I Timotius 1:15. Karena itu, jalan keluar yang dapat kita ambil untuk menjalani kehidupan rohani yang kerap kali jatuh bangun adalah dekat dengan Tuhan. Semakin kita dekat dengan Tuhan, maka semakin nyata dosa-dosa kita, dan kita akan semakin bergantung kepada Tuhan. Semakin kita bergantung kepada Tuhan, maka semakin besar rasa syukur kita kepada Tuhan.

Bagaimana dengan rekan-rekan YLSA yang lain? Cerita ya…
Terima kasih.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Roadshow YLSA — Jakarta “Marathon”

Blog SABDA - Fri, 10/28/2011 - 17:06

Pada tanggal 14-16 Oktober 2011 yang lalu, tim SABDA — saya, Hadi dan Ibu Yulia berangkat ke Jakarta. Tujuan utama perjalanan kami ini adalah untuk memenuhi undangan untuk memberikan kesaksian tentang pelayanan YLSA di GRII Karawaci dan juga memberikan beberapa pelatihan SABDA — di STT Pelita Bangsa, di Gereja New Wine dan di GKI Samanhudi.

Perjalanan ke Jakarta kali ini cukup unik, khususnya bagi Hadi karena baru kali ini dia akan naik pesawat terbang. Meskipun begitu, selama perjalanan dia tidak terlihat seperti orang bingung. Tapi ada satu peristiwa yang membuatnya canggung, yaitu ketika Ibu Yulia menariknya untuk berfoto bersama salah seorang pilot ‘bule’ ketika mendarat di Jakarta

Kami berangkat Jumat siang (14 Oktober), dan mendarat sesuai dengan jadwal, yaitu pukul 15.30. Sempat terjadi kebingungan setelah kami selesai mengambil semua bagasi dan keluar dari ruang kedatangan, karena pak Mardi, yang bertugas menjemput kami, tidak kami temukan. Baru setelah dikontak, Pak Mardi menyadari bahwa ia menjemput kami di tempat keberangkatan. Puji Tuhan akhirnya kami bertemu Pak Mardi. Pukul 16.00 kami menuju tempat parkir. Tapi sore itu keadaan di tempat parkir sangat macet sehingga mobil kami tidak bisa ke mana-mana, padahal pelatihan SABDA di STT Pelita Bangsa, Pasar Baru, dijadwalkan pukul 17.00. Sepertinya mustahil untuk bisa sampai di Pasar Baru tepat waktu, apalagi kami belum tahu dengan pasti di mana lokasi STT tersebut. Tapi yang terjadi sangat berbeda dari yang kami pikirkan. Penyertaan Tuhan sungguh nyata bagi kami, pukul 17.00 tepat kami sudah bisa berada di lantai 4 STT Pelita Bangsa, siap melakukan pelatihan SABDA. Puji Tuhan!

Acara pelatihan berjalan cukup baik, ada beberapa mahasiswa STT Pelita Bangsa yang sudah mengenal SABDA dari internet, tapi banyak yang belum tahu tentang produk software SABDA. Kami bersyukur karena malam itu software SABDA bisa kami ajarkan dan bagikan ke laptop-laptop mahasiswa. Doa kami, kiranya SABDA bisa dipakai untuk menggali firman Tuhan dengan lebih baik. Selain mempresentasikan tentang YLSA (oleh Ibu Yulia), dan software SABDA (oleh saya), kami juga mempresentasikan tentang Alkitab Mobile dan Audio (oleh Hadi). Setelah selesai acara, kami melihat dua wajah ceria dari mas Daniel dan istri yang duduk di barisan belakang. Malam itu kami memang sudah merencanakan untuk pergi dalam 2 kelompok yang berbeda dengan tujuan yang berbeda — saya dan Hadi akan pergi dengan mas Daniel dan istri untuk berbagi cerita, karena lama tidak ketemu, sedangkan Ibu Yulia akan bertemu dengan pak Gunawan dan istrinya untuk membicarakan beberapa urusan kantor.

Sangat menyenangkan bertemu lagi dengan mas Daniel. Dia adalah mantan staf YLSA, mentor saya dulu. Kami makan bersama di daerah Samanhudi sambil ngobrol tentang pekerjaan dan kehidupan saat ini. Selesai makan, mas Daniel dan istri mengantarkan kami jalan-jalan ke kota lama, melihat bangunan-bangunan kuno yang sangat indah. Kami sempat mampir di rumah mas Daniel untuk mandi dan minum teh, lalu malam itu kami diantar ke rumah pak Edy untuk bermalam. Ibu Yulia ternyata sudah sampai duluan di rumah pak Edy. Thank you untuk mas Daniel dan istri…

Hari Sabtu (15 Oktober) adalah hari sibuk bagi kami, karena ada dua pelatihan SABDA. Yang pertama akan dilakukan pagi hari di Bellezza (dimulai pukul 09.00-12.00), tepatnya di New Wine International Church. Yang kedua, sore hari, di GKI Samanhudi, jam 15.00 – 18.00.

Acara pelatihan di Bellezza ini sebenarnya berawal dari perjumpaan tak terencana pada akhir bulan September 2011, antara Ibu Yulia dengan Pak Robert Sutanto dan Ibu Lea, yang adalah Gembala New Wine International Church. Pak Edy Sulistyo, salah seorang pengurus Scripture Union (SU) Indonesialah yang mempekenalkan Ibu Yulia dengan Pak Robert. Pak Edy sangat antusias sekali mempromosikan SABDA sehingga membuat Pak Robert tertarik untuk mengundang Tim SABDA memberikan pelatihan di gerejanya. Singkat cerita, setelah kembali ke Solo dan bertukar banyak email dan SMS, terjadilah kesepakatan kerjasama antara SU Indonesia dan Gereja New Wine untuk menjadi penyelenggara acara pelatihan SABDA. Puji Tuhan melalui jaringan relasi Pak Edy dan Pak Robert, mereka berhasil mengundang lembaga-lembaga lain untuk hadir pada pelatihan SABDA ini dengan memakai tempat di Gereja New Wine, yang berlokasi di gedung Bellezza. Tanggapan atas undangan ini ternyata di luar dugaan, karena hampir 100 orang mendaftar. Maka akhirnya, Pak Edy dan Pak Rudy (juga pengurus SU Indonesia) setuju untuk membagi pelatihan SABDA menjadi dua kelompok. Pelatihan pertama diadakan di Bellezza pagi hari, pelatihan kedua diadakan di GKI Samanhudi pada siang/sore harinya.

Sabtu pagi itu, kami sudah tiba di Bellezza sekitar jam 8 pagi. Thanks to Pak Edy dan Pak Robert, karena semua infrastruktur sudah disiapkan dengan sangat baik di tempat pelatihan. Ketika saya melakukan persiapan yang diperlukan untuk presentasi, peserta mulai berdatangan. Hadi, yang dibantu oleh 2 staf Pak Edy, menyambut mereka dengan mengcopykan dan menginstallkan Software SABDA di laptop mereka. Di antara 80 peserta yang hadir pagi itu, ada lebih dari 50% peserta yang membawa laptop. Ibu Yulia menyiapkan SABDA stand untuk peserta yang menginginkan CD Alkitab Audio (dari berbagai bahasa) dan flash disk yang berisi 8gig bahan-bahan biblika. Banyak peserta yang menginginkan flash disk, termasuk Pak Jonathan Parapak (rektor Universitas Pelita Harapan) yang hadir di pelatihan SABDA ini.

Setelah Kata Sambutan, yang disampaikan oleh Pak Jonathan, Ibu Yulia memberikan presentasi pertama untuk memperkenalkan Yayasan Lembaga SABDA dan produk-produk pelayanannya. Lalu masuk ke acara inti yaitu, pelatihan SABDA. Pelatihan ini dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, adalah penjelasan tentang isi Software SABDA 4 yang dibawakan oleh Ibu Yulia. Kedua adalah bagian saya untuk membawakan “Pelatihan SABDA 3 Menit” — yaitu bagaimana menggunakan Software SABDA, khususnya bagi para pengguna pemula. Untuk itu saya menggunakan presentasi “SABDA 3 Menit” yang sudah dibuat oleh Yochan. Bagian ketiga, adalah Pelatihan 4 Metode PA yang kami namakan “ALAT”, singkatan dari “Ayat, Leksikal, Asosiasi, dan Topikal”. Presentasi ketiga ini dimaksudkan untuk para pengguna agar semakin mahir memakai program SABDA untuk melakukan penggalian Alkitab yang mendalam. Puji Tuhan semua presentasi berjalan lancar. Bahkan setelah presentasi berakhir, dan jam menunjukkan pukul 12.20 lebih, peserta masih antusias untuk bertanya jawab dan menginstal bahan-bahan lain yang dimiliki oleh YLSA. Peserta pulang dengan puas karena selain mendapat banyak bahan dari YLSA, mereka juga mendapat makan siang yang disediakan oleh panitia. Terima kasih, Pak Edy.

Di Bellezza saya bertemu dengan mas Kalpin untuk pertama kalinya. Beliau adalah mantan staf YLSA dan saat ini masih terus mendukung pelayanan YLSA, khususnya dalam menangani server-server YLSA. Walaupun hanya sebentar saja, karena saya harus sibuk dengan banyak permintaan instalasi, pertemuan singkat dengan mas Kalpin itu sangat berkesan buat saya. Selama ini saya hanya bertemu beliau lewat SMS dan chatting saja. Thanks mas Kalpin untuk semua bantuannya buat YLSA…

Kami akhirnya meninggalkan Bellezza pukul 1.30, menuju ke GKI Samanhudi untuk Pelatihan SABDA yang kedua, pukul 3 sore. Kami rombongan diantar oleh Pak Lukito dari Yayasan Sehati Prima yang datang ke Bellezza untuk bertemu dengan Ibu Yulia untuk membicarakan tentang progres editing proyek terjemahan Alkitab Mudah Dibaca (AMD). Perjalanan menuju ke GKI Samanhudi dipenuhi dengan kemacetan. Tapi rapat di atas mobil dengan Pak Lukito terus berjalan, dan kami bisa tiba di GKI Samanhudi pukul 2.40. Dengan cepat saya dan Hadi menyiapkan peserta dengan menginstalkan program SABDA ke semua laptop yang ada. Peserta yang hadir juga di luar dugaan, jumlah mereka ada sekitar 60 orang. Selain jemaat GKI Samanhudi, ada juga beberapa peserta dari gereja/yayasan lain. Acara yang sedianya dimulai jam 3, akhirnya mundur sekitar 30 menit. Format acara di GKI Samanhudi sama dengan yang di Bellezza. Setelah acara selesai para peserta juga sangat antusias mendapatkan flash disk yang disediakan YLSA. Sebelum meninggalkan GKI Samanhudi kami bertemu dengan mantan staf YLSA lain yang saat ini tinggal di Bogor, yaitu mas Ipunk dan mbak Sari (istrinya). Sangat disayangkan ada misinformasi, sehingga beliau baru datang setelah acara selesai.

Selesai acara, Tim SABDA dijamu makan malam oleh Pak Rudy sekeluarga. Pak Rudy adalah salah satu pengurus SU Indonesia, dan sekaligus juga majelis GKI Samanhudi. Terima kasih banyak untuk makan malamnya yang enak, Pak Rudy… Malam itu kami menginap lagi di rumah Pak Edy.

Keesokan harinya, hari Minggu pagi (16 Oktober), kami berangkat menuju ke Karawaci, tepatnya ke Gereja Reformed Injili Indonesia Karawaci yang dipimpin oleh Pdt. Agus Marjanto. Bulan Oktober adalah bulan misi di GRII Karawaci, dan Ibu Yulia diminta untuk memberikan kesaksian tentang pelayanan YLSA pada ibadah pagi dan sore agar jemaat terbeban untuk berdoa dan mendukung pelayanan misi. Pada saat Ibu Yulia memberikan presentasi, saya ada di ruang sound system untuk membantu menayangkan bahan presentasi. Hal yang menarik yang saya lihat di ruang sound system adalah melihat apa yang terjadi di ruang kecil yang dipadati oleh kira-kira 10 orang teknis itu. Ibadah GRII (pagi) ternyata tidak hanya diikuti oleh jemaat Karawaci saja, tapi juga serentak ditayangkan ke beberapa kota lain. Hal tersebut dimungkinkan karena tim multimedia GRII Karawaci menyiarkan secara langsung (relay) melalui internet ke beberapa kota yang memang meminta untuk ikut melihat. Ibadah dilakukan di lantai 3 dan 4, tapi sayang Hadi tidak bisa ikut mendengarkan kesaksian Ibu Yulia, karena ia ada di lantai 1 untuk menjaga stand YLSA yang mendisplaykan CD-CD Alkitab Audio dan flash disk SABDA. Banyak jemaat yang tertarik untuk mendapatkan CD Alkitab Audio, sampai kami kehabisan sehingga mereka harus memesan dan akan kami kirimkan dari Solo. Pada siang harinya, Pdt. Agus mengijinkan kami memberikan pelatihan Software SABDA 4 kepada jemaat. Ada lebih dari 30 orang yang mengikuti pelatihan ini. Pelatihan tidak bisa lama dilakukan karena akan ada ibadah sore itu pukul 17.00. Ibu Yulia harus ada di ibadah karena akan memberi kesaksian lagi tentang pelayanan YLSA kepada jemaat yang tidak datang pada ibadah pagi. Hari Minggu itu kami ada di gereja seharian. Bahkan Ibu Yulia sempat juga membuat janji pertemuan sore itu dengan Anna Yulia dan suami (keduanya mantan staf YLSA), untuk memperkenalkan Pdt. Yahya (dari Fokus Keluarga) dengan YLSA.

Setelah kebaktian selesai kami diajak makan malam oleh Pak Rene dan keluarganya. Bersama kami juga Pdt. Agus dan Ibu Sari dan salah seorang jemaat GRII Karawaci. Sambil makan malam kami berbincang-bincang tentang banyak hal — gedung baru GRII Karawaci, software Alkitab SABDA dan lain-lain. Saya juga sempat memberikan ‘training singkat’ untuk Pdt. Agus, tentang bagaimana menggunakan program SABDA, mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih Pak Agus, untuk kesempatan yang diberikan sehingga kami bisa semakin dekat mengenal GRII Karawaci… Semoga berjumpa lagi di Solo dalam acara KKR tahun depan. Setelah makan malam, saya dan Hadi diantar ke GRII karena kami menginap di sana. Sedangkan Ibu Yulia ternyata masih ada acara lagi, karena sekitar pukul 21.30 akan bertemu dengan Pak Yohanes Surya. Satu hari penuh telah kami lalui dengan baik.

Pagi-pagi benar pada hari Senin (17 Oktober), kami berangkat ke airport untuk terbang kembali ke Solo. Perjalanan pesawat terbang kedua untuk Hadi

Wow, panjang sekali rasanya perjalanan kali ini. Namun semua rasa capek dan lelah seperti terbayarkan mengingat semakin banyak orang dapat menerima pelatihan Software SABDA, berarti semakin banyak orang dapat menyelidiki Alkitab dengan lebih bertanggung jawab.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

YLSA Mengadakan Seminar Teologi

Blog SABDA - Tue, 10/25/2011 - 14:49

YLSA menyelenggarakan seminar lagi! Kali ini adalam seminar teologi yang berlangsung selama 2 hari dengan pembicara Pdt. Joseph Tong. Seminar ini diadakan pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 21 dan 22 Oktober 2011, bertempat di GKIm Anugerah, Solo. Selama seminar berlangsung, YLSA membuka “Booth SABDA”, supaya para peserta bisa mendapatkan produk-produk YLSACD Alkitab Audio berbagai versi/bahasa, Software SABDA, dan Alkitab Mobile. Puji Tuhan! Kali ini YLSA menyajikan produk baru berupa “flasdisk SABDA” yang berisi 8 GB “harta karun (bahan-bahan) SABDA”. Para peserta banyak yang mendatangi booth SABDA ini pada saat “break”, dan setelah selesai seminar.

Seminar hari pertama (21 Oktober 2011) mengambil judul “Inklusivisme dan Eksklusivisme Teologi Reformed”. Acara dimulai agak terlambat, pk.18.15, dan dibuka dengan beberapa pujian. Saat itu saya masih berada di posisi penerima tamu, di lantai bawah, jadi hanya sayup-sayup terdengar suara pujian dari dalam gedung gereja. Peserta yang datang tidak terlalu banyak, tapi mereka terlihat antusias mengikuti seminar ini. Bagi saya, baru kali ini saya ikut seminar teologi, khususnya Reologia Reformed. Pdt. Joseph Tong mengakui bahwa bahasa Indonesia yang dia pakai adalah bahasa Indonesia tahun 60-an, jadi kurang jelas bagi sebagian orang. Ditambah lagi pembahasannya sangat kental dengan bahasa filsafat. Tapi secara pribadi, yang saya tangkap dan terberkati adalah bahwa Teologi Reformed berpegang pada otoritas Alkitab, kedaulatan Allah, keselamatan oleh anugerah melalui Kristus, dan perlunya penginjilan.

Sedangkan pada hari kedua (22 Oktober 2011), topik yang dibahas adalah “Teologia Reformed dalam Dunia Bisnis”. Sayang sekali, pada hari itu hujan turun sangat deras disertai angin kencang mengguyur daerah Solo Selatan, tempat seminar ini diadakan. Saya sendiri tidak hadir pada seminar kedua, tapi menurut cerita teman-teman, peserta yang datang tidak sebanyak hari pertama. Namun, puji Tuhan, acara tetap berjalan dengan lancar. Materi yang disampaikan lebih praktis. Dari hasil sharing teman-teman saya menangkap, salah satu topik yang dibahas Pdt. Joseph Tong adalah tentang konsep kepemilikan (semua harta yang kita miliki di dunia ini) dan konsep bekerja menurut Teologi Reformed. Di dalamnya dibahas juga mengenai perpuluhan, sebagai harta milik Tuhan yang harus dikembalikan kepada Tuhan.

Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar ini karena wawasan rohani saya jadi terbuka dengan pelajaran-pelajaran baru seputar teologi. Beberapa teman juga berkata bahwa cara pembahasan dari Pdt. Joseph Tong memaksa pendengar untuk berpikir. Selain itu, sebagai staf SABDA kami semua juga bersyukur karena mendapat kesempatan melayani di lapangan, baik sebagai penerima tamu, petugas pendaftaran, petugas konsumsi, perekam seminar, singer, dan pembawa acara. Saya sendiri ikut bertugas mengatur konsumsi dan penerima tamu bersama beberapa teman lain.

Maju terus SABDA. Adakan seminar di tempat lain juga.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Thu, 01/01/1970 - 07:00