PEPAK

Pelajaran dari Artikel: Hindari Kebiasaan Kecil Perusak Otak

Blog SABDA - Tue, 10/02/2018 - 15:08

Oleh: Roma

Shalom,

Ini kedua kalinya saya menulis di Blog SABDA. Kali ini, saya rindu berbagi tentang artikel koran berjudul "Hindari Kebiasaan Kecil Perusak Otak" yang saya baca di YLSA. Saya tertarik dengan artikel tersebut karena saya merasa pola hidup saya selama ini memang kurang teratur, terutama dalam memfungsikan kinerja otak saya. Dari artikel ini, ada banyak pelajaran penting yang semuanya bertujuan agar saya bisa mengatur kinerja otak dengan baik, dengan pola hidup yang sehat pastinya.

Nah, kita pasti tahu bahwa otak sangat berperan penting dalam hidup kita. Sekalipun kecil, tetapi otak sangat memengaruhi seluruh bagian tubuh kita. Tanpa otak yang berpikir, kita pasti kesulitan untuk mengerjakan berbagai aktivitas dengan baik. Nah, untuk itu, kita harus berhati-hati terhadap sejumlah kebiasaan yang dapat berakibat buruk terhadap fungsi kerja otak kita. Kebiasaan apa saja sih? Artikel ini menjelaskan paling tidak ada lima kebiasaan yang bisa mengganggu fungsi kerja otak.

Pertama, pola makan. Saya sendiri memiliki hobi makan. Tidak dibatasi waktu, kapan saja saya lapar, saya akan makan. Tidak peduli itu pagi, siang, sore, atau bahkan tengah malam sekalipun. Saya menyediakan stok makanan atau camilan yang cukup agar saya bisa makan kapan pun. Namun, ternyata pola makan yang tidak teratur bisa memengaruhi kinerja otak. Makan terlalu banyak, atau tidak sarapan itu sangat berpengaruh terhadap kinerja otak. Tidak sarapan dapat membuat kita lemas dan lesu sehingga pekerjaan terganggu karena kita tidak bisa berkonsentrasi. Nah, saya sekarang sadar, pola makan saya memang tidak teratur, apalagi sejak kecil saya jarang sarapan di rumah. Saya lebih suka menghabiskan uang saku saya untuk beli camilan. Selain lemas, saya juga sering mengantuk di dalam kelas karena faktor tidak sarapan dan makan makanan yang berminyak pada pagi hari, seperti gorengan.

Hal kedua yang bisa mengganggu kinerja otak adalah waktu tidur. Jika kita kurang tidur atau terlalu banyak tidur, hal itu bisa membuat kerusakan pada sel-sel otak. Saya juga sadar sih pola tidur saya juga tidak teratur. Saya suka menonton drama. Kadang, pada waktu senggang, atau weekend, saya menghabiskan waktu untuk menonton drama. Kadang, saya tidur di atas pukul 01.00 WIB pagi karena terlalu asyik dengan drama yang saya tonton. Keesokan harinya, saya pasti mengalami pusing dan kelelahan pada bagian mata saya. Oleh sebab itu, kita harus menyeimbangkan waktu istirahat kita agar kerja otak tidak terganggu. Jadi, saat melakukan banyak pekerjaan, kita harus tetap fit sehingga otak kita bisa berpikir secara maksimal.

Ketiga, bekerja saat sakit. Itu juga fatal akibatnya, teman-teman, karena otak bisa rusak. Otak yang sedang tidak efektif dipaksa untuk bekerja/berpikir keras dapat membuat otak semakin rusak. Ada banyak orang beranggapan bahwa dengan bekerja, saat sakit, mungkin bisa membuat tubuh menjadi lebih baik. Tidak sedikit pelajar tetap sekolah walaupun mereka sedang sakit. Fatal sekali jika terlalu memaksakan otak berpikir saat sakit. Seharusnya, kita memberikan otak kembali berfungsi dengan baik, dengan cara istirahat yang cukup dan minum obat agar otak kembali bisa berfungsi dengan maksimal. Jadi, jika kita lagi sakit, jangan terlalu banyak berpikir keras, ya.

Keempat, kurang berpikir. Sering kali, saat banyak pekerjaan atau dalam kondisi lelah, membuat kita malas berpikir. Kita harus mulai banyak berpikir agar kinerja otak dapat bekerja secara maksimal. Perlu banyak berlatih berpikir agar fungsi kerja otak bisa berjalan, tetapi saat kita sehat, ya. Mungkin salah satu caranya ialah bermain gim. Saya suka bermain gim di HP saya yang gimnya tersebut membutuhkan waktu untuk berpikir. Ketika bermain gim tersebut, otak saya akan berpikir tentang jawaban dari soal-soal yang ada, itu membuat saya berpikir keras. Ini salah satu contoh saja agar kita banyak berpikir. Untuk itu, penting sekali untuk memfungsikan otak kita secara baik, dengan cara banyak berpikir.

Kelima, ialah komunikasi. Diperlukan kebiasaan komunikasi dua arah ataupun komunikasi melalui dunia maya agar semakin memperkaya fungsi kinerja otak. Sikap diam akan mudah membuat kita cemas dan depresi karena tidak bisa berbagi kesulitan yang kita alami kepada orang lain. Selain itu, komunikasi yang kurang juga bisa membuat kita semakin antisosial dan hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Untuk itu, kita harus banyak berkomunikasi dengan orang lain, khususnya komunikasi langsung, agar kita bisa semakin memahami orang dan otak kita juga mendapat stimulasi yang baik agar otak bisa terus berlatih dan berfungsi dengan baik.

Jadi, kelima hal ini perlu kita perhatikan. Nah, jika kita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang membuat fungsi otak kita jadi buruk, ayo saya ajak kita mempraktikkan pelajaran-pelajaran ini supaya otak kita berfungsi dengan baik. Lima hal itu cukup sederhana dan bisa langsung dicoba dalam kehidupan kita sehari-hari. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Pengalaman Magang yang Berharga

Blog SABDA - Thu, 09/27/2018 - 13:36

Oleh: *Tata 

12 Juli 2018 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) sebagai staf magang. Tidak terasa, saya menghabiskan waktu dua bulan magang dengan cepat di SABDA. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Awalnya, saya memutuskan untuk magang di SABDA dengan alasan untuk mengisi waktu liburan kuliah yang terhitung cukup lama, kira-kita dua bulan. Selain itu, saya juga ingin menambah pengalaman dalam dunia pekerjaan. Namun, selama dua bulan di SABDA, saya baru menyadari bahwa yang saya lakukan sebenarnya adalah pelayanan untuk Tuhan. Banyak pelajaran rohani yang saya dapatkan di SABDA. Saya belajar untuk memahami firman Tuhan dan memahami kehendak-Nya dalam kehidupan saya. Melalui PA dan PD, saya juga belajar untuk mendalami Alkitab serta belajar memimpin.

Sebagai staf magang, selain pelajaran rohani, saya juga belajar menangani berbagai tugas yang cukup bervariasi dari hampir semua tim. Semua pekerjaan di SABDA sebenarnya bukanlah bidang yang saya geluti karena saya adalah mahasiswi jurusan farmasi. Namun, saya justru mendapatkan banyak ilmu lain yang tidak mungkin bisa saya dapatkan di kampus.

Pada minggu pertama, saya mendapat pengalaman untuk mentranskrip video, menulis blog, dan memberi stempel pada setiap buku di perpustakaan SABDA. Saya juga belajar untuk menulis pokok doa, walaupun awalnya sedikit kesulitan karena tidak terlatih untuk menulis. Namun, melalui proses, perlahan-lahan saya mulai terbiasa. Selain itu, saya juga mendapat pengalaman membuat teaser, mencari bahan-bahan kekristenan, mencari bahan untuk situs.co, dan masih banyak lagi. Pengalaman yang menarik bagi saya adalah ketika dilatih dengan kemampuan di bidang multimedia, yaitu membuat quote, mentranskrip video, dan membuat GIF. Sebelumnya, saya belum pernah membuat itu semua. Awalnya, quote gambar yang saya buat terlihat sangat sederhana dan tidak rapi, tetapi berkat Kak Pio, saya diajarkan bagaimana memasukkan background yang benar serta mengatur komposisi yang tepat. Perlahan, tetapi pasti, Kak Pio dengan sabar membimbing. Beruntungnya, Kak Pio tidak hanya sabar, tetapi juga humoris sehingga ketika dijelaskan saya tidak merasa tertekan. Selain membuat quote gambar, pengalaman menarik yang lain adalah membuat GIF. Saya sungguh bersyukur bisa mendapatkan ilmu multimedia dengan gratis di SABDA, yang semula saya hanya melihat GIF di aplikasi chatting, sekarang saya tahu cara membuatnya. Membuat GIF tidak semudah membuat quote gambar, GIF memang lebih rumit. Berkat Kak Pio, saya bisa sedikit paham.

Pengalaman pertama lain yang menarik adalah membuat rekaman artikel. Ternyata, membuat rekaman tak semudah yang dibayangkan karena hanya orang yang sudah mahir yang dapat menghasilkan rekaman yang pas. Pertama kali mencoba rekaman, saya sangat kesulitan, sebab dalam merekam harus menggunakan nada dan intonasi yang tepat. Waktu itu Kak Kun adalah orang pertama yang memberikan tugas untuk rekaman artikel. Artikel yang diberikan ada dua halaman. Hasil rekaman artikel pertama saya terbilang cukup baik, walaupun banyak intonasi yang kurang pas, tetapi bersyukur saya bisa terus belajar. Kesulitan dalam merekam sangat bervariasi, contohnya jika ada gangguan suara bising, penggunaan nada yang tidak enak didengar, serta pembacaan yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Di SABDA, saya juga mendapatkan pengalaman menjadi moderator di Grup Facebook Walking With God (WWG). Ternyata, SABDA memiliki banyak sekali komunitas di Facebook mulai dari e-Santapan Harian (e-SH), e-Renungan Harian (e-RH), Walking With God (WWG), e-BinaAnak, e-BinaSiswa, Humor, dan masih banyak lagi. Dan, semua itu disediakan untuk peserta belajar memahami firman Tuhan setiap hari. Pengalaman lain yang saya dapatkan di SABDA adalah kegiatan rutin membaca artikel koran. Saya melihat hal ini sangat berguna dan jarang ada lembaga atau perusahaan yang memberi kesempatan kepada stafnya untuk membaca di sela-sela kesibukan pekerjaan.

Pada awal magang, saya merasa kesulitan dengan banyaknya tugas, terutama untuk memenuhi deadline yang sudah ditetapkan. Karena baru pertama kali bekerja di dunia nyata, saya sedikit kesulitan untuk membagi waktu dan untuk bisa fokus. Akan tetapi, lama-kelamaan saya mulai terbiasa dan terlatih. Selama masa magang, saya juga merasakan penyertaan Tuhan yang nyata dalam hidup saya. Dialah yang membuat saya bisa bertahan hingga akhir magang. Saya juga belajar beradaptasi dengan staf-staf lain di SABDA. Mereka tidak pernah sungkan membantu saat saya perlu bantuan atau saat saya bertanya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan yang berharga ini. Saya juga bersyukur karena melalui YLSA, saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, saya juga mendapat teman-teman baru. Sekali lagi, semua itu hanya karena anugerah Tuhan. Ada maksud Tuhan yang baik dengan menempatkan saya di YLSA. Tuhan sudah bekerja secara luar biasa dalam hidup saya selama dua bulan magang ini. Apa pun yang sudah saya dapatkan dari SABDA tidak akan saya lupakan, bahkan saya juga akan bagikan kepada orang-orang di sekitar saya agar mereka juga dapat merasakan berkat Tuhan seperti yang saya rasakan. Terlebih lagi, saya juga bisa merasakan betapa kerennya melayani Tuhan dengan media elektronik, yaitu dengan gadget kita. Bagi saya, magang di SABDA merupakan pengalaman yang luar biasa. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Pelayanan SABDA di Australia

Blog SABDA - Wed, 09/26/2018 - 15:19

oleh: Yulia

Ketika kami mendapat undangan dari GRII Sydney untuk memberikan seminar tentang "digital ministry", kami menawarkan enam topik seminar yang bisa dipilih. Namun, dari beberapa pembicaraan lewat email dan telepon, dan jadwal yang diatur sedemikian rupa, akhirnya disepakati untuk mengambil enam topik seminar sekaligus. Selain masing-masing topik saling berkaitan, kami juga melihat pentingnya membuka wawasan jemaat tentang dunia digital Kristen secara mendalam. Setelah pembicaraan lebih lanjut, GRII Melbourne ternyata juga tertarik untuk mendapatkan seminar yang sama (namun, dengan waktu yang lebih pendek). Karena itu, jadilah kami pergi ke Sydney dan Melbourne dengan total waktu tiga minggu (6 -- 22 Agustus) karena masing-masing seminar hanya bisa diadakan pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu).

Keenam topik seminar tersebut adalah:

1. Digital Word for the Digital World
Pesan firman Tuhan (Alkitab) tidak pernah berubah dari zaman ke zaman karena firman Tuhan adalah kekal dan tidak akan lekang karena waktu. Akan tetapi, media (teknologi) yang tersedia untuk menyebarkan firman Tuhan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Sebagai orang Kristen, bagaimana kita menyikapi perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini? Apakah teknologi itu dari Tuhan? Sejauh mana teknologi dapat dipakai dalam penerjemahan Alkitab dan penyebarannya?

2. Biblical Digital Quotient
Di samping memberi dampak yang sangat positif, dalam perkembangannya, teknologi ternyata juga memberikan dampak negatif yang cukup membahayakan. Namun demikian, tidak ada manusia yang dapat menghindar dari memakai produk-produk teknologi. Ada banyak usaha yang telah dilakukan oleh para pakar, baik dari dunia pendidikan atau psikologi sekuler, bahkan agama, untuk menolong manusia terhindar dari pengaruh buruk teknologi. Sebagai orang Kristen, kiat-kiat apa yang harus kita pegang agar tidak tersesat saat menggunakan teknologi?

3. Biblical Computing
Seni penggalian/pemahaman Alkitab (PA) secara lambat, tetapi pasti, mulai hilang dari kehidupan jemaat. Melimpahnya bahan-bahan khotbah dan artikel-artikel Kristen tidak seharusnya menggantikan kehidupan pribadi yang lekat berinteraksi dengan firman Tuhan (Scripture engagement). Apalagi, saat ini, kemajuan teknologi telah memungkinkan pengembangan "Biblical Computing" yang menghasilkan alat-alat dan metode-metode studi Alkitab yang lebih relevan bagi generasi milenial yang akrab dengan dunia digital. Mari kita kobarkan kembali semangat Reformasi untuk "back to the Bible" sehingga gereja berakar dengan kuat dan bertumbuh dengan lebih sehat.

4. 21st Century Discipleship
Inti perintah Amanat Agung adalah panggilan kepada gereja dan anak-anak Tuhan untuk menjadi murid-murid yang membuat murid-murid bagi Kristus. Perkembangan teknologi telah menyediakan sarana yang sangat luas yang seharusnya dapat mendorong anak-anak Tuhan untuk semakin giat menjalankan panggilan ini. Akan tetapi, mengapa baik "dengan" atau "tanpa" perkembangan teknologi, anak-anak Tuhan masih sulit menghayati dan memaknai hidup sebagai murid-murid Kristus yang menghasilkan murid? Bagaimana teknologi abad ke-21 dapat mendorong gereja dan anak-anak Tuhan untuk giat membuat murid-murid abad ke-21?

5. Digital Ministry: IT 4 God
Perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi, telah merambah ke berbagai aspek kehidupan manusia. Dampak perkembangannya telah mengubah seluruh umat manusia, termasuk orang Kristen. Teknologi bukan saja mengubah bagaimana cara orang Kristen berkomunikasi, belajar, bergaul, dan berelasi, tetapi juga bagaimana orang Kristen hidup dan bagaimana gereja melayani pada era digital. Bagaimana gereja seharusnya mengikuti perkembangan zaman tanpa terseret ke dalam arus zaman?

6. Mission in the Digital Era
Akses internet telah membuat penduduk digital di dunia maya mengalami pertumbuhan yang eksponensial. Saat ini, ada lebih banyak penduduk dunia yang hidup dan berfungsi secara lebih nyaman di dunia maya daripada di dunia nyata. Pernahkah orang Kristen melihat penduduk dunia digital sebagai ladang misi baru pada era digital ini? Bagaimana gereja dapat membuka diri untuk menjangkau penduduk dunia digital dan mengembangkan pelayanan misi yang relevan pada era digital ini? Pelayanan misi digital apa saja yang dapat dilakukan oleh gereja abad ke-21 ini?

Perjalanan ke Australia ini adalah perjalanan pertama saya untuk mengunjungi benua Australia. Sebelum berangkat, kami sudah diberi tahu bahwa Australia sedang musim dingin, jadi kami berusaha menyiapkan mental agar tidak terlalu "menderita" selama di sana. Bersyukur karena kami pergi ke Sydney terlebih dahulu sehingga ada waktu untuk beradaptasi, karena dinginnya Melbourne ternyata lebih "menggigit" dibandingkan di Sydney. Di tengah kesibukan pelayanan di Sydney dan Melbourne, kami juga bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengunjungi sahabat lama kami yang tinggal di Adelaide, Bapak/Ibu Norman. Di Adelaide, kami bisa berbagi cerita dan juga kesaksian tentang pelayanan SABDA di persekutuan keluarga dari gereja Bapak/Ibu Norman. Walaupun sempat masuk angin, saya bersyukur karena Tuhan sudah mengatur seluruh perjalanan kami dengan sangat baik sehingga semua lancar dan kami bisa sangat menikmati, khususnya persahabatan dengan saudara-saudara seiman di Sydney, Melbourne, dan Adelaide. "Terima kasih Tuhan untuk semua kebaikan-Mu. Engkau sungguh Allah yang Mahadahsyat. Kebaikan-Mu akan kukenang dan kuceritakan sepanjang hidupku."

Doakan untuk GRII Sydney dan GRII Melbourne agar kiranya Tuhan memakai gereja-gereja ini untuk memberitakan Injil dan mendewasakan jemaat Indonesia di sana. Menambahkan dan mengintegrasikan "pelayanan digital" di tengah pelayanan yang sudah ada sangat penting karena mereka rindu agar Tuhan membukakan pelayanan yang lebih luas, terkhusus untuk menjangkau generasi digital (yang saat ini menjadi generasi yang terhilang dari gereja Tuhan). Doakan agar Tuhan membuka kesempatan yang luar biasa di Sydney dan Melbourne supaya terjadi akselerasi penyebaran Injil melalui berbagai cara yang tersedia pada era digital ini. Terpujilah Tuhan yang empunya ladang pelayanan generasi ini.

Categories: PEPAK

Pelajaran dari Artikel Koran: “Mengakui Kesalahan”

Blog SABDA - Thu, 09/20/2018 - 12:24

Oleh: Mei

Saya bersyukur dipaksa untuk membaca artikel koran di YLSA. Karena melalui membaca ini, saya mendapat banyak pengetahuan. Salah satu artikel koran yang saya ingin bagikan berjudul "Mengakui Kesalahan". Saya setuju dengan salah satu pernyataan dalam artikel ini: "Cara terbaik untuk belajar dari kesalahan adalah dengan mengakuinya. Mengakui kesalahan adalah tanda orang yang berjiwa besar". Namun, terkadang kita sulit untuk mengakui kesalahan karena gengsi atau karena merasa diri benar. Kalau kita mengingkari kesalahan, reputasi kita justru akan buruk di mata orang lain. Sebaliknya, kalau kita jujur mengakui kesalahan, orang lain akan hormat dan respek kepada kita.

Dalam artikel tersebut dipaparkan beberapa poin, yaitu:
1. Mengakui kesalahan bukan indikasi kelemahan, melainkan justru indikasi kebesaran jiwa seseorang.
2. Mengakui kesalahan membuat kita dapat belajar dari kesalahan kita daripada sibuk membuang waktu menyangkal diri dan menimbulkan keretakan relasi atau menciptakan kebohongan yang lain.
3. Menunda mengakui kesalahan, hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk.

Dikatakan juga bahwa dalam kehidupan spiritual, mengakui kesalahan adalah salah satu unsur pertobatan. Di samping ada pengakuan, ada unsur penyesalan dan unsur lain, yaitu komitmen. Dalam unsur komitmen ini, jiwa besar kita ditantang untuk tidak mengeluarkan janji palsu, atau istilah ngetrennya "Tomat: Tobat Kumat". Kita harus memiliki komitmen untuk berusaha keras tidak mengulangi kesalahan itu sehingga kita tetap mendapat kepercayaan orang lain. Seperti kata pendeta dan penulis buku kepemimpinan, John Maxwell, "Setiap orang harus cukup 'besar' untuk mengakui kesalahannya, pintar mengambil hikmah dari kesalahan, dan kuat untuk memperbaikinya."

Di Alkitab juga sudah tertulis: "Jika kita mengakui dosa-dosa kita, Ia adalah setia dan adil untuk mengampuni dosa-dosa kita dan untuk membersihkan kita dari semua kejahatan" (1 Yohanes 1:9, AYT). Saya mengucap syukur karena mempunyai Juru Selamat yang telah menebus dosa saya. Walau saya masih belum bisa melepaskan diri dari sifat kedagingan, dan terkadang masih sering berbuat dosa atau melakukan kesalahan, tetapi saya bersyukur karena Roh Kudus senantiasa mengingatkan saya untuk kembali berjalan di jalan-Nya, membawa saya tidak terpuruk dengan dosa dan intimidasi iblis.

Melalui artikel ini, saya belajar untuk selalu memiliki keberanian saat harus mengakui kesalahan dan introspeksi, belajar dari kesalahan yang saya buat, merendahkan diri, mengakui dosa dan pelanggaran, baik kepada Tuhan maupun orang lain. Tidak mudah memang, tetapi saya akan terus berusaha melakukan hal itu untuk kebaikan diri saya, orang lain, dan khususnya agar kehidupan saya mencerminkan karakter Kristus, menjadi orang yang jujur dan dapat dipercaya orang lain. Soli Deo gloria!

Kategori: Pelayanan, Umum (Pelayanan)
Kata kunci:

Categories: PEPAK

Membaca Kliping Artikel Koran di SABDA

Blog SABDA - Sat, 09/15/2018 - 14:40

Oleh: Maskunarti

Surat Kabar atau yang lebih dikenal dengan koran masih menjadi salah satu media populer yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan berbagai informasi. Koran tidak hanya dibaca oleh kalangan pejabat atau pengusaha, tetapi juga kalangan umum, seperti guru, pekerja swasta, pegawai negeri, mahasiswa, dan tukang becak. Selain untuk mengikuti berita perkembangan dunia aktual, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, koran juga bisa dipakai sebagai media pembelajaran.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi mengenai kegiatan membaca artikel koran di SABDA. Berdasarkan pengalaman di tempat-tempat kerja sebelumnya, saya belum pernah menemui adanya kegiatan membaca artikel koran dalam pekerjaan. Namun, ketika saya bekerja di SABDA, kegiatan membaca artikel koran menjadi bagian dari budaya kerja di kantor SABDA, yang dilakukan setiap Selasa. Artikel koran yang diedarkan sudah berupa kliping dengan judul yang berganti setiap minggu. Biasanya, Ibu Yulia yang mempersiapkan artikel korannya. Saya bersyukur mempunyai pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pengetahuan dan wawasan stafnya. Menurut saya, ini adalah budaya cerdas yang perlu didukung.

Selain itu, di tengah-tengah kesibukan, kami dilatih untuk meluangkan waktu membaca artikel yang diambil dari sumber koran nasional yang tepercaya. Menurut saya, kegiatan membaca ini sangat banyak manfaatnya, di antaranya untuk melatih kemampuan membaca cepat, selalu belajar untuk menambah wawasan mengenai isu-isu atau topik tertentu, dan mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis. Ketika membaca artikel koran, saya dan staf SABDA lainnya tidak sekadar membaca, tetapi juga harus bisa memberi tanggapan dari apa yang dibaca. Tanggapan bisa berupa blog, komentar, quote, atau membagikannya di acara persekutuan staf. Tugas menanggapi artikel ini cukup menantang karena saya harus membaca dengan teliti dan menemukan gagasan utama dari yang disampaikan oleh si penulis. Yang paling menarik adalah setelah membaca artikel, saya juga banyak merefleksi diri bagaimana mengaplikasikan apa yang saya baca.

Saya senang dapat membaca artikel koran dengan topik-topik yang bermanfaat. Saat ini, kebiasaan membaca berita koran maupun membaca pada umumnya perlahan-lahan mulai berkurang seiring dengan kehadiran internet. Harapan saya, kehadiran artikel koran yang beredar di SABDA, kiranya dapat menjadi pemicu bagi generasi muda (khususnya staf-staf SABDA yang baru) untuk mulai kembali menanamkan kebiasaan membaca supaya menjadi manusia yang cerdas. Mari bersama-sama kita tumbuh kembangkan minat membaca. Terima kasih. Tuhan memberkati.

Categories: PEPAK

Pengalaman Magang yang Berharga

Blog SABDA - Mon, 09/10/2018 - 11:59

Oleh: *Tata

12 Juli 2018 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) sebagai staf magang. Tidak terasa, saya menghabiskan waktu dua bulan magang dengan cepat di SABDA. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Awalnya, saya memutuskan untuk magang di SABDA dengan alasan untuk mengisi waktu liburan kuliah yang terhitung cukup lama, kira-kita dua bulan. Selain itu, saya juga ingin menambah pengalaman dalam dunia pekerjaan. Namun, selama dua bulan di SABDA, saya baru menyadari bahwa yang saya lakukan sebenarnya adalah pelayanan untuk Tuhan. Banyak pelajaran rohani yang saya dapatkan di SABDA. Saya belajar untuk memahami firman Tuhan dan memahami kehendak-Nya dalam kehidupan saya. Melalui PA dan PD, saya juga belajar untuk mendalami Alkitab serta belajar memimpin.

Sebagai staf magang, selain pelajaran rohani, saya juga belajar menangani berbagai tugas yang cukup bervariasi dari hampir semua tim. Semua pekerjaan di SABDA sebenarnya bukanlah bidang yang saya geluti karena saya adalah mahasiswi jurusan farmasi. Namun, saya justru mendapatkan banyak ilmu lain yang tidak mungkin bisa saya dapatkan di kampus.

Pada minggu pertama, saya mendapat pengalaman untuk mentranskrip video, menulis blog, dan memberi stempel pada setiap buku di perpustakaan SABDA. Saya juga belajar untuk menulis pokok doa, walaupun awalnya sedikit kesulitan karena tidak terlatih untuk menulis. Namun, melalui proses, perlahan-lahan saya mulai terbiasa. Selain itu, saya juga mendapat pengalaman membuat teaser, mencari bahan-bahan kekristenan, mencari bahan untuk situs.co, dan masih banyak lagi. Pengalaman yang menarik bagi saya adalah ketika dilatih dengan kemampuan di bidang multimedia, yaitu membuat quote, mentranskrip video, dan membuat GIF. Sebelumnya, saya belum pernah membuat itu semua. Awalnya, quote gambar yang saya buat terlihat sangat sederhana dan tidak rapi, tetapi berkat Kak Pio, saya diajarkan bagaimana memasukkan background yang benar serta mengatur komposisi yang tepat. Perlahan, tetapi pasti, Kak Pio dengan sabar membimbing. Beruntungnya, Kak Pio tidak hanya sabar, tetapi juga humoris sehingga ketika dijelaskan saya tidak merasa tertekan. Selain membuat quote gambar, pengalaman menarik yang lain adalah membuat GIF. Saya sungguh bersyukur bisa mendapatkan ilmu multimedia dengan gratis di SABDA, yang semula saya hanya melihat GIF di aplikasi chatting, sekarang saya tahu cara membuatnya. Membuat GIF tidak semudah membuat quote gambar, GIF memang lebih rumit. Berkat Kak Pio, saya bisa sedikit paham.

Pengalaman pertama lain yang menarik adalah membuat rekaman artikel. Ternyata, membuat rekaman tak semudah yang dibayangkan karena hanya orang yang sudah mahir yang dapat menghasilkan rekaman yang pas. Pertama kali mencoba rekaman, saya sangat kesulitan, sebab dalam merekam harus menggunakan nada dan intonasi yang tepat. Waktu itu Kak Kun adalah orang pertama yang memberikan tugas untuk rekaman artikel. Artikel yang diberikan ada dua halaman. Hasil rekaman artikel pertama saya terbilang cukup baik, walaupun banyak intonasi yang kurang pas, tetapi bersyukur saya bisa terus belajar. Kesulitan dalam merekam sangat bervariasi, contohnya jika ada gangguan suara bising, penggunaan nada yang tidak enak didengar, serta pembacaan yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Di SABDA, saya juga mendapatkan pengalaman menjadi moderator di Grup Facebook Walking With God (WWG). Ternyata, SABDA memiliki banyak sekali komunitas di Facebook mulai dari e-Santapan Harian (e-SH), e-Renungan Harian (e-RH), Walking With God (WWG), e-BinaAnak, e-BinaSiswa, Humor, dan masih banyak lagi. Dan, semua itu disediakan untuk peserta belajar memahami firman Tuhan setiap hari. Pengalaman lain yang saya dapatkan di SABDA adalah kegiatan rutin membaca artikel koran. Saya melihat hal ini sangat berguna dan jarang ada lembaga atau perusahaan yang memberi kesempatan kepada stafnya untuk membaca di sela-sela kesibukan pekerjaan.

Pada awal magang, saya merasa kesulitan dengan banyaknya tugas, terutama untuk memenuhi deadline yang sudah ditetapkan. Karena baru pertama kali bekerja di dunia nyata, saya sedikit kesulitan untuk membagi waktu dan untuk bisa fokus. Akan tetapi, lama-kelamaan saya mulai terbiasa dan terlatih. Selama masa magang, saya juga merasakan penyertaan Tuhan yang nyata dalam hidup saya. Dialah yang membuat saya bisa bertahan hingga akhir magang. Saya juga belajar beradaptasi dengan staf-staf lain di SABDA. Mereka tidak pernah sungkan membantu saat saya perlu bantuan atau saat saya bertanya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan yang berharga ini. Saya juga bersyukur karena melalui YLSA, saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, saya juga mendapat teman-teman baru. Sekali lagi, semua itu hanya karena anugerah Tuhan. Ada maksud Tuhan yang baik dengan menempatkan saya di YLSA. Tuhan sudah bekerja secara luar biasa dalam hidup saya selama dua bulan magang ini. Apa pun yang sudah saya dapatkan dari SABDA tidak akan saya lupakan, bahkan saya juga akan bagikan kepada orang-orang di sekitar saya agar mereka juga dapat merasakan berkat Tuhan seperti yang saya rasakan. Terlebih lagi, saya juga bisa merasakan betapa kerennya melayani Tuhan dengan media elektronik, yaitu dengan gadget kita. Bagi saya, magang di SABDA merupakan pengalaman yang luar biasa. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Kenangan di YLSA: A Moment to Remember

Blog SABDA - Tue, 09/04/2018 - 10:52

Oleh: Liza

Akhirnya, hari itu datang, 8 Agustus 2018.

Hari terakhir saya di Solo dan di SABDA. SABDA adalah tempat kerja pertama saya, di tim ITS SABDA, mulai November 2015. Dalam 2 tahun 9 bulan ini, saya belajar banyak hal. Saya mengalami pertumbuhan jasmani maupun rohani, mulai dari skill, hardskill, maupun softskill. Banyak training yang diberikan di internal SABDA maupun training di luar kantor. Saya juga mendapat kesempatan untuk ikut Hackchaton - Code for The Kingdom di Jakarta. Wah, ini pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Dalam 3 hari 2 malam, orang-orang berkumpul dengan satu tujuan, mengembangkan ide maupun aplikasi seputar kekristenan. Begadang 2 malam untuk coding, bertemu dengan orang-orang yang punya ide-ide kreatif. Pengalaman lainnya adalah membantu membimbing teman-teman magang di tim ITS SABDA. Mereka mengerjakan proyek-proyek yang belum pernah saya kerjakan. Ini membuat saya ikut belajar bersama mereka. Mulai dari digital media library, elastic search, interlinear, dan sebagainya. Proyek yang mengesankan yang saya kerjakan adalah SABDA Bot. Saya bersama tim ITS mengembangkan chatbot di aplikasi chatting Telegram, Facebook, dan LINE. Namun yang paling up to date adalah di Telegram. Dengan SABDA Bot, kita bisa membaca Alkitab, membaca renungan, dan PA chatting dengan robot ini.

Saya juga belajar tentang berelasi dan kemampuan public speaking. Staf-staf di SABDA banyak dilatih kemampuan public speaking-nya melalui training maupun kesempatan menyampaikan presentasi di roadshow atau acara-acara SABDA. Selain itu, sejak 2016, SABDA memulai gerakan AYO_PA!. Gerakan ini untuk mengajak masyarakat Kristen Indonesia menyadari pentingnya pendalaman Alkitab secara pribadi maupun kelompok. Khususnya untuk generasi Z, bagaimana menggunakan gadget untuk belajar firman Tuhan. Karena itu, SABDA banyak mengadakan roadshow #Ayo_PA! ke gereja-gereja maupun sekolah. Saya bersyukur mendapat kesempatan mengikuti beberapa roadshow SABDA, baik di dalam maupun luar pulau Jawa. Pada saat roadshow, saya melihat realita bagaimana software, aplikasi, dan bahan-bahan SABDA sangat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Kristen Indonesia. Prinsip unik di SABDA adalah agile -- fleksibel. Tetap merencanakan, tetapi juga fleksibel jika diperlukan perubahan atau penyesuaian. Ketika roadshow, kadang ada hal-hal di luar harapan yang terjadi. Saat itulah, kita ditantang untuk memiliki akal lain dalam mengatasi masalah. Tidak hanya di roadshow, tetapi juga dalam pengerjaan proyek-proyek di SABDA.

Di SABDA juga ada PA kelompok kecil. Bahan yang digunakan beragam. Yang paling berkesan adalah bahan dari Renungan Oswald Chambers. Selain itu, ada juga renungan dari Jesus Freak. Melihat kisah hidup orang-orang yang teguh memegang imannya pada Yesus, bahkan jika mereka harus mengakhiri hidupnya. Saya sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan belajar dan melayani di sini.

Kalau ditanya hal apa yang akan saya rindukan? Jawabannya banyak sekali. Pertama, Thanksgiving day. Ya, saat Thanksgiving day, SABDA punya acara khusus. Thanksgiving day biasanya jatuh pada Kamis terakhir November. Di sini, kita diingatkan untuk mengucap syukur atas apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita meskipun pada hari biasa kita juga sudah bersyukur. Selain itu, yang menyenangkan adalah setelah persekutuan, ada makan bersama. Menunya harusnya kalkun, tetapi karena di Indonesia susah sekali mencarinya, maka diganti ayam. Ayamnya disajikan dengan mash potato dan salad. Ya, saya suka sekali menu ini. Biasanya dimasak oleh Bu Yulia sendiri bersama Bu Reso. Saya juga akan kangen sekali dengan masakan ibu-ibu dapur SABDA. Ada Bu Reso, Bu Dikem, Bu Ros, dan Bu Tiwi. Mereka yang bertugas memberi gizi untuk stat-staf SABDA walaupun dengan sajian yang sederhana. Tidak lupa juga, ada tiga anjing kesayangan: Snoopy, Chika, dan Chiko. Melihat tingkah mereka adalah hiburan tersendiri buat saya, yang adalah pecinta anjing.

Saya juga tinggal di mess SABDA. Saya pasti sangat merindukan keseharian di mess, bersama teman-teman mess maupun sendiri. Yang saya lakukan pada waktu senggang biasanya adalah ke perpustakaan, main musik: piano atau gitar. Yang tidak kalah penting adalah komunitasnya. Kebersamaan yang tidak sebentar ini membuat saya merasa feeling home. Kalau boleh mengutip kalimat Dominic Toretto di film Fast and Furious 7, "I don't have friends, I got family". Saya sangat bersyukur untuk keberadaan teman-teman SABDA semuanya.

Akhir kata, terima kasih untuk SABDA, saya sudah boleh menjadi bagian dari keluarga SABDA dan terima kasih untuk SABDA yang sudah menjadi bagian dari proses hidup saya. Saya juga minta maaf karena pasti ada perkataan dan perbuatan saya yang tidak berkenan selama saya di sini. Secara khusus, saya berterima kasih kepada Bu Yulia, Pemimpin SABDA, dan Mas Hadi, Koordinator tim ITS. Terima kasih atas setiap bimbingan, nasihat, teguran yang sudah diberikan. Itu semua sangat berarti bagi saya. Tuhan tidak akan membawa kita sampai sejauh ini jika hanya untuk meninggalkan kita. Kalimat ini pertama kali saya dengar ketika bergumul di semester akhir kuliah saya. Saya percaya hal ini juga berlaku untuk SABDA. Tuhan sudah memberi banyak kesempatan sampai saat ini, Tuhan juga sudah memimpin dan menyertai SABDA sampai saat ini, pasti Tuhan akan terus melanjutkan pekerjaan-Nya melalui SABDA. Hudson Taylor mengatakan, "God's work done in God's way will never lack God's supply". Pekerjaan Tuhan yang dilakukan dengan cara Tuhan tidak akan pernah kekurangan penyertaan Tuhan. Tetap semangat #IT4GOD!. Tuhan yang hidup menyertai kita semua. Soli Deo gloria.

Categories: PEPAK

Oleh: Liza Akhirnya, hari itu datang, 8

Blog SABDA - Mon, 09/03/2018 - 10:12

Oleh: Liza

Akhirnya, hari itu datang, 8 Agustus 2018.

Hari terakhir saya di Solo dan di SABDA. SABDA adalah tempat kerja pertama saya, di tim ITS SABDA, mulai November 2015. Dalam 2 tahun 9 bulan ini, saya belajar banyak hal. Saya mengalami pertumbuhan jasmani maupun rohani, mulai dari skill, hardskill, maupun softskill. Banyak training yang diberikan di internal SABDA maupun training di luar kantor. Saya juga mendapat kesempatan untuk ikut Hackchaton - Code for The Kingdom di Jakarta. Wah, ini pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Dalam 3 hari 2 malam, orang-orang berkumpul dengan satu tujuan, mengembangkan ide maupun aplikasi seputar kekristenan. Begadang 2 malam untuk coding, bertemu dengan orang-orang yang punya ide-ide kreatif. Pengalaman lainnya adalah membantu membimbing teman-teman magang di tim ITS SABDA. Mereka mengerjakan proyek-proyek yang belum pernah saya kerjakan. Ini membuat saya ikut belajar bersama mereka. Mulai dari digital media library, elastic search, interlinear, dan sebagainya. Proyek yang mengesankan yang saya kerjakan adalah SABDA Bot. Saya bersama tim ITS mengembangkan chatbot di aplikasi chatting Telegram, Facebook, dan LINE. Namun yang paling up to date adalah di Telegram. Dengan SABDA Bot, kita bisa membaca Alkitab, membaca renungan, dan PA chatting dengan robot ini.

Saya juga belajar tentang berelasi dan kemampuan public speaking. Staf-staf di SABDA banyak dilatih kemampuan public speaking-nya melalui training maupun kesempatan menyampaikan presentasi di roadshow atau acara-acara SABDA. Selain itu, sejak 2016, SABDA memulai gerakan AYO_PA!. Gerakan ini untuk mengajak masyarakat Kristen Indonesia menyadari pentingnya pendalaman Alkitab secara pribadi maupun kelompok. Khususnya untuk generasi Z, bagaimana menggunakan gadget untuk belajar firman Tuhan. Karena itu, SABDA banyak mengadakan roadshow #Ayo_PA! ke gereja-gereja maupun sekolah. Saya bersyukur mendapat kesempatan mengikuti beberapa roadshow SABDA, baik di dalam maupun luar pulau Jawa. Pada saat roadshow, saya melihat realita bagaimana software, aplikasi, dan bahan-bahan SABDA sangat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Kristen Indonesia. Prinsip unik di SABDA adalah agile -- fleksibel. Tetap merencanakan, tetapi juga fleksibel jika diperlukan perubahan atau penyesuaian. Ketika roadshow, kadang ada hal-hal di luar harapan yang terjadi. Saat itulah, kita ditantang untuk memiliki akal lain dalam mengatasi masalah. Tidak hanya di roadshow, tetapi juga dalam pengerjaan proyek-proyek di SABDA.

Di SABDA juga ada PA kelompok kecil. Bahan yang digunakan beragam. Yang paling berkesan adalah bahan dari Renungan Oswald Chambers. Selain itu, ada juga renungan dari Jesus Freak. Melihat kisah hidup orang-orang yang teguh memegang imannya pada Yesus, bahkan jika mereka harus mengakhiri hidupnya. Saya sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan belajar dan melayani di sini.

Kalau ditanya hal apa yang akan saya rindukan? Jawabannya banyak sekali. Pertama, Thanksgiving day. Ya, saat Thanksgiving day, SABDA punya acara khusus. Thanksgiving day biasanya jatuh pada Kamis terakhir November. Di sini, kita diingatkan untuk mengucap syukur atas apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita meskipun pada hari biasa kita juga sudah bersyukur. Selain itu, yang menyenangkan adalah setelah persekutuan, ada makan bersama. Menunya harusnya kalkun, tetapi karena di Indonesia susah sekali mencarinya, maka diganti ayam. Ayamnya disajikan dengan mash potato dan salad. Ya, saya suka sekali menu ini. Biasanya dimasak oleh Bu Yulia sendiri bersama Bu Reso. Saya juga akan kangen sekali dengan masakan ibu-ibu dapur SABDA. Ada Bu Reso, Bu Dikem, Bu Ros, dan Bu Tiwi. Mereka yang bertugas memberi gizi untuk stat-staf SABDA walaupun dengan sajian yang sederhana. Tidak lupa juga, ada tiga anjing kesayangan: Snoopy, Chika, dan Chiko. Melihat tingkah mereka adalah hiburan tersendiri buat saya, yang adalah pecinta anjing.

Saya juga tinggal di mess SABDA. Saya pasti sangat merindukan keseharian di mess, bersama teman-teman mess maupun sendiri. Yang saya lakukan pada waktu senggang biasanya adalah ke perpustakaan, main musik: piano atau gitar. Yang tidak kalah penting adalah komunitasnya. Kebersamaan yang tidak sebentar ini membuat saya merasa feeling home. Kalau boleh mengutip kalimat Dominic Toretto di film Fast and Furious 7, "I don't have friends, I got family". Saya sangat bersyukur untuk keberadaan teman-teman SABDA semuanya.

Akhir kata, terima kasih untuk SABDA, saya sudah boleh menjadi bagian dari keluarga SABDA dan terima kasih untuk SABDA yang sudah menjadi bagian dari proses hidup saya. Saya juga minta maaf karena pasti ada perkataan dan perbuatan saya yang tidak berkenan selama saya di sini. Secara khusus, saya berterima kasih kepada Bu Yulia, Pemimpin SABDA, dan Mas Hadi, Koordinator tim ITS. Terima kasih atas setiap bimbingan, nasihat, teguran yang sudah diberikan. Itu semua sangat berarti bagi saya. Tuhan tidak akan membawa kita sampai sejauh ini jika hanya untuk meninggalkan kita. Kalimat ini pertama kali saya dengar ketika bergumul di semester akhir kuliah saya. Saya percaya hal ini juga berlaku untuk SABDA. Tuhan sudah memberi banyak kesempatan sampai saat ini, Tuhan juga sudah memimpin dan menyertai SABDA sampai saat ini, pasti Tuhan akan terus melanjutkan pekerjaan-Nya melalui SABDA. Hudson Taylor mengatakan, "God's work done in God's way will never lack God's supply". Pekerjaan Tuhan yang dilakukan dengan cara Tuhan tidak akan pernah kekurangan penyertaan Tuhan. Tetap semangat #IT4GOD!. Tuhan yang hidup menyertai kita semua. Soli Deo gloria.

Categories: PEPAK

Staf SABDA Mengikuti Seminar Panggilan dan Nilai Guru

Blog SABDA - Mon, 08/20/2018 - 10:54

Oleh: *Lena

Saya bersyukur diberi kesempatan mengikuti Seminar & Workshop Guru KAA "PANGGILAN DAN GURU NILAI GURU" yang diselenggarakan oleh Gereja GUPdI Pasar Legi, Solo, pada 29 Juli 2018. Awalnya, saya menolak untuk mengikuti seminar dan workshop ini karena bertepatan dengan pelayanan saya di gereja. Untuk mengikuti acara ini, saya harus mengorbankan satu pelayanan, yaitu tidak melayani di pelayanan anak, awalnya hati berat untuk meninggalkan pelayanan tersebut. Namun, saya meminta hikmat Tuhan dan akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti seminar dan workshop ini. Dengan harapan, saya bisa membagikan kepada teman-teman di sekolah minggu mengenai panggilan dan nilai guru. Seminar ini diikuti oleh anggota tim Pendidikan Kristen SABDA, yaitu: Ariel, Tika, dan Lena.

Sesampainya di GUPdI Pasar Legi, kami disambut dengan ramah oleh panitia. Puji Tuhan, karena terlalu semangat untuk menghadiri seminar tersebut, kami adalah peserta pertama yang datang menghadiri acara seminar. Kami harus menunggu peserta yang lain, dan sempat berpikir hal apa yang harus saya lakukan dengan waktu yang cukup lama menunggu teman-teman yang lain, selain menggunakan smartphone ini? Bukan secara kebetulan, kami berkenalan dengan pasangan suami-istri yang bernama Budi dan Wati. Setelah kami memperkenalkan nama kami dan mengatakan bahwa kami adalah perwakilan dari SABDA, Bapak Budi langsung antusias dan menceritakan bahwa beliau juga memakai produk-produk SABDA. Beliau banyak terberkati dari pelayanan SABDA. Kepada mereka, kami juga memperkenalkan produk-produk SABDA yang baru yang dapat menolong untuk memperlengkapi pelayanan dan kehidupan mereka. Tidak terasa, kami menggunakan waktu cukup lama untuk berkenalan dan memperkenalkan pelayanan SABDA. Peserta pun berdatangan dan acara akan dimulai.

Acara dimulai dengan pujian dari panitia dan juga "ice breaker" pengakraban dari pembicara, yaitu Ibu Mercy. Menurut saya, permainannya cukup efektif untuk mengenal satu dengan yang lain. Acara yang dinantikan pun tiba. Ibu Mercy menyampaikan materi mengenai "PANGGILAN DAN NILAI GURU". Pada sesi I, beliau menyampaikan materi mengenai tantangan perubahan dunia yang telah merampas dan merusak generasi. Apa yang harus dilakukan gereja, orang tua, dan guru sekolah minggu? Kebanyakan guru sekolah minggu tidak menjadikan diri mereka sebagai sarana utama dalam mengajar, melainkan media sebagai alat utama untuk menghibur anak-anak sekolah minggu. Oleh sebab itu, anak-anak datang ke sekolah minggu karena ingin bermain, menonton film, dan mendapatkan hadiah. Sungguh, hal ini ironis! Saat Ibu Mercy menjelaskan materi tersebut, saya pribadi mengoreksi diri saya dan pelayanan saya selama ini. Saya lantas minta ampun kepada Tuhan karena saya melakukan seperti yang dikatakan Ibu Mercy. Setelah sesi 1 berakhir, kami pun istirahat untuk makan siang. Ketika makan siang berlangsung, ternyata ada diskusi yang membahas mengenai pelayanan dari gereja masing-masing. Dari share teman-teman, saya menyimpulkan bahwa guru-guru kurang persiapan untuk melayani anak-anak dan guru-guru lebih mengutamakan media film dan permainan dibandingkan guru itu sendiri.

Waktu istirahat pun usai, berlanjut untuk sesi II. Dalam sesi ini, Ibu Mercy menjelaskan mengenai "Tantangan Gereja, Orang tua, dan Sekolah Minggu". Iblis bekerja keras menghancurkan gereja, orang tua, dan sekolah minggu. Namun, mengapa gereja, orang tua, dan sekolah minggu tidak berbenah diri untuk membangun anak-anak? Ibu Mercy mengatakan bahwa masih banyak gereja yang belum dibukakan mati hatinya untuk jiwa anak-anak. Masih banyak gereja yang tidak peduli untuk sekolah minggu. Gereja tidak melihat bahwa anak-anak adalah masa depan gereja, yang menentukan mati-hidupnya gereja. Dari sisi orang tua, Ibu mercy menyoroti bahwa sering kali orang tua berpikiran bahwa yang bertanggung jawab untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka adalah gereja dan guru sekolah minggu. Orang tua mengabaikan tugas utama mereka dalam mendidik anak-anak mereka untuk takut akan Tuhan. Dari sisi guru sekolah minggu, Ibu Mercy menyoroti bahwa banyak guru sekolah minggu yang kurang persiapan dan tidak punya beban untuk mendidik anak-anak.

Saya bersyukur mengikuti acara ini, sekalipun saya tidak mendapatkan pelatihan untuk guru sekolah minggunya, sebab waktu tidak cukup. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari seminar ini dan memaksa saya untuk membenahi diri saya sebagai guru sekolah minggu. Terima kasih. Tuhan memberkati.

Categories: PEPAK

Diskusi Buku “Pencobaan” di Klub Buku SABDA

Blog SABDA - Mon, 08/13/2018 - 12:32

Oleh: Santi

Di tengah-tengah kesibukan tim SABDA mengerjakan proyek Alkitab Yang Terbuka (AYT), tim Penjangkauan YLSA membuka diskusi buku pada pertengahan semester I lalu. Buku "Pencobaan" karya John Owen yang diterbitkan oleh Momentum menjadi bahan diskusi di Klub e-Buku SABDA periode Juni-Juli 2018. Dengan 32 peserta dan seorang moderator, diskusi KBS bisa berlangsung dengan lancar dan dinamika diskusi cukup menarik. Tidak hanya menjawab pertanyaan atau mendiskusikan isi buku, tetapi peserta juga menyelipkan pengalaman atau kesaksian pribadi terkait topik yang sedang dibahas. Inilah yang membuat diskusi menjadi hidup dan berkesan. Oh ya, jangan hanya saya yang memberi kesan, teman-teman yang lain juga ada yang mau memberi kesan atau kesaksian lho. Ini dia ....

Juni Liem:
Mau lebih banyak menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan dan berdoa. Karena sering kali di tengah kelelahan, firman Tuhan dan doa diabaikan dan memilih tidur.

Pertanyaan yang diberikan oleh moderator, membuat saya belajar untuk berpikir lebih kritis dan merenung karena tidak semua pertanyaan berasal dari buku. Dan, saya pun banyak belajar dari komentar teman-teman yang lain.

Suratman Aripin:
Aplikasi yang saya lakukan setelah mengikuti diskusi ini: belajar mencari titik lemah saya, membawanya dalam doa, dan tidak menyepelekan titik awal kejatuhan saya. Jadi, saya harus lebih berhati-hati (berjaga-jaga). Kesaksian saya selama mengikuti diskusi ini: saya sungguh bersyukur walaupun sebelumnya saya pernah membaca buku ini secara pribadi, tetapi melalui diskusi ini saya semakin dipertajam pemahamannya, khususnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh moderator dan juga masukan dari rekan-rekan lainnya. Sekali lagi, terima kasih diskusi ini sungguh bermanfaat bagi saya. Dan, terus kembangkan pelayanan ini.

Puji Arya Yanti:
Buku ini membawa saya untuk mengamini sekali lagi bahwa tetap berjaga-jaga dan berdoa adalah perlengkapan untuk mengadapi pencobaan.

Kesan selama diskusi: Tidak semua jawaban pertanyaan mengacu buku, tetapi berasal dari pendapat peserta dan itu semakin memperkaya isi buku ini. Terima kasih untuk peran aktif moderator dan teman-teman diskusi, dan mohon maaf saya sering terlambat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Terima kasih.

DanceYefrason Faah:
Ada hal-hal baru yang saya dapatkan dalam diskusi kali ini. Dan, hal-hal itulah yang saya pakai untuk kekuatan saya. Pokoknya sangat membantu saya dalam pertumbuhan/proses menjadi murid Kristus. Luar Biasa. Doa dan harapan saya, semoga Tuhan selalu memberkati semua tim YLSA agar selalu menjadi saluran berkat bagi orang lain. Amin!

Prilian Abet Nego:
Diskusi ini menolong saya memahami tentang pencobaan yang sangat berbahaya bagi kehidupan rohani. Saya harus bisa menyadari potensi pencobaan yang hadir. Kemudian, terus menyadari kelemahan yang sering membawa jatuh ke dalam pencobaan. Setiap pencobaan harus dilawan. Setiap waktu harus berdoa dan berjaga-jaga agar kuat menghadapi pencobaan. Terima kasih sudah bisa berdiskusi bersama, menambah wawasan, dan saling menguatkan.

Arief Kristianto:
Melalui diskusi ini, saya mendapat berkat kembali diingatkan untuk terus mendekat kepada Tuhan karena pencobaan (yang ternyata sangat berbahaya) selalu akan kita hadapi. Hanya dengan kekuatan dari Tuhanlah, kita bisa mengatasi semua pencobaan. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah aktif berdiskusi. Tuhan memberkati kita semua.

Romauli Boru Marpaung:
Aplikasi bagi saya sendiri adalah saya bisa mengetahui kapan saat pencobaan itu mulai ada, dan bagaimana cara saya bisa menghadapinya. Kesannya, saya bisa lebih berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Saya juga bisa memperlengkapi diri saat dengan siap melalui doa untuk menang menghadapi segala pencobaan jikalau Tuhan izinkan itu terjadi.

Sebagai penutup, ingatlah kutipan pendek ini, yang saya ambil dari buku "Pencobaan" karya John Owen, "Bertindak sesuai panggilan Yesus merupakan satu-satunya jalan yang telah Allah tetapkan untuk menjaga Anda agar tidak masuk ke dalam pencobaan dan jatuh ke dalam dosa." Doa saya, diskusi buku ini bisa menjadi berkat bagi peserta, terutama untuk mendorong mereka semakin dekat dengan Tuhan dan peka akan kehendak-Nya. Sekian kesaksian saya dan teman-teman dari Klub e-Buku SABDA tentang diskusi buku kali ini. Selamat melayani, Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Hasil Belajar: “Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital”

Blog SABDA - Mon, 08/06/2018 - 15:05

Oleh: Santi

"Teladan berbicara lebih kuat daripada ribuan kalimat." Pesan ini masih membekas dalam hati saya, dan memang harus diakui bahwa hal ini benar. Baik sebagai orang tua, guru, maupun pemerhati anak, pesan ini berlaku bagi kita semua dalam mendidik anak-anak. Akan sangat tidak bijaksana jika kita menuntut anak untuk melakukan ini-itu atau melarangnya berbuat ini-itu, tetapi kita, sebagai orang tua, malah melakukannya, bahkan di depan mereka. Oops, sebelum saya lebih menggebu-gebu lagi melanjutkan topik ini, saya akan menceritakan latar belakang di balik tulisan saya ini ... tenang saja, tidak akan panjang kok.

Sabtu, 28 Juli 2018, saya dan Ody hadir di seminar parenting "Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital" di Graha Anugrah, Surakarta. Seminar dimulai pukul 08.30 WIB yang dibuka dengan menyanyikan lagu pujian dan doa pembukaan, lalu dilanjutkan dengan pembahasan topik seminar oleh Ibu Vik. Mercy Matakupan, S.Th. selaku pembicara seminar. Beliau adalah seorang guru sekolah minggu dan pelayan Tuhan yang aktif dalam bidang parenting. Seminar ini terbagi menjadi 2 sesi; sesi 1 untuk mengenal generasi digital dan sesi 2 membahas tantangan mendidik anak pada era digital. Selama penyampaian materi, Ibu Mercy selalu menggunakan contoh-contoh nyata yang pernah beliau alami/temui ketika mengajar sekolah minggu ataupun mendidik anaknya.

Lanjut ke topik lagi ya. Mendidik anak pada era digital tidak mudah, ada banyak tantangan. Namun, orang tua/guru SM jangan melihat tantangan dari sisi era digitalnya saja, tetapi perlu disadari bahwa pada dasarnya kita adalah orang berdosa, dan anak kita juga orang yang berdosa. Kita tidak bisa mendidik dan menolong anak kita sendirian, kita perlu pertolongan Tuhan. Bahkan, sebelum kita menuntut anak-anak kita, Tuhan akan mengubahkan kita terlebih dahulu. Tujuan Tuhan bukan menjadikan kita orang tua yang berbahagia, tetapi menjadikan kita serupa dengan Kristus.

Sejak dahulu, esensi dosa adalah sama (tidak suka Tuhan, tidak taat, tidak suka firman Tuhan), tetapi kemasannya berbeda-beda. Pada era digital ini, kemasan dosa sangat menarik, bahkan sampai membuat anak-anak kecanduan. Mulai dari film, iklan, lagu, permainan, sampai musik, memberikan hiburan bagi anak-anak dan menjadi cara dunia merampas hati mereka. Lebih parahnya lagi, semuanya ini tidak menjadi hiburan belaka, tetapi menjadi sebuah budaya -- budaya hiburan, pop culture. Dalam mendidik anak, orang tua harus menyadari bahwa anak yang mereka didik saat ini merupakan bagian dari generasi yang lebih suka hiburan daripada didikan; generasi yang lebih suka menonton daripada mendengarkan; generasi yang cepat puas, cepat bosan, tidak suka proses, egois; dan generasi menunduk (karena selalu melihat smartphone). Ini adalah suatu peperangan rohani yang harus kita sadari. Secara tidak langsung, ada penghancuran karakter, moral, iman, melalui berbagai hal yang ditawarkan dunia ini, khususnya melalui hiburan dan kenyamanan yang disajikan. Karena itu, mendidik anak adalah suatu peperangan rohani. Lalu, bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak pada era digital?

1. Orang tua mengisi kebutuhan rohani anak.
2. Mengembalikan sistem nilai yang rusak.
3. Menjadi teladan.
4. Disiplin dalam kasih dan konsistensi.
5. Mencari waktu terbaik untuk berbicara dengan anak.
6. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial/bersama.

Ingat! Kita tidak bisa mengerjakannya sendirian. Kita memerlukan pertolongan Tuhan dan harus rela mengajarkan kebenaran kepada anak secara berulang-ulang (Ulangan 6:6-9). Pelajaran penting yang saya peroleh adalah orang tua harus memiliki visi dan meminta belas kasih kepada Tuhan supaya ketika mendidik anak-anak, orang tua tahu ke mana akan membawa mereka bertumbuh. Kiranya tulisan ini menjadi berkat bagi kita semua. Terpujilah nama Tuhan.

Categories: PEPAK

Hasil Belajar dari SPIK: “You Are What You Love”

Blog SABDA - Fri, 08/03/2018 - 10:47

Oleh: *Yunike

Pada 23 Juli 2018, saya bersyukur karena mendapat kesempatan dari Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) untuk mengikuti Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) dengan tema “You Are What You Love” di Adhiwangsa Hotel, Solo, oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Awalnya, saya tidak begitu berminat untuk mengikuti seminar. Namun, setelah saya pikir-pikir, mungkin akan ada hal baru yang bisa saya dapatkan dari sana. Sekitar pukul 17.30 WIB, saya berangkat bersama staf SABDA yang lain. Sebelum seminar dimulai, panitia memberi kesempatan untuk peserta menikmati snack yang sudah disediakan.

Sekitar pukul 19.00 WIB, acara seminar dimulai oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Beliau membuka sesi dengan menjelaskan poin-poin apa saja yang akan dibahas selama sesi, yaitu sifat atau natur manusia, dan tugas manusia maupun tugas gereja. Selama sesi, saya merasa bahwa beliau menyampaikan materi terlalu cepat. Pada awalnya, apa yang disampaikan beliau mengenai sifat dan natur manusia dapat saya pahami. Tujuan manusia ketika diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berbicara tentang tugas manusia, sesuai yang tertulis dalam Kejadian 1:26. Yang pertama adalah memelihara ciptaan lain (dominion), lalu yang kedua adalah beranak cucu dan penuhilah bumi (reproduksi). Tuhan ingin manusia menjadi representasi Allah yang berkuasa atas seluruh bumi, menaklukkan bumi bagi Tuhan. Sebagai "image of God", ada dua kecenderungan dalam manusia berelasi, yaitu sebagai makhluk rasional dan emosional. Sebagai makhluk rasional, manusia pasti tahu alasan mereka menjalankan banyak hal. Beliau memberi contoh kepada peserta, jika diberi pilihan untuk makan nasi setiap hari atau pop corn, manusia pasti akan memilih nasi karena kebutuhan gizi dari nasi lebih diperlukan. Sebagai makhluk emosional, beliau mengaitkan dengan musik. Tanpa mengetahui tangga nada, keteraturannya, maupun struktur musik, manusia tetap dapat menikmati musik. “As long as it feels good,” begitulah beliau mengungkapkan filosofi manusia tentang musik.

Pada bagian selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa manusia tidak hanya makhluk rasional dan emosional, tetapi manusia juga adalah makhluk yang mencintai. Yang menggerakkan manusia melakukan sesuatu bukan hanya apa yang diketahui dan dirasakan, tetapi juga apa yang dicintai. Orang percaya tahu bahwa berdoa, membaca firman Tuhan, dan saat teduh adalah penting. Namun, kalau tidak mencintai Allah, manusia tidak akan melakukannya atau akan melakukan, tetapi dengan terpaksa. Beliau menjelaskan ketika Yesus mulai mencari murid-Nya, Dia berkata dalam versi bahasa Inggris, “What do you want?” Ketika Petrus menyangkal Yesus, dan Yesus kembali bertemu dengan Petrus, Yesus tidak bertanya apakah kamu menyesal, tetapi Yesus bertanya, "Apakah kamu mengasihi-Ku, Petrus?" Ketika Petrus sadar bahwa dia mengasihi Tuhan lebih dari apa yang dimiliki bahkan hidupnya, dia rela melakukan perintah Tuhan hingga mati disalib terbalik. Beliau mengutip Amsal 4:23 yang menjelaskan bahwa kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh hati, di mana hartamu berada (berkaitan dengan mengikut Yesus), di situ pula hati kita juga berada.

Beliau juga menjelaskan, love dan feeling adalah dua hal yang berbeda. Feeling ada saatnya naik dan turun, sedangkan love akan konstan naik. Love adalah habit, sesuatu yang selalu kita lakukan tanpa sadar. Membangun suatu habit (kebiasaan), yaitu dengan belajar dan berlatih. Selain latihan, hal lain yang memengaruhi habit adalah liturgi atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang memengaruhi kita tanpa sadar. Tugas gereja adalah mengerjakan liturgi yang membawa nilai-nilai yang berbeda dari dunia.

Dalam perjalanan kembali ke mess, saya kembali merefleksikan apa yang telah disampaikan melalui seminar tadi. Satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya adalah “Di mana hati saya berada saat ini? Apakah saya akan sangat bersedih ketika saya kehilangan hadirat Tuhan?” Memang sulit untuk terus berkomitmen dan melekatkan hati kita hanya kepada Tuhan. Namun, seperti yang dikatakan Vik. Heru Lin, terus belajar dan berlatih adalah kunci untuk membangun habit atau kebiasaan untuk mencintai Tuhan lebih dari apa pun. Saya bersyukur karena melalui Roh Kudus-Nya, Tuhan mendorong saya untuk mengikuti seminar ini karena ada hal baru yang saya peroleh, yang dapat membuat saya mengerti bahwa "saya adalah apa yang saya cintai".

Categories: PEPAK

SABDA dalam Kegiatan Bible Fellowship di Yayasan Berita Hidup

Blog SABDA - Mon, 07/16/2018 - 10:36

Oleh: *Agatha

Shalom,

Suatu kebanggaan tersendiri, khususnya bagi saya, karena diberi kesempatan untuk menulis blog ini. Jika ada peribahasa mengatakan "tak kenal, maka tak sayang", izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Agatha Ria Budiyana, saya adalah staf magang di Yayasan Lembaga SABDA. Saya ingin membagikan pengalaman pertama saya ketika mengikuti roadshow SABDA pada acara Bible Fellowship di STT Berita Hidup. Pada hari kedua magang, Kak Evi mengajak saya untuk mengikuti acara 'briefing' mendadak. Awalnya, saya bingung, kemudian Kak Evi menjelaskan bahwa SABDA akan roadshow di STT Berita Hidup, yaitu untuk mengajar anak-anak sekolah minggu, remaja-pemuda, serta guru sekolah minggu tentang bagaimana belajar Alkitab dengan menggunakan gadget. Saya belum pernah mengikuti roadshow SABDA sehingga saya tidak ada gambaran bagaimana acara tersebut dilakukan. Untung ada rekan-rekan staf SABDA lain yang menolong saya. Kami pergi berenam, yaitu saya, Steven (staf magang juga), Kak Evi, Kak Tika, Kak Kun, serta Kak Ariel.

Sehari sebelum roadshow, kami melakukan berbagai persiapan, mulai dari persiapan bahan materi, cara penyampaian materi, serta alat-alat yang akan dibawa untuk acara nanti. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu saya, Steven, dan Kak Evi masuk ke kelas guru sekolah minggu. Kak Kun dan Kak Ariel masuk ke kelas remaja-pemuda, lalu Kak Tika dibantu oleh Oci ke kelas anak sekolah minggu. Saat hari roadshow tiba, yaitu pada Jumat, 13 Juli 2018, saya, Steven, dan Kak Evi datang lebih awal untuk menyiapkan booth SABDA di dekat tempat anak-anak beribadah. Kami menata traktat-traktat untuk anak-anak, CD-CD Alkitab audio, dan brosur-brosur pelayanan YLSA. Menariknya, anak-anak sangat tertarik dengan traktat Tuhan Yesus Menyelamatkanmu. Mungkin karena traktat tersebut memiliki banyak gambar. Ceritanya juga menarik, yaitu tentang bagaimana kita, walaupun masih anak-anak sudah penuh dengan dosa. Puji Tuhan, Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Mereka antusias melihat traktat itu. Saya dan Steven juga mendapatkan pengalaman yang berkesan saat membantu anak-anak menginstal aplikasi SABDA (Alkitab, Kamus, Tafsiran, AlkiPEDIA, dan Peta) ke dalam HP mereka. Kami dapat melakukannya dengan baik walaupun menghadapi beberapa kesulitan, misalnya ketika ada HP yang tidak memiliki aplikasi SHAREit dan tidak memiliki paket data. Kalau memakai bluetooth instalasi, akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebenarnya, ada Wi-Fi di lokasi STT Berita Hidup, tetapi entah kenapa Wi-Fi-nya kurang bersahabat. Kesulitan lain adalah ketika memori HP penuh saat diinstal. Itu semua merupakan pengalaman yang mengesankan bagi saya.

Ketika acara pelatihan dimulai, teman kami, Oci, tidak bisa hadir karena ada urusan yang perlu diselesaikan di kampus. Nah, hal itu mengubah posisi saya yang awalnya berada di zona agak nyaman, yaitu di kelompok guru sekolah minggu, harus pindah ke kelompok anak-anak sekolah minggu. Pada awalnya, saya sedih karena saya tidak punya persiapan apa pun untuk menghadapi anak-anak sekolah minggu. Namun, akhirnya, saya bisa maju mendampingi Kak Tika untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Anak-anak sekolah minggu yang imut-imut mulai masuk ke dalam ruangan dengan sangat ribut. Namun, puji Tuhan, ketika Kak Tika mulai menyampaikan materi, mereka bisa duduk diam mendengarkan apa yang disampaikan oleh Kak Tika. Kak Tika menceritakan kepada anak-anak sekolah minggu bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, dan manfaat firman Tuhan menurut 2 Timotius 3:16 ada empat, yaitu untuk mengajar, memperbaiki kelakuan, menyatakan kesalahan, serta mendidik orang dalam kebenaran. Beberapa anak antusias ketika ditanya, "Siapa yang belum dapat traktat?" Banyak anak yang mengacungkan jarinya, dan saya membantu Kak Tika untuk memberikan traktat tersebut kepada anak-anak. Saya sangat senang melihat mereka yang sudah mendapatkan traktat langsung membacanya dan ingin tahu apa isinya. Mereka terlihat sangat serius dan tenang ketika membaca isi traktat tersebut. Itulah pengalaman saya ketika mengikuti roadshow di STT Berita Hidup, walaupun sebenarnya masih banyak pengalaman lain yang tidak dapat saya tuliskan semua di sini.

Melalui kegiatan roadshow SABDA pada acara Bible Fellowship di STT Berita Hidup ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran. Pertama, saya belajar untuk sabar ketika mencoba membantu anak-anak dalam menginstal aplikasi SABDA dengan berbagai macam kondisi HP. Kedua, saya belajar untuk mencari akal bagaimana caranya agar aplikasi SABDA dapat terinstal di kondisi HP yang kurang mendukung. Ketiga, bersikap fleksibel terhadap situasi yang berubah. Kiranya melalui roadshow SABDA ini, banyak anak-anak serta para guru sekolah minggu terberkati dengan adanya aplikasi Alkitab SABDA di HP mereka masing-masing. Tuhan Yesus memberkati.

Categories: PEPAK

Raker Mini YLSA 2018 — Melayani dan Mengasihi Lebih Sungguh

Blog SABDA - Tue, 07/10/2018 - 10:47

Oleh: Markus

Setelah mengawali Juni 2018 dengan kegiatan piknik ke Kedung Ombo, awal Juli seluruh staf SABDA mempersiapkan dengan sungguh-sungguh rapat kerja (raker) mini 2018. Suasana piknik sepertinya membawa kesegaran bagi semua staf untuk mempersiapkan raker. Seluruh staf, termasuk saya, bahu-membahu menyusun laporan kerja sepanjang semester I 2018 dengan kompak. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Yulia, raker seharusnya menjadi sukacita kami bersama karena dapat melihat dan memetik buah-buah pelayanan SABDA yang dikerjakan selama satu semester kemarin. Raker mini YLSA, yang diadakan pada 2 — 3 Juli 2018 ini adalah raker mini pertama yang saya ikuti sejak menjadi staf di SABDA. Yang istimewa, raker kali ini juga dihadiri oleh Bapak Tjahjadi selaku Badan Pembina YLSA.

Hari I: 2 Juli 2017: Laporan dan Rencana Kerja: Tim ITS, IT4GOD, PAS, AYT, Proyek Komik dan Video Tetelestai

Raker hari pertama dibuka dengan makan nasi kuning plus lauk-pauknya, yang menurut beberapa staf beda dari menu raker biasanya. Sebelum memulai raker, moderator menyampaikan gambaran singkat isi raker hari I, yaitu laporan dan rencana dari tim ITS, IT4GOD, PAS, AYT, dan Komik. Selama raker berjalan, seluruh staf harus aktif memberi pertanyaan atau komentar kepada presenter. Hal ini akan sangat berguna sekali, khususnya karena hari I akan diisi dengan banyak laporan dan penjelasan proyek baru yang YLSA kerjakan.

Untuk membuka raker, Pak Tjahjadi, sebagai ketua Badan Pembina, memberikan kata-kata penyemangat kepada kami. Pak Tjahjadi merasa bangga karena YLSA mengerjakan pekerjaan yang bernilai kekal. Sebagai staf YLSA, meskipun terdiri dari orang-orang biasa, kita dapat turut ambil bagian melakukan pekerjaan yang bernilai kekal dalam kesementaraan kita. Apalagi jika melihat buah-buah pelayanan YLSA yang telah banyak dipakai mulai dari orang desa sampai orang kota dari seluruh Indonesia. Pak Tjahjadi mengutip Kolose 3:23 bahwa YLSA mengerjakan pekerjaan Tuhan, suatu anugerah yang patut disyukuri. Oleh sebab itu, Pak Tjahjadi merasa terbeban untuk turut ambil bagian dalam karya pelayanan YLSA. Beliau sebenarnya sudah tahu apa yang dikerjakan SABDA sejak lama, tetapi baru saat ini beliau melihat momen yang tepat untuk terlibat secara langsung, yaitu dalam pengerjaan proyek Bible Engine. Mendengar kabar baik ini, kami sungguh berlimpah dengan sukacita.

Laporan hari pertama difokuskan untuk proyek-proyek seputar Alkitab. Kualitas diskusi raker semakin mengasyikkan karena kami melihat potensi-potensi di bidang teknologi yang dapat dikembangkan dalam pelayanan YLSA. Satu per satu anggota tim ITS melaporkan dengan antusias perkembangan proyek tim ITS. Kami juga ikut melihat bagaimana Tuhan bekerja lewat kursus "IT4GOD" yang dilakukan oleh Bapak Jeffrey Liem untuk anak-anak dan remaja di Tanjung Pinang. Setelah itu, ada laporan dari proyek khusus ITL Builder dan aplikasi Alkitab SABDA untuk bahasa India. Puji Tuhan! Dari laporan ini, saya melihat bahwa dari Indonesia, Tuhan bergerak untuk memberi pengaruh ke negara-negara lain untuk memakai teknologi menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan.

Perkembangan teknologi membawa YLSA untuk melangkah lebih maju dengan strategi-strategi baru, yang tidak saja mengedepankan bahan-bahan teks, tetapi menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sekarang. Apa itu? Eiit, tunggu tanggal mainnya. Puji syukur, strategi-strategi baru ini semakin membuat kami semangat, terutama menyaksikan laporan dari tim IT4GOD, PAS, dan AYT, yang semuanya menunjukkan bagaimana Allah sungguh bekerja melalui proyek-proyek ini. Terlebih proyek AYT yang sebentar lagi mendekati proses akhir tahap 5. Raker hari I ditutup dengan laporan dan rencana kerja proyek-proyek baru, yaitu komik-komik Alkitab dan video Tetelestai. Meskipun kami melihat banyaknya panenan yang dituai, kami juga menyadari adanya kebutuhan penuai-penuai yang lebih banyak lagi. Jadi, dukunglah dan doakan kami terus, ya!

Hari II: 3 Juli 2018: Laporan dan Rencana Kerja: Tim Multimedia, Penjangkauan, Pembinaan, Pendidikan Kristen, dan Administrasi

Pada hari II ini, Pak Jeffrey membuka raker dengan memberikan renungan yang diambil dari Efesus 2:10. Seperti yang juga disampaikan oleh Pak Tjahjadi, sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus, kita tidak saja menikmati keselamatan. Ada pekerjaan mulia yang dapat kita lakukan untuk Allah. Hal ini karena rasa syukur kita kepada Allah sehingga kita bekerja bagi-Nya. Pelayanan YLSA merupakan anugerah, sebab staf YLSA dapat melayani semata-mata karena kasih Tuhan. Oleh sebab itu, Pak Jeffrey mengingatkan supaya kita semakin tekun bekerja bagi Allah. Bapak Jeffrey menambahkan bahwa di dunia IT ada namanya 'continous learning', yaitu terus belajar supaya tidak ketinggalan perkembangan teknologi. Itu berarti setiap staf YLSA harus terus belajar, belajar bagaimana mengembangkan dan memajukan pekerjaan Tuhan.

Laporan hari II dimulai dari tim Multimedia yang akan menjadi salah satu fokus pelayanan YLSA. Jalur-jalur baru seperti komik menjadi andalan YLSA pada semester II. Di sisi lain, kami mengakui masih ada hambatan untuk menerapkan "media first" di YLSA karena keterbatasan sumber daya manusia. Akan tetapi, dengan semangat baru, masing-masing tim berusaha membantu tim multimedia untuk maju bersama. Syukur kepada Tuhan, kami melihat proyek-proyek multimedia tidak harus dikerjakan oleh tim multimedia sendiri, karena setiap tim akan ambil tugas multimedia sehingga tim multimedia akan lebih kuat. Laporan dilanjutkan oleh tim Penjangkauan, Pembinaan, dan Pendidikan Kristen. Masing-masing tim ini sepakat untuk mengembangkan publikasi lewat jalur aplikasi, seperti yang sudah tersedia di apps Publikasi SABDA.

Akhirnya, acara raker ditutup dengan kesaksian yang diambil Ibu Yulia dari hasil menyunting buku The Great Mission. Renungan ini mendorong saya untuk tetap bersemangat dalam melayani dan mengasihi Tuhan sebesar apa pun tantangan yang harus saya hadapi. Kami pun menutup raker dengan membuat lingkaran sambil menyanyikan "Melayani, Melayani Lebih Sungguh". Harapan saya, seluruh staf, volunter, mitra, donatur, sahabat, dan pendukung YLSA mengaminkan lagu tadi. Mari kita giat melayani karena Tuhan telah lebih dahulu melayani kita. Mari kita bersatu hati berseru TGBTG (to God be the glory)! Segala kemuliaan bagi Tuhan!

Categories: PEPAK

Komentar