C3I
Kasih yang Memberi - (28 February 2012)
Kasih untuk Mengampuni - (21 February 2012)
Menegur dengan Kasih - (14 February 2012)
Kasih Kristiani - (7 February 2012)
Komunikasi dalam Tim Kerja - (31 January 2012)
Pelatihan Khotbah Langham di YLSA: Kitab Hagai
Beberapa waktu yang lalu, YLSA mengadakan pelatihan khotbah Langham yang diikuti oleh semua staf untuk diterapkan dalam PA kelompok setiap pagi. Pelatihan ini merupakan oleh-oleh Ibu Yulia setelah beberapa waktu sebelumnya mengikuti pelatihan khotbah Langham di Bogor. Tujuannya bukan memaksa kami menjadi pengkhotbah, tetapi membekali kami agar tahu bagaimana menyampaikan atau menerima Firman Tuhan secara benar.
Dari pelatihan ini saya belajar bahwa sebelum seseorang bisa menyampaikan khotbah dengan benar, ia harus terlebih dahulu belajar bagaimana menggali Alkitab dengan benar — bukan sekadar membaca ayat dan mengartikannya sesuai dengan keinginannya sendiri. Dibutuhkan cara sistematis untuk mendapatkan hasil penggalian yang benar dan mendalam. Jika hasil penggalian ini dibagikan kepada orang lain, maka pasti akan menjadi berkat yang bermanfaat.
Metode Langham ini sebenarnya mirip dengan metode PA (metode PA studi kata, metode PA survei kitab) yang pernah YLSA gunakan sebelumnya. Langkah awal, setelah berdoa, adalah mengamati perikop Alkitab dengan 7 langkah obeservasi.
1. Apa yang dapat diamati dengan pancaindra?
(apa yang didengar, dilihat, dicium, diraba dan dirasa?)
2. Bagaimana kejadian peristiwanya?
3. Siapa saja yang terlibat dalam bacaan (tokoh)?
4. Dimana tempat kejadiannya?
5. Kapan waktu kejadiannya?
6. Adakah kata-kata yang diulang-ulang?
7. Apakah ada “kata-kata kecil” (kata penghubung, kata depan, dll.)
– tapi, kemudian kami tambah dengan satu langkah lagi (8), yaitu membandingkannya dengan beberapa versi Alkitab lain.
Untuk menjadikan teks Alkitab yang kita gali menjadi khotbah, dipakai ilustrasi pandangan negara, pulau, dan tiga kota. Sedangkan cara untuk mengevaluasi khotbah, adalah dengan menggunakan tiga prinsip yaitu SJR — apakah khotbah itu Setia pada teks Alkitab, apakah pesan atau struktur khotbah itu Jelas, dan apakah khotbah itu Relevan dengan kehidupan pendengarnya. (Langkah-langkah bisa dilihat di situs Khotbah.co.)
Training khotbah Langham itu sudah kami coba terapkan beberapa kali pada acara persekutuan pagi, dan buku-buku yang sudah kami bahas menggunakan 7(+1) langkah-langkah tersebut adalah kitab Filemon, Habakuk, dan Hagai. Secara khusus saya ingin ceritakan berkat yang saya terima ketika membahas kitab Hagai bersama teman-teman di kantor. Kitab Hagai menarik untuk dipelajari dan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan. O iya, sebelumnya saya belum pernah mempelajari kitab Hagai ini secara lengkap dan tuntas secara berseri meski kitab ini hanya terdiri dari dua pasal
Saya secara pribadi bersyukur karena sungguh luar biasa berkat yang saya rasakan. Melalui kitab Hagai Tuhan mengingatkan saya untuk memerhatikan keadaan atau sikap hidup saya. Tuhan menggerakkan semangat saya, seperti pemimpin Zerubabel ketika mau mendengarkan suara Tuhan, sehingga Tuhan menyertai dan menggerakkan semangatnya untuk membangun kembali Bait Allah.
Di akhir setiap pelajaran, kami membagikan apa yang kami pelajari, dan selebihnya kami mendengarkan pelajaran dari Sekolah Alkitab Audio (SAA) yang membahas pengantar kitab Hagai, sehingga kami semakin dibekali dengan pelajaran baru yang kami dapatkan.
Banyak berkat yang saya dapatkan dengan menerapkan prinsip Langham ini. Semoga yang saya sharingkan ini bisa menjadi berkat bagi yang lain. Silakan mencoba. Tuhan memberkati
Kerja Sama Tim - (24 January 2012)
Re: Pacaran - Sekolah - Bekerja
Sikap dalam Bekerja - (17 January 2012)
Stres dalam Bekerja - (10 January 2012)
Re: Pacaran - Sekolah - Bekerja
Re: Setiap orang hrs melayani??
Re: Sendiri??
pa lagi klo lg down kepngin x sndr biar bsa ngomong ma ayah ku yg di atas(ALLAH)
idem. hehehehe
kalau galau daripada nulis status, mending berdoa aja
Re: six sense itu anugerah / bukan?? apa anak indigo termasuk anak ALLAH??
gmn menurut kalian ttg six sense / indra ke 6?? mnrt kalian "kelebihan" tsb anugerah / bkn??
dan apakah anak indigo (sebutan org yg memiliki indra ke 6) tsb termasuk...
Nonton CSI di YLSA
Training hari ini, Jumat, 27 Januari 2012 adalah nonton film seri “Crime Scene Investigation (CSI)”, Last Vegas Season 1, dengan episode yang dipilih adalah “Gentle, gentle”.
Film seri CSI adalah salah satu favorit saya, dan kami memiliki koleksi beberapa season. Selain belajar tentang team work, film ini memberi banyak ‘insight’ untuk saya pribadi. Beberapa tahun yang lalu film ini sudah pernah saya pakai untuk memberi training staf, tapi sudah banyak staf baru yang belum menonton. Nah, acara PD kali ini kita gunakan untuk menonton sambil belajar.
Setelah menonton, biasanya kita akan berdiskusi dan berbagi apa saja yang kita pelajari dari film itu. Tapi hari ini kita kehabisan waktu. Karena itu, teman-teman mensharingkannya melalui komentar berikut. Semoga menjadi berkat bagi yang lain.
Panggilan Bekerja - (3 January 2012)
Anugerah Natal - (20 December 2011)
Training Menulis Cepat di YLSA
Tidak seperti training-training kepenulisan yang biasa dilaksanakan oleh Divisi Publikasi setiap hari Kamis, training kepenulisan kali ini berbeda dari biasanya. Mengapa? Begini ceritanya.
Ada staf YLSA yang dulu menghadiri seminar kepenulisan yang diadakan oleh Papirus — Yayasan Gloria, di Yogyakarta. Sebagaimana diwajibkan di YLSA, kalau ada staf yang ikut seminar, maka sepulang dari seminar dia harus bisa membagikan pengetahuan, pengalaman dan berkat yang didapat dari seminar itu kepada semua staf lain yang tidak ikut.
Oleh-oleh yang dibawa sepulang dari mengikuti pelatihan menulis di Papirus menurut saya cukup menarik. Salah satu berkat yang dibagikan adalah tentang “Menulis Cepat”. Menulis cepat? Apaan tuh? Apakah berarti ada menulis yang tidak cepat? Apa bedanya menulis cepat dan menulis tidak cepat? Pertanyaan ini sempat terlintas dalam benak saya.
“Menulis adalah sebuah kebiasaan…”. Menulis cepat itu seperti halnya belajar naik sepeda atau belajar berenang. Agar bisa mahir naik sepeda atau berenang, maka kita harus sering berlatih. Ketika kita sudah trampil naik sepeda atau berenang, maka ketrampilan tersebut tidak akan pernah hilang, tapi bisa menjadi ‘karatan’ kalau jarang dilakukan. Teknik terbaik untuk membangun kebiasaan menulis adalah dengan menulis cepat. Mengapa? Pertama, ide itu bagaikan angin — mudah datang dan mudah hilang. Kedua, untuk menjadi penulis andal, maka perlu proses pembiasaan — semakin banyak dipakai semakin mudah mendapatkan ide untuk diutak-atik, ditambahi, dikurangi, diperkaya, dll.. Ketiga, menulis cepat dapat menolong kita untuk bisa lebih fokus.
Sebagai aplikasinya, maka kami diberi tugas untuk mempraktikkan latihan menulis cepat. Idealnya, 30 menit setiap hari selama 30 hari, kita diminta untuk berlatih menulis sendiri — menulis apa saja, tidak usah terlalu dipusingkan apa yang kita tulis, apakah kalimat yang kita tulis nyambung dengan kalimat yang lainnya, jangan memusingkan masalah EYD (ejaan yang disempurnakan), apakah tata bahasanya benar, dll., pokoknya menulis apa saja. Dengan “semangat 45″, beberapa rekan yang mengikuti training, langsung mau berkomitmen untuk melakukan latihan menulis cepat ini. Saya secara pribadi agak mikir-mikir, “Ikut apa gak, ya?” Terus terang, saya khawatir tidak bisa mendisiplin diri untuk setiap hari menulis selama 30 menit selama 30 hari karena saat itu saya memiliki banyak kegiatan di gereja. Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk ikut juga (walaupun dengan sedikit dipaksa dan tidak terlalu yakin ).
Setelah dijalankan, saya mengambil kesimpulan bahwa ternyata menulis itu bukan hal yang sulit. Kita bisa menulis apa saja dan kapan saja, entah ketika suasana hati kita sedang senang, atau baru kesal dengan orang lain, atau sedang pusing memikirkan pekerjaan kantor, pokoknya dalam situasi apa saja. Tapi yang paling sulit adalah mendisiplin diri untuk menulis 30 menit setiap hari selama 30 hari. Hasil praktik saya, masih banyak yang “bolong-bolong” . Eh, tapi bukan cuma aku lho, yang tidak disiplin, teman-teman yang lain juga pada “bolong-bolong” (membela diri sendiri )… Doakan semoga kami, terutama tim penulis YLSA, bisa terus disiplin belajar menulis, supaya talenta yang Tuhan berikan ini semakin terasah.
Re: Hidup ini indah...
setuju deh sama kamu ... cuma nggak mudah juga untuk menjalani bersama Tuhan .... seringnya menjalani dengan diri sendiri dan orang lain ... hehe






sabda.org