Bagaimana Cara Membaca | GUBUK


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs GUBUK

Loading

Bagaimana Cara Membaca


Kategori: Artikel

Penulis: J. Oswald Sanders

Salah satu arti membaca didefinisikan sebagai belajar dari bahan yang tertulis atau tercetak; membaca bukan hanya memerhatikan tanda-tanda bacanya saja, tetapi juga merenungkan pikiran yang dinyatakan di dalamnya. "Membaca itu mudah.

Yang jauh lebih sukar ialah menyimpan hasil bacaan di dalam pikiran. Namun demikian, apa gunanya membaca, jika kita tidak mencapai tujuan ini?"

Pada waktu penyair Southey memberitahu seorang wanita Quaker bagaimana ia belajar tata bahasa Portugis sambil membersihkan tubuh, belajar sesuatu yang lain pada waktu berpakaian, bagaimana ia belajar sesuatu yang lain lagi sambil sarapan, dan sebagainya sehingga hari-harinya selalu penuh acara. Maka wanita itu berkata dengan tenang, "Dan kapan Anda berpikir?" Memang kita dapat membaca tanpa berpikir, tetapi kita tidak dapat memanfaatkan apa yang kita baca, kecuali kita berpikir. Charles H. Spurgeon menasihati siswa- siswanya:

Kuasailah buku-buku yang Anda miliki. Bacalah secara menyeluruh. Bacalah benar-benar isinya sampai pikiran Anda diliputi olehnya. Bacalah berulang kali, kunyah dan cernakan isinya. Biarkan itu meresap. Bacalah dengan teliti satu buku yang baik beberapa kali, buatlah catatan dan analisa isinya. Seorang pelajar akan merasa bahwa pikirannya akan lebih dipengaruhi oleh sebuah buku yang benar-benar dikuasai daripada oleh dua puluh buku yang hanya dibaca secara sepintas lalu saja. Membaca terlalu cepat hanya mengakibatkan hasil sedikit dan lebih cepat menjadi sombong. Beberapa orang kehilangan daya berpikir karena tidak mau merenungkan apa yang dibacanya, hanya demi banyak membaca saja. Dalam hal membaca, Anda hendaknya lebih mementingkan "kualitas daripada kuantitas".

Aturan membaca yang berikut ini ternyata menjadikan membaca lebih berarti dan mendatangkan manfaat yang lebih tetap sifatnya:

  1. Janganlah membaca terlalu banyak hal yang akan segera dilupakan karena ini hanya membentuk kebiasaan lupa. Memilih buku hendaknya dilakukan seperti kita memilih teman.

  2. Membaca sambil memegang pensil dan buku catatan. Kecuali jika daya ingatan kita luar biasa kuat dan mempunyai kemampuan untuk menyimpan, maka banyak membaca hanya memboroskan waktu saja. Kembangkan satu cara untuk mencatat apa yang Anda baca dan Anda akan heran karena melihat bagaimana kebiasaan ini sangat menolong ingatan kita.

  3. Sediakan sebuah buku catatan untuk mencatat segala sesuatu yang mencolok, yang menarik, yang memberi dorongan, dan berguna untuk dicatat. Komentar dan kritik sendiri dapat ditambahkan. Dengan cara seperti ini kita dapat mengumpulkan bahan-bahan yang sangat berharga, yang dapat disimpan dan diberi indeks untuk digunakan pada waktu yang akan datang.

  4. Periksalah seluas mungkin keterangan-keterangan tentang sejarahnya, segi ilmiah, dan yang lainnya, jangan membiarkan ada perkataan yang dilewatkan, sampai artinya dapat dimengerti.

  5. Hendaknya kita membaca beberapa macam buku karena pikiran kita mudah sekali menjadi bosan. Variasi berkhasiat memberi ketenangan kepada pikiran maupun tubuh kita.

  6. Jika memungkinkan, hendaknya pembacaan dihubungkan, misalnya sejarah dengan sajak, riwayat hidup dengan novel historis. Pada waktu membaca sejarah Perang Saudara di Amerika, misalnya, bacalah riwayat hidup Lincoln dan Grant dan beberapa sajak yang ditulis oleh Walt Whitman mengenai Abraham Lincoln.

Canon Yates memberi nasihat mengenai membaca yang akan sangat berguna bagi mereka yang dapat mengikutinya. Tetapi bagi beberapa orang, tekanan-tekanan zaman angkasa luar ini mungkin membuat nasihat itu terlampau muluk.

Ia menasihatkan bahwa setiap bacaan yang berbobot memerlukan tiga kali pembacaan. Pembacaan pertama harus cepat dan terus-menerus. Bawah sadar akan mulai memikirkan hal itu dan menghubungkannya dengan apa yang pernah Anda ketahui mengenai bahan itu. Kemudian ambillah waktu untuk merenungkan apakah sumbangannya untuk pengetahuan yang telah Anda miliki. Pembacaan kedua harus berhati- hati, lambat, dan terperinci, sambil memikirkan tiap-tiap segi yang baru dan membuat catatan untuk digunakan kemudian. Setelah beberapa waktu lamanya, pembacaan ketiga harus agak cepat dan terus-menerus, sambil menuliskan analisa singkat dan cepat di belakang buku dengan menuliskan halaman, di mana pokok bacaan dan gambaran itu tertulis.

Seorang pendeta di Lumsden, Skotlandia, mengumpulkan tidak kurang dari 17.000 jilid buku di dalam rumahnya. Ia sangat senang melewatkan waktu di antara buku-bukunya itu. Tetapi mengenai dia dan buku-bukunya, anaknya berkata, "Walaupun ia mencurahkan banyak waktu dan berjerih payah dalam menyusun khotbah-khotbahnya, ia tidak menghubungkan khotbah-khotbahnya itu dengan kegemarannya membaca."

Di sini terdapat satu bahaya yang harus disadari oleh seorang pemimpin. Seharusnya buku merupakan satu saluran di mana pikiran seseorang dapat disampaikan kepada orang lain. Pendeta dari Lumsden itu berhasil menghubungkan bacaannya dengan kehidupan rohaninya, tetapi jemaatnya tidak memperoleh manfaat dari hasil bacaannya yang luas itu. Seorang pemimpin berkewajiban menghubungkan apa yang dibacanya dengan apa yang dikatakan atau ditulisnya, agar orang- orang lain dapat memetik hasil sebanyak-banyaknya.

Seorang pendeta di daerah pedesaan di Australia dikenal oleh penulis sebagai seorang pencinta buku. Pada awal pelayanannya, ia memutuskan akan mengembangkan jemaat yang suka membaca Alkitab dan bahan-bahan teologi. Ia berhasil menyalurkan kegemarannya akan buku kepada anggota jemaatnya, dan selangkah demi selangkah memperkenalkan buku- buku rohani yang lebih berat dan mendalam. Hasilnya ialah bahwa ada sejumlah petani di daerah itu yang mempunyai perpustakaan yang tidak akan memalukan seorang pemberita Injil. Jika mereka mau, banyak pendeta dapat menyampaikan penghargaan mereka akan buku-buku rohani kepada jemaat mereka dengan cara membimbing mereka mengadakan bacaan yang terpilih.

Sumber: Pub. e-Buku edisi 08/2006

Komentar