Update TerakhirUser loginFans FB ReformedKomentar terbaruSitus YLSA |
Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SOTeRI Loading
RSS Blog SabdaMenulis Renungan dengan Software SABDAPada tanggal 7-8 Mei 2012 yang lalu, YLSA kembali menyelenggarakan pelatihan penulis Kristen. Ini merupakan pelatihan penulis kedua yang diadakan oleh YLSA. Pelatihan sebelumnya adalah pada bulan November 2011. Pelatihan yang mengambil tema “Menulis Renungan dengan Software SABDA” ini diadakan di gedung pertemuan GKJ Joyodiningratan, Solo. Terima kasih banyak kepada pengurus GKJ Joyodiningratan yang telah meminjamkan tempat dan fasilitas yang kami butuhkan. Kiranya kerjasama ini dapat menjadi berkat bagi masyarakat kota Solo. Berbeda dari pelatihan penulis sebelumnya yang mengudang pembicara tamu, kali ini Tim SABDA sendiri yang menjadi pembicaranya. Ada 2 bagian utama dalam pelatihan ini, pertama adalah membagikan materi-materi yang terkait dengan penulisan renungan Kristen. Kedua, adalah pelatihan bagaimana menggunakan software SABDA untuk melakukan penggalian firman Tuhan yang mendalam. Harapan kami, setiap peserta yang mengikuti pelatihan ini semakin diperlengkapi sehingga mereka dapat menjadi penulis-penulis renungan yang berkualitas. Selain itu, kami juga mempresentasikan produk-produk SABDA sehingga dapat memperlengkapi para penulis renungan ini dengan artikel dan bahan-bahan bermutu dari Yayasan Lembaga SABDA. Berikut ini adalah kesaksian saya sebagai ketua panitia dan beberapa panitia lain yang mengikuti pelatihan penulis ini: “Back to the Bible” kira-kira frasa itu yang menggambarkan rangkaian pelatihan menulis renungan kemarin malam. Selain itu saya belajar bahwa renungan bukan sekadar merangkai kata-kata yang menghibur dan menyejukkan sesaat. Tapi renungan adalah hasil perenungan dari seseorang yang bergumul dan mempelajari firman Tuhan secara mendalam dan bertanggung jawab. (Ryan) Kata orang Jerman, ini merupakan “aufklarung” alias pencerahan bagi saya dalam memahami renungan. Salah satu “pembaruan pikiran” yang saya terima dari seminar penilis ini adalah bahwa renungan merupakan penggabungan dari tindakan menyelidiki Allah dan dan pengalaman pribadi, yang dituangkan secara jujur dalam kalimat-kalimat. Renungan lebih bersifat “sharing” daripada menggurui, dan bukan merupakan hasil ‘pemerkosaan’ ayat terhadap topik-topik yang akan diangkat dalam renungan tersebut. Namun sebaliknya, hasil penggalian ayat yang diterapkan dalam kehidupan pribadi dan dibagikan kepada orang lain dalam bentuk tulisan. Meski sulit mencari jenis renungan seperti ini saat ini, tetapi saya harap seminar seperti ini dapat mendorong untuk mengawalinya. (Berlin) Belajar tidak hanya menelan mentah-mentah bahan renungan yang kita baca. Tapi kita sendiri harus menggali dan menggali terus supaya kita tidak hanya mendapatkan kulitnya saja, tapi juga sari dari ayat-ayat yang kita renungkan. Itu adalah sangat penting didapat dalam sebuah renungan. (Elly) Berkat yang saya dapat dari seminar penulis kemarin, adalah bahwa mulai saat ini kita harus lebih selektif lagi memilih bahan renungan karena tidak semua renungan Kristen menyampaikan firman Tuhan meskipun dibuat oleh orang Kristen dan ada kutipan ayatnya. Dan yang ditekankan dalam seminar penulis kemarin adalah bahwa renungan bukan hiburan tetapi renungan adalah menyampaikan firman Tuhan kepada pembaca. (Anik) Respons lain silakan diposting di kolom komentar SABDA yang DiperdengarkanBeberapa waktu yang lalu, ketika teman baik saya pergi ke Singapore untuk mengurus surat, ia mendengar bahwa temannya dirawat di salah satu rumah sakit di Singapore karena stroke. Maka ia pun pergi ke rumah sakit untuk mengunjunginya. Sesampainya di sana, teman saya cukup terkejut melihat keadaan temannya yang sakit itu, karena ternyata sejak kena serangan stroke, ia sudah hampir tidak sadarkan diri lagi. Ia hanya bisa terbaring di ranjang dengan tubuh yang sudah tidak bisa digerakkan lagi secara normal. Untuk bernafas pun dokter harus membuat lubang di tenggorokannya supaya ia tetap bisa bernafas. Makanannya harus diproses sebelum bisa dimasukkan dengan pipa ke dalam pencernakannya lewat hidung. Dari hari ke hari, ia hanya tergeletak di ranjang rumah sakit dengan keluarga dan dua perawat pribadi yang menjaganya 24 jam. Keluarga hanya bisa menemani di sampingnya, tapi tidak bisa melakukan komunikasi apa pun. Matanya terbuka, tetapi pandangannya kosong, karena hampir tidak bisa lagi merespons. Kepalanya akan sedikit bergerak jika ada orang yang datang dan berbisik untuk berdoa di telinganya. Keadaan yang sangat menyayat hati. Keluarga sudah pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ketika teman saya datang menjenguk dan meremas tangannya, memang tidak ada respons apa pun. Perawat yang menjaga berkata bahwa pasiennya kadang memberi sedikit respons ketika diperdengarkan lagu-lagu pujian atau kalau ada orang berdoa di telinganya. Teman saya lalu mengeluarkan sebuah CD Alkitab Audio TB PB dan PL yang ia peroleh dari Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). “Coba putarkan CD Alkitab Audio ini untuknya,” teman saya berkata kepada perawat itu dengan bahasa Inggris. Teman saya memilihkan kitab Mazmur untuk diperdengarkan. Dua perawat itu ikut mendengarkan bersama teman saya. Kitab Mazmur pasal 1 dibacakan sampai selesai, lalu dilanjutkan dengan Mazmur pasal 2, tapi ketika Mazmur 3 mulai dibacakan, teman saya dan dua perawat yang masih di sana menjadi terpana, seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mata pasien terlihat memerah, lalu perlahan-lahan mulai basah…. sehingga perawat mengambil tissu untuk menyekanya. Keadaan yang sungguh mengharukan….. firman Tuhan menyentuh hatinya…. dan ia menangis karena sukacita mendengar Sabda-Nya! Teman saya lalu pamit pulang dan memesan kepada perawat-perawat itu untuk sering-sering memutarkan CD Alkitab Audio kepada pasiennya. Walaupun secara fisik badannya seakan sudah mati, tetapi rohnya hidup dan memberi respons atas Firman-Nya yang berkuasa. To God be the glory! Gerakan SABDA_Care di SoloOleh: Is Ardiansah* Dunia dijadikan oleh Tuhan lewat Perkataan, demikian juga kehidupan setiap orang dimulai oleh perkataan-Nya. Lewat Perkataan itu jugalah kita sekarang dipanggil untuk melayani Dia yang empunya hidup. Demikianlah juga Yayasan Lembaga SABDA, dipanggil untuk menjadi berkat bagi kemuliaan nama-Nya. Pada pertengahan Maret lalu, Ibu Yulia menyampaikan kerinduannya agar Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) semakin dikenal untuk menjadi berkat bagi umat Tuhan di Indonesia. Visi yang besar ini kami mulai dari kota di mana kantor YLSA berada, dan dari kota Solo kami mulai memperkenalkan SABDA_Care. Apakah SABDA_Care itu? SABDA_Care adalah sebuah gerakan kepedulian akan pewujudan “IT for God”, dengan memperkenalkan dan membagikan produk-produk SABDA kepada masyarakat Kristen Indonesia secara luas sehingga kerinduan “Bible Everywhere” menjadi kenyataan. YLSA menyadari sepenuhnya bahwa semua bahan “maya” yang dimiliki YLSA tidak akan ada gunanya jika tidak dipakai secara “nyata” oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang sudah didominasi kuat oleh produk-produk IT. Alkitab mobile, Alkitab audio, Alkitab video, Alkitab gambar, Alkitab animasi; dan aplikasi-aplikasinya adalah beberapa contoh produk SABDA yang dapat dipakai untuk menyebarkan firman Tuhan ke semua orang dan di semua tempat. Gerakan SABDA_Care — kepedulian untuk menyebarkan firman Tuhan melalui alat-alat IT ini harus dimulai dari staf YLSA terlebih dahulu! Karena itu kami pun mendapatkan pelatihan agar bisa membagikan visi gerakan ini. Dengan berkelompok dalam sebuah tim, yang masing-masing terdiri dari 4 — 5 staf, kami mencari tempat untuk mempresentasikan SABDA_Care. Tempat sasaran bisa gereja, persekutuan doa, kelompok Hamba Tuhan, ataupun sekolah-sekolah. Saya sungguh bersyukur, meskipun masih dalam masa orientasi, tetapi sudah diikutsertakan dalam gerakan SABDA_Care ini. Anggota tim kami adalah Ibu Yulia, Berlin, Lusia dan saya. Tempat yang kami tuju adalah Persekutuan Oikumene Doa Malam, di Solo selatan, di mana saya juga menjadi salah satu pengurusnya. Tanggal yang disepakati adalah 27 Maret 2012, hari Rabu. Tim kami mendapatkan kesempatan mensharingkan tentang SABDA_Care seusai mereka melakukan ibadah doa malam yang biasa dihadiri oleh 30 jemaat dan beberapa Hamba Tuhan. Supaya masing-masing kami bisa terlibat dan mendapat pengalaman memberikan presentasi, maka kami berbagi tugas (kecuali Ibu Yulia). Saya mendapat kesempatan pertama untuk memperkenalkan YLSA dan menjelaskan isi paket SABDA_Care yang kami bagikan kepada jemaat yang hadir. Setelah itu, dilanjutkan oleh Berlin untuk mempresentasikan visi SABDA_Care. Berlin menyampaikan presentasi dengan semangat dan tanpa ragu. Sebagai pemula saya pikir Berlin telah memberikan presentasi dengan baik. Sedangkan Lusi menjadi petugas teknis. Di akhir presentasi, Ibu Yulia mengundang jemaat yang ingin memiliki Alkitab dalam handphonenya untuk datang ke Lusia. Lusia pun “kebanjiran” permintaan dari jemaat yang ingin menginstal Alkitab Mobile di handphone mereka. Pada pertemuan itu, kami juga bagikan CD Alkitab Audio MP3 dalam beberapa bahasa, khususnya bahasa Jawa. Saya mendengar sharing dari Bu Yulia yang memberikan CD Alkitab Audio secara khusus kepada pembicara yang membawakan firman malam itu, karena dia adalah seorang yang tunanetra. Bu Yulia sangat senang karena untuk inilah SABDA ada, untuk melayani semua orang yang membutuhkan Alkitab, terkhusus Alkitab audio. Kami sungguh bersyukur karena malam itu kami sudah menjadi berkat bagi persekutuan doa tersebut. Dari evaluasi kami, masih banyak kekurangan yang harus kami perbaiki, misalnya pengaturan waktu. Awalnya, kami hanya meminta waktu 15 menit untuk memberikan presentasi, ternyata baru berakhir setelah lebih dari 1 jam. Selain itu, bahan presentasi yang berupa powerpoint harus diubah supaya lebih sederhana sehingga bisa dimengerti oleh jemaat yang hadir malam ini. Presenter juga perlu lebih interaktif supaya jemaat bisa lebih terlibat. Dan beberapa hal lain yang bisa kami perbaiki supaya presentasi yang akan datang bisa lebih baik. Bagi saya pribadi ini adalah kesempatan pertama memperkenalkan SABDA_Care dan pelayanan YLSA. Saya masih sangat baru di YLSA, karena masih dalam masa percobaan, karena itu semoga melalui pengalaman ini saya akan semakin memahami pelayanan YLSA. Salam sejahtera selalu. Haleluya. *Is Ardiansah adalah staf divisi PESTA dan Publikasi di Yayasan Lembaga SABDA yang sedang menjalani masa percobaan.Roadshow SABDA_Care di JakartaOleh: Kenny dan Yulia Roadshow kedua tahun 2012 adalah ke Jakarta, tanggal 1-5 Maret. Tim SABDA yang berangkat kali ini terdiri dari Ibu Yulia dan tiga staf dari Divisi ITS, yaitu Yochan, Billy, dan saya. Selain pelatihan menggunakan software SABDA, tugas kami yang utama kali ini adalah menyampaikan persentasi tentang SABDA_Care. Apa itu SABDA_Care? Nanti saya akan jelaskan lebih lanjut. Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, kami sudah dijemput oleh Pak Rusmaji untuk menuju ke kantor pak Tjahjadi di Tomang. Di sana kami bertemu dengan beberapa staf pak Tjahjadi untuk berbicara tentang hal-hal teknis sehubungan dengan sistem database. Pembicaraan cukup serius dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Setelah dijamu makan malam oleh pak Tjahjadi, kami menuju ke tempat menginap di Kelapa Gading, rumah milik pak Didi K., salah satu sahabat SABDA. Puji Tuhan kami juga mendapat pinjaman mobil dari YASTI sehingga kami tidak mendapat kesulitan transportasi selama melakukan serangkaian roadshow Jakarta ini. Thanks to Ibu Gina. Billy pun dengan senang hati merangkap menjadi “driver” untuk kami semuanya. “Thanks, Bil…” Hari pertama roadshow dimulai pada Jumat, 2 Maret. Pagi-pagi kami sudah berangkat ke STT IKSM Sentosa Asih, Condet. Kami sengaja berangkat pagi-pagi karena kami belum tahu tempatnya. Kedatangan kami disambut dengan baik oleh pihak sekolah. Peserta pelatihan SABDA adalah para mahasiswa teologi yang berjumlah kira-kira 70 orang. Pelatihan diawali dengan Ibu Yulia yang memperkenalkan tentang YLSA dan SABDA, lalu Billy membawakan “Tutorial SABDA 3 Menit” dan yang terakhir adalah presentasi A.L.A.T. Secara keseluruhan, pelatihan ini berlangsung dengan lancar, dan sekaligus menjadi pemanasan bagi tim SABDA untuk pelatihan selanjutnya, yaitu di Palmerah. Jam 2.30 sore kami sudah ditunggu di Gedung sinode GMII di Palmerah, dimana kami akan memberikan pelatihan SABDA kepada sekitar 20 pendeta GMII. Suasana kekeluargaan lebih terasa di pertemuan ini karena ada beberapa orang yang sudah saya dan Billy kenal sebelumnya di Batu. Terutama juga karena ada ayah saya, Pak Palandi, yang mengatur pertemuan ini. Walau jumlah pesertanya tidak banyak, tetapi menurut kami presentasi justru berjalan lebih lancar dan lebih baik, sehingga para peserta merasa sangat diberkati. Jam sudah menunjukkan pkl. 5.00 sore, karena itu kami bergegas meninggalkan Palmerah menuju ke tempat pelatihan berikutnya, yaitu GIA Pegangsaan. Puji Tuhan, tepat pkl. 7.00 kami sudah ada di gedung gereja, siap mengisi persekutuan pemuda dewasa malam itu. Persekutuan ini sangat kecil karena ternyata hanya dihadiri oleh 5 orang saja. Suasana persekutuan terasa berbeda bagi kami, karena setelah seharian sibuk memberi 2 pelatihan, malam itu kami bisa duduk bersama memuji dan menyembah Tuhan, sungguh menghangatkan hati. Sebenarnya kami kurang tahu persis apa yang akan kami lakukan malam itu, tapi Ibu Yulia mengatakan bahwa kita akan “latihan” memberikan presentasi SABDA_Care untuk yang pertama kalinya. Dengan bahan powerpoint yang baru saja Yochan buat dalam perjalanan di mobil, Ibu Yulia membuka presentasi SABDA_Care. Presentasi inti SABDA_Care dibawakan oleh Billy dengan singkat tapi lancar. Suasana pertemuan sangat santai sehingga kami bisa berbincang dengan 5 orang yang hadir tentang bagaimana memperbaiki presentasi uji coba ini. Selesai pertemuan malam itu, kami semua merasa sangat bersyukur. Di tengah kelelahan yang mulai terasa di tubuh kami, kami menyadari bahwa Tuhanlah yang sedang mempersiapkan kami untuk Presentasi SABDA_Care besok pagi. Sembari menuju ke tempat bermalam di Kelapa Gading, kami mencari tempat untuk makan. Jam 11.00 malam, perut kami yang sedari pagi belum bertemu nasi sama sekali, akhirnya bertemu nasi. “Terima kasih, Tuhan”. Tapi, malam itu belum berakhir, karena kami masih harus lembur menyelesaikan bahan presentasi besok…. Jam 01.30 akhirnya saya baru bisa menutup mata untuk beristirahat. Hari berikutnya, Sabtu, 3 Maret, adalah hari di mana kami mengadakan pelatihan khusus “SABDA_Care”. Kira-kira sebulan sebelumnya, dengan bekerja sama dengan YASUMA dan YASTI, kami sudah mengirimkan undangan ke sejumlah gereja untuk mengirimkan 1 orang pendeta/gembala dan 2 teknisi/staf multimedia untuk menghadiri pelatihan SABDA_Care ini. Puji Tuhan, responnya cukup bagus karena ada lebih dari 130 orang yang mendaftar. Karena itu kami membagi pertemuan menjadi dua sesi, pagi (08.00 – 12.00) dan siang (13.00 – 17.00). Apakah pelatihan SABDA_Care itu? Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk membagikan visi serta inspirasi kepada gereja-gereja mengenai “IT 4 God” dan bagaimana IT dapat digunakan untuk memenuhi misi “Bible Everywhere”. Pelatihan ini juga untuk mendorong gereja agar dapat membangun sebuah “Pusat Media” (Media Center) yang akan membagikan Alkitab dalam berbagai “platform”, khususnya kepada jemaatnya yang memiliki HP dan perangkat-perangkat mobile lain. Jadi, fokus serta cakupan pelatihan ini adalah sekitar perangkat mobile dan bagaimana menggunakan perangkat tersebut untuk menyebarkan firman Tuhan (Alkitab) demi tugas pelayanan dan penginjilan gereja. Setelah dibuka dengan doa, Ibu Yulia memulai pelatihan ini dengan memperkenalkan YLSA dan Paket SABDA_Care yang dibagikan kepada setiap peserta ketika mereka datang. Setelah itu, kami menayangkan video pendek dengan durasi 8 menit mengenai Pelayanan Mobile di Afrika. Video tersebut sangat menolong karena menjadi transisi untuk presentasi ibu Yulia mengenai visi “IT 4 God”, dan presentasi SABDA_Care yang dibawakan oleh Billy. Presentasi SABDA_Care yang dibawakan oleh Billy adalah inti dari apa yang dimaksud dengan SABDA_Care. Saat ini, di satu pihak, gereja ditantang untuk memberi respons terhadap perkembangan teknologi yang sedemikian pesat. Jika tidak memberi respons maka gereja akan kehilangan kesempatan untuk melayani generasi muda. Di lain pihak, SABDA sangat peduli dengan gereja, dan SABDA memiliki banyak resources sehingga jika bekerja sama dengan gereja, teknologi mobile ini bisa dipakai bagi pemenuhan misi “Bible Everywhere”. Jika gereja menangkap visi ini, maka SABDA siap membantu. Saya diberi mandat, menjadi presenter untuk presentasi “How to” dari SABDA_Care ini, yaitu bagaimana gereja bisa mengaplikasikannya. Hal utama yang dibahas dalam “How to” adalah bagaimana mendistribusikan paket SABDA_Care (Alkitab mobile, Audio, video, Alkitab bergambar, Cerita Alkitab Audio, dll.) kepada jemaat yang memakai perangkat mobile. Presentasi yang saya bawakan lebih condong ke arah pelatihan, sehingga lebih bersifat teknis dan mendorong para peserta untuk mengikutinya langkah demi langkah. Saya mengakhiri presentasi saya dengan tip dan trik bagaimana membagikan bahan-bahan yang didapat dari paket SABDA_Care kepada perangkat mobile. Dua bagian presentasi saya ini memakan sebagian besar waktu pelatihan. Pelatihan SABDA_Care ditutup dengan mengajak para peserta pelatihan berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil, membahas apa yang dapat mereka terapkan di gereja masing-masing sehubungan dengan visi SABDA_Care ini. Secara umum, tanggapan para peserta sangat baik sekali. Banyak peserta yang sangat diberkati dan senang dengan apa yang telah mereka terima. Bagi tim SABDA, melihat tanggapan positif yang ditunjukkan oleh para peserta, tujuan seminar SABDA_Care ini telah tercapai. Walaupun badan sangat capai, kami pulang ke tempat penginapan malam itu dengan hati yang bersukacita karena Tuhan sungguh menyertai pelayanan SABDA. Hari ini kami melihat hasilnya. Hari Minggu, 4 Maret 2012, kami beribadah di GRII Kemayoran Jakarta. Seusai ibadah, kami bertiga (saya, Billy dan Yochan) mendapat kesempatan untuk melihat museum yang ada di lokasi gereja. Senin, 5 Maret adalah hari terakhir roadshow kami, tempatnya adalah di Depok untuk memberikan pelatihan SABDA kepada para pendeta di persekutuan PGLII. Bedanya, kali ini kami tidak ditemani oleh ibu Yulia karena pagi itu beliau harus kembali ke Solo. Namun, walaupun hanya 3 orang, pelatihan bisa dilaksanakan dengan baik dan tanggapan yang diberikan oleh para pendeta juga sangat baik. Kami sangat senang karena mereka semua mendapat berkat dari pelatihan yang kami lakukan. Pada akhirnya, perjalanan lima hari kami ke Jakarta, yang sangat padat dan melelahkan ini, selesai. Melihat kesuksesan yang dicapai selama roadshow ini membuat kami merasa bahwa setiap energi dan usaha yang kami lakukan tidaklah sia-sia. To God be the glory!! YLSA Membantu Pelayanan STEMI SurabayaOleh: Agustina Hariyati R.* Apa yang terlintas di benak Anda saat ditanya tentang apa yang bisa kita berikan kepada anak-anak untuk bekal mereka menghadapi hari depan? Memberikan pendidikan terbaik dengan memasukkannya ke sekolah favorit? Memberikan fasilitas selengkap mungkin? Menyediakan semua keperluannya dengan berlimpah? Sebenarnya, kita tahu bahwa itu bukan cara terbaik, meskipun pada umumnya orang melakukan hal seperti ini. Tim pelayanan anak dari Stephen Tong Evangelical Ministry International (STEMI) Surabaya rupanya sadar betul akan hal ini. Apa yang dilakukan tim ini? Akhir Maret 2012 lalu, tim pelayanan anak dari STEMI Surabaya mengadakan KKR Siswa di Solo dan sekitarnya. Selama dua hari, ada 6 kali kebaktian disertai pertunjukan panggung boneka. Salah satu acara KKR yang saya ikuti bertempat di halaman parkir GKI Nusukan. Peserta adalah siswa-siswa Sekolah Dasar Negeri di sekitar wilayah Nusukan. Teman-teman dari YLSA membantu persiapan dan pelaksanaan acara tersebut. Dan hasilnya ada sekitar 500 anak hadir menerima berita Injil. Kebaktian diadakan dua kali, yang pertama dimulai pukul 8 pagi dihadiri 250 siswa dari 8 SDN. Cukup pagi, sehingga tim panggung boneka sudah harus mempersiapkan semuanya sejak malam sebelumnya. Ketika saya datang Sabtu pagi itu, panggung boneka sudah selesai disiapkan, tinggal menambah kursi-kursi yang masih kurang. Kelompok yang kedua dimulai pukul 10 pagi, diikuti oleh dua SD Kristen di wilayah sekitar Nusukan. Jumlah siswa yang hadir ada 250 orang dan mereka harus diangkut dengan bus besar dan kecil karena lokasi sekolah yang agak jauh dari GKI Nusukan. Selama acara berlangsung, anak-anak terlihat antusias menyanyi dan menonton pertunjukan panggung boneka. Mereka bukan membawakan sekadar dongeng, tetapi kisah yang menggambarkan kemerdekaan ketika kita menerima pengampunan. Tema cerita ini ditegaskan lagi dengan firman Tuhan yang disampaikan oleh Ibu Mercy dari Tim STEMI Surabaya. Acara KKR ini pasti menjadi pengalaman berbeda bagi anak-anak itu, karena bukan sekadar menonton pertunjukan, tapi mendengar berita Injil: Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk membebaskan kita dari hukuman dosa. Pengalaman mengenal Tuhan Yesus secara pribadi ini bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak pun memerlukannya dan bisa diajar untuk mengerti hal ini. Meskipun acara cukup lama, sekitar dua jam, cara penyampaian Firman yang jelas membuat anak-anak betah mendengarkan. Kalaupun ada satu-dua anak yang berisik, dengan tegas Ibu Mercy segera menenangkan. Di akhir acara, anak-anak diajak berdoa dan mengisi kartu keputusan. Sangat menarik, melihat anak-anak kecil yang bahkan masih kesulitan membaca, bersemangat mengisi kartu keputusan iman. Saya kagum melihat anggota Tim Panggung Boneka yang sebagian besar terdiri dari ibu-ibu. Mereka bekerja dengan cekatan. Semua kesibukan ini mengingatkan saya ketika masih mengajar di sekolah minggu dulu. Benih-benih iman yang saya dapat sejak kecil, yang kemudian saya teruskan ke adik-adik di sekolah minggu, terus bertumbuh dan menjadi dasar iman percaya saya di dalam Kristus. Bahkan ketika di akhir 1990-an, saya mengalami masalah dan undur dari pelayanan, hidup jauh dari Tuhan, dasar iman itu terus menjaga saya sehingga saya tidak jatuh lebih dalam lagi. Setelah melalui berbagai masalah, selama sekitar 7 tahun, saya disadarkan dan akhirnya kembali pada jalan Tuhan. Kalau sekarang saya diberi kesempatan lagi untuk menggunakan talenta yang Tuhan berikan untuk melayani Dia, ini semua hanyalah anugerah. Benih-benih iman yang ditaburkan itu merupakan bekal terbaik yang saya peroleh. Ketika kita tidak mungkin terus menjaga anak-anak kita, ada satu hal yang bisa kita lakukan. Perkenalkan dia pada Juru Selamat, maka tangan Allah Yang Mahakuasa itu akan terus menjaga mereka. Amin. *Agustina Hariyati R. adalah penerjemah di Yayasan Lembaga SABDA yang sedang menjalani masa percobaan.Nonton di YLSA: “Touching The Void”Saya sering mendengar motto yang mengatakan, “hidup adalah perjuangan”. Saya percaya pada motto itu, karena saya sendiri juga mengalaminya. Saya rasa kita semua juga tahu bahwa hidup yang berarti memang harus diperjuangkan. Beberapa waktu yang lalu, YLSA kembali mengadakan training dengan nonton film, judulnya “Touching The Void”. Tidak semua staf ikut, karena banyak staf lama sudah menontonnya. Sebuah kisah pengalaman nyata dari 2 orang pendaki gunung yang menaklukkan Gunung Siula Grande setinggi 21000 kaki. Melihat film ini, saya belajar sisi lain dari apa artinya “berjuang untuk hidup”. Joe Simpson dan Simon Yates adalah pendaki gunung yang berambisi untuk menaklukkan puncak tertinggi gunung Siula Grande. Dalam perjalanan mencapai puncak, sebenarnya tidak terlalu banyak rintangan yang harus dihadapi; fisik mereka cukup kuat, dan cuaca cukup bersahabat. Perjuangan mencapai puncak terbayar dengan memuaskan. Namun, tidak demikian halnya dengan perjalanan menuruni gunung itu. Tantangan terbesar adalah cuaca yang tiba-tiba berubah secara drastis dan bertiupnya badai salju di atas gunung. Joe tergelincir jatuh di tebing yang curam ketika menginjak struktur salju yang kurang padat dan membuat kakinya patah. Untung sekali ada tali yang mengikat Joe dengan Simon sehingga Joe tidak langsung jatuh ke tebing, tapi Joe bisa bertahan dengan bergantung pada tali yang mengikatnya dengan Simon. Namun celaka karena posisi Simon membuatnya tidak mungkin mengangkat Joe naik atau pindah ke posisi yang lebih baik. Untuk jangka waktu yang lama, tali juga tidak akan kuat menahan berat badan mereka berdua. Keputusan yang sangat sulit harus diambil Simon kalau ia masih ingin hidup, yaitu memutus tali yang mengikatnya dengan Joe dan membiarkan Joe jatuh ke bawah tebing. Itulah yang dilakukan Simon. Posisi di mana Joe jatuh, apalagi dengan kakinya yang sudah patah, dan badai salju yang menghempas, Simon yakin Joe pasti sudah mati. Jawabannya adalah tidak! Keadaan yang hampir mustahil untuk hidup, tapi Joe hidup. Perjuangan sesudah Joe jatuh inilah yang justru sangat menarik. Joe dapat bertahan hidup di tengah keadaan yang sangat tidak mungkin untuk tetap hidup. “Lebih baik mati berusaha daripada mati tanpa berbuat apapun”, adalah semboyan Joe. Inilah yang saya pelajari dari menonton film ini — semangat memperjuangkan hidup harus terus berkobar. Saya jadi teringat dengan salah satu motto masyarakat Jepang yaitu “Gambaru..!! Apa itu gambaru?” Yang pasti, itu bukan sejenis “gethuk” (baca: makanan khas jawa) ataupun makanan ringan lainnya. Bukan juga nama salah satu staf YLSA. Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru artinya: “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha habis-habisan). Filosofi hidup orang duniawi saja bisa seperti itu, filosofi hidup orang Kristen seharusnya jauh di atas itu, karena perjuangan orang Kristen bukan untuk hal yang fana, tapi hal yang kekal. Tetapi rahasia yang paling utama adalah orang Kristen bisa bertahan hidup dalam situasi bukan karena bergantung pada kekuatan yang ada di dalam diri, tapi bergantung dan bersandar sepenuhnya pada kuasa Tuhan Filipi 4:13. Karena dibalik segala kekuatan yang kita miliki, dan segala celah jalan keluar yang kita dapat, Tuhan lah yang bekerja di balik itu semua Roma 8:28. Setelah ini, film apa lagi ya yang akan ditonton? Ga sabar nunggunya… SABDA_Care di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Agama Kristen SurakartaKami sungguh bersyukur karena pada akhir Januari 2012 yang lalu, sekali lagi Tim SABDA mendapat kesempatan untuk Roadshow, kali ini tidak jauh-jauh, yaitu di Solo. Roadshow ini cukup istimewa karena Tim SABDA diundang hadir pada pertemuan MGMP, yaitu pertemuan rutin guru-guru PAK (Pendidikan Agama Kristen) SMP se-Surakarta untuk memberikan pengenalan tentang YLSA. Karena waktunya yang sangat singkat, maka kami hanya memperkenalkan software SABDA. Tujuannya agar guru-guru dibekali dengan bahan-bahan biblika untuk memperkaya pemahaman mereka akan firman Tuhan. Bertempat di SMP Kristen 3 Surakarta, Tim SABDA yang terdiri dari Ibu Yulia, saya, Yochan, Hadi dan Khenny berangkat dengan semua peralatan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Selain presentasi SABDA, kami juga membuka stan SABDA_Care untuk membagikan produk mobile kami, seperti Alkitab HP dan CD Alkitab Audio. Secara umum, materi yang disampaikan adalah tentang visi dan misi YLSA dan produk pelayanan YLSA oleh Ibu Yulia. Setelah itu, saya melanjutkan dengan memberikan pengenalan dasar Software SABDA 4. Dimulai dengan presentasi “SABDA dalam 3 menit“, dan dilanjutkan dengan pelatihan singkat supaya semua guru dapat mencoba sendiri setahap demi tahap. Sebagai catatan, sebelum pertemuan ini, guru-guru sudah diberitahu untuk membawa laptop atau netbook sehingga sebelum pelatihan dilakukan, Tim SABDA cukup sibuk menginstalkan software SABDA ke semua laptop yang ada. Puji Tuhan semua bisa selesai tepat saat presentasi YLSA dimulai. Dari kesan teman-teman dan beberapa guru, saya mendapat masukan bahwa presentasi saya agak terlalu cepat, sehingga ada beberapa peserta yang merasa kesulitan untuk mengikuti. Namun, Puji Tuhan, secara keseluruhan semua bisa berjalan dengan baik, sehingga 30 guru yang mengikuti pelatihan ini bisa pulang membawa “segerobak buku-buku” elektronik dan alat studi Alkitab yang canggih untuk memperkaya pelayanan mereka. Ada yang beda dalam Roadshow kali ini. Apa bedanya? Kali ini, Tim SABDA mulai melakukan roadshow dengan memperkenalkan nama SABDA_Care, sebagai konsep pelayanan YLSA yang akan kami pakai secara lebih luas di masa yang akan datang. Saya rasa, untuk menjelaskan SABDA_Care dibutuhkan minimal satu blog khusus. Namun secara singkat, SABDA_Care adalah sebuah kegerakan untuk memperkenalkan konsep “IT for God”, teknologi informasi bagi kemuliaan Tuhan. Software SABDA, Aplikasi Alkitab Mobile, Audio Alkitab adalah beberapa contoh nyata bagaimana teknologi bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Melalui SABDA_Care ini diharapkan banyak orang Kristen secara sadar memakai produk-produk pelayanan YLSA untuk membagikan Firman Tuhan dan alat-alat studi Alkitab bagi kemajuan pelayanan di Indonesia. Nah, salah satu sasaran yang sangat strategis untuk melakukan SABDA_Care ini adalah gereja dan sekolah-sekolah. Harapan dan doa kami, melalui gereja dan sekolah, Firman Tuhan dalam berbagai platform dapat diakses seluas mungkin bagi jemaat, siswa-siswa Kristen, dan siapa saja yang membutuhkan, sehingga firman Tuhan tersedia di mana saja dan bagi siapa saja, “Bible everywhere!”. Haleluya! Mimpi YLSA Tahun 2012Saya pernah membaca biografi beberapa tokoh terkenal yang berhasil di bidangnya. Awal keberhasilan mereka dimulai dari mewujudnyatakan mimpi-mimpi mereka. Mimpi di sini maksudnya bukan bunga tidur, tapi kerinduan akan sesuatu yang besar, baik, agung, dan mulia, yang ingin dicapai dan diwujudkan dengan usaha yang maksimal dan keyakinan yang sungguh-sungguh. Demikian juga halnya dengan YLSA. Banyak keberhasilan YLSA, yang bermula dari mimpi-mimpi — mimpi yang diyakini, dijalani dan pelan-pelan diwujudkan. Ketika melihat ke belakang kami menyadari bahwa mimpi-mimpi itu pasti bukan datang dari keinginan hati manusia, tapi dari Tuhan dan Dialah juga yang mewujudkannya. Membuat mimpi, akhirnya menjadi tradisi YLSA setiap tahun — khususnya pada saat Raker (Rapat Kerja), ketika semua staf berdoa dan bersatu hati meminta agar Tuhanlah yang menuntun langkah YLSA ke depan.
Mimpi Divisi ITS 1. SABDA Mania Mimpi Divisi Audio-Multimedia 1. Semua versi Alkitab audio dilengkapi dengan Perjanjian lama. Mimpi Divisi Publikasi 1. Publikasi YLSA membuat Majalah Kristen Online dalam Pdf. Mimpi Divisi PESTA 1. Memiliki kurikulum dan modul PESTA yang lengkap. Mimpi Divisi Komunitas YLSA 1. App Twiter: t_ayat banyak digunakan Mimpi Divisi WEB YLSA 1. Menambah staf IT yang bisa drupal dan menguasai WEB programming. Mimpi Divisi HRD/Keuangan YLSA 1. Mempublikasikan kebutuhan donatur di situs dan publikasi. STEMI Melakukan KKR di SoloSenang sekali saya bisa menyapa dan berkenalan dengan para pengunjung Blog SABDA. Nama saya Berlin dan mulai bergabung sebagai staf penuh waktu di YLSA pada 1 Maret 2012. Sebelum bergabung dengan YLSA, saya bekerja sebagai editor di sebuah penerbit di Jakarta Pusat. Pada Juni 2011, saya dan istri memutuskan untuk pindah ke Solo, meninggalkan semua pekerjaan saya di Jakarta walaupun belum memiliki kepastian pekerjaan di Solo. Saya bersyukur menemukan lowongan di YLSA. Puji Tuhan, setelah menjalani tes tertulis dan wawancara saya diterima untuk untuk menjalani masa percobaan selama 2 bulan. Dalam masa percobaan itu, sedikit demi sedikit saya mulai belajar tentang pelayanan yang dikerjakan YLSA. Bagi saya, hal yang paling menarik adalah banyaknya informasi baru dan sumber bahan yang bisa saya dapatkan untuk membantu perkembangan rohani dan pengetahuan saya tentang kekristenan. Saya di sini mengalami proses “belajar melayani”, mengingat sebelumnya saya belum pernah terlibat dalam “pelayanan yang sesungguhnya”. Banyak hal baru yang saya pelajari, termasuk salah satunya adalah menulis blog. Karena itu saya akan pakai kesempatan menulis blog ini untuk menceritakan tentang STEMI yang mengadakan KKR siswa di Solo pada Februari 2012 yang lalu. Saya senang sekali karena akhirnya saya tidak hanya menjadi penikmat tulisan orang lain, tapi saya juga bisa menulis untuk dibaca dan menjadi berkat bagi orang lain. Bulan Februari yang lalu merupakan hari-hari yang (lebih) sibuk bagi semua staf YLSA, pasalnya tanggal 16-21 Februari YLSA, bersama dengan STEMI (Steven Tong Evangelical Ministry International) Jawa Tengah dan PRII (Persekutuan Reformed Injili Indonesia) Solo, mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) siswa di banyak sekolah di Solo dan sekitarnya; mulai dari anak-anak SD sampai dewasa. Enam hari berturut-turut Tim STEMI Jawa Tengah, di bawah tanggung jawab Pdt. Agus Marjanto, berkeliling memberitakan Kabar Baik, khususnya kepada siswa-siswa. Selain KKR, juga diadakan 2 seminar: Teologi Cinta, Sex dan Pernikahan — untuk anak-anak muda, dan Menumbuhkan Konsep Diri Anak yang Sehat — untuk para guru dan orang tua murid. Menjelang hari KKR tiba, kesibukan semakin meningkat di YLSA (yang dalam kesehariannya memang sudah selalu sibuk). Kami membentuk beberapa tim survei yang tugasnya adalah menjalin relasi dengan sekolah-sekolah yang akan dilayani. Awalnya, staf yang bersedia ikut survei diberi pengarahan secara teori, lalu ikut survei dengan Ibu Yulia, dan baru setelah itu kami pergi sendiri berdua-dua. Dari mendengar sharing teman-teman yang sudah pergi survei banyak yang menjadi antusias melihat kerinduan guru-guru untuk sekolahnya dilayani. Tapi ada juga yang kecewa karena pihak sekolah tidak memberikan izin. Bagi saya pribadi, ada pengalaman baru yang saya dapatkan, khususnya ketika berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Tapi pengalaman yang menarik adalah ketika saya berkunjung ke sekolah saya “doeloe” ketika masih di SD Ngoresan 80. Setelah meninggalkannya selama kurang lebih 20 tahu, tentu saja tidak ada satu guru pun yang masih saya kenal. Meski demikian, saat menawarkan pelayanan di sekolah tersebut, guru agama Kristen dan kepala sekolahnya tampak antusias menerimanya. Saya senang pada akhirnya saya berbuat sesuatu untuk sekolah saya dulu. Sayangnya, beberapa hari sebelum hari-H sekolah saya itu membatalkan acara KKR karena alasan tertentu. Saya harap masih ada kesempatan lain untuk melayani di sana. Pada hari “H”nya, hampir semua staf YLSA terjun ke lapangan, pergi ke sekolah-sekolah. Pada hari pertama, saya mendapat giliran untuk siap di sekolah pkl 06.00 pagi karena KKR dimulai pukul 06.30. Itu artinya saya harus bangun lebih awal. Hmmm …. ngantuk sih, tapi senang karena mau memberikan waktu berharga saya untuk melayani Tuhan. Teman-teman yang lain juga pergi menuju ke sekolah-sekolah yang berbeda, ada yang pagi ada juga yang siang. Dalam satu hari, masing-masing kami bisa pergi ke dua atau tiga sekolah. Total siswa yang dilayani selama 16 — 21 Februari 2012 hampir 8.000 orang (dari sekitar 90-an sekolah di Solo). Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pelayanan KKR siswa ini, mulai dari perencanaan, persiapan, administrasi, materi yang disampaikan, kerja sama tim, dan banyak lagi. Bukan hal yang mudah untuk menarik perhatian anak-anak, khususnya mengenai hal-hal rohani. Dari KKR ini saya belajar beberapa unsur yang diperlukan dalam mengajar anak, seperti ketegasan, kelucuan, interaksi, dan teknik penyampaian. Secara pribadi saya juga sangat diberkati dengan seminar tentang konsep diri anak yang diselenggarakan hari Jumat sore, yang dibawakan oleh Ev. Sariwati. Seminar itu menambahkan bekal bagi saya untuk mendidik anak-anak saya dengan lebih baik, dan juga memperbaiki hal-hal yang salah yang selama ini tidak saya sadari saya lakukan. KKR memang sudah selesai sekarang, tetapi kami masih memiliki tugas untuk menjalankan follow up-nya. Dari SABDA sendiri, kami membagikan paket SABDA_Care kepada guru-guru dan gereja yang terlibat dalam KKR ini. Isi paket tersebut adalah DVD Library SABDA Anak (4,37G), Alkitab Audio PB dan PL, program “Anda Punya Waktu” (mendengarkan Alkitab dalam 40 hari, 60 hari, dan 90 hari), buklet kecil “Hatiku Rumah Kristus”, stiker SABDA, dan brosur berlangganan publikasi YLSA. Sharing dari teman-teman yang membagikan paket SABDA_Care ini sangat membesarkan hati, karena guru-guru sangat senang sekali mendapat “perpustakaan” yang kaya dengan materi untuk menolong mereka mengajar. Doakan supaya kami bisa menjalankan follow up ini dengan baik dan paket SABDA_Care dapat memperkaya pelayanan para guru. Tuhan memberkati SABDA dalam Solo Cyber DayPada tanggal 4 Desember 2011 adalah hari Minggu. Biasanya, hari Minggu pagi, pkl. 06.00 aku sudah berangkat ke gereja untuk mengikuti kebaktian pagi. Tapi untuk kali ini, aku harus bangun lebih pagi dari biasanya karena SABDA buka stan di acara Solo Cyber Day. Solo Cyber Day adalah sebuah event yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Surakarta. Inti acara ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat Solo tentang nilai-nilai positif di dunia cyber (internet). Adapun tujuan diadakannya Solo Cyber Day yakni untuk menjadikan Solo sebagai kota dengan akses internet yang mudah dan tersebar di seluruh area, dan menjadikan internet sebagai life style di seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan. Ini merupakan upaya pemerintah kota untuk mewujudkan masyarakat Solo sebagai masyarakat yang terdidik dalam menggunakan internet. Pada acara ini, komunitas-komunitas cyber di kota Solo diberi kesempatan untuk “unjuk gigi” kepada masyarakat dengan membuka stan-stan yang sudah disiapkan panitia. Bukan suatu kebetulan kalau SABDA ada di kota Solo dan bisa ikut ambil bagian dalam acara ini. Stan-stand dibuka pada pk. 06.00 – 12.00 WIB. Karena itu sejak pk. 04.30, beberapa staf YLSA sudah datang untuk membantu menyiapkan dan membawa barang-barang yang diperlukan ke tempat lokasi, yaitu di sepanjang jalan Slamet Riyadi, atau tepatnya di area citywalk di depan Sriwedari. Di sepanjang lokasi Solo Cyber Day tersebut panitia membangun stand darurat dari bambu. Selain akses internet, panitia hanya menyediakan satu meja dan 2 kursi. Alhasil kami harus bawa meja dan kursi tambahan sendiri. Ketika semua barang yang akan dibawa sudah masuk ke dalam mobil, ada satu barang yang tidak bisa masuk karena panjangnya melebihi panjang mobil, yaitu sebuah meja yang biasa kita pakai untuk makan siang bersama. Meja sepanjang 2 meter itu akhirnya kita angkut di atas mobil, tanpa diikat. Ibu Yulia yang ada di dalam mobil was-was, takut mejanya jatuh. Di setiap belokan, dia berteriak, “Pelan-pelan, hati-hati, nanti mejanya melorot.” Ketika berangkat aku lihat tangan Billy berada di luar mobil, seperti kondektur angkot, ternyata tangan Billy memegangi meja biar tidak jatuh hehehe… Tapi supirnya memang sangat ahli, jadi meja bisa sampai tujuan tanpa melorot dari atap mobil Pk. 5.00 kami sudah tiba di lokasi dan tim ITS langsung sibuk memasang kabel-kabel dan beberapa komputer untuk mempertunjukkan produk-produk pelayanan SABDA dan untuk pengunjung bisa mengakses situs-situs YLSA secara langsung. Yang kami promosikan di stan Komunitas SABDA ini adalah pengunjung bisa mendapatkan software SABDA, bahan biblika, bahan anak, CD Alkitab Audio berbagai bahasa, brosur SABDA, stiker SABDA, dll.. Semuanya itu dibagikan gratis. Di Solo, setiap hari Minggu, jalan protokol Slamet Riyadi selalu ditutup untuk acara Car Free Day. Jadi pagi itu sudah banyak sekali orang yang lalu lalang untuk berolah raga jalan pagi. Awalnya, tidak banyak orang yang mampir di stan Komunitas SABDA. Mereka hanya sekedar melihat-lihat saja, mungkin karena tidak tahu apa itu SABDA. Akhirnya, Ibu Yulia punya ide untuk membuat tulisan cukup besar “ALKITAB AUDIO GRATIS” di sebuah kertas yang ditaruh di clipboard. Dengan berdiri di depan stan, kami bergantian memegang clipboard tersebut untuk menarik perhatian orang yang lalu lalang. Cukup berhasil juga rupanya, karena orang mulai berani datang dan masuk untuk menanyakan apa itu SABDA. Setelah mengetahui apa yang kami promosikan, mereka mulai tertarik untuk meminta CD Alkitab Audio, bahkan ada yang membeli USB yang berisi bahan-bahan pelayanan untuk anak. Ada juga yang minta diinstallkan Alkitab di HP mereka, ada juga yang membawa laptop dan meminta diinstallkan software SABDA. Tapi ada juga yang sekadar bertanya-tanya tentang pelayanan SABDA. Aku senang karena bisa turut ambil bagian di acara ini. Selain membagikan brosur, mengajak pengunjung untuk mampir ke stan SABDA, aku juga berkesempatan untuk menjelaskan tentang Publikasi YLSA ataupun Alkitab audio. Walaupun tidak cukup fasih tapi aku berusaha semampuku. Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan pengunjung, maka aku langsung operkan ke teman-teman yang lebih paham, karena di sana ada Evie, Billy, Yochan, Hadi, Ryan, Gunung, Yudo, dan yang pasti tidak pernah ketinggalan adalah pimpinan kita yaitu Ibu Yulia. Beliau juga mengajak putri tercintanya, Jesica [link]. Senang melihat Jesica belajar bahasa isyarat di stan komunitas tuna rungu, kelihatannya ikut menikmati suasana. Sekitar jam 09.00 Santi ikut datang walaupun cuma sebentar, karena ada keperluan keluarga. Cerita seru lain, stan SABDA secara “tidak kebetulan” berdampingan dengan stan Wikipedia. Aku mengamati, berbeda dengan stan SABDA yang penuh barang dan orang, stan Wikipedia minimalis sekali. Hanya meja kecil, 1 laptop, 1 tas, dan beberapa buku, dan 2 orang penjaga Karena begitu kosong dan stan SABDA begitu penuh, maka kami pun tidak segan-segan menitipkan barang dan orang di sana Oh iya, sang penjaga stan itu juga beruntung terpilih untuk mengampanyekan Wikipedia di tribun utama, meski nyaris kehilangan kesempatan itu karena tidak mendengar nama Wikipedia dipanggil oleh MC. Untung ada orang yang berbaik hati memberitahukan bahwa Wikipedia sudah dipanggil-panggil MC untuk naik ke tribun Melalui acara Solo Cyber Day ini, aku belajar bersosialisai dengan banyak orang, termasuk yang non-Kristen. Ini juga pertama kalinya SABDA ikut kegiatan di masyarakat umum, membagikan firman Tuhan di tengah-tengah mereka. Bersyukur acara ini berlangsung lancar. Sekitar pk. 12 siang, hujan mengguyur cukup deras, lima menit setelah kami meninggalkan lokasi. Harapanku untuk mereka yang berkunjung dan menerima produk-produk SABDA, hatinya dapat dibukakan untuk lebih mengenal Tuhan dan firman-Nya. Biarlah, mereka menjadi alat Tuhan untuk menyebarkan lagi firman Tuhan yang sudah mereka terima kepada yang lain. Aku senang sekali mengikuti kegiatan ini. Tapi aku akan lebih senang lagi kalau bisa ikut membantu tim ITS menginstall program Alkitab ke laptop atau HP para pengunjung. Ya, aku akan belajar dan minta dilatih oleh tim ITS. Suatu saat, aku juga pasti bisa melakukannya untuk kemuliaan nama Tuhan. Amin. YLSA Berbagi Bahan PaskahTidak terasa sebentar lagi kita akan merayakan Paskah — memperingati sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Tentunya, banyak gereja yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk menyambut Paskah. YLSA pun ikut berbenah untuk menyambut perayaan Paskah, khususnya divisi Multimedia, Publikasi dan Komunitas YLSA. Sebagai koordinator divisi Multimedia, saya merencanakan menyambut Paskah dengan membuat video yang menceritakan kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Paskah tahun lalu sebenarnya juga sudah dibuat video serupa dalam versi Alkitab Terjemahan Baru dan bahasa Jawa . Tapi untuk tahun ini, kami membuat video Paskah yang baru, yang menggunakan gambar background dari DSMedia. Selain itu kami juga membuat satu video untuk versi Alkitab yang lain, yaitu Alkitab Shellabear 2010, juga diambil dari Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Audio dari video Paskah ini diambil dari Alkitab Audio drama dalam versi bahasa Indonesia Kontekstual (Shellabear). Subtitle video ini diambil dari alkitab.mobi. Proses video ini sudah dimulai sejak akhir bulan Januari lalu dan rencananya awal Maret ini sudah diupload ke YouTube, GodTube, dan Vimeo sehingga dapat didownload dan digunakan untuk bahan renungan persiapan Paskah. Untuk mendownload silakan berkunjung ke: YouTube SABDA Alkitab. Ternyata tidak hanya divisi Multimedia saja yang sibuk mempersiapkan bahan Paskah, karena divisi Publikasi yang dikoordinir oleh Sdri. Novi juga sudah sibuk menyiapkan edisi-edisi yang bertemakan Paskah publikasi-publikasi YLSA. Silakan segera berlangganan < berlangganan@sabda.org > salah satu publikasi YLSA, supaya pada Paskah nanti Anda bisa mendapatkan kiriman edisi-edisi Paskah. Tak mau ketinggalan, Koordinator divisi Komunitas YLSA, Sdri. Santi juga mengundang Anda untuk bergabung di Facebook Paskah supaya Anda bisa bersharing dan berdiskusi seputar Paskah. Melalui Facebook Paskah ini, Anda juga bisa mendapatkan bahan-bahan Paskah karena telah diintegrasikan dengan situs Paskah dan YouTube SABDA Alkitab. Sebagai puncaknya, YLSA juga memiliki situs yang khusus didedikasikan untuk memuat sumber-sumber bahan Paskah — situs Paskah. Di dalamnya ada banyak sekali artikel Paskah, kesaksian Paskah, drama Paskah, humor Paskah, audio Paskah, puisi Paskah, dan masih banyak lagi bahan Paskah yang lain. Pokoknya ditanggung tidak kecewa, karena ada banyak bahan berlimpah disediakan untuk Anda. Nah, YLSA sangat berharap informasi di atas dapat memperlengkapi Anda untuk mempersiapkan Paskah 2012. Biarlah bahan-bahan di atas membawa berkat bagi banyak orang. Tuhan Yesus memberkati. Pelatihan Khotbah Langham di YLSA: Kitab HagaiBeberapa waktu yang lalu, YLSA mengadakan pelatihan khotbah Langham yang diikuti oleh semua staf untuk diterapkan dalam PA kelompok setiap pagi. Pelatihan ini merupakan oleh-oleh Ibu Yulia setelah beberapa waktu sebelumnya mengikuti pelatihan khotbah Langham di Bogor. Tujuannya bukan memaksa kami menjadi pengkhotbah, tetapi membekali kami agar tahu bagaimana menyampaikan atau menerima Firman Tuhan secara benar. Dari pelatihan ini saya belajar bahwa sebelum seseorang bisa menyampaikan khotbah dengan benar, ia harus terlebih dahulu belajar bagaimana menggali Alkitab dengan benar — bukan sekadar membaca ayat dan mengartikannya sesuai dengan keinginannya sendiri. Dibutuhkan cara sistematis untuk mendapatkan hasil penggalian yang benar dan mendalam. Jika hasil penggalian ini dibagikan kepada orang lain, maka pasti akan menjadi berkat yang bermanfaat. 1. Apa yang dapat diamati dengan pancaindra? Untuk menjadikan teks Alkitab yang kita gali menjadi khotbah, dipakai ilustrasi pandangan negara, pulau, dan tiga kota. Sedangkan cara untuk mengevaluasi khotbah, adalah dengan menggunakan tiga prinsip yaitu SJR — apakah khotbah itu Setia pada teks Alkitab, apakah pesan atau struktur khotbah itu Jelas, dan apakah khotbah itu Relevan dengan kehidupan pendengarnya. (Langkah-langkah bisa dilihat di situs Khotbah.co.) Training khotbah Langham itu sudah kami coba terapkan beberapa kali pada acara persekutuan pagi, dan buku-buku yang sudah kami bahas menggunakan 7(+1) langkah-langkah tersebut adalah kitab Filemon, Habakuk, dan Hagai. Secara khusus saya ingin ceritakan berkat yang saya terima ketika membahas kitab Hagai bersama teman-teman di kantor. Kitab Hagai menarik untuk dipelajari dan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan. O iya, sebelumnya saya belum pernah mempelajari kitab Hagai ini secara lengkap dan tuntas secara berseri meski kitab ini hanya terdiri dari dua pasal Saya secara pribadi bersyukur karena sungguh luar biasa berkat yang saya rasakan. Melalui kitab Hagai Tuhan mengingatkan saya untuk memerhatikan keadaan atau sikap hidup saya. Tuhan menggerakkan semangat saya, seperti pemimpin Zerubabel ketika mau mendengarkan suara Tuhan, sehingga Tuhan menyertai dan menggerakkan semangatnya untuk membangun kembali Bait Allah. Di akhir setiap pelajaran, kami membagikan apa yang kami pelajari, dan selebihnya kami mendengarkan pelajaran dari Sekolah Alkitab Audio (SAA) yang membahas pengantar kitab Hagai, sehingga kami semakin dibekali dengan pelajaran baru yang kami dapatkan. Banyak berkat yang saya dapatkan dengan menerapkan prinsip Langham ini. Semoga yang saya sharingkan ini bisa menjadi berkat bagi yang lain. Silakan mencoba. Tuhan memberkati Komentar |
Cari semua situs SABDALoading
Cari misalnya: 'alkitab'Akan membuka halaman baru Selamat Merayakan Kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta 2012'Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus' Matius 28:19 Kunjungi situs TOP Berdoa SearchBerlangganan
|