Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Sikap yang Perlu Dikembangkan Konselor

Edisi C3I: e-Konsel 305 - Konselor yang Berkarakter Kristus

Berdasarkan 1 Petrus 5, kita menemukan tiga sikap utama yang perlu dimiliki oleh seorang konselor. Namun, selain itu kita seharusnya memiliki sekurangnya sepuluh sikap yang perlu dikembangkan sebagai konselor.

1. Kasih dan Penghargaan

Kasih adalah segala hal yang dipikirkan, direncanakan, dikatakan, dan dilakukan untuk diri sendiri dan orang lain yang membawa kebaikan. Kasih adalah kekuatan yang amat besar di dunia, yang selalu membawa hal-hal baik bagi manusia. Lawan kasih adalah dosa. Dosa adalah kekuatan besar yang selalu membawa hal-hal buruk bagi manusia.

"Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi." (1 Yohanes 4:19) Yesus Kristus, sang Konselor Agung telah datang untuk mengasihi manusia. Ia telah mengorbankan diri-Nya sebagai wujud kasih yang sejati. Kita tinggal menyambut dan menerimanya. Kalau kita sudah memiliki kasih, kita dapat membagikan dan meneruskan kasih itu kepada orang lain.

Konselor seharusnya menyambut, menerima, dan memiliki kasih sejati seperti itu. Kasih memungkinkan konselor untuk mampu menghargai, mengasihi, menolong, dan memberi pelayanan terbaik bagi konseli.

2. Lemah Lembut

"Saudara-saudara, kalau seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar, dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan." (Galatia 6:1)

Dalam proses konseling, konselor tidak boleh menghakimi, menuduh, memaksa, atau memerintah konseli. Namun, konselor perlu menciptakan suasana yang nyaman, bersahabat, hangat, dan terbuka. Kelemahlembutan yang mewarnai suasana percakapan membuat konseli merasa dihargai dan dimengerti. Hal ini akan mendorong konseli untuk berani terbuka kepada konselor.

3. Rendah Hati

Rendah hati adalah menganggap orang lain lebih utama dan penting. Ia tidak meninggikan dan menyombongkan diri dengan apa yang ia miliki, baik itu ilmu pengetahuan, kepandaian, keterampilan, maupun harta kekayaan. Ia menerima semua itu dengan ucapan syukur. Apa yang dimiliki diakui sebagai anugerah Tuhan.

Dalam proses konseling, konselor perlu mengembangkan sikap rendah hati. Pendapat, pemikiran, dan sikap konseli haruslah dihargai. Jika percakapan membawa hasil yang baik, itu pun diterima dengan rendah hati dan ucapan syukur. Bukan menepuk dada sebagai tanda prestasi dirinya.

4. Sabar dan Tabah

Sikap sabar dan tabah sangat perlu dikembangkan konselor, sebab para konselor sering berputus asa dalam melaksanakan tugasnya. Rumitnya persoalan, kurangnya kerja sama dari konseli, dan hasil konseling yang kurang menggembirakan kerap membuat konselor putus asa.

Sikap sabar dan tabah akan memampukan konselor untuk bertahan, tidak mudah putus asa, dan kuat menanggung beban berat persoalan. Konselor tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri karena ia terbatas. Untuk itu, konselor perlu datang dan minta kekuatan dari Konselor Agung. Dialah sumber kekuatan yang tidak pernah habis. "Kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7) Dengan kekuatan Tuhan, konselor diharapkan mampu bertahan terhadap seluruh kesulitan yang dihadapinya dalam proses konseling pastoral.

5. Bersahabat dan Hangat

Konselor perlu menciptakan suasana yang penuh kehangatan dan persahabatan. Sikap acuh tak acuh harus dihindari. Kedekatan dan kehangatan perlu dirasakan oleh konseli. Konselor bukan orang asing yang membuat suasana percakapan terasa asing. Tentu tidak semua konselor dapat menciptakan suasana seperti ini dengan mudah. Namun, hal ini perlu diusahakan. Dengan kehangatan dan persahabatan ini, konseli merasa nyaman, percaya, dan berani untuk terbuka.

6. Suka Menolong

Jiwa seorang konselor adalah jiwa yang suka menolong. Suka menolong adalah sikap peka dan tanggap terhadap keadaan konseli. Ketika konselor mendengar ada konseli yang sedang dilanda persoalan dan pergumulan, konselor tidak akan berdiam diri. Hatinya tergerak untuk mencari, menemui, mengunjungi, dan berusaha mendampingi konseli untuk mencari solusi yang terbaik.

Jiwa suka menolong ini muncul karena konselor sudah mengalami kasih dan pertolongan sang Konselor Agung. Ia mengalami hal itu secara cuma-cuma pula. "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." (Matius 10:8)

7. Rela dan Tulus

Seharusnya, tugas pelayanan pastoral tidak dilakukan dengan terpaksa. Kalau terpaksa, kita akan melakukan tugas dengan hati yang amat berat, tidak rela, dan tidak tulus. Badan dan tubuh kita bertindak, tetapi tidak keluar dari hati.

"Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri." (1 Petrus 5:2) Sikap sukarela haruslah menjiwai diri konselor dalam pelayanan konseling pastoral.

8. Terbuka

Terbuka di sini mengandung tiga sisi. Pertama, konselor berusaha menolong konseli sehingga ia dapat melihat masalahnya dengan jernih. Harapannya, konseli dapat menemukan solusinya. Untuk itu, konselor memberi kesempatan konseli untuk dapat dan berani mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Persoalan dan perasaannya yang dapat meracuni hati dan pikirannya, dapat ia tumpahkan dalam percakapan dengan konselor. Tidak ada yang dipendam, disimpan, ditutupi, dan disembunyikan. Konselor memberi kebebasan kepada konseli untuk mencurahkan isi hati yang membebaninya. Di sini, konselor perlu sikap terbuka kepada konseli.

Kedua, konselor terbuka terhadap segala masukan tentang kekurangan dan kelemahan dirinya. Kritik membangun sangat penting untuk perbaikan, peningkatan, dan kemajuan diri. Kita kerap belajar banyak hal tentang diri kita dari kacamata orang lain. Bila kita terbuka, kita akan menjadi orang yang maju. Berbahagialah kalau orang lain bersedia memberi masukan. Itu tanda kasih dan perhatiannya kepada kita.

Ketiga, konselor perlu terbuka dalam mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya wawasan ilmu dan keterampilan konseling pastoral. Setiap kesempatan jangan disia-siakan. Pengetahuan yang ada kaitannya dengan konseling perlu kita kuasai. Lagi pula, belajar adalah proses seumur hidup.

9. Pengorbanan

Karena kasih-Nya, Konselor Agung telah mengurbankan jiwa dan raga bagi domba-domba-Nya. Ia membela domba-domba yang ada dalam bahaya, bahkan sampai menyerahkan nyawa-Nya. "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku." (Yohanes 10:11,15)

Teladan Konselor Agung itu memberi inspirasi bagi konselor masa kini. Jiwa pengorbanan itu diperlukan oleh para konselor. Dalam menjalankan tugas, pasti ada waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan yang harus dikorbankan. Kadang-kadang konselor ditolak oleh konseli, ataupun dipandang sebelah mata. Konselor sudah berjuang, konseli kurang bersedia bekerja sama, sehingga hasil yang diharapkan masih jauh. Kadang konselor putus asa dan kecewa. Karena itu, pengorbanan memang sangat penting bagi konselor.

10. Perhatian

Anak kecil sering melakukan sesuatu yang sedikit aneh untuk menarik perhatian orang tuanya. Seorang remaja juga kerap melakukan hal yang dinilai sangat berani dengan motif ingin mendapat perhatian teman-temannya, sehingga istilah "MPO" (Mencari Perhatian Orang) pernah menjadi populer di kalangan remaja.

Pada dasarnya, semua orang membutuhkan perhatian. Siapa pun orangnya -- tua, muda, anak-anak, semua membutuhkan perhatian. Kalau orang tidak mendapat perhatian, hal itu akan melahirkan kesedihan dan kesunyian karena merasa kurang dihargai.

Dalam konseling pastoral, konselor perlu menanamkan sikap penuh perhatian kepada konseli. Apalagi jika konseli sedang dililit problem, ia sangat peka akan kebutuhan perhatian. Lewat perhatian-perhatian yang diberikan, konseli merasa mendapat dukungan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Dasar-Dasar Konseling Pastoral -- Panduan bagi Pelayanan Konseling Gereja
Judul bab : Ciri-ciri Konselor Efektif
Penulis : Tulus Tu'u, S.Th, M.Pd
Penerbit : Penerbit ANDI, Yogyakarta 2007
Halaman : 52 -- 58

Komentar