Tips: Tentang Pacaran Kristen
| Judul Buku/Buletin |
: |
Pastoral Konseling |
| Penulis/Narasumber |
: |
Yakub B. Susabda |
| Penerbit |
: |
Gandum Mas, Malang |
| Halaman |
: |
120 - 123 |
Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang
Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang
non-Kristen. Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:
1. Proses Peralihan dari "Subjective Love" ke "Objective Love."
"Subjective love" sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative
love yaitu "kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir
orang yang menerima". Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan
kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan
apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan
"sinful nature"nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan
"subjective love". Dan "subjective love" ini tidak dapat menjadi
dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan
sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan "subjective love"
menjadi "objective love". Yaitu memberi sesuai dengan apa yang
baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.
2. Proses Peralihan dari "Envious Love" ke "Jealous Love."
"Envious" sering diterjemahkan sama dengan "jealous" yaitu
cemburu. Padahal "envious" mempunyai pengertian yang berbeda.
"Envious" adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil
dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan "jealous"
adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang
menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering
menyaksikan Allah sebagai Allah yang "jealous", yang cemburu
(misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel
menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir
sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel
kembali kepada-Nya.
Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi
Kristen harus ditandai dengan "jealous love". Mereka tidak boleh
menuntut "sesuatu" yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti:
hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi
mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti
kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan
Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari "Romantic Love" ke "Real Love."
"Romantic love" adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam
alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa
"kehidupan ini manis semata-mata". Muda-mudi yang berpacaran
biasanya terjerat pada "romantic love". Mereka semata-mata
menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan
realitanya, misal:
- apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
- apakah dia memang orang yang begitu sabar, "caring", penuh
tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
- apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu,
rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?
Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran
Kristen tidak mengenal "dimabuk cinta". Pacaran Kristen boleh
dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari "Activity Center" ke "Dialog Center."
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu "activity-
center". Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas
(nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi,
dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi
yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen
berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi
dsb, tetapi "center"nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi
itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi
secara utuh (Martin Buber, "I and Thou", by Walter Kauffmann,
Charles Scribner's Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu
pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari "Sexual Oriented" ke "Personal Oriented."
Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan
melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb,
bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah
disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan.
Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah "keharusan".
Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer
sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus
sampai disini.
Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:
a. Imannya.
Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan
kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7)
lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat-
tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap
takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran
Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?
b. Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya
dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang
tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?
c. Temperamennya.
Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat
menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup
membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?
d. Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya,
baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?
Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang
primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan
mereka memasuki phase pernikahan.
Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran-
pemikiran:
- Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang
dia tidak sukai.
- Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar ... atau
kami ingin selalu bercumbuan saja.
- Saya rasa "dia akan meninggalkan saya" kalau saya menuntut
kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
- Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan
pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/009/
|