Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Gangguan Skizofrenia

Edisi C3I: e-Konsel 179 - Gangguan Jiwa

Skizofrenia mungkin tidak akrab di telinga orang awam yang tidak mendalami dunia psikologi atau pun kedokteran. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, bukan tidak mungkin kita akan menemuinya. Atau bisa jadi malah salah satu anggota keluarga kita mengalaminya. Apakah sebenarnya skizofrenia ini dan apa yang harus kita lakukan bila ada orang terdekat kita yang mengalaminya? Berikut ringkasan perbincangan dengan Pdt. Paul Gunadi mengenai skizofrenia. Silakan menyimak!

T: Apa itu gangguan skizofrenia?

J: Gangguan skizofrenia adalah gangguan jiwa yang serius karena mengganggu cara pikir sehingga kita tidak lagi melihat kenyataan dengan tepat sebab pikiran kita dipenuhi dengan alam khayal yang sedemikian rupa sehingga kita mencampuradukkan antara alam khayal dan realitas atau kenyataan.

Biasanya para penderita skizofrenia ini tidak bisa lagi bekerja atau berumah tangga karena dia tidak mungkin melakukan fungsi kehidupan sehari-hari karena gangguan persepsi akan realitas ini begitu menyeluruh dalam hidupnya. Itu sebabnya mereka yang menderita gangguan ini harus dirawat di rumah atau di rumah perawatan sehingga penderita bisa dirawat secara khusus. Dan itu akan menjadi perawatan yang berjangka panjang.

T: Kalau ini gangguan mental, apa penyebabnya?

J: Ini memang gangguan yang kita tidak bisa katakan berasal dari luar dirinya. Gangguan skizofrenia adalah gangguan yang disebabkan oleh hal-hal yang bersifat organik atau suatu senyawa kimia di otaknya sehingga dia tidak bisa lagi berinteraksi dengan realitas secara tepat, baik dalam pola pikirnya maupun reaksinya terhadap peristiwa yang dialaminya. Ini adalah sesuatu yang biasanya dia bawa atau miliki kecenderungannya sejak lahir.

T: Gangguan mental itu ada bermacam-macam, kapan kita bisa mengatakan bahwa seseorang itu mengalami gangguan skizofrenia?

J: Kata ini memunyai dua unsur atau dua hal, yaitu dilusi dan halusinasi. Dilusi adalah pikiran yang tidak rasional atau anggapan-anggapan yang tak berdasar yang tidak rasional lagi. Misalnya, kita menganggap bahwa kita adalah superman atau kita menganggap kita adalah hewan. Inilah yang disebut dilusi, pikiran tidak lagi rasional.

Halusinasi adalah kelanjutan dari dilusi, dia bukan saja tidak memiliki pikiran yang tidak lagi rasional, namun dia melibatkan panca indranya di alam khayalnya itu. Jadi, halusinasinya kita sebut halusinasi penglihatan karena dia mulai melihat hal-hal tertentu yang sebetulnya tidak ada. Misalnya, dia melihat seseorang dan seseorang itu berbicara dengan dia, atau halusinasi pendengaran, yaitu dia mulai mendengar orang berkata-kata dengan dia sehingga dia juga memberi respons bercakap-cakap dengan orang tersebut meskipun sebetulnya keduanya ini tidak ada.

T: Di masyarakat sering kali disebut orang gila, apakah istilah itu tepat?

J: Memang istilah skizofrenia itu sebetulnya berasal dari satu kata, yaitu "skismi" atau "skisme", bahasa Inggrisnya "schism". Kata "skisme" yang menjadi "skizo" itu berarti terbelah atau pecah. Jadi, skizofrenia adalah gangguan yang memutuskan atau membelah fungsi rasional kita, sehingga kita tidak lagi bersentuhan dengan realitas antara kita dan alam nyata.

T: Juga ada orang yang mengatakan ini gara-gara stres, jadi tekanan hidupnya terlalu banyak, apakah itu betul?

J: Memang ada kasus-kasus yang muncul akibat depresi berat yang berkelanjutan. Depresi berat yang sangat parah itu biasanya juga bisa menghadirkan pemikiran-pemikiran yang dilusional, artinya penuh dengan ketidakrasionalan. Sekilas depresi berat ini tampaknya seperti skizofrenia, namun kalau gejala halusinasi atau dilusi ini munculnya setelah depresi berat, sebetulnya itu bagian dari depresi yang beratnya. Dengan pertolongan obat dan konseling, biasanya orang bisa keluar dari depresi yang berat, sebab jika bisa keluar dari depresi yang berat, maka gejala-gejala itu juga akan hilang dengan sendirinya.

Kalau orang menderita skizofrenia agak berbeda. Dia tidak harus didahului atau mengalami depresi berat. Umumnya, gejala skizofrenia ini munculnya pada anak-anak remaja, dengan kata lain pada masa kecil kita memang tidak bisa mendeteksinya. Kita melihat anak ini sama dengan anak-anak lain, tapi waktu dia mulai beranjak remaja, kita baru melihat bahwa ada sesuatu yang lain pada dirinya, yaitu anak-anak yang menderita skizofrenia adalah anak-anak yang sejak kecil itu cenderung tidak mau bergaul, mengisolasi diri, dan waktu remaja nampak sekali gejalanya. Jadi, dia mengucilkan dirinya, tidak punya teman dan sebagainya, tiba-tiba kita mulai melihat dia bicara, tertawa sendirian. Sekali lagi ini tidak didahului oleh stres dan memang benar-benar gejalanya muncul dengan sendirinya. Inilah yang kita katakan sebetulnya skizofrenia tidak ditentukan oleh pengaruh luar, tapi memang sesuatu yang sudah dibawa dari kecil dan tinggal tunggu waktu, maka gejala itu akan menam pakkan diri.

T: Berarti ada faktor keturunan?

J: Sering kali ya. Kita mesti berhati-hati tatkala mengatakan ini keturunan, maksudnya gangguan yang berat seperti skizofrenia sering kali melibatkan keturunan. Kalau orang tua kita memunyai gangguan ini, maka kemungkinan kita mengidapnya lebih besar dari pada orang lain.

Jadi, tidak berarti bahwa kalau orang tua kita mengidapnya, maka pastilah kita akan mengidapnya. Itu salah! Yang dimaksud dengan keturunan adalah bahwa kemungkinan kita mengidapnya lebih besar daripada orang lain yang orang tuanya tidak mengidap gangguan ini. Gangguan ini memang gangguan yang disebut organik, artinya gangguan yang muncul dari syaraf-syaraf atau senyawa kimiawi di otak kita yang membuat kita akhirnya mengidap gangguan ini.

T: Kalau itu faktor organik, apakah kita bisa melakukan pencegahan sedini mungkin, misalnya dengan menggunakan obat-obatan atau vitamin untuk syaraf atau bagaimana?

J: Malangnya, sampai saat ini belum ditemukan cara untuk mencegah munculnya skizofrenia. Maka yang bisa dilakukan hanyalah supaya orang tua itu bisa lebih tajam, lebih peka melihat gejala ini sedini mungkin, sebab kalau gejala ini diketahui sedini mungkin dengan pengobatan dan sebagainya, maka dilusi dan halusinasi itu bisa dikurangi.

Waktu orang terkena skizofrenia, pengobatan yang akan dicoba ialah meredam munculnya dilusi dan halusinasi itu. Kalau sejak anak kecil atau remaja sudah mulai menampakkan dilusi dan halusinasi, setidak-tidaknya pada masa kecil itu dia diminta atau diharuskan memakan obat untuk menghilangkan dilusi atau halusinasi. Mudah-mudahan karena sudah dibiasakan, maka dia akan lebih terbiasa memakan obat-obatan ini sehingga dilusi atau halusinasi tidak harus timbul. Kalaupun akhirnya muncul, tidak akan muncul sesering itu, karena sekali lagi dengan munculnya ilmu kedokteran, maka lebih tersedia obat-obat yang dapat menghilangkan dilusi atau halusinasi ini. Tapi sekali lagi, ini adalah gejala, baik dilusi maupun halusinasi, penyakit itu sendiri tetap ada. Jadi obat tidak menyembuhkan penyakitnya, yang sudah ada itu akan tetap ada. Maka kita tidak mengatakan skizofrenia suatu yang dapat disembuhkan atau "curable". Kita hanya mengatakan skizofrenia adalah penyakit yang " treatable", dapat dilawan, dapat diobati, pengembangan gejala-gejalanya dapat dibendung sehingga tidak harus memburuk.

T: Sebenarnya gangguan skizofrenia ini menetap atau kadang-kadang muncul di dalam diri seseorang ?

J: Ini adalah salah satu kesalahpahaman, kadang-kadang kita beranggapan orang yang terkena skizofrenia akan terus-menerus setiap detik berkhayal dan dalam dunia khayalnya, sebetulnya tidak! Jadi, ada waktu di mana dia bisa bicara menjawab pertanyaan kita dengan biasa, namun setelah berbicara dengan kita, dia akan diam kemudian tertawa sendirian lagi, dia akan bicara lagi.

Memang gejala ini tidak harus menetap setiap detik, tapi kita katakan dia sudah terganggu sebab sebetulnya di dalam dirinya sudah ada keterpecahan itu, meskipun masih ada kemampuan untuk berelasi dengan orang di luar dirinya, tapi memang tidak konstan terus-menerus dia akan kembali ke dunia khayalnya.

T: Bagaimana kalau kita tinggal bersama-sama dengan orang yang mengalami gangguan skizofrenia?

J: Langkah pertama adalah kita mesti mengakui bahwa orang ini atau anak kita ini bermasalah. Ini salah satu hal yang tidak mudah diakui oleh orang tua. Orang tua yang anaknya menderita gangguan seperti ini, sampai waktu yang lama, tetap tidak mau mengakui bahwa inilah yang diderita oleh si anak.

Langkah kedua adalah kalau untuk gangguan yang seberat ini, kita memang harus langsung membawanya ke psikiater, yaitu seorang dokter yang spesialisasinya dalam bidang psikiatri dan nanti dokter akan melihat gejalanya kemudian memberikan obat yang harus dimakan. Ini menjadi suatu tantangan yang terbesar, sebab penderita skizofrenia tidak selalu mau makan obat, jadi kita harus memaksa dia untuk memakannya karena begitu dia tidak mau makan obat, maka tinggal tunggu waktu gejala delusi dan halusinasinya akan kembali lagi. Kalau sudah seperti itu, maka yang harus dilakukan adalah membawanya dengan paksa ke rumah sakit jiwa, karena di sana dia bisa dengan paksa diberi obat sehingga dia bisa dirawat lagi dan bisa tenang kembali serta dapat dipulangkan. Namun, ini biasanya sebuah siklus, dia akan merasa baik selama beberapa waktu, kemudian dia tidak mau makan obat lagi dan kembali lagi pada khayalannya, akhirnya dibawa ke rumah sakit lagi dan ini berlangsung seumur hidup.

Kalau keluarga memunyai anggota yang seperti itu, maka perlu dipikirkan pengaturannya atau perawatannya, sebab orang tua tidak bisa selamanya merawat anak ini. Persoalannya adalah kalau kakak atau adiknya memunyai keluarga, ini bukanlah sesuatu yang sehat sebab kalau dalam keluarga itu ada anak dan anak itu melihat pamannya yang menderita gangguan seperti ini, itu bukanlah hal sehat. Maka hal yang cocok yang lebih disarankan adalah sebaiknya, kalau orang tua sudah mulai tua dan sebagainya, dia dirawat di dalam rumah perawatan. Asal kita bisa percaya bahwa rumah perawatan itu akan merawatnya dengan baik, mungkin itu adalah jalan keluar yang terbaik dan dia bisa tinggal di sana, punya kamar sendiri, mendapatkan perawatan, obat, dan kalau dia tidak mau minum obat, dia bisa disuntik dan sebagainya, sehingga dia lebih terkontrol.

T: Biasanya baru kita kenali setelah dia dewasa atau bagaimana?

J: Biasanya setelah remaja atau dewasa awal. Biasanya mulai terlihat setelah umur 15 atau 16 tahun. Dia mulai tidak mau bergaul, diam, murung, tidak mau bertemu orang, susah percaya, tidak mau ada perasaan-perasaan yang keluar, wajahnya datar-datar saja, kalau senang tidak pernah terlihat dan sedih pun tidak kelihatan, marah tidak kelihatan. Jadi benar-benar sebuah wajah yang kosong, yang datar saja. Akhirnya mulai kelihatan bicara sendiri, tertawa sendirian, dan sebagainya.

T: Sehubungan dengan hal ini, apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin disampaikan?

J: Saya akan bacakan Mazmur 139:13, 16 "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya."

Kita mesti mengingat penderita skizofrenia mestinya adalah ciptaan Tuhan, dan Tuhan tidak pernah membuat kesalahan, mengapa Dia mengizinkan semua ini terjadi? Maksud inilah yang tidak mudah untuk kita ketahui, tapi janganlah kita menyesali atau malahan marah kepada Tuhan, tapi terimalah! Ada rencana Tuhan dan tetap ini adalah ciptaan Tuhan yang kita mesti hormati.

Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T248A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org> atau < TELAGA(at)sabda.org >. Atau kunjungi situs TELAGA di: ==> http://www.telaga.org/audio/gangguan_skizofrenia

Komentar