Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menolong Anak Agar Tidak Malas Belajar

Ditulis oleh: Sri Setyawati

"Kenapa sih, kamu ini malas sekali kalau disuruh belajar?" omel seorang ibu. Keluhan semacam ini mungkin pernah Anda ucapkan ketika anak Anda tidak mau belajar. Lalu apa yang Anda lakukan? Menjewer, memukul, menarik dan mendudukkannya ke kursi, serta menungguinya untuk belajar?

Mengapa anak-anak malas belajar? Apa saja yang menyebabkannya? Ada banyak faktor yang menyebabkan anak malas belajar. Secara umum, faktor-faktor tersebut bisa dikelompokkan ke dalam dua bagian.

1. Faktor Internal. Faktor yang muncul dari dalam diri anak.

a. Rasa jenuh.

Rasa jenuh bisa muncul dalam diri anak karena ada banyak faktor yang memicunya. Misalnya, anak yang suka kegiatan/aktif. Dia mudah merasa jenuh jika harus duduk diam di kursi dan belajar.

b. Rasa lelah.

Aktivitas anak sepanjang hari tentu menguras banyak energi. Apalagi jika anak harus mengikuti les, ekstrakurikuler, atau membantu orang tua bekerja. Mereka tentu akan merasa lelah dan memilih untuk tidur daripada belajar.

c. Rasa sedih, marah, atau jengkel.

Perasaan dan suasana hati ternyata menjadi faktor yang berpengaruh pada anak. Setelah dia bertengkar dengan kakak atau adik, lalu dimarahi ibu, semangat mereka dalam belajar bisa hilang.

d. Sikap mudah menyerah.

Bagi beberapa anak, kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumah (PR) atau menangkap pelajaran yang diberikan oleh bapak/ibu guru, bisa menjadi pemicu mereka malas belajar. Misalnya, Abi merasa pelajaran Matematika itu sulit dan tidak ada seorang pun yang membantunya mengerjakan PR. Akhirnya dia memilih menyontek teman atau dihukum guru, daripada repot-repot mengerjakan soal sendiri.

2. Faktor Eksternal. Faktor yang muncul dari luar diri anak (lingkungan).

a. Tidak memiliki sarana prasarana belajar yang lengkap.

Misalnya, anak tidak memiliki buku diktat. Orang tuanya tidak memunyai uang untuk membeli. Anak mungkin berusaha untuk meminjam sekali dua kali, tetapi mereka tidak enak hati jika terus-menerus meminjam. Karena apa yang mereka butuhkan tidak terpenuhi, rasa malas bisa timbul dalam diri mereka.

b. Diandalkan/mengandalkan teman.

Anak kita awalnya mungkin rajin belajar dan rajin mengerjakan PR, tetapi teman-temannya sering meminjam hasil catatan/pekerjaannya. Lama-kelamaan, anak kita merasa tidak adil/dimanfaatkan teman-temannya. Hal ini bisa membuatnya enggan untuk mencatat, membuat PR, atau belajar. Sebaliknya, mungkin juga karena anak kita memiliki teman baik, yang bisa diandalkan untuk di contoh PR/catatannya. Dengan demikian, anak kita memilih mencontoh PR/catatan temannya daripada membuat PR atau mencatat sendiri.

c. Pengaruh teman.

Kebiasaan teman-teman sangat berpengaruh bagi anak-anak kita. Teman yang terbiasa menyontek saat ulangan dan mendapat nilai baik tanpa belajar, bisa memengaruhi anak kita untuk ikut menyontek dan tidak mau belajar juga. "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33)

d. Tidak suka dengan guru/mata pelajaran tertentu.

Figur guru bisa memengaruhi anak. Jika besok pagi ada jadwal guru/pelajaran yang tidak disukai, anak biasanya akan mencari cara untuk tidak ikut pelajaran/tidak mempersiapkan pelajaran di rumah. Anak biasanya akan menghindari guru sekaligus mata pelajaran yang diasuhnya. Jadi, tidak mengherankan jika anak kita tidak suka dengan guru bahasa Inggris, nilai bahasa Inggris anak kita akan jeblok (jelek).

e. Suasana dan tempat belajar yang tidak nyaman.

Agar anak bisa belajar dengan nyaman, mereka perlu ruang belajar yang tenang, nyaman, dan tidak membosankan. Situasi rumah yang gaduh dan penataan ruang yang tidak serasi, bisa menghilangkan semangat belajar anak.

f. Tidak mendapat hadiah/pujian.

Kata-kata pujian memiliki kuasa besar untuk memotivasi anak agar semakin rajin belajar. Jika anak sudah belajar mati-matian dan mendapat nilai baik, tetapi orang tua tidak memberi perhatian, pujian, atau apresiasi, akan membuat anak merasa diabaikan/tidak dipedulikan. Usaha yang dilakukannya seolah tidak ada artinya. Oleh karena itu, mereka tidak mau belajar lagi.

g. Dibanding-bandingkan dengan teman/saudaranya yang lain.

Membandingkan prestasi maupun kepribadian anak adalah sikap yang tidak bijak. Tuhan menciptakan masing-masing orang dengan keunikan, kelebihan, dan kekurangannya sendiri-sendiri. Untuk itu, kita perlu belajar menerima orang lain/anak sebagaimana adanya. Jika kita sering membanding-bandingkan anak kita dengan teman/saudaranya yang lain, anak kita akan merasa rendah diri, kecil hati, dan tidak berharga.

h. Kurangnya disiplin dari orang tua.

Orang tua yang sangat memanjakan anak, membiarkan mereka bermain sesuka hati, dan membelikan berbagai macam mainan untuk anak, merupakan faktor yang paling sering menyebabkan anak malas belajar. Tanpa pengawasan dan disiplin, anak akan terlalu lama dalam bermain dan malas belajar. Orang tua yang membiarkan anak ikut mengobrol dengan tetangga atau menonton televisi tanpa pembatasan waktu, juga membuat anak malas belajar.

Setelah kita mengetahui penyebab-penyebab anak malas belajar, niscaya kita bisa membantu mereka mengatasinya. Lakukan pendekatan yang tepat kepada anak-anak kita. Langkah-langkah yang bisa Anda lakukan antara lain sebagai berikut.

1. Berikan pengertian tujuan dan sasaran belajar.

Belajar adalah kewajiban anak sebagai ciptaan Tuhan. Tuhan memberikan akal budi dan kemampuan bagi kita agar bisa mengelola bumi (rumah dan lingkungan). Dengan mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), manusia tahu bagaimana seharusnya bertindak terhadap lingkungan. Misalnya, tidak membuang sampah sembarangan karena bisa mengakibatkan lingkungan kotor, menjadikannya sarang penyakit, dan banjir. Dengan belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk kota dan negara kita.

2. Katakanlah kepada anak, bahwa kemalasan tidak akan pernah mendatangkan kebaikan.

Semut saja begitu rajin mengumpulkan makanan sebagai persediaan musim dingin, masakan kita sebagai manusia tidak lebih baik daripada semut (Amsal 6:6). Keberhasilan tidak bisa diraih dengan instan. Kita harus berdoa dan berusaha untuk mendapatkan keberhasilan. Tuhan memberkati orang yang rajin.

3. Nasihatilah anak untuk tidak mengikuti kebiasaan buruk teman-temannya.

Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya menjadi teladan bagi teman-teman kita, bukan menjadi sama atau bahkan lebih buruk daripada teman-teman kita yang belum percaya.

4. Lengkapi sarana dan prasarana belajar anak.

Orang tua sebisa mungkin memenuhi apa yang dibutuhkan anak. Jika terpaksa tidak bisa membelikan apa yang dibutuhkan anak, berikan penjelasan secara pelan-pelan, agar anak tidak tersinggung dan bisa mengerti keadaan orang tua. Selain itu, ciptakan suasana belajar yang kondusif untuk anak. Jauhkan tempat belajar anak dari televisi atau ruang tamu/keluarga, yang sering riuh karena banyak suara di sana.

5. Tanamkan kedisiplinan.

Usahakanlah untuk membuat aturan untuk semua anggota keluarga, termasuk kepada anak. Kapan anak bermain, kapan anak istirahat, dan kapan anak harus belajar. Dengan memberikan sanksi apabila anak tidak menaati aturan, bisa mendidik anak tetap disiplin menjalankan tugasnya.

6. Berikan motivasi kepada anak.

Berhentilah memarahi anak secara terus-menerus. Sebaliknya, berikan penghargaan atas usaha yang dilakukan anak. Jika anak masih malas, beri dia motivasi dengan memberi hadiah jika nilainya bagus atau mengajaknya piknik di akhir ujian semester. Dengan demikian, anak akan merasa diperhatikan dan semakin giat belajar.

7. Mendampingi dan mendoakan anak.

Anak perlu pendampingan saat belajar. Selain bisa membantu mereka saat mereka mengalami kesulitan, dengan adanya kita di samping anak menunjukkan bahwa kita mengasihi mereka. Tanyakan apa yang menjadi kesulitan anak. Tidak kalah penting lagi, doa. Apa pun yang kita lakukan tidak akan bisa berhasil tanpa campur tangan Tuhan. Untuk itu, undanglah Allah untuk terlibat dalam mendidik anak. Dengan mengikutsertakan Tuhan, hal-hal yang terlihat sulit pasti bisa diatasi. "Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu." (Yohanes 16:24)

Tugas orang tua bukan hanya membesarkan anak, mendidik mereka dalam takut akan Tuhan dan kebenaran dengan kasih mutlak dilakukan. Tuhan memberkati.

Referensi:

1. Pak Guru Ian. "Penyebab Anak Malas Belajar Dan Solusinya". Dalam: http://ian43.wordpress.com/

2. ________. "Tips Mengatasi Anak Malas Belajar" Dalam: http://www.tipskeluarga.com/

Komentar