Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Masalah yang Dihadapi Pemuda Masa Kini

Edisi C3I: e-Konsel 217 - Masalah-Masalah Pemuda Kristen

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Saat pemuda dan orang dewasa bekerja bersama-sama di hadapan Allah, mereka akan menjadi sesuai apa yang Allah inginkan. Tidak ada yang lebih menantang dibanding kehidupan orang muda. Masa depan mereka terbuka dan batas-batas yang ada lebih luas.

Salomo menasihatkan, "Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu ..." (Pengkhotbah 12:1).

Allah sangat memerhatikan pertumbuhan rohani pemuda. Pertumbuhan mereka menjadi perhatian dan kepentingan utama sehingga teguran ini disampaikan. Teguran ini semula ditujukan bagi mereka yang masih muda dan dialamatkan bagi mereka. Ada tujuh fakta yang harus kita sadari terlebih dahulu.

  1. Pemuda itu termasuk orang yang Tuhan perhatikan.
  2. Ada banyak masalah yang harus dihadapi pemuda di dunia ini.
  3. Mereka akan menjadi tua seiring berjalannya waktu.
  4. Pemuda zaman sekarang bukanlah orang yang pertama kali dan juga bukan satu-satunya orang yang menghadapi masalah.
  5. Pemuda bukanlah orang yang lebih remeh atau lebih unggul dibanding orang dewasa.
  6. Ada banyak masalah yang tidak bisa diatasi anak muda karena mereka belum saatnya menghadapi masalah itu.
  7. Ada banyak masalah yang bisa diatasi anak muda. Akan tetapi, jika masalah-masalah tersebut tidak diatasi sekarang, masalah itu bisa berkembang semakin besar.

Orang dewasa dan anak muda jelas tidak sama. Pemuda tidak memiliki respons, kesempatan, ataupun kecakapan yang sama. Pemuda tidak bisa langsung menjadi dewasa dan orang dewasa tidak bisa menjadi muda lagi. Orang dewasa memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan pemuda, demikian juga sebaliknya. Masalah itu tidak lebih berat ataupun lebih ringan dibanding masalah lainnya.

Ada perbedaan besar antara orang dewasa dan pemuda yang harus kita ingat. Orang dewasa sudah pernah menjadi pemuda, tapi pemuda belum pernah menjadi orang dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa memiliki kelebihan dalam melihat dan mengalami kedua masa itu. Kadang para pemuda lupa akan hal ini.

Ada masalah-masalah kepemimpinan, tuntunan, pengendalian, dan tugas yang berkenaan dengan orang dewasa yang belum diperhadapkan pada pemuda. Bahkan, pemuda mungkin juga dibebani oleh masalah-masalah yang melebihi kendali mereka. Inilah hidup. Hal ini pun terjadi pada orang dewasa.

Persiapan

Pemuda menghadapi masalah persiapan. Masa muda adalah masa untuk mempersiapkan kehidupan yang akan datang. Sebenarnya, seumur hidup merupakan masa untuk mempersiapkan kekekalan. Khususnya pada masa muda, inilah saatnya untuk menetapkan standar.

Banyak pemuda yang membuat batas tertinggi selagi muda yang tidak bisa mereka capai saat mereka menjadi dewasa. Mereka harus dipersiapkan secara sosial, mental, fisik, dan -- lebih penting lagi --secara rohani. Jika persiapannya kurang apalagi mengabaikan sisi rohani, ini akan sangat mengerikan.

Masa muda adalah masa untuk belajar, meskipun tidak dikhususkan untuk pemuda. Tidak satu pun orang terpelajar yang tidak dikenalkan dengan Alkitab.

Saat seseorang menjadi dewasa dia dipaksa masuk ke dalam hidup yang menuntut kesiapan. Jika para pemuda tidak dipersiapkan dengan baik, mereka akan mengalami banyak masalah.

Sebelum dibebani dengan tugas dan tanggung jawab orang dewasa, anak muda memanfaatkan kesempatan untuk mempersiapkan dirinya dalam banyak hal. Nasihat kita untuk anak muda adalah, "Jangan sia-siakan kesempatan."

Terlalu Dini

Pemuda sering kali terlalu terburu-buru dalam hidup. Pemuda ingin menjadi lebih dewasa dari dirinya yang sebenarnya. Anak muda tidak sabar untuk "tumbuh". Proses pendewasaan tidak dapat dipaksakan atau hal itu akan menjadi sebuah bumerang. Pertumbuhan dan perkembangan pasti membutuhkan waktu.

Setiap masa dalam hidup memunyai kelebihannya sendiri-sendiri. Pemuda harus memberikan yang terbaik saat masih muda dan menuai hasilnya kelak. Kegagalan pada masa muda akan mengakibatkan masa tuanya tidak menyenangkan.

Pemuda bukan orang yang setengah dewasa. Mereka benar-benar orang yang masih muda. Kita harus membiarkan mereka menikmati masa muda mereka seutuhnya tanpa berusaha membuat mereka menjadi orang yang setengah dewasa.

Kita sering melihat anak berusia 10 atau 12 tahun berdandan seolah mereka berusia 25 tahun, remaja menggunakan waktunya seolah mereka sudah dewasa. Banyak di antara mereka yang memiliki kebebasan dan kurang pengawasan yang justru hanya menuntun mereka pada kehancuran.

Tidak heran beberapa dari mereka menjadi frustrasi dan mengalami kepenatan yang luar biasa sebelum mereka memasuki masa dewasa. Kita dapat memahami mengapa beberapa pemuda menjadi begitu cepat bosan dengan hidup mereka -- karena mereka dipaksa menjalani hidup seperti orang dewasa sebelum waktunya.

Tekanan Teman Sebaya

Pemuda pasti menghadapi masalah tekanan sosial yang disebut tekanan teman sebaya. Ada tekanan besar yang harus dihadapi atas apa yang dilakukan orang-orang di sekitar mereka. Semua orang -- tua maupun muda -- tidak bisa melawan tekanan agar bisa diterima dan disukai orang lain. Ini adalah masalah yang seumur hidup, pemuda harus belajar mengatasinya sejak dini.

Pemuda harus belajar menjadi diri sendiri dan tidak meniru orang lain. Mereka perlu belajar berpikir sendiri dan tidak serta-merta mengikuti jalan hidup orang banyak. Apabila seorang pemuda meniru orang lain, ia tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri.

Tentu saja, semua orang berusaha agar diterima sebagai seorang yang bermartabat, ramah, berani, adil, baik hati, menyenangkan, dan sopan. Walaupun demikian, semua orang harus belajar mandiri dan tidak bergantung pada orang lain untuk berkembang.

Seorang pemuda tidak boleh berkompromi dengan apa yang benar dan baik di hadapan Allah untuk menyetujui dan hidup sesuai kemauan seseorang. Bakat pemuda yang harus dikembangkan adalah kemampuan untuk tetap bertahan sekalipun mereka harus berdiri sendirian. Umat Allah harus selalu bisa menjadi pribadi yang kuat.

Pemuda perlu menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup. Hal yang paling indah adalah memunyai orangtua yang mengasihi anak mereka dan mengasihi Tuhan untuk menuntun anak mereka di jalan Tuhan. Jika Allah tidak diizinkan menjadi penuntun maka orang banyaklah yang akan menetapkan standar hidup yang justru bisa mencelakakan jiwa pemuda itu sendiri.

Kemunafikan Orang Dewasa

Pemuda bisa dibingungkan dengan apa yang mereka lihat sebagai kemunafikan dalam hidup orang dewasa. Seorang yang munafik melakukan sesuatu untuk dilihat orang lain. Seorang yang munafik mengatakan yang satu tapi melakukan yang lain.

Anak-anak menganggap apa yang dikatakan dan dilakukan orang dewasa selalu benar. Tetapi ketika anak muda tumbuh menjadi lebih dewasa, mereka mulai menyadari bahwa orang dewasa tidak selalu hidup sesuai dengan apa yang mereka katakan atau apa yang seharusnya. Bahkan orang-orang yang dipercayai kadang-kadang terbukti sebagai orang yang sangat mengecewakan dan menyakiti hati mereka.

Respons atas kesiapan ini menyebabkan beberapa pemuda berpikir bahwa tidak ada satu orang pun yang jujur, peduli, dan berusaha melakukan apa yang benar. Akan tetapi, respons dan kesimpulan ini salah. Membuang jauh-jauh semua kebenaran adalah suatu kecerobohan hanya karena seseorang yang kita percayai tidak hidup sesuai kebenaran. Itu bukan kesalahan dari kebenaran.

Tidak seorang pun yang sempurna, bahkan orang dewasa sekalipun. Akan tetapi, tidak semua orang dewasa itu munafik. Tidak setiap orang yang melakukan kesalahan itu orang yang munafik. Orang dewasa adalah manusia biasa dan mereka juga menghadapi banyak masalah, cobaan, dan ancaman yang tidak disadari oleh pemuda.

Hanya Kristus yang sempurna dan hanya Dia patokan untuk mengukur segala sesuatu. Orangtua sekalipun tidak sempurna. Pengkhotbah dan tua-tua juga tidak sempurna. Pemuda sendiri pun tidak sempurna. Oleh karena itu, pemuda harus mengarahkan pandangannya kepada Kristus, bukan pada manusia.

Masalah Dosa

Pemuda, seperti orang dewasa, menghadapi masalah dosa. Saat seseorang berbuat dosa, maka dia sedang menjual dirinya kepada setan. Dosa memisahkan seseorang dari Allah. Seseorang tidak bisa menjalani hidupnya seperti yang Allah kehendaki bagi hidupnya jika dia tetap tinggal dalam dosa.

Setiap orang semestinya bertanya, "Apakah aku akan hidup dalam dosa atau dalam Kristus?" Dalam hal ini setiap orang harus membuat keputusan pribadi. Kita harus menaati Injil agar bisa sampai kepada Kristus.

Pemuda zaman ini harus menghadapi masalah dosa zaman ini. Dosa ini masuk melalui narkoba, minuman beralkohol, godaan amoral, ketidakjujuran, tidak adanya penghormatan terhadap otoritas, dan meninggalkan Allah. Walaupun begitu pemuda bisa menghadapi masalah ini dan mengatasinya jika mereka menyatukan diri dengan Pencipta dan Hakim mereka.

Mengikuti tren, memberontak terhadap Allah, menelan mentah-mentah apa saja yang dikatakan oleh dunia mungkin terdengar menyenangkan, menantang emosi, dan keren, tetapi hidup yang baik hanya bisa dicapai dengan memiliki kehidupan yang baik seperti yang dikehendaki oleh Allah.

Solusi

Sama seperti masalah-masalah hidup lainnya, masalah zaman sekarang dapat dihadapi jika ada dasar dan petunjuk rohani yang kuat dan alkitabiah. "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?" Yakni dengan menjaganya sesuai dengan firman Allah.

Pemuda tidak perlu putus asa atau takut. Hidup dalam Kristus adalah hidup yang luar biasa, penuh dengan tujuan dan makna, berkat, dan keuntungan, dan tiap hari menjadi berarti dan produktif. Masalah-masalah adalah tantangan dan ujian. Masalah-masalah dapat menjadi batu pijakan, bukan batu sandungan.

Saat pemuda dan orang dewasa bekerja bersama-sama di hadapan Allah, mereka akan menjadi sesuai apa yang Allah inginkan. Tidak ada yang lebih menantang dibanding kehidupan orang muda. Masa depan mereka terbuka dan batas-batas yang ada lebih luas. Semoga Allah menolong kita dan para pemuda di mana pun berada untuk mengalahkan iblis dan membawa kemuliaan Allah dalam hidup. (t/Setya)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Sumber
Judul Artikel: 
Today`s Youth Facing Today`s Problems
Situs: 

http://www.aburningfire.net/home/Problems.htm (A Burning Fire -- diakses: 30 Agustus 2010)

Komentar