Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kualifikasi Seorang Konselor

Edisi C3I: e-Konsel 003 - Konselor Kristen

Tuhan memberi banyak karunia bagi gereja, salah satunya adalah karunia untuk saling menolong dan menasehati. Hal ini dinyatakan dengan jelas oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, "Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati" (Roma 15:14). Dalam hal inilah konseling dimengerti sebagai pelayanan yang paling tepat dilakukan oleh gereja. Melalui pelayanan konseling seluruh jemaat (Tubuh Kristus) menjadi utuh karena masing-masing anggota berkarya dan berfungsi menjadi pelengkap bagi yang lain. Oleh karena itu setiap anggota seharusnya dapat menjadi konselor bagi yang lain.

Nah, bagaimana kita dapat mewujudkan hal ini menjadi kenyataan? Masih banyak anggota jemaat yang merasa bahwa pelayanan konseling hanya pantas dilakukan oleh gembala jemaat (pendeta) saja. Mungkinkah seorang Kristen awam menjadi konselor? Kalau ya, apakah kualifikasi yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang konselor Kristen yang baik? Untuk mendapat jawaban tsb., ikutilah pembahasan oleh Judy K. TenElshof berikut ini:

KUALIFIKASI SEORANG KONSELOR KRISTEN

Semua orang Kristen adalah pelayan dan mempunyai kemampuan untuk menolong proses pertumbuhan dan pemulihan rohani orang lain. Satu kualifikasi utama untuk melayani orang lain adalah menjadi manusiawi [human], dan oleh karenanya ia membutuhkan hubungan dengan orang lain. Kebutuhan terbesar dari jiwa kitalah yang membawa kita kepada Tuhan, karena hanya Dia satu-satu-Nya Pribadi yang mampu memenuhi kebutuhan jiwa kita. Seluruh sisa hidup kita selanjutnya akan digunakan untuk mengerjakan suatu proses yang membuat hidup kita bertumbuh, baik yang ada di dalam pikiran dan hati kita, ataupun yang ada di luar yaitu tingkah laku kita, agar menjadi semakin konsisten dengan status kita dalam Kristus. Orang-orang Kristen yang ada dalam Tubuh Kristus yang memiliki kekuatan/kelebihan dapat membantu mereka yang kurang/lemah sehingga seluruh Tubuh menjadi kuat. Pelayanan berbagi seperti inilah yang akan menimbulkan pengharapan dan janji.

Kualitas-kualitas lain yang harus dimiliki seorang Kristen yang berhikmat adalah, ia harus seorang yang:

  1. mencari Allah
  2. mengetahui kehendak Allah dalam hidupnya
  3. mengetahui pentingnya doa
  4. menghargai persekutuan dengan orang-orang saleh
  5. memberitakan kebenaran Firman Tuhan.

Karakteristik-karakteristik ini harus ditemukan dalam kehidupan orang-orang Kristen, terutama sekali bagi mereka yang rindu untuk melayani orang lain dalam bidang konseling. Beberapa orang Kristen membangun kompetensi dan keahlian yang akan mengembangkan kemampuan mereka untuk menolong yang lain, namun keahlian-keahlian ini perlu diintegrasikan ke dalam pelayanan yang telah diberikan oleh Tuhan dan yang sudah seharusnya menjadi bagian dari "keimaman semua orang percaya".

Gereja membutuhkan semua orang percaya untuk turut ambil bagian dalam menjalankan fungsinya sebagai anggota Tubuh Kristus. Setiap orang percaya memiliki kekuatan, keahlian, karunia, kemampuan, dan kelemahan masing-masing sebagai bagian yang unik dari keseluruhan anggota tubuh. Setiap orang harus menyadari dalam hal apakah mereka mampu memberi dan dalam hal apakah mereka butuh untuk menerima. Tidak ada seorang pun dalam anggota tubuh yang melebihi yang lain sehingga ia merasa tidak membutuhkan yang lain. Sepintar, secakap, semampu apapun, kita semua membutuhkan persekutuan dengan orang- orang percaya yang lain.

Bagi anggota-anggota jemaat yang menerima karunia untuk menolong yang lain dan rindu untuk dilatih, ada sejumlah karakteristik- karakteristik lain yang tidak kalah pentingnya dengan apa yang telah disebutkan di atas:

1. Kerentanan/keterbukaan/transparansi (Vulnerability). Mau terbuka untuk mengakui kekuatan, kelemahan diri sendiri dan persoalan-persoalan yang belum terpecahkan dan berani bertanggungjawab-sharing pada saat yang tepat.

2. Sikap menerima (Attitude of acceptance). Menilai dan menghakimi membuat orang menjaga jarak, sebaliknya sikap menerima menolong orang lain untuk menilai diri mereka sendiri (Galatia 6:1).

3. Kemampuan untuk mendengarkan (Ability to listen). Mendengarkan dengan penuh pengertian dapat dikembangkan apabila seseorang mempunyai kerinduan untuk menjadi pendengar bagi orang lain (Yakobus 1:19).

4. Hati yang berbelaskasihan (Compassionate). Rasa belas kasihan yang tulus dapat dikembangkan jika seseorang memiliki sikap terbuka dan mampu ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain (Roma 12:15; Galatia 6:2). Ketika perasaan kita sendiri tidak diijinkan untuk diekspresikan karena luka yang ada pada kita, maka akan sulit bahkan mustahil bagi kita untuk bisa merasakan penderitaan orang lain.

5. Bersandar pada Tuhan (Dependent on God). Kemampuan untuk menundukkan diri pada otoritas tertinggi akan menjaga orang percaya untuk tetap rendah hati dan selalu menyadari bahwa hanya Tuhan, melalui pekerjaan Roh Kudus, yang mampu mengubah hati seseorang.

6. Kerinduan mengembangkan pengetahuan tentang teknik yang tepat guna (Desire to develop a knowledge of proper technique). Seorang penolong perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan, kapan perlu bertindak langsung, kapan menunjukkan belas kasihan, atau kapan menunjukkan kerentanannya. Konseling bukan pekerjaan yang ringan karena perlu persiapan untuk bisa menjadi ahli dalam menolong orang lain.

7. Pengetahuan akan Firman Allah dan menggunakannya dengan tepat (Knowledge of Scripture and its appropriate use). Menggunakan Firman Allah pada saat yang tidak tepat (khususnya saat sedang mengalami kepahitan hidup) justru akan lebih banyak menghalangi daripada menolong seseorang untuk bertumbuh dewasa secara rohani.

8. Dapat dipercaya dan menjaga kerahasiaan (Trustworthy and confidential). Sifat dapat dipercaya seorang konselor adalah prasyarat bagi orang yang butuh untuk mempercayai seseorang ( Amsal 11:13; 21:23).

9. Mengenali dan mengetahui keterbatasannya (Recognize and know one's limitations). Tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi semua kebutuhan orang lain. Para konselor perlu menyadari kekuatan dan kelemahan mereka. Mereka perlu mengetahui keterbatasan mereka dan bisa mengarahkan kepada yang lain bila diperlukan. Setiap konselor harus mempunyai daftar orang-orang lain yang memiliki kelebihan dan kecakapan yang tidak dimilikinya.

10. Mau dituntut pertanggungjawabannya (Willing to be accountable). Tidak ada konselor Kristen yang boleh menolong orang lain kecuali ia bersedia untuk dimintai pertanggungjawabannya. Kenapa? Karena konselor juga hanyalah seorang manusia yang jauh daripada sempurna. Konselor yang tidak bersedia untuk dimintai pertanggungjawaban akan membahayakan orang yang sedang ditolong.

Pelayanan konseling dalam jemaat (Tubuh Kristus) adalah tanggung jawab yang sangat besar. Sebelum seseorang masuk dalam pelayanan konseling, maka harus dipertimbangkan juga talenta apa yang dimilikinya, bagaimana dedikasinya dan juga persiapan apa yang dibutuhkan.

Penutup dari Redaksi

Latihan, pengetahuan dan pengalaman bertahun-tahun tidak cukup menjadikan seorang pendeta atau konselor menjadi seorang konselor Kristen yang baik. Banyak peristiwa dan masalah yang membuat para konselor harus mengakui akan ketidakmampuan mereka dan menyadari akan keterbatasan mereka sebagai manusia biasa. Jika mereka mulai menolong orang dengan kekuatan sendiri, sudah pasti mereka akan melakukan berbagai kesalahan (meskipun tidak selalu berakibat fatal). Oleh karena itu, hal yang paling penting yang menentukan keberhasilan seorang konselor adalah dengan bersandar pada kuasa dan hikmat Allah.

"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia di dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:5-6)

Sumber
Halaman: 
338 - 340
Judul Artikel: 
Foundations of Ministry
Penerbit: 
A BridgePoint Book

Komentar